02 Cara Teruji dan Paling Efisien Menyelesaikan Masalah

Menggunakan Model Mental yang Tepat untuk Menyelesaikan Masalah

Chandra Natadipurba

Dalam kehidupan nyata, masalah yang dihadapi manusia hampir tidak terbatas jumlahnya.

Tidak ada sekolah atau kursus yang dapat mengajarkan jawaban untuk setiap masalah yang mungkin muncul. Sekolah dan kursus hanya mampu memberikan kerangka pengetahuan yang sistematis serta protokol yang telah terbukti efektif.

Namun, pengetahuan dan protokol ini memiliki keterbatasan. Setelah Anda mempelajari kerangka pengetahuan dan protokol tersebut, Anda dapat mulai berpikir secara analogis, menyalin dan menerapkan cara berpikir sistematis untuk menyelesaikan masalah baru.

Dalam esai ini, kita akan membahas bagaimana mengembangkan keterampilan pemecahan masalah melalui pembelajaran model mental, fokus pada hal-hal yang paling penting, serta bagaimana memilih model yang tepat untuk setiap situasi yang dihadapi.

Fokus pada Hal yang Paling Penting

Dalam dunia bisnis yang kompleks, tidak mungkin kita dapat menguasai semua model, teori, atau kerangka kerja yang ada.

Misalnya, dalam manajemen saja, terdapat 133 model berbeda yang tercantum dalam The Handbook of Management Technique. Ini termasuk 22 model pemasaran, 32 model operasional, 34 model keuangan, 16 model sumber daya manusia, 8 model ilmu manajemen, 2 model perencanaan, dan 9 model efisiensi.

Dengan banyaknya model yang tersedia, wajar jika seseorang merasa kewalahan.

Namun, seperti yang disarankan oleh Charlie Munger, Wakil Presiden Berkshire Hathaway, tidak perlu menguasai semuanya.

Anda hanya perlu menguasai model mental yang paling penting dan relevan.

Munger menekankan pentingnya memiliki banyak model mental yang berasal dari berbagai disiplin ilmu, karena kebijaksanaan dunia tidak terkandung dalam satu departemen akademik saja. Dengan menguasai sekitar 80 hingga 90 model penting, Anda dapat mengatasi sekitar 90% masalah yang dihadapi dalam dunia nyata.

Dalam konteks bisnis, ini berarti fokus pada model yang paling sering digunakan dan paling efektif dalam menyelesaikan masalah umum. Dengan demikian, Anda dapat lebih efisien dalam memecahkan masalah tanpa harus mempelajari setiap model yang ada.

Membuat Perpustakaan Model Mental

Model mental adalah alat kognitif yang kita gunakan untuk memahami dunia dan membuat keputusan.

Sama seperti alat di kotak peralatan seorang tukang, model mental memungkinkan kita untuk memilih alat yang tepat untuk tugas yang dihadapi. Semakin banyak model yang kita miliki, semakin besar peluang kita untuk menemukan solusi yang tepat. Namun, tidak cukup hanya memiliki model; Anda juga perlu tahu kapan dan bagaimana menggunakannya.

Membangun perpustakaan model mental yang kuat melibatkan beberapa langkah penting:

  • Memahami Model yang Paling Penting: Tidak semua model diciptakan sama. Beberapa model lebih relevan dan lebih sering digunakan daripada yang lain. Misalnya, dalam pemasaran, Porter’s Five Forces adalah model yang sangat penting untuk memahami kompetisi dalam industri. Dalam manajemen operasional, Six Sigma dan Lean Management adalah model yang sangat efektif untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas.

  • Menguasai Penggunaan Model: Menguasai model mental tidak hanya berarti memahami konsep dasar, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi nyata. Ini melibatkan latihan dan pengalaman. Misalnya, memahami VRIO Framework untuk menilai sumber daya perusahaan dan bagaimana kerangka ini dapat digunakan untuk menentukan strategi yang tepat.

  • Menambah Pengalaman pada Model: Model mental harus menjadi bagian dari kerangka berpikir Anda. Ini berarti Anda harus menggantungkan pengalaman Anda—baik yang langsung maupun tidak langsung—pada kerangka model yang telah Anda pelajari. Dengan cara ini, Anda dapat membuat hubungan antara teori dan praktik, memperkuat kemampuan Anda dalam memecahkan masalah.

Memilih Model yang Tepat untuk Masalah yang Dihadapi

Salah satu tantangan terbesar dalam pemecahan masalah adalah memilih model yang tepat untuk masalah yang dihadapi.

Sering kali, kita tergoda untuk memaksakan model yang kita kuasai pada setiap masalah yang muncul, namun ini bisa berbahaya.

Seperti kata pepatah, “Jika satu-satunya alat yang Anda miliki adalah palu, maka setiap masalah terlihat seperti paku.” Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya mengandalkan satu atau dua model, tetapi memiliki berbagai model dari berbagai disiplin ilmu.

Sebagai contoh, ketika menghadapi masalah penurunan penjualan, salah satu pendekatan cepat adalah menjadi monopoli, mendominasi ceruk pasar tertentu, dan memperluas skala bisnis tanpa mengganggu stabilitas.

Namun, untuk membuat keputusan yang lebih tepat, Anda dapat menggunakan kerangka kerja seperti VRIO untuk menilai keunggulan kompetitif, Porter’s Five Forces untuk memahami dinamika persaingan, dan Armstrong’s Persuasive Advertising Framework untuk merancang strategi pemasaran yang efektif.

Sebaliknya, ketika berurusan dengan masalah produktivitas karyawan yang rendah, model yang lebih relevan mungkin termasuk tes IQ, model Big Five untuk menilai kecerdasan dan sifat kepribadian, serta analisis pekerjaan yang terstruktur untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki peran yang jelas dan terdefinisi.

Menerapkan Clash of Ideas dalam Pembelajaran

Salah satu cara terbaik untuk memperdalam pemahaman kita tentang model mental adalah dengan menguji ide-ide yang berbeda melalui clash of ideas.

Dalam pembelajaran, menghadapkan ide-ide yang bertentangan dan memilih yang terbaik adalah cara yang sangat efektif untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah.

Ide yang paling berguna, koheren, dan didukung oleh data adalah yang akan menjadi pemenang.

Sebagai contoh, ketika menghadapi masalah konflik karyawan, Anda mungkin akan dihadapkan pada berbagai pendekatan yang berbeda—misalnya, menggunakan analisis pekerjaan untuk memperjelas peran dan tanggung jawab, atau menerapkan model budaya Hofstede untuk memahami perbedaan budaya yang mungkin menjadi sumber konflik.

Dengan membandingkan kekuatan dan kelemahan dari masing-masing pendekatan, Anda dapat memilih solusi yang paling sesuai dengan situasi spesifik Anda.

Rekomendasi untuk Meningkatkan Keterampilan Pemecahan Masalah

Berdasarkan analisis di atas, berikut adalah beberapa rekomendasi untuk Anda yang ingin meningkatkan keterampilan pemecahan masalah:

  • Bangun Perpustakaan Model Mental: Fokus pada menguasai model-model yang paling penting dan relevan untuk bidang Anda. Jangan hanya belajar teori; terapkan model-model tersebut dalam situasi nyata untuk memperkuat pemahaman Anda.

  • Jangan Hanya Andalkan Satu Model: Memiliki lebih dari satu model dalam kotak peralatan Anda sangat penting. Ini akan mencegah Anda memaksakan solusi yang tidak sesuai dengan masalah yang dihadapi. Pilih model yang paling cocok dengan masalah yang ada, bukan sebaliknya.

  • Terbuka untuk Ide yang Bertentangan: Gunakan clash of ideas sebagai cara untuk menguji kekuatan dan kelemahan dari berbagai pendekatan. Jangan takut untuk mencoba pendekatan yang berbeda dan pilih yang paling efektif berdasarkan data dan bukti yang ada.

  • Gunakan Prinsip The Law of Large Numbers: Perbesar jumlah data yang Anda gunakan dalam pengambilan keputusan. Semakin banyak data yang Anda miliki, semakin besar kemungkinan Anda membuat keputusan yang benar dan terinformasi.

Dengan mengikuti rekomendasi ini, Anda akan dapat mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang kuat dan efektif, serta menjadi lebih siap menghadapi tantangan-tantangan yang ada di dunia bisnis.

Ingatlah bahwa pemecahan masalah adalah seni yang terus berkembang, dan dengan latihan dan pembelajaran yang berkelanjutan, Anda dapat menjadi pemecah masalah yang diinginkan oleh klien, pelanggan, atau atasan Anda.

 

 

Masalah yang Terus Berulang dalam Pekerjaan dan Bisnis serta Solusinya yang Terbukti Manjur

Chandra Natadipurba

Di bagian ini, kita akan mengelaborasi beberapa masalah umum dalam bisnis dan solusi yang paling efektif untuk mengatasi masalah tersebut.

Bagian ini akan fokus pada lima masalah utama yang sering dihadapi oleh perusahaan: penjualan yang buruk, produktivitas rendah di antara karyawan, moral yang rendah dan konflik antar karyawan, kualitas produk yang rendah dan inefisiensi, serta kecurangan dan manipulasi.

1. Penjualan yang Buruk, Tidak Ada Penjualan Sama Sekali, atau Penurunan Penjualan

Penjualan adalah urat nadi dari setiap bisnis. Tanpa penjualan, bisnis tidak bisa bertahan. Namun, masalah penjualan yang buruk, tidak ada penjualan sama sekali, atau penurunan penjualan adalah tantangan yang sering dihadapi oleh banyak perusahaan. Untuk mengatasi masalah ini, ada beberapa strategi yang dapat diterapkan:

  • Menjadi Monopoli dan Mendominasi Niche Pasar: Salah satu cara untuk meningkatkan penjualan adalah dengan menjadi pemain dominan di ceruk pasar tertentu. Dengan menjadi monopoli, perusahaan dapat mengendalikan harga dan memastikan bahwa mereka mendapatkan bagian pasar yang lebih besar. Misalnya, Apple telah berhasil mendominasi pasar ponsel premium dengan produk iPhone mereka.

  • Memperluas Skala Bisnis Tanpa Mengganggu Stabilitas: Setelah mendominasi ceruk pasar, perusahaan dapat mempertimbangkan untuk memperluas skala bisnis mereka. Namun, penting untuk melakukan ini tanpa mengganggu stabilitas bisnis yang ada. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menggunakan model VRIO untuk menilai keunggulan kompetitif perusahaan dan menentukan apakah mereka siap untuk memperluas operasi mereka.

  • Menggunakan Iklan yang Persuasif: Iklan yang persuasif dapat membantu menarik lebih banyak pelanggan dan meningkatkan penjualan. Model iklan persuasif Armstrong adalah salah satu kerangka kerja yang dapat digunakan untuk merancang kampanye iklan yang efektif. Ini melibatkan memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan, serta menciptakan pesan yang kuat dan meyakinkan.

Dengan menggabungkan strategi-strategi ini, perusahaan dapat mengatasi masalah penjualan yang buruk dan meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan.

2. Produktivitas Karyawan yang Rendah, Ketidakmampuan, dan Kinerja yang Buruk

Produktivitas karyawan adalah faktor kunci dalam keberhasilan bisnis. Ketika karyawan tidak produktif, perusahaan mengalami penurunan efisiensi dan peningkatan biaya. Untuk mengatasi masalah ini, ada beberapa langkah yang dapat diambil:

  • Merekrut Orang yang Cerdas dan Disiplin: Karyawan yang cerdas dan disiplin cenderung lebih produktif dan efektif dalam pekerjaan mereka. Salah satu cara untuk memastikan bahwa Anda merekrut orang yang tepat adalah dengan menggunakan tes IQ dan model Big Five untuk menilai kecerdasan dan sifat kepribadian calon karyawan.

  • Menggunakan Wawancara yang Terstruktur: Wawancara yang terstruktur adalah alat yang sangat efektif untuk menilai kemampuan dan kecocokan calon karyawan dengan posisi yang mereka lamar. Dengan menggunakan pertanyaan yang sama untuk semua calon, perusahaan dapat memastikan bahwa proses rekrutmen mereka adil dan objektif.

  • Melakukan Analisis Pekerjaan yang Terstruktur: Analisis pekerjaan yang terstruktur membantu perusahaan menentukan tugas dan tanggung jawab yang jelas untuk setiap posisi. Ini memastikan bahwa setiap karyawan tahu apa yang diharapkan dari mereka, yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas dan kinerja.

Dengan menerapkan langkah-langkah ini, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas karyawan dan memastikan bahwa mereka mencapai hasil yang diinginkan.

3. Moral yang Rendah dan Konflik Antar Karyawan

Moral yang rendah dan konflik antar karyawan adalah masalah yang sering dihadapi oleh banyak perusahaan. Ketika karyawan tidak puas dengan pekerjaan mereka atau tidak akur dengan rekan kerja, hal ini dapat mengganggu produktivitas dan menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat. Untuk mengatasi masalah ini, berikut adalah beberapa solusi yang dapat diterapkan:

  • Menggunakan Analisis Pekerjaan untuk Memperjelas Peran dan Tanggung Jawab: Salah satu penyebab utama konflik antar karyawan adalah ketidakjelasan peran dan tanggung jawab. Dengan melakukan analisis pekerjaan yang terstruktur, perusahaan dapat memastikan bahwa setiap karyawan memahami tugas mereka dan bagaimana peran mereka berkontribusi pada tujuan perusahaan.

  • Mengikuti 7 Nilai Moral Universal: Nilai moral universal seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab adalah fondasi dari hubungan kerja yang sehat. Dengan mendorong karyawan untuk mengadopsi nilai-nilai ini, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis dan mengurangi konflik.

  • Menggunakan Model Budaya Hofstede untuk Memahami Perbedaan Budaya: Dalam lingkungan kerja yang multikultural, perbedaan budaya bisa menjadi sumber konflik. Model budaya Hofstede dapat membantu perusahaan memahami dan mengelola perbedaan budaya ini, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan toleran.

Dengan menerapkan solusi-solusi ini, perusahaan dapat meningkatkan moral karyawan dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif dan produktif.

4. Kualitas Produk yang Rendah dan Inefisiensi

Kualitas produk yang rendah dan inefisiensi dalam proses produksi adalah masalah yang dapat merugikan perusahaan baik dalam hal biaya maupun reputasi. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan dapat menerapkan beberapa pendekatan yang terbukti efektif:

  • Menggunakan Kontrol Proses Statistik (SPC): SPC adalah alat yang sangat efektif untuk memantau dan mengendalikan kualitas produk selama proses produksi. Dengan menggunakan data dari proses produksi, perusahaan dapat mengidentifikasi dan mengatasi masalah kualitas sebelum produk mencapai konsumen.

  • Menerapkan Six Sigma dan Lean Management: Six Sigma dan Lean Management adalah metodologi yang dirancang untuk mengurangi variabilitas dan inefisiensi dalam proses produksi. Dengan fokus pada peningkatan terus-menerus dan pengurangan pemborosan, perusahaan dapat meningkatkan kualitas produk dan efisiensi operasional mereka.

  • Menghindari Delapan Jenis Pemborosan (TIMWOODS): TIMWOODS adalah akronim untuk delapan jenis pemborosan yang umum terjadi dalam proses produksi: Transportation, Inventory, Movement, Waiting, Overproduction, Overprocess, Defect, dan (unused) Skill Utilisation. Dengan mengidentifikasi dan mengurangi pemborosan ini, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya produksi.

Dengan mengadopsi pendekatan ini, perusahaan dapat memastikan bahwa mereka menghasilkan produk berkualitas tinggi secara konsisten, sekaligus mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi operasional.

5. Kecurangan, Pencurian, dan Manipulasi

Kecurangan, pencurian, dan manipulasi adalah masalah serius yang dapat merusak kepercayaan dan integritas perusahaan. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan perlu menerapkan langkah-langkah pencegahan yang kuat dan sistem pengendalian internal yang efektif:

  • Menggunakan Model Segitiga Kecurangan: Model segitiga kecurangan membantu perusahaan memahami tiga faktor utama yang mendorong kecurangan: tekanan, peluang, dan rasionalisasi. Dengan mengidentifikasi dan mengatasi faktor-faktor ini, perusahaan dapat mengurangi risiko kecurangan.

  • Menerapkan Enam Prinsip Pengendalian Internal: Enam prinsip pengendalian internal yang efektif mencakup pemisahan tugas, otorisasi yang tepat, dokumentasi yang akurat, pengendalian fisik, verifikasi independen, dan rotasi karyawan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, perusahaan dapat mencegah pencurian dan manipulasi, serta memastikan integritas keuangan mereka.

Dengan langkah-langkah pencegahan ini, perusahaan dapat melindungi diri mereka dari risiko kecurangan dan menjaga kepercayaan pelanggan serta pemangku kepentingan.

Masalah dalam bisnis adalah hal yang tidak dapat dihindari, tetapi dengan pendekatan yang tepat, mereka dapat diatasi dengan efektif. Menguasai model mental yang tepat dan menerapkannya dalam situasi yang sesuai adalah kunci untuk menjadi pemecah masalah yang sukses. Dengan membangun perpustakaan model mental, memilih model yang paling relevan, serta terbuka terhadap ide-ide yang bertentangan, Anda dapat mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang kuat dan efektif.

 

 

Artikel Terkait

01 Mengapa Anda Mesti Belajar Keterampilan Penyelesaian Masalah

03 Cara Menyelesaikan Masalah Penjualan dan Marketing yang Lesu

04 Cara Mengatasi Karyawan Tak Kompeten dan Tak Produktif

error: Content is protected !!