Teori Ekonomi yang Terbukti Berguna untuk Mengelola Negara

Ekonomi Moneter

Boediono

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku “Ekonomi Moneter” karangan Boediono.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

EKONOMI MONETER

EDISI KETIGA

Oleh:

Boediono

SERI SINOPSIS

PENGANTAR ILMU EKONOMI NO.5

EKONOMI MONETER

Edisi Ketiga

Cetakan Pertama, Desember 1985

Cetakan Kedua, Oktober 1986

Cetakan Ketiga, Januari, 1988

Cetakan Keempat, Mei 1989

Cetakan Kelima, Mei 1990

Cetakan Keenam, Oktober 1990

Cetakan Ketujuh, Oktober 1992

Cetakan Kedelapan, September 1994

Cetakan Kesembilan, Mei 1996

Cetakan Kesepuluh, Agustus 1998

Oleh :

Boediono

Dicetak & diterbitkan oleh

BPFE – YOGYAKARTA

Yogyakarta

Anggota IKAPI

No-003

(hlm.1)

BAB I

BEBERAPA KONSEP DASAR

PASAR UANG

Definisi yang paling singkat dari teori moneter adalah teori mengenai bekerjanya “pasar uang” . Apa yang dimaksud dengan “pasar uang”? Disini kita harus mulai dengan pengertian “pasar” dalam teori ekonomi.

Yaitu sebagai pertemuan antara permintaan dan penawaran. Apabila permintaan bertemu penawaran di pasar, maka akan terjadi transaksi. Transaksi merupakan kesepakatan anatara apa yang diinginkan pembeli dan apa yang diinginkan penjual. Dalam transaksi seperti itu kedua belah fihak mencapai kesepakatan mengenai dua hal, yaitu “harga” dan “volume” dari apa yang di transaksi adalah hak untuk menggunakan uang (untuk dibelanjakan barang dan jasa) untuk jangka waktu tertentu. Jadi di pasar tersebut terjadi transaksi pinjam meminjam dana, yang selanjutnya

(hlm.2)

menimbulkan hubungan hutang-piutang “barang” yang ditransaksikan adalah secarik kertas berupa “surat hutang” (atau janji untuk membayar sejumlah uang tertentu pada suatu waktu nanti). Dalam transaksi pinjam-meminjam, maka orang yang meminjam atau debitur menjual surat hutangnya kepada orang yang meminjamkan atau kreditur ; debitur menerima uang tunai dan kreditur menerima surat hutang .

HARGA UANG

“Harga” yang disepakati adalah harga dari penggunaan uang tersebut untuk jangka waktu yang ditentukan bersama. Jadi tingkat bunga adalah “harga” dari  penggunaan utang untuk jangka waktu tertentu.

UANG BEREDAR

Kita menyatakan diatas bahwa uang yang ditukarkan dengan surat hutang adalah uang tunai.

Pengertian yang paling sempit adalah bahwa yang termasuk dalam definisi “uang” adalah uang kertas dan uang logam yang ada di tangan masyarakat. Uang tunai ini disebut uang kartal atau dalam bahasa Inggris dinamakan currency.

(hlm.3)

Uang tunai di lemari besi bank ataupun di kantor-kantor kas negara tidak terkait langsung dengan “pasar barang”.

Dalam bentuk rekening koran atau rekening giro . Bagi si pemilik rekening korang/giro tersebut, sebenarnya tidak ada bedanya antara uang kertas yang ia pegang dan uang yang ia simpan di bank berupa saldo rekening koran/giro, karena sewaktu-waktu ia bisa mengambil kembali uang tersebut untuk dibelanjakan barang dan jasa yang dibutuhkan nya hanya dengan menulis cek. Di negara-negara maju sebagian besar dari pembelian barang dan jasa dibayar dengan cek.

Saldo rekening koran/giro yang dimiliki oleh masyarakat disebut uang giral atau demand deposits. Sedangkan uang beredar yang didefinisikan sebagai uang kartal plus uang giral (atau currency plus demand deposits) disebut uang dalam arti sempit atau narrow money, dan untuk ini biasanya digunakan simbol M1.

(hlm.4)

Sedangkan saldo rekening koran milik bank pada bank lain atau pada bank sentral (Bank Indonesia) ataupun saldo rekening koran milik Pemerintah pada bank atau bank sentral tidak dimasukan dalam definisi DD.

Cek yang demikian hanyalah merupakan secarik kertas yang berguna sebagai catatan atau untuk pembukuan, karena tidak lagi merupakan daya beli yang bisa digunakan pemiliknya.

Di beberapa negara, cek bagi para pelancong, yang disebut  traveller’s checks, yang dipegang oleh masyarakat dimasukan kedalam definisi M1. Di berbagai negara maju, dan mulai kelihatan pula di kota-kota besar di Indonesia, sekarang sudah dipakai apa yang disebut kartu kredit atau credit cards. Kartu ini dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan yang ternama kepada nasabah-nasabahnya yang terpilih atau dianggap bonafide.

(hlm.5)

Jadi plafond untuk kartu kredit ini secara prinsip seharusnya juga termasuk dalam M1.

Alat-alat pembayaran yang “mendekati” uang, misalnya deposito berjangka (time deposits) dan simpanan tabungan (savings deposits) pada bank-bank.

Ekonom Milton Friedman menyebut kekayaan semacam ini temporary abodes of perchasing power atau “tempat menginap” sementara bagi daya beli.

M2 = M1+TD+SD

Dimana TD = time deposits (deposito berjangka)

SD = savings deposits (saldo tabungan)

Orang menempatkan uangnya dalam TD dan SD karena simpanan ini memberikan bunga. M2 juga disebut uang beredar dalam arti luas atau broad money.

Tetapi selain TD dan SD dalam definisi tersebut dimasukan aktiva-aktiva lain milik perorangan seperti overnight Euro Dollars, money market mutual fund shares (MMMF) dan money market deposit account (MMDA)

Definisi uang beredar yang lebih luas lagi adalah M3, yang mencakup semua TD dan SD, besar kecil, rupiah atau dollar milik penduduk pada bank atau lembaga keuangan non-bank. Seluruh TD dan SD ini disebut uang kuasi atau quasi money.

Definisi yang paling luas, yang disebut likuditas total atau total liquidity (L) mencakup semua alat-alat “likuid” yang ada di masyarakat. Jadi yang termasuk di sini bukan hanya TD dan SD, tetapi juga misalnya obligasi pemerintah dan swasta “jangka pendek” (biasanya yang jatuh tempo kurang dari 1 tahun), wesel perusahaan (commercial papers), cek mundur, aksep bankir (banker’s acceptances), simpanan (deposito) diluar negeri dan sebagainya.

Mana di antara semua definisi ini yang paling sering dipakai dalam praktek? M1! Tetapi M2 dan M3 juga banyak digunakan.

PARA PELAKU DALAM PASAR UANG

Dalam pembahasan kita mengenai pasar uang di atas kita telah menyinggung bahwa ada 2 kelompok kreditur (yang menawarkan dana) dan kelompok debitur (yang mencari dana).

  1. Otorita Moneter (Bank Sentral dan Pemerintah)
  2. Lembaga Keuangan (Bank dan Bukan Bank)
  3. Masyarakat (Rumah Tangga dan Perusahaan)

(hlm.9)

Otorita moneter mempunyai peran utama sebagai sumber awal dari terciptanya uang beredar. Kelompok pelaku ini merupakan sumber “penawaran” (suplai) uang kartal (C) untuk memenuhi “permintaan” akan uang tersebut dari masyarakat dan sumber “penawaran” uang yang dibutuhkan oleh lembaga-lembaga keuangan, yang untuk singkatnya disebut “cadangan bank” atau bank reserves (R).

Lembaga keuangan yang terdiri dari bank-bank dan lembaga-lembaga keuangan lain yang tidak berstatus bank (kantor giro pos, lembaga investasi, perusahaan asuransi dan sebagainya). Peran utama dari lembaga-lembaga ini adalah sebagai sumber “penawaran” uang giral (DD), deposito berjangka (TD), simpanan tabungan (SD), dan aktiva-aktiva keuangan lain yang “diminta” (dipegang) oleh masyarakat, sedangkan Lembaga Keuangan menyediakan “uang sekunder” (DD, TD, SD dan lain-lain) kepada masyarakat.

Masyarakat adalah konsumen akhir dari uang yang tercipta, yang mereka gunakan untuk memperlancar kegiatan-kegiatan produksi, konsumsi dan pertukaran mereka.

FUNGSI UANG

Apa yang terjadi seandainya di dalam seandainya di dalam suatu perekonomian tiba-tiba diputuskan oleh pemerintah untuk tidak meggunakan uang? Kita bisa membayangkan bahwa kekacauan dalam segala bidang kehidupan ekonomi akan terjadi. Proses produksi akan terhambat, proses konsumsi akan terhambat, dan keduanya timbul karena proses pertukaran terhambat. Jadi tidak adanya uang akan membawa kembalian mundur perekonomian dari perekonomian pertukaran ke perekonomian subsistensi yaitu masing-masing orang cenderung memproduksikan apa yang dibutuhkannya dan mengkonsumsikan apa yang diproduksikan nya.

Dua fungsi dasar tersebut adalah peranan uang sebagai:

  • Alat tukar (means of exchange)
  • Alat penyimpanan nilai/daya (store of value)

(hlm.11)

Dengan digunakannya uang, penjual hanya perlu menukarkan barangnya dengan uang, dan selanjutnya ia bisa menggunakan uang tersebut untuk membeli dari orang (lain) yang menjual barang yang ia butuhkan.

Si penjual barang mau menerima uang sebagai pembayaran untuk barangnya karena ia percaya bahwa uang tesebut juga diterima oleh orang lain (masyarakat umum) sebagai alat pembayaran apabila ia nanti memerlukan untuk membeli suatu barang. Unsur kepercayaan ini penting sekali dan melandasi pemilihan “barang” apa yang bisa digunakan sebagai uang. Barang apapun bisa digunakan asal unsur kepercayaan ini bisa diletakan pada barang tersebut. Dahulu orang menggunakan logam mulia (emas,perak) sebagai mata uang karena kebanyakan orang mau menerimanya sebagai alat pembayaran. Di beberapa tempat digunakan batu, ternak dan sebagainya sebagai uang, sekarang kebanyakan negara menggunakan uang kertas, karena murah membuatnya dan mudah menyimpannya.

Fungsi dasar yang kedua dari uang, yaitu sebagai alat penyimpanan daya beli (nilai), terkait dengan sifat manusia sebagai pengumpul kekayaan.

Tetapi uang memang merupakan salah satu pilihan untuk menyimpan kekayaan. Syarat utama untuk iniadalah bahwa uang harus bisa menyimpan daya beli atau “nilai”.

(hlm.12)

Dalam keadaan inflasi yang parah, nilai uang (untuk ditukar barang) merosot cepat, sehingga orang enggan memegang uang dan lebih suka memegang barang. Uang kehilangan fungsinya sebagai store of value. Sebaliknya dalam masa stabil atau masa deflasi (harga-harga turun) uang sangat dicari orang sebagai penyimpanan kekayaannya.

Memang sekarang uang umumnya dinyatakan sebagai alat pembayaran yang sah berdasarkan undang-undang. Artinya penduduk suatu negara secara hukum tidak boleh menolak apabila orang membayarnya dengan uang (mata uang negara tersebut). Tetapi apabila nilai mata uang tersebut merosot dengan cepat, orang masih bisa menyatakan ketidakpercayaan nya terhadap mata uang tersebut dengan cara tidak menjual barangnya atau begitu ia menerima uang ia langsung membelanjakannya untuk memperoleh barang.

Dua fungsi uang lainnya adalah sebagai :

  • Satuan hitung (unit of account)
  • Ukuran untuk pembayaran masa depan (standard for deferred payments)

(hlm.13)

Fungsi ini kurang fundamental dibanding dengan kedua fungsi yang dibicarakan di atas, karena fungsi ini hampir otomatis mengikuti fungsi uang sebagai alat tukar. Dan kalaupun uang tidak dipakai sebagai satuan hitung. Sebenarnya pertukaran lewat uang masih bisa terjadi.

Sebagai ukuran bagi pembayaran masa depan, uang terkait dengan transaksi pinjam-meminjam atau transaksi kredit, artinya barang sekarang dibayar nanti “uang sekarang” dibayar dengan “uang nanti”.

Sekali lagi, seperti halnya dengan fungsi uang sebagai satuan hitung di atas, fungsi ini adalah fungsi yang biasanya dilakukan oleh uang, tetapi bukan fungsi yang harus dilakukan dengan uang.

(hlm.14)

(c) Simpanan Tabungan, Rp. (SD)1)

1) Tabanas dan Taska

(hlm.17)

BAB II

PERMINTAAN AKAN UANG : TEORI-TEORI KLASIK

PENDAHULUAN

Para ekonom “klasik”, yaitu mereka yang menganut aliran ekonomi makro sebelum Keynes. “Teori Kuantitas mengenai Uang” atau the Quantity Theory of Money.

Teori ini sebenarnya adalah teori mengenai permintaan dan sekaligus penawaran akan uang, beserta interaksi antara keduanya. Fokus dari teori tersebut adalah pada hubungan antara penawaran uang (atau jumlah uang beredar) dengan nilai uang (atau tingkat harga) .

(hlm.18)

IRVING FISHER

MVT = PT………………………………………………. (1)

Di dalam suatu periode tertentu nilai dari barang-barang/jasa-jasa yang dibeli harus sama dengan nilai dari barang-barang yang dijual. Nilai dari barang-barang yang dijual sama dengan volume transaksi (T) dikalikan harga rata-rata dari barang tersebut (P). Di lain fihak nilai dari barang yang ditransaksikan ini harus pula sama dengan volume uang yang ada di dalam masyarakat (M) dikalikan berapa kali rata-rata uang bertukar dari tangan satu ke tangan lain, atau rata-rata “perputaran” uang, dalam periode tersebut (VT) . MVT= PT adalah suatu identitas, dan pada dirinya bukan merupakan suatu teori moneter.

VT, atau “transaction velocity of circulation” adalah sesuatu variabel yang ditentukan oleh faktor-faktor kelembagaan yang ada dalam suatu masyarakat, dan dalam jangka pendek bisa dianggap konstan. T, atau volumen transaksi, dalam suatu periode tertentu ditentukan oleh tingkat output masyarakat (atau pendapatan nasional), dan bisa pula dianggap mempunyai nilai tertentu untuk sesuatu tahun. Identitas tersebut kemudia “nyawa” dengan mentransformasikannya ke dalam bentuk:

Md =   1          PT………………………………. (2)

         VT

(hlm.19)

Permintaan (atau kebutuhan) akan uang dari masyarakat adalah suatu proporsi tertentu

 1        dari nilai transaksi (PT). (Tanda “-” menunjukan posisi equilibrium di sektor moneter.

VT

Md = Ms ……………………………….. (3)

Dimana Ms = supply uang yang beredar (yang dianggap ditentukan oleh pemerintah) menghasilkan

Ms = 1    PT……………………………..(4)

         VT

Persamaan (4) berbunyi :dalam jangka pendek tingkat harga umum (P) berubah secara proporsional dengan perubahan uang yang diedarkan oleh pemerintah. Dalam teori ini T ditentukan oleh tingkat output equilibrium masyarakat, yang untuk Fisher dan para ahli ekonomi Klasik, adalah selalu pada posisi “full employment” (Hukum Say atau Say’s Law). Variabel yang belum diterangkan adalah transaction velocity of circulation. VT ditentukan oleh sifat proses transaksi yang berlaku di dalam suatu masyarakat dalam suatu periode.

Tingkat “monetisasi” sektor-sektor ekonomi sektor-sektor ekonomi (masyarakat agraris tradisional memerlukan uang yang lebih kecil untuk setiap volume transaksi daripada masyarakat industri/perdagangan), kebiasaan memberikan kredit perdagangan oleh supplier kepada pembeli juga bisa mengakibatkan menurunnya kebutuhan akan uang, perbaikan-perbaikan dalam komunikasi (telepon/telegrap) dan jaringan perbankan memungkinkan dana bisa dikirim antar daerah secara cepat dan mengakibatkan kebutuhan uang

(hlm.20)

menurun. Pada hakekatnya yang perlu dicatat adalah bahwa faktor-faktor kelembagaan seperti ini biasanya berubah secara gradual dan dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek kebutuhan (atau permintaan) akan uang relatif terhadap volume transaksi bisa dianggap konstan. Demikian pula volume transaksi relatif terhadap output masyarakat (pendapatan nasional) bisa dianggap mempunyai proporsi yang lebih kurang konstan dalam jangka pendek, dan ditentukan oleh faktor-faktor kelembagaan yang serupa.

  • Permintaan akan uang di dalam suatu masyarakat merupakan suatu proporsi tertentu dari volume transaksi, dan volume transaksi merupakan suatu proporsi konstan pula dari tingkat output masyarakat (pendapatan nasional). Jadi permintaan akan uang pada analisa akhir ditentukan oleh tingkat pendapatan nasional saja, dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti tingkat bunga.
  • Dari segi kebijaksanaan ekonomi makro, teori moneter ini mempunyai implikasi yang penting, yaitu bahwa tingkat pendapatan nasional equilibrium, atau tingkat harga umum bila tingkat full employment sudah tercapai, tidak bisa dipengaruhi oleh kebijaksanaan fiskal. Dengan menggunakan kurva IS dan LM kesimpulan ini bisa ditunjukan sebagai berikut:
    kasus di bawah “Full Employment”

Permintaan akan uang yang tidak dipengaruhi oleh (atau sering juga disebut “tidak elastis” terhadap) tingkat bunga mempunyai implikasi bahwa kurva LM-nya adalah vertikal (yaitu juga “tidak elastis” terhadap tingkat bunga). Dalam keadaan ini maka kebijaksanaan fiskal (yang secara diagramatis ditunjukan sebagai pergeseran kurva IS) tidak akan mempengaruhi tingkat pendapatan nasional equilibrium. Dalam kasus ini kebijaksaan moneterlah yang paling efektif untuk mengendalikan tingkat pendapatan nasional.

(hlm.21)

Kebijaksanaan fiskal hanya menaikkan tingkat bunga dan tidak berpengaruh kepada pendapatan nasional.

Kebijaksanaan moneter mempengaruhi pendapatan nasional dan tingkat bunga.

(hlm.22)

Kasus “Full Employment”

Dalam kasus dimana “full employment” telah dicapai kebijaksanaan fiskal tidak mempengaruhi tingkat pendapatan nasional maupun tingkat harga (P). Kebijaksanaan moneter bisa mempengaruhi tingkat pendapatan nasional nominal (money national income, bukan real national income karena full employment perdefinisi berarti faktor-faktor produksi telah digunakan secara full”). Ini berarti pula bahwa tingkat harga umum (P) dipengaruhi oleh kebijaksanaan moneter.

Seperti dalam kasus di atas, kebijaksanaan fiskal tidak mempengaruhi tingkat harga (P) dan hanya mempengaruhi tingkat bunga

(hlm.23)

Kebijaksanaan moneter (misalnya kenaikan supply uang), mula-mula akan menaikan money nationalincome. Tetapi karena Y* adalah tingkat pendapatan nasional maksimum, maka ini hanya bisa berarti kenaikkan harga umum (P).

Impikasi bahwa bila permintaan akan uang, tidak sensitif atau tidak elastis terhadap tingkat bunga maka kebijaksanaan fiskal tidak efektif, adalah ciri yang sangat penting dari teori moneter Klasik.

TEORI CAMBRIDGE (MARSHALL-PIGOU)

Teori Cambridge, seperti halnya dengan Fisher dan teori-teori klasik lainnya, berpokok pangkal pada fungsi uang sebagai alat tukar umum (means of exchange).

(hlm.24)

Cambridge pada perilaku individu dalam mengalokasikan kekayaan nya antara berbagai kemungkinan bentuk kekayaan, yang salah satunya bisa berbentuk “uang”. Perilaku ini dipengaruhi oleh pertimbangan untung rugi dari pemegangan kekayaan dalam bentuk uang. Teori Cambridge mengatakan bahwa kegunaan dari pemegangan kekayaan dalam bentuk uang adalah karena uang (berbeda dengan bentuk kekayaan lain) mempunyai sifat likuid sehingga dengan mudah bisa ditukarkan dengan barang lain.

            Di lain fihak, memegang kekayaan dalam bentuk uang berarti mengorbankan kemungkinan mendapatkan penghasilan dalam bentuk bunga dan/atau keuntungan-kapital (capital gain) seandainya dia memegang kekayaannya dalam bentuk surat-surat berharga atau barang. Ini adalah kerugian dari memegang uang.

Jadi berbeda dengan teori Fisher yang menekan bahwa permintaan akan uang semata-semata merupakan proporsi konstan dari volume transaksi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor kelembagaan yang konstan, teori Cambridge lebih menekankan faktor-faktor kelembagaan yang konstan, teori Cambridge lebih menekankan faktor-faktor perilaku (pertimbangan untung rugi) yang menghubungkan antara permintaan akan uang seseorang dengan volume transaksi yang direncakannya.

Juga dipengaruhi oleh tingkat bunga, besar kekayaan warga masyarakat, dan ramalan/harapan (expectations) dari para warga masyarakat mengenai masa mendatang.

(hlm.25)

Terutama Pigou, variabel-variabel lain yang mempengaruhi permintaan akan uang (yang disebutkan diatas) kemudian dianggap konstan dalam jangka pendek atau hanya dimasukkan kedalam analisa teori uang mereka secara kualitatif. Jadi dalam jangka pendek, teoritisi Cambridge menganggap bahwa jumlah kekayaan, volume transaksi dan pendapatan nasional mempunyai hubungan yang proporsional-konstan satu sama lain, dan akhirnya mereka merumuskan teori uang mereka dalam bentuk yang tidak jauh berbeda dengan teori Fisher. Teori Cambridge menganggap bahwa, ceteris paribus permintaan akan uang adalah proporsional dengan tingkat pendapatan nasioanal.

Md  =  k P Y  ……………………….. (5)

Di mana Y adlah pendapatan nasional riil.

Supply akan uang (Ms) dianggap ditentukan oleh Pemerintah. Dalam posisi keseimbangan maka:

Ms  =  Md  ……………………………..(6)

Sehingga:

Ms  =  k P Y…………………………….(7)

Atau:

P = 1  Ms  Y……………………………..(8)

      K

Jadi ceteris paribus tingkat harga umum (P) berubah secara proporsional dengan perubahan volume uang yang beredar.

(hlm.26)

Teori Cambridge tidak menutup kemungkinan bahwa faktor-faktor seperti tingkat bunga dan expectations berubah, meskipun dalam jangka pendek.

(hlm.27)

BAB III

PERMINTAAN AKAN UANG : TEORI KEYNES

PENDAHULUAN

Teori uang dari Keynes adalah bagian dari teori ekonomi makronya yang dituangkan dalam bukunya General Theory yang sangat berpengaruh itu. Sebelum penerbitan buku ini, Keynes telah menulis mengenai teori moneter, yaitu dalam A Tract on Monetary Reform (1923) dan  A Treatise on Money (1930). Namun teori moneter Keynes yang ditulis dalam kedua buku yang disebut terakhir ini pada asasnya masih di dalam tradisi Marshall-Pigou. Baru dalam bukunya General Theory lah ia mencetuskan teori moneter yang baru dan menyimpang dari tradisi Klasik.

Pada hakekatnya perbedaan ini terletak pada penekanan oleh Keynes pada fungsi uang yang lain, yaitu sebagai store of value dan bukan hanya sebagai means of exchange. Teori ini kemudian terkenal dengan nama teori liquidity preference.

(hlm.28)

MOTIF TRANSAKSI DAN BERJAGA-JAGA

Demikian pula Keynes berpendapat bahwa permintaan akan uang untuk tujuan transaksi inipun tidak merupakan suatu proporsi yang selalu konstan, tetapi dipengaruhi pula oleh tinggi rendahnya tingkat bunga (seperti juga halnya dalam teori Cambridge) dalam analisa selanjutnya. Salah satu sebab adalah karena ia ingin menekankan peranan tingkat bunga dalam penentuan permintaan akan uang untuk tujuan lain, yaitu tujuan spekulasi (dibicarakan dalam bagian tersebut).

Motif ini disebut motif berjaga-jaga (precautionary motive). Orang akan mendapat manfaat dari memegang uang untuk menghadapi keadaan-keadaan yang tak terduga tersebut, karena sifat uang yang likuid, yaitu mudah untuk ditukarkan dengan barang-barang lain.

(hlm.29)

MOTIF SPEKULASI

Yang merupakan pembaharuan dalam teori moneter dari Keynes adalah unsur yang ketiga dari permintaan akan uang, yaitu permintaan akan uang untuk tujuan spekulasi.

Kita ingat bahwa Marshall dan Pigou telah pula menyarankan dalam teori moneter mereka bahwa faktor ketidaktentuan masa depan (uncertainty) dan faktor harapan (expectations) dari pemilik kekayaan bisa mempengaruhi permintaan akan uang dari pemilik kekayaan tersebut. Namun sayangnya kedua teoritisi ini tidak pernah membakukan faktor-faktor ini ke dalam perumusan teori moneter mereka. (kita telah lihat bahwa bentuk permintaan dari teori Cambridge tidak berbeda banyak dari teori Fisher, dan faktor-faktor ini hanya masuk analisa secara kualitatif).

Tetapi ia membatasi “uncertainty” dan “expectations” mengenai satu variabel, yaitu tingkat bunga.

Pada garis besarnya teori Keynes membatasi pada keadaan dimana pemilik kekayaan bisa memilih memegang kekayaannya dalam bentuk uang tunai atau obligasi (bond). Uang tunai dianggap tidak memberikan penghasilan, sedang obligasi dianggap memberikan penghasilan berupa sejumlah uang tertentu setiap periode. Dalam teori Keynes dibicarakan khusus obligasi yang memberikan suatu penghasilan berupa sejumlah uang tertentu setiap periode selama waktu yang tak terbatas (perpetuity). Tetapi meskipun khusus obligasi

(hlm.30)

semacam ini yang dibicarakan dalam Model Keynes sebagai alternatif dari pemegangan kekayaan dalam bentuk uang tunai, hal ini tidak mengurangi validasi teori Keynes untuk kasus dimana obligasi tidak berbentuk perpetuity, yaitu yang hanya memberikan aliran penghasilan sampai tanggal jatuh temponya, ataupun dimana ada surat-surat berharga lainnya.

K  =  RP ……………………… (1)

Di mana K adalah hasil per tahun yang diterima (Rp.6.000,- dalam contoh di atas), R adalah tingkat bunga, dan P adalah harga pasar (atau nilai sekarang) dari obligasi  “perpetuity” tersebut. Persamaan tersebut bisa juga ditulis sebagai

P  =  K …………………………..(2)

        R

(hlm.31)

Yang menunjukan bahwa (karena K adalah konstan) harga pasar obligasi (P) berbanding terbalik dengan tingkat bunga R. Bila tingkat bunga turun, maka berarti harga pasar obligasi naik; dan sebaliknya bila tingkat bunga naik berarti harga pasar obligasi turun.

Sekarang, menurut Keynes orang bisa “berspekulasi” mengenai perubahan tingkat bunga di waktu mendatang (yang berarti juga peerubahan harga pasar obligasi atau menjual obligasi di waktu mendatang) dengan membeli obligasi atau menjual obligasi yang dipunyainya dengan harapan memperoleh keuntungan. Bila ia mengharapkan tingkat bunga akan menaik (atau, sama saja, harga obligasi turun) di waktu mendatang maka adalah rasional baginya untuk menjual obligasi yang ia punyai dan memegang kekayaannya dalam bentuk uang tunai (yaitu hasil penjualan obligasi tersebut), sebab dengan demikian ia bisa menghindari dari kerugian kapital (capital loss) yang mungkin terjadi sebagai akibat dari turunya harga obligasi yang ia punyai. Sebaliknya bila ia mengharapkan bahwa tingkat bunga akan turun (atau harga obligasi akan naik), maka lebih baik baginya untuk membeli obligasi (atau mengurangi uang tunai yang ia pegang), karena dengan demikian ia bisa memperoleh keuntungan-kapital (capital gain) berupa kenaikan nilai atau bunga dari obligasi yang dibelinya tadi.

Perhatikan bahwa perilaku pemilik kekayaan tersebut didasarkan atas harapan atau ramalannya mengenai apa yang akan terjadi dengan tingkat bunga. Tentunya “spekulasi” semacam ini hanya bisa terjadi di dunia yang ada faktor “ketidakpastian masa depan” (uncertainty). Dan ini memang keadaan dunia nyata yang kita hadapi (dan dari segi ini teori Keynes adalah lebih “realitis” daripada teori-teori moneter sebelumnya). Jadi menurut teori Keynes: (a) bila tingkat bunga dihadapkan untuk turun maka orang lebih suka memegang kekayaannya dalam bentuk obligasi daripada uang tunai, karena bukan hanya obligasi memberikan penghasilan tertentu per periode (K, dalam notasi di atas) tetapi juga bisa memberikan “capital-gain” berupa kenaikan harga obligasi, (b) bila tingkat bunga diharapkan untuk naik maka orang akan memilih memegang uang tunai daripada obligasi.

(hlm.32)

Empat kemungkinan keadaan:

  1. Bila tingkat bunga diharapkan turun
  2. Bila tingkat bunga diharapkan naik
  3. Bila tingkat bunga diharapkan naik cukup besar
  4. Bila tingkat bunga diharapkan naik tetapi besar kenaikan tersebut menghasilkan capital-loss sama dengan interest-income (K), maka dalam hal ini tidak menjadi soal

Semuanya berkisar  pada harapan mengenai perubahan tingkat bunga dimasa mendatang. Apa yang menentukan harapan seseorang akan gerak dari tingkat bunga? Mengenai hal ini Keynes mengatakan bahwa pada suatu waktu seseorang mempunyai pendapat mengenai tingkat bunga yang ia anggap “normal”. Bila pada suatu waktu tingkat bunga yang berlaku lebih tinggi dari tingkat bunga yang ia anggap normal, maka ia akan mengharapkan bahwa tingkat bunga akan turun di masa mendatang.

(hlm.33)

Perhatikan bahwa dalam teori ini setiap orang dianggap mempunyai pendapat subyektif masing-masing mengenai tingkat bunga yang dianggap “normal”. Tingkat bunga yang “normal” bagi si A tidak selalu sama dengan apa yang dianggap “normal” oleh si B.

Teori tersebut mempunyai implikasi bahwa bagi seseorang pada suatu waktu ada (di dalam fikirannya) suatu tingkat bunga yang berlaku R*, di atas tingkat tersebut ia lebih suka memegang obligasi, dan di bawah tingkat bunga tersebut ia lebih suka memegang obligasi, dan di bawah tingkat bunga tersebut ia lebih suka memegang obligasi, dan di bawah tingkat bunga tersebut ia akan memilih memegang kekayaannya dalam bentuk uang. Perhatikan juga bahwa kalau kita melihat dari segi seseorang, yang (kita anggap) mempunyai sejumlah kekayaan senilai S seluruhnya dalam bentuk obligasi. Bila tingkat bunga yang berlaku saat ini berada di bawah R*, ia akan memegang S seluruhnya dalam bentuk uang.

Kurva permintaan akan uang untuk tujuan spekulasi bagi seseorang pada suatu waktu adalah segi empat OR*BS.

(hlm.34)

  1. Bahwa ada variasi (atau perbedaan) yang cukup luas bagi masing-masing orang dalam pendapatnya mengenai tingkat bunga yang dianggap “normal”, dan
  2. Setiap orang memiliki uang dan obligasi yang jumlahnya kecil relatif terhadap jumlah total uang dan obligasi yang ada dalam masyarakat.

(hlm.35)

PERMINTAAN TOTAL AKAN UANG

Bentuk yang sederhana dari fungsi permintaan (total) akan uang dari teori Keynes adalah

Md   =  [ k Y + Ø  (R,W ) ] …………………………(3)

 P

Md     adalah permintaan total akan uang dalam arti riil; suku pertama dalam kurung, yaitu k Y adalah

 P       permintaan akan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga, yang dinyatakan sebagai suatu proporsi         (k) dari pendapatan nasional riil; Ø (R, W) adalah permintaan akan uang untuk motif spekulasi yang dinyatakan sebagai fungsi dari tingkat bunga yang berlaku (R) dan nilai riil dari asset (kekayaan atau wealth) yang ada di masyarakat (W).

Md  =  [ k Y + Ø (R,W) ] P …………………………(4)

Md  =  k Y + Ø (R) ] P………………………………..(5)

Di mana Ø (R) = Ø (R,W). Dan dalam posisi equilibrium, supply uang (Ms), yang dianggap juga oleh Keynes sebagai variables yang ditentukan oleh pemerintah, semua dengan Md. Sehingga

Ms  =  [ k Y + Ø (R) ] P……………………………..(6)

(hlm.36)

Dalam teori Keynes, berbeda dengan teori-teori klasik pasar uang (Md, Ms) menentukan tingkat bunga (R) dan harga umum (P). Tetapi tekananya justru pada penentuan tingkat bunga (R) , sedangkan penentuan tingkat harga (P) dalam kerangka teori makro Keynes tidak melulu ditentukan oleh permintaan dan penawaran uang (seperti klasik), tetapi ditentukan sebagai resultante dari permintaan agregat dan penawaran agregat. Dalam model Keynes yang paling sederhana bahkan P dianggap kontan untuk tingkat output dibawah tingkat output “full employment”, dan akan berubah secara kurang lebih proporsional dengan supply uang pada full employment output.

Tetapi sekali lagi tekanan dari teori moneter Keynes adalah bahwa pasar uang (Ms, Md) terutama menentukan tingkat bunga, sedangkan teori Klasik menekankan bahwa pasar uang menentukan tingkat harga.

  1. Teori klasik mempunyai ciri dasar bahwa perubahan volume uang yang beredar tidak mempengaruhi tingkat maupun komposisi output di dalam masyarakat. Volume uang yang beredar hanya mempengaruhi tingkat harga umum (P); sedangkan tingkat dan komposisi output di dalam masyarakat dipengaruhi oleh harga relatif dan faktor-faktor non-moneter lainnya. Ini sering disebut dengan “classical dichotomy” (pemisahan dalam teori Klasik antara “sektor moneter” dan “sektor riil”, masing-masing sektor tidak saling mempengaruhi).

Teori Keynes mempunyai implikasi bahwa kedua sektor tersebut bisa saling mempengaruhi. Ini merupakan satu langkah perkembangan teoritis ke arah integrasi teori moneter dengan

(hlm.37)

teori mengenai sektor non-moneter. Dalam teori makro dari Keynes kita mengetahui bahwa sebelum full employment dicapai maka perubahan supply uang bersama-sama dengan permintaan akan uang mempengaruhi tingkat bunga; selanjutnya perubahan tingkat bunga mempengaruhi tingkat investasi (riil). Integrasi antara teori moneter dengan teori mikro baru kemudian dilakukan, terutama oleh Don Patinkin (dibicarakan dalam Lampiran dalam buku ini).

  • Teori permintaan akan uang dari Keynes mempunyai  implikasi bahwa fungsi permintaan akan uang (Liquidity Prefrence) adalah fungsi yang tidak stabil, dalam arti bahwa fungsi ini bisa bergeser dan berubah posisi dengan cepat dari waktu ke waktu.

(hlm.38)

Akan uang didominir oleh permintaan akan uang untuk spekulasi, sehingga posisi fungsi permintaan total ini tidak bisa dianggap stabil. Implikasi kebijaksanaan dari teori permintaan akan uang semacam ini adalah bahwa efek kebijaksanaan moneter, maupun fiskal, (tetapi terutama kebijaksanaan moneter!) sulit untuk diramalkan.

(hlm.39)

BAB IV

PERMINTAAN AKAN UANG : PERKEMBANGAN TEORI KEYNES SETELAH KEYNES

PENDAHULUAN

Pada garis besarnya perkembangan tersebut mengikuti dua jalur utama yaitu: pendekatan Keynes dan pendekatan Teori Kuantitas.

Menunjukan titik pertemuan.

(hlm.40)

Usaha mengintegrsaikan Teori Kuantitas dengan teori mikro. Hasil karya dari Don Patinkin

PERMINTAAN UNTUK TRANSAKSI (BAUMOL-TOBIN)

Baumol melihat bahwa kebutuhan akan uang dari seseorang (baik sebuah rumah tangga maupun sebuah perusahaan, secara teoritis sama) untuk tujuan transaksi pada hakekatnya adalah sama dengan kebutuhan “stok” (inventory) untuk sesuatu barang.

Memilih jumlah dan pola waktu untuk “stok” tersebut yang membebaninya biaya total yang minimal. Model dari Baumol bertitik tolak dari anggapan bahwa orang ini menerima pendapatan sejumlah tertentu secara reguler setiap waktu (misalnya setiap awal bulan). Untuk menyederhanakan, dianggap bahwa ia selalu membelanjakan (atau menggunakan penghasilan tersebut untuk tujuan transaksi) sejumlah tertentu (tetap) setiap harinya. Dengan lain perkataan, kebutuhan dana (uang tunai) per satuan waktu adalah konstan.

(hlm.41)

Orang tersebut akan lebih suka memegang pendapatan totalnya sebanyak mungkin dalam bentuk obligasi dan memegang seminimal mungkin dalam bentuk uang tunai.

(hlm.42)

Sebaliknya bila ia menukarkan obligasi dalam jumlah yang terlalu besar setiap kalinya, ia akan kehilangan penghasilan bunga yang dia bisa terima seandainya dia memegang obligasi yang lebih banyak. Biaya total (C) dari pemegangan “stok” ini adalah:

C  =       T              K

         b        +    R             ……………………………………………….(1)

              K              2

 (hlm.43)

Sedangkan “biaya” berupa kehilangan bunga (karena ia memegang uang dan bukan obligasi) adalah tingkat bunga R dikalikan stok rata-rata adalah jelas sama dengan 1/2  K. Jadi “biaya bunga” yang ia tanggung selama periode tersebut adalah R K/2. Biaya total (C) adalah penjumlahan dari “biaya penjualan obligasi” dan “biaya bunga”, yaitu seperti yang tertulis dalam persamaan (1) di atas.

Berapakah K yang ia pilih ? ia akan memilih K yang memenuhi syarat bahwa C adalah minimum.

K  =      …………………………………(3)

            R

Jumlah uang tunai yang ia butuhkan pada setiap waktu tidak lain adalah stok rata-rata yang ia pegang atau = K/2.

Apabila benar bahwa setiap warga masyarakat

(hlm.45)

menentukan permintaannya akan uang tunai untuk tujuan transaksi seperti apa yang digambarkan oleh Baumol, maka fungsi permintaannya menunjukan adanya economies of scale dari penggunaan uang.

  1. Hal ini berarti bahwa permintaan akan uang untuk trasnsaksi dari masyarakat secara keseluruhan ternyata tidak hanya tergantung pada pendapatan nasional (Y), tetapi juga pada “distribusi pendapatan” antar warga masyarakat. Apabila sebagian besar dari Y diterima oleh sejumlah kecil orang (yaitu apabila distribusi pendapatan tidak merata) maka permintaan masyarakat akan uang untuk transaksi adalah lebih kecil daripada apabila Y yang sama yang didistribusikan secara lebih merata.
  2. Kebijaksanaan moneter relatif menjadi lebih efektif dari pada seandainya tidak ada  economies of scale (yaitu dalam kasus permintaan yang “proporsional”).ini mudah dimengerti, karena bila misalnya supply uang dinaikan dengan 2 kali maka (karena Ms = Md dalam equilibrium) pendapatan nasional (Y) akan naik dengan  = 4 kali. Ms naik menjadi 2 x, yaitu= 2 Ms. Sedangkan supply uang harus sama dengan permintaan akan uang, dalam equilibrium. Jadi 2Ms = 2Md. Jadi bila Md naik 2 x (karena kebijaksanaan moneter melipatkan Ms 2x) maka T akan naik 4x.

(hlm.46)

Jadi adanya “economies of scale” dalam penggunaan uang membuat kebijaksanaan moneter menjadi lebih efektif!

PERMINTAAN UANG UNTUK SPEKULASI (TOBIN)

(hlm.47)

Lalu bagaimana Keynes bisa mendapatkan kurva permintaan akan uang untuk spekulasi bagi masyarakat secara keseluruhan yang mempunyai slope yang negatif dan halus (smooth)? Kita sebutkan bahwa Keynes beranggapn bahwa kekayaan yang dimiliki oleh seorang individu hanya merupakan bagian kecil dari kekayaan total dalam masyarakat; ini berarti bahwa kurva permintaan individu hanya merupakan satu titik kecil pada kurva permintaan agregat.

(hlm.48)

Teori ini bertitik tolak pada anggapan bahwa seseorang akan mendapatkan kepuasan (utility) yang lebih besar semakin besar nilai kekayaan nya atau penghasilannya; tetapi ia akan mendapatkan kepuasan negatif (disutility) bila ia menghadapi “risiko” yang semakin besar yang bersangkutan dengan kekayaannya. Sebagai contoh, baginya uang Rp.1000,-yang ia pasti terima (probabilita) = 50% atau Rp. 1.500,- dengan probabilita 50%.

Salah satu cara untuk mengukur besar kecilnya “risiko” adalah dengan menggunakan konsep statistik yang kita kenal dengan nama deviasi standar atau σ .

(hlm.49)

Keadaan/pilihan E σ Utility
1. Rp. 1.000,- 0 A
2. Rp. 2.000,- 500 A
3. Rp. 3.000,- 1.000 A

(hlm.50)

Semakin kaya seseorang semakin enggan ia menanggung risiko.

(hlm.51)

Memegang uang tunai tidak menanggung risiko kerugian yang diakibatkan oleh perubahan tingkat bunga di masa datang, tetapi juga tidak memberikan penghasilan, sebaliknya memegang obligasi bisa mendapatkan penghasilan bunga (interest income), tetapi akan disertai dengan risiko berupa kemungkinan keuntungan atau kerugian kapital (capital gain atau capital loss) yang disebabkan oleh perubahan tingkat bunga di masa mendatang.

(hlm.52)

Kepuasaan yang tertinggi tercapai bila kurva indifferencenya bersinggungan dengan garis W – W (1+R).

(hlm.58)

Teori permintaan uang untuk motif spekulasi dari Tobin merupakan suatu langkah maju terutama dalam memantapkan landasan teori Keynes pada tingkat “mikro”. Perilaku yang dikenal dalam teori mikro, yaitu menggunakan prinsip maksimisasi “utility”.

(hlm.61)

BAB V

PERMINTAAN AKAN UANG:

TEORI KUANTITAS MODERN

PENDAHULUAN

Teori moneter Keynes bisa dikatakan sebagai pengembangan lanjur dari aspek “uncertainty” dan “expectations” dari teori Cambridge (sehingga timbul teori permintaan spekulatif akan uang). Teori kuantitas Modern dari Friedman bisa diinterpretasikan sebagai pengembangan lanjut dari aspek lain dari teori Cambridge, yaitu konsepsi bahwa teori permintaan akan uang hanyalah satu penerapan dari teori umum mengenai permintaan dalam ekonomi mikro, sedang prinsip- prinsip dasarnya adalah sama yaitu “pemilihan antar berbagai alternatif” oleh “konsumen” (atau dalam hal permintaan akan uang, “pemilik kekayaan”).

KONSEP-KONSEP DASAR

Friedman tidak bertitik tolak dari pembahasan yang mendalam mengenai “motif-motif memegang uang”. Secara umum dianggap

(hlm.62)

pengertian “kekayaan” dari Friedman mempunyai ciri khas, yaitu bahwa yang dimasukkan ke dalam definisi “kekayaan” tidak hanya aktiva-aktiva yang berbentuk uang atau bisa diubah (dijual) menjadi uang, tetapi termasuk juga nilai (tepatnya, “nilai sekarang” atau “present value”) dari aliran penghasilan di tahun-tahun mendatang dari tenaga kerjanya. Friedman berpendapat bahwa “kekayaan” tidak lain adalah nilai sekarang dari aliran-aliran penghasilan yang diharapkan dari aktiva-aktiva yang dipegang.

(hlm.63)

Atau sebaliknya, aktiva tidak lain adalah apa saja yang bisa menghasilkan suatu aliran penghasilan di masa datang.

Konsep “kekayaan” dari Friedman ini merupakan suatu inovasi dalam teori ekonomi mengenai kapital, dan sekaligus merupakan jembatan antara teori permintaan biasa (untuk barang dan jasa) dengan “teori kapital”.

Pengertian yang kedua yang penting bagi teori moneter Friedman adalah konsep “manfaat”. Manfaat (atau “returns”) dari setiap bentuk aktiva merupakan faktor pertimbangan bagi pemilik kekayaan untuk memutuskan berapa jumlah dari masing-masing bentuk aktiva yang akan ia pegang.

Ini berarti bahwa bila seseorang memegang terlalu banyak satu bentuk aktiva, misalnya uang, maka “manfaat marginal” atau “manfaat returns” dari uang akan menjadi lebih kecil daripada marginal returns dari aktiva-aktiva lainnya.

(hlm.64)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN AKAN UANG

  • Uang tunai (M); (b) obligasi (B); (c) saham-saham atau equities (E); (d) barang-barang fisik bukan manusiawi (G); (e) kekayaan manusiawi (human capital) (H)

Selain ditentukan oleh P, sebetulnya return untuk aktiva uang tunai dari waktu ke waktu ditentukan pula oleh presentase perubahan tingkat harga (Dp/DT)/P (dimana t adalah variabel waktu, Dp/dt adalah perubahan P dari waktu ke waktu).

(hlm.65)

Tapi “return” untuk uang tunai ini ternyata adalah kebalikan dari “return” dari pemegangan aktiva yang ke empat (di atas), yaitu aktiva fisik (G). Bila harga-harga turun: return untuk aktiva uang tunai (M) naik, return untuk G turun. Jadi return untuk M maupun untuk G dipengaruhi oleh (Dp/dt)/P.

Kalau tingkat bunga (R), maka harga obligasi turun, kalau tingkat bunga turun maka harga obligasi naik. Jadi besarnya kapital gain ditentukan oleh prosentase perubahan tingkat bunga dari waktu ke waktu, atau oleh (Dr/dt).

(hlm.66)

R  –  Dr/dt    Dp/dt

          R           P

Friedman menyatakan bahwa dalam praktek sulit untuk diukur secara empiris. Ini disebabkan oleh karena aliran pendapatan dari tenaga kerja di masa mendatang tidak mempunyai “harga pasar”. Untuk variabel ini Friedman hanya mengatakan bahwa semakin besar aktiva H yang dipegang relatif terhadap aktiva-aktiva lain, semakin besar permintaan akan uang tunaidari orang tersebut. Ini disebabkan karena H tidak bisa diperjualkan seluwes aktiva-aktiva lain. Maka untuk mengimbangi kekurangan fleksibilitas dari struktur aktiva yang dipegangnya (karena H besar) ia akan cenderung memilih memegang lebih banyak uang tunai (M) daripada aktiva-aktiva lain (B, E, G).

Sedangkan aliran pendapatan di masa mendatang dari tenaga kerja tidak bisa diperjual-belikan, kecuali dalam masyarakat perbudakan kuno, di mana orang diperjual-belikan dengan harga sesuai dengan nilai tenaga kerjanya di masa mendatang.

(hlm.67)

Ada orang yang tidak begitu mementingkan aktiva-aktiva lain, tetapi lebih suka menambah human capital-nya, misalnya dengan pendidikan dan sebaginya.

Dalam bentuk persamaan, maka permintaan akan uang tunai dari seseorang individu adalah:

M= f (W,P,R,R – dr/dt, R – dr/dt + Dp/dt , Dp/dt, K,u)

                              R              R         P          P

Berapa jumlah aktiva yang akan dipegangnya dalam bentuk uang tunai (M) ditentukan oleh:

  • Besarnya kekayaan total yang dimilikinya (W); semakin besar W semakin banyak M yang dibutuhkan oleh orang tersebut (atau  > 0)
  • Perbandingan antara “return” dari berbagai macam aktiva yang bisa dipegang. Semakin tinggi tingkat harga (P), semakin besar M nominal yang diminta, karena kebutuhan M riil tertentu semakin besar kebutuhan M nominal. Semakin tinggi return untuk obligasi

(R – Dr/dt) semakin sedikit M yang diminta, karena return untuk obligasi ini merupakan

          R

“opportunity cost” bagi M (seandainya ia memegang lebih sedikit M dan lebih banyak B, maka ia akan mendapatkan penghasilan yang lebih banyak).

 –dr/dt)  < 0

                             R

(hlm.68)

Semakin besar return untuk aktiva-aktiva fisik, semakin menarik aktiva ini untuk dipegang dan semakin kurang menarik uang tunai untuk dipegang.

Semakin besar kenaikan harga yang diharapkan terjadi di masa depan semakin kurang menarik uang tunai untuk dipegang karena ini berarti kerugian berupa menurunnya nilai riil dari kekayaan yang dipegang dalam bentuk uang tunai tersebut. Inilah sebabnya mengapa dalam masa inflasi yang berat maka orang enggan memegang uang tunai dan lebih suka memegang barang!.

  • Rasio antara kekayaan manusiawi dan kekayaan bukan manusiawi (K). Semakin besar K, yaitu semakin besar human capital relatif terhadap non-human capital, semakin besar M yang diminta.

 > 0

  • Selera (u).

APA SUMBANGAN FRIEDMAN?

Teori Kuantitas Modern dari Friedman merupakan penyempurnaan dari Teori Kuantitas Klasik. Sekaligus teori Kuantitas Modern, dalam bentuk yang telah diutarakan di atas, merupakan perkembangan teori Klasik yang makin mendekati perumusan teori Keynes. Teori mempunyai kesamaan dasar, yaitu berupa teori pemilihan pemegangan aktiva atas dasar pertimbangan untung rugi.

(hlm.69)

Teori Kuantitas pada asanya adalah teori permintaan akan uang, bukan teori mengenai tingkat output, bukan teori mengenai tingkat output, bukan teori mengenai tingkat penghasilan (money income), dan bukan pula teori mengenai penentuan tingkat harga.

Teoritisi aliran Kuantitas menerima hipotesa empiris bahwa permintaan akan uang adalah suatu hubungan yang stabil dan bahkan lebih stabil daripada fungsi-fungsi/hubungan ekonomi, lainnya seperti fungsi konsumsi yang merupakan hubungan yang sangat penting dalam teori lain (Keynes).

(hlm.70)

Karena inilah ia memberikan arti yang lebih penting pada permintaan akan uang daripada permintaan akan, misalnya, kancing baju, meskipun mungkin permintaan akan kancing baju ini sama stabilnya dengan permintaan akan uang.

Mungkin tidak ada suatu hubungan empiris lain dalam ilmu ekonomi yang begitu mantap daripada hubungan antara perubahan yang besar dari jumlah uang yang beredar dengan yang lain dan selalu dalam arah perubahan yang sama.

Yang betul adalah bahwa “velocity” tersebut mempunyai stabilitas fungsional.

6) Ini bertolak belakang dengan hipotesa Keynes bahwa permintaan akan uang adalah tidak stabil, tergantung sekali pada penilaian subyektif orang akan masa depan (expectations), yang per definisi bisa berubah setiap menit.

(hlm.71)

“penerapan prinsip dasar dari teori kapital, yaitu bahwa pendapatan adalah penghasilan yang bersumber dari pemilikan kekayaan, dan sebaliknya kekayaan tidak lain adalah nilai sekarang (present value) dari aliran pendapatan di masa depan pada teori moneter oleh Friedman, bisa dikatakan sebagai satu perkembangan yang terpenting dalam teori moneter sejak keluarnya General Theory dari Keynes. Integrasi konsepsional antara “kekayaan” (wealth) dan “pendapatan” (income) sebagai variabel yang mempengaruhi perilaku pemilik kekayaan”

(hlm.72)

Implikasi yang paling penting dari teori Friedman sebetulnya bukan terletak pada perumusannya mengenai bentuk fungsi permintaan akan uang, tetapi pada sifat dan pengertian dari variabel “Pendapatan” yang relevan bagi analisa moneter; yaitu sesuatu yang dihubungkan dengan aliran penghasilan yang diharapkan dari kekayaan yang dipegang dan bukan pendapatan yang dikur dengan statistik pendapatan nasional seperti yang biasa digunakan oleh banyak ahli ekonomi lainnya.

(hlm.75)

BAB VI

TINGKAT BUNGA

PENDAHULUAN

Apa sebenarnya makna dari “bunga” itu? Mengapa ada “bunga”? Teori-teori apa saja yang menjelaskan adanya bunga? Apa unsur-unsur yang membentuk “tingkat bunga” itu? Apakah pengaruh dari perubahan nilai uang (inflasi) terhadap tingkat bunga?

TINGKAT BUNGA SEBAGAI “HARGA” UANG

tingkat bunga sebesar 18% setahun berarti bahwa apabila saya meminjam Rp. 100,- sekarang maka setahun lagi kita harus mengembalikan Rp 118,- yang terdiri dari Rp.100,- (pokok) dan Rp.18,- (bunga) kepada kreditur saya tersebut .

MENGAPA ADA BUNGA?

KLASIK: LOANABLE FUNDS

Bunga adalah “harga” dari (penggunaan) loanable funds

(hlm.77)

Mereka ini adalah kelompok “penabung”. Bersama-sama, jumlah seluruh “tabungan” mereka membentuk suplai atau penawaran akan loanable funds. Di lain fihak, dalam periode yang sama ada anggota masyarakat yang membutuhkan dana, mungkin karena mereka ingin berkonsumsi lebih daripada pendapatan yang diterima selama periode tersebut atau, yang lebih penting, karena mereka adalah pengusaha yang memerlukan dana untuk operasi atau perluasan usahannya.

(hlm.78)

Mengapa kurva penawaran akan dana investasi (S) menaik dan kurva permintaan akan dana investasi (I) menurun?

Pada tingkat bunga yang berlaku ia bisa meminjamkan sebagian dari pendapatannya dalam periode 1 dan akan memperoleh kembali uang yang dipinjamkannya pada awal periode 2 (pokok plus bunganya) dan selanjutnya siap untuk digunakan untuk konsumsi dalam periode 2.

(hlm.81)

Sekarang kita beralih pada sisi lain dari pasar loanable funds, yaitu sisi permintaan akan dana (kurva I). Mengapa kurvanya menurun? Faktor-fakot apa yang melandasinya?

Secara makro, permintaan akan dana seperti itu kurang begitu penting. Yang jauh lebih penting. Yang jauh lebih penting adalah permintaan akan dana yang timbul karena aliran pendapatan yang kecil pada periode 1 (sekarang) dan aliran pendapatan yang bedar pada periode 2 (nanti).

Sebabnya adalah bahwa dana tersebut digunakan untuk kegiatan yang nantinya? Diharapkan bisa menghasilkan penerimaan yang lebih besar daripada jumlah yang diinvestasikan.

(hlm.82)

Dengan lain perkataan, bunga dibayar karena dana tersebut produktif.

Menurut hukum ini produktivitas marginal atau marginal product dari suatu input (dalam hal ini dana atau kapital) akan semakin menurut, apabila input-input lain tetap.

KEYNESIAN : LIQUIDITY PREFERENCE

(hlm.83)

Tiga motif inilah yang merupakan sumber timbulnya “permintaan akan uang”, yang diberi nama liqudity preference. Konsepsi bahwa orang pada umumnya menginginkan dirinya tetap likuid untuk memenuhi tiga motif tersebut. Memegang uang tunai (atau “rupiah sekarang”) menjamin likuditas pada orang tersebut.

SINTESIS KLASIK DAN KEYNESIAN : IS-LM

Mashab Klasik menekankan bahwa bunga timbul karena uang adalah “produktif”, dalam arti dengan dana di tangan seorang pengusaha bisa menambah alat produksinya (modal) yang bisa menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi. Dengan lain perkataan, uang bisa meningkatkan produktivitas, dan karena adanya kenaikan produktivitas inilah orang mau membayar bunga. Menurut mazhab

(hlm.84)

Keynesian, uang bisa “produktif” dengan cara lain. Dengan uang tunai di tangan orang bisa berspekulasi di pasar surat-berharga dengan kemungkinan memperoleh keuntungan. Dan karena adanya kemungkinan keuntungan ini orang mau membayar bunga.

Orang yang pertama menekankan bahwa suatu tingkat bunga bisa dikatakan benar-benar merupakan tingkat bunga keseimbangan atau equilibrium interest rate bagi suatu perekonomian apabila tingkat bunga tersebut memenuhi keseimbangan di pasar dana investasi (loanable funds) dan sekaligus keseimbangan di pasar uang (sebagai aktiva/asset likuid) adalah ekonom terkemuka Inggris Sir John Hicks. Alat analisanya adalah kurva IS-LM yang terkanal itu. Pertama kita lihat kurva IS.

Dari interaksi antara semua ini bisa diturunkan kurva IS (lihat Gambar VI.3), yang menunjukan tingkat bunga keseimbangan di pasar dana investasi (loanable funds) pada setiap tingkat pendapatan nasional (Y). Sedangkan kurva LM menunjukan tingkat bunga keseimbangan yang terjadi di pasar uang (sebagai aktiva) pada setiap tingkat pendapatan nasional.

(hlm.85)

TINGKAT BUNGA “MURNI”. PREMI RISIKO DAN BIAYA TRANSAKSI

Apa yang kita bicarakan sampai tahap ini adalah penentuan tingkat bunga dalam dunia yang imajiner (khayalan) di mana tidak ada risiko bahwa debitur akan menunggak atau tidak membayar kembali hutangnya dan tidak ada biaya-biaya lain dalam transaksi hutang-piutang tersebut yang harus dikeluarkan baik oleh debitur maupun oleh kreditur.

(hlm.86)

Kreditur harus memperhitungkan kemungkinan bahwa debitur tidak membayar kembali hutangnya (modal plus bunga) tepat pada waktunya atau tidak membayar sama sekali.

Tetapi apabila kreditur tidak yakin sepenuhnya akan hal tersebut, maka risiko tersebut ada dan harus diperhitungkan, misalnya dengan meminta barang jaminan (collateral) dan seringkali juga tingkat bunga yang lebih tinggi.

Di negara-negara sedang berkembang, terutama di daerah-daerah pedesaannya, biaya transaksi biasanya cukup tinggi, dan biaya ini khususnya dibebankan pada debitur dalam bentuk tingkat bunga yang lebih tinggi lagi.

TINGKAT BUNGA NOMINAL

(hlm.87)

Oleh sebab itu kreditur harus memperhitungkan kemungkinan kerugian kapital ini dengan cara memperkirakan berapa % penurunan nilai uang (yaitu, berapa % laju inflasi) yang akan terjadi selama uangnya dipinjamkan dan kemudian membebankannya pada debitur dalam bentuk tambahan persentase pada tingkat bunga yang harus dibayar.

(hlm.88)

R*n = R*m + R*p + Rt + R*i   (1)

(hlm.89)

Dengan demikian jelaslah bahwa tingkat bunga sebagai suatu “harga”, dipengaruhi oleh banyak faktor. Berbeda dengan banyak “harga” barang-barang lain, tingkat bunga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor subyektif. Terutama yang berkaitan dengan perubahan perkiraan atau harapan orang (expectations) mengenai perkembangan ekonomi di waktu mendatang.

TINGKAT BUNGA RIIL

Dalam kepustakaan teori moneter tingkat bunga nominal sering dilawankan dengan apa yang disebut “tingkat bunga riil” (real rate of interest). Tingkat bunga riil adalah tingkat bunga nominal minus laju inflasi yang terjadi selama periode yang sama.

(hlm.90)

Perhatikan bahwa Ri adalah simbol untuk laju inflasi yang benar-benar terjadi ­selama periode tersebut, sedangkan R*i adalah untuk laju inflasi yang diharapkan terjadi selama periode yang sama (dan laju inflasi yang diharapkan ini menambah tingkat bunga sebagai unsur “premi inflasi”).

(hlm.91)

FISHER TENTANG TINGKAT BUNGA RIIL

Teori ini adalah Irving Fisher yang juga pencetus “equation of exchange” dan namanya terkait dengan konsep “time preference” yang telah kita bahas sebelumnya.

Dalam jangka panjang, tingkat bunga riil tidak dipengaruhi oleh laju inflasi.

(hlm.92)

Bahwa tingkat bunga nominal akan naik atau turun searah dan bersama-sama dengan naik-turunnya laju inflasi. Apabila laju inflasi meningkat maka tingkat bunga nominal juga meningkat, dan sebaliknya apabila laju inflasi turun. Tetapi ingat bahwa hubungan ini berlaku untuk jangka panjang (atau untuk “trend”-nya), sedangkan dari tahun ke tahun (apalagi dari bulan ke bulan) ada kemungkinan, misalnya laju inflasi naik tetapi tingkat bunga nominal tetap atau variasi yang lain.

Laju inflasi yang diharapkan akan terjadi selama masa pinjam-meminjam oleh kreditur maupun debitur (yaitu, yang diharapkan oleh “pasar”) pada saat terjadi transaksi ternyata tidak cocok dengan apa yang kemudian benar-benar terjadi.

Nampaknya dalam jangka panjang, apa yang diharapkan orang akan terjadi!

(hlm.93)

Rr masih bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (tetapi bukan oleh laju inflasi). Kita ingat bahwa R*r terdiri dari tiga komponen yaitu, tingkat bunga murni (R*m), premi risiko (Rp*) dan biaya transaksi (Rt). Apabila salah satu atau lebih dari ketiga komponen itu berubah oleh salah satu sebab, maka R*r juga akan berubah. Dan ini bisa terjadi meskipun dalam jangka pendek!

TINGKAT BUNGA JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG

Dalam praktek, jangka waktu hubungan pinjam-meminjam menentukan sekali tingkat bunga yang dibayar debitur (atau diterima kreditur) per periode. Jadi misalnya, apabila saya menghendaki untuk meminjam dari seorang kreditur sesuatu jumlah tertentu selama 2 bulan maka saya harus membayar bunga sebesar 2% per bulan. Tetapi apabila saya menghendaki meminjam sejumlah uang yang sama dari kreditur yang sama, untuk jangka waktu 6 bulan, mungkin saya harus membayar 2,5% per bulannya.

Negara B, 25 Februari 1985

Jangka waktu pinjaman                                                                       Tingkat bunga (%per tahun)

1 hari                                                                                       15

1 minggu                                                                                  15,5

1 bulan                                                                                    17

3 bulan                                                                                    17,25

6 bulan                                                                                    17,5

1 tahun                                                                                    17,5

3 tahun                                                                                    18

5 tahun                                                                                    19

Apabila struktur tingkat bunga menurun jangka waktu semacam ini digambar, maka kita akan memperoleh gambar kurva seperti berikut:

(hlm.95)

Apakah kurva hasil pada setiap saat pasti mempunyai arah yang menaik, yaitu apakah tingkat bunga per tahun (atau per bulan) selalu lebih tinggi bagi pinjaman yang berjangka waktu lebih lama? Mengapa kurva hasil tidak berbentuk garis lurus horisontal, yang berarti tingkat bunga per tahun adalah sama bagi semua pinjaman berapapun jangka waktunya?

Teori yang pertama disebut teori liqudity preference (yang memang diturungkan dari teori permintaan akan uang dari Keynes dengan nama yang sama). Teori ini mengatakan bahwa kurva-hasil selalu mempunyai lereng (slope) positif, artinya tingkat bunga per tahun untuk pinjaman yang berjangka lebih lama selalu lebih tinggi dari pada tingkat bunga per tahun untuk pinjaman yang berjangka lebih pendek.

Mengapa demikian? Sebabnya adalah bahwa, dengan imbalan yang sama, orang (kreditur) selalu mempunyai “preferensi” untuk memilih piutang yang lebih “likuid” daripada yang kurang “likuid”. Apabila saya bisa memperoleh tingkat bunga yang sama, katakan, 18% setahun untuk deposito 1-bulan atau 3-bulan atau 6-bulan di bank, maka menurut teori ini saya akan selalu memilih menempatkan uang saya untuk deposito 1-bulan ini. Ini disebabkan saya merasa lebih “likuid” dengan deposito 1-bulan daripada dengan deposito 3-bulan atau 6-bulan.

Dengan lain perkataan, saya memasang “premi likuiditas” atau liquidity premium sebesar 0,5% untuk deposito 3-bulan di atas deposito 1-bulan, sebesar 0,75% untuk deposito 6-bulan di atas deposito 1-bulan dan sebesar 0,25% untuk deposito 6-bulan di atas deposito 3-bulan.

(hlm.96)

Teori ini mengatakan bahwa tingkat bunga yang berlaku bagi suatu “kelompok” pinjaman dengan jangka waktu tertentu ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran dana untuk kelompok tersebut. Apabila karena sesuatu hal permintaan akan dana untuk jangka waktu 1 bulan meningkat, maka tingkat bunga untuk “kelompok” pinjaman dengan jangka waktu 1 bulan tersebut cenderung akan meningkat.

Teori ini bisa disebut “teori kelompok pasar” mengenai struktur tingkat bunga. Dalam kepustakaan ada yang menyebutnya sebagai the preferred market habitat theory.

Teori ini menekankan:

  • Peranan “harapan masyarakat” atau expectations mengenai pola perkembangan tingkat bunga di masa mendatang dalam menentukan struktur tingkat bunga, dan
  • Bahwa kalaupun ada pasar “kelompok” seperti yang digambarkan oleh teori kelompok pasar tersebut di atas, tetapi antara kelompok satu dengan yang lain sangat menentukan situasi pasar lain (dengan lain perkataan, substitusi antara satu kelompok dana dengan kelompok dana lain sangat dekat).

Maka bagi seseorang kreditur akan lebih menguntungkan untuk meminjamkan uangnya untuk jangka 2 bulan saja (dengan tingkat bunga yang berlaku sekarang), karena dengan demikian pada awal bulan ke 2 ia bisa memanfaatkan tingkat bunga yang lebih tinggi (yang ia perkirakan akan terjadi).

(hlm.99)

Bagi kreditur akan lebih menguntungkan untuk memilih cara meminjamkan dananya untuk jangka waktu 1 bulan, yang dapat diperbaharui setiap bulan sehingga ia bisa memanfaatkan kenaikan tingkat bunga yang diperkirakan. Sedangkan debitur menginginkan hal yang sebaliknya. Selanjutnya tarik-menarik di pasar antara kepentingan kreditur dan debitur ini akan membawa kita ke suatu posisi keseimbangan.

Kita ambil contoh. Anggap bahwa masyarakat memperkirakan tingkat bunga jangka pendek (untuk pinjaman 1 bulan) akan mengalami perkembangan selama 6 bulan yang akan datang:

(hlm.100)

Perhatikan bahwa kita memperoleh suatu kurva-hasil dengan slope positif. Pembaca bisa mencoba sendiri cara perhitungan tersebut dengan angka-angka perkiraan perkembangan tingkat bunga jangka pendek yang menurun di waktu mendatang dan akan mendapatkan kurva hasil yang mempunyai slope negatif, sedang apabila tingkat bunga jangka pendek diperkirakan tetap di waktu mendatang, maka akan diperoleh hasil-hasil yang mendatar.

(hlm.101)

TEORI PARITAS TINGKAT BUNGA

Dalam kenyataan tidak ada suatu negarapun yang benar-benar tertutup. Tentu, ada perbedaan-perbedaan dalam derajat “keterbukaan” suatu negara.

Dalam sistem devisa bebas tingkat bunga di negara satu akan cenderung sama dengan tingkat bunga di negara lain. Setelah di perhitungkan perkiraan mengenai laju depresiasi mata uang negara yang satu terhadap negara yang lain.

Rn  ≈  Rf  +  E*

(hlm.102)

Jadi, apabila tingkat bunga di Amerika Serikat untuk, katakan, pinjaman jangka 6 bulan adalah 10% per tahun, dan selama 6 bulan mendatang kurs dollar A.S. terhadap rupiah diperkirakan meningkat dengan 4% (atau 8% apabila dinyatakan dalam laju per tahun), maka tingkat bunga untuk pinjaman jangka 6 bulan di Indonesia akan cenderung sama dengan 10 % + 8% = 18% per tahun.

Mengapa kecenderungan tersebut terjadi? Sebabnya adalah bahwa apabila tingkat bunga yang berlaku di dalam negeri (untuk pinjaman 6 bulan tersebut) lebih rendah daripada 18% per tahun, maka akan lebih menguntungkan bagi pemilik dana untuk meminjamkan uangnya di Amerika Serikat (dalam dollar) dan menerima imbalan 10% per tahun tanpa harus menanggung kerugian apabila kapital berupa penurunan nilai mata uang rupiah sebesar 8% per tahun.

Bahwa tingkat bunga antara dua negara cenderung sama, setelah dikoreksi dengan laju depresiasi yang diperkirakan dari mata uang negara satu dengan terhadap mata uang negara lain dan “biaya transaksi” (biaya memindahkan dana). Dalam sistem devisa bebas, “biaya transaksi” tersebut rendah, tetapi dalam sistem devisa yang kurang bebas, biaya tersebut bisa tinggi. Oleh karena itu dalam sistem devisa yang tidak bebas, ada kemungkinan tingkat bunga di dalam negeri sangat berbeda dengan tingkat bunga di luar negeri, meskipun telah dikoreksi dengan laju depresiasi yang diperkirakan.

BAB VII

PERANAN BANK DALAM PASAR UANG

Dua bab berikut ini adalah mengenai sisi penawaran dari pasar uang. Dalam bab ini kita akan membicarakan peranan bank dalam pasar uang.

PASAR UANG SEKALI LAGI

Pasar uang bekerja adalah dengan melihat pasar ini sebagai “pasar hutang-piutang”. Uang ini sebenarnya tidak lain adalah surat tanda “hutang” dari negara kepada si pemegang uang tunai tersebut.

Di masa lalu, yaitu pada zaman standar emas, si pemegang uang bisa “menagih” negara, misalnya dengan

(hlm.106)

meminta negara menukar uang kertas tersebut dengan emas. Sekarang tidak ada negara yang melayani “penagihan” semacam itu. Uang kertas tidak dapat ditukarkan dengan emas.

Jadi dalam perkembangan nya, uang kartal telah berubah dari “surat hutang” negara menjadi “surat hutang” masyarakat (yaitu, semua penduduk) kepada si pemegang uang tersebut.

Sekarang ambilah contoh unsur yang kedua dari uang, yaitu uang giral, dalam bentuk saldo rekening koran pada bank (demand deposits), adalah hutang bank pada pemilik rekening koran tersebut (sebesar saldo yang ada).

Unsur yang ketiga dari uang (dalam arti luas) adalah deposito berjangka (time deposits).

(hlm.107)

Karenanya rekening koran mempunyai sifat yang lebih “liquid” daripada deposito berjangka, tetapi sebagai imbalannya pemegang deposito biasanya berhak menerima bunga yang lebih tinggi daripada pemegang rekening koran.

Bagi pemegang (pemilik)nya ketiga “bukti hutang” tersebut merupakan kekayaan atau aktiva keuangan atau financial assetsnya. Bagi masyarakat (negara) dan bank, ketiganya merupakan bagian dari “pasiva keuangan” atau financial liabilities.

Terciptanya instrumen keuangan itu sendiri mencerminkan terjadinya suatu transaksi yang lebih mendasar, yaitu terjadinya perpindahkan hak atas penggunaan sumber daya ekonomi yang ada, yang pada sisi lain tercermin pada timbulnya hubungan hutang-piutang antara dua fihak.

Jadi “pasar uang” adalah tempat terciptanya ketiga “instrumen keuangan” tersebut. Dan apabila suatu instrumen keuangan tercipta, ini berarti telah terjadi suatu “transaksi” yang memindahkan hak atas penggunaan sumberdaya ekonomi dari “pembeli” instrumen keuangan (fihak yang berpiutang) kepada “penjual” instrumen keuangan (fihak yang berhutang).

PROSES TRANSAKSI DI PASAR UANG

(hlm.109)

Bagaimana cara Pemerintah membayar pembelian tersebut? Salah satu caranya adalah dengan jalan mencetak uang baru senilai meja tersebut (100).

Perhatian bahwa penghasilan hak atas penggunaan sumberdaya ekonomi (meja) dari Tuan X kepada Pemerintah melandasi transaksi pengalihan uang tunai (instrumen keuangan) dari Pemerintah kepada Tuan X.

Dalam arti inilah uang tunai yang dipegang masyarakat adalaha “hutang” dari Pemerintah (negara) kepada masyarakat. Namun, seperti disebutkan di atas, pada zaman standar kertas seperti sekarang ini “hutang” tersebut tidak dapat ditagih oleh pemegang uang tunai.

(hlm.110)

Perhatikan bahwa dengan demikian telah terjadi lagi suatu transaksi di pasar uang antara Tuan X (pembeli instrument keuangan) dan Bank (penjual instrumen keuangan). Jumlah yang ditransaksikan adalah 75, yang terdiri dari 50 rekening koran dan 25 deposito berjangka. Instrumen baru berupa saldo rekening koran (50) dan deposito berjangka (25) telah tercipta di pasar uang.

Sedangkan jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) adalah M1 plus saldo deposito berjangka milik masyarakat (TD) = 75+25 = 100.

Dalam praktek, proses penciptaan uang tidak berhenti disini, tetapi berkelanjutan. Bank itu sendiri akan melakukan transaksi-transaksi yang, seperti yang kita lihat dalam bagian-bagian berikut ini, akan menciptakan tambahan uang beredar baru. Dan proses kelanjutan ini hanya bisa terjadi karena adanya bank.

BANK SEBAGAI PERANTARA KEUANGAN

Biasanya cadangan bank yang perlu dipegang adalah jauh lebih kecil daripada saldo kedua pasiva tersebut, misalnya antara 10% sampai 30%-nya. Ini dimungkinkan karena dalam praktek bank mempunyai banyak nasabah yang menyimpankan uangnya (dan tidak hanya satu nasabah seperti dalam contoh di atas). Pada suatu saat ada nasabah yang mengambil kembali simpanannya dan selalu ada pula yang justru menambah simpanan nya.

(hlm.112)          

Perbandingan antara jumlah uang tunai yang dipegang bank (atau “cadangan bank”) dengan nilai total dari hutang lancar bank (saldo rekening koran dan deposito berjangka) disebut cash ratio. Di beberapa negara, berapa besar  cash ratio yang dipegang bank sepenuhnya ditentukan oleh masing-masing bank sesuai dengan pengalaman dan perkiraan bank itu sendiri. Di negara-negara lain, termasuk Indonesia, ada ketentuan dari Pemerintah (Bank Sentral) mengenai berapa cash-ratio minimum ini disebut reserve requirement atau “cadangan wajib”. Tujuannya adalah agar tidak timbul krisis kepercayaan pada bank karena bank tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada nasabah. Selain itu, kadangkala perubahaan reserve requirement dilakukan untuk mengendalikan jumlah uang beredar.

Bank akan memperoleh keuntungan (penghasilan) bersih apabila bunga yang diterima dari kredit yang diberikan lebih besar daripada bunga yang

(hlm.113)

dibayar kepada nasabah untuk rekening koran dan deposito berjangka yang disimpannya.

Perhatikan bahwa pada waktu bank memberikan kredit kepada Tuan Y, terjadi lagi satu transaksi di pasar uang. Tuan Y “menjual” surat hutangnya kepada bank dan ia menerima uang tunai dari bank. Hak atas penggunaan sumber daya ekonomi (yang diwujudkan oleh hak penggunaan uang tunai)  berpindah dari bank kepada Tuan Y. Instrumen yang ditransaksikan adalah surat hutang nasabah (disebut promissory notes).

Sebaliknya intermediasi keuangan yang efisien akan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

BANK SEBAGAI PENCIPTA UANG

Jumlah uang beredar dalam arti luar (M2) adalah M1 + deposito berjangka = 138,75 + 25 = 163,75.

Mengapa ? hal ini disebabkan oleh ciri khusus dari usaha perbankan, yaitu bahwa bank tidak perlu memegang cash ratio 100%. Dalam contoh di atas uang tunai yang dipegang bank untuk mendukung saldo rekening koran dan deposito berjangka sebesar 75 hanyalah 11,25. Sisa uang tunai (63,75) tidak perlu harus disimpan di lemari besi bank, tetapi bisa “diedarkan” kembali ke masyarakat melalui pemberian kredit tersebut di atas.

Cara lain untuk menjelaskan hal yang sama ini adalah dengan mengatakan bahwa bank bisa menciptakan uang giral dari uang tunai yang lebih kecil jumlahnya.

Ini merupakan satu ciri yang tidak dimiliki oleh lembaga-lembaga keuangan lain (seperti perusahaan asuransi, dan lembaga keuangan bukan bank lainnya).

(hlm.117)

BAB VIII

TEORI PENAWARAN UANG

PENAWARAN UANG TANPA BANK

Teori yang paling sederhana adalah merupakan gambaran dari sistem standar emas, dimana emas adalah satu-satunya alat pembayaran. Uang beredar atau uang yang “ditawarkan” di masyarakat naik atau turun sesuai dengan tersediannya emas di masyarakat. Jumlah uang (emas) beredar bisa turun apabila, misalnya, emas dikirim ke luar negeri untuk menutup defisit neraca pembayaran, yaitu untuk membayar barang-barang yang diimpor yang jumlahnya lebih besar

(hlm.118)

daripada nilai  barang-barang yang diekspor, atau karena industri industri yang menggunakan emas dalam proses produksinya menyedot emas yang ada sehingga mengurangi jumlah emas yang tersedia untuk alat pemabayaran.

Semuanya serba “otomatis” dan sebenarnya tidak ada alasan bagi Pemerintah atau Otorita Moneter untuk melakukan campur tangan di pasar uang (yaitu, melaksanakan “kebijakan moneter”). Dalam hal ini penawaran uang hanya bertambah apabila orang memproduksi emas (baru). Penawaran uang tidak bisa ditambah menurut kehendak pemerintah, semuanya tergantung pada perilaku para produsen emas. Produksi emas memerlukan biaya untuk menambang, memurnikan dan sebagainya. Produsen emas akan memproduksi emas hanya apabila menguntungkan, yaitu apabila harga emas adalah alat pembayaran umum, maka harga emas naik berarti pula bahwa barang-barang turun, dan demikian pula sebaliknya. Apabila harga emas naik (atau harga barang turun), maka para produsen emas akan cenderung untuk menaikkan produksi emasnya (dan ini sesuai dengan hukum perilaku produsen pada umumnya dalam teori ekonomi mikro)*)

*) kita ingat bahwa produsen dalam pasar persaingan sempurna akan memperoleh keuntungan maksimum apabila biaya produksi marginal sama dengan harga barang tersebut; apabila harga barang lebih tinggi dari biaya marginal keuntungan akan naik apabila volume produksi ditambah, dan apabila harga barang lebih rendah daripada biaya marginal maka akan lebih baik bagi produsen untuk mengurangi volume produksinya. Lihat Boediono, Ekonomi Mikro, Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No.1, BPFE (1982)

(hlm.119)

Selanjutnya ini berarti bahwa jumlah emas yang tersedia bertambah. Dan sesuai dengan hukum pasar, hal ini kemudian akan cenderung menurunkan harga emas (atau menaikkan harga barang-barang). Sebaliknya, apabila harga emas turun (harga barang naik), produksi emas berkurang atau berhenti dan ini cenderung untuk menghentikan penurunan harga emas (atau kenaikan harga barang).

Versi yang sedikit lain dari ini adalah apabila digunakan 2 logam mulia sekaligus sebagai alat pembayaran (misalnya, emas dan perak). Dalam hal ini dalil suplai uang yang otomatis menyesuaikan terhadap permintaannya di atas tetap berlaku.

Uang (logam) yang dinilai terlalu tinggi dibanding dengan biaya produksi (marginal)nya cenderung menggeser uang (logam) lainnya sebagai alat pembayaran. Atau menggunakan ungkapan dari Gresham sendiri yang terkenal: bad money drives out good money.

Apabila misalnya Pemerintah menetapkan bahwa nilai mata uang yang terbuat dari 1 gram emas adalah dua kali nilai mata uang yang terbuat dari 1  gram perak, sedang biaya produksi 1 gram perak, maka “bad money” (perak) akan menggeser “good money” (emas) sebagai alat pembayaran

(hlm.121)

Dalam sistem standar kertas, sumber dari terciptanya uang beredar adalah Otorita Moneter (Pemerintah dan bank sentral) dan Lembaga Keuangan (keduannya bersama-sama kita sebut sebagai “sistem moneter”). Otorita Moneter merupakan supplier uang inti atau uang “primer”, sedang Lembaga Keuangan (perbankan) merupakan supplier uang “sekunder” bagi masyarakat.

Jadi sebenarnya pasar uang itu terdiri dari 2 “sub-pasar”, yaitu sub-pasar uang primer dan sub-pasar uang sekunder. Masing-masing mempunyai “permintaan” dan “penawaran” nya, namun kedua sub-pasar tersebut sangat erat berhubungan satu sama lain.

(hlm.122)

Apabila kita menggunakan istilah seorang akuntan, apa yang dilakukan pelaku tersebut adalah mengubah nilai pos-pos dalam neracanya, sehingga ia akhirnya mempunyai suatu neraca dengan nilai dari masing-masing pos persis senilai yang ia inginkan. Jumlah total kekayaan sebagai tercermin dalam neracanya tidak bisa ia ubah (kecuali apabila ia menambahnya dengan tabungan dari pendapatannya nanti).

(hlm.123)

Tindakan-tindakan semacam ini mempengaruhi permintaan dan penawaran di pasar uang, dan akan berhenti dilakukan apabila semua pelaku dalam pasar uang sudah “puas” dengan struktur dan komposisi neraca (kekayaan) yang mereka punyai (artinya, setiap pos dalam masing-masing nercanya adalah persis senilai yang ia inginkan). Dalam teori moneter kita mempunyai istilah khusus bagi proses penyesuaian komposisi neraca; kita menamakannya proses penyesuaian portofolio adjustment.

(hlm.124)

Kita bisa membayangkan skenario yang lain yang lebih kompleks misalnya tambahan uang itu tadi sebagian dipegang sebagai tambahan uang kartal, sebagian dipegang sebagai deposito berjangka, dan sebagian dibelikan barang.

(hlm.125)

PELIPAT UANG ATAU MONEY MULTIPLIER

Dengan lain perkataan proses pelipatan uang atau money multiplier adalah proses pasar (penyesuaian antara permintaan dan penawaran).

(hlm.126)

Dan proses pelipatan itu dimungkinan karena karena adanya lembaga yang disebut bank, yang tidak harus menjamin secara penuh uang giral yang diciptakannya dengan uang tunai. Seandainya cash ratio yang dipegang bank adalah 100%, maka proses pelipatan tidak akan terjadi, meskipun proses “penyesuaian portofolio” tetap bisa terjadi.

B    =  C  +  R                (1)

M1 =  C  +  DD             (2)

M1  =       1           B      (3)

         c + r (1-c)

persamaan (3) ini menunjukan bagaimana uang inti “dilipatkan” menjadi uang beredar (M1). Sedangkan        1

c + r (1-c)   adalah koefisien pelipat uang atau money multiplier. Nilai koefisien ini biasanya lebih besar dari 1, karena bank c maupun r adalah lebih kecil dari 1.

(hlm.127)

Nilai c yang rendah berarti masyarakat lebih suka menyimpan uang tunainya di bank daripada di bawah bantal (bank mindedness yang tinggi). Ini berarti bank mempunyai lebih banyak uang inti untuk “dilipatkan”. Selanjutnya nilai r yang rendah berarti lebih banyak uang giral yang bisa diciptakan dari setiap rupiah uang inti yang dipegang bank.

  • “Keuntungan” yang dihasilkan dari pemegangan uang dalam bentuk uang kartal dibanding dengan “keuntungan” dari pemegangan uang dalam bentuk rekening giro pada bank.

Sebaliknya keuntungan utama dari pemegangan uang dalam bentuk rekening giro adalah kecilnya risiko hilang (cek hilang bisa diganti, tapi uang tunai hilang tidak). Kemungkinan keuntungan lain dari giro adalah diperolehnya bunga atas saldonya (tapi ini tidak selalu), sedangkan kerugian lainnya adalah seringkali bank mengenakan

(hlm.128)

biaya administrasi (meskipun biasanya kecil) pada rekening giro.

  • Seorang kaya biasanya cenderung untuk menggunakan fasilitas perbankan lebih banyak (lebih “bank minded”), sehingga mempunyai c yang kecil.
  • Atas dasar perbedaan kebiasaan, tingkat pendapatan rata-rata serta tersedianya fasilitas perbankan, maka kita mengharapkan bahwa nilai c bagi daerah perkotaan lebih tinggi daripada bagi daerah pedesaan.
  • Di beberapa negara telah berkembang berbagai cara baru dalam pembayaran berbagai transaksi yang sebelumnya dilakukan dengan uang tunai, misalnya dengan menggunakan credit cards atau charge account. Meluasnya sistem pembayaran baru seperti ini cenderung menurunkan c.
  • Terutama bagi negara-negara agraris, nilai c dipengaruhi pula oleh musim. Dalam musim panen, misalnya c bisa naik karena membesarnya aliran uang tunai ke daerah pedesaan.

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi?
(a)besarnya reserve requirement atau cash ratio yang diwajibkan oleh bank sentral

(b)biasanya bank memegang r yang lebih tinggi daripada r minimum ini, terutama untuk tujuan berjaga-jaga apabila ada kebutuhan mendakak (misalnya ada beberapa nasabah besar tiba-tiba menarik cek).

(hlm.129)

Rumus pelipat uang bisa pula diperoleh untuk uang beredar dalam arti luas (M2). Kita ingat bahwa M2=M1 + deposito berjangka dan saldo tabungan pada bank (TD).

Perbedaan dari koefisien pelipat untuk M1 (dalam persamaan (3) di atas) adalah adanya variabel baru, yaitu t dan r2.

(hlm.130)

IMPLIKASI KEBIJAKSANAAN

Di sini kita hanya mendaftar langkah-langkah (kebijaksanaan) yang bisa digunakan untuk mempengaruhi (katakan, sebagai contoh, meningktakan) koefisien pelipat uang.

Menurunkan c

  • Menawarkan bunga yang menarik bagi rekening giro, deposito berjangka dan tabungan.
  • Membuka cabang-cabang baru atau memperluas kegiatan perbankan di pedesaan.
  • Memperluas penggunaan credits cards dan charge accounts.
  • Mempercepar urbanisasi.

(hlm.131)

Menurunkan r1 dan r2

  • Menurunkan reserve requirement untuk rekening giro
  • Mempermudah pinjaman dari Bank Sentral kepada bank-bank apabila bank-bank  memerlukan dana untuk kebutuhan darurat (ini mengurangi perlunya bagi bank untuk memegang excess reserve yang besar)
  • Mengembangkan pasar uang antar bank, sehingga bank yang kekurangan bisa dengam mudah memperoleh dana dari bank yang kelebihan dana

Meningkatkan t

  • Menwarkan bunga yang menarik bagi deposito berjangka dan simpanan  tabungan
  • Memberikan kemudahan-kemudahan perpajakan bagi pemegang deposito/tabungan
  • Mempromosikan deposito berjangka dan tabungan di daerah pedesaan, sehingga menarik orang-orang yang biasanya menyimpan kekaaannya dalam bentuk ternak, tanah, emas dan sebagainya
  • Mengendalikan inflasi serendah mungkin, sehingga opportunity cost bagi pemegang deposito berjangka  dan tabungan adalah minimal.

Tindakan-tindakan moneter Pemerintah dan Bank Sentral sangat mempengaruhi perkembangan uang inti.

(hlm.132)

Cara pertama adalah melalui pencetakan uang baru. Peristiwanya mungkin dimulai dengan adanya defisit dalam anggaran belanja. Tambahan uang baru tersebut “disebarkan” ke masyarakat lewat kegiatan pengeluaran Pemerintah (misalnya, untuk membiayai pembangunan proyek-proyek, meningkatkan gaji pegawai dan sebagainya).

Cara yang kedua adalah melalui pemberian pinjaman oleh Bank Sentral kepada bank-bank (di Indonesia ini disebut kredit likuiditas) atau kepada lembaga-lembaga lain di masyarakat (di Indonesia dikenal dengan nama kredit langsung,misalnya kredit kepada Bulog dan sebagainya).

Cara yang ketiga adalah lewat transaksi dengan luar negeri. Untuk menggambarkan proses terciptanya uang inti melalui cara ini kita anggap bahwa semua kegiatan ekspor maupun impor dilaksanakan oleh perusahaan swasta.

(hlm.133)

Di sini yang terjadi adalah pengurangan jumlah uang inti yang ada di tangan masyarakat sebesar Rp. 15,- trilyun, yang nilainya persis sama dengan penurunan aktiva luar negeri (cadangan devisa) Bank Sentral.

B = CG + CB NFA        (5)

CG = Saldo rekening pemerintah pada Bank Sentral

(hlm.134)

CB = Saldo rekening giro masyarakat dan lembaga keuangan pada Bank Sental

NFA = Net Foreign Assets atau Aktiva Luar Negeri Netto dari Bank Sentral

Kebijaksanaan moneter bisa diarahkan untuk mempengaruhi nilai koefisien pelipat uang (seperti yang telah kita bicarakan di atas) dan/atau  diarahkan untuk mempengaruhi uang inti (B) melalui : (a) kebijaksanaan pembiayaan anggaran Pemerintah, yaitu mempengaruhi CG, (c) kebijaksanaan yang menyangkut hubungan perdagangan dan aliran modal dengan luar negeri (seperti kebijaksanaan penggalakan ekspor bea masuk pada impor, kebijaksanaan kurs devisa, kebijaksanaan penanaman modal asing) yaitu mempengaruhi NFA.

(hlm.137)

BAB IX

BEBERAPA MASALAH DALAM KEBIJAKSANAAN MONETER

PENDAHULUAN

Mengkaji empat masalah (issues) penting yang menjadi buah pembicaraan para ekonom dibidang ini sampai dewasa ini.

Masalah pertama menyangkut pilihan mengenai apa yang sebaiknya dijadikan sebagai “sasaran-antara” atau intermediate target bagi kebijaksanaan moneter. Di sini ada pilihan antara tingkat bunga atau jumlah uang beredar sebagai sasaran antara.

Masalah ketiga adalah mengenai pilihan apakah kebijaksanaan moneter perlu dilaksanakan secara aktif (disebut discretionary monetary policy) atau lebih bersifat “otomatis” dengan mengikuti saja aturan-aturan umum tertentu (disebut monetary rule).

(hlm.138)

Masalah keempat berkaitan dengan perkembangan penting baru-baru ini di dalam teori kebijaksanaan moneter dan kebijaksanaan ekonomi makro pada umunya. Perkembangan ini berkaitan dengan peranan dari “psikologi” dan “reaksi” masyarakat dalam proses pelaksanaan kebijaksaan moneter.

SASARAN: TINGKAT BUNGA ATAU UANG BEREDAR?

Mengapa sasaran-antara diperlukan?

Jawaban umum untuk pertanyaan ini adalah bahwa kebanyakan ekonom berpendapat bahwa jarak waktu (lag) antara tindakan kebijaksanaan moneter dengan pengaruhnya pada ketiga aspek sasaran akhir tersebut adalah panjang, sehingga akan sangat terlambat seandainya terjadi kesalahan kebijaksanaan, dan kebijaksanaan hanya bisa diubah setelah hasil akhir tersebut telah terjadi atau telah bisa diamati.

(hlm.139)

  • Ia harus secara cukup akurat dan cukup andal (reliable) sebagai indikator awal dari akhir kebijaksanaan tersebut.
  • Ia harus segera bisa diamati dan dimonitor, sehingga segera bisa ditentukan apakah secara umum kebijaksaan yang dijalankan sudah benar atau belum

Tingkat bunga dan jumlah uang beredar.

Tingkat bunga “stabil” menunjukan bahwa situasi pasar uang adalah tenang dan bahwa ada keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

(hlm.140)

Cara mengendalikan tingkat bunga dilakukan dengan mengendalikan jumlah uang beredar (tingkat Keynes mengenai pasar uang).

Sasaran-antara yang lain adalah jumlah uang beredar itu sendiri (M1 atau M2).

Kelompok ekonom modern yang mendukung penggunaan jumlah uang beredar sebagai sasaran-sasaran-antara disebut kelompok Monetarist.

(hlm.141)

Bagi negara-negara yang belum mempunyai pasar uang yang cukup berkembang, “mekanisme monetarist” (yaitu, tambahan uang langsung mempengaruhi tambahan pengeluaran untuk barang dan jasa) mungkin lebih mencerminkan keadaan. Dalam perekonomian seperti ini intrumen keuangan (financial instruments) tidak atau belum banyak tersedia, sehingga pilihan yang terbuka bagi masyarakat adalah memegang tambahan, uang terekonomian seperti ini, jumlah uang beredar mungkin merupakan saran-antara yang paling cocok.

(hlm.143)

Mengapa demikian? Ini mudah kita mengerti apabila kita ingat bahwa dengan mengambil uang beredar (M) sebagai sasaran, kita membebaskan tingkat bunga (R) untuk naik atau turun sesuai dengan keadaan pasar.

(hlm.145)

Kesimpulan kita dari contoh ini adalah apabila sumber ketidakstabilan GDP adalah ketidakstabilan permintaan akan uang, maka kita seyogyanya menggunakan tingkat bunga sebagai sasaran-antara bagi kebijaksanaan moneter kita, dan bukan jumlah uang beredar apabila permintaan akan uang turun. Dengan demikian kita sebenarnya telah mengisolir sumber ketidakstabilan GDP, sehingga tidak “menjalar” ke sektor-sektor di luar pasar uang. (kareana pasar uang itu sendiri dibuat selalu seimbang).

Sepanjang hal itu bisa diidentifikasikan, seyogyanya penelitian mengenai hal itu dilakukan. Tetapi seandainya hal itu sulit dilakukan, maka strategi yang terbaik adalah semacam “kompromi” antara kedua pilihan tersebut, yaitu kita menggunakan keduannya sebagai sasaran-antara kita, meskipun dengan memberi memberi peranan yang sedikit berbeda kepada masing-masing.

(hlm.146)

Artinya, kestabilan sasaran akhir (harga, output, neraca pembayaran) lebih bisa terjamin apabila kita bisa mengendalikan kestabilan laju pertumbuhan uang beredar dalam jangka panjang. Alasan utama untuk pendapat ini adalah bahwa kebijaksanaan moneter bekerjannya lambat, sehingga memerlukan waktu untuk menghasilkan pengaruhnya secara penuh terhadap sasaran akhir (lag panjang). Kenaikan laju pertumbuhan uang beredar hari ini, akan menimbulkan kenaikan output atau kenaikan harga setahun, atau mungkin 2 tahun, lagi. Karena panjangnya lag ini, maka sebaiknya laju pertumbuhan uang beredar selalu harus dikendalikan dalam batas-batas yang wajar apabila kita menginginkan laju inflasi yang wajar dalam jangka panjang.

“UANG” MANA YANG DIKENDALIKAN

Tingkat bunga yang relevan bagi analisa stabilisasi di  sini adalah tingkat bunga riil, dan (b) peranan aktif dari tingkat bunga jangka pendek bunga jangka panjang membuat tingkat bunga jangka pendek menjadi variabel yang strategis dalam kebijaksanaan stabilisasi moneter.

  1. Berapa jauhkah Otorita Moneter bisa mempengaruhi besaran tersebut? Semakin mudah dikendalikan tentu semakin baik.
  2. Bagaimana keandalan (realibilitas) dari besaran tersebut dalam menecerminkan apa yang terjadi dalam sasaran akhir? Semakin andal atau semakin akurat, atau semakin dekat korelasi antara besaran yang dipilih dengan sasaran akhir semakin baik.

Kita ingat bahwa uang inti tidak lain adalah hutang moneter dari Otorita Moneter kepada masyarakat dan Lembaga Keuangan.

(hlm.148)

Misalnya, Friedman dan Meiselman telah melakukan pengujian korelasi antara M1 dan M2 dengan pendapatan nasional dengan data Amerika Serikat dan kesimpulannya adalah bahwa

(hlm.149)

M2 merupakan sasaran antara yang lebih baik daripada M1*). Namun beberapa studi lain memperoleh hasil dan kesimpulan yang berlawanan dengan itu. Cara lain untuk mengujinya adalah dengan menaksir “elastisitas silang” atau “elastisitasn substitusi” antara uang dalam arti sempit (M1) dengan unsur uang lain (TD dan uang kuasi). Sekali lagi sampai sekarang belum ada kesimpulan yang mantap yang bisa ditarik dari studi ini.

Tetapi kita harus ingat bahwa ada 3 sasaran-akhir, yaitu harga, output dan neraca pembayaran.

*)”The Relative Stability of Monetary Velocity and the Investment Multiplier in the United States, 1897-1958”

(hlm.150)

Sekarang ingat pula makna dari NFA (Net Foreign Assets), yaitu jumlah cadangan devisa (netto) yang dipegang oleh Otorita Moneter. Jadi Δ NFA tidak lain adalah besarnya defisit (-) atau surplus (+) yang terjadi dalam neraca pembayarn.

Cara  melihat hubungan antara B dengan NFA di atas merupakan pendekatan yang disebut the monetary approach to the balance of payments, yang banyak dikaitkan dengan nama Dana Moneter Internasional (IMF). Pendekatan ini pada intinya mengatakan bahwa surplus atau defisit dalam neraca pembayaran adalah gejala moneter.

(hlm.151)

Sekarang kita kembali lagi ke masalah pemilihan sasaran. Bagaimanakah denga total liquidity (L)? Ini nampaknya merupakan calon sasaran-antara yang paling lemah landasan empirisnya karena konsep ini biasanya sulit untuk dituangkan dalam angka, terutama bagi negara-negara sedang berkembang yang memiliki statistik moneter yang belum lengkap. Oleh sebab itu konsep ini jarang dipakai dalam praktek.

KETIDAKPASTIAN DAN JARAK WAKTU (LAG)

Berbeda dengan ilmu-ilmu eksakta, ilmu ekonomi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia, dihadapkan pada ketidakpastian (uncertainty) baik mengenai dalil-dalilnya itu sendiri maupun mengenai nilai-nilai koefisien yang relevan apabila dalil-dalil tersebut diterapkan untuk memecahkan masalah nyata.

(hlm.152)

Namun yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa si perumus kebijaksanaan selalu dihadapkan pada informasi yang mengandung ketidakpastian.

Unsur ketidakpastian ini selalu ada dalam setiap usaha dalam merumuskan dan melaksanakan suatu kebijaksanaan moneter, dan kebijaksanaan ekonomi pada umumnya.

Sekarangpun tidak sedikit ekonom yang berpendapat bahwa perekonomian mempunyai kemampuan untuk mengkoreksi sendiri ketimpangan-ketimpangan kecil. Hanya ketimpangan-ketimpangan besar memerlukan tindakan aktif dari pemerintah.

Masalah kebijaksanaan lain, yang masih berkaitan dengan ketidakpastian ini adalah masalah jarak waktu lag dari kebijaksanaan. Ada dua macam lag yang dikenal dalam kepustakaan kebijaksanaan ekonomi, yaitu yang disebut (a) inside lag  dan (b) outside lag.*)

(hlm.153)

Yang dimaksud dengan inside lag adalah jarak waktu dari timbulnya permasalahan di dalam perekonomian sampai dengan dimulainya tindakan kebijaksanaan untuk mengatasinya. Inside lag ini sebenarnya terdiri dari 3 macam lag yang berurutan . pertama adalah jarak waktu mulai dari timbulnya masalah sampai dengan saat para pembuat kebijaksanaan menyadari bahwa memang ada masalah. Ini disebut recognition lag. Yang kedua adalah jarak waktu anatar saat disadarinya bahwa ada masalah dan saat diputuskannya suatu tindakan. Ini disebut decision lag. Yamg ketiga adalah jarak waktu antara saat keputusan kebijaksanaan diambil dan saat keputusan tersebut mulai dilaksanakan. Ini disebut action lag. Inside lag sangat tergantung pada kecepatan kerja atau efisien dari lembaga pembuat kebijaksanaan.

Outside lag adalah jarak waktu antara saat dimulai dilaksanakannya langkah kebijaksanaan dan saat timbulnya akibat pada perekonomian. Biasanya suatu tindakan kebijaksanaan mempunyai akibat yang “tersebar” dalam jangka waktu yang panjang.

Tetapi kebanyakan ekonom berpendapat bahwa outside lag dari kebijaksanaan moneter adalah panjang ; pengaruhnya datang lambat dan bisa menyebar sampai beberapa tahun. Sebaliknya kebijaksanaan fiskal biasannya mempunyai outside lag yang lebih pendek , karena tindakan ini langsung mempengaruhi pengeluaran masyarakat. Namun dilain fihak, karena struktur administrasinya, kebijaksanaan fiskal biasanya mempunyai inside lag yang panjang, sedang kebijaksanaan moneter mempunyai inside lag yang jauh lebih pendek.

(hlm.154)

Penelitian empiris dari Friedman dengan data Amerika Serikat menunjukkan bahwa lag tersebut bisa berkisar antara 6 bulan sampai 2 tahun, data yang perlu dicatat pula adalah bahwa lag tersebut bervariasi dari masa ke masa.

Tegasnya, ikuti saja “aturan umum” atau rules semacam itu dan jangan suka mengubah sasaran pertumbuhan laju tersebut hanya karena kita ingin ber-reaksi terhadap fluktuasi ekonomi jangka pendek.

(hlm.155)

Kesimpulan umumnya adalah bahwa discretionary policies masih perlu, tapi perlu dihindari reaksi yang berlebihan (overreaction) karena bagi gangguan-gangguan kecil atau gangguan-gangguan yang bersifat sementara, perekonomian itu sendiri mempunyai kemampuan untuk “mengobati” dirinya.

HARAPAN RASIONAL (RATIONAL EXPECTATIONS)

Kebijaksanaan moneter dalam praktek menghadapai pula masalah yang bersumber dari terbentuknya “hatapan” atau expectations di masyarakat mengenai apa yang akan terjadi di dalam perekonomian.

Hanya perumus kebijaksanaan yang berpengalamanlah yang mungkin sudah menguasai “seni” tersebut. Namun akhir-akhir ini sejumlah ekonom mencoba menuangkan faktor pembentukan harapan ini ke dalam suatu pendekatan baru dalam ekonomi makro yang disebut “pendekatan harapan rasional” atau the rational expectations approach. Inti dari pendekatan ini adalah bahwa masyarakat tidaklah “bodoh”, dalam arti mereka akan menggunakan segala informasi yang ada pada mereka sebaik-

(hlm.156)

baiknya dalam menentukan reaksi mereka terhadap perubahan keadaan atau terhadap perubahan keadaan atau terhadap suatu langkah kebijaksanaan. Mereka tidak “bodoh” juga dalam arti bahwa mereka tidak akan membuat kesalahan tindakan yang sama terus-menerus.

Jadi seandainya mereka pernah berbuat suatu kesalahan reaksi terhadap suatu kebijaksanaan Pemerintah, mereka akan belajar dari pengalaman tersebut sehingga dalam jangka panjangnya mereka akhirnya selalu bisa bereaksi terhadap langkah kebijaksanaan secara “rasional” (inilah sebabnya pendekatan tersebut diberi nama harapan rasional).

Pertama, dengan diberikannya peranan yang penting pada pembentukan “harapan” masyarakat dalam proses bekerjanya kebijaksanaan dan perekonomian mikro secara umum, maka banyak bagian-bagian dari teori makro konvesional yang sampai saat ini dipelajari, perlu dirombak untuk memasukkan faktor harapan rasional ini.

Tetapi biasanya hipotesa pembentukan harapannya sangat sederhana dan mekanistis (misalnya, didasarkan atas pengalamannya di masa lampau) dan belum bisa menekan pembentukan harapan atas dasar pengolahan informasi yang efisien. Pendekatan harapan rasional, dengan demikian, memberikan tantangan untuk merombak teori ekonomi makro dan moneter yang ada.

Implikasi yang kedua menyangkut masalah kebijaksanaan.

(hlm.157)

Unsur yang sangat penting dalam setiap kebijaksanaan, menurut pendekatan ini,  adalah kredibilitas dari langkah kebijaksanaan tersebut di mata masyarakat.

(hlm.158)

Dalam jangka panjang perekonomian akan selalu dekat dengan posisi pendayagunaan penuh sumberdayanya (full employment) dan kebijaksanaan ekonomi (moneter) tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap tingkat output (jadi tidak ada gunanya).

(hlm.161)

BAB X

TEORI INFLASI

PENGERTIAN INFLASI

Definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus-menerus.

Kenaikan harga-harga karena, misalnya, musiman menjelang hari-hari besar, atau yang terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan) tidak disebut inflasi.

(hlm.162)

Keadaan seperti ini disebut “suppresed inflation” atau “inflasi yang ditutupi”, yang pada suatu waktu akan timbul dan menunjukan dirinya karena harga-harga resmi makin tidak relevan dalam kenyataan.

MACAM INFLASI

Ada berbagai cara untuk menggolongkan macam inflasi, dan penggolongan mana yang kita pilih tergantung pada tujuan kita.

Penggolongan pertama didasarkan atas “parah” tidaknya inflasi tersebut. Di sini kita bedakan beberapa macam inflasi:

  • Inflasi ringan (di bawah 10%)
  • Inflasi sedang (antara 10-30% setahun)
  • Inflasi berat (antara 30-100% setahun)
  • Hiperinflasi (diatas 100% setahun)

Kalau seandainya laju inflasi adalah 20% dan semuanya berasal dari kenaikan harga dari barang-barang yang dibeli oleh golongan yang berpenghasilan rendah, maka seharusnya kita menamakannya inflasi yang parah.

Penggolongan yang kedua adalah atas dasar sebab-musabab awal dari inflasi. Atas dasar ini kita bedakan 2 macam inflasi:

  • Inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat. Inflasi semacam ini disebut demand inflation.

(hlm.163)

  • Inflasi yang timbul karena kenikan biaya produksi. Ini disebut cost inflation.

Bertambahnya pengeluaran pemerintah yang dibiayai dengan pencetakan uang, atau kenaikan permintaan luar negeri akan barang-barang ekspor, atau bertambahnya pengeluaran investasi swasta karena kredit yang murah.

Kenaikan harga sarana produksi yang didatangkan dari luar negeri, atau karena kenaikan harga bahan bakar minyak.

(hlm.164)

Dalam kasus demand inflation, biasanya ada kecenderungan untuk output (GDP riil) menaik bersama-sama dengan kenaikan harga umum. Besar kecilnya kenaikan output ini tergantung kepada elastisitas kurva aggregate supply; semakin mendekati output maksimum semakin tidak elastis kurva ini. Sebaliknya, dalam kasus cost inflation biasanya kenaikan harga-harga dibarengi dengan penurunan omzet penjualan barang (“kelesuan usaha”).

Dalam demand inflation kenaikan harga barang akhir (output) mendahului kenaikan harga barang-barang input dan harga-harga faktor produksi (upah dan sebagainya). Sebaliknya, dalam cost-inflation kita melihat kenaikan harga barang-barang input dan harga-harga faktor produksi mendahului kenaikan harga barang-barang akhir (output).

Pada umumnya, inflasi yang terjadi adalah kombinasi dari kedua macam inflasi tersebut, dan seringkali keduanya saling memperkuat satu sama lain.

Penggolongan yang ketiga adalah berdasarkan asal dari inflasi.

  • Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation)
  • Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation)

Inflasi yang berasal dari dalam negeri timbul misalnya karena defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan pencetakan uang baru, panenan gagal dan sebagainya. Inflasi yang berasal dari luar negeri adalah inflasi yang timbul karena kenaikan harga-harga (yaitu, inflasi) di luar negeri atau di negara-negara langganan berdagang kita.

(hlm.165)

Penularan inflasi dari luar negeri ke dalam negeri ini jelas lebih mudah terjadi pada negara-negara yang perekonomiannya terbuka, yaitu yang sektor perdagangan luar negerinya penting (seperti Indonesia, Korea, Taiwan, Singapura, Malaysia, dan sebagainya).

(hlm.166)

MENGAPA INFLASI TIMBUL

Biasanya kita harus melampaui batas-batas ilmu ekonomi dan memasuki bidang ilmu sosiologi dan ilmu politik.

(hlm.167)

  • Teori Kuantitas adalah teori yang paling tua mengenai inflasi, namun teori ini (yang akhir akhir ini mengalami penyempurnaan-penyempurnaan oleh kelompok ahli ekonomi Universitas Chicago)  masih sangat berguna untuk menerangkan proses inflasi di zaman modern ini, terutama di negara-negara yang sedang berkembang.
  • Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang yang beredar (apakah berupa penambahan uang kartal atau penambahan uang giral tidak menjadi soal).

(hlm.168)

  • Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dan oleh psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa mendatang.

(hlm.169)

Hiperinflasi menghancurkan bukan hanya sendi-sendi ekonomi-moneter tetapi juga sendi-sendi sosial politik dari suatu masyarakat. Struktur masyarakat yang baru akan timbul menggantikan struktur yang lama.

  • Teori Keynes mengenai inflasi didasarkan atas teori makronya, dan menyoroti aspek lain dari inflasi. Menurut teori ini, inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya.

(hlm.170)

Bila jumlah dari permintaan-permintaan efektif dari semua golongam masyarakat tersebut, pada tingkat harga yang berlaku, melebihi jumlah masksimum dari barang-barang yang bisa dihasilkan oleh masyarakat, maka inflationary gap timbul.

(hlm.171)

Yang termasuk golongan “kalah” dalam proses perebutan ini adalah golongan-golongan yang berpenghasilan tetap atau penghasilannya tidak naik secepat laju inflasi (golongan-golongan ini antara lain termasuk kaum pensiunan, pegawai negeri, para petani yang harus menjual hasilnya pada harga yang dikenakan stabilisasi harga, para karyawan perusahaan yang tidak mempunyai serikat buruh atau yang tidak mempunyai saluran yang efektif untuk memperjuangkan perbaikan nasib mereka).

(hlm.173)

  • Teori Strukturalis adalah teori mengenai inflasi yang didasarkan atas pengalaman di negara-negara Amerika Latin.

(hlm.174)

Menurut teori ini, ada 2 ketegaran utama dalam perekonomian negara-negara sedang berkembang yang bisa menimbulkan inflasi

  • Keterangan yang pertama berupa “ketidakelastisan” dari penerimaan ekspor, yaitu nilai ekspor yang tumbuh secara lamban dibanding dengan pertumbuhan sektor-sektor lain.

(hlm.175)

  • Ketegaran yang kedua berkaitan dengan “ketidakelastisan” dari supply atau produksi bahan makanan di dalam negeri.

(hlm.176)

Jumlah uang yang beredar bertmabah dan secara pasif mengikuti dan menampung kenaikan harga-harga tersebut.

Sering dijumpai bahwa ketegaran-ketegaran tersebut disebakan oleh kebijaksanaan harga/moneter pemerintah sendiri. Sebagai misal, ketidakmampuan produksi bahan makanan dalam negeri untuk tumbuh mungkin sekali disebabkan oleh harga bahan makanan di dalam negeri yang ditekan rendah sehingga gairah berproduksi petani menurun.

(hlm.179)

BAB XI

STANDAR MONETER INTERNASIONAL *)

STANDAR MONETER INTERNASIONAL

Standar Moneter internasional adalah sesuatu barang atau mata uang yang diterima oleh mayoritas negara-negara di dunia sebagai “mata-uang dunia”. “Mata-uang dunia” ini, persis seperti halnya mata-uang di dalam sesuatu negara, harus memenuhi keempat fungsi uang yang disebutkan

(hlm.180)

dalam  Bab I (sebagai alat tukar, sebagi pengukur nilai, sebagai alat untuk menyelesaikan hutang-piutang dan sebagai alat penyimpanan nilai atau penyimpan daya beli).

PERKEMBANGAN SISTEM MONETER INTERNASIONAL

Sebelum Perang Dunia I, standar moneter yang diterima oleh mayoritas negara-negara adalah suatu barang yang disebut emas. Oleh sebab itu konversi antara mata-uang negara satu dengan mata uang negara lain sangatlah mudah, dan nilai tukar antara mata-uang satu dengan yang lain (dan antara setiap mata-uang dengan barang-barang, yaitu tingkat “harga harga”) menunjukan kestabilan yang mantap.

Sebab utama dari makin ditinggalkannya emas sebagai standar moneter dunia bukanlah karena orang-orang dan negara-negara tidak lagi percaya pada nilai emas, tetapi karena jumlah emas yang tersedia semakin tidak cukup untuk menunjang transaksi-transaksi nasional maupun internasional yang semakin meningkat akibat dari pertumbuhan perekonomian dan perdagangan dunia.

Dimana-mana terdapat “krisis likuiditas”, karena tidak cukupnya alat pembayaran untuk menyangga volume transaksi yang semakin membesar.

(hlm.181)

“sistem devisa emas”

Krisis likuditas dunia muncul kembali dan negara-negara di dunia mulai mencari alternatif. Mulai pecah Perang Dunia II sampai awal tahun ’60 an, mata-uang dollar Amerika merupakan standar moneter internasional.

Mulai awal tahun ’60-an dan terutama setelah perang Vietnam makin menghebat pada tahun 1965, keadaan berbalik dari kekurangan dollar menjadi kelebihan dollar (“dollar glut”). Sebabnya adalah membengkaknya defisit neraca pembayaran Amerika Serikat (pembiayaan perang Vietnam, larinya modal ke luar negeri dan sebagainya), dan laju inflasi yang tinggi di negara tersebut.

(hlm.182)

Sekali lagi orang beramai-ramai berusaha untuk memegang emas, yang ternyata mampu mempertahankan “nilai”-nya di segala zaman.

BEBERAPA SARAN MENGENAI STANDAR MONETER INTERNASIONAL

Dollar harus dicari penggantinya. Mata uang – mata uang lain yang bisa mempertahankan “nilai”-nya (seperti Yen atau Deutschmark) tidak bisa menggantikan peranan dollar sebagai mata uang dunia karena mata uang-mata uang ini tidak cukup dominan.

  • Menaikan Harga Emas

Alternatif ini disarankan oleh ekonom Inggris Sir Roy Harrod dan ekonom Perancis Jacques Rueff. Kalau toh emas masih juga merupakan “favorit” dari masyarakat dunia sebagai standar moneter internasional.

(hlm.183)

Maka biarkanlah demikian.

Menurut Harrod dan Rueff, kekurangan likuditas ini bisa diatasi dengan mudah, yaitu dengan menaikkan harga emas relatif terhadap semua matauang-matauang di dunia.

“menyangga” transaksi tergantung pada (a) volume transaksi dan (b) tingkat harga nominal per unit volume transaksi. Sejumlah uang yang sama bisa menyangga volume transaksi yang lebib besar apabila harga nominal per unit volume transaksi turun. Harrod-Rueff mengatakan bahwa jumlah persediaan emas yang sama bisa menyangga volume transaksi internasional yang lebih besar apabila harga per unit volume transaksi yang dinyatakan dalam satuan emas bisa diturunkan. Cara yang paling mudah untuk mencapai ini, menurut mereka adalah menaikan harga emas relatif terhadap semua mata uang di dunia.

Kenaikan harga emas memberikan keuntungan yang sangat besar hanya kepada golongan-golongan tertentu saja.yaitu penimbun-penimbun emas, spekulator emas dan beberapa negara penghasil emas seperti Afrika Selatan dan Rusia. (b) kembali ke standar emas berarti dunia harus mengalihkan lagi sebagian dari sumber dayanya untuk produksi emas (jelas orang-orang akan makin giat mencari dan menambang emas karena harganya menjadi sangat tinggi). Apakah ini adalah cara yang terbaik untuk menggunakan sumber daya dunia? Jawabnya adalah tidak. Emas itu sendiri hanya mempunyai manfaat yang terbatas bagi hajat hidup manusia, kenaoa dunia harus membuang ongkos

(hlm.184)

untuk itu? Pastilah ada cara lain yang lebih murah untuk memperoleh standar moneter yang baik. (lihat alternatif-alternatif di bawah). (c) standar emas, agar berjalan dengan baik, mengharuskan setiap negara mematuhi “disiplin” yang terkandung di dalamnya.

  • Standar Barang (Non-Emas)

Alternatif ini diajukan bersama-sama oleh ekonom Amerka Albert Hart, ekonom Inggris Nicholas Kaldor dan ekonom Belanda Jan Tinbergen.

Disarankan bahwa suatu standar moenter intenasional seyogyanya terdiri dari satu kumpulan barang-barang perdagangan dunia yang utama.

  • Special Drawing Rights (SDR)

Cara yang lebih ekonomis untuk menyediakan likuditas yang mantap bagi perekonomian dunia telah dilaksanakan oleh internasional Monetary Fund (IMF), yaitu dengan dikeluarkannya alat likuid baru yang disebut Special Drawing Rights (SDR). SDR adalah semacam “uang giral intenasional” yang didukung penuh dengan dana reserve dan emas IMF. Sering pula dijuluki “emas kertas” (paper gold) karena bisa menggantikan semua fungsi emas sebagai standar moneter intenasional. Meskipun begitu SDR tidak ada hubungan yang langsung dengan persediaan maupun harga emas. Kurs SDR adalah indeks yang tertimbang dari beberapa mata uang utama di dunia. Dengan lain perkataan, nilai dari standar moneter yang baru dikaitkan dengan nilai dari sekelompok mata uang-mata uang utama di dunia (dan bukan dengan sekelompok barang-barang perdangan utama di dunia, seperti saran Hart-Kaldor-Tinberger di atas). Setiap tahunnya Direktur Jendral IMF (dengan berkonsultasi dengan negara-negara anggota IMF) menentukan beberapa “uang giral internasional” tambahan yang akan diciptakan untuk menyangga pertumbuhan perdagangan internasional.

(a) Disiplin moneter dari anggota-anggota IMF sendiri (terutama yang mata uangnya masuk dalam perhitungan kurs SDR). Sistem ini sendiri tidak mengenakan unsur-unsur disiplin moneter bagi masing-masing negara seperti dalam sistem standar- emas atau sistem standar-barang, sehingga tidak ada jaminan bahwa nilai SDR akan selalu stabil. (b) pengelolaan dan perencanaan yang baik oleh IMF sebagai bankir internasional mengenai besar-kecilnya volume SDR yang diperlukan untuk menyangga perdagangan dunia agar supaya jangan terlalu sedikit sehingga menimbulkan deflasi dan hambatan pada pertumbuhan perdagangan dunia, tetapi juga jangan terlalu berlebihan sehingga menimbulkan inflasi dan hilangnya kepercayaan pada SDR (seperti terhadap dollar). (c) keadaan di sektor “riil” dari perekonomian dan perdagangan

(hlml.187)

dunia (misalnya, masalah energi, situasi politik internasional; dan sebagainya). Sektor “moneter” dan sektor “riil” selalu saling berkaitan dan saling mempengaruhi , apakah untuk suatu negara atau untuk perekonomian dunia secara keseluruha. Apapun yang dilakukan di bidang moneter tidak akan banyak artinya kalau sektor riilnya tidak pula dibenahi. Tata politik dan ekonomi dunia yang mantap dan adil nampaknya melandasi semua ini.

(hlm.189)

LAMPIRAN

TEORI NEO-WALRASIAN (LANGE-PATINKIN)

Antara teori moneter Klasik dan teori nilai mengandung kontradiksi logis, dalam teori Klasik dikenal dua hukum pokok, yaitu hukum Walras dan Hukum Say.

Teori Walras merupakan landasan bagi pendekatan “general equilibrium” modern. Walras menunjukan bagaimana suatu perekonomian yang terdiri dari unit-unit ekonomi kecil (yaitu pembeli-pembeli dan penjual-penjual) bekerja dan mencapai posisis equilibriumnya. Ditunjukan oleh Walras bahwa sistem pasar bisa membawa perekonomian dari posisi ketidakseimbangan (disequilibrium) ke posisi keseimbanga (equilibrium) melalui penyesuaian simultan berupa reaksi-reaksi (terhadap keadaan disequilibirum  tersebut) oleh unit-unit ekonomi.

(hlm.190)

Setiap orang (atau unit ekonomi) yang “meminta” sesuatu barang per definisi haruslah bersedia “menawarkan” barang lain (atau uang) senilai jumlah barang yang ia minta.

Σ Pi Si + Ms ≡ Σ Pi Di + Md

2) oleh Walras proses penyesuaian secara bertahap menuju ke posisi equilibrium atas dasar reaksi-reaksi spontan individual dari unit-unit ekonomi kecil tersebut dia sebut tatonement.

(hlm.191)

Ia tidak mengehendaki “uang” itu sendiri. Yang ia kehendaki adalah barang/jasa lain yang bisa memenuhi kebutuhannya atau seleranya.

Σ Pi Si ≡ Σ Pi Di

Kombinasi dari kedua hukum pokok dalam teori ekonomi Klasik ini, menurut Lange, menimbulkan kontradiksi logika untuk teori moneter. Bila kedua hukum tersebut digabung, maka kita akan selalu dapati bahwa Ms akan selaku sama dengan Md, berapa pun tingkat harga-harga (Pi). Ini berarti bahwa dalam hal ini tidaklah mungkin kita merumuskan suatu teori moneter apapun (termasuk

(hlm.192)

Teori moneter klasik, Teori Kuantitas). Kalau Ms ≡ Md, maka berapa pun jumlah uang yang beredar akan selalu diimbangi oleh adanya permintaan akan uang yang sama besarnya. Tingkat harga-harga tidak pernah bisa dipengaruhi oleh perubahan Ms. Ini jelas tidak memberikan ruang hidup bagi teori moneter Klasik (Teori Kuantitas), yang mengatakan bahwa perusahaan Ms, mempengaruhi tingkat harga-harga umum (Pi). Kombinasi Walras plus Say tidak  memungkinan dirumuskannya teori moneter apapun di dalam kerangka teori Klasik. Demikian Lange.

Yaitu anggapan bahwa permintaan dan penawaran akan barang-barang/jasa hanya dipengaruhi oleh harga-harga relatif, dan bukan harga-harga absolut, dari barang-barang dan jasa tersebut. Bila semua harga barang/jasa naik dengan, misalnya 20% maka jumlah setiap barang yang diminta maupun yang ditawarkan di masyarakat tidak terpengaruh. Hanya apabila harga-harga tidak naik dengan prosentase yang sama, maka jumlah (atau yang ditawarkan) berubah, karena harga relatif  antara barang yang satu dengan yang lain berubah. Asumsi ini sering disebut dengan “asumsi homogenitas” (homogeneity assumption), atau seing secara lebih tepat disebut asumsi homogenitas derajat nol (zero degree homogeneity assumption), mengenai fungsi-fungsi permintaan-penawaran setiap barang. Suppy dan demand setiap barang hanya dipengaruhi oleh perubahan harga relatif.

(hlm.193)

Seandainya kita mulai dengan posisi equlibirum dalam setiap pasar barang/jasa. Maka, atas dasar asumsi homogenitas, perubahan tingkat harga-harga yang proporsional satu sama lain tidak akan mempengaruhi equilibrium (suppy & demand) di pasar-pasar barang/jasa tersebut (pasar-pasar sering disebut “sektor riil”). Dan menurut identitas Walras, kalau “sektor riil” ada pada posisi equilibirum (Σ PS = Σ PD), maka “sektor moneter” pun akan selalu pada posisi equilibrium, yaitu Ms = Md. Dan kalau Ms selalu identik dengan Md, berapapun tingkat Pi, maka ini berarti tidak ada kemungkinan bagi kita untuk merumuskan teori yang menghubungkan antara perubahan jumlah uang dengan tingkat harga-harga umum (yaitu, suatu “teori moneter”). Jadi tidak ada ruang untuk merumuskan teori moneter apapun. Demikian kritik Patinkin.

Pemecahannya adalah bahwa asumsi homogenitas tersebut harus ditinggalkan. Sebagai gantinya Patinkin menyarankan bahwa supply dan demand untuk setiap barang/jasa harus dianggap dipengaruhi tidak hanya oleh perubahan-perubahan harga-harga relatif, tetapi juga oleh perubahan tingkat harga absolut dengan jalan memasukkan “efek saldo kas riil” atau real balance effect atau sering juga disebut Pigou effect ke dalam fungsi-fungsi supply dan demand. Perubahan tingkat harga absolut yang proporsional, meskipun tidak mempunyai efek mengubah harga-harga relatif antara barang/jasa satu dengan yang lain, tetapi mengubah nilai riil dari uang tunai yang orang pegang.

(hlm.194)

Dengan demikian suatu teori moneter, yaitu teori yang menghubungkan perubahan Ms dengan perubahan P bisa dirumuskan, dan kontradiksi logis antara teori nilai Klasik dengan teori moneternya (Teori Kuantitas) hilang.

            Perdebatan selanjutnya mengenai “Patinkin controversy” ini berkembang ke arah perdebatan yang sangat matematis), dan dari segi perkembangan teori moneter itu sendiri tidak banyak yang bisa dicatat. Melihat kembali ke belakang, maka kontribusi Patinkin terhadap perkembangan teori moneter per se tidaklah banyak. Dengan kata-kata ahli moneter R.W. Clower :

The significance of Patinkin’s work this lies not so much in what he says about monetary theory as in what the unintentionally

(hlm. 195)

reveals about the analytical and empirical weakness of established price theory

Namun demikian integrasi antara teori nilai (teori harga) dengan teori moneter dalam kerangka teoritis Klasik Tercapai, berkat karya Patinkin.

Ekonomi Makro

Boediono

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku “Ekonomi Makro” karangan Boediono.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

EKONOMI MAKRO
EDISI KEEMPAT
Oleh:
Dr. Boediono
ISBN: 979-503-063-9
SERI SINOPSIS
PENGANTAR ILMU EKONOMI NO.2
EKONOMI MAKRO
Edisi Keempat
Cetakan Pertama, 1982
Cetakan Kesepuluh, Agustus 1991
Cetakan Kedua Puluh, Januari 2001
Cetakan Kedua Puluh Satu, April 2005
Oleh:
Dr. Boediono
Dicetak & Diterbitkan oleh:
BPFE-YOGYAKARTA
Yogyakarta
Anggota IKAPI
No. 008

(hlm. 1)
BAB I
EKONOMI MAKRO
MASALAH EKONOMI MAKRO
Pada dasarnya, ini mencakup masalah-masalah yang berkaitan dengan pengelolaan dan pengendalian umum perekonomian, dilihat dari kacamata seorang perencana ekonomi nasional.
Secara garis besar, permasalahan kebijakan makro mencakup dua permasalahan pokok:
(a) Masalah jangka pendek atau masalah stabilisasi. Masalah ini berkaitan dengan bagaimana “menyetir” perekonomian nasional dari bulan ke bulan, dari triwulan ke triwulan, atau dari tahun ke tahun, agar terhindar dari tiga “penyakit makro” utama yaitu: (1) inflasi, (2) pengangguran, dan (3) ketimpangan dalam neraca pembayaran.

(hlm. 2)
(b) Masalah jangka panjang atau masalah pertumbuhan. Masalah ini adalah mengenai bagaimana kita “menyetir” perekonomian agar ada keserasian antara pertumbuhan penduduk, pertambahan kapasitas produksi, dan tersedianya dana untuk investasi.
Dalam buku ini, kita hanya membahas teori ekonomi makro untuk menjawab permasalahan pertama, yaitu stabilisasi.
“Jangka pendek” yang dimaksud di sini adalah periode waktu yang begitu pendek sehingga pengeluaran (pembelian) barang-barang modal belum bisa menambah kapasitas produksi dalam periode tersebut.

(hlm. 3)
Misalnya, dengan menambah jumlah uang yang beredar, menurunkan bunga kredit bank, mengenakan pajak impor, menurunkan pajak pendapatan atau pajak penjualan, menambah pengeluaran pemerintah, mengeluarkan obligasi negara, dan sebagainya. Kebijakan-kebijakan semacam ini memiliki ciri umum bahwa semuanya dapat dilakukan tanpa harus mengubah ketiga faktor tersebut di atas. Jadi, jika kita menginginkan kenaikan produksi dalam jangka pendek, kita bisa melakukannya dengan, misalnya, memperlancar distribusi bahan-bahan mentah kepada produsen, mendorong pengusaha untuk menggunakan pabrik-pabriknya secara lebih intensif (menambah giliran kerja/shift), memberikan kerja lembur kepada para karyawan, dan sebagainya. Kebijakan-kebijakan semacam ini bisa menaikkan arus produksi barang/jasa tanpa mengubah ketiga faktor di atas. Semuanya ini adalah kebijakan-kebijakan jangka pendek, dan kebijakan-kebijakan semacam inilah yang sering diandalkan untuk tujuan stabilisasi.

(hlm. 5)
EMPAT PASAR MAKRO
(a) Pasar Barang
(b) Pasar Uang
(c) Pasar Tenaga Kerja
(d) Pasar Luar Negeri

(hlm. 7)
a. Pasar Barang
b. Pasar Uang

(hlm. 8)
Pasar Tenaga Kerja
(a) Neraca Perdagangan, yaitu penerimaan devisa ekspor dikurangi pengeluaran devisa untuk impor; atau Neraca Pembayaran jika kita ingin mengetahui aliran keluar-masuk modal.
(b) Dasar Penukaran Luar Negeri (terms of trade), yaitu harga rata-rata ekspor kita dibagi dengan harga rata-rata impor kita.
(c) Cadangan Devisa, yaitu persediaan devisa yang kita miliki pada awal tahun ditambah saldo neraca pembayaran.

(hlm. 10)
LIMA PELAKU MAKRO
(a) Rumah Tangga
(b) Produsen
(c) Pemerintah
(d) Lembaga-lembaga Keuangan
(e) Negara-negara Lain

(hlm. 15)
“Situasi pasar” di sini menyangkut dua aspek, yaitu: (a) aspek harga dan (b) aspek volume.

(hlm. 17)
BAB II
TEORI MAKRO KLASIK
DASAR FILSAFAT KAUM KLASIK
(hlm. 18)
Kegiatan pemerintah haruslah dibatasi pada kegiatan-kegiatan yang memang benar-benar tidak bisa dilakukan oleh pihak swasta secara efisien, misalnya di bidang pertahanan, hukum, kepemerintahan, dan mungkin juga pendidikan.

(hlm. 19)
PASAR BARANG
(misalnya, menghilangkan peraturan upah minimum, persengkokolan harga antara produsen, dan sebagainya).

(hlm. 20)
PASAR TENAGA KERJA
Bila harga tenaga kerja (yaitu, upah) juga cukup fleksibel, maka permintaan akan tenaga kerja selalu seimbang dengan penawaran tenaga kerja.

(hlm. 23-24)
PASAR LUAR NEGERI
Asalkan semua negara menggunakan sistem standar emas, maka setiap perekonomian nasional akan memiliki sistem neraca perdagangan yang bisa mengoreksi ketidakseimbangan secara otomatis. Proses ini, yang dikenal sebagai mekanisme Hume, akhirnya membawa neraca perdagangan kita ke arah keseimbangan lagi.

(hlm. 25)
BEBERAPA KOMENTAR MENGENAI TEORI KLASIK
Campur tangan pada tingkat mikro menyangkut pengaturan industri-industri yang bersifat monopoli dan penghapusan hambatan-hambatan kelembagaan yang menghalangi fleksibilitas harga-harga untuk turun atau naik sesuai dengan tarik-menarik penawaran dan permintaan pasar. Tindakan-tindakan seperti ini dianggap akan membantu proses penyesuaian alami tersebut di atas.

(hlm. 26)
Campur tangan yang kedua, yang menyangkut tingkat “makro”, adalah pengaturan terhadap jumlah uang yang beredar (Ms).
Bagaimana jika negara menganut sistem standar emas? Tugas makro pemerintah bahkan lebih mudah lagi, yaitu tidak melakukan apa-apa. Mengapa demikian? Sebab sistem standar emas adalah self-regulating.

(hlm. 27)
TEORI KLASIK DAN REALITA SEJARAH
Sekitar 150 tahun yang lalu, perekonomian negara-negara di Eropa lepas landas (take-off) dengan sistem yang dijiwai oleh ideologi liberalisme.
Namun, ini juga menimbulkan keresahan-keresahan. Yang pertama adalah segi distribusi pendapatan, yang perkembangannya tidak seindah perkembangan GDP dan tingkat harga. Masalah-masalah sosial yang timbul dari distribusi pendapatan dan kekayaan masyarakat yang semakin timpang telah mengundang reaksi keras dari golongan yang menyebut dirinya sebagai kaum sosialis.
Segi yang kedua menyangkut masalah pengangguran dan fluktuasi GDP dari tahun ke tahun. Adanya masa-masa depresi yang parah selama kurun waktu 150 tahun tersebut di atas menjadi sorotan.

(hlm. 31)
BAB III
TEORI KEYNES: PASAR BARANG
(hlm. 33)
PASAR BARANG
Dengan kata lain, sebagian dari daya beli tersebut mungkin benar-benar diterjemahkan menjadi permintaan efektif di pasar barang. Namun, sebagian lain dari daya beli tersebut mungkin akan ditabung oleh masyarakat. Menabung tidak menambah permintaan efektif di pasar barang.

(hlm. 36)
YANG MENENTUKAN C: PROPENSITY TO CONSUME DAN PROPENSITY TO SAVE
Dengan kata lain, proses produksi menghasilkan pendapatan dalam masyarakat.

(hlm. 37)
Selanjutnya, pendapatan menimbulkan permintaan efektif di pasar barang, yaitu permintaan efektif untuk barang-barang konsumsi oleh sektor rumah tangga (C).

(hlm. 39)
Bentuk C = cY sering diperoleh dari data jangka panjang, misalnya seperti yang ditemukan oleh Simon Kuznets dengan menggunakan data konsumsi dan pendapatan untuk periode 1869-1938 di Amerika Serikat.

(hlm. 47)
Dalam kenyataannya, jumlah proyek investasi yang terbuka bagi para investor di suatu negara tidak hanya lima, tetapi banyak sekali. Oleh karena itu, kurva fungsi investasi tersebut tidak akan merupakan kurva yang patah-patah seperti contoh di atas, melainkan lebih merupakan kurva yang “halus”.

(hlm. 51)
KONSEP PELIPAT ATAU MULTIPLIER
Misalnya, jika investor ingin meningkatkan investasinya dengan ΔI, apa yang akan terjadi dengan Z? Apakah Z juga akan naik sebesar ΔI? Jawaban Keynes adalah: tidak. Sebab kenaikan pengeluaran masyarakat sebesar ΔI akan mempunyai akibat berantai.

(hlm. 53)
Karena c (=MPC) adalah positif tetapi lebih kecil dari satu, maka (1 + c² + c³ ………) merupakan jumlah dari satu deret yang semakin mengecil. Bisa dibuktikan bahwa
1 + c² + c³ + c⁴ + ………………. = 1 / (1-c)
Sehingga,
ΔZ = (1 / 1-c) * ΔI

(hlm. 60)
RINGKASAN
Inti dari kebijakan makro Keynes adalah bagaimana pemerintah bisa mempengaruhi permintaan agregat (dengan demikian, mempengaruhi situasi makro) agar mendekati posisi “full employment”.

(hlm. 63)
BAB IV
TEORI MAKRO KEYNES DENGAN PASAR UANG DAN PASAR TENAGA KERJA
PENDAHULUAN
Inti dari teori Keynes justru adalah pandangannya bahwa ketiga pasar ini (plus pasar luar negeri, jika kita sampai pada pembahasan mengenai perekonomian terbuka) saling terkait, dan hanya mengetahui proses keseimbangan di satu pasar atau masing-masing pasar tidak cukup untuk memahami proses makro secara lengkap. Keynes menekankan perlunya melihat proses sebagai proses keseimbangan umum (general equilibrium), yaitu proses penyesuaian di semua pasar menuju ke arah posisi keseimbangannya secara bersama-sama.

(hlm. 64)
PASAR UANG
Permintaan akan uang merupakan fokus dari teori moneter Keynes.
(a) Motif transaksi
(b) Motif berjaga-jaga
(c) Motif spekulasi
Keynes juga membedakan permintaan akan uang untuk tujuan melakukan pembayaran yang tidak reguler atau yang di luar rencana transaksi normal, misalnya untuk pembayaran keadaan darurat seperti kecelakaan, sakit, dan pembayaran yang tak terduga lainnya. Motif ini disebut motif berjaga-jaga (precautionary motive).

(hlm. 66)
Sekarang, menurut Keynes, orang bisa “berspekulasi” mengenai perubahan tingkat bunga di masa mendatang (yang berarti juga perubahan harga pasar obligasi di masa mendatang) dengan membeli atau menjual obligasi yang dimilikinya dengan harapan memperoleh keuntungan.

(hlm. 68)
(a) Teori tersebut lebih cocok bagi negara-negara yang memiliki lembaga pasar uang yang telah berkembang.
(b) Mengenai anggapan bahwa Ms ditentukan oleh penguasa moneter, ini sebenarnya hanya suatu karikatur yang kasar dari kenyataan.

(hlm. 71)
PASAR TENAGA KERJA
Logika Klasik ini, jika kita terima anggapan-anggapan dasarnya, tidak bisa dibuktikan salah. Sumbangan Keynes di bidang ini terutama terletak pada peringatannya kepada kita bahwa anggapan-anggapan dasar kaum Klasik, khususnya mengenai fleksibilitas sempurna dari harga-harga dan tingkat upah serta reaksi yang cepat dan rasional dari para pelaku ekonomi, tidak selalu cocok dengan kenyataan.
Hambatan-hambatan ini termasuk: (a) ketegaran dan fleksibilitas yang tidak sempurna dari harga-harga dan (terutama) upah, meskipun pengangguran ada di mana-mana, dan (b) kelambatan reaksi pelaku ekonomi (produsen, konsumen, buruh) terhadap situasi ekonomi yang baru karena, misalnya, tidak diperolehnya informasi yang cukup mengenai situasi baru ini. (Ingat bahwa seseorang bertindak hanya jika ia memperoleh informasi tertentu yang menunjukkan bahwa untuk kepentingannya ia perlu bertindak berbeda dari apa yang dilakukannya).

(hlm. 72)
Dan salah satu cara yang paling efektif untuk mencapai ini, menurut Keynes, adalah meningkatkan pengeluaran Pemerintah (G). Kenaikan G, melalui proses multiplier, akan menaikkan permintaan agregat (Z).

(hlm. 73)
REKAPITULASI PROSES MAKRO KEYNES
Kegiatan produksi (Q) menciptakan penghasilan (Y) bagi para pemilik faktor produksi, yang kemudian akan membelanjakannya sebesar Z untuk membeli barang-barang. Aliran pengeluaran (Z) ini akan diterima oleh sektor produksi sebagai hasil penjualan outputnya, yang kemudian akan dibayarkan kepada para pemilik faktor produksi sebagai penghasilan (Y). Demikian seterusnya, proses ini berjalan tanpa henti selama ada kegiatan ekonomi. Sebagai catatan tambahan, bisa disebutkan di sini bahwa jika kita mengukur besarnya masing-masing aliran setiap (misalnya) tahun, kita akan memperoleh angka statistik yang disebut Pengeluaran Domestik Bruto atau Gross Domestic Expenditure (GDE) untuk Z, Produksi Domestik Bruto atau Gross Domestic Product (GDP) untuk Q, dan Pendapatan Domestik Bruto atau Gross Domestic Income (GDI) untuk Y.

(hlm. 74)
Menurut Keynes, di antara ketiga aliran tersebut yang paling menentukan atau yang secara aktif menentukan aliran-aliran lainnya adalah Z, yaitu GDE atau pengeluaran agregat atau permintaan agregat.
Jadi Z adalah unsur aktif dari aliran perputaran tersebut, sedangkan Q dan Y mengikutinya. Ini adalah esensi dari aspek teori Keynes yang menggarisbawahi pentingnya pengelolaan permintaan agregat atau aggregate demand management untuk pengendalian kestabilan makro suatu perekonomian.

(hlm. 78)
Kurva tersebut menelusuri berbagai tingkat r dan Q yang memenuhi syarat keseimbangan di pasar barang. Kurva ini disebut kurva IS, untuk mengingatkan kita bahwa setiap titik pada kurva ini menjamin bahwa pengeluaran investasi (I) yang diinginkan oleh para investor persis sama dengan jumlah tabungan (S) yang disisihkan oleh sektor Rumah Tangga.

(hlm. 79)
Sekarang kita melihat pasar uang. Di sini kurva permintaan akan uang (liquidity preference) bertemu dengan kurva penawaran akan uang dan menentukan tingkat bunga (r).

(hlm. 80)
Kurva ini disebut kurva LM, untuk mengingatkan kita bahwa titik-titik pada kurva ini menjamin keseimbangan antara permintaan akan uang (L) dengan penawaran akan uang (Ms), atau keseimbangan di pasar uang.

(hlm. 81)
Y dalam arti ini tidak berbeda dengan Q yang dimaksudkan dalam buku ini.

(hlm. 85)
BAB V
UANG BEREDAR DAN KEBIJAKAN MONETER
PENDAHULUAN
Dengan memasukkan pertimbangan-pertimbangan baru ini, kita sebenarnya sudah selangkah melampaui teori Keynes yang asli.

(hlm. 86-87)
UANG BEREDAR
Konsep uang yang beredar ini disebut uang beredar dalam arti luas (broad money).

(hlm. 88-89)
UANG INTI (RESERVE MONEY)
Peristiwa ini pun tidak mengubah kenyataan bahwa di Indonesia telah tercipta uang inti sebesar Rp625 juta yang berasal dari penerimaan ekspor sebesar US$1 juta tersebut.

(hlm. 90)
Ada beberapa penyebab lain bagaimana uang inti bisa tercipta. Beberapa penyebab tersebut adalah:
(1) Defisit APBN yang dibiayai dengan pencetakan uang baru. Ini menambah uang tunai dalam masyarakat (dan uang inti).
(hlm. 91)
(2) Kredit langsung Bank Indonesia kepada badan-badan resmi tertentu (misalnya, Bulog, Pertamina). Ini akan menciptakan pula saldo rekening koran pada Bank Indonesia (dan uang inti).
(3) Kredit Likuiditas Bank Indonesia kepada bank-bank umum (dalam rangka kredit prioritas). Ini juga akan menciptakan saldo rekening koran pada Bank Indonesia (dan uang inti).

(hlm. 92)
Mengapa bank bisa menciptakan uang giral? Kunci jawabannya terletak pada kenyataan bahwa bank-bank umum diperkenankan untuk mengelola rekening koran nasabahnya tanpa harus menyediakan jaminan uang tunai sebesar saldo rekening koran tersebut.

(hlm. 93)
Angka (1 / u + v (1-u)) disebut koefisien pelipat uang atau money multiplier.

(hlm. 96)
(a) Besarnya cash-ratio atau reserve requirement yang diwajibkan oleh bank sentral.
(b) Besarnya reserve yang ingin dipegang bank di atas jumlah wajib tersebut.

(hlm. 102)
Di sini kita uraikan secara singkat dua kritik mengenai penggunaan kebijakan moneter.
Kritik yang pertama berasal dari Keynes sendiri. Ia mempertanyakan anggapan bahwa kebijakan moneter efektif untuk mengatasi masalah pengangguran dalam masa depresi (seperti yang terjadi pada tahun 1930-an).

(hlm. 104)
Ekonom Milton Friedman dari Universitas Chicago beserta pengikut-pengikutnya berpendapat bahwa kebijakan moneter tidak akan efektif karena satu hal: sulitnya menerka berapa besar dan kapan efeknya akan terasa. Yang perlu dilakukan pemerintah hanyalah satu, yaitu meningkatkan Ms dari waktu ke waktu secara otomatis sebesar kenaikan kebutuhan rata-rata akan uang yang dialami oleh negara tersebut di masa lalu.

(hlm. 109)
BAB VI
KEBIJAKAN FISKAL
APBN DAN KEBIJAKAN FISKAL
(a) Bagaimana suatu kebijakan fiskal diterjemahkan menjadi suatu APBN dan
(b) Bagaimana APBN tersebut mempengaruhi perekonomian.

(hlm. 112)
Dari segi pembukuannya, APBN selalu seimbang: pengeluaran total adalah 2.300 dan penerimaan total juga 2.300.
Kita bisa mengatakan bahwa APBN defisit, surplus, atau seimbang dalam arti ekonomis hanya apabila kita meneliti struktur angka-angkanya.

(hlm. 114)
Pembelian Barang/Jasa
Pertama, kita lihat pengeluaran untuk pembelian barang dan jasa (G) pada sisi pengeluaran APBN.
Gaji Pegawai
Pos yang kedua adalah gaji pegawai pemerintah (W). Pos ini biasanya merupakan pos yang penting dalam APBN.

(hlm. 116)
Perubahan W, misalnya kenaikan gaji pegawai negeri, mempunyai akibat langsung berupa kenaikan disposable income (Yd) yang diterima oleh sektor Rumah Tangga (yaitu, pendapatan yang berada di tangan masyarakat untuk dibelanjakan).
Perhatikan bahwa setiap rupiah kenaikan gaji pegawai mempunyai pengaruh terhadap permintaan agregat yang lebih kecil dibandingkan dengan setiap rupiah yang dibelanjakan untuk pembelian barang dan jasa.

(hlm. 117)
Transfer Payments
Pos yang ketiga pada sisi pengeluaran adalah “transfer payments”.
Perhatikan bahwa multiplier transfer payments adalah persis sama dengan multiplier gaji pegawai.

(hlm. 118)
Jadi pengaruh dari masing-masing pos tersebut hanya berbeda pada “pengaruh putaran pertama”-nya!

(hlm. 119)
Penerimaan Pajak
Penerimaan pajak (T) bukan komponen dari permintaan agregat.

(hlm. 120)
Jadi pengaruh ΔT terhadap perekonomian melalui proses yang sama dengan ΔW dan ΔR, hanya saja dengan tanda yang berlawanan. Secara analitis, T memang bisa dipandang sebagai transfer payments negatif.

(hlm. 121)
Perhatikan bahwa Δ (netto) tersebut adalah “pengaruh putaran pertama” saja. Pengaruh akhir dari kebijakan ΔT = ΔG bisa diperoleh dengan menelusuri pengaruh ΔZ (=ΔT = ΔG). Pengaruh akhir dari kebijakan ΔT = ΔG terhadap Z biasanya tidak sama dengan ΔZ = ΔT = ΔG. Artinya, multiplier tidak sama dengan 1 (biasanya lebih kecil dari 1).

(hlm. 133)
RINGKASAN
Karena c < 1, maka pengaruh putaran pertama setiap rupiah ΔG lebih besar daripada setiap rupiah ΔW atau ΔR.

(hlm. 135)
BAB VII
PEREKONOMIAN TERBUKA
KONSEKUENSI DARI PEREKONOMIAN TERBUKA
(hlm. 136)
Perbedaan antara Z untuk perekonomian tertutup dan Z untuk perekonomian terbuka adalah ditambahkannya (X – M), yang dikenal dengan nama Neraca Perdagangan.

(hlm. 137)
Mengapa multiplier untuk perekonomian terbuka lebih kecil daripada multiplier untuk perekonomian tertutup?

(hlm. 138)
Jelas di sini bahwa sebagian dari kenaikan pengeluaran konsumsi “bocor” ke luar negeri.

(hlm. 140)
Jumlah uang (rupiah) yang beredar tergantung pada dua faktor tambahan, yaitu posisi Neraca Perdagangan dan besar kecilnya aliran modal dari dan ke luar negeri (Neraca Perdagangan dan Neraca Aliran Modal tergabung menjadi satu neraca yang disebut Neraca Pembayaran).

(hlm. 142)
Harga. Dalam model perekonomian terbuka, kita tidak lagi hanya memiliki satu tingkat harga umum (P), tetapi paling tidak ada dua tingkat harga umum, yaitu tingkat harga umum yang berlaku di dalam negeri (P) dan tingkat harga umum yang berlaku di luar negeri atau P$f. P$f adalah harga barang-barang yang dijual/dibeli di pasar luar negeri, yang dinyatakan dalam mata uang asing (misalnya, US$).

(hlm. 145)
MASALAH KETIDAKSERASIAN
Dalam dunia Klasik, masalah ketidakserasian tidak timbul. Hal ini disebabkan karena baik secara internal maupun secara eksternal, perekonomian Klasik mengandung di dalamnya mekanisme penyesuaian otomatis.

(hlm. 146)
Anggap bahwa (a) semua harga fleksibel ke atas maupun ke bawah, (b) semua pelaku ekonomi bereaksi secara cepat, spontan, dan rasional terhadap perubahan harga, dan (c) negara-negara menganut sistem standar emas.
Harga-harga tidak lagi fleksibel (dan paling tidak sebagian dari keadaan ini disebabkan oleh faktor-faktor yang sengaja dibuat oleh orang/pemerintah), dan sistem standar emas terpaksa ditinggalkan karena produksi emas tidak bisa mengikuti laju pertumbuhan perdagangan internasional.

(hlm. 150)
Prinsip-prinsip apa yang harus dianut untuk menentukan kombinasi yang tepat antara kedua kelompok kebijakan tersebut? Pembahasan yang tuntas dari prinsip-prinsip tersebut akan membawa kita terlalu jauh dari ruang lingkup sebuah buku pengantar seperti ini. Di sini kita akan mengemukakan sepasang dalil umum tanpa disertai pembuktian lebih lanjut.
Dua dalil umum yang penting mengenai masalah keseimbangan internal dan keseimbangan eksternal ini adalah:
(a) Kombinasi kebijakan yang tepat untuk membawa suatu perekonomian ke arah posisi keseimbangan internal dan keseimbangan eksternal tergantung pada posisi awal dari perekonomian tersebut.
(b) Pada umumnya, untuk mencapai kedua sasaran tersebut secara simultan, perlu digunakan kedua kelompok kebijakan tersebut dalam kombinasi yang tepat. Satu macam kebijakan saja biasanya tidak cukup. Dengan kata lain, karena ada dua sasaran atau target yang ingin dicapai (yaitu, internal balance dan external balance), maka pada umumnya diperlukan dua alat kebijakan atau instrumen kebijakan (yaitu, expenditure reducing/increasing dan expenditure switching). Dalil ini sering disebut dengan nama dalil Tinbergen-Meade.

(hlm. 154)
RINGKASAN
Untuk mencapai posisi internal dan external balance biasanya diperlukan kombinasi dari masing-masing kelompok instrumen (dalil Tinbergen-Meade).

(hlm. 155)
BAB VIII
TEORI INFLASI
PENGERTIAN INFLASI
Inflasi adalah kecenderungan harga-harga untuk naik secara umum dan terus menerus.

(hlm. 161)
TEORI KUANTITAS
(a) Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang yang beredar.
(b) Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dan oleh psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa mendatang.

(hlm. 163)
TEORI KEYNES
Menurut teori ini, inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya.
Golongan tersebut bisa berupa serikat buruh yang berusaha memperoleh kenaikan gaji bagi anggotanya melebihi kenaikan produktivitas buruh.

(hlm. 164)
Yang termasuk golongan yang “kalah” dalam proses perebutan ini adalah golongan-golongan yang berpenghasilan tetap atau yang penghasilannya tidak naik secepat laju inflasi (golongan-golongan ini antara lain termasuk kaum pensiunan, pegawai negeri, para petani yang harus menjual hasilnya pada harga yang dikenakan stabilisasi harga, dan para karyawan perusahaan yang tidak memiliki saluran yang efektif untuk memperjuangkan perbaikan nasib mereka).

(hlm. 166)
Inflasi selalu diikuti dengan terjadinya redistribusi pendapatan.

(hlm. 167)
(1) Ketegaran yang pertama berupa “ketidakelastisan” dari penerimaan ekspor, yaitu nilai ekspor yang tumbuh secara lamban dibandingkan dengan pertumbuhan sektor-sektor lain.
(2) Ketegaran yang kedua berkaitan dengan “ketidakelastisan” dari supply atau produksi bahan makanan di dalam negeri.

 

Ekonomi Internasional

Boediono

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku “Ekonomi Internasional” karangan Boediono.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 10 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

EKONOMI INTERNASIONAL EDISI 1
Boediono
ISBN: 979-503-047-7
Seri Sinopsis
Pengantar Ilmu Ekonomi No. 3
EKONOMI INTERNASIONAL
Edisi Pertama
Cetakan Pertama, Mei 1981
Cetakan Kesebelas, Maret 1990
Cetakan Kedua belas, November 1990
Cetakan Ketiga belas, Oktober 1991
Cetakan Keempat belas, September 1992
Cetakan Kelima belas, April 1993
Cetakan Keenam belas, Mei 1994
Cetakan Ketujuh belas, November 1994
Cetakan Kedelapan belas, Desember 1995
Cetakan Kesembilan belas, Oktober 1997
Cetakan Kedua puluh, April 1999
Cetakan Kedua puluh satu, April 2000
Cetakan Kedua puluh tiga, September 2009
Oleh:
Boediono
Dicetak dan Diterbitkan oleh:
BPFE-YOGYAKARTA
Yogyakarta
Anggota IKAPI
No. 008

(hlm. 9)
BAB II
PERTUKARAN
PENDAHULUAN
Negara sebenarnya tidak berdagang dengan negara lain. Yang melakukan perdagangan atau pertukaran adalah penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain.

(hlm. 57)
BAB V KEUNGGULAN KOMPARATIF (III)
(hlm. 64)
HECKSCHER-OHLIN DAN REALITA
Suatu negara cenderung untuk mengekspor barang yang menggunakan lebih banyak faktor produksi yang relatif melimpah di negara tersebut.
Hasil penelitian dari ekonom Wassily Leontief dari Universitas Harvard mengenai pola perdagangan Amerika Serikat menemukan sesuatu yang mengherankan, yaitu bahwa secara umum, barang-barang yang diekspor oleh Amerika Serikat lebih padat karya daripada barang-barang yang diimpornya. Ini merupakan kesimpulan yang tidak diharapkan, mengingat bahwa Amerika Serikat terkenal sebagai negara yang kaya akan faktor produksi kapital. Penemuan ini kemudian dijuluki sebagai paradoks Leontief.

(hlm. 65)
Jika diteliti lebih lanjut, barang ekspor Amerika Serikat yang “padat karya” tersebut sebenarnya adalah “padat teknologi” karena unsur teknologi bercampur dengan unsur tenaga kerja.

(hlm. 65-66)
ECONOMIES OF SCALE
Khususnya bagi negara-negara yang memiliki pasar domestik yang kecil, membeli barang dari luar negeri lebih menguntungkan karena harga per unitnya lebih rendah daripada jika negara-negara tersebut memproduksi sendiri dalam skala kecil.

(hlm. 68-69)
KEMAJUAN TEKNOLOGI
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sumber utama dari peningkatan GDP di negara-negara Barat selama dua abad terakhir bukan berasal dari semakin “banyaknya” barang kapital yang digunakan, tetapi dari kemajuan teknologi berupa peningkatan kualitas dari faktor-faktor produksi yang ada.

(hlm. 70)
Banyak ekonom berpendapat bahwa jenis kemajuan teknologi yang akan terjadi dipengaruhi oleh berbagai faktor.

(hlm. 72 & 76)
PANDANGAN LAIN MENGENAI PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Bentuk eksploitasi ekonomi yang paling jelas, menurut para ekonom radikal, adalah di bidang modal asing.

(hlm. 77)
Perusahaan-perusahaan asing tersebut menjadi sangat kuat kedudukannya dan dapat mempengaruhi pejabat-pejabat pemerintah, bahkan mendalangi proses pemerintahan itu sendiri.

(hlm. 77-78)
SUDUT PANDANGAN MANA YANG BENAR?
Nampaknya, dalam realitas, perdagangan internasional dan penanaman modal asing harus dilihat kasus demi kasus untuk menentukan apakah hubungan ekonomi tersebut “baik” atau “buruk” bagi suatu negara.

(hlm. 83)
BAB VI
SISTEM PEMBAYARAN INTERNASIONAL
(hlm. 84)
PERTUKARAN BARTER
Ada implikasi penting dari kemungkinan nilai ekspor tidak sama dengan nilai impor pada suatu waktu. Implikasi ini adalah bahwa sekarang masing-masing negara perlu membuat catatan mengenai berapa banyak negara tersebut meminjam dari atau memberi pinjaman kepada negara lain. Catatan yang lengkap mengenai semua transaksi dengan luar negeri disebut neraca pembayaran.

(hlm. 85)
Perhatikan bahwa untuk membuat suatu neraca pembayaran diperlukan satuan hitung yang seragam bagi semua transaksi.

(hlm. 87)
DEFISIT DAN SURPLUS NERACA PEMBAYARAN
“Saldo” neraca pembayaran selalu sama dengan nol. Hal ini semata-mata adalah konsekuensi dari cara membukukan transaksi luar negeri itu sendiri: apa yang mengalir masuk (uang dan barang) diimbangi dengan apa yang mengalir keluar (uang dan barang).

(hlm. 92-93)
MEKANISME HUME
Karena barang-barang buatan dalam negeri menjadi lebih mahal, maka penduduk dalam negeri cenderung untuk menjual barang produksinya di luar negeri (yaitu, mengimpor lebih sedikit) karena harga barang-barang buatan dalam negeri lebih murah.
Kedua proses ini, yaitu ekspor bertambah dan impor menurun, akan terus berlangsung sampai defisit neraca pembayaran yang semula timbul akhirnya hilang, dan neraca pembayaran kembali seimbang.

(hlm. 94)
SISTEM DEVISA EMAS
Meskipun emas tidak lagi digunakan sebagai alat pembayaran utama, emas tetap dipergunakan sebagai alat pembayaran bagi transaksi internasional dan berperan sebagai devisa.

(hlm. 95)
Paritas ini penting karena menentukan kecenderungan penduduk untuk mengekspor atau mengimpor. Jika uang kertas dinilai terlalu tinggi terhadap emas (misalnya Rp8.000,00 = 1 gram emas, sedangkan seharusnya Rp10.000,00 = 1 gram emas), maka penduduk dalam negeri terdorong untuk membeli lebih banyak barang-barang buatan luar negeri (mengekspor), sehingga menimbulkan defisit dalam neraca pembayaran. Sebaliknya, surplus neraca pembayaran akan terjadi jika uang kertas dinilai terlalu rendah terhadap emas.

(hlm. 96)
MATA UANG INTERNASIONAL
Misalnya, mata uang poundsterling sebelum Perang Dunia II, selain sebagai alat mata uang domestik di Inggris, juga merupakan alat pembayaran internasional.

(hlm. 97)
a. Setiap negara percaya bahwa mata uang tersebut akan diterima oleh negara lain sebagai pembayaran transaksi internasional.
b. Nilai kedua mata uang tersebut (pada waktu itu) sangat stabil. (Ingat bahwa sampai tahun 1971, dolar Amerika dijamin oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai mata uang yang konvertibel dengan emas).

(hlm. 99)
Sistem ini merupakan upaya pertama oleh masyarakat dunia untuk secara tuntas menggantikan mata uang dunia yang lama, yaitu emas.

(hlm. 99-100)
SISTEM KURS DEVISA
Kurs Devisa Tetap
Merkantilisme di masa lampau menganggap bahwa kekayaan dan kemakmuran suatu negara identik dengan besarnya stok emas yang dimilikinya. Jadi, strategi ekonomi yang paling baik bagi suatu negara, menurut aliran ini, adalah berusaha menumpuk emas sebanyak mungkin dengan mengekspor sebanyak mungkin dan mengimpor sesedikit mungkin, serta meminta pembayaran dengan emas.

(hlm. 101)
Kurs Devisa Mengambang
Jika kurs satu mata uang terhadap mata uang lain dibiarkan untuk ditentukan secara bebas oleh tarik-menarik kekuatan pasar, maka negara tersebut menganut sistem devisa mengambang (floating atau flexible exchange rate). Saat ini, beberapa mata uang utama di dunia dibiarkan untuk mengambang.

(hlm. 109)
BAB VII
MEKANISME NERACA PEMBAYARAN
PENDAHULUAN
Proses penyesuaian atau mekanisme penyesuaian apakah yang membawa neraca pembayaran ke arah posisinya yang baru?

(hlm. 110 & 112)
KASUS “NEGARA KECIL”
Konsekuensinya adalah bahwa negara tersebut dapat menjual barang ekspornya dalam jumlah berapapun di pasar dunia pada harga yang berlaku (harga ini ditentukan di pasar dunia dan tidak terpengaruh oleh beberapa jumlah barang ekspor yang dijual di pasar tersebut). Dengan kata lain, “negara kecil” menghadapi kurva permintaan akan barang ekspornya yang horisontal, persis seperti seorang produsen dalam pasar persaingan sempurna.

(hlm. 120 & 123)
MEKANISME MONETER
Kesimpulannya adalah, jika real balance yang dipegang masyarakat meningkat, maka pengeluaran (atau “belanja barang”) masyarakat cenderung meningkat. Sebaliknya akan terjadi jika real balance yang dipegang berkurang. Inilah inti dari pandangan golongan ekonomi yang sering dijuluki sebagai golongan monetaris. Mereka menekankan hubungan langsung antara posisi real balance masyarakat dan tingkat pengeluarannya (atau tingkat “belanja barang”nya), tanpa melalui penurunan tingkat bunga, investasi, dan sebagainya, seperti dalam teori Keynes.
Sebaliknya, jika tingkat harga di dalam negeri tidak meningkat oleh adanya ΔX tersebut, maka real balance masyarakat meningkat, kemudian tingkat pengeluaran masyarakat meningkat, dan selanjutnya impor meningkat (ΔM). Dalam keadaan seperti ini, akibat akhir dari mekanisme moneter menurut golongan monetaris sama dengan apa yang diramalkan oleh golongan Keynes.

(hlm. 125)
Keynes:
Gambar VII-3.
Perbandingan antara Mekanisme Moneter Keynes dan Monetaris
Monetaris:
Perbandingan antara Mekanisme Moneter Keynes dan Monetaris

(hlm. 126)
Namun, seperti dalam teori moneter sebelumnya, nampaknya mekanisme Keynes didasarkan atas adanya pasar uang (khususnya pasar surat berharga) yang cukup berkembang, sehingga kenaikan stok uang tidak secara langsung mempengaruhi pengeluaran masyarakat, tetapi lebih dahulu melalui pasar uang. Sebaliknya, mekanisme Monetaris nampaknya mencerminkan keadaan negara yang belum memiliki pasar uang (khususnya, pasar obligasi dan surat-surat berharga lain) yang cukup berkembang. Dalam keadaan ini, bila ada kenaikan stok uang, warga masyarakat tidak akan mempertimbangkan apakah tambahan uang tersebut akan dipegang dalam bentuk tunai atau obligasi (surat berharga), karena surat berharga belum banyak tersedia atau digunakan.

(hlm. 128)
DEVALUASI
Devaluasi adalah penurunan nilai mata uang terhadap mata uang asing. Misalnya, pada tanggal 15 November 1978, pemerintah Indonesia melakukan devaluasi terhadap rupiah sehingga kurs terhadap dolar berubah dari Rp415 per US dolar menjadi Rp625 per US dolar. Untuk melihat pengaruh dari devaluasi, sering dibedakan antara pengaruh “jangka pendek” dan pengaruh “jangka panjang.”

(hlm. 129)
Devaluasi menggeser ke atas kurva penawaran barang impor (SM) menjadi S’M dan kurva permintaan barang ekspor (DX) menjadi D’X.
Apakah akan selalu demikian? Jawabannya adalah: tidak. Semuanya tergantung pada elastisitas (atau “kecondongan” kurva) permintaan barang impor (DM) dan penawaran barang ekspor (SX).

(hlm. 132)
Masalah fundamentalnya sebenarnya adalah: bisakah kita mengendalikan laju inflasi dalam negeri?

(hlm. 137)
BAB VIII
PENGARUH PERDAGANGAN TERHADAP PEREKONOMIAN DALAM NEGERI
(hlm. 138 & 140)
PENGARUH TERHADAP KONSUMSI
Sampai sekarang, belum bisa dipastikan apakah tingkat investasi (dan tingkat pertumbuhan) menjadi lebih rendah atau lebih tinggi dengan adanya perdagangan luar negeri.

(hlm. 141)
Pola distribusi yang timpang menimbulkan pola konsumsi yang timpang dan boros, dan ini berlaku baik bagi ekonomi tertutup maupun ekonomi terbuka.
PENGARUH TERHADAP PRODUKSI
Perdagangan internasional mendorong masing-masing negara ke arah spesialisasi dalam produksi barang di mana negara tersebut memiliki keunggulan komparatifnya. Dalam kasus constant-cost, akan terjadi spesialisasi yang tidak penuh.

(hlm. 142)
a. Ketidakstabilan pasar luar negeri
Bayangkan suatu negara yang karena dorongan spesialisasi dari perdagangan, hanya memproduksi karet dan kayu. Apabila harga karet dan harga kayu dunia jatuh, maka perekonomian dalam negeri otomatis akan ikut jatuh.

(hlm. 143)
b. Keamanan nasional
Negara harus mengimpor seluruh kebutuhan bahan makanannya.
c. Dualisme
Ketiga keadaan tersebut di atas adalah peringatan bagi kita untuk tidak begitu saja dan tanpa reserve menerima dalil perdagangan Neoklasik bahwa spesialisasi dan perdagangan selalu menguntungkan dalam keadaan apapun. Namun, di sisi lain, uraian di atas tidak merupakan bukti bahwa manfaat dari perdagangan tidak bisa dipetik dalam kenyataan.

(hlm. 144)
Invisible Surplus Meningkat
Perdagangan meningkatkan pendapatan riil masyarakat. Dengan pendapatan riil yang lebih tinggi, negara tersebut mampu menyisihkan dana sumber-sumber ekonomi yang lebih besar bagi investasi (inilah yang disebut “invisible surplus”).

(hlm. 145)
Vent For Surplus
Konsep ini aslinya berasal dari Adam Smith. Menurut Smith, perdagangan luar negeri membuka daerah pasar baru yang lebih luas bagi hasil-hasil dalam negeri.
Yang perlu dicatat di sini adalah bahwa pemanfaatan tanah-tanah pertanian baru tersebut memerlukan modal dan investasi yang sangat besar, jauh melebihi kemampuan negara itu sendiri untuk membiayainya.

(hlm. 146 & 147)
Produktivitas
b. Teknologi baru
Misalnya, pada masa lampau, petani-petani Indonesia memperoleh manfaat dari perkebunan-perkebunan Belanda berupa pengetahuan mengenai produk-produk baru (kopi, teh, tembakau, karet, gula, dan sebagainya) yang laku di pasar dunia dan cara-cara penanamannya yang baik.

(hlm. 148)
c. Rangsangan persaingan
Sering kali masalahnya menjadi sulit dan rumit karena argumentasi ekonomi sering dikacaukan dengan kepentingan umum.

(hlm. 149)
Namun, ini juga berkaitan dengan kesiapan sikap mereka dan dengan ada tidaknya lingkungan yang menunjang pengalihan teknologi tersebut.

(hlm. 150 & 152)
PENGARUH TERHADAP DISTRIBUSI PENDAPATAN
Masing-masing pandangan memiliki unsur kebenarannya, tetapi tidak satupun yang mewakili seluruh kebenaran. Sikap ilmiah yang baik mungkin adalah tidak melakukan generalisasi atau penarikan kesimpulan umum mengenai masalah ini. Kita harus bersifat terbuka dan tidak a priori, serta bersedia melihat masalahnya kasus demi kasus seobyektif mungkin.

(hlm. 152-153)
ASPEK NON-EKONOMIS
Kebijakan luar negeri yang baik adalah apabila terdapat sinkronisasi dan keseimbangan antara aspek ekonominya dan aspek-aspek lain, seperti aspek kultural, aspek politik, dan aspek militer.

(hlm. 157)
BAB IX
PROTEKSI
PENDAHULUAN
“Proteksi” berarti perlindungan yang diberikan kepada suatu sektor ekonomi atau industri dalam negeri terhadap persaingan dari luar negeri.

(hlm. 158)
BENTUK PROTEKSI
a. Tarif atau Bea Masuk

(hlm. 161)
Golongan produsen dalam negeri beruntung dua kali dari pengenaan tarif: mereka dapat menjual lebih banyak barang dan memperoleh harga yang lebih tinggi untuk setiap barang yang dijual! Sebaliknya, golongan konsumen dalam negeri dirugikan dua kali karena pengenaan tarif: mereka harus mengurangi konsumsi mereka (sebesar Q3Q4) dan membayar lebih mahal untuk setiap unit yang dikonsumsi. Kita harus selalu mempertanyakan siapa yang untung dan siapa yang rugi.
b. Pelarangan Impor
Pada hakikatnya, pelarangan impor sama saja dengan menutup kembali perekonomian kita (atau sektor tertentu dari perekonomian).

(hlm. 163)
Seandainya impor mobil bebas dimasukkan, maka produksi dalam negeri akan sebesar OQ1, impor sebesar Q1Q3, konsumsi total sebesar OQ3, dan tingkat harga dalam negeri sama dengan tingkat harga luar negeri sebesar OP1.
c. Kuota
Pemerintah dapat memilih untuk mengenakan “kuota” atau jumlah maksimum yang dapat diimpor. Kebijakan seperti ini pun memberikan proteksi kepada industri dalam negeri.

(hlm. 165)
Sekali lagi ada redistribusi pendapatan dari konsumen kepada produsen. Namun, dalam contoh ini, ada satu pihak yang beruntung, yaitu perusahaan-perusahaan pengimpor obat-obatan. Mereka mengantongi keuntungan sebesar luas segiempat BCEF (yaitu perbedaan antara harga dalam negeri dengan harga luar negeri dikalikan volume impor). Jadi, lengkapnya, redistribusi pendapatan tersebut adalah dari konsumen kepada produsen dan beberapa importir tersebut.

d. Subsidi
Cara lain yang bisa dilakukan pemerintah adalah memberikan subsidi kepada produsen dalam negeri. Maksudnya agar dengan adanya subsidi tersebut, produsen dalam negeri dapat menjual barangnya lebih murah sehingga dapat bersaing dengan barang impor.

(hlm. 167)
Di sinilah keunggulan sistem subsidi dibandingkan dengan sistem proteksi lainnya. Dalam sistem subsidi, konsumen tidak dirugikan sama sekali; mereka masih bisa mengonsumsi OQ3 dengan harga OP1, persis seperti dalam keadaan perdagangan bebas. Dalam kasus pupuk, aspek ini sangat penting karena konsumen pupuk adalah petani-petani kecil yang didorong untuk menggunakan pupuk lebih banyak guna meningkatkan produksi pangan. Cara-cara lain yang diuraikan sebelumnya justru berakibat mengurangi konsumsi dan meningkatkan harga! Perhatikan bahwa produsen masih memperoleh manfaat dari subsidi, karena dapat menjual lebih banyak meskipun (dan ini berbeda dengan cara-cara lain) dengan harga tetap. Redistribusi pendapatan di sini adalah dari pemerintah kepada produsen pupuk (sebesar segiempat P1P2BC). Dengan kata lain, “beban proteksi” tidak diletakkan di pundak konsumen, tetapi di pundak pemerintah. Dari segi ini pun, sistem subsidi lebih baik daripada sistem-sistem proteksi lainnya. Mengapa? Ada dua alasan untuk ini:
(hlm. 168)
a. Subsidi tersebut diberikan secara terbuka, sehingga masyarakat dapat menilai manfaat atau kerugiannya bagi masyarakat.
b. Subsidi tersebut dibiayai dengan cara yang lebih adil. Misalnya, pemerintah dapat mengenakan pajak pendapatan/kekayaan yang progresif dan adil terhadap semua warga masyarakat, dan kemudian menggunakan hasil penerimaannya untuk memberikan subsidi tersebut.
Atas dasar pertimbangan-pertimbangan seperti inilah, kebanyakan ahli ekonomi berpendapat bahwa sistem subsidi adalah sistem pemberian proteksi yang terbaik. Apakah hal ini berlaku hanya bagi barang-barang seperti pupuk? Jawabannya adalah: tidak. Dalil tersebut berlaku umum.

ALASAN PENGENAAN TARIF
(hlm. 169-170)
Dalam Negeri Sudah Bisa Memproduksi
Ekonom harus selalu mengidentifikasikan diri dengan kepentingan umum, bukan kepentingan golongan.
Agar Uang Tetap Beredar di Dalam Negeri
Dari uraian dalam Bab VIII, jelas bahwa stok uang yang beredar di dalam negeri tidak ada hubungannya dengan besarnya manfaat yang diperoleh suatu negara dari perdagangan.
Negara Lain juga Mengenakan Tarif

(hlm. 171)
Yang paling baik, tentu saja, adalah apabila semua negara mengurangi tarif mereka. Dalam hal ini, kerugian semua negara akan berkurang.
Bila tarif benar-benar dikenakan atau dinaikkan di negara lain dan negara kita, sebenarnya kedua belah pihak rugi.
Menyamakan Harga Barang Impor dengan Biaya Produksi Dalam Negeri
Bayangkan kita harus mengenakan tarif berapa terhadap impor gandum, mengingat bahwa untuk menanam gandum di dalam negeri diperlukan biaya 20 kali lebih besar dari harga impor!

(hlm. 172)
Tarif “Titik Bahaya”
Pertanyaan pokok yang harus dijawab di sini adalah: haruskah industri semacam itu tetap hidup? Di sini harus dipertimbangkan kepentingan produsen dalam industri tersebut dengan kepentingan konsumen. Seringkali jawaban yang sesungguhnya (apabila dihitung untung ruginya dari segi kepentingan masyarakat) adalah bahwa industri semacam itu memang harus tutup, dan sumber-sumber ekonomi yang sampai sekarang digunakan oleh industri tersebut (tenaga kerja, bahan mentah, energi, kapital, dan sebagainya) sebaiknya dialihkan ke kegiatan-kegiatan yang lebih produktif.

(hlm. 173-174)
Tarif Memperbaiki Dasar Penukaran
Alasan seperti ini dalam kepustakaan ilmu ekonomi dikenal dengan “optimum tariff.” Logika ekonomi dari alasan “optimum tariff” dapat dipertanggungjawabkan asalkan syarat-syaratnya dipenuhi. Syarat ini adalah bahwa negara yang mengenakan tarif harus merupakan negara pembeli penting, artinya tindakannya dapat mempengaruhi pasar barang tersebut. Syarat ini penting untuk diingat karena bagi “negara kecil,” alasan “optimum tariff” tidak berlaku.
Lain halnya apabila misalnya Indonesia mengenakan tarif atas impor berasnya (di mana Indonesia adalah pembeli terbesar di pasar dunia).

(hlm. 175)
Diversifikasi
Masalah utamanya ada dua, yaitu:
(a) Bagaimana memilih secara tepat sektor-sektor industri yang nantinya (setelah diberi proteksi) akan berkembang menjadi sektor yang ekonomis, dan bukannya sektor yang tidak efisien.
(b) Apakah ada cara lain yang lebih baik untuk mendorong sektor-sektor potensial ini, misalnya melalui program subsidi.

(hlm. 176)
Mengenai masalah (b), kita sudah banyak menyinggungnya dalam uraian di atas, yaitu bahwa secara umum program subsidi lebih baik daripada pengenaan tarif.
Industri Anak-anak
Dalam praktik, sulit untuk mengetahui dengan pasti sektor-sektor industri mana yang merupakan industri anak-anak yang ekonomis.

(hlm. 177)
Tarif untuk Menarik Modal Asing
Namun, seringkali investor asing menghendaki “jaminan” yang lebih dari itu, yaitu bahwa pasar dalam negeri dijamin tidak akan dibanjiri dengan tekstil impor.

(hlm. 178)
a. Pertahanan nasional
b. Cita-cita membangun “suatu perekonomian nasional” yang tangguh dan mandiri
c. Perlindungan terhadap kegiatan-kegiatan tertentu yang memiliki nilai sosial budaya yang ingin dilestarikan.
d. Tarif dalam rangka menunjang tujuan politik luar negeri tertentu.

 

 

The Essence of Economy

Joseph G. Nellis dan David Parker

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dan sekaligus telah saya terjemahkan dari buku “The Essence of The Economy” karangan Joseph G. Nellis dan David Parker

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

The Essence of The Economy

Joseph G. Nellis & David Parker

Edisi pertama, Cetakan Pertama

BAB I POKOK-POKOK PEREKONOMIAN: SUATU TINJAUAN

(Hlm. 3)

Pengantar Lingkungan Ekonomi Makro Bisnis

Variabel-variabel tersebut adalah:

  1. Pertumbuhan ekonomi
  2. Inflasi
  3. Tingkat suku bunga
  4. Persediaan kredit dan pertumbuhan moneter
  5. Investasi total
  6. Rencana pengeluaran pemerintah
  7. Pajak, baik pribadi maupun perusahaan
  8. Total pengeluaran konsumen
  9. Total tabungan
  10. Upah dan pendapatan
  11. Kecenderungan kesempatan kerja
  12. Impor, ekspor, dan neraca pembayaran.

(Hlm. 5)

Kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut dikenal dengan:

  1. Kebijakan fiskal
  2. Kebijakan moneter
  3. Kebijakan nilai tukar
  4. Kebijakan perdagangan internasional
  5. Kebijakan sisi penawaran
  6. Kebijakan harga dan pendapatan
  7. Kebijakan kesempatan kerja.

Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal mengatur komposisi dan perubahan tingkat pengeluaran pemerintah dan perubahan tingkat pajak.

Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter didefinisikan sebagai alat pemerintah untuk mengendalikan biaya (yakni tingkat suku bunga) dan ketersediaan kredit, dengan cara mengatur penyediaan jumlah uang yang beredar.

(Hlm. 6)

Kebijakan Nilai Tukar

Kebijakan nilai tukar berkaitan dengan campur tangan pemerintah dalam pasar valuta asing untuk mempengaruhi nilai tukar mata uang suatu negara.

Kebijakan Perdagangan Internasional

Tindakan pemerintah untuk mempengaruhi besar dan arah perdagangan luar negeri.

(Hlm. 7)

Kebijakan Sisi Penawaran

Tindakan yang dilakukan secara langsung ditujukan untuk mempengaruhi produktivitas dan biaya-biaya output. Tindakan itu mungkin meliputi pengenalan terhadap teknologi baru, mendorong kompetisi dan keberanian berusaha, usaha-usaha untuk meningkatkan efisiensi tenaga kerja, dan tindakan-tindakan  lain untuk meningkatkan perekonomian pasar.

Kebijakan Pendapatan dan Harga

Kebijakan itu mempunyai dua sasaran pokok: mengendalikan kenaikan harga secara umum, serta melindungi perkerjaan-pekerjaan dalam perekonomian domestik.

Kebijakan Kesempatan Kerja

Kebijakan tersebut dilakukan dengan cara tidak  langsung – dengan merangsang permintaan agregat dalam perekonomian, ataupun secara langsung – melalui rencana-rencana penciptaan lapangan kerja dan program pelatihan.

(Hlm. 9)

Permasalahan Perekonomian

Setiap penggunaan sumber daya berarti keputusan untuk tidak menggunakan sumber daya lain.

(Hlm. 12)

Pemerintah dan Perekonomian

Bersama dengan Departemen Keuangan dan sekitar 900 orang menteri dan departemen yang tersebar di Uni Sovyet, Gosplan mengendalikan perekonomian nasional.

Di dunia Barat pendekatan tersebut mengambil bentuk sistem kapitalis, yaitu sistem yang berhubungan dengan kepemilikan sumber daya oleh pihak swasta.

(Hlm. 16)

Tujuan-tujuan Ekonomis Pemerintah

Tujuan tersebut antara lain:

  1. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkesinambungan
  2. Kesempatan kerja penuh akan sumber daya ekonomis, termasuk tenaga kerja.
  3. Tingkat inflasi yang rendah inflasi nol persen (zero inflation)
  4. Neraca pembayaran yang kuat diimbangi dengan nilai mata uang yang kuat dalam pasar uang.

(Hlm. 17)

Instrumen dan Sasaran Perekonomian

Target dapat didefinisikan sebagai sasaran kuantitatif yang ditetapkan oleh pemerintah. Pemerintah berusaha mencapainya dengan menggunakan instrumen kebijakan. Contoh target kebijakan adalah: pertumbuhan ekonomi dalam arti riil (memperhitungkan tingkat inflasi) sebesar 2% per tahun; pengurangan tingkat pengangguran sebesar 50.000 per tahun; pembatasan kenaikan harga barang-barang retail hingga 4% per tahun dan sebagainya. Setelah target kebijakan ditetapkan, pemerintah melakukan pemilihan dari rentang instrumen kebijakan dalam usahanya mencapai target tersebut. Instrumen-instrumen dapat meliputi perubahan pada tingkat dan struktur tingkat suku bunga, pembatasan kredit dan alat-alat pengendalian moneter, pengendalian nilai tukar, perubahan perpajakan, dll.

BAB 2 KINERJA PEREKONOMIAN

(Hlm. 21)

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perkembangan kapasitas produktif ekonomi.

(Hlm. 22)

Pada kurva PPC yang telah diperkenalkan pada Bab 1 (Gambar 1.2), pertumbuhan ekonomi ditunjukkan dengan gerakan kurva keluar sehingga lebih banyak barang dan jasa dapat diproduksi dan dikonsumsi.

Catatan panjang Inggris

Beberapa usahawan seperti Arkwright yang bergerak dalam industri tekstil; Bolton, Watt dan Stephenson yang bergerak dalam industri mesin uap, dan Brunel dalam industri teknik sipil (bersama pekerja lain yang jumlahnya tidak terbatas dan yang telah bekerja keras pada pabrik-pabrik baru yang bermunculan pada  saat itu, namun kini terlupakan), menciptakan kemakmuran yang sebelumnya belum pernah dialami. Oleh sebab itu, pada pertengahan abad XIX, Inggris disebut “bengkel perekonomian dunia”.

(Hlm. 25)

Tabel Pendapatan riil per kapita pada harga konstan dan pengeluaran per kapita atas barang-barang pilihan.

  Tahun   Pendapatan Per kapita   (£) Pengeluaran untuk mobil dan sepeda motor (£) Beberapa barang konsumen tahan lama   (£)
1900 1.249 0,78 37,5
1920 1.267 4,72 24,4
1950 1.888 6,64 2,75
1970 3.003 75,90 71,4
1980 3.555 223,70 125,3

Akan tetapi, salah bila dinyatakan bahwa perekonomian Inggri mengalami penurunan absolut. Jika perekonomian Inggri menurun secara absolut, itu berarti standar hidup juga mengalami penurunan pada abad ini juga. Kenyataannya, standar hidup di Inggris justru mengalami peningkatan secara menakjubkan. Hal itu dapat dilihat dengan jelas dari pertumbuhan kepemilikan konsumen akan barang-barang seperti mobil, peralatan rumah tangga, pemilikan rumah, penyediaan perumahan rakyat, dan semakin banyaknya waktu untuk rekreasi.

(Hlm. 26)

Gambar 2.1 Perbandingan tingkat pertumbuhan output barang-barang eceran tahun 1900-1938 dan 1950-1983

(Hlm. 27)

Tabel 2.3 Perbandingan tingkat pertumbuhan selama periode pasca-perang dunia

Tahun Inggris AS Perancis Jerman Barat Itali Jepang
1950-60 2,66 3,26 4,56 7,97 5,54 8,82
1960-73 2,28 4,17 5,56 4,43 5,30 10,4
1973-83 2,22 2,04 2,23 1,64 1,80 3,70

(Hlm.  28)

Sebagian besar alasan tersebut mengingatkan kita pada laporan resmi yang dibuat pada akhir abad 19 yang telah disebutkan, yakni pendidikan dan pelatihan yang buruk, hubungan perburuhan yang kurang baik, lambatnya pertumbuhan penduduk, rendahnya investasi, tingkat pencapaian laba yang rendah, struktur sosial (sistem masyarakat yang berdasarkan kelas), ketergantungan yang berlebihan terhadap pasar-pasar peninggalan kerajaan Inggris yang lambat pertumbuhannya, serta besarnya campur tangan negara.

(Hlm.  29)

Kinerja Perekonomian Inggris Akhir-Akhir Ini

Perekonomian Inggris mengalami resesi berat antara tahun 1979 dan 1981,  yakni ketika PDB riil turun hingga 1,8% (Satu-satunya contoh penurunan perekonomian secara absolut pada masa pasca-perang dunia).

(Hlm.  30)

Pada tahun 1989, pemerintah meningkatkan suku bunga (secara relatif terhadap inflasi) guna memperlambat perekonomian yang sedang menghadapi inflasi dan defisit neraca pembayaran.

(Hlm.  31)

Produktivitas dan Profitabilitas

Produktivitas berkaitan dengan sejumlah jam kerja (yaitu jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan atau jumlah jam kerja pada waktu tertentu) dan hasilnya disebut produktivitas tenaga kerja atau produktivitas faktor produksi parsial (Partial Factor Productivity). Cara lain untuk mengukur produktivitas adalah dengan memasukan input-input non-tenaga kerja, khusunya peralatan kapital ke dalam perhitungan, sehingga menghasilkan produktivitas total (total factor productivity).

(Hlm.  32)

Tabel 2.4 Perbandingan pertumbuhan produktivitas tenaga kerja internasional

  1960-1970 1970-1980 1980-1988
Perekonomian Keseluruhan
Inggris 2,4 1,3 2,5
Jepang 8,9 3,8 2,9
Perekonomian Industri Pemanufakturan
Inggris 3,0 1,6 5,2
Jepang 8,8 1,6 3,1

(Hlm.  33)

Misalnya, antara tahun 1974 dan 1979, tingkat pengembalian modal di sektor bisnis rata-rata 19,7% di USA, 21,6% di Jepang, 16,3% di Jerman Barat, 16,1 % di Perancis, dan 20,9% di Italia, tetapi hanya 11,7 di Inggris.

(Hlm.  34)

Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi  tergantung pada efisiensi penggunaan sumber daya ekonominya. Terjadinya pengangguran dan kurang maksimalnya penggunaan kapital merupakan pemborosan sumber daya ekonomis.

(Hlm.  35)

Tidak ada pokok masalah ekonomi yang lebih emosional dan kontroversial daripada masalah pengangguran.

Terdapat suatu kontroversi mengenai apa yang disebut natural rate of employment (tingkat pangguran alamiah), suatu istilah yang berhubungan dengan para ahli ekonomi yang menganut pasar bebsar.

Oleh karena itu, tingkat pengangguran alamiah adalah suatu tingkat pengangguran yang dicapai oleh suatu perekonomian tanpa memicu terjadinya inflasi di pasar tenaga kerja.

(Hlm.  36)

Perlu diingat bahwa para pengangguran bukan semata-mata para pengemis yang memerlukan kesejahteraan sosial atau orang-orang yang berbuat curang dengan memanfaatkan dana bantuan karena menganggur, melainkan mereka yang telah membuat pilihan ekonomis yang rasional untuk tidak bekerja pada tingkat penawaran upah yang berlaku saat itu (yang mempunyai nilai relatif terhadap biaya hidup saat itu) dan mereka lebih suka memanfaatkan waktu luangnya untuk istirahat atau rekreasi daripada bekerja.


(Hlm.  37)

Bahwa angka pengangguran berhasil diatasi dengan mengubah manfaat dan biaya relatif dari bekerja atau tidak bekerja. Jadi, dengan cara memanipulasi tingkat permintaan agregat terhadap barang dan jasa dalam perekonomian.

Konsekuensi dari kebijakan pemerintah terhadap pengangguran yang bergeser dari kebijakan-kebijakan pengelolaan permintaan agregat kepada kebijakan-kebijakan sisi penawaran, telah terbukti merupakan kebijakan ekonomi yang paling dramatis selama tahun 1980-an (lebih detail pada Bab 7).

(Hlm.  38)

Tabel 2.5 Perubahan distribusi kesempatan kerja Inggris tahun 1950-88

Tahun PERSENTASE KESEMPATAN KERJA DI BIDANG:
Pertanian Industri Distribusi dan Jasa Lain-lain
1950 3 37 31 29
1960 3 35 35 27
1970 2 34 40 24
1980 1 27 48 24
1988 1 23 53 23

Perubahan dalam struktur ketenagakerjaan dalam perekonomian itu mencerminkan perubahan yang umum terjadi dan dialami pada semua perekonomian industri yang dewasa, yang mengarah pada penggantian tenaga kerja manusia oleh mesin pada sektor pemanufakturan, serta tersedianya kesempatan kerja di sektor  distribusi dan jasa.

(Hlm.  39)

Karena pendapatan riil meningkat, maka masyarakat cenderung lebih banyak membelanjakan pendapatannya pada jasa-jasa seperti asuransi, perjalanan wisata, dan barang-barang eceran. Lebih lanjut, dibanding pekerjaan-pekerjaan di sektor industri, pekerjaan di sektor distribusi dan jasa sampai sejauh ini sedikit lebih sulit untuk dimekanisasikan, meskipun kini telah mengalami perubahan yang cepat dengan adanya komputerisasi pada bidang jasa keuangan dan sektor retail.

Penurunan dalam keanggotaan serikat pekerja

Sebagian besar pertumbuhan tersebut adalah di bidang pemanufakturan dan jasa publik. Pada tahun 1979, sekitar 80% dari para pekerja sektor publik adalah anggota serikat pekerja, dan dari pekerja sektor swasta hanya sekitar 40%.

Undang-undang Tenaga Kerja pada tahun 1980, 1982, 1988, dan 1989, bersama dengan Undang-undang Serikat Pekerja 1989, secara signifikan mampu mengurangi kebebasan serikat pekerja dalam melakukan aksi-aksi pemogokan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari serikat pekerja maupun pihak pengawas aksi pemogokan, dan menjauhkan pemogok dari tempat kerjanya.

(Hlm. 42)

Inflasi

Tingkat kenaikan harga yang rendah itu bukan merupakan ancaman terhadap perekonomian, sebaliknya, tingkat inflasi yang rendah justru dapat memberikan manfaat ekonomis karena perusahaan-perusahaan membeli komponen-komponen dan bahan mentah yang nilainya sesuai dengan tingkat inflasi.

(Hlm.  43)

Tabel 2.7 Perbandingan tingkat inflasi

Tahun Inggris USA Perancis Jerman Barat Italia Jepang
1973-1983 13,60 8,37 11,28 4,73 16,97 8,39

(Hlm. 44)

Neraca pembayaran dan nilai tukar

Segera setelah perang dunia, sterling ditetapkan pada nilai tukarnya pada nilai sebelum perang dunia (terhadap dollar AS) yakni £1=$4,03, tetapi kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Sterling mengalami devaluasi pada bulan September 1949 hingga mencapai £1=$2,80, dan tetap bertahan pada nilai tersebut hingga hampir dua dekade.

(Hlm.  46)

Merosotnya transaksi berjalan di percepat pada tahun 1986 karena pada tahun 1988 harga minyak dunia jatuh dari $30 menjadi $10 per barel, yang membuat pendapatan minyak turun secara tajam.

Defisit yang memuncak disertai inflasi yang terus meningkat itulah yang membuat pemerintah Inggris melakukan kebijakan uang ketat dengan cara menaikkan suku bunga. Suku bunga bank, sebagai contoh, mengalami peningkatan dari 7,5% menjadi 15% pada bulan Oktober 1989.

BAB 3 MEMAHAMI ALUR PEREKONOMIAN

(Hlm.  53)

Pengukuran Kegiatan Ekonomi

Ada tiga metode penghitungan ukuran kegiatan ekonomi dalam suatu perekonomian selama periode yang berhubungan dengan aliran pendapatan nasional pada Gambar 3.1. Ketiga metode tersebut adalah

  1. Metode produksi
  2. Metode pendapatan
  3. Metode pengeluaran

(Hlm.  54)

Secara kolektif ketiga metode tersebut dikenal sebagai national income accounting (penghitungan pendapatan nasional).

Produksi Nasional = Pendapatan Nasional = Pengeluaran Nasional

Di Inggris, jumlah produk secara umum diyakini sebagai indikator yang lebih dapat dipercaya baik dalam kegiatan ekonomi jangka pendek maupun jangka panjang, daripada jumlah yang dihasilkan oleh metode pengeluaran dan metode pendapatan.

(Hlm.  55)

Metode produksi

Alternatif lain, persoalan penghitungan ganda dapat dihindari dengan hanya menjumlahkan nilai tambah (value added) dari setiap perusahaan pada tahap produksi yang berbeda, daripada menghitung produksi akhir.

Metode pendapatan

Karena volume pendapatan nasional berasal dari produksi barang dan jasa oleh berbagai faktor produksi, maka cara lain untuk menghitung nilai total produksi suatu perekonomian adalah dengan menjumlahkan seluruh pendapatan yang diterima oleh faktor tersebut yaitu upah dan gaji, sewa, bunga, laba, dan dividen.

Oleh karena itu, pembayaran transfer harus dikeluarkan dari perhitungan, karena pembayaran tersebut hanya merupakan pendistribusian kembali pendapatan dari satu pihak ke pihak lain, misalnya dari para pembayar pajak kepada para pensiunan. 

(Hlm. 56)

Permasalahan-Permasalahan dalam Penghitungan Kegiatan Ekonomi

Permasalahan-permasalahan itu meliputi:

  1. Memasukkan penyusutan modal (kapital) dan perubahan persediaan.
  2. Penilaian output pada harga pasar atau biaya faktor
  3. Memasukkan pendapatan bersih warga negara dari luar negeri.

(Hlm. 57)

Perkiraan nilai depresiasi bermanfaat untuk menyesuaikan perhitungan Pendapatan Nasional Bruto menjadi Pendapatan Nasional Netto.

Hal tersebut dilakukan dengan dua alasan: pertama, dari waktu ke waktu depresiasi cenderung berubah secara perlahan, sehingga akhirnya perhitungan akan semakin mendekati perhitungan netto; kedua, sulitnya memperkirakan secara akurat besarnya depresiasi pada skala nasional. Dengan demikian, perhitungan bruto pada umumnya lebih banyak dipelajari jika dibandingkan dengan perhitungan netto. 

(Hlm. 58)

Harga pasar dan biaya faktor produksi

Meskipun demikian, harga-harga pasar tersebut dapat mengalami distorsi karena dimasukkannya pajak tidak langsung dan beberapa subsidi. Pajak-pajak tidak langsung seperti VAT dan bea cukai akan menaikkan harga barang dan jasa, sedangkan pemberian subsidi berpengaruh sebaliknya.

(Hlm. 59)

Pendapatan Bersih dari Luar Negeri

Jenis pendapatan ini merupakan pendapatan yang dikirim oleh perekonomian domestik dari perusahaan-perusahaan domestik yang ada di luar negeri, dikurangi pendapatan-pendapatan yang dibayarkan kepada penduduk luar negeri dan hasil produksi penduduk luar negeri dalam perekonomian domestik.

(Hlm. 62)

Penyusunan dan Penggunaan Perhitungan Pendapatan Nasional

Beberapa manfaat statistik pendapatan nasional, adalah:

  1. Untuk mengidentifikasi kecenderungan (tren) konsumsi konsumen dan produksi industri
  2. Untuk mengukur perubahan-perubahan standar hidup dari waktu ke waktu atau membuat perbandingan antar negara (biasanya diperkirakan sebagai pendapatan nasional per kapita).
  3. Untuk membantu pemerintah dalam menyusun kebijakan-kebijakan dan berbagai rencana ekonomi.
  4. Untuk memperjelas adanya perubahan distribusi pendapatan nasional di antara faktor-faktor produksi yang ada (yaitu upah terhadap para tenaga kerja, sewa untuk para pemilik tanah, dan bunga, laba, dan dividen bagi para penyedia modal).

(Hlm. 64)

Kebocoran = Injeksi

(Hlm. 66)

Ketika pemerintahan Inggris membeli barang-barang impor atau bahkan melakukan investasi di luar negeri, maka pengeluaran-pengeluaran yang terjadi merupakan suatu bocoran dari perekonomian domestik.  Sebaliknya, ketika orang-orang asing membeli barang-barang ekspor Inggris, maka aliran dana tersebut menunjukkan adanya injeksi pendapatan ke dalam perekonomian Inggris.

BAB 4 PENENTUAN PENDAPATAN NASIONAL

(Hlm. 74)

Aliran Keynes VS Moneter: Suatu Tinjauan

Pandangan Aliran Keynes

Keynes dan para pengikutnya berpendapat bahwa tingkat produksi total (Penawaran  Agregat) dan kesempatan kerja dalam suatu perekonomian, di tentukan oleh permintaan agregat terhadap barang dan jasa.

Pandangan Aliran Moneter

Pendekatan aliran moneter berinduk pada hasil pemikiran seorang ahli ekonom Amerika, Milton Freidman. Dengan mendasarkan sebagian pendekatannya pada penelitian empiris, yaitu dengan mula-mula melihat hubungan historis antara pertumbuhan penawaran uang (jumlah uang yang beredar dalam perekonomian) dan tingkat inflasi di Amerika Serikat, dan sebagian lagi pada studi teoritis terhadap hubungan antara jumlah uang beredar dan GDP (nilai uang produk domestik), Friedman berpendapat bahwa pengendalian terhadap tingkat pertumbuhan jumlah uang beredar perlu dilakukan guna menekan inflasi.

(Hlm. 75)

Mereka juga berpendapat bahwa pengendalian inflasi merupakan prasyarat untuk mengurangi angka pengangguran karena inflasi dalam perekonomian pasar berbahaya bagi bisnis swasta, demikian pula bagi pertumbuhan ekonomi.

Aliran moneter lebih mengandalkan kemampuan investasi swasta dan pasar bebas.

(Hlm. 77)

Pengeluaran dan Tabungan Konsumen

Sebagai contoh, pada tahun 1988 di Inggris, sekitar 61% dari GDP terdiri dari konsumsi, sehingga setiap perubahan yang terjadi pada konsumsi berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat kegiatan ekonomi dalam perekonomian.

(Hlm. 79)

Proporsi setiap kenaikan pendapatan yang dapat dibelanjakan yang dibelanjakan untuk konsumsi  barang dan jasa disebut kecenderungan untuk mengkonsumsi marjinal (marginal propensity to consume = mpc), sementara setiap bagian kenaikan pendapatan yang dapat dibelanjakan yang digunakan sebagai tambahan untuk tabungan dikenal sebagai kecenderungan untuk menabung marjinal (marginal propensity to save = mps).

Contoh ini menggambarkan suatu kecenderungan yang diyakini oleh Keynes akan mempengaruhi seluruh perekonomian dalam jangka panjangnya. Seiring meningkatnya pendapatan yang dapat dibelanjakan, maka masyarakat cenderung menabung setiap kenaikan pendapatan dalam proporsi yang lebih besar (perlu dicatat hal itu kemungkinan tidak benar bagi setiap individu, namun apa yang dibahas di sini adalah bahwa kecenderungan tersebut akan berlaku bagi perekonomian secara keseluruhan).

(Hlm. 80)

Secara umum diharapkan kelompok sosial yang lebih kaya mampu menabung setiap kenaikan pendapatan mereka yang dapat dibelanjakan dengan persentase yang lebih besar daripada kelompok yang lebih miskin.

Saat ini, untuk Inggris secara keseluruhan, mpc diperkirakan sebesar 0,9 dan mps sebesar 0,1.

(Hlm. 82)

Pengeluaran Investasi

Investasi swasta merupakan suatu komponen utama lain dari permintaan agregat, dan terhitung sebesar 22% dari GDP Inggris pada tahun 1988.

(Hlm. 83)

Pengeluaran Pemerintah

Di Inggris, komponen permintaan agregat yang ketiga adalah pengeluaran pemerintah (G), tidak termasuk pembayaran transfer, tercatat sebesar 22% dari pendapatan nasional pada tahun 1988.

(Hlm. 91)

Kesenjangan deflasi dan kesenjangan inflasi

Menurut Keynes, permasalahannya terletak pada tidak terpenuhinya permintaan agregat guna memelihara tingkat kegiatan ekonomi yang cukup untuk menciptakan kesempatan kerja penuh. Dengan kata lain, perekonomian menderita karena celah deflasi yang terjadi antara tingkat permintaan agregat yang ada dengan tingkat kesempatan kerja penuh dari penawaran barang dan jasa. Oleh karena itu, kebijakan yang ditetapkan Keynes pada saat itu adalah bahwa perekonomian harus menaikkan tingkat pengeluaran atau tingkat belanjanya sehingga dapat keluar dari resesi. Itu arena telah terbukti bahwa sangat sulit mendorong pihak swasta untuk meningkatkan pengeluaran atau belanjanya. Karena itu pihak pemerintah harus memberikan teladan terlebih dahulu untuk meningkatkan tingkat pengeluarannya sehingga terjadi pertumbuhan yang cukup berarti dalam penggunaan kebijakan fiskal sebagai sarana untuk mengelola permintaan dalam perekonomian.

(Hlm. 92)

Dalam tulisannya mengenai tingkat pengangguran yang berlarut-larut, Keynes menolak untuk menunggu penyesuaian yang dilakukan oleh pasar (setelah mengamati secara seksama, ia mendapatkan kenyataan bahwa penyesuaian memerlukan jangka waktu yang panjang, sehingga manusia akan mati terlebih dahulu).

(Hlm. 93)

  1. Perubahan-perubahan dalam pajak pribadi guna mempengaruhi secara langsung tingkat belanja konsumen, sehingga mempengaruhi permintaan agregat.
  2. Perubahan-perubahan dalam anggaran belanja pemerintah yang akan mempengaruhi permintaan agregat secara langsung.

Sebagai contoh, sejak tahun 1945 berbagai kepemimpinan pemerintahan di bawah ajaran-ajaran Keynes telah menjalankan insentif investasi, penambangan suku bunga, mendorong ekspor dari waktu ke waktu, dan telah menetapkan tarif dan quota untuk membatasi pengeluaran atau belanja atas barang-barang impor suatu usaha pemerintah untuk memimpin kegiatan perekonomian setelah periode pasca-perang dunia dengan cara-cara Keynes, dikenal sebagai kebijakan “Stop-Go” atau kebijakan “Fine-tuning”.

(Hlm. 94)

Mengukur Pengaruh Perubahan Permintaan Agregat: Angka Pengganda

Untuk selanjutnya, perubahan Y yang terjadi karena perubahan dalam injeksi ataupun kebocoran, diukur oleh suatu angka yang disebut angka pengganda pendapatan nasional (national income multiplier).

Efek penggandaan didefinisikan sebagai rasio dari perubahan yang dihasilkan dalam pendapatan nasional terhadap perubahan yang terjadi pada permulaannya, baik pada injeksi ataupun kebocoran.

(Hlm. 97)

Efek angka pengganda seringkali diumpamakan seperti melempar sebuah batu ke tengah danau, yang menimbulkan riak air yang menyebar ke seluruh permukaan air. Gelombang riak akan terasa besar di tengah-tengah danau, tetapi semakin ke tepi akan semakin berkurang. Hal itu menimbulkan efek angka pengganda terhadap lingkungan regional seperti halnya terhadap lingkup nasional dengan bocornya pendapatan untuk pembelian barang-barang.

Sebagai contoh, pemesanan pembuatan kapan oleh pemerintah kepada pabrik pembuatan kapal Barrowin Furness, barangkali berpengaruh paling besar terhadap pendapatan nasional di wilayah sekitar, terutama dengan bertambahnya kesempatan kerja dan selanjutnya pada pengeluaran untuk berbelanja di toko-toko setempat. Namun demikian, wilayah-wilayah lain yang terletak lebih jauh juga akan merasakan manfaat pesanan-pesanan baru galangan kapal tersebut, demikian juga manfaat dari meningkatnya daya beli para pekerja galangan kapal.

(Hlm. 99)

Pentingnya angka pengganda pendapatan nasional

Misalnya, apabila pemerintah memperkirakan bahwa permintaan harus turun sebesar £4 milyar guna menekan inflasi, sementara pengaruh angka pengganda dari belanja pemerintah ditaksir sebesar dua, maka belanja pemerintah hanya perlu dikurangi sebesar £2 juta agar sasaran untuk menekan laju inflasi dapat tercapai.

(Hlm.100)

Prinsip Akselerator

Prinsip Akselerator berhubungan dengan perubahan-perubahan  pada tingkat investasi dalam suatu perekonomian, dan lebih khusus, dengan pengaruh perubahan konsumsi terhadap tingkat investasi.

(Hlm. 102)

I = α Δ Y

I adalah pengeluaran investasi saat ini, α adalah pengaruh akselerator, dan Δ Y merupakan perubahan pendapatan nasional yang terjadi antara waktu saat ini dan periode waktu sebelumnya.

Siklus Bisnis

Siklus bisnis atau perdagangan adalah suatu istilah yang digunakan oleh para ekonom untuk menjelaskan naik turunnya tingkat pertumbuhan pendapatan nasional secara berkesinambungan yang dialami sejak Revolusi Industri.

(Hlm. 103)

Masing-masing siklus bisnis berhubungan dengan suatu periode “boom” dimana permintaan konsumen meningkat dengan cepat dan investasi serta laba bisnis adalah tinggi.

(Hlm. 105)

Hal yang mungkin dipertanyakan adalah, mengapa berlangsungnya fase boom dapat berakhir, atau mengapa ketika suatu perekonomian terpuruk dalam kondisi slump, tidak berakhir pada keruntuhan perekonomian secara total? Penjelasannya terletak pada adanya titik balik pada siklus bisnis. Pada suatu periode dimana perekonomian berkembang, kemacetan ekonomi pada akhirnya terjadi, yakni adanya kekurangan tenaga kerja, bahan-bahan mentah, dan mungkin juga energi.

(Hlm. 106)

Kesimpulan

Pada bab selanjutnya, pembahasan beralih kepada kebijakan fiskal oleh pemerintah untuk memperkecil fluktuasi ekonomi yang muncul dari siklus bisnis.

Bahkan beberapa diantaranya berpendapat bahwa intervensi pemerintah adalah penyebab utama inflasi dan pengangguran, karena intervensi tersebut menghambat kelancaran bekerjanya perekonomian pasar. Gagasan tersebut dibahas pada Bab 6 dan 7.

BAB 5 MANAJEMEN EKONOMI I: KEBIJAKAN FISKAL

Pokok-pokok Kebijakan fiskal

Sebaliknya, pajak di rujuk sebagai kebocoran, dimana peningkatan pajak akan mengurangi permintaan agregat dan tingkat kegiatan ekonomi (demikian pula pemotong belanja negara atau pengurangan pajak akan berpengaruh sebaliknya terhadap perekonomian).

(Hlm. 110)

Pengaruh tersebut secara bersama-sama membuat kecepatan jatuhnya permintaan agregat lebih rendah bila dibandingkan dengan jika pemerintah tidak terlibat dalam perekonomian. Kebijakan fiskal dalam konteks ini ditujukan sebagai penstabil otomatis (automatic stabilizer), yaitu tidak adanya tindakan yang diambil oleh pemerintah untuk mengurangi jatuhnya permintaan agregat guna meningkatkan angka pengangguran, tetapi terjadi perubahan dengan sendirinya dalam kegiatan ekonomi.

(Hlm. 111)

Masalah dalam perbaikan permintaan agregat

Suatu pemecahan, yang paling banyak dipakai oleh aliran Keynes pada tahun 1960-an dan 1970-an dan digunakan oleh banyak negara pada waktu itu, adalah dengan memperkenalkan kebijakan harga dan pendapatan (prices and incomes policy). Laju inlfasi dapat dibatasi dengan batas yang dikehendaki atau ditetapkan pada peningkatan upah dan harga, sementara itu pada waktu yang bersamaan langkah-langkah fiskal digunakan untuk mendukung kesempatan kerja. Namun demikian, proses pembuatan kebijakan harga dan pendapatan yang dilaksanakan di Inggris, bukan merupakan suatu cerita yang menggembirakan. Pada awal kebijakan tersebut mampu mengekang permintaan upah dari para pekerja, tetapi pada akhirnya mengalami kegagalan karena para pekerja menolak penurunan pendapatan riil mereka. Kegagalan itu mengakibatkan timbulnya ledakan permintaan harga-upah, yang terjadi paling dramatis pada saat pemogokan para pekerja tambang batu bara pada tahun 1974 dan pada musim dingin yang penuh kekecewaan pada tahun 1978-1979.

  1. Pengaruh nyata program-program pengeluaran pemerintah (seperti pada kasus proyek-proyek permodalan yang besar) seringkali memerlukan waktu yang cukup lama untuk diperhitungkan ke permintaan agregat, sehingga mengurangi kemampuan pemerintah dalam usahanya untuk menentukan kegiatan perekonomian.

(Hlm. 112)

  • Sekali anggaran pengeluaran negara dinaikkan, maka terbukti sulit untuk mengurangi tingkat pengeluaran pemerintah.
  • Biaya yang muncul dari proyek-proyek pemerintah berskala besar, cenderung meningkatkan permintaan agregat dalam berbagai proporsi sehingga mencapai tingkat perkiraan yang orisinil ketika proyek-proyek tersebut dimulai (ingat pengalaman Concorde pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, serta proyek radar Nimrod pada pertengahan tahun 1980-an, yang pada akhirnya dibatalkan).
  • Perpajakan, termasuk di dalamnya kontribusi jaminan nasional, yang merupakan bagian dari GDP, meningkat pada awa tahun 1960-an hingga pertengahan tahun 1970-an dari sekitar 32% sampai 45% dari GDP pada harga pasar.

Sejak tahun 1960-an, beberapa ahli ilmu ekonomi mulai mengajukan suatu pandangan alternatif mengenai belanja pemerintah dan perpajakan, yang diberi istilah teori pilihan publik (public choice theory).

(Hlm. 113)

Kemungkinannya adalah karena para ahli politik cenderung ingin memenangkan kembali pemilihan umum, yaitu dengan meraih popularitas publik dengan melakukan pengeluaran-pengeluaran pemerintah seperti untuk sekolah, rumah sakit, dan lain-lain, daripada menguranginya. Demikian pula dengan orang-orang sipil yang bekerja sebagai pembantu pemerintahan. Mereka kemungkinan besar merasakan manfaat langsung dalam hal status, meningkatnya pengharapan masa depan, kesempatan kerja yang berkelanjutan, besarnya anggaran yang ditangani, yang semuanya itu dapat terjadi hanya jika pengeluaran pemerintah meningkat.

(Hlm. 115)

Tabel 5.1 Pengeluaran Pemerintah Inggris untuk tahun 1978/1979 dan tahun 1989/1990 dan persentase perubahan tingkat riil

  Pengeluaran pemerintah secara umum a,b dengan fungsi pada hal-hal riil (£milyar)
1978/1979 1989/1990 Persentase Perubahan
Pertahanan 16.5 19.0 15
Pendidikan dan sains 20.8 23.3 12
Kesehatan 17.2 23.2 35
Jaminan Sosial 37.2 49.7 34

a harga-harga tahun 1988/1989

b kecuali untuk pertahanan, jalan dan industri yang telah dinasionalisasi, hal itu mencakup pengeluaran otoritas lokal

c ECGD: Export Credits Guarantee Departement

Sumber: H.M. Treasury, Laporan Perkembangan Ekonomi, No. 206, (februari 1990) Hal. 2

(Hlm. 116)

Tabel 5.2 Total belanja publik negara Inggris sebagai persentase dari GDP

Pengeluaran total sebagai persentase GDP
1989/1990a 38.8

  1. Perkiraan

(Hlm. 117)

Perpajakan: sumber-sumber dan penggunaannya

Sumber-sumber lainnya adalah:

  1. Kontribusi jaminan nasional.
  2. Keuntungan-keuntungan dari perusahaan-perusahaan.
  3. Sewa, bunga dan dividen yang diperoleh pemerintah pusat dan daerah.
  4. Penjualan aset publik.
  5. Pembayaran langsung bagi para pengguna layanan pemerintah (misalnya menginap di Rumah Sakit milik Pemerintah, membayar resep obat-obatan).

Pajak perorangan yang tinggi juga dapat menghalangi seseorang yang bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak, sehingga dapat mendorong terciptanya ‘ekonomi gelap’ dimana banyak orang yang bekerja untuk mendapatkan uang lebih banyak tetapi tidak melaporkan besarnya penghasilannya untuk keperluan pembayaran pajak.

(Hlm. 119)

Pajak Progresif

Pajak progresif merupakan salah satu pajak yang proporsinya lebih besar dari pendapatan masyarakat dalam peningkatan pendapatan mereka.

(Hlm. 120)

Pajak Regresif

Pajak regresif untuk yang berpenghasilan tinggi justru lebih kecil jika dibandingkan dengan berpenghasilan rendah, sehingga yang mampu membayar sedikit.

(Hlm. 121)

Pajak Proporsional

Pajak Proporsional berperan memperbaiki proporsi atau persentase pendapatan.

Pajak Langsung

Pajak langsung merupakan pajak yang dipungut secara langsung dari penghasilan seseorang atau badan usaha dan dari transfer kekayaan dan pendapatan.

(Hlm. 122)

Pajak tidak langsung

Pajak tidak langsung, yang cenderung bersifat regresif, biasanya diterapkan pada pengeluaran dan nilai tambah produksi.

Keuntungan dan kerugian pajak langsung

Pajak langsung dinilai lebih adil dan pantas karena dapat dipungut sesuai kemampuan seseorang untuk membayarnya (jika pemerintah memilihnya).

(Hlm. 123)

Keuntungan dan kerugian pajak tidak langsung

Pendapat yang menyatakan bahwa pajak tidak langsung lebih menguntungkan daripada pajak langsung adalah karena para konsumen mempunyai pilihan untuk tidak membayar pajak (misalnya VAT) dengan cara tidak mengkonsumsi barang-barang yang dikenai pajak.

(Hlm. 124)

Di lain pihak, pajak tidak langsung dapat menyembunyikan beban pajak yang dihadapi masyarakat karena pajak tidak langsung tersembunyi: para konsumen tidak mengetahui secara tepat pajak yang harus dibayarkan.

Akan tetapi, pada waktu yang sama pajak tidak langsung seperti VAT cenderung menaikkan laju inflasi dalam perekonomian.

(Hlm. 126)

Kebutuhan pinjaman di sektor publik

Ukuran PSBR ditentukan oleh sejumlah faktor, yaitu:

  1. Besarnya defisit anggaran pada pemerintah pusat dan daerah.
  2. Besarnya defisit anggaran pada industri-industri yang dinasionalisasi dan perusahaan publik lainnya yang dibiayai oleh sumber-sumber pembiayaan non-pemerintah.
  3. Jumlah pinjaman kepada sektor swasta dan luar negeri.
  4. Penerimaan sektor publik dari hasil penjualan aset dan dari transaksi keuangan lainnya.
  5. Penerimaan sektor publik dari hasil penjualan aset-aset nyata (misalnya hasil privatisasi dna penjualan gedung-gedung milik pemerintah).

(Hlm. 127)

Anggaran Belanja Berimbang

ΔY =  ΔG = 5x £ 1 Milyar = £5 milyar

Akan tetapi, pada saat yang sama, meningkatnya pajak akan meningkatkan kebocoran pada aliran sirkulasi pendapatan sehingga mengurangi pengaruh injeksi terhadap permintaan yang berlebih pada tingkat pendapatan nasional. Jumlah pajak dapat mengakibatkan meningkatnya belanja pemerintah, tetapi meningkatnya pajak tidak seperti yang kita kehendaki. Sebagian peningkatan pajak dapat ditutup dengan jalan mengurangi besarnya tabungan. Untuk hal seperti ini, maka meningkatkan kebocoran pada pajak akan ditutup dengan pengurangan kebocoran kedua, yaitu tabungan. Dengan kata lain, perubahan bersih dalam kebocoran lebih kecil dibanding perubahan dalam perpajakan. Konsekuensinya, hanya sebagian dari beberapa kenaikan dalam pajak saja yang dapat dibiayai dengan pengurangan belanja konsumen yang akan mempengaruhi permintaan agregat dan pendapatan nasional.

(Hlm. 128)

Kritik terhadap kebijakan fiskal dan defisit keuangan

Pada dasarnya, aliran moneter dengan tegas mencermati pengaruh ditimbulkan dari adanya defisit keuangan pemerintah (yaitu PSBR) yang terjadi pada persediaan yang serta inflasi. Mereka menolak adanya pengelolaan secara langsung terhadap permintaan agregat dan pendapatan nasional, melalui kebijakan fiskal, yang berpotensi menciptakan tidak-stabilan, dan mereka mengemukakan bahwa kebijakan tersebut kecil pengaruhnya terhadap perekonomian “nyata” untuk jangka waktu yang lama. Melalui perekonomian “nyata”, mereka menghendaki pertumbuhan output fisik, dan karena itu juga pertumbuhan kesempatan kerja, sebagai lawan dari adanya kenaikan harga yang hanya akan menyebabkan bertambahnya nilai uang dalam produksi.

(Hlm. 129)

Intervensi VS Pasar Bebas

Aliran Keynes dan aliran moneter kurang sependapat mengenai peran negara dalam mengelola perekonomian.

(Hlm. 130)

Ketidakstabilan ekonomi

Tetapi aliran moneter memandang lebih jauh, kebijakan fiskal tidak sekadar menurunkan fluktuasi, tapi juga berpengaruh terhadap ketidakstabilan perekonomian dengan adanya ledakan dan kemerosotan. Mereka menyatakan bahwa hal itu terlihat saat pemerintah berhasil mempertahankan permintaan agregat di tingkat yang tinggi. Kondisi itu menyebabkan adanya tekanan-tekanan inflasi, yang lebih lanjut menyebabkan belanja pemerintah dan pencetakan uang baru yang ‘berlebihan’ (lihat Bab 6) untuk mencegah meningkatnya angka pengangguran, sehingga membuat sektor industri kurang mampu bersaing.

Dampak defisit keuangan terhadap investasi sektor swasta

Aliran moneter juga berpendapat bahwa pinjaman pemerintah yang digunakan untuk menutup defisit anggarannya, akan mendorong naiknya suku bunga di pasar uang.

Dan lagi, suku bunga yang tinggi membuat nilai tukaran naik (lihat Bab 9 – pembahasan mengenai hubungan antara suku bunga dengan nilai tukar).

Fenomena tersebut, dimana meningkatnya belanja pemerintah yang dibiayai oleh dana pinjaman yang besar dapat mengurangi minat investasi di sektor swasta, oleh para ekonom disebut crowding out (yaitu pinjaman pemerintah membuat sektor swasta “beramai-ramai keluar” meminjam di pasar modal.)

Dapat dikatakan bahwa untuk kasus Inggris, fakta yang berkenaan dengan crowding out tidak meyakinkan. Akan tetapi, studi-studi yang dilakukan di AS mendukung kritik terhadap pinjaman pemerintah

(Hlm. 131)

Pengaruh terhadap pertumbuhan persediaan uang

Slogan aliran moneter dalam menyimpulkan hal tersebut adalah terlalu banyak uang untuk membeli barang yang terlalu sedikit akan menyebabkan inflasi.

Oleh karena itu, aliran moneter menganjurkan agar pemerintah tidak mengelola agregat permintaan secara langsung, tetapi paling tidak memusatkan perhatiannya dalam menciptakan kondisi perekonomian yang stabil agar perusahaan swasta dapat tumbuh dan berkembang

(Hlm. 132)

Kesimpulan

Akan tetapi, adanya serangan stagflasi (meningkatnya laju inflasi dan tingkat pengangguran yang tinggi) bersamaan dengan gagalnya kebijakan harga dan pendapatan, membuat kebijakan-kebijakan yang telah dibuat harus ditinjau kembali. Pertama, mengoreksi kembali kegagalan dalam menjalankan kebijakan-kebijakan pengaturannya – khususnya yang berkenaan dengan ‘efek roda gigi’ dimana pengeluaran pemerintah dan pajak meningkat tetapi jarang dikurangi sehingga menimbulkan kritik. Kedua, teori yang melandasi perekonomian aliran Keynes, yang membenarkan adanya pengelolaan permintaan agregat dengan menggunakan kebijakan fiskal, telah ditentang oleh pemikiran-pemikiran dari aliran moneter.

(Hlm. 133)

BAB 6 MANAJEMEN EKONOMI II: KEBIJAKAN MONETER

Pokok-Pokok Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter pada umumnya menitik-beratkan pada langkah-langkah yang digunakan pemerintah untuk mempengaruhi ketersediaan atau nilai uang (misalnya, tingkat suku bunga) dalam perekonomian.

Dalam tahun-tahun terakhir ini, pentingnya kebijakan moneter sebagai instrumen manajemen ekonomi makro dirasa semakin nyata oleh karena gagalnya langkah-langkah kebijakan fiskal pada awal tahun1970-an untuk mengurangi maslah laju inflasi dan angka pengangguran yang disebut stagflasi.

(Hlm. 134)

Di mata penganut aliran moneter, tingkat pengangguran dapat diturunkan jika efisiensi produktif ekonominya ditingkatkan dan jika tingkat inflasi dikurangi. Pandangan aliran moneter ini tidak diterima secara universal oleh para ekonom dan pemerintah. Khususnya, beberapa ekonom (terutama ekonom penganut aliran Keynes) tidak percaya bahwa pengendalian terhadap persediaan uang merupakan cara terbaik untuk menurunkan laju inflasi. Mereka juga tidak dapat menerima (seperti telah kita pelajari pada Bab 5) bahwa solusi untuk mengatasi masalah pengangguran adalah hanya dengan mengurangi/menurunkan laju inflasi dan meningkatkan efisiensi ekonomi. Pada tahun 1960-an d 1970-an, perbedaan resep kebijakan tersebut membagi secara tajam ahli ekonomi menjadi dua aliran: aliran Keynes, dan aliran moneter. Tetapi perbedaan itu tidak perlu dilebih-lebihkan. Saat ini para ekonom tid 100% ada disalah satu dari dua aliran tersebut, lebih tepat dikatakan sebagai keseimbangan di antara keduanya, baik aliran moneter maupun aliran fiskal, untuk mempengaruhi kegiatan ekonomi.

(Hlm. 135)

Prinsip-Prinsip Aliran Moneter

Arti penting uang dalam perekonomian dan prinsip-prinsip aliran moneter didasarkan pada Teori Kuantitas Uang (quantity theory of money), yang menghubungkan pertumbuhan moneter dan inflasi. Hubungan tersebut pertama kali dikemukakan dalam istilah formal oleh seorang ekonom Amerika, Irving Fisber pada 1911, tetapi gagasan umum tentang hubungan antara pertumbuhan penyediaan yang dengan peningkatan harga telah muncul di abad ke-18, dan teori khususnya dalam tulisan filsuf Skotlandia, David Hume.

(Hlm. 136)

(perhatikan bahwa pada awalnya kita menggunakan M sebagai barang-barang impor. Hal ini bagaimanapun juga berlau untuk persediaan uang dan akan dijelaskan artinya jika perlu.

Teori kuantitas uang biasanya lebih ditujukan untuk mengidentifikasi daripada sebagai persamaan karena masing-masing tidak lebih sebagai cara yang sama dalam mengukur kegiatan-kegiatan ekonomi.

(Hlm. 137)

  1. Kecepatan perputaran uang (V) berubah sangat lambat dan karena itu dapat dianggap konstan.
  2. Karena aliran moneter yakin bahwa perekonomian cenderung membentuk keseimbangan pendapatan nasional pada tingkat kesempatan kerja penuh, maka diasumsikan bahwa tota jumlah transaksi (T) relatif konstan pada jangka pendek (dengan kata lain, T dibatasi oleh kapasitas produktif perekonomian pada keadaan pekerjaan penuh).

Waktu yang dibutuhkan sehingga peningkatan dalam M menyebabkan peningkatan pada P biasanya diperkirakan sekitar 18 bulan sampai dua tahun.

  1. Persediaan uang dapat dikendalikan oleh pihak otoritas –  hal ini diperlukan jika pemerintah mentargetkan dan mengendalikan tingkat pertumbuhan persediaan uang sampai batas pertumbuhan GDP.
  2. Persaingan di sektor swasta cenderung ke arah tingkat pengangguran dan tingkat ouput yang “alami” (lihat Bab 2 mengenai penjelasan konsep laju yang alami). Oleh karena itu, tidak akan ada lagi pengangguran untuk jangka panjang seperti digambarkan Keynes, kecuali persaingan di tingkat pasar dibatasi (termasuk pasar kerja).
  3. Dengan penerapan kebijakan keuangan yang tepat maka berarti terdapat laju pertumbuhan yang kuat di dalam persediaan uang, sesuai dengan pertumbuhan hasil yang riil, agar tercapai tingkat harga yang stabil. Hal tersebut merupakan “target moneter”.

(Hlm. 146)

Gambar 6.3 Definisi Resmi penyediaan uang swasta non-bank dan sektor bank

(Hlm. 150)

Target dalam penyediaan uang

Pada bulan Maret 1980 pemerintahan konservatif yang baru terpilih memperkenalkan kebijakan antiinflasi dengan mengumumkan strategi keuangan jangka menengah yang pertama (medium – term financial strategy – MTFS).

(Hlm. 151)

Ekonom terkemuka dari Bank of England, Charles Goodhart, berpendapat bahwa sekali otoritas moneter mencoba mengontrol statistik perekonomiannya, yang semula mungkin mempunyai hubungan yang tertutup terhadap inflasi, maka perilaku kontrol itu akan membuat statistik perekonomian menjadi tidak memuaskan (Gejala ini disebut hukum Goodhart).

Pada waktu yang sama, peraturan juga ditetapkan pada Bursa Saham Internasional di London, di antaranya membuka keanggotaannya kepada lembaga keuangan asing. Pengenalan perdagangan ’24 jam’ di dalam pasar bursa dan saham lebih jauh telah mendorong mengalirnya dana investasi asing.

(Hlm. 155)

Kritik terhadap aliran moneter

Pada pokoknya teori itu menyatakan bahwa ada keterkaitan secara langsung dan dapat diperkirakan antara pertumbuhan suplai dana dengan inflasi. Aliran moneter lebih lanjut menekankan bahwa berdasarkan penelitian empiris, arah keterkaitannya adalah dari perubahan pada M ke perubahan pada P. Hal itu merupakan tantangan yang berat karena sebelumnya tidak ada konsensus mengenai hal tersebut. Hanya karena laju inflasi mengikuti peningkatan suplai dana, seperti yang diperlihatkan oleh hasil-hasil penelitian empiris para ahli moneter, hal itu tidak berarti peningkatan pada suplai dana sebagai penyebab naiknya laju inflasi.

(Hlm. 157)

Para ekonom penganut Keynes, di sisi lain membantah gagasan yang menyatakan bahwa permintaan akan uang tidak terlalu sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga.

(Hlm. 158)

Seperti kita lihat pada pembahasan mengenai penentuan pendapatan nasional pada Bab 4, para penganut Keynes berpendapat bahwa besarnya permintaan pada umumnya dan investasi pada khususnya, tidak cukup berpengaruh terhadap perubahan tingkat suku bunga. Dengan kata lain, perubahan apapun dalam tingkat suku bunga diyakini lebih sedikit daripada dalam hal total pembelanjaan.

(Hlm. 159)

Sebaliknya, aliran moneter berpendapat bahwa suku bunga merupakan hal yang paling menentukan dalam keputusan untuk berinvestasi.

(Hlm. 160)

Gambar 6.8 Hubungan antara tingkat suku bunga dan investor perbandingan pandangan Keynesian dan ahli Moneter.

(Hlm. 165)

BAB 7 EKONOMI SISI PENAWARAN

Pokok-Pokok ekonomi sisi penawaran

Pada dua bab sebelumnya telah dibahas masalah-masalah ekonomi menurut Keynes dan menurut para ahli moneter. Keduanya membahas kebijakan-kebijakan ekonomi makro dalam mempengaruhi tingkat besarnya permintaan dalam perekonomian – ekonomi menurut Keynes terutama menyangkut langkah-langkah kebijakan fiskal dan moneterisme melalui pengawasan terhadap pertumbuhan cadangan devisa dan tingkat suku bunga.

(Hlm. 166)

Oleh karena itu, meskipun sisi penawaran dalam ekonomi secara nyata digunakan untuk mendukung prinsip-prinsip yang dipakai oleh para ahli moneter tanpa adanya perbaikan (dan sebaiknya), oleh sebagian besar ahli moneter disebut supply-sider.

(Hlm. 167)

Objek utama kebijakan-kebijakan ekonomi sisi penawaran adalah penciptaan kondisi ekonomi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang cepat, produktivitas tinggi dan rendahnya laju inflasi. Dalam bab ini, secara khusus kita akan melihat kebijakan-kebijakan yang digunakan oleh pemerintah konservatif sejak tahun 1979, yaitu:

  1. Perubahan dalam hukum perburuhan untuk membatasi kekuatan serikat buruh.
  2. Pengurangan pajak dan mendorong investasi dan produktivitas kerja.
  3. Program-program privatisasi/swastanisasi.

Prinsip-prinsip ekonomi sisi penawaran

Pada pokoknya ekonomi sisi penawaran menyangkut peningkatan jumlah penawaran sehingga tingginya permintaan diakomodasi tanpa menimbulkan inflasi.

(Hlm. 173)

Peningkatan agregat penawaran oleh karena itu juga menaikkan permintaan dan aktivitas ekonomi sementara laju inflasi mengalami penekanan. Hal tersebut membantu menjelaskan mengapa studi mengenai ekonomi sisi penawaran, khususnya ketika dikombinasikan dengan kebijakan moneter, tempanya menawarkan suatu alat/cara menangani laju inflasi dan rendahnya pertumbuhan ekonomi (sebagai konsekuensinya adalah meningkatnya angka pengangguran), yaitu masalah stagflasi.

Ekonomi sisi penawaran dalam praktek

  1. Peningkatan fleksibilitas angkatan kerja.

(Hlm. 174)

  • Meningkatkan insentif ekonomi dengan mengurangi pajak pada perusahaan dan perorangan untuk menciptakan insentif untuk menabung, berinvestasi, dan menciptakan lapangan kerja.
  • Deregulasi dan privatisasi layanan publik (misalnya transportasi dengan bis) dan kepemilikan publik di sektor industri (misalnya telekomunikasi, gas, air, dan perlistrikan).

Peningkatan Fleksibilitas Angkatan Kerja

Dengan keyakinan bahwa serikat kerja berpotensi untuk menghancurkan pekerjaan (oleh meningkatnya upah di atas tingkat kemampuan para pemilik perusahaan jika mereka tetap berkompetisi di pasar dunia), pemerintah telah memperkenalkan sejumlah peraturan mengenai ketenagakerjaan dan serikat pekerja untuk mengekang kekuasaan serikat pekerja, antara lain:

(Hlm. 175)

  1. UU Ketenagakerjaan, 1980.
  2. UU Ketenagakerjaan, 1982.
  3. UU Serikat Buruh, 1984.
  4. UU Ketenagakerjaan, 1988.
  5. UU Ketenagakerjaan, 1989.
  6. Rancangan UU Ketenagakerjaan, 1990.

UU tersebut, bersama-sama dengan tingginya angka pengangguran yang muncul pada tahun 1980-an, telah ikut mengurangi jumlah pemogokan di sejumlah industri di Inggris, seperti yang dimaksudkan oleh pemerintah (lihat pembahasan mengenai keanggotaan serikat pekerja dan permasalahan dalam industri pada Bab 2.

(Hlm. 176)

Sebagai contoh penelitian yang dilakukan oleh Prof. Patrick Minford dari Universitas Liverpool yang mencatat bahwa peningkatan militansi serikat pekerja di awal tahun 1960-an, merupakan penyebab langsung dari tingginya angka pengangguran oleh karena upah/gaji buruh di lapangan. Dia mengestimasi bahwa serikat pekerja ikut mendorong besarnya upah riil sebesar 12-15% di atas harga umumnya, menjadi antara 400.000 dan 800.000. Studi-studi lain yang dilakukan oleh Prof. Layard da Mickell dari Sekolah Tinggi Ekonomi di London, yang dipublikasikan pada tahun 1985, mengestimasikan bahwa 23% peningkatan angka pengangguran yang terjadi antara tahun 1950 dan 1983 disebabkan oleh tindakan-tindakan yang dilakukan oleh serikat pekerja.

(Hlm. 180)

Ketentuan bahwa jasa publik tertentu dibiayai dari sektor pajak, contohnya pembangunan jalan, pembelaan hukum, hukum dan tata tertib, merupakan iklim yang mendukung untuk investasi di sektor swasta.

Berdasarkan logika tersebut, Prof. Michael Brenstock pada tahun 1979 memprediksikan bahwa dengan pengurangan rasio pajak terhadap GDP di Inggris dari 40% ke 35% bersamaan dengan pengurangan yang drastis terhadap persentase pajak pada tingkat marginal, GDP akan meningkat sebesar 15%. Penelitian tersebut mendapat kecaman keras yang menyatakan bahwa tidak ada bukti yang jelas bahwa pengurangan persentase pajak akan menyebabkan orang-orang bekerja lebih keras dan memberikan hasil yang banyak. Dalam studi akhir mengenai pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh adanya pemotongan pajak terhadap penyediaan tenaga kerja, Prof. C.V Brown dari Universitas Stirling menyimpulkan bahwa: perubahan-perubahan dalam perkiraan jam-jam kerja sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan di tingkat permintaannya. Kecilnya perubahan dalam perkiraan jam kerja merupakan hasil dari perubahan dalam perpajakan. Hal ini menunjukkan bahwa potongan pajak kemungkinan besar berpengaruh signifikan terhadap permintaan agregat, seperti yang telah diramalkan oleh aliran Keynes (lihat Bab 4) kemudian juga berpengaruh terhadap penawaran agregat.

(Hlm. 183)

Deregulasi dan Privatisasi

Berkenaan dengan kebijakan yang meliputi pengajuan persaingan yang lebih besar di sektor swasta melalui perbaikan monopoli – monopoli dan UU mengenai upah dan menghapus pembatasan perdagangan, misalnya bursa saham (misal “BingBang” pada bulan Oktober 1986 di Inggris yang membuka keanggotaan Bursa Saham London kepada lembaga milik asing), jasa bantuan hukum dan penyediaan kacamata oleh ahli kacamata.

(Hlm. 185)

Di pemerintah daerah, hal tersebut didukung oleh UU Pemerintah Daerah pada tahun 1988, yang memberikan mandar kepada pihak berwenang di daerah untuk mendapatkan kontrak secara kompetitif dalam jasa: pembuangan sampah, pembersihan gedung, katering, pemeliharaan lahan, perbaikan dan paket wisata. Sejumlah akademisi mengusulkan memberi tabungan kepada para pembayar pajak yang memperoleh tender secara kompetitif di sektor publik sekitar 20 sampai 25%.

(Hlm. 194)

BAB 8 PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Tabel 8.4 Pola Konsumsi setelah diperdagangkan (*)

  Gandum (dalam ton) Mobil
Output total 2000 500

(Hlm. 197)

Bentuk-bentuk pembatasan dalam perdagangan

  1. Embargo impor
  2. Kuota impor
  3. Pajak atau bea cukai
  4. Pembatasan-pembatasan impor lainnya

Selain tarif dan kuota, pemerintah dapat membatasi arus barang impor dengan menyusun peraturan-peraturan impor yang rumit. Standar keamanan yang berlebihan dapat dikenakan pada barang-barang impor atau jalur birokrasi dapat digunakan untuk memperlambat volume barang-barang masuk ke dalam negeri. Contoh klasik pembatasan perdagangan meliputi kegiatan impor video cassete recorder Jepang yang masuk ke Prancis pada tahun 1980, ketika pengiriman harus dikirim ke tempat terpencil untuk pengawasan ‘kualitas’ (konon diperiksa oleh pemeriksa yang kurang menguasai) sehingga memperlambat beredarnya recorder di pasar Prancis.

  • Subsidi kepada produsen dan eksportir dalam negeri
  • Pengendalian pertukaran
  • Kebijakan nilai tukar

(Hlm. 201)

  1. Proteksi terhadap industri-industri yang baru berdiri
  2. Proteksi untuk melawan persaingan yang tidak sehat
  3. Dukungan untuk industri-industri yang lemah atau kurang berkembang
  4. Dukungan untuk industri-industri strategis
  5. Tindakan balasan (retaliasi)
  6. Koreksi neraca pembayaran.

(Hlm. 213)

Kesimpulan

AS sekitar akhir abad 19 juga mengalami defisit yang menutup masuknya arus modal (dari Inggris dan lain-lain) yang digunakan untuk membangun jalur kereta api Amerika.

(Hlm. 215)

BAB 9 KEBIJAKAN NILAI TUKAR

Pokok-Pokok Kebijakan Nilai Tukar

Kebutuhan akan nilai tukar timbul karena mata uang suatu negara biasanya tidak diterima sebagai media atau alat tukar di negara lain.

(Hlm. 217)

Sistem Nilai Tukar

  • Nilai tukar mengambang

(Hlm. 218)

  • Sistem nilai tukar tetap

Pemerintah dapat mempertahankan suatu kebijakan yang menjaga agar nilai mata uangnya tetap pada tingkat yang stabil dengan mengintervensi di pasar devisa.

(Hlm. 219)

  • Standarisasi Emas

(Hlm. 220)

Pada umumnya, para ekonom saat ini mencegah diterapkannya kembali standarisasi emas secara meluas demi alasan kepraktisan. Dari segi politik pun hal itu tidak dapat diterima secara internasional hanya dengan menggantungkan emas yang dihasilkan oleh Uni Soviet dan Afrika Selatan, tetapi ada juga alasan-alasan ekonominya.

(Hlm. 221)

Sistem Bretton Woods

Usulan yang diajukan oleh delegasi AS (White Plan) menyusun rencana-rencana dasar yang akhirnya disetujui. Dengan cara ini, semua mata uang ditetapkan menjadi kurs tetap terhadap mata uang dollar AS (keseimbangan dolar) yang pada gilirannya dapat menentukan nilai tetap emas ($35 per troy ounce untuk semua jenis transaksi).

(Hlm. 223)

Sistem Bretton Woods gagal karena sejumlah alasan: secara singkat, ada pengurangan likuiditas internasional; mata uang yang utama yang dipertahankan oleh bank sentral dalam cadangan mata uang asingnya adalah dolar AS dan poundsterling, khususnya setelah didevaluasi pada tahun 1967. Cadangan dunia dapat membiayai ekspor selama 48 minggu pada tahun 1948, tetapi hanya 14 minggu yang berhasil dengan baik yaitu pada pertengahan tahun 1970-an.

Pada tahun 1968, sehubungan dengan meluasnya penukaran dolar ke dalam emas oleh beberapa negara, AS menyerah dan sistem dua-harga untuk emas mulai diperkenalkan dimana bank sentral terus mengirim emas pada harga $35 per Troy ounce, sementara emas dapat mendapatkan harganya sendiri di pasar bebas.

(Hlm. 226)

Pandangan yang mendukung penerapan kurs mengambang

Hal yang paling menarik dari pemberlakuan sistem nilai tukar mengambang adalah penyesuaian otomatis terhadap masalah-masalah dalam neraca pembayaran.

(Hlm. 231)

Selain persoalan-persoalan umum pada ekonomi makro, yaitu pada sisi permintaan dan sisi penawaran, ada dua variabel ekonomi lagi yang berpengaruh langsung terhadap nilai tukar, yaitu:

  1. Tingkat inflasi domestik relatif terhadap negara-negara lain.
  2. Suku bunga domestik dibandingkan dengan persaingan di tingkat suku bunga mata uang asing.

Tingkat inflasi dan nilai tukar

Negara-negara yang mengalami laju inflasi yang tinggi akan cenderung mengalami depresiasi pada nilai mata uang asingnya.

(Hlm. 233)

Suku bunga dan Nilai Tukar

Sebagai contoh, tingkat suku bunga yang relatif tinggi pada suatu negara terhadap negara-negara lain akan cenderung menarik arus modal masuk daripada negara yang suku bunganya yang lebih rendah (Kecuali ada faktor lain yang kurang dapat merangsang investasi, instabilitas politik, atau nilai tukarnya jatuh).

(Hlm. 244)

BAB 10 STUDI KASUS

Pertanyaan

  1. Apa yang dimaksudkan dengan istrilah ‘standar hidup’?
  2. Berdasarkan data-data pada Tabel 10.1, menurut Saudara apa yang telah terjadi pada standar hidup di Inggris dibandingkan dengan beberapa negara lain sejak tahun 1960?
  3. Informasi tambahan apa yang dapat Saudara berikan untuk dapat lebih menjelaskan suatu persoalan mengenai standar hidup?

2. Hubungan antara laju inflasi dan pengangguran

Dalam artikelnya yang diterbitkan pada tahun 1958, A.W. Phillips menunjukkan data-data penting Inggris untuk periode tahun 1861-1957, bahwa terdapat suatu hubungan negatif antara tarif upah dan tingkat pengangguran.

Tabel 10.1 Perbandingan Standar Hidup Internasional

  GDP per Kapita Konsumsi Swasta Per Kapita
  1960 1970 1980 1987 1960 1970 1980 1987
Amerika 7,798 10,006 11,804 13,535 4,739 6,203 7,557 8,914
Jepang 2,670 6,487 9,069 11,226 1,752 3,724 5,336 6,287
Inggris 6,387 7,935 9,521 11,044 3,881 4,624 5,660 6,887

(Hlm. 246)

Sebagai contoh, jika jumlah permintaan dirangsang (melalui pemotongan pajak dan atau peningkatan pengeluaran pemerintah) maka tingkat pengangguran berkurang tetapi hanya berlau pada laju inflasi yang tinggi dan sebaliknya. Dengan kata lain, pemerintah dapat mengatur permintaan agregat dan mendorong ekonomi ke atas dan ke bawah kurva Philips (dari A ke B dan kembali ke A lagi).

(Hlm. 247)

Akan tetapi di akhir tahun 1980-an, keterkaitan tersebut mulai terlihat tidak stabil terhadap angka pengangguran, upah tenaga kerja dan harga-harga yang semuanya mulai meningkat bersama-sama.

(Hlm. 248)

Pertanyaan:

  1. Penjelasan apakah yang dapat Saudara berikan terhadap gagalnya kurva Philips yang terjadi:
    1. Selama tahun 1970-an
    1. Selama tahun 1980-an
  2. Fakta apa yang dapat dipakai untuk menyatakan bahwa hubungan antara angka pengangguran dan laju inflasi mungkin akan muncul kembali tahun 1990-an di Inggris?

(Hlm. 252)

Pertanyaan

  1. Apa keuntungan yang diperoleh Inggris jika bergabung dalam Mekanisme Nilai Tukar pada EMS?
  2. Apa alasan yang dapat saudara berikan mengapa pemerintah Inggris menolak untuk menjadi anggota?
  3. Keuntungan lain apakah yang timbul dari perkembangan selanjutnya dan penguatan EMS dari sudut pandang Eropa secara umum?
  4. Beberapa anggota EMS memperhatikan bahwa jika Inggris tidak segera bergabung dalam penyusunan nilai tukar, maka perubahan poundsterling pada pasar devisa dapat mengacaukan EMS. Mengapa?

(Hlm. 255)

Pertanyaan

  1. Apa akibat dari krisis hutang internasional terhadap perekonomian dunia?
  2. Apa solusi yang dapat dipakai untuk mengatasi persoalan tersebut?
  3. Adakah pelajaran-pelajaran yang dapat diambil bagi perusahaan-perusahaan yang beroperasi secara internasional sebagai akibat dari adanya pertumbuhan hutang internasional?

(Hlm. 256)

Kekhawatiran dalam Kongres akhirnya terjadi pada Tahun 1985, dengan diluluskannya Undang-undang Grammrudman-Hollings yang menetapkan target defisit anggaran untuk tiap-tiap tahu fiskal.

(Hlm. 260)

Pertanyaan

  1. Apakah tindakan-tindakan yang dapat diambil pemerintah AS untuk ,mengoreksi defisit anggarannya? Pertimbangkanlah sisi permintaan dan sisi penawaran terhadap rekomendasi Saudara.
  2. Pertimbangkan pula secara lebih lanjut dampak-dampak yang ditimbulkan dari adanya pengurangan anggaran yang defisit pada perekonomian AS dan perekonomian dunia.

(Hlm. 262)

  1. Uraikan pendapat Saudara berdasarkan teori dasar mengenai pengendalian pertumbuhan persediaan uang yang dapat mengurangi tekanan-tekanan inflasi.
  2. Dari data pada Tabel 10.5, gambarkan dan jelaskan hubungan antara:
    1. Laju pertumbuhan dari M0 dan laju pertumbuhan harga (inflasi)
    1. Laju pertumbuhan dari M3 dan Inflasi

Perbedaan apa yang terjadi jika inflasi diplot terhadap laju pertumbuhan dari M0 dan M3 pada dua tahun sebelumnya dan mengapa bisa terjadi?

  • Buktikan hipotesa mengenai pertumbuhan keuangan yang menyebabkan peningkatan pengeluaran untuk sementara waktu.
  • Seberapa sensitif perubahan yang terjadi dalam persediaan uang (M0 atau M3) mempengaruhi perubahan tingkat suku bunga?
  • Berilah pendapat mengenai kekuatan empiris dari strategi ekonomi keuangan.

(Hlm. 267)

Pertanyaan

  1. Jelaskan mengapa suatu pertumbuhan percepatan ekonomi akan memicu naiknya laju inflasi dan memperburuk dalam penghitungan akhir neraca pembayaran pada tahun 1988?
  2. Tingkat suku bunga yang tinggi cenderung menurunkan pengeluaran konsumen secara tajam. Apa kerugian dan keuntungan yang dapat diharapkan, dengan asumsi bahwa kebijakan-kebijakan diterapkan?
  3. Faktor apa yang dapat memperlambat peningkatan posisi neraca pembayaran?
  4. Beberapa pengamat berpendapat bahwa suku bunga yang digunakan oleh pemerintah tidak hanya untuk mempengaruhi sisi permintaan pada suatu perekonomian tetapi juga sisi penawarannya. Jelaskan bagaimana kebijakan tingkat suku bunga tinggi dapat membawa implikasi dalam sisi penawaran, baik akibat positif maupun negatifnya.

(Hlm. 268)

Pemerintah mengumumkan adanya peraturan pemotongan pajak. Alasan apakah di balik maksud tersebut?

Mengapa adanya berita tentang penambahan sebesar £5 milyar terhadap rencana pembelanjaan publik untuk tahun anggaran 1990/1991 menyebabkan masyarakat perkotaan menanggapinya dengan hati-hati?

Dengan cara apa dapat dipandang bahwa pemotongan pajak pada tahun  anggaran 1988 pada akhirnya ikut memperbesar krisis ekonomi?

 

 

Makroekonomi

Oliver Blanchard dan David R. Johnson

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku “Makroekonomi” karangan Oliver Blanchard dan David R. Johnson.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

Makroekonomi, edisi keenam

Oliver Blanchard

David R. Johnson

(hlm. xvi)

Prakata

Kami memiliki dua tujuan utama dalam menulis buku ini:

  • Untuk memahami dengan lebih baik peristiwa makroekonomi saat ini. Apa yang membuat makroekonomi menarik adalah karena menjelaskan apa yang terjadi di seluruh dunia; dari krisis ekonomi besar yang melanda dunia sejak tahun 2008, hingga defisit anggaran Amerika Serikat, hingga masalah-masalah di wilayah Euro, hingga pertumbuhan yang tinggi di Tiongkok.
  • Untuk memberikan pandangan yang terintegrasi tentang makroekonomi. Buku ini dibangun di atas sebuah model yang mendasar, yaitu model yang menarik implikasi dari kondisi ekuilibrium di tiga set pasar: pasar barang, pasar keuangan, dan pasar tenaga kerja.

 

(hlm. 1)

Pendahuluan

(hlm. 3)

BAB 1

Menjelajahi Dunia

(hlm. 5)

  1. Krisis

Terpukul oleh penurunan harga perumahan dan keruntuhan harga saham, serta kekhawatiran bahwa ini mungkin menjadi awal dari Great Depression lainnya, orang-orang mulai berhemat. Khawatir dengan penjualan dan ketidakpastian mengenai masa depan, perusahaan-perusahaan mulai memotong investasinya secara drastis.

(hlm. 13)

1-4 Tiongkok

Ketika membandingkan output per orang di sebuah negara kaya seperti Amerika Serikat dan negara yang relatif miskin seperti Tiongkok, seseorang harus berhati-hati. Alasannya adalah banyak barang yang lebih murah di negara miskin.

(hlm. 19)

BAB 2

Menjelajahi Buku Ini

(hlm. 20)

2-1 Output Agregat

[Dua ekonom, Simon Kuznets, dari Harvard University, dan Richard Stone dari Cambridge University, menerima penghargaan Hadiah Nobel atas kontribusinya pada pengembangan perhitungan pendapatan nasional—sebuah pencapaian intelektual dan empiris yang luar biasa.]

(hlm. 22)

[Jadi, bagian tenaga kerja dalam contoh itu adalah 75%. Di negara maju, bagian tenaga kerja umumnya berjumlah antara 65% dan 75%.]

Dari sisi pendapatan: GDP adalah jumlah pendapatan dalam ekonomi selama periode tertentu.

(hlm. 24)

(gambar 2-1)

[Dari tahun 1960 hingga 2010, GDP nominal meningkat dengan faktor sebesar 28. GDP riil meningkat dengan faktor sekitar 5.]

Sebenarnya tidak ada definisi resmi atas apa yang menimbulkan resesi, tetapi kesepakatannya adalah merujuk pada “resesi” jika ekonomi mengalami setidaknya dua kuartal pertumbuhan negatif.

(hlm. 25)

GDP Riil, Kemajuan Teknologi, dan Harga Komputer

Pendekatan tersebut, yang memperlakukan barang sebagai kumpulan karakteristik—untuk komputer, kecepatan, memori, dan sebagainya—masing-masing hanya dengan harga implisit, disebut penetapan harga hedonis (hedonic pricing) (“hedone” berarti “kenikmatan” dalam bahasa Yunani). Istilah ini digunakan oleh Department of Commerce—yang membentuk GDP riil—untuk mengestimasi perubahan harga barang yang kompleks dan cepat berubah, seperti mobil dan komputer. Dengan menggunakan pendekatan tersebut, Department of Commerce mengestimasi bahwa, pada harga tertentu, kualitas komputer baru telah meningkat rata-rata sebesar 18% per tahun sejak tahun 1981. Dengan kata lain, komputer personal pada tahun 2010 memberikan 1,1829 = 121 kali jasa perhitungan ketimbang yang diberikan komputer personal umumnya pada tahun 1981.

(hlm. 26)

Tingkat pengangguran = pengangguran/angkatan kerja

Saat ini, sebagian besar negara kaya bergantung pada survei terhadap rumah tangga untuk menghitung tingkat pengangguran. Di Amerika Serikat, survei ini disebut Current Population Survey (CPS). Survei tersebut mengandalkan wawancara terhadap 50.000 rumah tangga setiap bulan.

(hlm. 28)

Apakah Spanyol Memiliki Tingkat Pengangguran 24% pada Tahun 1994?

Estimasi terbaik dari survei adalah bahwa hanya sekitar 15% dari pengangguran yang sebenarnya bekerja. Hal tersebut menyiratkan bahwa tingkat pengangguran, yang secara resmi 21% pada saat itu, sebenarnya lebih mendekati 18%, angka yang masih sangat tinggi.

Jadi, bagaimana mereka bertahan hidup? Kunci atas jawabannya bergantung pada struktur keluarga bangsa Spanyol. Tingkat pengangguran tertinggi merupakan kalangan penduduk muda: pada tahun 1994, angkanya mendekati 50% untuk mereka yang berusia antara 16 dan 19, dan sekitar 40% untuk mereka yang berusia antara 20 hingga 24 tahun. Kaum muda umumnya tinggal di rumah orang tuanya hingga usia 20-an akhir, dan seiring meningkatnya pengangguran mereka terpaksa menumpang hidup bersama orang tuanya lebih lama lagi.

(hlm. 30)

2-3 Tingkat Inflasi

Indeks Harga Konsumen

CPI telah ada di Amerika Serikat sejak tahun 1917 dan dipublikasikan setiap bulan (sebaliknya, jumlah GDP dan deflator GDP hanya ditetapkan dan dipublikasikan setiap kuartal).

[Jangan menukarkan CPI dengan PPI, atau producer price index, yang merupakan indeks harga barang yang diproduksi secara domestik dalam manufaktur, tambang, pertanian, perikanan, perhutanan, dan industri utilitas listrik.]

Setiap bulan, karyawan Bureau of Labor Statistics (BLS) mengunjungi toko-toko untuk mengetahui apa yang terjadi dengan harga barang-barang yang ada dalam daftar; harga dikumpulkan dari 87 kota, dari sekitar 23.000 toko ritel, dealer mobil, pompa bensin, rumah sakit, dan sebagainya. Harga-harga tersebut kemudian digunakan untuk menetapkan Indeks Harga Konsumen.

(hlm. 31)

Mengapa Para Ekonom Mempertimbangkan Inflasi?

Jika inflasi sangat buruk, apakah hal tersebut menyiratkan bahwa deflasi (inflasi negatif) adalah hal yang baik?

Jawabannya adalah tidak. Pertama, deflasi yang tinggi (tingkat inflasi negatif yang besar) akan menciptakan banyak masalah yang sama seperti pada inflasi yang tinggi, mulai dari distorsi hingga meningkatnya ketidakpastian. Kedua, seperti yang akan kita lihat nanti di buku ini, bahkan tingkat deflasi yang rendah akan membatasi kemampuan kebijakan moneter untuk mempengaruhi output. Jadi, berapakah inflasi “terbaik”? sebagian besar ahli makroekonomi yakin bahwa tingkat inflasi terbaik adalah tingkat inflasi yang rendah dan stabil, yaitu antara 1% dan 4%. Kita akan melihat pro kontra dari tingkat inflasi yang berbeda di buku ini nanti.

[Deflasi adalah penurunan tingkat harga. Resesi adalah penurunan output riil.]

(hlm. 32)

2-4 Output, Pengangguran, dan Tingkat Inflasi: Hukum Okun dan Kurva Phillips

Kita telah membahas tiga dimensi utama aktivitas ekonomi agregat secara terpisah: pertumbuhan output, tingkat pengangguran, dan tingkat inflasi. Ketiganya tidaklah independen, dan sebagian besar buku ini akan dihabiskan untuk membahas hubungan di antara ketiganya secara terinci.

Hukum Okun

Intuisi menunjukkan bahwa jika pertumbuhan output tinggi, pengangguran akan menurun, dan hal tersebut ternyata benar. Hubungan ini pertama kali diteliti oleh ekonom Amerika bernama Arthur Okun sehingga dikenal sebagai hukum Okun (Okun’s law).

[Arthur Okun adalah penasihat Presiden Kennedy pada tahun 1960-an. Tentu saja, hukum Okun bukan sebuah hukum, tetapi regularitas empiris.]

  • Semakin tinggi pertumbuhan output akan menyebabkan penurunan pengangguran. Kemiringan garis adalah -0,4. Hal ini menyiratkan bahwa, secara rata-rata, peningkatan tingkat pertumbuhan sebesar 1% menurunkan tingkat pengangguran sekitar -0,4%.
  • Garis vertikal ini melintasi sumbu horizontal pada titik di mana pertumbuhan output hampir sama dengan 3%. Dalam istilah ekonomi: Diperlukan tingkat pertumbuhan sekitar 3% agar pengangguran tetap konstan. Hal tersebut terjadi karena dua alasan. Pertama adalah populasi, dan oleh karena itu angkatan kerja, yang akan meningkat dengan berlalunya waktu, sehingga lapangan kerja harus tumbuh dengan berlalunya waktu demi mempertahankan agar tingkat pengangguran tetap konstan. Kedua adalah output per pekerja juga akan meningkat dengan berlalunya waktu, yang menyiratkan bahwa pertumbuhan output jauh lebih tinggi dari pertumbuhan lapangan kerja.

(hlm. 33)

Kurva Phillips

Hukum Okun menyiratkan bahwa, dengan pertumbuhan yang cukup kuat, seseorang dapat menurunkan tingkat pengangguran hingga ke tingkat yang sangat rendah. Namun intuisi menunjukkan bahwa, ketika pengangguran menjadi sangat rendah, ekonomi mungkin akan menjadi terlalu panas, dan hal tersebut akan menyebabkan inflasi terdorong naik. Dan, hingga batasan tertentu, hal tersebut ternyata benar. Hubungan ini pertama kali digali pada tahun 1958 oleh seorang ekonom Selandia Baru, A. W. Phillips, dan sekarang dikenal sebagai kurva Phillips (Phillips curve).

  • Garisnya memiliki kemiringan yang menurun, walaupun kesesuaian tidak seerat pada hukum Okun: Pengangguran yang lebih tinggi, secara rata-rata, akan menyebabkan penurunan inflasi; sementara pengangguran yang lebih rendah akan menyebabkan peningkatan inflasi. Namun hal tersebut hanya berlaku secara rata-rata.
  • Garis yang melintasi sumbu horizontal pada titik di mana tingkat pengangguran hampir sama dengan 6%. Dalam istilah ekonomi: ketika pengangguran di bawah 6%, inflasi umumnya akan meningkat, yang menunjukkan bahwa ekonomi terlalu panas, yaitu beroperasi melebihi potensinya. Ketika pengangguran di atas 6%, inflasi umumnya akan menurun, yang menunjukkan bahwa ekonomi beroperasi di bawah potensinya.

(hlm. 34)

Jadi, ekonomi yang berhasil adalah ekonomi yang menggabungkan pertumbuhan output yang tinggi, pengangguran yang rendah, dan inflasi yang rendah. Dapatkah semua tujuan tersebut dicapai secara simultan?

(hlm. 35)

2-5 Jangka Pendek, Jangka Menengah, Jangka Panjang

  • Dalam jangka pendek, katakan beberapa tahun, jawaban pertama adalah yang benar. Pergerakan output dari tahun ke tahun terutama didorong oleh pergerakan permintaan.
  • Dalam jangka menengah, katakan satu dekade, jawaban kedua adalah yang benar. Selama jangka menengah, ekonomi cenderung kembali ke tingkat output yang ditentukan oleh faktor-faktor penawaran: modal saham, tingkat teknologi, dan ukuran angkatan kerja.
  • Dalam jangka panjang, katakan beberapa dekade atau lebih, jawaban ketiga adalah yang benar.

(hlm. 37)

Epilog

Kita mengidentifikasi apa yang kita lihat sebagai perbedaan utama di antara para pakar makroekonomi, yaitu serangkaian proporsi yang mendefinisikan inti dari makroekonomi saat ini dan tantangan yang dihadapi para pakar makroekonomi akibat krisis.

(hlm. 43)

Jangka Pendek

(hlm. 45)

BAB 3

Pasar Barang

(hlm. 46)

[Peringatan! Bagi sebagian besar orang, “investasi” merujuk pada pembelian aset seperti emas atau saham General Motors. Para ekonom menggunakan “investasi” untuk merujuk pada pembelian barang modal baru, seperti mesin (baru), bangunan (baru), atau rumah (baru). Ketika para ekonom merujuk pada pembelian emas, atau saham General Motors, atau aset keuangan lainnya, mereka menggunakan istilah “investasi keuangan.”]

Orang membeli rumah atau apartemen untuk memperoleh jasa perumahan di masa mendatang.

(hlm. 47)

    Miliaran Dolar Persentase GDP
3 Pengeluaran pemerintah (G) 3.001 20,4

(hlm. 48)

3-2 Permintaan Barang

 Dengan menggunakan dekomposisi GDP yang kita bahas di bagian 3-1, kita dapat menuliskan Z sebagai Z ≡ C + I + G + X – IM

(hlm. 49)

Dengan kata lain, sangatlah masuk akal untuk mengasumsikan bahwa fungsi tersebut merupakan sebuah hubungan linear (linear function).

  • Parameter c1 disebut sebagai kecenderungan untuk mengkonsumsi (propensity to consume).
  • Jika kita menggunakan interpretasi ini, restriksi alami adalah bahwa, jika pendapatan saat ini sama dengan nol, konsumsi masih akan positif: Dengan atau tanpa pendapatan, orang masih perlu makan! Hal tersebut menyiratkan bahwa c0 adalah positif. Bagaimana orang dapat memiliki konsumsi positif jika pendapatannya sama dengan nol? Jawaban: mereka menghabiskan tabungan (dissave). Mereka mengkonsumsi baik dengan menjual beberapa asetnya atau dengan meminjam.
  • Parameter c0 memiliki interpretasi yang kurang bersifat literal dan lebih sering menggunakan interpretasi.

(hlm. 50)

YD ≡ Y – T

[Pada tahun 2010, pajak dan kontribusi sosial yang dibayarkan oleh individu adalah $2.200 miliar, dan transfer ke individu adalah $2.300 miliar.]

Investasi (I)

Model memiliki dua jenis variabel. Beberapa variabel bergantung pada variabel lainnya dalam model sehingga akan dijelaskan dalam model. Variabel seperti ini disebut endogen (endogenous). Ini adalah kasus untuk konsumsi di atas. Variabel lain tidak dijelaskan dalam model tetapi akan diambil sebagaimana yang ditentukan. Variabel seperti ini disebut eksogen (exogenous).

Menempatkan garis di atas investasi merupakan cara tipografis sederhana untuk mengingatkan kita bahwa kita mengambil investasi yang ditentukan.

(hlm. 51)

[Ingat kembali: “Pajak” adalah paak dikurangi transfer pemerintah.]

(hlm. 52)

3-3 Penentuan Output Ekuilibrium

Pakar makroekonomi selalu menggunakan ketiga alat berikut:

  1. Aljabar untuk memastikan bahwa logikanya benar
  2. Grafik untuk membangun intuisi
  3. Kata-kata untuk menjelaskan hasil

Menggunakan Aljabar

  • Suku [c0 +  + G – c1T] adalah bagian permintaan akan barang yang tidak bergantung pada output. Untuk alasan tersebut, ini disebut pengeluaran otonom (autonomous spending).
  • Dapatkah kita memastikan bahwa pengeluaran otonom adalah positif? Tidak, tetapi kemungkinan besar adalah positif.

(hlm. 53)

  • Kembali ke suku pertama, 1/(1-c1). Karena kecenderungan untuk mengkonsumsi (c1) adalah antara nol dan 1, maka 1/(1-c1) adalah jumlah yang lebih besar dari satu. Karena alasan ini, jumlah itu, yang mengalikan pengeluaran otonom, disebut multiplier.

Kita telah melihat kenaikan konsumsi, tetapi persamaan (3.8) menjelaskan bahwa setiap perubahan pengeluaran otonom—mulai dari perubahan investasi, hingga perubahan pengeluaran pemerintah, hingga perubahan pajak—akan memiliki pengaruh kualitatif yang sama: yaitu akan mengubah output sebesar lebih dari pengaruh langsungnya terhadap pengeluaran otonom.

Menggunakan Grafik

  • Memplot produksi sebagai fungsi pendapatan bersifat langsung: Ingat kembali bahwa produksi sebagai fungsi pendapatan adalah identik. Jadi, hubungan di antaranya berupa garis 45 derajat, yaitu garis dengan kemiringan sama yang dengan 1.

[Output ekuilibrium ditentukan oleh kondisi di mana produksi sama dengan permintaan.]

(hlm. 54)

  • Permintaan bergantung pada pengeluaran otonom dan pendapatan—melalui pengaruhnya terhadap konsumsi.

(hlm. 55)

Dengan bantuan grafik, jauh lebih mudah memberitahukan bagaimana dan mengapa ekonomi bergerak dari A ke A’. Peningkatan konsumsi awal menyebabkan peningkatan konsumsi awal menyebabkan peningkatan permintaan sebesar $1 miliar. Pada tingkat pendapatan awal, Y, tingkat permintaan ditujukan oleh titik B: Permintaan adalah $1 miliar lebih tinggi. Untuk memenuhi tingkat permintaan yang lebih tinggi ini, perusahaan meningkatkan produksi sebesar $1 miliar. Peningkatan produksi sebesar $1 miliar ini menyiratkan bahwa pendapatan naik sebesar $1 miliar (ingat: pendapatan = produksi), sehingga ekonomi bergerak ke titik C. (Dengan kata lain, baik produksi maupun pendapatan lebih tinggi sebesar $1 miliar.) Namun ini bukan akhir cerita. Peningkatan pendapatan menyebabkan peningkatan lebih lanjut atas permintaan. Permintaan sekarang ditunjukkan oleh titik D. Titik D ini menyebabkan tingkat produksi yang lebih tinggi, dan seterusnya, hingga ekonomi berada di titik A’, di mana produksi dan permintaan kembali sama. Karena itu, ini merupakan ekuilibrium yang baru.

Dengan mengikuti logika tersebut, total peningkatan produksi setelah, katakan, n + 1 ronde sama dengan $1 miliar dikalikan jumlah:

1 + c1 + c12 + . . . + c1n

Jumlah semacam itu disebut deret geometri (geometric series), yang akan sering muncul di buku ini. Sebagai penyegar lihat Apendiks 2 di akhir buku ini. Salah satu properti dari deret geometri adalah bahwa, ketika c1 lebih kecil dari satu (seperti yang terjadi di sini) dan n menjadi lebih besar, jumlahnya terus meningkat tetapi mendekati suatu batasan. Batasan tersebut adalah 1/(1 – c1), yang pada akhirnya menghasilkan kenaikan output sebesar $1/(1 – c1) miliar.

[Pikirkan mengenai multiplier sebagai hasil dari ronde yang berurutan tersebut. Apa yang akan terjadi pada setiap ronde yang berurutan itu jika c1, kecenderungan untuk mengkonsumsi, lebih besar dari satu?]

(hlm. 56)

Menggunakan Kata-kata

Estimasi yang masuk akal atas kecenderungan untuk mengkonsumsi di Amerika Serikat saat ini adalah sekitar 0,6 (regresi di Apendiks 3 menghasilkan dua estimasi, 0,5 dan 0,8). Dengan kata lain, tambahan satu dolar pendapatan disposabel akan menghasilkan rata-rata peningkatan konsumsi sebesar 60 sen. Ini menyiratkan bahwa multiplier adalah sama dengan 1/(1 – c1) = 1/(1 – 0,6) = 2,5.

Berapa Lama Waktu yang Diperlukan Output agar Sesuai?

Secara formal penguraian penyesuaian output ini setelah berlalunya waktu—yang berarti menuliskan persamaan yang oleh para ekonom disebut dinamika (dynamics) penyesuaian, dan memecahkan model yang lebih rumit tersebut—akan terlalu sulit dilakukan di sini.

(hlm. 57)

(gambar 1)

Pendapatan Disposabel

Konsumsi

Konsumsi Barang Tahan Lama

(hlm. 59)

Kotak Fokus “Kebangkrutan Lehman Brothers, Rasa Takut akan Great Depression Lagi, dan Pergeseran Fungsi Konsumsi” menunjukkan bagaimana, ketika krisis dimulai, kekhawatiran atas masa depan membuat konsumen mengurangi pengeluarannya meskipun ada fakta bahwa pendapatan disposabel mereka belum menurun; artinya, c0 turun nilainya.

3-4 Investasi Sama dengan Tabungan: Cara Lain Memikirkan mengenai Barang-Ekuilibrium Pasar

Sejauh ini, kita telah memikirkan ekuilibrium di pasar barang dalam istilah ekualitas produksi dan permintaan akan barang. Cara berpikir alternatif—tetapi ekuivalen—mengenai ekuilibrium berfokus pada investasi dan tabungan. Inilah bagaimana John Maynard Keynes pertama kali mengartikulasikan model ini pada tahun 1936, dalam The General Theory of Employment, Interest, and Money.

(hlm. 60)

Cara melihat ekuilibrium seperti ini menjelaskan mengapa kondisi ekuilibrium untuk pasar barang disebut hubungan IS (IS relation), yang merupakan singkatan dari “Investment equal Saving” atau Investasi sama dengan Tabungan: Apa yang ingin diinvestasikan oleh perusahaan harus sama dengan apa yang ingin ditabung oleh orang dan pemerintah.

Sebagai ikhtisar: Terdapat dua cara yang ekuivalen untuk menyatakan kondisi ekuilibrium di pasar barang:

Produksi = Permintaan

Investasi = Tabungan

Tabungan swasta akan mengingat dengan pendapatan disposabel, tetapi lebih kecil dari satu dolar untuk setiap dolar tambahan dari pendapatan disposabel.

(hlm. 61)

3-5 Apakah Pemerintah Begitu Berkuasa? Sebuah Peringatan

Persamaan (3.8) menyiratkan bahwa pemerintah, dengan memilih tingkat pengeluaran (G) atau tingkat pajak (T), dapat memilih tingkat output yang diinginkan.

  • Mengubah pengeluaran pemerintah atau pajak tidaklah mudah.
  • Ekspektasi mungkin akan berpengaruh. Semakin mereka mempersepsikan pemotongan pajak sebagai permanen, semakin besar respons konsumsinya (Bab 15 hingga 17).
  • Mencapai tingkat output tertentu dapat menimbulkan dampak samping yang tidak menyenangkan.

(hlm. 62)

Paradoks Tabungan

Ini berarti bahwa ketika orang berusaha menabung lebih banyak, hal itu menghasilkan penurunan output sementara tabungan tidak berubah. Ini merupakan pasangan hasil yang mengejutkan yang dikenal sebagai paradoks tabungan (paradox of saving atau paradox of thrift).

Apakah pemerintah harus memberitahukan orang agar jangan terlalu hemat? Tidak. Hasil dari model sederhana tersebut jauh lebih relevan dalam jangka pendek. Keinginan konsumen untuk menghemat lebih banyak merupakan faktor penting di banyak resesi AS, termasuk, seperti yang kita lihat di kotak Fokus sebelumnya, krisis saat ini. Akan tetapi—seperti akan kita bahas nanti di buku ini ketika membahas jangka menengah dan jangka panjang—muncul mekanisme lain yang akan memainkan peran dengan berlalunya waktu, dan kenaikan tingkat tabungan mungkin akan menghasilkan tabungan yang lebih tinggi dan pendapatan yang lebih tinggi. Akan tetapi, terdapat peringatan: Kebijakan yang mendorong tabungan mungkin baik dalam jangka menengah dan jangka panjang, tetapi dapat juga menimbulkan pengurangan permintaan dan output, serta bahkan mungkin suatu resesi, dalam jangka pendek.

(hlm. 67)

BAB 4

Pasar Keuangan

(hlm. 68)

4-1 Permintaan akan Uang

  • Jumlah mata uang dan checkable deposit disebut M1.
  • Obligasi membayar suku bunga positif, i, tetapi tidak dapat digunakan untuk transaksi.

Karena itu, jelas bahwa Anda harus memegang baik uang maupun obligasi. Tetapi berapa proporsinya? Hal tersebut terutama akan bergantung pada dua variabel.

  • Tingkat transaksi Anda.
  • Suku bunga obligasi.

(hlm. 69)

Uang (money) adalah apa yang dapat dengan tepat digunakan untuk membayar transaksi.

Ini merupakan aliran (flow)—sesuatu yang diekspresikan dalam unit waktu: misalnya pendapatan mingguan, pendapatan bulanan, atau pendapatan tahunan.

Tabungan (saving) merupakan bagian dari laba setelah pajak yang tidak ingin Anda keluarkan.

Kekayaan keuangan (financial wealth) Anda, atau kekayaan, adalah nilai dari semua aset keuangan Anda dikurangi semua kewajiban keuangan Anda. Sebagai lawan dari pendapatan atau tabungan, yang merupakan variabel yang mengalir, kekayaan keuangan Anda adalah variabel saham (stock). Ia adalah nilai kekayaan pada momen waktu tertentu.

Aset keuangan yang dapat digunakan secara langsung untuk membeli barang disebut uang.

Investasi merupakan istilah yang digunakan para ekonom untuk pembelian barang modal baru, mulai dari mesin hinga pabrik hingga bangunan kantor.

Ketika suku bunga atas reksa dana tersebut mencapai 14% per tahun pada awal tahun 1980-an (suku bunga yang sangat tinggi menurut standar hari ini), banyak orang yang sebelumnya menyimpan semua kekayaan mereka di buku tabungan (yang memberikan bunga yang kecil atau tidak sama sekali) menyadari besarnya bunga yang dapat mereka peroleh dengan memindahkan sejumlah kekayaan tersebut ke reksa dana pasar uang. Akibatnya, reksa dana semacam itu menjadi sangat populer. Akan tetapi, sejak saat itu suku bunga telah jatuh. Pada pertengahan tahun 2000-an, tepat sebelum krisis, rata-rata suku bunga yang dibayarkan oleh reksa dana pasar uang hanya sekita 5%.

(hlm. 70)

Menghasilkan Permintaan akan Uang

Permintaan akan uang Md adalah sama dengan pendapatan nominal $Y dikalikan fungsi suku bunga i, dengan fungsi dilambangkan oleh L(i). Tanda minus di bawah i dalam L(i) merupakan fakta bahwa suku bunga memiliki pengaruh negatif terhadap permintaan uang: Suatu peningkatan suku bunga menurunkan permintaan akan uang, karena orang menaruh lebih banyak kekayaannya dalam obligasi.

(hlm. 71)

Siapa yang Memegang Mata Uang AS

Menurut survei rumah tangga pada tahun 2006, rata-rata rumah tangga AS memegang mata uang senilai $1.600 (uang kertas dan logam dolar). Jika dikalikan dengan jumlah rumah tangga di ekonomi AS (sekitar 110 juta), maka total jumlah mata uang yang dipegang oleh rumah tangga AS adalah sekitar $170 miliar.

Akan tetapi, menurut Federal Reserve Board—yang menerbitkan uang kertas dolar sehingga mengetahui berapa banyak yang ada dalam sirkulasi—jumlah mata uang dalam sirkulasi sebenarnya lebih tinggi dari $750 miliar. Di sinilah letak teka-tekinya: Jika uang tersebut tidak dipegang oleh rumah tangga, di manakah semua mata uang tersebut?

Jawabannya: Di luar negeri, dipegang oleh orang asing.

Pertama, seluruh dunia, yang bersedia memegang mata uang AS, sebenarnya melakukan pinjaman bebas bunga ke Amerika Serikat sebesar $500 miliar. Kedua, meskipun kita memikirkan permintaan uang (yang meliputi baik mata uang maupun checkable deposits) yang ditentukan oleh suku bunga dan tingkat transaksi di negara tersebut, jelas bahwa permintaan uang di AS juga bergantung pada faktor lain.

(hlm. 72)

Permintaan Uang, Jumlah Uang Beredar atau Penawaran Uang, dan Ekuilibrium Suku Bunga

Penawaran uang = Permintaan uang

Persamaan tersebut memberitahukan kita bahwa suku bunga i harus sedemikian rupa sehingga, berdasarkan pendapatannya $Y, orang bersedia memegang sejumlah uang yang sama dengan jumlah uang beredar yang ada M. hubungan ekuilibrium ini disebut hubungan LM (LM relation). Seperti hubungan IS, nama hubungan LM sudah ada lebih dari 50 tahun. Huruf L adalah singkatan untuk liquidity (likuiditas). Para ekonom menggunakan likuiditas sebagai sebagai ukuran seberapa mudah aset dapat diubah menjadi uang.

[Suku bunga harus sedemikian rupa sehingga penawaran uang (yang independen dari suku bunga) adalah sama dengan permintaan akan uang (yang bergantung pada suku bunga).]

(hlm. 73)

[peningkatan pendapatan nominal menghasilkan peningkatan suku bunga.]

Suku bunga yang lebih tinggi menyiratkan permintaan uang yang lebih rendah.

(hlm. 74)

Kebijakan Moneter dan Operasi Pasar Terbuka

Di ekonomi modern, cara bank sentral mengubah jumlah uang beredar adalah dengan membeli atau menjual obligasi di pasar obligasi. Jika ingin meningkatkan jumlah uang dalam ekonomi, bank sentral membeli obligasi dan membayarnya dengan mencetak uang. Jika ingin menurunkan jumlah uang dalam ekonomi, bank sentral menjual obligasi dan menyingkirkan dari sirkulasi uang yang diterima sebagai pertukaran dengan obligasi. Tindakan tersebut disebut operasi pasar terbuka (open market operations) karena terjadi di “pasar terbuka” obligasi.

(hlm.75)

Semakin tinggi harga obligasi, semakin rendah suku bunga.

(hlm. 78)

Penawaran dan Permintaan akan Uang Bank Sentral

  • Permintaan akan uang bank sentral adalah sama dengan permintaan akan mata uang oleh orang ditambah permintaan akan cadangan oleh bank.
  • Penawaran uang bank sentral berada di bawah kendali langsung bank sentral.
  • Suku bunga ekuilibrium adalah sedemikian rupa sehingga permintaan akan dan penawaran uang bank sentral adalah sama.

(hlm. 79)

Bank Run, Penjamin Simpanan, dan Pendanaan Besar

Anda mungkin telah melihat It’s a Wonderful Life, sebuah film lama yang dibintangi James Stewart yang ditayangkan di TV setiap tahun pada saat Natal. Setelah bank lainnya di kota Stewart menetap gagal, depositor tabungan dan pinjaman yang ia kelola menjadi takut dan ingin menarik uangnya juga. Stewart berhasil membujuk mereka bahwa itu bukanlah ide yang bagus. It’s a Wonderful Life memiliki akhir yang bahagia.

Apa yang dapat dilakukan untuk menghindari bank run? Salah satu solusinya disebut narrow banking, yang akan membatasi bank untuk memegang obligasi pemerintah yang likuid dan aman, seperti T-bills. Pinjaman harus dilakukan mengeliminasi bank run, serta kebutuhan akan penjaminan federal.

Solusi lain, dan yang telah diadopsi oleh pemerintah di sebagian besar negara maju, adalah peminjaman simpanan.

(hlm. 80)

Permintaan akan Cadangan

Misalkan  (huruf theta kecil dari abjad Yunani) adalah rasio cadangan, yaitu jumlah cadangan yang dipegang bank per dolar checkable deposits. Misalkan R melambangkan cadangan bank. Misalkan D melambangkan jumlah dolar checkable deposits.

Kita telah melihat sebelumnya bahwa, di Amerika Serikat saat ini, rasio cadangan kira-kira sama dengan 10%. Jadi,  kira-kira sama dengan 0,1.

(hlm. 81)

[Determinan Permintaan dan Penawaran Uang Bank Sentral]

Permintaan akan Uang Bank Sentral

Sebut Hd adalah permintaan akan uang bank sentral.

(hlm. 84)

4-4 Dua Cara Alternatif Membahas Ekuilibrium

  • Karena alasan tersebut, istilah yang konstan ini disebut multiplier uang (money multiplier). Karena itu, keseluruhan penawaran uang sama dengan uang bank sentral dikalikan multiplier uang. Jika multiplier uang adalah 4 misalnya, maka keseluruhan penawaran uang sama dengan 4 kali penawaran uang bank sentral.
  • Istilah berdaya tinggi merefleksikan fakta bahwa peningkatan H menyebabkan peningkatan keseluruhan jumlah uang beredar sehingga “berdaya tinggi”. Dengan cara yang sama, istilah dasar moneter merefleksikan fakta bahwa keseluruhan jumlah uang beredar akhirnya bergantung pada suatu “dasar” —jumlah uang bank sentral dalam ekonomi.

(hlm. 85)

Mari kita tulis jumlahnya sebagai:

$100(1 + 0,9 + 0,92 + …)

Angka dalam tanda kurung merupakan deret geometri, sehingga jumlahnya sama dengan 1/(1 – 0,9) = 10 (lihat Apendiks 2 di akhir buku ini sebagai pengingat atas deret geometri). Jumlah uang beredar meningkat sebesar $1.000—10 kali dari peningkatan awal uang bank sentral.

(hlm. 89)

BAB 5

Pasar Barang dan Keuangan: Model IS-LM

Dalam mengembangkan kerangka kerja tersebut, kita mengikuti jalan yang pertama kali ditelusuri oleh dua ekonom, John Hicks dan Alvin Hansen, pada akhir tahun 1930-an dan awal tahun 1940-an. Ketika ekonom John Maynard Keynes mempublikasikan General Theory pada tahun 1936, telah disepakati bahwa buku tersebut bersifat fundamental dan tidak dapat ditembus. (Cobalah untuk membacanya, dan Anda akan setuju). Terdapat (dan masih ada) banyak perdebatan mengenai apa yang “sebenarnya dimaksud” oleh Keynes. Pada tahun 1937, John Hicks meringkas apa yang ia lihat sebagai salah satu kontribusi utama Keynes: uraian gabungan atas pasar barang dan keuangan. Analisisnya kemudian diperluas oleh Alvin Hansen. Hicks dan Hansen menyebut formalisasinya sebagai model IS-LM.

(hlm. 90)

5-1 Pasar Barang dan Hubungan IS

Penyederhanaan utama dari model pertama ini bahwa suku bunga tidak mempengaruhi permintaan barang.

(hlm. 91)

Investasi, Penjualan, dan Suku Bunga

Pada suku bunga yang cukup tinggi, labantambahan dari menggunakan masin baru tidak akan meliputi pembayaran bunga, dan mesin baru tidak akan berharga untuk dibeli.

Menentukan Output

Y = C(Y – T) + I(Y, i) + G

(hlm. 93)

Menderivasi Kurva IS

Peningkatan suku bunga menurunkan investasi. Penurunan investasi menyebabkan penurunan output, yang selanjutnya menurunkan konsumsi dan investasi, melalui pengaruh multiplier.

Hubungan antara suku bunga dan output tersebut ditunjukkan oleh kurva dengan kemiringan menurun di Gambar 5-2(b). Kurva tersebut disebut kurva IS.

(hlm. 94)

5-2 Pasar Keuangan dan Hubungan LM

(hlm. 95)

(gambar 5.4)

[(a) Peningkatan pendapatan menyebabkan, pada suku bunga tertentu, peningkatan permintaan akan uang. Dengan jumlah uang beredar tertentu, peningkatan permintaan akan uang tersebut menghasilkan peningkatan suku bunga ekuilibrium.

(b) Ekuilibrium dalam pasar keuangan menyiratkan bahwa peningkatan pendapatan menghasilkan peningkatan suku bunga. Karena itu, kurva LM memiliki kemiringan menaik atau ke atas.]

(hlm. 96)

Mengapa peningkatan pendapatan menghasilkan peningkatan suku bunga? Ketika pendapatan meningkat, permintaan uang meningkat tetapi jumlah uang beredar tetap. Karena itu, suku bunga harus naik hingga dua pengaruh yang berlawanan terhadap permintaan akan uang— peningkatan pendapatan yang menyebabkan orang ingin memegang lebih banyak uang dan peningkatan suku bunga yang menyebabkan orang ingin memegang lebih sedikit uang—saling membatalkan satu sama lain. Pada titik tersebut, permintaan akan uang sama dengan jumlah uang beredar yang tidak berubah, dan pasar keuangan kembali berada dalam ekuilibrium.

Para ekonom kadang-kadang mencirikan hubungan tersebut dengan mengatakan, “aktivitas ekonomi yang lebih tinggi menimbulkan tekanan terhadap suku bunga.”

(hlm. 97)

5-3 Menempatkan Hubungan IS dan LM Bersama

(hlm. 98)

Kebijakan Fiskal, Aktivitas, dan Suku Bunga

  1. Bagaimana menggeser kurva IS dan/atau kurva LM?
  2. Apa yang dilakukan terhadap output ekuilibrium dan suku bunga ekuilibrium?

  • Pertanyaan pertama adalah bagaimana peningkatan pajak mempengaruhi ekuilibrium di pasar barang—artinya, bagaimana hal itu mempengaruhi kurva IS.

Karena orang memiliki pendapatan disposabel yang lebih kecil, peningkatan pajak menurunkan konsumsi, dan melalui multiplier, menurunkan output. Pada suku bunga iB output turun dari YB  menjadi YC. Secara lebih umum, pada suku bunga berapa pun, pajak yang lebih tinggi menyebabkan output yang lebih rendah. Akibatnya, kurva IS bergeser ke kiri dari IS ke IS’.

Apa yang terjadi dengan kurva LM ketika pajak meningkat? Jawaban: Tidak ada. Pada tingkat pendapatan YF tertentu suku bunga di mana jumlah uang beredar sama dengan permintaan akan uang adalah sama seperti sebelumnya, sebut saja iF. Dengan kata lain, karena pajak tidak muncul dalam hubungan LM, maka tidak mempengaruhi kondisi ekuilibrium. Pajak tidak mempengaruhi kurva LM.

(hlm. 99)

Perhatikan prinsip umum di sini: Suatu kurva bergeser sebagai respons terhadap perubahan variabel eksogen hanya jika variabel ini muncul secara langsung dalam persamaan yang ditunjukkan oleh kurva tersebut.

[Peningkatan pajak menggeser kurva IS ke kiri dan menimbulkan penurunan tingkat output ekuilibrium dan suku bunga ekuilibrium.

(hlm. 100)

  • Peningkatan pajak mengakibatkan pendapatan disposabel yang lebih rendah, yang menyebabkan orang menurunkan konsumsinya. Sebaliknya, penurunan permintaan ini menimbulkan penurunan output dan pendapatan. Pada waktu yang sama, penurunan pendapatan mengurangi permintaan akan uang, yang menimbulkan penurunan suku bunga. Penurunan suku bunga mengurangi tetapi tidak sepenuhnya mengoffset pengaruh pajak yang lebih tinggi terhadap permintaan barang.

Jika investasi hanya bergantung pada suku bunga, maka investasi jelas akan meningkat; jika investasi hanya bergantung pada penjualan, maka investasi jelas akan menurun. Secara umum, investasi bergantung baik pada suku bunga maupun penjualan, sehingga kita tidak dapat mengatakan. (Kasus di mana investasi jatuh ketika defisit naik kadang-kadang disebut crowding out investasi oleh defisit. Jika investasi naik ketika defisit naik, terdapat crowding in investasi oleh defisit). Berlawanan dengan apa yang sering disebut oleh para politisi, pengurangan defisit anggaran tidak selalu mengarah ke peningkatan dalam investasi.

Kebijakan Moneter, Aktivitas, dan Suku Bunga

Mari kita lihat kurva IS terlebih dahulu. Jumlah uang beredar tidak secara langsung mempengaruhi baik penawaran maupun permintaan akan barang. Dengan kata lain, M tidak muncul dalam hubungan IS. Jadi, perubahan M tidak menggeser kurva IS.

(hlm. 101)

Pengurangan Defisit: Baik atau Buruk bagi Investasi?

Ketika konsumsi turun lebih sedikit dari pendapatan, tabungan swasta juga turun. Dan hal itu mungkin turun lebih besar dari pengurangan defisit anggaran, yang mengakibatkan penurunan dan bukan peningkatan investasi. Dalam istilah persamaan di atas: Jika S turun lebih besar dari kenaikan T – G, maka I akan turun, bukan naik.

Singkatnya, kontraksi fiskal dapat menurunkan investasi. Atau dengan melihat kebijakan sebaliknya, ekspansi fiskal—penurunan pajak atau peningkatan pengeluaran—dapat meningkatkan investasi secara aktual.

Peningkatan uang menghasilkan suku bunga yang lebih rendah. Suku bunga yang lebih rendah menghasilkan peningkatan investasi dan, pada gilirannya, peningkatan permintaan dan output.

[Ekspansi moneter menghasilkan output yang lebih tinggi dan suku bunga yang lebih rendah.]

(hlm. 102)

5-4 Menggunakan Bauran Kebijakan

Kombinasi dari kebijakan moneter dan fiskal dikenal sebagai bauran kebijakan moneter-fiskal (monetary-fiscal policy mix), atau cukup bauran kebijakan (policy mix).

Kadang-kadang, bauran yang tepat adalah menggunakan dua kebijakan itu dalam arah yang berlawanan, seperti menggabungkan kontraksi fiskal dengan ekspansi moneter.

(hlm. 103)

Fokus: Resesi AS Tahun 2001

Apa yang memicu resesi adalah penurunan permintaan investasi yang tajam. Investasi nonresidensial—permintaan akan pabrik dan peralatan oleh perusahaan—menurun sebesar 4,5% pada tahun 2001. Penyebabnya adalah bagian dari apa yang Alan Greenspan, kepala Fed pada saat itu, katakan pada periode “kegembiraan irasional”: Selama bagian kedua dari tahun 1990-an, perusahaan telah menjadi sangat optimistik mengenai masa depan, dan tingkat investasi menjadi sangat tinggi—rata-rata pertumbuhan tingkat investasi dari tahun 1995 hingga 2000 melampaui 10%. Akan tetapi, pada tahun 2001 semakin nyata bahwa perusahaan terlalu optimistis dan telah berinvestasi terlalu banyak. Hal tersebut menyebabkan perusahaan memotong kembali investasi, yang menyebabkan penurunan permintaan dan, melalui multiplier, penurunan GDP.

(hlm. 105)

Pada kenyataannya, penurunan pengeluaran terjadi secara singkat dan terbatas. Penurunan suku bunga dana federal setelah 11 September—dan diskon yang besar oleh produsen mobil. Di kuartal akhir tahun 2001—yang dipercaya penting dalam mempertahankan kepercayaan konsumen dan pengeluaran konsumen selama periode tersebut.

(hlm. 106)

Strategi yang tepat adalah menggabungkan kontraksi fiskal (untuk menyingkirkan defisit) dengan ekspansi moneter (untuk memastikan bahwa permintaan dan output tetap tinggi). Ini adalah strategi yang diadopsi dan dilaksanakan oleh Bill Clinton (yang betanggung jawab atas kebijakan fiskal) dan Alan Greenspan (yang bertanggung jawab atas kebijakan moneter). Hasil dari strategi tersebut—dan sedikit keberuntungan ekonomi—adalah pengurangan defisit anggaran yang stabil (yang pada gilirannya menjadi surplus anggaran pada akhir tahun 1990-an) dan peningkatan output yang stabil selama sisa dekade.

(hlm. 107)

Studi tersebut membahas pengaruh keputusan oleh The Fed untuk meningkatkan suku bunga dana federal sebesar 1%.

Dua garis putus-putus dan ruang berwarna abu-abu di antara kedua garis tersebut menyajikan band kepercayaan (confidence band), yaitu band di mana nilai pengaruh sebenarnya terletak dengan probabilitas 60%.

  • Penurunan terbesar dalam penjualan ritel, yaitu -0,9% dicapai setelah lima kuartal.
  • Penurunan terbesar, yaitu -0,7% dicapai setelah delapan kuartal. Dengan kata lain, kebijakan moneter berjalan dengan baik, tetapi dengan rentang yang panjang. Diperlukan hampir dua tahun agar kebijakan moneter memiliki pengaruh penuh terhadap produksi.
  • Ketika memotong produksi, perusahaan juga memotong lapangan kerja. Begitu juga dengan output, penurunan lapangan kerja berjalan lambar dan stabil, yang mencapai -0,5% setelah delapan kuartal.
  • Tingkat harga hampir tidak berubah selama enam kuartal pertama. Hanya setelah enam kuartal pertama tingkat harga tampak turun.

Kedua, dan yang lebih fundamental, menunjukkan bahwa apa yang kita amati dalam ekonomi konsisten dengan implikasi dari model IS-LM. Ini tidak membuktikan bahwa model IS-LM adalah model yang tepat. Mungkin karena apa yang kita amati dalam ekonomi merupakan hasil dari mekanisme yang sama sekali berbeda, dan fakta bahwa model IS-LM sangat sesuai merupakan kebetulan. Namun hal tersebut tampaknya tidak mungkin. Model IS-LM tampak seperti dasar yang solid untuk membangun ketika membahas pergerakan aktivitas dalam jangka pendek. Kemudian, kita harus memperluas model untuk membahas peran ekspektasi (Bab 14 hingga 17) dan implikasi keterbukaan pasar barang dan keuangan (Bab 18 hingga 21). Namun, pertama kita harus memahami apa yang menentukan output dalam jangka menengah. Ini adalah topik dari empat bab selanjutnya.

(hlm. 112)

Hubungan LM diderivasi di apendiks memberikan kita hubungan antara suku bunga dan pendapatan jika bank sentral mengikuti aturan suku bunga (interest rate rule) tertentu, dan membiarkan jumlah uang beredar untuk disesuaikan sesuai kebutuhan.

(hlm. 113)

Jangka Menengah

(hlm. 115)

BAB 6

Pasar Tenaga Kerja

Pikirkan mengenai apa yang terjadi ketika perusahaan merespons peningkatan permintaan dengan meningkatkan produksi: Produksi yang lebih tinggi akan menciptakan lapangan kerja yang lebih tinggi.

Akan tetapi, begitu perhatian kita beralih ke jangka menengah, kita sekarang harus mengabaikan asumsi tersebut, mengeksplorasi bagaimana harga dan upah disesuaikan dengan berlalunya waktu, serta bagaimana hal tersebut, pada gilirannya, mempengaruhi output.

(hlm. 116)

6-1 Menjelajahi Pasar Tenaga Kerja

[Bekerja di rumah, seperti memasak atau membesarkan anak-anak, tidak diklasifikasikan sebagai bekerja dalam statistik resmi. Ini merupakan refleksi dari kesulitan mengukur aktivitas tersebut—bukan pertimbangan nilai mengenai apa yang membentuk pekerjaan dan apa yang tidak.]

(hlm. 117)

[dengan kata lain, dan mungkin cara yang lebih dramatis: Secara rata-rata, setiap hari di Amerika Serikat, sekitar 80.000 pekerja menjadi menganggur.]

Mengapa sedemikian banyak pemberhentian karyawan setiap bulan? Sekitar tiga perempat dari semua pemberhentian karyawan biasanya berupa pengunduran diri (quits)—pekerja meninggalkan pekerjaannya untuk mencari alternatif yang lebih baik. Sisanya yang seperempat adalah pemecatan atau PHK (layoffs).

(hlm. 118)

Current Population Survey

Current Population Survey (CPS) adalah sumber utama statistik tentang angkatan kerja, lapangan kerja, partisipasi, dan penghasilan di Amerika Serikat.

Ketika mulai diterapkan pada tahun 1940, CPS didasarkan pada wawancara terhadap 8.000 rumah tangga. Sampel terus bertambah, dan sekarang sudah sekitar 60.000 rumah tangga diwawancarai setiap bulan.

(hlm. 121)

6-2 Pergerakan dalam Pengangguran

Hubungan antara pergerakan dalam proporsi pekerja menganggur yang mendapatkan pekerjaan dan tingkat pengangguran adalah mengejutkan: Periode pengagguran yang lebih tinggi dihubungkan dengan proporsi pekerja menganggur yang mendapatkan pekerjaan jauh lebih rendah. Sebagai contoh, pada tahun 2010 di mana pengangguran mendekati 10%, hanya sekitar 18% dari orang menganggur yang mendapatkan pekerjaan dalam waktu satu bulan, dibandingkan dengan 28% pada tahun 2007, ketika pengangguran jauh lebih rendah.

(hlm. 122-123)

6-3 Penentuan Upah

Dewasa ini, tidak lebih dari 10% pekerja AS yang upahnya ditetapkan oleh tawar-menawar kolektif.

Tawar-Menawar

  • Sebaiknya, seorang pekerja berketerampilan tinggi yang mengetahui seluk beluk perusahaan beroperasi mungkin sangat sulit dan mahal untuk digantikan. Hal tersebut memberikannya daya tawar yang lebih besar. Jika ia meminta upah yang lebih tinggi, perusahaan mungkin memutuskan lebih baik mengabulkannya.
  • Jika tingkat pengangguran rendah, lebih sulit bagi perusahaan untuk mencari pekerja pengganti yang dapat diterima.

[Peter Diamond, Dale Mortensen, dan Christopher Pissarides menerima Hadiah Nobel tahun 2010 dalam bidang ekonomi karena memecahkan karakteristik pasar tenaga kerja dengan tawar-menawar upah dan arus yang besar.]

(hlm. 123)

Henry Ford dan Upah Efisiensi

Perusahaannya akan membayar semua karyawan yang memenuhi kualifikasi upah minimum sebesar $5 per hari selama delapan jam per hari. Ini merupakan kenaikan upah yang sangat besar bagi sebagian besar pekerja, yang telah menghasilkan rata-rata $2,30 selama sembilan jam per hari.

Akan tetapi, perusahaan jelas mengalami kesulitan untuk mempertahankan pekerjanya.

Tabel 1 Tingkat Perputaran Tahunan dan Pemecatan di Ford (%), 1913-1915
  1913 1914 1915
Tingkat perputaran 370 54 16
Tingkat pemecatan 62 7 0,1

Rata-rata tingkat absen (tidak ditunjukkan pada tabel), yang nyaris 10% pada tahun 1931, turun menjadi 2,5% satu tahun kemudian. Tidak ada keraguan bahwa upah yang lebih tinggi merupakan sumber utama perubahan tersebut.

Estimasi kenaikan produktivitas berkisar dari 30% hingga 50%. Meskipun upah lebih tinggi, laba juga lebih tinggi pada tahun 1914 dibanding tahun 1913. Akan tetapi, berapa besar peningkatan laba tersebut berasal dari perubahan perilaku pekerja dan berapa akibat peningkatan keberhasilan mobil Model-T sulit ditentukan.

Akan tetapi, Henry Ford mungkin juga memiliki tujuan lain, dari menyingkirkan serikat kerja—yang dilakukannya—demi menghasilkan publisitas bagi dirinya sendiri dan perusahaan—yang pasti diperolehnya.

Upah Efisiensi

Tanpa memandang daya tawar pekerja, perusahaan mungkin ingin membayar lebih dari upah reservasi. Perusahaan mungkin ingin pekerjanya produktif, dan upah yang lebih tinggi dapat membantunya mencapai tujuan tersebut.

(hlm. 124)

Sebagian besar perusahaan ingin pekerjanya merasa senang dengan pekerjaannya.

Para ekonom menyebut teori yang menghubungkan produktivitas atau efisiensi pekerja dengan upah yang dibayarkan sebagai teori upah efisiensi (efficiency wage theories).

Tingkat Harga yang Diharapkan

Mengapa tingkat harga mempengaruhi upah nominal? Jawabannya: Karena baik pekerja maupun perusahaan peduli dengan upah riil, bukan upah nominal.

Dengan cara yang sama, perusahaan tidak peduli dengan upah nominal yang dibayarkan tetapi dengan upah nominal (W) yang dibayarkan relatif terhadap harga barang yang dijual (P). Jadi, perusahaan juga peduli dengan W/P.

(hlm. 127)

6-5 Tingkat Pengangguran Alami

Hubungan Penetapan Upah

Semakin tinggi tingkat pengangguran, semakin rendah upah riil yang dipilih oleh para penetap upah. Intuisinya bersifat langsung: Semakin tinggi tingkat pengangguran, semakin lemah posisi tawar pekerja, dan semakin rendah upah riil.

(hlm. 129)

Ekuilibrium Upah Riil dan Pengangguran

Ekuilibrium tingkat pengangguran atau un disebut tingkat pengangguran alami (natural rate of unemployment) (inilah mengapa kita menggunakan huruf n untuk melambangkannya). Terminologi tersebut telah menjadi standar, sehingga kita akan menerapkannya, walaupun ini sebenarnya merupakan pilihan kata yang buruk.

[Pengangguran yang lebih tinggi adalah sarana yang memaksa upah untuk menyesuaikan diri dengan tingkat yang bersedia dibayarkan perusahaan.]

(hlm. 130)

Karena alasan tersebut, nama yang lebih baik bagi ekuilibrium tingkat pengangguran adalah tingkat pengangguran struktural (structural rate of unemployment), tetapi sejauh ini nama itu belum melekat.

Dari pengangguran ke Lapangan Kerja

Hal yang terkait dengan tingkat pengangguran alami adalah tingkat lapangan kerja alami (natural level of employment), tingkat lapangan kerja yang muncul ketika pengangguran sama dengan tingkat alaminya.

(hlm. 131)

Dari Lapangan Kerja ke Output

Terakhir, hal yang terkait dengan tingkat lapangan kerja alami adalah tingkat output alami (natural level of output), yaitu tingkat produksi ketika lapangan kerja sama dengan tingkat lapangan kerja alami.

6-6 Ke Mana Kita Pergi dari Sini

Kita baru saja melihat bagaimana ekuilibrium di pasar tenaga kerja menentukan ekuilibrium tingkat pengagguran (kita menyebutnya tingkat pengangguran alami), yang pada gilirannya menentukan tingkat output (kita menyebutnya tingkat output alami).

(hlm. 132)

Ringkasan

Secara rata-rata, setiap bulan, sekitar 47% pengangguran bergerak keluar dari pengangguran, baik untuk mengambil pekerjaan maupun keluar dari angkatan kerja.

(hlm. 136)

Ketika lapangan kerja meningkat, biaya produksi marjinal akan meningkat, yang memaksa perusahaan untuk meningkatkan harganya berdasarkan upah yang dibayar.

(hlm. 137)

BAB 7

Menempatkan Semua Pasar Bersama: Model AS-AD

Hubungan pertama, yang kita sebut hubungan penawaran agregat, mencakup implikasi ekuilibrium di pasar tenaga kerja; hubungan itu didasarkan pada apa yang Anda bahas di Bab 6.

Hubungan kedua, yang kita sebut hubungan permintaan agregat, mencakup implikasi ekuilibrium baik di pasar barang maupun pasar keuangan; hubungan itu didasarkan pada apa yang Anda bahas di Bab 5.

Bab ini menyajikan versi dasar dari model. Ketika dikonfrontasi dengan pertanyaan makroekonomi, ini adalah versi yang biasa kita gunakan untuk mengorganisir pikiran kita.

(hlm. 138)

7-1 Penawaran Agregat

Untuk suatu angkatan kerja tertentu, semakin tinggi output, semakin rendah tingkat pengangguran.

[Nama yang lebih baik adalah “hubungan pasar tenaga kerja.” Tetapi karena hubungan itu secara grafis seperti kurva penawaran (terdapat hubungan positif antara output dan harga), maka disebut “hubungan penawaran agregat.” Kita mengikuti tradisi ini.]

Untuk suatu angkatan kerja tertentu, semakin tinggi output, semakin rendah tingkat pengangguran.

(hlm. 139)

Properti pertama adalah bahwa, berdasarkan tingkat harga yang diharapkan, peningkatan output akan menimbulkan peningkatan tingkat harga.

Tingkat pengangguran yang lebih rendah menimbulkan peningkatan upah nominal.

Properti yang kedua adalah bahwa, berdasarkan pengangguran, peningkatan tingkat harga yang diharapkan menyebabkan, satu demi satu, peningkatan tingkat harga aktual.

Peningkatan upah nominal menimbulkan peningkatan biaya, yang menyebabkan peningkatan harga-harga yang ditetapkan oleh perusahaan dan tingkat harga yang lebih tinggi.

[Berdasarkan tingkat harga yang diharapkan, peningkatan output menimbulkan peningkatan tingkat harga.]

(hlm. 140)

Hubungan tersebut meyiratkan bahwa pada tingkat harga yang diharapkan tertentu, tingkat harga merupakan fungsi tingkat output yang meningkat. Hal itu direpresentasikan oleh kurva dengan kemiringan menaik, yang disebut kurva penawaran agregat.

(hlm. 141)

7-2 Permintaan Agregat

Peningkatan suku bunga menghasilkan penurunan output. Peningkatan output meningkatkan permintaan akan uang, dan suku bunga naik demi mempertahankan ekualitas permintaan uang dan jumlah uang beredar (tidak berubah).

[Peningkatan tingkat harga menghasilkan penurunan output.]

(hlm. 142)

[Nama yang lebih baik adalah “hubungan pasar keuangan dan pasar barang.” Akan tetapi, karena nama tersebut terlalu panjang, dan karena hubungan itu secara grafik tampak seperti kurva permintaan (yang berarti, hubungan negatif antara output dan harga), maka disebut hubungan permintaan agregat.” Kita kembali mengikuti tradisi.

(hlm. 143)

7-3 Ekuilibrium dalam Jangka Pendek dan Jangka Menengah

Hubungan AS              P = Pe (1 + m) F (1 –  , z)

Hubungan AD             Y = Y ( , G, T )

Ekuilibrium ditunjukkan oleh perpotongan kurva AS dan AD pada titik A. Jadi, di titik A, pasar barang, pasar keuangan, dan pasar tenaga kerja, semuanya berada dalam ekuilibrium.

(hlm. 145)

Dari Jangka Pendek ke Jangka Menengah

[Jika output di atas tingkat output alami, kurva AS bergeser ke atas dengan berlalunya waktu hingga output berada kembali ke tingkat output alami.]

Selama output melebihi output alami, tingkat harga ternyata lebih tinggi dari yang diharapkan. Ini menyebabkan penetap upah merevisi ekspektasinya mengenai tingkat harga ke atas, yang menyebabkan peningkatan tingkat harga. Peningkatan tingkat harga menimbulkan penurunan stok uang riil, yang menyebabkan peningkatan suku bunga, dan yang menyebabkan penurunan output. Penyesuaian akan berhenti ketika output sama dengan tingkat output alami. Pada titik tersebut, tingkat harga sama dengan tingkat harga yang diharapkan, ekspektasi tidak lagi berubah, dan output tetap pada tingkat output alami. Dengan kata lain, dalam jangka menengah, output kembali ke tingkat output alami.

(hlm. 146)

Dalam jangka pendek, output dapat berada di atas atau di bawah tingkat output alami. Perubahan dalam setiap variabel yang terlibat pada hubungan penawaran agregat atau hubungan permintaan agregat akan menyebabkan perubahan output dan perubahan tingkat harga.

[Dalam jangka pendek, Y ≠ Y n*]

Dalam jangka menengah, pada akhirnya output kembali ke tingkat output alami. Penyesuaian dilakukan melalui perubahan tingkat harga. Jika output berada di atas tingkat output alami, tingkat harga meningkat. Tingkat harga yang lebih tinggi akan menurunkan permintaan dan output. Jika output berada di bawah tingkat output alami, tingkat harga menurun, yang meningkatkan permintaan dan output.

[Dalam jangka menengah, Y = Y n*]

(hlm. 147)

[Peningkatan uang nominal pada awalnya menggeser kurva LM ke bawah, yang menurunkan suku bunga dan meningkatkan output. Dengan berlalunya waktu, tingkat harga meningkat, yang menggeser kurva LM kembali ke atas hingga output kembali ke tingkat output alami.

(hlm. 148-150)

Netralitas Uang

  • Dalam jangka pendek, ekspansi moneter menimbulkan peningkatan output, penurunan suku bunga, dan peningkatan tingkat harga.

[Secara aktual, cara proposisi dinyatakan adalah bahwa uang bersifat netral dalam jangka panjang. Ini karena banyak ekonom menggunakan “jangka panjang” untuk merujuk apa yang kita sebut “jangka menengah” dalam buku ini.]

  • Dalam jngka menengah, peningkatan uang nominal direfleksikan sepenuhnya dalam peningkatan tingkat harga yang proporsional. Peningkatan uang nominal tidak mempengaruhi output atau suku bunga.

Sebagai contoh, kebijakan moneter ekspansioner dapat membantu ekonomi bergerak keluar dari resesi dan kembali dengan lebih cepat ke tingkat output alami.

(hlm. 149)

Berapa Lama Pengaruh Riil Uang akan Bertahan?

Untuk menentukan berapa lama pengaruh riil uangakan bertahan, para ekonom menggunakan model makroekonometri. Model tersebut merupakan versi skala yang lebih besar dari model penawaran agregat dan permintaan agregat di bab ini.

Model yang kita bahas di kotak ini dibuat pada awal tahun 1990-an oleh John Taylor, di Stanford University.

Simulasi membahas pengaruh peningkatan uang nominal sebesar 3% selama tahun pertama, yang terjadi selama empat kuartal—0,1% di kuartal pertama, 0,6% di kuartal kedua, 1,2% di kuartal ketiga, dan 1,1% di kuartal keempat. Setelah keempat langkah tersebut uang nominal tetap naik pada tingkat yang lebih tinggi yang baru selamanya.

(gambar 1) Pengaruh Ekspansi Uang Nominal dalam Model Taylor.

(hlm. 151)

7-5 Penurunan Defisit Anggaran

Hasil ini berasal dari fakta bahwa kita membahas ekonomi di mana pertumbuhan uang adalah nol—kita mengasumsikan bahwa M adalah konstan, tidak tumbuh—dan tidak ada inflasi yang berkelanjutan.

(hlm. 152)

Defisit Anggaran, Output, dan Investasi

Dalam jangka pendek, pengurangan defisit anggaran, jika diimplementasikan sendiri—yaitu tanpa disertai perubahan kebijakan moneter—yang menimbulkan penurunan output dan mungkin menimbulkan penurunan investasi.

Perhatikan kualifikasi “tanpa disertai perubahan kebijakan moneter”: Pada prinsipnya, pengaruh jangka pendek yang negatif tersebut terhadap output dapat dihindari dengan menggunakan bauran kebijakan moneter-fiskal yang tepat. Apa yang diperlukan adlah bank sentral meningkatkan jumlah uang beredar yang cukup untuk meng-offset pengaruh buruk dari penurunan pengeluaran pemerintah terhadap permintaan agregat. Inilah yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1990-an. Ketika pemerintahan Clinton mengurangi defisit anggaran, The Fed memastikan bahwa, bahkan dalam jangka pendek, pengurangan defisit tidak akan menimbulkan resesi dan output yang lebih rendah.

Dalam jangka menengah, output kembali ke tingkat output alami, dan suku bunga lebih rendah. Dalam jangka menengah, pengurangan defisit jelas akan menimbulkan peningkatan investasi.

(hlm. 153)

Kenaikan suku bunga tabungan swasta—yang berarti, konsumsi yang lebih rendah pada tingkat pendapatan disposabel (disposable income) yang sama—menurunkan permintaan dan output dalam jangka pendek, sementara output tidak berubah dalam jangka menengah, dan, melalui peningkatan modal saham dari investasi yang meningkat, akan meningkatkan output dalam jangka panjang.

[Selama 40 tahun terakhir, terdapat tiga tahap peningkatan harga minyak riil. Dua peningkatan pertama terjadi pada tahun 1970-an. Yang lebih terkini terjadi pada tahun 2000-an, hingga krisis melanda.

(hlm. 154)

7-6 Kenaikan Harga Minyak

Apa yang memicu kenaikan yang besar tersebut? Pada tahun 1970-an, faktor utamanya adalah pembentukan OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries), sebuah kartel produsen minyak yang mampu bertindak memonopoli dan menaikkan harga, serta kekacauan akibat perang dan revolusi di Timur Tengah. Pada tahun 2000-an, faktor utamanya cukup berbeda, terutama pertumbuhan yang cepat di ekonomi yang baru bangkit, terutama Tiongkok, yang menyebabkan cepatnya kenaikan permintaan dunia akan minyak dan, sebagai akibatnya, peningkatan harga minyak riil yang stabil.

Harga minyak terlibat baik dalam hubungan penawaran agregat kita maupun hubungan permintaan agregat kita!

(hlm. 155)

[Kenaikan harga minyak menyebabkan upah riil yang lebih rendah dan tingkat pengangguran alami yang lebih tinggi.]

(hlm. 156)

[Kenaikan harga minyak menimbulkan, dalam jangka pendek, penurunan output dan peningkatan tingkat harga. Dengan berlalunya waktu, output turun lebih jauh dan tingkat harga meningkat lebih jauh.]

(hlm. 157)

Kenaikan Harga Minyak: Mengapa Tahun 2000-an Sangat Berbeda dengan Tahun 1970-an?

Pada tahun 1970-an, bukan hanya harga minyak yang meningkat, tetapi juga banyak harga bahan baku lainnya. Ini menyiratkan bahwa hubungan penawaran agregat bergeser naik sebesar lebih dari yang tersirat oleh hanya kenaikan harga minyak, dan demikian juga pengaruh buruknya terhadap output lebih kuat dari tahun 2000-an.

Pertama, di kedua periode, seperti yang diprediksi oleh model kita, kenaikan harga minyak menimbulkan peningkatan CPI dan penurunan GDP. Kedua, pengaruh kenaikan harga minyak baik terhadap CPI maupun GDP telah menjadi lebih kecil, yaitu sekitar setengah dari sebelumnya.

Hipotesis pertama adalah bahwa, saat ini, pekerja AS memiliki daya tawar yang lebih kecil dari yang mereka miliki pada tahun 1970-an. Jadi, ketika harga minyak naik, pekerja akan bersedia menerima pengurangan upah, yang membatasi pergeseran kurva penawaran agregat ke atas, sehingga membatasi pengaruh buruk terhadap tingkat harga dan terhadap output.

Hipotesis kedua berkenaan dengan kebijakan moneter. Ketika harga minyak naik pada tahun 1970-an, orang mulai memperkirakan harga-harga secara umum akan lebih tinggi, dan Pe meningkat secara dramatis. Hal itu mengakibatkan pergeseran lebih lanjut dari kurva penawaran agregat, yang menimbulkan peningkatan yang lebih besar atas tingkat harga dan penurunan output yang lebih besar.

(hlm. 158)

Ringkasan kesimpulannya adalah: Kenaikan harga minyak masih menurunkan output dan meningkatkan inflasi. Karena penggunaan minyak dalam produksi menurun, karena perubahan pasar tenaga kerja, dan karena perbaikan dalam pelaksanaan kebijakan moneter, pengaruh kenaikan harga minyak baik terhadap output maupun inflasi lebih kecil pada tahun 2000-an dari tahun 1970-an.

(hlm. 159)

7-7 Kesimpulan

Salah satu pesan kunci dari bab ini adalah bahwa perubahan kebijakan umumnya memiliki pengaruh yang berbeda dalam jangka pendek dan jangka menengah. Hasil utama dari bab ini diringkas di Tabel 7-1. Sebagai contoh, ekspansi moneter mempengaruhi output dalam jangka pendek tetapi tidak dalam jangka menengah. Dalam jangka pendek, pengurangan defisit anggaran enurunkan output dan menurunkan suku bunga serta mungkin menurunkan investasi. Akan tetapi, dalam jangka menengah, suku bunga akan turun dan output kembali ke tingkat output alami, serta investasi akan meningkat.

Akan tetapi, jika fokus Anda tertuju pada jangka menengah atau jangka panjang, Anda akan melihat konsolidasi sebagai investasi yang bermanfaat dan pada akhirnya, melalui akumulasi modal yang lebih tinggi, meningkatkan output.

Gejolak dan Mekanisme Penyebarluasan

Bab ini juga memberikan Anda cara berpikir mengenai fluktuasi output (output fluctuations) (kadang-kadang disebut siklus bisnis (business cycles)) —pergerakan output di sekitar trennya (tren yang kita abaikan sejauh ini tetapi akan menjadi fokus kita di Bab 10 hingga 13).

(hlm. 165)

BAB 8

Kurva Phillips, Tingkat Pengangguran Alami, dan Inflasi

Pada tahun 1958, A. W. Phillips membuat diagram yang memplot tingkat inflasi terhadap tingkat pengangguran di Inggris untuk setiap tahun dari tahun 1861 hinga 1957. Ia menemukan bukti yang jelas tentang hubungan negatif antara inflasi dan pengangguran: Ketika pengangguran rendah, inflasi tinggi, dan ketika pengangguran tinggi, inflasi rendah, bahkan sering kali negatif.

Dua tahun kemudian, Paul Samuelson dan Robert Solow mengulangi percobaan Phillips di Amerika Serikat, dengan menggunakan data dari tahun 1900 hingga 1960. Gambar 8-1 mereproduksi temuannya dengan menggunakan inflasi CPI sebagai ukuran tingkat inflasi. Selain dari periode pengangguran yang sangat tinggi selama tahun 1930-an (dari tahun 1931 hingga 1939 dilambangkan oleh segitiga dan berada di kanan gambar), juga tampak hubungan negatif antara inflasi dan pengangguran di Amerika Serikat.

Akan tetapi, pada tahun 1970-an hubungan ini berakhir. Di Amerika Serikat dan sebagian besar negara OECD, terjadi baik inflasi yang tinggi maupun pengangguran yang tinggi, yang secara jelas berlawanan dengan kurva Phillips yang asli.

Saat ini di Amerika Serikat, pengangguran yang tinggi umumnya tidak menimbulkan inflasi yang rendah, tetapi penurunan inflasi dengan berlalunya waktu. Sebaliknya, pengangguran yang rendah tidak menimbulkan inflasi yang tinggi, tetapi peningkatan inflasi dengan berlalunya waktu.

Anda akan melihat bahwa apa yang ditemukan Phillips adalah hubungan penawaran agregat, dan bahwa mutasi kurva Phillips berasal dari perubahan cara orang dan perusahaan membentuk ekspektasi.

(hlm. 169)

8-2 Kurva Phillips

Titik-titik yang tersebar di awan yang secara kasar simetris: Tidak terdapat hubungan yang nyata antara tingkat pengangguran dan tingkat inflasi.

Mengapa kurva Phillips yang asli hilang? Terdapat dua alasan utama:

  • Amerika Serikat mengalami dua kali kenaikan harga minyak yang besar pada tahun 1970-an (lihat Bab 7). Pengaruh dari kenaikan biaya nontenaga kerja ini telah memaksa perusahan untuk meningkatkan harganya relatif terhadap upah yang dibayarkan—dengan kata lain, untuk meningkatkan markup m. Seperti ditunjukkan oleh persamaan (8.3), peningkatan m menimbulkan peningkatan inflasi, bahkan pada tingkat pengangguran tertentu, dan ini terjadi dua kali pada tahun 1970-an. Akan tetapi, alasan utama rusaknya hubungan kurva Phillips ada di tempat lain.
  • Penetap upah mengubah caranya membentuk ekspektasi mereka. Perubahan ini adalah sebagai akibatnya dari perubahan perilaku inflasi. Lihat Gambar 8-4, yang menunjukkan tingkat inflasi AS sejak tahun 1914. Dimulai pada tahun 1960-an (dekade yang diberi raster pada gambar), Anda dapat melihat perubahan yang jelas dalam perilaku tingkat inflasi.
  • Keparahan inflasi itu menyebabkan pekerja dan perusahaan merevisi caranya membentuk ekspektasi.

(hlm. 172)

Untuk membedakannya dari kurva Phillips awal (persamaan (8.4)), persamaan (8.6) atau padanan empirisnya, persamaan (8.7) sering kali disebut kurva Phillps yang dimodifikasi (modified Phillips curve), atau kurva Phillips yang dilengkapi dengan ekspektasi (expectations-augmented Phillips curve) (untuk mengindikasikan bahwa π t-1 merupakan inflasi yang diharapkan), atau accelerationist Phillips curve (untuk mengindasikan bahwa tingkat pengangguran yang rendah akan menimbulkan peningkatan tingkat inflasi sehingga tercipta akselerasi tingkat harga).

Kurva Phillips dan Tingkat Pengangguran Alami

Pada akhir tahun 1960-an, meskipun kurva Phillips masih memberikan deskripsi yang baik mengenai data, dua ekonom, Milton Friedman dan Edmund Phelps, mempertanyakan keberadaan trade-off semacam itu antara pengangguran dan inflasi.

(hlm. 173)

Mereka mempertanyakannya atas dasar logika, dengan berargumen bahwa trade-off semacam itu hanya ada jika penetap upah secara sistematis memprediksi terlalu rendah inflasi, dan bahwa mereka tidak mungkin membuat kesalahan yang sama selamanya. Friedman dan Phelps juga berpendapat bahwa jika pemerintah berusaha mempertahankan pengangguran yang rendah dengan menerima inflasi yang lebih tinggi, trade-off pada akhirnya akan menghilang: sementara tingkat yang mereka sebut “tingkat pengangguran alami.” Peristiwa yang terjadi membuktikan bahwa mereka benar, dan trade-off antara tingkat pengangguran dan tingkat inflasi pasti menghilang. (Lihat kotak Fokus “Teori mendahului Fakta: Milton Friedman dan Edmund Phelps.”) Dewasa ini, sebagian besar ekonom menerima pemikiran bahwa tingkat pengangguran alami—subjek yang mendapat banyak keberatan yang akan kita bahas di bagian berikutnya.

Tingkat pengangguran alami adalah tingkat pengangguran yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat inflasi yang konstan. Inilah mengapa tingkat alami juga disebut non-accelerating inflation rate of unemployment, atau NAIRU.

(hlm. 174)

Teori Mendahului Fakta: Milton Friedman dan Edmund Phelps

Para ekonom biasanya tidak terlalu baik dalam memprediksi perubahan besar sebelum hal itu terjadi, dan sebagian besar wawasannya dihasilkan setelah fakta. Berikut adalah pengecualian.

Misalkan, sebaliknya, bahwa semua orang mengantisipasi bahwa harga akan naik pada tingkat lebih dari 75% per tahun—seperti, misalnya, yang dilakukan oleh orang Brazil beberapa tahun yang lalu. Jadi, upah harus naik pada tingkat yang hanya akan membuat upah riil tidak berubah. Kelebihan penawaran tenaga kerja [yang Friedman maksudkan adalah pengangguran yang tinggi] akan direfleksikan dalam peningkatan upah nominal yang tidak terlalu cepat ketimbang harga yang diantisiasi, bukan penurunan upah absolut.

“Untuk menyatakan kesimpulan [saya] secara berbeda, selalu ada trade-off sementara antara inflasi dan pengangguran; tidak ada trade-off yang permanen. Trade-off sementara bukan berasal dari inflasi, tetapi dari tingkat inflasi yang meningkat.”

“Akan tetapi, berapa lama, Anda akan mengatakan “sementara”? …….Saya setidaknya dapat memberikan pertimbangan pribadi, berdasarkan beberapa pemeriksaan atas bukti historis, bahwa pengaruh awal dari tingkat inflasi yang lebih tinggi dan tidak diantisipasi selama dua hingga lima tahun; pengaruh awal tersebut kemudian mulai berbalik; dan penyesuaian penuh terhadap tingkat inflasi baru memerlukan waktu yang sama lamanya dengan lapangan kerja serta suku bunga, katakan, beberapa dekade.”

Penetapan perubahan inflasi sama dengan nol dalam persamaan tersebut menyiratkan nilai tingkat pengangguran alami sebesar 3,3%/0,55 = 6%. Dalam kata-kata: Bukti yang ada menunjukkan bahwa, sejak tahun 1970 di Amerika Serikat, rata-rata tingkat pengangguran yang diperlukan demi mempertahankan inflasi yang konstan adalah sama dengan 6%.

(hlm. 175)

Netralitas Uang, Dikunjungi Kembali

Ini merupakan hasil yang penting: Dalam jangka menegah, tingkat inflasi ditentukan oleh tingkat pertumbuhan uang. Milton Friedman menempatkannya dengan cara berikut: Inflasi selalu dan di mana pun merupakan sebuah fenomena moneter. Seperti kita lihat, faktor-faktor seperti kekuatan monopoli perusahaan, serikat pekerja yang kuat, pemogokkan, defisit fiskal, dan kenaikan harga minyak mempengaruhi tingkat harga dan, sebagai implikasinya, mempengaruhi inflasi dalam jangka pendek. Akan tetapi, kecuali mempengaruhi tingkat pertumbuhan uang, faktor-faktor itu tidak mempengaruhi inflasi dalam jangka menengah.

8-3 Ringkasan dan Banyak Peringatan

(hlm. 177)

Apa yang Menjelaskan Pengangguran Eropa?

  • Sistem asuransi pengangguran yang murah hati.

Hal itu menurunkan insentif yang dimiliki para penganggur untuk mencari pekerjaan. Hal itu juga mungkin meningkatkan upah yang harus dibayarkan perusahaan.

  • Tingkat proteksi lapangan kerja yang tinggi.

Bukti yang ada menunjukkan bahwa, meskipun proteksi lapangan kerja tidak selalu meningkatkan pengangguran, hal itu mengubah sifatnya: Aliran masuk dan keluar pengangguran menurun, tetapi durasi rata-rata pengangguran meningkat. Durasi yang lama tersebut meningkatkan risiko bahwa penganggur akan kehilangan keterampilan dan moral, yang menurunkan kemampuannya untuk dipekerjakan.

  • Upah minimum. Sebagian besar negara Eropa memiliki upah minimum nasional. Dan di beberapa negara, rasio upah minimum terhadap upah median dapat cukup tinggi.
  • Aturan tawar-menawar. Di sebagian besar negara Eropa, kontrak tenaga kerja merupakan subjek dari perjanjian perluasan. Ini dapat memperkuat daya tawar serikat pekerja, yang dapat mengurangi lingkup persaingan oleh perusahaan yang tidak memiliki serikat pekerja.

Apakah institusi pasar tenaga kerja tersebut benar-benar menjelaskan tingkat pengangguran yang tinggi di Eropa? Apakah kasus tersebut bersifat terbuka dan tertutup? Tidak sepenuhnya.

Fakta 1: Pengangguran tidak selalu tinggi di Eropa. Pada tahun 1960-an, tingkat pengangguran di empat negara utama Eropa tengah lebih rendah dari di Amerika Serikat, sekitar 2-3%. Para ekonom di AS akan melintasi lautan untuk mempelajari “keajaiban pengangguran di Eropa”! Tingkat pengangguran alami di negara-negara tersebut saat ini adalah sekitar 8-9%.

Salah satu hipotesisnya adalah bahwa institusi yang ada berbeda saat itu, dan bahwa kekakuan pasar tenaga kerja hanya muncul dalam 40 tahun terakhir. Akan tetapi, bukan itu kasusnya. Memang benar bahwa, sebagai respons terhadap gejolak negatif di tahun 1970-an (secara khusus dua resesi mengikuti kenaikan harga minyak), banyak pemerintah di Eropa meningkatkan besarnya asuransi pengangguran dan tingkat proteksi lapangan kerja. Namun, bahkan di tahun 1960-an, institusi pasar tenaga kerja di Eropa tidak tampak seperti institusi pasar tenaga kerja di AS Proteksi sosial jauh lebih tinggi di Eropa; tetapi pengangguran lebih rendah.

Beberapa institusi pasar tenaga kerja mungkin bersikap lunak di beberapa lingkungan, tetapi sangat mahal di yang lainnya.

Fakta 2: Hingga dimulainya krisis saat ini, sejumlah negara Eropa sebenarnya memiliki pengangguran yang rendah.

Seperti dapat Anda lihat, tingkat pengangguran tinggi di empat negara kontinental besar: Prancis, Spanyol, Jerman, dan Italia. Tetapi perhatikan betapa rendah tingkat pengangguran di beberapa negara lain, terutama di Denmark, Irlandia, dan Belanda.

(hlm. 178)

Jika demikian apa yang disimpulkan? Sebuah konsensus yang muncul di antara para ekonom adalah bahwa si jahat terlibat: Proteksi sosial yang besar konsisten dengan pengangguran yang rendah. Akan tetapi, hal itu harus disediakan secara efisien. Sebagai contoh, tunjangan pengangguran dapat berjumlah besar, selama pengangguran, pada waktu yang sama, dipaksa untuk menerima pekerjaan jika pekerjaan semacam itu tersedia.

Menciptakan insentif bagi orang yang menganggur untuk menerima pekerjaan dan menyederhanakan aturan proteksi lapangan kerja merupakan agenda reformasi di banyak pemerintah Eropa. Seseorang mungkin berharap mereka akan menghasilkan penurunan tingkat alami di masa mendatang.

[Pastikan untuk membedakan antara deflasi: penurunan tingkat deflasi: penurunan tingkat harga (secara ekuivalen, inflasi negatif), dan disinflasi: penurunan tingkat inflasi.

(hlm. 179)

Perubahan Tingkat Pengangguran Alami sejak Tahun 1990

Dari tahun 2000 hingga 2007, rata-rata tingkat pengangguran adalah di bawah 5%, dan inflasi tetap stabil. Jadi, tampak bahwa tingkat alami adalah sekitar 5%, sehingga sekitar 2% lebih rendah dari tingkat di tahun 1980-an.

Peningkatan peran situs pekerjaan berdasarkan internet, seperti Monster,com, juga membuat penandingan pekerjaan dan pekerja menjadi lebih mudah, yang menghasilkan pengangguran yang lebih rendah.

  • Populasi AS yang menua. Proporsi pekerja muda (pekerja antara usia 16 dan 24) turun dari 24% di tahun 1980 menjadi 14% di tahun 2006.
  • Peningkatan tingkat penahanan. Proporsi populasi di penjara telah menjadi berlipat tiga dalam 20 tahun terakhir di Amerika Serikat. Pada tahun 1980, sebesar 0,3% dari populasi usia pekerja AS berada di penjara. Pada tahun 2006, proporsinya telah meningkat menjadi 1,0%. Karena banyak dari mereka yang berada di penjara kemungkinan besar akan menganggur jika tidak ditahan, hal ini mungkin mempengaruhi tingkat pengangguran.

Mekanisme di mana hal ini mungkin terjadi dikenal sebagai hysteresis (dalam ilmu ekonomi, hysteresis digunakan untuk mengartikan bahwa, setelah terjadi gejolak, suatu variabel tidak kembali ke nilai awalnya, meskipun gejolak tersebut telah hilang).

Seperti kita lihat di Bab 6, pada tahun 2010, rata-rata durasi pengangguran adalah 33 minggu, sebuah angka yang luar biasa tinggi menurut standar historis. Empat puluh tiga persen dari pengangguran telah menganggur selama lebih dari enam bulan, sementara 28% selama lebih dari satu tahun.

Beberapa ekonom berpendapat bahwa disinflasi sebenarnya mungkin jauh lebih murah.

(hlm. 180)

Namun Thomas Sargent, yang mempertimbangkan bukti historis pada akhir beberapa inflasi yang sangat tinggi, menyimpulkan bahwa peningkatan pengangguran mungkin kecil. Bahan penting dari disinflasi yang berhasil, menurutnya, adalah kredibilitas (credibility) kebijakan moneter—keyakinan penetap upah bahwa bank sentral sepenuhnya berkomitmen untuk mengurani inflasi. Hanya kredibilitas yang akan menyebabkan penetap upah mengubah caranya membentuk ekspektasi mereka.

Pada bulan September 1979, Paul Volcker mulai meningkatkan suku bunga untuk memperlambat ekonomi dan mengurangi inflasi. Dari 9% di tahun 1979, suku bunga Treasury bill tiga bulan meningkat menjadi 15%pada bulan Agustus 1981. Pengaruhnya terhadap inflasi, pertumbuhan output, dan pengangguran ditunjukkan di Tabel 8-1. Tabel tersebut memastikan bahwa tidak ada keajaiban kredibilitas: Disinflasi diasosiasikan dengan resesi yang tajam, dengan pertumbuhan yang negatif baik di tahun 1980 maupun 1982, dan dengan peningkatan drastis serta berjangka panjang dalam pengangguran. Rata-rata tingkat pengangguran di atas 9% baik di tahun 1982 maupun 1983, yang mencapai puncaknya sebesar 10,8% di bulan Desember 1982.

(hlm. 181)

Setelah meningkatkan suku bunga dari bulan September 1979 hingga April 1980 dan menyebabkan penurunan pertumbuhan yang tajam, Volcker menjalankan rencana kedua, yaitu berbalik arah dan menurunkan secara drastis suku bunga dari bulan April hingga September, hanya untuk meningkatkannya lagi di tahun 1981. Kurangnya konsistensi ini, menurut beberapa orang, mengurangi kredibilitasnya dan meningkatkan biaya pengangguran dari disinflasi. Pelajaran yang lebih penting masih berlaku: Perilaku inflasi sangat bergantung kepada bagaimana orang dan perusahaan membentuk ekspektasi. Kritik Lucas masih berlaku: Hubungan masa lalu antara pengangguran dan inflasi mungkin merupakan pedoman yang buruk atas apa yang terjadi ketika kebijakan berubah.

[Secara lebih konkret: Ketika inflasi rata-rata sebesar 3% setahun, penetap upah sangat yakin inflasi akan berada antara 1% dan 5%. Ketika inflasi rata-rata sebesar 30% setahun, penetap upah sangat yakin bahwa inflasi akan berada antara 20% dan 40%. Dalam kasus pertama, upah riil mungkin berakhir 2% lebih tinggi atau lebih rendah dari yang diharapkan ketika mereka menetapkan upah nominal. Di kasus kedua, upah riil mungkin berakhir 10% lebih tinggi atau lebih rendah dari yang diharapkan. Terdapat ketidakpastian yang lebih besar di kasus kedua.

(hlm. 187)

BAB 9

Krisis

Suku bunga yang dikendalikan secara langsung oleh bank sentral mendekati nol dan tidak dapat turun lebih lanjut: Banyak perekonomian masuk dalam “perangkap likuiditas.” Ekspansi fiskal, dan penurunan pendapatan pemerintah dari output yang lebih rendah, telah menimbulkan peningkatan utang publik yang besar dan mengkhawatirkan.

(hlm. 188)

9-1 Dari Masalah Perumahan hingga Krisis Keuangan

Harga Perumahan dan Hipotek Subprime

Gambar 9-1 menunjukkan evolusi indeks harga perumahan di AS dari tahun 2000. Indeks itu dikenal sebagai indeks Case-Shiller, yaitu berdasarkan dua nama ekonom yang telah membuatnya.

(hlm. 189)

Hipotek tersebut, yang dikenal sebagai hipotek subprime, atau subprimes untuk singkatnya, telah ada sejak pertengahan tahun 1990-an tetapi baru menjadi lebih lazim di tahun 2000-an. Pada tahun 2006, sekitar 20% dari semua hipotek AS adalah subprime.

(hlm. 190)

Peran Bank

Masalah yang dihadapi bank dalam kasus ini bukanlah solvensi, tetapi ilikuiditas. Bank masih solven, tetapi ilikuid.

(hlm. 191)

Leverage

Kedua, sistem kompensasi dan bonus juga memberikan insentif bagi manajer untuk mencari pengembalian yang diharapkan yang tinggi tanpa sepenuhnya memperhitungkan risiko kebangkrutan.

Kompleksitas

Jika memiliki portofolio atau hipotek yang lebih terdiversifikasi, misalkan hipotek dari berbagai penjuru AS, bank tersebut mungkin terhindar dari kebangkrutan.

Inilah ide dibalik sekuritisasi. Sekuritisasi adalah penciptaan sekuritas berdasarkan jaminan sekumpulan aset (sebagai contoh, sejumlah pinjaman, atau sekompulan hipotek). Misalnya, sekuritas berdasarkan hipotek (mortgage-based security = MBS) adalah hak atas pengembalian dari sekumpulan hipotek, dengan jumlah hipotek yang mendasarinya sering kali bernilai puluhan ribu dolar. Keunggulannya adalah banyak investor, yang tidak ingin memegang hipotek individual, bersedia membeli dan memegang sekuritas tersebut. Peningkatan pasokan dana dari investor ini pada akhirnya akan menurunkan biaya pinjaman.

Sebagai contoh, kita dapat menerbitkan dua jenis sekuritas: sekuritas senior (senior securities), yang memiliki klaim pertama terhadap pengembalian dari sekumpulan aset tersebut, dan sekuritas junior (junior securities), yang datang setelahnya dan hanya dibayar jika ada yang tersisa setelah sekuritas senior telah dibayarkan. Sekuritas senior akan menarik investor yang menginginkan risiko yang kecil; sementara sekuritas junior akan menarik bagi investor yang bersedia mengambil risiko yang lebih besar. Sekuritas semacam itu, yang dikenal sebagai kewajiban utang yang dijamin (collateralized debt obligations = CDO), pertama kali diterbitkan pada akhir tahun 1980-an tetapi, sekali lagi, semakin penting pada tahun 1990-an dan 2000-an. Sekuritisasi kemudian melangkah lebih jauh, melalui penciptaan CDO yang didasarkan pada CDO yang diciptakan sebelumnya, atau CDO2. Dan masih akan terus melangkah lebih jauh lagi.

(hlm. 192)

Meningkatkan Leverage dan Berbagai Singkatan Rumit Terkait: SIV, AIG, dan CDS

Jika bank melakukan operasi tersebut sendiri, operasi itu akan muncul di neracanya dan menjadi subjek dari regulasi persyaratan modal, yang memaksanya untuk memegang cukup banyak modal demi membatasi risiko kebangkrutan.

Jadi sebenarnya bank telah menciptakan sistem perbankan bayangan (shadow banking system), dan bahwa leverage dari sistem perbankan secara keseluruhan (yang mencakup bagian perbankan bayangan) jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan.

AIG tidak hanya akan menjual asuransi reguler, tetapi juga asuransi atas risiko gagal bayar, melalui penjualan credit default swaps, atau CDS untuk singkatannya. Jika merasa khawatir dengan risiko gagal bayar atas sekuritas yang dipegangnya dalam portofolio, bank dapat membeli CDS dan AIG yang berjanji membayar bank sehubungan dengan gagal bayar atas sekuritas tersebut.

AIG, sebagai perusahaan asuransi dan buka sebuah bank, tidak harus memegang modal atas janji yang dibuatnya.

Seperti akan kita lihat di bawah, pemerintah AS memutuskan akan menyediakan dana bagi AIG untuk melakukan pembayaran atas CDS. Pilihan lainnya bukan hanya mengakibatkan kebangkrutan AIG, tetapi juga potensi gagal bayar oleh banyak bank yang memiliki CDS.

(hlm. 195)

9-2 Penggunaan dan Pembatasan Kebijakan

Respons Kebijakan Awal

Untuk mencegah penarikan oleh depositor, jaminan simpanan federal ditingkatkan dari $100.000 menjadi $250.000 per rekening.

(hlm. 196)

Jika aset yang kompleks tersebut akan ditukar dengan, misalkan Treasury bills, pada harga berapa pertukaran itu harus dilakukan? Dalam waktu beberapa minggu, terlihat bahwa tugas mengukur nilai setiap aset tersebut sangatlah sulit dan akan memerlukan waktu yang lama, sehingga tujuan awalnya menjadi terlupakan.

(hlm. 197)

Program fiskal semacam itu, yang disebut American Recovery and Reinvestment Act, diluncurkan pada bulan Februari 2009. Program itu mengeluarkan langkah-langkah baru senilai $780 miliar, dala bentuk pengurangan pajak maupun peningkatan pengeluaran, selama tahun 2009 2010. Defisit anggaran AS naik dari 1,7% dari GDP pada tahun 2007 menjadi sangat tinggi 9,0% pada tahun 2010.

(hlm. 199)

Batasan Kebijakan Moneter: Perangkap Likuiditas

Jika suku bunga sama dengan nol, kebijakan moneter ekspansioner menjadi tidak berguna. Atau untuk menggunakan kata-kata Keynes, siapa yang pertama menunjukkan masalah, yaitu peningkatan uang akan masuk ke dalam perangkap likuiditas (liquidity trap): orang bersedia memegang lebih banyak uang (lebih banyak likuiditas) pada suku bunga yang sama.

(hlm. 200)

Jika suku bunga sama dengan nol, ekonomi masuk dalam perangkap likuiditas: Bank sentral dapat meningkatkan likuiditas—yang berarti meningkatkan jumlah uang beredar. Akan tetapi, likuiditas tersebut masuk dalam perangkap: Tambahan uang yang bersedia dipegang orang pada suku bunga yang tidak berubah, sebut saja nol. Jika, pada suku bunga nol tersebut, permintaan akan barang masih terlalu rendah, maka tidak ada kebijakan moneter konvensional lanjutan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan output.

Dalam model IS-LM sederhana yang disajikan di Bab 5, hanya ada satu jenis obligasi dan satu suku bunga, sehingga sejak suku bunga tersebut turun menjadi nol, tidak ada hal lain yang dapat dilakukan oleh kebijakan moneter. Akan tetapi, dalam kenyataannya, ada banyak jenis obligasi dan banyak suku bunga. Beberapa suku bunga tersebut lebih tinggi dari suku bunga T-bills. Hal ini menunjukkan kebijakan moneter tidak konvensional berikut: Ketimbang membeli T-bills melalui operasi pasar terbuka, The Fed dapat membeli obligasi lain; sebagai contoh, hipotek—pinjaman yang diberikan oleh bank kepada rumah tangga, atau Treasury bond—obligasi pemerintah yang berjanji akan membayarkan bunga selama, katakanlah 10 atau 20 tahun. Dengan melakukan hal tersebut, Fed mungkin mampu menurunkan obligasi atau hipotek tersebut. Suku bunga yang lebih rendah tersebut dapat membantu meningkatkan permintaan.

Kebijakan semacam itu diberlakukan dengan nama pelonggaran kredit (credit easing) atau pelonggaran kuantitatif (quantitative easing), dan memang itu yang harus dilakukan The Fed pada berbagai waktu selama krisis.

(hlm. 201)

Pembatasan Kebijakan Fiskal: Utang yang Tinggi

Kekhawatiran tersebut telah menyebabkan suku bunga yang lebih tinggi atas obligasi pemerintah di sejumlah negara Eropa, tetapi belum merambah ke Amerika Serikat.

9-3 Pemulihan yang Lambat

(hlm. 202)

Jepang, Perangkap Likuiditas, dan Kebijakan Fiskal

Indeks Nikkei, yaitu indeks harga saham Jepang, telah naik dari 7.000 di tahun 1980 menjadi 35.000 di awal tahun 1990. Kemudian, dalam waktu dua tahun, indeks itu turun menjadi 16.000 dan terus turun setelah itu, yang mencapai 7.000 di tahun 2003 (ketika buku ini ditulis, indeks Nikkei berada pada kisaran 9.000). Penurunan harga saham ini diikuti oleh penurunan pengeluaran, dan, sebagai respons terhadap penurunan pengeluaran, bank sentral Jepang memotong suku bunga. Seperti dapat Anda lihat dari Gambar 1, pada pertengahan tahun 1990-an, suku bunga turun hingga kurang dari 1% dan sejak itu tetap berada di bawah 1%.

(hlm. 203)

Output yang rendah menyiratkan pengangguran yang tinggi, yang menekan upah ke bawah, dan pada akhirnya harga.

(hlm. 205)

Rendahnya pembelian barang tahan lama dan peralatan oleh konsumen sekarang menyiratkan pembelian yang lebih tinggi nanti: Pada akhirnya, mobil dan mesin rusak dan harus diganti. Para ekonom kadang-kadang merujuk mekanisme ini sebagai permintaan terpendam (pent-up demand): permintaan yang tidak dilakukan hari ini dipendam dan akan meningkatkan permintaan di masa mendatang.

Ringkasan

Pemicu krisis adalah penurunan harga perumahan.

(hlm. 209)

Jangka Panjang

(hlm. 211)

BAB 10

Fakta-fakta Pertumbuhan

Persepsi kita mengenai bagaimana ekonomi sering kali didominasi oleh fluktuasi dalam aktivitas ekonomi dari tahun ke tahun. Resesi akan menimbulkan kesuraman, dan ekspansi ke optimisme. Akan tetapi, jika kita melangkah kembali untuk melihat aktivitas selama periode yang lebih lama—misalkan selama beberapa dekade—gambarannya akan berubah. Fluktuasi memudar. Pertumbuhan (growth) —peningkatan output agregat yang stabil setelah beberapa waktu—mendominasi gambaran tersebut.

(Skala yang diunakan untuk mengukur GDP pada sumbu vertikal di Gambar 10-1 disebut skala logaritma (logarithmic scale). Karakteristik yang menentukan skala logaritma itu adalah bahwa peningkatan variabel dalam proporsi yang sama disajikan oleh jarak yang sama pada sumbu vertikal.)

Perhatikan seberapa kecil ketiga episode tersebut dibandingkan dengan peningkatan output per orang yang stabil selama 100 tahun terakhir.

(hlm. 212)

10-1 Mengukur Standar Hidup

Alasan kita peduli dengan pertumbuhan adalah bahwa kita peduli dengan standar hidup (standard of living).

(hlm. 213)

  • Pertama, kurs dapat dangat bervariasi (pembahasan lebih lanjut mengenai hal ini lihat Bab 18 hingga 21).
  • Alasan kedua melangkah melampaui fluktuasi kurs. Pada tahun 2010, GDP per orang di India, dengan menggunakan kurs saat ini, adalah $1.300 dibandingkan dengan $47.300 di Amerika Serikat. Secara umum, semakin rendah output per orang suatu negara, semakn rendah harga makanan dan jasa dasar di negara tersebut.

(hlm. 214)

Pembentukan Angka PPP

Apakah jawaban tersebut masuk akal? Benar, orang Rusia lebih miskin, tetapi harga makanan jauh lebih murah di Rusia.

Ya. Salah satu caranya adalah menggunakan serangkaian harga yang sama untuk kedua negara dan kemudian mengukur kuantitas setiap barang yang dikonsumsi di masing-masing negara dengan menggunakan serangkaian harga yang sama tersebut.

Setiap tahun, rata-rata orang Rusia membeli sekitar 0,07 mobil (satu mobil setiap lima belas tahun) dan satu bundel makanan.

Banyak estimasi yang kita gunakan di bab ini berasal dari proyek ambisius yang disebut sebagai “Penn World Tables,”

Dengan menggunakan angka PPP, rasio tersebut “hanya” 14. Walaupun perbedaan ini masih besar, namun jauh lebih kecil ketimbang rasio yang kita peroleh dengan menggunakan kurs saat ini.

(hlm. 215)

  • Apa yang penting bagi kesejahteraan orang adalah konsumsinya dan bukan pendapatannya. Karena rasio konsumsi terhadap output tidak jauh berbeda antarnegara, peringkat negara-negara itu kira-kira sama, apakah kita menggunakan konsumsi per orang atau output per orang.
  • Dengan memikirkan tentang sisi produksi, kita mungkin tertarik dengan perbedaan produktivitas ketimbang perbedaan standar hidup antarnegara. Dalam kasus ini, ukuran yang teoat adalah output per pekerja—atau, bahkan lebih baik, output per jam kerja jika informasi mengenai total jam dikerjakan tersedia—ketimbang output per orang.
  • “Apakah Uang Dapat Membeli Kebahagiaan?”. Jawabannya: ya dengan syarat.

10-2 Pertumbuhan di Negara-negara Kaya sejak Tahun 1950

Tabel 10-1 Evolusi Output per Orang di Empat Negara Kaya sejak Tahun 1950
  Tingkat Pertumbuhan Tahunan Output per Orang (%) Output Riil Per Orang (dolar 2005)
  1950-2009 1950 2009 2009/1950
Amerika Serikat 1,9 13.183 41.102 3,1

(hlm. 216)

Apakah Uang Dapat Membeli Kebahagiaan?

Apakah uang dapat membeli kebahagiaan? Asumsi itu menghasilkan apa yang saat ini dikenal sebagai paradoks Easterlin (diambil dari nama Richard Easterlin, yang merupakan salah satu ekonom pertama yang memandang secara sistematis bukti tersebut):

  • Dari sisi antarnegara, kebahagiaan di suatu negara tampak lebih tinggi, dengan tingkat pendapatan per orang yang lebih tinggi. Akan tetapi, hubungan tersebut tampaknya hanya berlaku di negara yang relatif miskin.
  • Orang kaya secara konsisten lebih bahagia ketimbang orang miskin. Inilah yang terjadi baik di negara kaya maupun miskin.

Fakta ketiga menunjukkan bahwa apa yang penting bukanlah tingkat pendapatan absolut tetapi tingkat pendapatan relatif dengan yang lain.

Di negara-negara kaya, kebijakan ditunjukan untuk meningkatkan pendapatan per orang mungkin salah arah karena apa yang penting adalah pendistribusian pendapatan dan bukan tingkat rata-ratanya.

Sumbu horizontal mengukur GDP per orang PPP untuk 131 negara. Skala tersebut merupakan skala logaritmik, sehingga ukuran interval tertentu menyajikan persentase peningkatan GDP tertentu. Sumbu vertikal mengukur rata-rata kepuasan hidup di setiap negara. Sumber variabel ini adalah survei Gallup World Poll tahun 2006, yang mengaukan pertanyaan berikut kepada sekitar ribuan individu di setiap negara:

(gambar 1) Rata-rata kepuasan hidup (per skala 10 poin)

(hlm. 217)

“… Di anak tangga mana Anda merasa secara pribadi berdiri saat ini?”

Terdapat hubungan yang erat antara rata-rata pendapatan dan rata-rata kebahagiaan.

Di setiap negara, orang kaya lebih bahagia dari orang miskin.

Meskipun kebahagiaan individu sangat beruntung pada lebih dari sekedar pendapatan, hal itu jelas meningkat bersamaan dengan pendapatan. Jadi, bukan merupakan kejahatan bagi para ekonom untuk berfokus terlebih dahulu pada tingkat pertumbuhan GDP per orang.

Bertsey Stevenson dan Justin Wolfers, “Economic Growth and Subjective Well-Being: Reassessing the Easterlin Paradox,” Brookings Papers on Economic Activity, Vol. 2008 (Spring 2008): 1-87.

Untuk pandangan yang lebih mendalam terhadap paradoks Easterlin dan pembahasan yang luar biasa mengenai implikasi kebijakan, baca Richard Layard, Happiness: Lessons from a New Science, Penguin Books, 2005.

Peningkatan Standar Hidup yang Drastis sejak Tahun 1950

Angka-angka tersebut menunjukkan apa yang kadang-kadang disebut sebagai kekuatan pemajemukan (force of compouding).

(hlm. 218)

Konvergensi Output per Orang

Akan tetapi, ketika Anda melihat sebuah klub di mana keanggotaannya didasarkan pada keberhasilan ekonomi, Anda akan menemukan bahwa negara yang berasal dari belakang memiliki pertumbuhan yang paling cepat: Inilah mengapa negara itu berhasil masuk ke dalam klub! Temuan konvergensi dapat muncul sebagian dari cara kita memilih negara tersebut pada awalnya.

(hlm. 219)

10-3 Tinjauan yang Lebih Luas antar Waktu dan Ruang

Melihat antara Dua Milenium

Sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi hingga sekitar tahun 1500, tidak ada pertumbuhan output per orang di Eropa: Sebagian besar pekerja bekerja di sektor pertanian di mana kemajuan teknologinya sangat terbatas.

Peningkatan output, menurutnya, akan menghasilkan penurunan mortalitas, yang menimbulkan peningkatan populasi hingga output per orang kembali ke tingkat awalnya. Eropa telah masuk dalam perangkap Malthusian (Malthusian trap), sehingga tidak mampu meningkatkan output per orangnya.

Diawali dengan Revolusi Industri, tingkat pertumbuhan meningkat, tetapi dari tahun 1820 hingga 1950 tingkat pertumbuhan output per orang di Amerika Serikat masih hanya 1,5% per tahun. Karena itu, pada skala sejarah manusia pertumbuhan output per orang yang mantap—terutama tingkat pertumbuhan yang tinggi yang kita lihat sejak tahun 1950—jelas merupakan fenomena terkini.

(hlm. 221)

Melihat antara Negara

[Secara paradoks, dua negara yang tumbuh paling cepat di Gambar 10-3 adalah Botswana dan Guinea Khatulistiwa, keduanya di Afrika. Akan tetapi, dalam kedua kasus pertumbuhan yang tinggi merefleksikan terutama sumber daya alam yang menguntungkan—berlian di Botswana, minyak di Guinea.]

Dengan melihat jauh ke belakang akan muncul gambaran berikut. Pada sebagian besar dari milenium pertama, dan hingga abad kelimabelas, Tiongkok mungkin memiliki tingkat output per orang yang paling tinggi di dunia. Selama beberapa abad, kepemimpinan berpindah ke kota-kota Italia Utara. Akan tetapi, hingga abad kesembilanbelas, perbedaan antarnegara umumnya lebih kecil ketimbang dewasa ini. Dimulai pada abad ke sembilan belas, sejumlah negara, pertama di Eropa Barat, kemudian Amerika Utara dan Selatan, mulai tumbuh lebih cepat dari yang lain. Sejak itu, sejumlah negara lainnya, paling mencolok di Asia, mulai tumbuh dengan cepat dan berkonvergensi. Banyak negara lain, terutama di Afrika, tidak demikian.

[Perbedaan antara teori pertumbuhan dan ekonomi pembangunan cukup membingungkan. Perbedaan kasar: Teori pertumbuhan memerlukan banyak institusi suatu negara (misalnya, sistem hukum dan bentuk pemerintahan). Ekonomi pembangunan menanyakan institusi apa yang diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan yang stabil, dan bagaimana menerapkannya.

10-4 Berpikir Mengenai Pertumbuhan: Suatu Landasan

Fungsi Produksi Agregat

Titik awal bagi setiap teori pertumbuhan haruslah fungsi produksi agregat (aggregate production function), yaitu spesifikasi dari hubungan antara output agregat dan input dalam produksi.

(hlm. 222)

Dengan kata lain, apa yang menentukan berapa banyak output yang dapat diproduksi dengan kuantitas modal dan tenaga kerja tertentu? Jawabannya: tingkat teknologi (state of technology).

(hlm. 223)

Pengembalian pada Skala dan Pengembalian pada Faktor

Begitu jumlah komputer naik dan lebih banyak sekretaris dalam pool yang memperoleh komputernya sendiri, produksi akan naik lebih lanjut, walaupun mungkin tidak begitu besar per tambahan komputer ketimbang ketika komputer pertama diperkenalkan. Begitu setiap sekretaris memiliki komputer, peningkatan jumlah komputer lebih lanjut tidak akan meningkatkan produksi terlalu banyak, jika memang ada peningkatan.

Kita akan merujuk ke properti bahwa peningkatan modal dan menimbulkan peningkatan output yang semakin kecil sebagai pengembalian yang menurun terhadap modal (decreasing returns to capital) (properti yang akan familiar dengan mereka yang telah mengambil mata kuliah mikroekonomi).

Terdapat pula pengembalian yang menurun terhadap tenaga kerja (decreasing returns to labor).

(hlm. 224)

Output per Pekerja dan Modal per Pekerja

(gambar 10-4)

Output per pekerja, Y/N.

Modal per pekerja, K/N.

Sumber Pertumbuhan

  • Peningkatan output per pekerja (Y/N) dapat berasal dari peningkatan modal per pekerja (K/N).
  • Atau dapat berasal dari perbaikan tingkat teknologi yang menggeser fungsi produksi, F, dan menimbulkan output per pekerja yang lebih besar berdasarkan modal per pekerja.

(gambar 10-5)

Output per pekerja, Y/N.

Modal per pekerja, K/N.

(hlm. 225)

Karena itu, kita dapat mempertimbangkan pertumbuhan sebagai berasal dari akumulasi modal (capital accumulation) dan dari kemajuan teknologi (technological progress)—perbaikan tingkat teknologi.

  • Karena pengembalian yang menurun terhadap modal, mempertahankan peningkatan output per pekerja yang stabil akan memerlukan kenaikan tingkat modal per pekerja yang besar.

Apakah ini berarti bahwa tingkat tabungan (saving rate) ekonomi—proporsi penghasilan yang ditabung—tidak relevan? Tidak. Memang benar bahwa tingkat tabungan yang lebih tinggi tidak dapat secara permanen meningkatkan tingkat pertumbuhan output. Akan tetapi, tingkat tabungan yang lebih tinggi dapat mempertahankan tingkat output yang lebih tinggi.

  • Hal ini sangat penting. Ini berarti bahwa dalam jangka panjang, ekonomi yang dapat mempertahankan tingkat kemajuan teknologi yang lebih tinggi akjhirnya akan mengalahkan semua ekonomi lainnya. Tentu saja, ini akan menimbulkan pertanyaan lainnya: Apa yang menentukan tingkat kemajuan teknologi? Ingat kembali dua definisi tingkat teknologi yang kita bahas sebelumnya: definisi sempit, sebut saja serangkaian cetak biru yang tersedia bagi ekonomi; dan definisi yang lebih luas, yang mencakup bagaimana ekonomi diorganisasikan, dari sifat institusi hingga peran pemerintah.

(hlm. 229)

BAB 11

Tabungan, Akumulasi Modal, dan Output

Sejak tahun 1970, tingkat tabungan AS—rasio tabungan terhadap GDP—hanya memiliki rata-rata 17%, dibandingkan dengan 22% di Jerman dan 30% di Jepang. Dapatkah hal ini menjelaskan mengapa tingkat pertumbuhan di AS lebih rendah ketimbang sebagian besar negara-negara OECD selama 40 tahun terakhir? Apakah peningkatan tingkat tabungan di AS akan menyebabkan pertumbuhan yang lebih tinggi di AS secara terus-menerus di masa depan?

Kita telah menerima jawaban dasar atas pertanyaan tersebut di akhir Bab 10. Jawabannya adalah tidak. Selama periode yang lama—kualifikasi yang penting di mana kit akan kembali—laju pertumbuhan ekonomi tidak bergantung pada tingkat tabungannya.

(hlm. 230)

11-1 Interaksi antara Output dan Modal

Pengaruh Modal terhadap Output

Pertama adalah bahwa ukuran populasi, tingkat partisipan, dan tingkat pengangguran semuanya bersifat konstan.

(hlm. 231)

Menurut asumsi tersebut, output per pekerja, output per orang, dan output itu sendiri semua bergerak secara proporsional.

[Dia Amerika Serikat pada tahun 2009, output per orang (dalam dolar PPP tahun 2005) adalah $41.102; sementara output per pekerja jauh lebih tinggi, sebesar $81.172. (Dari kedua angka tersebut, dapatkah Anda menderivasi rasio lapangan kerja terhadap populasi?)]

Asumsi kedua adalah bahwa tidak ada kemajuan teknologi, sehingga fungsi produksi f (atau secara ekuivalen F) tidak berubah dengan berlalunya waktu.

(hlm. 235)

11-2 Implikasi Tingkat Tabungan Alternatif

Tingkat Modal dan Output pada Kondisi Mapan

Tingkatan di mana output per pekerja dan modal per pekerja tidak lagi berubah disebut kondisi mapan (steady state) ekonomi.

Tingkat Tabungan dan Output

Bagaimana tingkat tabungan mempengaruhi tingkat pertumbuhan output per pekerja?

(hlm. 236)

Akumulasi Modal dan Pertumbuhan di Prancis Setelah Perang Dunia II

Pada gambar 11-2, sebuah negara dengan modal per pekerja awal jauh di bawah K*/N akan tumbuh pesat ketika berkonvergensi ke K*/N dan output per pekerja menuju ke Y*/N.

Prediksi ini sangat tepat dalam kasus Prancis pasca perang. Terdapat banyak bukti anekdot bahwa peningkatan modal yang kecil akan menimbulkan peningkatan output yang besar. Perbaikan kecil atas sebuah jembatan utama akan menyebabkan pembukaan kembali jembatan tersebut, yang secara signifikan akan mempersingkat waktu perjalanan antara dua kota, sehingga biaya transportasi menjadi lebih rendah. Biaya transportasi memungkinkan sebuah pabrik memperoleh input yang sangat diperlukan, meningkatkan produksinya, dan seterusnya.

Dari tahun 1946 hingga 1950, tingkat pertumbuhan tahunan GDP riil Prancis sangat tinggi, yaitu 9,6% per tahun. Hal ini menimbulkan peningkatan GDP riil sekitar 60% selama waktu lima tahun.

Apakah semua peningkatan GDP Prancis diakibatkan oleh akumulasi modal? Jawabannya adalah tidak. Terdapat kekuatan lain yang bekerja sebagai tambahan terhadap mekanisme dalam model kita. Kebanyakan stok modal yang tersisa pada tahun 1945 telah usang. Investasi sangat rendah di tahun 1930-an (suatu dekade yang didominasi oleh Great Depression) dan hampir tidak ada selama perang. Suatu bagian dari akumulasi modal pasca perang terkait dengan pengenalan lebih banyak modal modern dan penggunaan teknik produksi yang lebih modern. Ini adalah alasan lain atas tingkat pertumbuhan yang tinggi pada periode pasca perang.

  1. Tingkat tabungan tidak mempengaruhi tingkat pertumbuhan output per pekerja jangka panjang, yang sama dengan nol.

(hlm. 237)

  • Walaupun demikian, tingkat tabungan menentukan tingkat output per pekerja dalam jangka panjang.

[Perhatikan bahwa proporsi pertama adalah pernyataan mengenai laju pertumbuhan output per pekerja. Proporsi kedua adalah pernyataan mengenai tingkat output per pekerja.]

  • Peningkatan tingkat tabungan akan menimbulkan pertumbuhan output per pekerja yang lebih tinggi selama beberapa saat, tetapi tidak selamanya.

(hlm. 240)

Tingkat Tabungan dan Konsumsi

Tingkat modal yang terkait dengan nilai tingkat tabungan yang menghasilkan tingkat konsumsi tertinggi dalam kondisi maoan dikenal sebagai tingkat modal golden rule (golden-rule level of capital). Peningkatan modal yang melampaui tingkat golden-rule akan mengurangi konsumsi pada kondisi mapan.

Apakah beberapa negara secara aktual memang memiliki terlalu banyak modal? Bukti empiris mengindikasikan bahwa sebagian besar negara OECD sebenarnya memiliki tingkat modal yang jauh di bawah golden rule-nya.

Hal tersebut bergantung pada berapa banyak bobot yang dapat diberikan pada kesejahteraan generasi saat ini—yang lebih mungkin menderita kerugian dari kebijakan yang ditujukan untuk meningkatkan tingkat tabungan—versus kesejahteraan generasi masa mendatang—yang lebih mungkin mendapatkan keuntungan dari kebijakan itu. Masuklah unsur politik: Generasi masa mendatang tidak memberikan suara dalam pemilihan. Ini berarti bahwa pemerintah tidak mungkin meminta generasi saat ini untuk banyak berkorban, yang pada gilirannya berarti modal mungkin tetap jauh di bawah tingkat golden rule-nya.

(hlm. 241)

Social Security, Tabungan, dan Akumulasi Modal di Amerika Serikat

Sebagian besar sistem jaminan sosial berupa antara sistem pay-as-you-go dan didanai sepenuhnya. Ketika sistem AS dibentuk pada tahun 1935, tujuannya adalah untuk mendanai sebagian darinya. Akan tetapi, hal tersebut tidak terjadi: ketimbang diinvestasikan, kontribusi dari pekerja digunakan untuk membayar tunjangan para pensiunan, dan hal inilah yang terjadi sejak saat itu.

Sistem AS pada dasarnya menganut sistem pay-as-you-go, dan hal inilah yang mungkin menyebabkan tingkat tabungan AS lebih rendah selama 70 tahun terakhir.

Dalam konteks ini, beberapa ekonom dan politisi menyatakan bahwa Amerika Serikat harus beralih kembali ke sistem yang didanai sepenuhnya.

(hlm. 242)

Sistem yang ada telah menjanjikan tunjangan kepada pensiunan dan janji tersebut harus ditepati.

Untuk mengikuti perdebatan mengenai Social Security, lihat situs yang dikelola oleh Concord Coalition (nonpartisan) dan carilah diskusi yang terkait dengan Social Security.

(hlm. 245)

Tingkat Tabungan AS dan Golden Rule

Secara lebih formal, dalam kondisi mapan, konsumsi per pekerja adalah sama dengan output per pekerja dikurangi penyusutan per pekerja.

Dengan kata lain, golden rule tingkat modal terkait dengan tingkat tabungan sebesar 50%. Di bawah tingkat tersebut, peningkatan tingkat tabungan akan menimbulkan peningkatan konsumsi per pekerja jangka panjang. Kita lihat sebelumnya bahwa rata-rata tingkat tabungan AS sejak tahun 1970 hanyalah 17%. Jadi kita dapat cukup yakin bahwa, setidaknya di Amerika Serikat, peningkatan tingkat tabungan akan meningkatkan baik output per pekerja maupun konsumsi per pekerja dalam jangka panjang.

(hlm. 246)

Tabel 11-1 Tingkat Tabungan serta Tingkat Modal, Output, dan Konsumsi per Pekerja pada Kondisi Mapan
Tingkat Tabungan s Modal per Pekerja K/N Output per Pekerja Y/N Konsumsi per Pekerja  C/N
0,5 25,0 5,0 2,5

11-4 Modal Fisik versus Modal Manusia

Pada awal Revolusi Industri, hanya 30% dari populasi negara-negara yang membentuk OECD dewasa ini yang bisa membaca. Dewasa ini, tingkat literasi di negara-negara OECD sudah di atas 95%.

Saat ini, di negara-negara OECD, hampir 100% anak-anak memperoleh pendidikan dasar, 90% memperoleh pendidikan menengah, dan 38% memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Angka yang berhubungan di negara-negara miskin, yaitu negara dengan GDP per orang di bawah $400, masing-masing adalah 95%, 32%, dan 4%.

(hlm. 247)

Memperluas Fungsi Produksi

Akan tetapi, bagi negara kaya pendidikan dasar—dan pendidikan menengah—bukan lagi marjin yang relevan: Sebagian besar anak-anak sekarang sudah memperoleh keduanya. Marjin yang relevan sekarang adalah pendidikan yang lebih tinggi.

Banyak orang akhirnya kelebihan kualifikasi dan mungkin merasa lebih frustasi ketimbang orang yang lebih produktif.

Modal Manusia, Modal Fisik, dan Output

Di Amerika Serikat, pengeluaran untuk pendidikan formal adalah sekitar 65% dari GDP. Angka ini meliputi baik pengeluaran pemerintah untuk pendidikan maupun pengeluaran pribadi orang untuk pendidikan. Angkanya berkisar antara sepertiga dan setengah dari tingkat investasi kotor untuk modal fisik (yang berkisar 16%).

(hlm. 248)

Setidaknya untuk pasca pendidikan menengah, biaya oportunitas dari pendidikan seseorang adalah upah yang hilang meskipun memeperoleh penididkan. Pengeluaran untuk pendidikan harus memasukkan bukan hanya biaya aktual pendidikan tetapi juga biaya oportunitas ini.

Hal ini menyiratkan bahwa output per pekerja sama-sama bergantung pada jumlah modal fisik dan jumlah modal manusia dalam ekonomi.

Pertumbuhan Endogen

Menurut Robert Lucas dan Paul Romer, peneliti telah mengeksplorasi kemungkinan bahwa akumulasi gabungan atas modal fisik dan modal manusia secara aktual sudah cukup untuk mempertahankan pertumbuhan.

Model-model yang menghasilkan pertumbuhan yang stabil meskipun tanpa kemajuan teknologi disebut model pertumbuhan endogen (models of endogenous growth) untuk merefleksikan fakta bahwa dalam model-model tersebut—berlawanan dengan model yang kita bahas di bagian sebelumnya bab ini—laju pertumbuhan bergantung, bahkan dalam jangka panjang, pada variabel-variabel seperti tingkat tabungan dan tingkat pengeluaran untuk pendidikan.

(hlm. 249)

Ringkasan

Pertama, tingkat output bergantung pada jumlah modal, kedua, akumulasi modal bergantung pada tingkat output, yang menentukan tabungan dan investasi.

(hlm. 251)

Bacaan Lebih Lanjut

  • Perlakuan klasik terhadap hubungan antara tingkat tabungan dan output oleh Robert Solow, Growth Theory: An Exposition (New York: Oxford University Press, 1970).
  • Diskusi yang mudah dibaca mengenai apakah dan bagaimana meningkatkan tabungan serta memperbaiki pendidikan di Amerika Serikat diberikan dalam Memoranda 23 hingga 27 di Memos to the President: A Guide through Macroeconomics for the Busy Policy-maker, oleh Charles Schultze (the Chairman of the Council of Economic Advisers selama pemerintahan Carter) (Washington D.C.: Brookings Instituition, 1992).

Appendiks: FUngsi Produksi Cobb-Douglas dan Kondisi Mapan

Bahkan dewasa ini, fungsi produksi (11.A1) yang sekarang dikenal sebagai fungsi produksi Cbb-Douglas (Cobb-Douglas production function), masih memberikan deskripsi yang jitu mengenai hubungan antara output, modal, dan tenaga kerja di Amerika Serikat, serta telah menjadi alat standar berbagai sarana yang digunakan ekonom.

Ingat bahwa, dalam kondisi mapan, tabungan per pekerja harus sama dengan penyusutan per pekerja.

  • (K*/N) = (s/)1/(1-α)

Hal ini memberikan kita tingkat modal per pekerja pada kondisi mapan.

(Y*/N) = K/Nα    = (s/)α/(1-α)

  • Di buku ini, kita sebenarnya bekerja dengan kasus khusus dari persamaan (11.A1), yaitu kasus di mana α = 0,5.

  • Akan tetapi, bukti empiris menunjukkan bahwa jika kita memikirkan K sebagai modal fisik,  lebih mendekati sepertiga ketimbang setengah. Dengan mengasumsikan α = 1/3 maka α(1 – α) = (1/3)/(1-(1/3)) = (1/3)/(2/3) = 1/2, dan persamaan untuk output per pekerja menghasilkan

Y*/N = (s/)1/2 = s/

Hal ini menyiratkan pengaruh yang lebih kecil dari tingkat tabungan terhadap output per pekerja ketimbang yang ditunjukkan oleh perhitungan di buku ini.

(hlm. 253)

BAB 12

Kemajuan Teknologi dan Pertumbuhan

Kesimpulan di Bab 11 bahwa akumulasi modal tidak dengan sendirinya mempertahankan pertumbuhan memiliki implikasi yang bersifat langsung: Pertumbuhan yang terus-menerus memerlukan kemajuan teknologi.

Tingkat tabungan mempengaruhi tingkat output per orang—tetapi bukan tingkat pertumbuhannya.

(hlm. 254)

12-1 Kemajuan Teknologi dan Laju Pertumbuhan

[Rata-rata jumlah item yang dipajang oleh sebuah supemarket meningkat dari 2.200 di tahun 1950 menjadi 38.700 di tahun 2010.]

(hlm. 257)

Interaksi antara Output dan Modal

Agar modal konstan, investasi harus sama dengan penyusutan stok modal yang ada. Di sini, jawabannya sedikit lebih rumit.

(hlm. 259)

Dinamika Modal dan Output

Dengan kata lain, ketika ekonomi berada pada kondisi mapan, output per pekerja tumbuh pada tingkat kemajuan teknologi.

Pengaruh Tingkat Tabungan

Dalam kondisi mapan, laju pertumbuhan output hanya bergantung pada laju pertumbuhan populasi dan tingkat kemajuan teknologi. Perubahan tingkat tabungan tidak mempengaruhi laju pertumbuhan pada kondisi mapan. Akan tetapi, perubahan tingkat tabungan juga meningkatkan tingkat output per pekerja yang efektif pada kondisi mapan.

(hlm. 261)

12-2 Determinan Kemajuan Teknologi

Akan tetapi, kenyataannya adalah bahwa sebagian besar kemajuan teknologi dalam ekonomi modern adalah hasil dari proses yang menjemukan: hasil aktivitas penelitian dan pengembangan (research and development, R&D) perusahaan. Pengeluaran R&D industri membentuk antara 2% dan 3% dari GDP di masing-masing dari empat negara kaya utama yang kita bahas di Bab 10 (Amerika Serikat, Prancis, Jepang, dan Inggris). Sekitar 75% dari satu juta ilmuwan AS dan peneliti yang berkecimpung di R&D dipekerjakan oleh perusahaan. Pengeluarannya R&D perusahaan-perusahaan AS sama dengan lebih dari 20% pengeluarannya atas investasi kotor, dan lebih dari 60% pengeluarannya atas investasi bersih—investasi kotor dikurangi penyusutan.

Perbedaannya adalah bahwa hasil dari R&D pada intinya adalah ide.

Poin terakhir ini menyiratkan bahwa tingkat pengeluaran R&D tidak hanya bergantung pada fertilitas penelitian (fertility of research)—bagaimana pengeluaran R&D diterjemahkan ke dalam ide-ide baru dan produk-produk baru—tetapi juga pada apropriabilitas (appropriability) hasil penelitian—sejauh mana perusahaan memperoleh manfaat dari hasil penelitian dan pengembangannya sendiri). Mari kita bahas masing-masing aspek secara bergantian.

(hlm. 262)

Difusi Teknologi Baru: Jagung Hibrid

Salah satu studi pertama tentang difusi teknologi baru dilaksanakan pada tahun 1957 oleh Zvi Griliches, seorang ekonom Harvard, yang melihat difusi jagung hibrid di negara bagian yang berbeda di Amerika Serikat.

(hlm. 273)

BAB 13

Kemajuan Teknologi: Jangka Pendek, Jangka Menengah, dan Jangka Penjang.

(hlm. 274)

13-1 Produktivitas, Output, dan Pengangguran dalam Jangka Pendek

(hlm. 276)

Salah satu implikasi dari perdagangan internasional yang meningkat adalah peningkatan persaingan global. Persaingan ini telah memaksa banyak perusahaan untuk memangkas biaya dengan mengorganisir ulang produksi dan mengeliminasi pekerjaan (hal ini sering disebut perampingan atau “downsizing”).

(hlm. 277)

Bukti Empiris

Gambar tersebut menunjukkan hubungan yang sangat positif antara pergerakan pertumbuhan output dan pertumbuhan produktivitas dari tahun ke tahun.

[Akan tetapi, hubungan sebab akibat berjalan dari pertumbuhan output ke pertumbuhan produktivitas, bukan sebaliknya.]

(hlm. 278)

13-2 Produktivitas dan Tingkat Pengangguran Alami

Sejak awal Revolusi Industri, pekerja merasa khawatir bahwa kemajuan teknologi akan mengeliminasi pekerjaan dan meningkatkan pengangguran. Di awal abad ke sembilanbelas, Inggris, kelompok pekerja dalam industri tekstil, yang dikenal sebagai Luddites, yang menghancurkan mesin-mesin baru yang mereka lihat sebagai ancaman langsung terhadap pekerjaannya. Pergerakan serupa terjadi di negara lain. “Saboteur” berasal dari salahs satu cara pekerja Prancis menghancurkan mesin-mesin: dengan menaruh sabot-nya (sepatu kayu yang berat) ke dalam mesin.

Pada akhir tahun 1990-an, Prancis meluncurkan UU yang mengurangi minggu kerja normal dari 39 menjadi 35 jam.

Di Amerika Serikat, output per orang telah meningkat dengan faktor sebesar 9 sejak tahun 1890 dan, bukan menurun, lapangan kerja telah meningkat dengan faktor sebesar 6 (yang merefleksikan peningkatan ukuran populasi AS yang paralel).

(hlm. 279)

Penetapan Harga dan Penetapan Upah yang Direvisi

Bukti menunjukkan bahwa, dengan hal lainnya tetap sama, upah umumnya ditetapkan untuk merefleksikan peningkatan produktivitas dengan berlalunya waktu.

(hlm. 281)

Bukti Empiris

Gambar 13-5 memplot rata-rata pertumbuhan produktivitas tenaga kerja AS dan rata-rata pertumbuhan produktivitas tenaga kerja AS dan rata-rata tingkat pengangguran selama setiap dekade sejak tahun 1890. Sekilas, tampak ada sedikit hubungan di antara keduanya. Akan tetapi, dimungkinkan untuk berpendapatan bahwa dekade Great Depression sangat berbeda sehingga dapat diabaikan. Jika kita mengabaikan tahun 1930-an (dekade Great Depression), maka muncul hubungan—meskipun bukan hubungan yang sangat kuat—antara tingkat produktivitas dan tingkat pengangguran. Akan tetapi, ini berlawanan dengan hubungan yang diprediksi oleh mereka yang percaya dengan pengangguran teknologi: Periode pertumbuhan produktivitas yang tinggi, seperti tahun 1940-an hingga 1960-an, terkait dengan tingkat pengangguran yang rendah. Periode pertumbuhan produktivitas yang rendah, seperti yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1970-an dan 1980-an, terkait dengan tingkat pengangguran yang lebih tinggi.

(hlm. 282)

Tidak ada banyak dukungan, baik secara teori maupun data, atas ide bahwa pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat akan menimbulkan pengangguran yang lebih tinggi.

(hlm. 283)

Pertumbuhan produktivitas yang lebih tinggi akan menyebabkan pengangguran teknologi itu muncul? Rasa takut itu mungkin muncul dari dimensi kemajuan teknologi yang kita abaikan sejauh ini, yaitu perubahan struktural (structural change)—perubahan struktur ekonomi yang dipicu oleh kemajuan teknologi. Bagi beberapa pekerja—dengan keterampilan yang tidak lagi dibutuhkan—perubahan struktural mungkin berarti pengangguran, atau upah yang lebih rendah, atau keduanya. Mari kita membahas hal tersebut.

13-3 Kemajuan Teknologi, Churning, dan Pengaruh Distribusi

Kemajuan teknologi merupakan proses perubhaan struktural. Tema ini merupakan inti dari pekerjaan Joseph Schumpeter, seorang ekonom Harvard yang, pada tahun 1930-an, menekankan bahwa proses pertumbuhan secara fundamental merupakan proses destruksi kreatif (creative destruction).

[The Churn: Paradox of Progress]

(hlm. 285)

Banyak profesi, mulai dari pandai besi hingga pembuat pakaian kuda, telah punah selamanya. Sebagai contoh, terdapat lebih dari 11 juta pekerja bidang pertanian di Amerika Serikat pada awal abad ini; karena pertumbuhan produktivitas yang sangat tinggi di bidang pertanian, saat ini jumlahnya semakin sedikit. Sebaliknya, sekarang terdapat lebih dari 3 juta pengemudi truk, bis, dan taksi di Amerika Serikat; tidak ada satu pun di tahun 1900. Demikian juga, dewasa ini, terdapat lebih dari 1 juta programmer komputer; sementara bisa dikatakan tidak ada di tahun 1960. Bahkan bagi mereka dengan keterampilan yang tepat, perubahan teknologi yang lebih tinggi akan meningkatkan ketidakpastian dan risiko pengangguran.

Peningkatan Ketidakseimbangan Upah

Dimulai sekitar awal tahun 1980-an, pekerja dengan tingkat pendidikan yang rendah upah relatifnya telah turun secara stabil dengan berlalunya waktu. Pada batas bawah tangga pendidikan, upah relatif pekerja yang tidak menyelesaikan SMA turun sebesar 13%. Hal ini menyiratkan bahwa, dalam banyak kasus, para pekerja tersebut telah mengalami penurunan bukan hanya upah relatifnya, tetapi juga upah riil absolutnya.

(hlm. 286)

Penyebab Peningkatan Ketidakseimbangan Upah

Apakah penyebab peningkatan ketidakseimbangan upah ini? Terdapat kesepakatan umum bahwa faktor utama di balik peningkatan upah pekerja dengan keterampilan tinggi dibandingkan upah pekerja dengan keterampilan rendah adalah peningkatan permintaan akan pekerja berketerampilan tinggi yang stabil relatif terhadap permintaan akan pekerja dengan keterampilan rendah.

Salah satu argumen berfokus pada peran perdagangan internasional. Perusahaan AS yang mempekerjakan proporsi pekerja berketerampilan rendah yang lebih tinggi, menurut argumen tersebut, semakin terdesak keluar pasar oleh impor dari perusahaan serupa di negara dengan upah yang rendah. Sebagai alternatif, agar tetap kompetitif, perusahaan harus merelokasikan beberapa produksinya ke negara yang membayar upah yang rendah. Di kedua kasus, hal itu akan mengakibatkan penurunan permintaan relatif yang stabil akan pekerja berketerampilan rendah di Amerika Serikat.

(hlm. 287)

Metode produksi baru mengharuskan pekerja untuk lebih fleksibel dan lebih mampu beradaptasi dengan tugas baru. fleksibilitas yang lebih besar ini pada akhirnya memerlukan keterampilan yang lebih banyak dan pendidikan yang lebih tinggi. Tidak seperti penjelasan yang didasarkan pada perdagangan, kemajuan teknologi yang bias keterampilan dapat menjelaskan mengapa pergeseran permintaan relatif telah merambah hampir semua sektor ekonomi.

  • Paul Krugman berpendapat—sebagian hanya sindiran—bahwa akuntan, pengacara, dan dokter mungkin berada dalam urutan profesi selanjutnya yang akan digantikan oleh komputer.
  • Peningkatan yang besar dalam upah relatif pekerja yang berpendidikan lebih tinggi menyiratkan bahwa pengembalian atas perolehan pendidikan dan pelatihan yang lebih tinggi jauh lebih tinggi ketimbang satu atau dua dekade yang lalu.

(hlm. 288)

13-4 Institusi, Kemajuan Teknologi, dan Pertumbuhan

Kenya secara potensial memiliki akses ke sebagian besar pengetahuan teknologi di dunia. Apa yang mencegahnya untuk menerapkan sebagian besar teknologi negara maju dan dengan cepat mempersempit kesenjangan teknologinya dengan Amerika Serikat?

Institusi apa yang ada di benak para ekonom? Pada tingkatan yang luas, perlindungan hak milik (property rights) mungkin yang paling penting. Hanya segelintir individu yang akan membentuk perusahaan, yang memperkenalkan teknologi baru, dan berinvestasi jika mereka mengharapkan laba akan diapropriasi oleh negara, yang dikutip dalam suap oleh birokrasi yang korupsi, atau dicuri oleh orang lain dalam ekonomi. Gambar 13-8 memplot PPP GDP per orang di tahun 1995 (dengan menggunakan skala logaritme) dari 90 negara terhadap indeks yang mengukur tingkat perlindungan dari pengambilalihan; indeks tersebut dibentuk untuk masing-masing negara oleh sebuah organisasi bisnis internasional. Korelasi positif di antara keduanya sangat menyolok (gambar itu juga memplot garis regresi): Perlindungan yang rendah terkait dengan GDP per orang yang rendah (pada sisi kiri gambar yang ekstrem itu adalah Zaire dan Haiti): Perlindungan yang ketat terkait dengan GDP per orang yang tinggi (pada ekstrem kanan adalah Amerika Serikat, Luxemburg, Norwegia, Swiss, dan Belanda).

(gambar 13-8)

Log GDP per kapita, PPP, pada tahun 1995

Rata-rata Perlindungan terhadap Risiko Pengambilalihan, tahun 1985-1995

(hlm. 289)

Pentingnya Institusi: Korea Utara dan Selatan

Secara ekonomi, kedua wilayah juga sangat serupa pada saat pemisahan. PPP GDP per orang, dalam dollar tahun 1996, kurang lebih sama, yaitu sekitar $700 baik di Utara maupun Selatan.

Akan tetapi, 50 tahun kemudian, seperti ditunjukkan di Gambar 1, GDP per orang di Korea Selatan adalah 10 kali lebih tinggi ketimbang di Korea Utara—$12.000 versus $1.000!

Korea selatan bergantung pada organisasi ekonomi kapitalis, dengan intervensi negara yang kuat tapi juga kepemilikan pribadi dan pelindungan hukum atas produsen pribadi.

Daron Acemoglu, “Understanding Institutions,” Lionel Robbins Lectures, 2004. London School of Economics.

(hlm. 290)

Apa yang Ada Di Balik Pertumbuhan Tiongkok?

Dari tahun 1949—tahun di mana Republik Rakyat Cina (sekarang Tiongkok) berdiri—hingga akhir tahun 1970-an, sistem ekonomi Tiongkok didasarkan pada pencernaan terpusat.

Pengaruh ekonomi dari reformasi kumulatif tersebut sangatlah dramatis: Rata-rata pertumbuhan output per pekerja telah meningkat dari 2,5% antara tahun 1952 dan 1977 menjadi lebih dari 9% sejak saat itu.

Melihat perbedaan sebesar sepuluh kali lipat atas produktivitas antara Korea Utara dan Selatan yang kita bahas di kotak Fokus sebelumnya, jelas bahwa perencanaan terpusat merupakan sistem ekonomi yang buruk.

Beberapa pengamat menawarkan penjelasan historis. Mereka menunjuk pada fakta bahwa, berlawanan dengan Rusia, perencanaan terpusat di Tiongkok hanya berlangsung beberapa dekade. Jadi, pergeseran kembali ke ekonomi pasar terjadi, orang masih tahu bagaimana ekonomi semacam itu berfungsi, dan mudah beradaptasi dengan lingkungan ekonomi yang baru.

Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai ekonomi Tiongkok, baca Gregory Chow, China’s Economic Transformation, Blackwell Publishers, 2002.

Apa arti “Perlindungan hak milik” dalam praktik? Ini berarti sistem politik yang baik, di mana mereka yang berkuasa tidak dapat mengambil paksa atau menarik properti atau hak milik penduduk. Ini berarti sistem yudisial yang baik, di mana ketidaksepakatan dapat diselesaikan secara efisien, secara cepat, dan secara adil. Jika dibahas pada tingkat yang lebih terinci, ini berati UU terhadap insider trading di pasar saham yang membuat orang bersedia membeli saham sehingga menyediakan pembiayaan bagi perusahaan; ini berarti UU paten yang tertulis dengan jelas dan ditegakkan dengan baik, sehingga perusahaan memiliki insentif untuk melakukan penelitian dan pengembangan produk baru. Ini juga berarti UU antitrust yang baik, sehingga pasar yang kompetitif tidak beralih menjadi monopoli yang memiliki insentif yang minim untuk memperkenalkan metode produksi baru dan produk baru.

(hlm. 291)

Hal ini masih meninggalkan satu pertanyaan penting: Mengapa negara-negara miskin tidak mengadopsi institusi yang baik tersebut? Jawabannya adalah hal tersebut sulit! Institusi yang baik bersifat kompleks dan sulit bagi negara-negara miskin untuk mengadopsinya. Jadi, hubungan sebab-akibat akan berjalan dua arah di Gambar 13-8: Perlindungan yang rendah terhadap pengambilalihan akan menyebabkan GDP per orang yang rendah. Akan tetapi, GDP per orang yang rendah juga menyebabkan perlindungan yang buruk terhadap pengambilalihan: Sebagai contoh, negara-negara miskin sering kali terlalu miskin untuk menghasilkan sistem yudisial yang baik dan menyelenggarakan angkatan kepolisian yang baik. Jadi, memperbaiki institusi dan memulai siklus penting GDP per orang yang lebih tinggi serta institusi yang lebih baik sering kali sangat sulit.

Ringkasan

  • Orang sering kali merasa takut bahwa kemajuan teknologi akan menghancurkan pekerjaan dan menimbulkan pengangguran yang lebih tinggi. Rasa takut ini hadir selama Great Depression. Teori dan bukti yang ada menunjukkan rasa takut tersebut sebagian besar tidak berdasar.
  • Dalam jangka pendek, tidak ada alasan untuk mengaharapkan, atau tidak ada, hubungan yang sistematis antara perubahan produktivitas dan pergerakan pengangguran.
  • Jika terdapat hubungan antara perubahan antara perubahan produktivitas dan pergerakan pengangguran dalam jangka menengah, hal tersebut merupakan hubungan terbalik.
  • Kemajuan teknologi bukan merupakan proses yang lancar di mana semua pekerja adalah pemenangnya. Namun, itu merupakan proses perubahan struktural.
  • Ketidakseimbangan upah telah meningkat dalam 25 tahun terakhir di Amerika Serikat.

(hlm. 293)

Bacaan Lebih Lanjut

  • Menyangkut peran institusi dalam pertumbuhan, baca “Growth Theory Through the Lens of Development Economics,” oleh Abhijit Banerjee dan Esther Duflo, Bab 7, Handbook of Economic Growth, (North Holland, 2005) (baca bagian 1 hingga 4).
  • Untuk mengetahui lebih banyak mengenai intitusi dan pertumbuhan, Anda dapat membaca slide dari kuliah Lionel Robbins tahun 2004 “Understanding Institutions” yang diberikan oleh Daron Acemoglu.

(hlm. 295)

Ekspektasi

Bab 14

Pertama adalah perbedaan antara suku bunga riil dan suku bunga nominal. Bab ini menggunakan perbedaan tersebut untuk membahas hipotesis Fisher, yaitu proporsi bahwa, dalam jangka menengah, suku bunga nominal akan merefleksikan sepenuhnya inflasi dan pertumbuhan uang. Kedua adalah konsep nilai yang didiskontokan saat ini yang diharapkan, yang memainkan peran sentral dalam penentuan harga aset serta dalam keputusan konsumsi dan investasi.

Bab 15

Pertama bab ini akan membahas penentuan harga obligasi dan hasil obligasi. Hal ini menunjukkan bagaimana kita dapat belajar mengenai arah suku bunga masa depan yang diharapkan dengan melihat kurva hasil. Bab ini kemudian membahas harga saham dan menunjukka bagaimana hal itu bergantung pada dividen dan suku bunga masa depan yang terakhir. Terakhir, bab ini membahas apakah harga saham selalu merefleksikan fundamental atau sebaliknya merefleksikan gagasan atau mode.

Bab 16

Bab 16 berfokus pada peran ekspektasi dalam keputusan konsumsi dan investasi. Bab ini menunjukkan bagaimana konsumsi sebagian bergantung pada pendapatan saat ini, sebagian pada kekayaan manusia, dan sebagian pada kekayaan finansial. Bab ini menunjukkan bagaimana investasi bergantung sebagian pada arus kas saat ini dan sebagian pada nilai sekarang dari laba masa depan yang diharapkan.

Bab 17

Bab 17 membahas peran ekspektasi dalam fluktuasi output. Diawali dari model IS-LM, bab ini memodifikasi deskripsi ekuilibrium pasar barang (hubungan IS) untuk merefleksikan pengaruh ekspektasi terhadap pengeluaran. Bab ini juga membahas kembali pengaruh kebijakan moneter dan fiskal terhadap output. Bab ini menunjukkan misalnya, dibandingkan dengan hasil yang diderivasi pada inti, kontraksi fiskal yang kadang-kadang dapat meningkatkan output, bahkan dalam jangka pendek.

(hlm. 297)

BAB 14

Ekspektasi: Sarana Dasar

Konsumen yang sedang mempertimbangkan untuk membeli sebuah mobil harus bertanya: Dapatkah saya dengan mulus meminta pinjaman mobil baru? Berapa besar kenaikan gaji yang saya harapkan selama beberapa tahun ke depan? Apakah resesi akan terjadi lagi? Seberapa amankah pekerjaan saya?

Contoh-contoh tersebut akan memperjelas bahwa banyak keputusan ekonomi tidak hanya bergantung pada apa yang terjadi hari ini tetapi juga pada ekspektasi apa yang akan terjadi di masa depan. Jadi, beberapa keputusan akan tidak begitu bergantung pada apa yang terjadi saat ini.

Sebagai contoh, kita membahas secara informal ketika membahas pengaruh kepercayaan konsumen terhadap konsumsi di Bab 3, atau pengaruh penurunan besar saham terhadap pengeluaran di Bab 1.

(hlm. 298)

14-1 Suku Bunga Nominal versus Riil

Jauh lebih murah untuk meminjam di tahun 2006 ketimbang di tahun 1981.

[Pada saat buku ini ditulis, suku bunga T-bill satu tahun bahkan lebih rendah, sangat mendekati nol. Untuk tujuan kami, mem-bandingkan tahun 1981 dan 2006 merupakan cara terbaik untuk menunjukkan hal yang ingin kami sampaikan di bagian ini.]

Apakah demikian? Di tahun 1981, inflasi adalah sekitar 12%. Di tahun 2006, inflasi adalah sekitar 2%. Hal tersebut tampaknya relevan: Suku bunga memberitahukan kita berapa banyak dolar yang harus kita bayarkan di masa mendatang demi memiliki satu dolar lebih saat ini.

Akan tetapi, kita tidak akan mengkonsumsi dolar. Kita mengkonsumsi barang.

Ketika kita meminjam, apa yang ingin kita ketahui adalah berapa banyak barang yang harus kita serahkan di amsa mendatang sebagai pertukaran dengan barang yang kita peroleh saat ini. Demikian juga, ketika kita meminjam, kita ingin tahu berapa banyak barang—bukan berapa banyak dolar—yang akan kita peroleh di masa mendatang atas barang yang kita serahkan hari ini. Kehadiran inflasi membuat perbedaan tersebut menjadi penting. Apa gunanya menerima pembayaran bunga yang tinggi di amsa mendatang jika inflasi antara sekarang dan saat itu begitu tinggi sehingga kita tidak mampu membeli lebih banyak barang di masa mendatang?

Di sinilah perbedaan antara suku bunga nominal dan suku bunga riil muncul:

  • Suku bunga yang diekspresikan dalam istilah dolar (atau, secara lebih umum, dalam unit mata uang nasional) disebut suku bunga nominal (nominal interest rates).
  • Suku bunga diekspresikan dalam istilah sekeranjang barang disebut suku bunga riil (real interest rates).

(hlm. 300)

rt  ≈ it – ei

Persamaan itu mengatakan bahwa suku bunga riil (kurang lebih) sama dengan suku bunga nominal dikurangi inflasi yang diharapkan. (Di sisa buku ini, kita akan sering memperlakukan persamaan (14.4) seolah-olah seperti ekualitas. Akan tetapi, ingat itu hanya merupakan aproksimasi.)

  • Jika inflasi yang diharapkan sama dengan nol, suku bunga nominal dan suku bunga riil adalah sama.
  • Karena inflasi yang diharapkan umumnya positif, suku bunga riil pada umumnya lebih rendah dari suku bunga nominal.
  • Untuk suku bunga nominal tertentu, semakin tinggi tingkat inflasi yang diharapkan semakin rendah suku bunga riil.

(hlm. 301)

Suku Bunga Nominal dan Riil di Amerika Serikat sejak Tahun 1978

Perhatikan bahwa suku bunga riil (i – πe) didasarkan pada inflasi i yang diharapkan. Jika inflasi aktual ternyata berbeda dari inflasi yang diharapkan, suku bunga riil yang direalisasi (i – π) akan berbeda dari suku bunga riil. Karena alasan tersebut, suku bunga riil kadang-kadang disebut suku bunga riil ex-ante (“ex-ante” berarti “sebelum fakta”; di sini, sebelum inflasi diketahui). Suku bunga riil yang direalisasi disebut suku bunga riil ex-post (“ex-post” berarti “setelah fakta”: di sini, setelah inflasi diketahui).

(hlm. 302)

Mengapa Deflasi Dapat Menjadi Sangat Buruk: Deflasi dan Suku Bunga Riil Selama Great Depression

Great Depression memiliki banyak unsur yang sama dengan krisis saat ini: peningkatan harga aset yang besar sebelum turun lagi—harga perumahan dalam krisis ini, harga pasar saham di Great Depression, dan amplifikasi gejolak melalui sistem perbankan.

Suku bunga riil mencapai 12,3% di tahun 1931, 14,8% di tahun 1932, dan masih sangat tinggi 7,8% di tahun 1933! Tidaklah mengejuttkan bahwa, pada suku bunga tersebut, baik konsumsi maupun permintaan investasi tetap sangat rendah, dan depresi menjadi lebih buruk.

Apa pun alasannya, ini merupakan akhir dari perangkap deflasi dan awal pemulihan yang panjang.

Did Monetary Forces Cause the Great Depression? (W.W. Norton, 1976), oleh Peter Temin, membahas secara lebih spesifik persoalan makroekonomi.

(hlm. 303)

14-2 Suku Bunga Nominal dan Riil, serta Model IS-LM

Dalam model IS-LM yang kita kembangkan di inti (Bab 5), “suku bunga” berasal dari dua tempat: yang mempengaruhi investasi dalam hubungan IS, dan ia mempengaruhi pilihan antara uang dan obligasi dalam hubungan LM. Suku bunga mana—nominal atau riil—yang kita bicarakan dalam setiap kasus tersebut?”

  • Pertama ambil hubungan IS. Pembahasan kita di Bagian 14-1 memastikan bahwa perusahaan, dalam memutuskan berapa banyak investasi yang akan dilakukan, memperhatikan suku bunga riil.
  • Sekarang kembali ke hubungan LM. Ketika kita menderivasi hubungan LM, kita mengasumsikan bahwa permintaan akan uang bergantung pada suku bunga. Akan tetapi, apakah kita merujuk pada suku bunga nominal atau suku bunga riil?

Jawabannya: suku bunga nominal. Ingat mengapa suku bunga mempengaruhi permintaan akan uang.

(hlm. 304)

14-3 Pertumbuhan Uang, Inflasi, Suku Bunga Nominal dan Riil

  • Pertumbuhan uang yang lebih tinggi menimbulkan suku bunga nominal yang lebih rendah dalam jangka pendek tetapi suku bunga nominal yang lebih tinggi dalam jangka menengah.
  • Pertumbuhan uang yang lebih tinggi menimbulkan suku bunga riil yang lebih rendah dalam jangka pendek tetapi tidak memiliki pengaruh terhadap suku bunga riil dalam jangka menengah

(hlm. 305)

Membahas Kembali Model IS-LM

Kedua persamaan tersebut sama seperti di Bab 5, dengan hanya satu perbedaan: Pengeluaran investasi dalam hubungan IS bergantung pada suku bunga riil, yang sama dengan bunga nominal dikurangi inflasi yang diharapkan.

(hlm. 306)

[Peningkatan pertumbuhan uang akan meningkatkan stok uang riil dalam jangka pendek. Peningkatan uang riil tersebut menyebabkan peningkatan output dan penurunan baik suku bunga nominal maupun suku bunga riil.]

[Dalam jangka pendek, ketika laju pertumbuhan uang naik, M/P naik. Baik i maupun r turun dan Y naik.]

Merasa khawatir bahwa resesi akan menjadi lebih buruk, the Fed meningkatkan pertumbuhan uang demi menurunkan suku bunga riil dan meningkatkan output. (Hal tersebut berhasil, dan mengurangi lama serta parahnya resesi.)

(hlm. 307)

Suku Bunga Nominal dan Riil dalam Jangka Menengah

Dalam jangka menengah, tingkat inflasi sama dengan laju pertumbuhan uang.

Sekarang, karena inflasi sama dengan pertumbuhan uang dalam jangka menengah kita memperoleh:

i = rn + gM

peningkatan pertumbuhan uang nominal yang permanen, misalkan 10%, pada akhirnya direfleksikan dalam peningkatan tingkat inflasi sebesar 10% dan peningkatan suku bunga nominal sebesar 10%—suku bunga riil tidak berubah. Hasil tersebut—bahwa, dalam jangka menengah, suku bunga nominal meningkat sebanding dengan inflasi—yang dikenal sebagai efek Fisher (Fisher effect), atau hipotesis Fisher (Fisher hypothesis), mengikuti Irving Fisher, seorang ekonom di Yale University yang pertama kali menyatakannya dan logikanya pada awal abad keduapuluh.

(hlm. 308)

Dari Jangka Pendek hingga Jangka Menengah

[Pertumbuhan uang riil adalah pertumbuhan uang nominal dikurangi inflasi.]

(hlm. 309)

Bukti tentang Hipotesis Fisher

Terdapat banyak bukti bahwa ekspansi moneter menurunkan suku bunga nominal dalam jangka pendek (mislanya, lihat Bab 5, Bagian 5-5). Akan tetapi, berapa banyak bukti yang ada untuk hipotesis Fisher, yaitu proporsi bahwa, dalam jangka menengah, peningkatan inflasi akan menyebabkan peningkatan suku bunga nominal sebanding?

(hlm. 311)

14-4 Nilai Sekarang yang Didiskontokan yang Diharapkan

Dia membandingkan dua angka, yaitu nilai sekarang yang didiskontokan yang diharapkan dan biaya awal. Jika nilainya melebihi biaya, ia harus terus maju dan membeli mesin. Jika tidak, ia harus berhenti.

(hlm. 313)

“Nilai sekarang yang didiskontokan yang diharapkan” adalah ekspresi yang sulit untuk digunakan; untuk singkatnya, kita akan sering menggunakan nilai sekarang yang didiskontokan (present discounted value), atau bahkan cukup nilai sekarang (present value).

(hlm. 321)

BAB 15

Pasar Keuangan dan Ekspektasi

(hlm. 322)

15-1 Harga Obligasi dan Imbal Hasil Obligasi

Obligasi berbeda dalam dua dimensi dasar:

  • Risiko gagal bayar: Risiko bahwa penerbit obligasi (pemerintah atau perusahaan) tidak dapat membayar jumlah penuh yang dijanjikan dalam obligasi.
  • Jatuh tempo: Rentang waktu yang dijanjikan penerbit obligasi untuk membayar pemegang obligasi. Sebuah obligasi yang berjanji untuk membayar sebesar $1.000 dalam rentang waktu enam bulan memiliki waktu jatuh tempo enam bulan; sebuah obligasi yang berjanji membayar sebesar $100 per tahun selama 20 tahun mendatang dan pembayaran akhir sebesar $1.000 pada akhir dari 20 tahun tersebut memiliki waktu jatuh tempo 20 tahun.

(hlm. 323)

Kosakata Pasar Obligasi

  • Perbedaan antara suku bunga yang diabyarkan atas obligasi tertentu dan suku bunga yang dibayarkan atas obligasi tertentu dan suku bunga yang dibayarkan atas obligasi dengan peringkat tertinggi (terbaik) disebut premi risiko yang diasosiasikan dengan obligasi teretntu. Obligasi dengan risiko gagal bayar yang tinggi terkadang disebut obligasi sampah (junk bonds).
  • Obligasi yang menjanjikan pembayaran tunggal pada saat jatuh tempo disebut obligagsi yang didiskontokan (discount bonds). Pembayaran tunggal disebut nilai nominal obligasi (face value).
  • Obligasi yang menjanjikan pembayaran berganda sebelum jatuh tempo dan pembayaran tunggal pada saat jatuh tempo disebut obligasi dengan kupon (coupon bonds). Pembayaran sebelum jatuh tempo disebut pembayaran kupon (coupon payments). Pembayaran akhir disebut nilai nominal obligasi. Rasio pembayaran kupon terhadap nilai nominal disebut suku bunga kupon (coupon rate). Imbal hasil saat ini adalah rasio pembayaran kupon terhadap harga obligasi.
  • Obligasi dengan jatuh tempo hingga satu tahun ketika diterbitkan disebut Treasury bills, atau T-bills. T-bills merupakan ibligasi yang didiskontokan, yang hanya melakukan pembayaran tunggal pada saat jatuh tempo. Obligasi dengan jatuh tempo 1 hingga 10 tahun ketika diterbitkan disebut Treasury notes. Obligasi dengan jatuh tempo 10 tahun atau lebih ketika diterbitkan disebut Treasury bonds. Baik Treasury notes maupun Treasury bonds merupakan obligasi dengan kupon.
  • Akan tetapi, terdapat jenis obligasi lain yaitu obligasi indeks (indexed bond), obligasi yang menjanjikan pembayaran yang disesuaikan dengan inflasi dan bukan pembayaran nominal yang tetap.

(hlm. 327)

Menginterpretasikan Kurva Imbal Hasil

Jika kurva imbal hasil memiliki kemiringan menaik—itu berarti, ketika suku bunga jangka panjang lebih tinggi dari suku bunga jangka pendek—hal tersebut memberitahukan kita bahwa pasar keuangan mengharapkan suku bunga jangka pendek yang lebih tinggi di masa mendatang

Kurva Imbal Hasil dan Aktivis Ekonomi

Karena penurunan yang tidak diharapkan dalam aktivitas ekonomi pada enam bulan pertama tahun 2001 menyebabkan penurunan suku bunga jangka pendek yang tajam.

(hlm. 330)

Kurva Imbal Hasil dan Perangkap Likuiditas

Di ujung kurva, suku bunga T-bill hampir sama dengan nol.

(gambar 1)

Kurva Imbal Hasil per Juli 2011

15-2 Pasar Saham dan Pergerakan Harga Saham

Pasar Saham dan Aktivitas Ekonomi

Dengan kata lain, ekspektasi harga saham yang tinggi di tahun berikutnya akan mengakibatkan harga saham yang tinggi hari ini.

Pergerakan besar terhadap harga saham tidak dapat diramalkan.

Kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimana jika.” Sebagai contoh: Apa yang akan terjadi dengan pasar saham jika the Fed memberlakukan kebijakan yang lebih ekspansioner, atau jika konsumen menjadi lebih optimis dan meningkatkan pengeluaran?

(hlm. 335)

Ekspansi Moneter dan Pasar Saham

Misalkan apa yang ditempuh the Fed setidaknya sebagian tidak diharapkan. Dalam kasus ini, harga saham naik. Terdapat dua alasan mengapa harga saham meningkat: Pertama, kebijakan moneter yang lebih ekspansioner menyiratkan suku bunga yang lebih rendah selama beberapa waktu. Kedua, kenaikan ini juga menyiratkan output yang lebih tinggi selama beberapa waktu (hingga ekonomi kembali ke tingkat output alami), sehingga dividen pun lebih tinggi. Seperti terlihat dari persamaan (15.11), baik suku bunga yang lebih rendah maupun dividen yang lebih tinggi—saat ini maupun yang diharapkan—akan mengakibatkan peningkatan harga saham.

(hlm. 338)

15-3 Risiko, Gelembung, Fads, dan Harga Aset

Harga Saham dan Risiko

Sebagian besar teori keuangan (finance theory) berkaitan dengan bagaimana seseorang mengambil keputusan ketika mereka menghindari risiko, dan apa yang tersirat dari menghindari risiko bagi harga aset.

(hlm. 339)

Harga Aset, Fundamental, dan Gelembung

Pergerakan harga saham semacam itu disebut gelembung spekulatif yang rasional (rational speculative bubbles): Investor keuangan mungkin berperilaku secara rasional ketika gelembung terbentuk.

(hlm. 340)

Gelembung yang Terkenal: Dari Tulipmania di Belanda Abad Ketujuhbelas hingga Rusia di Tahun 1994

Suatu episode yang disebut sebagai “tulip bubble” berlangsung dari tahun 1634 hingga 1637.

Masalahnya adalah perusahaan tersebut tidak terlibat dalam jenis produksi apa pun dan tidak memiliki aset, kecuali 140 kantor di Rusia.

Mavrodi berusaha mengancam pemerintah agar membayar para pemegang saham dan mengklaim bahwa jika pemerintah tidak melakukan hal tersebut, revolusi atau perang sipil akan muncul. Pemerintah menolak, yang menyebabkan banyak pemegang saham marah kepada pemerintah dan bukan kepada Mavrodi.

Penyimpangan harga saham dari nilai fundamentalnya terkadang disebut fads.

(hlm. 341)

Peningkatan Harga Rumah di AS: Fundamental atau Gelembung?

Tanpa adanya gelembung, kita dapat menganggap harga rumah bergantung pada suku bunga saat ini dan yang diharapkan di masa mendatang, serta pada sewa saat ini dan yang diharapkan.

(gambar 1) Rasio Harga-Sewa Rumah AS sejak Tahun 1985

(hlm. 342)

Kesimpulan apa yang dapat Anda ambil? Bahwa gelembung dan fads terlihat lebih jelas ketika telah terjadi alih-alih ketika sedang terjadi. Hal ini menyebabkan tugas pembuat kebijakan menjadi jauh lebih sulit: Jika yakin ini adalah gelembung, mereka harus berusaha untuk menghentikannya sebelum gelembung tersebut menjadi terlalu besar dan kemudian pecah. Akan tetapi, mereka jarang dapat yakin bahwa terdapat gelembung hingga semuanya terlambat.

(hlm. 345)

BAB 16

Ekspektasi, Konsumsi, dan Investasi

(hlm. 346)

16-1 Konsumsi

Bagaimana seseorang memutuskan seberapa banyak yang akan ia konsumsi dan seberapa banyak yang akan ia tabung? Di Bab 3, kita berasumsi bahwa konsumsi hanya bergantung pada pendapatan saat ini. Akan tetapi, bahkan pada saat itu, jelas bahwa konsumsi bergantung pada beberapa hal lain, terutama pada ekspektasi mengenai masa depan.

Teori konsumsi modern, yang mendasari bagian ini, dikembangkan secara independen pada tahun 1950-an oleh Milton Friedman dari University of Chicago, yang menyebutnya sebagai teori konsumsi pendapatan permanen (permanent income theory of consumption), dan oleh Franco Modigliani dari MIT, yang menyebutnya teori konsumsi siklus hidup (life cycle theory of consumption). “Pendapatan permanen” Friedman menekankan bahwa konsumen dapat melihat melampaui pendapatan saat ini. “Siklus hidup” Modigliani menekankan bahwa horizon atau rentang waktu perencanaan alami konsumen adalah seumur hidupnya.

Perilaku konsumsi agregat telah menjadi bidang penelitian yang sangat diminati sejak saat itu karena dua alasan: Alasan pertama adalah besarnya tingkat konsumsi sebagai salah satu komponen GDP, sehingga kita perlu memahami pergerakan konsumsi. Alasan lain adalah meningkatnya ketersediaan survei penting terhadap konsumen individual, seperti Panel Study of Income Dynamics (PSID), yang dideskripsikan di kotak Fokus, “Mengenal Lebih Dekat: Pembelajaran dari Rangkaian Data Panel.”

Kosumen yang Sangat Berpikir Panjang

Kita akan menyebutnya sebagai teori konsumen yang sangat berpikir panjang.

  • Pertama, ia akan menjumlahkan nilai saham dan obligasi miliknya, nilai tabungan dan giro, nilai rumah yang ia milikii dikurangi hipotek yang masih berlaku, dan seterusnya.

Ia juga akan mengestimasi berapa pendapatan tenaga kerja setelah pajak yang mungkin diterima selama umur kerjanya, dan menghitung nilai sekarang dari pendapatan tenaga kerja setelah pajak yang diharapkan.

  • Asumsi yang masuk akal adalah bahwa ia akan memutuskan untuk menghabiskan sebagian dari total kekayaannya sedemikian rupa sehingga mempertahankan tingkat konsumsi yang kurang lebih sama setiap tahun selama hidupnya.

(hlm. 347)

Mengenal Lebih Dekat: Pembelajaran dari Rangkaian Data Panel

(Fokus tertuju pada konsumsi makanan kaena salah satu tujuan awal survei ini adalah memahami dengan lebih baik kondisi hidup keluarga miskin. …)

Dengan menyediakan informasi mengenai individu dan keluarga besarnya selama hampir empat dekade, survei ini memungkinkan para ekonom mengajukan dan menjawab pertanyaan yang sebelumnya tidak memiliki bukti yang cukup. Beberapa pertanyaan yang dijawab PSID adalah:

  • Sejauh apa konsumsi (makanan) merespons pergerakan sementara pendapatan.
  • Seberapa banyak risiko yang dibagi di anatra anggota keluarga?
  • Berapa banyak orang yang peduli mengenai tinggal berdekatan dengan keluarganya?

Suatu Contoh

Karena itu, satu-satunya kekayaan Anda adalah kekayaan manusia Anda, yaitu nilai sekarang dari pendapatan tenaga kerja setelah pajak yang diharapkan.

(hlm. 348)

Kekayaan Anda saat ini, yaitu nilai yang diharapkan dari pendapatan tenaga kerja setelah pajak Anda seumur hidup, adalah sekitar $2 juta.

Seberapa banyak yang harus Anda konsumsi? Anda dapat berharap untuk hidup sekitar 16 tahun setelah Anda pensiun, sehingga Anda mengharapkan sisa umur Anda hari ini adalah 58 tahun. Jika Anda ingin jumlah konsumsi yang sama setiap tahunnya, tingkat konsumsi konstan yang mampu Anda keluarkan sama dengan total kekayaan dibagi dengan ekspektasi sisa umur Anda, atau $2.166.000/58 = $37.344 per tahun.

Menuju Deskripsi yang Lebih Realistis

(hlm. 350)

Konsumsi adalah fungsi yang meningkat dari total kekayaan dan juga fungsi yang meningkat dari pendapatan tenaga kerja setelah pajak saat ini.

Buktinya adalah bahwa sebagian besar konsumen melihat ke depan, berdasarkan semangat teori yang dikembangkan oleh Modigliani dan Friedman. (Lihat kotak Fokus “Apakah Orang Menabung Cukup Banyak untuk Pensiun?) Akan tetapi, beberapa konsumen, terutama yang sementara ini memiliki pendapatan rendah dan akses yang buruk ke kredit, cenderung mengkonsumsi sesuai dengan pendapatannya saat ini, terlepas dari apa yang mereka harapkan akan terjadi dengannya di masa mendatang.

(hlm. 351)

Apakah Orang Menabung Cukup Banyak untuk Pensiun?

Secara rata-rata, orang menabung dengan jumlah yang cukup untuk pensiun. Secara lebih spesifik, penulis menemukan bahwa lebih dari 80% rumah tangga memiliki kekayaan di atas target. Jika dibalik, hanya 20% rumah tangga yang memiliki kekayaan di bawah target.

(hlm. 352)

  • Konsumsi mungkin merespons dalam proporsi yang lebih kecil terhadap fluktuasi pendapatan saat ini. Ketika memutuskan berapa banyak yang akan dikonsumsi, seseorang konsumen tidak hanya melihat pendapatanya saat ini. Jika ia menyimpulkan bahwa penurunan pendapatannya bersifat permanen, ia mungkin akan menurunkan konsumsi sesuai dengan penurunan pendapatannya.

  • Konsumsi dapat berubah meskipun pendapatan saat ini tidak berubah. Pemilihan presiden yang karismatik dan dapat mengartikulasikan visi masa depan yang menarik dapat membuat rakyatnya menjadi lebih optimistis mengenai masa depan secara umum, dan mengenai pendapatan masa depannya secara khusus, yang membuat mereka meningkatkan konsumsi meskipun pendapatannya saat ini tidak berubah.

Konsumen akan terus merasa pesimistis mengenai prospek pendapatannya. Hal tersebut membuat mereka membatasi konsumen, yang pada akhirnya mengakibatkan pemulihan krisis berjalan lambat dan menyakitkan.

(hlm. 353)

16-2 Investasi

Bagaimana perusahaan mengambil keputusan investasi? Pada pembahasan pertama kita di Bab 5, kita menganggap investasi bergantung pada suku bunga saat ini dan tingkat penjualan saat ini. Kita memperbaiki jawaban tersebut di Bab 14 dengan menunjukkan bahwa hal yang penting adalah suku bunga riil, bukan suku bunga nominal. Sekarang sudah jelas bahwa keputusan investasi, sama seperti keputusan konsumsi, bergantung pada lebih dari sekedar penjualan saat ini dan suku bunga riil saat ini.

Penyusutan

Tingkat penyusutan, , mengukur berapa daya guna mesin yang hilang dari tahun ke tahun berikutnya.

Berdasarkan studinya tentang penyusutan mesin dan bangunan tertentu, mereka menggunakan angka antara 4% dan 15% untuk mesin, serta antara 2% dan 4% untuk bangunan dan pabrik.

(hlm. 355)

Investasi dan Pasar Saham

Jika nilai pasar saham melebihi harga beli, perusahaan harus membeli mesin; jika tidak, perusahaan seharusnya tidak membeli mesin.

(hlm. 359)

Profitabilitas versus Arus Kas

Cara terbaik untuk mengisolasi pengaruh arus kas dan profitabilitas terhadap investasi adalah dengan mengidentifikasi waktu atau peristiwa ketika arus kas dan profitabilitas bergerak dalam arah yang berbeda, dan kemudian melihat apa yang terjadi dengan investasi. Ini adalah pendekatan yang diambil oleh Owen Lamont, seorang ekonom dari Yale University.

Ini merupakan strategi empiris yang diikuti oleh Lamont. Ia fokus pada apa yang terjasi di tahun 1986 ketika harga minyak di Amerika Serikat turun sebesar 50%, yang menyebabkan kerugian yang besar dalam segala aktivitas yang berhubungan dengan minyak. Ia kemudian melihat apakah perusahaan yang memiliki banyak aktivitas terkait minyak memangkas investasinya dalam aktivitas nonminyak dengan jumlah yang relatif lebih besar dari investasi perusahaan lain dalam aktivitas nonminyak yang sama. Ia menyimpulkan bahwa hal tersebut benar-benar terjadi. Ia menemukan bahwa untuk setiap $1 penurunan arus kas akibat penurunan harga minyak, pengeluaran investasi dalam aktivitas nonminyak berkurang 10 hingga 20 persen sen. Singkatnya: Arus kas saat ini merupakan hal yang penting.

(hlm. 360)

Laba dan Penjualan

Gambar 16-4 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara perubahan laba per unit modal dan perubahan rasio output terhadap modal.

(hlm. 361)

16-3 Volatilitas Konsumsi dan Investasi

  • Semakin berharap peningkatan pendapatan saat ini bersifat sementara, semakin rendah peningkatan konsumsinya.
  • Inilah mengapa, misalnya, booming penjualan yang terjadi setiap tahun pada periode Thanksgiving dan Natal tidak mengakibatkan booming investasi setiap bulan Desember. Perusahaan paham bahwa booming ini bersifat sementara.

[Di Amerika Serikat, penjualan ritel rata-rata 24% lebih tinggi pada bulan Desember ketimbang di bulan-bulan lainnya. Di Prancis dan Italia, penjualan adalah 60% lebih tinggi di bulan Desember.

Teori konsumsi yang kita kembangkan sebelumnya menyiratkan bahwa ketika terjadi peningkatan pendapatan yang dipersepsikan konsumen sebagai bersifat permanen, mereka meresponsnya paling tidak dengan peningkatan yang sama banyaknya dalam konsumsi.

(hlm. 362)

  • Investasi jauh lebih mudah berubah ketimbang konsumsi. Pergerakan relatif investasi berkisar dari -29% hingga 26%, sementara pergerakan relatif konsumsi berkisar dari -5% hingga 3%.
  • Dengan kata lain, kedua komponen tersebut kurang lebih memberikan kontribusi yang sama terhadap fluktuasi output seiring dengan berlalunya waktu.

(hlm. 367)

BAB 17

Ekspektasi, Output, dan Kebijakan

(hlm. 370)

17-1 Ekspektasi dan Keputusan: Membeli Saham

Penurunan suku bunga riil saat ini, jika suku bunga riil masa mendatang yang diharapkan tidak berubah, tidak berpengaruh banyak terhadap pengeluaran.

(hlm. 375)

17-2 Kebijakan Moneter, Ekspektasi, dan Output

Perangkap Likuiditas, Pelonggaran Kuantitatif, dan Peran dari Ekspektasi

Tujuan dari pelonggaran kuantitatif adalah untuk istilah jumlah uang yang beredar.

Karena baik obligasi maupun uang membayarkan suku bunga nominal yang sama, yaitu nol, masyarakat bersedia memegang lebih banyak uang dan lebih sedikit obligasi sebagai respons operasi pasar terbuka sehingga membuat suku bunga nominal tidak berubah dan sama dengan nol.

Pada bulan November 2008, the Fed memulai sebuah program yang dikenal sebagai Quantitative Easing I, atau QEI untuk singkatnya, di mana the Fed membeli sejumlah besar surat berharga berbasis hipotek. (Nama yang lebih sesuai untuk program tersebut adalah Credit Easing I karena tujuannya jelas untuk menurunkan suku bunga pada aset tertentu, aset yang tidak lagi diinginkan oleh investor swasta). Pada bulan Agustus 2010, dalam apa yang dikenal sebagai Quantitative Easing II, atau QEII, the Fed mulai membeli obligasi pemerintah jangka panjang sehingga meningkatkan jumlah uang yang beredar lebih tinggi lagi.

(hlm. 376)

Anda dapat melihat bagaimana, sebagai hasil dari pembelian ini, jumlah uang bank sentral telah bertambah lebh dari tiga kali lipat, dari sekitar 6% dari GDP pada tahun 2007 hingga 20% dari GDP di tahun 2011!

(hlm. 377)

Ekspektasi Rasional

  • Dengan kata lain, pergeseran ekspektasi dianggap penting, tetapi dibiarkan tidak dijelaskan.
  • Sebagai contoh, seseorang seing kali mengasumsikan dirinya memiliki ekspektasi statis (static expectation), itu berarti mengharapkan masa mendatang seperti masa kini (kita menggunakan asumsi ini ketika membahas kurva Phillips di Bab 8 dan ketika membahas keputusan investasi di Bab 16).

Mereka berpendapat bahwa dalam memikirkan efek dari kebijakan alternatif, para ekonom seharusnya mengasumsikan bahwa masyarakat memiliki ekspektasi rasional, bahwa masyarakat melihat ke masa mendatang dan berusaha meramalkannya sebaik mungkin. Hal tersebut tidak sama dengan mengasumsikan bahwa orang mengetahui masa depan, tetapi ia menggunakan informasi yang dimilikinya sebaik mungkin.

Merancang suatu kebijakan dengan asumsi bahwa masyarakat akan melakukan kesalahan sistematis dalam meresponsnya tidaklah bijak.

Mengapa ekspektasi rasional memerlukan waktu hingga tahun 1970-an untuk menjadi asumsi standar dalam makroekonomi? Sebagian besar karena masalah teknis. Dengan ekspektasi rasional, apa yang terjadi hari ini bergantung pada ekspektasi tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang. Akan tetapi, apa yang terjadi di masa mendatang juga bergantung pada apa yang terjadi hari ini. Memecahkan model semacam itu sulit.

(hlm. 378)

Para ekonom merujuk ekspektasi yang dibentuk dengan cara melihat ke depan sebagai ekspektasi rasional (rational expectations).

17-3 Pengurangan Defisit, Ekspektasi, dan Output

  • Dalam jangka panjang, pengurangan defisit anggaran adalah hal yang baik bagi perekonomian: Dalam jangka menengah, defisit anggaran yang lebih rendah mengimplikasikan tabungan dan investasi yang lebih tinggi.
  • Akan tetapi, dalam jangka pendek, pengurangan defisit anggaran, kecuali dioffset oleh ekspansi moneter, menyebabkan pengeluaran yang lebih rendah dan kontraksi pada output.

(hlm. 379)

[Sebagai respons terhadap ramalan tersebut, suku bunga jangka panjang akan turun dan pasar saham akan naik. Masyarakat dan perusahaan, dengan membaca perkiraan tersebut dan melihat harga obligasi dan saham, akan merevisi rencana pengeluaran mereka dan meningkatkan pengeluaran.]

(hlm. 381)

Dapatkah Pengurangan Defisit Anggaran Menyebabkan Ekspansi Output? Irlandia di Tahun 1980-an

  1. Selama tiga tahun berikutnya, pemerintah meluncurkan sebuah program pengurangan defisit, sebagian besar didasarkan pada kenaikan pajak. Ini merupakan program yang ambisius: Jika output terus tumbuh dengan laju pertumbuhan normalnya, program ini akan mengurangi defisit sebesar 5% dari GDP.

Akan tetapi, hasilnya tidak sesuai harapan.

  • Upaya kedua untuk mengurangi difisit anggaran diberlakukan mulai bulan Februari 1987. Pada saat itu, segala sesuatu masih sangat buruk. Defisit tahun 1986 adalah 10,7% dari GDP; utang berada pada tingkat 116% dari GDP, rekor tertinggi di Eropa pada saat itu. Program pengurangan defisit yang baru ini berbeda dari program pertama. Program ini lebih berfokus pada pengurangan peran pemerintah dan pemotongan pengeluaran pemerintah alih-alih meningkatkan pajak.

Hasil dari program kedua jauh berbeda dibandingkan hasil program pertama. Tahun 1987 hingga 1989 adalah tahun-tahun di mana perekonomian tumbuh kuat, dengan rata-rata pertumbuhan GDP melebihi 5%. Tingkat pengangguran berkurang hampir 2%. Karena pertumbuhan output yang kuat, pendapatan dari pajak lebih tinggi daripada yang diantisipasi dan defisit berkurang hingga hampir 9% dari GDP.

Menurut mereka, program pertama berfokus pada peningkatan pajak dan tidak mengubah apa yang banyak orang lihat sebagai peran pemerintah yang terlalu besar dalam bidang ekonomi. Program kedua, dengan fokusnya terhadap pemotongan pengeluaran dan reformasi pajak, memiliki dampak yang jauh lebih positif terhadap ekspektasi, dan menimbulkan dampak positif terhadap pengeluaran dan output.

Alasannya pastilah karena mereka merasa sangat pesimistis mengenai masa mendatang.

(hlm. 382)

Konsumen pastilah merasa lebih optimistis mengenai masa depan karena mereka meningkatkan tingkat konsumsi lebih dari jumlah peningkatan pendapatan disposabel.

Tertarik dengan keringanan pajak, biaya tenaga kerja yang rendah, dan tenaga kerja yang terdidik, banyak perusahaan asing membuka cabang di Irlandia dan membangun pabrik-pabrik baru: Faktor-faktor tersebut memainkan peran penting dalam ekspansi di akhir tahun 1980-an akhir. Pertumbuhan ekonomi Irlandia saat itu sangat kuat, biasanya lebih dari 5% per tahun dari tahun 1990 hingga krisis 2007.

Kebijakan yang dipersepsikan oleh perusahaan dan pasar keuangan sebagai upaya mengurangi beberapa distorsi dalam ekonomi dapat meningkatkan ekspektasi dan meningkatkan kecenderungan peningkatan output dalam jangka pendek.

(hlm. 383)

  • Kredibilitas program
  • Waktu pelaksanaan program
  • Komposisi program
  • Keadaan keuangan pemerintah semula

(hlm. 387)

Perekonomian Terbuka

(hlm. 389)

BAB 18

Keterbukaan Pasar Barang dan Pasar Keuangan

(hlm. 390)

18-1 Keterbukaan di Pasar Barang

Perekonomian A.S menjadi semakin terbuka seiring dengan berjalannya waktu. Ekspor dan impor, yang sama dengan 5% dari GDP di awal tahun 1960-an, saat ini setara dengan sekitar 14,5% dari GDP (13% untuk ekspor, 16% untuk impor).

(hlm. 392)

Dapatkah Ekspor Melampaui GDP?

Oleh karena itu, ekspor dapat melebihi GDP. Hal tersebut sebenarnya merupakan kasus dari sejumlah negara kecil di mana sebagian besar aktivitas ekonominya diorganisasikan di sekitar pelabuhan dan aktivitas impor-ekspor. Hal ini bahkan yang terjadi pada negara kecil seperti Singapura, di mana manufaktur memainkan peran yang penting. Di tahun 2010, rasio ekspor terhadap GDP di Singapura adalah 211%!

(hlm. 400)

18-2 Keterbukaan di Pasar Keuangan

(Tabel 18-3)

Transaksi Berjalan

     Neraca perdagangan (defisit = – )(1)

Neraca transaksi berjalan (defisit = – ) (1) + (2) + (3)

Transaksi Modal

Jumlah pembayaran bersih kepada dan dari negara lain disebut neraca transaksi berjalan (current account balance).

Transaksi Modal

Transaksi di bawah garis pembatas disebut transaksi modal (capital account).

(hlm. 401)

Jumlah defisit transaksi berjalan dari semua negara di dunia seharusnya nol: Defisit di satu negara muncul sebagai surplus untuk negara lain ketika diakumulasi. Akan tetapi, bukan hal ini yang terjadi dalam data: Jika kita hanya menjumlahkan defisit transaksi berjalan yang dipublikasikan dari semua negara di dunia, hal tersebut akan membuat dunia tampak seperti menjalankan sebuah defisit transaksi berjalan yang besar!

GNP = GDP + NI

Pilihan antara Aset Domestik dan Asing

Mata uang asing tidak dapat digunakan untuk transaksi di Amerika Serikat dan jika tujuannya adalah untuk memegang aset asing, memegang mata uang asing jelas kurang menarik dibandingkan dengan memegang obligasi asing, yang membayarkan bunga. Hal tersebut meninggalkan satu-satunya pilihan baru untuk dipikirkan, pilihan antara aset berbunga domestik dan set berbunga luar negeri.

(hlm. 404)

Suku Bunga dan Kurs

Jadi, persamaan (18.4) secara ekuivalen menyatakan bahwa suku bunga domestik harus sama dengan suku bunga asing dikurangi tingkat depresiasi mata uang asing yang diharapkan.

Dengan memegang obligasi Inggris, Anda akan memperoleh pembayaran bunga yang lebih tinggi di tahun berikutnya, tetapi poundsterling akan bernilai lebih rendah daripada dolar di tahun berikutnya, menjadikan investasi di obligasi Inggris kurang menarik daripada investasi di obligasi AS

(hlm. 405)

Membeli Obligasi Brazil

Pembahasan di bab ini memberitahukan Anda bahwa untuk memutuskannya, Anda perlu satu lagi unsur penting, tingkat depresiasi yang diharapkan dari cruzeiro (nama mata uang Brazil saat itu); mata uang tersebut sekarang disebut real) terhadap dolar.

Tingkat pengembalian yang diharapkan (dalam dolar) dari memegang obligasi Brazil hanyalah (1,017-1) = 1,6% per bulan, bukan 36,9% per bulan yang pada awalnya terlihat menarik. Perhatikan bahwa 1,6% per bulan masih jauh lebih tinggi daripada suku bunga bulanan obligasi AS (sekitar 0,2%). Akan tetapi, pikirkan risiko dan biaya transaksi—semua unsur yang kita abaikan ketika kita menuliskan kondisi arbitrase. Ketika berbagai hal tersebut telah diperhitungkan, Anda mungkin memutuskan untuk mempertahankan dana Anda di luar Brazil.

(hlm. 406)

18-3 Kesimpulan dan Pandangan ke Depan

  • Keterbukaan di pasar barang memungkinkan masyarakat dan perusahaan untuk memilih antara barang domestik atau barang asing. Pilihan tersebut terutama bergantung kepara kurs riil—harga relatif barang domestik terhadap barang asing.
  • Keterbukaan di pasar keuangan memungkinkan investor untuk memilih aset domestik atau aset asing. Pilihan tersbeut khususnya bergantung pada tingkat pengembalian relatif mereka, yang bergantung pada suku bunga domestik dan suku bunga asing, dan pada tingkat apresiasi yang diharapkan dari mata uang domestik.

(hlm. 408)

Bacaan Lebih Lanjut

Jika Anda ingin mempelajari lebih dalam mengenai perdagangan internasional dan ekonomi internasional, buku teks yang sangat bagus adalah oleh Paul Krugman dan Maurice Obstfed, International Economics, Theory and Policy, ed. 9 (Pearson Addison Wesley, 2010).

(hlm. 409)

BAB 19

Pasar Barang dalam Perekonomian Terbuka

Namun kekhawatiran terbesar sebenarnya tidak setuju pada Amerika Serikat melainkan pada diri sendiri. Bagi mereka, resesi AS akan menyebabkan ekspor yang lebih rendah ke Amerika Serikat, penurunan posisi perdagangannya, dan pertumbuhan ekonomi yang lemah.

(hlm. 410)

19-1 Hubungan IS dalam Perekonomian Terbuka

Permintaan akan Barang Domestik

Pertama kita harus mengekspresikan nilai impor dalam wujud barang domestik. Inilah yang dimaksud dengan suku IM/ dalam persamaan (19.1): Ingat kembali dari Bab 18 bahwa , yaitu kurs riil, didefinisikan sebagai harga barang domestik dalam wujud barang asing.

(hlm. 411)

Determinan Impor

Impor jelas bergantung pada pendapatan domestik: Pendapatan domestik yang semakin tinggi mengakibatkan permintaan domestik yang lebih tinggi atas semua barang, baik domestik maupun asing.

(hlm. 413)

[Ingat kembali bahwa ekspor bersih (net exports) sinonim dengan neraca perdagangan (trade balance).]

(hlm. 416)

19-3 Peningkatan Permintaan, Domestik atau Asing

Peningkatan Permintaan Domestik

Karena perekonomian bersifat terbuka, peningkatan permintaan sekarang tidak hanya terjadi atas barang domestik, tetapi juga atas barang asing. Karena itu, ketika pendapatan meningkat, dampaknya terhadap permintaan akan barang domestik lebih kecil ketimbang jika dalam perekonomian tertutup, yang menghasilkan multiplier yang lebih kecil.

(hlm. 418)

Pembahasan Ulang Kebijakan Fiskal

Pemerintah tidak suka mengalami defisit perdagangan dan ini sebenarnya bagus. Alasan utamanya adalah: negara yang secara konsisten mengalami defisit perdagangan akan mengakumulasi utang dari seluruh dunia, sehingga negara itu harus terus membayar bunga yang lebih tinggi ke seluruh dunia.

Akan tetapi, Preferensi tersebut sesungguhnya dapat memiliki implikasi yang merusak.

(hlm. 419)

G20 dan Stimulus Fiskal Tahun 2009

Mereka dapat membandingkan apa yang terjadi dengan apa yang dapat terjadi. Tidak ada politisi yang pernah terpilih kembali dengan slogan kampanye, ‘Situasi akan menjadi lebih buruk tanpa.’ Anda mungkin bisa terpilih kembali. Akan tetapi, Anda tidak dapat mendapatkan jabatan itu lagi.

Sebagian besar peningkatan utang bukan berasal dari ukuran diskresioner yang dilakukan, tetapi dari penurunan pendapatan yang berasal dari penurunan output selama krisis. Dan sejumlah negara menjalankan defisit yang besar sebelum krisis. Akan tetapi, tetap benar bahwa peningkatan utang yang besar tersebut sekarang membuat penggunaan kebijakan fiskal dalam membantu pemulihan jadi lebih sulit.

(hlm. 420)

19-4 Depresiasi, Neraca Perdagangan, dan Output

Kurs riil (harga barang domestik dalam bentuk barang asing) sama dengan kurs nominal, E (harga mata uang domestik dalam wujud mata uang asing) dikalikan tingkat harga domestik, P, dibagi dengan tingkat harga asing, P*. secara lebih konkret, jika dolar terdepresiasi terhadap yen sebesar 10% (depresiasi nominal 10%), dan jika tingkat harga di Jepang dan Amerika Serikat tidak berubah, maka barang AS akan 10% lebih murah dibandingkan barang Jepang (depresiasi riil 10%).

Kondisi di mana depresiasi riil menghasilkan peningkatan ekspor bersih dikenal sebagai kondisi Marshall-Lerner.

(hlm. 421)

Dampak Depresiasi

Perubahan ekspor bersih akan mengubah output domestik, yang mempengaruhi ekspor bersih lebih lanjut.

Pemerintah yang berusaha melakukan depresiasi yang besar sering menghadapi pemogokan dan keributan di jalan, yang merupakan reaksi banyak orang terhadap harga barang impor yang lebih tinggi. Hal tersebut pernah terjadi di Meksiko, di mana depresiasi yang besar atas peso di tahun 1994-1195—dari 29 sen per peso di bulan November 1994 menjadi 17 sen per peso di bulan Mei 1995—mengakibatkan penurunan drastis dalam standar hidup pekerja dan ketidaktenangan sosial.

Menggabungkan Kurs dan Kebijakan Fiskal

Apa yang harus dilakukan pemerintah? Jawabannya: Gunakanlah kombinasi depresiasi dan kontraksi fiskal yang tepat.

(hlm. 424)

19-5 Membahas Dinamika: Kurva-J

Secara umum, bukti ekonometrik mengenai hubungan yang dinamis antara ekspor, impor, dan kurs riil menunjukkan bahwa di semua negara OECD, depresiasi riil pada akhirnya akan memperbaiki neraca perdagangan. Akan tetapi, depresiasi riil juga menunjukkan bahwa proses tersebut memerlukan waktu, yang umumnya mencapai antara enam bulan sampai satu tahun.

(hlm. 425)

19-6 Tabungan, Investasi, dan Neraca Transaksi Berjalan

Neraca transaksi berjalan sama dengan tabungan—yakni jumlah tabungan swasta dan tabungan publik—dikurangi dengan investasi.

(hlm. 426)

Defisit Transaksi Berjalan AS: Asal Muasal dan Implikasi

Rasio tabungan AS terhadap GDP telah turun dari 20% di tahun 1980 menjadi 15% tepat sebelum krisis, dan kemudian turun lagi menjadi 12% di tahun 2010. Rasio investasi terhadap GDP juga telah turun, walaupun lebih sedikit, yaitu dari 22% di tahun 1980 menjadi 20% tepat sebelum krisis, dan akhirnya menjadi 15% di tahun 2010.

Langkah berikutnya adalah menanyakan apa yang menyebabkan tren penurunan tabungan AS

(hlm. 427)

Seperti telah kita bahas, krisis mendorong konsumen dan perusahan untuk sangat tidak optimis mengenai masa depan. Konsumen memutuskan untuk menabung lebih banyak, dan mengkonsumsi lebih sedikit. Perusahaan memutuskan untuk berinvestasi lebih sedikit. Akan tetapi, demi membatasi penurunan permintaan dan output, pemerintah AS meningkatkan pengeluaran dan menurunkan pajak, yang menyebabkan penurunan yang besar dalam tabungan pemerintah dan peningkatan dramatis dalam defisit anggaran yang telah kita bahas di buku ini. Hasil dari perubahan perilaku tersebut selama periode krisis adalah tabungan swasta yang lebih tinggi, tabungan pemerintah yang lebih rendah, investasi yang lebih rendah, dan sedikit penurunan dalam defisit transaksi berjalan.

Apakah seharusnya Amerika Serikat mengurangi defisit transaksi berjalan?

Bahkan sebelum krisis, sebagian besar ekonom berpendapat bahwa Amerika Serikat seharusnya melakukan hal tersbeut. Mereka berpendapat bahwa defisit transaksi berjalan merefleksikan tabungan yang tidak mencukupi, baik di sisi rumah tangga maupun di sisi pemerintah. Tingkat tabungan rumah tangga yang rendah dilihat secara luas sebagai refleksi ekspektasi optimistis yang berlebihan mengenai masa depan.

(hlm. 428)

Apa yang diperlukan adalah apresiasi dolar, yang akan meningkatkan ekpor dan menurunkan impor. Jadi, pertanyaannya adalah mengapa hal tersebut tidak terjadi.

Akan tetapi, secara singkat jawabannya adalah permintaan yang tinggi akan aset AS dari investor asing. Karena itu, wajarlah mereka bersedia membiayai defisit transaksi berjalan AS, sehingga terdapat sedikit penurunan tekanan terhadap dolar.

Cara yang jitu untuk memastikan bahwa Anda memahami materi di bagian ini adalah kembali dan melihat beragam kasus yang kami pilihkan, mulai dari perubahan pengeluaran pemerintah hingga perubahan output asing, hingga  kombinasi depresiasi dan kontraksi fiskal, dan sebagainya.

(hlm. 432)

Anggaplah bahwa depresiasi 1% mengakibatkan peningkatan ekpor yang proporsional sebesar 0,9%, dan penurunan impor yang proporsional sebesar 0,8%.

(hlm. 433)

BAB 20

Output, Suku Bunga, dan Kurs

Apa yang menentukan kurs? Bagaimana pembuat kebijakan dapat mempengaruhi?

(hlm. 434)

20-1 Ekuilibrium di Pasar Barang

  • Konsumsi, C, bergantung secara positif pada pendapatan disposabel Y – T.
  • Investasi, I bergantung secara positif pada output, Y, dan secara negatif pada suku bunga riil, r.
  • Kuantitas impor, IM, bergantung secara positif baik pada output, Y, maupun kurs riil, .
  • Ekspor, X, bergantung secara positif pada output asing, Y*, dan secara negatif pada kurs riil, .

Peningkatan kurs riil menyebabkan pergeseran permintaan ke barang asing, dan sebagai akibatnya, menyebabkan penurunan ekspor bersih.

(hlm. 435)

20-2 Ekuilibrium di Pasar Keuangan

Uang versus Obligasi

Dalam perekonomian terbuka, permintaan akan uang domestik sebagian besarnya masih merupakan permintaan oleh penduduk domestik. Tidak ada banyak alasan lagi, misalnya, penduduk Jepang, untuk memegang mata uang euro atau deposit permintaan euro.

(hlm. 436)

Obligasi Domestik versus Obligasi Asing

Investor keuangan, domestik atau asing, mencari tingkat pengembalian yang diharapkan yang tertinggi.

  • Peningkatan suku bunga domestik menyebabkan peningkatan kurs.
  • Peningkatan suku bunga asing mengakibatkan penurunan kurs.
  • Peningkatan kurs masa mendatang yang diharapkan menyebabkan peningkatan kurs saat ini.

(hlm. 437)

Pemberhentian Tiba-tiba, Tempat Berlindung yang Aman, dan Batasan atas Kondisi Paritas Suku Bunga

Seperti kita bahas di Bab 15, investor sebenarnya tidak hanya peduli pada pengembalian yang diharapkan, tetapi juga pada risiko dan pada likuiditas—seberapa mudahnya kita membeli atau menjual aset.

(hlm. 438)

Kadang-kadang, persepsi bahwa risiko naik mendorong investor yang sama ingin menjual aset yang dimiliki di negara tersebut, tanpa peduli berapa suku bunganya. Episode penjualan tersebut, yang mempengaruhi banyak negara Amerika Latin dan ekonomi negara berkembang Asia, dikenal sebagai pemberhentian tiba-tiba. Selama episode tersebut, kondisi paritas suku bunga gagal, dan kurs bisa jadi turun drastis, tanpa banyak perubahan dalam suku bunga domestik atau asing.

Bahkan dalam masa normal, terdapat permintaan asing yang besar atas T-bills AS Alasannya adalah ukuran dan likuiditas dari pasar T-bill A.S: Seseorang dapat menjual atau membeli kuantitas T-bills yang besar dengan cepat dan tanpa mengubah harga terlalu banyak. Kembali ke pembahasan mengenai defisit perdagangan AS di Bab 19, salah satu alasan mengapa Amerika Serikat mampu menjalankan defisit perdagangan, dan karenanya meminjam dari seluruh dunia dalam waktu yang sedemikian lama, adalah permintaan T-bills yang sangat tinggi.

Dalam waktu krisis, preferensi atas T-bill AS bahkan menjadi semakin kuat. Amerika Serikat dilihat secara luas oleh investor sebagai safe haven, yaitu negara yang aman untuk menempatkan dana. Hasilnya adalah saat ketidakpastian yang lebih tinggi sering kali dihubungkan dengan permintaan yang lebih kuat atas aset AS sehingga terjasi tekanan besar yang membuat dolar semakin kuat.

(hlm. 439)

Peningkatan suku bunga domestik relatif terhadap suku bunga asing akan menyebabkan apresiasi.

(hlm. 442)

20-4 Dampak Kebiakan dalam Perekonomian Terbuka

[Peningkatan pengeluaran pemerintah menyebabkan peningkatan output, peningkatan suku bunga, dan apresiasi.]

(hlm. 443)

[Kontraksi moneter mengakibatkan penurunan output, peningkatan suku bunga, dan apresiasi.]

Dampak Kebijakan Moneter dalam Perekonomian Terbuka

Kontraksi moneter menyebabkan peningkatan suku bunga, yang menjadikan obligasi domestik lebih menarik dan memicu apresiasi. Suku bunga yang lebih tinggi dan apresiasi akan menurunkan permintaan dan output. Ketika output turun, permintaan uang juga turun, yang menyebabkan suku bunga yang lebih rendah dan meng-offset sejumlah peningkatan awal suku bunga dan apresiasi awal.

Versi model IS-LM untuk prekonomian terbuka tersebut pertama kali disatukan di tahun 1960-an oleh dua ekonom yang kita singgung pada awal bab ini, Robert Mundell, di Coulumbia University, dan Marcus Fleming, di International Monetary Fund. Bagaimana kesesuaian model Mundell-Fleming dengan fakta? Jawabannya: pada umumnya cukup baik. Inilah alasan mengapa model tersebut masih banyak sekali digunakan dewasa ini. Seperti semua model yang sederhana, model ini kerap kali perlu diperluas; sebagai contoh, dalam memperhitungkan perangkap likuiditas atau peran risiko dalam mempengaruhi keputusan portofolio, yaitu dua aspek penting dari krisis.

(hlm. 444)

Kontraksi Moneter dan Ekspansi Fiskal: Amerika Serikat pada Awal Tahun 1980-an

Dimulai di akhir tahun 1979, Volcker mulai menyusuri jalan terjal kontraksi moneter, menyadari bahwa hal tersebut mungkin menyebabkan resesi dalam jangka pendek tetapi inflasi yang rendah dalam jangka menengah.

Perubahan kebijakan fiskal dipicu oleh terpilihnya Ronald Reagan di tahun 1980. Reagan dipilih berkat janjinya akan kebijakan yang lebih konservatif, misalnya menurunkan perpajakan dan peran pemerintah dalam aktivitas ekonomi. Komitmen tersebut menjadi inspirasi bagi Economic Recovery Act pada bulan Agustus 1981. Pajak penghasilan pribadi dipotong sampai 23%, dalam tiga cicilan dari tahun 1981 hingga 1983. Pajak korporasi juga dikurangi. Akan tetapi, pemotongan pajak tersebut tidak diikuti dengan peningkatan defisit anggaran yang stabil, yang mencapai puncaknya pada tahun 1983 sebesar 5,6% dari GDP. Tabel 1 memberikan angka pengeluaran dan pendapatan untuk tahun 1980-1984.\

Sistem Patok, Crawling Peg, Rentang, EMS, dan Euro

Di satu ujung spektrum terdapat negara-negara yang menganut sistem kurs fleksibel seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Kanada.

Di ujung spektrum lain terdapat negara-negara yang menganut kurs tetap. Negara-negara tersebut mempertahankan kurs tetap dalam bentuk beberapa mata uang asing. Beberapa negara mematok (peg) mata uangnya terhadap dolar. Sebagai contoh, dari tahun 1991 hingga 2001, Argentina mematok mata uangnya, peso, pada kurs yang sangat simbolik yaitu satu dolar untuk satu peso.

Karena perubahannya jarang terjadi, para ekonom menggunakan kata spesifik untuk membedakannya dari perubahan harian yang terjadi menurut kurs fleksibel. Penurunan kurs menurut rezim kurs tetap disebut devaluasi dan bukan depresiasi, sedangkan peningkatan kurs menurut rezim kurs tetap disebut revaluasi dan bukan apresiasi.

Di antara kedua ekstrem tersebut terdapat negara-negara dengan beragam tingkat komitmen terhadap target kurs. Sebagai contoh, beberapa negara memakai sistem crawling peg.

(hlm. 446)

Pematokan Kurs dan Pengendalian Moneter

Berdasarkan kurs tetap dan mobilitas modal yang sempurna, suku bunga domestik harus sama dengan suku bunga asing.

(hlm. 447, 449)

Berdasarkan kurs tetap, bank sentral mempasrahkan kebijakan moneter sebagai instrumen kebijakan.

Kebijakan Fiskal menurut Kurs Tetap

Jadi, menurut kurs tetap, kebijakan fiskal lebih berperan ketimbang menurut kurs fleksibel. Itu disebabkan karena kebijakan fiskal memicu akomodasi moneter.

Mengapa sebuah negara memilih memperbaiki kursnya? Anda akan melihat sejumlah alasan mengapa hal tersebut tampak seperti ide yang buruk:

  • Dengan memperbaiki kurs, sebuah negara menyerahkan alat/sarana yang berguna untuk memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan atau mengubah tingkat aktivitas ekonominya.
  • Dengan berkomitmen pada kurs tertentu, berarti negara itu juga memasrahkan pengendalian atas suku bunganya.
  • Walaupun negara mempertahankan pengendalian atas kebijakan fiskal, satu instrumen kebijakan saja mungkin tidak cukup.

Mengapa ada 17 negara Eropa—dan nantinya bisa lebih banyak lagi—yang mengadopsi mata uang bersama?

(hlm. 448)

Reunifikasi Jerman, Suku Bunga, dan EMS

Defisit anggaran yang besar, yang dipicu oleh transfer ke orang dan perusahaan di Jerman Timur, bersamaan dengan ledakan investasi, mengakibatkan peingkatan permintaan yang besar di Jerman. Bundesbank khawatir pergeseran tersebut kuat yang menyebabkan harus mengadopsi kebijakan moneter yang restriktif. Hasilnya adalah pertumbuhan yang pesat di Jerman bersama dengan peningkatan suku bunga yang besar.

(hlm. 449)

Ringkasan

Suku bunga ditentukan oleh kesamaan permintaan uang dan jumlah uang beredar.

(hlm. 451)

Apendiks: Kurs Tetap, Suku Bunga, dan Mobilitas Modal

Asumsi mobilitas modal sempurna adalah perkiraan yang baik mengenai apa yang terjadi di negara dengan pasar keuangan yang sangat berkembang dan sedikit pengendalian modalnya, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan wilayah Euro.

(hlm. 452)

Dalam perekonomian terbuka, bank sentral benar-benar memegang dua jenis aset: (1) obligasi domestik dan (2) cadangan valuta asing (foreign exchange reserves), yang akan kita anggap sebagai mata uang asing—walaupun itu berwujud obigasi asing atau aset asing yang membayar bunga. Bayangkan neraca bank sentral seperti yang disajikan di Gambar 1:

Sekarang terdapat dua cara di mana bank sentral dapat mengubah dasar moneter: baik dengan membeli ataupun dengan menjual obligasi di pasar obligasi, atau juga dengan membeli atau menjual mata uang asing di pasar valuta asing.

(hlm. 455)

BAB 21

Rezim Kurs (Nilai Tukar)

(hlm. 457)

21-1 Jangka Menengah

Secara lebih spesifik, dalam jangka menengah, ekonomi mencapai kurs riil yang sama dan tingkat output yang sama apakah beroperasi menurut kurs tetap maupun kurs fleksibel.

(hlm. 461)

Kasus yang Mendukung dan Menentang Devaluasi

Sebagian besar ahli sejarah ekonomi percaya bahwa sejarah membuktikan Keynes benar, dan penilaian yang berlebihan terhadap pound merupakan salah satu alasan utama buruknya kinerja ekonomi Inggris setelah Perang Dunia I.

(hlm. 462)

21-2 Krisis Kurs menurut Kurs Tetap

Kembalinya Inggris ke Standar Emas: Keynes versus Churchill

Standar emas telah digunakan dari tahun 1870 hingga Perang Dunia I. Karena kebutuhan untuk membiayai perang, dan sebagian caranya adalah melalui penciptaan uang, Inggris menghentikan standar emas di tahun 1914. Di tahun 1925, Wiston Churchill, yang saat itu adalah Chancellor of the Exchequer Inggris (ekuivalen dengan Secretary of the Treasury di Amerika Serikat), memutuskan untuk kembali ke standar emas, pada paritas sebelum perang—itu berarti, pada nilai pound dalam bentuk emas sebelum perang.

Jika Inggris akan kembali ke standar emas, itu harus dilakukan dengan harga mata uang yang lebih rendah dalam bentuk emas; itu berarti, pada kurs nominal yang lebih rendah ketimbang kurs nominal sebelum perang.

Karena alasan tersebut, saya tetap berpendapat bahwa Chancellor of the Exchequer telah melakukan sesuatu keputusan yang buruk—dinilai buruk karena kita memikul risiko atas imbalan yang tidak sepadan jika semuanya berjalan lancar.

[Rezim kurs mengambang adalah sama dengan rezim kurs fleksibel.]

(hlm. 463)

Apa, jika demikian, pilihan yang dihadapi pemerintah dan bank sentral?

  • Pertama, pemerintah dan bank sentral dapat mencoba meyakinkan pasar bahwa mereka tidak bermaksud mendevaluasi. Hal tersebut selalu menjadi garis pertahanan pertama: Komunike diterbitkan, dan perdana menteri tampil di TV untuk mengulangi komitmen absolutnya terhadap paritas yang ada. Akan tetapi, kata-kata mudah diucapkan, dan itu jarang meyakinkan investor keuangan.
  • Kedua, bank sentral dapat meningkatkan suku bunga, tetapi dengan lebih kecil dari yang diperlukan untuk memenuhi persamaan (21.3)—dalam contoh kita, kurang dari 60%.
  • Pada akhirnya—setelah beberapa jam atau beberapa minggu—pilihan yang ada bagi bank sentral menjadi apakah akan meningkatkan suku bunga yang cukup untuk memenuhi persamaan (21.3) atau memvalidasi ekspektasi pasar dan mendevaluasi.

(hlm. 464)

Krisis EMS Tahun 1992

Di awal bulan September 1992, keyakinan bahwa sejumlah negara akan segera melakukan devaluasi telah menciptakan serangan spekulatif terhadap sejumlah mata uang, di mana investor keuangan menjual sebagai antisipasi atas devaluasi yang akan datang.

(hlm. 465)

Ekspektasi bahwa devaluasi mungkin akan terjadi dapat memicu krisis kurs. Dihadapkan dengan ekspektasi semacam itu, pemerintah memiliki dua opsi:

  • Menyerah dan mendevaluasi, atau
  • Melawan dan mempertahankan paritas, dengan biaya suku bunga yang sangat tinggi dan potensi resesi. Melawan mungkin tidak akan berhasil: Resesi dapat memaksa pemerintah mengubah kebijakan nantinya, atau memaksa pemerintah melepas kekuasaannya.

(hlm. 467)

21-3 Pergerakan Kurs menurut Kurs Fleksibel

Kurs dan Suku Bunga Saat Ini dan Masa Mendatang

Hal tersebut menyiratkan bahwa setiap variabel yang menyebabkan investor mengubah ekspektasinya mengenai suku bunga masa mendatang akan menimbulkan perubahan kurs hari ini. Sebagai contoh, “dance of the dollar” di tahun 1980-an yang kita bahas di bab-bab sebelumnya—apresiasi dolar yang tajam pada paruh pertama dekade, diikuti dengan depresiasi yang sama tajamnya kemudian—dapat dijelaskan sebagian besar oleh pergerakan suku bunga AS saat ini dan masa mendatang yang diharapkan relatif terhadap suku bunga di seluruh dunia selama periode tersebut.

(hlm. 469)

Volatilitas Kurs

Ketika, pada akhir periode Bretton Woods, negara beralih dari kurs tetap ke kurs fleksibel, sebagian besar ekonom mengharapkan kurs akn stabil. Fluktuasi kurs yang besar yang terjadi setelahnya—dan terus berlangsung hingga hari ini—merupakan kejutan.

(hlm. 470)

Wilayah Mata Uang Bersama

Bagi negara yang ingin membentuk sebuah wilayah mata uang yang optimal (optimal currency area), Mundell berpendapat, negara tersebut perlu memenuhi salah satu dari dua kondisi:

  • Negara tersebut harus mengalami guncangan atau gejolak yang serupa. Kita baru saja membahas dasar pemikiran atas hal tersebut: Jika mengalami guncangan yang serupa, maka negara itu memang akan memilih kebijakan moneter yang kurang lebih sama.
  • Atau, mengalami gejolak yang berbeda, negara itu harus memiliki mobilitas faktor yang tinggi. Sebagai contoh, jika pekerja ingin pindah dari negara yang berkinerja buruk ke negara yang berkinerja baik, mobilitas faktor dan bukan kebijakan makroekonomi yang dapat memungkinkan negara tersebut menyesuaikan diri terhadap gejolak. Ketika tingkat pengangguran tinggi di suatu negara, pekerja akan meninggalkan negara tersebut untuk mencari pekerjaan di tempat lain, dan tingkat pengangguran di negara itu kembali turun ke tingkat normal. Jika tingkat pengangguran rendah, pekerja akan datang ke negara tersebut, dan tingkat pengangguran di negara tersebut kembali naik ke tingkat normal. Di sini kurs tidak diperlukan.

Akan tetapi, kondisi kedua sebagian besar terpenuhi. Terdapat mobilitas tenaga kerja yang besar di antara negara bagian di Amerika Serikat. Ketika suatu negara bagian berkinerja buruk, pekerja akan meninggalkan negara bagian tersebut. Jika negara bagian berkinerja baik, pekerja akan datang ke negara bagian tersebut. Tingkat pengangguran negara bagian dengan depat kembali normal, bukan karena kebijakan makroekonomi negara bagian itu tetapi karena mobilitas tenaga kerja.

(hlm. 471)

Euro: Sejarah Singkat

(Di tahun 2004, terungkap bahwa Yunani sebagian “menyulap pembukuannya” dan ukuran defisit anggarannya ditetapkan terlalu rendah agar memenuhi kualifikasi.)

(hlm. 472)

Sebuah laporan oleh European Commision mengestimasi bahwa penghapusan transaksi valuta asing dalam wilayah Euro akan menyebabkan pengurangan biaya sebesar 0,5% dari GDP gabungan negara-negara tersebut. Juga ada tanda-tanda yang jelas bahwa penggunaan mata uang bersama sudah meningkatkan persaingan. Ketika akan membeli mobil, misalnya, konsumen Eropa sekarang mencari harga euro terendah di mana pun dalam wilayah yang menggunakan euro. Hal tersebut akan menyebabkan penurunan harga mobil di sejumlah negara.

(hlm. 473)

Pelajaran dari Dewan Mata Uang Argentina

Untuk sementara waktu, dewan mata uang tampak berjalan dengan sangat baik. Inflasi, yang melebihi 2.300% di tahun 1990, turun menjadi 4% di tahun 1994! Hal tersebut jelas merupakan hasil dari pembatasan yang ketat oleh dewan mata uang terhadap pertumbuhan mata uang. Bahkan yang lebih mengesankan, penurunan inflasi yang besar tersebut disertai dengan pertumbuhan output yang drastis. Pertumbuhan output rata-rata 5% per tahun dari tahun 1991 hingga 1999.

Khawatir bahwa Argentina akan mengabaikan dewan mata uang dan melakukan devaluasi untuk melawan resesi, investor mulai meminta suku bunga yang sangat tinggi dalam peso, yang menjadikannya lebih mahal bagi pemerintah untuk mempertahankan paritas dengan dolar, sehingga kemungkinan besar dewan mata uang akan diabaikan.

Mereka berpendapat bahwa Argentina seharusnya hanya melakukan dolarisasi (misalnya, mengadopsi dolar serentak sebagai mata uangnya dan mengeliminasi peso sama sekali).

Untuk buku yang menarik, menyenangkan, dan berpendapat kuat mengenai krisis Argentina, baca And the Money Kept Rolling In (and Out): Wall Street, the IMF, and the Bankrupting of Argentina karya Paul Blustein (Public Affairs, 2005).

(hlm. 474)

Bentuk ekstrem dari pematokan yang ketat adalah hanya mengganti mata uang domestik dengan mata uang asing. Karena mata uang asing yang dipilih pada umumnya adalah dolar, maka hal ini dikenal sebagai dolarisasi (dollarization).

Ringkasan

Krisis kurs umumnya terjadi ketika partisipan di pasar keuangan yakin mata uang akan segera terdevaluasi.

(hlm.. 481)

Kembali ke Kebijakan

Bab 22

Ketidakpastian membatasi peran kebijakan. Pembuat kebijakan tidak selalu melakukan hal yang benar. Tetapi, dengan institusi yang tepat, kebijakan dapat membantu dan harus digunakan.

Bab 23

Bab ini kemudian berfokus pada implikasi dan bahaya dari tingkat utang publik yang tinggi, persoalan sentral di negara maju saat ini.

Bab 24

Pertama, tingkat inflasi yang optimal: Inflasi yang tinggi itu buruk, tetapi seberapa rendah seharusnya tingkat inflasi yang ditargetkan oleh bank sentral? Kedua, kebijakan dengan rancangan terbaik: Apakah sebaiknya bank sentral menargetkan pertumbuhan uang; atau seharusnya menargetkan inflasi? Aturan apa yang seharusnya digunakan bank sentral untuk menyesuaikan suku bunga? Ketiga, dua tantangan khusus bagi kebijakan moneter ditimbulkan oleh krisis: Bagaimana cara mengatasi perangkap likuiditas dan cara terbaik untuk menggunakan sarana makroprudensial.

(hlm. 483)

BAB 22

Di Eropa, negara yang mengadopsi euro menandatangani “Stability and Growth Pact,” yang mengharuskan mereka untuk mempertahankan defisit anggaran mereka di bawah 3% dari GDP, jika tidak maka menghadapi denda yang besar.

(hlm. 486)

Dua Belas Model Makroekonomi

Dua model, DRI (Data Resources Incorporated) dan WHARTON, merupakan model komersial. Model komersial digunakan untuk menghasilkan dan menjual peramalan ekonomi kepada perusahaan dan institusi keuangan.

Versi modern dari model-model tersebut disebut ekuilibrium umum stokastik dinamis—atau model DSGE—dan merupakan subjek dari penelitian aktif (lebih banyak mengenai mereka di Bab 25).

Deskripsi dari model dan studi ini diberikan dalam Ralph Bryant dkk., Empirical Macroeconomics for Interdependent Economies (Brookings Intitution, 1988). Studi menunjukkan bahwa efeknya bukan hanya pada kebijakan moneter melainkan juga pada kebijakan fiskal.

(hlm. 488)

Ketidakpastian dan Batasan terhadap Pembuat Kebijakan

Terdapat ketidakpastian yang substansial mengenai efek atau pengaruh kebijakan makroekonomi.

Kesimpulan tersebut akan menjadi kontroversial 20 tahun yang lalu. Pada saat itu, terdapat perdebatan panas antara dua kelompok ekonom. Satu kelompok, dikepalai oleh Milton Friedman dari Chicago berpendapat bahwa karena banyaknya kendala dan lamanya waktu yang dibutuhkan, kebijakan aktif mungkin menimbulkan lebih banyak kerusakan daripada kebaikan. Kelompok lain, dikepalai oleh Franco Modigliani dari MIT, baru saja membangun generasi pertama model makroekonometrik besar dan yakin bahwa pengetahuan para ekonom menjadi cukup baik untuk memungkinkan dan semakin memungkinkan fine tuning ekonomi. Saat ini, sebagian besar ekonom mengakui terdapat ketidakpastian yang substansial mengenai pengaruh kebijakan.

22-2 Ekpektasi dan Kebijakan

Salah satu alasan mengapa pengaruh kebijakan makroekonomi tidak pasti adalah interaksi antara kebijakan dan ekspektasi.

Tidak seperti mesin, ekonomi terdiri dari orang dan perusahaan yang berusaha mengantisipasi apa yang dilakukan pembuat kebijakan, dan yang bereaksi bukan hanya kepada kebijakan saat ini tetapi juga kepada ekspektasi kebijakan di masa mendatang. Oleh karena itu, kebijakan makroekonomi harus dipikirkan sebagai suatu permainan (game) antara pembuat kebijakan dan “ekonomi”—secara lebih konkret, orang dan perusahaan dalam ekonomi. Jadi, ketika berpikir mengenai kebijakan, yang kita perlukan bukanlah teori pengendalian optimal (optimal control theory) tetapi teori permainan (game theory).

(hlm. 489)

Penyanderaan dan Negosiasi

Jika demikian apakah kebijakan terbaiknya? Meskipun ada fakta bahwa negosiasi umumnya memberikan hasil yang lebih baik ketika terjadi penyanderaan, kebijakan terbaik bagi pemerintah adalah berkomitmen untuk tidak bernegosiasi. Dengan menghapus opsi bernegosiasi, pemerintah kemungkinan akan mencegah penyanderaan sejak awal.

[Contoh tersebut dikembangkan oleh Finn Kydland, dari Carnegie Mellon dan sekarang di UC Santa Barbara, dan Edward Prescott, dahulu dari Minnesota dan sekarang di Arizona State University, dalam “Rules Rather than Discretion: The Inconsistency of Optimal Plans,” Journal of Political Economy, 1977 85(3): h. 473-492. Kydland dan Prescott diberi penghargaan Hadiah Nobel ekonomi di tahun 2004.]

(hlm. 490)

Dengan berkomitmen secara kredibel untuk tidak melakukan sesuatu yang tampaknya menarik pada saat itu, pembuat kebijakan dapat mencapai hasil yang lebih baik: tidak terjadi penyanderaan dalam contoh kita sebelumnya, tidak ada inflasi di dalam contoh ini.

(hlm. 491)

Membentuk Kredibilitas

Salah satu cara untuk membentuk kredibilitasnya adalah dengan cara bank sentral tersebut melepaskan—atau dilucuti oleh hukum dari—kekuasaan pembuat kebijakannya. Sebagai contoh, mandat dari bank sentral dapat didefinisikan oleh hukum dalam bentuk aturan yang sederhana, seperti menetapkan pertumbuhan uang pada 0% selamanya.

Hukum semacam itu jelas menyelesaikan masalah inkonsistensi waktu. Akan tetapi, pembatasan ketat yang diciptakan mirip seperti membuang bayi bersamaan dengan air mandi.

Langkah pertama untuk menjadikan bank sentral independen. Bank sentral yang independen (independent central bank) yang kami maksud adalah sebuah bank sentral di mana suku bunga dan keputusan jumlah uang beredar dibuat independen dari pengaruh politisi yang saat ini dipilih. Politisi, yang menghadapi pemilihan berkala, sering kali menginginkan pengangguran yang rendah sekarang, meskipun hal tersebut menimbulkan inflasi kemudian. Menjadikan bank sentral independen, dan lebih sulit bagi politisi untuk memecat pejabat bank sentral, yang menjadikannya lebih mudah bagi bank sentral untuk menahan tekanan politik demi menurunkan pengangguran di bawah tingkat pengangguran alami.

Oleh karena itu, langkah kedua adalah memberikan insentif kepada bankir sentral untuk mengambil pandangan ke masa depan—ini berarti, untuk memperhitungkan biaya jangka panjang dari inflasi yang lebih tinggi. Salah satu cara untuk melakukan hal tersebut adalah dengan memberikan mereka masa lebih lama di kantor, sehingga memiliki horison yang panjang dan memiliki insentif untuk membangun kredibilitas.

(gambar 22-3)

Tingkat inflasi tahunan rata-rata (persen, 1960-1990)

Indeks independensi bank sentral

[Di antara negara-negara OECD, semakin tinggi tingkat independensi bank sentral, semakin rendah tingkat inflasi.

Sumber: Vittorio Grilli, Donato Masciandaro, dan Guide Tabellini, “Political and Monetary Institutions and Public Financial Policies in Industrial Countries”, Economic Policy, 1991, 6(6(13): h. 341-392.

(hlm. 492)

Langkah ketiga mungkin dengan menunjuk pejabat bank sentral “konservatif”, yaitu seseorang yang sangat tidak menyukai inflasi sehingga bersedia menerima lebih banyak inflasi sebagai ganti pengangguran yang lebih rendah ketika pengangguran berada di tingkat alaminya.

Ini adalah langkah-langkah yang telah diambil oleh banyak negara selama dua dekade terakhir. Bank sentral telah diberikan lebih banyak independensi. Bankir sentral telah diberikan masa yang lebih lama di kantor. Dan pemerintah pada umumnya menunjuk bankir sentral yang lebih “konservatif” daripada pemerintah sendiri—bankir sentral yang tampak lebih peduli terhadap inflasi dan lebih tidak peduli mengenai pengangguran daripada pemerintah.

Sumbu horizontal memberikan nilai indeks “independensi bank sentral,” yang dibentuk dengan melihat sejumlah provinsi legal dalam charter bank sentral—sebagai contoh, apakah dan bagaimana pemerintah dapat memecat kepala bank.

[Gambar 22-3 menunjukkan korelasi, tidak selalu sebab akibat.]

(hlm. 493)

22-3 Politik dan Kebijakan

Permainan antara Pembuat Kebijakan dan Pemilih

Banyak keputusan kebijakan makroekonomi melibatkan penukaran kerugian jangka pendek dengan keuntungan jangka panjang—atau, sebaliknya, keuntungan jangka pendek terhadap kerugian jangka panjang.

Ambil misalnya, pemotongan pajak. Menurut definisinya, pemotongan pajak menghasilkan pajak yang lebih rendah hari ini. Ini juga lebih mungkin menimbulkan peningkatan permintaan, dan selanjutnya peningkatan output selama beberapa waktu. Akan tetapi, kecuali jika ditandingkan dengan penurunan yang sama dalam pengeluaran pemerintah, pemotongan pajak akan mengakibatkan defisit anggaran yang lebih besar dan kebutuhan akan peningkatan pajak di masa mendatang. Jika pemilih berwawasan sempit, godaan bagi politisi untuk memotong pajak mungkin terbukti.

(hlm. 494)

Akan tetapi, dengan mengesampingkannya, perhatikan bagaimana rasio utang-terhadap-GDP meningkat dari 33% di tahun 1980 menjadi 63% di tahun 2007. Peningkatan utang tersebut dapat ditelusuri secara besar-besaran kembali ke dua putaran pemotongan pajak, yang pertama di bawah pemerintah Reagan di awal tahun 1980-an, yang kedua di bawah pemerintah Bush di awal tahun 2000-an. Apakah pemotongan pajak tersebut, dan defisit yang dihasilkan serta peningkatan utang, paling baik dijelaskan oleh berpalingnya politisi ke pemilih yang berwawasan sempit? Kita akan mengajukan pendapat di sini bahwa jawabannya mungkin tidak, dan bahkan penjelasan utama terletak pada permainan antara partai politik dan bukan pada permainan antara pembuat kebijakan dan pemilih.

(hlm. 495)

Permainan antara Pembuat Kebijakan

Ahli teori permainan merujuk situasi tersebut sebagai perang atrisi (wars of attrition). Harapan bahwa pihak lain akan menyerah mengakibatkan penundaan yang panjang dan sering kali mahal. Perang atrisi semacam itu sering kali terjadi dalam konteks kebijakan fiskal, dan pengurangan defisit sering kali muncul lama setelah seharusnya terjadi.

(hlm. 496)

Terdapat kelambatan pada pengaruh kebijakan, sehingga diperlukan waktu satu tahun bagi pemerintahan yang baru untuk mempengaruhi ekonomi.

(hlm. 498)

Stability and Growth Pact (Kesepakatan Stabilitas dan Pertumbuhan): Sejarah Singkat

Dua negara berikutnya adalah Prancis dan Jerman, keduanya dengan defisit melebihi 3% dari GDP di tahun 2002. Italia dengan cepat mengikuti.

Di tahun 2005, sebuah SGP yang baru direvisi, diadopsi. Ini mempertahankan defisit di angka 3% dan utang 60% sebagai ambang tetapi memungkinkan lebih banyak fleksibilitas dalam menyimpang dari aturan.

(hlm. 499)

Pengeluaran dibagi ke dalam dua kategori: pengeluaran diskresioner (secara kasar: pengeluaran untuk barang dan jasa, termasuk pertahanan) dan pengeluaran mandatori (secara kasar: pembayaran transfer kepada individu). Batasan, yang disebut batas atas pengeluaran (spending caps), ditetapkan pada pengeluaran diskresioner untuk lima tahun berikutnya.

Pada tahun 1998, defisit hilang dan, untuk pertama kalinya dalam waktu 20 tahun, anggaran federal mengalami surplus. Tidak semua pengurangan defisit diakibatkan oleh aturan Budget Enforcement Act: Penurunan pengeluaran pertahanan akibat berakhirnya Perang Dingin, dan peningkatan pendapatan pajak yang besar akibat ekspansi yang kuat di kuartal kedua tahun 1990-an, merupakan faktor yang penting.

(hlm. 500)

Akan tetapi, pemerintah yang secara kredibel berkomitmen untuk tidak melakukan negosiasi dengan penyandera—pemerintah yang melepaskan opsi negosiasi—sebenarnya berkemungkinan lebih besar untuk menghindari penyanderaan.

(hlm. 502)

Bacaan Lebih Lanjut

Untuk argumentasi bahwa inflasi turun sebagai akibat dari independensi bank sentral yang meningkat di tahun 1990-an, baca “Central Bank Independence and Inflation” di Annual Report of the Federal Reserve Bank of St. Louis tahun 2009

(hlm. 503)

BAB 23

Kebijakan Fiskal: Ringkasan

(hlm. 505)

23-2 Kendala Anggaran Pemerintah: Defisit, Utang, Pengeluaran, dan Pajak

[Jangan mempertukarkan kata “defisit” dengan “utang.” (Banyak jurnalis dan politisi melakukannya). Utang adalah stok—apa yang menjadi utang pemerintah sebagai hasil dari defisit masa lalu. Defisit adalah aliran—seberapa besar pemerintah meminjam selama tahun tertentu.]

(hlm. 507)

Jika pemerintah mengalami defisit, utang pemerintah akan naik. Jika pemerintah mengalami surplus, utang pemerintah turun.

Perbedaan antara pengeluaran dan pajak, Gt – Tt. Istilah ini disebut defisit primer (primary deficit) (secara ekuivalen, Tt – Gt disebut surplus primer (primary surplus).

(hlm. 512)

Persamaan (23.5) menyiratkan peningkatan rasio utang terhadap GDP akan lebih besar:

  • Semakin tinggi suku bunga riil,
  • Semakin rendah laju pertumbuhan output,
  • Semakin tinggi rasio utang awal,
  • Semakin tinggi rasio defisit primer terhadap GDP.

23-3 Ekuivalen Ricardian, Defisit yang Disesuaikan secara Siklus, dan Perang Keuangan

Ekuivalen Ricardian

Bagaimana perhitungan atas kendala anggaran pemerintah mempengaruhi cara kita memikirkan pengaruh defisit terhadap output?

Salah satu pandangan yang ekstrem adalah bahwa ketika batasan/kendala anggaran pemerintah diperhitungkan, baik defisit maupun utang tidak mempengaruhi aktivitas ekonomi! Argumen tersebut dikenal sebagai dalil atau proporsi ekuivalensi Ricardian (Ricardian equivalence).

Tidak ada pengaruh sama sekali. Mengapa? Karena konsumen menyadari bahwa pemotongan pajak bukan hadiah: Pajak yang lebih rendah tahun ini akan di-offset, dalam nilai sekarang, oleh pajak yang lebih tinggi di tahun berikutnya. Dengan kata lain, kekayaannya—nilai sekarang dari pendapatan tenaga kerja setelah pajak—tidak terpengaruh.

(hlm. 513)

Tabungan swasta meningkat sebanding dengan defisit.

Tema utama buku ini adalah bahwa ekspektasi itu penting, bahwa keputusan konsumsi bergantung bukan hanya pada pendapatan saat ini tetapi juga pada pendapatan masa mendatang.

(hlm. 514)

Defisit, Stabilisasi Output, dan Defisit yang Disesuaikan secara Siklis

Fakta bahwa defisit anggaran memang memiliki pengaruh yang buruk dalam jangka penjang terhadap akumulasi modal dan, pada gilirannya, terhadap output, tidak menyiratkan bahwa kebijakan fiskal tidak boleh digunakan untuk mengurangi fluktuasi output.

[Perhatikan analogi dengan kebijakan moneter: Fakta bahwa pertumbuhan uang yang lebih tinggi dalam jangka panjang menyebabkan lebih banyak inflasi tidak menyiratkan bahwa kebijakan moneter tidak boleh digunakan untuk stabilisasi output.]

Aturan yang dapat diandalkan adalah bahwa penurunan output sebesar 1% secara otomatis akan menyebabkan peningkatan defisit sekitar 0,5% dari GDP. Peningkatan ini terjadi karena sebagian besar pajak bersifat proporsional terhadap output, sementara sebagian besar pengeluaran pemerintah tidak bergantung pada tingkat output.

Resesi secara alami menghasilkan defisit, dan juga ekspansi fiskal, yang ikut melawan resesi.

(hlm. 515)

Perang dan Defisit

  • Pertama adalah distribusional: Membiayai defisit merupakan cara untuk mengenakan sejumlah beban perang ke mereka yang hidup setelah perang, dan dianggap adil bagi generasi masa mendatang untuk berbagi pengorbanan yang diperlukan perang.
  • Kedua adalah alasan ekonomi secara lebih sempit: Pengeluaran defisit membantu mengurangi distorsi pajak.

(hlm. 516)

Defisit, Konsumsi, dan Investasi di Amerika Serikat selama Perang Dunia II

Di tahun 1939, bagian dari pengeluaran pemerintah AS atas barang dan jasa dalam GDP adalah 15%. Pada tahun 1944, naik menjadi 45%! Peningkatan tersebut diakibatkan oleh peningkatan pengeluaran untuk pertahanan nasional, yang naik dari 1% dari GDP di tahun 1939 menjadi 36% di tahun 1944.

Transfer dari pemerintah AS ke negara asing sama dengan 6% dari GDP AS di tahun 1944.

Rasa patriotisme juga mungkin memotivasi orang untuk menabung lebih banyak dan membeli obligasi perang yang diterbitkan oleh pemerintah untuk membiayai perang.

Mengurangi Distorsi Pajak

Ketimbang menaik-turunkan tingkat pajak agar anggaran selalu seimbang, lebih baik (dari sudut pandang mengurangi distorsi) mempertahankan tingkat pajak yang secara relatif konstan—demi meratakan pajak (smooth taxes). Tax smoothing (pemerataan pajak) menyiratkan telah terjadi defisit yang besar apabila pengeluaran pemerintah sangat tinggi, dan surplus yang kecil.

(hlm. 517-518)

23-4 Bahaya Utang yang Tinggi

Tantangan Defisit Anggaran AS

Sekitar setengah dari pengeluaran pemerintah federal AS adalah untuk program entitlement (entitlement program). Ini adalah program yang mengharuskan pembayaran manfaat atau tunjangan kepada semua yang memenuhi persyaratan eligibilitas yang diterapkan oleh UU. Tiga program terbesar adalah Social Security (Jaminan Sosial) yang memberikan manfaat kepada para pensiunan. Medicare (Jaminan Kesehatan) yang menyediakan perawatan kepada para pensiunan, dan Medicaid (Jaminan Kesehatan) yang menyediakan perawatan kesehatan bagi yang kurang mampu.

Pertama adalah penuaan orang Amerika, peningkatan yang cepat atas proporsi orang berusia lebih dari 65 tahun yang akan teradi seiring dimulainya generasi Baby Boom mencapai usia pensiun, mulai tahun 2011 dan seterusnya.

(hlm. 519)

Utang yang Tinggi, Risiko Gagal Bayar (Default), dan Lingkaran Setan

Singkatnya, semakin tinggi rasio utang terhadap GDP, semakin besar potensi dinamika kekacauan utang. Walaupun pada awalnya ketakutan bahwa pemerintah mungkin tidak dapat melunasi semua utangnya tidak berdasar, hal itu dapat saja menjadi kenyataan.

[Inggris telah berusaha keras selama di abad 19 untuk menurunkan rasio utangnya, sehingga pada tahun 1900 rasio hanya 30% dari GDP.]

(hlm. 521)

Pembiayaan dengan Uang Tunai

Untuk membiayai defisit 10% dari GDP melalui seignorage, berdasarkan rasio uang bank sentral terhadap GDP bulanan sebesar 1, laju pertumbuhan uang nominal per bulan harus sama dengan 10%.

(hlm. 527)

BAB 24

Kebijakan Moneter: Ringkasan

Selama dua dekade sebelum krisis, bank sentral kebanyakan telah bekonvergensi menuju ke kerangka kerja kebijakan moneter, yang disebut penargetan inflasi (inflation targeting). Kerangka kerja ini didasarkan pada dua prinsip. Pertama, bahwa tujuan kebijakan moneter adalah menjaga agar inflasi stabil dan rendah. Kedua, cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mengikuti aturan suku bunga (interest rate rule), yaitu aturan yang memungkinkan suku bunga dikendalikan secara langsung oleh bank sentral untuk merespons pergerakan inflasi dan aktivitas.

Ketika ekonomi berada dalam perangkap likuiditas, suku bunga tidak lagi dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas.

Kedua, dan rangkaian persoalan yang lebih dalam, adalah mengenai mandat bank sentral dan alat kebijakan moneter.

(hlm. 528)

Dan jika demikian, alat apa yang bank sentral miliki untuk digunakannya?

(hlm. 529)

24-1 Apa yang Telah Kita Pelajari

Kita melihat bagaimana peningkatan jumlah uang menyebabkan, melalui penurunan suku bunga, peningkatan pengeluaran dan peningkatan output.

Kita melihat bahwa dalam jangka menengah, uang adalah netral: perubahan jumlah uang beredar direfleksikan dalam proporsi yang sebanding dengan perubahan harga.

Kita melihat bahwa dalam jangka menengah, peningkatan pertumbuhan uang nominal direfleksikan dalam proporsi yang sebanding dengan peningkatan inflasi, sedangkan tingkat pengangguran tidak terpengaruh.

Kita melihat bahwa, di kasus ini, kebijakan moneter konvensional tidak lagi dapat digunakan. Alat lainnya, seperti pelonggaran kredit atau kuantitatif, dapat digunakan tetapi tidak dapat diandalkan seperti kebijakan konvensional.

Kita melihat bahwa, ketika pertumbuhan uang naik, suku bunga nominal pada akhirnya naik sebanding dengan pertumbuhan uang dan inflasi, sedangkan suku bunga riil tidak terpengaruh.

Kita melihat bahwa kebijakan moneter mempengaruhi suku bunga nominal jangka pendek, tetapi pengeluaran bergantung pada suku bunga riil saat ini dan ekspektasi suku bunga riil jangka pendek di masa mendatang. Kita melihat bagaimana pengaruh kebijakan moneter terhadap output bergantung pada bagaimana ekspektasi merespons kebijakan moneter.

Kita melihat bagaimana, di suatu ekonomi terbuka, kebijakan moneter mempengaruhi pengeluaran dan output bukan hanya melalui suku bunga, tetapi juga melalui kurs. Peningkatan uang menyebabkan baik penurunan suku bunga maupun depresiasi, di mana keduanya akan meningkatkan pengeluaran dan output.

(hlm. 530)

24-2 Tingkat Inflasi Optimal

Dalam kisaran tersebut, ekonom mengidentifikasikan empat biaya inflasi utama: (1) biaya kulit-sepatu, (2) distorsi pajak, (3) ilusi uang, dan (4) variabilitas inflasi.

(hlm. 532)

Ilusi Uang

Dengan kata lain, orang (bahkan lulusan Priceton) memiliki kesulitan menyesuaikan terhadap inflasi.

(hlm. 533)

Keuntungan dari Penciptaan Uang (Seignorage)

Penciptaan uang—sumber inflasi yang utama—adalah salah satu cara di mana pemerintah dapat membiayai pengeluarannya. Dengan kata lain, penciptaan uang merupakan alternatif terhadap meminjam dari publik atau menaikkan pajak.

Namun, jika obligasi dibeli oleh bank sentral, yang kemudian menciptakan uang untuk membayar obligasi itu, hasilnya sama: Dengan semua hal lain dianggap tetap sama, pendapatan dari penciptaan uang—seignorage—akan memungkinkan pemerintah untuk meminjam lebih sedikit dari publik atau untuk menurunkan pajak.

(hlm. 534)

Pembahasan Kembali Ilusi Uang

[Lihat, sebagai contoh, hasil dari survei manajer oleh Alan Blinder dan Don Choi, di “A Shred of Evidence on Theories of Wage Rigidity,” Quarterly Journal of Economics, 1990 105 (4): hal. 1003-1015.]

(hlm. 535)

24-3 Rancangan Kebijakan Moneter

Sebagian besar bank sentral telah menerapkan target inflasi alih-alih target laju pertumbuhan uang nominal.

(hlm. 536)

Pembahasan Kembali Pertumbuhan Uang dan Inflasi

Hubungan antara inflasi dan pertumbuhan uang nominal ditunjukkan di Gambar 24-1, yang memplot rata-rata tingkat inflasi AS 10 tahun terhadap rata-rata 10 tahun laju pertumbuhan uang dari tahun 1970 hingga krisis (cara untuk membaca angka: jumlah inflasi dan pertumbuhan uang untuk tahun 2000 misalnya adalah rata-rata tingkat inflasi dan pertumbuhan uang dari tahun 1991 hingga 2000).

Mengambil rata-rata 10 tahun, baik dari pertumbuhan uang nominal maupun inflasi, merupakan cara untuk mendeteksi hubungan jarak menengah semacam itu.

(hlm. 537)

Mengapa hubungan antara pertumbuhan M1 dan inflasi tidak lebih erat? Karena pergeseran dalam permintaan akan uang. Suatu contoh akan membantu. Misalkan akibat dari pengenalan kartu kredit, orang memutuskan untuk memegang hanya setengah dari jumlah uang yang mereka pegang sebelumnya; dengan kata lain, permintaan riil akan uang turun setengahnya. Dalam jangka menengah, stok uang riil juga harus turun setengah.

(hlm. 538)

Pencarian yang Tidak berhasil untuk Agregat Moneter yang Tepat

Sebagian besar reksa dana pasar uang mengizinkan deposan untuk menuliskan cek, tetapi hanya di atas jumlah tertentu, umumnya $500. Karena pembatasan tersebut, reksa dana pasar uang tidak masuk ke dalam M1. Ketika reksa dana tersebut diperkenalkan di pertengahan tahun 1970-an, untuk pertama kalinya orang mampu memegang aset yang sangat likuid sembari menerima suku bunga yang hampir sama dengan T-bills. Reksa dana pasar uang dengan cepat menjadi sangat menarik, meningkat dari nol di tahun 1973 menjadi $321 miliar di tahun 1989. (Sebagai perbandingan: Checkable deposit adalah $289 miliar di tahun 1989). Banyak orang mengurangi saldo rekening bank mereka dan pindah ke reksa dana pasar uang. Dengan kata lain, terdapat pergeseran negatif yang besar dalam permintaan akan uang.

Kehadiran pergeseran semacam itu antara uang dan aset likuid lainnya menyebabkan bank sentral membentuk dan melaporkan ukuran yang mencakup tidak hanya uang, tetapi juga aset likuid. Ukuran tersebut disebut agregat moneter dan muncul di bawah nama M2, M3, dan seterusnya. Di Amerika Serikat, M2—yang kadang-kadang juga disebut broad money (uang dalam arti luas)—termasuk M1 (mata uang dan tabungan), ditambah saham reksa dana pasar uang, rekening simpanan pasar uang (sama dengan saham pasar uang), dan deposito berjangka (deposito dengan jatuh tempo eksplisit beberapa bulan hingga beberapa tahun dan dengan penalti untuk penarikan lebih awal).

(hlm. 539)

Secara singkat, hubungan antara inflasi dan pertumbuhan agregat uang seperti M2 tidak lebih ketat daripada hubungan antara inflasi dan tingkat pertumbuhan M1.

Akan tetapi, hasil yang baru saja kita peroleh—bahwa penargetan inflasi mengeliminasi penyimpangan output dari tingkat alaminya—terlalu kuat karena dua alasan:

  1. Bank sentral tidak selalu mencapai tingkat inflasi yang diinginkannya dalam jangka pendek.
  2. Seperti semua hubungan makroekonomi, hubungan kurva Phillips di atas tidak selalu terjadi.

Aturan Suku Bunga

Inflasi jelas tidak berada di bawah kendali langsung bank sentral. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, John Taylor, dari Stanford University, berpendapat di tahun 1990-an bahwa, karena mempengaruhi pengeluaran melalui suku bunga, bank sentral seharusnya berpikir secara langsung dalam bentuk opsi suku bunga alih-alih tingkat pertumbuhan uang nominal. Ia kemudian menyarankan suatu aturan yang seharusnya diikuti bank sentral untuk menetapkan suku bunga. Aturan tersebut, yang sekarang dikenal sebagai aturan Taylor (Taylor rule).

(hlm. 540)

it = i* + a(πt – π*) – b(ut – un)

  • Jika sama dengan target inflasi (π t = π*) dan tingkat pengangguran sama dengan tingkat pengangguran alami (ut = un), maka bank sentral harus menetapkan suku bunga nominal, it, sama dengan nilai targetnya, i*.
  • Jika inflasi lebih tinggi daripada target (π t > π*), bank sentral harus meningkatkan suku bunga nominal, it, di atas i*.
  • Jika pengangguran lebih tinggi daripada tingkat pengangguran alami (ut > un), bank sentral seharunya menurunkan suku bunga nominal.

Menariknya, para peneliti yang mempelajari perilaku baik The Fed di Amerika Serikat maupun Bundesbank di Jerman telah menemukan bahwa, walaupun tidak ada dari kedua bank sentral tersebut yang menganggap dirinya mengikuti aturan Taylor, aturan tersebut sebenarnya cukup baik mendeskripsikan perilakunya selama 1-20 tahun terakhir sebelum krisis.

(hlm. 541)

Menghindari Jatuh ke dalam Perangkap

Semakin tinggi rata-rata inflasi, semakin tinggi rata-rata suku bunga nominal dan semakin banyak ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga nominal ini sehubungan dengan gejolak yang merugikan sebelum jatuh ke dalam perangkap likuiditas.

(hlm. 542)

Keluar dari Perangkap

Di dunia perangkap likuiditas yang aneh, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dapat membantu keluar dari perangkap dan membantu perekonomian untuk pulih.

Salah satu cara yang dilakukan bank sentral untuk mempengaruhi ekspektasi inflasi selama krisis adalah penggunaan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing), suatu peningkatan stok uang.

Tidak terdapat banyak bukti bahwa pelonggaran kuantitatif, yang telah digunakan di sejumlah negara (secara khusus, di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang) memiliki banyak pengaruh terhadap ekpektasi inflasi.

Menghadapi Perangkap

Suatu ekonomi dikatakan berada dalam perangkap likuiditas ketika suku bunga nominal jangka pendek atas obligasi pemerintah turun menjadi nol.

Tindakan semacam itu disebut dengan nama pelonggaran kredit (credit easing), atau pelonggaran kualitatif (qualitative easing), atau pelonggaran yang ditargetkan (targeted easing).

(hlm. 544-545)

Rasio LTV dan Kenaikan Harga Perumahan dari Tahun 2000 hingga 2007

Pertama bahwa jelas terdapat hubungan positif antara rasio LTV dengan kenaikan harga perumahan. Korea dan Hong Kong yang menerapkan rasio LTV yang rendah, mengalami kenaikan harga perumahan yang lebih kecil.

Misalkan bank sentral merasa khawatir orang meminjam terlalu banyak dalam mata uang asing. Suatu contoh akan membantu menjelaskan. Pada saat penulisan buku ini, lebih dari dua pertiga hipotek di Hungaria didenominasikan dalam franc Swiss! Alasannya sederhana. Suku bunga Swiss sangat rendah, yang menjadikannya sangat menarik bagi orang Hungaria untuk meminjam dengan suku bunga Swiss alih-alih suku bunga Hungaria. Akan tetapi, risiko yang tidak diperhitungkan oleh para peminjam adalah bahwa mata uang Hungaria, forint, akan terdepresiasi terhadap franc Swiss. Depresiasi semacam itu bahkan, telah terjadi, secara rata-rata, meningkatkan nilai rill hipotek yang harus dibayarkan oleh orang Hungaria dengan lebih dari 50%.

(hlm. 551)

BAB 25

Epilog: Cerita Makroekonomi

(hlm. 552)

25-1 Keynes dan Great Depression

Great Depression bukan hanya merupakan suatu bencana ekonomi, tetapi juga kegagalan intelektual dari ekonom yang berkutat dalam teori siklus bisnis (business cycle theory)—sebutan untuk makroekonomi pada saat itu.

General Theory menawarkan suatu interpretasi dari peristiwa, suatu kerangka kerja intelektual, dan argumentasi yang jelas tentang campur tangan pemerintah.

General Theory menekankan permintaan efektif (effective demand)—apa yang sekarang kita sebut permintaan agregat.

Dalam proses menghasilkan permintaan efektif, Keynes memperkenalkan banyak balok bangunan dari makroekonomi modern:

  • Hubungan konsumsi terhadap pendapatan, dan multiplier, yang menjelaskan bagaimana guncangan terhadap permintaan dapat diperkuat dan mengarah ke pergeseran yang lebih besar dalam output.
  • Preferensi likuiditas (liquidity preference) (istilah yang diberikan Keynes terhadap permintaan akan uang), yang menjelaskan bagaimana kebijakan moneter dapat mempengaruhi suku bunga dan permintaan agregat.
  • Pentingnya ekspektasi/harapan dalam mempengaruhi konsumsi dan investasi; dan ide bahwa semangat binatang (pergeseran dalam ekspektasi) merupakan faktor utama di balik pergeseran dalam permintaan dan output.

25-2 Sintesis Neoklasik

Pada awal tahun 1950-an sebuah konsensus besar muncul, berdasarkan integrasi dari banyak ide Keynes dan ide para ekonom sebelumnya. Konsensus tersebut disebut sintesis neoklasik (neoclassical synthesis).

(hlm. 553)

Sintesis neoklasik tetap menjadi pandangan dominan selama 20 tahun berikutnya. Kemajuannya mengejutkan, membuat banyak orang menyebut periode dari awal tahun 1940-an ke awal tahun 1970-an sebagai masa keemasan makroekonomi.

Model IS-LM

Sejumlah formalisasi dari ide Keynes ditawarkan. Yang paling berpengaruh adalah model IS-LM, yang dikembangkan oleh John Hicks dan Alvin Hansen di tahun 1930-an dan awal tahun 1940-an.

Ekspektasi tidak memainkan peran, serta penyesuaian untuk harga dan upah sama sekali tidak hadir.

Teori Konsumsi, Investasi, dan Permintaan Uang

Keynes menekankan pentingnya perilaku konsumsi dan investasi, serta pilihan antara uang dan aset keuangan lain. Kemajuan utama segera dibuat di ketiga bidang.

Di tahun 1950-an, Franco Modigliani (saat itu di Carnegie Mellon, kemudian di MIT) dan Milton Friedman (di University of Chicago) masing-masing mengembangkan teori konsumsi yang kita lihat di Bab 16 secara terpisah. Keduanya bersikeras atas arti penting ekspektasi dalam menentukan keputusan konsumsi saat ini.

James Tobin, dan Yale, mengembangkan teori investasi, berdasarkan hubungan antara nilai sekarang dari laba dan investasi. Teori tersebut dikembangkan lebih lanjut dan diuji oleh Dale Jorgenson, dari Harvard.

Teori Pertumbuhan

Berlawanan dengan stagnasi di era pra-Perang Dunia II, sebagian besar negara mengalami pertumbuhan yang cepat di tahun 1950-an dan 1960-an. Bahkan jika mereka mengalami fluktuasi, standar hidup mereka meningkat dengan cepat. Model pertumbuhan yang dikembangkan Robert Solow dari di MIT tahun 1956, yang kita lihat di Bab 11 dan 12, menyediakan kerangka kerja untuk berpikir mengenai determinan dari pertumbuhan.

(hlm. 554)

Model Makroekonometrik

Semua kontribusi tersebut diintegrasikan ke dalam model makroekonometrik yang besar dan lebih besar lagi. Model makroekonometrik AS yang pertama, dikembangkan oleh Lawrence Klein dari University of Pennsylvania di awal tahun 1950-an, adalah hubungan IS yang diperluas, dengan 16 persamaan.

Keynesian versus Monetaris

Optimisme tersebut dihadang oleh rasa skeptis minoritas kecil ekonom tetapi berpengaruh, monetaris. Pemimpin intelektual dari monetaris adalah Milton Friedman. Walau Friedman melihat banyak kemajuan dibuat—dan dirinya sendiri merupakan salah satu kontributor utama di bidang makroekonomi, dengan teori konsumsinya—ia tidak berbagi antusiasme yang sama. Ia yakin bahwa pemahaman mengenai ekonomi tetap sangat terbatas. Ia mempertanyakan motif dari pemerintah dan juga pemikiran bahwa mereka benar-benar tahu cukup banyak untuk meningkatkan kondisi makroekonomi.

Di tahun 1960-an, perdebatan antara “Keynesian” dan “monetaris” mendominasi tajuk berita ekonomi. Perdebatan berpusat pada tiga persoalan: (1) efektivitas kebijakan moneter versus kebijakan fiskal, (2) kurva Phillips, dan (3) peran dari kebijakan.

Kebijakan Moneter versus Kebijakan Fiskal

Keynes menekankan kebijakan fiskal alih-alih moneter sebagai kunci untuk melawan resesi. Kurva IS, banyak yang berpendapat, cukup curam: perubahan dalam suku bunga memiliki sedikit terhadap permintaan dan output. Oleh karena itu, kebijakan moneter tidak berjalan dengan baik. Kebijakan fiskal, yang mempengaruhi permintaan secara langsung, dapat mempengaruhi output dengan lebih cepat dan lebih dapat diandalkan.

Friedman dengan tegas menantang kesimpulan tersebut. Di bukunya pada tahun 1963, A Monetary History of the United States, 1867-1960, Friedman dan Anna Schwarz dengan susah payah mengkaji ulang bukti mengenai kebijakan moneter dan hubungan antara uang dan output di Amerika Serikat selama satu abad. Kesimpulan mereka bukan hanya kebijakan moneter sangat kuat, tetapi juga pergerakan uang memang menjelaskan sebagian besar fluktuasi output. Mereka menginterpretasikan Great Depression sebagai hasil dari kesalahan besar dalam kebijakan moneter, penurunan jumlah uang beredar akibat kegagalan bank—penurunan yang dapat dihindari the Fed dengan meningkatkan dasar moneter, tetapi tidak dilakukannya.

Pada akhirnya, dicapai suatu konsensus. Baik kebijakan fiskal maupun moneter jelas mempengaruhi ekonomi. Dan, jika pembuat kebijakan peduli bukan hanya pada tingkat tetapi juga komposisi dari output, kebijakan terbaik pada umumnya adalah bauran dari keduanya.

(hlm. 555)

Kurva Phillips

Perdebatan kedua berfokus pada Kurva Phillips. Kurva Phillips bukan merupakan bagian dari model Keynesian awal. Tetapi, karena kurva ini menyediakan cara yang nyaman (dan tampaknya dapat diandalkan) untuk menjelaskan pergerakan upah dan harga seiring berlalunya waktu, kurva ini telah menjadi bagian dari sintesis neoklasik. Di tahun 1960-an, berdasarkan bukti empiris hingga saat itu, banyak ekonom Keynesian yakin bahwa terdapat trade-off yang dapat diandalkan antara pengangguran dan inflasi, bahkan dalam jangka panjang.

Milton Friedman dan Edmund Phelps (dari Columbia University) dengan tegas tidak menyetujuinya. Mereka berpendapat bahwa keberadaan trade-off jangka panjang semacam itu menghilang di hadapan teori ekonomi dasar. Mereka berpendapat bahwa trade-off yang nyata akan dengan cepat hilang jika pembuat kebijakan benar-benar berusaha untuk mengeksploitasinya—yaitu, jika mereka berusaha untuk mencapai pengangguran yang rendah dengan menerima inflasi yang lebih tinggi. Seperti yang kita lihat di Bab 8 ketika kita mempelajari evolusi dari kurva Phillips, Friedman dan Phelps benar. Pada pertengahan tahun 1970-an, konsensusnya adalah tidak terdapat trade-off jangka panjang antara inflasi dan pengangguran.

Peran Kebijakan

Perdebatan ketiga berpusat pada peran dari kebijakan. Merasa skeptis bahwa ekonom cukup banyak tahu untuk menstabilitasi output dan bahwa pembuat kebijakan dapat dipercaya untuk melakukan hal yang benar, Friedman mendukung penggunaan aturan sederhana, seperti pertumbuhan uang yang stabil (suatu aturan yang kita bahas di Bab 24).

Moral utama yang dapat ditarik dari dua poin di atas adalah bahwa menghasilkan tekanan tersebut mungkin sering kali menghasilkan lebih banyak keburukan daripada kebaikan.

(hlm. 556)

25-3 Kritik Ekspektasi Rasional

Krisis tersebut memiliki dua sumber.

Pertama adalah peristiwa. Pada pertengahan tahun 1970-an, sebagian besar negara mengalami stagflasi, suatu kata yang diciptakan pada saat itu untuk melambangkan keberadaan simultan dari pengangguran yang tinggi dan inflasi yang tinggi. Ahli makroekonomi tidak meramalkan stagflasi.

Kedua adalah ide. Di awal tahun 1970-an, sekelompok kecil ekonom—Robert Lucas dari Chicago; Thomas Sargent, saat itu dari Minnesota dan sekarang di New York University; dan Robert Barro, saat itu dari Chicago dan sekarang di Harvard—memimpin serangan kuat terhadap makroekonomi arus utama.

“Bahwa prediksi [dari ekonomi Keynesian] sangat tidak tepat, dan bahwa doktrin di mana mereka didasarkan secara fundamental cacat, sekarang hanyalah masalah fakta, tidak melibatkan kepelikan dalam teori ekonomi. Tugas yang dihadapi mahasiswa kontemporer siklus bisnis adalah menyortir di antara reruntuhan, menemukan fitur apa dari peristiwa intelektual luar biasa yang disebut Revolusi Keynesian yang dapat diselamatkan dan bermanfaat, dan mana yang harus dibuang.”

Tiga Implikasi dari Ekspektasi Rasional

Argumentasi utama Lucas dan Sargent adalah bahwa ekonomi Keynesian mengabaikan implikasi penuh dari pengaruh ekspektasi terhadap perilaku.

Dengan mempertimbangkan orang memiliki ekspektasi rasional menghasilkan tiga implikasi utama, semuanya sangat merusak bagi makroekonomi Keynesian.

Kritik Lucas

Implikasi pertama adalah bahwa model makroekonomi yang ada tidak dapat digunakan untuk merancang kebijakan.

Oleh karena itu, yang ditangkap model adalah serangkaian hubungan antara berbagai variabel ekonomi ketika variabel-variabel tersebut dimiliki di masa lalu, berdasarkan kebijakan masa lalu. Ketika kebijakan tersebut berubah, menurut Lucas, cara orang membentuk ekspektasi juga akan berubah, menjadikan hubungan yang diperkirakan—dan, implikasinya, simulasi yang dihasilkan dengan menggunakan model makroekonometrik yang ada—menjadi pedoman yang buruk bagi apa yang akan terjadi di bawah kebijakan baru tersebut. Kritik mengenai model makroekonometrik tersebut kemudian dikenal sebagai kritik Lucas.

Ketika pembuat kebijakan berusaha untuk mengeksploitasi trade-off tersebut, trade-off itu menghilang.

Ekspektasi Rasional dan Kurva Phillips

Implikasi kedua adalah bahwa ketika ekspektasi rasional diperkenalkan di model Keynesian, model-model tersebut sebenarnya memberikan kesimpulan yang sangat tidak Keynesian. Sebagai contoh, model-model itu menyiratkan bahwa penyimpangan output dari tingkat output alami itu bersifat jangka pendek, jauh lebih pendek dibandingkan yang diklaim oleh ekonom Keynesian.

(hlm. 557)

Akan tetapi, penyesuaian tersebut, menurut Lucas, sangat bergantung pada ekspektasi inflasi yang melihat ke belakang dari penetap upah. Dalam model MPS misalnya, upah hanya merespons pada inflasi masa kini dan masa lalu serta pada pengangguran saat ini. Akan tetapi, ketika asumsi dibuat bahwa penetap upah memiliki ekspektasi rasional, penyesuaian menjadi jauh lebih cepat. Perubahan dalam uang, hingga sejauh yang diantisipasi, mungkin tidak memiliki efek terhadap output: Sebagai contoh, mengantisipasi peningkatan jumlah uang sebesar 5% selama tahun yang akan datang, penetap upah akan meningkatkan upah nominal yang ditetapkan di kontrak untuk tahun yang akan datang sebesar 5%. Perusahaan kemudian akan meningkatkan harga sebesar 5%. Hasilnya, tidak terdapat perubahan dalam stok uang riil, dan tidak terdapat perubahan dalam permintaan atau output.

Bahkan berdasarkan persyaratannya sendiri, model Keynes tidak memberikan teori yang meyakinkan mengenai pengaruh jangka panjang permintaan terhadap output.

Pengendalian Optimal versus Teori Permainan

Implikasi yang ketiga adalah bahwa jika orang dan perusahaan memiliki ekspektasi rasional, merupakan hal yang salah untuk mempertimbangkan kebijakan sebagai kendali dari sistem yang rumit tetapi pasif. Akan tetapi, cara terbaik adalah mempertimbangkan kebijakan sebagai permainan antara pembuat kebijakan dan perekonomian. Sarana yang tepat bukanlah pengendalian optimal, tetapi teori permainan. Dan, teori permainan mengarah ke visi kebijakan yang berbeda. Contoh yang mengejutkan adalah persoalan inkonsistensi waktu yang dibahas oleh Finn Kydland (saat itu di Carnegie Mellon, sekarang di UC Santa Barbara) dan Edward Prescott (saat itu di Carneige Mellon, sekarang Arizona State University), suatu persoalan yang kita bahas di Bab 22: Maksud yang baik dari pihak pembuat kebijakan dapat benar-benar menjadi bencana.

Sebagai ringkasan: ketika ekspektasi rasional diperkenalkan, model Keynesian tidak dapat digunakan untuk menentukan kebijakan; model Keynesian tidak dapat menjelaskan penyimpangan jangka panjang output dari tingkat output alami; teori kebijakan harus dirancang ulang, menggunakan sarana teori permainan.

Pengintegrasian dari Ekspektasi Rasional

Dengan cukup cepat, ide bahwa ekspektasi rasional adalah asumsi kerja yang tepat memperoleh penerimaan luas.

(hlm. 558)

Implikasi dari Ekspektasi Rasional

  • Robert Hall, saat itu di MIT dan sekarang di Stanford, menunjukkan bahwa jika konsumen berpikir jauh ke depan (seperti yang didefinisikan di Bab 16), maka perubahan dalam konsumsi seharusnya tidak dapat diprediksi: Ramalan terbaik dari konsumsi tahun depan adalah konsumsi tahun ini!
  • Rudiger Dornbush dari MIT menunjukkan bahwa pergerakan yang besar dalam nilai tukar di bawah nilai tukar fleksibel, yang sebelumnya dianggap sebagai hasil spekulasi oleh investor yang tidak rasional, sepenuhnya konsisten dengan rasionalitas.

Upah dan Penetapan Harga

Berlawanan dengan cerita sederhana kita sebelumnya, di mana semua upah dan harga meningkat secara simultan sebagai antisipasi dari peningkatan dalam uang, keputusan upah dan harga aktual berjalan tidak mulus dengan berlalunya waktu. Sehingga tidak terdapat satu penyesuaian tersinkronisasi secara tiba-tiba dari semua upah dan harga terhadap peningkatan uang. Alih-alih, penyesuaiannya kemungkinan lambat, dengan upah dan harga menyesuaikan ke tingkat uang yang baru melalui proses lompat katak dengan berlalunya waktu. Fischer dan Taylor oleh karena itu menunjukkan bahwa persoalan kedua yang dimunculkan oleh kritik ekspektasi-rasional dapat dipecahkan, bahwa pengembalian yang lambat dari output ke tingkat output alami bisa konsisten dengan ekspektasi rasional di pasar tenaga kerja.

Teori Kebijakan

Pada waktu yang bersamaan, terdapat pergeseran yang jelas dalam fokus dari “apa yang seharusnya dilakukan pemerintah” menjadi “apa yang sebenarnya dilakukan pemerintah,” suatu peningkatan kesadaran akan batasan politik yang seharusnya diperhitungkan ekonom ketika memberikan saran kepada pembuat kebijakan.

Secara singkat: pada akhir tahun 1980-an, tantangan yang dimunculkan oleh kritik ekspektasi rasional telah mengarah ke perbaikan menyeluruh dari makroekonomi.

(hlm. 559)

25-4 Perkembangan dalam Makroekonomi Hingga Krisis Tahun 2009

Dari tahun 1980-an hingga krisis, tiga kelompok mendominasi tajuk berita penelitian: klasik baru, Keynesian baru, dan ahli teori pertumbuhan baru.

Ekonomi Klasik Baru dan Teori Siklus Bisnis Baru

Kritik ekspektasi rasional lebih dari sekedar kritik terhadap ekonomi Keynesian. Kritik tersebut juga menawarkan interpretasinya sendiri terhadap fluktuasi. Lucas berpendapat bahwa daripada bergantung pada ketidaksempurnaan di pasar tenaga kerja, pada penyesuaian yang lambat dari upah dan harga, dan seterusnya untuk menjelaskan fluktuasi, ahli makroekonomi seharusnya melihat sejauh mana mereka dapat melangkah dalam menjelaskan fluktuasi sebagai efek dari guncangan di pasar yang kompetitif dengan harga dan upah yang sepenuhnya fleksibel.

Pertama adalah metodologis. Lucas berpendapat bahwa, untuk menhindari kesulitan awal, model makroekonomi seharusnya dibentuk dari fondasi mikro eksplisit (misalkan maksimalisasi utilitas oleh pekerja, maksimalisasi laba oleh perusahaan, dan ekspektasi rasional). Sebelum perkembangan komputer, hal tersebut sulit, jika tidak memungkinkan, untuk dicapai: Model yang dibentuk dengan cara ini akan terlalu kompleks untuk dipecahkan secara analitis. Tentu saja, banyak dari seni makroekonomi adalah dalam menemukan jalan pintas untuk menangkap inti dari suatu model sembari mempertahankan model tersebut agar cukup sederhana untuk dipecahkan (hal itu masih menjadi seni dari menulis sebuah buku teks yang bagus).

Kedua adalah konseptual. Hingga tahun 1970-an, sebagian besar fluktuasi dilihat sebagai hasil dari ketidaksempurnaan, penyimpangan output aktual dari tingkat output alami yang bergerak dengan lambat. Mengikuti saran Lucas, Prescott berpendapat bahwa dalam serangkaian kontribusi yang berpengaruh, fluktuasi jelas dapat diinterpretasikan sebagai datang dari efek guncangan teknologi di pasar kompetitif dengan harga dan upah yang sepenuhnya fleksibel. Dengan kata lain, ia berpendapat bahwa pergerakan output aktual dapat dilihat sebagai pergerakan—alih-alih sebagai penyimpangan dari—tingkat output alami. Ketika ada penemuan baru, ia berpendapat, produktivitas meningkat, mengarah ke peningkatan dalam output. Peningkatan dalam produktivitas mengarah ke peningkatan dalam upah, yang menjadikan lebih menarik untuk bekerja, mengarahkan pekerja untuk bekerja lebih banyak.

(hlm. 560)

Fluktuasi merupakan fitur yang diinginkan dari ekonomi, bukan sesuatu yang harus dikurangi oleh pembuat kebijakan.

Ekonomi Keynesian Baru

Jika tidak mulusnya keputusan bertanggung jawab, setidaknya sebagian, untuk fluktuasi, mengapa penetap upah/ penetap harga tidak mensinkronkan keputusan? Mengapa harga dan upah tidak disesuaikan dengan lebih sering? Mengapa tidak semua harga dan semua upah berubah, misalkan, di hari pertama setiap minggu? Dalam mengahadapi persoalan tersebut, George Akerlof (dari Berkeley) dan N. Gregory Mankiw (dari Harvard University) muncul dengan hasil yang mengejutkan dan penting, sering disebut sebagai penjelasan biaya menu (menu cost) dari fluktuasi output:

Setiap penetap upah atau penetap harga sebagian besar tidak acuh dengan apakah dan seberapa sering ia mengubah upah atau harganya sendiri (bagi seorang peritel, mengubah harga di rak setiap hari dibandingkan setiap minggu tidak menimbulkan banyak perbedaan terhadap laba keseluruhan toko).

(hlm. 561)

Teori Pertumbuhan Baru

Dua ekonom, Robert Lucas (yang juga mempelopori kritik ekspektasi rasional) dan Paul Romer, saat itu di Berkeley sekarang di New York University, memainkan peran penting dalam mendefinisikan persoalan ini.

Pembahasan mengenai efek dari penelitian dan pengembangan terhadap kemajuan teknologi di Bab 12, dan interaksi antara kemajuan teknologi dan pengangguran di Bab 13, keduanya merefleksikan sejumlah kemajuan yang dibuat dalam sisi ini. Suatu kontribusi pentin di sini adalah pekerjaan Philippe Aghion (dari Harvard University) dan Peter Howitt (dari Brown University), yang mengembangkan suatu tema yang pertama kali dieksplorasi oleh Joseph Schumpeter di tahun 1930-an, pemikiran bahwa pertumbuhan adalah suatu proses penghancuran kreatif (creative destruction) di mana produk-produk baru secara konstan diperkenalkan, membuat produk lama menjadi usang. Institusi yang memperlambat proses realokasi tersebut (sebagai contoh, dengan menjadikan pembentukan perusahaan baru lebih sulit atau dengan menjadikan pemberhentian kerja lebih mahal bagi perusahaan) mungkin memperlambat tingkat kemajuan teknologi sehingga menurunkan pertumbuhan.

Daron Acemoglu (dari MIT) mengeksplorasi mengenai korelasi antara institusi dan pertumbuhan—negara-negara demokratis secara rata-rata lebih kaya—dengan kausalitas institusi pada pertumbuhan: Apakah korelasi tersebut memberiahukan kita bahwa demokrasi mengarah ke output yang lebih tinggi per orang, atau apakah hal tersebut memberitahukan kita bahwa output yang lebih tinggi per orang mengarah ke demokrasi, atau bahwa sekelompok faktor lain mengarah baik ke demokrasi maupun output per orang yang lebih tinggi? Dengan menelaah sejarah dari negara-negara bekas koloni, Acemoglu berpendapat bahwa kinerja pertumbuhan mereka telah dibentuk oleh jenis institusi yang dibentuk oleh pemerintah kolonial mereka, oleh karena itu menunjukkan peran kausal yang kuat dari institusi dalam kinerja ekonomi.

(hlm. 562)

Menuju Integrasi

Akan tetapi, pada tahun 2000-an, suatu sintesis mulai muncul. Secara metodologis, sintesis tersebut dibangun dari pendekatan RBC dan deskripsinya secara cermat mengenai masalah optimasi orang dan perusahaan. Secara konseptual, sintesis ini mengenali kepentingan potensial, yang ditekankan oleh RBC dan teori pertumbuhan baru, dari perubahan dalam kecepatan kemajuan teknologi.

Woodford, Gali, dan sejumlah penulis pendamping mengembangkan suatu model, yang dikenal sebagai model Keynesian baru, yang menyatukan utilitas dan maksimalisasi laba, ekspektasi rasional, dan kekakuan nominal. Anda dapat membayangkannya sebagai versi berteknologi tinggi dari model yang disajikan di Bab 17. Model tersebut terbukti sangat bermanfaat dan berpengaruh dalam perancangan ulang kebijakan moneter—dari fokus terhadap penargetan inflasi hingga ketergantungan terhadap aturan suku bunga—yang kami jabarkan di Bab 24. Model ini mengarah ke perkembangan kelas model yang lebih besar yang dibangun pada struktur sederhana tetapi memungkinkan menu ketidaksempurnaan yang lebih panjang, dan karenanya harus dipecahkan secara numerik. Model-model tersebut, yang merupakan saran modal yang umum digunakan di sebagian besar bank sentral, dikenal sebagai model “ekuilibrium umum stokastik dinamis (dynamic stochastic general equilibrium),” atau DSGE.

25-5 Pelajaran Pertama untuk Makroekonomi Setelah Krisis

Tidak terdapat keraguan bahwa krisis merefleksikan kegagalan intelektual dari sisi makroekonomi.

(hlm. 563)

(Untuk bersikap adil, beberapa ahli makroekonomi yang melihat lebih dekat sistem keuangan memberikan peringatan; yang paling dikenal di antara mereka adalah Nouriel Roubini, dari New York University, dan para ekonom di Bank for International Settlements di Basel, yang pekerjaannya adalah mengikuti perkembangan keuangan dengan teliti.)

Secara keseluruhan, sistem keuangan, dan peran kompleks dari bank dan institusi keuangan lain dalam intermediasi dana antara pemberi pinjaman dan peminjam, diabaikan di sebagian besar model makroekonomi.

Penelitian oleh Bengt Holmström dan Jean Tirole (keduanya dari MIT) telah menunjukkan bahwa persoalan likuiditas bersifat endemik bagi ekonomi modern.

Ahli ekonomi perilaku (sebagai contoh, Richard Thaler, dari Chicago) menunjukkan bagaimana perilaku individu, yang berbeda dari model individu rasional yang pada umumnya digunakan dalam ekonomi, telah menghasilkan implikasi bagi pasar keuangan.

Jika sejarah menjadi pedoman, ekonomi akan dihantam oleh jenis guncangan lain yang belum pernah kita pikirkan.

(hlm. 565)

Bacaan Lebih Lanjut

Journal of Economic Perspectives, secara khusus, memiliki artikel non-teknis mengenai penelitian dan persoalan ekonomi saat ini.

(hlm. 567)

Apendiks

(hlm. 576)

Skala Logaritma

Variabel yang tumbuh pada laju pertumbuhan konstan meningkat semakin besar seiring waktu berjalan. Ambilah contoh variabel X yang tumbuh seiring waktu berjalan pada laju pertumbuhan yang konstan, anggap saja 3% per tahun.

Cara lain untuk menggambarkan evolusi X adalah menggunakan skala logaritma untuk mengukur X pada sumbu vertikal. Sifat skala logaritma adalah bahwa kenaikan proporsional yang sama dalam variabel ini digambarkan oleh jarak vertikal yang sama dalam skala. Jadi perilaku variabel seperti X yang bertambah oleh kenaikan proporsional yang sama (3%) setiap tahun kini digambarkan oleh sebuah garis. Gambar A2-1(b) mewakili perilaku X, kali ini menggunakan skala logaritma pada sumbu vertikal. Faktanya adalah hubungan tersebut digambarkan oleh garis yang menunjukkan bahwa X tumbuh pada laju yang konstan seiring waktu berjalan. Semakin tinggi laju pertumbuhannya, semakin curam garisnya.

Bertolak belakang dengan X, variabel-variabel ekonomi seperti GDP tidak tumbuh pada laju pertumbuhan yang konstan setiap tahun. Laju pertumbuhannya bisa lebih besar dalam beberapa dekade dan lebih kecil dalam dekade lainnya. Sebuah resesi bisa menghasilkan pertumbuhan negatif untuk beberapa tahun. Namun demikian, ketika memperhatikan evolusinya sepanjang waktu, seringkali lebih informatif menggunakan skala logaritma ketimbang skala linear. Mari kita lihat mengapa.

(hlm. 577)

Sangat sulit mengamati dari gambar apakah ekonomi AS tumbuh lebih cepat atau lebih lambat daripada 50 atau 100 tahun lalu.

Perhatikan bagaimana, di kedua kasus tersebut, Anda tidak bisa mendapatkan kesimpulan-kesimpulan ini dengan melihat Gambar A2-2(a), tetapi Anda bisa memperolehnya dengan melihat Gambar A2-2(b).

(hlm. 579)

Persamaan yang menggambarkan garis tersebut disebut dengan regresi, dan garis ini dinamakan garis regresi.

1 Istilah “kuadrat terkecil” menunjukkan bahwa garis tersebut memiliki sifat yang meminimalkan penjumlahan jarak kuadrat dari titik-titik tersebut terhadap garis—sehingga diistilahkan “kuadrat” “terkecil”. Kata “biasa” mengindikasikan bahwa inilah metode paling sederhana yang digunakan dalam ekonometrika.

(hlm. 580)

Panduan Memahami Hasil Ekonometrik

 adalah ukuran kesesuaian. Makin mendekati 1, berarti makin sesuai dengan garis regresi.

Derajat kebebasan harus positif, dan makin tinggi angkanya makin baik.

T-statistik sebesar 7,6 untuk koefisien pendapatan disposabel nilainya sangat tinggi sehingga kita benar-benar yakin (lebih dari 99,99%) bahwa koefisien aslinya berbeda dengan nol.

(hlm. 582)

Permasalahan mencari variabel eksogen ini disebut dengan persoalan identifikasi dalam ekonometrika. Variabel eksogen ini, ketika dapat dicari, disebut dengan instrumen. Metode estimasi yang menggunakan instrumen ini disebut metode variabel instrumental.

 

 

Teori Pertumbuhan Ekonomi

Boediono

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Teori Pertumbuhan Ekonomi karangan Boediono.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI
Edisi Pertama
Dr. Boediono
ISBN: 979-503-117-1

SERI SINOPSIS
PENGANTAR ILMU EKONOMI NO.4
TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI

Edisi Pertama
Cetakan Pertama, Desember 1981
Cetakan Kedua, Februari 1983
Cetakan Ketiga, April 1985
Cetakan Keempat, Maret 1988
Cetakan Kelima, Februari 1992
Cetakan Keenam, Juli 1999

Oleh:
Dr. Boediono
Dicetak & Diterbitkan oleh:
BPFE-YOGYAKARTA
Yogyakarta
Anggota IKAPI
No-003


(hlm.1)
BAB I
TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI PERTUMBUHAN EKONOMI
Secara singkat, “pertumbuhan ekonomi” adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang.

(hlm.2)
TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI
Teori pertumbuhan ekonomi bisa kita definisikan sebagai penjelasan mengenai faktor-faktor apa yang menentukan kenaikan output per kapita dalam jangka panjang, dan penjelasan mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi satu sama lain, sehingga terjadi proses pertumbuhan.

(hlm.4)
Perbedaan teori Lewis dengan teori-teori Klasik Smith dan Ricardo terletak pada penekanan oleh Lewis pada aspek dualisme perekonomian (yaitu, adanya “sektor modern” dan “sektor tradisional” yang masing-masing memiliki ciri-ciri ekonomis khusus).

(hlm.7)
BAB II
ADAM SMITH


PENDAHULUAN
Mengenai bagaimana perekonomian (kapitalis) tumbuh.

PERTUMBUHAN OUTPUT

(hlm.8)
Unsur sumber alam ini akan menjadi “batas atas” dari pertumbuhan suatu perekonomian.

(hlm.12)
Tetapi sebenarnya ada dua faktor penunjang penting di balik proses akumulasi kapital tersebut, yaitu:
a. Makin meluasnya pasar (M), dan
b. Adanya tingkat keuntungan di atas tingkat keuntungan minimal.

(hlm.13-14)
PERTUMBUHAN EKONOMI
Dan apabila tingkat upah terus merosot dan jatuh di bawah tingkat upah subsistensi, maka laju pertumbuhan penduduk itu sendiri berubah menjadi negatif.
Kata Smith:
“Permintaan akan tenaga manusia, seperti juga permintaan akan barang-barang lain, mengatur produksi tenaga kerja; ia akan mempercepat produksi tersebut apabila terlalu lambat, dan menyetopnya apabila terlalu cepat.”

(hlm.17)
BAB III
RICARDO

PENDAHULUAN
Pendahuluan terutama terletak pada penggunaan alat analisa mengenai distribusi pendapatan (berdasarkan teori Ricardo mengenai sewa tanah yang terkenal itu) dalam penjabaran mekanisme pertumbuhan dan pengungkapan peranan yang lebih jelas dari sektor pertanian di antara sektor-sektor lain dalam proses pertumbuhan.

(hlm.19)
Jadi dengan adanya kemajuan teknologi, bekerjanya the Law of Diminishing Return bisa diperlambat, dan kemerosotan tingkat upah dan tingkat keuntungan ke arah tingkat minimumnya diperlambat.

(hlm.27)
Mengingat bahwa jumlah tanah tetap, maka ini berarti bahwa tingkat sewa per satuan luas tanah adalah juga yang tertinggi. Pada posisi stasioner, tuan tanah menikmati hidup yang paling makmur, para pemilik kapital menerima keuntungan minimal per unit kapital yang dimiliki dengan tingkat kehidupan yang belum tentu minimal tetapi sesuai dengan jumlah (unit) kapital yang kebetulan ia miliki, bisa makmur.

(hlm.28)
Bisa tidak), dan para pemilik tenaga kerja (buruh) hidup pada tingkat minimal (“alamiah”).

(hlm.30)
KOMENTAR
Pada tahap perkembangan perekonomiannya, negara-negara ini berhasil memperluas tanah koloni dan tanah jajahan mereka di daerah-daerah baru dan di negara-negara dunia ketiga. Tanah koloni dan tanah jajahan baru ini merupakan sumber bahan mentah dan tanah pertanian yang murah bagi negara-negara Barat yang pada waktu itu sedang dalam tahap industrialisasinya.

(hlm.31)
Sejarah menunjukkan ini pada tingkat upah (tingkat hidup) yang cukup tinggi, justru ada kecenderungan bagi laju pertumbuhan penduduk untuk menurun dengan meningkatnya tingkat pendapatan.


(hlm.35)
BAB IV
ARTHUR LEWIS

(hlm.41)
KOMENTAR

  1. Dalam teorinya, akumulasi kapital memang merupakan aspek sentral dari proses pertumbuhan. Tetapi kemajuan teknologi bisa dengan mudah dimasukkan dalam proses tersebut, karena ia mempunyai pengaruh yang sama dengan akumulasi kapital, yaitu menggeser kurva MPL ke kanan atas, meningkatkan investible surplus dan selanjutnya melahirkan proses pertumbuhan itu sendiri.
  2. Berbeda dengan ekonom-ekonom aliran Klasik lain, Lewis tidak menekankan keharusan adanya proses pertumbuhan.

(hlm.47)
BAB V
SCHUMPETER

PENDAHULUAN
Schumpeter berpendapat bahwa motor penggerak perkembangan ekonomi adalah suatu proses yang ia beri nama inovasi.

(hlm.48)
Dan pelakunya adalah para wiraswasta atau inovator atau entrepreneur. Kemajuan ekonomi suatu masyarakat hanya bisa diterangkan dengan adanya inovasi oleh para entrepreneur.

(hlm.50)
Keuntungan monopolistis ini adalah imbalan bagi para inovator dan sekaligus juga merupakan rangsangan bagi para calon inovator. Minat berinovasi didorong oleh adanya harapan memperoleh keuntungan monopolistis ini.

(hlm.51)
INOVASI, INOVATOR DAN LINGKUNGAN
Pengusaha yang berani mendirikan perusahaan kereta api adalah inovatornya. Jadi inovasi adalah penerapan pengetahuan teknologi di dunia ekonomi/komersial/kemasyarakatan. Inovator belum tentu inventornya, atau sebaliknya.
a. Diperkenalkan produk baru yang sebelumnya tidak ada,
b. Diperkenalkan cara berproduksi baru,
c. Pembukaan daerah-daerah pasar baru,

(hlm.51)
d. Penemuan sumber-sumber bahan mentah baru,
e. Perubahan organisasi industri sehingga meningkatkan efisiensi industri.
Tetapi mereka adalah yang bisa membuat ide-ide tersebut menjadi bagian dari kehidupan ekonomi dan masyarakat.

(hlm.53)
b. adanya sistem perkreditan yang bisa menyediakan dana bagi para entrepreneur untuk merealisasikan ide-ide tersebut menjadi kenyataan ekonomi.

(hlm.54-55)
MASA DEPAN SISTEM KAPITALIS
Menurut Schumpeter, dengan makin makmurnya masyarakat, maka akan terjadi proses perubahan kelembagaan dan perubahan pandangan masyarakat yang makin menjauh dari sistem kapitalis asli. Masyarakat mulai menyerap unsur-unsur yang bersifat sosialistis, makin meluasnya sistem tunjangan sosial bagi penganggur dan orang tua, sistem sekolah murah atau gratis, sistem asuransi kesehatan, dan sebagainya. Dalam arti inilah Schumpeter sering dikatakan sebagai orang yang meramalkan akan ada pertemuan antara dua ideologi besar—kapitalisme dan sosialisme—di masa depan.


(hlm.59)
BAB VI
HARROD-DOMAR

PERANAN INVESTASI
Teori Harrod-Domar adalah perkembangan langsung dari teori Keynes jangka pendek menjadi suatu teori makro jangka panjang.
Menurut kedua ekonom ini, pengeluaran investasi (I) tidak hanya mempunyai pengaruh (lewat proses multiplier) terhadap permintaan agregat (Z), tetapi juga terhadap penawaran agregat (S) melalui pengaruhnya terhadap kapasitas produksi.

(hlm.62)
WARRANTED RATE OF GROWTH
Apakah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar perekonomian kita selalu menggunakan kapasitas pabrik-pabriknya secara penuh, yaitu agar Z = QP?

(hlm.63)
Laju pertumbuhan yang menjamin keseimbangan antara output potensial dan permintaan agregat ini (atau secara umum, yang menjamin keseimbangan di pasar barang) dalam jangka panjang, yaitu gw. Disebut oleh Harrod dengan nama warranted rate of growth.

(hlm.70)
Ketidakstabilan pertumbuhan jangka panjang ini merupakan salah satu kesimpulan utama dari teori Harrod-Domar.

(hlm.71)
NATURAL RATE OF GROWTH
Yang dimaksud dengan N di sini bukanlah jumlah orang, tetapi jumlah tenaga kerja yang dinyatakan dalam unit efisiensinya, yaitu dalam “produktivitas”-nya.

(hlm.75)
KESEIMBANGAN JANGKA PANJANG
Ciri dari steady state growth adalah bahwa semua variabel (I, QP, Z, K, Qn) tumbuh dengan laju yang sama, yaitu dengan laju gn = gw.


(hlm.79)
DISTRIBUSI PENDAPATAN KALDOR
Ini berarti bahwa semakin tidak merata pola distribusi pendapatan, semakin tinggi laju pertumbuhan ekonomi.

(hlm.81)
BAB VII
SOLOW – SWAN

(hlm.85)
KESEIMBANGAN JANGKA PANJANG

(hlm.88)
Solow mengatakan bahwa posisi long run equilibrium akan tercapai apabila kapital per kapita, k, mencapai suatu tingkat yang stabil, artinya tidak lagi berubah nilainya.

(hlm.96 & 100)
KEMAJUAN TEKNOLOGI
Perhatikan pula bahwa (setidak-tidaknya dalam model Neo-Klasik) satu-satunya sumber perbaikan hidup bagi para pekerja dalam jangka panjang adalah kemajuan teknologi, bukan akumulasi kapital.

(hlm.103)
BAB VIII
“GOLDEN RULE” DAN “TURNPIKE”

(hlm.113)
GOLDEN RULE OF ACCUMULATION
Jadi permasalahan pokok dalam pengkajian mengenai golden rule ini adalah: berapakah tingkat s yang “optimal” bagi suatu perekonomian (Neo-Klasik) apabila parameter-parameter lain (p, t, f, (k), Lo, No) dianggap tertentu nilainya? Parameter s ini dianggap strategis karena pada prinsipnya bisa dipengaruhi secara langsung melalui kebijaksanaan-kebijaksanaan fiskal dan moneter.

(hlm.116)
Inilah golden rule of accumulation yang didapatkan oleh ekonom Edmund Phelps.
Dalil (7) mengatakan bahwa apabila kita bisa membuat (melalui kebijaksanaan fiskal dan moneter) tingkat keuntungan (per unit kapital) yang diterima oleh golongan kapitalis persis sama dengan laju pertumbuhan penduduk plus laju kemajuan teknologi, maka kita bisa yakin bahwa perekonomian kita akan mencapai jalur pertumbuhan keseimbangan yang paling baik.

(hlm.118)
Persamaan (10) mengatakan bahwa apabila tabungan (dan investasi) masyarakat bisa dibuat (melalui kebijaksanaan fiskal dan moneter) sama dengan seluruh keuntungan yang diterima oleh golongan pemilik kapital, maka kita bisa yakin bahwa perekonomian kita akan mencapai jalur golden rule-nya. Atau kita bisa mengatakan sebaliknya, yaitu apabila kita bisa membuat agar seluruh keuntungan yang diterima golongan kapitalis diinvestasikan (dan seluruh upah dikonsumsikan), maka kita akan mencapai jalur golden rule.

(hlm.129)
BAB IX
KEMAJUAN TEKNOLOGI
PERANAN KEMAJUAN TEKNOLOGI

(hlm.130)
Peningkatan produktivitas suatu faktor produksi adalah kata lain daripada “kemajuan teknologi.”

(hlm.141)
BAB X
PERANAN UANG DALAM PERTUMBUHAN

(hlm.142 & 144)
UANG DAN PARAMETER PERTUMBUHAN
M/P adalah stok uang yang diukur menurut daya belinya, dan dalam teori ekonomi disebut saldo kas riil atau real cash balance. Jadi yang produktif bukanlah nilai nominal stok uang, tetapi stok uang sebagai alat transaksi (dus harus diukur atas dasar daya belinya).

(hlm.158)
Persamaan tersebut mengatakan bahwa agar posisi optimum total tersebut tercapai, maka kebijaksanaan moneter (pengendalian M) harus diarahkan agar terjadi deflasi yang sama dengan laju pertumbuhan penduduk plus laju kemajuan teknologi, dan sekaligus harus menargetkan laju akumulasi kapital yang sama dengan laju deflasi tersebut (misalnya, melalui kebijaksanaan fiskal).

KETIDAKSEMPURNAAN PASAR
(hlm.161)
a. Hindari inflasi yang terlalu tinggi yang bisa melemahkan minat masyarakat untuk memegang uang (dus, memegang real cash balance).
b. Hilangkan peraturan-peraturan yang membelenggu perkembangan pasar modal di dalam negeri, seperti misalnya pengaturan tingkat bunga, pembatasan-pembatasan pada perdagangan luar negeri.

 

 

Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Jilid 1

Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Jilid 1 oleh Michael P. Todaro & Stephen C. Smith

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga/Edisi Kedelapan, Jilid 1 Michael P. Todaro and Stephen C. Smith
11 Februari 2003


(hlm. viii)
Khalayak Pembaca
Dengan demikian, buku ini lebih dari sekadar sebuah buku teks bagi mata kuliah pembangunan di tingkat sarjana muda, melainkan juga sebuah buku umum sehingga dapat menarik perhatian para mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu maupun kalangan pecinta ilmu pada umumnya.


(hlm. ix)
Pendekatan
Perhatian utama dipusatkan pada berbagai persoalan pembangunan yang sepenuhnya nyata dalam kehidupan penduduk negara-negara berkembang sehari-hari, seperti masalah kemiskinan, ketimpangan pola distribusi pendapatan, pengangguran, pertumbuhan penduduk, kerusakan lingkungan, dan stagnasi pembangunan di daerah-daerah pedesaan.

Dalam membahas setiap topik, buku ini memakai pendekatan yang berorientasi pada pemecahan masalah dan perumusan kebijakan.

Buku ini menggunakan pendekatan yang sistematis dalam menyoroti masalah-masalah pembangunan dengan mengikuti prosedur pedagogis/pengajaran standar dalam setiap analisis dan penguraiannya.

Data-data yang tersedia pada suatu kurun waktu tertentu (cross-section data).


(hlm. 1)
Bagian Pertama
Prinsip dan Konsep


(hlm. 3)
1
Ilmu Ekonomi, Institusi-institusi dan Pembangunan: Sebuah Perspektif Global

Kehidupan Tiga Perempat Penduduk Bumi
Sebagian hidup di rumah yang indah dan nyaman dengan sekian kamar berukuran luas, plus aneka perlengkapannya. Mereka memiliki persediaan pangan yang lebih dari cukup, pakaian yang serba bagus, kondisi kesehatan yang prima, dan kondisi keuangan yang serba berkecukupan.
Jika, sebagai contoh, kita meninjau kondisi hidup rata-rata keluarga di kawasan Amerika Utara, kemungkinan besar kita akan menemukan sebuah keluarga “inti” yang beranggotakan empat orang dengan penghasilan tahunan sekitar US$48,000.


(hlm. 4)
Namun, secara keseluruhan mereka memiliki status ekonomi dan gaya hidup yang serba menyenangkan dan menarik, sehingga sangat diinginkan dan bahkan dijadikan sebagai patokan dan angan-angan oleh jutaan manusia lainnya yang kurang beruntung di berbagai penjuru dunia.
Mereka mengumpulkan penghasilan, baik dalam bentuk uang maupun “barang” (yaitu, bahan-bahan pangan yang mereka tanam sendiri), yang total nilainya dalam setahun hanya berkisar antara US$250 sampai US$300.
Di daerah tempat mereka bermukim mudah ditemui berbagai


(hlm. 5)
macam penyakit, tetapi dokter dan perawat yang ahli justru tinggal jauh di daerah perkotaan untuk mencari nafkah yang lebih baik dengan melayani kebutuhan kesehatan keluarga-keluarga yang lebih sejahtera. Pekerjaan terasa berat, matahari senantiasa menyengat, dan aspirasi untuk hidup secara lebih baik semakin lama semakin tipis. Di bagian dunia ini, satu-satunya hiburan yang tersisa setelah perjuangan fisik yang harus mereka kerahkan sekadar untuk bertahan hidup sampai keesokan hari adalah kegiatan-kegiatan spiritual yang sudah menjadi tradisi masyarakat sekitar.
Sang ayah adalah seorang ahli bedah terkemuka lulusan Amerika Serikat yang hanya menerima orang-orang kaya setempat, usahawan, dan orang-orang terhormat dari luar negeri sebagai pasien.


(hlm. 6)
Namun demikian, secara psikologis barangkali kehidupan di Afrika tidak terlalu menyiksa karena di sana sama sekali tidak ada rumah mewah berserambi yang menghadap laut sebagai pembanding kepapaan si miskin.
Aspirasi akan meningkat, demikian pula halnya dengan rasa frustrasi. Pendeknya, proses pembangunan akan mulai bergerak tanpa dapat dibendung.


(hlm. 8)
Buku ini sengaja disusun untuk membantu para mahasiswa agar mereka bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang masalah-masalah utama dan prospek kemajuan ekonomi bagi berbagai negara di dunia ini, dengan fokus khusus pada keadaan yang sangat menyedihkan pada tiga perempat penduduk dunia termiskin.


(hlm. 9)
Ilmu Ekonomi dan Studi-studi Pembangunan
Ia bahkan mampu mengembangkan identitas analitis dan metodologisnya sendiri yang khas dengan pesat. Ilmu ekonomi pembangunan jelas tidak sama dengan ilmu ekonomi yang banyak dianut di negara-negara kapitalis maju (yakni, ilmu ekonomi “neoklasik” modern).
Penganugerahan Hadiah Nobel bidang ekonomi pada tahun 1979 untuk dua orang tokoh ekonomi pembangunan terkemuka, yakni Sir W. Arthur Lewis dari Princeton University dan Profesor Theodore Schultz dari University of Chicago, atas kepeloporan mereka dalam mempelajari proses pembangunan, merupakan suatu pengakuan dramatis atas status ilmu ekonomi pembangunan sebagai sebuah disiplin ilmu ekonomi yang berdiri sendiri. Penerima Hadiah Nobel lainnya yang juga memberikan kontribusi besar terhadap ilmu ekonomi pembangunan adalah Amartya Sen pada tahun 1998, dan Joseph Stiglitz pada tahun 2001.

(hlm. 10)
Hakekat Ilmu Ekonomi Pembangunan
Ilmu ekonomi tradisional (traditional economics) memusatkan perhatiannya pada alokasi termurah dan paling efisien atas segenap sumber daya yang langka, serta upaya-upaya untuk memanfaatkan pertumbuhan optimal sumber-sumber daya tersebut dari waktu ke waktu agar dapat menghasilkan sebanyak mungkin barang dan jasa.
Cakupan ilmu ekonomi politik (political economy) lebih luas dari jangkauan ilmu ekonomi tradisional. Fokus khususnya antara lain adalah proses-proses sosial dan institusional yang memungkinkan kelompok-kelompok elite ekonomi dan politik mempengaruhi alokasi sumber-sumber daya produktif yang persediannya selalu terbatas (langka), sekarang atau di masa yang akan datang, baik secara khusus untuk keuntungan sendiri atau kelompok maupun secara umum memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih luas.
Semua mekanisme itu sangat diperlukan demi terciptanya suatu perbaikan standar hidup secara cepat (paling tidak menurut standar historis) dan berskala luas bagi masyarakat di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang selama ini masih terus bergulat dengan masalah-masalah kemiskinan, buta huruf, dan bahkan kelaparan.
Situasi disekuilibrium atau ketidakseimbangan pasar seringkali terjadi (artinya, harga tidak mampu menyeimbangkan tingkat penawaran dan tingkat permintaan).


(hlm. 11)
Jadi jelaslah, bahwa jangkauan atau cakupan ilmu ekonomi pembangunan itu lebih luas dari ilmu ekonomi neoklasik tradisional atau bahkan ilmu ekonomi politik. Logikanya yang utama adalah karena ilmu ekonomi pembangunan tersebut langsung berkaitan dengan keseluruhan proses politik, budaya, dan ekonomi yang diperlukan untuk mempengaruhi transformasi struktural dan kelembagaan yang cepat dari seluruh masyarakat demi menghasilkan rentetan kemajuan ekonomi yang benar-benar bermanfaat, dan melalui proses yang efisien, bagi sebagian besar penduduk.
Ilmu ekonomi pembangunan juga mengakui manfaat peranan pemerintah yang lebih besar dan berbagai tingkatan perumusan atau arah kepada transformasi ekonomi yang diinginkan. Keberhasilan transformasi itu sendiri diakui sebagai elemen penting dalam keseluruhan proses dan studi pembangunan ekonomi.
Mengapa Ilmu Ekonomi Pembangunan Perlu Dipelajari? Sejumlah Pertanyaan Kritis


(hlm. 12)
Apakah sesungguhnya arti pembangunan itu?
Sumber-sumber pertumbuhan ekonomi
Teori pembangunan, manakah yang paling berpengaruh?
Catatan-catatan sejarah pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh negara-negara yang sekarang tergolong paling maju?
Peranan dan status kaum wanita
Pertumbuhan penduduk yang begitu cepat
Penyebab dari kemiskinan yang ekstrem
Tetapi apakah kesehatan yang lebih baik juga membantu mewujudkan pembangunan yang berhasil?
Pengangguran di negara-negara Dunia Ketiga sedemikian tinggi, terutama di kota-kota besar, dan mengapa orang terus saja bermigrasi dari daerah pedesaan ke kota padahal kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan sangat kecil?
Sistem pendidikan
Apa sajakah yang harus dilakukan agar pembangunan sektor pertanian dan pedesaan dapat ditingkatkan sebaik mungkin?
“Proses pembangunan yang berwawasan lingkungan”?
Siapa yang sebenarnya memetik keuntungan dari perdagangan internasional?
Haruskah ekspor produk-produk primer seperti halnya komoditi pertanian terus ditingkatkan, atau haruskah semua negara berkembang menomorduakan pembinaan produk primer tersebut guna merintis industrialisasi dengan cara membangun industri-industri manufaktur secepat mungkin? (Lihat Bab 13 Jilid II).
Masalah utang luar negeri yang sedemikian serius
Kebijakan pengawasan atau pengendalian valuta asing, peningkatan tarif, atau pemberlakuan kuota atas impor barang-barang tertentu yang “tidak begitu penting”, “program stabilisasi”, “program penyesuaian struktural”.
Haruskah perusahaan-perusahaan multinasional yang besar dan kuat didorong untuk menanamkan modalnya di negara-negara miskin? “Pabrik global” (global factory).
Dampak bantuan luar negeri dari negara-negara kaya?
Pasar-pasar bebas dan swastanisasi ekonomi
Globalisasi
Apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki pemilihan-pemilihan yang salah tersebut?
Pembelanjaan militer dalam jumlah besar akan dapat merangsang, atau sebaliknya menghambat pertumbuhan ekonomi?
Perbedaan antara negara-negara kaya dan miskin dapat menjadi begitu besar?


(hlm. 14)
Arti Penting Nilai-nilai dalam Ilmu Ekonomi Pembangunan
Di samping itu, berbeda dari ilmu-ilmu eksakta, ilmu ekonomi sebagai ilmu sosial tidak dapat menyatakan sesuatu hal sebagai hukum-hukum keilmuan, kebenaran yang menyeluruh, atau prinsip-prinsip yang bersifat mutlak (keniscayaan). Sebagaimana telah diuraikan di atas, yang ada dalam ilmu ekonomi hanyalah “kecenderungan”, dan hal itu pun terus berubah-ubah dan bervariasi antara negara dan budaya yang satu dengan yang lain, dan pada suatu waktu tertentu dibandingkan dengan waktu yang lain.


(hlm. 15)
Lagipula, sifat umum serta objektivitas dari berbagai model atau kaidah dalam studi pembangunan tersebut juga lebih banyak bertumpu pada asumsi-asumsi tertentu yang kebenarannya acapkali sulit dibuktikan, bukannya pada fakta-fakta aktual yang memang sulit dikuantifikasikan.
Bertolak dari kenyataan di atas, kita perlu memahami pemikiran-pemikiran dasar (premis-premis) yang bersifat etis dan normatif atau premis-premis nilai (value premises) tentang apa yang diinginkan maupun hal-hal yang tidak diinginkan yang menjadi pilar utama ilmu ekonomi pada umumnya dan ilmu ekonomi pembangunan pada khususnya. Konsep-konsep pembangunan ekonomi dan modernisasi, baik secara implisit maupun eksplisit, senantiasa mengandung premis-premis nilai (Catatan: nilai adalah sesuatu yang menjadi pijakan kita untuk menentukan hal-hal yang baik dan yang buruk) tentang tujuan-tujuan yang diinginkan untuk mencapai sesuatu yang oleh Mahatma Gandhi disebut sebagai “realisasi potensi manusia”.


(hlm. 17)
Perekonomian sebagai Sistem Sosial: Tuntutan untuk Melangkah Lebih Jauh dari Ilmu Ekonomi Sederhana
Pada dasarnya, ilmu ekonomi dan sistem ekonomi perlu dianalisis dan diletakkan dalam konteks sistem sosial (social system) secara keseluruhan dari suatu negara dan, tentu saja, dalam konteks global atau internasional.
Seandainya kita mau menyimak pengalaman pada tahun-tahun yang lampau secara cermat, jelaslah bahwa, sebagai akibat dari terlalu besarnya bobot dan nilai yang merasa berikan kepada pertumbuhan dan tahapan-tahapannya serta dengan ketersediaan modal dan keahlian, para teoretisi ilmu ekonomi pembangunan kurang memperhatikan masalah-masalah kelembagaan dan struktural sehingga mereka pun gagal memahami besarnya pengaruh kekuatan-kekuatan historis, budaya, dan keagamaan dalam proses pembangunan.5
Selain berulang kali membuat kesalahan dengan mencoba membanding-bandingkan teori mereka dengan kebenaran universal, beberapa ilmuwan sosial juga seringkali.


(hlm. 18)
Terjebak dalam kekeliruan fatal dengan mengabaikan pengaruh-pengaruh dan arti penting yang terkandung di dalam berbagai variabel nonekonomi, semata-mata karena variabel-variabel tersebut “tidak dapat dikuantifikasikan” (dan karenanya, hal-hal itu sering dinyatakan begitu saja oleh para ekonom sebagai sesuatu yang tidak begitu penting).

Apa yang Sebenarnya Dimaksud dengan “Pembangunan”
Ukuran-ukuran Ekonomi Tradisional
Indeks ekonomi lainnya yang juga sering digunakan untuk mengukur tingkat kemajuan pembangunan adalah tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita (income per capita) atau GNP per kapita.


(hlm. 19)
Mengukur kemampuan dari suatu negara untuk memperbesar outputnya dalam laju yang lebih cepat daripada tingkat pertumbuhan penduduknya. Tingkatan dan laju pertumbuhan GNP per kapita “riil” (yakni, pertumbuhan GNP per kapita dalam satuan moneter dikurangi dengan tingkat inflasi) sering digunakan untuk mengukur sejauh mana kemakmuran ekonomis dari suatu bangsa secara keseluruhan, yaitu seberapa banyak barang dan jasa-jasa riil yang tersedia bagi rata-rata penduduk untuk melakukan kegiatan konsumsi dan investasi.
Biasanya dalam proses tersebut peranan sektor pertanian akan menurun untuk memberi kesempatan bagi tampilnya sektor-sektor manufaktur dan jasa-jasa yang senantiasa diupayakan agar terus berkembang.
Contoh indikator sosial itu antara lain adalah tingkat melek huruf, tingkat pendidikan, kondisi dan kualitas pelayanan, kesehatan, kecukupan kebutuhan akan perumahan, dan sebagainya. Dari sekian banyak upaya untuk menciptakan indikator-indikator sosial yang berbobot guna mendampingi indikator GNP per kapita, yang paling menonjol adalah upaya PBB yang kemudian berhasil menciptakan Indeks Pembangunan Manusia (HDI—Human Development Index). Contoh dan uraian mengenai indeks tersebut disajikan pada Bab 2.


(hlm. 21)
Pandangan Ekonomi Baru tentang Pembangunan
Singkatnya, selama dekade 1970-an, pembangunan ekonomi mengalami redefinisi.
Pertanyaan-pertanyaan mengenai pembangunan suatu negara yang harus diajukan adalah: Apa yang telah terjadi dengan kemiskinan penduduk di negara itu? Bagaimana dengan tingkat penganggurannya? Adakah perubahan-perubahan yang berarti atas penanggulangan masalah ketimpangan pendapatan?


(hlm. 22)
Tantangan utama pembangunan… adalah memperbaiki kualitas kehidupan.


(hlm. 22)
Pendekatan “Kapabilitas” dari Sen
“Pertumbuhan ekonomi dengan sendirinya tidak dapat dianggap sebagai tujuan akhir. Pembangunan haruslah lebih memperhatikan peningkatan kualitas kehidupan yang kita jalani dan kebebasan yang kita nikmati.”


(hlm. 25)
Pendapatan riil memang sangat penting, tetapi untuk mengonversikan karakteristik komoditi menjadi fungsi yang sesuai, dalam banyak hal yang penting, jelas membutuhkan kesehatan dan pendidikan selain pendapatan.


(hlm. 26)
Tiga Nilai Inti Pembangunan
Ketiga nilai inti tersebut adalah kecukupan (sustenance), harga diri (self-esteem), serta kebebasan (freedom), yang merupakan tujuan pokok yang harus digapai oleh setiap orang dan masyarakat melalui pembangunan.


(hlm. 26)
Kecukupan: Kemampuan untuk Memenuhi Kebutuhan-kebutuhan Dasar
Dengan demikian, kenaikan pendapatan per kapita, pengentasan kemiskinan absolut, perluasan lapangan kerja, dan pemerataan pendapatan, merupakan hal-hal yang harus ada (necessary condition) bagi pembangunan, tetapi hal-hal itu saja belum cukup (not sufficient conditions).


(hlm. 27)
Harga Diri: Menjadi Manusia Seutuhnya
Komponen universal kedua dari kehidupan yang serba lebih baik adalah adanya dorongan dari diri sendiri untuk maju, untuk menghargai diri sendiri, untuk merasa diri pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu, dan seterusnya.


(hlm. 27)
Kebebasan dari Sikap Menghamba: Kemampuan untuk Memilih
Dengan adanya kebebasan, kita tidak semata-mata dipilih, melainkan kitalah yang akan memilih. W. Arthur Lewis bermaksud menekankan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kebebasan dari sikap menghamba tatkala ia mengatakan bahwa “buah terbesar yang dihasilkan dari pertumbuhan ekonomi bukanlah kekayaan menambah kebahagiaan, melainkan menambah pilihan”.


(hlm. 28)
Tiga Tujuan Inti Pembangunan

  1. Peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai macam barang kebutuhan hidup yang pokok.
  2. Peningkatan standar hidup.
  3. Perluasan pilihan-pilihan ekonomi dan sosial.


(hlm. 30)
Rangkuman dan Kesimpulan
Agaknya ungkapan yang lebih tepat untuk abad kedua puluh satu ini adalah, “Dunia kita bagaikan tubuh manusia; jika salah satu bagian sakit, maka yang lain akan turut merasakannya; jika banyak bagian yang sakit, maka sekujur tubuh akan menderita.”


(hlm. 31)
Studi Kasus: Perekonomian Brasil
Selama periode yang sama, masalah merebaknya kemiskinan, meningkatnya pengangguran, serta meningkatnya kesenjangan pendapatan tetap tidak berubah.
Sayangnya, tanah di Brasil kebanyakan kurang subur. Hanya 17 persen dari luas wilayahnya yang bisa dijadikan lahan bercocok tanam, dan itu pun kadar kesuburan tanahnya mengikis dengan cepat.
Lebih dari 75 persen penduduknya hidup di daerah-daerah perkotaan yang pemekarannya sangat cepat. Proses urbanisasi yang sangat deras, dalam beberapa hal, memang membantu usaha pembangunan ekonomi.
Tingkat kesenjangan pendapatan di Brasil merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.


(hlm. 33)
Para industrialis, misalnya, terus-menerus menumpuk kekayaannya berkat tingkat upah buruh yang sangat murah.
Berkat keberhasilannya dalam pengembangan energi baru itu, impor minyak Brasil telah berkurang hingga 50 persen.


(hlm. 34)
Antara tahun 1995 dan tahun 1997, hampir sebanyak 600 bidang tanah subur (namun tidak ditanami) telah dirampas oleh MST dan 200.000 keluarga menempatinya. Dalam banyak kasus, pendudukan tanah-tanah ini oleh para keluarga akhirnya diberi hak resmi oleh pemerintah.


(hlm. 35)
Dalam rangka menarik investasi asing, Brasil telah menurunkan bea masuk impor sehingga jumlah jenis barang yang masuk dalam daftar hitam impor berkurang dari 4.000 menjadi 600 saja (barang yang juga diproduksi di dalam negeri).
Di samping itu, pada bulan Juli 1994 pemerintah juga menjalankan program pengetatan yang disebut Real Plan (diambil dari nama mata uang baru yang menyertainya, real), demi mengatasi lonjakan inflasi dan peningkatan defisit anggaran, dengan cara mempertinggi pajak pendapatan dan memotong anggaran dana pengeluaran pemerintah.


(hlm. 36)
Konsep-konsep Bahan Kajian
Sustenance (kecukupan)


(hlm. 37)
Catatan Belakang
2. Sebanyak 157 negara anggota PBB dari Afrika, Asia, dan Amerika Latin seringkali bersama-sama menyebut diri mereka sendiri sebagai Dunia Ketiga. Mereka melakukan hal ini terutama untuk membedakan dirinya dari negara-negara kapitalis yang perekonomiannya sudah sangat maju (Dunia Pertama) dan negara-negara yang menganut sistem ekonomi terpusat atau sosialis di Eropa Timur dan Uni Soviet (Dunia Kedua) yang kini sebagian di antaranya juga digolongkan sebagai negara-negara Dunia Ketiga.
4. Kritik yang lebih umum terhadap gagasan yang menyatakan bahwasanya ilmu ekonomi itu “bebas nilai” (tidak terikat atau berkaitan dengan nilai-nilai personal yang mana pun) dapat Anda temukan pada artikel Robert Heilbroner, “Economics as a ‘value-free’ science, Social Research 40 (Musim Semi 1973): hal. 129-143, serta di dalam bukunya yang berjudul Behind the Veil of Economics (New York: Norton 1988).

(hlm. 40)
Keragaman Struktur dan Kemiripan Karakteristik Negara-negara Berkembang
Dampak dari kesejahteraan manusia yang terlibat dalam pertanyaan seperti itu tidak dapat dibayangkan secara sederhana.
Sementara itu, negara-negara kecil menghadapi masalah yang sebaliknya, yakni keterbatasan daerah pemasaran, kekurangan tenaga ahli, kelangkaan sumber daya fisik, lemahnya kekuatan tawar-menawar, serta kecilnya kemungkinan untuk bisa mandiri secara ekonomis. Namun, di lain pihak, mereka memiliki insentif yang kuat untuk mengekspor produk-produk manufakturnya.


(hlm. 41)
Mendeskripsikan Negara-negara Berkembang
Negara berpendapatan rendah pada tahun 2000 didefinisikan sebagai negara dengan pendapatan nasional bruto per kapita sebesar $755 atau di bawahnya; negara berpendapatan menengah-bawah memiliki tingkat pendapatan antara $756 sampai dengan $2.995; negara berpendapatan menengah-atas memiliki tingkat pendapatan antara $2.996 sampai dengan $9.265; dan negara berpendapatan tinggi memiliki tingkat pendapatan $9.266 atau lebih.
Sebagai contoh, negara berpendapatan tinggi yang memiliki satu atau dua sektor ekspor yang berkembang dengan pesat, tetapi sebagian besar dari populasinya secara relatif masih tidak mendapatkan pendidikan atau memiliki tingkat kesehatan yang rendah, hal itu dapat dilihat sebagai negara berkembang. Termasuk di dalamnya negara-negara pengekspor minyak seperti Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.


(hlm. 44)
Selain itu, salah satu cara lain untuk mengklasifikasikan negara berkembang adalah melalui tingkat utang internasional mereka; Bank Dunia menggolongkan negara-negara sebagai sangat berutang, berutang menengah, dan berutang sedikit.


(hlm. 50)
Komposisi Etnik dan Agama
Tidaklah mengherankan, kalau hampir semua negara atau unit politik yang begitu cepat meraih keberhasilan dalam usaha-usaha pembangunan adalah negara yang masyarakatnya relatif homogen seperti Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Hong Kong.


(hlm. 55)
Karakteristik Umum Negara-negara Berkembang

  1. Standar hidup yang relatif rendah, ditunjukkan oleh tingkat pendapatan yang rendah, ketimpangan pendapatan yang parah, kondisi kesehatan yang buruk, dan kurang memadainya sistem pendidikan.
  2. Tingkat produktivitas yang rendah.
  3. Tingkat pertumbuhan penduduk serta beban ketergantungan yang tinggi.
  4. Ketergantungan pendapatan yang sangat besar kepada produksi sektor pertanian serta ekspor produk-produk primer (bahan-bahan mentah).
  5. Pasar yang tidak sempurna, dan terbatasnya informasi yang tersedia pun.
  6. Dominasi, ketergantungan, dan kerapuhan yang parah pada hampir semua aspek hubungan internasional.


(hlm. 68)
Pengukuran Holistik atas Tingkat Kehidupan: Indeks Pembangunan Manusia
HDI mencoba untuk memeringkat semua negara dari skala 0 (tingkat pembangunan manusia yang paling rendah) hingga 1 (tingkat pembangunan manusia yang tertinggi) berdasarkan tiga tujuan atau produk akhir pembangunan: masa hidup (longevity), yang diukur dengan usia harapan hidup, pengetahuan (knowledge) yang diukur dengan kemampuan baca tulis orang dewasa secara tertimbang (dua pertiga) dan rata-rata tahun bersekolah (sepertiga), serta standar kehidupan (standard of living) yang diukur dengan pendapatan riil per kapita, disesuaikan dengan paritas daya beli (purchasing power parity atau PPP) dari mata uang setiap negara untuk mencerminkan biaya hidup dan untuk memenuhi asumsi utilitas marjinal yang semakin menurun dari pendapatan.
Yang berarti bahwa pendapatan disesuaikan demi memenuhi asumsi utilitas marjinal yang semakin menurun.


(hlm. 71)
Perbedaannya mencerminkan seberapa jauh negara yang bersangkutan telah melampaui “pos tujuan yang terendah” ini. Untuk mendapatkan perspektif dari kemajuan ini, pikirkan dalam hubungannya dengan jumlah maksimum pendapatan yang dapat dicapai sebuah negara untuk generasi berikut. UNDP mematok angka PPP $40.000. Sehingga kemudian kita membagi perbedaannya antara log $40.000 dengan log $100 untuk mengetahui kemajuan pendapatan relatif yang berhasil dicapai oleh sebuah negara.
Misalnya, dalam kasus Armenia, yang mempunyai pendapatan per kapita PPP tahun 1999 sebesar $2.215, indeks pendapatannya adalah:

Indeks pendapatan =
log⁡(2.215)−log⁡(100)log⁡(40.000)−log⁡(100)=0,157\frac{\log(2.215) – \log(100)}{\log(40.000) – \log(100)} = 0,157log(40.000)−log(100)log(2.215)−log(100)​=0,157

Untuk mencari angka indeks usia harapan hidup (dengan pendekatan kesehatan), UNDP memulainya dengan usia harapan hidup di negara tersebut, kemudian menguranginya dengan 25 tahun. Angka 25 tahun tersebut adalah pos tujuan paling rendah, yaitu usia harapan hidup terendah yang mungkin terdapat di semua negara selama generasi terakhir. Kemudian, UNDP membagi hasilnya dengan 85 tahun dikurangi 25 tahun, atau 60 tahun, yang mencerminkan kisaran usia harapan hidup yang diharapkan selama generasi sebelum dan generasi berikutnya. Hal ini berarti bahwa 85 tahun adalah perkiraan usia harapan hidup yang masuk akal, yang dapat dicoba untuk dicapai oleh sebuah negara selama generasi mendatang.
Indeks kemampuan baca tulis orang dewasa = 98,3−0100−0=0,983\frac{98,3 – 0}{100 – 0} = 0,983100−098,3−0​=0,983
Untuk indeks masa sekolah bruto, Armenia memperkirakan bahwa 79,9% dari penduduknya yang berusia sekolah dasar, sekolah menengah, dan sekolah tingkat lanjut terdaftar untuk belajar di sekolah, sehingga negara tersebut menerima nilai indeks sebesar:
Indeks masa bersekolah bruto = 79,9−0100−0=0,799\frac{79,9 – 0}{100 – 0} = 0,799100−079,9−0​=0,799


(hlm. 75)
Produktivitas yang Rendah
Sebuah peribahasa kuno mengatakan: “Anda memang bisa menuntun seekor kuda ke tengah sungai, tetapi Anda tidak dapat memaksanya meminum air”. Di negara-negara terbelakang, peribahasa tersebut sama artinya dengan “Anda memang bisa menciptakan berbagai macam kesempatan ekonomi untuk meningkatkan diri, namun tanpa pengaturan-pengaturan struktural dan kelembagaan yang memadai, semua kesempatan ekonomi tersebut tidak akan membuahkan sesuatu yang berarti.”
Keberhasilan ekonomi yang begitu luar biasa dan mengesankan yang diraih oleh “Empat Macan Asia”—Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, dan Singapura—oleh banyak pengamat dikaitkan dengan tingginya kualitas sumber daya manusia, kerapian organisasi atas sistem-sistem produksi, serta kecermatan pengaturan kelembagaan di negara-negara industri baru tersebut yang pada berbagai aspeknya memang sengaja diatur dalam rangka memacu pertumbuhan produktivitas para pekerjanya.
Produktivitas yang rendah di banyak negara berkembang ternyata memang berhubungan langsung dengan kelesuan fisik dan ketidaksanggupan para pekerja, baik secara fisik maupun emosional, untuk menahan tekanan-tekanan persaingan dalam lingkungan kerja mereka sehari-hari. Produktivitas yang rendah menyebabkan pendapatan yang rendah, dan selanjutnya akan menyebabkan ketidakmampuan dalam penyediaan makanan bergizi. Kekurangan gizi tersebut dapat mengakibatkan rendahnya kapasitas untuk bekerja, sehingga produktivitas menjadi semakin rendah.


(hlm. 76)
Salah satu teori mengenai pembangunan ekonomi negara-negara Dunia Ketiga yang dikemukakan oleh Gunnar Myrdal, yakni teori “sebab-akibat siklis dan kumulatif” (circular and cumulative causation), ternyata juga muncul dari observasi Myrdal terhadap interaksi antara standar hidup dan tingkat produktivitas yang rendah di negara-negara berkembang sebagaimana diuraikan di atas.


(hlm. 77)
Tingkat Pertumbuhan Penduduk dan Beban Ketergantungan yang Tinggi
Salah satu implikasi menonjol atas tingginya angka kelahiran di negara-negara berkembang adalah hampir 40 persen penduduknya terdiri dari anak-anak yang berumur kurang dari 15 tahun, sedangkan di negara-negara maju tidak sampai 20 persen.


(hlm. 78)
Pertanian Skala Kecil
Sementara itu, di kawasan Amerika Utara, di bawah 1 persen dari total angkatan kerjanya yang bekerja sebagai petani (jumlahnya hanya sekitar 4,5 juta jiwa) mampu memproduksi sepertiga dari total output rekan-rekannya di negara-negara Dunia Ketiga, yakni senilai US$60 juta. Ini berarti produktivitas rata-rata tenaga kerja pertanian (dalam satuan US$) di kawasan Amerika Utara hampir 35 kali lipat lebih tinggi daripada di Asia dan Afrika.


(hlm. 79)
Keterbelakangan Teknologi
Keterbelakangan teknologi itu sendiri disebabkan pertanian negara-negara Dunia Ketiga didominasi oleh petani-petani kecil nonkomersial. Selain itu, banyak petani di negara-negara Dunia Ketiga, khususnya di kawasan Asia dan Amerika Latin, yang tidak memiliki tanah sendiri. Mereka hanya menyewa sebidang tanah garapan yang sempit dari para tuan tanah.

(hlm. 79)
Sebagaimana akan kita lihat pada Bab 10, sistem tata guna tanah seperti itu cenderung mengurangi insentif atau dorongan ekonomis bagi para penggarap atau petani untuk meningkatkan output dan produktivitasnya.


(hlm. 80)
Pasar yang Tidak Sempurna dan Informasi yang Tidak Memadai
Namun, sebagaimana akan kita bahas dalam bab-bab selanjutnya, konsensus atau anggapan semacam itu ternyata keliru, karena efektivitas pasar memerlukan adanya dukungan institusional, kultural, dan legal tertentu, yang kebanyakan tidak atau belum dimiliki oleh negara-negara berkembang.


(hlm. 81)
Dominasi, Ketergantungan, dan Kerapuhan dalam Hubungan Internasional
Bagi negara-negara berkembang pada umumnya, salah satu faktor utama yang mengakibatkan rendahnya standar hidup masyarakat mereka, meningkatnya pengangguran serta kian mencoloknya ketimpangan distribusi pendapatan internasional adalah distribusi kekuatan politik dan ekonomi yang sangat tidak merata antara negara-negara kaya dan miskin.


(hlm. 85)
Studi Kasus: Perekonomian Nigeria
Etnik dominan yang menempati kawasan Utara (meliputi sekitar dua pertiga wilayah Nigeria) adalah suku Hausa-Fulani. Kebanyakan anggota suku ini beragama Islam.
Antara tahun 1968 hingga tahun 1980, pendapatan per kapita Nigeria tumbuh lebih dari 1.000 persen sehingga langsung mencapai US$1.020. Namun, proses pertumbuhan ini berbalik arah selama dekade 1980-an sehingga pada tahun 1994 pendapatan per kapita Nigeria telah merosot lebih dari 70 persen sehingga hanya mencapai US$240. Ini sama dengan tingkat yang pernah dicapai Nigeria pada tahun 1972.


(hlm. 91)
Sejarah Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Kontemporer: Beberapa Pelajaran dan Kontroversi
Permainan Pertumbuhan Ekonomi
Sehubungan dengan hal itu, sejak dari bab ini kita akan mempelajari sejumlah konsep dasar yang berkaitan erat dengan teori-teori pertumbuhan ekonomi, dengan menggunakan kerangka pemikiran kemungkinan produksi (production possibility framework) sebagai dasar guna memahami tingkatan komposisi, dan pertumbuhan output nasional.


(hlm. 92)
Pertumbuhan Ekonomi: Modal, Tenaga Kerja, dan Teknologi
Akumulasi Modal
Akumulasi modal (capital accumulation) terjadi apabila sebagian dari pendapatan ditabung dan diinvestasikan kembali dengan tujuan memperbesar output dan pendapatan di kemudian hari.


(hlm. 96)
Kemajuan Teknologi
Dalam pengertiannya yang paling sederhana, kemajuan teknologi terjadi karena ditemukannya cara baru atau perbaikan atas cara-cara lama dalam menangani pekerjaan-pekerjaan tradisional seperti kegiatan menanam jagung, membuat pakaian, atau membangun rumah.
Penggunaan komputer, mesin tekstil otomatis, bor listrik berkecepatan tinggi, traktor dan mesin pembajak tanah, dan banyak lagi jenis mesin serta peralatan modern lainnya, dapat diklasifikasikan sebagai kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (labor-saving technological progress).
Sedangkan kemajuan teknologi hemat modal (capital-saving technological progress) merupakan fenomena yang relatif langka. Hal ini dikarenakan hampir semua penelitian dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan di negara-negara maju dengan tujuan utama menghemat pekerja, dan bukan untuk menghemat modal. Di negara-negara Dunia Ketiga yang berlimpah tenaga kerja tetapi langka modal, kemajuan teknologi hemat modal merupakan sesuatu yang paling diperlukan.


(hlm. 97)
Bila Anda ingin mendapatkan contoh kasus peningkatan teknologi produksi radio, maka kita bisa menyimak contoh kasus berupa penemuan transistor yang membuahkan dampak positif terhadap komunikasi sehebat dampak yang dihasilkan oleh penemuan mesin uap terhadap transportasi.


(hlm. 99)
Tinjauan Sejarah: Enam Karakteristik Pertumbuhan Ekonomi Modern Menurut Kuznets
Profesor Simon Kuznets, salah satu ekonom besar yang pernah memenangkan Hadiah Nobel di bidang ekonomi pada tahun 1971 atas usahanya mempelopori pengukuran dan analisis atas sejarah pertumbuhan pendapatan nasional negara-negara maju, telah memberikan suatu definisi yang cukup rinci mengenai pertumbuhan ekonomi (economic growth) suatu negara. Menurut Kuznets, “pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau dimungkinkan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian-penyesuaian teknologi, institusional (kelembagaan), dan ideologis terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada.” Masing-masing dari ketiga komponen pokok dari definisi itu sangat penting untuk diketahui terlebih dahulu. Simaklah ringkasannya sebagai berikut:

  1. Kenaikan output secara berkesinambungan adalah manifestasi atau perwujudan dari apa yang disebut sebagai pertumbuhan ekonomi, sedangkan kemampuan menyediakan berbagai jenis barang merupakan tanda kematangan ekonomi (economic maturity) dari suatu negara.
  2. Perkembangan teknologi merupakan dasar atau prakondisi bagi berlangsungnya suatu pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan; ini adalah suatu kondisi yang sangat diperlukan, tetapi tidak cukup itu saja (jadi, di samping perkembangan atau kemajuan teknologi, masih dibutuhkan faktor-faktor lain).
  3. Guna mewujudkan potensi pertumbuhan yang terkandung di dalam teknologi baru, maka perlu diadakan serangkaian penyesuaian kelembagaan, sikap, dan ideologi. Inovasi di bidang teknologi tanpa dibarengi dengan inovasi sosial sama halnya dengan lampu pijar tanpa listrik (potensi ada, tetapi tanpa input komplementernya maka hal itu tidak bisa membuahkan hasil apa pun).


(hlm. 100)
Dua faktor yang pertama (nomor satu dan dua) lazim disebut sebagai variabel-variabel ekonomi agregat (aggregate economic variables). Sedangkan nomor tiga dan empat biasa disebut variabel-variabel transformasi-struktural. Adapun dua faktor terakhir disebut sebagai variabel-variabel yang mempengaruhi penyebaran pertumbuhan ekonomi secara internasional.


(hlm. 102)
Tingkat Kenaikan Produktivitas Faktor Produksi Total yang Tinggi
Studi-studi lainnya menunjukkan bahwa selama masa era modern, faktor produksi yang utama (yakni, tenaga kerja) mengalami peningkatan produktivitas hingga sekian kali lipat daripada periode sebelumnya.


(hlm. 105)
Kesimpulan: Interdependensi antara Berbagai Karakteristik Pertumbuhan
Lebih dari 90 persen dari semua penelitian ilmiah yang berlangsung di dunia ini ternyata diselenggarakan oleh/dan di negara-negara kaya, serta hanya diusahakan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh negara-negara kaya itu sendiri.


(hlm. 106)
Keterbatasan Nilai Sejarah Pengalaman Pertumbuhan: Perbedaan Kondisi Awal
Kedelapan butir perbedaan yang utama dan yang perlu dianalisis lebih lanjut itu adalah sebagai berikut:

  1. Perbedaan kekayaan sumber daya alam dan kualitas modal manusia
  2. Perbedaan pendapatan per kapita dan tingkat GNP dibandingkan dengan negara lainnya di dunia
  3. Perbedaan iklim
  4. Perbedaan jumlah penduduk, distribusi, serta laju pertumbuhannya
  5. Peranan sejarah migrasi internasional
  6. Perbedaan dalam memperoleh keuntungan dari perdagangan internasional
  7. Kemampuan melakukan penelitian dan pengembangan dalam bidang ilmiah dan teknologi dasar
  8. Stabilitas dan fleksibilitas lembaga-lembaga politik dan sosial.


(hlm. 107)
Kekayaan Sumber Daya Alam dan Manusia
Dahulu, ketika mereka mulai menggalang kekuatan ekonomi, kekayaan alam mereka masih utuh; sedangkan kekayaan negara-negara berkembang sudah dirampok atau bahkan habis diperas oleh kolonialisme.


(hlm. 108)
Perbedaan Iklim
Hampir seluruh negara-negara Dunia Ketiga terletak di daerah yang beriklim tropis atau subtropis. Sejarah membuktikan bahwa hampir semua negara yang berhasil mengembangkan ekonominya secara modern terletak di daerah yang beriklim dingin.
Iklim yang terlalu panas tersebut mengakibatkan penurunan kualitas tanah dan mempercepat penyusutan bahan-bahan alam. Yang tidak kalah pentingnya, suhu yang panas dan lembap tidak hanya menyebabkan perasaan yang kurang nyaman bagi para pekerja, tetapi juga menggerogoti atau menekan kesehatan, mengurangi keinginan bekerja keras sehingga pada akhirnya menurunkan tingkat produktivitas dan efisiensi.

(hlm. 109)
Peranan Sejarah Migrasi Internasional
Negara-negara seperti Italia, Jerman, dan Irlandia, dahulu begitu sering dilanda kelaparan atau wabah penyakit yang hebat; ditambah lagi dengan kurangnya lahan serta terbatasnya kesempatan berusaha di sektor industri perkotaan, telah memaksa pekerja-pekerja tidak terampil dari pedesaan untuk pindah ke negara-negara lain yang kekurangan tenaga kerja kasar, seperti Amerika Utara dan Australia. Di dalam tulisannya yang secara khusus membahas tentang migrasi dan pertumbuhan ekonomi pada abad kesembilan belas, Brinley Thomas berpendapat bahwa terdapat “tiga kurun waktu di mana kontribusi tenaga kerja dari Eropa sangat besar terhadap perekonomian Amerika Serikat—1.187.000 orang dari Irlandia dan 919.000 orang dari Jerman antara tahun 1847-1855; 418.000 orang dari negara-negara Skandinavia dan 1.045.000 orang dari Jerman antara tahun 1880-1885; serta 1.754.000 orang dari Italia antara tahun 1898-1907.”


(hlm. 110)
Pada tahun-tahun awal abad kedua puluh satu, aliran uang internasional ini mencapai $100 miliar per tahun. Masalahnya tidak hanya terletak pada kurangnya pengetahuan para pekerja negara-negara berkembang tentang kesempatan bekerja di tempat lain, khususnya di negara-negara maju, melainkan juga pada jarak geografis yang jauh (membutuhkan biaya besar), dan yang lebih penting lagi adalah adanya sikap rasialis dan peraturan-peraturan imigrasi yang sangat ketat di negara-negara maju.


(hlm. 111)
Hal yang paling memprihatinkan di sini adalah, kemungkinan tenaga-tenaga tidak terdidik untuk melakukan migrasi internasional seperti yang terjadi pada abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh nampaknya takkan terulang lagi sehingga hal itu tidak bisa lagi diharapkan dapat menanggulangi kelebihan penduduk di Afrika, Asia, dan Amerika Latin.


(hlm. 113)
Kemampuan Melakukan Penelitian serta Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dasar
Negara-negara kaya sangat tertarik untuk mengembangkan produk-produk yang serba canggih, pasar yang seluas-luasnya, metode produksi dengan teknologi tinggi yang menggunakan banyak input modal serta tingkat manajemen dan pengetahuan yang tinggi, dalam usahanya untuk menghemat tenaga kerja dan bahan-bahan baku yang langka.


(hlm. 114)
Stabilitas serta Fleksibilitas Lembaga-lembaga Politik dan Sosial
Salah satu perbedaan yang paling mencolok antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang tersebut adalah bahwa sebelum revolusi industri, negara-negara maju merupakan negara yang benar-benar merdeka, sehingga mereka sepenuhnya mampu menyusun kebijakan nasional mereka sendiri berdasarkan konsensus umum menuju ke arah “modernisasi.” Persis seperti yang dikatakan oleh Profesor Gunnar Myrdal, negara-negara yang sekarang ini maju sejak awalnya telah:


(hlm. 115)
Ilmu pengetahuan modern lama dikembangkan serta diterapkan di negara-negara tersebut (jauh sebelum Revolusi Industri) dan teknologi modern sudah mulai digunakan pada sektor industri dan pertanian mereka sejak dini, yakni ketika semua badan usaha masih berskala kecil.


(hlm. 116)
Apakah Standar Kehidupan di Negara Berkembang dan Negara Maju dapat Disetarakan?
Dewasa ini, negara berkembang tidak perlu harus “mengulang proses penemuan”; misalnya, mereka tidak perlu menggunakan tabung hampa sebelum mereka dapat menggunakan transistor miniatur modern.
Bahkan, jika kita memusatkan perhatian kita pada kasus-kasus pembangunan yang berhasil, kenyataan menunjukkan bahwa semakin terlambat suatu negara memulai pertumbuhan ekonomi modernnya, maka waktu untuk menggandakan output per pekerja juga akan semakin singkat. Misalnya, sementara Inggris menggandakan output per orang dalam 60 tahun pertama sejak revolusi industrinya, dan Amerika melakukan hal yang sama dalam waktu 45 tahun, Korea Selatan berhasil melakukan hal serupa hanya dalam 11 tahun dari 1966 hingga 1977.


(hlm. 119)
Studi Kasus: Perekonomian Malaysia
Tatkala memperoleh kemerdekaannya dari Inggris pada tahun 1957, Malaysia mewarisi perekonomian yang didominasi oleh dua komoditas primer, yakni karet dan timah. Sektor ini tumbuh pesat sehingga sumbangannya bagi GDP yang baru mencapai 13,4 persen pada tahun 1970, dalam tahun 2000 diperkirakan telah meningkat menjadi sekitar 40 persen.


(hlm. 125)
Kepustakaan Penunjang
Terakhir, simaklah tulisan Stephen C. Smith tentang provinsi Guangdong, sebuah kawasan yang mengalami pertumbuhan paling cepat sepanjang sejarah ekonomi. Tulisan tersebut termuat sebagai Studi Kasus dalam Bab 4, yang juga tersaji secara online di www.aw.com/todaro.


(hlm. 126)
Teori-teori Klasik Pembangunan: Sebuah Analisis Komparatif
Dengan demikian, pembangunan harus dipahami sebagai suatu proses yang multidimensional, yang melibatkan segenap pengorganisasian dan peninjauan kembali atas sistem-sistem ekonomi dan sosial secara keseluruhan.


(hlm. 127)
Hal ini akan kita lakukan dengan cara mempelajari secara mendalam empat teori utama yang menyoroti masalah pembangunan, yang acapkali saling bersaing satu sama lain.


(hlm. 128)
Teori Tahapan Linier Pertumbuhan
Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah semua negara yang kini merupakan negara industri maju pernah merupakan masyarakat agraris kecil yang terbelakang?
Akibat penekanan terhadap peran akselerasi akumulasi modal, pendekatan ini seringkali disebut sebagai “fundamentalisme modal” (capital fundamentalism).


(hlm. 129)
Tahap-tahap Pertumbuhan Rostow
Bertolak dari lingkungan intelektual yang masih steril pada waktu itu, dan dipacu oleh politik Perang Dingin yang berkobar pada dekade 1950-an dan 1960-an yang memicu suatu persaingan sengit di kalangan negara-negara besar untuk mencari pengikut setia dari kalangan negara-negara yang baru saja merdeka, maka muncullah model pembangunan tahapan pertumbuhan (stages-of-growth model of development). Adapun tokoh pencetus model ini adalah Walt W. Rostow, seorang ahli sejarah ekonomi dari Amerika Serikat. Menurut ajaran Rostow, perubahan dari keterbelakangan menuju kemajuan ekonomi dapat dijelaskan dalam suatu seri tahapan yang harus dilalui oleh semua negara.
Buku ini menampilkan cara seorang sejarawan ekonomi melakukan generalisasi perjalanan sejarah modern. Kita bisa mengidentifikasi semua masyarakat, atas dasar dimensi-dimensi ekonomi mereka, berada dalam salah satu dari lima buah tahapan ekonomi yang ada, yakni: tahapan masyarakat tradisional, penyusunan kerangka dasar tahapan tinggal landas menuju pertumbuhan berkesinambungan, tahapan tinggal landas, tahapan menuju kematangan ekonomi, dan tahapan konsumsi massal yang tinggi.


(hlm. 130)
Menurut teori ini, negara-negara maju seluruhnya telah melampaui tahapan “tinggal landas menuju pertumbuhan ekonomi berkesinambungan yang berlangsung secara otomatis” (kemajuan ekonomi mereka sudah sedemikian mapan, sehingga roda ekonomi, tanpa diatur secara khusus, sudah dapat berputar dengan sendirinya untuk menggerakkan perekonomian dan membawa seluruh penduduk ke taraf hidup yang serba lebih baik).


(hlm. 131)
Salah satu dari sekian banyak taktik pokok pembangunan untuk tinggal landas adalah pengerahan atau mobilisasi dana tabungan (dalam mata uang domestik maupun valuta asing) guna menciptakan investasi dalam jumlah yang memadai untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Mekanisme perekonomian yang mengandalkan peningkatan investasi demi mempercepat pertumbuhan ekonomi dapat dijelaskan melalui model pertumbuhan Harrod-Domar (Harrod-Domar growth model), atau yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama model AK.


(hlm. 132)
Model Pertumbuhan Harrod-Domar
Setiap perekonomian pada dasarnya harus senantiasa mencadangkan atau menabung sebagian tertentu dari pendapatan nasionalnya untuk menambah atau menggantikan barang-barang modal (gedung, alat-alat, dan bahan baku) yang telah susut atau rusak. Namun, untuk memacu pertumbuhan ekonomi, dibutuhkan investasi baru yang merupakan tambahan neto terhadap cadangan atau stok modal (capital stock).


(hlm. 133)
Syarat Perlu versus Syarat Cukup: Beberapa Kritik terhadap Model Tahapan Pertumbuhan
Meskipun nampak menarik, namun gagasan-gagasan dasar tentang pembangunan yang terkandung dalam teori tahapan pertumbuhan tersebut di atas tidak selalu berlaku. Alasan utama tidak berlakunya teori tersebut bukan karena tabungan dan investasi yang lebih banyak tidak lagi merupakan syarat perlu (necessary condition) bagi pemacuan pertumbuhan ekonomi, tetapi karena dalam kenyataan telah terbukti bahwa pengadaan tabungan dan investasi yang lebih banyak saja belumlah merupakan syarat cukup (sufficient condition) untuk memacu pertumbuhan ekonomi.


(hlm. 137)
Model Perubahan Struktural
Teori perubahan struktural (structural-change theory) memusatkan perhatiannya pada mekanisme yang memungkinkan negara-negara yang masih terbelakang untuk mentransformasikan struktur perekonomian dalam negeri mereka dari pola perekonomian pertanian subsisten tradisional ke perekonomian yang lebih modern, lebih berorientasi ke kehidupan perkotaan, serta memiliki sektor industri manufaktur yang lebih bervariasi dan sektor jasa-jasa yang tangguh.

(hlm. 137)
Rangkaian proses pertumbuhan berkesinambungan (self-sustaining growth) dan perluasan kesempatan kerja di sektor modern
Proses tersebut diasumsikan akan terus berlangsung sampai semua surplus tenaga kerja pedesaan diserap habis oleh sektor industri. Selanjutnya, tenaga kerja tambahan yang berikutnya hanya dapat ditarik dari sektor pertanian dengan biaya yang lebih tinggi karena hal tersebut pasti akan mengakibatkan merosotnya produksi pangan. Transformasi struktural perekonomian dengan sendirinya akan menjadi suatu kenyataan, dan perekonomian itu pun pada akhirnya pasti beralih dari perekonomian pertanian tradisional yang berpusat di daerah pedesaan menjadi sebuah perekonomian industri modern yang berorientasi kepada pola kehidupan perkotaan.


(hlm. 138)
Kritik Terhadap Model Lewis
Meskipun model dua-sektor Lewis ini sederhana dan secara umum sudah dapat menggambarkan pengalaman sejarah pertumbuhan ekonomi di negara-negara Barat, namun empat dari asumsi-asumsi utamanya ternyata sama sekali tidak cocok dengan kenyataan institusional dan ekonomis di sebagian besar negara-negara Dunia Ketiga sekarang ini.
Pertama, model ini secara implisit mengasumsikan bahwa tingkat pengalihan tenaga kerja dan penciptaan kesempatan kerja di sektor modern sebanding dengan tingkat akumulasi modal sektor modern. Semakin cepat tingkat akumulasi modalnya, maka akan semakin tinggi tingkat pertumbuhan sektor modern dan semakin cepat pula penciptaan lapangan kerja baru. Akan tetapi, apa yang akan terjadi seandainya keuntungan para kapitalis justru diinvestasikan kembali dalam bentuk barang-barang modal yang lebih canggih dan lebih hemat tenaga kerja, bukan pada barang modal yang hanya merupakan duplikasi dari modal yang sudah ada sebelumnya seperti yang diasumsikan oleh model Lewis?


(hlm. 139)
Asumsi kedua yang sering dan patut dipersoalkan dari model Lewis tersebut adalah adanya dugaan bahwa di pedesaan terjadi kelebihan tenaga kerja, sedangkan di daerah perkotaan terjadi penyerapan faktor-faktor produksi secara optimal (full employment). Namun, sebagian besar penelitian ternyata menunjukkan bahwa keadaan yang sebaliknyalah yang lebih mungkin terjadi di negara-negara Dunia Ketiga (yaitu, jumlah pengangguran di perkotaan cukup besar tetapi hanya sedikit surplus tenaga kerja di pedesaan). Akan tetapi, para ahli ekonomi pembangunan saat ini, pada umumnya telah sepakat bahwa asumsi Lewis mengenai surplus tenaga kerja di pedesaan tidak sahih.


(hlm. 140)
Asumsi ketiga yaitu dugaan tentang pasar tenaga kerja yang kompetitif di sektor modern akan menjamin keberlangsungan upah riil di perkotaan yang konstan sampai pada suatu titik di mana surplus penawaran tenaga kerja habis terpakai, tidak dapat diterima. Kecenderungan tersebut tetap terjadi sekalipun ada kenaikan tingkat pengangguran di sektor modern dan produktivitas marjinal yang rendah atau nol di sektor pertanian. Faktor-faktor kelembagaan seperti halnya kekuatan tawar-menawar organisasi atau serikat buruh, skala gaji pegawai negeri, dan praktik-praktik penerimaan tenaga kerja oleh perusahaan-perusahaan multinasional cenderung untuk menghapuskan atau meniadakan kekuatan-kekuatan kompetitif yang terdapat di pasar tenaga kerja sektor modern di negara-negara Dunia Ketiga.


(hlm. 141)
Perubahan Struktural dan Pola-pola Pembangunan
Namun, berlainan dengan model Lewis dan pandangan tahapan orisinal dari pembangunan, pola atau teori ini menyatakan bahwa peningkatan tabungan dan investasi merupakan syarat yang harus dipenuhi, akan tetapi tidak akan memadai jika harus berdiri sendiri (necessary but not sufficient conditions) dalam memacu pertumbuhan ekonomi.
Perubahan-perubahan yang bersifat struktural ini melibatkan seluruh fungsi ekonomi, termasuk transformasi produksi dan perubahan komposisi permintaan konsumen, perdagangan internasional, sumber daya, serta perubahan dalam faktor-faktor sosioekonomi seperti proses urbanisasi, pertumbuhan, dan sebaran/distribusi penduduk di negara yang bersangkutan.


(hlm. 142)
Karya pemenang Nobel, Simon Kuznets, yang dibahas dalam Bab 3, merupakan pengaruh penting bagi pendekatan ini. Bahan-bahan studi tersebut meliputi transisi dari pola perekonomian agraris ke perekonomian industri, kesinambungan akumulasi modal fisik dan manusia, perubahan jenis permintaan konsumen dari produk kebutuhan pokok dan pangan ke berbagai macam barang dan jasa manufaktur, perkembangan daerah perkotaan terutama pusat-pusat industri berkat migrasi para pencari kerja dari daerah-daerah pertanian di pedesaan dan kota-kota kecil, serta pengurangan jumlah anggota dalam setiap keluarga dan penurunan pertumbuhan populasi secara keseluruhan karena anak sudah tidak lagi dipandang sebagai salah satu faktor penunjang ekonomi keluarga sehingga para orang tua pun menjadi lebih mementingkan kualitas (pendidikan) anak daripada sekedar kuantitasnya.


(hlm. 143)
Revolusi Ketergantungan Internasional
Sepanjang kurun waktu 1970-an, model-model ketergantungan internasional mendapat dukungan yang cukup besar di kalangan intelektual negara-negara Dunia Ketiga, sebagai akibat dari tidak kunjung terwujudnya prediksi model-model pertumbuhan ekonomi tahapan-linier dan perubahan struktural. Pada intinya, model ketergantungan internasional memandang negara-negara Dunia Ketiga sebagai korban kekakuan aneka faktor kelembagaan, politik, dan ekonomi, baik berskala domestik maupun internasional.


(hlm. 144)
Model Ketergantungan Neokolonial
Koeksistensi itu digambarkan sebagai hubungan kekuasaan yang sangat tidak berimbang antara pusat (center, core) yang terdiri dari negara-negara maju, serta pinggiran (periphery), yakni kelompok negara yang sedang berkembang.
Mereka merupakan kelompok kecil elit penguasa yang kepentingan utamanya, disadari ataupun tidak, adalah melestarikan sistem kapitalis internasional yang tidak adil dan menindas, karena mereka memang mendapat banyak keuntungan darinya.


(hlm. 145)
Pendeknya, pandangan neo-Marxis atau dalam hal ini pandangan keterbelakangan neokolonial, mencoba menghubungkan kemiskinan yang terus berlanjut dan semakin parah di sebagian besar negara-negara Dunia Ketiga dengan keberadaan dan kebijakan-kebijakan kelompok negara-negara industri kapitalis dari belahan bumi Utara yang dapat menyebar luas melalui kelompok-kelompok domestik kecil elit yang berkuasa yang mereka sebut kelompok comprador (comprador group), di semua negara-negara berkembang.


(hlm. 146)
Dengan demikian, keterbelakangan, oleh penganut aliran ketergantungan dipandang sebagai suatu fenomena yang diakibatkan atau diciptakan secara sengaja oleh kondisi-kondisi eksternal. Anggapan ini jelas bertentangan dengan teori pertumbuhan-tahapan-linier maupun model struktural yang menekankan bahwa kondisi keterbelakangan itu juga diakibatkan oleh berbagai keterbatasan internal seperti tingkat tabungan nasional dan investasi yang tidak memadai, serta kurangnya pendidikan dan keahlian.


(hlm. 147)
Pada praktiknya, mereka memang tidak ragu-ragu mengeksploitasi serta menyedot sebagian besar surplus negara-negara lemah. Dengan demikian, ketergantungan tersebut sesungguhnya didasarkan pada suatu bentuk mekanisme pembagian kerja internasional yang sangat timpang, yang hanya memungkinkan kemajuan industri terlaksana di beberapa negara-negara lainnya, yang pertumbuhannya memang amat ditentukan oleh dan tunduk kepada pusat-pusat kekuasaan dunia yang terdiri dari negara-negara kuat itu.


(hlm. 148)
Model Paradigma Palsu
Ia mencoba menghubungkan keterbelakangan negara-negara Dunia Ketiga dengan kesalahan dan ketidaktepatan saran yang diberikan oleh para pengamat atau “pakar” internasional, meskipun saran-saran tersebut baik tetap sering tidak diinformasikan secara tepat; bias; dan hanya didasarkan pada suatu kebudayaan tertentu saja yang bernanung di bawah lembaga-lembaga bantuan negara-negara maju dan organisasi-organisasi donor multinasional.


(hlm. 149)
Faktor-faktor kelembagaan di negara-negara Dunia Ketiga, seperti masih pentingnya struktur sosial tradisional (yakni, kesukuan, kasta, kelas, dan sebagainya); sangat tidak meratanya hak kepemilikan tanah dan kekayaan lainnya; tidak memadainya kontrol kalangan elit terhadap aset-aset keuangan domestik dan internasional; serta sangat timpangnya kesempatan ataupun kemudahan dalam rangka mendapatkan kredit usaha; selama ini tidak dipahami dan diperhitungkan secara memadai, sehingga tidak mengherankan apabila kebijakan-kebijakan yang ditawarkan oleh para ahli internasional tadi, yang biasanya mereka dasarkan pada model-model surplus tenaga kerja dari Lewis atau perubahan struktural dari Chenery, dalam banyak hal hanya melayani kepentingan sepihak kelompok-kelompok domestik maupun internasional yang sedang berkuasa.


(hlm. 150)
Tesis Pembangunan Dualistik
Unsur pemikiran pokok yang secara implisit terkandung di dalam teori-teori perubahan struktural dan secara eksplisit telah dinyatakan dalam teori ketergantungan internasional adalah gagasan akan adanya sebuah dunia bermasyarakat ganda (a world of dual societies). Konsep ini menunjukkan hanya jurang pemisah yang kian lama terus melebar antara negara-negara kaya dan miskin, serta di antara orang-orang kaya dan miskin pada berbagai tingkatan di setiap negara.


(hlm. 151)
Berbagai Kesimpulan dan Implikasinya
Teori ketergantungan memiliki dua kelemahan yang pokok. Pertama, walaupun mereka menawarkan suatu penjelasan yang sangat menarik mengapa banyak negara-negara Dunia Ketiga yang terbelakang, mereka hanya menawarkan sedikit penjelasan formal maupun informal mengenai apa yang harus dilakukan oleh negara-negara tersebut guna mengawali dan menjaga keberlangsungan pembangunannya. Kedua, dan barangkali ini lebih penting, pengalaman ekonomi negara-negara berkembang secara aktual yang diikuti dengan kampanye revolusi nasionalisasinya dan produksi yang dikelola oleh pemerintah, kebanyakan mengalami kegagalan.


(hlm. 152)
Jika teori ketergantungan diterima secara mentah-mentah, maka menurut teori tersebut, strategi terbaik yang harus diambil oleh negara berkembang adalah dengan meminimalisasi keterkaitan dengan negara-negara maju, serta menerapkan kebijakan autarki (autarky), atau pembangunan yang berorientasi ke dalam, atau yang paling maksimal adalah hanya berdagang dengan sesama negara berkembang.


(hlm. 153)
Namun, negara-negara besar yang menerapkan kebijakan autarki seperti Cina, dan pada derajat tertentu, India, ternyata mengalami pertumbuhan yang stagnan dan akhirnya memutuskan untuk membuka perekonomiannya. Cina memulai proses ini setelah 1978 dan India setelah 1990. Di pihak lain, perekonomian seperti Taiwan dan Korea Selatan yang sangat menekankan ekspor ke negara-negara maju telah mengalami pertumbuhan yang sangat cepat.

(hlm. 153)
Kontrarevolusi Neoklasik: Fundamentalisme Pasar
Tantangan bagi Model Statis: Pendekatan Pasar Bebas, Pilihan Publik, dan Pendekatan Ramah-Pasar
Memasuki dekade 1980-an, pengaruh politik dari pemerintah konservatif di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Jerman Barat menghadirkan kembali apa yang disebut sebagai kontrarevolusi neoklasik (neoclassical counterrevolution) dalam teori dan kebijakan ekonomi. Bagi negara-negara maju, kontrarevolusi ini merupakan aliran kebijakan makroekonomi yang lebih mementingkan sisi penawaran (supply-side macroeconomics), teori ekspektasi rasional, dan gelombang swastanisasi perusahaan-perusahaan milik negara.


(hlm. 154)
Ini antara lain dikarenakan para pendukung teori neoklasik ini memiliki pengaruh besar dalam dua lembaga keuangan internasional yang paling penting—yakni, Bank Dunia dan IMF—serta merosotnya pamor berbagai organisasi internasional lainnya yang seringkali lebih lantang dalam menyuarakan kepentingan negara-negara Dunia Ketiga, seperti International Labor Organization (ILO), United Nations Development Program (UNDP), serta United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD). Lemahnya peranan riil dari organisasi-organisasi tersebut turut membuka jalan bagi naiknya kontrarevolusi neoklasik.
Argumen inti kontrarevolusi neoklasik menegaskan bahwa kondisi keterbelakangan negara-negara berkembang bersumber dari buruknya keseluruhan alokasi sumber daya yang selama ini bertumpu pada kebijakan-kebijakan pengaturan harga yang tidak tepat dan adanya campur tangan pemerintah yang berlebihan.


(hlm. 155)
Menurut tokoh-tokoh neoliberal, dengan membiarkan pasar bebas (free markets) hadir dan beroperasi secara penuh, melaksanakan swastanisasi perusahaan milik pemerintah, mempromosikan perdagangan bebas dan pengembangan ekspor, menarik investasi asing (misalnya, investor dari negara-negara maju), serta menghapuskan regulasi pemerintah yang berlebihan dan distorsi harga pada pasar input, pasar output, maupun pasar keuangan, maka efisiensi serta pertumbuhan ekonomi akan terpacu secara lebih optimal.


(hlm. 156)
Selain itu, bertentangan dengan argumen para teoretisi ketergantungan, para penganjur kontrarevolusi neoklasik menyatakan bahwa negara-negara Dunia Ketiga berada dalam kondisi keterbelakangan bukan dikarenakan oleh sifat predator negara-negara Dunia Pertama maupun badan-badan internasional yang memang dikuasai oleh negara-negara Dunia Pertama tersebut, melainkan karena korupsi dan campur tangan pemerintah yang kelewat batas, inefisiensi di berbagai sektor, serta terbatasnya insentif ekonomi yang berpengaruh secara meluas di dalam perekonomian negara-negara berkembang itu sendiri.


(hlm. 157)
Jadi, menurut pemikiran ini, apa yang benar-benar paling dibutuhkan guna menanggulangi masalah tersebut bukanlah reformasi sistem ekonomi internasional, restrukturisasi pola perekonomian dualistik di negara-negara berkembang, peningkatan dana-dana bantuan luar negeri, pembatasan laju pertumbuhan penduduk hingga ke tingkat yang serendah-rendahnya, ataupun serangkaian pembaharuan atas sistem perencanaan terpusat yang lebih efektif; melainkan promosi pasar bebas dan perekonomian laissez-faire.


(hlm. 158)
Mereka menunjuk keberhasilan sejumlah perekonomian seperti Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura sebagai contoh kehebatan “pasar bebas” (padahal sebagaimana kita bahas nanti, Macan-macan Asia itu jauh sekali dari prototipe “laissez-faire” seperti yang diyakini oleh para tokoh neokonservatif; peran pemerintah di negara-negara tersebut sebenarnya sangat besar) dan kegagalan sejumlah perekonomian yang mengandalkan campur tangan pemerintah di negara-negara Afrika dan Amerika Latin.


(hlm. 159)
Tantangan neoklasik terhadap pembangunan yang ortodoks dapat dipilah menjadi tiga komponen, yakni: pendekatan pasar-bebas; pendekatan pilihan publik (atau “ekonomi politik baru”); serta pendekatan “ramah terhadap pasar.”
Pandangan pedas ini bertolak dari asumsi dasarnya yang meyakini bahwa sikap, tindakan, dan keputusan para politisi, birokrat, warga negara biasa, apalagi pejabat pemerintah, senantiasa bertolak dari kepentingan-kepentingan mereka sendiri, tidak peduli apa konsekuensinya terhadap pihak lain.


(hlm. 160)
Banyak pihak yang mencari keuntungan cepat melalui jalur kasak-kusuk politik semacam itu (keuntungan itu sendiri lazim disebut “rente”), misalnya dengan membuat kebijakan pemerintah sedemikian rupa agar memberinya keuntungan ekstra yang membatasi akses pihak lain kepada sumber daya-sumber daya penting (contohnya kebijakan lisensi impor yang selalu diperebutkan para importir lokal).


(hlm. 161)
Hasil akhirnya bukan sekadar misalokasi sumber daya secara besar-besaran, melainkan juga pengikisan hakikat kebebasan individual. Kesimpulannya, campur tangan pemerintah yang minimal adalah pemerintahan yang terbaik.
Pendekatan “ramah terhadap pasar” (market-friendly approach) merupakan pendekatan terbaru dari kontrarevolusi neoklasik. Contoh intervensi yang dianjurkan adalah kepeloporan dalam melakukan investasi pada infrastruktur fisik dan sosial, membangun aneka fasilitas pelayanan kesehatan, menyiapkan dan mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan, serta menciptakan iklim usaha yang mendukung tumbuhnya sektor swasta.


(hlm. 162)
Berbagai bentuk kegagalan pasar di negara-negara berkembang juga mereka catat, misalnya saja keterbatasan dan ketidaksempurnaan informasi, eksternalitas dalam pembinaan dan penciptaan keahlian/keterampilan kerja, serta kurangnya skala ekonomis produksi. Bahkan, pengakuan atas adanya tiga kelemahan utama pasar itu kemudian menumbuhkan aliran pemikiran baru, yakni yang dikenal sebagai pendekatan pertumbuhan baru/endogen (new or endogenous growth), dan pendekatan kegagalan koordinasi.


(hlm. 163)
Teori Pertumbuhan Neoklasik Tradisional
Pada intinya, model ini merupakan pengembangan dari formulasi Harrod-Domar dengan menambahkan faktor kedua, yakni tenaga kerja, serta memperkenalkan variabel independen ketiga, yakni teknologi, ke dalam persamaan pertumbuhan (growth equation). Namun, berbeda dengan koefisien baku, model pertumbuhan neoklasik Solow berpegang pada konsep skala hasil yang terus berkurang (diminishing returns) dari input tenaga kerja dan modal jika keduanya dianalisis secara terpisah; jika keduanya dianalisis secara bersamaan atau sekaligus, Solow juga memakai asumsi skala hasil tetap tersebut.


(hlm. 164)
Kemajuan teknologi ditetapkan sebagai faktor residu untuk menjelaskan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang, dan tinggi-rendahnya pertumbuhan itu sendiri oleh Solow maupun para teoretisi lainnya diasumsikan bersifat eksogen atau tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.
Di lain pihak, perekonomian terbuka (open economy), yakni yang mengadakan hubungan perdagangan, investasi, dan sebagainya dengan negara atau pihak-pihak luar, pasti akan mengalami suatu konvergensi peningkatan pendapatan per kapita, arus permodalan akan mengalir deras dari negara-negara kaya ke negara-negara miskin di mana rasio modal-tenaga kerjanya masih rendah sehingga menjanjikan imbalan atau tingkat keuntungan investasi (returns on investments) yang lebih tinggi.


(hlm. 165)
Padahal, selama ini pihak pemerintah di negara-negara Dunia Ketiga cenderung membatasi arus modal tadi, khususnya yang datang dari negara-negara lain. Itulah sebabnya di dalam konteks ini pemerintah dikatakan sebagai penghambat pertumbuhan yang selanjutnya akan menciptakan kemacetan atau stagnasi ekonomi nasional secara keseluruhan.


(hlm. 166)
Beberapa Kesimpulan dan Implikasinya
Bila semata-mata diukur berdasarkan kriteria efisiensi (bukannya pemerataan), maka memang tidak bisa dipungkiri bahwa sebagai mekanisme alokasi sumber daya, pasar bebas lebih unggul daripada intervensi pemerintah.
Pasar-pasar yang kompetitif, misalnya, ternyata tidak ditemui pada perekonomian negara-negara berkembang pada umumnya.


(hlm. 167)
Itulah sebabnya tidak jarang prinsip maksimalisasi keuntungan bukan merupakan prioritas atau tujuan utama, terutama bagi perusahaan-perusahaan milik negara. Yang dibutuhkan bukan hanya pemecahan secara ideologis, melainkan penilaian yang secermat mungkin atas situasi yang ada di masing-masing negara berkembang.


(hlm. 168)
Teori-teori Pembangunan Klasik: Usaha Mempertemukan Berbagai Perbedaan
Berbeda dari cabang-cabang ilmu ekonomi lainnya, ilmu ekonomi pembangunan tidak memiliki doktrin-doktrin atau paradigma baku yang telah diterima secara universal.


(hlm. 170)
Studi Kasus: Perekonomian Kenya
Tiga perlima bagian wilayahnya adalah padang terbuka yang agak kering, diselingi dengan beberapa pepohonan dan semak-semak (kebanyakan berada di sebelah utara). Padang-padang yang kurang subur itu dihuni oleh 85 persen penduduk. Mengingat keterbatasan sumber daya alam di bagian utara, maka hampir semua kegiatan perekonomian berlangsung di dua perlima wilayah lainnya yang terletak di sebelah selatan.


(hlm. 171)
Sayangnya, dalam upaya membangkitkan perekonomiannya, pemerintah Nairobi terlalu mengutamakan sektor industri dan justru mengabaikan arti penting sektor pertanian. Untuk membiayai berbagai keperluannya, pemerintah Kenya bahkan terpaksa menarik pinjaman berbunga cukup tinggi dari perbankan komersial internasional, mengingat ia semakin sulit memperoleh pinjaman resmi berbunga rendah.


(hlm. 172)
Soal-soal Bahan Diskusi

  1. Perbedaan-perbedaan yang esensial.
  2. Istilah dualisme (dualism) dan istilah masyarakat yang dualistik (dual societies).
  3. Dualisme domestik dan internasional hanya merupakan manifestasi yang berbeda dari suatu fenomena yang sama.
  4. Keragaman negara-negara berkembang yang begitu besar, menurut Anda, apakah kita bisa mengharapkan akan terciptanya suatu teori pembangunan tunggal baku dan universal?
  5. Teori pasar bebas neoklasik harus dipertentangkan dengan teori ketergantungan?


(hlm. 173)
Lampiran 4.1
Model Pertumbuhan Neoklasik dari Solow
Meskipun dalam hal tertentu model Solow menggambarkan perekonomian negara maju secara lebih baik daripada kemampuannya dalam menjelaskan perekonomian negara berkembang, model ini tetap menjadi titik acuan dasar dalam keputusan mengenai pertumbuhan dan pembangunan.


(hlm. 175)
Dalam model Solow, tidak seperti dalam analisis Harrod-Domar (atau AK), implikasi kuncinya adalah bahwa peningkatan s tidak akan meningkatkan pertumbuhan dalam jangka panjang, namun hanya akan meningkatkan keseimbangan k*.


(hlm. 176)
Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan
Justru inilah yang membuat studi ekonomi pembangunan sangat penting: pembangunan tidak terjadi secara otomatis; namun memerlukan upaya yang sistematis.
Riset terbaru telah memperluas cakupan pemodelan perekonomian pasar dalam konteks negara berkembang. Salah satu tema besarnya adalah memasukkan masalah koordinasi antara lembaga (agents), seperti antara berbagai kelompok perusahaan, antara pekerja, atau antara perusahaan dengan pekerja.


(hlm. 177)
Semua pendekatan ini berbeda dalam sejumlah segi dari ilmu ekonomi neoklasik yang konvensional, paling tidak dalam asumsi adanya informasi sempurna yang terdapat dalam teori konvensional, tidak signifikannya eksternalitas, serta keunikan dan optimalitas keseimbangan jamak (equilibria).


(hlm. 178)
Teori Pertumbuhan Baru: Pertumbuhan Endogen
Motivasi Pencarian Teori Pertumbuhan yang Baru
Setiap peningkatan GNP yang bukan berasal dari penyesuaian jangka pendek dalam cadangan tenaga kerja maupun modal, dianggap bersumber dari kategori ketiga, yaitu yang biasa disebut sebagai residu Solow (Solow residual). Residu ini, tidak seperti namanya, bertanggung jawab atas sekitar 50 persen pertumbuhan yang terjadi di banyak negara industri.


(hlm. 179)
Namun, bahkan setelah menerapkan liberalisasi dalam perdagangan dan pasar domestik, banyak negara berkembang yang tidak tumbuh atau hanya tumbuh sedikit dan gagal menarik investasi asing, atau gagal mencegah larinya modal domestik ke luar negeri. Perilaku aliran modal negara-negara berkembang yang aneh (dari negara miskin ke negara kaya) turut memicu konsep pertumbuhan endogen (endogenous growth) atau dengan kata lain yang lebih sederhana, teori pertumbuhan (new growth theory). Teori pertumbuhan baru ini mencerminkan komponen kunci dari teori pembangunan yang baru muncul.


(hlm. 180)
Dalam formulasi ini, A dianggap mewakili semua faktor yang mempengaruhi teknologi, dan K mencerminkan modal fisik dan sumber daya manusia. Potensi tingkat pengembalian investasi yang tinggi yang ditawarkan oleh negara berkembang yang mempunyai rasio modal-tenaga kerja yang rendah berkurang dengan cepat dikarenakan rendahnya tingkat investasi komplementer (complementary investments) dalam sumber daya manusia (pendidikan), infrastruktur, atau riset dan pengembangan (R&D).

(hlm. 180)
Model Romer
Untuk menggambarkan pendekatan pertumbuhan endogen, kita akan membahas model pertumbuhan endogen Romer secara rinci, karena model ini mengkaji imbasan teknologi yang mungkin terdapat dalam proses industrialisasi. Namun, berbeda dengan Solow, Romer mengasumsikan bahwa cadangan modal dalam keseluruhan perekonomian, KˉK̄Kˉ, secara positif memengaruhi output pada tingkat industri, sehingga terdapat kemungkinan skala hasil yang semakin meningkat (increasing returns to scale—IRS) pada tingkat perekonomian secara keseluruhan.


(hlm. 181)
Keterbelakangan sebagai Akibat Kegagalan Koordinasi
Dalam ilmu ekonomi pembangunan, efek jaringan tersebut merupakan sesuatu yang umum, dan kita akan membahas beberapa contoh penting nanti dalam bab ini juga, termasuk model dorongan besar (big push), di mana keputusan produksi yang dilakukan oleh berbagai perusahaan sektor modern sifatnya saling memperkuat, dan juga model Cincin-O (O-ring model), di mana nilai keterampilan atau kualitas yang meningkat akan tergantung pada peningkatan serupa yang dilakukan oleh lembaga lain.


(hlm. 182)
Perusahaan tidak akan memasuki pasar atau berdiri di suatu daerah jika para pekerja tidak mempunyai keterampilan yang dibutuhkan, namun sebaliknya para pekerja pun tidak akan mempelajari keterampilan tersebut jika tidak ada perusahaan yang akan mempekerjakannya. Contoh lain yang umumnya menyangkut daerah pedesaan yang sedang membangun adalah komersialisasi pertanian. Seperti yang telah dipahami oleh Adam Smith, spesialisasi adalah salah satu sumber tingginya produktivitas.


(hlm. 183)
Tanpa adanya pedagang perantara, para petani kurang mendapat dorongan untuk berspesialisasi dan lebih memilih untuk terus menghasilkan tanaman pangan atau barang-barang yang terutama hanya untuk konsumsi pribadi atau yang diperdagangkan dalam lingkup desanya sendiri. Hasilnya dapat berupa jebakan keterbelakangan, di mana daerah tersebut akan selamanya terjebak dalam pertanian subsisten.


(hlm. 184)
Tanpa pemimpin yang jelas dan dengan jumlah peserta yang banyak, sulit untuk menyepakati tempat pertemuan dalam waktu singkat. Dalam problema ekonomi yang sesungguhnya, orang-orang yang butuh “bertemu”—mungkin untuk mengoordinasikan investasi—bahkan tidak mengetahui identitas agen kunci yang lain.


(hlm. 185)
Ekuilibria Jamak: Pendekatan Diagramatis
Gagasan dasar yang tercermin dalam fungsi yang berbentuk S pada Peraga 5.1 adalah bahwa manfaat yang diterima oleh sebuah lembaga yang mengambil suatu tindakan bergantung secara positif pada seberapa banyak lembaga lain yang diharapkan akan melakukan tindakan yang sama, atau pada dampak dari tindakan-tindakan tersebut.


(hlm. 186)
Sehingga keseimbangan dalam kasus ini adalah sebuah situasi di mana setiap orang melakukan yang terbaik bagi mereka sendiri, yang tergantung pada dugaan mereka tentang apa yang akan dilakukan orang lain, yang pada akhirnya akan mencocokkan dirinya dengan apa yang dilakukan orang lain.


(hlm. 187)
Memulai Pembangunan Ekonomi: Model Dorongan Besar
Contohnya, pada seabad yang lalu Argentina, bersama-sama dengan Amerika Serikat yang juga sedang tumbuh, dilihat oleh negara-negara Eropa sebagai kekuatan masa depan dalam perekonomian dunia; namun kemudian Argentina mengalami stagnasi (kemandekan) selama lebih dari setengah abad. Dengan melihat catatan tersebut, kita harus setuju dengan Rostow, paling tidak mengenai pendapatnya yang mengatakan bahwa pada awalnya sangat sulit untuk menumbuhkan perekonomian modern, dan lebih mudah untuk menjaganya ketika pembangunan tersebut sudah berjalan.


(hlm. 188)
Sejumlah ekonom pembangunan menyimpulkan bahwa, beberapa kegagalan pasar menyebabkan pembangunan ekonomi sulit dimulai. Di antara kegagalan pasar tersebut adalah eksternalitas keuangan (pecuniary externalities), yang merupakan efek imbasan (spillover) pada biaya atau pendapatan. Mungkin model kegagalan koordinasi yang paling terkenal dalam literatur ekonomi pembangunan adalah model “dorongan besar (big push)” yang dipelopori oleh Paul Rosenstein-Rodan, yang pertama kali mengangkat sejumlah isu-isu koordinasi dasar.


(hlm. 189)
Model dorongan besar adalah sebuah model yang menunjukkan bagaimana kegagalan pasar dapat menimbulkan kebutuhan akan perekonomian yang terencana dan juga kebutuhan akan berbagai upaya yang dicetuskan oleh kebijakan publik, agar proses pembangunan ekonomi yang panjang dapat berjalan atau dipercepat.


(hlm. 190)
Dorongan Besar: Model Grafis
Asumsi
Dalam model apa pun (bahkan dalam pemikiran yang seksama), kita perlu membuat sejumlah asumsi, kadang-kadang asumsi yang besar, untuk mempermudah pemahaman kita.


(hlm. 191)
Kasus Lain yang Mungkin Memerlukan Dorongan Besar
Selain yang telah dijelaskan tadi, ada empat kondisi lain yang mungkin memerlukan dorongan besar:

  1. Efek intertemporal
  2. Efek urbanisasi
  3. Efek infrastruktur
  4. Efek pelatihan


(hlm. 192)
Mengapa Masalah Kegagalan Koordinasi Tidak Dapat Dipecahkan oleh Seorang Wirausahawan Super
Mengapa sebuah lembaga/agen tidak dapat memecahkan kegagalan koordinasi dengan menguasai seluruh sumber daya?


(hlm. 193)
Namun dalam kaitannya dengan masalah industrialisasi, mengapa sebuah lembaga/agen tidak bisa menjadi seorang wirausahawan super di setiap N pasar secara simultan? Paling tidak terdapat empat jawaban teoritis dan sebuah jawaban empiris untuk itu.


(hlm. 194)
Pertama, terdapat kemungkinan terjadi kegagalan pasar modal. Bagaimana mungkin sebuah lembaga mendapatkan seluruh modal yang dibutuhkan untuk berperan sebagai seorang wirausahawan super? Kedua, terdapat biaya dari pemantauan para manajer dan agen yang lain, dan juga terdapat biaya perancangan dan pelaksanaan rencana untuk memastikan supaya para pekerja mematuhi perintah majikannya; biaya-biaya ini sering disebut sebagai biaya kelembagaan (agency costs).


(hlm. 195)
Dengan kata lain, jika perusahaan tersebut sangat menguntungkan, mengapa dijual? Karena itu, calon pembeli industri tersebut menghadapi masalah informasi asimetris (asymmetric information), yang juga dikenal sebagai “masalah lemon (lemons problem).” Ketiga, terdapat kemungkinan terjadi kegagalan komunikasi. Keempat, pengetahuan ada batasnya. Akhirnya, terdapat alasan empiris bahwa tidak pernah ada lembaga swasta yang diketahui memainkan peran sebagai wirausahawan super.


(hlm. 196)
Masalah ini juga tidak dapat dipecahkan oleh produksi yang dikomandani oleh pemerintah secara langsung, seperti yang ditunjukkan oleh bekas negara Uni Soviet. Namun, koordinasi publik atas langkah-langkah yang diambil oleh investor-investor swasta adalah yang umum diperlukan untuk mengatasi masalah ini, dan inilah yang dianggap sebagai peran kebijakan industri di Asia Timur.


(hlm. 197)
Masalah Lanjutan Ekuilibria Jamak
Keterkaitan
Salah satu strategi untuk memecahkan masalah koordinasi adalah dengan berfokus pada kebijakan pemerintah yang mendorong pengembangan sektor-sektor yang mempunyai keterkaitan (linkages) ke belakang maupun ke depan. Teori keterkaitan menekankan bahwa jika industri-industri tertentu dibangun lebih dahulu, interkoneksinya (atau keterkaitannya) dengan sektor lain akan memicu atau paling tidak akan membantu pengembangan industri baru.


(hlm. 198)
Kedua contoh tersebut menggambarkan efek eksternalitas keuangan (berupa penurunan biaya) jika terdapat hasil yang semakin meningkat di dalam industri yang saling terkait. Dalam memilih industri-industri yang mempunyai keterkaitan yang kuat (dan lolos uji biaya-manfaat), pada umumnya suatu kebijakan akan memilih sektor-sektor yang tidak memiliki kemiripan dengan investasi sektor swasta, karena sektor-sektor tersebut justru bisa menjadi penghambat: Jika sebuah investasi menguntungkan, maka seorang wirausahawan sudah pasti akan mengisi ceruk itu.


(hlm. 199)
Ketimpangan, Ekuilibria Jamak, dan Pertumbuhan
Orang miskin, yang tidak dapat memperoleh pinjaman untuk memulai sebuah bisnis karena adanya ketidaksempurnaan pasar modal, dapat terjebak ke dalam subsistensi atau ketergantungan yang terus berlangsung karena upah yang kecil, meskipun mereka (dan mungkin karyawan potensial) dapat berbuat jauh lebih baik jika mempunyai akses pendanaan—atau jika terdapat distribusi pendapatan yang lebih merata.


(hlm. 200)
Dalam sebuah model formal dari masalah ini, Oded Galor dan Joseph Zeira meneliti implikasi dari ketiadaan pasar modal terhadap pertumbuhan dan distribusi pendapatan maupun distribusi sumber daya manusia. Hal ini terjadi bukanlah karena pendidikan yang lebih tinggi memberikan sedemikian banyak pengetahuan dibandingkan dengan pendidikan yang lebih rendah, namun karena gelar pendidikan itu sendiri merupakan bukti bahwa seseorang dapat lulus dari sejumlah persyaratan.


(hlm. 201)
Teori Pembangunan Ekonomi Cincin-O dari Kremer
Ia mengatakan bahwa produksi modern (berlawanan dengan produksi tradisional dengan tangan) mensyaratkan bahwa berbagai kegiatan harus dilakukan dengan baik dan bersama-sama, agar masing-masing dapat menghasilkan nilai yang tinggi. Hal ini adalah suatu bentuk dari komplementaritas yang kuat serta merupakan cara berpikir alamiah mengenai spesialisasi dan pembagian tenaga kerja, yang bersama-sama dengan skala ekonomis merupakan tonggak dari perekonomian negara maju pada umumnya dan produksi industrial pada khususnya. Nama yang diambil untuk model Kremer ini berasal dari bencana pesawat ulang alik Challenger yang terjadi pada tahun 1986, ketika kegagalan fungsi sebuah suku cadang yang kecil dan murah mengakibatkan meledaknya pesawat tersebut.


(hlm. 202)
Model Cincin-O
Proses ini berlanjut hingga pria dan wanita yang paling tidak menarik menikah.


(hlm. 203)
Implikasi Teori Cincin-O
Dengan kata lain, ketika orang-orang di sekitar Anda mempunyai keterampilan rata-rata yang lebih tinggi, Anda akan mempunyai insentif yang lebih besar untuk memperoleh lebih banyak keterampilan.


(hlm. 204)
Ringkasan dan Kesimpulan: Ekuilibria Jamak dan Kegagalan Koordinasi
Sebagai contoh, seperti yang ditunjukkan oleh Joseph Stiglitz, pemenang Nobel tahun 2001, para pejabat pembangunan harus lebih mewaspadai pejabat pemerintah yang korup, yang mendukung doktrin Bank Dunia untuk melakukan privatisasi pada akhir dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an.


(hlm. 205)
Mengapa pejabat yang korup melakukan hal tersebut, jika mereka diuntungkan dari aliran rente yang didapatkannya dari perusahaan-perusahaan negara? Jawabannya, kata Stiglitz, adalah bahwa para pejabat ini mengetahui bahwa dengan mengkorupsi proses privatisasi tersebut, mereka juga memperoleh bagian dari nilai diskonto sekarang seluruh operasi perusahaan di masa depan.


(hlm. 206)
Studi Kasus Komparatif: Korea Selatan dan Argentina
Kontribusi dan Beberapa Pendekatan Alternatif Mengenai Pembangunan
Korea Selatan
Tahap-tahap Pertumbuhan
Rostow menyatakan bahwa kematangan ekonomi akan dicapai sekitar 60 tahun setelah dimulainya tahap tinggal landas, namun ia tidak menyangkal adanya keunikan yang dipunyai setiap negara, dan kesenjangan antara teknologi tradisional dan teknologi maju memang dapat diisi lebih cepat pada tahapan akhir pembangunan.


(hlm. 207)
Pola Struktural
Korea Selatan juga membuktikan kebenaran dari sejumlah model perubahan-struktural pola pembangunan. Khususnya, kebangkitan Korea Selatan selama generasi terakhir ini dicirikan oleh cepatnya peningkatan produktivitas pertanian, pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri, pertumbuhan cadangan modal yang mantap, meningkatnya pendidikan dan keterampilan, dan transisi demografi berupa penurunan tingkat kelahiran.


(hlm. 208)
Revolusi Ketergantungan
Namun Korea Selatan tampaknya mementahkan berlakunya model revolusi ketergantungan. Korea Selatan juga mengimplementasikan salah satu program land reform yang paling menyeluruh di kalangan negara-negara berkembang dan memberi penekanan yang lebih besar pada pendidikan dasar dan bukan pendidikan tingkat universitas, dan kedua kebijakan tersebut memang sangat penting. Dan ketika terlalu banyak pengecualian yang dibuat di dalam sebuah teori, hal ini biasanya mengindikasikan bahwa teori tersebut memang tidak dapat memberikan penjelasan yang memadai.


(hlm. 209)
Kontrarevolusi Neoklasik
Bentuk intervensi oleh pemerintah Korea Selatan tersebut antara lain dengan cara merencanakan pembangunan dengan sebaik-baiknya, menggunakan berbagai keringanan pajak dan insentif untuk mendorong berbagai perusahaan mengikuti arahan dan intervensi pemerintah, menetapkan target ekspor perusahaan tertentu, memimpin upaya peningkatan teknologi dengan pihak asing, menggunakan kekuatan monopolinya untuk mendapatkan penawaran terbaik dari berbagai pihak, dan secara umum mendorong perusahaan-perusahaan domestik untuk memperoleh keunggulan komparatif (dinamis).


(hlm. 210)
Argentina
Tahap-tahap Pertumbuhan
Pada tahun 1870, pendapatan Argentina berada pada peringkat ke-11 di dunia (melebihi Jerman); saat ini, pendapatan per kapita negara tersebut bahkan tidak masuk 50 besar. Namun sekarang lihatlah keadaan Argentina semenjak Rostow mengedepankan negara tersebut sebagai contoh. Menurut data Bank Dunia, Argentina mengalami pertumbuhan negatif selama periode tahun 1965-1990, dan pada dekade 1980-an, investasi domestik menurun tajam menjadi -8,3%, jauh di bawah syarat yang ditetapkan Rostow sebagai tingkat investasi yang diperlukan untuk tinggal landas.


(hlm. 211)
Revolusi Ketergantungan
Negara tersebut sangat tergantung pada ekspor barang-barang primer, dan harga riil dari barang-barang ini sangat rendah jika dibandingkan dengan nilai barang yang diimpornya. Dengan bukti-bukti tersebut, para penganut teori ketergantungan dapat menyatakan bahwa pembangunan Argentina merupakan korban dari kepentingan ekonomi negara maju, terutama dari berbagai perusahaan Inggris dan Amerika.

(hlm. 215)
Bagian Kedua
Masalah dan Kebijakan: Domestik
(hlm. 219)
6
Kemiskinan, Ketimpangan, dan Pembangunan
Kita akan melihat di bab-bab berikutnya bahwa, orang-orang miskin ini sering menderita kekurangan gizi dan tingkat kesehatan yang buruk, sedikit melek huruf atau buta huruf sama sekali, hidup di lingkungan yang buruk, kurang terwakili secara politis, dan berusaha memperoleh penghasilan yang minim di sebuah pertanian kecil dan marjinal, atau di daerah kumuh. Dalam bab ini, kita akan membahas masalah kemiskinan dan tingginya ketimpangan distribusi pendapatan secara mendalam.
(hlm. 220)
Karena penanggulangan kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan merupakan inti dari semua masalah pembangunan dan merupakan tujuan utama kebijakan pembangunan di banyak negara, maka kita memulai Bagian Dua dengan berfokus pada hakikat kemiskinan dan masalah ketimpangan pendapatan di negara-negara berkembang.
(hlm. 221)
Mengukur Ketimpangan dan Kemiskinan
Mengukur Ketimpangan
(hlm. 222)
Distribusi Ukuran
Distribusi pendapatan perseorangan (personal distribution of income) atau distribusi ukuran pendapatan (size distribution of income) ini merupakan ukuran yang paling sering digunakan oleh para ekonom.
(hlm. 225)
Oleh karena tidak ada satu negara pun yang memperlihatkan pemerataan sempurna atau ketidakmerataan sempurna di dalam distribusi pendapatannya, semua kurva Lorenz dari setiap negara akan berada di sebelah kanan garis diagonal seperti ditunjukkan pada Peraga 6.1. Semakin parah tingkat ketidakmerataan atau ketimpangan distribusi pendapatan di suatu negara, maka bentuk kurva Lorenznya pun akan semakin melengkung mendekati sumbu horizontal bagian bawah.
(hlm. 226)
Koefisien Gini = (Bidang A yang diarsir)/(Bidang BCD)
(Peraga 6.3)
Koefisien Gini dan Ukuran Ketimpangan Agregat
Perangkat yang terakhir dan sangat mudah digunakan untuk mengukur derajat ketimpangan pendapatan relatif di suatu negara, adalah dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh segi empat di mana kurva Lorenz itu berada. Pada Peraga 6.3, rasio ini adalah rasio daerah A yang diarsir dibagi dengan luas segitiga BCD. Rasio ini dikenal dengan nama rasio konsentrasi Gini (Gini concentration ratio) atau sederhananya disebut sebagai koefisien Gini (Gini coefficient), mengambil nama dari ahli statistik Italia yang merumuskannya pertama kali pada tahun 1912.
Pada praktiknya, koefisien Gini untuk negara-negara yang derajat ketimpangannya tinggi berkisar antara 0,50 hingga 0,70, sedangkan untuk negara-negara yang distribusi pendapatannya relatif merata, angkanya berkisar antara 0,20 hingga 0,35.
(hlm. 227)
Telah diketahui bahwa, koefisien Gini merupakan salah satu ukuran yang memenuhi empat kriteria yang sangat dicari, yaitu prinsip anonimitas, independensi skala, independensi populasi, dan transfer. Prinsip anonimitas (anonymity principle) mengatakan bahwa ukuran ketimpangan seharusnya tidak tergantung pada siapa yang mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi; dengan kata lain, ukuran tersebut tidak tergantung pada apa yang kita yakini sebagai manusia yang lebih baik, apakah itu orang kaya atau orang miskin. Prinsip independensi skala (scale independence principle) berarti bahwa ukuran ketimpangan kita seharusnya tidak tergantung pada ukuran suatu perekonomian atau negara, atau cara kita mengukur pendapatannya; dengan kata lain, ukuran ketimpangan tersebut tidak tergantung pada apakah kita mengukur pendapatan dalam dolar atau dalam sen, dalam rupee atau dalam rupiah, atau apakah perekonomian negara itu secara rata-rata kaya atau miskin, karena jika kita ingin mengukur ketimpangan, kita ingin ukuran sebaran pendapatan, bukan besarnya (meskipun perlu diingat juga bahwa besarnya pendapatan juga sangat penting dalam pengukuran kemiskinan). Prinsip independensi populasi (population independence principle), juga agak mirip dengan prinsip sebelumnya; prinsip ini menyatakan bahwa pengukuran ketimpangan seharusnya tidak didasarkan pada jumlah penerima pendapatan (jumlah penduduk). Misalnya, perekonomian Cina tidak boleh dikatakan lebih merata atau lebih timpang daripada perekonomian Vietnam hanya karena penduduk Cina lebih banyak.
(hlm. 228)
Akhirnya koefisien Gini juga memenuhi prinsip transfer (transfer principle). Prinsip yang juga sering disebut sebagai prinsip Pigou-Dalton, diambil dari nama penemunya ini menyatakan bahwa, dengan mengasumsikan semua pendapatan yang lain konstan, jika kita mentransfer sejumlah pendapatan dari orang kaya ke orang miskin (namun tidak sangat banyak hingga mengakibatkan orang miskin itu sekarang justru lebih kaya daripada orang yang awalnya kaya tadi), maka akan dihasilkan distribusi pendapatan baru yang lebih merata.
CV kadang-kadang digunakan dalam studi konvergensi pendapatan internasional (lihat Bab 3) atau konvergensi indikator pembangunan yang lain seperti tingkat harapan hidup dan tingkat melek huruf. Jika CV lebih sering digunakan dalam statistik, koefisien Gini sering digunakan dalam studi-studi mengenai distribusi pendapatan dan kekayaan karena mudahnya interpretasi kurva Lorenz. Perlu diingat bahwa kita juga dapat menggunakan kurva Lorenz untuk mengukur ketimpangan dalam distribusi tanah (seperti dalam Bab 10), dalam ketimpangan pendidikan dan kesehatan (seperti dalam Bab 9), dan dalam aset-aset penting yang lain.
Distribusi Fungsional
Teori distribusi pendapatan fungsional ini pada dasarnya mempersoalkan persentase penghasilan tenaga kerja secara keseluruhan, bukan sebagai unit-unit usaha atau faktor produksi yang terpisah secara individual, dan membandingkannya dengan persentase pendapatan total yang dibagikan dalam bentuk sewa, bunga, dan laba (masing-masing merupakan perolehan dari tanah, modal uang, dan modal fisik).
(hlm. 230)
Sayangnya, relevansi teori fungsional menjadi kurang tajam karena tidak memperhitungkan pentingnya peranan dan pengaruh kekuatan-kekuatan di luar pasar yang menentukan harga faktor-faktor produksi ini.

(hlm. 231)
Mengukur Kemiskinan Absolut
Garis kemiskinan ditetapkan pada tingkat yang selalu konstan secara riil, sehingga kita dapat menelusuri kemajuan yang diperoleh dalam menanggulangi kemiskinan pada level absolut sepanjang waktu.

(hlm. 232)
Salah satu strategi praktis untuk menentukan garis kemiskinan lokal adalah dengan menetapkan sekelompok makanan yang cukup, yang didasarkan atas persyaratan nutrisi dari penelitian medis tentang kalori, protein, dan mikronutrien yang dibutuhkan tubuh.

(hlm. 232)
Ukuran Foster-Greer-Thorbecke
Seperti dalam ukuran ketimpangan, terdapat beberapa kriteria ukuran kemiskinan yang diinginkan, yang telah diterima secara luas oleh para ekonom pembangunan, yaitu prinsip-prinsip: anonimitas, independensi populasi, monotonisitas, dan sensitivitas distribusional.

(hlm. 233)
Ukuran rasio headcount memenuhi syarat anonimitas, independensi populasi, dan monotonisitas, namun gagal memenuhi syarat sensitivitas distribusional (dengan kata lain, rasio ini tidak akan menghitung dampak diferensial dari kenaikan harga beras). Sedangkan headcount yang sederhana gagal, bahkan untuk memenuhi prinsip independensi populasi.
Dua indeks kemiskinan yang terkenal yang memenuhi keempat kriteria adalah indeks Sen dan bentuk tertentu dari indeks Foster-Greer-Thorbecke (FGT), dan sering disebut sebagai kelas PαP_{\alpha}Pα​ dari ukuran kemiskinan.

(hlm. 234)
Kemiskinan, Ketimpangan, dan Kesejahteraan Sosial
Apa Ruginya dengan Ketimpangan?
Mungkin karena alasan itulah mengapa setiap agama besar selalu menekankan pentingnya bekerja untuk menanggulangi kemiskinan dan paling tidak juga merupakan salah satu alasan mengapa bantuan pembangunan internasional didukung secara universal oleh setiap bangsa yang demokratis.

(hlm. 235)
Pertama, ketimpangan pendapatan yang ekstrem menyebabkan inefisiensi ekonomi.
Alasan kedua yang harus dipertimbangkan menyangkut ketimpangan yang terjadi di antara penduduk yang berada di atas garis kemiskinan adalah bahwa, disparitas pendapatan yang ekstrem melemahkan stabilitas sosial dan solidaritas.

(hlm. 236)
Akhirnya, ketimpangan yang ekstrem pada umumnya dipandang tidak adil. Rawls menyebut ketidakpastian ini sebagai “cadar ketidaktahuan.” Pertanyaannya adalah, dengan menghadapi risiko seperti ini, apakah Anda akan memilih distribusi pendapatan yang lebih merata atau kurang merata dibandingkan dengan yang ada di sekitar Anda? Jika tingkat ketimpangan tidak ada pengaruhnya terhadap tingkat pendapatan atau laju pertumbuhan, sebagian orang akan memilih negara dengan pemerataan yang hampir sempurna.
Untuk semua alasan ini, pada bagian analisis ini kita akan menuliskan rumus kesejahteraan, WWW, sebagai berikut:
W=W(Υ,I,P)W = W( \Upsilon, I, P)W=W(Υ,I,P)
di mana Υ\UpsilonΥ adalah pendapatan per kapita dan berhubungan positif dengan fungsi kesejahteraan kita, III adalah ketimpangan dan berhubungan negatif, dan PPP adalah kemiskinan absolut dan juga berhubungan negatif.

Pembangunan Dualistik dan Pergeseran Kurva Lorenz: Sejumlah Tipologi Khusus
Dalam buku klasiknya yang berjudul Poverty, Inequality, and Development, Gary S. Fields menunjukkan penggunaan kurva Lorenz untuk menganalisis tiga kasus terbatas dalam pembangunan dualistik:

  1. Tipologi pertumbuhan perluasan sektor modern (modern-sector enlargement), di mana usaha pengembangan ekonomi dua-sektor (sektor industri modern dan sektor pertanian tradisional) bertumpu pada pembinaan dan pemekaran ukuran sektor modern dengan mempertahankan tingkat upah di kedua sektor.
  2. Tipologi pertumbuhan pengayaan (enrichment) sektor modern.
  3. Tipologi pertumbuhan pengayaan (enrichment) sektor tradisional.

(hlm. 240)
Hipotesis Kurva U-Terbalik Kuznets
Simon Kuznets mengatakan bahwa pada tahap awal pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan cenderung memburuk, namun pada tahap selanjutnya, distribusi pendapatannya akan membaik.

(hlm. 245)
Bukti Hipotesis Kurva-U Terbalik
Ketimpangan tampaknya merupakan bagian yang stabil dari perwajahan sosioekonomi suatu negara, dan hanya bisa berubah secara signifikan jika terdapat sebuah guncangan yang substansial. Asia Timur mencapai ketimpangan yang relatif rendah sebagian besar karena kekuatan-kekuatan eksternal: penundukan Jepang oleh Amerika, pengambilalihan Taiwan oleh kaum Nasionalis, dan hengkangnya Jepang dari Korea Selatan. Ketimpangan pendapatan yang rendah di Cina merupakan akibat dari revolusi sosial dan resistensi dari penjajahan Jepang, yang terjadi ketika Komunis mengambil alih pemerintahan pada tahun 1949. Dalam keempat kasus tersebut, reformasi pertanahan (land reform) yang menyeluruh diberlakukan, yang efeknya pada penurunan ketimpangan sangat terasa (kita akan membahas hal ini kembali pada Bab 10).

(hlm. 247)
Kemiskinan Absolut: Cakupan dan Ukuran

(hlm. 249)
Pertumbuhan dan Kemiskinan

(hlm. 253)
Selama lebih dari 20 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Cina adalah yang tertinggi di dunia, namun penurunan tingkat kemiskinannya pun yang paling drastis. Peraga 6.17a memperlihatkan bahwa semakin tinggi pendapatan per kapita suatu negara, maka semakin tinggi pula pendapatan rata-rata golongan miskinnya. Hal ini menunjukkan bahwa jurang kemiskinan menyempit seiring dengan naiknya seluruh pendapatan per kapita suatu negara. Peraga 6.17b menunjukkan hubungan antara pertumbuhan pendapatan per kapita dengan tingkat pertumbuhan pendapatan golongan miskin.

(hlm. 255)
Karakteristik Ekonomi Masyarakat Miskin
Kemiskinan di Pedesaan
Agaknya, salah satu generalisasi yang terbilang paling valid mengenai penduduk miskin adalah bahwasanya mereka pada umumnya bertempat tinggal di daerah-daerah pedesaan, dengan mata pencaharian pokok di bidang-bidang pertanian dan kegiatan-kegiatan lainnya yang erat berhubungan dengan sektor ekonomi tradisional (biasanya dilakukan secara bersama-sama), mereka kebanyakan wanita dan anak-anak daripada laki-laki dewasa, dan mereka sering terkonsentrasi di antara kelompok etnis minoritas dan penduduk pribumi.

(hlm. 258)
Kaum Wanita dan Kemiskinan
Sebagai contoh, di India, anak-anak perempuan mengalami kekurangan gizi yang empat kali lebih parah daripada saudara-saudaranya yang pria. Sementara itu, bila mereka sakit, maka anak laki-laki memiliki 40 kali lipat kemungkinan akan dibawa ke rumah sakit.
Oleh karena itu, program perbaikan gizi akan lebih berhasil jika langsung diarahkan kepada kaum wanita, bukannya kepada kaum pria.

(hlm. 260)
Etnik Minoritas, Penduduk Pribumi, dan Kemiskinan
Generalisasi terakhir dari situasi kemiskinan di negara-negara Dunia Ketiga yang perlu kita simak di sini adalah bahwa kemiskinan banyak diderita oleh etnik minoritas dan penduduk pribumi.

(hlm. 262)
Cakupan Pilihan Kebijakan: Beberapa Pertimbangan Dasar
Bidang-bidang Intervensi:

  • Mengubah distribusi fungsional—
  • Memeratakan distribusi ukuran—
  • Meratakan (mengurangi) distribusi ukuran golongan penduduk berpenghasilan tinggi melalui pemberlakuan pajak progresif terhadap pendapatan dan kekayaan pribadi mereka.
  • Meratakan (meningkatkan) distribusi ukuran golongan penduduk berpenghasilan rendah, melalui pengeluaran publik yang dananya bersumber dari pajak untuk meningkatkan pendapatan kaum miskin secara langsung (misalnya melalui “pembayaran transfer” atau disebut pula money transfer) atau tidak langsung (misalnya melalui penciptaan lapangan kerja, pembebasan uang sekolah, pemberian subsidi pendidikan dasar, dan pelayanan kesehatan bagi pria maupun wanita).

(hlm. 265)
Pilihan-pilihan Kebijakan
Perbaikan Distribusi Ukuran Melalui Redistribusi Progresif Kepemilikan Aset-aset
Penyebab nomor satu atas timpangnya distribusi pendapatan per kapita di hampir semua negara berkembang adalah sangat tidak meratanya kepemilikan aset/kekayaan (asset ownership) di negara-negara ini. Alasan dasar mengapa kurang dari 20 persen penduduk terkaya menerima lebih dari 50 persen pendapatan nasional adalah karena kelompok ini memiliki atau menguasai lebih dari 90 persen aset atau sumber daya keuangan dan produktif yang terdapat di dalam masyarakat yang bersangkutan, terutama modal fisik dan tanah juga modal finansial, saham dan obligasi, serta sumber daya manusia (dalam bentuk pendidikan dan kesehatan yang lebih baik).
Oleh karena itu, strategi kebijakan kedua yang mungkin lebih penting dalam rangka mengentaskan kemiskinan serta memperbaiki distribusi pendapatan adalah upaya pengurangan pemusatan penguasaan atau kepemilikan aset tersebut, distribusi kekuasaan yang timpang, serta ketimpangan kesempatan yang ada di sebagian besar negara berkembang.

(hlm. 265)

Pilihan-pilihan Kebijakan Perbaikan Distribusi Ukuran Melalui Redistribusi Progresif Kepemilikan Aset-aset Penyebab nomor satu atas timpangnya distribusi pendapatan per kapita di hampir semua negara berkembang adalah sangat tidak meratanya kepemilikan aset/kekayaan (asset ownership) di negara-negara ini. Alasan dasar mengapa kurang dari 20 persen penduduk terkaya menerima lebih dari 50 persen pendapatan nasional adalah karena kelompok ini memiliki atau menguasai lebih dari 90 persen aset atau sumber daya keuangan dan produktif yang terdapat di dalam masyarakat yang bersangkutan, terutama modal fisik dan tanah juga modal finansial, saham dan obligasi, serta sumber daya manusia (dalam bentuk pendidikan dan kesehatan yang lebih baik). Oleh karena itu, strategi kebijakan kedua yang mungkin lebih penting dalam rangka mengentaskan kemiskinan serta memperbaiki distribusi pendapatan adalah upaya pengurangan pemusatan penguasaan atau kepemilikan aset tersebut, distribusi kekuasaan yang timpang, serta ketimpangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan (penghasilan) yang layak yang merupakan ciri-ciri negara berkembang. Bentuk klasik kebijakan redistribusi (redistribution policies) semacam itu, khususnya yang menyangkut nasib golongan miskin di pedesaan, yang merupakan 70-80 persen dari total penduduk miskin di suatu negara, adalah reformasi hak pertanahan (land reform). Tujuan utama land reform adalah mengubah petani penggarap (buruh tani) atau penyewa tanah menjadi pemilik tanah.

(hlm. 266) Kepemilikan tanah diyakini insentif yang besar untuk meningkatkan produksi dan pendapatan mereka. Namun, seperti yang akan kita simak pada Bab 10 nanti, land reform ternyata kurang bisa diandalkan sebagai instrumen pemerataan pendapatan apabila distorsi harga faktor produksi dan lembaga-lembaga dalam sistem ekonomi yang bersangkutan masih menghambat para petani kecil pemilik tanah untuk mendapatkan berbagai input yang sangat diperlukannya seperti kredit modal kerja, pupuk, bibit, fasilitas pemasaran, dan pelatihan metode pertanian yang paling efisien. Pengurangan Distribusi Ukuran Golongan Atas Melalui Pajak Pendapatan dan Kekayaan yang Progresif Setiap kebijakan nasional yang mencoba memperbaiki standar hidup 40 persen penduduknya yang paling miskin harus didukung oleh sumber-sumber finansial yang memadai agar setiap rencana pemerataan di atas kertas bisa diwujudkan menjadi program-program yang nyata. Salah satu sumber utama yang sangat potensial bagi pembiayaan pembangunan itu adalah pengenaan pajak langsung dan progresif terhadap pendapatan maupun kekayaan. Pajak pendapatan progresif (progressive income tax) langsung itu ditujukan pada pendapatan perusahaan maupun individu,

 (hlm. 267)

di mana yang kaya diminta membayar pajak yang semakin besar persentasenya dari penghasilan total mereka dibandingkan dengan yang miskin. Pajak pada kekayaan (akumulasi aset dan penghasilan) biasanya meliputi pajak properti perseorangan dan perusahaan, namun juga bisa diterapkan terhadap harta warisan secara progresif. Yang jelas, pajak ini diarahkan kepada mereka yang kaya raya. Struktur pajak progresif, dalam pelaksanannya, sering berubah secara ajaib menjadi pajak regresif (regressive tax). Kelompok penduduk miskin langsung dikenai pajak pada sumber pendapatan atau pengeluarannya. Upah mereka langsung dipotong di muka, pajak kekayaan langsung terhitung, dan mereka jugalah yang paling banyak menanggung pajak-pajak tidak langsung (indirect taxes) setiap kali membeli sebuah produk, seperti rokok dan bir. Sebaliknya, penduduk kaya mendapatkan sebagian besar pendapatannya dari aset fisik dan finansialnya, yang sering kali justru sulit dilacak. Mereka juga sering kali memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk menghindari pajak tanpa takut terkena sanksi dari pemerintah. Hal-hal semacam ini menuntut perhatian segera dari pemerintah, karena keberhasilan pemberlakuan perpajakan progresif, khususnya terhadap kelompok yang berpenghasilan paling tinggi, merupakan kunci keberhasilan program-program atau kegiatan redistribusi pendapatan (untuk memperoleh uraian yang lebih lengkap mengenai perpajakan untuk pembangunan, silakan lihat Bab 17 Jilid 2). Pembayaran Transfer Secara Langsung dan Penyediaan Berbagai Barang dan Jasa Publik

(hlm. 268)

Sebagai contoh, program perbaikan gizi dapat diberikan kepada para ibu yang membawa bayinya ke pusat-pusat program pengentasan kemiskinan yang terletak di dalam perkampungan miskin. Meskipun ibu-ibu yang lebih mampu dapat memanfaatkan program ini, mereka tidak akan mempertaruhkan harga dirinya untuk memasuki perkampungan kumuh ini, apalagi memasuki pusat program ini. Program perbaikan gizi ini membantu ibu-ibu yang kurang mampu dan anak-anak mereka agar selalu sehat, sehingga mereka dapat keluar dari lingkaran kemiskinan. Tuntutan pekerjaan yang tinggi dan bayaran yang berupa bahan makanan membuat orang-orang yang mampu tidak bersedia berpartisipasi di dalam pekerjaan infrastruktur itu, sehingga menghemat sumber daya. Karakter seperti ini dikenal sebagai fungsi “penyaringan” dari program-program bantuan ketenagakerjaan (workfare program).

(hlm. 269)

Strategi pendirian bank kampung untuk mencapai tujuan ini, seperti yang dicontohkan oleh Grameen Bank di Bangladesh, dibahas lebih lanjut dalam Bab 17 di Jilid 2.

(hlm. 271)

Studi Kasus Perekonomian India Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian India. Sektor tersebut menyerap lebih dari tiga perempat angkatan kerja serta menyumbangkan 28 persen bagi GDP.

(hlm. 278)

Catatan Belakang 33. Menarik untuk disimak bahwa di Amerika Serikat, yang ketimpangan kepemilikan kekayaannya paling buruk di antara negara-negara maju, Bill Gates, CEO Microsoft, mempunyai kekayaan neto pada 1997 yang sama dengan pendapatan total sekitar 40 juta rumah tangga termiskin di Amerika!

(hlm. 281)

Lampiran 6.1 Teknologi yang Tepat Guna dan Pengadaan Lapangan Model Harga-Insentif

(hlm. 282)

Distorsi Harga-Faktor Produksi dan Teknologi yang Tepat Jika diasumsikan bahwa kebanyakan negara berkembang mempunyai tenaga kerja yang melimpah namun hanya memiliki modal finansial atau modal fisik yang sangat terbatas, wajar saja bila kita menduga bahwa metode produksi yang akan digunakan bersifat padat karya. Namun ternyata kita sering menemukan bahwa teknik produksi di sektor pertanian maupun sektor industri bersifat padat modal dan sangat mekanis. Traktor-traktor besar dan mesin-mesin permanen mewarnai pemandangan pedesaan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, sementara banyak orang hanya menonton di pinggir.

(hlm. 283) Untuk menghilangkan distorsi harga-faktor produksi—akan menghasilkan kesempatan kerja yang lebih luas dan juga penggunaan yang lebih baik atas modal yang langka, melalui pemakaian teknologi produksi yang lebih tepat.

(hlm. 284) Lampiran 6.2 Indeks Kesejahteraan Ahluwalia-Chenery Satu-satunya orang kaya di perekonomian itu masih tetap menguasai semua pendapatannya. Dan GNP, yang seharusnya menjadi indeks kesejahteraan seluruh masyarakat, ternyata hanya mengukur kesejahteraan dari satu orang individu!

(hlm. 285) Contoh numerik yang telah disajikan oleh Persamaan A6.2.4 tersebut di atas merupakan intisari dari pesan yang hendak disampaikan pada bagian pembahasan ini. Yakni, bahwasanya penggunaan laju pertumbuhan GNP sebagai indeks kesejahteraan sosial dan sebagai tolak ukur untuk membandingkan kinerja pembangunan di suatu negara dengan negara-negara lainnya cenderung akan menyesatkan, apalagi jika distribusi pendapatan negara-negara tersebut berbeda satu sama lain. Tingkat pertumbuhan GNP yang biasanya diambil dari angka kenaikan pendapatan agregat itu sesungguhnya lebih banyak mencerminkan peningkatan kesejahteraan yang dialami oleh kelompok-kelompok yang paling makmur, bukan masyarakat secara keseluruhan.

(hlm. 286) Penyusunan Indeks Kesejahteraan Sosial yang Memperhitungkan Kemiskinan Mari kita simak satu lagi contoh kasus. Kita umpamakan saja ada sebuah negara berkembang yang sangat mementingkan perbaikan kecukupan materi bagi 40 persen penduduknya yang paling miskin. Sehubungan dengan hal itu, negara tersebut bermaksud merumuskan indeks pembangunan yang bertumpu pada kemiskinan (poverty-weighted index of development) yang menempatkan nilai-nilai sosial “subjektif” atas tingkat pertumbuhan pendapatan hanya dari 40 persen dari penduduknya yang paling miskin.

(hlm. 287) Tabel A6.2.1
Pertumbuhan Pendapatan Pertambahan Kemakmuran Tahunan

Negara Teratas 20% Menengah 40% Terendah 40% Bobot GNP Bobot Setara Bobot Miskin
Korea Selatan 12,4 9,5 11,0 11,0 10,7 10,5
Taiwan 4,5 9,1 12,1 6,8 9,4 11,1

  1. Gambaran mengenai kinerja ekonomi yang diukur dengan indeks kesetaraan bobot dan indeks kemiskinan akan nampak lebih suram apabila dibandingkan dengan gambaran yang diberikan oleh indeks pertumbuhan GNP.
  2. Di lima negara berkembang (Kolombia, Kosta Rika, El Salvador, Sri Lanka, dan Taiwan), indeks kesetaraan bobot dan indeks kemiskinan justru memperlihatkan gambaran kinerja ekonomi yang lebih baik daripada yang ditunjukkan oleh indikator pertumbuhan GNP.
  3. Sedangkan di empat negara (yakni, Peru, Filipina, Korea Selatan, dan mantan Yugoslavia) tidak banyak nampak perubahan hasil atau gambaran mengenai distribusi pendapatan maupun kinerja ekonomi umumnya selama periode terliput dari ketiga indeks tersebut.

(hlm. 289)

Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan Ekonomi: Penyebab, Konsekuensi, dan Kontroversi Menurut proyeksi PBB, penduduk dunia akan mencapai lebih dari 9,1 miliar jiwa pada tahun 2050 sebelum pada akhirnya mencapai 11 miliar jiwa pada tahun 2200.

(hlm. 290)

Masalah Pokok: Pertumbuhan Penduduk dan Kualitas Hidup Setiap tahunnya sekitar 83 juta manusia baru lahir dan menambah jumlah penduduk dunia yang dewasa ini sudah berjumlah miliaran jiwa.

(hlm. 291)

Kajian Angka: Pertumbuhan Penduduk di Masa Lampau, Masa Kini, dan Masa Mendatang Pertumbuhan Penduduk Dunia Sepanjang Sejarah

(hlm. 294)

Sebagai contoh, tingkat kematian di Afrika, Asia, dan Amerika Latin menurun sampai 50 persen selama 30-40 tahun terakhir ini, sedangkan tingkat kelahirannya baru mulai menurun beberapa waktu lalu.

(hlm. 296)

Struktur Kependudukan Dunia Sebaran Per Wilayah Geografis Jumlah seluruh penduduk dari kelima belas negara tersebut mencapai lebih dari 40 persen penduduk dunia.

(hlm. 298)

Tren Tingkat Kelahiran dan Kematian Rangkaian kampanye vaksinasi guna mencegah berjangkitnya beberapa penyakit seperti malaria, cacar, penyakit kuning, dan kolera, serta peningkatan fasilitas kesehatan umum, penyediaan air bersih, perbaikan gizi, serta pendidikan masyarakat yang telah dijalankan dalam kurun waktu 25 sampai 30 tahun terakhir ini berhasil menurunkan tingkat kematian 50 persen di kawasan Asia dan Amerika Latin, dan lebih dari 30 persen di Afrika dan Timur Tengah.

(hlm. 299)

Struktur Usia dan Beban Ketergantungan

Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin cepat laju pertambahan penduduk, akan semakin besar pula proporsi penduduk berusia muda yang belum produktif dalam total populasi, dan semakin berat pula beban tanggungan penduduk yang produktif.

(hlm. 300)
Momentum Pertumbuhan Penduduk yang Tersembunyi
Yang pertama, tingkat kelahiran itu sendiri tidak mungkin diturunkan hanya dalam waktu satu malam saja. Kekuatan-kekuatan sosial, ekonomi, dan institusional yang mempengaruhi tingkat fertilitas yang telah ada dan bertahan selama berabad-abad tidak mudah hilang begitu saja hanya karena himbauan-himbauan dari para pemimpin nasional.

(hlm. 301)
Sedangkan alasan kedua atas adanya momentum yang tersembunyi tersebut erat sekali kaitannya dengan struktur usia penduduk di negara-negara berkembang.

(hlm. 302)
Walaupun pasangan baru ini mempunyai lebih sedikit anak (katakanlah hanya dua orang dibandingkan dengan orang tua mereka yang rata-rata mempunyai, misalnya, empat orang anak), tetapi jumlah pasangan yang memiliki anak akan tetap tinggi, sehingga pada akhirnya jumlah penduduk tetap tinggi sebelum menurun beberapa saat kemudian.

(hlm. 303)
Transisi Demografi
Pada dasarnya, konsep ini mencoba menerangkan mengapa hampir semua negara yang kini tergolong sebagai negara-negara maju sama-sama telah melewati sejarah populasi modern yang terdiri dari tiga tahapan besar. Sebelum melangsungkan modernisasi ekonomi, negara-negara ini selama berabad-abad mempunyai laju pertambahan penduduk yang stabil atau sangat lambat. Penyebabnya, meskipun angka kelahiran mereka sangat tinggi, angka kematian mereka juga sangat tinggi, bahkan hampir sama tingginya dengan angka kelahiran. Ini adalah tahapan yang pertama. Tahapan yang kedua berlangsung setelah adanya modernisasi, yang kemudian menghasilkan berbagai metode penyediaan pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih baik, makanan yang lebih bergizi, pendapatan yang lebih tinggi, dan berbagai bentuk perbaikan hidup lainnya, sehingga secara perlahan-lahan usia harapan hidup (life expectancy) penduduk di negara-negara yang kini maju itu meningkat dari rata-rata 40 tahun menjadi lebih dari 60 tahun. Dengan demikian, angka kematian mengalami penurunan yang cukup berarti. Akan tetapi, penurunan angka mortalitas tersebut tidak segera diimbangi oleh turunnya tingkat fertilitas. Sebagai akibatnya, laju pertumbuhan penduduk justru mengalami peningkatan tajam bila dibandingkan dengan abad-abad sebelumnya.

(hlm. 304)
Akhirnya, tahapan ketiga segera berlangsung dengan munculnya berbagai macam dorongan dan pengaruh yang bersumber dari upaya-upaya modernisasi serta pembangunan yang menyebabkan turunnya tingkat fertilitas.

(hlm. 305)
Tingkat kelahiran di banyak negara-negara terbelakang sekarang ini jauh lebih tinggi daripada tingkat angka kelahiran yang pernah terjadi di negara-negara Eropa Barat sebelum revolusi industri.

(hlm. 307)
Sebab-sebab Tingginya Tingkat Kelahiran di Negara-negara Berkembang: Model Malthus dan Model Rumah Tangga
Teori Jebakan Populasi Malthus
Malthus melukiskan suatu kecenderungan universal bahwa jumlah populasi di suatu negara akan meningkat sangat cepat pada deret ukur atau tingkat geometrik (pelipatgandaan: 1, 2, 4, 8, 16, 32, dan seterusnya) setiap 30 atau 40 tahun, kecuali jika hal itu diredam oleh bencana kelaparan. Pada waktu yang bersamaan, karena adanya proses pertambahan hasil yang semakin berkurang dari suatu faktor produksi yang jumlahnya tetap, yaitu tanah, maka persediaan pangan hanya akan meningkat menurut deret hitung atau tingkat aritmetik (1, 2, 3, 4, 5, dan seterusnya.)

(hlm. 310)
Kelemahan-kelemahan Model Malthus
Yang pertama, dan yang paling penting, model ini (dan juga Malthus sendiri) melupakan atau tidak memperhitungkan begitu besarnya dampak kemajuan teknologi dalam mengimbangi berbagai kekuatan negatif yang bersumber dari ledakan pertama penduduk. Aspek utama dari pranata pertumbuhan modern ternyata bukan skala penghasilan yang terus menyusut (decreasing returns to scale) seperti dikemukakan Malthus, melainkan skala penghasilan yang terus meningkat (increasing returns to scale).

Kritik mendasar kedua terhadap model Malthus bertumpu pada asumsi yang digunakannya, yaitu bahwa tingkat pertumbuhan penduduk di suatu negara memiliki hubungan langsung (secara positif) dengan tingkat pendapatan per kapita dari negara yang bersangkutan.

(hlm. 312)
Pendekatan yang jauh lebih baik dan sahih (valid) dalam rangka menjawab pertanyaan tentang kependudukan dan usaha-usaha pembangunan mengutamakan aspek-aspek mikroekonomi seperti pengambilan keputusan di tingkat keluarga atau rumah tangga.

(hlm. 313)
Teori Mikroekonomi Fertilitas Rumah Tangga

(hlm. 314)
Pada Peraga 7.11 tersebut hanya terdapat empat buah kurva indiferen, yakni I1 sampai I4. Namun, secara teoritis sebenarnya dalam gambar tersebut dapat ditempatkan kurva-kurva indiferen dalam jumlah tidak terbatas dan di kuadran manapun, yang masing-masing mewakili seluruh kemungkinan kombinasi konsumsi yang ada antara barang-barang dan anak.

(hlm. 316)
Permintaan akan Anak di Negara-negara Berkembang
Dalam sebuah studi empiris yang sangat teliti, Profesor Kuznets mencatat bahwa penduduk di negara-negara berkembang mudah sekali untuk beranak-pinak karena kondisi-kondisi sosial dan ekonomi yang ada di sekitar mereka membuat sebagian besar dari mereka memandang setiap tambahan anak, baik dari sudut kepentingan sosial maupun ekonomi, sebagai tambahan tenaga kerja cuma-cuma bagi keluarga, sebagai suatu perjudian genetis (genetic lottery), maupun sebagai jaminan sosial ekonomi di hari tua guna bertahan hidup di tengah-tengah masyarakat yang minim perlindungan sosial dan cenderung diatur hanya oleh mereka yang berbeda.

(hlm. 319)
Konsekuensi-konsekuensi Tingginya Tingkat Fertilitas: Sejumlah Pendapat yang Saling Bertentangan

(hlm. 320)
Ada Masalah Lain di Balik Pertumbuhan Penduduk
Penyusutan Sumber Daya Alam dan Kerusakan Lingkungan
Sebagai contoh, rata-rata penduduk di kawasan Amerika Utara dan Eropa secara langsung atau tidak langsung mengonsumsi bahan-bahan pangan, energi, dan sumber daya material atau alam lainnya hampir 16 kali lipat lebih besar daripada jumlah yang dikonsumsi oleh rata-rata penduduk negara-negara Dunia Ketiga.

(hlm. 321)
Penyebaran Penduduk
Sementara itu, banyak wilayah lainnya yang terlalu banyak penduduknya (misalnya, di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, dan sebagian besar kota-kota besar di negara-negara berkembang).

(hlm. 327)
Sasaran dan Tujuan: Menuju Suatu Konsensus

(hlm. 334)
Apa yang Bisa Dilakukan Negara-negara Maju: Sumber Daya, Populasi, dan Lingkungan Global
Rata-rata konsumsi biji-bijian penduduk di kawasan Amerika Utara, baik yang langsung maupun yang tidak langsung, menghabiskan sumber-sumber daya pertanian (tanah, pupuk, air) lima kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan konsumsi di negara-negara berkembang seperti India, Nigeria, atau Kolombia.

(hlm. 338)
Studi Kasus Perekonomian Cina
Sektor industri di pedesaan berkembang pesat sampai meliputi 23 persen output pertanian dan mampu menyerap surplus tenaga kerja di daerah-daerah pedesaan.

(hlm. 347)
8 Urbanisasi dan Migrasi Desa-Kota: Teori dan Kebijakan
Dilema Migrasi dan Urbanisasi

(hlm. 349)
Ringkasnya, urbanisasi dapat terjadi di mana saja di seluruh dunia, meskipun pada laju yang berbeda.

(hlm. 351)
Bagaimana kota-kota di negara-negara paling miskin tersebut akan mengatasi aneka persoalan, baik itu yang berdimensi ekonomi, lingkungan hidup, maupun yang berimensikan politik, akibat pemusatan penduduk yang begitu banyak.

(hlm. 353)
Pemukiman-pemukiman serba jorok dan jauh dari standar kesehatan maupun kenyamanan hidup seperti favela di kota Rio de Janeiro, pueblos jóvenes di Lima, bustees di Kalkuta, dan bidonvilles di Dakar jumlahnya terus meningkat menjadi dua kali lipat setiap lima hingga sepuluh tahun.

(hlm. 354)
Kekeliruan perumusan dan/atau pelaksanaan kebijakan pemerintah dalam pengembangan daerah perkotaan serta perencanaan tata kota yang juga acapkali ketinggalan zaman mengakibatkan 80 persen hingga 90 persen perumahan yang ada di daerah perkotaan sekarang ini tergolong “ilegal”. Sebagai contoh, peraturan tata kota peninggalan penjajah yang masih dipakai oleh pemerintah daerah Nairobi, Kenya, tidak mengizinkan pembangunan rumah “resmi” yang biaya totalnya kurang dari $3.500. Peraturan ini juga mengharuskan setiap pemilik rumah membangun kediamannya di suatu lokasi yang bisa dijangkau oleh mobil. Akibatnya, dua pertiga wilayah kota di Nairobi hanya dihuni oleh 10 persen penduduk terkaya, sementara selebihnya terpaksa tinggal di sekitar 100.000 unit pemukiman kumuh yang ilegal. Demikian pula halnya di Manila, Filipina, 88 persen penduduknya terlalu miskin untuk membeli atau menyewa rumah-rumah permanen yang dikategorikan “legal”.

(hlm. 356)
Peranan Kota
Apa yang dapat menjelaskan hubungan yang erat antara urbanisasi dan pembangunan? Secara umum, sebuah kota terbentuk karena dapat memberikan keunggulan dari segi biaya kepada produsen dan konsumen, melalui apa yang dikenal sebagai ekonomi aglomerasi (agglomeration economies).

(hlm. 357)
Distrik Industri
Keuntungan ini juga merupakan bentuk ekonomi aglomerasi, yaitu bagian dari manfaat yang disebut oleh Alfred Marshall sebagai “distrik industri (industrial districts),” yang memainkan peranan penting sebagai klaster (clusters) dalam teori keunggulan kompetitif yang dikemukakan oleh Michael Porter.

(hlm. 358)
Mengutip yang ditemukan oleh Hermine Weijland dalam studinya tentang Jawa, Indonesia, “hanya membutuhkan beberapa tahun pengembangan pasar untuk mendapatkan keuntungan dari dijalankannya program perdagangan yang melibatkan pihak luar dan upaya-upaya bersama yang terintegrasi.”

(hlm. 359)
Skala Perkotaan yang Efisien
Pada daerah kota yang luas, para pekerja akan bertempat tinggal semakin ke pinggir dan memicu membesarnya biaya transportasi dan dapat saja meminta tingkat upah yang mencerminkan biaya yang harus mereka tanggung tersebut. Sebagai tambahan, biaya infrastruktur seperti air dan sistem pembuangan adalah lebih tinggi pada daerah kota yang padat. Menurut teori, apabila biaya transportasi barang jadi tinggi, dan konsumen lebih memilih untuk bertempat tinggal di kota yang terbesar untuk sebisa mungkin menghindari biaya transportasi tersebut, maka aktivitas ekonomi akan terkonsentrasi besar-besaran dalam sebuah kota saja (dikenal sebagai efek “lubang hitam”), tetapi secara umum biaya untuk meningkatkan sistem transportasi dalam sebuah negara lebih rendah daripada mencoba memelihara kompleks kota yang terlalu besar.

(hlm. 360)
Dua teori seputar ukuran kota yang dikenal secara umum adalah model hierarki kota atau teori tempat sentral (urban hierarchy model/central place theory), dan model tanah terdiferensiasi (differentiated plane model). Pada model yang pertama, menurut August Losch dan Walter Christaller, berbagai pabrik dari industri yang berbeda-beda memiliki radius karakteristik pasar yang dihasilkan dari pengaruh tiga faktor: skala ekonomi dalam produksi, biaya transportasi, dan bagaimana persebaran permintaan terhadap tanah bila dibandingkan dengan tempat yang tersedia.

(hlm. 361)
Masalah yang Ditimbulkan Kota Raksasa
Pada kasus London dan Paris, sistem transportasinya dirancang pada zaman Kekaisaran Romawi untuk mendukung pergerakan tentara dari ibu kota ke kota lain untuk menekan pemberontakan. Motivasi yang serupa juga muncul pada rancangan sistem-sistem yang lebih baru, yaitu pada koloni Inggris dan Prancis di Afrika dan pada koloni Spanyol di Amerika Tengah dan Selatan.

(hlm. 362)
Kota yang paling besar di Amerika Serikat, kota metropolitan New York, memiliki populasi sebesar 6% dari total populasi nasional (atau 3% bila hanya menghitung kota New York saja, tanpa mempertimbangkan daerah pinggiran kotanya). Toronto, daerah metropolitan terbesar di Kanada, memiliki 4,3 juta penduduk, yang merupakan 14% dari populasi keseluruhan secara nasional. Namun Mexico City menampung lebih besar dari seperlima populasi nasional Meksiko, Montevideo berpenduduk dua perlima populasi Uruguay, Lima ditempati sekitar seperlima penduduk Peru, dan Buenos Aires serta Santiago masing-masing dipenuhi penduduk yang berjumlah 35% dari populasi Argentina dan Chile. Sementara itu Brasil lebih terdesentralisasi, walaupun Sao Paulo ditempati lebih dari 11% dari populasi nasional.

(hlm. 363)
Penyebab Timbulnya Kota Raksasa
Salah satu pemikiran yang diajukan oleh Paul Krugman menekankan bahwa dengan kondisi industri substitusi impor (lihat Bab 13), dengan tingkat proteksi yang tinggi, akan memicu perdagangan internasional yang menurun, dan populasi serta aktivitas perekonomian memiliki kecenderungan untuk berpusat di satu kota saja, sebagian besar dengan alasan untuk menghindari biaya transportasi. Sehingga, perusahaan akan lebih memilih untuk menjalankan operasi di kota yang menjadi tempat hidup sebagian besar konsumennya, yang kemudian menarik lebih banyak lagi penduduk untuk datang ke daerah tersebut untuk mencari pekerjaan dan mungkin harga yang lebih rendah (dimungkinkan karena hanya ada lebih sedikit biaya transportasi yang harus ditanggung oleh pembeli akhir); pemusatan ini pada gilirannya akan menarik lebih banyak lagi perusahaan dan konsumen dalam sebuah lingkaran sebab-akibat yang terus-menerus terjadi.

(hlm. 364)
Dalam menerjemahkan penemuan ini, Alberto Alesina dan Edward Glaeser mengemukakan bahwa kediktatoran yang tidak stabil (dalam ketakutan akan adanya kudeta) harus menyediakan “makanan dan hiburan (bread and circuses)” pada kota yang terbesar (biasanya ibu kota) untuk mencegah pergolakan sosial; permasalahan kota besar yang ekstrem ini pada gilirannya akan memicu lebih banyak migrasi ke kota favorit, sehingga kebutuhan akan makanan dan hiburan akan terus ada.

(hlm. 365)
Masalah ibu kota raksasa ini juga dapat dilihat sebagai sebuah bentuk jebakan keterbelakangan (underdevelopment trap), yang dapat saja dihindari secara keseluruhan melalui pemberlakuan kebijakan yang demokratis bersama dengan keseimbangan iklim kompetisi untuk mengadakan ekspor maupun memenuhi konsumsi domestik.

(hlm. 366)
Tabel 8.6
Perkiraan Persentase Tenaga Kerja Perkotaan dalam Sektor Informal di Beberapa Negara-negara Berkembang

Wilayah Persentase (%)
Indonesia 45

(hlm. 367)
Sektor informal terus memainkan peran yang penting di negara berkembang, meskipun selama bertahun-tahun diabaikan atau justru dimusuhi. Di banyak negara berkembang, sekitar setengah dari penduduk perkotaan bekerja di sektor informal.

(hlm. 368)
Umumnya, mereka yang berada di sektor informal adalah pendatang baru dari daerah pedesaan atau kota kecil yang gagal memperoleh tempat di sektor formal.

(hlm. 370)
Badan-badan pembangunan benar-benar menekankan pembangunan pedesaan secara retoris, dengan menanggapi tradisi pembangunan yang kuat yang berawal dari skeptisisme Lewis mengenai sektor informal perkotaan, dikembangkan dengan model migrasi Todaro (akan dibahas nanti di bab ini) yang menekankan konsekuensi negatif bias perkotaan dalam efisiensi dan pemerataan.

(hlm. 371)
Ada beberapa argumen lain yang turut menggarisbawahi pentingnya promosi sektor informal. Pertama, bukti yang ada menunjukkan bahwa sektor informal mampu menciptakan surplus, di tengah-tengah lingkungan yang kurang bersahabat sekalipun, yang menghalangi akses untuk mendapatkan berbagai fasilitas kredit, valuta asing, dan konsesi pajak. Jadi, surplus yang dihasilkannya terbukti menjadi pendorong yang amat positif bagi pertumbuhan ekonomi perkotaan. Kedua, sebagai akibat dari rendahnya intensitas permodalan, sektor informal hanya memerlukan atau menyerap sebagian kecil modal dari jumlah modal yang diperlukan oleh sektor formal untuk mempekerjakan sejumlah tenaga kerja yang sama. Ini merupakan salah satu cara penghematan yang cukup besar bagi negara-negara berkembang yang sering menghadapi kesulitan atau kekurangan modal. Ketiga, sektor informal juga mampu memberikan latihan kerja dan magang dengan biaya yang sangat murah apabila dibandingkan dengan biaya yang dituntut oleh lembaga-lembaga dalam sektor formal, sehingga sektor informal dapat memainkan peranan yang penting dalam rangka formasi atau pembangunan dan pembinaan sumber daya manusia. Keempat, sektor informal menciptakan permintaan atas tenaga kerja semiterlatih dan kurang ahli yang jumlahnya secara absolut maupun relatif (persentase terhadap total angkatan kerja) terus meningkat dan yang tidak mungkin terserap oleh sektor formal yang hanya mau menerima tenaga kerja terampil. Kelima, sektor informal lebih banyak dan lebih mudah menerapkan teknologi tepat guna serta memanfaatkan segenap sumber daya lokal, sehingga memungkinkan alokasi sumber daya yang lebih efisien. Keenam, sektor informal memainkan peranan yang sangat penting dalam proses daur ulang limbah atau sampah. Di sektor ini, segala macam barang yang sudah dibuang dapat dimanfaatkan kembali, mulai dari kaleng-kaleng bekas, kertas sisa, puntung rokok, dan sebagainya. Barang-barang yang telah dicampakkan ke tong sampah itu kemudian terbukti masih bisa masuk ke sektor industri dan dijadikan komoditi pokok bagi kalangan berpenghasilan rendah. Argumen ketujuh atau yang terakhir, promosi sektor informal itu akan memeratakan distribusi hasil-hasil pembangunan kepada penduduk miskin, yang kebanyakan terpusat di sektor informal.

(hlm. 372)
Pertama-tama, pemerintah harus menghilangkan atau mengurangi sikapnya yang bermusuhan terhadap sektor informal, serta menggantinya dengan sikap yang lebih positif dan simpatik. Sekadar untuk memperoleh secarik surat izin, seorang wiraswastawan kecil di Ekuador harus menunggu selama 240 hari. Jika orang itu ada di Venezuela, maka waktu tunggunya bertambah menjadi 310 hari. Kalau ia ada di Guatemala, Brasil, Meksiko, dan Cili, maka ia harus menunggu selama lebih dari setahun, atau tepatnya 525 hari. Di negara-negara ini Anda harus mengisi sekitar 20 jenis formulir yang berbeda untuk mendapatkan izin usaha.

(hlm. 373)
Kaum Wanita dalam Sektor Informal
Di kalangan penduduk miskin di Brasil, keluarga-keluarga yang dikepalai oleh pria memiliki peluang empat kali lebih besar daripada keluarga-keluarga yang dikepalai oleh wanita dalam mendapatkan jasa-jasa pelayanan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah. Tingkat putus sekolah di kalangan anak-anak dari keluarga yang dikepalai wanita juga jauh lebih tinggi. Produk yang paling sering digeluti adalah makanan buatan sendiri atau barang-barang kerajinan tangan. Sebenarnya kalau dihitung dari jumlah modal yang digunakan, tingkat pengembalian atau rate of return unit usaha mikro yang ditekuni oleh kaum wanita itu sangat tinggi. Hanya saja tenaga dan waktu yang mereka curahkan sangat banyak (misalnya, mereka harus menjajakan dagangannya selama seharian hanya untuk mendapatkan sejumlah uang untuk makan keluarganya selama satu atau dua hari saja), sehingga apabila dihitung berdasarkan rasio modal-tenaga kerja, tingkat produktivitas mereka sangat rendah. Berbagai studi yang pernah diadakan di Amerika Latin dan Asia menunjukkan bahwa seandainya kaum wanita itu bisa memperoleh kredit untuk membiayai unit usaha mikronya, mereka akan mampu mendapatkan tingkat keuntungan yang jauh lebih tinggi daripada yang bisa diraih oleh kaum pria yang menjalankan usaha yang sama (lihat Bab 17 Jilid II). Karena kaum wanita mampu mencetak lebih banyak pendapatan dari sejumlah modal, maka tingkat pengembalian investasi (rates of return on investment) mereka jauh lebih tinggi daripada kaum pria. Meskipun sejumlah program penyediaan kredit khusus bagi kaum wanita terbukti sangat berhasil, sampai sekarang sumber-sumber kredit yang tersedia bagi mereka masih sangat sedikit. Hampir seluruh kredit yang ada disalurkan melalui lembaga-lembaga resmi atau instansi di sektor formal.

(hlm. 375)
Migrasi dan Pembangunan
Migrasi desa-kota (rural-urban migration) ternyata pernah dipandang sebagai suatu hal yang positif dalam kepustakaan ilmu ekonomi pembangunan pada umumnya. Migrasi internal (berlangsung dalam satu negara) dianggap sebagai proses alamiah yang akan menyalurkan surplus tenaga kerja di daerah-daerah pedesaan ke sektor industri modern di kota-kota yang daya serapnya lebih tinggi.

(hlm. 378)
Jenis migrasi yang paling penting jika ditinjau dari sudut pandang pembangunan jangka panjang adalah migrasi dari desa ke kota (rural-urban migration), namun migrasi dari desa ke desa, kota ke kota, dan bahkan migrasi dari kota ke desa pun terjadi dalam jumlah besar. Namun demikian, migrasi dari kota ke desa juga penting untuk dipahami karena hal ini biasanya terjadi ketika masa-masa sulit di perkotaan berbarengan dengan kenaikan harga output dari tanaman perkebunan andalan negara yang bersangkutan; contoh terbarunya adalah Ghana.

(hlm. 379)
Menuju Teori Ekonomi tentang Migrasi Desa-Kota
Seperti telah kita bicarakan secara panjang lebar pada Bab 3, pembangunan ekonomi di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat berkaitan erat dengan, dan pada kenyataannya didefinisikan sebagai, perpindahan tenaga kerja dari daerah pedesaan ke kota-kota.

(hlm. 380)
Deskripsi Verbal Tentang Model Todaro
Oleh karena itu, keputusan untuk melakukan migrasi juga merupakan suatu keputusan yang telah dirumuskan secara rasional; para migran tetap saja pergi, meskipun mereka tahu betapa tingginya tingkat pengangguran yang ada di daerah-daerah perkotaan.

(hlm. 382)
Jadi, sepanjang nilai sekarang (present value) dari penghasilan bersih yang diharapkan selama kurun waktu yang diperhitungkannya melebihi pendapatan yang bisa diperoleh di pedesaan, maka keputusan untuk bermigrasi tetap dapat dibenarkan. Pada dasarnya, inilah proses yang diungkapkan pada Peraga 8.8. Dengan demikian, migrasi dari desa ke kota bukanlah suatu proses positif yang menyelamatkan tingkat upah di kota dan di desa seperti yang diungkapkan oleh model-model kompetitif, melainkan kekuatan yang menyeimbangkan jumlah pendapatan yang diharapkan (expected income) di pedesaan serta perkotaan.

(hlm. 383)
Sebuah Penyajian Diagramatis
Sesuai dengan asumsi full employment, segenap tenaga kerja yang tersedia akan terserap habis oleh kedua sektor ekonomi tersebut.

(hlm. 385)
Kemungkinan mendapatkan pekerjaan di perkotaan berkaitan langsung dengan tingkat lapangan pekerjaan di perkotaan, sehingga berbanding terbalik dengan tingkat pengangguran di perkotaan.

(hlm. 386)
Lima Implikasi Kebijakan
Pertama, ketimpangan kesempatan kerja antara kota dan desa harus dikurangi.
Kedua, pemecahan masalah pengangguran tidak cukup hanya dengan menciptakan lapangan kerja di kota. Upah di perkotaan biasanya tiga sampai empat kali lipat upah di pedesaan.
Ketiga, pengembangan pendidikan yang berlebihan dapat mengakibatkan migrasi dan pengangguran. Pekerjaan yang sebelumnya cukup dikerjakan oleh para lulusan sekolah dasar saja (tukang sapu, pesuruh, juru ketik, satpam, kerani, dan sebagainya), sekarang mulai diisi oleh mereka yang berpendidikan lebih tinggi. Demikian pula, pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh lulusan sekolah menengah (pegawai tata usaha, pengetik, pemegang buku, dan sebagainya) sekarang harus dikerjakan oleh orang yang punya gelar dari universitas. Proses “pemborosan” intelektual ini akan terus terjadi selama para pencari kerja tidak memiliki peluang yang lebih baik.

(hlm. 387)
Keempat, pemberian subsidi upah dan penentuan harga faktor produksi tradisional (tenaga kerja) justru menurunkan produktivitas. Jika upah ditetapkan terlalu tinggi sehingga melampaui upah pasar atau upah yang “sebenarnya”, maka para produsen akan mengalihkan metode produksinya dari teknologi padat karya ke teknologi padat modal.
Terakhir, program pembangunan desa terpadu harus dipacu. Setiap kebijakan yang hanya ditujukan untuk memenuhi sisi permintaan kesempatan kerja di kota, seperti subsidi upah, rekrutmen pegawai lembaga-lembaga pemerintah, penghapusan distorsi harga faktor-faktor produksi dan penyediaan insentif perpajakan bagi para majikan, dalam jangka panjang ternyata tidak begitu efektif untuk meniadakan atau menanggulangi masalah pengangguran bila dibandingkan dengan kebijakan-kebijakan yang khusus dirancang untuk mengatur secara langsung penawaran tenaga kerja ke wilayah perkotaan.

(hlm. 389)
Rangkuman dan Kesimpulan: Pembentukan Strategi yang Komprehensif bagi Penanggulangan Masalah Migrasi dan Kesempatan Kerja

  1. Penciptaan keseimbangan ekonomi yang memadai antara desa dan kota.
  2. Perluasan industri-industri kecil yang padat karya.
  3. Penghapusan distorsi harga faktor-faktor produksi.
  4. Pemilihan teknologi produksi padat karya yang tepat.
  5. Pengubahan keterkaitan langsung antara pendidikan dan kesempatan kerja. Karena pekerjaan di sektor modern berkembang lebih lambat daripada jumlah orang yang menyelesaikan pendidikan, maka diperlukan perpanjangan masa penyelesaian studi dan seleksi yang lebih ketat terhadap lulusannya.
  6. Pengurangan laju pertumbuhan penduduk.
  7. Mendesentralisasikan kewenangan ke kota dan daerah sekitarnya.

(hlm. 392)
Studi Kasus Perekonomian Meksiko

(hlm. 404)
9 Modal Manusia: Pendidikan dan Kesehatan dalam Pembangunan Ekonomi

(hlm. 404)
9 Modal Manusia: Pendidikan dan Kesehatan dalam Pembangunan Ekonomi
Peran Sentral Pendidikan dan Kesehatan
Pada tahun 1950, sebanyak 280 dari setiap 1.000 anak di semua negara berkembang meninggal sebelum mencapai usia lima tahun.

(hlm. 405)
Pada tahun 2000, angka tersebut telah menurun menjadi 126 per 1.000 di negara-negara miskin, dan 39 per 1.000 di negara-negara berpendapatan menengah (bandingkan dengan 6 per 1.000 di negara-negara berpendapatan tinggi).

(hlm. 411)
Peningkatan Kesehatan dan Pendidikan: Mengapa Peningkatan Pendapatan Saja Tidak Cukup

(hlm. 412)
Perhatikan bahwa meskipun elastisitas pendapatan untuk kalori lebih tinggi daripada perkiraan tradisional yang mendekati nol—katakanlah, sebesar 0,3 hingga 0,5 seperti yang diperkirakan Shankar Subramanian dan Angus Deaton dengan menggunakan strategi statistik yang lebih baru—kalori tidak sama dengan nutrisi; dan nutrisi yang dikonsumsi oleh si pencari nafkah tidak sama dengan nutrisi yang diperoleh anak-anaknya.

(hlm. 413)
Investasi dalam Bidang Pendidikan dan Kesehatan: Pendekatan Modal Manusia

(hlm. 416)
Perhatikan bahwa tingkat pengembalian swasta atas pendidikan primer di Afrika sub-Sahara dan Asia adalah sekitar 40 persen! Terlepas dari pengembalian yang luar biasa ini, banyak keluarga tidak melakukan investasi ini, karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk meminjam bahkan sejumlah uang yang sangat sedikit yang dibawa pulang ke rumah oleh seorang anak yang bekerja untuk keluarganya.

(hlm. 421)
Kesenjangan Gender: Wanita dan Pendidikan

(hlm. 422)
Konsekuensi Bias Gender dalam Bidang Kesehatan dan Pendidikan
Berbagai penelitian di negara-negara berkembang secara konsisten memperlihatkan bahwa ekspansi dalam pendidikan dasar anak-anak perempuan memberikan tingkat pengembalian yang paling tinggi di antara semua jenis investasi—lebih besar daripada tingkat pengembalian yang dihasilkan dari kebanyakan proyek infrastruktur publik, misalnya.

(hlm. 425)
Sistem Pendidikan dan Pembangunan
Penawaran dan Permintaan Pendidikan: Hubungan Antara Kesempatan Kerja dan Permintaan Pendidikan
Dari uraian singkat ini kita sudah mengetahui bahwa sebenarnya permintaan terhadap pendidikan itu merupakan suatu “permintaan tidak langsung” atau permintaan turunan (derived demand), yakni permintaan terhadap kesempatan memperoleh pekerjaan berpenghasilan tinggi di sektor modern.

(hlm. 426)
Sebenarnya masih ada beberapa variabel penting lainnya yang kebanyakan bersifat nonekonomi (misalnya, pengaruh tradisi budaya, gender, status sosial, pendidikan orang tua, dan besarnya anggota keluarga), yang sangat mempengaruhi tingkat permintaan terhadap pendidikan. Namun, dengan memusatkan perhatian pada keempat variabel tersebut di atas, kita sudah bisa memperoleh gambaran yang terpenting serta menyeluruh mengenai hubungan antara tingkat permintaan terhadap pendidikan dengan tingkat penawaran kesempatan kerja.

(hlm. 427)
Kondisi hipotesis seperti ini sebenarnya sangat mendekati realistis situasi kesempatan kerja dan pendidikan yang sesungguhnya di banyak negara-negara Dunia Ketiga.

(hlm. 428)
Pula suatu tendensi yang sulit dihindari, yaitu naiknya pengangguran di kalangan penduduk yang berpendidikan lebih tinggi lagi, karena kesempatan kerja yang tersedia bagi mereka yang berpendidikan sekolah menengah, dan bahkan untuk para lulusan perguruan tinggi semakin terbatas. Setelah beberapa waktu lamanya menganggur, dan seiring dengan itu harapan-harapan mereka pun terus melemah, maka pada akhirnya orang-orang yang berpendidikan tinggi tersebut terpaksa menerima jenis-jenis pekerjaan atau profesi yang sebenarnya hanya memerlukan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Ijazah dan gelar oleh karenanya menjadi persyaratan dasar untuk bekerja saja, dan bukan lagi menjadi suatu jaminan untuk mendapatkan pekerjaan yang berpenghasilan tinggi seperti yang diinginkan semula.

(hlm. 429)
Manfaat dan Biaya Sosial versus Manfaat dan Biaya Individual
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin tinggi penghasilan yang diharapkannya sehingga lebih besar dari biaya-biaya pribadi yang harus dikeluarkannya.

(hlm. 430)
Nampak bahwa kurva manfaat sosial mula-mula menanjak secara tajam, yang mencerminkan terjadinya perbaikan tingkat produktivitas dari, katakanlah, petani-petani kecil dan para wiraswastawan kecil, yang dihasilkan oleh pendidikan dasar (basic education) dan perolehan kemampuan baca tulis, keterampilan menghitung, serta keterampilan profesi dasar lainnya. Setelah itu, manfaat sosial marjinal (marginal social benefits) dari tahun-tahun tambahan bersekolah akan meningkat secara lebih lambat, dan kurva manfaat sosial mulai mendatar.

(hlm. 431)
Secara umum, ketimpangan atau perbedaan antara manfaat dan biaya sosial di satu sisi dengan manfaat dan biaya individual di sisi yang lain sebenarnya telah diciptakan secara artifisial melalui kebijakan-kebijakan pemerintah dan swasta yang kurang tepat, seperti terus dipertahankannya selisih upah, selektivitas pendidikan, serta penentuan harga (pricing) jasa pendidikan yang tidak tepat. Selama berbagai sinyal “harga” ini tidak disesuaikan agar mendekati realistis sosial, maka misalokasi sumber daya nasional (dalam hal ini adalah terlalu besarnya pengeluaran untuk pendidikan formal) akan terus terjadi dan bahkan akan menjadi semakin buruk.

(hlm. 432)
Kedua, bagi mereka yang telah menyesuaikan diri dengan “menurunkan” harapan mereka dan mencari pekerjaan yang seadanya di sektor modern, biasanya akan mendapatkan pekerjaan yang sebenarnya tidak memerlukan tingkat pendidikan yang mereka miliki. Adanya sejumlah pekerja yang menerima upah terlalu tinggi, banyaknya karyawan yang pendidikannya terlalu tinggi dibandingkan dengan porsi tugasnya, dan terutama menumpuknya tenaga-tenaga berpendidikan di jajaran pengangguran, semuanya ini jelas merupakan bentuk-bentuk misalokasi sumber daya manusia yang sangat mencolok.

(hlm. 433)
Distribusi Pendidikan
Analisis sebelumnya mengenai berbagai hal yang menyebabkan pendidikan terlalu tinggi (overeducation) tidak perlu mengecilkan hati kita atas kemungkinan terpacunya pembangunan melalui pendidikan yang lebih baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

(hlm. 434)
Kenyataan bahwa sistem pendidikan tingkat menengah di suatu negara lebih baik daripada yang lain, misalnya, diabaikan. Tentu saja, kualitas pendidikan jauh lebih baik di negara yang berpendapatan tinggi (Eropa, misalnya) daripada di negara yang berpendapatan rendah (Afrika, misalnya).

(hlm. 436)
Pendidikan, Ketimpangan Pendapatan, dan Kemiskinan
Mengingat sebagian besar mahasiswa universitas berasal dari golongan berpendapatan tinggi (karena telah diseleksi sewaktu di tingkat sekolah lanjutan), pendidikan universitas yang biaya-biayanya sering kali disubsidi dengan menggunakan uang pajak yang bersumber dari masyarakat luas itu pada akhirnya justru hanya akan dinikmati oleh mereka yang berasal dari keluarga relatif makmur. Dengan demikian, akan tercipta suatu proses yang sangat ironis serta menyedihkan, yakni “transfer payment” dari golongan miskin kepada golongan kaya yang berlangsung melalui program pendidikan tinggi yang “gratis”!

(hlm. 438)
Pendidikan, Migrasi Internal, dan Pengurasan Intelektual
Ini merupakan suatu kenyataan yang menyedihkan, karena setelah mereka memperoleh pendidikan di negara-negara asalnya dengan biaya sosial yang sangat besar, mereka justru mencari keuntungan dari dan berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi negara yang sudah kaya.

(hlm. 440)
Sistem Kesehatan dan Pembangunan
Pengukuran dan Distribusi
World Health Organization, sebuah lembaga penting PBB yang menangani masalah kesehatan global, mencantumkan definisi kesehatan pada halaman web-nya: “Sebuah kondisi kesejahteraan fisik, mental, serta sosial, dan bukan sekadar bebas dari penyakit serta kelemahan fisik.”

(hlm. 445)
Malaria dan Cacing Parasit
Penyakit lain yang membandel, yaitu trypanosomiasis Afrika, atau penyakit tidur, masih menjangkiti hingga setengah juta orang di Afrika sub-Sahara, kebanyakan di daerah-daerah terpencil.

(hlm. 448)
Kesehatan dan Produktivitas
Berbagai studi menunjukkan bahwa orang-orang yang sehat menerima upah yang lebih tinggi. Pemenang Hadiah Nobel Robert Fogel menemukan bahwa dewasa ini penduduk di negara maju secara substansial lebih tinggi dibandingkan generasi kakeknya dua abad yang lalu, dan berpendapat bahwa tinggi badan adalah indeks kesehatan yang bermanfaat dan mencerminkan kondisi kesejahteraan sebuah masyarakat secara umum.

(hlm. 449)
John Strauss dan Duncan Thomas menemukan bahwa pria yang lebih tinggi dapat memperoleh penghasilan yang lebih banyak di Brasil, bahkan setelah mengisolasi determinan pendapatan lain yang penting seperti pendidikan dan pengalaman.

(hlm. 450)
Tinggi badan mencerminkan berbagai manfaat yang diperoleh pada masa-masa awal kehidupan; jadi dampak yang dirasakan bukan hanya penghasilan yang diperoleh saat ini dengan tinggi badan saat ini. Secara khusus, orang yang tinggi menerima lebih banyak pendidikan secara signifikan dibandingkan rekannya yang pendek.

(hlm. 451)
Kebijakan Sistem Kesehatan

(hlm. 453)
Para dokter yang dilatih dengan subsidi masyarakat sering memilih untuk berspesialisasi di kawasan-kawasan kaya di kota-kota atau bermigrasi ke negara maju.

(hlm. 454)
Sebuah contoh yang terkenal adalah Program Pendidikan, Kesehatan, dan Gizi Meksiko (PROGRESA). Salah satu fitur inti dari program PROGRESA ini adalah paket terpadu untuk meningkatkan status pendidikan, kesehatan, dan nutrisi keluarga-keluarga miskin.

(hlm. 456)
Studi Kasus Perekonomian Mesir
Republik Arab Mesir ini merupakan contoh yang sangat mencolok dari biaya ekonomis dan sosial atas pesatnya perluasan pendidikan tinggi, yang mana pekerja dengan sertifikat sekolah menengah ataupun sekolah menengah lanjutan mendapatkan jaminan kerja dari pemerintah. Jaminan kerja yang diberikan seumur hidup, bersama dengan berbagai tunjangan yang melimpah, mendorong lonjakan permintaan terhadap pendidikan menengah dan pendidikan tingkat universitas, bahkan ketika hampir separuh dari populasi masih buta huruf.

(hlm. 457)
Sembilan sekolah kedokteran milik negara di Mesir meluluskan sekitar 3.500 dokter per tahun. Jumlah ini sudah cukup memenuhi kebutuhan Mesir akan tenaga dokter. Namun, sejumlah besar dokter Mesir memilih untuk bermigrasi ke negara-negara Arab lainnya, juga ke Afrika, Inggris, dan Amerika Serikat, sehingga menjadi masalah brain drain yang cukup meresahkan. Meskipun sektor swasta Mesir mengalami peningkatan, perusahaan-perusahaan milik negara masih dominan di dalam industri dan mempekerjakan sekitar 1,3 juta orang.

(hlm. 459)
Setelah itu, Pemerintah Mesir memulai peninjauan ulang besar-besaran atas kebijakan ekonominya, yang bertujuan untuk mendorong peran yang lebih besar dari sektor swasta. Program ini membuat Mesir berhak mendapatkan bantuan keuangan tambahan dari IMF. Sedemikian jauh, berdasarkan sejumlah indikator ekonomi makro, program reformasi ini terbukti sukses. Defisit perdagangan Mesir menurun hingga di bawah $4 miliar pada 1996, dan neraca berjalannya berubah dari defisit menjadi surplus walaupun sedikit. Inflasi turun dari 20% menjadi 5,4%, dan berkat pengurangan subsidi energi dan diperkenalkannya pajak penjualan sebesar 10%, defisit anggaran pemerintah terus menurun. Tingkat pertumbuhan GDP meningkat dari di bawah 1% pada tahun 1980-an hingga lebih dari 4% pada tahun 1990-an.

(hlm. 468)
10 Transformasi Pertanian dan Pembangunan Daerah Pedesaan
Arti Penting Kemajuan Sektor Pertanian dan Pembangunan Daerah Pedesaan
Sedangkan di Afrika, rasio tersebut jauh lebih tinggi lagi di mana lebih dari tiga perempat dari jumlah total penduduk sebagian besar negara Afrika merupakan penduduk pedesaan.

(hlm. 469)
Model pembangunan “dua sektor” Lewis yang telah dibahas dalam Bab 4 merupakan contoh yang baik dari teori pembangunan yang menitikberatkan pada pengembangan sektor industri secara cepat, di mana sektor pertanian hanya dipandang sebagai pelengkap atau penunjang, yaitu sebagai sumber tenaga kerja dan bahan-bahan pangan yang murah.

(hlm. 471)
Pertumbuhan dan Stagnasi Pertanian Sejak Tahun 1950
Antara tahun 1950 dan 1970, peningkatan produksi pangan per kapita (per capita food production) dan produksi pertanian per kapita (per capita agricultural production), baik pangan maupun nonpangan (seperti kapas, sisal, kayu, dan karet) di seluruh negara-negara Dunia Ketiga tidak pernah lebih dari 1 persen per tahun.

(hlm. 475)
Terabaikannya sektor pertanian tersebut diperparah lagi dengan gagalnya pelaksanaan investasi dalam perekonomian industri perkotaan, yang terutama disebabkan oleh kesalahan dalam memilih strategi industrialisasi substitusi impor dan penetapan nilai kurs yang terlalu tinggi (lihat Bab 13 Jilid 2). Strategi yang kemudian terbukti tidak sesuai untuk negara-negara berkembang itu memang sangat berpengaruh karena didengung-dengungkan oleh para teoretisi Barat sebagai strategi yang paling ampuh dan cepat dalam menyulap sebuah perekonomian agraris menjadi perekonomian industri (strategi industrialisasi berupa substitusi impor sangat populer selama dasawarsa-dasawarsa pertama seusai Perang Dunia Kedua).

(hlm. 476)
Struktur Sistem Agraria di Negara-negara Berkembang
Dua Jenis Pertanian Dunia
Sebenarnya, pola atau sistem-sistem pertanian yang ada di dunia ini dapat dibagi menjadi dua pola yang berbeda: (1) pola pertanian di negara-negara maju yang memiliki tingkat efisiensi tinggi dengan kapasitas produksi dan rasio output per tenaga kerja yang juga tinggi, sehingga dengan jumlah petani yang sedikit dapat menyediakan bahan pangan bagi seluruh penduduk, (2) pola pertanian yang tidak atau kurang efisien yang umumnya terdapat di negara-negara berkembang.

(hlm. 477)
Jurang kesenjangan di antara kedua pola pertanian tersebut sangat lebar. Kesenjangan itu nampak jelas jika dinyatakan sebagai disparitas (ketimpangan) produktivitas tenaga kerja. Pada tahun 1960, masyarakat petani di negara-negara maju berjumlah sekitar 115 juta orang. Mereka mampu menghasilkan total output senilai $78 miliar atau sekitar $680 per kapita. Sebaliknya, produk per kapita dari masyarakat pertanian di negara-negara sedang berkembang pada tahun yang sama hanya $52. Dengan kata lain, tingkat produktivitas tenaga kerja pertanian di negara-negara maju 13 kali lipat lebih besar daripada tingkat produktivitas pertanian di negara-negara sedang berkembang. Pada tahun 2000, jurang kesenjangan produktivitas (productivity gap) diproyeksikan akan meningkat menjadi lebih dari 50 banding 1. Sebagai contoh, di negara-negara berpendapatan rendah nilai tambah per pekerja sektor pertanian pada tahun 1999 adalah $346, sedangkan di negara-negara seperti Inggris, Swedia, dan Jepang masing-masing adalah $34.730, $34.985, dan $30.620.

(hlm. 478)
Sedangkan di negara-negara maju, pertumbuhan output pertanian yang mantap telah berlangsung sejak pertengahan abad ke-18. Laju pertumbuhan tersebut dipacu oleh perkembangan teknologi dan pengetahuan biologi, yang mampu menghasilkan tingkat produktivitas tenaga kerja dan lahan yang lebih tinggi lagi. Hasil akhirnya adalah bahwa jumlah petani yang sedikit mampu menghasilkan lebih banyak bahan pangan. Hal ini terutama terjadi dalam kasus di Amerika Serikat, di mana pada tahun 2000 hanya 3% dari total angkatan kerja bekerja di sektor pertanian, dibandingkan dengan lebih dari 70% pada awal abad kesembilan belas. Sebagai contoh, pada tahun 1820, seorang petani Amerika dapat memproduksi bahan pangan empat kali jumlah konsumsinya. Seratus tahun kemudian, yakni pada tahun 1920, tingkat produktivitasnya telah berlipat ganda sehingga mampu mencukupi kebutuhan pangan hampir 100 orang. Selama periode itu, pendapatan rata-rata petani di Amerika Utara terus meningkat.

(hlm. 479)
Petani Kecil di Amerika Latin, Asia, dan Afrika
Bagi sejumlah besar keluarga pertanian, yang para anggotanya merupakan tenaga kerja pokok, pertanian bukan hanya sebagai sebuah pekerjaan atau sumber pendapatan, tetapi juga sebagai pandangan dan gaya hidup.

(hlm. 480)
Pola dan Sumber Daya Latifundio-Minifundio: Pemanfaatan Lahan yang Terbatas di Amerika Latin
Di negara-negara Amerika Latin, seperti halnya di Asia dan Afrika, struktur agraria bukan hanya merupakan bagian dari sistem produksi, tetapi juga merupakan karakteristik dasar dari organisasi ekonomi, sosial (kemasyarakatan), dan politik dalam kehidupan pedesaan secara keseluruhan.

(hlm. 481)
Menurut FAO, sekitar 1,3 persen lahan di Amerika Latin menguasai 71,6 persen dari seluruh lahan pertanian di kawasan itu. Apabila beberapa negara yang melaksanakan land reform secara drastis selama abad terakhir (Meksiko, Bolivia, dan Kuba) tidak dihitung, maka struktur agraria di seluruh Amerika Latin mengikuti pola yang sama.

(hlm. 482)
Dengan menggunakan koefisien Gini untuk mengukur tingkat konsentrasi tanah, sebagaimana terlihat pada Tabel 10.4 kolom 6, para peneliti melaporkan bahwa koefisien untuk Kolombia adalah 0,86, untuk Brasil adalah 0,84, untuk Kosta Rika adalah 0,82, untuk Uruguay adalah 0,82, untuk Peru 0,91, dan untuk Venezuela adalah 0,91, sementara koefisien Gini untuk Paraguay adalah 0,94. Negara-negara ini merupakan negara dengan koefisien Gini tertinggi di dunia, dan mereka mendramatisasi gambaran tingkat persamaan hak kepemilikan tanah (dan kemudian, sebagian ketidaksamaan pendapatan) di seluruh Amerika Latin.

(hlm. 484)
Fragmentasi dan Subdivisi Lahan Petani di Asia
Jika masalah pokok bidang pertanian di Amerika Latin adalah terlalu banyaknya lahan yang dikuasai oleh sekelompok kecil pemilik, maka masalah pokok di Asia adalah banyaknya orang yang bekerja pada lahan yang sangat sempit. Sebagai contoh, luas lahan yang dapat ditanami di India, RRC, dan Bangladesh pada tahun 1994 masing-masing adalah 0,19, 0,08, dan 0,07 hektar untuk setiap orang penggarap. Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, adalah contoh ekstrem dari tekanan penduduk yang sangat besar pada lahan yang sangat terbatas. Kasus yang terjadi di situ dapat dijadikan sebagai gambaran umum mengenai peliknya masalah keagrariaan di kawasan Asia. Dengan kepadatan mencapai 1.500 orang per kilometer persegi menjadikan provinsi tersebut sebagai pemegang rekor dunia dalam hal kepadatan penduduk.

(hlm. 485)
Sekarang ini, para tuan tanah (landlords) di India dan Pakistan dapat menghindari pembayaran pajak pendapatan yang dibebankan atas lahannya. Para tuan tanah di kawasan Asia Selatan saat ini pada umumnya adalah pemilik lahan absentee (tidak menggarap atau mengelola sendiri lahannya, dan hanya menjadikan lahannya itu sebagai instrumen investasi).

(hlm. 486)
Para peminjam uang itu sering kali sengaja dimanipulasi oleh para rentenir agar mereka tidak dapat melunasi utangnya. Ini karena para rentenir sebenarnya lebih tertarik untuk mendapatkan lahan-lahan pertanian komersial tersebut daripada sejumlah bunga pinjaman. Mereka sengaja membujuk para petani untuk meminjam uang melebihi keperluannya, agar nantinya mereka dapat memaksa petani itu untuk menyerahkan lahannya.

(hlm. 487)
Para petani terpaksa meminjam uang dari para rentenir dengan suku bunga yang mencekik leher, yakni berkisar antara 50 sampai 200 persen. Tidak mengherankan jika kebanyakan dari mereka tidak mampu mengembalikan pinjamannya sehingga mereka terpaksa menjual lahannya yang sudah sangat sempit itu, yang kemudian menjadi petani penyewa lahan dengan utang yang menggunung.

(hlm. 488)
Pertanian Subsisten dan Perluasan Perladangan di Afrika
Dalam keadaan seperti ini, maka sistem perladangan berpindah (shifting cultivation) justru merupakan metode yang paling ekonomis pada sebidang tanah yang luas, tetapi dengan tenaga kerja yang terbatas. Dalam perladangan berpindah-pindah, begitu tingkat kesuburan lahan pertama sudah berkurang, maka para petani tersebut segera meninggalkannya untuk mencari tanah atau hutan baru yang akan mereka tebas guna membuka lahan baru dan proses penyemaian serta penanaman berbagai jenis tanaman dilakukan kembali.

(hlm. 491)
Peran Penting Kaum Wanita
Kini jelaslah bahwa karena kaum wanita amat berjasa dalam menyumbangkan sejumlah besar output pertanian, maka setiap program reformasi pertanian hanya akan berhasil jika mengakui dan melibatkan upaya pembinaan terhadap produktivitas mereka.

(hlm. 493)
Bahkan ada pandangan bahwa status ekonomi wanita yang tinggi akan mengancam “kedaulatan pria”. Sebagai contoh, Grameen Bank yang berlokasi di Bangladesh suatu ketika pernah menawarkan sejumlah kecil kredit kepada para wiraswastawan kecil di daerah pedesaan (kebanyakan dari mereka adalah wanita). Ternyata kinerja kredit tersebut sangat memuaskan. Tingkat pembayaran kembali dana mencapai lebih dari 90 persen (itu berarti kredit yang macet tidak sampai 2 persen), dan tingkat pengembalian atas investasi kaum wanita mencapai lebih dari 150 persen (dengan demikian, bank tersebut menerima laba atau keuntungan bersih lebih dari separuh jumlah modal yang ditanamkannya). Contoh ini secara jelas membuktikan betapa kaum wanita itu sebenarnya bisa sangat produktif, asalkan saja biaya-biaya oportunitas mereka dihargai sepantasnya (lihat Bab 17 Jilid II).

(hlm. 494)
Ilmu Ekonomi Pembangunan Sektor Pertanian: Transisi dari Pola Pertanian Subsisten ke Pola Pertanian Komersial yang Terspesialisasi

(hlm. 495)
Pertanian Subsisten: Pencegahan Risiko, Ketidakpastian, dan Upaya Mempertahankan Kelangsungan Hidup
Hampir di sepanjang tahun, tenaga kerja pertanian lebih banyak menganggur; tetapi pada musim sibuk, misalnya pada musim tanam atau musim panen, jumlah pekerja yang tersedia acapkali terasa kurang.

(hlm. 496)
Sayangnya, teori produksi tradisional tersebut tidak mampu memberikan suatu penjelasan yang memuaskan mengenai mengapa para petani sering menolak inovasi dalam teknik-teknik produksi pertanian, pengenalan bibit-bibit baru, atau jenis-jenis tanaman yang lebih produktif.

(hlm. 497)
Dalam kalimat yang paling sederhana, para petani “ingin amannya saja”. Mereka rela menerima hasil sedikit dengan risiko sedikit, ketimbang hasil yang banyak, namun disertai risiko yang juga besar.

(hlm. 498)
Namun, teknik A itu memiliki varians yang lebih rendah (sifatnya lebih pasti) daripada teknik B. Bagi para petani yang lebih suka menghindari risiko, yang akan mereka pilih pastilah teknik A.

(hlm. 499)
Dari observasi itu terungkap bahwa keengganan tersebut bukan karena mereka malas, punya harapan berlebihan, atau risih bersentuhan dengan teknologi maju, melainkan karena adanya sejumlah alasan yang benar-benar rasional, yakni: (1) kalaupun kesempatan itu mereka ambil, pada akhirnya pihak tuan tanah yang memperoleh manfaat, (2) para rentenir yang akan memperoleh keuntungan; (3) “jaminan-jaminan” harga minimum dari pemerintah tidak pernah dibayarkan; serta (4) penyediaan berbagai macam input komplementer seperti pupuk, pestisida, saluran irigasi, kredit lunak, bibit unggul, dan sebagainya bagi para petani kecil tidak pernah terealisir sebagaimana yang dijanjikan semula.

(hlm. 500)
Pertanian Bagi Hasil dan Pasar-pasar Faktor Produksi yang Saling Berkaitan
Sudah sejak dahulu para ekonom menganggap praktik bagi hasil ini sebagai suatu kegiatan ekonomi yang tidak efisien. Menurut observasi Alfred Marshall, praktik itu membuat para petani hanya menerima separuh pendapatan dari produk marjinalnya, sehingga motivasi kerja mereka pun juga hanya sekedarnya.

(hlm. 501)
Pendekatan pemantauan ini populer selama dua dasawarsa, dan pendekatan ini sulit diuji karena adanya endogenitas. Contohnya, hanya orang-orang yang berproduktivitas rendahlah yang memilih untuk terlibat dalam kontrak pertanian bagi hasil. Bahkan, banyak pakar meyakini bahwa tuan tanah dapat menawarkan pilihan kepada petani penyewa lahan untuk bagi hasil atau kontrak penyewaan murni karena orang-orang yang berkemampuan lebih tinggi akan cenderung memilih kontrak sewa murni: Petani yang berkemampuan tinggi dapat memperoleh nilai penuh dari produk marjinal mereka, namun hal ini tidak menarik bagi petani berkemampuan rendah. Jika tuan tanah tidak dapat memastikan petani yang mana yang berkemampuan tinggi, mereka dapat mencari tahu dengan mengamati siapa saja yang memilih kontrak sewa murni. Motivasinya adalah memungkinkan tuan tanah untuk memeras lebih banyak laba dari penyewa, dan mengenakan harga sewa efektif yang lebih tinggi untuk kontrak sewa murni daripada kontrak bagi hasil—namun tidak terlalu tinggi, karena jika demikian, petani yang berkemampuan tinggi pun akan memilih bagi hasil. Pendekatan ini dikenal sebagai “hipotesis saringan” dari pertanian bagi hasil.

(hlm. 502)
Namun demikian, dalam sebuah penelitian yang terkenal, Radwan Ali Shaban menemukan adanya para petani yang menggarap sebagian dari lahannya sendiri dan juga menyewakan lahan sisanya dengan sistem bagi hasil. Dengan membandingkan perilaku petani yang sama dengan pengaturan kontrak yang berbeda, Ali Shaban mengontrol faktor-faktor yang merupakan ciri khas yang tidak mudah diamati dari petani-petani tertentu. Ali Shaban menemukan bahwa para petani menggunakan input yang lebih sedikit dan menghasilkan output yang lebih sedikit pada tanahnya yang disewakan secara bagi hasil daripada input yang dicurahkan untuk tanah garapannya sendiri, dan semua hal lain diasumsikan tetap. Hasil ini merupakan bukti kuat bahwa sistem bagi hasil kurang efisien dibandingkan dengan menggarap tanahnya sendiri, seperti yang diramalkan oleh Marshall.

(hlm. 503)
Namun, kerangka kerja ekonomi dan sosial yang melandasi praktik bagi hasil tersebut sangat timpang dan peka terhadap kegagalan mekanisme pasar. Jika seorang petani penggarap menghadapi si pemilik lahan, ia bukan hanya menghadapi orang yang harus ia bujuk agar bersedia mempercayakan lahannya, tetapi juga calon majikan, calon penyedia pinjaman, dan sekaligus calon pembeli atas seluruh hasil panen yang menjadi bagiannya. Kondisi inilah yang lazim disebut sebagai pasar-pasar faktor produksi yang saling berkaitan (interlocking factor markets).

(hlm. 504)
Transisi Menuju Pertanian Campuran dan Terdiversifikasi
Pola pertanian terdiversifikasi (diversified farming) atau pertanian campuran (mixed farming) merupakan tahap perantara yang harus dilalui dalam proses transisi dari pola produksi pertanian subsisten menjadi produksi pertanian yang terspesialisasi.

(hlm. 505)
Dari Divergensi ke Spesialisasi: Pertanian Komersial Modern
Ukuran dan fungsi pola pertanian khusus ini bervariasi. Jenis produk yang digarapnya juga bermacam-macam. Ada yang berupa perusahaan pertanian khusus buah-buahan, sayur-sayuran, atau perusahaan pertanian gandum dan jagung berukuran raksasa seperti yang banyak ditemui di kawasan Amerika Utara. Pada umumnya, segenap unit usaha pertanian khusus ini menggunakan peralatan mekanisasi serba canggih yang hemat tenaga kerja, mulai dari traktor berukuran besar, alat-alat penyemai dan pemanen modern, sampai dengan teknik penyemprotan pupuk dan pestisida dari udara (lewat pesawat terbang khusus, tentunya), sehingga memungkinkan satu keluarga petani mampu mengolah lahan yang luasnya mencapai sekian ribu hektar.

(hlm. 506)
Menuju Suatu Strategi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan yang Andal: Beberapa Syarat Pokok
Perbaikan Pertanian Berskala Kecil
Kebijakan Harga dan Kelembagaan: Penyediaan Insentif Ekonomi yang Diperlukan
Rasio harga antara komoditi pertanian dan barang-barang manufaktur semakin lama semakin timpang, dan hal tersebut jelas sangat merugikan para petani serta keluarganya, dan di sisi lain hanya menguntungkan para industrialis di kota-kota. Karena harga-harga produk dari biaya produksinya—maka para petani tidak akan memiliki motivasi untuk meningkatkan outputnya, atau melakukan investasi dalam teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas. Apa gunanya memacu produksi, kalau keuntungannya justru direbut oleh pihak lain? Pada akhirnya, hal ini menimbulkan kesulitan-kesulitan atau tekanan terhadap neraca perdagangan dan neraca pembayaran negara-negara bersangkutan (karena impor bahan pangan terus saja melonjak).

(hlm. 509)
Land Reform
Dalil 1: Struktur usaha tani dan pola kepemilikan lahan harus disesuaikan dengan tujuan utama yang bersifat ganda, yaitu peningkatan produksi bahan pangan, serta pemerataan segala manfaat atau keuntungan-keuntungan kemajuan pertanian pada sisi yang lain.

Para ekonom dan para spesialis pembangunan lainnya sepakat bahwa program land reform merupakan suatu kebijakan yang perlu dilaksanakan dengan segera.

(hlm. 510)
Kebijakan-kebijakan Pendukung
Dalil 2: Semua manfaat dari pembangunan pertanian berskala kecil tidak akan dapat direalisir secara nyata tanpa didukung oleh serangkaian kebijakan pemerintah yang secara sengaja diciptakan untuk memberikan rangsangan atau insentif, kesempatan atau peluang-peluang ekonomi, dan berbagai kemudahan yang diperlukan untuk mendapatkan segenap input utama guna memungkinkan para petani kecil meningkatkan tingkat output dan produktivitas mereka.

(hlm. 511)
Keterpaduan Tujuan-tujuan Pembangunan
Dalil 3: Keberhasilan pembangunan pedesaan selain sangat tergantung pada kemajuan-kemajuan petani kecil, juga ditentukan oleh hal-hal penting lainnya yang meliputi: (1) upaya-upaya untuk meningkatkan pendapatan riil pedesaan, baik di sektor pertanian maupun nonpertanian, melalui penciptaan lapangan kerja, industrialisasi di pedesaan, pembenahan pendidikan, kesehatan, dan gizi penduduk, serta penyediaan berbagai bidang pelayanan sosial dan kesejahteraan lainnya; (2) penanggulangan masalah ketimpangan distribusi pendapatan di daerah pedesaan serta ketidakseimbangan pendapatan dan kesempatan ekonomi antara daerah pedesaan dengan perkotaan; serta (3) pengembangan kapasitas sektor atau daerah pedesaan itu sendiri dalam rangka menopang dan memperlancar langkah-langkah perbaikan tersebut dari waktu ke waktu.

(hlm. 512)
Studi Kasus Perekonomian Bangladesh
Di sinilah terdapat curah hujan tertinggi di dunia yang selanjutnya sangat mempengaruhi topografi wilayah dan pemusatan lokasi kegiatan-kegiatan ekonomi. Banyak bagian dari wilayah Bangladesh yang sering kali terlanda banjir besar dan mengerikan selama musim hujan.

Laju urbanisasi desa-kota berlangsung dengan derasnya. Meskipun demikian, sekitar tiga perempat penduduknya masih tinggal di daerah pedesaan dan sebagian besar mengandalkan hidupnya pada pola pertanian subsisten (apa yang didapat hari ini hanya cukup untuk dimakan pada hari ini juga).

(hlm. 516)
Catatan Belakang

(hlm. 518)
Joseph Stiglitz adalah orang pertama yang memformulasikan argumen bahwa pertanian bagi hasil mencerminkan kompromi antara tuan tanah dan penyewa atau penggarap tanah, di mana tuan tanah adalah pihak yang menanggung risiko produksi, sementara penggarap tanah hanya menerima beberapa hasil tertuju dari pekerjaannya yang sangat membutuhkan biaya untuk memantaunya.

(hlm. 521)
11
Lingkungan dan Pembangunan

Pendapat lama “pembangunan versus lingkungan hidup” memberi arah menuju pandangan yang baru di mana… penanganan lingkungan yang lebih baik adalah penting guna menopang pembangunan.
—WORLD BANK, World Bank Atlas, 1997

Ilmu Ekonomi dan Lingkungan Hidup
Dua puluh persen penduduk dunia yang paling miskin adalah kelompok pertama dan yang paling banyak menanggung beban kerusakan lingkungan.

(hlm. 522)
Mereka tidak mempunyai fasilitas-fasilitas kesehatan atau sanitasi dan persediaan air bersih yang memadai. Tidak dimasukannya biaya-biaya lingkungan pada kalkulasi GNP merupakan salah satu penyebab masih terabaikannya persoalan lingkungan dari ilmu ekonomi pembangunan selama ini.

(hlm. 523)
Lingkungan Hidup dan Pembangunan: Beberapa Persoalan Dasar
Pembangunan yang Berkelanjutan dan Perhitungan Nilai Lingkungan Hidup
Meskipun definisinya cukup banyak, namun pada dasarnya istilah berkelanjutan itu mengacu kepada “pemenuhan kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka.” Suatu pola pembangunan baru bisa dikatakan berkesinambungan apabila total stok modal jumlahnya tetap atau meningkat dari waktu ke waktu.

(hlm. 524)
NNP* = GNP – Dm – Dn
Dm = depresiasi modal manufaktur
Dn = depresiasi modal lingkungan yang dinyatakan dalam satuan moneter (uang) tahunan.
NNP* = GNP – Dm – Dn – R – A
Di mana R adalah pengeluaran atau belanja yang diperlukan untuk mengembalikan modal lingkungan (hutan, sumber perikanan, dan sebagainya) seperti sediakala, sedangkan A adalah pengeluaran yang diperlukan untuk memperbaiki kerusakan modal lingkungan yang terlanjur terjadi di masa sebelumnya (seperti pencemaran udara, air, kualitas tanah, dan lain-lain).

(hlm. 525)
Populasi, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup
Kemiskinan dan Lingkungan Hidup

(hlm. 526)
Pertumbuhan Ekonomi versus Kelestarian Lingkungan Hidup
Pembangunan Daerah Pedesaan dan Lingkungan Hidup
Pembangunan Perkotaan dan Lingkungan Hidup
Lingkungan Hidup Global
Sebenarnya, masalah pengorbanan apa saja yang harus direlakan dan siapa yang harus melakukannya sampai saat ini masih merupakan bahan perdebatan yang sengit dan tidak ada habisnya.

(hlm. 528)
Pertanyaan-pertanyaan itu juga dibahas secara sungguh-sungguh pada Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Lingkungan Hidup dan Pembangunan (United Nations Conference on Environment and Development, UNCED), atau lebih dikenal dengan sebutan KTT Bumi (Earth Summit), yang diselenggarakan di Rio de Janeiro pada bulan Juni 1992 dan ditindaklanjuti pada konferensi yang diselenggarakan di Kyoto, Jepang, pada tahun 1997. Belakangan terungkap bahwa secara kumulatif sebagian besar kerusakan lingkungan hidup saat ini justru diakibatkan oleh ulah negara-negara maju atau negara-negara Dunia Pertama yang selama ini paling lantang menyuarakan perlunya pelestarian lingkungan hidup.

(hlm. 529)
Ruang Lingkup Degradasi Lingkungan Hidup: Tinjauan Singkat atas Data-data Statistik
(1) polusi air dan kelangkaan air bersih; (2) polusi udara; (3) pembuangan limbah-limbah padat yang sulit hancur dan limbah yang sangat berbahaya; (4) pengikisan kualitas tanah; (5) proses penggundulan hutan; (6) kemerosotan biodiversitas; serta (7) perubahan kondisi atmosfer.

(hlm. 530)
Tabel 11.1
Konsekuensi-konsekuensi Kesehatan dan Produktivitas yang Utama dari Kerusakan Lingkungan Hidup

Masalah Lingkungan Dampak terhadap Kesehatan Dampak terhadap Produktivitas
Polusi Air Penyakit pernapasan dan air kotor yang mengandung bakteri berbahaya Kemerosotan hasil dari budidaya perikanan; waktu para penduduk di desa dan kota banyak yang terbuang sekadar untuk mencari air; sebagian kegiatan yang produktif terpaksa ditunda karena air bersih untuk kebutuhan sehari-hari tidak tersedia.

(hlm. 531)
Ketergantungan penduduk negara-negara Dunia Ketiga, khususnya yang tinggal di daerah-daerah pedesaan, terhadap bahan bakar biomas (biomass fuel) seperti kayu kering, ranting-ranting, kotoran ternak, dan sampah merupakan salah satu penyebabnya.

(hlm. 532)
Pembangunan Daerah Pedesaan dan Lingkungan Hidup: “Kisah Dua Desa”
Namun, seperti halnya 90 persen tanah hutan hujan (rain forest) lainnya di seluruh dunia, lahan yang dibuka dari hutan di Amerika Latin tersebut relatif tidak subur sehingga hanya bisa ditanami selama beberapa tahun saja. Input-input pertanian komplementer dan pengetahuan pertanian yang ada memang bisa membantu peningkatan output selama beberapa saat. Namun, setelah itu hasil panen akan merosot dengan cepat. Sebagai akibatnya, para pemukim itu kembali terpaksa membuka lahan baru dan membakar hutan lagi.

(hlm. 535)
Model-model Lingkungan Hidup dari Ilmu Ekonomi Tradisional
Sumber Daya Milik Pribadi
Dalam masing-masing model tersebut, kegagalan pasar untuk memperhitungkan eksternalitas lingkungan hidup dipandang sebagai pengecualian, bukannya kelemahan yang fatal.

(hlm. 537)
Pasar hak milik (property rights) yang sempurna itu ditandai oleh empat kondisi berikut:

  1. Universalitas (universality): semua sumber daya yang ada dalam suatu perekonomian dimiliki oleh perseorangan
  2. Ekslusivitas (exclusivity): setiap orang yang bukan pemilik tidak akan diperkenankan untuk memanfaatkan suatu sumber daya begitu saja
  3. Transferabilitas (transferability): pihak pemilik sumber daya bisa saja menjual sumber daya miliknya apabila ia memang menghendakinya
  4. Enforseabilitas (enforceability): pengaturan distribusi pasar atau segenap manfaat dari sumber daya tersebut yang harus ditegakkan secara hukum.
    Berdasarkan keempat kondisi tersebut, pemilik sumber daya yang langka memiliki insentif ekonomi untuk memaksimalkan manfaat neto dari penjualan atau pemanfaatan sumber dayanya tersebut.

(hlm. 539)
Sumber Daya Milik Umum
Dengan demikian, langkah yang paling tepat untuk meningkatkan produktivitas lahan bukannya mempromosikan hak kepemilikan pribadi secara besar-besaran, karena hal ini hanya menguntungkan tuan tanah yang kaya, melainkan memperbesar kepemilikan lahan bagi para keluarga petani kecil. Jadi, masalah yang relevan berkenaan dengan struktur hak kepemilikan adalah siapa yang akan memperoleh hak kepemilikan lahan apabila perluasan hak pribadi itu jadi dilakukan? Akan tetapi, tentu saja cara seperti ini tidak bisa diterima karena, lagi-lagi, hanya akan menguntungkan lapisan penduduk terkaya sehingga sangat tidak sesuai dengan tujuan pembangunan itu sendiri.

(hlm. 542)
Kelemahan-kelemahan Kerangka Analisis Barang Publik
Pungutan dari orang-orang yang langsung memanfaatkan hutan, yakni mereka yang menebangi pepohonan sekadar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya yang paling mendasar, juga sulit dilakukan karena mereka terlalu miskin. Akan tetapi, teori-teori neoklasik memang bermanfaat untuk menjelaskan mengapa kegagalan-kegagalan pasar menjurus pada terciptanya alokasi sumber daya yang tidak efisien dalam perekonomian komersial yang sudah maju. Teori itu juga bisa menunjukkan cara-cara untuk mengatasi segala inefisiensi tersebut.

(hlm. 543)
Pembangunan Perkotaan dan Lingkungan Hidup
Ekologi Pemukiman Kumuh di Perkotaan
Namun, meskipun mereka menyadarinya, mereka tetap saja tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisi ekonomi yang buruk terus memaksa mereka untuk menggunakan bahan bakar yang murah dan mudah diperoleh, meskipun sangat berbahaya bila ditinjau dari segi lingkungan hidup dan kesehatan.

(hlm. 544)
Pusat-pusat kota di berbagai negara sedang berkembang akan menyerap lebih dari 80 persen lonjakan penduduk dunia. Penyebab utamanya, lagi-lagi, adalah arus migrasi yang begitu deras dari desa ke kota.

(hlm. 545)
Industrialisasi dan Pencemaran Udara di Daerah-daerah Perkotaan
Analisis cross-sectional atas sejumlah negara pada berbagai tingkat pendapatan memberikan hasil yang mirip dengan survei yang didasarkan pada koefisien Gini; studi-studi itu mengungkapkan bahwa pencemaran di daerah perkotaan pada awalnya akan terus meningkat seiring dengan kenaikan tingkat pendapatan nasional dan kemudian menurun.

(hlm. 548)
Masalah-masalah Pemukiman serta Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi
Status “pemukim liar” jelas tidak memungkinkan hadirnya jasa-jasa pelayanan pemerintah, sedangkan pihak swasta sendiri merasa terlalu riskan untuk masuk ke situ. Diperkirakan sekitar 70 persen pemukiman baru yang bermunculan di kota-kota di berbagai negara-negara Dunia Ketiga tergolong ilegal. Sebagai akibatnya, penduduk miskin di pemukiman tersebut terpaksa membeli air minum yang telah terkontaminasi, itu pun dengan harga sepuluh kali lipat lebih mahal daripada air PAM.

(hlm. 549)
Di Jakarta, sekitar $50 juta habis dibelanjakan per tahun hanya untuk merebus air. Sebenarnya, sebagian besar dari pengeluaran-pengeluaran yang tidak efisien tersebut bisa dihindari, dan pengeluaran total untuk air bisa diturunkan, seandainya semua orang bisa memperoleh air bersih.

(hlm. 550)
Perlunya Reformasi Kebijakan
Bila sumber daya yang langka tersebut diberikan kepada para penerima dengan tarif jauh di bawah harga sesungguhnya (misalnya, pada kasus penyediaan air PAM), maka berbagai kelangkaan artifisial negatif lainnya bermunculan.

(hlm. 552)
Lingkungan Hidup Global: Kerusakan Hutan Hujan dan Efek Rumah Kaca
Dampak buruk (atau baik) seperti penipisan lapisan ozon dan pemanasan global yang biayanya (atau manfaatnya) telah melampaui batas-batas negara, generasi, dan kelompok penduduk dikenal sebagai barang publik global (global public goods).

(hlm. 554)
Pilihan-pilihan Kebijakan bagi Negara-negara Maju dan Negara-negara Berkembang
Apa yang Bisa Dilakukan oleh Negara-negara Berkembang
Penentuan Harga Sumber Daya Secara Memadai
Partisipasi Masyarakat
Hak Milik dan Kepemilikan Sumber Daya yang lebih Jelas

(hlm. 556)
Program-program untuk Memperbaiki dan Meningkatkan Alternatif-alternatif Ekonomi bagi Penduduk Miskin
Peningkatan Status Ekonomi Kaum Wanita

(hlm. 557)
Kebijakan Penanggulangan Emisi Industri
Berdasarkan data-data yang ada, dari sekian kebijakan yang paling efektif adalah kebijakan yang lebih didasarkan pada kekuatan atau mekanisme pasar, yakni pengenaan tarif pajak emisi dan penerbitan surat izin emisi.

(hlm. 558)
Apa yang Bisa Dilakukan oleh Negara-negara Maju untuk Membantu Negara-negara Berkembang
Kebijakan Perdagangan Negara-negara Dunia Pertama
Pemberian Keringanan Utang

(hlm. 559)
Bantuan dari Negara-negara Dunia Pertama

(hlm. 560)
Apa yang Bisa Dilakukan oleh Negara-negara Maju untuk Menyelamatkan Lingkungan Hidup Global

(hlm. 562)
Penelitian dan Pengembangan (R & D)
Tidaklah realistis mengharapkan negara-negara berkembang yang berpenghasilan rendah untuk menerapkan standar yang dianut oleh negara-negara kaya dan maju.

(hlm. 563)
Studi Kasus Perekonomian Pakistan
Garis yang membatasi kedua negara tersebut membujur hingga sepanjang 1.600 kilometer.

(hlm. 564)
Perpindahan penduduk lantas berlangsung secara besar-besaran begitu pemisahan kedua negara tersebut ditetapkan. Perpindahan spontan ini nampaknya merupakan yang paling besar dan spektakuler sepanjang sejarah dunia.

(hlm. 565)
Dewasa ini, sumbangan dari sektor pertanian bagi GDP Pakistan mencapai 26 persen. Sektor ini sebenarnya merupakan tulang punggung perekonomian Pakistan karena kemampuannya menyerap 55 persen angkatan kerja yang ada. Jenis tanaman yang paling penting adalah kapas, disusul oleh beras dan tebu. Meskipun para petani kecil masih mengandalkan metode-metode bercocok tanam serba tradisional, namun pada kenyataannya tingkat produktivitas sektor pertanian Pakistan terus-menerus mengalami peningkatan selama 20 tahun terakhir.

(hlm. 570)
Bagian Kedua
Studi Kasus Komparatif

Bangladesh dan Nigeria: Tinjauan atas Kebijakan Pengentasan Kemiskinan
Jumlah penduduk Bangladesh mencapai 130 juta jiwa, sementara Nigeria mencapai 127 juta jiwa.

(hlm. 575)
Pada sejumlah wilayah, para istri (banyak pria di sana yang mempunyai empat orang istri sekaligus) bertanggung jawab atas tersedianya bahan pangan di setiap keluarga. Tenaga anak-anak juga sangat diandalkan sehingga tidak mengherankan apabila prinsip kuno yang berbunyi “banyak anak banyak rejeki” masih dianut secara luas, meskipun kapasitas untuk menghidupi mereka sangat terbatas.

(hlm. 576)
Rangkuman
Republik Demokratik Kongo (dahulu Zaire), misalnya, kondisi hidup penduduk miskinnya jauh lebih buruk lagi. Kondisi hidup kaum wanita di daerah pedesaannya bahkan lebih tragis dari yang dialami oleh kaum wanita di Bangladesh atau di negara-negara Afrika lainnya.

 

 

Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Jilid 2

Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Jilid 2 oleh Michael P. Todaro & Stephen C. Smith

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga/Edisi Kedelapan, Jilid 2
Michael P. Todaro & Stephen C. Smith
11 Februari 2003

(hlm. 1)
Bagian Ketiga
Masalah dan Kebijakan: Internasional

(hlm. 2)
Globalisasi: Pengantar ke Bagian 3
Catatan untuk Mahasiswa
Seperti yang tersirat pada kata itu sendiri, globalisasi adalah proses yang menyatukan berbagai perekonomian dunia, menyebabkan terciptanya perekonomian global dan semakin banyaknya pembuatan keputusan ekonomi global, misalnya melalui berbagai lembaga internasional seperti World Trade Organization (WTO).

(hlm. 3)
Di samping itu, seperti tulisan Adam Smith pada 1776, “pembagian tenaga kerja dibatasi oleh cakupan pasar”. Semakin besar pasarnya, maka semakin besar pula manfaat yang dapat diperoleh dari perdagangan dan pembagian tenaga kerja. Demikian pula insentif untuk inovasi pun semakin besar, karena pengembalian potensialnya jauh semakin besar.

(hlm. 5)
Di Bab 15, kita akan mengetahui bahwa penanaman modal asing langsung oleh MNC dapat berkontribusi pada pembangunan, namun sebuah negara pada akhirnya juga harus mempunyai MNC-nya sendiri, atau paling tidak, harus punya suatu cara untuk menarik perusahaan internasional agar memperlakukan negaranya sebagai kantor pusat, supaya negara itu berkembang sepenuhnya.

(hlm. 6)
12
Teori Perdagangan dan Pengalaman Pembangunan

Suatu barang dapat dikatakan dibuat di salah satu negara atau lebih dari berbagai negara berikut: Korea, Hong Kong, Malaysia, Singapura, Taiwan, Mauritius, Thailand, Indonesia, Meksiko, Filipina. Tetapi, asal-usul barang tersebut yang sebenarnya tidaklah diketahui.
Integrated Circuit Label.

Perdagangan dan Keuangan Internasional: Beberapa Isu Penting
Karena pasar dan harga-harga bagi produk ekspor semacam itu tidak menentu, maka ketergantungan ekspor (export dependence) pada produk-produk primer tersebut diliputi oleh faktor risiko dan faktor ketidakpastian yang sangat tinggi. Ketergantungan itu merupakan masalah penting bagi negara-negara yang bersangkutan karena harga-harga barang primer terus menurun. Oleh karena itu, wajar-wajar saja apabila negara-negara berkembang pada umumnya tidak menghendaki ketergantungan mereka itu terus-menerus berlanjut.

(hlm. 7)
Tabel 12-1
Negara-negara Berkembang yang setidaknya 40 persen dari Total Pendapatan Ekspornya Berasal dari Satu atau Dua Produk-produk Pertanian atau Mineral Non-Bahan Bakar

(hlm. 8)
Oleh karena defisit pada pos neraca transaksi berjalan (current account)—yakni bagian dari neraca pembayaran yang khusus mencatat transaksi-transaksi dan selisih antara penerimaan devisa dari ekspor dan pembayaran devisa untuk impor—tidak bisa lagi ditutup dengan surplus pada pos neraca modal (capital account)—yakni, bagian dari neraca pembayaran yang khusus mencatat arus masuk dan keluar dana-dana pinjaman dan investasi terdahulu—maka negara yang bersangkutan terpaksa mencari tambahan utang atau pinjaman, khususnya dari luar negeri, guna menutup defisit neraca pembayarannya tersebut.

(hlm. 9)
Dengan membuka perekonomian dan masyarakat mereka kepada hubungan-hubungan komersial dan perdagangan dunia, serta dengan mulai menjalin interaksi dengan bangsa-bangsa lainnya, negara-negara berkembang tidak hanya mengundang masuknya transfer barang, jasa, dan sumber daya finansial internasional, melainkan juga segenap pengaruh—baik yang bersifat menunjang maupun yang bersifat menghambat pembangunan—yang terkandung di dalam transfer berbagai teknologi produksi; pola-pola konsumsi; pengaturan tatanan institusional dan organisasional; sistem kesehatan, pendidikan, dan sosial; serta tatanan nilai-nilai, cita-cita, dan gaya hidup pada umumnya dari negara-negara maju.

(hlm. 10)
Studi tentang perdagangan dan keuangan internasional itu sendiri merupakan salah satu cabang ilmu ekonomi yang paling tua serta sekaligus yang paling kontroversial.

Lima Pertanyaan Dasar Mengenai Perdagangan dan Pembangunan

  1. Bagaimana pengaruh perdagangan internasional terhadap kecepatan, struktur, dan karakter pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang?
  2. Bagaimana cara perdagangan internasional mengubah distribusi pendapatan dan kekayaan dalam suatu negara dan antara satu negara dengan negara-negara lainnya?
  3. Apa sajakah kondisi atau syarat yang harus dipenuhi agar perdagangan internasional dapat membantu negara-negara berkembang dalam mencapai tujuan-tujuan pembangunan nasionalnya?
  4. Bisakah negara-negara berkembang menentukan sendiri seberapa banyak mereka berdagang?
  5. Bertolak dari catatan pengalaman di masa lalu dan segenap penilaian mengenai masa-masa mendatang, haruskah pemerintahan negara-negara berkembang menerapkan suatu kebijakan yang berorientasi ke dalam (menerapkan proteksionisme dalam rangka memupuk kemandirian), ataukah mereka harus berusaha sedemikian rupa untuk mengombinasikan keduanya (misalnya, dalam bentuk pengembangan dan pelembagaan kerja sama ekonomi regional) agar mencapai hasil yang optimal?

Konsekuensinya, meskipun kita mencoba membuat generalisasi tentang prospek dan berbagai alternatif kebijakan perdagangan negara-negara Dunia Ketiga dalam konteks tipologi umum negara-negara berkembang, tetapi demi menggapai suatu pemahaman yang komprehensif kita terpaksa menggunakan sejumlah

(hlm. 12)
Generalisasi yang terlalu bersifat pukul-rata (artinya, generalisasi itu mungkin tidak berlaku untuk suatu negara tertentu pada saat tertentu). Jelas ini merupakan suatu kelemahan. Namun, cara itu bukannya tanpa keunggulan. Dengan menggunakan generalisasi itu kita berkesempatan memperoleh suatu perspektif tentang negara-negara Dunia Ketiga secara keseluruhan yang akan melebihi kerugian dalam membuat serangkaian generalisasi analitis dan kebijakan.

Arti Penting Ekspor bagi Berbagai Negara Berkembang

(hlm. 13)
Tabel 12-2
Pendapatan Ekspor Sebagai Persentase Produk Domestik Bruto (GDP), serta Pangsa Komoditi Primer dan Produk Manufaktur dalam Total Ekspor dari Sejumlah Negara-negara Maju dan Negara-negara Berkembang, 2000

Negara Ekspor sebagai Persentase dari GDP Persentase Pangsa Komoditi Primer Persentase Pangsa Produk Manufaktur
Negara-negara berkembang      
Malaysia 110,0 20 80
Indonesia 40,7 46 54
Korea Selatan 37,8 9 91

(hlm. 14)
Lebih besarnya sumbangan ekspor negara-negara berkembang dalam GDP-nya kemungkinan dikarenakan oleh harga relatif jasa-jasa yang tidak diperdagangkan jauh lebih tinggi di negara-negara maju dibandingkan di negara-negara berkembang.

Elastisitas Permintaan dan Gejolak Pendapatan Ekspor
Di sini kita juga bisa mendapatkan petunjuk penting untuk menjawab pertanyaan mengapa kinerja ekspor mayoritas negara-negara berkembang senantiasa relatif lemah bila dibandingkan dengan kinerja ekspor negara-negara kaya. Petunjuk tersebut berkaitan erat dengan apa yang disebut sebagai konsep elastisitas permintaan. Sebagian besar penelitian statistik mengenai pola-pola permintaan dunia untuk setiap kelompok komoditi yang berbeda telah berhasil mengungkapkan bahwa elastisitas permintaan terhadap pendapatan (income elasticity of demand) untuk komoditi-komoditi primer relatif rendah. Artinya, persentase kenaikan permintaan atas komoditi primer oleh para importir (kebanyakan adalah negara-negara kaya) akan naik dalam jumlah yang lebih kecil daripada persentase kenaikan GNP mereka.

(hlm. 15)
Hasil akhir dari rendahnya elastisitas permintaan terhadap pendapatan itu adalah kecenderungan terus menurunnya harga relatif dari berbagai komoditi primer. Selain itu, karena elastisitas permintaan terhadap harga (price elasticity of demand) atas (dan penawaran dari) komoditi-komoditi primer juga cenderung rendah (artinya, inelastis), maka setiap pergeseran pada kurva permintaan atau kurva penawaran akan mengakibatkan gejolak harga yang tajam.

Dasar-dasar Perdagangan dan Pemikiran Prebisch-Singer

(hlm. 16)
(Peraga 12-1)
Harga-harga komoditi terdeflasikan oleh unit nilai ekspor produk manufaktur

(hlm. 17)
(Peraga 12-2)
Teori utama yang terdapat pada Peraga 12-2 dikenal sebagai pemikiran Prebisch-Singer (Prebisch-Singer thesis); mengambil nama dua pakar ekonomi pembangunan yang mengeksplorasi dampak-dampak negatif perdagangan internasional terhadap negara-negara berkembang pada dekade 1950-an. Mereka berpendapat bahwa nilai tukar perdagangan negara-negara Dunia Ketiga akan terus menurun akibat rendahnya elastisitas permintaan komoditi primer terhadap perubahan pendapatan (pihak importir) dan harga. Dalam jangka panjang, hal tersebut mengakibatkan berlangsungnya transfer pendapatan dari negara-negara miskin ke negara-negara kaya, di mana hal ini hanya bisa dicegah melalui usaha pengembangan dan perlindungan sektor manufaktur domestik di negara-negara berkembang (agar mereka punya industri manufaktur sendiri), melalui proses yang dikenal sebagai strategi industrialisasi substitusi impor (lihat uraiannya pada Bab 13).

(hlm. 19)
Harga tekstil menurun dengan tajam, begitu juga dengan harga barang-barang elektronik berteknologi rendah.

Teori Tradisional tentang Perdagangan Internasional

Keunggulan Komparatif
Mengapa manusia berdagang? Pada dasarnya, perdagangan berlangsung karena hal itu memang menguntungkan. Setiap orang memiliki kemampuan atau sumber daya yang bervariasi dan berbeda satu sama lain serta keinginan untuk mengonsumsi barang dalam proporsi yang berbeda satu sama lain.

(hlm. 21)
Prinsip keunggulan komparatif (the principle of comparative advantage) menegaskan bahwa suatu negara yang berada dalam kondisi persaingan, akan (harus) berspesialisasi dalam memproduksi dan mengekspor jenis-jenis barang yang biaya relatifnya (relative cost) paling rendah.

Kelimpahan Faktor (Produksi) Relatif dan Spesialisasi Internasional: Model Neoklasik
Teori klasik perdagangan bebas yang bertumpu pada konsep keunggulan komparatif tersebut pada dasarnya merupakan model yang statis karena hanya didasarkan pada satu variabel input atau faktor produksi saja (yakni, biaya tenaga kerja). Modifikasi itu sendiri dilakukan terutama untuk melibatkan perhitungan atas pengaruh perbedaan-perbedaan pasokan faktor (produksi), khususnya faktor produksi tanah, tenaga kerja, dan modal, dalam spesialisasi internasional. Pemikiran yang kemudian disebut teori perdagangan kelimpahan faktor (factor-endowment trade theory) neoklasik Heckscher-Ohlin (atau proporsi variabel) juga memungkinkan kita untuk menguraikan secara analitis dampak-dampak pertumbuhan ekonomi terhadap pola-pola perdagangan, serta dampak yang ditimbulkan oleh perdagangan terhadap struktur perekonomian nasional dan selisih imbalan (hasil) dari berbagai faktor produksi.

(hlm. 23)
Selanjutnya, teori kelimpahan faktor mengemukakan bahwa negara-negara yang kaya modal akan cenderung berspesialisasi pada aneka produk yang juga bersifat padat modal, seperti mobil, pesawat terbang, peralatan komunikasi yang canggih, serta komputer (di sini mesin modern dan teknologi maju dikategorikan sebagai modal, jadi pengertian modal di sini tidak terbatas pada dana-dana finansial semata) dibandingkan dengan yang padat karya.

Teori ini, yang memainkan peranan menonjol dalam khasanah kepustakaan awal di bidang perdagangan dan pembangunan, secara langsung atau tidak langsung telah mendorong banyak negara-negara berkembang untuk memfokuskan pengembangan aneka komoditi primer yang padat tanah dan padat karya sebagai andalan ekspor.

(hlm. 26)
Kesimpulan pokok yang lantas ditarik oleh model perdagangan bebas neoklasik adalah bahwa semua negara akan diuntungkan seandainya mereka mau melibatkan diri dalam perdagangan internasional; selain itu, kegiatan perdagangan tersebut juga bermanfaat dalam memperbesar total output dunia.

(hlm. 27)
Dengan demikian, teori kelimpahan faktor neoklasik ini berhasil mengajukan sebuah prediksi penting, yakni bahwa tingkat upah riil dan biaya modal internasional secara bertahap cenderung akan sama di semua negara.

(hlm. 29)
Kritik-kritik terhadap Teori Perdagangan Bebas Tradisional atas Dasar Pengalaman Nyata Negara-negara Dunia Ketiga
Keenam asumsi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Segenap faktor produksi atau sumber-sumber daya produktif yang ada di setiap negara dianggap baku dan konstan (jadi, dianggap sama sekali tidak berubah-ubah baik kualitas maupun kuantitasnya).
  2. Teknologi-teknologi produksi dinyatakan baku (khususnya menurut model klasik) atau relatif seragam di semua negara, tersedia bebas untuk semua negara (khususnya menurut model kelimpahan faktor).
  3. Dalam lingkup domestik, segenap sumber daya atau faktor-faktor produksi yang ada bebas bergerak dari satu kegiatan produksi ke kegiatan-kegiatan produksi yang lain.
  4. Pemerintah nasional sama sekali tidak melakukan campur tangan dalam hubungan-hubungan ekonomi internasional.
  5. Perdagangan akan selalu berada pada titik keseimbangan, dan itu terjadi di setiap negara pada setiap waktu.
  6. Keuntungan-keuntungan perdagangan yang diterima oleh suatu negara dengan sendirinya bisa dinikmati oleh seluruh warga atau pelaku ekonomi yang ada di negara tersebut.

Sumber Daya Baku, Penyerapan Faktor Produksi Secara Penuh, dan Immobilitas Modal dan Tenaga Kerja Terampil Secara Internasional

Pertumbuhan Sumber Daya dan Perdagangan: Model-model Utara-Selatan Mengenai Hubungan Perdagangan yang Timpang

(hlm. 32)
Sebagai alternatifnya, apa yang kemudian dikenal dengan sebutan model perdagangan Utara-Selatan (North-South trade model) ini terutama berfokus kepada hubungan-hubungan dagang antara negara-negara kaya (Utara) dan negara-negara miskin (Selatan), sementara model tradisional diasumsikan merangkum semua negara tanpa pandang bulu.

(hlm. 33)
Selanjutnya, terdapat model perdagangan baru yang patut kita simak. Model tersebut bisa digolongkan sebagai jenis model perdagangan internasional post-neoklasik. Pembahasan serta perumusan model perdagangan yang baru ini termuat dalam buku karangan Michael E. Porter yang berjudul Competitive Advantage of Nations. Perubahan fundamental yang dibuat Porter, dari rumusan teori standar, yaitu teori kelimpahan faktor neoklasik adalah penonjolan perbedaan kualitatif antara faktor-faktor produksi dasar dan lanjutan. Ia mengatakan bahwa teori perdagangan standar hanya berlaku untuk faktor-faktor produksi dasar (basic factors) seperti sumber daya fisik yang belum terolah dan tenaga kerja nonterampil. Sedangkan untuk faktor-faktor produksi lanjutan (advanced factors), yang lebih terspesialisasi dan termasuk di antaranya adalah tenaga kerja sumber daya pengetahuan seperti institusi riset milik pemerintah dan swasta, universitas, atau lembaga ilmiah swasta; serta sumber daya institusional seperti asosiasi bisnis yang tangguh, teori perdagangan standar itu sama sekali tidak berlaku. Selanjutnya, Porter menyimpulkan sebagai berikut:

Tugas utama yang harus dihadapi negara-negara Dunia Ketiga dewasa ini adalah melepaskan diri dari belenggu ketat keunggulan nasional yang hanya bertumpu pada faktor-faktor produksi dasar… seperti sumber daya alam, tenaga kerja yang murah tetapi tidak ahli, faktor lokasi, dan sebagainya, yang sebenarnya tidak bisa diandalkan untuk meningkatkan kapasitas ekspor negara yang bersangkutan… [serta] sangat rapuh terhadap gejolak kurs dan fluktuasi biaya-biaya faktor produksi. Sektor-sektor industri yang terlalu mengandalkan faktor-faktor produksi dasar itu, biasanya juga sulit berkembang, oleh karena kemajuan teknologi di berbagai perekonomian maju telah mampu menghemat pemakaian atas setiap bentuk faktor produksi dasar, sehingga sektor-sektor industri yang masih terus bersandar padanya akan kehilangan daya saingnya; lagi pula, struktur permintaan juga semakin canggih. Oleh karena itu, penciptaan serta pengembangan faktor-faktor produksi lanjutan agaknya merupakan prioritas utama.

(hlm. 34)
Pengangguran, Pemanfaatan Sumber-sumber Daya yang Tidak Optimal, serta Teori Perdagangan “Pengejaran Surplus”
Yang pertama adalah adanya penyerapan sumber daya yang kurang optimal, bisa dipandang sebagai peluang untuk mengembangkan kapasitas produktif dan GNP dengan sedikit atau tanpa biaya riil, yakni melalui penggarapan barang ekspor yang tidak dibutuhkan oleh para konsumen di dalam negeri. Argumen inilah yang kemudian dikenal sebagai teori perdagangan internasional yang menekankan pada pengejaran surplus (vent-for-surplus theory of international trade). Ekonom yang pertama kali merumuskannya adalah Adam Smith, yang kemudian dimodifikasi dalam konteks negara-negara berkembang oleh ekonom terkemuka berkebangsaan Birma (Myanmar), Hla Myint.

Teori ini menyatakan bahwa pembukaan pasar-pasar internasional bagi perekonomian atau masyarakat agraria yang semula terkucil akan menciptakan berbagai peluang, tetapi

(hlm. 36)
bukannya untuk merealokasikan sumber daya yang semuanya telah terdayagunakan secara penuh seperti yang dikemukakan oleh model-model tradisional, melainkan untuk menyerap segenap sumber daya yang semula belum termanfaatkan secara memadai, baik itu berupa sumber daya tanah maupun tenaga kerja, untuk mengembangkan sektor produksi ekspor yang khusus ditujukan untuk mengisi permintaan dari pasar-pasar di luar negeri.

Teknologi Baku yang Tersedia Secara Bebas dan Konsep Kedaulatan Konsumen

(hlm. 37)
Misalnya, diperkirakan bahwa di banyak negara berkembang, lebih dari 90 persen iklan ternyata berasal dari perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di pasar setempat.

Mobilitas Faktor Internal dan Persaingan Sempurna: Skala Hasil yang Semakin Meningkat, Persaingan Tidak Sempurna, dan Pasar-pasar yang Dikontrol

(hlm. 39)
Jadi, pendapat para penganjur perdagangan bebas bahwa skala ekonomis menentukan pola perdagangan memang terbukti, hanya saja hal itu bersifat negatif. Skala ekonomis raksasa membuka peluang bagi adanya kontrol monopolistik atau oligopolistik di sisi penawaran pasar-pasar dunia (hal yang sama juga berlaku di pasar-pasar domestik), dan ini bisa terjadi pada semua jenis produk.

(hlm. 40)
Tidak Adanya Kiprah Pemerintah dalam Hubungan-hubungan Perdagangan
Keberhasilan ekspor spektakuler yang dialami oleh Jepang serta, baru-baru ini, Korea Selatan dan Taiwan, banyak bertumpu pada kejelian,

(hlm. 41)
bantuan, dan dukungan pemerintahnya dalam menyusun perencanaan ekonomi dan mempromosikan sektor-sektor industri ekspor pilihan sebagai pilar perekonomian mereka.

Pemerintah sendiri masih memiliki banyak instrumen perdagangan atau kebijakan-kebijakan komersial lainnya yang secara efektif dapat mempengaruhi perdagangan antar-bangsa, yakni mulai dari kebijakan tarif (tariffs), pemberlakuan kuota (quotas) impor, subsidi (subsidies) ekspor, dan sebagainya.

(hlm. 42)
Inti pemikiran yang hendak disampaikan di sini sebenarnya sederhana saja. Yakni bahwasanya teori-teori perdagangan tradisional selama ini telah mengabaikan peranan pemerintah yang sesungguhnya sangat penting dalam arena ekonomi internasional.

(hlm. 45)
Beberapa Kesimpulan Mengenai Perdagangan dan Pembangunan Ekonomi: Keterbatasan Teori

(hlm. 47)
Jawaban bagi pertanyaan dasar keempat—yakni, apakah negara-negara berkembang bisa turut menentukan seberapa banyak mereka harus berdagang—dapat dikatakan bersifat spekulatif. Bagi kebanyakan negara-negara berkembang yang relatif kecil serta miskin, pilihan untuk tidak berdagang sama sekali (yakni, dengan menutup hubungan ekonomisnya dengan negara-negara lain), bukan merupakan suatu pilihan yang realistis, terlepas dari setimpang apa pun perdagangan itu bagi mereka.

(hlm. 49)
Memang ada segelintir negara-negara berkembang yang berhasil mencapai kemakmuran dalam kerangka atau rezim perdagangan global yang ada (yang kemudian menjadi negara-negara industri baru), tetapi yang dirugikan jauh lebih banyak, dan di antara mereka ini bahkan banyak yang perekonomiannya masih bergantung pada negara-negara maju.

(hlm. 51)
Studi Kasus
Perekonomian Taiwan

Catatan Belakang
18. Untuk memperoleh suatu analisis yang sangat baik mengenai peranan penting pemerintah dalam keberhasilan ekspor pasar bebas di Keempat Macan Asia, lihatlah karya Stephen C. Smith, Industrial Policy in Developing Countries: Reconsidering the Real Sources of Export-Led Growth (Washington D.C.: Economic Policy Institute, 1991); serta Robert Wade, Governing the Market: Economic Theory and the Role of Government in East Asian Industrialization (Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1990).

(hlm. 60)
13
Perdebatan Tentang Kebijakan Perdagangan:
Promosi Ekspor, Substitusi Impor, dan Integrasi Ekonomi

(hlm. 61)
Strategi-strategi Perdagangan bagi Kepentingan Pembangunan: Strategi Promosi Ekspor versus Strategi Substitusi Impor
Menurut rumusan Paul Streeten, kebijakan-kebijakan pembangunan yang berorientasi ke luar (outward-looking development policies) adalah suatu rangkaian kebijakan yang “tidak hanya mendorong berlangsungnya perdagangan bebas tetapi juga memungkinkan pergerakan secara bebas atas faktor-faktor produksi modal, tenaga kerja, perusahaan-perusahaan dan para pelajar…, perusahaan-perusahaan multinasional, dan suatu sistem komunikasi yang terbuka”. Sebaliknya, strategi atau kebijakan-kebijakan pembangunan yang berorientasi ke dalam (inward-looking development policies) jauh lebih menekankan pada pentingnya usaha-usaha negara-negara berkembang untuk menciptakan suatu pendekatan pembangunan mandiri yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi pembangunannya agar mereka lebih mampu mengendalikan atau menentukan nasibnya sendiri.

(hlm. 62)
Dalam praktiknya, perbedaan antara kedua strategi tersebut (IS dan EP) sesungguhnya tidak begitu jelas, dan jauh lebih kecil daripada yang banyak dikatakan oleh para pendukungnya.

(hlm. 63)
Negara-negara berkembang yang paling awal menganut strategi promosi ekspor ini antara lain adalah Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Hong Kong yang kini sudah berhasil menjadi pengekspor terkemuka kelas dunia.

Promosi Ekspor: Berorientasi ke Luar dan Menghadapi Hambatan-hambatan Perdagangan

Pengembangan Ekspor Komoditi Primer: Permintaan Terbatas, Pasar Terus Menyusut

(hlm. 65)
Salah satu cara yang digunakan secara luas untuk mengubah kecenderungan menurunnya harga produk-produk primer secara relatif terhadap barang-barang dagangan internasional lainnya adalah dengan mengadakan perjanjian komoditi internasional (international commodity agreements).

(hlm. 66)
Barang-barang substitusi sintetis (synthetic substitutes) bagi berbagai macam komoditi primer seperti kapas, karet, sisal, jute, kulit, dan bahkan tembaga, yang jauh lebih murah daripada aslinya itu jelas sangat menghambat terciptanya harga komoditi yang lebih tinggi dan merupakan saingan berat bagi produk asli di pasar ekspor dunia.

Contoh yang lebih memprihatinkan adalah kebijakan Uni Eropa untuk menjual daging sapi berharga murah (karena disubsidi) ke sejumlah negara di Afrika Barat dengan kedok “bantuan ekonomi”. Tujuannya ternyata adalah untuk menciptakan pasar bagi para peternak mereka sendiri, sementara itu para peternak dan pedagang sapi lokal di negara-negara

(hlm. 67)
Afrika Barat bangkrut karena tidak bisa menyaingi harga daging impor yang murah akibat rekayasa pemerintah negara-negara asalnya.

Pengembangan Ekspor Produk-produk Manufaktur: Sedikit Hasil, Setumpuk Hambatan

(hlm. 68)
Di Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura (seperti halnya Jepang di masa sebelumnya), penentuan tingkat produksi ekspor serta komposisinya tidak diserahkan kepada mekanisme pasar, melainkan direncanakan secara cermat dan langsung oleh pemerintahnya.

(hlm. 70)
Substitusi Impor: Berorientasi ke Dalam tetapi Masih Memandang ke Luar
Meskipun biaya-biaya produksi awal mungkin lebih tinggi daripada harga impor, akan tetapi alasan-alasan ekonomi yang dijadikan landasan bagi pembangunan pabrik-pabrik yang menghasilkan barang substitusi impor itu adalah bahwa pada akhirnya industri tersebut akan membuahkan keuntungan setelah berproduksi pada skala besar sehingga biaya-biaya lebih murah. Inilah yang biasanya disebut dengan argumen industri bayi (infant industry), yang dalam perkembangan selanjutnya diselewengkan oleh para pelakunya dengan terus saja meminta

(hlm. 71)
proteksi dari pihak pemerintah, antara lain dalam bentuk tarif sekadar untuk menumpuk keuntungan sendiri dan menghindarkan diri dari tekanan-tekanan persaingan.

Argumen Tarif, Industri Bayi, dan Teori Proteksi

Salah satu mekanisme pokok dalam strategi substitusi impor adalah pemberlakuan tarif (tariff) protektif (berupa pajak atau bea masuk untuk setiap produk impor) atau kuota (quota) (pembatasan jumlah atau volume produk untuk setiap kurun waktu tertentu) pada industri substitusi impor yang akan dioperasikan.

(hlm. 73)
Para konsumen domestik harus membayar harga yang lebih tinggi. Oleh karena itu, kuantitas permintaan mereka pun menurun dari Q3 menjadi Q5.

(hlm. 74)
Strategi Industrialisasi Substitusi Impor dan Hasil-hasilnya
Sebagian besar pengamat sependapat bahwa penerapan strategi industrialisasi substitusi impor di sejumlah besar negara-negara berkembang, terutama di negara-negara Amerika Latin, telah menunjukkan ketidakberhasilannya. Dampak negatif yang pertama, kedua,

Dampak negatif yang ketiga, keempat,

(hlm. 75)
Dampak kelima, dan yang terakhir. Banyaknya industri bayi yang tidak pernah tumbuh, karena terus bersembunyi di belakang proteksi tarif dan adanya keengganan pemerintah untuk memaksa mereka menjadi lebih kompetitif dengan cara menurunkan tarif.

(hlm. 77)
Ternyata memang sulit untuk mencari logika yang benar-benar rasional dan kuat bagi diterapkannya pola strategi industrialisasi substitusi impor yang pada kenyataannya telah dipromosikan dan diimplementasikan secara luas di banyak negara, baik itu yang berlangsung secara sadar maupun tidak.

Struktur Tarif dan Proteksi Efektif

(hlm. 79)
Tabel 13-2
Tingkat Proteksi Efektif di Sejumlah Negara-negara Berkembang

Negara Rata-rata Tingkat Proteksi Efektif (%)
Singapura 22
Korea Selatan -1

(hlm. 81)

  1. Pungutan pajak dari transaksi-transaksi perdagangan internasional merupakan sumber penghasilan utama bagi pemerintah dari sebagian negara-negara berkembang, karena hal itu merupakan bentuk pajak yang mudah dikenakan, bahkan sangat mudah dikumpulkan.
  2. Larangan impor merupakan salah satu bentuk tanggapan atau reaksi terhadap kronisnya keseimbangan neraca pembayaran dan masalah utang.
  3. Proteksi terhadap barang-barang impor merupakan salah satu cara yang paling tepat dalam rangka menumbuhkan skala ekonomis, eksternalitas positif, serta kemandirian industri dan menanggulangi masalah ketergantungan ekonomi yang dihadapi oleh negara-negara Dunia Ketiga pada umumnya.
  4. Akhirnya, dengan melaksanakan pembatasan impor, maka negara-negara berkembang dapat lebih menentukan kondisi dan masa depan perekonomiannya sendiri sambil mendorong para pengusaha asing untuk menanamkan modalnya secara langsung pada sektor-sektor industri substitusi impor di dalam negeri agar menghasilkan keuntungan yang lebih banyak, sehingga dengan demikian meningkatkan potensi tabungan domestik dan pertumbuhan ekonomi di masa-masa yang akan datang.

Nilai Tukar, Pengawasan Devisa, dan Keputusan Devaluasi

(hlm. 83)
Piranti penjatahan seperti itu biasa disebut dengan pengawasan devisa (exchange control). Kebijakan ini sangat luas digunakan di negara-negara Dunia Ketiga dan mungkin merupakan mekanisme keuangan utama yang mereka gunakan dalam rangka mempertahankan kecukupan jumlah cadangan devisa pada tingkat nilai tukar resmi (yang berlebihan itu) yang berlaku, walaupun untuk sekarang-sekarang ini kebijakan tersebut menjadi jarang digunakan.

(hlm. 85)
Devaluasi (devaluation) terhadap mata uang suatu negara adalah penetapan nilai tukar yang lebih rendah bagi mata uang tersebut terhadap valuta-valuta asing secara mendadak lewat keputusan pemerintah. Sebaliknya, depresiasi (depreciation) adalah penurunan daya beli mata uang domestik secara bertahap di pasar luar negeri relatif jika dibandingkan di pasar domestik. Lawan katanya adalah apresiasi (appreciation), yakni peningkatan daya beli mata uang domestik secara bertahap.

(hlm. 87)
Rangkuman dan Kesimpulan: Pendukung dan Penentang Perdagangan Bebas

(hlm. 88)
Argumen-argumen Para Pengecam Perdagangan Bebas
Para pengecam perdagangan cenderung memusatkan perhatian utamanya kepada tiga tema dasar, yakni: (1) terbatasnya laju pertumbuhan atas permintaan dunia terhadap ekspor primer dari negara-negara Dunia Ketiga; (2) kemerosotan dasar-dasar perdagangan atau nilai tukar perdagangan secara sepihak yang diderita oleh negara-negara berkembang penghasil komoditi primer; serta (3) terus meningkatnya “proteksionisme baru” (new protectionism) di kalangan negara-negara maju terhadap ekspor produk manufaktur dan produk-produk pertanian olahan dari negara-negara berkembang.

(hlm. 89)
Argumen-argumen Para Pendukung Perdagangan Bebas
Pendapat ini sendiri mereka lontarkan berdasarkan pada keyakinan dasar yang mereka anut, yakni bahwa pada hakikatnya perdagangan itu mengandung sejumlah keuntungan sebagai berikut:

  1. Perdagangan bebas meningkatkan persaingan, memperbaiki alokasi segenap sumber daya serta menciptakan skala ekonomis di bidang-bidang atau sektor-sektor ekonomi di mana negara-negara berkembang memiliki keunggulan komparatif. Sebagai konsekuensinya, perdagangan bebas akan dapat menurunkan biaya-biaya produksi pada umumnya.
  2. Perdagangan bebas menimbulkan tekanan-tekanan yang mengarah pada peningkatan efisiensi, perbaikan kualitas produk, serta menyempurnakan mutu teknologi-teknologi produksi. Semuanya ini akan meningkatkan produktivitas faktor-faktor produksi (input) sehingga akan semakin menghemat biaya-biaya produksi.
  3. Perdagangan bebas memacu pertumbuhan ekonomi, menaikkan nilai laba dan mempromosikan peningkatan tabungan serta investasi yang kemudian semakin memacu pertumbuhan di masa-masa selanjutnya.

(hlm. 90)
4. Perdagangan bebas akan menarik masuk modal, keahlian, dan teknologi dari luar negeri, yang kesemuanya itu merupakan sumber-sumber daya yang sangat dibutuhkan, tetapi sangat langka di negara-negara berkembang.
5. Perdagangan bebas mendatangkan devisa yang kemudian bisa digunakan untuk keperluan impor; misalnya, impor bahan pangan bila suatu saat negara yang bersangkutan mengalami masa-masa paceklik akibat musim kering yang berkepanjangan atau terjadinya bencana alam.
6. Perdagangan bebas cenderung menghapuskan setiap distorsi harga yang mahal yang diakibatkan oleh intervensi pemerintah yang salah arah, baik itu di pasar ekspor maupun pasar valuta asing, serta menyempurnakan alokasi pasar yang akan mengikis praktik-praktik korupsi dan perburuan rente nonproduktif yang seringkali timbul sebagai akibat dari intervensi pemerintah yang terlalu aktif.
7. Perdagangan bebas meningkatkan pemerataan untuk mendapatkan akses ke setiap sumber daya yang langka, serta memperbaiki kualitas alokasi sumber daya secara keseluruhan.
8. Perdagangan bebas memungkinkan negara-negara berkembang untuk mengambil keuntungan penuh dari reformasi yang dilakukan oleh WTO.

Upaya Mempertemukan Kedua Kubu Argumen: Data dan Konsensus

Jadi, tatkala perekonomian global tengah mengalami perkembangan yang pesat, seperti yang terjadi pada periode antara tahun 1960 hingga tahun 1973, negara-negara berkembang yang perekonomiannya lebih terbuka (lebih aktif terlibat dalam kegiatan perdagangan internasional memang lebih berhasil dan lebih banyak meraup keuntungan daripada rekan-rekannya yang perekonomiannya relatif tertutup. Untuk periode ini, sebagian besar pendapat kaum pendukung perdagangan bebas memang banyak terbukti. Namun, ketika perekonomian dunia mengalami kemerosotan tajam seperti yang berlangsung selama periode antara tahun 1973 hingga tahun 1977, maka perekonomian negara-negara berkembang yang lebih terbuka (kecuali keempat negara industri baru Asia) benar-benar mengalami masa yang sulit.

(hlm. 91)
Untuk periode ini, pendapat kaum penentang perdagangan bebas lebih terasakan kebenarannya.

(hlm. 93)
Perdagangan Selatan-selatan dan Integrasi Ekonomi di Antara Negara-negara Dunia Ketiga: Penetapan Orientasi ke Luar Sekaligus ke Dalam

(hlm. 97)
Blok-blok Perdagangan Regional dan Globalisasi Perdagangan
Kegagalan dan runtuhnya Masyarakat Afrika Timur (East African Community) pada dekade 1970-an menunjukkan secara jelas betapa konflik politik dan ideologi selalu menjadi ancaman—dalam kasus ini di antaranya Kenya, Tanzania, dan Uganda—karena pengaruhnya bisa melampaui logika-logika ekonomi yang terkandung dalam prinsip kerjasama regional.

(hlm. 107)
Studi Kasus
Perekonomian Korea Selatan

Sumbangan sektor pertanian bagi GDP: 5 persen (data tahun 2000)
Jika seseorang diminta untuk menyebutkan contoh yang sangat sukses tentang bagaimana perdagangan internasional dapat mentransformasikan suatu negara terbelakang dari kondisi kemiskinan yang meluas ke keadaan yang memiliki status berpendapatan-tinggi dalam waktu satu generasi, jawabannya pasti Korea Selatan.

(hlm. 108)
Korea Utara dianugerahi sumber daya alam yang lebih kaya. Sebagian besar sumber mineral berharga dan pembangkit listrik tenaga air, serta berbagai macam sarana infrastruktur industri berat yang dibangun Jepang selama periode penjajahannya ada di wilayah Korea Utara.
Atas dasar alasan-alasan itu maka Korea Selatan mengawali periode pasca perang dengan pendapatan nasional bruto per kapita yang jauh lebih rendah dari saudaranya di Utara.
Bantuan itu telah dihentikan sejak tahun 1980.

(hlm. 109)
Oleh sebab itu, hanya dalam waktu dua dasawarsa, GNP per kapita Korea Selatan dapat melonjak sebanyak dua puluh kali lipat. GNP per kapita Korea Selatan, yang pada tahun 1963 baru mencapai US$100, kini lebih dari US$10.000.

(hlm. 117)
14
Neraca Pembayaran, Utang Negara-negara Dunia Ketiga, dan Kontroversi Stabilitas Makroekonomi

(hlm. 118)
Neraca Pembayaran
Tinjauan Umum
Sebuah tabel neraca pembayaran dirancang untuk merangkum transaksi finansial penduduk (pelaku ekonomi secara keseluruhan, termasuk pemerintah) dari suatu negara dengan penduduk atau pelaku ekonomi dari negara-negara lain. Komponen pertama dari neraca pembayaran adalah neraca transaksi berjalan (current account), yaitu sebuah neraca yang berfokus pada transaksi ekspor dan impor (barang maupun jasa), pendapatan investasi, pembayaran cicilan dan pokok utang luar negeri, serta saldo kiriman dan transfer uang dari dan ke luar negeri baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun kalangan swasta (individual).

(hlm. 119)
Tabel 14-1
Skema Neraca Pembayaran

Komponen Neraca Pembayaran Rumus
Total saldo neraca transaksi berjalan A – B + C – D + E
Total saldo neraca transaksi modal G + H – I – J

Selanjutnya, komponen neraca pembayaran kedua adalah neraca modal (capital account), mencatat antara lain nilai investasi pihak swasta asing secara langsung (foreign direct investment), terutama yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan multinasional, pinjaman luar negeri yang diberikan oleh perbankan swasta internasional, serta pinjaman dan hibah dari pemerintah negara-negara lain (dalam bentuk bantuan luar negeri), serta dari lembaga-lembaga donor multilateral seperti halnya IMF dan Bank Dunia. Arus masuk dari dana-dana luar negeri itu kemudian dikurangi oleh suatu jenis transaksi yang sangat besar nilainya, terutama bagi berbagai negara pengutang terbesar di Amerika Latin dan Afrika.

(hlm. 120)
Komponen ketiga dan yang terakhir dari neraca pembayaran adalah neraca tunai (cash account) atau lebih sering disebut sebagai neraca cadangan internasional (international reserve account), yakni transaksi L dalam Tabel 14-1. Pada dasarnya, komponen ini hanya merupakan transaksi penyeimbang (sama halnya dengan transaksi M, yakni suatu transaksi yang mencatat kesalahan dan penghapusan, guna mengakomodasikan selisih-selisih statistik; bedanya, transaksi L melibatkan perubahan kekayaan, sedangkan transaksi M sekedar perubahan angka-angka di atas kertas) yang angkanya menjadi lebih kecil atau diturunkan (menunjukkan terjadinya arus keluar neto atas cadangan internasional dari negara yang bersangkutan) apabila total pengeluaran pada neraca transaksi berjalan dan neraca modal melebihi total penerimaannya.

(hlm. 121)
Sebuah Ilustrasi Hipotesis: Defisit dan Utang
Tabel 14-3
Tabel Neraca Pembayaran Hipotesis untuk Sebuah Negara Berkembang

Pos/Neraca Jumlah (US$ juta)
Saldo Neraca Transaksi Berjalan -27
Saldo Neraca Transaksi Berjalan dan Neraca Modal -25
Saldo Neraca Tunai +25

(hlm. 123)
Kembali ke Tabel 14-3, kita lihat bahwa alasan utama mengalirnya dana-dana modal dari negara-negara miskin ke negara-negara kaya adalah tingginya tingkat pelarian modal.

(hlm. 128)
Krisis Utang pada Dekade 1980-an
Latar Belakang dan Analisis

(hlm. 130)
Namun, masalah serius muncul ketika (1) akumulasi utang itu menjadi begitu besar sehingga tingkat kenaikannya, atau d, mulai turun sehubungan dengan meningkatnya rasio amortisasi (pelunasan bertahap) relatif terhadap tingkat arus masuk pinjaman baru; (2) sifat dan syarat pinjaman itu berubah, yakni dari pinjaman resmi berbunga rendah dan baku dengan masa pengembalian yang panjang menjadi pinjaman komersial berbunga tinggi, bersifat variabel (bisa berubah mengikuti bunga di pasar) dengan masa pengembalian yang relatif singkat, sehingga r pun cenderung meningkat; (3) pendapatan ekspor (sumber valuta asing untuk membayar kembali utang luar negeri) terus mengalami tukar perdagangannya, sehingga mengguncangkan posisi neraca pembayaran negara pengutang; (4) terjadi resesi global serta gejolak-gejolak eksternal berskala besar lainnya seperti lonjakan harga minyak, lonjakan suku bunga di Amerika Serikat yang menjadi dasar penetapan suku bunga utang-utang internasional, atau berlangsungnya perubahan mendadak atas nilai dolar Amerika Serikat yang menjadi satuan hitung (denominasi) sebagian besar utang luar negeri; (5) kepercayaan kreditor terhadap kemampuan membayar kembali negara-negara berkembang berkurang akibat terjadinya faktor (2), (3), dan (4), sehingga bank-bank internasional memotong arus pinjaman baru; serta, mungkin ini yang paling penting (6) sebagian penduduk domestik di negara-negara Dunia Ketiga melarikan dan memarkir dananya ke luar negeri (capital flight) berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ekonomi atau politik mereka sendiri (misalnya, mereka khawatir pemerintahnya akan melakukan devaluasi), karena mereka merasa kondisi negaranya sendiri kurang aman, golongan masyarakat yang berada itu melarikan hartanya ke negara-negara maju untuk didepositokan pada bank-bank di luar negeri atau diinvestasikan ke dalam saham-saham atau obligasi perusahaan-perusahaan asing, atau berupa real estate dan aset-aset lainnya di luar negeri.

(hlm. 132)
Tabel 14-7
Utang dan Angsuran Utang di 20 Negara Pengutang Kelas Berat, 1999

Negara Utang yang Belum Dilunasi (dalam US$ miliar) Angsuran Utang (Persentase dari GNI) Persentase dari Ekspor Rasio Utang Terhadap GNI (%) Rasio Utang Terhadap Ekspor (%)
Indonesia 150,0 13,5 30,3 113 255

(hlm. 135)
Dihadapkan pada situasi-situasi krisis seperti itu, negara-negara Dunia Ketiga memiliki dua pilihan kebijakan untuk mengatasinya. Yang pertama, mereka dapat membendung impor serta menerapkan kebijakan-kebijakan fiskal dan moneter yang serba restriktif, yang risikonya akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan tidak terjangkaunya target-target pembangunan mereka. Pilihan yang kedua adalah, mereka menarik utang lebih banyak lagi untuk membiayai defisit neraca transaksi berjalan yang semakin besar itu.

(hlm. 137)
Upaya Penanggulangan: Instabilitas Makroekonomi, Kebijakan-kebijakan Stabilisasi IMF, serta Berbagai Kelemahannya
Program Stabilisasi IMF
Salah satu rangkaian kegiatan yang terpaksa ditempuh oleh suatu negara dalam rangka menanggulangi berbagai macam masalah pelik yang bersumber dari instabilitas makroekonomi (macroeconomic instability)—yakni, lonjakan inflasi domestik yang dibarengi pula dengan anggaran pemerintah yang memburuk dan defisit neraca pembayaran—yang acapkali masih diperparah lagi oleh tekanan-tekanan beban utang, adalah pelaksanaan renegosiasi dengan bank-bank swasta internasional.
Pada dasarnya terdapat empat komponen dasar yang terkandung dalam program stabilisasi IMF, yakni:

  1. Penghapusan atau liberasi atas kontrol pihak pemerintah terhadap lalu lintas devisa dan impor.
  2. Devaluasi nilai tukar resmi mata uang domestik negara-negara berkembang yang seringkali terlalu tinggi (overvalued).
  3. Pemberlakuan program-program anti-inflasi domestik serba ketat yang terdiri dari (a) kontrol terhadap arus kredit perbankan dalam rangka meningkatkan suku bunga dan memperketat syarat-syarat volume cadangan (reserve requirements), yakni sebagian dana yang harus disimpan di bank sentral sebelum suatu bank komersial dapat melemparkan kredit kepada nasabahnya; (b) kontrol terhadap defisit anggaran sosial bagi penduduk miskin, subsidi bahan pangan yang biasanya disertai dengan upaya-upaya peningkatan pajak, dan harga-harga produk yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan milik pemerintah; (c) kontrol terhadap kenaikan tingkat upah secara keseluruhan (agregat) guna memastikan bahwa tingkat upah tersebut tidak melebihi tingkat inflasi (misalnya dengan cara menghapuskan indeks upah); serta (d) menghilangkan berbagai bentuk kontrol harga serta mempromosikan beroperasinya mekanisme pasar yang lebih bebas.
  4. Peningkatan upaya untuk menarik dana investasi asing dan pembukaan perekonomian terhadap hubungan-hubungan komersial internasional.

(hlm. 141)
Strategi untuk Melepaskan Diri dari Utang
Banyak usulan yang telah diajukan untuk meringankan atau merenegosiasi beban utang negara-negara pengutang terbesar. Usulan itu sendiri sangat bervariasi, yakni mulai dari alokasi baru sejumlah DR sampai dengan program restrukturisasi (restructuring)—dengan persyaratan utang yang lebih memihak negara-negara berkembang,—atas pembayaran pokok pinjaman yang telah terlanjur jatuh tempo selama periode konsolidasi selama kurun waktu tertentu. Usulan terkenal lainnya yang dikenal sebagai Rencana Brady (Brady Plan) yang dilontarkan oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat, Nicholas Brady, pada tahun 1989, mencantumkan sebuah klausul baru guna meredam potensi kerugian bagi bank-bank komersial. Usulan lain berikutnya adalah apa yang dikenal sebagai pertukaran utang-untuk-modal (debt-for-equity swap). Mekanisme ini meliputi penjualan surat-surat promes dari pemerintahan negara-negara berkembang—yang merupakan dokumen pinjaman komersial negara-negara berkembang—kepada investor swasta (sebagian besar adalah perusahaan-perusahaan asing) dengan potongan harga lebih dari 50 persen dalam pasar-pasar perdagangan sekunder. Perusahaan-perusahaan itu kemudian memperdagangkan surat promes negara-negara debitor tersebut untuk mendapatkan aset lokal yang dimiliki negara, seperti perusahaan peleburan baja atau perusahaan telekomunikasi. Bank-bank komersial sekarang lebih bersedia untuk melibatkan diri dalam transaksi-transaksi seperti ini karena penafsiran dan aturan perbankan yang baru di Amerika Serikat memungkinkan mereka untuk mencatat penghapusan utang itu sebagai biaya sehingga akan mengurangi kewajiban pajak mereka tanpa harus mengurangi nilai buku dari utang-utang lainnya yang dimiliki oleh negara tersebut.

(hlm. 142)
Pengaturan baru yang cukup menarik tetapi belum banyak diterapkan adalah pertukaran utang untuk lingkungan (debt-for-nature swap).
Yang lebih penting lagi, dengan tidak adanya ancaman penghapusan utang eksternal secara sepihak oleh pemerintahan negara-negara berkembang atau repudiasi utang (debt repudiation)—suatu kebijakan yang pasti merugikan pihak peminjam maupun pihak pemberi pinjaman dalam jangka pendek dan jangka panjang—maka selama itu pula sebagian besar usulan tersebut (kecuali pertukaran utang lingkungan) tidak akan mampu mengatasi masalah utang melainkan hanya menundanya saja; suatu saat masalah utang internasional tersebut akan muncul kembali dan menimbulkan krisis keuangan baru yang mungkin saja akan lebih kompleks, lebih berat, dan jauh lebih sulit diatasi daripada krisis yang sudah-sudah.

(hlm. 147)
Studi Kasus
Perekonomian Venezuela

(hlm. 148)
Venezuela terletak di posisi yang sangat strategis. Wilayahnya merupakan titik silang jalur udara dan laut antara bagian utara dan selatan Belahan Dunia Barat. Venezuela memiliki tepian pantai yang sangat panjang, yakni mencapai 2.816 kilometer, di tepi laut Karibia dan Samudera Atlantik. Dan 4 dari 5 orang Venezuela tinggal di ibu kota Caracas.

(hlm. 154)
Lampiran 14-1
Sejarah dan Analisis Singkat mengenai Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank)

Dana Moneter Internasional
Para peserta konferensi Bretton Woods menetapkan sistem nilai tukar baku di mana setiap negara diwajibkan untuk membakukan nilai tukar mata uangnya secara relatif terhadap nilai dolar Amerika Serikat, yang pada saat itu merupakan satu-satunya mata uang yang konvertibel secara langsung terhadap emas pada paritas US$35 per ons emas.

(hlm. 156)
Pada tahun 1982, total utang luar negeri negara-negara berkembang non pengekspor minyak mencapai sekitar US$600 miliar, dan lebih dari separuhnya merupakan utang komersial (berbunga tinggi dan relatif berjangka pendek).

(hlm. 157)
Bank Dunia
Pinjaman yang ditawarkan IDA biasanya lebih bersifat konsesional dan lebih ringan persyaratannya. Bantuan ini diutamakan bagi negara-negara yang pendapatan per kapitanya di bawah tingkatan kritis. Kemudahan syarat pelunasan kembali kredit dari IDA itu meliputi pola periode pembayaran yang lebih lama daripada pinjaman IBRD dan bunganya nol.
Secara bersama-sama IBRD dan IDA itulah yang kita kenal sebagai Bank Dunia.

(hlm. 158)
Perubahan Peran
Bank Dunia diharapkan akan menangani berbagai macam investasi yang akan memacu pertumbuhan makroekonomi (yang pada gilirannya memberi pengaruh positif terhadap perdagangan internasional), namun pada dasarnya kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh Bank Dunia itu lebih bersifat makroekonomi, dan hal tersebut selanjutnya masih terus berlangsung sampai dekade 1970-an.

(hlm. 159)
Kerja Sama Antara IMF dan Bank Dunia
Jadi, sementara IMF bertanggung jawab atas usaha penyeimbangan neraca eksternal melalui program penyesuaian makroekonomi, maka Bank Dunia bertugas menangani produk domestik melalui kebijakan mikroekonomi.

(hlm. 164)
15
Keuangan, Investasi, dan Bantuan Luar Negeri:
Kontroversi dan Peluang

(hlm. 165)
Penanaman Modal Asing Swasta Secara Langsung dan Perusahaan-perusahaan Multinasional
Selama beberapa dasawarsa terakhir ini, bisa dikatakan tidak ada pihak atau lembaga lain yang mampu menyamai peranan, arti penting, dan pengaruh perusahaan-perusahaan multinasional (multinational corporations/MC) dalam pertumbuhan perdagangan internasional dan arus-arus permodalan global yang telah tumbuh sedemikian pesatnya.
Pertumbuhan penanaman modal asing secara langsung (foreign direct investment/FDI) yang dilakukan oleh pihak swasta—yakni, yang dana-dana investasinya langsung digunakan untuk menjalankan kegiatan bisnis atau mengadakan alat-alat atau fasilitas produksi seperti membeli lahan, membuka pabrik-pabrik, mendatangkan mesin-mesin, membeli bahan baku, dan sebagainya (istilah ini sengaja dimunculkan untuk membedakannya dari investasi portofolio, di mana dana-dana investasinya tidak secara langsung digunakan untuk kegiatan bisnis, yakni digunakan untuk membeli saham, obligasi, dan surat berharga lainnya)—

(hlm. 166)
Di negara-negara Dunia Ketiga telah berlangsung sangat cepat selama beberapa dasawarsa terakhir.
Kita harus menyadari bahwa perusahaan-perusahaan multinasional tidak tertarik untuk menunjang usaha pembangunan suatu negara. Perhatian mereka hanya tertuju kepada upaya maksimalisasi keuntungan atau tingkat hasil finansial atas setiap sen modal yang mereka tanamkan.

Tabel 15-1
Penanaman Modal Asing secara Langsung (FDI) di Negara-negara Berkembang, 1970-1999, dan Para Penerima Utama, 1997

Tahun Total FDI Neto (dalam US$ miliar) Negara Penerima Persentase dari total FDI yang diterima negara-negara berkembang
1970 3,1 Cina 21
1999 185,4 Cili 5

(hlm. 167)
Itulah sebabnya mengapa lebih dari 90 persen dana investasi asing swasta (perusahaan dan perbankan internasional, khususnya dari perusahaan-perusahaan multinasional) selama ini mengalir ke negara-negara industri maju dan sebagian negara-negara berkembang yang perekonomiannya paling dinamis dan pertumbuhannya relatif pesat.
Pada umumnya, perusahaan-perusahaan multinasional itu relatif sedikit mempekerjakan tenaga kerja setempat yang sebenarnya berkembang dengan sangat cepat.

Perusahaan-perusahaan Multinasional: Ukuran, Pola, dan Kecenderungan (Tren)
Sejumlah 350 perusahaan multinasional terbesar di dunia, sekarang ini mengendalikan lebih dari 40 persen aktivitas perdagangan dunia dan mendominasi produksi, distribusi, dan penjualan dari aneka komoditi dagang di negara-negara berkembang (tembakau, barang-barang elektronik, sepatu, pakaian, dan sebagainya).

(hlm. 170)
Penanaman Modal Swasta Asing: Beberapa Pendapat Pro dan Kontra Mengenai Kehadiran Serta Peranannya dalam Pembangunan
Argumen-argumen Ekonomi Tradisional yang Mendukung Penanaman Modal Asing: Pemenuhan Kesenjangan Tabungan (Modal), Devisa, Pendapatan, dan Manajemen
Argumen yang mendukung penanaman modal asing sebagian besar berasal dari analisis teori neoklasik tradisional dan teori pertumbuhan yang baru yang memusatkan perhatiannya pada berbagai determinan (faktor-faktor penentu) pertumbuhan ekonomi.

(hlm. 172)
Argumen-argumen yang Menentang Penanaman Modal Swasta Asing: Memperlebar Kesenjangan

  1. Walaupun perusahaan-perusahaan multinasional tersebut memang menyediakan sejumlah modal, namun dalam kenyataannya mereka bisa saja justru menurunkan tingkat tabungan maupun investasi domestik di negara tuan rumah sehubungan dengan akan terciptanya aneka bentuk persaingan tidak sehat yang bersumber dari perjanjian-perjanjian produksi eksklusif antara pihak perusahaan multinasional dengan pihak pemerintah di negara tuan rumah…

(hlm. 173)
2. Walaupun dampak awal (berjangka pendek) dari penanaman modal perusahaan multinasional memang dapat memperbaiki posisi devisa negara yang menerima mereka (negara tuan rumah), tetapi dalam jangka panjang dampaknya justru negatif, yakni dapat mengurangi penghasilan devisa itu, baik dari sisi neraca transaksi berjalan maupun neraca modal.

  1. Walaupun perusahaan multinasional memang bisa memberi kontribusi bagi penerimaan pemerintah dalam bentuk pajak perusahaan, tetapi dalam prakteknya nilai kontribusi tersebut jauh lebih kecil daripada seharusnya.
  2. Keterampilan dan pengalaman manajemen, semangat kewirausahaan, gagasan teknologi, dan jaringan hubungan dagang luar negeri yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan multinasional ternyata tidak banyak memberi manfaat bagi pengembangan sumber daya dan keterampilan kerja yang masih tergolong langka di negara tuan rumah.

(hlm. 176)
Mempertemukan Argumen-argumen yang Pro dan yang Kontra
Pihak-pihak yang mendukung penanaman modal swasta asing biasanya merupakan pendukung keberadaan mekanisme pasar bebas, kemandirian perusahaan-perusahaan swasta, dan prinsip kebebasan berusaha (laissez-faire) yang umumnya sangat mempercayai keandalan dan kegunaan mekanisme pasar bebas, yang seringkali diartikan sebagai peniadaan/penghapusan segala bentuk intervensi pemerintah negara tuan rumah.

(hlm. 177)
Tabel 15-3
Tujuh Bidang Perdebatan Pokok Mengenai Peranan dan Dampak Kehadiran Perusahaan Multinasional di Negara-negara Berkembang

Masalah Pokok
1. Pergerakan modal-modal internasional (arus pendapatan dan neraca pembayaran)
2. Tergusurnya kegiatan produksi atau unit ekonomi (perusahaan) lokal
3. Jangkauan transfer teknologi
4. Kelayakan transfer teknologi
5. Pola-pola konsumsi
6. Stratifikasi dan struktur sosial
7. Distribusi pendapatan dan pembangunan yang dualistik

(hlm. 179)
Mungkin argumen yang paling kuat yang mendukung keberadaan perusahaan-perusahaan multinasional di negara-negara berkembang adalah bahwa mereka mentransfer pengetahuan yang dimiliki oleh negara-negara maju ke negara-negara berkembang; tempat di mana perusahaan-perusahaan multinasional tersebut berada. Dani Rodrik telah melakukan suatu penelitian kepustakaan dan menyimpulkan bahwa, sejauh ini, tidak terdapat bukti atas adanya imbasan horizontal, yaitu imbasan pengetahuan dari perusahaan-perusahaan multinasional kepada produser lokal yang memproduksi jenis produk yang sama. Namun, Garrick Blalock melaporkan bukti-bukti statistik dan manajerial dari studi langsung untuk Indonesia yang mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan multinasional benar-benar mentransfer teknologi kepada para pemasok setempat, walaupun hanya dengan maksud agar mereka bisa mendapatkan input berkualitas tinggi dengan biaya murah. Hal ini mengungkapkan bahwa memang terdapat suatu imbasan teknologi yang signifikan, paling tidak untuk kasus Indonesia tetap ternyata imbasan yang terjadi lebih bersifat vertikal daripada horizontal.

(hlm. 180)
Investasi Portofolio Swasta: Berkah atau Musibah bagi Negara-negara Berkembang
Pada awal dekade 1990-an, tingkat hasil tahunan di bursa-bursa efek negara baru (emerging-country stock markets) tersebut sangat tinggi (pada periode antara tahun 1988 hingga tahun 1993 mencapai 39 persen untuk kawasan Amerika Latin), tetapi frekuensi dan cakupan gejolaknya juga tinggi.

(hlm. 183)
Bantuan (Pinjaman) Luar Negeri: Perdebatan Tentang Bantuan Pembangunan

(hlm. 188)
Alasan Pihak Donor Memberikan Bantuan

(hlm. 191)
Motivasi-motivasi Politik
Motivasi politik merupakan motivasi yang paling penting apabila ditinjau dari sudut pandang negara-negara pemberi bantuan, terutama bagi negara donor yang tergolong besar, seperti halnya Amerika Serikat.

(hlm. 203)
Studi Kasus
Perekonomian Indonesia

(hlm. 204)
Pada abad kelima belas, ketika Renaisans menyebar ke seluruh Eropa, Pulau Jawa dan Sumatera telah menikmati warisan kemajuan peradaban selama 1.000 tahun, dalam dua masa kekaisaran utama. Tetapi mulai tahun 1602, Belanda secara perlahan mengukuhkan dirinya sendiri sebagai penguasa terhadap seluruh kepulauan yang sekarang merupakan negara Indonesia. Selama 300 tahun pemerintahan mereka (hanya dapat diberhentikan untuk sesaat oleh pemerintahan peralihan Inggris selama periode Napoleon), Belanda berhasil membangun sebuah negara boneka Hindia-Belanda dan kemudian menjadikannya sebagai negara koloni terkaya di dunia.
Sejak Presiden Suharto mengambil alih kekuasaan, perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan secara teratur, dari GNP per kapita sebesar US$70 di tahun 1967 menjadi US$1.110 di tahun 1997. Negara ini diakui sebagai perekonomian industrialisasi baru. GDP riil tumbuh rata-rata mendekati 4,6 persen selama 35 tahun terakhir.

(hlm. 205)
Pada pertengahan dekade 1980-an, pemerintah mulai menghapuskan hambatan peraturan dalam aktivitas ekonomi. Langkah ini secara langsung diarahkan pada sektor eksternal dan keuangan dan dirancang untuk merangsang pertumbuhan ekspor nonminyak dan pendapatannya, serta menghilangkan hambatan substitusi impor.

(hlm. 223)
Bagian Keempat
Kemungkinan dan Prospek

(hlm. 225)
16
Perumusan Kebijakan Pembangunan dan Peranan Negara

Apabila sejak awal kita tahu di mana kita berada, dan tahu pula ke mana arah yang akan kita tuju, maka kita dapat memutuskan dengan lebih baik apa yang seharusnya kita kerjakan, serta bagaimana kita harus melakukannya. —Abraham Lincoln

Perdagangan tampaknya hampir menjadi bagian dari sifat inheren manusia. Pemenang Nobel, Amartya Sen menegaskan bahwa secara umum, penentangan terhadap pasar hampir sama anehnya dengan penentangan terhadap percakapan. Dia mengatakan bahwa, sejumlah percakapan memang mempunyai sisi negatif bahkan bagi orang yang melakukan percakapan itu sendiri, namun hal ini tidak dapat menjadi alasan untuk menentang pemerintah secara umum. Peran pemerintah dapat membantu pemenuhan berbagai kebutuhan manusia, dan dalam banyak hal, peran pemerintah merupakan hal yang esensial dalam upaya mencapai kebutuhan tersebut.

(hlm. 227)
Mistik Perencanaan

Dalam beberapa hal, perencanaan ekonomi secara terpusat bahkan dianggap sebagai “open sesame”, yakni sebuah kata rahasia yang dapat membuka sebuah gua yang penuh berisikan harta karun alias kata ajaib yang bisa mendatangkan pemecahan atas aneka persoalan.

Hakekat Perencanaan Pembangunan
Konsep-konsep Dasar

Perencanaan ekonomi (economic planning) bisa kita artikan sebagai upaya-upaya yang dilakukan secara sengaja oleh pemerintah untuk mengkoordinasikan segenap proses pembuatan keputusan ekonomi dalam jangka panjang, serta untuk mempengaruhi, mengarahkan, dan dalam beberapa kasus tertentu, juga untuk mengendalikan tingkat dan pertumbuhan variabel-variabel ekonomi pokok dari suatu negara (pendapatan, konsumsi, penyerapan tenaga kerja, investasi, tabungan, ekspor, impor, dan sebagainya) demi tercapainya tujuan-tujuan pembangunan yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun yang disebut sebagai rencana ekonomi (economic plan) pada dasarnya adalah serangkaian target ekonomi kuantitatif yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu, dengan menerapkan strategi yang tepat untuk mencapai target-target tersebut.

(hlm. 229)
Logika Perencanaan Pembangunan

Telah diterimanya pranata perencanaan sebagai suatu instrumen pokok pembangunan secara luas itu bertolak dari sejumlah alasan atau logika ekonomi dan institusional yang bersifat mendasar. Dari sekian banyak logika, kita bisa menunjuk empat buah di antaranya yang paling sering dikemukakan, sebagai berikut:

Kegagalan Pasar

(hlm. 230)
Sayangnya, kita tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa dalam praktik, kebijakan dapat memperbaiki kegagalan pasar, meskipun secara teori hal tersebut benar adanya! Kegagalan pemerintah juga dapat muncul dalam banyak kasus jika para politisi dan birokrat menempatkan kepentingan pribadi sebagai prioritas utama di atas kepentingan masyarakat.

(hlm. 231)
Mobilisasi dan Alokasi Sumber Daya
Dampak Perilaku atau Psikologis

(hlm. 232)
Bantuan Luar Negeri

Proses Perencanaan: Beberapa Model Dasar

Sesuai tradisi, sebagian besar rencana pembangunan pada mulanya didasarkan pada model makroekonomi yang kurang lebih dianggap formal. Secara umum, aneka model perencanaan ekonomi yang sangat luas dan bervariasi itu dapat dipilah-pilah menjadi dua kategori dasar, yaitu: (1) model-model pertumbuhan agregat, yang meliputi aneka perkiraan makroekonomis mengenai perubahan variabel-variabel ekonomi pokok yang direncanakan atau yang dibutuhkan; dan (2) model input-output multisektor dan model ekuilibrium umum yang dapat dihitung (computable general equilibrium/CGE) yang antara lain menentukan dampak dari produksi, sumber daya, tenaga kerja, dan devisa terhadap satu set target permintaan akhir tertentu dalam kerangka kerja arus produk antarindustri di suatu negara yang konsisten.

Model Pertumbuhan Agregat: Memproyeksikan Variabel-variabel Makro

(hlm. 234)
Selanjutnya, rumus tersebut dapat digunakan sebagai landasan perhitungan untuk mendapatkan jumlah tabungan yang memadai dari pendapatan yang merupakan keuntungan dan upah/gaji.

(hlm. 235)
Model Multi-Sektor dan Proyeksi Sektoral

Pendekatan lain yang jauh lebih canggih lagi terhadap perencanaan pembangunan menggunakan beberapa varian dari model antarindustri (interindustry model) atau model input-output (input-output model).

(hlm. 236)
Analisis input-output sering dikembangkan dengan menggunakan dua cara. Pertama, dengan memperhitungkan data pembayaran faktor-faktor produksi, sumber-sumber pendapatan rumah tangga, dan pola konsumsi barang oleh rumah tangga yang meliputi beragam kelompok sosial (seperti rumah tangga pedesaan dan perkotaan) maka terciptalah sebuah Matriks Akutansi Sosial (Social Accounting Matrix, SAM). SAM dapat diperoleh dengan menambahkan data dari basis data sistem saldo nasional, neraca pembayaran, dan arus dana (System of National Accounts, Balance of Payments, dan Flow of Funds data-bases), sering juga ditambah lagi dengan data hasil survei rumah tangga, kepada tabel input-output dasar. SAM, oleh sebab itu, merupakan sebuah deskripsi kuantitatif yang komprehensif dan terinci mengenai keterkaitan antarsektor dalam sebuah perekonomian pada suatu waktu tertentu, sehingga SAM dianggap sebagai perangkat yang sangat sesuai untuk mengevaluasi dampak dari berbagai alternatif kebijakan pembangunan. Untuk banyak negara, SAM kini sudah dapat ditemukan melalui internet.

Penilaian Proyek dan Analisis Biaya-Manfaat Sosial
Konsep-konsep Dasar dan Metodologi

Metodologi penilaian proyek bertumpu pada teori dan praktik analisis biaya-manfaat (cost-benefit analysis) sosial, yang juga digunakan di Amerika Serikat dan di negara-negara maju lainnya. Gagasan dasar analisis biaya-manfaat itu sendiri sebenarnya sederhana saja: Untuk menentukan harga atau nilai proyek yang melibatkan pengeluaran pemerintah (atau, pada proyek apa kebijakan pemerintah dapat memainkan peranan penting) maka segenap keuntungan (manfaat) atau kerugian (biaya) bagi masyarakat secara keseluruhan juga harus diperhitungkan.

(hlm. 238)
Perhitungan Harga Bayangan dan Tingkat Diskonto Sosial

  1. Inflasi dan mata uang dinilai berlebihan.
  2. Tingkat upah, biaya modal, dan pengangguran.
  3. Tarif, kuota, dan substitusi impor.
  4. Keterbatasan tabungan.
  5. Tingkat diskonto sosial (social rate of discount).

(hlm. 241)
Pemilihan Proyek: Beberapa Kriteria Keputusan
Karena kebanyakan negara-negara berkembang sangat kekurangan modal, maka dalam memilih investasi proyek biasanya juga melibatkan penetapan urutan semua proyek yang memenuhi konsep NPV.

(hlm. 242)
Krisis Perencanaan: Masalah Pelaksanaan dan Kegagalan Perencanaan
Teori versus Praktek Perencanaan

(hlm. 243)
Jadi, sementara kegagalan pasar berusaha dihindari, yang terjadi justru kegagalan pemerintah (government failure) yang lebih berbahaya dan merugikan.

(hlm. 247)
Kegagalan Pemerintah dan Bangkitnya Kembali Mekanisme Pasar Bebas yang Mengungguli Perencanaan
Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan, membuat sebuah ungkapan yang terkenal mengenai “keajaiban pasar”, yang diucapkan dalam pidatonya pada tahun 1981 di Cancun, Meksiko.
Beberapa negara-negara berkembang di kawasan Amerika Latin yang paling dahulu menerima mekanisme pasar antara lain adalah Cili (1973), Uruguay (1974), dan Argentina (1976), walaupun pemerintah mereka masih tetap mempertahankan peran aktifnya dalam perekonomian.

(hlm. 249)
Tabel 16-1
Beberapa Masalah Intervensi Pemerintah di Negara-negara Berkembang

Masalah Intervensi
1. Individu-individu sesungguhnya lebih banyak tahu mengenai preferensi dan kondisi-kondisinya sendiri daripada pemerintah.

(hlm. 250)
Ekonomi Pasar
Prakondisi Sosiokultural dan Syarat-syarat Ekonomi

  1. Kepercayaan
  2. Kepastian hukum dan ketertiban
  3. Perlindungan keamanan
  4. Persaingan
  5. Pembagian tanggung jawab
  6. Keluhuran sosial di masyarakat
  7. Mobilitas sosial
  8. Diakuinya nilai-nilai materialistik
  9. Kepuasan atau kecukupan massal
  10. Rasionalitas
  11. Adanya pemerintahan yang aparatnya bersih atau jujur
  12. Persaingan
  13. Kebebasan informasi
  14. Arus informasi.

(hlm. 251)

  1. Hak milik
  2. Adanya hukum perdata
  3. Kebebasan
  4. Mata uang yang nilainya stabil
  5. Pengawasan atau pengelolaan oleh pemerintah terhadap suatu monopoli alamiah
  6. Jaminan tersedianya kecukupan informasi
  7. Selera yang otonomi
  8. Fungsi manajemen oleh pemerintah atas berbagai eksternalitas
  9. Adanya instrumen-instrumen yang andal guna menstabilisasi kebijakan-kebijakan fiskal dan moneter (lihat Bab 17)
  10. Adanya jaring-jaring pengaman
  11. Adanya dorongan atau insentif bagi inovasi.

(hlm. 256)
“Konsensus Washington” tentang Negara yang Membangun dan Keterbatasannya
Tabel 16-2
“Konsensus Washington” dan Asia Timur

Elemen-elemen Konsensus Washington Korea Selatan Taiwan
Liberasi perdagangan Terbatas hingga dekade 1980-an Terbatas hingga dekade 1980-an

(hlm. 257)
Menuju Sebuah Konsensus Baru

(hlm. 258)
Ketika Cina menjalankan liberasi pada tahun 1978, negara tersebut memulainya dengan orang-orang dewasa yang mampu baca-tulis dan mengerti angka, dan paling tidak relatif sehat, dan hasilnya adalah pertumbuhan yang tinggi. Ketika India akhirnya mulai menjalankan liberalisasi sekitar tahun 1991 atau setelahnya—tanggal pasti liberalisasi ini masih diperdebatkan—hampir setengah dari penduduk dewasa masih buta huruf dan banyak yang masih kekurangan gizi dan kekurangan pelayanan kesehatan dasar. Seperti yang ditunjukkan oleh Amartya Sen, hal inilah yang menyebabkan hasil pertumbuhan Cina yang melakukan liberalisasi pasar lebih baik dibandingkan India.

(hlm. 259)
Ekonomi Politik Pembangunan: Teori Formulasi dan Reformasi Kebijakan

(hlm. 265)
Demokrasi versus Autokrasi: Yang Manakah yang Mempercepat Pertumbuhan?
“Hubungan antara demokrasi dengan pertumbuhan ekonomi tidak kuat.”

(hlm. 268)
Peraga 16-2
Aturan Hukum yang Lebih Baik Terkait dengan Pendapatan Per Kapita

(Peraga 16-2 hlm. 268)

(hlm. 275)
Studi Kasus
Perekonomian Ghana

(hlm. 276)
Pada saat merdeka pada tahun 1957, Ghana mempunyai infrastruktur fisik dan sosial yang cukup besar dan cadangan devisa sejumlah $481 juta.

(hlm. 279)
Studi Kasus
Perekonomian Filipina

(hlm. 280)
Mayoritas penduduk Filipina beretnis Melayu. Mereka adalah keturunan orang-orang yang semula bermukim di daerah yang kini menjadi wilayah Indonesia dan Malaysia yang bermigrasi ke pulau-pulau yang kini menjadi wilayah nasional Filipina pada ribuan tahun yang lampau.

(hlm. 288)
17
Sistem Keuangan dan Kebijakan Fiskal bagi Pembangunan

(hlm. 289)
Peran Sistem Keuangan

Umumnya, sektor riil dibedakan dari sektor keuangan. Terminologi ini sebenarnya kurang tepat, karena hal ini menyiratkan bahwa sektor keuangan tidak riil.
Mengapa masalah keuangan ini sangat penting? Sektor keuangan menyediakan enam fungsi utama yang sangat penting pada tingkat perusahaan maupun pada tingkat perekonomian secara keseluruhan.

  1. Menyediakan jasa pembayaran.
  2. Mempertemukan para penabung dan investor.
  3. Menghasilkan dan menyebarkan informasi.
  4. Mengalokasikan pinjaman secara efisien.
  5. Risiko penentuan harga, risiko pengumpulan, dan risiko perdagangan.
  6. Meningkatkan likuiditas aset.

(hlm. 296)
Peranan Bank Sentral

Peranan Bank Sentral di Negara-negara Maju
Kegiatan pokok mereka dapat dikelompokkan menjadi lima fungsi umum sebagai berikut:

  • Mencetak, mendistribusikan, serta mengawasi peredaran mata uang domestik; dan mengelola cadangan devisa nasional.
  • Bertindak dan berfungsi sebagai bankir pemerintah.
  • Bank Sentral berfungsi sebagai “bank untuk bank” (terhadap bank-bank komersial domestik).
  • Menjalankan fungsi dan kedudukan sebagai regulator terhadap seluruh lembaga keuangan domestik.
  • Bertindak selaku operator atau pelaksana kebijakan moneter dan perkreditan nasional.

(hlm. 307)

Reformasi Sistem Keuangan Negara-negara Dunia Ketiga
Liberasi Keuangan, Suku Bunga Riil, Tabungan, dan Investasi
Peraga 17-1
Dampak Penetapan Suku Bunga Maksimum Terhadap Alokasi Kredit
(Peraga 17-1 hlm. 307)
Suku bunga nominal
Dana kredit yang tersedia

(hlm. 321)
Efektivitas dan Efisiensi Administrasi Negara: Sumber Daya yang Paling Langka
Dalam semua pembahasan kita mengenai kebijakan, kita cenderung melalaikan suatu masalah yang sebenarnya merupakan kendala terbesar yang seringkali menghambat proses-proses pembangunan, yakni keandalan kemampuan administrasi.

(hlm. 324)
Badan-badan Usaha Milik Negara

(hlm. 327)
Swastanisasi: Teori dan Pengalaman Nyata

(hlm. 329)
Tabel 17-4
Transaksi-transaksi Swastanisasi yang Bernilai US$100 Juta atau Lebih
(Tabel 17-4 hlm. 329)

(hlm. 359)
Daftar Istilah

(hlm. 378)
Freedom (Kebebasan) Sebuah situasi di mana suatu masyarakat memiliki berbagai alternatif yang dapat digunakan untuk memperoleh segala sesuatu yang diinginkannya. Lihat juga penjelasan pada pembangunan (development).

 

 

Pengantar Pertumbuhan Ekonomi Modern

Daron Acemoglu

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Pengantar Pertumbuhan Ekonomi Modern oleh Daron Acemoglu.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

Pengantar Pertumbuhan Ekonomi Modern

diterjemahkan dari Introduction to Modern Economic Growth

Daron Acemoglu

Departemen Ekonomi, Massachusetts Institute of Technology


(Halaman XI)
Prakata
Buku ini dimaksudkan untuk memenuhi dua tujuan:
(1) Pertama dan terutama, ini adalah buku tentang pertumbuhan ekonomi dan perkembangan ekonomi jangka panjang. Proses pertumbuhan ekonomi dan sumber perbedaan kinerja ekonomi antar negara merupakan beberapa bidang yang paling menarik, penting, dan menantang dalam ilmu sosial modern.

Tujuan utama buku ini adalah memperkenalkan mahasiswa pascasarjana pada pertanyaan-pertanyaan besar ini dan alat teoretis yang diperlukan untuk mempelajarinya. Oleh karena itu, buku ini berusaha untuk memberikan latar belakang yang kuat dalam analisis ekonomi dinamis kepada mahasiswa, karena hanya latar belakang seperti itulah yang akan memungkinkan studi serius tentang pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi.

Buku ini juga berusaha memberikan pembahasan yang jelas tentang pola empiris yang luas dan proses sejarah yang mendasari keadaan ekonomi dunia saat ini. Ini dimotivasi oleh keyakinan saya bahwa untuk memahami mengapa beberapa negara tumbuh dan yang lain gagal, para ekonom harus melampaui mekanisme model dan mengajukan pertanyaan tentang penyebab mendasar dari pertumbuhan ekonomi.

(2) Dalam kapasitas yang sedikit berbeda, buku ini juga merupakan pengantar tingkat pascasarjana untuk makroekonomi modern dan analisis ekonomi dinamis. Terkadang dikomentari bahwa, tidak seperti teori mikroekonomi dasar, tidak ada inti dari teori makroekonomi saat ini yang dibagi oleh semua ekonom. Ini tidak sepenuhnya benar.

Meskipun ada perbedaan di antara para makroekonom tentang cara mendekati fenomena makroekonomi jangka pendek dan apa batasan-batasan makroekonomi, ada kesepakatan luas tentang model kerja dalam analisis makroekonomi dinamis. Ini termasuk model pertumbuhan Solow, model pertumbuhan neoklasik, model generasi tumpang tindih, dan model perubahan teknologi dan adopsi teknologi.

(Halaman xiv)
Versi 2.2: Oktober 2007.


(Halaman 3)
BAGIAN I PENGANTAR
BAB 1
Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi: Pertanyaan-Pertanyaan
1.1. Perbedaan Pendapatan Antar Negara
Saat ini, terdapat perbedaan yang sangat besar dalam pendapatan per kapita dan hasil per pekerja antar negara. Negara-negara di puncak distribusi pendapatan dunia lebih dari tiga puluh kali lebih kaya daripada negara-negara di bagian bawah. Sebagai contoh, pada tahun 2000, PDB (atau pendapatan) per kapita di Amerika Serikat lebih dari $34.000.

Sebaliknya, pendapatan per kapita jauh lebih rendah di banyak negara lain: sekitar $8.000 di Meksiko, sekitar $4.000 di Tiongkok, hanya lebih dari $2.500 di India, hanya sekitar $1.000 di Nigeria, dan jauh lebih rendah lagi di beberapa negara Afrika sub-Sahara lainnya seperti Chad, Ethiopia, dan Mali. Semua angka ini dalam dolar AS tahun 2000 dan disesuaikan dengan paritas daya beli (PPP) untuk memperhitungkan perbedaan harga relatif barang yang berbeda antar negara (semua data diambil dari tabel Penn World yang disusun oleh Summers dan Heston).

Oleh karena itu, mungkin lebih informatif untuk melihat logaritma (log) dari pendapatan per kapita. Lebih alami untuk melihat log dari variabel-variabel seperti pendapatan per kapita, yang tumbuh seiring waktu, terutama ketika pertumbuhan kira-kira proporsional seperti yang disarankan oleh Gambar 1.8.

(Halaman 4)
(Inilah sebabnya ketika x (t) tumbuh pada tingkat proporsional, log x (t) tumbuh secara linier, dan yang lebih penting, jika x1 (t) dan x2 (t) keduanya tumbuh sebesar 10% selama periode waktu tertentu, x1 (t) – x2 (t) juga akan tumbuh, sedangkan log x1 (t) – log x2 (t) akan tetap konstan).

(Halaman 6)
Apakah kita perlu peduli terhadap perbedaan pendapatan antar negara? Jawabannya jelas ya. Tingkat pendapatan yang tinggi mencerminkan standar hidup yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi mungkin, setidaknya pada beberapa rentang, meningkatkan polusi atau dapat meningkatkan aspirasi individu, sehingga kumpulan konsumsi yang sama mungkin tidak lagi membuat individu tersebut sebahagia sebelumnya.

(Halaman 7)
Namun pada akhirnya, ketika seseorang membandingkan negara maju yang kaya dengan negara yang kurang berkembang, ada perbedaan mencolok dalam kualitas hidup, standar hidup, dan kesehatan.

(Halaman 8)
Gambar 1.5 Asosiasi antara pendapatan per kapita dan konsumsi per kapita pada tahun 2020.
Memahami bagaimana beberapa negara bisa begitu kaya sementara beberapa lainnya sangat miskin adalah salah satu tantangan terpenting yang dihadapi ilmu sosial.

(Halaman 9)
Gambar 1.6. Asosiasi antara pendapatan per kapita dan harapan hidup saat lahir pada tahun 2000.

(Halaman 10)
1.3 Pertumbuhan Ekonomi dan Perbedaan Pendapatan
Bagaimana mungkin satu negara lebih dari tiga puluh kali lebih kaya daripada negara lain? Jawabannya terletak pada perbedaan tingkat pertumbuhan. Ambil dua negara, A dan B, dengan tingkat pendapatan awal yang sama pada suatu tanggal. Bayangkan bahwa negara A memiliki pertumbuhan per kapita 0%, sehingga pendapatan per kapita tetap konstan, sedangkan negara B tumbuh sebesar 2% per kapita. Dalam 200 tahun, negara B akan lebih dari 52 kali lebih kaya daripada negara A.

(Halaman 11)
Oleh karena itu, Amerika Serikat jauh lebih kaya daripada Nigeria karena telah tumbuh secara stabil selama periode waktu yang lama, sementara Nigeria tidak (dan kita akan melihat bahwa ini adalah kenyataan yang sangat tepat dalam perhitungan sederhana ini; lihat Gambar 1.8, 1.10, dan 1.12).

(Halaman 12)
Tiga negara yang menunjukkan pertumbuhan sangat cepat dalam gambar ini adalah Singapura, Korea Selatan, dan Botswana. Singapura memulai dengan kondisi jauh lebih miskin daripada Inggris dan Spanyol pada tahun 1960, tetapi tumbuh sangat cepat dan pada pertengahan 1990-an menjadi lebih kaya daripada keduanya.

Mengapa Amerika Serikat lebih kaya pada tahun 1960 daripada negara-negara lain dan mampu tumbuh pada kecepatan yang stabil setelahnya? Bagaimana Singapura, Korea Selatan, dan Botswana berhasil tumbuh dengan relatif cepat selama 40 tahun?

(Halaman 13)
Jika tidak pada era pascaperang, kapan celah pertumbuhan ini muncul? Jawabannya adalah bahwa sebagian besar divergensi terjadi selama abad ke-19 dan awal abad ke-20. Gambar 1.10 dan 1.12 memberikan sekilas perkembangan abad ke-19 ini dengan menggunakan data yang dikumpulkan oleh Angus Maddison untuk perbedaan PDB per kapita antar negara sejak 1820 (atau terkadang lebih awal). Data ini kurang dapat diandalkan dibandingkan tabel Penn World milik Summers-Heston, karena tidak berasal dari akun nasional yang distandarisasi.

(Halaman 20)
1.6 Korelasi Pertumbuhan Ekonomi
Diskusi tentang konvergensi bersyarat di bagian sebelumnya menekankan pentingnya karakteristik tertentu dari negara-negara yang mungkin terkait dengan proses pertumbuhan ekonomi. Jenis negara mana yang tumbuh lebih cepat? Idealnya, kita ingin menjawab pertanyaan ini pada tingkat “kausal”.

Dengan kata lain, kita ingin tahu karakteristik spesifik negara (termasuk kebijakan dan institusi mereka) yang memiliki pengaruh kausal terhadap pertumbuhan. Pengaruh kausal di sini mengacu pada jawaban dari eksperimen pikiran kontrafaktual berikut: jika, semua hal lain dianggap sama, suatu karakteristik negara tertentu diubah secara “eksogen” (yaitu, bukan sebagai bagian dari dinamika keseimbangan atau sebagai respons terhadap perubahan variabel lain yang dapat diamati atau tidak dapat diamati), apa dampaknya pada pertumbuhan keseimbangan?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan kausal semacam itu cukup menantang, karena sulit untuk mengisolasi perubahan dalam variabel endogen yang tidak didorong oleh dinamika keseimbangan atau oleh beberapa faktor yang mungkin terabaikan.


(Halaman 22)
1.7 Dari Korelasi ke Penyebab Fundamental
Korelasi pertumbuhan ekonomi, seperti modal fisik, modal manusia, dan teknologi, akan menjadi topik pertama yang kita pelajari. Namun, ini hanya merupakan penyebab proksimal dari pertumbuhan ekonomi dan kesuksesan ekonomi (meskipun kita meyakinkan diri kita sendiri bahwa ada elemen kausal dalam korelasi yang ditunjukkan di atas). Akan tidak memuaskan jika kita menjelaskan proses pertumbuhan ekonomi dan perbedaan antar negara hanya dengan teknologi, modal fisik, dan modal manusia, karena kemungkinan besar ada alasan mengapa teknologi, modal fisik, dan modal manusia berbeda antar negara.

Secara khusus, jika faktor-faktor ini begitu penting dalam menciptakan perbedaan pendapatan antar negara yang besar dan menyebabkan lepas landas menuju pertumbuhan ekonomi modern, mengapa beberapa masyarakat gagal memperbaiki teknologi mereka, berinvestasi lebih banyak dalam modal fisik, dan mengakumulasi lebih banyak modal manusia?

Mari kita kembali ke Gambar 1.8 untuk mengilustrasikan poin ini lebih lanjut. Gambar ini menunjukkan bahwa Korea Selatan dan Singapura telah berhasil tumbuh dengan sangat cepat selama 50 tahun terakhir, sementara Nigeria gagal melakukannya.

(Halaman 23)
Kita dapat mencoba menjelaskan kinerja sukses Korea Selatan dan Singapura dengan melihat korelasi pertumbuhan ekonomi—atau penyebab proksimal dari pertumbuhan ekonomi. Kita dapat menyimpulkan, seperti yang dilakukan banyak orang, bahwa akumulasi modal yang cepat telah menjadi penyebab utama dari keajaiban pertumbuhan ini, dan memperdebatkan peran modal manusia dan teknologi. Kita dapat menyalahkan kegagalan Nigeria untuk tumbuh pada ketidakmampuannya mengakumulasi modal dan memperbaiki teknologinya.

Jawaban ini tentunya informatif untuk memahami mekanika keberhasilan dan kegagalan ekonomi di era pascaperang. Tetapi pada beberapa tingkat, jawaban ini tidak akan menjawab pertanyaan inti: bagaimana Korea Selatan dan Singapura berhasil tumbuh, sementara Nigeria gagal memanfaatkan peluang pertumbuhan? Jika akumulasi modal fisik begitu penting, mengapa Nigeria tidak berinvestasi lebih banyak dalam modal fisik?

Jika pendidikan begitu penting, mengapa tingkat pendidikan di Nigeria masih sangat rendah dan mengapa modal manusia yang ada tidak digunakan lebih efektif? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini terkait dengan penyebab fundamental dari pertumbuhan ekonomi.

Kami akan merujuk pada faktor-faktor potensial yang mempengaruhi mengapa masyarakat berakhir dengan pilihan teknologi dan akumulasi yang berbeda sebagai penyebab fundamental pertumbuhan ekonomi. Pada beberapa tingkatan, penyebab fundamental adalah faktor yang memungkinkan kita untuk mengaitkan pertanyaan pertumbuhan ekonomi dengan kekhawatiran ilmu sosial lainnya, dan mengajukan pertanyaan tentang peran kebijakan, institusi, budaya, dan faktor lingkungan eksogen.

Dengan risiko menyederhanakan fenomena kompleks, kita dapat memikirkan daftar berikut ini sebagai potensi penyebab fundamental: (i) keberuntungan (atau keseimbangan ganda) yang mengarah pada jalur yang berbeda di antara masyarakat dengan peluang, preferensi, dan struktur pasar yang identik; (ii) perbedaan geografis yang mempengaruhi lingkungan di mana individu hidup dan yang memengaruhi produktivitas pertanian, ketersediaan sumber daya alam, batasan-batasan tertentu pada perilaku individu, atau bahkan sikap individu; (iii) perbedaan institusi yang mempengaruhi hukum dan regulasi di mana individu dan perusahaan berfungsi, dan dengan demikian membentuk insentif yang mereka miliki untuk akumulasi, investasi, dan perdagangan; dan (iv) perbedaan budaya yang menentukan nilai, preferensi, dan kepercayaan individu.

(Halaman 27)
1.9 Referensi dan Literatur
Sebagian besar data yang digunakan dalam bab ini berasal dari tabel Penn World milik Summers-Heston (versi terbaru, Summers, Heston dan Aten, 2005).


(Halaman 28)
Acemoglu, Johnson, dan Robinson (2002 dan 2005) menggunakan tingkat urbanisasi sebagai proksi untuk pendapatan per kapita dan memperoleh hasil yang berada di antara hasil Maddison dan Pomeranz. Data dalam Acemoglu, Johnson, dan Robinson (2002) juga menegaskan bahwa ada perbedaan pendapatan yang sangat terbatas antar negara bahkan hingga akhir tahun 1500-an, dan bahwa proses pertumbuhan ekonomi yang cepat dimulai pada suatu waktu di abad ke-19 (atau mungkin di akhir abad ke-18).


(Halaman 29)
Ada literatur besar tentang “korelasi pertumbuhan ekonomi”, dimulai dengan Barro (1991), yang disurvei dalam Barro dan Sala-i-Martin (2004) dan Barro (1999).


(Halaman 30)
Perbedaan antara penyebab proksimal dan penyebab fundamental akan dibahas lebih lanjut di bab-bab berikutnya. Perbedaan ini ditekankan dalam konteks yang berbeda oleh Diamond (1996), meskipun secara implisit sudah ada dalam buku klasik North dan Thomas (1973).


(Halaman 31)
Bab 2
Model Pertumbuhan Solow
Titik awal kita adalah model yang disebut sebagai model Solow-Swan, dinamai setelah Robert (Bob) Solow dan Trevor Swan, atau hanya model Solow, karena Solow adalah ekonom yang lebih terkenal di antara keduanya. Model Solow sangat luar biasa dalam kesederhanaannya.


(Halaman 66)
Dengan pertumbuhan yang seimbang, yang kita maksud adalah jalur ekonomi yang konsisten dengan fakta Kaldor (Kaldor, 1963), yaitu jalur di mana, meskipun output per kapita meningkat, rasio modal-output, tingkat bunga, dan distribusi pendapatan antara modal dan tenaga kerja tetap kira-kira konstan. Gambar 2.11, misalnya, menunjukkan evolusi bagian modal dan tenaga kerja dalam pendapatan nasional AS.
Juga untuk referensi di masa depan, perhatikan bahwa bagian modal dalam pendapatan nasional adalah sekitar 1/3, sementara bagian tenaga kerja adalah sekitar 2/3.


(Halaman 67)
Gambar 2.11. Bagian Modal dan Tenaga Kerja dalam PDB AS.


(Halaman 78)
2.8 Mengambil Intisari
Apa yang telah kita pelajari dari model Solow? Pada beberapa tingkatan, banyak. Kita sekarang memiliki kerangka kerja yang sederhana dan mudah dikelola, yang memungkinkan kita untuk membahas akumulasi modal dan implikasi kemajuan teknologi. Seperti yang akan kita lihat di bab berikutnya, kerangka kerja ini sudah cukup berguna dalam membantu kita memahami data.
Namun, pada tingkatan lain, kita telah mempelajari relatif sedikit. Pertanyaan yang diajukan pada Bab 1 terkait dengan mengapa beberapa negara kaya sementara yang lain miskin, mengapa beberapa negara tumbuh sementara yang lain stagnan, dan mengapa ekonomi dunia memulai proses pertumbuhan yang stabil selama beberapa abad terakhir.

Model Solow menunjukkan kepada kita bahwa jika tidak ada kemajuan teknologi, dan selama kita tidak berada di dunia AK, yang dikesampingkan oleh Asumsi 2, tidak akan ada pertumbuhan yang berkelanjutan. Dalam kasus ini, kita dapat berbicara tentang perbedaan output antar negara, tetapi tidak tentang pertumbuhan negara atau pertumbuhan ekonomi dunia.


Ini menekankan bahwa untuk memahami pertumbuhan, kita harus memahami akumulasi modal fisik (dan akumulasi modal manusia, yang akan dibahas di bab berikutnya) dan mungkin yang paling penting, kemajuan teknologi.


(Halaman 79)
Tingkat tabungan aturan emas diperkenalkan oleh Edmund Phelps (1961). Ini disebut sebagai tingkat tabungan “aturan emas” dengan referensi pada aturan emas alkitabiah “perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan” yang diterapkan dalam konteks antar generasi—yaitu, berpikir bahwa mereka yang hidup dan mengkonsumsi pada setiap hari membentuk generasi yang berbeda.

Meskipun tingkat tabungan aturan emas memiliki kepentingan historis dan berguna untuk diskusi tentang efisiensi dinamis, ia tidak memiliki sifat optimalitas intrinsik.


(Halaman 80)
Karena tidak diturunkan dari preferensi yang terdefinisi dengan baik. Kebijakan tabungan optimal akan dibahas lebih detail di Bab 8.


(Halaman 87)
Bab 3
Model Solow dan Data
Fokus kita adalah pada penyebab proksimal pertumbuhan ekonomi, yaitu, faktor-faktor seperti investasi atau akumulasi modal yang disoroti oleh model Solow dasar, serta perbedaan teknologi dan modal manusia. Apa yang mendasari penyebab proksimal ini adalah topik dari bab berikutnya.


(Halaman 122)
Juga penting untuk ditekankan bahwa pendekatan Trefler bergantung pada asumsi yang sangat ketat. Untuk merangkum, tiga asumsi utama adalah:
(1) Tidak ada biaya perdagangan internasional;
(2) Preferensi homotetik yang identik;
(3) Ekonomi dunia yang cukup terintegrasi, yang mengarah pada penyamaan harga faktor bersyarat.

Ketiga asumsi ini ditolak dalam data dalam satu atau lain bentuk. Jelas ada biaya perdagangan internasional, termasuk biaya pengangkutan, biaya tarif, dan pembatasan perdagangan lainnya. Ada bias konsumsi dalam negeri yang sangat terdokumentasi melanggar asumsi preferensi homotetik yang identik.

Terakhir, sebagian besar ekonom perdagangan percaya bahwa penyamaan harga faktor bersyarat bukanlah deskripsi yang baik tentang perbedaan harga faktor antar negara.


(Halaman 123)
3.7. Mengambil Intisari
Apa yang telah kita pelajari? Poin utama dari bab ini bukanlah pengembangan teori baru. Meskipun kita telah memperluas model dasar dari bab sebelumnya dalam beberapa arah, jika minat kita murni teoretis, kita bisa melewatkan materi dalam bab ini tanpa kehilangan banyak hal.

Tujuan utama kita dalam bab ini adalah melihat apakah kita dapat menggunakan model Solow untuk mendapatkan interpretasi yang lebih terinformasi tentang perbedaan antar negara dan juga menggunakan data untuk memahami kekuatan dan kelemahan model pertumbuhan Solow.


(Halaman 125)
Ada satu lagi pengertian di mana apa yang telah kita pelajari dalam bab ini terbatas. Apa yang difokuskan oleh model Solow kepada kita, modal fisik, modal manusia, dan teknologi, adalah penyebab proksimal dari pertumbuhan ekonomi dalam perbedaan antar negara. Penting untuk mengetahui mana dari penyebab proksimal ini yang penting dan bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja ekonomi, baik untuk memiliki pemahaman yang lebih baik tentang mekanika pertumbuhan ekonomi maupun untuk mengetahui kelas model mana yang harus difokuskan.

Tetapi pada tingkat tertentu (dan agak melebih-lebihkan) mengatakan bahwa suatu negara miskin karena kurang modal fisik, modal manusia, dan teknologi yang tidak efisien adalah seperti mengatakan bahwa seseorang miskin karena dia tidak memiliki uang.

Ada, pada gilirannya, alasan lain yang membuat beberapa negara lebih kaya dalam modal fisik, modal manusia, dan teknologi, sama seperti ada faktor-faktor yang membuat seseorang memiliki lebih banyak uang daripada orang lain. Kita telah merujuk ini sebagai penyebab fundamental dari perbedaan kemakmuran, yang bertentangan dengan penyebab proksimal.

Pemahaman yang memuaskan tentang pertumbuhan ekonomi dan perbedaan kemakmuran antar negara memerlukan analisis baik penyebab proksimal maupun penyebab fundamental pertumbuhan ekonomi. Yang pertama sangat penting bagi kita untuk memahami mekanika pertumbuhan ekonomi dan mengembangkan model formal yang sesuai dengan wawasan ini.

Yang kedua penting sehingga kita dapat memahami mengapa beberapa masyarakat membuat pilihan yang mengarahkan mereka pada modal fisik yang rendah, modal manusia yang rendah, dan teknologi yang tidak efisien, dan dengan demikian menuju kemiskinan relatif. Inilah masalah yang akan kita bahas pada bab berikutnya.


(Halaman 129)
Bab 4
Penentu Fundamental Perbedaan Kinerja Ekonomi
4.1 Penyebab Proksimal Versus Fundamental
“…faktor-faktor yang telah kami sebutkan (inovasi, skala ekonomi, pendidikan, akumulasi modal, dll.) bukanlah penyebab pertumbuhan; mereka adalah pertumbuhan.” (North dan Thomas, 1973, hal. 2, huruf miring dalam aslinya).


Oleh karena itu, tampaknya penjelasan apa pun yang hanya mengandalkan perbedaan teknologi, modal fisik, dan modal manusia antar negara, pada beberapa tingkatan, tidak lengkap. Harus ada alasan lain di balik itu semua, alasan yang akan kita sebut sebagai penyebab fundamental dari pertumbuhan ekonomi. Inilah alasan-alasan yang mencegah banyak negara berinvestasi cukup dalam teknologi, modal fisik, dan modal manusia.

Penelitian tentang penyebab fundamental pertumbuhan ekonomi penting karena setidaknya dua alasan. Pertama, teori apa pun yang hanya berfokus pada variabel perantara (penyebab proksimal), tanpa memahami apa kekuatan pendorong yang mendasarinya, akan menjadi tidak lengkap. Dengan demikian, teori pertumbuhan akan tetap, dalam beberapa arti penting, tidak lengkap sampai dapat menangani penyebab fundamental ini.

(Halaman 130)
Kedua, jika bagian dari studi kita tentang pertumbuhan ekonomi dimotivasi oleh upaya untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan negara tertentu dan standar hidup warga negaranya, pemahaman tentang penyebab fundamental adalah pusatnya, karena berusaha meningkatkan pertumbuhan hanya dengan fokus pada penyebab proksimal sama dengan menangani gejala penyakit tanpa memahami apa sebenarnya penyakitnya.

Kembali ke pertanyaan pertama, ada sejumlah besar penyebab fundamental pertumbuhan ekonomi yang diusulkan oleh para ekonom, sejarawan, dan ilmuwan sosial selama bertahun-tahun. Jelas, mencantumkan dan mengkatalogkan semuanya tidak akan informatif atau berguna. Sebagai gantinya, kita akan mengklasifikasikan penyebab fundamental utama pertumbuhan ekonomi menjadi empat kategori hipotesis.

Meskipun klasifikasi semacam itu tidak diragukan lagi gagal menangkap beberapa nuansa literatur sebelumnya, klasifikasi ini memadai untuk tujuan kita dalam mengidentifikasi faktor-faktor utama yang mempengaruhi perbedaan pendapatan antar negara dan pertumbuhan ekonomi. Ada:
(1) Hipotesis keberuntungan.
(2) Hipotesis geografi.
(3) Hipotesis budaya.


(Halaman 131)
(4) Hipotesis institusi.
Dengan keberuntungan, yang kita maksud adalah kumpulan penyebab fundamental yang menjelaskan jalur perkembangan yang berbeda dari kinerja ekonomi di antara negara-negara yang sebaliknya identik, baik karena ketidakpastian kecil atau heterogenitas di antara mereka yang telah menyebabkan pilihan yang berbeda dengan konsekuensi yang luas, atau karena seleksi yang berbeda di antara keseimbangan yang banyak.

Dengan geografi, yang kita maksud adalah semua faktor yang dibebankan kepada individu sebagai bagian dari lingkungan fisik, geografis, dan ekologis tempat mereka tinggal.


Dengan budaya, yang kita maksud adalah kepercayaan, nilai, dan preferensi yang mempengaruhi perilaku ekonomi individu.


(Halaman 132)
Dengan institusi, yang kita maksud adalah aturan, regulasi, hukum, dan kebijakan yang mempengaruhi insentif ekonomi dan dengan demikian insentif untuk berinvestasi dalam teknologi, modal fisik, dan modal manusia.


Apa yang membedakan institusi dari geografi, keberuntungan, dan budaya adalah bahwa institusi adalah pilihan sosial. Meskipun hukum dan regulasi tidak langsung dipilih oleh individu dan beberapa pengaturan institusional mungkin bersifat historis, pada akhirnya hukum, kebijakan, dan regulasi di mana suatu masyarakat hidup adalah pilihan dari anggota masyarakat tersebut.


Namun, perbedaan penting antara teori-teori yang ditempatkan dalam dua kategori ini membenarkan pemisahan mereka. Institusi berada di bawah kendali langsung anggota masyarakat, dalam arti bahwa dengan mengubah distribusi sumber daya, konstitusi, hukum, dan kebijakan, individu dapat secara kolektif mempengaruhi institusi di mana mereka tinggal. Sebaliknya, budaya adalah seperangkat kepercayaan yang berkembang seiring waktu dan di luar kendali langsung individu.


(Halaman 133)
Penting juga untuk ditekankan bahwa institusi itu sendiri, meskipun merupakan penyebab fundamental dari pertumbuhan ekonomi dan perbedaan pendapatan antar negara, adalah endogen. Institusi adalah pilihan keseimbangan yang dibuat baik oleh masyarakat pada umumnya atau oleh beberapa kelompok yang berkuasa dalam masyarakat.

Seseorang kemudian dapat berpendapat bahwa pada beberapa tingkatan keberuntungan, geografi, atau budaya harus lebih penting, karena mereka dapat dianggap “lebih eksogen” dalam arti bahwa mereka bukan pilihan keseimbangan dengan cara yang sama seperti institusi dan institusi akan bervariasi antar masyarakat sebagian besar karena faktor geografis, budaya, atau acak. Meskipun pada tingkat filosofis ini benar, ini bukanlah pengamatan yang sangat berguna.


Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa bab ini akan menyimpulkan bahwa perbedaan institusi adalah akar dari penyebab proksimal penting yang telah kita sebutkan.


(Halaman 136)
4.2. Skala Ekonomi, Populasi, Teknologi, dan Pertumbuhan Dunia
Sama luar biasanya adalah fakta bahwa pertumbuhan ekonomi dunia, sebagian besar, merupakan fenomena sekitar 200 tahun terakhir.


(Halaman 137)
4.3. Penyebab Fundamental
4.3.1. Keberuntungan dan Keseimbangan Ganda
Bisakah kita menunjukkan jalur perkembangan yang berbeda pada beberapa peristiwa stokastik kecil 200, 300, atau 400 tahun yang lalu? Jawabannya tampaknya tidak.


Pertumbuhan ekonomi AS adalah hasil kumulatif dari berbagai proses, mulai dari inovasi dan aktivitas kewirausahaan yang bebas hingga investasi yang signifikan dalam modal manusia dan akumulasi modal yang cepat.

Sulit untuk mereduksinya menjadi keberuntungan semata atau pemilihan keseimbangan yang tepat, sementara Nigeria berakhir pada keseimbangan yang lebih buruk. Bahkan 400 tahun yang lalu, kondisi sejarah sangat berbeda di Amerika Serikat dan di Nigeria, dan seperti yang akan kita bahas lebih lanjut di bawah, ini mengarah pada peluang yang berbeda, jalur institusi yang berbeda, dan insentif yang berbeda. Kombinasi pengalaman sejarah negara-negara dan insentif ekonomi yang berbeda inilah yang mendasari proses pertumbuhan ekonomi yang berbeda di antara negara-negara tersebut.

(Halaman 138)
Sementara China mengalami stagnasi di bawah komunisme hingga kematian Mao, perubahan dalam institusi ekonomi dan kebijakan yang terjadi setelahnya telah menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat.


(Halaman 139)
Argumen yang berbeda, dan mungkin lebih menjanjikan, tentang pentingnya keberuntungan dapat dibuat dengan menekankan peran para pemimpin.

Mungkin Mao yang menahan China, dan kematiannya serta identitas, keyakinan, dan kebijakan penggantinya adalah akar dari pertumbuhan selanjutnya. Mungkin identitas pemimpin suatu negara dapat dianggap sebagai peristiwa stokastik, yang membentuk kinerja ekonomi. Pandangan ini mungkin memiliki banyak manfaat.

Penelitian empiris baru-baru ini oleh Jones dan Olken (2005) menunjukkan bahwa pemimpin tampaknya penting bagi kinerja ekonomi negara.
Pertama-tama, para pemimpin sering kali memengaruhi kinerja ekonomi masyarakat mereka melalui kebijakan yang mereka tetapkan dan institusi yang mereka kembangkan. Oleh karena itu, seleksi dan perilaku pemimpin serta kebijakan yang mereka jalankan harus menjadi bagian dari penjelasan institusional. Kedua, penelitian Jones dan Olken menunjukkan adanya interaksi penting antara pengaruh para pemimpin dan institusi masyarakat.

4.3.2. Geografi
Versi pertama dan paling awal dari hipotesis geografi kembali ke Montesquieu ([1748], 1989).

(Halaman 140)
Baru-baru ini, Jared Diamond, dalam bukunya Guns, Germs and Steel yang sangat populer, mendukung pandangan ini dan berpendapat bahwa perbedaan geografis antara Amerika dan Eropa (atau lebih tepatnya, Eurasia) telah menentukan waktu dan sifat pertanian menetap, dan melalui saluran ini, membentuk apakah masyarakat mampu mengembangkan organisasi yang kompleks serta teknologi sipil dan militer yang maju (1997, misalnya, hal. 358).

Ekonom Jeffrey Sachs baru-baru ini menjadi pendukung kuat pentingnya geografi dalam produktivitas pertanian, menyatakan bahwa “Pada awal era pertumbuhan ekonomi modern, jika tidak jauh lebih awal, teknologi zona beriklim sedang lebih produktif daripada teknologi zona tropis…” (2001, hal. 2).

(Halaman 141)
Bloom dan Sachs (1998) serta Gallup dan Sachs (2002, hlm. 91) mengklaim bahwa prevalensi malaria sendiri mengurangi laju pertumbuhan ekonomi tahunan di negara-negara Afrika Sub-Sahara hingga 2,6 persen per tahun.


(Halaman 142)
Fakta bahwa beban penyakit lebih berat di negara-negara miskin saat ini merupakan akibat dari, sekaligus penyebab kemiskinan. Negara-negara Eropa pada abad ke-18 dan bahkan ke-19 juga dilanda banyak penyakit.

Proses pembangunan ekonomi memungkinkan mereka memberantas penyakit-penyakit ini dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih sehat. Fakta bahwa banyak negara miskin memiliki lingkungan yang tidak sehat, setidaknya sebagian, adalah konsekuensi dari kegagalan mereka untuk berkembang secara ekonomi.

4.3.3. Institusi.
Salah satu masalah dengan hipotesis institusi adalah bahwa agak sulit untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan “institusi”. Dalam penggunaan sehari-hari, kata “institusi” merujuk pada banyak hal, dan literatur akademik terkadang tidak jelas tentang definisinya.

Sejarawan ekonomi Douglass North dianugerahi Hadiah Nobel dalam bidang ekonomi sebagian besar karena karyanya yang menekankan pentingnya institusi dalam proses pembangunan sejarah. North (1990, hlm. 3) memberikan definisi berikut:


“Institusi adalah aturan main dalam masyarakat atau, secara lebih formal, adalah batasan yang dibuat manusia yang membentuk interaksi manusia.”


Dia kemudian menekankan implikasi utama dari institusi:
“Akibatnya, [institusi] membentuk insentif dalam pertukaran manusia, baik politik, sosial, maupun ekonomi.”
Definisi ini merangkum tiga elemen penting yang membentuk institusi. Pertama, mereka adalah “dibuat oleh manusia”; artinya, berbeda dengan geografi yang berada di luar kendali manusia, institusi merujuk pada faktor-faktor yang dibuat manusia. Institusi berkaitan dengan dampak pilihan masyarakat terhadap nasib ekonomi mereka sendiri. Kedua, institusi berkaitan dengan pembatasan pada individu.

Pembatasan ini tidak perlu menjadi batasan yang tak dapat diganggu gugat. Setiap hukum dapat dilanggar, setiap regulasi dapat diabaikan. Namun demikian, kebijakan, regulasi, dan hukum yang menghukum jenis perilaku tertentu sementara memberi penghargaan pada yang lain, secara alami akan mempengaruhi perilaku.

Dan ini membawa kita ke elemen ketiga yang penting dalam definisi ini. Pembatasan yang diberikan pada individu oleh institusi akan membentuk interaksi manusia dan mempengaruhi insentif. Dalam arti mendalam, institusi, jauh lebih dari penyebab fundamental lainnya, berkaitan dengan pentingnya insentif.


Pembaca mungkin telah mencatat bahwa definisi di atas membuat institusi menjadi konsep yang agak luas. Faktanya, inilah cara kita akan menggunakan konsep institusi di seluruh buku ini; institusi akan merujuk pada sekelompok besar pengaturan yang mempengaruhi berbagai interaksi ekonomi di antara individu.


(Halaman 143)
Titik awal yang lebih alami untuk mempelajari penyebab fundamental perbedaan pendapatan antar negara adalah dengan institusi ekonomi, yang mencakup hal-hal seperti struktur hak milik, keberadaan dan (berfungsi dengan baik atau buruk) pasar, serta peluang kontrak yang tersedia bagi individu dan perusahaan. Institusi ekonomi penting karena mereka mempengaruhi struktur insentif ekonomi dalam masyarakat.

Tanpa hak milik, individu tidak akan memiliki insentif untuk berinvestasi dalam modal fisik atau manusia atau mengadopsi teknologi yang lebih efisien. Institusi ekonomi juga penting karena mereka memastikan alokasi sumber daya ke penggunaan yang paling efisien, dan mereka menentukan siapa yang memperoleh keuntungan, pendapatan, dan hak kendali yang tersisa.

Ketika pasar hilang atau diabaikan (seperti yang terjadi di banyak bekas masyarakat sosialis, misalnya), keuntungan dari perdagangan tidak dimanfaatkan dan sumber daya salah dialokasikan. Oleh karena itu, kita berharap masyarakat dengan institusi ekonomi yang memfasilitasi dan mendorong akumulasi faktor, inovasi, dan alokasi sumber daya yang efisien akan lebih makmur dibandingkan masyarakat yang tidak memiliki institusi semacam itu.


(Halaman 144)
Pertanyaan lain mungkin telah muncul di benak pembaca: mengapa ada masyarakat yang memiliki institusi ekonomi dan politik yang menghambat pertumbuhan ekonomi? Bukankah lebih baik bagi semua pihak untuk memaksimalkan ukuran kue nasional (tingkat PDB, pertumbuhan ekonomi, dll.)? Ada dua jawaban yang mungkin untuk pertanyaan ini.

Yang pertama membawa kita kembali ke keseimbangan ganda. Mungkin saja anggota masyarakat tidak dapat berkoordinasi untuk menciptakan institusi yang “benar”, yaitu institusi yang meningkatkan pertumbuhan. Jawaban ini tidak memuaskan karena alasan yang sama dengan penjelasan luas lainnya yang didasarkan pada keseimbangan ganda; jika ada peningkatan institusi yang bisa membuat semua anggota masyarakat lebih kaya dan lebih baik, tampaknya tidak mungkin bahwa masyarakat akan gagal berkoordinasi dalam jangka waktu yang lama untuk mencapai perbaikan ini.


Jawaban kedua, sebaliknya, mengakui bahwa ada konflik kepentingan yang melekat dalam masyarakat. Tidak ada reformasi, tidak ada perubahan, tidak ada kemajuan yang akan membuat semua orang lebih baik; seperti dalam kisah-kisah Schumpeter tentang kehancuran kreatif, setiap reformasi, setiap perubahan, dan setiap kemajuan menciptakan pemenang dan pecundang.

(Halaman 145)
4.3.4. Budaya.
Hubungan paling terkenal antara budaya dan pembangunan ekonomi adalah yang diusulkan oleh Weber (1930), yang berpendapat bahwa asal mula industrialisasi di Eropa Barat dapat ditelusuri ke faktor budaya—Reformasi Protestan dan khususnya kebangkitan Calvinisme.

Weber berargumen bahwa kesalehan Inggris, terutama Protestanisme, adalah pendorong penting bagi perkembangan kapitalisme. Protestanisme menuntun pada serangkaian keyakinan yang menekankan kerja keras, hemat, dan menabung. Keyakinan ini juga mengartikan kesuksesan ekonomi sebagai sesuatu yang konsisten dengan, bahkan menandakan, dipilih oleh Tuhan. Weber membandingkan karakteristik Protestanisme ini dengan agama lain, seperti Katolik, yang menurutnya tidak mendorong kapitalisme. Baru-baru ini, ide-ide serupa telah diterapkan untuk menekankan implikasi berbeda dari agama-agama lain.

Banyak sejarawan dan ilmuwan telah berargumen bahwa bukan hanya kebangkitan kapitalisme, tetapi juga proses pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi yang sangat terkait dengan keyakinan budaya dan agama. Ide-ide serupa juga diajukan sebagai penjelasan mengapa negara-negara Amerika Latin, dengan warisan Iberia mereka, lebih miskin dan tidak sukses, sementara tetangga mereka di Amerika Utara lebih makmur berkat budaya Anglo-Saxon mereka.

Dua tantangan utama dihadapi oleh teori pertumbuhan ekonomi yang berbasis budaya. Tantangan pertama adalah kesulitan dalam mengukur budaya. Meskipun baik Putnam sendiri maupun beberapa ekonom telah membuat kemajuan dalam mengukur karakteristik budaya tertentu dengan keyakinan dan sikap yang dilaporkan sendiri dalam survei sosial, sekadar mengatakan bahwa Italia Utara kaya karena memiliki modal sosial yang baik sementara Italia Selatan miskin karena memiliki modal sosial yang buruk menimbulkan risiko kebulatan logika. Tantangan kedua adalah menjelaskan keajaiban pertumbuhan, seperti yang terjadi di Korea Selatan dan Singapura.

Seperti disebutkan di atas, jika nilai-nilai budaya Asia bertanggung jawab atas pengalaman pertumbuhan yang sukses di negara-negara ini, menjadi sulit untuk menjelaskan mengapa nilai-nilai ini tidak mendorong pertumbuhan sebelumnya. Mengapa nilai-nilai ini tidak mendorong pertumbuhan ekonomi di Korea Utara? Jika nilai-nilai Asia penting bagi pertumbuhan China saat ini, mengapa mereka tidak menghasilkan kinerja ekonomi yang lebih baik di bawah kediktatoran Mao?

Kedua tantangan ini, dalam prinsipnya, dapat diatasi. Seseorang mungkin dapat mengembangkan model budaya, dengan pemetaan yang lebih baik terhadap data, dan juga dengan teori terkait kapan dan bagaimana budaya dapat berubah dengan cepat dalam kondisi tertentu, memungkinkan stagnasi diikuti oleh keajaiban pertumbuhan.

Meskipun hal ini mungkin dalam prinsipnya, teori semacam itu belum dikembangkan. Selain itu, bukti yang disajikan dalam bagian berikut ini menunjukkan bahwa pengaruh budaya bukanlah kekuatan utama di balik perbedaan besar dalam pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh banyak negara selama beberapa abad terakhir.

4.4. Pengaruh Institusi terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Kami sekarang berargumen bahwa ada bukti empiris yang meyakinkan untuk hipotesis bahwa perbedaan dalam institusi ekonomi, daripada faktor kebetulan, geografi, atau budaya, yang menyebabkan perbedaan dalam pendapatan per kapita. Mari kita mulai dengan melihat korelasi paling sederhana antara ukuran institusi ekonomi dan pendapatan per kapita.


Gambar 4.1. Hubungan antara institusi ekonomi, diukur berdasarkan risiko ekspropriasi rata-rata pada tahun 1985-1995, dan PDB per kapita.
Gambar 4.1 menunjukkan korelasi lintas negara antara log PDB per kapita pada tahun 1995 dan ukuran luas hak milik, “perlindungan terhadap risiko ekspropriasi”, dirata-ratakan selama periode 1985 hingga 1995. Data tentang ukuran institusi ekonomi ini berasal dari Political Risk Service.

(Halaman 148)
sebuah perusahaan swasta yang menilai risiko bahwa investasi asing akan diekspropriasi di berbagai negara. Data ini tidak sempurna. Data ini mencerminkan penilaian subjektif dari beberapa analis tentang seberapa aman hak milik. Namun, data ini berguna untuk tujuan kita.

Pertama, data ini menekankan keamanan hak milik, yang merupakan aspek penting dari institusi ekonomi, terutama terkait dengan pengaruhnya terhadap insentif ekonomi.

Kedua, ukuran ini dibeli oleh pelaku bisnis yang mempertimbangkan investasi di negara-negara tersebut, sehingga mencerminkan penilaian pasar tentang keamanan hak milik.

Namun, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi.

Pertama, korelasi tersebut mungkin mencerminkan sebab terbalik; mungkin hanya negara-negara yang cukup kaya yang mampu menegakkan hak milik.

Kedua, dan yang lebih penting, mungkin ada masalah bias variabel yang dihilangkan. Bisa saja ada faktor lain, misalnya geografi atau budaya, yang menjelaskan mengapa negara-negara miskin dan memiliki hak milik yang tidak aman.

Oleh karena itu, jika faktor yang dihilangkan menentukan institusi dan pendapatan, kita akan salah menyimpulkan adanya hubungan sebab akibat antara institusi ekonomi dan pendapatan ketika sebenarnya tidak ada hubungan tersebut. Ini adalah masalah identifikasi standar dalam ekonomi yang dihasilkan dari simultanitas atau bias variabel yang dihilangkan.

Akhirnya, keamanan hak milik—atau ukuran proksi lain dari institusi ekonomi—adalah hasil dari keseimbangan, yang mungkin dihasilkan dari institusi politik yang mendasarinya dan konflik politik. Meskipun poin terakhir ini penting, diskusi yang memadai memerlukan kita untuk mengembangkan model ekonomi politik dari institusi, yang akan kita bahas pada Bagian 8 buku ini.

(Halaman 149)
Gambar 4.2. Hubungan antara garis lintang (jarak ibukota dari ekuator) dan pendapatan per kapita pada tahun 1995.


Bagaimana kita dapat mengatasi tantangan untuk menetapkan hubungan kausal antara (institusi ekonomi) dan hasil ekonomi? Jawaban dari pertanyaan ini adalah dengan menentukan pendekatan ekonometrik berdasarkan batasan identifikasi yang meyakinkan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan estimasi model ekonometrik struktural atau dengan menggunakan pendekatan bentuk-tereduksi yang lebih sederhana, berdasarkan strategi variabel instrumental.


Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan belajar dari sejarah, khususnya dari “eksperimen alam”, yaitu peristiwa-peristiwa sejarah yang tidak biasa di mana, sementara penyebab fundamental lain dari pertumbuhan ekonomi tetap konstan, institusi berubah karena alasan yang mungkin eksogen. Kami sekarang membahas pelajaran dari dua eksperimen alam tersebut.

4.4.1. Eksperimen Korea.
Dua negara independen ini mengorganisir diri mereka dengan cara yang sangat berbeda dan mengadopsi serangkaian institusi (ekonomi dan politik) yang sangat berbeda. Korea Utara mengikuti model sosialisme Soviet dan Revolusi Tiongkok dengan menghapuskan hak milik pribadi atas tanah dan modal.

Keputusan ekonomi tidak dimediasi oleh pasar, tetapi oleh negara komunis. Sebaliknya, Korea Selatan mempertahankan sistem hak milik pribadi dan institusi ekonomi kapitalis.


Sebelum “eksperimen alam” dalam perubahan institusi ini, Korea Utara dan Korea Selatan berbagi sejarah dan akar budaya yang sama. Maddison (2001) memperkirakan bahwa pada saat pemisahan, Korea Utara dan Korea Selatan memiliki pendapatan per kapita yang kira-kira sama.

Pada akhir 1960-an, Korea Selatan berubah menjadi salah satu ekonomi “Keajaiban Asia”, mengalami lonjakan kemakmuran ekonomi yang paling cepat dalam sejarah sementara Korea Utara stagnan. Pada tahun 2000, tingkat pendapatan di Korea Selatan mencapai $16.100 sementara di Korea Utara hanya $1.000. Hanya ada satu penjelasan yang masuk akal untuk perbedaan ekonomi yang sangat besar di antara kedua Korea setelah tahun 1950: institusi mereka yang sangat berbeda menyebabkan hasil ekonomi yang berbeda.


(Halaman 151)
Meskipun meyakinkan dalam hal ini, bukti dari eksperimen alam ini tidak cukup untuk menetapkan pentingnya institusi ekonomi sebagai faktor utama yang membentuk perbedaan lintas negara dalam kemakmuran ekonomi. Pertama, ini hanya satu kasus, dan dalam eksperimen yang lebih terkontrol di ilmu alam, diperlukan sampel yang relatif besar. Kedua, di sini kita memiliki contoh kasus ekstrem, yaitu perbedaan antara ekonomi berorientasi pasar dan ekonomi komunis yang ekstrem.

Tidak banyak ilmuwan sosial hari ini yang akan menyangkal bahwa periode panjang pemerintahan totaliter yang terencana secara sentral memiliki biaya ekonomi yang signifikan. Namun demikian, banyak yang mungkin berpendapat bahwa perbedaan dalam institusi ekonomi di antara ekonomi kapitalis atau di antara demokrasi bukanlah faktor utama yang menyebabkan perbedaan dalam jalur ekonomi mereka.

Untuk menetapkan peran utama institusi ekonomi dalam kemakmuran dan kemiskinan negara, kita perlu melihat eksperimen alam dalam skala yang lebih besar dalam divergensi institusi.

4.4.2. Eksperimen Kolonial: Pembalikan Keberuntungan.
Penjajahan sebagian besar dunia oleh orang Eropa memberikan eksperimen alam berskala besar seperti itu. Dimulai pada awal abad ke-15 dan terutama setelah tahun 1492, orang Eropa menaklukkan banyak bangsa lain.


Pengalaman penjajahan ini mengubah institusi di banyak wilayah yang ditaklukkan atau dikendalikan oleh orang Eropa. Yang paling penting, orang Eropa memberlakukan serangkaian institusi yang sangat berbeda di berbagai bagian kerajaan global mereka, sebagaimana ditunjukkan dengan jelas oleh kontras antara struktur institusi yang berkembang di Amerika Serikat Timur Laut, yang didasarkan pada hak milik kecil dan demokrasi, dengan institusi di ekonomi perkebunan Karibia, yang didasarkan pada penindasan dan perbudakan. Akibatnya, meskipun geografi tetap konstan, orang Eropa memulai perubahan yang sangat signifikan dalam institusi ekonomi masyarakat yang berbeda.

Dampak kolonialisme Eropa pada institusi ekonomi mungkin paling dramatis disampaikan oleh satu fakta—bukti sejarah menunjukkan bahwa telah terjadi pembalikan keberuntungan yang luar biasa dalam kemakmuran ekonomi di bekas koloni Eropa.

Masyarakat seperti Mughal di India, serta Aztek dan Inka di Amerika, adalah di antara peradaban terkaya pada tahun 1500, namun negara-bangsa yang sekarang bertepatan dengan perbatasan kekaisaran mereka adalah di antara negara-negara termiskin saat ini. Sebaliknya, negara-negara yang menempati wilayah peradaban yang kurang berkembang di Amerika Utara, Selandia Baru, dan Australia kini jauh lebih kaya daripada negara-negara di wilayah Mughal, Aztek, dan Inka.

(Halaman 152)
Pembalikan keberuntungan tidak terbatas pada perbandingan seperti itu.

Untuk mendokumentasikan pembalikan ini secara lebih luas, kita memerlukan proxy untuk kemakmuran 500 tahun yang lalu. Untungnya, tingkat urbanisasi dan kepadatan penduduk dapat berperan sebagai proxy tersebut.

Hanya masyarakat dengan tingkat produktivitas tertentu di bidang pertanian dan sistem transportasi serta perdagangan yang relatif berkembang yang dapat menopang pusat-pusat urban yang besar dan populasi yang padat.

(Halaman 153)
Gambar 4.4. menunjukkan hubungan antara pendapatan per kapita dan urbanisasi (persentase populasi yang tinggal di pusat-pusat urban dengan lebih dari 5.000 penduduk) saat ini, dan menunjukkan bahwa bahkan saat ini, lama setelah industrialisasi, terdapat hubungan signifikan antara urbanisasi dan kemakmuran.


Meskipun demikian, urbanisasi adalah proxy yang baik untuk kemakmuran rata-rata dan berhubungan erat dengan ukuran GDP per kapita yang kita gunakan untuk melihat kemakmuran saat ini. Variabel lain yang berguna untuk mengukur kemakmuran pra-industri adalah kepadatan penduduk, yang terkait erat dengan urbanisasi.

(Halaman 155)
Gambar 4.7. Menunjukkan Waktu Terjadinya Pembalikan Keberuntungan: Evolusi rata-rata urbanisasi antara koloni-koloni awal yang urbanisasinya tinggi dan yang rendah.
Pola-pola ini jelas tidak konsisten dengan pandangan berbasis geografi sederhana mengenai kemakmuran relatif. Pada tahun 1500, negara-negara di daerah tropis relatif lebih makmur, namun saat ini kondisinya terbalik.

(Halaman 156)
Ini membuat tidak masuk akal untuk mendasarkan teori kemakmuran relatif pada kemiskinan intrinsik daerah tropis, iklim, lingkungan penyakit, atau karakteristik tetap lainnya.


Namun, mengikuti Diamond (1997), seseorang bisa mengusulkan apa yang oleh Acemoglu, Johnson, dan Robinson (2002a) disebut sebagai “hipotesis geografi yang canggih”, yang mengklaim bahwa geografi memang penting tetapi dengan cara yang bervariasi seiring waktu.

(Halaman 157)
Khususnya, bukti menunjukkan bahwa, faktor-faktor lainnya sama, semakin tinggi kepadatan penduduk awal atau semakin besar urbanisasi awal, semakin buruk institusi yang terbentuk kemudian, termasuk baik institusi setelah kemerdekaan maupun institusi saat ini.

Gambar 4.8 dan 4.9 menggambarkan hubungan-hubungan ini menggunakan ukuran institusi ekonomi yang sama dengan yang digunakan pada Gambar 4.1, yaitu perlindungan terhadap risiko ekspropriasi saat ini.

Mereka mendokumentasikan bahwa koloni yang padat penduduknya dan sangat urban cenderung memiliki institusi yang lebih buruk, sementara daerah yang jarang penduduknya dan tidak urban menerima arus migran Eropa dan mengembangkan institusi yang melindungi hak-hak properti bagi kelompok masyarakat yang luas.

(Halaman 160)
Acemoglu, Johnson, dan Robinson (2001) menyajikan berbagai bukti yang menunjukkan bahwa efek utama dari mortalitas pemukim Eropa adalah melalui institusi.


Secara khusus, Acemoglu, Johnson, dan Robinson (2001) berargumen bahwa:
(1) Terdapat berbagai jenis kebijakan kolonialisasi yang menciptakan serangkaian institusi yang berbeda. Pada satu ekstrem, kekuatan Eropa mendirikan “negara ekstraktif”, yang dicontohkan oleh penjajahan Belgia di Kongo. Institusi-institusi ini tidak memberikan banyak perlindungan terhadap hak milik pribadi, juga tidak menyediakan pengawasan dan keseimbangan terhadap ekspropriasi oleh pemerintah.

Pada ekstrem lainnya, banyak orang Eropa bermigrasi dan menetap di sejumlah koloni. Para pemukim di banyak daerah mencoba mereplikasi institusi Eropa, dengan penekanan yang kuat pada hak milik pribadi dan pengawasan terhadap kekuasaan pemerintah. Contoh utama dari ini adalah Australia, Selandia Baru, Kanada, dan Amerika Serikat.


(2) Strategi kolonisasi dipengaruhi oleh kelayakan pemukiman. Di tempat-tempat di mana lingkungan penyakit tidak mendukung pemukiman Eropa, kebijakan ekstraktif lebih mungkin terjadi.


(3) Negara kolonial dan institusinya bertahan sampai batas tertentu dan membuatnya lebih mungkin bahwa bekas koloni Eropa yang mengalami kolonisasi ekstraktif memiliki institusi yang lebih buruk hari ini.


Merangkum secara skematis, argumennya adalah:
(Mortalitas Pemukim Potensial) -> (Pemukiman) -> (Institusi Awal) -> (Institusi Saat Ini) -> (Kinerja Saat Ini).

Berdasarkan tiga premis ini, Acemoglu, Johnson, dan Robinson (2001) menggunakan tingkat mortalitas yang dihadapi oleh pemukim Eropa pertama di koloni sebagai instrumen untuk institusi saat ini dalam sampel bekas koloni Eropa. Estimasi variabel instrumental mereka menunjukkan efek besar dan kuat dari institusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita.

(Halaman 161)
Sebaliknya, semua orang Eropa menghadapi tingkat kematian yang sangat tinggi di Afrika, India, dan Asia Tenggara. Perbedaan mortalitas ini sebagian besar disebabkan oleh penyakit tropis seperti malaria dan demam kuning, dan pada saat itu belum diketahui bagaimana penyakit-penyakit ini muncul maupun bagaimana cara mencegah atau menyembuhkannya.


Gambar 4.10. Hubungan antara mortalitas pemukim Eropa potensial dan institusi ekonomi saat ini.
Gambar 4.10. dan 4.11. sudah menunjukkan bahwa, jika kita menerima asumsi eksklusi bahwa tingkat mortalitas pemukim Eropa potensial seharusnya tidak berpengaruh pada hasil ekonomi saat ini selain melalui institusi, ada dampak besar institusi ekonomi pada kinerja ekonomi. Ini didokumentasikan secara rinci dalam Acemoglu, Johnson, dan Robinson (2001), yang menyajikan berbagai uji ketahanan yang mengonfirmasi hasil ini.

Estimasi mereka menunjukkan bahwa sebagian besar kesenjangan antara negara kaya dan miskin saat ini disebabkan oleh perbedaan dalam institusi ekonomi. Sebagai contoh, bukti menunjukkan bahwa lebih dari 75% kesenjangan pendapatan antara negara-negara relatif kaya dan negara-negara relatif miskin dapat dijelaskan oleh perbedaan dalam institusi ekonomi mereka (diukur dengan proksi keamanan hak milik).

(Halaman 162)
Gambar 4.11. Hubungan antara mortalitas pemukim Eropa potensial dan GDP per kapita pada tahun 1995.

(Halaman 163)
Namun, bukti ekonometrik dalam Acemoglu, Johnson, dan Robinson (2001) tidak konsisten dengan pandangan ini. Sama halnya dengan bukti terkait variabel geografis, strategi ekonometrik yang dibahas di atas menunjukkan bahwa, setelah memperhitungkan efek institusi ekonomi, baik identitas kekuatan kolonial, fraksi kontemporer Eropa dalam populasi, maupun proporsi populasi dari berbagai agama tidak tampak memiliki pengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita.
Hasil ekonometrik ini didukung oleh contoh-contoh sejarah.

Meskipun tidak ada koloni Spanyol yang berhasil secara ekonomi seperti koloni Inggris seperti Amerika Serikat, banyak koloni Inggris yang sekarang miskin, seperti di Afrika, India, dan Bangladesh. Juga jelas bahwa Inggris tidak semata-mata meniru institusi Inggris di koloni mereka.

Misalnya, pada tahun 1619 koloni Amerika Utara di Virginia memiliki majelis perwakilan dengan hak pilih universal untuk laki-laki, sesuatu yang tidak ada di Inggris sendiri hingga tahun 1919. Contoh lain yang menarik adalah koloni Puritan di Pulau Providence yang dengan cepat berubah menjadi seperti koloni budak Karibia lainnya meskipun memiliki warisan Puritan.

Demikian pula, meskipun Belanda pada abad ke-17 mungkin memiliki institusi ekonomi domestik terbaik di dunia, koloni mereka di Asia Tenggara berakhir dengan institusi yang dirancang untuk ekstraksi sumber daya, memberikan sedikit hak ekonomi atau sipil kepada penduduk asli. Koloni-koloni ini kemudian mengalami pertumbuhan lambat dibandingkan dengan negara-negara lainnya.


Terkait peran orang Eropa, Singapura dan Hong Kong sekarang menjadi dua dari negara terkaya di dunia, meskipun memiliki jumlah orang Eropa yang sangat sedikit. Selain itu, Argentina dan Uruguay memiliki proporsi orang keturunan Eropa yang sama tingginya dengan Amerika Serikat dan Kanada, tetapi jauh kurang makmur.

(Halaman 165)
Salah satu peran penting institusi adalah untuk memfasilitasi kontrak antara pemberi pinjaman dan peminjam atau antara berbagai perusahaan, untuk memfasilitasi fungsi pasar dan alokasi sumber daya. Kontrak semacam itu hanya mungkin jika hukum, pengadilan, dan regulasi menegakkan kontrak dengan cara yang tepat.

Mari kita sebut pengaturan institusi semacam ini yang mendukung kontrak swasta sebagai institusi kontraktual. Kelompok institusi lainnya yang ditekankan di atas berkaitan dengan institusi yang membatasi ekspropriasi oleh pemerintah dan elit. Mari kita sebut ini sebagai institusi hak milik.

(Halaman 170)
4.7. Ekonomi Politik Institusi: Pemikiran Awal
Bukti yang disajikan dalam bab ini menunjukkan bahwa institusi adalah penyebab fundamental paling penting dari pertumbuhan ekonomi.

(Halaman 171)
4.9. Referensi dan Literatur
Bagian awal bab ini didasarkan pada Acemoglu, Johnson, dan Robinson (2006), yang membahas perbedaan antara penyebab proksimal dan penyebab fundamental serta berbagai pendekatan yang berbeda terhadap penyebab fundamental pertumbuhan ekonomi. North dan Thomas (1973) tampaknya menjadi yang pertama secara implisit mengkritik teori pertumbuhan karena hanya berfokus pada penyebab proksimal dan mengabaikan penyebab fundamental pertumbuhan ekonomi.

(Halaman 172)
Diamond (1997) juga membuat perbedaan antara penjelasan proksimal dan fundamental.
McEvedy dan Jones (1978) memberikan sejarah singkat populasi dunia dan informasi yang relatif dapat diandalkan sejak 10.000 SM.

Data mereka menunjukkan bahwa, seperti yang diklaim dalam teks, total populasi di Asia secara konsisten lebih besar daripada di Eropa Barat selama periode waktu ini.

(Halaman 174)
Detail eksperimen Korea dan referensi historis disediakan dalam Acemoglu (2003) dan Acemoglu, Johnson, dan Robinson (2006).

(Halaman 178)
BAGIAN 2 MENUJU PERTUMBUHAN NEO-KLASIK
Ini akan memungkinkan kita untuk membuka kotak hitam dari tabungan dan akumulasi modal, mengubah keputusan-keputusan ini menjadi keputusan investasi yang berorientasi ke masa depan.

(Halaman 209)
5.11. Meninjau Kembali
Pesan-pesan paling penting yang dapat diambil dari bab ini adalah sebagai berikut. Pertama, serangkaian model yang kita pelajari dalam buku ini adalah contoh dari model ekuilibrium umum dinamis yang lebih umum. Oleh karena itu, penting untuk memahami fitur mana dari model pertumbuhan yang bersifat umum (dalam arti tidak bergantung pada asumsi penyederhanaan spesifik yang kita buat) dan hasil mana yang bergantung pada asumsi penyederhanaan lebih lanjut yang kita adopsi.

Dalam hal ini, Teorema Kesejahteraan Pertama dan Kedua sangat penting. Teorema-teorema ini menunjukkan bahwa, asalkan semua pasar produk dan faktor bersifat kompetitif dan tidak ada eksternalitas dalam produksi atau konsumsi (dan di bawah beberapa asumsi teknis yang relatif ringan), ekuilibrium kompetitif dinamis akan Pareto optimal, dan alokasi yang optimal dapat didesentralisasikan sebagai ekuilibrium kompetitif dinamis.

Kedua, kelas model ekuilibrium umum dinamis yang paling umum tidak akan cukup dapat dipahami untuk memungkinkan kita memperoleh hasil yang tajam tentang proses pertumbuhan ekonomi. Untuk alasan ini, kita sering kali akan mengadopsi serangkaian asumsi penyederhanaan. Asumsi yang paling penting adalah asumsi rumah tangga perwakilan, yang memungkinkan kita untuk memodelkan sisi permintaan ekonomi seolah-olah dihasilkan oleh perilaku optimal dari satu rumah tangga.

(Halaman 210)
Di sepanjang buku ini, kita akan menggunakan model seperti ini—mengabaikan banyak aspek penting dari ekonomi aktual untuk memfokuskan perhatian pada aspek-aspek tertentu dari proses pertumbuhan ekonomi.

Bab 6. Model Akumulasi Modal dengan Keseimbangan Dinamis
Bab ini memperkenalkan model dasar akumulasi modal yang berorientasi ke masa depan, mengaitkannya dengan teori neoklasik dan membandingkannya dengan model Solow.

(Halaman 250)
6.12. Kesimpulan
Model akumulasi modal memberikan kerangka kerja yang lebih kaya dan lebih rinci daripada model Solow dalam memahami keputusan investasi dan pertumbuhan jangka panjang. Namun, model ini tidak menyelesaikan semua masalah—terutama terkait dengan akumulasi teknologi dan modal manusia, yang akan dibahas lebih lanjut di bab-bab berikutnya.

(Halaman 252)

6.8. Ikhtisar

Bab ini berkaitan dengan teknik pemrograman dinamis dasar untuk masalah berdimensi tak terbatas dalam waktu diskrit. Teknik-teknik ini tidak hanya penting untuk mempelajari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga banyak digunakan di berbagai bidang makroekonomi dan ekonomi secara umum.

Pemahaman yang baik tentang teknik-teknik ini sangat penting untuk memahami mekanisme pertumbuhan ekonomi, yaitu bagaimana berbagai model pertumbuhan ekonomi bekerja, bagaimana mereka dapat ditingkatkan, dan bagaimana mereka dapat diterapkan pada data. Untuk alasan ini, bab ini menjadi bagian dari teks utama, bukan hanya di bagian Lampiran Matematika.

(Halaman 307)

BAGIAN 3: PERTUMBUHAN NEO-KLASIK

Bab 8: Model Pertumbuhan Neo-Klasik

Kita sekarang siap untuk memulai analisis tentang model pertumbuhan neo-klasik standar (juga dikenal sebagai model Ramsey atau Cass-Koopmans). Model ini berbeda dari model Solow hanya dalam satu aspek penting: ia secara eksplisit memodelkan sisi konsumen dan membuat keputusan menabung menjadi endogen. Dengan kata lain, model ini memungkinkan adanya optimisasi konsumen.

Selain menjadi model pertumbuhan dasar, model ini telah menjadi model andalan di banyak area makroekonomi, termasuk analisis kebijakan fiskal, perpajakan, siklus bisnis, dan bahkan kebijakan moneter.

(Halaman 336)

8.11. Ikhtisar

Bab ini menyajikan model yang bisa dibilang paling penting dalam makroekonomi; model pertumbuhan neo-klasik satu sektor. Ingatlah bahwa studi kita tentang model-model dasar pertumbuhan ekonomi dimulai di Bab 2, dengan model pertumbuhan Solow.

Kita telah melihat bahwa meskipun model ini memberikan banyak wawasan penting, ia memperlakukan banyak mekanisme pertumbuhan ekonomi sebagai “kotak hitam”. Pertumbuhan hanya dapat dihasilkan oleh kemajuan teknologi (kecuali kita berada dalam model AK khusus tanpa penurunan hasil dari modal), tetapi kemajuan teknologi berada di luar model.

(Halaman 345)

Bab 9: Pertumbuhan dengan Generasi Tumpang Tindih

Fitur kunci dari model pertumbuhan neo-klasik yang dianalisis di bab sebelumnya adalah bahwa model ini mengandaikan rumah tangga representatif. Model ini berguna karena memberikan kerangka kerja yang mudah untuk analisis akumulasi modal.

Selain itu, ini memungkinkan kita merujuk pada Teorema Kesejahteraan Pertama dan Kedua untuk menetapkan kesetaraan antara masalah pertumbuhan ekuilibrium dan optimum.

(Halaman 374)

9.9. Ikhtisar

Bab ini melanjutkan investigasi kita tentang mekanisme akumulasi modal dalam model ekuilibrium dinamis. Perbedaan utama dari model pertumbuhan neo-klasik dasar di bagian sebelumnya adalah relaksasi dari asumsi rumah tangga representatif.

Cara paling sederhana untuk mencapainya adalah dengan memperkenalkan generasi tumpang tindih yang hidup selama dua periode (tanpa altruisme murni). Dalam model dasar generasi tumpang tindih ala Samuelson dan Diamond, setiap individu hidup selama dua periode, tetapi hanya dapat menyediakan tenaga kerja selama periode pertama hidupnya.

Kita juga telah menyelidiki model alternatif yang tidak menggunakan rumah tangga representatif, khususnya generasi tumpang tindih dengan altruisme tidak murni dan model pemuda abadi. Dalam model generasi tumpang tindih dengan altruisme tidak murni, individu mentransfer sumber daya ke keturunannya, tetapi mereka tidak secara langsung peduli pada utilitas keturunan mereka, melainkan mendapatkan utilitas dari tindakan memberi atau dari beberapa subkomponen vektor konsumsi keturunannya.

Dalam model pemuda abadi, ekonomi memiliki harapan hidup yang terbatas dan generasi tumpang tindih, tetapi setiap individu masih memiliki cakrawala perencanaan yang tak terbatas karena waktu kematian tidak pasti.

(Halaman 383)

Bab 10: Modal Manusia dan Pertumbuhan Ekonomi

Teori modal manusia, yang dikembangkan terutama oleh Becker (1965) dan Mincer (1974), membahas peran modal manusia dalam proses produksi dan tentang insentif untuk berinvestasi dalam keterampilan, termasuk investasi pra-pasar tenaga kerja dalam bentuk pendidikan, dan investasi di tempat kerja dalam bentuk pelatihan.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa teori ini merupakan dasar dari sebagian besar ekonomi tenaga kerja dan juga memainkan peran yang sama penting dalam makroekonomi.

(Halaman 411)

10.9. Ikhtisar

Perbedaan dalam modal manusia adalah penyebab utama perbedaan kinerja ekonomi antar negara. Selain itu, akumulasi modal manusia mungkin memainkan peran penting dalam proses pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi.

Pertimbangan ini membenarkan analisis mendetail tentang modal manusia. Bab ini menyajikan sejumlah model investasi modal manusia yang menekankan bagaimana investasi modal manusia merespons imbalan di masa depan dan bagaimana mereka berkembang seiring waktu (melalui pendidikan serta pelatihan di tempat kerja).

(Halaman 417)

Bab 11: Model-Model Generasi Pertama tentang Pertumbuhan Endogen

Model-model yang disajikan sejauh ini berfokus pada akumulasi modal fisik dan manusia. Pertumbuhan ekonomi dihasilkan oleh kemajuan teknologi eksogen. Meskipun model-model ini berguna dalam memahami sumber perbedaan pendapatan antar negara yang memiliki akses bebas ke kumpulan teknologi yang sama, mereka tidak menghasilkan pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan (baik di negara tersebut maupun di ekonomi dunia) dan memiliki sedikit yang bisa dikatakan tentang sumber perbedaan teknologi.

Analisis penuh mengenai perbedaan pendapatan antar negara dan proses pertumbuhan ekonomi dunia membutuhkan model-model di mana pilihan teknologi dan kemajuan teknologi menjadi endogen. Ini akan menjadi topik dari bagian buku berikutnya.

Meskipun model di mana teknologi berkembang sebagai hasil dari keputusan perusahaan dan pekerja sangat menarik dalam hal ini, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan mungkin juga terjadi dalam model neo-klasik. Kita mengakhiri bagian ini dengan menyelidiki pertumbuhan ekonomi endogen yang berkelanjutan dalam model neo-klasik atau semi-neo-klasik.

Kita menyimpulkan bagian ini dengan menyajikan artikel terobosan Paul Romer (1986). Dalam banyak hal, makalah Romer memulai literatur pertumbuhan endogen dan menghidupkan kembali minat pada pertumbuhan ekonomi di kalangan ekonom.

(Halaman 418)

Meskipun tujuan Romer adalah memodelkan “perubahan teknologi”, ia mencapainya dengan memperkenalkan limpahan teknologi—mirip dengan yang kita temui di Bab 10.

Akibatnya, meskipun ekuilibrium kompetitif dari model Romer tidak optimal menurut Pareto, mesin pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai bentuk “akumulasi pengetahuan”. Dalam banyak hal, model ini masih bersifat neo-klasik. Secara khusus, kita akan melihat bahwa dalam bentuk yang disederhanakan, model ini sangat mirip dengan model AK dasar (kecuali implikasi kesejahteraannya).

(Halaman 430)

11.4. Pertumbuhan dengan Eksternalitas

Model yang memulai sebagian besar teori pertumbuhan endogen dan menghidupkan kembali minat para ekonom terhadap pertumbuhan ekonomi adalah makalah Paul Romer (1986).

Tujuan Romer adalah memodelkan proses “akumulasi pengetahuan”. Ia menyadari bahwa ini akan sulit dilakukan dalam konteks ekonomi kompetitif. Solusi awalnya (kemudian diperbarui dan diperbaiki dalam karyanya dan karya orang lain selama 1990-an) adalah dengan menganggap akumulasi pengetahuan sebagai produk sampingan dari akumulasi modal. Dengan kata lain, Romer memperkenalkan limpahan teknologi, mirip dengan yang dibahas dalam konteks modal manusia di Bab 10.

Meskipun mungkin dianggap kasar, ini menangkap dimensi penting dari pengetahuan, yaitu bahwa pengetahuan adalah barang yang sebagian besar tidak bersaing—setelah suatu teknologi ditemukan, banyak perusahaan dapat menggunakan teknologi tersebut tanpa mencegah orang lain menggunakan pengetahuan yang sama. Tidak bersaing tidak berarti pengetahuan juga tidak dapat dieksklusikan (yang akan membuatnya menjadi barang publik murni). Sebuah perusahaan yang menemukan teknologi baru mungkin menggunakan paten atau kerahasiaan dagang untuk mencegah orang lain menggunakannya, misalnya, untuk mendapatkan keuntungan kompetitif.

Isu-isu ini akan dibahas di bagian buku berikutnya. Untuk saat ini, cukup dicatat bahwa beberapa karakteristik penting dari “pengetahuan” dan perannya dalam proses produksi dapat ditangkap dengan cara yang disederhanakan melalui pengenalan limpahan teknologi. Selanjutnya, kita akan membahas versi model dalam makalah Romer (1986), yang memperkenalkan limpahan teknologi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Meskipun jenis limpahan teknologi yang digunakan dalam model ini mungkin tidak terlalu penting dalam praktiknya, model ini merupakan titik awal yang baik untuk analisis kita tentang kemajuan teknologi endogen, karena kesamaannya dengan ekonomi AK dasar membuatnya menjadi model akumulasi pengetahuan yang sangat dapat dilacak.

(Halaman 434)

11.5. Ikhtisar

Bab ini mengakhiri investigasi kita tentang model-model pertumbuhan neo-klasik. Ini juga membuka jalan untuk analisis kemajuan teknologi endogen dalam bagian buku berikutnya.

(Halaman 445)

BAGIAN 4: PERUBAHAN TEKNOLOGI ENDOGEN

Bab 12: Memodelkan Perubahan Teknologi

Sejauh ini kita telah menyelidiki model pertumbuhan ekonomi dari variasi eksogen atau endogen. Namun, pertumbuhan ekonomi belum dihasilkan dari perubahan teknologi. Baik itu eksogen, atau berkelanjutan karena teknologi neo-klasik linier, atau terjadi sebagai produk sampingan dari limpahan pengetahuan.

Karena tujuan kita adalah memahami proses pertumbuhan ekonomi, model di mana pertumbuhan dihasilkan dari kemajuan teknologi dan perubahan teknologi itu sendiri merupakan hasil dari investasi yang disengaja oleh perusahaan dan individu jauh lebih menarik.

Model-model ini tidak hanya membuat kemajuan teknologi menjadi endogen, tetapi juga menghubungkan proses kemajuan teknologi dengan kebijakan hak milik intelektual. Mereka juga akan memungkinkan kita untuk membahas masalah-masalah tentang perubahan teknis yang langsung diarahkan.

(Halaman 452)

Secara keseluruhan, bukti menunjukkan bahwa ukuran pasar merupakan penentu utama dari insentif inovasi dan jumlah serta jenis perubahan teknologi.

(Halaman 454)

Ini adalah dasar dari klaim oleh Schumpeter, Arrow, Romer, dan lainnya bahwa ada hubungan yang erat antara kekuatan monopoli eks-post dan inovasi.

(Halaman 459)

12.4 Model Dixit-Stiglitz dan “Eksternalitas Permintaan Agregat”

Analisis di bagian sebelumnya berfokus pada nilai pribadi dan sosial dari inovasi dalam pengaturan ekuilibrium parsial. Dalam teori pertumbuhan, sebagian besar minat kita akan terletak pada model ekuilibrium umum dari inovasi. Ini memerlukan model ekuilibrium industri yang dapat dilacak, yang kemudian dapat dimasukkan ke dalam kerangka ekuilibrium umum.

Model ekuilibrium industri yang paling banyak digunakan adalah model yang dikembangkan oleh Dixit dan Stiglitz (1977) dan Spence (1976), yang menangkap banyak fitur utama dari diskusi Chamberlin (1933) tentang persaingan monopolistik.

(Halaman 473)

Bab 13: Model Perluasan Ragam

Seperti yang ditekankan dalam bab sebelumnya, kunci untuk memahami kemajuan teknologi endogen adalah bahwa R&D adalah aktivitas yang disengaja, dilakukan untuk keuntungan, dan pengetahuan (mesin, cetak biru, atau teknologi baru) yang dihasilkan meningkatkan produktivitas dari faktor-faktor produksi yang ada.

Model perubahan teknologi endogen pertama kali diformulasikan oleh Romer (1987 dan 1990). Berbagai versi model tersebut telah dianalisis oleh Segerstrom, Anant, dan Dinopoulos (1990), Grossman dan Helpman (1991a, b), serta Aghion dan Howitt (1992). Beberapa di antaranya akan dibahas dalam bab selanjutnya.

Model perubahan teknologi endogen yang paling sederhana adalah model di mana R&D memperluas variasi input atau mesin yang digunakan dalam produksi.

(Halaman 495)

13.5. Ikhtisar

Pada tingkat tertentu, terdapat banyak kesamaan antara model-model yang dipelajari di sini dan model pertumbuhan Romer (1986) dengan eksternalitas yang dipelajari dalam Bagian 11.4 di Bab 11; keduanya memiliki struktur matematis yang mirip dengan model AK neo-klasik (tingkat pertumbuhan jangka panjang yang konstan, tanpa dinamika transisional) dan keduanya menghasilkan eksternalitas yang menyebabkan tingkat pertumbuhan ekuilibrium lebih rendah daripada tingkat pertumbuhan optimal Pareto (karena eksternalitas modal fisik dalam model Romer (1986), karena eksternalitas permintaan agregat dalam model lab equipment pada Bagian 13.1 di sini, dan karena campuran keduanya dalam model-model lain yang dipelajari dalam bab ini).

(Halaman 505)

Bab 14: Model Pertumbuhan Schumpeterian

Bab sebelumnya menyajikan model dasar perubahan teknologi endogen yang didasarkan pada perluasan input atau variasi produk. Keunggulan dari model ini adalah relatif mudah dianalisis.

Aspek-aspek kompetitif ini membawa kita ke ranah Schumpeterian tentang “destruksi kreatif”, di mana pertumbuhan ekonomi didorong, setidaknya sebagian, oleh perusahaan baru yang menggantikan yang sudah ada. Karena itu, model-model yang dibahas dalam bab ini sering disebut sebagai model pertumbuhan Schumpeterian.

(Halaman 552)

14.5 Ikhtisar

Model dasar ini menampilkan inovasi proses yang mengarah pada peningkatan kualitas.

(Halaman 563)

Bab 15: Teknologi yang Diarahkan

Dua bab sebelumnya memperkenalkan model dasar perubahan teknologi endogen. Model-model ini memberikan kerangka kerja yang mudah ditelusuri untuk analisis perubahan teknologi agregat, tetapi berfokus pada satu jenis perubahan teknologi. Bahkan ketika ada berbagai jenis mesin, semuanya memainkan peran yang sama dalam meningkatkan produktivitas agregat. Akibatnya, perubahan teknologi dalam model ini selalu “netral” (dalam arti netralitas Hicks yang didefinisikan di Bab 2).

Ada dua aspek penting di mana model-model ini tidak lengkap. Pertama, perubahan teknologi dalam praktiknya sering kali tidak netral: perubahan ini menguntungkan beberapa faktor produksi dan beberapa agen dalam perekonomian lebih dari yang lain. Hanya dalam kasus khusus, seperti pada ekonomi dengan fungsi produksi agregat Cobb-Douglas, jenis bias ini dapat diabaikan. Studi tentang mengapa perubahan teknologi terkadang bias terhadap faktor atau sektor tertentu penting untuk memahami sifat teknologi endogen dan juga karena memperjelas efek distribusi dari perubahan teknologi, yang menentukan kelompok mana yang akan menerima teknologi baru dan kelompok mana yang akan menentangnya. Kedua, membatasi analisis hanya pada satu jenis perubahan teknologi berpotensi mengaburkan berbagai efek yang bersaing yang menentukan sifat perubahan teknologi.

(Halaman 602)

15.10 Referensi dan Literatur

Model-model perubahan teknologi yang diarahkan terkait erat dengan literatur inovasi yang diinduksi sebelumnya. Literatur inovasi yang diinduksi dimulai secara tidak langsung oleh Hicks, yang dalam bukunya The Theory of Wages (1932), berpendapat:

“Perubahan harga relatif dari faktor-faktor produksi merupakan dorongan bagi penemuan, dan bagi penemuan jenis tertentu—yang diarahkan untuk menghemat penggunaan faktor yang menjadi relatif mahal.” (hal. 124-5).

(Halaman 631)

16.5.1. Hipotesis Pendapatan Permanen

Salah satu aplikasi paling penting dari optimisasi dinamis stokastik adalah pada masalah perataan konsumsi konsumen yang menghadapi aliran pendapatan yang tidak pasti. Masalah ini pertama kali dibahas oleh Irving Fisher (1930) dan kemudian menerima analisis sistematis pertama dalam buku klasik Milton Friedman tentang perilaku konsumsi, yang menjadi salah satu model makroekonomi yang paling terkenal.

(Halaman 639)

16.5.3 Aplikasi Lainnya

Ada banyak aplikasi lain dari pemrograman dinamis stokastik. Selain tiga model pertumbuhan yang akan kita pelajari di bab berikutnya, aplikasi berikut patut diperhatikan:

(1) Penetapan Harga Aset: mengikuti Lucas (1978), kita dapat mempertimbangkan sebuah ekonomi di mana sekelompok agen identik memperdagangkan klaim atas pengembalian stokastik dari serangkaian aset yang diberikan (“Pohon”). Setiap agen menyelesaikan masalah perataan konsumsi yang mirip dengan yang ada di subbagian 16.5.1, dengan perbedaan utama bahwa ia harus menabung dalam aset dengan pengembalian stokastik daripada dengan tingkat bunga tetap.

Keseimbangan pasar akan dicapai ketika total pasokan aset sama dengan total permintaan. Ini menyiratkan bahwa harga dalam ekuilibrium harus sedemikian rupa sehingga setiap agen merasa puas memegang jumlah klaim yang tepat atas pengembalian dari aset-aset ini. Mengingat utilitas marjinal dari konsumsi yang berasal dari formulasi rekursif, aset-aset ini dapat dihargai. Latihan 16.13 mempertimbangkan kasus ini.

(2) Investasi di Bawah Ketidakpastian: model investasi di bawah biaya penyesuaian yang dibahas dalam Bagian 7.8 dari Bab 7 memiliki aplikasi yang lebih luas dalam makroekonomi dan organisasi industri setelah ditambah dengan kemungkinan bahwa perusahaan tidak yakin tentang permintaan dan/atau produktivitas di masa depan. Latihan 16.14 mempertimbangkan kasus ini.

(3) Masalah Penghentian Optimal: model pencarian yang dibahas dalam subbagian sebelumnya adalah contoh dari masalah penghentian optimal. Masalah penghentian optimal yang lebih umum juga dapat diatur dan dianalisis sebagai masalah pemrograman dinamis stokastik. Latihan 16.15 mempertimbangkan contoh masalah penghentian semacam itu.

(Halaman 659)

17.3. Aplikasi: Model Siklus Bisnis Nyata

Salah satu aplikasi paling penting dari model pertumbuhan neoklasik di bawah ketidakpastian selama 25 tahun terakhir adalah pada analisis fluktuasi jangka pendek dan menengah. Pendekatan ini, yang dipelopori oleh makalah seminal Kydland dan Prescott (1982) dan disebut sebagai teori Siklus Bisnis Nyata, menggunakan model pertumbuhan neoklasik dengan kejutan produktivitas agregat untuk menyediakan kerangka kerja bagi analisis fluktuasi makroekonomi.

(Halaman 698)

BAGIAN 6: DIFUSI TEKNOLOGI, PERDAGANGAN, DAN KETERGANTUNGAN

Salah satu kekurangan utama dari model-model yang disajikan sejauh ini adalah bahwa setiap negara diperlakukan sebagai “pulau” yang berdiri sendiri, tidak berinteraksi dengan negara-negara lain di dunia. Ini bermasalah setidaknya karena dua alasan.

Yang pertama terkait dengan ketergantungan teknologi antarnegara dan yang kedua dengan perdagangan internasional (dalam komoditas dan aset). Dalam bagian ini, kita akan menyelidiki implikasi dari ketergantungan teknologi dan perdagangan pada proses pertumbuhan ekonomi.

(Halaman 706)

Keuntungan potensial ini bagi ekonomi yang relatif tertinggal akan memainkan peran penting dalam memastikan distribusi pendapatan dunia yang stabil di seluruh negara. Ini juga memformalkan ide yang sudah ada sejak esai Gerschenkron (1962) berjudul Economic Backwardness in Historical Perspective.

Gerschenkron berpendapat bahwa catch-up cepat oleh negara-negara yang relatif tertinggal penting untuk memahami pola pertumbuhan lintas negara. Dia juga menyarankan bahwa organisasi produksi dalam proses catch-up (atau seharusnya) berbeda dari organisasi produksi yang tepat untuk ekonomi terdepan. Kita akan kembali ke tema ini di Bab 20.

(Halaman 752)

Bab 19: Perdagangan dan Pertumbuhan

Secara khusus, kita akan melihat bahwa keberadaan aliran modal internasional menimbulkan sejumlah teka-teki, yang paling terkenal adalah yang ditekankan oleh Lucas (1990): “Mengapa Modal Tidak Mengalir dari Negara Kaya ke Negara Miskin?”.

Kita akan melihat di bagian selanjutnya bahwa pertanyaan sederhana ini membantu kita memikirkan berbagai masalah penting dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi. Meskipun model aliran modal bebas di seluruh dunia adalah titik awal yang baik, bukti yang ada tidak sepenuhnya konsisten dengan aliran bebas tersebut.

(Halaman 808)

BAGIAN 7: PEMBANGUNAN EKONOMI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

Berdasarkan pola-pola ini, dalam buku klasiknya Modern Economic Growth, Simon Kuznets mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai berikut:

“Kita mengidentifikasi pertumbuhan ekonomi bangsa-bangsa sebagai peningkatan berkelanjutan dalam produk per kapita atau per pekerja, yang seringkali disertai dengan peningkatan populasi dan biasanya oleh perubahan struktural yang luas.

Di zaman modern, perubahan ini terjadi dalam struktur industri di mana produk dihasilkan dan sumber daya digunakan—beralih dari pertanian menuju kegiatan non-pertanian, proses industrialisasi; dalam distribusi populasi antara pedesaan dan kota, proses urbanisasi; dalam posisi ekonomi relatif dari kelompok-kelompok dalam bangsa yang dibedakan oleh status pekerjaan, keterikatan pada berbagai industri, tingkat pendapatan per kapita, dan sebagainya; dalam distribusi produk menurut penggunaan—di antara konsumsi rumah tangga, pembentukan modal, dan konsumsi pemerintah, serta dalam setiap kategori utama ini dengan subdivisi lebih lanjut; dalam alokasi produk menurut asalnya di dalam batas-batas negara dan di tempat lain; dan seterusnya.” Simon Kuznets (1966).

(Halaman 814)

Gambar 20.1. Bagian dari pekerjaan di AS dalam bidang pertanian, manufaktur, dan jasa, 1800-2000.

(Halaman 886)

21.5. Keseimbangan Ganda dari Eksternalitas Permintaan Agregat dan “Big Push”

Saya sekarang akan menyajikan model sederhana tentang keseimbangan ganda yang muncul dari eksternalitas permintaan agregat. Model ini adalah versi dari model “Big Push” oleh Murphy, Shleifer, dan Vishny (1989), yang memformalkan ide-ide yang diajukan oleh Rosenstein-Rodan (1943), Hirschman, dan Nurske, bahwa pembangunan ekonomi dapat dilihat sebagai perpindahan dari satu keseimbangan yang tidak efisien (Pareto) ke keseimbangan lain yang lebih efisien. Selain itu, para ekonom pembangunan awal ini berpendapat bahwa jenis perpindahan ini memerlukan koordinasi di antara individu-individu dan perusahaan-perusahaan di dalam ekonomi, sehingga dibutuhkan dorongan besar (big push).

(Halaman 926)

BAGIAN 8: EKONOMI POLITIK PERTUMBUHAN

Dalam bagian ini, saya akan beralih dari mekanisme pertumbuhan ekonomi ke penyelidikan tentang penyebab potensial dari pertumbuhan ekonomi. Hampir semua model yang telah kita pelajari sejauh ini menerima institusi ekonomi (seperti apakah hak milik ditegakkan dan jenis kontrak apa yang dapat ditulis), kebijakan (seperti tarif pajak, distorsi, subsidi), dan sering kali struktur pasar sebagai hal yang sudah ada.

(Halaman 934)

Elemen penting pertama dari pendekatan ekonomi politik adalah konflik sosial. Tidak ada perubahan ekonomi yang akan menguntungkan semua agen dalam masyarakat. Oleh karena itu, setiap perubahan dalam institusi dan kebijakan akan menciptakan pemenang dan pecundang relatif terhadap status quo.

Ambil contoh yang paling sederhana: menghapus hambatan masuk sehingga pasar yang sebelumnya dimonopoli menjadi kompetitif. Teori ekonomi memberi tahu kita bahwa ini diinginkan dalam arti bahwa ini menghilangkan distorsi dan menciptakan “perbaikan Pareto potensial”. Dalam konteks pertumbuhan, kita sering berfokus pada implikasi dari perubahan institusi dan kebijakan terhadap tingkat pendapatan atau laju pertumbuhan ekonomi.

Dalam hal ini, menghapus hambatan masuk kemungkinan besar merupakan reformasi yang bermanfaat, karena penghapusan kekuatan monopoli akan meningkatkan jumlah transaksi di pasar dan meningkatkan pendapatan riil. Namun, tidak semua pihak dalam ekonomi akan menjadi pemenang dari penghapusan hambatan masuk. Sementara konsumen akan diuntungkan karena harga yang lebih rendah, monopolis yang sebelumnya menikmati posisi istimewa dan keuntungan tinggi akan menjadi “pecundang”.

Efek terhadap pekerja bergantung pada struktur pasar yang tepat. Jika pasar tenaga kerja kompetitif, pekerja juga akan mendapat manfaat, karena permintaan tenaga kerja akan meningkat dengan masuknya perusahaan baru. Namun, jika terdapat ketidaksempurnaan pasar tenaga kerja, sehingga karyawan dari monopolis sebelumnya berbagi beberapa keuntungan yang diperoleh perusahaan ini, mereka juga akan menjadi pecundang potensial dari reformasi tersebut.

Oleh karena itu, jika kita memulai dengan status quo monopoli dan mempertimbangkan reformasi liberalisasi pasar (menghapus hambatan masuk), tidak akan ada dukungan bulat untuk proposal ini. Dengan kata lain, akan ada konflik sosial atas kebijakan “liberalisasi pasar”.

(Halaman 935)

Elemen penting kedua dari pendekatan ekonomi politik adalah masalah komitmen, yang akan berperan baik sebagai sumber inefisiensi dan juga memperburuk distorsi yang diciptakan oleh konflik sosial. Keputusan politik pada setiap tanggal dibuat oleh proses politik pada tanggal tersebut (misalnya, oleh mereka yang memegang kekuasaan politik pada saat itu); komitmen terhadap urutan keputusan politik dan ekonomi di masa depan tidak dimungkinkan kecuali jika hal tersebut merupakan bagian dari “komitmen ekuilibrium” yang muncul sebagai bagian dari ekuilibrium (di sini, kita akan melihat bahwa apakah kita menggunakan konsep ekuilibrium subgame perfect atau ekuilibrium Markov perfect akan berperan dalam membentuk sejauh mana komitmen yang tersedia).

(Halaman 1001)

Ekonomi terdiri dari elit politik yang mengendalikan pemerintah dan sekelompok warga negara yang memiliki akses ke peluang produksi. Produktivitas bergantung pada investasi barang publik oleh pemerintah. Di sisi lain, pemerintah hanya akan melakukan investasi ini jika ada manfaat bagi elit politik. Dalam bagian ini, saya menyelidiki kondisi-kondisi di mana jumlah investasi dalam barang publik yang lebih besar akan dilakukan dalam ekuilibrium politik yang terdefinisi dengan baik.

(Halaman 1063)

Bagan berikut merangkum diskusi ini secara diagramatis.

Institusi Politik (t)Kekuatan politik de jure (t)

& } → Institusi ekonomi (t) → { Kinerja ekonomi (t) &

Distribusi sumber daya (t + 1)

Distribusi sumber daya (t)Kekuatan politik de facto (t)Institusi politik (t+1)

(Halaman 1065)

Di Inggris, Undang-Undang Reformasi tahun 1867-1884 merupakan titik balik dalam sejarah negara Inggris. Institusi ekonomi juga mulai berubah. Pada tahun 1871, Gladstone mereformasi layanan sipil, membukanya untuk ujian publik, dan menjadikannya meritokratis. Pemerintahan Liberal dan Konservatif memperkenalkan sejumlah besar undang-undang pasar tenaga kerja, yang secara fundamental mengubah sifat hubungan industrial demi pekerja.

Selama periode 1906-1914, Partai Liberal, di bawah kepemimpinan Asquith dan Lloyd George, memperkenalkan negara kesejahteraan modern ke Inggris, termasuk asuransi kesehatan dan pengangguran, pensiun yang didanai pemerintah, upah minimum, dan komitmen terhadap perpajakan yang redistributif.

Sebagai hasil dari perubahan fiskal, pajak sebagai proporsi dari Produk Nasional meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 30 tahun setelah tahun 1870, dan kemudian meningkat dua kali lipat lagi. Sementara itu, progresivitas sistem pajak juga meningkat. Akhirnya, ada konsensus di antara para sejarawan ekonomi bahwa ketidaksetaraan di Inggris menurun setelah tahun 1870-an.

(Halaman 886)

21.5. Keseimbangan Ganda dari Eksternalitas Permintaan Agregat dan “Big Push”

Saya sekarang akan menyajikan model sederhana tentang keseimbangan ganda yang muncul dari eksternalitas permintaan agregat. Model ini adalah versi dari model “Big Push” oleh Murphy, Shleifer, dan Vishny (1989), yang memformalkan ide-ide yang diajukan oleh Rosenstein-Rodan (1943), Hirschman, dan Nurske, bahwa pembangunan ekonomi dapat dilihat sebagai perpindahan dari satu keseimbangan yang tidak efisien (Pareto) ke keseimbangan lain yang lebih efisien.

Selain itu, para ekonom pembangunan awal ini berpendapat bahwa jenis perpindahan ini memerlukan koordinasi di antara individu-individu dan perusahaan-perusahaan di dalam ekonomi, sehingga dibutuhkan dorongan besar (big push).

(Halaman 926)

BAGIAN 8: EKONOMI POLITIK PERTUMBUHAN

Dalam bagian ini, saya akan beralih dari mekanisme pertumbuhan ekonomi ke penyelidikan tentang penyebab potensial dari pertumbuhan ekonomi.

Hampir semua model yang telah kita pelajari sejauh ini menerima institusi ekonomi (seperti apakah hak milik ditegakkan dan jenis kontrak apa yang dapat ditulis), kebijakan (seperti tarif pajak, distorsi, subsidi), dan sering kali struktur pasar sebagai hal yang sudah ada.

(Halaman 934)

Elemen penting pertama dari pendekatan ekonomi politik adalah konflik sosial. Tidak ada perubahan ekonomi yang akan menguntungkan semua agen dalam masyarakat. Oleh karena itu, setiap perubahan dalam institusi dan kebijakan akan menciptakan pemenang dan pecundang relatif terhadap status quo.

Ambil contoh yang paling sederhana: menghapus hambatan masuk sehingga pasar yang sebelumnya dimonopoli menjadi kompetitif. Teori ekonomi memberi tahu kita bahwa ini diinginkan dalam arti bahwa ini menghilangkan distorsi dan menciptakan “perbaikan Pareto potensial”. Dalam konteks pertumbuhan, kita sering berfokus pada implikasi dari perubahan institusi dan kebijakan terhadap tingkat pendapatan atau laju pertumbuhan ekonomi.

Dalam hal ini, menghapus hambatan masuk kemungkinan besar merupakan reformasi yang bermanfaat, karena penghapusan kekuatan monopoli akan meningkatkan jumlah transaksi di pasar dan meningkatkan pendapatan riil. Namun, tidak semua pihak dalam ekonomi akan menjadi pemenang dari penghapusan hambatan masuk.

Sementara konsumen akan diuntungkan karena harga yang lebih rendah, monopolis yang sebelumnya menikmati posisi istimewa dan keuntungan tinggi akan menjadi “pecundang”. Efek terhadap pekerja bergantung pada struktur pasar yang tepat. Jika pasar tenaga kerja kompetitif, pekerja juga akan mendapat manfaat, karena permintaan tenaga kerja akan meningkat dengan masuknya perusahaan baru.

Namun, jika terdapat ketidaksempurnaan pasar tenaga kerja, sehingga karyawan dari monopolis sebelumnya berbagi beberapa keuntungan yang diperoleh perusahaan ini, mereka juga akan menjadi pecundang potensial dari reformasi tersebut. Oleh karena itu, jika kita memulai dengan status quo monopoli dan mempertimbangkan reformasi liberalisasi pasar (menghapus hambatan masuk), tidak akan ada dukungan bulat untuk proposal ini. Dengan kata lain, akan ada konflik sosial atas kebijakan “liberalisasi pasar”.

(Halaman 935)

Elemen penting kedua dari pendekatan ekonomi politik adalah masalah komitmen, yang akan berperan baik sebagai sumber inefisiensi dan juga memperburuk distorsi yang diciptakan oleh konflik sosial.

Keputusan politik pada setiap tanggal dibuat oleh proses politik pada tanggal tersebut (misalnya, oleh mereka yang memegang kekuasaan politik pada saat itu); komitmen terhadap urutan keputusan politik dan ekonomi di masa depan tidak dimungkinkan kecuali jika hal tersebut merupakan bagian dari “komitmen ekuilibrium” yang muncul sebagai bagian dari ekuilibrium (di sini, kita akan melihat bahwa apakah kita menggunakan konsep ekuilibrium subgame perfect atau ekuilibrium Markov perfect akan berperan dalam membentuk sejauh mana komitmen yang tersedia).

(Halaman 1001)

Ekonomi terdiri dari elit politik yang mengendalikan pemerintah dan sekelompok warga negara yang memiliki akses ke peluang produksi. Produktivitas bergantung pada investasi barang publik oleh pemerintah.

Di sisi lain, pemerintah hanya akan melakukan investasi ini jika ada manfaat bagi elit politik. Dalam bagian ini, saya menyelidiki kondisi-kondisi di mana jumlah investasi dalam barang publik yang lebih besar akan dilakukan dalam ekuilibrium politik yang terdefinisi dengan baik.

(Halaman 1063)

Bagan berikut merangkum diskusi ini secara diagramatis.

Institusi Politik (t)Kekuatan politik de jure (t)

& } → Institusi ekonomi (t) → { Kinerja ekonomi (t) &

Distribusi sumber daya (t + 1)

Distribusi sumber daya (t)Kekuatan politik de facto (t)Institusi politik (t+1)

(Halaman 1065)

Di Inggris, Undang-Undang Reformasi tahun 1867-1884 merupakan titik balik dalam sejarah negara Inggris. Institusi ekonomi juga mulai berubah. Pada tahun 1871, Gladstone mereformasi layanan sipil, membukanya untuk ujian publik, dan menjadikannya meritokratis. Pemerintahan Liberal dan Konservatif memperkenalkan sejumlah besar undang-undang pasar tenaga kerja, yang secara fundamental mengubah sifat hubungan industrial demi pekerja.

Selama periode 1906-1914, Partai Liberal, di bawah kepemimpinan Asquith dan Lloyd George, memperkenalkan negara kesejahteraan modern ke Inggris, termasuk asuransi kesehatan dan pengangguran, pensiun yang didanai pemerintah, upah minimum, dan komitmen terhadap perpajakan yang redistributif.

Sebagai hasil dari perubahan fiskal, pajak sebagai proporsi dari Produk Nasional meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 30 tahun setelah tahun 1870, dan kemudian meningkat dua kali lipat lagi. Sementara itu, progresivitas sistem pajak juga meningkat. Akhirnya, ada konsensus di antara para sejarawan ekonomi bahwa ketidaksetaraan di Inggris menurun setelah tahun 1870-an.

(Halaman 1101)

Pembaca seharusnya mencatat bahwa banyak istilah berbeda bisa digunakan selain “otoriter” dan “partisipatif”, dan beberapa rincian dari perbedaan ini mungkin bersifat sewenang-wenang.

Mengapa dunia tidak mengalami pertumbuhan yang berkelanjutan sebelum tahun 1800? Meskipun pertumbuhan yang berkelanjutan adalah fenomena baru, pertumbuhan dan perbaikan dalam standar hidup jelas terjadi berkali-kali dalam sejarah.

(Halaman 1102)

Sejarah manusia juga penuh dengan terobosan teknologi besar. Bahkan sebelum Revolusi Neolitik, banyak inovasi teknologi meningkatkan produktivitas pemburu-pengumpul.

(Halaman 1103)

Mengapa episode pertumbuhan ini tidak berkembang menjadi proses takeoff, yang pada akhirnya mengarah pada pertumbuhan berkelanjutan? Jawaban utama saya berkaitan dengan yang ditawarkan di Bagian 23.3 dalam Bab 23.

Pertumbuhan di bawah rezim otoriter adalah mungkin. Pengusaha dan pekerja dapat menjadi lebih baik dalam apa yang mereka lakukan, mencapai pembagian kerja yang lebih baik, dan memperbaiki teknologi yang mereka gunakan dengan cara coba-coba dan belajar dari pengalaman.

(Halaman 1104)

Kesultanan Utsmaniyah memberikan contoh lain dari masyarakat yang sukses dalam jangka waktu yang panjang tetapi tidak pernah bertransisi ke pertumbuhan yang berkelanjutan.

(Halaman 1113)

Terakhir, tetapi tidak kalah penting, mengingat narasi dalam bagian terakhir dan diskusi di Bab 4, 22, dan 23, pembaca tidak akan terkejut bahwa saya berpendapat banyak wawasan penting tentang pertumbuhan ekonomi terletak pada ekonomi politik.

 

 

Artikel Terkait

Wawasan Politik dan Kenegaraan dari Para Pemikir Bijak Bestari

error: Content is protected !!