08 Belajar Berpikir Kritis dari Buku Buku Sains yang Seru

Foundations of Behavioral Research

Fred N. Kerlinger

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dan terjemahkan dari buku Foundations of Behavioral Research oleh Fred N. Kerlinger.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

Berpikir Ilmiah. diterjemahkan dari Kerlinger, F. N. (2000). Foundations of Behavioral Research. San Diego, CA: Harcourt College.

METODE ILMIAH


EMPAT METODE PENGETAHUAN


Yang pertama adalah metode keteguhan (tenacity).

Di sini, orang berpegang teguh pada kebenaran, kebenaran yang mereka yakini sebagai benar karena mereka terus memegangnya erat, karena mereka selalu mengetahuinya sebagai kebenaran.

Pengulangan yang sering dari “kebenaran” semacam itu tampaknya meningkatkan validitasnya.

Orang sering kali berpegang teguh pada keyakinan mereka meskipun ada fakta yang jelas bertentangan.

Dan mereka juga akan menyimpulkan pengetahuan “baru” dari proposisi yang mungkin salah.

Metode kedua untuk mengetahui atau memperbaiki keyakinan adalah metode otoritas.

Ini adalah metode keyakinan yang sudah mapan.

Jika Alkitab mengatakan demikian, maka demikianlah adanya.

Jika seorang fisikawan terkenal mengatakan bahwa Tuhan itu ada, maka demikianlah adanya.

Jika suatu gagasan memiliki dukungan tradisi dan sanksi publik, maka gagasan itu dianggap benar.

Seperti yang ditunjukkan oleh Peirce, metode ini lebih unggul daripada metode keteguhan karena kemajuan manusia, meskipun lambat, dapat dicapai dengan metode ini.

Sebenarnya, kehidupan tidak dapat berjalan tanpa metode otoritas.

Sebagai individu, kita tidak dapat mengetahui segalanya.

Kita menerima otoritas dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS dalam menentukan bahwa apa yang kita makan dan minum aman.

Pikiran yang benar-benar terbuka yang mempertanyakan semua otoritas tidak ada.

Kita harus menerima sejumlah besar fakta dan informasi berdasarkan otoritas.

Oleh karena itu, tidak boleh disimpulkan bahwa metode otoritas tidak masuk akal; metode ini hanya tidak masuk akal dalam keadaan tertentu.

Metode a priori adalah cara ketiga untuk mengetahui atau memperbaiki keyakinan.

Metode ini juga disebut metode intuisi.

Metode ini menganggap superioritasnya berdasarkan asumsi bahwa proposisi yang diterima oleh “a priorist” adalah bukti-diri.

Perhatikan bahwa proposisi a priori “sesuai dengan akal” dan tidak selalu sesuai dengan pengalaman.

Idenya tampaknya adalah bahwa orang, melalui komunikasi dan hubungan yang bebas, dapat mencapai kebenaran karena kecenderungan alami mereka mengarah pada kebenaran.

Kesulitan dengan posisi ini terletak pada ungkapan “sesuai dengan akal.” Akal siapa? Misalkan dua individu yang jujur dan bermaksud baik, menggunakan proses rasional, mencapai kesimpulan yang berbeda. Siapa yang benar? Apakah ini masalah selera, seperti yang dikatakan Peirce? Jika sesuatu itu bukti-diri bagi banyak orang—misalnya, bahwa belajar mata pelajaran yang sulit melatih pikiran dan membangun karakter moral, bahwa pendidikan Amerika lebih rendah daripada pendidikan Asia dan Eropa—apakah ini berarti demikian? Menurut metode a priori, memang demikian—itu hanya “masuk akal.”.

Metode keempat adalah metode ilmu pengetahuan.

Peirce mengatakan:
Untuk memuaskan keraguan kita, … oleh karena itu, perlu ditemukan suatu metode di mana keyakinan kita dapat ditentukan oleh sesuatu yang bukan manusia, melainkan oleh suatu permanensi eksternal—oleh sesuatu yang di luar jangkauan pemikiran kita.

Metode ilmiah harus sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir setiap orang akan sama.

Hipotesis dasarnya adalah ini: “Ada hal-hal nyata, yang karakternya sepenuhnya independen dari pendapat kita tentang mereka.”.

Pendekatan ilmiah memiliki ciri khas yang tidak dimiliki metode lain dalam memperoleh pengetahuan: koreksi diri.

Ada pemeriksaan yang dibangun sepanjang jalan menuju pengetahuan ilmiah.

Pemeriksaan ini dirancang dan digunakan sedemikian rupa sehingga mereka mengontrol dan memverifikasi kegiatan ilmiah dan kesimpulan dengan tujuan memperoleh pengetahuan yang dapat diandalkan.

Bahkan jika sebuah hipotesis tampaknya didukung dalam suatu eksperimen, ilmuwan akan menguji hipotesis alternatif yang masuk akal yang, jika juga didukung, dapat meragukan hipotesis pertama.

Ilmuwan tidak menerima pernyataan sebagai kebenaran, meskipun bukti pada awalnya tampak menjanjikan.

Mereka bersikeras untuk mengujinya.

Mereka juga bersikeras bahwa prosedur pengujian apa pun harus terbuka untuk pengawasan publik.

Salah satu interpretasi dari metode ilmiah adalah bahwa tidak ada satu metode ilmiah tertentu.

Sebaliknya, ada sejumlah metode yang dapat dan digunakan oleh ilmuwan, tetapi mungkin dapat dikatakan bahwa ada satu pendekatan ilmiah.

Seperti yang dikatakan Peirce, pemeriksaan yang digunakan dalam penelitian ilmiah ditambatkan sedapat mungkin pada kenyataan yang terletak di luar keyakinan pribadi, persepsi, prasangka, nilai, sikap, dan emosi ilmuwan.

Mungkin kata tunggal terbaik untuk mengungkapkan hal ini adalah objektivitas.

Objektivitas adalah kesepakatan di antara juri “ahli” tentang apa yang diamati atau apa yang harus dilakukan atau telah dilakukan dalam penelitian.

LIMA PERBEDAAN ANTARA AKAL SEHAT DAN PEMIKIRAN ILMIAH


Orang biasa mungkin menggunakan “teori” dan konsep, tetapi biasanya melakukannya dengan cara yang longgar.

Orang ini sering dengan mudah menerima penjelasan khayalan tentang fenomena alam dan manusia.

Misalnya, penyakit dapat dianggap sebagai hukuman karena dosa.

Keceriaan disebabkan oleh kelebihan berat badan.

Ilmuwan, di sisi lain, secara sistematis membangun struktur teoritis, menguji konsistensi internalnya, dan menguji aspek-aspeknya secara empiris.

Selain itu, mereka menyadari bahwa konsep yang mereka gunakan adalah istilah buatan manusia yang mungkin atau mungkin tidak menunjukkan hubungan yang erat dengan kenyataan.

Kedua, ilmuwan secara sistematis dan empiris menguji teori dan hipotesis mereka.

Non-ilmuwan juga menguji “hipotesis,” tetapi mereka mengujinya secara selektif.

Mereka sering “memilih” bukti hanya karena konsisten dengan hipotesis.

Ambil contoh stereotip: Orang Asia cenderung pada ilmu pengetahuan dan matematika.

Jika orang percaya ini, mereka dapat dengan mudah “memverifikasi” keyakinan mereka dengan mencatat bahwa banyak orang Asia adalah insinyur dan ilmuwan.

Pengecualian terhadap stereotip tidak dirasakan: orang Asia non-ilmiah atau orang Asia yang lemah dalam matematika.

Ilmuwan yang mengetahui “kecenderungan seleksi” ini sebagai fenomena psikologis yang umum, dengan hati-hati menjaga penelitian mereka dari prasangka dan preferensi mereka sendiri serta terhadap dukungan selektif hipotesis.

Ilmuwan berusaha secara sistematis untuk menyingkirkan variabel yang mungkin menjadi “penyebab” efek yang sedang dipelajari selain variabel yang dihipotesiskan sebagai “penyebab.” Orang awam jarang berusaha untuk secara sistematis mengontrol penjelasan mereka tentang fenomena yang diamati.

Mereka biasanya tidak berusaha untuk mengontrol sumber-sumber pengaruh yang menyimpang.

Mereka cenderung menerima penjelasan yang sesuai dengan prasangka dan bias mereka.

Jika mereka percaya bahwa kondisi kumuh menghasilkan kenakalan, mereka cenderung mengabaikan kenakalan di lingkungan non-kumuh.

Sebaliknya, ilmuwan mencari dan “mengontrol” insiden kenakalan di berbagai jenis lingkungan.

Ilmuwan, ketika berusaha menjelaskan hubungan antara fenomena yang diamati, dengan hati-hati menyingkirkan apa yang disebut “penjelasan metafisik.” Penjelasan metafisik hanyalah sebuah proposisi yang tidak dapat diuji.

Untuk mengatakan, misalnya, bahwa orang miskin dan kelaparan karena kehendak Tuhan, atau bahwa menjadi otoriter adalah salah, adalah berbicara secara metafisik.

Tidak ada dari proposisi ini yang dapat diuji; dengan demikian, mereka adalah metafisik.

Sebagai demikian, ilmu pengetahuan tidak peduli dengan mereka.

Ini tidak berarti bahwa ilmuwan pasti akan menolak pernyataan semacam itu, mengatakan mereka tidak benar, atau mengklaim bahwa mereka tidak bermakna.

Ini hanya berarti bahwa sebagai ilmuwan, mereka tidak peduli dengan mereka.

Singkatnya, ilmu pengetahuan berhubungan dengan hal-hal yang dapat diamati dan diuji secara publik.

Jika proposisi atau pertanyaan tidak memuat implikasi untuk pengamatan dan pengujian publik semacam itu, maka itu bukan proposisi atau pertanyaan ilmiah.

TUJUAN ILMU PENGETAHUAN, PENJELASAN ILMIAH, DAN TEORI
Tujuan dasar ilmu pengetahuan adalah teori.

Lebih tepatnya, tujuan dasar ilmu pengetahuan adalah untuk menjelaskan fenomena alam.

Penjelasan semacam ini disebut “teori.” Daripada mencoba menjelaskan setiap perilaku terpisah dari perusahaan, ilmuwan mencari penjelasan umum yang mencakup dan menghubungkan berbagai perilaku yang berbeda.

Misalnya, daripada menjelaskan metode perusahaan dalam menyelesaikan masalah profitabilitas, ilmuwan mencari penjelasan umum dari semua jenis pemecahan masalah.

Ini bisa disebut teori umum tentang pemecahan masalah.

Tujuan lain dari ilmu pengetahuan yang sering disebutkan adalah: penjelasan, pemahaman, prediksi, dan pengendalian.

Jika kita menerima teori sebagai tujuan utama ilmu pengetahuan, maka penjelasan dan pemahaman menjadi tujuan sampingan dari tujuan utama tersebut.

Hal ini karena definisi dan sifat dari teori: Teori adalah serangkaian konsep, definisi, dan proposisi yang saling terkait yang menyajikan pandangan sistematis tentang fenomena dengan menentukan hubungan antara variabel, dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena tersebut.

Definisi ini mengatakan tiga hal: (1) teori adalah serangkaian proposisi yang terdiri dari konsep-konsep yang didefinisikan dan saling terkait, (2) teori menentukan keterkaitan antara serangkaian variabel (konsep), dan dengan melakukan itu, menyajikan pandangan sistematis tentang fenomena yang dijelaskan oleh variabel tersebut, dan (3) teori menjelaskan fenomena; ia melakukannya dengan menentukan variabel mana yang terkait dengan variabel mana dan bagaimana mereka terkait, sehingga memungkinkan peneliti untuk memprediksi dari variabel tertentu ke variabel lainnya.

Banyak penelitian sosial dan bisnis yang berharga terfokus pada tujuan jangka pendek untuk menemukan hubungan spesifik; artinya, hanya untuk menemukan sebuah hubungan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan.

Namun, hubungan yang paling dapat digunakan dan memuaskan pada akhirnya adalah yang paling umum, yang terhubung dengan hubungan lain dalam sebuah teori.

Gagasan tentang generalitas penting.

Teori, karena bersifat umum, berlaku untuk banyak fenomena dan banyak orang di berbagai tempat.

Sebuah hubungan spesifik, tentu saja, kurang dapat diterapkan secara luas.

Tujuan penelitian teoretis lebih baik karena, antara lain, lebih umum dan dapat diterapkan dalam berbagai situasi.

Selain itu, ketika ada teori yang sederhana dan kompleks, dan keduanya sama-sama menjelaskan fakta, penjelasan sederhana lebih disukai (Pisau Occam).

Oleh karena itu, dalam pembahasan generalisasi, teori yang baik juga hemat (parsimonious).

Teori adalah penjelasan sementara.

Setiap teori dievaluasi secara empiris untuk menentukan seberapa baik teori tersebut memprediksi temuan baru.

Teori dapat digunakan untuk memandu rencana penelitian dengan menghasilkan hipotesis yang dapat diuji dan mengorganisir fakta yang diperoleh dari pengujian hipotesis tersebut.

Teori yang baik adalah yang memungkinkan kita menemukan kejadian yang bisa bertentangan dengan teori tersebut.

PENELITIAN ILMIAH
Penelitian ilmiah adalah penyelidikan sistematis, terkontrol, empiris, amoral, publik, dan kritis terhadap fenomena alam.

Penelitian ini dipandu oleh teori dan hipotesis tentang hubungan yang diasumsikan di antara fenomena tersebut.

Sistematis dan terkontrol: Penyelidikan ilmiah diatur sedemikian rupa sehingga peneliti dapat memiliki keyakinan kritis terhadap hasil penelitian.

Di antara banyak penjelasan alternatif dari suatu fenomena, semua kecuali satu disingkirkan secara sistematis.

Dalam beberapa kasus, hubungan sebab-akibat dapat ditetapkan.

Empiris: Jika seorang ilmuwan meyakini sesuatu, keyakinan tersebut harus diuji secara independen dari luar.

Dengan kata lain, keyakinan subjektif harus diperiksa terhadap realitas objektif.

Ilmuwan harus selalu menguji gagasan mereka melalui pengujian empiris.

Mereka sangat kritis terhadap hasil penelitian mereka sendiri maupun orang lain.

Setiap ilmuwan yang menulis laporan penelitian memiliki ilmuwan lain yang membaca apa yang mereka tulis saat mereka menulisnya.

Meskipun mudah untuk melakukan kesalahan, melebih-lebihkan, atau membuat generalisasi berlebihan saat menulis hasil karya sendiri, sulit untuk mengabaikan perasaan bahwa mata ilmiah selalu mengawasi dari balik bahu.

Dalam ilmu pengetahuan, ada tinjauan sejawat (peer review).

Ini berarti bahwa orang lain dengan pelatihan dan pengetahuan yang setara diminta untuk mengevaluasi karya ilmuwan lain sebelum dipublikasikan di jurnal ilmiah.

Tinjauan sejawat bekerja dengan baik untuk ilmu pengetahuan dan mendorong penelitian berkualitas.

Namun, sistem ini tidak sempurna.

Ada kasus di mana tinjauan sejawat bekerja melawan ilmu pengetahuan, seperti yang didokumentasikan dalam sejarah dengan tokoh-tokoh seperti Kepler, Galileo, Copernicus, Jenner, dan Semmelweis.

Namun, dalam sebagian besar kasus, tinjauan sejawat ilmiah memberikan manfaat.

Ketiga, pengetahuan yang diperoleh secara ilmiah tidak tunduk pada evaluasi moral.

Hasilnya tidak dianggap “buruk” atau “baik,” melainkan dinilai berdasarkan validitas dan reliabilitas.

Namun, metode ilmiah tunduk pada isu-isu moral; yaitu, ilmuwan bertanggung jawab atas metode yang digunakan dalam memperoleh pengetahuan ilmiah.

Pendekatan ilmiah menurut Dewey terdiri dari hal-hal berikut:
a. Masalah-Hambatan-Ide: Merumuskan masalah penelitian atau pertanyaan yang akan dipecahkan
b. Hipotesis: Merumuskan pernyataan dugaan tentang hubungan antara fenomena atau variabel
c. Penalaran-Deduksi: Ilmuwan menyimpulkan konsekuensi dari hipotesis.

Ini dapat mengarah pada masalah yang lebih signifikan dan memberikan ide tentang bagaimana hipotesis dapat diuji dalam istilah yang dapat diamati.

d. Observasi-Tes-Eksperimen: Ini adalah fase pengumpulan dan analisis data.

Hasil penelitian terkait kembali dengan masalah yang diidentifikasi.

MASALAH DAN HIPOTESIS
KRITERIA MASALAH, PERNYATAAN MASALAH, DAN HIPOTESIS
Banyak orang percaya bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah kegiatan pengumpulan fakta.

Ini tidak benar.

Kita membutuhkan gagasan panduan, sebuah hipotesis.

Tanpa gagasan panduan, kita tidak tahu fakta apa yang harus dikumpulkan.

kita tidak bisa menentukan apa yang relevan dan apa yang tidak relevan.

Ada tiga kriteria masalah dan pernyataan masalah yang baik.

(1) Masalah harus menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel.

Ini pada dasarnya menanyakan pertanyaan seperti: Apakah A terkait dengan B? Bagaimana A dan B terkait dengan C? Bagaimana A terkait dengan B dalam kondisi C dan D? Pengecualian terhadap prinsip ini sebagian besar terjadi dalam penelitian taksonomi atau metodologi.

(2) Masalah harus dinyatakan dengan jelas dan tidak ambigu dalam bentuk pertanyaan.

Alih-alih mengatakan, misalnya, “Masalahnya adalah.” atau “Tujuan penelitian ini adalah.”, ajukan sebuah pertanyaan.

Pertanyaan memiliki keunggulan karena langsung mengajukan masalah.

(3) Kriteria ketiga adalah masalah dan pernyataan masalah harus mengandung kemungkinan pengujian empiris.

Masalah yang tidak mengandung implikasi untuk menguji hubungan yang dinyatakan bukanlah masalah ilmiah.

Ini berarti bahwa tidak hanya hubungan yang dinyatakan secara aktual, tetapi juga variabel-variabel dalam hubungan tersebut dapat diukur dengan cara tertentu.

Banyak pertanyaan yang menarik dan penting bukanlah pertanyaan ilmiah hanya karena mereka tidak dapat diuji.

Beberapa pertanyaan filosofis dan teologis, meskipun mungkin penting bagi individu yang mempertimbangkannya, tidak dapat diuji secara empiris dan karenanya tidak menarik bagi ilmuwan sebagai ilmuwan.

Pertanyaan epistemologis, “Bagaimana kita tahu?” adalah salah satu contoh.

Hipotesis adalah pernyataan dugaan tentang hubungan antara dua atau lebih variabel.

Hipotesis selalu berbentuk kalimat deklaratif, dan mereka menghubungkan—baik secara umum maupun spesifik—variabel dengan variabel.

Ada dua kriteria untuk hipotesis dan pernyataan hipotesis yang “baik.” Kriteria ini sama seperti dua dari kriteria untuk masalah dan pernyataan masalah.

(1) Hipotesis adalah pernyataan tentang hubungan antara variabel.

(2) Hipotesis membawa implikasi yang jelas untuk menguji hubungan yang dinyatakan.

Kriteria ini berarti bahwa pernyataan hipotesis mengandung dua atau lebih variabel yang dapat diukur atau berpotensi dapat diukur, dan mereka menentukan bagaimana variabel-variabel tersebut terkait.

Hipotesis, jika dinyatakan dengan benar, dapat diuji.

Sebuah hipotesis mungkin terlalu luas untuk diuji secara langsung, namun jika itu adalah hipotesis yang “baik,” maka hipotesis lain yang dapat diuji dapat diturunkan darinya.

Fakta atau variabel tidak diuji sebagai fakta.

Hubungan yang dinyatakan oleh hipotesis yang diuji.

Dan suatu masalah tidak dapat diselesaikan secara ilmiah kecuali jika diubah ke dalam bentuk hipotesis karena masalah adalah pertanyaan, yang biasanya bersifat luas, dan tidak dapat diuji secara langsung.

Masalah dan hipotesis memajukan pengetahuan ilmiah dengan membantu seorang peneliti mengonfirmasi atau menolak teori.

Hipotesis mengarahkan penyelidikan.

Seperti yang dikemukakan oleh Darwin lebih dari seratus tahun yang lalu, observasi harus mendukung atau menentang suatu pandangan agar bermanfaat.

Hipotesis menggabungkan aspek-aspek teori yang sedang diuji dalam bentuk yang dapat diuji atau hampir dapat diuji.

Penggunaan hipotesis ini mirip dengan bermain permainan untung-untungan.

Aturan permainan ditetapkan dan taruhan dibuat di muka.

Kita tidak dapat mengubah aturan setelah hasil diketahui, juga tidak dapat mengubah taruhan setelah menempatkannya.

Kita tidak bisa melempar dadu terlebih dahulu dan kemudian bertaruh.

Itu tidak akan “adil.”.

Demikian pula, jika seseorang mengumpulkan data terlebih dahulu dan kemudian memilih data tertentu untuk kemudian menarik kesimpulan berdasarkan data tersebut, aturan permainan ilmiah telah dilanggar.

Permainan ini tidak “adil” karena peneliti dapat dengan mudah memanfaatkan, katakanlah, dua hubungan signifikan dari lima yang diuji.

Biasanya, yang terjadi pada tiga lainnya adalah mereka dilupakan.

Dalam permainan yang “adil,” setiap lemparan dadu dihitung, dalam arti bahwa seseorang menang atau tidak menang berdasarkan hasil setiap lemparan.

Bahkan ketika hipotesis tidak dikonfirmasi, mereka tetap memiliki kekuatan.

Bahkan ketika y tidak berhubungan dengan x, pengetahuan tetap maju.

Temuan negatif terkadang sama pentingnya dengan temuan positif, karena mereka mengurangi alam semesta ketidaktahuan dan kadang-kadang menunjukkan hipotesis dan jalur penyelidikan lebih lanjut yang bermanfaat.

Namun, ilmuwan tidak dapat membedakan bukti positif dari negatif kecuali jika mereka menggunakan hipotesis.

Tentu saja, mungkin saja melakukan penelitian tanpa hipotesis, terutama dalam penyelidikan eksploratif.

Tetapi sulit membayangkan ilmu pengetahuan modern dengan segala ketelitian dan kedisiplinannya tanpa cahaya dan kekuatan panduan dari hipotesis.

HUBUNGAN DAN VARIANSI
Hubungan adalah inti dari pengetahuan.

Yang penting dalam ilmu pengetahuan bukanlah pengetahuan tentang hal-hal khusus tetapi pengetahuan tentang hubungan di antara fenomena.

Kita tahu bahwa benda besar itu besar hanya dengan membandingkannya dengan benda yang lebih kecil.

Hubungan dalam ilmu pengetahuan selalu antara kelas atau kelompok objek.

Seseorang tidak bisa “mengetahui” hubungan antara strategi pemasaran dan profitabilitas hanya dengan mempelajari satu perusahaan.

“Mengetahui” hubungan dicapai hanya dengan mengabstraksi hubungan dari kelompok perusahaan, atau lebih tepatnya, dari kelompok karakteristik perusahaan.

Hubungan adalah seperangkat pasangan berurutan.

Hubungan apa pun adalah satu set, jenis set tertentu: seperangkat pasangan berurutan.

Pasangan berurutan adalah dua objek, atau seperangkat dua elemen, di mana ada urutan tetap untuk objek tersebut.

Sebenarnya, kita berbicara tentang pasangan berurutan, yang berarti bahwa anggota setiap pasangan selalu muncul dalam urutan tertentu.

Jika anggota set A dan B dipasangkan, maka kita harus menentukan apakah anggota A atau anggota B yang muncul terlebih dahulu di setiap pasangan.

Pembaca mungkin bertanya-tanya mengapa begitu banyak perhatian diberikan untuk mendefinisikan hubungan.

Jawabannya sederhana: Hampir semua ilmu pengetahuan mengejar dan mempelajari hubungan.

Tidak ada cara empiris untuk “mengetahui” apa pun kecuali melalui hubungannya dengan hal lain, seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Ilmuwan sosial umumnya menghitung indeks hubungan, biasanya disebut koefisien korelasi, antara kumpulan pasangan berurutan untuk memperoleh perkiraan yang lebih tepat mengenai arah dan derajat hubungan.

Untuk mempelajari masalah ilmiah dan menjawab pertanyaan ilmiah, kita harus mempelajari perbedaan di antara fenomena.

Kita memeriksa hubungan di antara variabel; dalam arti tertentu, kita mempelajari persamaan.

Sekarang kita fokus pada perbedaan karena tanpa perbedaan dan tanpa variasi, tidak ada cara teknis untuk menentukan hubungan di antara variabel.

Mengapa menghitung rata-rata dan variansi?
Rata-rata mengekspresikan tingkat umum, pusat gravitasi, dari suatu kumpulan ukuran.

Ini adalah representasi yang baik dari tingkat karakteristik atau kinerja suatu kelompok.

Variansi adalah ukuran dispersi dari kumpulan skor: variansi memberi tahu kita seberapa banyak skor menyebar.

Jika sekelompok perusahaan sangat heterogen dalam hal profitabilitas, maka variansi profitabilitas mereka akan besar dibandingkan dengan variansi kelompok yang homogen dalam profitabilitas.

Variansi, kemudian, adalah ukuran penyebaran skor; variansi menggambarkan sejauh mana skor-skor tersebut berbeda satu sama lain.

Untuk tujuan deskriptif, akar kuadrat variansi biasanya digunakan.

Ini disebut deviasi standar.

Cara paling umum untuk mengklasifikasikan variansi adalah sebagai variansi sistematis dan variansi kesalahan.

Variansi sistematis adalah variasi dalam ukuran yang disebabkan oleh beberapa pengaruh yang diketahui atau tidak diketahui yang “menyebabkan” skor cenderung ke satu arah lebih dari arah lain.

Pengaruh alami atau buatan manusia yang menyebabkan peristiwa terjadi dengan cara tertentu yang dapat diprediksi adalah pengaruh sistematis.

Variansi kesalahan adalah fluktuasi atau variasi ukuran yang tidak dapat dijelaskan.

Fluktuasi ukuran dalam variabel dependen dalam suatu penelitian di mana semua peserta diperlakukan sama dianggap sebagai variansi kesalahan.

Beberapa dari fluktuasi ini disebabkan oleh kebetulan.

Dalam hal ini, variansi kesalahan adalah variansi acak.

Ini adalah variasi dalam ukuran yang disebabkan oleh fluktuasi kecil yang biasanya seimbang dari ukuran—kadang-kadang naik, kadang-kadang turun.

Variansi sampel yang dibahas sebelumnya dalam bab ini, misalnya, adalah variansi acak atau kesalahan.

Untuk menjelaskan lebih lanjut, perlu digunakan gagasan tentang “acak” atau “keacakan.

” Untuk saat ini, keacakan berarti bahwa tidak ada cara yang diketahui untuk menggambarkan atau menjelaskan peristiwa dan hasil mereka dalam bahasa.

Dengan kata lain, peristiwa acak tidak dapat diprediksi.

Sampel acak adalah subset dari sebuah populasi.

Anggota-anggotanya dipilih sedemikian rupa sehingga setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih.

Ini adalah cara lain untuk mengatakan bahwa jika anggota dipilih secara acak, tidak ada cara untuk memprediksi anggota mana yang akan dipilih dalam setiap pemilihan—dengan asumsi semua hal lain dianggap sama.

Variansi kesalahan adalah variansi dalam pengukuran yang disebabkan oleh ketidaktahuan.

Bayangkan sebuah kamus besar di mana segala sesuatu di dunia—setiap kejadian, setiap peristiwa, setiap hal kecil, setiap hal besar—diberikan secara detail lengkap.

Untuk memahami kejadian apa pun yang telah terjadi, yang sedang terjadi, atau yang akan terjadi, yang perlu dilakukan hanyalah mencarinya di kamus tersebut.

Dengan kamus ini, tidak ada kejadian acak atau kebetulan.

Segala sesuatu dijelaskan.

Singkatnya, tidak ada variansi kesalahan; semua adalah variansi sistematis.

Sayangnya (atau lebih mungkin, untungnya), kita tidak memiliki kamus semacam itu.

Banyak kejadian dan peristiwa tidak dapat dijelaskan.

Banyak variansi yang sulit diidentifikasi dan dikendalikan.

Ini adalah variansi kesalahan selama identifikasi dan pengendalian masih sulit dicapai.

Selalu akan ada setidaknya dua sumber variansi.

Satu akan disebabkan oleh sumber variasi sistematis seperti perbedaan individu dari subjek yang karakteristik atau pencapaiannya diukur dan perbedaan antara kelompok atau subkelompok yang terlibat dalam penelitian.

Sumber lainnya disebabkan oleh kesalahan acak, fluktuasi ukuran yang saat ini tidak dapat dijelaskan.

Sumber variansi sistematis cenderung membuat skor condong ke satu arah atau lainnya.

Ini tentu saja tercermin dalam perbedaan dalam rata-rata.

Jika industri adalah sumber variansi sistematis dalam studi profitabilitas perusahaan, misalnya, maka variabel industri akan cenderung bertindak sedemikian rupa sehingga skor profitabilitas perusahaan teknologi akan cenderung lebih tinggi daripada perusahaan non-teknologi.

Sebaliknya, sumber kesalahan acak cenderung membuat ukuran fluktuatif, kadang-kadang ke satu arah, kadang-kadang ke arah lain.

Kesalahan acak, dengan kata lain, bersifat saling mengimbangi; mereka cenderung menyeimbangkan (atau saling membatalkan).

Kovariansi adalah ukuran hubungan antara sekumpulan skor.

Variansi dan kovariansi adalah konsep yang sangat penting dalam penelitian dan analisis data penelitian.

Ada dua alasan utama.

Pertama, mereka merangkum variabilitas variabel dan hubungan antar variabel.

Hal ini paling mudah dipahami ketika kita menyadari bahwa korelasi adalah kovariansi yang distandarisasi agar memiliki nilai antara -1 dan +1.

Tetapi istilah ini juga berarti kovariasi variabel secara umum.

Dalam sebagian besar penelitian kita, kita secara harfiah mengejar dan mempelajari kovariasi fenomena.

Kedua, variansi dan kovariansi membentuk tulang punggung statistik dari analisis multivariat.

Sebagian besar diskusi tentang analisis data didasarkan pada variansi dan kovariansi.

Analisis variansi, misalnya, mempelajari berbagai sumber variansi pengamatan, sebagian besar dalam eksperimen, seperti yang disebutkan sebelumnya.

Analisis faktor pada dasarnya adalah studi tentang kovariansi, yang salah satu tujuan utamanya adalah untuk mengisolasi dan mengidentifikasi sumber variasi yang umum.

Metode analisis mutakhir yang paling kuat dan canggih dalam analisis multivariat disebut analisis struktur kovariansi, karena sistem ini mempelajari sekumpulan hubungan yang kompleks dengan menganalisis kovariansi antar variabel.

PROBABILITAS, SAMPLING, DAN RANDOMISASI
Probabilitas
Probabilitas adalah rasio antara jumlah kejadian suatu peristiwa dengan jumlah keseluruhan percobaan.

Dengan definisi ini, seseorang mendekati probabilitas secara empiris dengan melakukan serangkaian tes, menghitung jumlah kejadian jenis peristiwa tertentu, dan kemudian menghitung rasionya.

Hasil dari perhitungan tersebut adalah probabilitas terjadinya jenis peristiwa tertentu.

Definisi frekuensi harus digunakan ketika penghitungan teoretis atas kelas-kelas peristiwa tidak memungkinkan.

Sebagai contoh, untuk menghitung probabilitas umur panjang dan pacuan kuda, kita harus menggunakan tabel aktuaria dan menghitung probabilitas berdasarkan hitungan dan perhitungan masa lalu.

Pernyataan bahwa seorang pemotong berlian memiliki akurasi 95% menunjukkan bahwa dari setiap 100 berlian yang telah ia potong di masa lalu, 95 di antaranya dipotong dengan benar.

Sebuah peristiwa adalah kumpulan kemungkinan; ini adalah himpunan peristiwa yang mungkin; ini adalah hasil dari “percobaan” probabilitas.

Peristiwa gabungan adalah kejadian bersamaan dari dua atau lebih peristiwa tunggal (atau gabungan).

Dua operasi himpunan yang menarik bagi kita—operasi irisan dan gabungan—menunjukkan peristiwa gabungan.

Jika kita melempar koin dan mengocok dadu, hasilnya adalah peristiwa gabungan, dan kita bisa menghitung probabilitas dari peristiwa semacam itu.

Lebih menarik lagi, kita mungkin bertanya bagaimana variabel demografis tertentu saling terkait.

Salah satu caranya adalah dengan mencari jawaban atas pertanyaan seperti: “Apa probabilitas seorang wanita Anglo-Saxon ada dalam daftar Who’s Who in America?” atau, “Apa probabilitas seorang pria kulit hitam Amerika memegang jabatan tinggi di Layanan Sipil Amerika?”
Peristiwa gabungan lebih menarik daripada peristiwa tunggal—dan lebih berguna dalam penelitian.

Hubungan dapat dipelajari dengannya.

Untuk memahami ini, kita pertama-tama mendefinisikan dan mengilustrasikan peristiwa gabungan, lalu memeriksa masalah penghitungan tertentu dan cara penghitungan terkait dengan teori himpunan dan teori probabilitas.

Ditemukan bahwa jika teori dasarnya dipahami, penerapan teori probabilitas pada masalah penelitian akan sangat difasilitasi.

Selain itu, interpretasi data menjadi lebih sedikit terpengaruh oleh kesalahan.

SAMPLING
Manusia, melalui pengalaman mereka yang terbatas, sering kali membuat kesimpulan tentang orang lain dan lingkungan mereka.

Untuk mencapai kesimpulan semacam itu, mereka harus mengambil “sampel” dari pengalaman mereka dengan orang lain.

Sebenarnya, mereka mengambil sampel yang relatif kecil dari semua kemungkinan pengalaman.

Kata “pengalaman” di sini harus dipahami dalam arti luas.

Ini dapat berarti pengalaman langsung dengan orang lain—misalnya, interaksi langsung dengan Muslim atau orang Asia.

Atau bisa juga berarti pengalaman tidak langsung: mendengar tentang Muslim atau orang Asia dari teman, kenalan, orang tua, dan lainnya.

Apakah pengalamannya langsung atau tidak langsung, bagaimanapun, tidak terlalu menjadi perhatian kita saat ini.

Misalkan semua pengalaman semacam itu adalah langsung.

Seorang individu mengklaim “mengetahui” sesuatu tentang orang Asia dan berkata, “Saya ‘tahu’ mereka eksklusif karena saya memiliki pengalaman langsung dengan sejumlah orang Asia.” Atau, “Beberapa teman baik saya adalah orang Asia, dan saya tahu bahwa.” Poinnya adalah bahwa kesimpulan orang ini didasarkan pada sampel orang Asia, atau sampel perilaku orang Asia, atau keduanya.

Individu ini tidak pernah bisa “mengetahui” semua orang Asia, dan pada akhirnya harus bergantung pada sampel.

Bahkan, sebagian besar pengetahuan dunia didasarkan pada sampel, seringkali sampel yang tidak memadai.

Sampling mengacu pada pengambilan sebagian dari populasi atau alam semesta sebagai perwakilan dari populasi atau alam semesta tersebut.

Random sampling adalah metode pengambilan sebagian (atau sampel) dari populasi atau alam semesta sehingga setiap anggota populasi atau alam semesta memiliki peluang yang sama untuk dipilih.

Metode pemilihan acak tidak memungkinkan bias kita sendiri atau faktor seleksi sistematis lainnya untuk beroperasi.

Prosedurnya objektif, terpisah dari preferensi dan prasangka kita.

Kita mengatakan peristiwa bersifat acak jika kita tidak dapat memprediksi hasilnya.

Misalnya, tidak ada cara yang diketahui untuk memenangkan permainan melempar koin.

Kapan pun tidak ada sistem untuk memainkan permainan yang memastikan kita menang (atau kalah), maka peristiwa (hasil permainan) adalah acak.

Ketika peristiwa bersifat acak, kita tidak dapat memprediksinya secara individu.

Anehnya, kita dapat memprediksinya dengan cukup berhasil secara keseluruhan.

Artinya, kita dapat memprediksi hasil dari sejumlah besar peristiwa.

Kita tidak dapat memprediksi apakah koin yang dilempar akan menghasilkan kepala atau ekor, tetapi jika kita melempar koin yang adil 1.

000 kali, kita dapat memprediksi dengan akurasi yang cukup tinggi jumlah total kepala dan ekor.

RANDOMISASI
Eksperimen “ideal” adalah eksperimen di mana semua faktor atau variabel yang mungkin memengaruhi hasil eksperimen dikendalikan.

Jika kita mengetahui semua faktor ini sejak awal dan dapat mengendalikan mereka, maka kita mungkin memiliki eksperimen yang ideal.

Namun, kenyataannya, kita tidak bisa mengetahui semua variabel yang relevan, dan bahkan jika kita tahu, kita tidak bisa mengendalikannya.

Namun, randomisasi membantu kita.

Randomisasi adalah penugasan anggota suatu alam semesta ke perlakuan eksperimental dengan cara sedemikian rupa sehingga untuk setiap penugasan ke suatu perlakuan, setiap anggota alam semesta memiliki peluang yang sama untuk dipilih untuk penugasan tersebut.

Tujuan dasar dari penugasan acak, seperti yang disebutkan sebelumnya, adalah untuk membagi subjek (objek, kelompok) ke dalam perlakuan.

Individu dengan karakteristik yang bervariasi disebarkan secara merata di antara perlakuan sehingga variabel yang mungkin memengaruhi variabel dependen, selain variabel eksperimen, memiliki pengaruh yang “sama” dalam perlakuan yang berbeda.

Tidak ada jaminan bahwa keadaan yang diinginkan ini akan tercapai, tetapi lebih mungkin tercapai dengan randomisasi dibandingkan jika tidak.

Randomisasi juga memiliki tujuan dan dasar rasional statistik.

Jika penugasan acak telah digunakan, maka dimungkinkan untuk membedakan antara variansi sistematis atau eksperimen dan variansi kesalahan.

Variabel yang bias didistribusikan ke kelompok eksperimen sesuai dengan peluang.

Tes signifikansi statistik secara logis bergantung pada penugasan acak.

Tes ini digunakan untuk menentukan apakah fenomena yang diamati secara statistik berbeda dari peluang.

Tanpa penugasan acak, tes signifikansi kehilangan dasar logis.

ANALISIS DAN INTERPRETASI
Analis penelitian memecah data menjadi bagian-bagian konstituen untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan penelitian dan menguji hipotesis penelitian.

Namun, analisis data penelitian itu sendiri tidak memberikan jawaban atas pertanyaan penelitian.

Interpretasi data diperlukan.

Menginterpretasikan berarti menjelaskan, menemukan makna.

Sulit atau tidak mungkin menjelaskan data mentah; kita harus terlebih dahulu menganalisis data dan kemudian menginterpretasikan hasil dari analisis tersebut.

Data berarti hasil penelitian dari mana inferensi ditarik: biasanya hasil numerik, seperti skor tes dan statistik seperti rata-rata, persentase, dan koefisien korelasi.

Kata ini juga digunakan untuk mewakili hasil analisis matematika dan statistik.

Data dapat berupa informasi dari artikel surat kabar dan majalah, materi biografi, buku harian, dan sebagainya—sebenarnya, materi verbal secara umum.

Data juga merupakan hasil pengamatan dan analisis sistematis yang digunakan untuk membuat kesimpulan dan sampai pada keputusan.

Dari data ini, ilmuwan menarik kesimpulan tentang hubungan di antara variabel-variabel dari masalah penelitian.

Analisis berarti mengkategorikan, mengurutkan, memanipulasi, dan merangkum data untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan penelitian.

Tujuan analisis adalah untuk mereduksi data menjadi bentuk yang dapat dipahami dan diinterpretasikan sehingga hubungan dari masalah penelitian dapat dipelajari dan diuji.

Interpretasi mengambil hasil analisis, membuat inferensi yang relevan dengan hubungan penelitian yang dipelajari, dan menarik kesimpulan tentang hubungan tersebut.

Peneliti yang menginterpretasikan hasil penelitian mencari makna dan implikasinya.

Hal ini dicapai dengan dua cara:
(1) Hubungan dalam studi penelitian dan datanya diinterpretasikan.

Ini adalah penggunaan istilah interpretasi yang lebih sempit dan lebih sering.

Di sini, interpretasi dan analisis sangat terkait.

Seseorang hampir secara otomatis menginterpretasikan saat menganalisis.

Artinya, ketika seseorang menghitung, katakanlah, koefisien korelasi, orang tersebut hampir segera menyimpulkan adanya suatu hubungan.

(2) Makna yang lebih luas dari data penelitian dicari.

Seseorang membandingkan hasil dan inferensi yang ditarik dari data dengan teori dan hasil penelitian lainnya.

Seseorang mencari makna dan implikasi dari hasil penelitian dalam hasil studi, dan kesesuaian atau ketidakcocokan mereka dengan hasil peneliti lain.

Yang lebih penting, seseorang membandingkan hasilnya dengan tuntutan dan harapan teori.

Temuan yang tidak terprediksi dan tidak terduga harus diperlakukan dengan lebih hati-hati daripada temuan yang terprediksi dan diharapkan.

Sebelum diterima, temuan tersebut harus dibuktikan dalam penelitian independen di mana temuan tersebut diprediksi dan diuji secara khusus.

Hanya ketika suatu hubungan diuji secara sengaja dan sistematis dengan kontrol yang diperlukan dalam desain, kita bisa memiliki keyakinan pada hubungan tersebut.

Temuan yang tidak terduga mungkin saja kebetulan atau palsu.

Peneliti yang tidak menghipotesiskan hubungan sebelumnya tidak memberi fakta kesempatan untuk membuktikan atau membantah apa pun.

Kata “membuktikan” dan “membantah” di sini tidak boleh diambil dalam arti harfiah.

Sebuah hipotesis tidak pernah benar-benar dibuktikan atau dibantah.

Untuk lebih akurat, kita mungkin lebih baik mengatakan sesuatu seperti: Bukti mendukung hipotesis, atau bukti menimbulkan keraguan terhadap hipotesis.

Interpretasi data penelitian berpuncak pada pernyataan probabilistik bersyarat dari jenis “Jika p, maka q.” Kita memperkaya pernyataan semacam itu dengan memenuhi syarat mereka dalam cara seperti ini: “Jika p, maka q, di bawah kondisi r, s, dan t.” Biasanya kita menghindari pernyataan sebab-akibat, karena kita sadar bahwa mereka tidak dapat dibuat tanpa risiko kesalahan besar.

Mungkin yang lebih penting secara praktis bagi peneliti yang menginterpretasikan data adalah masalah pembuktian.

Mari kita tegaskan dengan tegas bahwa tidak ada yang bisa “dibuktikan” secara ilmiah.

Yang bisa dilakukan hanyalah memberikan bukti bahwa proposisi tertentu benar.

Pembuktian adalah masalah deduktif.

Metode penelitian eksperimental bukanlah metode pembuktian, melainkan metode terkontrol untuk memberikan bukti terhadap kemungkinan kebenaran atau kesalahan dari proposisi hubungan.

Singkatnya, tidak ada satu pun investigasi ilmiah yang pernah membuktikan apa pun.

Oleh karena itu, interpretasi analisis data penelitian sebaiknya tidak pernah menggunakan kata “bukti.”.

Untungnya, untuk tujuan penelitian praktis, bukti pada tingkat probabilitas yang memuaskan sudah cukup untuk kemajuan ilmiah.

STATISTIK
MAKNA DAN SIGNIFIKANSI STATISTIK
Tingkat signifikansi 0,05 berarti bahwa hasil yang diperoleh dan signifikan pada tingkat 0,05 dapat terjadi secara kebetulan tidak lebih dari lima kali dalam 100 percobaan.

Tingkat signifikansi statistik dipilih secara arbitrer sampai batas tertentu.

Tingkat signifikansi lain yang sering digunakan adalah tingkat 0,01.

Tingkat 0,05 dan 0,01 sesuai dengan dua dan tiga deviasi standar dari rata-rata distribusi probabilitas normal.

(Distribusi probabilitas normal adalah kurva berbentuk lonceng simetris yang mungkin sering dilihat oleh siswa).

Jika kita melakukan percobaan dan menemukan perbedaan antara dua rata-rata yang, setelah diuji secara statistik, berada pada tingkat signifikansi 0,05, maka kita memiliki alasan untuk percaya bahwa perbedaan rata-rata yang diperoleh bukan hanya perbedaan kebetulan.

Namun, ini bisa jadi perbedaan kebetulan.

Jika percobaan dilakukan 100 kali dan tidak ada perbedaan nyata antara rata-rata, paling banyak lima dari 100 replikasi ini mungkin menunjukkan perbedaan rata-rata yang cukup besar untuk dianggap “signifikan.”.

Prinsip dasar di balik penggunaan uji statistik signifikansi dapat dinyatakan sebagai: Membandingkan hasil yang diperoleh dengan ekspektasi kebetulan.

Atau secara singkat: Apakah Anda mendapatkan apa yang Anda harapkan dari kebetulan? Ketika sebuah penelitian selesai dan hasil statistik telah diperoleh, mereka diperiksa terhadap hasil yang diharapkan oleh kebetulan.

Statistik adalah teori dan metode menganalisis data kuantitatif yang diperoleh dari sampel pengamatan untuk mempelajari dan membandingkan sumber variansi dari fenomena, membantu membuat keputusan untuk menerima atau menolak hubungan hipotesis antara fenomena tersebut, serta membantu dalam menarik kesimpulan yang dapat diandalkan dari pengamatan empiris.

Ada empat tujuan statistik yang dapat disarankan dalam definisi ini:
(1) Untuk mereduksi sejumlah besar data menjadi bentuk yang dapat dikelola dan dipahami.

Misalnya, mustahil untuk mencerna 100 skor, tetapi jika rata-rata dan deviasi standar dihitung, seseorang yang terlatih dapat langsung menginterpretasikan skor tersebut.

Rata-rata, median, variansi, deviasi standar, persentil, persentase, dan sebagainya, yang dihitung dari sampel adalah statistik.

(2) Untuk membantu mempelajari populasi dan sampel.

(3) Untuk membantu dalam pengambilan keputusan.

(4) Untuk membantu dalam membuat inferensi yang andal dari data pengamatan—ini erat terkait, bahkan merupakan bagian dari, tujuan membantu membuat keputusan di antara hipotesis.

Inferensi adalah proposisi atau generalisasi yang diturunkan melalui penalaran dari proposisi lain, atau dari bukti.

Secara umum, inferensi adalah kesimpulan yang dicapai melalui penalaran.

Dalam statistik, sejumlah inferensi dapat ditarik dari pengujian hipotesis statistik.

Misalnya, kita “menyimpulkan” bahwa metode A dan B benar-benar berbeda.

Kita menyimpulkan dari bukti, misalnya, r = 0,67, bahwa dua variabel benar-benar terkait.

Inferensi statistik memiliki dua karakteristik:
(1) Inferensi biasanya dibuat dari sampel ke populasi.

Ketika kita mengatakan bahwa variabel A dan B terkait karena bukti statistik adalah r = 0,67, kita menyimpulkan bahwa karena r = 0,67 dalam sampel ini, maka r = 0,67, atau mendekati 0,67, dalam populasi dari mana sampel tersebut diambil.

(2) Inferensi digunakan ketika peneliti tidak tertarik pada populasi, atau hanya tertarik pada populasi secara sekunder.

Peneliti menyimpulkan, dari bukti statistik tentang perbedaan antara sistem A, di satu sisi, dan sistem B dan C di sisi lain, bahwa proposisi hipotetis awal benar—dalam perusahaan Y.

Dan mungkin saja minat peneliti terbatas pada perusahaan Y.

Untuk meringkas banyak diskusi di atas, tujuan utama statistik adalah membantu dalam pembuatan inferensi.

Ini adalah salah satu tujuan dasar desain penelitian, metodologi, dan statistik.

Ilmuwan ingin menarik kesimpulan dari data.

Ilmu statistik, melalui kemampuannya untuk mereduksi data menjadi bentuk yang dapat dikelola (statistik), dan untuk mempelajari serta menganalisis variansi, memungkinkan ilmuwan untuk melampirkan estimasi probabilitas pada inferensi yang mereka buat dari data.

HUKUM BILANGAN BESAR (THE LAW OF LARGE NUMBER)
Hukum bilangan besar memakan waktu dua puluh tahun untuk dirumuskan oleh Jacob Bernoulli (juga dikenal sebagai Jacques atau James).

Secara sederhana, hukum ini mengatakan:
Dengan bertambahnya ukuran sampel, n, ada penurunan probabilitas bahwa nilai pengamatan dari suatu peristiwa, A, akan menyimpang dari nilai “sebenarnya” A lebih dari sejumlah tetap, k.

Atau dalam bahasa yang lebih sederhana, selama anggota sampel diambil secara independen, semakin besar sampelnya, semakin dekat nilai proporsi “sebenarnya” dari populasi tersebut tercapai.

Misalnya, jika sebuah koin yang adil dilemparkan 100 kali dan jumlah kepala dicatat.

 

Sekarang misalkan kita melemparkan koin yang sama sebanyak 1.000 kali dan jumlah kepala dicatat.

 

Berdasarkan hukum bilangan besar, ada kemungkinan lebih besar bahwa hasil dari 1.000 lemparan akan mendekati 550 kepala (selisih 10 kepala dari ekspektasi 500 kepala) daripada hasil dari 100 lemparan yang menghasilkan 60 kepala (juga selisih 10 kepala dari ekspektasi 50 kepala).

 

Intinya, kesalahan menjadi lebih kecil dengan percobaan 1.000 kali dibandingkan dengan percobaan 100 kali.

KURVA LONCENG
Kurva probabilitas normal adalah kurva berbentuk lonceng yang sering dijumpai dalam buku teks statistik.

Pentingnya kurva ini terletak pada fakta bahwa peristiwa kebetulan dalam jumlah besar cenderung mendistribusikan diri dalam bentuk kurva ini.

Banyak fenomena dianggap mendistribusikan diri dalam bentuk yang kira-kira normal.

Tinggi badan, kecerdasan, kemampuan, dan prestasi adalah tiga contoh yang sudah dikenal.

Rata-rata sampel mendistribusikan diri secara normal.

Pembaca harus menghindari anggapan yang belum teruji bahwa semua atau bahkan sebagian besar fenomena didistribusikan secara normal.

Jika memungkinkan, data harus diperiksa dengan metode yang sesuai, terutama dengan memplot atau membuat grafik.

Data sering kali halus dan tidak selalu sesuai dengan distribusi normal.

Alasan statistik yang paling penting untuk menggunakan kurva normal adalah kemampuan untuk menginterpretasikan probabilitas statistik yang dihitung dengan mudah.

Jika data tersebut, seperti yang dikatakan, “normal” atau kira-kira normal, seseorang memiliki interpretasi yang jelas untuk apa yang dilakukan.

Kita dapat menggambar kurva normal dan meletakkan dua set nilai pada sumbu horizontal.

Dalam satu set nilai, kita menggunakan skor tes kecerdasan dengan rata-rata 100 dan deviasi standar 16.

Misalkan kita memiliki sampel 400 dan data (skor) kira-kira dalam bentuk normal.

Kurva ini tampak seperti diagram di bawah ini.

Bayangkan sumbu Y (vertikal) dengan frekuensi (atau proporsi) ditandai pada sumbu tersebut.

INTERPRETASI KURVA LONCENG: DEVIASI STANDAR
Deviasi standar dapat dipahami sebagai jarak sepanjang garis dasar kurva dari rata-rata atau titik tengah garis dasar ke kanan atau kiri hingga titik di mana kurva berinfleksi.

Ini juga dapat divisualisasikan sebagai titik pada garis dasar dengan jarak tertentu dari rata-rata.

Satu deviasi standar dari rata-rata distribusi tertentu adalah 100 + 16 = 116.

Garis tebal pada gambar di atas menunjukkan jarak dari 100 ke 116.

Demikian pula, satu deviasi standar di bawah rata-rata adalah 100 – 16 = 84.

Dua deviasi standar diwakili oleh 100 + (2)(16) = 132 dan 100 – (2)(16) = 68.

Jika seseorang dapat yakin bahwa datanya terdistribusi secara normal, maka seseorang dapat menggambar kurva seperti di atas, menandai rata-rata, dan meletakkan deviasi standar.

Artinya, alih-alih menggunakan skor seperti 100, 116, dan 68, skor deviasi standar dapat digunakan.

Mereka adalah 0, +1, -2, dan seterusnya; titik-titik di antara tanda-tanda ini dapat ditunjukkan.

Sebagai contoh, setengah deviasi standar di atas rata-rata dalam skor mentah adalah 100 + (1/2)(16) = 108.

Dalam skor deviasi standar, itu adalah 0 + 0,5 = 0,5.

Skor deviasi standar ini disebut skor standar atau Z-score.

Z-score dalam penggunaan praktis berkisar dari sekitar -3 hingga 0 hingga +3.

Untuk mengubah skor mentah menjadi Z-score, gunakan rumus Z = x/SD, di mana x = X – M dan SD adalah deviasi standar sampel.

Nilai x disebut skor deviasi.

Sekarang kita dapat membagi deviasi standar ke dalam x untuk mengonversi X (skor mentah) menjadi Z-score.

Sebagai contoh, ambil X = 120, maka Z = (120 – 100)/16 = 20/16 = 1,25.

Jadi, skor mentah 120 setara dengan Z-score sebesar 1,25, atau satu dan seperempat deviasi standar di atas rata-rata.

Jika Z-score digunakan, dan total area di bawah kurva ditetapkan sama dengan 1,00, maka kurva dikatakan dalam bentuk standar.

Ini segera menunjukkan probabilitas.

Bagian-bagian area kurva dipahami sebagai probabilitas dan diinterpretasikan demikian.

Jika total area di bawah seluruh kurva sama dengan 1,00, maka jika garis vertikal digambar ke atas dari garis dasar di rata-rata (Z = 0) hingga puncak kurva lonceng, area di sebelah kiri dan kanan garis vertikal masing-masing sama dengan 1/2 atau 50%.

Tetapi garis vertikal mungkin digambar di tempat lain pada garis dasar, seperti satu deviasi standar di atas rata-rata (Z = 1) atau dua deviasi standar di bawah rata-rata (Z = -2).

Untuk menginterpretasikan titik-titik tersebut dalam istilah area—dan dalam istilah probabilitas—kita harus mengetahui sifat area dari kurva.

Persentase area satu, dua, dan tiga deviasi standar di atas dan di bawah rata-rata adalah:.

Area antara Z = -1 dan Z = +1 kira-kira 68%.

Area antara Z = -2 dan Z = +2 kira-kira 96%.

Area antara Z = -3 dan Z = +3 adalah lebih dari 99%.

Dengan demikian, semua jarak garis dasar lainnya dan area yang terkait dapat diterjemahkan menjadi persentase dari seluruh kurva.

Poin penting yang perlu diingat adalah bahwa, karena area seluruh kurva sama dengan 1,00, atau 100%, dan setara dengan 1 dalam teori probabilitas, persentase area dapat diinterpretasikan sebagai probabilitas.

Tabel probabilitas normal memberikan nilai sebagai persentase area yang sesuai dengan Z-score ini, tetapi ini hanya berlaku untuk distribusi normal.

Jika bentuk distribusi tidak normal, persentase ini tidak berlaku.

PENGUJIAN HIPOTESIS
Tujuan utama statistik inferensial dalam penelitian adalah untuk menguji hipotesis penelitian melalui pengujian hipotesis statistik.

Ilmuwan menggunakan dua jenis hipotesis: substantif dan statistik.

Hipotesis substantif, secara ketat, tidak dapat diuji langsung.

Hipotesis ini harus diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam istilah operasional.

Salah satu cara yang sangat berguna untuk menguji hipotesis substantif adalah melalui hipotesis statistik.

Hipotesis statistik adalah pernyataan dugaan, dalam istilah statistik, tentang hubungan statistik yang disimpulkan dari hubungan hipotesis substantif.

Namun, hipotesis statistik harus diuji terhadap sesuatu.

Tidak mungkin menguji hipotesis statistik tanpa alternatif.

Alternatif yang biasanya dipilih adalah hipotesis nol (null hypothesis), yang diperkenalkan oleh Sir Ronald Fisher.

Hipotesis nol adalah proposisi statistik yang pada dasarnya menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara variabel-variabel dalam masalah.

Hipotesis nol mengatakan, “Anda salah, tidak ada hubungan; bantah saya jika Anda bisa.”.

Pada dasarnya, kita menetapkan apa yang dapat disebut sebagai hipotesis kebetulan: μA = μB, atau μA – μB = 0.

Ini adalah hipotesis nol.

Apa yang kita lakukan adalah menulis hipotesis.

Pertama, kita menulis hipotesis statistik yang mencerminkan makna operasional-eksperimental dari hipotesis substantif.

Kemudian kita menulis hipotesis nol yang diuji terhadap hipotesis pertama.

Berikut dua jenis hipotesis yang diberi label dengan benar:
H0: μA = μB
H1: μA > μB.

H1 mewakili “Hipotesis 1.” Jika ada lebih dari satu hipotesis semacam itu, mereka diberi label H1, H2, H3, dan seterusnya.

H0 mewakili “hipotesis nol.” Perhatikan bahwa hipotesis nol dalam kasus ini dapat ditulis H0: μA – μB = 0.

Bentuk ini menunjukkan dari mana hipotesis nol mendapatkan namanya: perbedaan antara μA dan μB adalah nol.

Namun, bentuk ini tidak praktis, terutama ketika ada tiga atau lebih rata-rata atau statistik lain yang diuji.

Sebagai peneliti, tujuan kita adalah menunjukkan bahwa H1 benar, tetapi hal ini tidak dapat dilakukan secara langsung.

Katakanlah hipotesis substantif kita mengarah pada penulisan hipotesis statistik H1: μA ≠ μB.

Hipotesis ini dapat ditulis ulang sebagai H1: μA – μB ≠ 0.

Untuk menguji hipotesis ini secara langsung, kita perlu menguji sejumlah nilai yang tak terbatas.

Itu berarti kita harus menguji setiap situasi di mana μA – μB tidak sama dengan nol.

Dalam pengujian hipotesis, prosedurnya mengharuskan kita menguji hipotesis nol.

Hipotesis nol ditulis sebagai H0: μA – μB = 0.

Kita perlu mengumpulkan cukup banyak data empiris untuk menunjukkan bahwa hipotesis nol tidak dapat diterima.

Dalam istilah statistik, kita akan “menolak H0.” Penolakan H0 menunjukkan bahwa kita mendapatkan hasil yang signifikan.

Menolak H0 membawa kita mendukung H1, yang pada gilirannya mendukung hipotesis substantif kita.

Jika tidak ada cukup data empiris untuk menolak hipotesis nol, kita tidak dapat menolak hipotesis nol.

Secara statistik kita akan mengatakan “gagal menolak H0” atau “tidak menolak H0.” Perhatikan bahwa kita tidak pernah “menerima” H0 hanya karena hasilnya “tidak signifikan.” Terlepas dari hasilnya, hanya ada dua kemungkinan: “gagal menolak” H0 atau “menolak” H0; tidak pernah ada opsi untuk “menerima” H0.

Untuk “menerima” H0 memerlukan pengulangan penelitian dengan jumlah yang tak terbatas, dan mendapatkan hasil nol setiap kali.

Di sisi lain, kita dapat “gagal menolak” H1 karena hasilnya tidak cukup berbeda dari yang diprediksi (dengan asumsi H0 benar) untuk mendukung kesimpulan bahwa H0 salah.

Status H1 mirip dengan terdakwa di pengadilan yang dianggap “tidak bersalah” sampai terbukti “bersalah”.

Jika hasil persidangan menghasilkan vonis “tidak bersalah,” itu tidak berarti terdakwa “tidak bersalah.” Itu hanya berarti bahwa kesalahan tidak dapat dibuktikan di luar keraguan yang wajar.

Ketika peneliti gagal menolak H0, itu tidak berarti H0 benar, melainkan hanya berarti bahwa H0 tidak dapat dibuktikan salah di luar keraguan yang wajar.

EKSPERIMEN TERKONTROL
Penelitian ilmiah adalah investigasi ilmiah di mana peneliti memanipulasi dan mengendalikan satu atau lebih variabel independen dan mengamati variabel dependen atau variabel untuk variasi yang terjadi bersamaan dengan manipulasi variabel independen.

Dalam praktiknya, ilmuwan menggunakan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.

Ada dua kelompok dalam eksperimen, dan keduanya identik kecuali bahwa satu menerima perlakuan sementara yang lain tidak.

Kelompok yang menerima perlakuan disebut kelompok eksperimen, sementara kelompok yang tidak menerima perlakuan disebut kelompok kontrol.

Kelompok kontrol memberikan dasar untuk melihat apakah perlakuan memiliki efek.

Salah satu contoh adalah Randomized Controlled Trial (RCT), bentuk percobaan ilmiah yang digunakan untuk mengendalikan faktor-faktor yang tidak berada di bawah kendali langsung eksperimen.

Contoh RCT adalah uji klinis yang membandingkan efek obat, teknik bedah, perangkat medis, prosedur diagnostik, atau perawatan medis lainnya.

RCT yang dilakukan dengan baik dianggap sebagai standar emas untuk uji klinis.

 

 

Metodologi Penelitian dalam Ekonomi Terapan

Don Etheridge

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Metodologi Penelitian dalam Ekonomi Terapan oleh Don Etheridge.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

Metodologi Penelitian dalam Ekonomi Terapan
Mengorganisasi, Merencanakan, dan Melakukan Penelitian Ekonomi
Don Etheridge
Edisi Pertama, 1995

(Hlm. 4)
I. DASAR-DASAR METODOLOGI PENELITIAN

Pendahuluan
Alasan untuk Mempelajari Metodologi
Metodologi penelitian menyediakan prinsip-prinsip untuk mengorganisasi, merencanakan, merancang, dan melakukan penelitian, tetapi tidak dapat memberi tahu Anda secara rinci bagaimana melakukan studi penelitian individu tertentu. Setiap studi adalah unik.

Alasan utama untuk mempelajari metodologi penelitian adalah bahwa ia menyediakan cara yang sudah terbukti dan teruji waktu untuk menghasilkan pengetahuan baru yang dapat diandalkan. Kumpulan pengetahuan yang dapat diandalkan yang terakumulasi dan berkembang ini membentuk sebuah “Ilmu”.

(Hlm. 5)
Dalam ekonomi, kita memiliki kursus teori umum (makroekonomi, mikroekonomi, teori kesejahteraan, dll.) dan kursus materi-subjek (ekonomi sumber daya, ekonomi tenaga kerja, perdagangan internasional, dll.). Kita juga menyelami disiplin terkait (misalnya, matematika, statistik, manajemen, ilmu politik), kursus analitis (misalnya, ekonometrika, simulasi, metode penelitian operasional), dan seterusnya.

(Hlm. 8)
Sebuah disiplin tidak dapat mengkonfirmasi tanpa penemuan, tetapi dapat menemukan tanpa mengkonfirmasi. Banyak buku tentang filosofi ilmu pengetahuan secara inheren merupakan filosofi konfirmasi. Buku-buku tentang aspek filosofis metodologi ekonomi lebih sedikit, dan buku Glen Johnson (1986), Research Methodology for Economics,

(Hlm. 9)
adalah salah satu yang terbaik. Tulisan-tulisan yang berguna tentang proses penemuan dalam penelitian ekonomi kurang fokus dalam formatnya dan hampir tidak ada yang sangat komprehensif.

(Hlm. 16)
2. Penelitian dan Metodologi
Penelitian adalah pendekatan sistematis untuk memperoleh pengetahuan baru yang dapat diandalkan.
Perhatikan bahwa istilah “kebenaran” tidak digunakan dalam definisi penelitian. Beberapa penulis (misalnya Larrabee, 1964) menggunakan kata tersebut, tetapi kita akan menghindarinya dalam konteks buku ini. Kebenaran menyiratkan sesuatu yang diketahui dengan kepastian; sesuatu yang di luar pertanyaan. Konsep kebenaran ini berada di luar ruang berpikir produktif oleh penelitian. Kebenaran adalah kemewahan yang mungkin kita izinkan dalam keyakinan pribadi kita, tetapi adalah sikap yang berpotensi mematikan.

(Hlm. 17)
Penelitian bukan:
A. Penemuan yang Tidak Sengaja;
B. Pengumpulan data, meskipun mengumpulkan data seringkali merupakan bagian dari penelitian. Data itu sendiri mungkin tidak membentuk, dalam perspektif ekonom, “Pengetahuan yang Dapat Diandalkan”. Data adalah langkah perantara menuju pengetahuan, yang melibatkan hubungan antara kekuatan, faktor, atau variabel.
C. Mencari hasil penelitian yang diterbitkan di perpustakaan, meskipun ini adalah bagian penting dari proses penelitian.

(Hlm. 18)
Namun, peneliti adalah:
A. Mencari penjelasan tentang peristiwa, fenomena, hubungan, dan penyebab, setidaknya dalam penelitian ekonomi.
Kita biasanya ingin tahu, selain itu, bagaimana atau mengapa hal itu terjadi.
B. Sebuah proses. Sebagai demikian, penelitian juga direncanakan agar dapat diandalkan (dapat dibuktikan kepada orang lain berdasarkan aturan bukti yang umumnya diterima).
Namun, seseorang harus menyadari bahwa penelitian terapan biasanya bergantung pada penelitian dasar tertentu yang sedang atau telah dilakukan, sehingga stok modal penelitian dasar harus dipertahankan untuk menghasilkan hasil penelitian terapan.

(Hlm. 19)
Klasifikasi Penelitian
Sebelum kita dapat mengonseptualisasikan, kita harus terlebih dahulu mendefinisikan dan kemudian mengklasifikasikan (Piaget, 1954, hlm. 357).

(Hlm. 20)
Penelitian Dasar versus Penelitian Terapan. Definisi istilah-istilah ini bervariasi.
Penelitian dasar dapat dikarakterisasi sebagai upaya untuk menentukan atau menetapkan fakta dan hubungan fundamental dalam sebuah disiplin atau bidang studi. Andrew dan Hildebrand (1982) mendefinisikan penelitian terapan sebagai “penelitian yang dilakukan khusus untuk tujuan memperoleh informasi guna membantu menyelesaikan masalah tertentu.”

(Hlm. 21)
Secara umum, penelitian disiplin adalah penelitian yang “dirancang untuk meningkatkan sebuah disiplin” (hlm. 12). Penelitian ini berfokus pada teori, hubungan fundamental, dan prosedur serta teknik analitis dalam disiplin tersebut.

(Hlm. 22)
Penelitian disiplin dalam ekonomi adalah penelitian yang dimaksudkan untuk digunakan oleh ekonom lain. Meskipun penelitian disiplin murni bukanlah totalitas aktivitas penelitian dalam ekonomi, penelitian ini sangat penting karena menyediakan dasar konseptual untuk jenis-jenis penelitian ekonomi lainnya.
Penelitian materi-subjek adalah “penelitian tentang subjek yang menarik bagi sekelompok pengambil keputusan yang menghadapi serangkaian masalah praktis.”

(Hlm. 23)
Penelitian deskriptif mungkin adalah apa adanya, sementara penelitian analitis mencoba untuk menetapkan mengapa hal itu terjadi atau bagaimana hal itu terjadi. Niat dari penelitian deskriptif seringkali adalah sintesis, daripada analisis. Sintesis, atau deskripsi, mencoba untuk mengumpulkan pengetahuan atau informasi dan menguraikan keterkaitan logisnya (mensintesis) daripada membongkar informasi untuk memeriksa mengapa dan bagaimana hal itu terjadi (menganalisis).

(Hlm. 30)
Kreativitas dalam Proses
Proses penelitian memerlukan, atau setidaknya bekerja lebih baik dengan, imajinasi, inisiatif, suatu derajat institusi, dan dosis besar rasa ingin tahu.

(Hlm. 31)
Mereka mengakui bahwa “kreativitas yang relevan untuk penelitian ekonomi adalah multidimensional. Kreativitas ini dapat diwujudkan dengan mengajukan pertanyaan baru, dengan merumuskan kembali masalah yang ada, dengan menemukan sumber data baru untuk menguji sebuah proposisi, dengan mengembangkan model baru, atau dengan memperluas teknik matematika atau statistik” (Kruger et al., 1991, hlm. 1049).

(Hlm. 34)
Bacaan yang Disarankan
David M. Hausman. “Economic Methodology in a Nutshell.” Journal of Economic Perspectives 3. (1989): 115-127.
Glenn L. Johnson. Research Methodology for Economists: Philosophy and Practice. New York: Macmillan Publishing Co., 1986, hlm. 1-7, 11-14.
George W. Ladd. Imagination in Research: An Economist’s View. Ames, IA: Iowa State University Press, 1987. Seluruh buku ini disarankan untuk dibaca, tetapi terutama Bagian I dan II, hlm. 1-94.

(Hlm. 36)
3. Konsep dan Perspektif Metodologis
Ilmu Pengetahuan
Kita dapat mencatat bahwa istilah “ilmu pengetahuan” telah diasosiasikan hanya dengan ilmu pengetahuan fisik dan biologis (kimia, biologi, geologi, dll) selama satu abad terakhir ini, dan terutama hanya dalam bahasa Inggris.
Ilmu pengetahuan adalah akumulasi terorganisir dari pengetahuan sistematis (dapat diandalkan) untuk tujuan penjelasan/prediksi yang cerdas. (Williams, 1984)

(Hlm. 37)
Perhatikan bahwa tujuan yang dimaksudkan dari ilmu pengetahuan adalah penjelasan/prediksi.
Ilmu pengetahuan memberi kita alat (pengetahuan yang terakumulasi) yang digunakan untuk melakukan penelitian dan penelitian menambah kumpulan pengetahuan yang dapat diandalkan.
Metodologi penelitian adalah metodologi ilmu pengetahuan dalam arti bahwa itu adalah metodologi untuk memperluas ilmu pengetahuan. Penelitian adalah cara untuk mengakumulasi, mengevaluasi, dan mempertanyakan kumpulan pengetahuan yang kita sebut ilmu pengetahuan, serta sebuah proses menggunakan ilmu pengetahuan dalam mengatasi isu, masalah, dan pertanyaan.

(Hlm. 39)
Ekonomi sebagai Seni dan Ilmu Pengetahuan
Eksperimen yang dikendalikan dalam ilmu sosial terbatas baik karena masyarakat tidak menganggap eksperimen semacam itu secara moral atau etis dapat diterima atau menganggapnya sangat mahal.
Ilmu pengetahuan fisik menghasilkan data di bawah kondisi terkendali sebagai cara untuk menguji teori mereka. Teori-teori ini, dalam istilah sederhana, adalah hubungan yang diasumsikan antara kekuatan tidak hidup, mengingat kondisi yang ditentukan untuk faktor-faktor lainnya. Sebagai demikian, ilmu pengetahuan ini memiliki tradisi empiris yang kuat dalam memverifikasi teori mereka melalui desain eksperimen dan pengumpulan data. Teori-teori ilmu sosial cenderung membahas fenomena yang lebih kompleks dari motivasi dan perilaku individu serta kelompok dan efek dari institusi sosial terhadap mereka. Fenomena ini seringkali tidak dapat diamati atau diukur secara langsung di bawah kondisi yang dikendalikan secara artifisial (Leontief, 1993, memberikan diskusi yang berwawasan tentang isu ini). Namun, hal ini tidak membuat mereka kurang nyata. Di sisi lain, beberapa ekonom (misalnya, Eichner, 1986) berpendapat bahwa ekonomi telah gagal mengkonfirmasi teorinya secara empiris pada tingkat yang dibutuhkan oleh “ilmu pengetahuan”.

(Hlm. 40)
Ekonomi adalah, seperti banyak disiplin, baik seni maupun ilmu pengetahuan.

Pengetahuan
Sistem klasifikasi oleh Johnson (hlm. 16-20) menentukan pengetahuan sebagai (1) pengetahuan positivistik, (2) pengetahuan preskriptif, dan (3) pengetahuan tentang nilai-nilai. Pengetahuan positivistik adalah pengetahuan tentang kondisi, situasi, atau hal-hal yang dapat diamati atau diukur secara langsung. Pengetahuan preskriptif dan pengetahuan tentang nilai-nilai adalah pengetahuan normatif atau sebagian normatif (terkait dengan nilai), tetapi mereka berbeda dalam niat mereka.

(Hlm. 41)
Pengetahuan tentang Nilai adalah pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan dari kondisi, situasi, dan hal-hal.
Pengetahuan Preskriptif adalah pengetahuan tentang apa yang seharusnya dilakukan (atau seharusnya telah dilakukan) dan secara inheren bersifat subjektif. Pengetahuan preskriptif terkait dengan keputusan tentang benar dan salah, dan merupakan ekstensi logis dari kombinasi pengetahuan tanpa nilai dan pengetahuan tentang nilai-nilai.

(Hlm. 42)
Cara lain untuk mengklasifikasikan pengetahuan adalah sebagai pengetahuan pribadi atau publik (Larrabee, 1964). Pengetahuan publik adalah pengetahuan yang dapat ditunjukkan kepada orang lain melalui logika atau bukti. Pengetahuan pribadi adalah pengetahuan yang kita terima atau “ketahui” untuk diri kita sendiri, tetapi tidak dapat ditunjukkan kepada orang lain.
Mungkin contoh yang paling jelas dari pengetahuan pribadi terletak dalam area keyakinan religius.
Keandalan proposisi subjektif ini tidak dapat dibuktikan karena kriteria tergantung pada pandangan pribadi seseorang tentang apa yang dianggap “lebih baik”. Di sisi lain, pengetahuan bahwa “kapitalisme dengan pasar kompetitif mengalokasikan barang dan jasa lebih efisien daripada sosialisme” dapat dibuktikan melalui logika dan bukti, dengan definisi spesifik tentang efisiensi.

(Hlm. 43)
Cara Kita Mendapatkan Pengetahuan
A. Indra
B. Pengalaman
C. Intuisi
D. Wahyu
E. Pengukuran
F. Penalaran
Dari dua jalan menuju pengetahuan yang dapat diandalkan – pengukuran dan penalaran – penalaran merupakan nilai satu-satunya untuk pengetahuan disiplin, materi-subjek, dan pemecahan masalah yang berguna. Penalaran, baik deduktif, induktif, atau keduanya, adalah cara kita menetapkan hubungan, pola, konsep, dan teori dasar, melalui mana kita dapat membuat fakta atau data memiliki makna yang relevan, dalam “Dunia Nyata” – untuk manajer, pembuat kebijakan, konsumen, pemilih, dan sebagainya.

(Hlm. 45)
Keandalan Pengetahuan (Publik)
Ada dua kriteria umum untuk menetapkan keandalan pengetahuan: (1) dapat didukung oleh bukti dan (2) cara bukti diperoleh atau dihasilkan dapat ditunjukkan atau direproduksi.
Tapi bagaimana kita menetapkan keandalan hal-hal yang tidak dapat kita amati secara langsung? Kita melakukannya melalui penalaran, atau logika.
Logika dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis umum, deduktif dan induktif. Logika deduktif adalah proses penalaran dari premis umum (misalnya asumsi) ke hasil atau kesimpulan khusus.

(Hlm. 46)
Penjelasan yang paling berlaku tentang induksi untuk ekonomi adalah inferensi statistik. Dengan menyusun sampel acak dari populasi yang lebih besar, mengumpulkan data tentang sampel tersebut, dan menganalisis data menggunakan kriteria dan prosedur yang sudah ditetapkan, kita dapat menginferensi karakteristik dan perilaku tentang seluruh populasi dari sampel yang dianalisis.

Kesalahan Logika
Daftar kesalahan logika berikut ini cukup lengkap untuk tujuan kita.
A. Permohonan Khusus. Kesalahan logika ini terjadi ketika seseorang hanya menggunakan informasi yang mendukung posisi atau kesimpulan yang sudah ditentukan sebelumnya, sambil mengabaikan informasi lainnya.
B. Menegaskan Konsekuen. Kesalahan logika ini terjadi ketika kesimpulan didasarkan pada premis tanpa memeriksa keabsahan premis tersebut.
C. Menyerang Individu. Kesalahan ini melibatkan penolakan terhadap posisi atau kesimpulan karena sikap terhadap orang atau kelompok yang menyajikan posisi atau kesimpulan tersebut.
D. Mengajukan Banding pada Orang Banyak. Ini melibatkan menerima atau menolak posisi atau kesimpulan karena sejumlah besar orang menerimanya atau menolaknya.

(Hlm. 47)
E. Mengajukan Banding pada Otoritas. Kesalahan ini terjadi dengan otomatis menerima posisi, proposisi, atau kesimpulan karena sumbernya memiliki pengetahuan khusus atau mendalam tentangnya.
F. Sebab-sebab Palsu. Kesalahan ini (juga disebut kesalahan post hoc) adalah bahaya atribusi penyebab yang salah pada suatu efek.
G. Argumen dengan Analogi. Kesalahan ini berpendapat bahwa “A mirip dengan B, jadi apa yang benar untuk A juga benar untuk B.” Aplikasi umum dari penalaran keliru ini adalah bahwa karena kebijakan pemerintah tertentu efektif, mereka juga akan efektif di China (atau Prancis atau Zaire, dll).
H. Komposisi dan Pembagian. Mereka disajikan bersama karena merupakan gambaran cermin satu sama lain.

Uji untuk Keandalan
Pertimbangan di atas berlaku hanya untuk penalaran atau logika saja. Ketika kita bergantung pada input lain seperti data, pengamatan, atau bukti empiris (sendirian atau bersama dengan logika) dalam pencarian pengetahuan yang dapat diandalkan, menghindari kesalahan logika tidaklah cukup. Selain itu, kita biasanya menggunakan input lain, terutama dalam penelitian terapan. Oleh karena itu, untuk pertimbangan keandalan yang lebih lengkap,
(Hlm. 48)
kita memerlukan pedoman yang lebih komprehensif. Ketika empirisisme terlibat, ada tiga uji yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keandalan hal-hal yang tidak dapat kita amati secara langsung. Ini adalah uji kesesuaian, koherensi logis, dan kejelasan (lihat Johnson, 1986, hlm. 43-49, untuk penjelasan yang lebih rinci tentang ini). Kita juga dapat mempertimbangkan uji keempat – uji pragmatik tentang keterkerjaan.
Uji kesesuaian melibatkan membandingkan hasil atau posisi untuk melihat apakah ia bebas dari kontradiksi logis.
Uji kejelasan memeriksa hasil atau proposisi untuk kekurangan ambiguitas atau kekaburan. Jika hasil atau proposisi memiliki lebih dari satu makna, ia gagal uji kejelasan.
Uji pragmatik tentang keterkerjaan (pragmatik akan dibahas lebih detail di Bab 4) mengharuskan bahwa hasil tersebut memecahkan masalah atau isu yang dibahas.

(Hlm. 49)
Semua pengetahuan terus-menerus diperiksa, diteliti, dan dipertanyakan. Memenuhi uji ini merupakan bukti yang dapat diterima bahwa informasi, pemikiran, atau pengetahuan tersebut dapat diandalkan.

Peran Objektivitas Pribadi
Objektif, atau objektivitas, adalah sesuatu yang independen dari karakteristik pikiran; itu bergantung pada apa yang dapat dibuktikan, melalui pengamatan, pengukuran, dan logika.

(Hlm. 50)
Contoh: pertanyaan apakah AS harus menurunkan tarif impor pada sekelompok barang (sebuah proposisi yang dinyatakan secara subyektif) menjadi dapat diperdebatkan dan sulit untuk ditangani. Pernyataan tentang efek penurunan tarif impor pada beberapa variabel target seperti harga konsumen dan produsen domestik, pendapatan nasional, neraca perdagangan, dan pembayaran lebih mudah diperdebatkan sebagai pengetahuan publik. Set pernyataan kedua ini menggunakan bahasa yang bebas dari penilaian yang merupakan tujuan penelitian yang valid.

(Hlm. 51)
Fakta adalah pengamatan yang dapat diverifikasi.
Teori terdiri dari hubungan logis antar fakta.
Hipotesis adalah proposisi yang dapat diuji.

(Hlm. 52)
Perhatikan bahwa perbedaan antara fakta dan nilai mungkin bergantung pada bagaimana proposisi disajikan. Misalnya, “kelaparan adalah hal yang buruk” adalah penilaian nilai, tetapi “98 persen populasi AS percaya bahwa kelaparan adalah hal yang buruk” mungkin adalah fakta. Fakta mungkin tentang pengetahuan nilai. Kita dapat membuat empat perbedaan tentang fakta dan nilai. Ada (1) fakta tentang fakta, (2) fakta tentang nilai, (3) nilai tentang fakta, dan (4) nilai tentang nilai. Item 1 dan 2 adalah perhatian yang tepat dari sains, item 3 mencurigakan, dan item 4 berada di luar jangkauan sains.
Teori menetapkan hubungan, menggunakan fakta sebagai batu bata, tetapi juga didasarkan pada logika deduktif – penalaran dari premis yang diberikan, idealnya faktual, ke kesimpulan yang diperlukan. Pemahaman populer tentang teori adalah bahwa itu adalah spekulasi yang tidak berdasar atau premis tanpa mempertimbangkan realitas atau aplikasi (misalnya, “Itu mungkin benar dalam teori, tapi …”). SALAH. Teori terdiri dari hubungan yang dipikirkan dengan cermat yang berlaku ketika kondisi yang ditentukan terpenuhi. Uji satu-satunya dari sebuah teori adalah logika internalnya.
Teori adalah apa yang memberi kita kemampuan prediktif/penjelasan. Ini memungkinkan kita untuk mengatakan bahwa “jika kondisi A, B, C, dan D ada, seperti yang kita harapkan, maka X dan Y seharusnya terjadi.”

(Hlm. 53)
Perubahan kondisi dapat menyebabkan teori menjadi tidak relevan (Ladd, 1991, hlm. 8). Selain itu, teori dapat menunjukkan bahwa suatu hubungan valid, tetapi tidak apakah itu penting secara empiris (Edward, 1978, hlm. 32). Teori tidak dapat memberikan jawaban mudah atau “sihir” atau resep untuk masalah yang rumit dan kompleks. Sebenarnya, teori memberikan kita kerangka kerja untuk mendekati analisis masalah kompleks ini.
Berdasarkan karya-karya ini, fungsi teori dalam penelitian ekonomi dapat dicantumkan sebagai:
A. Orientasi. Memberikan kerangka kerja untuk memeriksa atau menguraikan masalah atau pertanyaan.
B. Klasifikasi. Memberikan sarana komunikasi yang tepat. Set definisi dan spesifikasi yang terdapat dalam pengembangan teori memberikan istilah dan hubungan yang memiliki makna yang spesifik dan terdefinisi yang memfasilitasi pemahaman tentang konsep dan fenomena kompleks.
C. Konsseptualisasi. Memberikan cara untuk membayangkan bagaimana sesuatu bekerja, atau untuk mengusulkan hubungan sebab-akibat, yang tidak dapat diamati secara langsung.

(Hlm. 54)
D. Ringkasan. Ini dapat berupa dua jenis:
a. Generalisasi empiris seperti “kayu mengapung” atau “harga cenderung tidak fleksibel ke bawah.”
b. Hubungan yang digeneralisasi. Contoh adalah bahwa tingkat pertumbuhan dalam suplai uang dan tingkat inflasi terkait langsung.
E. Penyediaan ketepatan dalam proses berpikir. Membantu menghubungkan fakta dan konsep.
F. Prediksi fakta atau identifikasi hipotesis.
G. Identifikasi celah dalam pengetahuan kita.

(Hlm. 55)
Hipotesis adalah hasil atau outcome yang belum dievaluasi atau diuji. Ini adalah pernyataan sementara tentang hubungan antara faktor atau peristiwa yang tunduk pada verifikasi atau penolakan.
Dalam ekonomi, pengujian hipotesis dalam penelitian ekonometrika, misalnya, biasanya melibatkan pengujian hipotesis pada dua tingkat: (1) pengujian signifikansi statistik dari parameter individual dalam model dan (2) pengujian “kesesuaian” statistik dari seluruh model, yang didasarkan pada hubungan yang diharapkan yang ditentukan sebagian atau sepenuhnya oleh pertimbangan teoretis.

(Hlm. 56)
Hipotesis ini dikelompokkan oleh Tweeten dalam tiga kategori: hipotesis yang dipertahankan, diagnostik, dan remedial.
Hipotesis yang Dipertahankan adalah hal-hal yang diasumsikan benar untuk tujuan studi yang sedang dilakukan.
Hipotesis Diagnostik adalah proposisi tentang penyebab masalah.
Hipotesis Remedial adalah solusi yang diusulkan untuk masalah.

(Hlm. 59)
4. Fondasi Filosofis
Tiga filosofi yang tidak terkait dengan metodologi penelitian adalah positivisme, normativisme, dan pragmatisme.

(Hlm. 60)
Positivisme
Positivisme sebagai filosofi berpegang pada pandangan bahwa hanya pengetahuan yang diperoleh melalui observasi (indera) yang dapat dipercaya. Positivisme “murni” bahkan mengabaikan penalaran dan teori sebagai sah untuk mencapai pengetahuan yang dapat diandalkan. Namun, pandangan modern tentang positivisme mencakup perluasan logis dari fakta. Ini disebut positivisme logis, dan menjadi filosofi positivistik yang dominan awal abad ini. Positivisme logis adalah titik referensi selanjutnya dalam diskusi ini.
Positivisme logis menjadi filosofi yang menonjol dalam ekonomi pada 1950-an dengan pendukung seperti Wassily Leontief, Milton Friedman, dan Harry Johnson (lihat Friedman, 1953; Johnson, 1976).
Johnson (1986) menunjukkan bahwa John Neville Keynes, ayah John Maynard Keynes, adalah seorang pendukung awal positivisme logis dalam ekonomi pada 1890-an.

(Hlm. 61)
Konsep baik/buruk atau benar/salah dianggap oleh positivis sebagai konstruksi pikiran, bukan sebagai karakteristik yang dapat dijelaskan dari realitas.

(Hlm. 62)
Namun, positivisme dan empirisisme tidak sinonim. Empirisisme mencakup pengukuran hal-hal dan fenomena, tetapi juga meluas ke kuantifikasi dan estimasi hubungan.

(Hlm. 63)
Uji positivisme logis adalah uji kesesuaian, koherensi, dan kejelasan yang dibahas dalam Bab 3. Uji ini gagal mengenali, seperti yang akan kita bahas nanti, pertimbangan tentang kegunaan atau aplikasi.

Normativisme
Normativisme sebagai kumpulan filosofi (Johnson, 1986, hlm. 34) yang terkait dengan sains mengambil posisi bahwa pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan dari kondisi, situasi, hal-hal, dan tindakan adalah valid, dan bahkan diperlukan, untuk menghasilkan pengetahuan preskriptif. Beberapa bentuk normativisme, seperti utilitarianisme, berpendapat bahwa baik dan buruk dapat dialami (misalnya, kanker adalah buruk).

(Hlm. 64)
Normativisme sebagaimana diterapkan dalam penelitian ekonomi tidak mempedulikan pertanyaan moral tentang benar dan salah, yang secara mendasar berbeda dari pertanyaan atau pengetahuan tentang apa yang baik dan buruk (Lewis, 1955).

(Hlm. 65)
Misalnya, “orang-orang di dunia lebih baik dengan perdagangan bebas daripada dengan perdagangan terbatas” adalah pernyataan normatif objektif.

(Hlm. 66)
Pragmatism
Pragmatism sebagai filosofi berpendapat bahwa yang penting dalam pengetahuan deskriptif adalah seberapa baik ia bekerja untuk menyelesaikan masalah yang ada.

(Hlm. 67)
Dari perspektif pragmatis, uji kegunaan adalah uji utama dari keandalan pengetahuan preskriptif. Jika suatu konsep bekerja secara preskriptif (menyelesaikan masalah), maka itu diterima. Namun, uji kejelasan, koherensi, dan kesesuaian juga memiliki peran dalam pragmatisme meskipun uji tersebut mungkin tidak diterapkan sebelum preskripsi diterapkan.

(Hlm. 69)
Bagaimana Filosofi Berbaur
Dalam praktiknya, ketiga jenis penelitian biasanya tidak mudah dipisahkan. Suatu proyek penelitian tertentu mungkin mencerminkan beberapa jenis sekaligus. Beberapa disertasi Ph.D., misalnya, membuat kontribusi teoretis atau disiplin lainnya, kemudian melanjutkan dengan aplikasi materi-subjek dan bahkan solusi pemecahan masalah.

(Hlm. 72)
Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah dapat dicirikan dengan langkah-langkah umum berikut: (1) identifikasi masalah/isu/pertanyaan, yang mungkin bersifat disipliner, materi-subjek, atau/atau pemecahan masalah; (2) definisikan tujuan penelitian; (3) kembangkan hipotesis mengenai pendekatan terhadap hasil yang diharapkan dan/atau solusi alternatif; (4) desain prosedur penelitian; (5) peroleh informasi yang sesuai dan evaluasi (misalnya, uji hipotesis); dan (6) interpretasikan hasil dan tarik kesimpulan, termasuk memberikan preskripsi, jika sesuai.

(Hlm. 74)
Ilmu laboratorium dan lapangan melihat proses penelitian mereka sebagai menghasilkan data yang dapat diandalkan (misalnya, banyak perhatian mereka didedikasikan terutama untuk desain eksperimen untuk menghasilkan angka yang valid secara statistik). Ilmu sosial melihat proses mereka lebih dalam hal menggunakan data untuk memahami hubungan (misalnya, perhatian mereka tertuju pada penggunaan angka untuk menghasilkan hubungan yang valid secara konseptual dan statistik) dan untuk mengatasi masalah yang memerlukan keputusan.

(Hlm. 75)
Deduksi dan Induksi dalam Pendekatan Ilmiah
Dalam penalaran deduktif, kita memulai dari premis-asumsi. Penalaran deduktif berpendapat bahwa jika premis individu benar dan secara kolektif lengkap serta penalaran itu benar, kesimpulan tersebut pasti dapat diandalkan.

Induksi adalah proses empiris untuk menghasilkan generalisasi baru dari realitas yang diamati (fakta, data) dan tidak bergantung pada pengetahuan sebelumnya (Gebremedhin dan Tweeten, 1988, hlm. 5).
Induksi statistik adalah proses menguji apakah estimasi parameter berbeda dari beberapa kuantitas yang ditentukan atau apakah estimasi atau hubungan menjelaskan proporsi variabel yang bervariasi secara statistik yang kita coba jelaskan.

(Hlm. 76)
Induksi tidak dapat membuktikan proposisi karena kita belum (atau tidak dapat) memeriksa semua bukti yang relevan dengan kasus tersebut (Larrabee, 1964, hlm. 236). Induksi adalah proses penalaran dari keadaan khusus menuju hasil yang digeneralisasikan. Kita dapat menunjukkan bahwa hasilnya mungkin terjadi berdasarkan bukti yang tersedia yang telah dihasilkan atau diperoleh dari informasi yang dapat diandalkan.

(Hlm. 77)
Francis Bacon melihat penelitian sebagai proses induktif murni (empirisisme) di mana kita memulai dengan fakta (apa yang diungkapkan oleh panca indera kita) dan melanjutkan “ke atas” menuju aksioma, hukum (Bacon, tanggal tidak diketahui). Deduksi (yaitu, berteori) saja dapat menyesatkan dalam mempelajari dunia nyata karena kurangnya cara definitif untuk mengevaluasi apakah premis (asumsi) dari “jenis ideal” cocok dengan situasi yang sedang dianalisis. Induksi saja (yaitu, observasi, pengujian empiris) juga dapat menyesatkan karena selalu ada kemungkinan kesalahan (Ladd, 1991, hlm. 4,5).

(Hlm. 78)
Ringkasan
Tiga filosofi utama—positivisme, normativisme, dan pragmatisme—menjadi dasar filosofis untuk metodologi penelitian dalam ekonomi.

(Hlm. 79)
Bacaan yang Direkomendasikan
Glenn L. Johnson. Research Methodology for Economists; Philosophy and Practice. New York: Macmillan Publishing Co., 1986, Bab 4-9.

(Hlm. 83)
II. Desain Proyek Penelitian
5. Merencanakan Penelitian
Namun, agar mahasiswa dapat beralih dari menyerap apa yang sudah diketahui ke menggunakan apa yang sudah diketahui untuk menghasilkan lebih banyak informasi atau pengetahuan, kami membiarkan mereka dengan upaya mereka sendiri kecuali untuk bantuan individual (magang) dari penasihat dan komite pascasarjana mereka.

(Hlm. 84)
Dalam pengertian yang lebih luas, kita semua adalah mahasiswa; beberapa hanya telah melakukannya lebih lama daripada yang lain.

(Hlm. 85)
Proposal Proyek Penelitian
Ketika proposal tidak jelas, satu-satunya asumsi yang wajar yang dapat dibuat pembaca adalah bahwa pemikiran penulis tidak berkembang dengan baik. Ketika seseorang mengatakan “Saya memahaminya, saya hanya tidak tahu bagaimana mengatakannya,” itu benar-benar berarti “Saya tidak memahaminya dengan cukup jelas untuk menjelaskannya.”

(Hlm. 86)
Elemen Proposal Penelitian
A. Judul. Judul proyek harus deskriptif dari fokus utama penelitian, tetapi tidak boleh lebih panjang dari yang diperlukan.

(Hlm. 87)
B. Informasi Identifikasi.
C. Identifikasi dan Penjelasan Masalah.
D. Tujuan. Tujuan, yang juga universal diperlukan dalam proposal penelitian, menentukan dengan tepat apa yang dimaksudkan oleh proyek penelitian yang diusulkan untuk ditemukan, ditemukan, dan/atau dicapai.

(Hlm. 88)
E. Tinjauan Literatur. Bagian ini dari proposal memberikan ringkasan tinjauan literatur penelitian yang relevan dengan studi yang diusulkan.
F. Kerangka Konseptual. Kerangka konseptual formal bukanlah persyaratan universal untuk proposal penelitian, tetapi setiap ekonom yang mencoba melewati langkah ini berisiko membuat kesalahan logis yang mungkin serius dalam penelitiannya.

(Hlm. 89)
G. Metode dan Prosedur. Metode dan prosedur menggambarkan bagaimana tujuan akan dicapai.
H. Referensi. Referensi menyediakan dokumentasi dari sumber yang digunakan dalam proposal.

(Hlm. 92)
Pendanaan untuk Penelitian Ekonomi
Penelitian disipliner dalam ekonomi biasanya diarahkan pada ketidakmampuan teori atau prosedur ekonomi untuk memberikan wawasan dan pedoman yang memadai untuk isu-isu terkini. General Theory of Employment, Interest, and Money oleh John Maynard Keynes adalah respons terhadap kegagalan teori ekonomi formal tahun 1920-an untuk memberikan pedoman tentang cara menangani masalah ekonomi depresi.

(Hlm. 94)
Menulis adalah keterampilan yang dapat dipelajari dan diajarkan. Beberapa orang jelas menemukan menulis lebih mudah daripada yang lain, tetapi sedikit yang menemukan penulisan teknis atau ilmiah sebagai tugas yang mudah. Hal ini mungkin sebagian besar disebabkan oleh sifat kompleks dari materi pelajaran dan kebutuhan untuk sangat tepat—meninggalkan peluang sekecil mungkin untuk salah tafsir—dalam komunikasi.
Penulis kadang-kadang bercanda kepada siswa, ketika mereka sangat frustrasi dengan tuntutan penulisan, untuk diberi semangat—menulis makalah menjadi jauh lebih mudah setelah Anda menulis dua atau tiga ratus dari mereka. Ini tidak selalu diterima dengan humor yang dimaksudkan.

(Hlm. 95)
Pedoman dan Tips Menulis
Artikel jurnal ekonomi ditulis untuk dibaca oleh ekonom. Hampir tidak ada orang kecuali ekonom profesional yang akan mencoba membaca jurnal ekonomi disipliner atau materi-subjek.
Pedoman yang andal lainnya adalah mengorganisir apa yang Anda katakan. Anda mencoba mencapai urutan presentasi logis dari pemikiran dan informasi yang jelas, langsung, dan tepat. Anda ingin urutan pemikiran, ide, dan informasi yang logis; Anda sedang “mengarah” pemikiran dan pemahaman pembaca Anda.

(Hlm. 96)
Pernyataan sederhana dan langsung berkomunikasi lebih efektif daripada pernyataan yang kompleks, panjang lebar, atau bertele-tele. Gunakan pernyataan dan frasa sederhana dan hindari kualifikasi yang tidak perlu, jargon, klise, dan platitudes.
Pedoman lainnya adalah menghindari kata dan frasa advokasi serta penilaian. Jaga nada tulisan tetap tidak memihak sebanyak mungkin. Anda bukan pendukung kelompok atau posisi mana pun, dan diinginkan untuk menghindari konotasi atau penampilan seperti itu. Hindari kata-kata yang secara pribadi menilai (misalnya, harus, baik, buruk). Hati-hati dengan kata sifat seperti “sayangnya” atau “sayangnya” dalam frasa deskriptif.

(Hlm. 97)
Praktik berguna lainnya yang mendorong penulisan yang efektif adalah mengevaluasi kembali tulisan setelah disisihkan untuk sementara waktu. Tulis draf, kemudian kembali ke itu nanti, kadang-kadang hari atau minggu kemudian, dengan perspektif segar.
Ada juga panduan penulisan umum seperti The Little, Brown Handbook (Fowler, 1983) dan The Craft of Scientific Writing (Alley, 1987) yang memberikan panduan tentang berbagai hal mulai dari aturan tanda baca dan tata bahasa hingga menciptakan suasana untuk menulis. Alat bantu yang berguna lainnya adalah perangkat lunak pengeditan pemrosesan kata komputer seperti Grammatik IV (Wampler et al. 1989). Dalam mengembangkan gaya Anda sendiri, bermanfaat untuk membaca penulis yang baik; ini mungkin membantu Anda mengidentifikasi apa yang Anda nyaman dengan dan apa yang Anda suka.

(Hlm. 98)
Dalam penulisan teknis formal, aturan historis adalah menulis dalam orang ketiga (misalnya, dia, mereka), bukan dalam orang pertama atau kedua (misalnya, saya, kami, Anda). Jurnal khususnya dalam beberapa tahun terakhir menyimpang dari bentuk ini. Pedoman umum yang “aman” adalah menggunakan orang ketiga untuk pelaporan penelitian formal, tetapi orang pertama atau kedua sesuai untuk gaya yang kurang formal seperti presentasi, makalah prosiding, dan seterusnya. Konsultasikan pedoman khusus.

(Hlm. 100)
Bacaan yang Direkomendasikan
Michael Alley, The Craft of Scientific Writing. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, Inc. 1987, Bab 1-13 dan 18-21, serta Lampiran.
Glenn L. Johnson. Research Methodology for Economists: Philosophy and Practice. New York: Macmillan Publishing Co., 1986, hlm. 121-138.
George W. Ladd. Imagination in Research: An Economist’s View. Ames, IA: Iowa State University Press, 1987, hlm. 77-81.

 

Theory in Social Science

University of Wiconsin-Madison

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari dokumen Theory in Social Science oleh University of Wisconsin-Madison.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

Kekuatan dari Teori

Dalam dunia akademik dan ilmiah, teori sering kali menjadi inti dari penelitian dan pengembangan pengetahuan.

Teori bukanlah sekadar spekulasi atau pendapat pribadi, melainkan sebuah struktur logis yang terdiri dari proposisi-proposisi yang berhubungan satu sama lain dan berfungsi untuk menjelaskan kenyataan empiris.

Teori memungkinkan kita untuk memahami, meramalkan, dan mengendalikan fenomena di dunia nyata dengan cara yang lebih sistematis dan terorganisasi.

Apa itu Teori?

Teori dapat didefinisikan sebagai serangkaian proposisi yang saling berhubungan secara logis mengenai kenyataan empiris.

Dengan kata lain, teori adalah kerangka kerja intelektual yang dibangun dengan tujuan untuk menjelaskan fenomena yang kita amati di dunia nyata.

Sebagai contoh, teori gravitasi dalam fisika menjelaskan bagaimana benda-benda yang memiliki massa saling menarik satu sama lain.

Dengan menggunakan teori, ilmuwan dapat meramalkan bagaimana suatu benda akan bergerak atau bereaksi dalam berbagai kondisi.

Namun, teori bukan hanya tentang penjelasan.

Teori juga memberikan panduan untuk pengujian dan pengembangan pengetahuan lebih lanjut.

Dalam konteks ini, teori tidak hanya menjelaskan hubungan antara variabel-variabel, tetapi juga memungkinkan kita untuk mengembangkan hipotesis dan melakukan pengujian empiris untuk memverifikasi atau memodifikasi proposisi yang diajukan.

Teori adalah Serangkaian Proposisi yang Berhubungan Logis tentang Realitas Empiris

Dalam merumuskan teori, ada beberapa komponen penting yang perlu dipahami.

Teori dibangun dari proposisi-proposisi, yang merupakan pernyataan-pernyataan tentang hubungan antara konsep-konsep dasar.

Proposisi-proposisi ini berfungsi sebagai fondasi teori dan membantu menggambarkan bagaimana konsep-konsep tersebut terhubung dengan kenyataan empiris.

Definisi: Kalimat yang Memperkenalkan Istilah-Istilah Dasar dalam Teori.

Komponen pertama dari setiap teori adalah definisi.

Definisi adalah pernyataan yang memperkenalkan istilah-istilah dasar yang digunakan dalam teori.

Istilah-istilah ini merujuk pada konsep-konsep yang menjadi dasar teori.

Definisi ini penting karena mereka memberikan kerangka acuan yang jelas tentang apa yang sedang dibahas dan bagaimana istilah-istilah tersebut harus dipahami dalam konteks teori.

Sebagai contoh, dalam teori komunikasi, definisi konsep seperti “pesan,” “pengirim,” dan “penerima” sangat penting untuk memahami bagaimana proses komunikasi terjadi.

Definisi yang jelas dan tepat membantu mencegah salah paham dan memastikan bahwa semua pihak yang terlibat dalam diskusi teori memiliki pemahaman yang sama tentang konsep-konsep yang digunakan.

Hubungan Fungsional: Kalimat yang Menghubungkan Konsep-Konsep Dasar Satu Sama Lain.

Setelah konsep-konsep dasar diperkenalkan melalui definisi, langkah berikutnya dalam pembangunan teori adalah menjelaskan bagaimana konsep-konsep tersebut berhubungan satu sama lain.

Hubungan fungsional menggambarkan hubungan antara berbagai elemen dalam teori dan bagaimana elemen-elemen tersebut saling mempengaruhi.

Dalam hubungan fungsional, kita menemukan dua elemen kunci: asumsi (atau aksioma) dan deduksi (atau hipotesis).

Asumsi atau Aksioma.

Asumsi adalah pernyataan-pernyataan dasar yang diterima sebagai kebenaran tanpa perlu pembuktian lebih lanjut.

Dalam konteks teori, asumsi berfungsi sebagai fondasi dari mana hubungan-hubungan fungsional lainnya dibangun.

Asumsi biasanya didasarkan pada pengamatan empiris atau prinsip-prinsip yang diterima secara umum dalam suatu disiplin ilmu.

Sebagai contoh, dalam teori ekonomi klasik, salah satu asumsi dasar adalah bahwa individu bertindak secara rasional dalam mengejar kepentingan pribadi mereka.

Asumsi ini kemudian digunakan untuk menjelaskan bagaimana individu membuat keputusan dalam berbagai situasi ekonomi.

Deduksi atau Hipotesis.

Deduksi, atau lebih dikenal sebagai hipotesis, adalah pernyataan yang diturunkan dari asumsi-asumsi dasar dan digunakan untuk menjelaskan atau meramalkan fenomena tertentu.

Hipotesis ini merupakan pernyataan yang dapat diuji secara empiris untuk menentukan apakah hubungan yang dijelaskan dalam teori benar atau salah.

Sebagai contoh, dalam teori motivasi, sebuah hipotesis mungkin menyatakan bahwa “Individu yang merasa diakui dalam pekerjaannya akan memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi.” Hipotesis ini kemudian dapat diuji melalui penelitian empiris untuk menentukan apakah ada hubungan signifikan antara pengakuan kerja dan kepuasan kerja.

Definisi Operasional: Kalimat yang Menghubungkan Pernyataan Teoretis dengan Observasi Empiris.

Bagian terakhir dari struktur teori adalah definisi operasional.

Definisi operasional adalah kalimat-kalimat yang menghubungkan pernyataan-pernyataan teoretis dengan observasi yang mungkin dilakukan di dunia nyata.

Dengan kata lain, definisi operasional memberikan instruksi tentang bagaimana konsep-konsep yang ada dalam teori dapat diukur atau diamati secara empiris.

Sebagai contoh, dalam psikologi, konsep “stres” dapat didefinisikan secara operasional sebagai “tingkat kortisol dalam darah” atau “skor pada skala penilaian stres.” Definisi operasional ini memungkinkan peneliti untuk mengukur konsep abstrak seperti stres dengan cara yang dapat diobservasi dan diuji secara empiris.

Definisi operasional sangat penting dalam penelitian karena mereka menjembatani teori dengan data empiris.

Tanpa definisi operasional, sulit untuk menguji validitas atau keandalan sebuah teori, karena tidak ada cara yang jelas untuk menghubungkan proposisi teoretis dengan observasi dunia nyata.

Mengapa Kita Harus Peduli pada Teori? Apa Fungsi Teori?

Teori memainkan peran penting dalam kehidupan manusia, khususnya dalam bidang akademik dan ilmiah.

Meskipun teori sering dianggap sebagai sesuatu yang hanya relevan di dunia ilmiah atau akademik, kenyataannya teori memiliki dampak yang sangat praktis dalam berbagai aspek kehidupan.

Teori membantu kita memahami dunia di sekitar kita dengan cara yang lebih mendalam dan sistematis, serta memberikan dasar bagi pengambilan keputusan yang lebih baik.

Dalam esai ini, kita akan membahas mengapa teori penting, apa yang teori lakukan untuk kita, dan apa yang membuat suatu teori menjadi baik.

Mengapa Kita Harus Peduli? Apa yang Teori Lakukan?

Teori, secara fundamental, memberikan kerangka untuk memahami, mengklasifikasikan, dan memprediksi fenomena.

Melalui teori, kita dapat menemukan pola, memahami sebab-akibat, dan mengarahkan penelitian ke arah yang lebih bermakna.

Ada lima alasan utama mengapa teori penting dalam kehidupan kita:.

Membantu Kita Mengklasifikasikan Hal-Hal: Entitas, Proses, dan Hubungan Kausal.

Salah satu fungsi utama teori adalah membantu kita mengklasifikasikan berbagai hal.

Teori memberikan alat untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan entitas, proses, dan hubungan kausal di dunia.

Misalnya, dalam ilmu biologi, teori evolusi membantu kita mengklasifikasikan spesies berdasarkan asal-usul evolusioner mereka.

Dalam ilmu sosial, teori ekonomi membantu kita mengklasifikasikan berbagai jenis pasar dan hubungan antar pelaku ekonomi.

Dengan demikian, teori membantu menciptakan keteraturan dalam pemahaman kita tentang dunia, sehingga kita dapat memahami lebih baik berbagai fenomena yang tampaknya acak atau tidak terhubung.

Membantu Kita Memahami Bagaimana dan Mengapa Regularitas yang Sudah Diamati Terjadi.

Teori tidak hanya mengklasifikasikan fenomena, tetapi juga menjelaskan bagaimana dan mengapa hal-hal terjadi.

Dengan menggunakan teori, kita dapat mengungkap mekanisme di balik pola atau regularitas yang sudah diamati.

Sebagai contoh, teori gravitasi tidak hanya mengklasifikasikan fenomena gaya tarik-menarik antara benda-benda, tetapi juga menjelaskan mengapa benda-benda saling menarik.

Di dunia sosial, teori konflik membantu kita memahami mengapa konflik terjadi antara kelompok-kelompok dalam masyarakat, dan faktor-faktor apa yang menyebabkan intensitas konflik meningkat atau menurun.

Melalui penjelasan ini, teori memberikan kita wawasan yang lebih dalam tentang fenomena yang terjadi di sekitar kita.

Membantu Kita Memprediksi Hubungan yang Belum Diamati

Salah satu kelebihan teori adalah kemampuannya untuk memprediksi fenomena yang belum diamati.

Teori memungkinkan kita merumuskan hipotesis tentang hubungan atau peristiwa yang belum terjadi, berdasarkan hubungan yang sudah diketahui.

Sebagai contoh, dalam fisika, teori relativitas memungkinkan para ilmuwan memprediksi adanya gelombang gravitasi jauh sebelum mereka dapat diukur secara langsung.

Dalam ilmu ekonomi, teori perilaku konsumen membantu meramalkan bagaimana orang akan bereaksi terhadap perubahan harga atau kebijakan.

Dengan kemampuan memprediksi ini, teori menjadi alat yang sangat kuat untuk merencanakan tindakan dan strategi di masa depan.

Mengarahkan Penelitian ke Arah yang Berguna.

Teori juga memiliki fungsi penting dalam penelitian ilmiah dan akademik.

Teori tidak hanya memberikan penjelasan atau prediksi, tetapi juga mengarahkan penelitian ke arah yang lebih berguna.

Melalui teori, peneliti dapat fokus pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik dan relevan, serta menghindari membuang waktu pada masalah yang kurang penting atau tidak dapat dipecahkan.

Teori juga memberikan kerangka kerja untuk merancang eksperimen dan menguji hipotesis.

Sebagai contoh, dalam bidang psikologi, teori perkembangan kognitif Piaget membantu peneliti memahami tahap-tahap perkembangan anak, dan dari situ, merancang eksperimen untuk mempelajari bagaimana anak-anak belajar.

Menjadi Dasar untuk Bertindak: “Tidak Ada yang Lebih Praktis dari Teori yang Baik”

Pernyataan klasik “Tidak ada yang lebih praktis dari teori yang baik” menunjukkan bahwa teori yang kuat tidak hanya berguna di dunia akademik, tetapi juga dalam pengambilan keputusan sehari-hari.

Teori membantu kita merancang kebijakan, strategi bisnis, atau intervensi sosial yang lebih efektif.

Sebagai contoh, teori perilaku organisasi memberikan landasan bagi para manajer untuk mengambil keputusan yang lebih baik dalam mengelola karyawan dan memotivasi tim.

Teori perubahan iklim memberikan dasar ilmiah bagi para pemimpin dunia untuk merumuskan kebijakan yang bertujuan mengurangi dampak negatif perubahan iklim.

Dalam konteks ini, teori bukan hanya alat akademis, tetapi juga instrumen praktis yang memberikan panduan dalam mengambil tindakan yang tepat.

Apa yang Membuat Teori Menjadi Baik?

Tidak semua teori diciptakan sama.

Beberapa teori lebih baik dari yang lain dalam menjelaskan fenomena dan memberikan wawasan yang mendalam.

Ada beberapa karakteristik utama yang membuat suatu teori dianggap baik dan berguna:.

Kesederhanaan: Kemampuan untuk Menjelaskan dalam Istilah dan Pernyataan yang Relatif Sedikit.

Salah satu ciri teori yang baik adalah kesederhanaannya, atau yang dalam istilah akademis sering disebut sebagai “parsimony”.

Teori yang baik mampu menjelaskan fenomena yang kompleks dengan menggunakan sedikit konsep dan pernyataan.

Kesederhanaan ini penting karena teori yang terlalu rumit atau berbelit-belit sering kali sulit dipahami dan diterapkan.

Sebuah teori yang baik adalah teori yang cukup sederhana untuk dipahami, namun cukup kuat untuk menjelaskan banyak hal.

Sebagai contoh, teori evolusi yang dikemukakan oleh Darwin sederhana dalam penjelasannya tentang seleksi alam, tetapi mampu menjelaskan berbagai fenomena biologis yang sangat kompleks.

Luasnya Fenomena yang Dijelaskan.

Teori yang baik memiliki kemampuan untuk menjelaskan berbagai fenomena yang beragam.

Semakin luas cakupan fenomena yang dapat dijelaskan oleh suatu teori, semakin besar kemungkinannya untuk diakui sebagai teori yang kuat.

Sebagai contoh, teori relativitas Einstein tidak hanya menjelaskan fenomena gravitasi di Bumi, tetapi juga menjelaskan bagaimana benda-benda bergerak di seluruh alam semesta.

Dalam ilmu sosial, teori perilaku organisasi dapat digunakan untuk memahami dinamika di berbagai jenis organisasi, mulai dari bisnis hingga lembaga nirlaba.

Akurasi dalam Memprediksi Fenomena Baru.

Teori yang baik tidak hanya menjelaskan fenomena yang sudah diketahui, tetapi juga mampu memprediksi fenomena baru dengan akurasi tinggi.

Sebagai contoh, teori medan kuantum dalam fisika tidak hanya menjelaskan fenomena yang sudah diamati, tetapi juga memprediksi adanya partikel-partikel baru yang kemudian berhasil ditemukan melalui eksperimen.

Dalam ekonomi, teori Keynesian memprediksi bahwa intervensi pemerintah dalam perekonomian dapat mencegah depresi yang berkepanjangan, sebuah prediksi yang terbukti benar selama krisis ekonomi.

Akurasi prediksi ini adalah salah satu indikator kekuatan dan keandalan teori.

Kemampuan untuk Dibantah.

Teori yang baik harus memiliki kemampuan untuk diuji dan, jika perlu, dibantah.

Dalam istilah Karl Popper, teori yang baik harus “falsifiable” atau dapat dibuktikan salah melalui pengujian empiris.

Jika sebuah teori tidak dapat diuji atau dibantah, maka teori tersebut tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi pengetahuan ilmiah.

Sebagai contoh, teori relativitas Einstein berhasil diuji dalam berbagai eksperimen dan pengamatan astronomi, dan telah bertahan dalam berbagai pengujian ini.

Sebaliknya, jika suatu teori tidak dapat diuji secara empiris, maka teori tersebut tidak memiliki nilai ilmiah.

Apa yang Membuat Teori Berguna?

Teori tidak hanya berfungsi untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena, tetapi juga sebagai alat yang berguna dalam penelitian dan kehidupan sehari-hari.

Teori yang berguna adalah teori yang mampu memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan dapat diterapkan dalam berbagai konteks untuk memecahkan masalah.

Teori yang baik tidak hanya menjelaskan hubungan antara variabel, tetapi juga memberi tahu kita kapan hubungan tersebut dapat diharapkan muncul, mengapa hubungan tersebut terjadi, serta membuka peluang untuk ide-ide baru.

Dalam esai ini, kita akan membahas tiga aspek utama yang membuat sebuah teori berguna: moderator, mediator, dan “makna surplus”.

Moderator: Variabel yang Memberi Tahu Kapan Hubungan Dapat Diantisipasi

Salah satu elemen penting dari teori yang berguna adalah kemampuan teori tersebut untuk menjelaskan kapan hubungan antar variabel akan diamati dan kapan tidak.

Dalam hal ini, moderator adalah variabel yang memoderasi atau mengubah kekuatan atau arah hubungan antara dua variabel lainnya.

Moderators memberitahu kita di bawah kondisi apa hubungan tersebut berlaku, dan di bawah kondisi apa hubungan itu mungkin tidak berlaku.

Sebagai contoh, dalam psikologi organisasi, hubungan antara stres kerja dan produktivitas karyawan bisa dimoderasi oleh dukungan sosial.

Artinya, stres kerja mungkin berdampak negatif terhadap produktivitas hanya ketika karyawan tidak menerima dukungan sosial dari rekan kerjanya atau manajernya.

Di sisi lain, ketika dukungan sosial ada, hubungan antara stres dan produktivitas mungkin menjadi lemah atau bahkan tidak ada.

Dalam konteks ini, dukungan sosial bertindak sebagai moderator yang menjelaskan kapan dan dalam kondisi apa stres kerja mempengaruhi produktivitas.

Moderator memberikan kejelasan tambahan tentang kapan dan di mana hubungan antar variabel dapat berlaku.

Ini sangat penting dalam penelitian karena memungkinkan peneliti untuk merancang studi yang lebih tepat sasaran, dan memungkinkan pengambil keputusan untuk mengetahui kapan dan bagaimana menerapkan temuan-teoritis dalam konteks nyata.

Mediator: Variabel yang Menjelaskan Bagaimana atau Mengapa Hubungan Terjadi.

Selain moderator, mediator adalah elemen penting lain yang membuat teori berguna.

Mediator adalah variabel yang menjelaskan bagaimana atau mengapa hubungan antara dua variabel terjadi.

Dengan kata lain, mediator adalah proses yang menjembatani hubungan antara variabel-variabel tersebut.

Sebagai contoh, dalam ilmu perilaku, teori bisa menyatakan bahwa motivasi berperan sebagai mediator dalam hubungan antara pengakuan kinerja dan kepuasan kerja.

Artinya, pengakuan kinerja tidak secara langsung meningkatkan kepuasan kerja, tetapi terlebih dahulu meningkatkan motivasi karyawan, yang pada gilirannya meningkatkan kepuasan kerja.

Dalam contoh ini, motivasi adalah mediator yang menjelaskan bagaimana pengakuan kinerja berdampak pada kepuasan kerja.

Mediator memberikan wawasan lebih dalam tentang mekanisme yang bekerja di balik hubungan antar variabel.

Dengan memahami mediator, kita tidak hanya mengetahui bahwa suatu hubungan ada, tetapi juga mengapa dan bagaimana hubungan itu terjadi.

Ini penting karena membantu memperdalam pemahaman kita tentang fenomena dan memungkinkan pengembangan intervensi yang lebih efektif berdasarkan proses yang diidentifikasi.

“Surplus Meaning”: Membuka Jalan bagi Ide-Ide Baru.

Salah satu aspek yang sering kali diabaikan namun sangat penting dari teori yang berguna adalah apa yang disebut sebagai “makna surplus”.

Ini berarti bahwa teori yang baik tidak hanya memberikan penjelasan atau prediksi, tetapi juga mengarah pada ide-ide baru yang mungkin tidak akan muncul tanpa adanya teori tersebut.

Teori yang memiliki “makna surplus” memicu pemikiran kreatif dan eksplorasi lebih lanjut di luar cakupan langsung dari teori itu sendiri.

Sebagai contoh, teori evolusi telah memicu kontroversi, terutama ketika diterapkan pada manusia, tetapi tidak dapat disangkal bahwa teori ini telah menghasilkan banyak ide dan prediksi baru yang tidak mungkin muncul dari teori lain.

Teori evolusi memprediksi bagaimana spesies dapat berubah seiring waktu, dan meskipun beberapa orang mungkin menentang penerapan teori ini pada manusia, teori ini tetap menghasilkan banyak prediksi yang tidak dapat dijelaskan oleh teori lainnya.

Contoh lain dari makna surplus adalah dalam ekonomi.

Teori ekonomi Keynesian, yang awalnya difokuskan pada intervensi pemerintah untuk mengelola siklus ekonomi, telah mendorong berbagai ide tentang peran pemerintah dalam menstabilkan perekonomian dan mengurangi pengangguran.

Ide-ide ini mungkin tidak akan muncul tanpa teori Keynesian yang membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut.

Makna surplus dari teori membuat teori tersebut jauh lebih dari sekadar alat untuk menjelaskan dan memprediksi.

Ini memberikan fondasi intelektual untuk pengembangan ide-ide baru dan menciptakan peluang untuk eksplorasi lebih lanjut di bidang yang mungkin tidak terduga sebelumnya.

Oleh karena itu, teori yang berguna tidak hanya membantu kita memahami dunia saat ini, tetapi juga memicu pemikiran baru untuk memahami dunia yang akan datang.

Tingkatan Teori: Dari Paradigma hingga Generalisasi Empiris.

Teori merupakan alat intelektual yang digunakan untuk menjelaskan, memprediksi, dan memahami berbagai fenomena dalam ilmu pengetahuan, baik di bidang alam maupun sosial.

Namun, tidak semua teori memiliki cakupan atau tujuan yang sama.

Beberapa teori dirancang untuk memberikan kerangka besar yang menjelaskan seluruh bidang pengetahuan, sementara yang lain lebih fokus pada masalah-masalah spesifik yang dapat diuji secara empiris.

Dalam esai ini, kita akan membahas tiga tingkatan teori: “grand theory” atau paradigma, teori tingkat menengah, dan generalisasi empiris yang dekat dengan data.

Tingkatan Teori.

Teori dalam ilmu pengetahuan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tingkatan berdasarkan cakupan, tujuan, dan kedekatannya dengan data.

Setiap tingkat teori memiliki peran yang berbeda dalam membantu kita memahami dunia, mulai dari memberikan kerangka besar hingga menghasilkan generalisasi empiris yang dapat diuji secara langsung.

Berikut adalah tiga tingkatan utama teori:.

“Grand Theory” atau Paradigma: Kerangka Besar yang Luas.

Pada tingkat paling tinggi, kita memiliki apa yang disebut sebagai grand theory atau paradigma.

Grand theory adalah kerangka besar dan umum yang memberikan landasan teoretis untuk seluruh bidang atau sub-bidang ilmu pengetahuan.

Teori ini tidak dirancang untuk diuji secara langsung, melainkan untuk mengatur dan mengarahkan studi lebih lanjut dalam disiplin tersebut.

Paradigma memberikan pemahaman umum tentang asumsi dasar mengenai subjek yang sedang dipelajari, masalah-masalah penting yang harus ditangani, serta metode yang dapat diterima untuk mempelajari subjek tersebut.

Salah satu contoh grand theory adalah teori pilihan rasional (rational choice theory), yang mengasumsikan bahwa manusia adalah makhluk rasional yang menghitung biaya dan manfaat dari tindakan mereka, lalu bertindak sesuai dengan kepentingan terbaik mereka.

Paradigma ini memberikan kerangka untuk mempelajari perilaku manusia dalam berbagai konteks, seperti ekonomi, politik, dan sosiologi.

Contoh lain adalah teori evolusi melalui seleksi alam.

Teori ini berfungsi sebagai paradigma dalam biologi dan memberikan kerangka untuk memahami bagaimana spesies berubah dan beradaptasi seiring waktu.

Paradigma ini menjelaskan prinsip dasar evolusi tanpa harus diuji dalam satu eksperimen tunggal.

Namun, paradigma ini memberikan landasan bagi berbagai teori tingkat menengah yang lebih spesifik, yang dapat diuji secara empiris.

Paradigma memberikan peta besar tentang bagaimana kita memahami subjek tertentu, menjelaskan asumsi dasar tentang fenomena yang sedang dipelajari, serta menentukan apa yang dianggap penting untuk dipelajari dan bagaimana cara terbaik untuk mempelajarinya.

Meskipun tidak dapat diuji secara langsung, grand theory atau paradigma sangat penting dalam mengarahkan studi ilmiah selama beberapa generasi.

Teori Tingkat Menengah: Berbasis pada Paradigma.

Di tingkat berikutnya, kita menemukan teori tingkat menengah.

Teori ini lebih spesifik daripada grand theory dan dapat diuji secara empiris.

Teori tingkat menengah dihasilkan dari kerangka dan asumsi yang ditetapkan oleh paradigma.

Teori ini dirancang untuk menjelaskan fenomena yang lebih spesifik dan sering kali dapat diuji melalui eksperimen, survei, atau studi lapangan.

Contoh dari teori tingkat menengah adalah teori pencegahan (deterrence theory), yang berasal dari paradigma pilihan rasional.

Teori pencegahan berhipotesis bahwa ancaman hukuman yang berat akan mencegah orang dari melakukan tindakan kriminal, karena mereka akan mempertimbangkan risiko hukuman tersebut.

Teori ini dapat diuji melalui studi empiris yang menganalisis bagaimana kebijakan hukuman yang lebih keras mempengaruhi tingkat kejahatan di masyarakat.

Contoh lain adalah teori identitas (identity theory), yang berasal dari paradigma interaksi simbolik (symbolic interactionism).

Teori identitas menjelaskan bagaimana individu mengembangkan identitas mereka melalui interaksi dengan orang lain dan simbol-simbol sosial.

Teori ini juga dapat diuji melalui penelitian kualitatif yang mengeksplorasi bagaimana identitas individu dipengaruhi oleh lingkungan sosial mereka.

Teori tingkat menengah berfungsi untuk menjembatani antara paradigma yang lebih luas dengan generalisasi empiris yang lebih spesifik.

Teori ini memberikan wawasan yang lebih terfokus tentang bagaimana fenomena tertentu bekerja dalam kerangka paradigma yang lebih besar.

Dekat dengan Data: Generalisasi Empiris.

Pada tingkat paling spesifik, kita memiliki teori atau konsep yang sering kali disebut sebagai generalisasi empiris.

Generalisasi empiris adalah pernyataan atau temuan yang dihasilkan langsung dari data dan pengamatan empiris.

Teori-teori ini biasanya muncul dari analisis data dan memberikan penjelasan sederhana tentang hubungan yang telah diamati.

Generalisasi empiris sering kali tidak didasarkan pada asumsi teoretis yang kompleks atau kerangka besar, tetapi lebih pada pola-pola yang diamati dalam data.

Misalnya, dalam penelitian sosial, generalisasi empiris mungkin berupa temuan bahwa “orang yang berpendidikan tinggi cenderung memiliki penghasilan yang lebih tinggi.”

Pernyataan ini tidak memberikan penjelasan mendalam tentang mengapa hubungan tersebut ada, tetapi hanya mencatat pola yang diamati dalam data.

Generalisasi empiris sangat berguna karena memberikan informasi langsung yang dapat digunakan untuk membuat keputusan atau merumuskan kebijakan.

Namun, karena generalisasi ini tidak memiliki fondasi teoretis yang kuat, mereka sering kali hanya menjelaskan fenomena dalam konteks yang sangat spesifik dan mungkin tidak berlaku di luar konteks tersebut.

Membangun Blok Teori: Konsep dan Variabel.

Teori dalam ilmu sosial, seperti dalam disiplin ilmu lainnya, dibangun dari komponen-komponen dasar yang membantu kita memahami dan menjelaskan fenomena yang kompleks.

Dua blok utama dalam pembangunan teori adalah konsep dan variabel.

Keduanya bekerja sama untuk merumuskan penjelasan yang koheren tentang dunia sosial, dan mereka menjadi dasar dalam setiap upaya teoretis dan penelitian ilmiah.

Dalam esai ini, kita akan membahas apa itu konsep dan variabel, bagaimana proses konseptualisasi dan operasionalisasi berlangsung, serta pentingnya indikator dalam menjelaskan konsep.

Apa Itu Konsep Abstrak?

Sebuah konsep abstrak adalah kata yang merangkum banyak pengamatan konkret dan mewakili apa yang mereka miliki secara umum.

Dengan kata lain, konsep abstrak adalah kata atau istilah yang digunakan untuk menyimpulkan berbagai aspek dari fenomena yang kita amati, dan menggabungkan ciri-ciri yang mereka miliki bersama dalam satu istilah.

Sebagai contoh, konsep “demokrasi” mengacu pada bentuk pemerintahan tertentu dengan karakteristik tertentu, seperti pemungutan suara oleh rakyat yang diperintah, kebebasan berpendapat, dan adanya sistem hukum yang berlaku adil.

Konsep ini merangkum banyak ciri yang berbeda tetapi terikat dalam prinsip umum pemerintahan oleh rakyat.

Contoh lain adalah “anjing.” Konsep ini mengacu pada kategori hewan tertentu dengan serangkaian karakteristik yang dapat dijelaskan, seperti memiliki empat kaki, berbulu, menggonggong (biasanya), dan memiliki ekor (biasanya).

Istilah “anjing” merangkum karakteristik yang umumnya dimiliki oleh semua hewan yang termasuk dalam kategori ini.

Dengan demikian, konsep abstrak membantu kita dalam merangkum pengamatan-pengamatan konkret dan mengklasifikasikan fenomena dalam kategori yang lebih luas dan lebih mudah dipahami.

Konsep dalam Ilmu Sosial.

Dalam ilmu sosial, konsep digunakan untuk menyimpulkan serangkaian perilaku atau kualitas tertentu yang diamati, dan mencoba memindahkannya ke tingkat abstraksi yang lebih tinggi.

Konsep-konsep ini merangkum berbagai dimensi sosial yang berbeda dan sering kali membantu dalam memahami dan menjelaskan fenomena yang lebih kompleks.

Beberapa contoh konsep dalam ilmu sosial adalah harga diri, altruisme, kelas sosial, prasangka, dan kompleksitas organisasi.

Misalnya, harga diri merangkum kualitas persepsi individu terhadap nilai diri mereka sendiri, sementara prasangka merujuk pada serangkaian sikap negatif yang dimiliki seseorang terhadap kelompok lain.

Selain itu, dalam ilmu ekonomi, produk domestik bruto (PDB) adalah konsep abstrak yang merangkum total nilai ekonomi dari semua barang dan jasa yang diproduksi di suatu negara dalam periode waktu tertentu.

Konsep-konsep ini membantu kita dalam mempelajari perilaku dan dinamika masyarakat dengan cara yang lebih terstruktur.

Proses Konseptualisasi.

Konseptualisasi adalah proses di mana kita menentukan apa yang kita maksud dengan suatu istilah.

Konseptualisasi adalah langkah penting dalam pengembangan teori karena memberikan definisi yang jelas dan terukur tentang apa yang akan dipelajari.

Tanpa proses konseptualisasi yang tepat, kita mungkin akan berbicara tentang hal yang sama tetapi dengan pengertian yang berbeda.

Misalnya, mari kita ambil konsep “harga diri.

” Untuk dapat mengukur harga diri, kita harus terlebih dahulu menentukan apa yang dimaksud dengan istilah tersebut.

Apakah harga diri mengacu pada rasa percaya diri seseorang dalam interaksi sosial, atau apakah itu mencakup evaluasi keseluruhan terhadap nilai diri mereka sendiri? Konseptualisasi yang jelas membantu kita menentukan batasan konsep dan bagaimana kita akan mengukurnya.

Variabel, Konstanta, dan Atribut.

Dalam penelitian ilmiah, istilah variabel mengacu pada konsep yang dapat mengambil lebih dari satu nilai.

Dengan kata lain, variabel adalah konsep yang bisa bervariasi antara individu atau situasi yang berbeda.

Sebagai contoh, jenis kelamin adalah variabel karena dapat memiliki nilai yang berbeda, seperti laki-laki, perempuan, atau non-biner.

Pendapatan juga merupakan variabel karena jumlah pendapatan seseorang dapat berbeda-beda.

Sebaliknya, konstanta adalah konsep yang hanya memiliki satu nilai dalam konteks tertentu.

Misalnya, jika kita meneliti jenis kelamin di sebuah universitas khusus perempuan seperti Mills College, maka jenis kelamin bisa dianggap sebagai konstanta di antara mahasiswa sarjana di sana, karena semuanya perempuan.

Atribut adalah nilai khusus dari suatu variabel dalam suatu kasus tertentu.

Sebagai contoh, dalam variabel jenis kelamin, nilai atribut untuk seorang individu bisa “laki-laki,” “perempuan,” atau “non-biner.” Atribut membantu kita mengidentifikasi nilai spesifik yang terkait dengan variabel dalam setiap kasus yang diteliti.

Apa Itu Operasionalisasi?

Operasionalisasi adalah proses “mengkonkretkan” abstraksi atau membuat konsep yang abstrak menjadi sesuatu yang dapat diukur secara empiris.

Operasionalisasi melibatkan langkah-langkah spesifik untuk mengidentifikasi nilai kasus pada variabel tertentu.

Sebagai contoh, jika kita ingin mengukur “harga diri,” kita harus menentukan bagaimana kita akan mengukur konsep tersebut dalam kenyataan.

Apakah kita akan menggunakan survei? Jika demikian, pertanyaan apa yang harus kita tanyakan untuk mengukur harga diri? Proses ini disebut sebagai operasionalisasi, karena kita mengambil konsep abstrak (harga diri) dan mengubahnya menjadi sesuatu yang dapat diukur (misalnya, skor pada survei harga diri).

Proses ini penting karena tanpa operasionalisasi yang baik, kita tidak dapat melakukan pengukuran yang valid atau andal terhadap konsep-konsep yang sedang kita teliti.

Konsep, Variabel, dan Indikator: Contoh Harga Diri.

Untuk lebih memahami hubungan antara konsep, variabel, dan indikator, mari kita ambil harga diri sebagai contoh:.

Konsep: Definisi harga diri, yaitu persepsi individu tentang nilai diri mereka sendiri.

Variabel: Harga diri yang dilaporkan sendiri oleh individu melalui survei.

Indikator: Sepuluh item yang membentuk Skala Harga Diri Rosenberg, yang mengukur seberapa positif atau negatif perasaan individu terhadap diri mereka sendiri, bersama dengan kategori jawaban untuk setiap item.

Atribut: Skor spesifik yang diperoleh individu pada skala tersebut.

Dalam kasus ini, konsep abstrak “harga diri” dioperasionalisasi melalui penggunaan survei yang berisi pertanyaan-pertanyaan spesifik yang dirancang untuk mengukur persepsi individu terhadap diri mereka sendiri.

Jawaban individu pada survei tersebut kemudian menghasilkan skor, yang menjadi indikator atau ukuran konkret dari variabel harga diri.

Proposisi dalam Teori Sosial: Menjelajahi Hipotesis dan Generalisasi Empiris.

Dalam teori sosial, proposisi berfungsi sebagai “mortar” yang mengikat konsep-konsep dan variabel-variabel menjadi kerangka yang koheren.

Proposisi adalah pernyataan mengenai hubungan atau fakta tentang satu atau lebih variabel.

Proposisi adalah dasar dari pengembangan teori, karena melalui proposisi inilah peneliti dapat merumuskan hipotesis dan membuat generalisasi empiris berdasarkan pengamatan.

Dalam esai ini, kita akan mengeksplorasi dua jenis proposisi dalam ilmu sosial, perbedaan antara proposisi univariat dan bivariat, serta proses pengembangan dan perubahan teori.

Contoh lainnya mengenai hierarki teori adalah sebagai berikut:.

Levels of Evolutionary Analysis dalam psikologi evolusioner.

General Evolutionary Theory:.

Teori evolusi secara umum diwakili oleh Evolution by Natural Selection (Evolusi melalui seleksi alam).

Ini adalah level tertinggi dalam hierarki dan menjadi dasar bagi teori-teori evolusioner yang lebih spesifik.

Middle-Level Evolutionary Theories:.

Ini adalah teori evolusi tingkat menengah yang menjembatani teori evolusi umum dan hipotesis evolusi spesifik.

Contoh teori di tingkat ini adalah:.

Theory of Parasite-Host Coevolution (Teori ko-evolusi parasit-inang).

Theory of Parental Investment and Sexual Selection (Teori investasi orang tua dan seleksi seksual).

Theory of Reciprocal Altruism (Teori altruisme timbal balik).

Specific Evolutionary Hypotheses:.

Setiap teori tingkat menengah menghasilkan hipotesis spesifik mengenai perilaku atau mekanisme psikologis yang mungkin berevolusi.

Contohnya:.

Hipotesis 1: Dalam spesies di mana jenis kelamin berbeda dalam investasi orang tua, jenis kelamin yang lebih banyak berinvestasi akan lebih selektif dalam memilih pasangan.

Hipotesis 2: Di mana laki-laki terkadang memberikan sumber daya untuk keturunan, perempuan akan memilih pasangan berdasarkan kemampuan dan kesediaan mereka untuk memberikan sumber daya.

Hipotesis 3: Anggota jenis kelamin yang lebih sedikit berinvestasi dalam keturunan akan lebih kompetitif untuk akses kawin dengan jenis kelamin yang lebih banyak berinvestasi.

Specific Predictions Derived from Hypotheses:.

Dari hipotesis-hipotesis ini, dibuat prediksi-prediksi spesifik yang bisa diuji.

Misalnya:.

Prediksi 1: Perempuan telah berevolusi dengan preferensi untuk pria yang memiliki status tinggi.

Prediksi 2: Perempuan menunjukkan preferensi untuk pria yang menunjukkan tanda-tanda kesediaan berinvestasi pada mereka dan anak-anak mereka.

Prediksi 3: Perempuan akan menceraikan pria yang gagal memberikan sumber daya yang diharapkan jika mereka bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik di “pasar kawin.”.

Hal ini menunjukkan bagaimana teori evolusi diterapkan dalam psikologi evolusioner untuk mengembangkan hipotesis spesifik tentang perilaku manusia, dan bagaimana prediksi yang dapat diuji dihasilkan dari hipotesis ini.

Proposisi dalam Ilmu Sosial.

Proposisi adalah pernyataan faktual yang menghubungkan satu atau lebih variabel, yang memberikan dasar bagi pengembangan teori dan penelitian ilmiah.

Dalam ilmu sosial, ada dua jenis proposisi yang umum digunakan:.

Hipotesis: Pernyataan tentang Temuan atau Hubungan yang Diharapkan.

Hipotesis adalah pernyataan mengenai temuan atau hubungan yang diharapkan, namun belum didukung oleh bukti empiris.

Dengan kata lain, hipotesis adalah proposisi yang masih bersifat prediktif dan perlu diuji melalui penelitian.

Hipotesis merumuskan apa yang peneliti harapkan untuk ditemukan berdasarkan teori atau pengamatan sebelumnya.

Contoh hipotesis dalam ilmu sosial adalah: “Mahasiswa di kampus utara lebih mendukung aksi afirmatif daripada mahasiswa di kampus selatan.” Ini adalah pernyataan prediktif tentang hubungan antara lokasi geografis dan sikap terhadap aksi afirmatif, yang belum diuji secara empiris.

Generalisasi Empiris: Pernyataan tentang Temuan yang Sudah Diamati.

Sebaliknya, generalisasi empiris adalah pernyataan yang melaporkan temuan atau hubungan yang telah diamati.

Generalisasi empiris didasarkan pada data empiris yang dikumpulkan dari penelitian, dan berfungsi sebagai laporan tentang hubungan antara variabel yang telah diverifikasi.

Contoh generalisasi empiris adalah: “Sebagian besar mahasiswa di kampus Madison mendukung beberapa bentuk aksi afirmatif.” Ini adalah pernyataan faktual berdasarkan pengamatan atau data survei yang dikumpulkan dari mahasiswa di kampus tersebut.

Proposisi Univariat dan Bivariat.

Proposisi dalam ilmu sosial dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan jumlah variabel yang terlibat: proposisi univariat dan proposisi bivariat.

Proposisi Univariat.

Proposisi univariat melibatkan hanya satu variabel.

Proposisi ini sering kali berfokus pada distribusi atau preferensi populasi terhadap satu konsep atau fenomena.

Contoh proposisi univariat adalah: “Mayoritas orang Amerika mendukung hukuman mati.” Dalam pernyataan ini, hanya ada satu variabel yang sedang diamati, yaitu dukungan terhadap hukuman mati.

Proposisi Bivariat.

Proposisi bivariat menyatakan hubungan (diharapkan atau diamati) antara dua variabel.

Proposisi ini menunjukkan bahwa perubahan pada satu variabel terkait dengan perubahan pada variabel lainnya.

Proposisi bivariat sering kali digunakan dalam hipotesis yang menghubungkan dua konsep yang berbeda.

Contoh proposisi bivariat adalah: “Voters in states that do not have the death penalty are more likely to oppose it than voters in states that do have the death penalty.” Di sini, ada dua variabel: status hukuman mati di suatu negara bagian dan sikap terhadap hukuman mati.

Proposisi ini menyatakan bahwa perbedaan dalam status hukuman mati terkait dengan perbedaan dalam sikap publik terhadapnya.

Bagaimana Teori Berkembang dan Berubah?.

Teori dalam ilmu sosial tidak statis; mereka terus berkembang seiring dengan munculnya bukti baru, tantangan baru, dan temuan empiris yang diverifikasi.

Proses pengembangan teori melibatkan beberapa langkah penting yang memungkinkan teori untuk disesuaikan atau bahkan diubah sepenuhnya berdasarkan temuan-temuan baru.

Proses Pengembangan Teori.

Pengembangan teori mengikuti proses yang melibatkan pengujian empiris dan penyesuaian berdasarkan hasil pengujian tersebut.

Ada beberapa langkah penting dalam proses ini:.

Pengembangan Teori dalam Paradigma.

Teori biasanya dikembangkan dalam kerangka paradigma yang lebih besar.

Paradigma menyediakan kerangka umum yang mencakup asumsi dasar tentang dunia sosial, masalah apa yang penting untuk dipelajari, dan metode yang dapat diterima untuk penelitian.

Teori tingkat menengah muncul dari paradigma ini dan bertujuan untuk menjelaskan aspek-aspek spesifik dari fenomena sosial.

Pengujian Empiris.

Setelah teori dikembangkan, langkah berikutnya adalah pengujian empiris melalui derivasi hipotesis dan pelaksanaan penelitian.

Hipotesis yang berasal dari teori diuji menggunakan data yang dikumpulkan melalui eksperimen, survei, atau metode penelitian lainnya.

Dalam tahap ini, hipotesis-hipotesis akan dikonfirmasi atau tidak dikonfirmasi berdasarkan hasil penelitian.

Penyesuaian Teori Berdasarkan Temuan.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, teori dapat disesuaikan.

Misalnya, jika hipotesis tertentu tidak didukung oleh bukti, peneliti dapat memperkenalkan variabel moderator yang memengaruhi hubungan antar variabel dalam teori.

Sebagai contoh, teori pencegahan dalam ilmu sosial menyatakan bahwa ancaman hukuman dapat mencegah kejahatan, tetapi bukti menunjukkan bahwa efek ini bergantung pada variabel moderator seperti persepsi individu terhadap hukuman atau lingkungan sosial di mana mereka berada.

Eksperimen Kritis untuk Mempertimbangkan Teori yang Berbeda.

Ketika ada beberapa teori dalam satu paradigma atau di antara paradigma yang berbeda, peneliti dapat melakukan “eksperimen kritis” untuk menilai teori mana yang lebih baik menjelaskan fenomena yang diamati.

Eksperimen ini dirancang untuk membandingkan dua teori secara langsung dan menguji hipotesis yang berasal dari masing-masing teori.

Replikasi dan Perluasan.

Pengembangan teori yang solid memerlukan proses replikasi dan perluasan.

Ini berarti teori yang diusulkan harus diuji kembali dalam konteks yang berbeda untuk memastikan validitas dan reliabilitasnya.

Replikasi memberikan kepastian bahwa hasil penelitian sebelumnya bukan hanya kebetulan, sementara perluasan membantu memahami apakah teori tersebut dapat diterapkan dalam kondisi yang lebih luas atau berbeda.

Contoh dari Pengembangan Teori: Eksperimen Pencegahan.

Sebagai contoh dalam pengembangan teori, teori pencegahan menyatakan bahwa ancaman hukuman dapat mencegah orang melakukan kejahatan.

Melalui eksperimen dan pengujian empiris, ditemukan bahwa pencegahan tidak selalu bekerja sesuai yang diharapkan, terutama jika pelaku kriminal tidak merasakan ancaman hukuman secara nyata atau tidak percaya bahwa mereka akan tertangkap.

Peneliti kemudian menyesuaikan teori ini dengan memasukkan variabel moderator seperti persepsi terhadap risiko hukuman.

Paradigma Pergeseran: Struktur Revolusi Ilmiah menurut Thomas Kuhn.

Dalam karyanya yang sangat berpengaruh, The Structure of Scientific Revolutions, Thomas Kuhn memperkenalkan konsep pergeseran paradigma yang secara mendasar mengubah cara kita memahami perkembangan ilmu pengetahuan.

Kuhn berpendapat bahwa ilmu pengetahuan tidak berkembang secara linear melalui akumulasi pengetahuan baru, tetapi melalui serangkaian perubahan revolusioner yang terjadi ketika teori-teori lama tidak lagi mampu menjelaskan fenomena yang diamati.

Pergeseran paradigma ini menggeser model atau kerangka kerja lama dengan teori baru yang lebih baik dalam menjelaskan fenomena tersebut.

Dalam esai ini, kita akan membahas tiga tahap penting dalam pergeseran paradigma yang dikemukakan oleh Kuhn: normal science (ilmu normal), krisis, dan suksesi paradigma baru, serta refleksi Kuhn mengenai konsep “kebenaran.”.

Tahapan Pergeseran Paradigma.

Kuhn mengidentifikasi tiga tahap utama dalam proses pergeseran paradigma: tahap normal science, tahap krisis, dan tahap suksesi paradigma baru.

Setiap tahap ini memainkan peran penting dalam mengubah cara komunitas ilmiah memahami dan menerapkan teori-teori mereka.

Tahap Normal Science.

Pada tahap normal science, ilmuwan bekerja dalam paradigma yang diterima secara luas dan menggunakan teori serta metode yang sudah mapan untuk memecahkan masalah ilmiah.

Paradigma ini menyediakan kerangka kerja atau model yang diikuti oleh komunitas ilmiah, dan masalah yang ditangani biasanya berada dalam batas-batas yang ditentukan oleh paradigma tersebut.

Selama periode ilmu normal, peneliti berfokus pada pemecahan teka-teki atau puzzle solving, yaitu menerapkan teori yang ada untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan spesifik tanpa mempertanyakan paradigma yang mendasarinya.

Sebagai contoh, dalam fisika klasik, teori Newton menjadi paradigma dominan selama berabad-abad.

Para ilmuwan menggunakan hukum-hukum Newton untuk menjelaskan berbagai fenomena fisik, dari gerak planet hingga mekanika dasar.

Selama periode ini, pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul dalam disiplin fisika dijawab dengan menggunakan prinsip-prinsip Newtonian tanpa mempertanyakan validitas paradigma itu sendiri.

Tahap Krisis.

Seiring berjalannya waktu, teori-teori dalam paradigma lama mulai mengalami masalah.

Paradigma yang ada tidak lagi dapat menjelaskan semua fenomena yang diamati, dan semakin banyak anomali muncul.

Anomali ini adalah temuan-temuan yang tidak dapat dijelaskan oleh teori yang ada dan sering kali mendorong ilmuwan untuk mempertimbangkan teori baru yang dapat menjelaskan fenomena tersebut.

Dalam tahap krisis, teori-teori baru muncul yang menawarkan penjelasan yang lebih baik daripada teori-teori lama.

Teori-teori baru ini mampu memprediksi fenomena dengan lebih akurat atau memberikan penjelasan yang lebih komprehensif tentang anomali yang tidak bisa dijelaskan oleh paradigma lama.

Namun, meskipun teori baru tampak lebih baik, itu tidak berarti secara otomatis teori baru akan diterima oleh komunitas ilmiah.

Ada beberapa alasan mengapa teori baru tidak segera menggantikan teori lama:.

Komitmen emosional dan ego: Para ilmuwan yang telah menghabiskan karier mereka untuk mendalami paradigma lama mungkin memiliki keterikatan emosional atau ego yang kuat terhadap teori yang mereka pertahankan.

Menerima teori baru berarti mengakui bahwa karier atau penelitian mereka sebelumnya mungkin didasarkan pada dasar yang salah.

Dukungan sosial, norma, dan sanksi: Komunitas ilmiah adalah lingkungan sosial yang diatur oleh norma-norma tertentu.

Ketika teori baru muncul, para pendukungnya sering menghadapi perlawanan dari ilmuwan yang telah lama berada dalam paradigma lama.

Norma-norma sosial dan sanksi dapat mempengaruhi penerimaan teori baru.

Misalnya, hasil-hasil penelitian yang mendukung teori baru dapat ditolak untuk dipublikasikan atau diabaikan oleh jurnal-jurnal ilmiah yang mapan.

Ridicule atau penolakan: Dalam beberapa kasus, para pendukung teori baru dapat dicemooh atau diabaikan oleh komunitas ilmiah.

Contohnya adalah istilah “Tolmaniacs,” yang merujuk pada pengikut teori Edward Tolman dalam ilmu perilaku.

Teori-teori Tolman awalnya ditolak oleh ilmuwan yang mendukung teori Hull, meskipun akhirnya teori Tolman terbukti lebih tepat.

Meskipun demikian, krisis ini penting dalam mengarahkan ilmuwan untuk mempertimbangkan solusi alternatif dan membuka jalan bagi perubahan paradigma.

Tahap Suksesi Paradigma Baru.

Pada akhirnya, ketika jumlah data yang mendukung teori baru semakin banyak dan model lama menjadi tidak dapat dipertahankan, teori baru menggantikan paradigma lama.

Ini disebut sebagai tahap suksesi, di mana paradigma baru akhirnya diterima oleh komunitas ilmiah dan paradigma lama ditinggalkan.

Perubahan ini tidak terjadi secara instan, tetapi secara bertahap seiring dengan terkumpulnya lebih banyak bukti yang mendukung teori baru.

Sebagai contoh, dalam kasus pergeseran dari fisika Newtonian ke fisika relativitas Einstein, perubahan paradigma ini terjadi setelah banyak bukti empiris yang mendukung relativitas umum ditemukan.

Meskipun fisika Newton bekerja dengan baik untuk fenomena-fenomena dalam skala kecil dan kecepatan rendah, relativitas Einstein lebih unggul dalam menjelaskan fenomena pada skala kosmik dan kecepatan tinggi, seperti cahaya yang membelok di sekitar benda besar.

Kuhn menekankan bahwa pergeseran paradigma adalah revolusi ilmiah yang mengubah cara pandang komunitas ilmiah terhadap dunia, dan bukan sekadar penambahan pengetahuan baru.

Teori baru bukanlah peningkatan bertahap dari teori lama, tetapi perubahan mendasar dalam cara kita memahami dunia.

Tentang “Kebenaran”.

Kuhn juga menantang gagasan bahwa ilmu pengetahuan bergerak menuju “kebenaran” absolut.

Menurutnya, proses pengembangan teori bukanlah usaha untuk menemukan kebenaran mutlak, tetapi merupakan pendekatan progresif menuju pemahaman yang lebih baik.

Dengan kata lain, tidak ada teori yang benar secara mutlak, melainkan teori-teori tersebut hanya lebih atau kurang berguna dalam menjelaskan fenomena tertentu pada waktu tertentu.

Teori-teori yang kita gunakan dalam ilmu pengetahuan adalah alat yang membantu kita memahami dunia, tetapi teori tersebut bukanlah cerminan sempurna dari realitas.

Setiap teori memiliki keterbatasan dan mungkin tidak mampu menjelaskan semua fenomena yang kita amati.

Dalam pandangan Kuhn, ilmu pengetahuan tidak bergerak menuju satu “kebenaran” yang tetap, melainkan berupaya untuk mengembangkan teori-teori yang semakin berguna dan sesuai dengan data empiris yang terus berkembang.

Sebagai contoh, teori gravitasi Newton sangat berguna dalam menjelaskan gerakan benda di Bumi dan tata surya, tetapi teori ini tidak dapat menjelaskan fenomena pada skala kosmik, seperti yang dijelaskan oleh teori relativitas Einstein.

Meskipun teori Einstein lebih unggul dalam beberapa konteks, bukan berarti teori Newton sepenuhnya salah—teori tersebut masih sangat berguna dalam konteks tertentu.

Logika Penemuan Ilmiah

Karl R. Popper

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Logika Penemuan Ilmiah oleh Karl R. Popper.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

LOGIKA PENEMUAN ILMIAH

The Logic if Scientific Discovery

Penulis: Karl R. Popper

Penerjemah: Saut Pasaribu & Aji Sastrowardoyo

Cetakan pertama, Juni 2008

Penerbit: PUSTAKA PELAJAR

ISBN: 978-602-8055-66-6

(hlm.vii)

PENGANTAR
EDISI BAHASA INGGRIS, 1958

Para analis bahasa percaya bahwa tak ada persoalan-persoalan filosofis yang sejati (genuine), atau bahwa persoalan-persoalan filsafat, sekiranya ada, adalah persoalan-persoalan pemakaian linguistic atau makna kata-kata. Akan tetapi, saya percaya bahwa sedikitnya ada satu persoalan filosofis yang menarik bagi semua orang yang berpikir. Persoalan itu ialah persoalan kosmologi: persoalan pemahaman dunia – termasuk diri kita, dan pengetahuan kita, sebagai bagian dari dunia.

(hlm.viii)

Para filsuf sama bebasnya dengan orang lain untuk menggunakan metode apa saja dalam menyelidiki kebenaran. Tak ada metode yang khas bagi filsafat.

Persoalan utama epistemologi senentiasa dan tetap masih seputar persoalan pertumbuhan pengetahuan. Dan pertumbuhan pengetahuan dapat dipelajari paling baik dengan mempelajari pertumbuhan pengetahuan ilmiah.

Maksudnya,, manakala kita mencoba mengajukan suatu solusi atas sebuah persoalan, kita harus mencoba semampu kita menjatuhkan (overthrow) solusi kita, ketimbang mempertahankannya (defend).

(hlm.x)

Tak diragukan lagi Tuhan berbicara terutama kepada diriNya sendiri karena Ia tidak mempunyai suatu apa pun yang pantas untuk diajak bicara. Namun para filsuf harus mengetahui bahwa mereka tidak lebih ilahiah daripada orang lain.

Satu dari alasan tersebut adalah keyakinan yang tepat bahwa paradoksparadoks logis, seperti paradoks si pendusta (‘sekarang saya sedang berbohong’) atau paradoks-paradoks yang ditemukan oleh Russell, Richard, dan filsuf lainnya, membutuhkan metode analisis linguistik untuk pemecahannya, bersama pembedaan yang terkenal antara ungkapan-ungkapan linguistik yang bermakna dan yang tak bermakna. Keyakinan yang tepat ini kemudian digabungkan dengan keyakinan yang keliru bahwa persoalan-persoalan tradisional filsafatmuncul dari usaha memecahkan paradoks-paradoks filosofis yang strukturnya analog dengan paradoks-paradoks logis itu, sehingga pembedaan antara pembicaraan yang bermakna (meaningful talk) dengan yang tak bermakna (meaningless) pastilah hal yang sangat penting juga bagi filsafat.

                                                                                                                                   (hlm.xv)

Bahasa model yang kedua bekerja hanya selama kita tidak menambahkan padanya peralatan pembuktian teorema-teorema aritmetika yang biasa—misalnya, teorema Euklides bahwa taka da bilangan prima (prime number) yang terbesar, atau bahkan prinsip bahwa setiap bilangan mempunyai suatu pengganti (successor).

(hlm.xviii)

Namun para filsuf tidak boleh menjadi spesialis. Bagi saya sendiri, saya tertarik pada ilmu dan filsafat hanya karena saya ingin mempelajari sesuatu tentang teka-teki dunia tempat kita hidup, dan teka-teki pengetahuan manusia mengenai dunia itu.

(hlm.3)

BAGIAN I

Pengantar, Logika Ilmu

BAB SATU

SURVEI TERHADAP BEBERAPA PERSOALAN FUNDAMENTAL

SEORANG ILMUWAN, entah ia seorang teoritikus atau seorang eksperimenter, mengemukakan pernyataan-pernyataan, atau system-sistem pernyataan, dan mengujinya langkah demi langkah.

1. Persoalan Induksi

Menurut pandangan yang diterima secara luas—yang akan ditentang dalam buku ini—ilmu-ilmu empiris dapat dicirikan lewat fakta bahwa ia menggunakan apa yang mereka sebut ‘metode induktif.

(hlm.4)

Ia bisa disebut suatu penyimpulan (inference) ‘induktif’ jika ia berasal dari pernyataan-pernyataan tunggal’ (kadang-kadang juga disebut pernyataan-pernyataan ‘partikular’), seperti laporan mengenai hasil pengamatan atau eksperimen, menjadi pernyataan-pernyataan universal, seperti hipotesis-hipotesis atau teori-teori.

Tak peduli seberapa banyak contoh angsa putih yang bisa kita amati, ini tidak membenarkan kesimpulan semua angsa putih.

Suatu laporan pengalaman—dari pengalaman atau hasil eksperimen—pertama-pertama hanya dapat menjadi suatu pernyataan tunggal dan bukan pernyataan universal.

(hlm.10)

2. Penghapusan psikologisme

Dengan cara yang sama Einstein berbicara tentang’… pencarian hukum-hukum yang sangat universal… yang dari hukum-hukum tersebut suatu gambar dunia dapat diperoleh melalui deduksi belaka. Tak ada jalan setapak logis’, katanya, ‘yang membawa kepada hal ini… hukum-hukum. Hukum-hukum itu hanya dapat dicapai melalui intuisi, yang didasarkan pada sesuatu semacam cinta intelektual (‘Einfuhlung‘) pada objek- objek pengalaman’.

(hlm.11)

3. Pengujian Deduktif terhadap Teori-Teori

Jika suka, kita dapat membedakan empat jalur yang berbeda yang dapat ditempuh bagi pengujian sebuah teori. Pertama perbandingan logis kesimpulan-kesimpulan di antara mereka, dengan inilah konsistensi internal sistemitu diuji. Kedua, penyelidikan pada bentuk logis teori itu, dengan maksud untuk menentukan apakah ia mempunyai ciri teori empiris atau ilmiah, atau apakah ia, misalnya, bersifat tautologis. Ketiga, perbandingan dengan teori-teori lain, terutama dengan tujuan untuk menentukan apakah teori yang akan membentuk suatu kemajuan ilmiah harus bertahan menghadapi beraneka macam pengujian kita. Dan akhirnya, pengujian teori melalui penerapan empiris kesimpulan-kesimpulan yang dapat diperoleh darinya.

(hlm.12)

Harus diperhatikan, suatu putusan positif hanya dapat mendukung teori itu untuk sementara waktu, kerena putusan-putusan negatif berikutnya selalu mungkin menjatuhkannya. Selama sebuah teori mampu bertahan menghadapi ujian-ujian yang terperinci dan keras, dan iya tidak digantikan oleh teori lain dalam perjalanan gerak maju ilmiah, kita dapat mengatakan bahwa ia telah ‘membuktikan keberaniannya’ (mettle), atau ia telah ‘dikoroborasikan’ (dikuatkan).

(hlm.13)

4. Persoalan Demarkasi

Jawaban saya atas keberatan ini ialah bahwa alasan utama saya menolak logika induktif ialah bahwa ia tidak memberikan tanda pembeda yang cocok bagi karakteristik suatu system teoretis yang bersifat empiris dan non-metafisik; atau dengan kata lain, bahwa ia tidak memberikan ‘kriteria demarkasi’ yang cocok.

Persoalan pencarian kriteria yang akan memungkinkan kita membedakan antara ilmu-ilmu empiris, di satu sisi, dengan matematika serta logika serta system ‘metafisik’, di sisi lain, saya sebut persoalan demarkasi.

Mengenai kedua masalah ini –sumber dari hampir semua persoalan teori pengetahuan—saya kira persoalan demarkasihlah yang paling fundamental.

(hlm.14)

Para positivis yang lebih tua ingin mengakui bahwa yang ilmiah atau sah, hanya konsep-konsep (atau gagasan-gagasan atau ide-ide), seperti mereka katakan,’yang berasal dari pengalaman’; konsep-konsep itu, yaitu, yang mereka percayai dapat direduksi secara logis kepada elemen-elemen pengalaman-indrawi (sense-experience) seperti sensasi-sensasi (atau data-indra), kesan-kesan, persepsi-persepsi, ingatan-ingatan visual atau pendengaran, dan sebagainya.

(hlm.15)

Bukannya menganggap bahwa tugas merekalah mengajukan suatu konvensi yang cocok, malah percaya bahwa mereka harus menemukan perbedaan, yang ada di dalam hakikat benda-benda, demikianlah sebutannya, antara ilmu empiris di satu sisi dan metafisika di sisi lain.

(hlm.20)

5. Pengalaman sebagai Metode

Namun sistem yang disebut ‘ilmu empiris’ cenderung hanya menggambarkan satu dunia: ‘dunia nyata’ atau ‘dunia pengalaman’.

Untuk membuat ide ini sedikit lebih saksama, kita bisa membedakan tiga persyaratan yang harus dipenuhi sistem teoretis empiris kita. Pertama, ia harus sintetik, supaya ia dapat menggambarkan suatu dunia yang nonkontadiktoris, yang mungkin. Kedua, ia harus memenuhi kriteria demarkasi (bdk. seksi 6 dan 21), yaitu tidak boleh bersifat metafisik, namun harus menggambarkan dunia pengalaman yang mungkin. Ketiga, ia harus merupakan sistem yang dibedakan dengan cara tertentu dari sistem lain sebagai suatu sistem yang menggambarkan dunia pengalaman kita.

Namun bagaimana sistem yang menggambarkan dunia pengalaman kita itu dibedakan? Jawabannya ialah: melalui fakta yang telah diajukan kepada ujian-ujian, dan telah bertahan menghadapi ujian-ujian.

(hlm.22)

6. Falsibialitas sebagai Kriteria Demarkasi

Pertimbangan-pertimbangan ini menunjukan bahwa bukan verifiabilitas tetapi falsifiabilitas sebuah system yang dianggap sebagai kriteria demarkasi. Dengan kata lain: saya tidak mengharuskan suatu sistem ilmiah agar ia dapat dipilih, sekali untuk selamanya, dalam arti yang positif; tetapi saya akan mengharuskan agar bentuk logisnya sedemikian rupa sehingga dapat dipilih, melalui ujian-ujian empiris, dalam arti negatif: harus ada kemungkinan bagi suatu sistem ilmiah empiris dibuktikan kesalahannya melalui pengalaman.

(hlm.24)

Karena pernyataan-pernyataan universal tidak pernah dapat diasalkan dari pernyataan-pernyataan tunggal, tetapi dapat disangkal oleh pernyataan-pernyataan tunggal.

‘arah induktif’; yakni, dari pernyataan-pernyataan tunggal menuju pernyataan-pernyataan universal.

Menurut usulan saya apa yang mencirikan metode empiris ialah caranya mengekspos kepada falsifikasi, dengan segala cara yang masuk akal, sistem itu diuji. Tujuannya bukan untuk menyelamatkan sitem-sistem yang tak dapat dipertahankan malah, sebaliknya, menyeleksi sistem yang ada dengan membandingkan mana yang terbaik, dengan cara menghadapkan mereka semua pada pertarungan yang paling sengit untuk bertahan hidup.

(hlm.27)

8. Objektivitas Ilmiah dan Keyakinan Subjektif

Ia memakai kata ‘objektif’ untuk menunjukkan bahwa pengetahuan ilmiah harus dapat dibenarkan (justifiable), bebas dari dorongan hati seseorang: suatu pembenaran ‘objektif’ jika pada prinsipnya ia dapat diuji dan dimengerti oleh siapa pun.

(hlm.29)

Hanya dengan pengulangan itulah kita dapat meyakinkan diri bahwa kita tidak berhubungan dengan suatu ‘koinsidensi’ yang terasing belaka, melainkan dengan peristiwa-peristiwa yang pada prinsipnya dapat diuji secara inter-subjektif, karena keteraturan dan kemungkinannya dapat direproduksi.

(hlm.31)

Oleh karena itu, jika pertanyaan-pertanyaan dasar pada gilirannya dapat diuji secara inter-subjektif maka tidak boleh ada pernyataan-pernyataan pamungkas di dalam ilmu: tidak boleh ada pernyataan-pernyataan di dalam ilmu yang tidak dapat diuji dan oleh karena itu taka da pernyataan yang pada prinsipya tidak bisa dibuktikan kesalahannya, dengan memfalsifikasi bebereapa kesimpulan yang dapat disimpulkan darinya.

Karena saya tidak menuntut agar setiap pernyataan ilmiah dalam kenyataannya harus diuji dulu sebelum diterima. Saya hanya menuntut bahwa setiap pernyataan tersebut harus mampu (capable) diuji; atau dengan kata lain, saya menolak menerima pandangan bahwa ada pernyataan-pernyataan di dalam ilmu yang harus kita terima dengan ikhlas sebagai benar hanya karena kelihatannya tidak mungkin mengujinya, karena alasan-alasan logis.

(hlm.37)

BAB DUA

SEPUTAR PERSOALAN TEORI METODE ILMIAH

10. Pendekatan Naturalistik kepada Teori Metode

Saya tidak menganggap bahwa para positivis mungkin akan menanggapi dengan berbeda usaha saya sendiri menganalisis ‘pengalaman’ yang saya tafsirkan sebagai ilmu empiris. Karena bagi mereka yang ada hanya dua jenis pernyataan tautologis dan pernyataan empiris.

(hlm.39)

II. Aturan-aturan Metodologis sebagai Konvensi-konvensi

  • Permainan ilmu, pada prinsipnya, tanpa akhir. Orang yang memutuskan bahwa pada suatu ketika pernyataan-pernyataan ilmiah tidak memerlukan pengujian lebih lanjut, dan dapat dianggap diverifikasi secara tuntas, berarti ia telah mengundurkan diri dari permainan itu.
  • Sekali sebuah hipotesis telah diajukan dan diuji, dan telah membuktikan keberaniannya (mettle), ia tidak boleh dibiarkan mengundurkan diri tanpa alas an yang tepat’.

(hlm.45)

BAGIAN II

Beberapa Komponen Struktural
Teori Pengalaman

BAB TIGA

TEORI-TEORI

ILMU-ILMU EMPIRIS adalah sistem-sistem teori. Oleh karena itu lohika pengetahuan ilmiah dapat dideskripsikan sebagai sebuah teori mengenai teori-teori.

Teori-teori ilmiah adalah pernyataan-pernyataan universal. Seperti semua representasi linguistic, teori-teori ilmiah adalah sistem-sistem tanda atau symbol.

Teori-teori adalah jaring-jaring yang dibuat untuk menangkap apa yang kita sebut ‘dunia’: untuk merasionalisasi, menjelaskan, dan menguasainya.

(hlm.47)

12. Kausalitas, Penjelasan dan Deduksi Prediksi-Prediksi

‘Prinsip kausalitas’ adalah pernyataan bahwa setiap peristiwa apa pun dapat jelaskan secara kausal—sehingga ia dapat diprediksi secara deduktif.

(hlm.49)

13. Universalitas Ketat dan Universalitas Numeris

Kita dapat membedakan dua jenis pernyataan sintesis universal: ‘universal secara ketat’ dan ‘universal secara numeris’.

(hlm.52)

14. Konsep-Konsep Universal dan Konsep-Konsep Individual

‘diktator’, ‘planet’, ‘H2O’ adalah konsep-konsep atau nama-nama universal. ‘Napoleon’, ‘bumi’, ‘Atlantik’adalah konsep-konsep atau nama-nama tunggal atau individual.

(hlm.55)

‘pasteurisasi’ juga dapat didefinisikan sebagai ‘diperlakukan menurut nasihat M. Louis Pasteur’ (atau sesuatu seperti ini), atau lainnya seperti ‘dipanaskan sampai 80 erajat dan mempertahankan suhu ini selama sepuluh menit’. Definisi pertama membuat ‘pasteurisasi’ menjadi konsep individual’; yang kedua membuatnya konsep universal.

(hlm.56)

Bukan ‘ruang dan waktu’ secara umum melainkan penentuan-penentuan individual (spasial, temporal, atau lainnya) yang didasarkan pada nama-nama diri itulah ‘prinsip-prinsip individuasi’.

(hlm.59)

15. Pernyataan Universal dan Pernyataan Eksistensial

Sebagai tambahan kepada hal ini, secara khusus saya tertarik pada pernyataan-pernyataan berbentuk ‘ada gagak hitam’, yang dapat dianggap sama artinya dengan ‘setidaknya ada satu ekor burung gagak yang berwarna hitam’.

(hlm.63)

16. sistem-sistem Teoretis

Aksioma-aksioma itu dipilih sedemikian rupa sehingga pernyataan lain yang termasuk ke dalam sistem teoretis itu dapat diperoleh dari aksioma-aksioma itu melalui transformasi-transformasi logis murni atau matematis.

Suatu sistem teoretis dapat dikatakan teraksiomatisasi jika sekumpulan pernyataan, aksioma, yang telah dirumuskan memenuhi empat persyaratan fundamental berikut ini. (a) Sistem aksioma itu harus bebas dari kontradiksi (entah itu kontradiksi dalam diri sendiri atau kontradiksi satu sama lain). Ini sama dengan tuntutan bahwa tidak setiap pernyataan yang dipilih secara sembarangan dapat disimpulkan darinya. (b) Sistem itu harus bebas, yaitu tidak boleh memuat aksioma apa pun yang dapat disimpulkan dari aksioma-aksioma lainnya. (Dengan katalain, suatu pernyataan disebut sebuah aksioma hanya jika ia tidak dapat disimpulkan di dalam bagian lain sistem itu.) Kedua syarat ini menyangkut sistem aksioma itu sendiri; mengenai hubungan sistem aksioma itu dengan bagian terbesar teori itu, aksioma-aksioma harus (c) mencukupi untuk pendeduksian semua pernyataan yang termasuk ke dalam teori yang diaksiomatisasi, dan (d) niscaya, bagi tujuan yang sama; yang berarti bahwa ia tidak boleh memuat asumsi-asumsi yang berlebih-lebihan.

17. Beberapa Kemungkinan Menafsirkan sebuah Sistem Aksioma

Aksioma-aksioma dapat dipandang (i) sebagai konvensi-konvensi, atau dapat dipandang (ii) sebagai hipotesis-hipotesis empiris atau ilmiah.

(hlm.68)

18. Level-Level Universalitas: Modus Tollens

Pernyataan-pernyataan yang ada di level tertinggi universalitas adalah aksioma-aksioma; pernyataan-pernyataan yang ada di level yang lebih rendah dapat disimpulkan darinya.

(hlm.73)

BAB EMPAT

FALSIFIABILITAS

19. Beberapa Keberatan Konvensionalis

Bagi para konvensionalis, ilmu alamiah teoritis bukanlah gambar alam melainkan hanya suatu konstruksi logis. Bukan sifat-sifat dunia yang menentuka konstruksi ini; sebaliknya, konstruksi inilah yang menentukan sifat-sifat dunia buatan (artificial world): suatu dunia konsep-konsep yang didefinisikan secara implisit oleh hokum-hukum alam yang telah kita pilih. Hanya dunia ini yang dibicarakan ilmu.

(hlm.84)

22. Falsifiabilitas dan Falsifikasi

Kita mengatakan bahwa suatu teori difalsifikasi hanya jika kita telah menerima pernyataan-pernyataan dasar yang menyangkalnya (bdk. Seksi 11, aturan 2). Syarat ini penting, namun tidak mencukupi; karena kita telah melihat bahwa kejadian-kejadian tunggal yang tidak dapat diulangi tidak berarti bagi ilmu.

(hlm.85)

Demikianlah untuk memfalsifikasi pernyataan ‘Semua burung gagak hitam’ sudah cukup dengan pernyataan yang dapat diuji secara inter-subjektif bahwa ada suatu keluarga burung gagak putih dikebun binatang New York.

(hlm.86)

23. Kejadian-Kejadian dan Peristiwa-peristiwa

Jika saya mengatakan bahwa ada suatu keluarga burung gagak putik di kebun binatang New York, maka saya mengatakan sesuatu yang pada prinsipnya dapat diuji.

(hlm.89)

Perhatikan bahwa walaupun pernyataan-pernyataan tunggal mewakili kejadian-kejadian, pernyataan-pernyataan universal tidak mewakili peristiwa-peristiwa: mereka menyisihkannya.

(hlm.94)

BAB LIMA

PERSOALAN BASIS EMPIRIS

SEKARANG kita harus mereduksi pertanyaan mengenai falsifiabilitas pernyataan-pernyataan tunggal, yang saya sebut pernyataan-pernyataan dasar. Tetapi jenis pernyataan-pernyataan tunggal apa yang merupakan pernyataan-pernyataan dasar ini? Bagaimana pernyataan-pernyataan tersebut dapat difalsifikasi? Bagi para peneliti praktis, pertanyaan-pertanyaan ini barangkali kurang menarik.

(hlm.96)

Karena bagaimana kita bisa mencapai suatu pengetahuan mengenai fakta jika tidak melalui persepsi-indrawi? Dengan berpikir saja seorang manusia tidak dapat menambah sedikit pun pengetahuannya atas dunia fakta. Demikian pulalah pengalaman perseptual harus menjadi ‘sumber pengetahuan’ satu-satunya bagi semua ilmu empiris. Oleh karena itu, semua yang kita tahu tentang dunia fakta-fakta harus dapat diungkapkan dalam bentuk pernyataan-pernyataan tentang pengalaman-pengalaman kita.

Ilmu hanyalah suatu usaha mengklasifikasi dan melukiskan pengetahuan perseptual ini, pengalaman-pengalaman langsung ini, yang kebenarannya tidak dapat kita ragukan; ia adalah penyajian sistematik keyakinan-keyakinan langsung kita.

(hlm.97)

26. Mengenai apa yang disebut ‘Kalimat-Kalimat Protokol’

Di manakah terletak korespondensi atau persesuaian antara suatu pernyataan dengan fakta atau keadaan peristiwa yang dilukiskannya?

(hlm.98)

Kalimat-kalimat diuji lewat membandingkannya dengan keadaan-keadaan pperistiwa atau dengan pengalaman-pengalaman: kita hanya dapat mengatakan bahwa ia dapat diuji hanya lewat membandingkannya dengan kalimat-kalimat lain.

(hlm.101)

27. Objektivitas Basis Empiris

Dalam pandangan saya, apa yang harus ditanyakan epistemology lebih tepatnya ialah: bagaimana kita dapat menguji pernyataan-pernyataan ilmiah melalui berbagai konsekuensi deduktifnya? Dan jenis akibat-akibat apa yang dapat kita seleksi dari tujuan ini jika ia pada gilirannya dapat diuji secara inter-subjektif?

(hlm.102)

Belum lama berselang telah dianggap bahwa logika adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan proses-proses mental dan hokum-hukumnya—hukum-hukum pikiran kita.

(hlm.103)

Hanya ada suatu cara untuk memastikan kesahihan suatu rangkaian penalaran logis. Yaitu menjadikannya dalam bentuk yang di dalamnya ia dapat diuji dengan paling mudah: kita memecahnya menjadi banyak langkah kecil, masing-masing mudah diperiksa oleh siapa saja yang telah mempelajari teknik matematis atau logis mengubah kalimat-kalimat.

(hlm.104)

Ilmu ialah’…suatu instrumen’ yang tujuannya adalah’…untuk memprediksi dari pengalaman-pengalaman langsung atau yang sudah diketahui, pengalaman-pengalaman berikutnya, dan bahkan sedapat mungkin mengendalikannya’.

(hlm.116)

30. Teori dan Eksperimen  

Apa yang memaksa sang teoretikus untuk mencari teori yang lebih baik, dalam kasus ini, hampir selalu falsifikasi eksperimental dari sebuah teori, sejauh diterima dan dikoroborasi: ia adalah, sekali lagi, hasil ujian-ujian yang dibimbing oleh teori. Contoh-contoh terkenal adalah eksperimen Michelson-Morley yang menghasilkan teori reativitas, dan falsifikasi, oleh Lummer dan Pringsheim, tentang radiasi rumus Rayleigh, Jeans, dan Wien, yang menghasilkan teori kuantum.

Bagaimana dan mengapa kita lebih suka menerima satu teori daripada teori lain?

Kita memilih teori itu yang tetap menjaga sebaik-baiknya daya asingnya dengan teori-teori lain; teori yang membuktikan sendiri, malalui seleksi alamiah, sebagai yang lebih cocok untuk bertahan hidup. Ia akan menjadi teori yang tidak hanya bertahan terhadap ujian-ujian yang paling keras sampai sekarang ini, melainkan teori yang juga dapat diuji dengan cara yang paling ketat. Sebuah teori adalah alat yang kita uji dengan cara menerapkannya, dan yang kita nilai kemampuannya lewat hasil-hasil penerapannya.

(hlm.117)

Dari suatu sudut pandang logis, pengujian sebuah teori tergantung pada pernyataan-pernyataan dasar yang penerimaan dan penolakannya, sebaliknya, tergantung pada putusan-putusan kita.

Bagi konvensionalis, penerimaan pada pernyataan-pernyataan universal diatur oleh prinsip simplisitas: ia menyeleksi sistem yang paling sederhana. Saya, sebaliknya, mengajukan bahwa hal pertama yang harus dipertimbangkan adalah kerasnya ujian-ujian itu.

Dan saya memandang bahwa apa yang pada akhirnya memutuskan nasib sebuah teori ialah hasil suatu pengujian, yaitu suatu persetujuan tentang pernyataan-pernyataan dasar.

(hlm.118)

Pembedaan yang penting ini, antara suatu pembenaran dengan putusan—suatu putusan yang dicapai sesuai dengan prosedur yang diatur oleh aturan-aturan dapat dijelaskan, barangkali, dengan bantuan suatu analogi: prosedur lama pengadilan oleh juri.

Putusan pidana (vere dictum = bicara sesungguhnya), seperti pelaku eksperimen, adalah jawaban terhadap fakta (quid facti?) yang harus diajukan sang pidana dalam bentuk yang paling tajam, dan yang paling pasti, Tetapi pertanyaan apa yang diajukan, dan bagaimana ia diajukan, akan sangat banyak tergantung pada situasi hukum, yaitu pada sistem hukum pidana yang berlaku (dapat disamakan dengan suatu sistem teori- teori). Dengan putusannya pidana menerima, melalui persetujuan, suatu pernyataan tentang kejadian faktual—suatu pernyataan dasar. Signifikansi putusan ini terletak dalam fakta bahwa darinya, bersama pernyataan-pernyataan universal sistem itu (hukum pidana) akibat-akibat tertentu dapat disimpulkan.

(hlm.119)

Berbeda dengan putusan sang pidana, keputusan sang hakim ialah ‘logis’; keputusan itu memerlukan dan memuat, suatu pembenaran. Sang hakim mencoba membenarkannya melalui, atau menyimpulkannya secara logis dari, pernyataan-pernyataan lain: pernyataan-pernyataan sistem hukum, digabungkan dengan putusan yang memainkan peran dalam syarat-syarat awal. Karena itulah mengapa keputusan itu dapat ditentang berdasarkan dasar-dasar logis. Keputusan juri, di sisi lain, hanya dapat ditentang dengan mempertanyakan apakah ia telah dicapai sesuai dengan aturan-aturan prosedur yang diterima; yaitu secara formal, tetapi bukan soal isinya. (Suatu pembenaran atas isi suatu putusan secara signifikan disebut ‘laporan yang dimotivasi’ ketimbang suatu ‘laporan yang dibenarkan secara logis’.)

(hlm.122)

BAB ENAM

DERAJAT TESTABILITAS

31. Program dan Ilustrasi

Suatu teori dapat difalsifikasi, seperti kita lihat dalam seksi 23, jika di sana ada paling tidak satu kelompok pernyataan dasar homotipik yang tidak kosong, yang dilarang olehnya; yaitu, jika kelompok falsifier potensialnya tidak kosong.

(hlm.124)

Sekarang ilmu teoritis bertujuan, secara persis, untuk menghasilkan teori-teori yang dapat difalsifikasi dengan mudah dalam pengertian ini.

32. Bagaimana Kelompok-Kelompok Falsifier Potensial Dibandingkan?

Kelompok-kelompok falsifier potensial adalah kelompok tak berhingga.

(hlm.140)

37. Jarak-Jarak Logis. Catatan terhadap Teori Pengukuran

Sudah merupakan kebiasaan para fisikawan menaksir interval ini untuk setiap pengukuran. (Demikianlah mengikuti Millikan mereka memberi, misalnya, muatan elementer elektron, diukur dalam satuan-satuan elektrostatik, sebagai e = 4.774.20-10, menambahkan bahwa jarak ketidaktepatan ialah ± 0.005.10-10.)

(hlm.144)

‘Materi’ atau ‘atom’, sesudah Rutherford, dan ‘materi’, atau ‘energi’, sesudah Einstein, mempunyai arti yang berbeda dengan apa yang dimaksud sebelumnya: arti konsep-konsep ini adalah suatu fungsi dari teori yang senantiasa berubah.

(hlm.149)

39. Dimensi Sekumpulan Kurva

Tidak diragukan, hokum-hukum Kepler mungkin telah ditemukan dengan cara lain. Tetapi saya kira bukan sekadar kebetulan bahwa hal ini adalah cara yang membawa keberhasilan. Ia sesuai dengan metode eliminasi yang dapat diterapkann hanya jika teori itu cukup mudah memfalsifikasi—cukup persis untuk dapat berbenturan dengan pengalaman pengamatan.

(hlm.156)

BAB TUJUH

KESEDERHANAAN

42. Persoalan Metodologis Kesederhanaan

Schlick mendiskusikan kemungkinan mendefinisikan konsep keteraturan mirip-hukum (law-like regularity), dan khususnya perdedaan antara ‘hukum’ dengan ‘peluang’ dengan bantuan konsep kesederhanaan.

(hlm.212)

BAB DELAPAN

PROBABILITAS

61. Hukum Bilangan-Bilangan Besar (Teorema Bernoulli)

Teorema Bernoulli, atau ‘hukum bilangan-bilangan besar’ (pertama1) dapat diturunkan dari rumus binomial ketiga melalui penalaran aritmatika belaka, dengan asumsi bahwa kita dapat membawa n hingga ke limit, n         ∞.

(hlm.238)

67. Suatu Sistem Probabilistik Metafisika Spekulatif

Inilah kegunaan pernyataan-peryataan probabilitas yang paling penting di dalam fisika: keteraturan-keteraturan fisik tertentu atau akibat-akibat fisik yang dapat diamati ditafsirkan sebagaai ‘hukum-hukum makro’; yaitu, ia ditafsirkan, atau dijelaskan, sebagai fenomena massa, atau sebagai hasil-hasil hipotesis yang dapat diamati dan bukan ‘peristiwa-peristiwa mikro’ yang dapat diamati secara langsung. Hokum-hukum makro diedukasi dari taksiran-taksiran probabilitas melalui metode berikut: kita menunjukan bahwa pengamatan-pengamatan yang sesuai dengan keteraturan yang dapat diamati yang sedang dibicarakan besama suatu probabilitas yang diharapkan sangat dekat dengan 1, yaitu bersama suatu probabilitas yang menyimpang dari 1 melalui suatu jumlah yang dapat dibuat sekecil yang kita pilih.

(hlm.251)

69. Hukum dan Peluang

Kadang-kadang orang mendengar bahwa gerakan-gerakan planet mematuhi hukum-hukum yang ketat, sementara jatuhnya sebuah dadu bersifat kebetulan, atau tunduk kepada peluang. Dalam pandangan saya perbedaannya terletak pada fakta bahwa kita sejauh ini telah dapat memperkirakan gerakan planet-planet dengan berhasil, tetapi bukan hasil-hasil pelemparan dadu individual.

(hlm.314)

BAB SEPULUH

KORROBORASI, ATAU BAGAIMANA SEBUAH TEORI
BERTAHAN MENGHADAPI UJIAN-UJIAN

Teori-teori tidak dapat diverifikasi, tetapi dapat ‘dikorroborasi’

Daripada mendiskusikan ‘probabilitas’ suatu hipotesis kita harus mencoba menaksir ujian-ujian apa, percobaan-percobaan apa, yang harus dihadapinya; yaitu, kita harus mencoba menaksir seberapa jauh ia telah mampu membuktikan kemampuannya bertahan menghadapi ujian-ujian. Singkatnya, kita harus mencoba menaksir seberapa jauh ia telah ‘dikorroborasi’.

79. Mengenai Apa yang Disebut Verifikasi Hipotesis-Hipotesis

Fakta bahwa teori-teori tidak dapat diverifikasi telah sering diabaikan. Orang sering mengatakan sebuah teori diverifikasi ketika beberapa dari prediksi yang berasal darinya telah diverifikasi.

(hlm.341)

83. Korroborabilitas, Testabilitas, dan Probabilitas Logis

Derajat korroborasinya akan meningkat bersama jumlah contoh-contohnya yang mengkoroborasikan.

(hlm.344)

Dalam terminology saya dinyatakan, teori Keynes menyiratkan bahwa korroborasi (atau probabilitas hipotesis-hipotesis) menurun bersama testabilitas. Ia tergiring ke dalam pandangan ini karena keyakinannya pada logika induktif. Karena logika induktif cenderung membuat hipotesis-hipotesis ilmiah sepasti mungkin.

(hlm.358)

85. Jalan Setapak Ilmu

Hanya dalam pengalaman-pengalaman keyakinan yang subjektif, dalam keyakinan subjektif, kita dapat merasakan ‘kepastian secara mutlak’.

Ilmu tidak boleh mengejar tujuan khayali yang membuat jawaban-jawabannya final, atau bahkan menjadi mungkin. Lebih tepatnya, gerak majunya menuju tujuan yag tak terbatas namun dapat dicapai untuk menemukan persoalan-persoalan yang selalu baru, yang lebih dalam, dan lebih umum, dan menundukan jawaban-jawabannya yang terus menerus tentative kepada ujian-ujian yang selalu diperbarui dan semakin lebih ketat.

(hlm.389)

LAMPIRAN-LAMPIRAN BARU

Lampiran
Dua Catatan Mengenai Induksi dan Demarkasi 1933-1934.

Persoalan induksi Hume: Pertanyaan mengenai kesahihan hukum-hukum alam:—muncul dari suatu kontradiksi yang nyata antara prinsip empirisme (prinsip bahwa hanya ‘pengalaman’ yang dapat memutuskan kebenaran atau kesalahan dari suatu pernyataan faktual), dengan kenyataan Hume bahwa argumen-argumen induktif (atau generalisasi) tidak sahih. 

 

Jawaban Singkat atas Pertanyaan Besar

Stephen Hawking

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Jawaban Singkat Atas Pertanyaan Besar oleh Stephen Hawking.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

JAWABAN SINGKAT

ATAS

PERTANYAAN BESAR

STEPHEN
HAWKING

Globalindo

Diterjemahkan dari

BRIEF ANSWERS
TO THE
BIG QUESTIONS

STEPHEN HAWKING

Penerjemah: Haz Algebra
Layout: Aletheia
Gambar Sampul: Shutterstock

Cetakan 1, Desember 2018

Diterbitkan oleh CV. Global Indo Kreatif

ISBN 978-602-53696-0-5

(hlm.ix)

Kata Pengantar
Eddie Redmayne

Saya berharap Anda menikmati tulisan-tulisannya dan, mengutip Barack Obama, saya berharap Stephen bersenang-senang di sana, di antara bintang-bintang.

(hlm.xi)

PENDAHULUAN
Profesor Kip S. Thone

Penalarannya yang jernih bersandar pada persamaan relativitas umum Einstein, dan pada pengamatan para astronom bahwa alam semesta kita mengembang, dan pada beberapa asumsi sederhana yang tampaknya sangat mungkin benar, dan ia memanfaatkan beberapa teknik matematika baru yang baru-baru ini dirancang oleh Roger Penrose. Menggabungkan semua ini dengan cara-cara yang cerdas, kuat dan menarik, Stephen menyimpulkan hasilnya: alam semesta kita pasti telah dimulai dalam suatu bentuk keadaan tunggal, singular state, kira-kira sepuluh miliar tahun yang lalu.

(hlm.xiii)

“Suhu Hawking” dari lubang hitam dan “radiasi Hawking” (saat mereka disebut) benar-benar radikal—mungkin penemuan fisika teoretis paling radikal di paruh kedua abad ke-20. Mereka membuka mata kita untuk koneksi yang mendalam antara antara relativitas umum (lubang hitam), termodinamika (fisika panas), dan fisika kuantum (penciptaan partikel di mana sebelumnya  tidak ada). Misalnya, meeka menuntun Stephen untuk membuktikan bahwa lubang hitam memiliki entropi, yang berarti bahwa di suatu tempat di dalam atau di sekitar lubang hitam ada keacakan yang sangat besar. Dia menyimpulkan bahwa jumlah entropi (logaritma dari jumlah keacakan lubang) sebanding dengan luas permukaan lubang. Rumusnya untuk entropi terukir pada batu peringatan Stephen di Gonville and Caius College di Cambridge, tempat dia bekerja.

(hlm.xiv)

Hanya ada dua jenis gelombang yang dapat melintasi alam semesta yang membawa kepada kita informasi tentang hal-hal yang jauh: gelombang elektromagnetik (yang meliputi cahaya, sinar-X, sinar gamma, gelombang mikro, gelobang radio…); dan gelombang gravitasi.

Gelombang elektromagnetik terdiri dari gaya elektrik dan magnetik yang berosilasi yang bergerak dengan kecepatan cahaya. Ketika mereka menabrak partikel bermuatan, seperti elektron di radio atau antena TV, mereka mengguncang partikel-partikel itu maju mundur, menyetorkan ke partikel-partikel itu informasi yang dibawa oleh gelombang. Informasi itu kemudian dapat diamplifikasi dan dimasukkan ke loudspeaker atau ke layar TV agar manusia bisa memahaminya.

(hlm.xv)

Gelombang gravitasi, menurut Einstein. Terdiri dari suatu kelangkungan ruang yang berosilasi: suatu peregangan dan peremasan ruang yang bergoyang ke sana ke mari.

Karena gelombang gravitasi adalah suatu bentuk kelengkungan ruang, mereka dihasilkan paling kuat oleh benda-benda yang sebagian atau seluruhnya terbuat dari ruang-waktu yang melengkung—yang berarti, terutama, terbuat dari lubang hitam.

(hlm.xvi)

Pada tanggal 14 September 2015, detektor gelombang gravitasi LIGO (dibangun dari proyek 1.000 orang yang didirikan bersama-sama oleh Rai dan saya dan Ronald Drever, dan dipimpin, dikumpulkan dan diorganisir oleh Barry Barish) mencatat gelombang gravitasi pertama mereka. Dengan membandingkan antara pola gelombang tersebut dengan prediksi dari simulasi komputer, tim kami menyimpulkan bahwa gelombang itu dihasilkan ketika dua lubang hitam  yang berat, sejauh 1,3 miliar tahun cahaya dari Bumi, bertabrakan. Ini adalah awal dari bidang astromi gelombang-gravitasi. Tim kami telah meraih hasil, untuk gelombang garavitasi, seperti halnya yang telah diraih Galileo untuk gelombang elektromagnetik.

(hlm.xvii)

Saya yakin bahwa, selama beberapa dekade mendatang, generasi para astronom gelombang-gravitasi berikutnya akan menggunakan gelombang ini tidak hanya untuk menguji hukum fisika lubang hitam Stephen, tetapi juga untuk mendeteksi dan memantau gelombang gravitasi dari kelahiran tunggal alam semesta kita, dan dengan demikian menguji ide-ide Stephen dan yang lainnya tentang bagaimana proses terjadinya dunia kita.

Dia memberi desakan, bukti yang hampir tanpa celah bahwa, ketika lubang hitam terbentuk dan kemudian menguap sepenuhnyaa dengan memancarkan radiasi, informasi yang masuk ke lubang hitam tidak bisa kembali keluar. Informasi pasti hilang.

Ini radikal karena hukum fisika kuantum menekankan dengan tegas bahwa informasi tidak akan pernah benar-benar hilang. Jadi, jika Stephen benar, maka lubang hitam melanggar huku mekanika kuantum yang paling mendasar.

(hlm.xviii)

“Newton memberi kita jawaban. Hawking memberi kita pertanyaan. Dan pertanyaan dari Hawking itu sendiri terus memberi kita pertanyaan, dan menghasilkan terobosan beberapa dekade kemudian. Ketika akirnya kita menguasai huku hukum gravitasi kuatum, dan memahami sepenuhnya kelahiran alam semesta kita, itu bisa terjadi sebagian besar karena berdiri di pundak Hawking.”

(hlm.2)

MENGAPA KITA HARUS
MENGAJUKAN PERTANYAAN BESAR

Mengerjakan penelitian tentang hukum-hukum mendasar yang mengatur alam semesta akan membutuhkan komitmen waktu yang kebanyakan orang tidak milliki; dunia akan segera berhenti jika kita semua mencoba mengerjakan fisika teoretis.

(hlm.5)

Pada waktu itu, University College tidak memiliki beasiswa di bidang matematika, jadi saya memiliki sedikit pilihan tetapi saya mencoba untuk mendapatkan beasiswa dalam ilmu alam (natural science). Saya mengejutkan diri sendiri dengan berhasil lolos.

Ketika Anda dihadapkan pada kemungkinan kematian dini, itu membuat Anda menyadari bahwa ada banyak hal yang ingin Anda lakukan sebelum hidup Anda berakhir.

(hlm.6)

Rasa ingin tahu yang mendalam tentang dunia dapat menempatkan seseorang dalam bahaya, tetapi bagi saya ini mungkin adalah satu-satunya saat dalam hidup saya bahwa ini benar.

Tapi beruntung saya tidak menjadi murid Hoyle, karena saya menjadi murid Hoyle, karena saya akan kelelahan untuk membela teori steady-state-nya, tugas yang akan lebih sulit dibandingkan menegosiasikan Brexit.

(hlm.7)

Seperti yang mungkin telah Anda lihat dalam film di mana Eddie Redmayne memainkan versi yang sangat tampan dari diri saya, di tahun ketiga saya di Oxford, saya terlihat bahwa saya sepertinya semakin lamban.

(hlm.8)

Setalah harapan saya berkurang menjadi nol, setiap hari baru menjadi bonus, dan saya mulai menghargai semua yang saya miliki. Ketika ada kehidupan, di situ ada harapan.

(hlm.9)

Pertanyaan besar dalam kosmologi pada awal 1960-an adalah apakah alam semesta memiliki permulaan? Banyak ilmuwan secara naluri menentang gagasan tersebut, karena mereka merasa bahwa titik penciptaan akan menjadi tempat di mana  sains rusak.

Roger Penrose telah menunjukkan bahwa sekali bintang sekarat telah berkontraksi dengan radius tertentu, pasti akan ada singularitas, yaitu titik di mana ruang dan waktu berakhir.

Jika relativitas umum itu benar dan kepadatan (atau densitas) energi itu positif, maka area permukaan cakrawala peristiwa (event horizon)—batas lubang hitam—memiliki properti yang selalu meningkat ketika materi atau radiasi tambahan jatuh ke dalamnya. Selain itu, jika dua lubang hitam bertabrakan dan bergabung untuk membentuk lubang hitam tunggal, area cakrawala peristiwa di sekitar lubang hitam yang dihasilkan lebih besar daripada area cakrawala peristiwa di sekitar lubang hitam awal.

(hlm.10)

Pekerjaan saya bersama Penrose menunjukkan bahwa relativitas umum rusak pada singularitas, sehingga langkah berikutnya tentu saja adalah menggabungkan relativitas umum—teori yang sangat besar—dengan teori kuantum—teori yang sangat kecil. Secara khusus, saya bertanya-tanya, bisakah sesuatu yang memiliki atom yang mana nukleusnya adalah sebuah lubang hitam primordial kecil, terbentuk di alam semesta awal?

(hlm.11)

Emisi radiasi panas dari lubang hitam ini kini dikenal dengan sebutan radiasi Hawking (Hawking radiation) dan saya bangga telah menemukannya.

(hlm.15)

Saya telah menjalani kehidupan yang luar biasa di planet ini, sementara pada saat yang sama bepergian, melintasi alam semesta dengan menggunakan pikiran saya dan hukum-hukum fisika. Saya telah mencapai galaksi terjauh kita, melakukan perjalanan ke lubang hitam dan kembali ke awal waktu.

Saya telah dipuji dan dikritik, tetapi tidak pernah diabaikan.

Dan di akhir semua ini, fakta bahwa kita manusia, yang hanya merupakan kumpulan partikel dasar alam, telah mampu memahami hukum yang mengatur kita, dan alam semesta kita, adalah sebuah kemenangan besar.

(hlm.16)

Bagaimana kita akan memberi makan populasi yang terus bertambah? Menyediakan air bersih, menghasilkan energi terbarukan, mencegah dan menyebuhkan penyakit dan memperlambat perubahan iklim global?

Kita semua adalah penjelajah waktu, melakukan perjalanan bersama ke masa depan.

(hlm.18)

1

APAKAH TUHAN ADA?

Tetapi saya tidak memiliki dendam terhadap Tuhan. Saya tidak ingin memberi kesan bahwa pekerjaan saya adalah tentang membuktikan atau menyangkal keberadaan Tuhan. Pekerjaan saya adalah tentang menemukan kerangka rasional untuk memahami alam semesta di sekitar kita.

Jika Anda suka, Anda dapat mengatakan hukum itu adalah karya Tuhan, tetapi itu lebih merupakan defisini tentang Tuhan alih-alih bukti keberadaannya.

(hlm.19)

Alam semesta adalah mesin yang diatur oleh prinsip atau hukum—hukum yang dapat dipahami oleh pikiran manusia.

Jika Anda menerima, seperti saya, bahwa hukum alam adalah tetap, maka tidak perlu waktu lama untuk bertanya: peran apa yang tersisa bagi Tuhan?

(hlm.20)

Saya menggunakan kata “Tuhan” dalam arti yang impersonal, seperti Einstein, untuk hukum alam, sehingga mengetahui pikiran Tuhan berarti mengetahui hukum alam. Prediksi saya adalah bahwa kita akan mengetahui pikiran Tuhan itu pada akhir abad ini.

Saya pikir alam semesta secara spontan diciptakan dari ketiadaan, menurut hukum-hukum sains.

(hlm.21)

Jadi, apakah tiga bahan yang kita butuhkan untuk membuat alam semesta? Yang pertama adalah materi—hal-hal yang memiliki massa.

Hal kedua yang Anda butuhkan adalah energi.

Hal ketiga yang kita butukan untuk membangun alam semesta adalah ruang.

Jadi, darimana semua materi, energi dan ruang ini berasal? Kita tidak tahu sampai abad ke-20.

Jawabannya datang dari wawasan satu orang, mungkin ilmuwan paling hebat yang pernah hidup. Namanya adalah Albert Einstein.

Einstein menyadari sesuatu yang sangat luar biasa: bahwa dua bahan utama yang diperlukan untuk membuat alam semesta—massa dan energi—pada dasarnya adalah sesuatu yang sama, dua sisi dari koin yang yang sama jika Anda suka. Persamaannya yang terkenal, E = mc2 , secara sederhana berarti bahwa massa dapat dianggap sebagai semacam energi, dan sebaliknya.

(hlm.22)

Misteri besar di jantung Big Bang adalah untuk menjelaskan bagaimana keseluruhan ruang dan energi alam semesta yang sangat hebat dan luar biasa itu dapat terwujud dari ketiadaan. Rahasianya terletak pada salah satu fakta aneh tentang kosmos kita. Hukum-hukum fisika menuntut keberadaan sesuatu yang disebut “energi negatif.”

(hlm.23)

Ini mungkin terdengar aneh, tetapi menurut hukum alam tentang gravitasi dan gerak—hukum yang termasuk paling tua dalam sains—ruang itu sendiri adalah gudang energi negatif yang sangat besar. Cukup untuk memastika semaunya mejadi nol.

Alam semesta seperti baterai yang sangat besar yang menyimpan energi negatif. Sisi positifnya—masa dan energi yang kita lihat saat ini—layaknyaa bukit. Adapun lubang yang sesuai, atau sisi negatifnya, tersebar di seluruh ruang.

Jadi, apa artinya ini dalam pencarian kita untuk mengetahui apakah ada Tuhan? Ini berarti bahwa jika alam semesta terwujud dari ketiadaan, maka Anda tidak membutuhkan Tuhan untuk membuatnya. Alam semesta adalah makan siang gratis terbaik.

(hlm.24)

Tetapi, pergilah ke dalam cangkir kopi ini—melalui partikel-partikel susu, sampai ke tingkat atom dan turun sampai ke tingkat sub-atomik, dan Anda akan memasuki dunia di mana menjejelkan sesuatu dari ketiadaan adalah mungkin. Setidaknya, untuk sementara waktu. Itu karena pada skala ini, partikel seperti proton berperilaku sesuai dengan hukum alam yang kita sebuah mekanika kuantum. Dan mereka benar-benar dapat muncul secara acak, bertahan untuk sementara dan kemudia menghilang lagi, lalu muncul kembali di tempat lain.

(hlm.25)

Dari mana asal hidrogen itu? Jawabannya: Big Bang. Tapi inilah bagian yang krusial. Hukum-hukum alam itu sendiri memberi tahu kita bahwa bukan hanya alam semesta bisa muncul tanpa bantuan apa pun, seperti proton, dan tidak memerlukan apa-apa dalam hal energi, tetapi juga bahwa ada kemungkinan bahwa tidak ada yang menyebabkan Big Bang itu. Tidak ada.

Sesuatu yang sangat indah terjadi pada waktu di saat Big Bang. Waktu sendiri dimulai.

Untuk melihat bagaimana itu terjadi, bayangkan sebuah jam tersedot ke dalamnnya. Ketika jam itu semakin dekat dan lebih  dekat ke lubang hitam, itu akan mulai melambat dan semakin lambat. Waktu itu sendiri mulai melambat. Sekarang bayangkan jam itu ketika memasuki lubang hitam—yah, tentu saja dengan asumsi bahwa itu bisa menahan gaya gravitasi ekstrim—itu benar-benar akan berhenti. Itu berhenti bukan karena rusak, tetapi karena di dalam lubang hitam waktu itu sendiri tidak ada. Dan itulah yang terjadi pada awal alam semesta.

(hlm.26)

Mereka memberi tahu kita bahwa disini juga waktu itu sendiri harus berhenti. Anda tidak bisa mencapai waktu sebelum Big Bang karena tidak ada waktu sebelum Big Bang. Kita akhirnya menemuka sesuatu yang tidak memiliki sebab, karena tidak ada waktu bagi  suatu penyebab untuk ada. Bagi saya ini berarti bahwa tidak ada kemungkinan bagi pencipta, karena tidak ada waktu bagi seorang pencipta untuk ada di sana.

Ketika orang bertanya kepada saya apakah Tuhan menciptakan alam semesta, saya memberi tahu mereka bahwa pertanyaan itu sendiri tidak masuk akal. Waktu tidak ada sebelum Big Bang sehingga tidak ada waktu bagi Tuhan untuk membuat alam semesta. Ini seperti menanyakan arah ke ujung Bumi—Bumi adalah bola yang tidak memiliki tepi, jadi mencari ujungnya adalah perjuangan yang sia-sia.

(hlm.27)

Apakah saya memiliki iman? Kita masing-masing bebas untuk mempercayai apa yang kita inginkan, dan pandangan saya mengenai itu, dalam penjelasan yang paling sederhana, adalah tidak ada Tuhan. Tidak ada yang menciptakan alam semesta dan tidak ada yang mengarahkan nasib kita. Ini menuntun saya pada pemahaman yang mendalam: mungkin tidak ada surga dan akhirat juga. Saya pikir keyakinan di akhirat adalah hanya angan-angan. Tidak ada bukti yang dapat diandalkan untuk itu, dan itu lenyap di hadapan semua yang kita ketahui dalam sains. Saya pikir ketika kita mati kita kembali menjadi debu. Akan tetapi, ada makna tentang di mana kita hidup, dalah pengaruh kita (our influence), dan dalam gen (our genes) yang kita wariskan kepada anak-anak kita. Kita memiliki kehidupan yang satu ini untuk menghargai rancangan agung alam semesta, dan untuk itu saya sangat bersyukur.

(hlm.29)

2

BAGAIMANA SEGALANYA BERMULA?

Apakah alam semesta sebenarnya tidak terbatas, atau hanya sangat besar? Apakah ia memiliki peermulaan? Apakah ia akan bertahan selamanya atau hanya untuk waktu yang lama? Bagaimana mungkin pikiran kita yang terbatas memahami alam semesta yang tak terbatas? Bukankah kita sok hebat untuk melakukan upaya itu?

Sebagai contoh, menurut Uskup Ussher, Kitab Kejadian menempatkan permulaan waktu pada 22 Oktober 4004 SM pada pukul 6 sore.

(hlm.31)

Jika seseorang percaya bahwa alam semesta memiliki permulaan, pertanyaan yang jelas adalah, “Apa yang terjadi sebelum permulaan? Apa yang Tuhan lakukan sebelum dia membuat dunia? Apakah dia menyiapkan Neraka untuk orang-orang yang mengajukan pertanyaan semacam itu?”

Jika alam semesta memiliki permulaan, mengapa ia menunggu waktu tak terbatas sebelum dimulai? Dia menyebut itu tesis. Di sisi lain, jika alam semesta telah ada selamanya, menagapa perlu waktu tak terbatas untuk mencapai tahap ini? Dia menyebut itu antitesis. Baik tesis maupun antitesisnya bergantung pada asumsi Kant, bersama dengan hampir semua orang, bahwa waktu itu mutlak. Artinya, ia pergi dari masa lalu yang tak terbatas ke masa depan yang tak terbatas secara independen dari alam semesta yang mungkin atau mungkin tidak ada.

Ini masih menjadi gambaran di benak banyak ilmuwan saat ini. Namun, pada tahun 1915, Einstein memperkenalkan teori ini. Namun, pada tahun 1915, Einstein memperkenalkan teori relativitas umum revolusionernya. Dalam hal ini, ruang dan waktu tidak lagi mutlak, tidak lagi menjadi latar belakang yang tetap terhadap peristiwa. Sebaliknya, mereka adalah kuantitas dinamis yang dibentuk oleh materi dan energi di alam semesta, jadi tidak masuk akal untuk berbicara tentang waktu sebelum alam semesta dimulai. Ini akan seperti menanyakan sisi selatan dari Kutub Selatan. Itu tidak terdefinisikan.

(hlm.32)

Jika binatang-binatang telah memancar untuk waktu yang tidak terbatas lamanya (an infinite time), mereka akan telah memanaskan alam semesta hingga mencapai suhu mereka sendiri. Bahkan pada malam hari, seluruh langit akan setarang Matahari, karena setiap garis pandangan akan berakhir pada bintang atau pada awan debu yang telah memanas hingga sepanas bintang-bintang. Jadi, apa yang kita semua bisa amati, bahwa langit di malam hari gelap, sangat penting. Ini menyiratkan bahwa alam semesta tidak bisa telah eksis untuk selamanya, dalam keadaan yang kita lihat hari ini. Sesuatu pasti telah terjadi di masa lalu untuk membuat binatang-binatang berubah pada saat waktu tertentu (a finite time) yang telah lalu.

(hlm.33)

Jika bintang-bintang sudah duduk di sana untuk selamanya, mengapa mereka tiba-tiba menyala beberapa miliar tahun yang lalu? Jam apa yang memberi tahu mereka bahwa sudah waktunya untuk berpijar?

Agar mereka bisa tampak begitu kecil dan samar, jaraknya harus begitu besar sehingga cahaya dari mereka akan mencapai jutaan atau bahkan miliaran tahun untuk menjangkau kita. Ini menunjukkan bahwwa permulaan alam semesta tidak mungkin hanya beberapa ribu tahun yang lalu.

Tetapi hal kedua yang ditemukan Hubble bahkan lebih luar biasa. Dengan analisis cahaya dari galaksi lain, Hubble mampu mengukur apakah mereka bergerak mendekati kita atu menjauh. Yang sangat mengejutkan, dia menemukan mereka hampir semuanya bergerak menjauh. Selain itu, semakin jauh mereka dari kita, semakin cepat mereka bergerak menjauh. Dengan kata lain, alam semesta meluas. Galaksi bergerak saling menjauh satu sama lain.

(hlm.34)

Penemuan ekspansi alam semesta ini adalah salah satu revolusi intelektual besar pada abad ke-20.

Teori keadaan-tetap memprediksi hubungan antara jumlah sumber dan kekuatannya. Tetapi pengamatan menunjukkan bahwa terdapat lebih banyak sumber samar dari yang diperkirakan, menunjukkan bahwa kepadatan sumber lebih tinggi di masa lalu. Ini bertentangan dengan asumsi dasar teori keadaan-tetap, bahwa semuanya konstan dalam waktu. Untuk alasan ini dan lainnya, teori keadaan-tetap ditinggalkan.

(hlm.35)

Mereka mencoba untuk menghindarinya, baik dengan mengklaim, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Rusia itu dan para teorisi keadaan-tetap, bahwa alam semesta tidak memiliki awal, maupun dengan mempertahankan bahwa asal-usul alam semesta bukanlah wilayah sains tetapi milik metafisika atau agama. Menurut pendapat saya, ini bukanlah posisi yang harus diambil oleh ilmuwan sejati. Jika hukum sains ditangguhkan di awal jagad raya, bukanlah mereka juga gagal di waktu-waktu lainnya? Hukum bukanlah hukum jika hanya berlaku kadang-kadang. Saya percaya bahwa kita harus mencoba memahami permulaan alam semesta berdasarkan sains.

(hlm.36)

Roger Penrose dan saya berhasil membuktikan teorema-teorema geometri untuk menunjukkan bahwa alam semesta pasti memiliki permulaan jika teori relativitas umum Einstein benar, dan beberapa kondisi yang masuk akal terpenuhi.

Meskipun teorema Roger Penrose dan saya membuktikan bahwa alam semesta pasti memiliki awal, teorema itu tidak memberikan banyak informasi tentang sifat awal it.

Bukti pengamatan untuk mengkonfirmasi gagasan bahwa alam semesta memiliki awal yang sangat padat datang pada bulan Oktober 1965, beberapa bulan setelah hasil singularitas pertama saya, dengan penemuan latar belakang samar gelombang mikro di seluruh ruang angkasa. Gelombang mikro (microwaves) ini sama dengan yag ada dalam microwave oven Anda, tetapi sangat kurang kuat. Mereka akan memanaskan pizza Anda hanya sampai minus 270,4 derajat Celcius (minus 518,72 derajat Fahrenheit), tidak terlalu bagus untuk memanaskan pizza, apalagi memakainya untuk memasak.

(hlm.37)

Seseorang tidak dapat secara akurat memprediksi posisi dan kecepatan suatu partikel. Semakin akurat posisi diprediksi, semakin tidak akurat Anda akan dapat memprediksi kecepatan, dan sebaliknya.

(hlm.38)

Alam semesta seperti kasino raksasa dengan dadu digulir, atau roda yang berputar, pada setiap kesempatan.

(hlm,39)

Pendekatan Feynman untuk memahami bagaimana segala sesuatunya bekerja adalah dengan memberikan suatu probabilitas tertentu pada setiap kemungkinan sejarah, dan kemudian menggunakan ide ini untuk membuat prediksi. Ini bekerja sangat baik untuk memprediksi masa depan. Jadi, kita menganggap itu juga berfungsi untuk mengembalikan masa lalu.

Para ilmuwan sekarang bekerja untuk menggabungkan teori relativitas umu Einstein dan gagasan multi-sejarah Feynman menjadi teori terpadu (unified theory) yang lengkap yang akan menggambarkan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta.

(hlm.40)

Prinsip Antropik mengatakan bahwa alam semesta harus kurang lebih seperti yang kita amati, karena jika berbeda, maka tidak akan ada orang di sini untuk mengamatinya.

(hlm.41)

Teori-M, yang merupakan kandidat terbaik kita untuk teori terpadu (unified theory) yang lengkap, memungkinkan sejumlah besar kemungkinan sejarah bagi alam semesta.

(hlm.42)

Mengapa kita tidak hidup dalam sejarah di mana delapan dimensi meringkuk menjadi kecil, dan hanya menyiksakan dua dimensi yang kita lihat? Seekor hewan dua dimensi akan memiliki pekerjaan yang sulit dalam mencerna makanan. Jika ada usu yang dilewati makanan, seperti yang kita alami, itu akan membelah hewan itu menjadi dua, dan makhluk malang itu akan hancur berantakan. Jadi, dua arah datar tidak cukup untuk sesuatu yang serumit kehidupan cerdas. Ada sesuatu yang istimewa tentang ruang tiga dimensi.

Jadi, meskipun ide multi-sejarah akan memungkinkan sejumlah arah yang hampir datar, hanya sejarah dengan tiga arah datar yang akan berisi makhluk cerdas. Hanya dalam sejarah seperti itu akan dipertanyakan, “mengapa ruang memiliki tiga dimesi?”

(hlm.46)

Alam semesta di masa lalu itu kecil dan padat dan sangat mirip dengan cangkang atau kulit kacang’ (nutshell) sebagaimana yang saya sebut di permulaan bab ini. Namun, nutshell ini mengkodekan semua yang terjadi dalam waktu nyata. Jadi, Hamlet benar. Kita bisa terbatas dalam cangkang dan menganggap diri kita sebagai raja dari ruang tanpa batas.

(hlm.50)

3

APAKAH KEHIDUPAN CERDAS
LAIN DI ALAM SEMESTA?

Kita dapat mendefinisikan kehidupan sebagai suatu sistem yang teratur yang dapat menjaga dirinya terhadap kecenderungan untuk menjadi kacau dan dapat mereproduksi dirinya sendiri. Artinya, ia dapat membuat sistem teratur yang serupa, tetapi independen

Makhluk hidup seperti Anda atau saya biasanya memiliki dua elemen: seperangkat instruksi yang memberi tahu sistem bagaimana terus berjalan dan bagaimana mereproduksi dirinya, dan mekanisme untuk melaksanakan instruksi itu. Dalam biologi, dua elemen ini disebut gen dan metabolisme.

(hlm.51)

Apa yang biasanya kita anggap sebagai “kehidupan” didasarkan pada rantai atom karbon, bersama beberapa atom lain seperti nitrogen atau fosfor. Seseorang dapat berspekulasi bahwa seseorang mungkin memiliki kehidupan dengan beberapa basis kimia lainnya, seperti silikon, tetapi karbon tampaknya merupakan kasus yang paling menguntungkan, karena ia memiliki kimia yang paling kaya.  Agar atom karbon harus ada sama sekali, dengan sifat-sifat yang mereka miliki, itu memerlukan penyesuaian konstanta fisik yang halus, seperti skala QCD (quantum chromodynamics), muatan listrik dan bahkan dimensi ruang-waktu.

Ini didasarkan pada kebenaran yang terbukti dengan sendirinya bahwa jika alam semesta tidak cocok untuk kehidupan maka tidak akan bertanya mengapa  hal itu disesuaikan dengan sangat baik.

(hlm.52)

Tidak ada karbon ketika alam semesta dimulai di Big Bang, sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Itu sangat panas sehingga semua materi akan berbentuk partikel yang disebut proton dan neutron. Pada awalnya akan ada jumlah proton dan neutron yang sama. Namun, ketika alam semesta mengembang, ia mendingin. Sekitar satu menit setelah Big Bang, suhu akan turun menjadi sekitar satu miliar derajat, sekitar seratus kali suhu di Matahari. Pada suhu ini, neutron mulai meluruh menjadi lebih banyak proton.

(hlm.53)

Alam semesta terus mengembang dan mendingin. Tetapi beberapa daerah memiliki kepadatan yang sedikit lebih tinggi daripada yang lain dan daya tarik gravitasi dari materi tambahan di daerah-daerah itu memperlambat ekspansi mereka, dan akhirnya menghentikannya.

(hlm.54)

Entah bagaimana, beberapa atom ini juga hadir dalam susunan molekul DNA. Ini memiliki bentuk heliks ganda (double-helix) yang terkenal, ditemukan pada tahun 1950 oleh Francis Crick dan James Watson di sebuah pondok di  situs New Museum di Cambridge.

(hlm.55)

Ada bukti fosil bahwa ada beberapa bentuk kehidupan di Bumi sekitar tiga setengah miliar tahun yang lalu. Ini mungkin sekitar 500 juta tahun setelah Bumi menjadi stabil dan cukup dingin untuk mengembangkan bantuk kehidupan. Tetapi kehidupan bisa memakan waktu tujuh miliar tahun untuk berkembang di alam semesta dan masih membutuhkan waktu lagi untuk berevolusi untuk menjadi makhluk seperti kita, yang bisa bertanya tentang asal usul kehidupan. Jika probabilitas perkembangan kehidupan di suatu planet tertentu sangat kecil, mengapa itu terjadi di Bumi sekitar seperempatbelas dari waktu yang tersedia?

(hlm.56)

Proses evolusi biologis sangat lambat pada awalnya. Dibutuhkan sekitar dua setengah miliar tahun sebelum sel paling awal berevolusi menjadi organise multi-seluler.

(hlm.57)

DNA dala sel telur atau sperma manusia mengandung sekitar tiga miliar pasangan basa nitrogen. Namun, banyak informasi yang dikodekan dalam urutan ini tampaknya mubazir atau tidak aktif. Jadi, jumlah total informasi yang berguna dalam gen kita mungkin kira-kira seratus juta bit. Satu bit informasi adalah jawaban untuk satu pertanyaan ya/tidak. Sebaliknya, sebuah novel paperback mungkin mengandung dua juta bit informasi. Oleh karena itu, manusia setara dengan sekitar lima pulu buku Harry Potter, dan sebuah perpustakaan nasional yang besar dapat memuat sekitar lima juta buku—atau sekitar sepuluh triliun bit informasi. Jumlah inforasi yang diwariskan dalam buku-buku atau melalui internet adalah 100.000 kali lebih banyak dari yang ada dalam DNA.

Sementara itu, butuh waktu beberapa juta tahun bagi kita untuk berevolusi dari leluhur kera kita yang kurang maju. Selama waktu itu, informasi yang berguna dalam DNA kita mungkin telah berubah hanya sekitar beberapa juta bit, sehingga laju evolusi biologis pada manusia sekitar satu bit per tahun. Sebaliknya, ada sekitar 50.000 buku baru yang diterbitkan dalam bahasa Inggris setiap tahun, berisi susunan seratus miliar bit informasi. Tentu saja, sebagian besar dari informasi ini adalah  sampah dan tidak ada gunanya bagi segala bentuk kehidupan.

(hlm.61)

Jadi, mengapa kita belum dikunjungi? Mungkin probabilitas kemunculan kehidupan secara spontan sangat rendah {di luar sana} sehingga Bumi adalah satu-satunya planet di galaksi ini—atau di alam semesta yang dapat diamati—yang memunculkan kehidupan.

(hlm.66)

4

BISAKAH KITA MEMPREDIKSI
MASA DEPAN?

Sebenernya apa yang dia katakan adalah bahwa jika pada suatu waktu kita mengetahui posisi dan kecepatan semua partikel di alam semesta, maka kita akan dapat menghitung perilaku mereka pada waktu yang lain di masa lalu atau di masa depan.

(hlm.68)

Energi dalam paket atau kuanta lebih tinggi untuk ultra-violet dan sinar-X daripada sinar infra-merah atau cahaya tampak. Ini berarti bahwa kecuali untuk benda sangat panas, seperti matahari, ia tidak akan memiliki cukup energi untuk mengeluarkan sedikit pun sinar ultra-violet atau sinar-X. Itulah mengapa kita tidak merasakan sengatan matahari dari secangkir kopi.

(hlm.70)

Dalam mekanika kuantum, partikel tidak memiliki posisi dan kecepatan yang terdefinisi dengan baik. Sebaliknya, mereka diwakili oleh apa yang disebut fungsi-gelombang (wave function). Ini adalah angka di setiap titik ruang.

(hlm.84)

5

ADA APA DI DALAM LUBANG HITAM?

Orang-orang telah mencari lubang hitam bermassa mini ini, tetapi sejauh ini belum ditemukan. Ini sangat disayangkan karena, jika mereka menemukannya, saya akan mendapat Hadiah Nobel.

(hlm.86)

Adalah masa lalu yang memberitahu kita tentang siapa diri kita. Tanpa itu, kita kehilangan indeentitas kita.

(hlm.87)

Jika seseorang menempatkan objek ke dalam ruang-waktu, simetri translasi dan rotasi akan rusak. Dan memasukkan objek ke ruang-waktu adalah apa yang menghasilkan gravitasi.

Saat berada sangat jauh dari lubang hitam, ruang-waktu akan terlihat sangat mirip ruang-waktu datar.

(hlm.92)

6

APAKAH PERJALANAN WAKTU
DIMUNGKINKAN?

Jika seseorang menggambar segitiga pada permukaan berbentuk sadel, seseorang akan menemukan segitiga yang jumlah besaran sudut-sudutnya kurang dari 180 derajat.

(hlm.94)

Namun, dalam sebuah  makalah ajaib yang ditulis pada tahun 1905 saat ini menjadi pegawai di kantor  paten Swiss, Einstein menunjukkan bahwa waktu dan posisi di mana seseorang mengira suatu peristiwa terjadi tergantung pada bagaimana seseorang mengira suatu peristiwa terjadi tergantung pada bagaimana seseorang bergerak. Ini berarti waktu dan ruang saling terikat erat satu sama lain.

Masing-masing waktu yang diberikan oleh dua pengamat berbeda pada suatu peristiwa akan sama jika para pengamat itu tidak bergerak relatif terhadap satu sama lain. Tetapi itu tidak akan sama jika mereka bergerak semakin cepat dengan kecepatan relatif mereka masing-masing.

(hlm.95)

Jadi, semua yang butuhkan untuk melakukan perjalanan waktu adalah sebuah pesawat ruang angkasa yang mampu bergerak lebih cepat daripada cahaya.

(hlm.96)

Pada tahun 1915, Einstein menunjukkan bahwa efek gravitasi dapat digambarkan dengan mengandaikan bahwa ruang-waktu itu melengkung atau terdistorsi oleh materi dan energi di dalamnya, dan teori ini dikenal sebagai relativitas umum.

(hlm.97)

Kita sekarang tahu bahwa solusi Gödel itu tidak dapat mewakili alam semesta tempat kita hidup karena {universum-nya} tidak mengembang.

(hlm.98)

Karena kita tidak dapat mengubah cara alam semesta dimulai, pertanyaan apakah perjalanan waktu itu mungkin adalah sama dengan bertanya apakah kita dapat membuat ruang-waktu kemudian menjadi melengkung sehingga seseorang dapat kembali ke masa lalu.

(hlm.99)

Apa yang dibutuhkan adalah materi dengan massa negatif dan kepadatan energi negatif dan kepadatan energi negatif untuk membuat ruang-waktu melengkung dengan cara yang diperlukan.

(hlm.106)

Pada tahun 2009, saya mengadakan pesta bagi para penjelajah
waktu di kampus saya, Gonville and Caius di Cambridge, untuk
sebuah film tentang perjalanan waktu. Untuk memastikan bahwa
hanya penjelajah waktu asli yang datang, saya tidak mengirim
undangan sampai setelah pesta usai. Pada hari pesta, saya duduk
di kampus dengan penuh harap, tetapi tidak ada yang datang.
Saya kecewa, tetapi tidak terkejut, karena saya telah
menunjukkan bahwa jika relativitas umum benar
dan kepadatan energi positif, perjalanan
waktu tidak mungkin.
Saya akan sangat senang
jika salah satu asumsi saya
ternayata sala.

(hlm.108)

7

AKANKAH KITA BERTAHAN HIDUP
DI BUMI?

Robert Oppenheimer, ilmuwan kepala untuk Proyek Manhattan, pernah berkata seusai ledakan pertama bom atom dua tahun sebelumnya pada bulan Juli 1945, “Kita tahu dunia tidak lagi akan sama. Sebagian orang tertawa, sebagian orang menangis, kebanyakan orang terdiam. Saya teringat pada baris dari kitab suci Hindu, Bhagavad-Gita, ‘Sekarang, saya telah menjadi Kematian, sang penghancur dunia.”

(hlm.113)

Tidak pernah, dalam 10.000 tahun atau lebih sejak Zaman Es terakhir, ada ras manusia yang memiliki pengetahuan konstan dan teknologi yang tetap. Ada beberapa kemunduran, seperti yang biasa kita sebut Abad Kegelapan (Dark Ages) pasca kejatuhan Kekaisaran Romawi. Tetapi populasi dunia, yang merupakan ukuran kemampuan teknologi kita untuk melestarikan kehidupan dan memberi makan diri kita, telah meningkat terus, dengan beberapa cegukan seperti wabah Black Death. Dalam 200 tahun terakhir, pertumbuhan itu kadang-kadang menjadi eksponensial—dan populasi dunia telah melonjak dari 1 miliar menjadi sekitar 7,6 miliar. Ukuran lain dari perkembangan teknologi akhir-akir ini adalah konsumsi listrik, atau jumlah artikel ilmiah.

(hlm.117)

Mungkin saja tabrakan acak antara atom-atom membangun makro-molekual yang dapat mereproduksi diri dan menyusun diri menjadi struktur yang lebih rumit.

(hlm.127)

8

HARUSKAH KITA MENGOLONISASI
RUANG ANGKASA?

Beberapa diantaranya akan berada di zona Goldilocks, yakni jarak dari bintangnya berada di kisaran yang tepat agar air cair ada di permukaanya.

(hlm.128)

Kecapatan knalpot, roket kimia, seperti yang kita gunakan sejauh ini, sekitar tiga kilometer per detik. Dengan membuang 30 persen massa mereka, mereka dapat menambah kecepatan sekitar setengah kilometer per detik dan kemudian melambat lagi. Menurut Nasa, diperlukan waktu sekitar 260 hari untuk mencapai Mars, ditambah atau dikurangi sepuluh hari, sementara beberapa ilmuwan NASA memprediksi hanya memakan waktu 130 hari.

(hlm.133)

9

AKANKAH INTELIJENSIA ARTIFISIAL
MENGUNGGULI KITA?

Kecerdasan (intelligence) adalah pusat dari apa artinya menjadi manusia. Segala sesuatu yang ditawarkan oleh peradaban adalah produk kecerdasan manusia.

(hlm.139)

Itu menguji apakah pemberian hak hukum bagi robot sebagai pribadi elektronik, setara dengan definisi badan hukum korporasi, akan diizinkan atau tidak.

(hlm.145)

10

BAGAIMANA KITA MEMBENTUK
MASA DEPAN?

Ketika saya berpikir tentang kejeniusan, Einstein muncul dalam pikiran. Dari mana ide-ide jeniusnya berasal? Perpaduan kualitas, mungkin: intuisi, orisinalitas, kecemerlangan. Einstein memiliki kemampuan untuk melihat melampaui permukaan sesuatu untuk mengungkapkan struktur yang mendasarinya. Dia tidak gentar oleh pandangan umum, gagasan bahwa segala sesuatu pasti seperti yang mereka lihat. Dia memiliki keberanian untuk keberanian untuk mengejar ide-ide yang tampaknya tidak masuk akal bagi orang lain. Dan ini membuatnya bebas untuk bagi seorang yang cerdik, seorang jenius di zamannya dan setiap zaman lainnya.

Elemen kunci untuk Einstein adalah imajinasi. Banyak penemuannya berasal dari kemampuannya untuk membayangkan kembali alam semesta melalui eksperimen pikiran. Pada usia enam belas tahun ketika dia membayangkan menunggangi seberkas cahaya, dia menyadari bahwa dari posisi yang menguntungkan ini, cahaya akan muncul sebagai gelombag beku. Citra itu akhirnya mengarah pada teori relativitas khusus.

(hlm.147)

Saya beruntung bisa hidup melalui apa yang telah menjadi masa kejayaan di bidang yang saya pilih, kosmologi, studi tentang asal mula alam semesta.

(hlm.158)

Kata Penutup
Lucy Hawking

Dia adalah pria yang sangat sederhana yang, sembari memuja sorotan, tampak tercengang oleh ketenarannya sendiri. Sepotong kalimat dalam buku ini yang melompat dari halaman ke arahku betapa menyimpulkan sikapnya terhadap dirinya sendiri: “jika saya telah memberika kontribusi.” Dia adalah satu-satunya orang yang akan menyelipkan “jika” untuk kalimat itu. Aku pikir orang lain pun merasa sangat yakin kalau dia sudah melakukannya.

(hlm.160)

Kadang-kadang, aku hanya ingin berpegang pada kata-kata terakhir yang dikatakan ayahku kepadaku, bahwa aku adalah putri yang cantik dan bahwa aku seharusnya tidak boleh takut.

Tujuh Pelajaran Singkat Fisika

Carlo Rovelli

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Tujuh Pelajaran Singkat Fisika oleh Carlo Rovelli.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

TUJUH PELAJARAN

SINGKAT

FISIKA

CARLO ROVELLI

TUJUH PELAJARAN SINGKAT FISIKA
Carlo Rovelli

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Alih bahasa: Zia Anshor
Tata letak isi: Fajarianto

ISBN: 978-602-03-8147-3

PENGANTAR

Sains menunjukkan kepada kita cara memahami dunia dengan lebih baik, sekaligus memperlihatkan betapa luasnya ketidaktahuan kita.

(hlm.1)

PELAJARAN PERTAMA    
Teori Terindah di Antara Semua Teori

Albert membaca karya Kant dan terkadang menghadiri kuliah di Universitas Pavia: karena suka, tanpa terdaftar sebagai mahasiswa di sana ataupun harus memikirkan ujian. Seperti itulah ilmuwan terbentuk.

(hlm.3)

Ada mahakarya-mahakarya yang menggugah kita secara intens: Requiem Mozart, Odysseus Homeros, Kapel Sistine, King Lear. Untuk mengapresiasi sepenuhnya kehebatan karya-karya itu mungkin diperlukan masa belajar yang panjang, namun imbalannya adalah keindahan paripurna—dan bukan hanya itu, melainkan juga terbukannya mata kita terhadap sudut pandang baru atas dunia. Permata Einstein, teori relativitas umum, adalah mahakarya sekelas itu.

(hlm.4)

Sejak kita menemukan bahwa bumi itu bulat dan berputar seperti gasing, kita telah mengerti bahwa realitas tidaklah sebagaimana yang kita lihat: tiap kali kita menyimak aspek barunya, terjadilah pengalaman amat emosional. Satu lagi tabir telah tersingkap.

(hlm.5)

Sejak muda, Einstein sudah kagum dengan medan elektromagnetik yang memutar rotor pembangkit listrik buatan ayahnya, dan dia segera mengerti bahwa gravitasi, seperti listrik, mesti dihantarkan oleh medan juga: suatu “medan gravitasi” yang sepadan dengan “medan listrik” mesti ada. Dia bertekad memahami bagaimana “medan gravitasi” bekerja dan cara menjabarkannya dengan persamaan.

Dan di titik itulah suatu gagasan luar biasa terpikir oleh Einstein, suatu langkah genius sejati: medan gravitasi bukan menyebar melalui ruang; medan gravitasi adalah ruang itu sendiri. Itulah inti teori relativitas umum. “Ruang” Newton, tempat benda-benda bergerak, dan “medan gravitasi” adalah hal yang sama.

(hlm.6)

Tak ada gaya misterius yang dibangkitkan di tengah corong; sifat lengkung dindingnya yang membuat kelereng bergulir. Planet-planet mengelilingi matahari, dan benda-benda jatuh, karena ruang melengkung.

(hlm.7)

Tapi bukan hanya ruang yang melengkung; waku juga melengkung. Einstein memprediksi bahwa waktu berlalu lebih cepat di ketinggian daripada di bawah, lebih dekat ke bumi.

(hlm.8)

Pendek kata, teori itu menjabarkan dunia penuh warna dan luar biasa di mana alam semesta meledak, ruang runtuh menjadi lubang tanpa dasar, waktu melambat dekat planet, dan perluasan ruang antarbinatang tanpa batas beriak dan  berombak seperti permukaan laut.

(hlm.12)

PELAJARAN KEDUA         
Kuanta

Einstein menunjukkan bahwa cahaya tersusun dari paket-paket: zarah cahaya. Kini kita menyebutnya “fotoan”.

(hlm.13)

Baris-baris sederhana dan jelas itu adalah akta kelahiran teori kuantum. Perhatikan pembukanya yang menakjubkan “Tampaknya bagi saya…”, menyerupai “Saya pikir…” yang Darwin gunakan untuk membuka buku catatanya yang berisi gagasan besar bahwa spesies berevolusi, atau “keraguan” yang disebut Faraday ketika memperkenalkan gagasan revolusioner medan magnet untuk pertama kali. Orag genius itu meragu.

(hlm.14)

Mengapa unsur-unsur itu bisa didaftar di sana, dan mengapa tabel periodik punya struktur tertentu yang berulang, dan unsur-unsur memiliki sifat-sifat spesifik? Jawabannya adalah bahwa tiap unsur berkaitan dengan satu jawaban persamaan utama mekanika kuantum. Seluruh ilmu kimia berasal dari satu persamaan.

Orang pertama yang menulis persamaan-persamaan teori baru itu, berdasarkan gagasan-gagasan memusingkan, ialah seorang genius muda asal Jerman, Werner Heisenberg.

Heisenberg  membayangkan bahwa bahwa elektron tak selalu ada. Elektron hanya ada ketika seseorang atau sesuatu mengamatinya, atau lebih baik lagi, ketika berinteraksi dengan sesuatu probabi yang lain. Elektron mewujud di satu tempat, dengan probabilitas yang bisa dihitung, ketika bertumbuhan dengan sesuatu. “Lompatan kuantum” dari satu orbit ke orbit lain adalah satu-satunya cara elektron menjadi “nyata”: satu elektron adalah serangkaian lompatan dari satu interaksi ke interaksi lain. Ketika tak ada yang mengganggunya, elektron tak berada di satu tempat tertentu. Elektron tak berada di satu tempat tertentu. Elektron tak berada di satu “tempat” sama sekali.

(hlm.15)

Dalam mekanika kuantum, tak ada benda yang punya posisi pasti, kecuali ketika bertumbuhan dengan sesuatu yang lain.

(hlm.17)

Persamaan-persamaannya bukan menjabarkan apa yang terjadi pada suatu sistem fisik, melainkan hanya bagaimana suatu sistem fisik memengaruhi sistem fisik lain.

(hlm.19)

PELAJARAN KETIGA        
Arsitektur Jagat Raya

Pelajaran ini tersusun atas gambar-gambar yang sebagaimana besarnya sederhana. Alasannya adalah bahwa sebelum ada percobaan, pengukuran, matematika, dan dedukasi ketat, sains adalah soal pandangan. Sains adalah soal pandangan. Sains berawal dari pandangan. Pemikiran sains dihidupkan oleh kapasitas “melihat” hal-hal secara berbeda daripada sebelumnya.

(hlm.28)

PELAJARAN KEEMPAT    
Zarah

Hakikat zarah-zarah itu, dan cara geraknya, dijabarkan oleh mekanika kuantum. Zarah-zarah itu hak nyata seperti batu, melainkan “kuanta” medan tertentu, seperti foton yang merupakan “kuanta” medan elektromagnetik.

Kekosongan sejati, yang sepenuhnya tak berisi apa pun, itu tak ada.

(hlm.36)

PELAJARAN KELIMA       
Bulir-Bulir Ruang

Pada pagi hari, dunia adalah ruang melengkung di mana semuanya kontinu; siangnya, dunia adalah ruang datar tempat kuanta-kuanta energi melompat.

Anehnya, kedua teori bekerja sangat baik,

Sekelompok ahli fisika teori di lima benua berusaha keras mencoba membereskan persoalan itu. Bidang studi mereka disebut “gravitasi kuantum”; tujuannya adalah menemukan teori, yaitu satu set persamaan—tapi utamanya adalah suatu visi koheren atas dunia—untuk menyelesaikan skizofrenia yang ada.

(hlm.37)

Newton menemukan gravitasi universal dengan memadukan parabola Galileo dengan elips Kepler. Maxwell menemukan persamaan-persamaan elektromagnetisme dengan memadukan teori listrik dan magnetisme. Einstein menemukan relativitas ketika menyelesaikan konflik antara elektromagnetisme dan mekanika.

(hlm.38)

Relativitas umum telah mengajari kita bahwa ruang bukanlah kotak lembam melainkan sesuatu yang dinamis: seperti cangkang siput besar yang dapat bergerak, di mana kita menempel pada permukaannya—yang bisa dimampatkan dan dipelintir. Di pihak lain, mekanika kuantum telah mengajari kita bahwa semua medan “terbuat dari kuanta” dan punya struktur halus berbutir. Artinya ruang fisik itu juga “terbuat dari kuanta”.

Dimanakah kuantum ruang berbeda? Tidak di mana-mana. Mereka bukan berada di ruang karena mereka adalah ruuang itu sendiri. Ruang diciptakan oleh pertautan kuanta-kuanta gravitasi individu. Sekali lagi, dunia tampak lebih berupa hubungan interaktif dibanding objek-objek kebendaan.

(hlm.39)

 Ilusi ruang dan waktu yang kontinu di sekitar kita adalah akibat pandangan kabur atas bergerombolnya proses-proses dasar, sebagaimana danau Alpen yang tenang dan jernih sebenernya berisi tarian cepat banyak sekali molekul-air yang amat sangat kecil.

(hlm.41)

Tahap terakhir hipotetis kehidupan suatu binatang, di mana fluktuasi kuantum ruang-waktu mengimbangi berat bintang tersebut, dikenal sebagai “bintang Planck”. Jika matahari berhenti bersinar dan berubah menjadi lubang hitam, maka garis tengahnya berukuran kira-kira satu setengah kilometer. Di dalam lubang hitam itu materi matahari bakal terus runtuh, dan akhirnya menjadi bintang Planck. Ukurannya kira-kira sebesar atom. Semua materi matahari termampatkan menjadi sebesar atom: suatu bintang Planck mestinya tersusun dari materi dalam keadaan ekstrem seperti ini.

(hlm.45)

PELAJARAN KEENAM      
Probabilitas, Waktu, dan        
Panas Lubang Hitam

Bersama teori-teori besar yang sudah saya bahas dan yang menjabarkan unsur-unsur dasar alam, ada satu lagi persoalan besar dalam fisika yang agak berbeda dengan yang lain. Satu pertanyaan tanpa diduga memunculkannya: “Apa itu panas?”

(hlm.46)

Benda panas  adalah benda yang ato-atomnya bergerak lebih cepat.

(hlm.47)

Perbedaan antara masa lalu dan masa depan hanya ada jika ada panas. Fenomena dasar yang membedakan masa depan dan masa lalu adalah kenyataan bahwa panas beralih dari bedan-benda yang  lebih panas ke benda-benda yang lebih dingin.

Jadi sekali lagi, seiring berjalannya waktu, mengapa panas berpindah dari benda panas ke benda dingin, dan tidak sebaliknya?

Alasannnya ditemuka Boltzmann dan ternyata amat sederhana: murni karena peluang.

Alasanya adalah bahwa menurut statistik lebih besar kemungkinan satu atom bergerak cepat di benda panas bertumbukan dengan atom dingin lalu meninggalkan sebagian energi, daripada sebaliknya.

(hlm.50)

Sendok dan balon berperilaku sebagimana mestinya, mengikuti hukum-hukum fisika secara independen dari pengetahuan dan ketidaktahuan kita.

(hlm.51)

Masalah-masalah seperti itu membawa kita ke inti masalah waktu: sebenernya apa itu aliran waktu?

(hlm.54)

Tapi karena keterbatasan kesadaran, kita hanya mendapat pandangan kabur atas dunia dan hidup dalam waktu.

(hlm.56)

Panas lubang hitam ibarat batu Rosetta bagi fisika, ditulis menggunakan kombinasi tiga bahasa—kuantum, gravitasi, dan termodinamika—yang masih menunggu diuraikan untuk mengungkap hakikat sejati waktu.

(hlm.59)

PENUTUP     
Dari Kita

Selama masa panjang idealisme Jerman, Schelling dapat mengajukan pemikiran bahwa manusia adalah puncak alam, titik tertinggi di mana realitas menjadi sadar atas dirinya sendiri. Hari ini, dari sudut pandang yang diberikan pengetahuan kita sekarang mengenai alam, gagasan itu hanya membuat kita tersenyum.

(hlm.60)

Dengan kesadaran bahwa kita selalu bisa kerilu, sehingga siap kapan saja untuk berubah arah bila suatu jejak baru muncul; namun mengetahui juga bahwa bila kita cukup baik dalam melakukannya, kita akan mendapatkan yang benar dan menemukan apa yang kita cari. Itulah hakikat sains.

(hlm.64)

Bebas merdeka bukan berarti perilaku kita tak diatur hkum alam. Artinya perilaku kita diatur hukum alam yang bekerja dalam otak kita.

Keputusan bebas kita ditentukan seara merdeka oleh hasil kekayaan interaksi antara miliaran self saraf dalam otak kita: bebas dalam batas diperkenankan dan ditentukan interaksi sel-sel saraf itu.

(hlm.70)

Di sana, di ujung pengetahuan kita, di depan sammudra ketidaktahuan, bersinarlah misteri dan keindahan dunia. Sungguh menakjubkan.

 

 

Asal Mula

Neil deGrasse Tyson dan Donald Goldsmith

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Asal Mula oleh Neil deGrasse Tyson dan Donald Goldsmith.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

Asal mula

Penulis

Neil deGrasse Tyson & Donald Goldsmith

Judul asli

Origins

Penerjemah

Ratna Satyaningsih

Cetakan pertama, Agustus 2019

ISBN: 978-603-481-203-4

(hlm.xvi)

KATA PENGANTAR

Meditasi Mengenai Asal Mula Sains
dan Sains Asal Mula

Sikap egosentris yang ditanamkan dalam diri kita oleh evolusi dan pengalaman di Bumi menggiring kita untuk secara alami memusatkan perhatian ke kejadian dan fenomena lokal ketika menceritakan ulang kisah-kisah mengenai asal-usul yang paling awal. Namun setiap kemajuan dalam pengetahuan yang kita miliki mengenai kosmos telah mengungkapkan bahwa kita tinggal di titik debu kosmik, yang mengorbit bintang yang biasa-biasa saja jauh di tepian galaksi yang juga biasa-biasa saja, di antara seratus miliar galaksi di alam semesta. Pengetahuan mengenai betapa tak pentingnya kita dalam kosmos membangkitkan mekanisme pertahanan dalam jiwa manusia. Banyak di antara kita tak sengaja meniru orang dalam karikatur yang menatap langit penuh bintang dan berkata ke temannya, “Waktu aku menatap bintang-bintang di atas sana, aku terkejut dengan betapa tak berartinya bintang-bintang itu.”

(hlm.xvii)

Setengah milenium lalu, pendekatan baru terhadap pemahaman alam perlahan-lahan mengambil alih. Sikap itu, yang kini kita sebut sebagai sains, muncul dari penggabungan teknologi-teknologi baru dan penemuan-penemuan yang bermunculan karenanya. Tersebarnya buku-buku cetak di Eropa, dibarengi dengan kemajuan dalam bepergian melalui darat dan perairan, memungkinkan individu-individu berkomunikasi dengan lebih cepat dan efektif sehingga mereka dapat mempelajari apa yang dikatakan orang lain dan dapat menanggapi dengan jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan sebelumnya. Pada abad ke-16 dan ke-17, kemajuan itu mempercepat terjadinya perdebatan dan mendorong munculnya cara baru untuk mendapatkan pengetahuan, berdasarkan prinsip bahwa cara paling efektif untuk memahami kosmos bergantung kepada pengamatan cermat, ditambah dengan upaya-upaya menentukan prinsip mendasar dan luas yang menjelaskan serangkaian hasil pengamatan tersebut. Ada satu konsep lagi yang melahirkan sains. Sains bergantung kepada skeptisisme terorganisasi, yakni keraguan metodis yang sinambung. Beberapa di antara kita meragukan kesimpulan kita sendiri,

(hlm.xviii)

jadi sains menggunakan pendekatan skeptis dengan cara menghargai mereka yang meragukan orang lain. Sudah sepantasnya kita menyebut pendekatan itu tak wajar; bukan karena pendekatan sains menghendaki agar kita tidak mempercayai pemikiran orang lain, melainkan karena sains mendorong dan menghargai mereka yang bisa menunjukkan bahwa kesimpulan saintis lain nyata-nyata keliru. Bagi saintis-saintis lain, saintis yang mengoreksi kekeliruan seorang kolega, atau menggunakan alasan-alasan yang tepat untuk benar-benar meragukan kesimpulan kolega tersebut berarti melakukan perbuatan mulia, seperti seorang guru Zen yang menampar muridnya yang keluar dari jalur meditasi, meskipun para saintis yang saling mengoreksi lebih tepat dikatakan sejajar daripada disebut sebagai guru dan murid. Dengan menghargai saintis yang menunjukkan kekeliruan saintis lain-pekerjaan yang lebih mudah dilakukan daripada menemukan kesalahan sendiri-para saintis sebagai satu kelompok telah menciptakan sistem alami swakoreksi. Para saintis bersama-sama telah membentuk perangkat yang paling efisien dan efektif untuk menganalisis alam, karena mereka ingin membuktikan bahwa teori saintis-saintis lain itu salah sekalipun mereka sepenuh hati mendukung upaya-upaya memajukan pengetahuan manusia. Dengan cara demikian, sains menjadi suatu capaian bersama, bukan perkumpulan yang anggotanya saling mengagumi dan tidak dimaksudkan demikian, Sebagaimana semua upaya memajukan kemanusiaan, pendekatan sains lebih berhasil secara teoretis daripada dalam prakteknya. Tidak semua saintis saling meragukan secara efektif sebagaimana mestinya. Keinginan untuk mengesankan para saintis yang menduduki kekuasaan, dan kadangkala pengaruh faktor-faktor di luar pengetahuan yang dimiliki, bisa mengganggu kemampuan swakoreksi sains. Namun, dalam jangka panjang, kekeliruan tidak akan berlangsung selamanya, karena saintis-saintis lain akan menemukannya dan mendongkrak karier mereka sendiri dengan menyebarluaskan penemuan tersebut. Kesimpulan-kesimpulan yang mampu bertahan dari serangan saintis lainnya akhirnya akan mendapatkan status “hukum” sains, diterima sebagai deskripsi sahih atas realitas, meskipun para saintis memahami bahwa masing-masing hukum suatu saat nanti akan disadari sebagai hanya bagian kebenaran yang lebih luas dan mendalam.

(hlm.xix)

Namun demikian, para saintis jarang menghabiskan waktu mereka untuk berusaha membuktikan kekeliruan saintis lain. Sebagian besar upaya sains melangkah lebih lanjut dengan menguji hipotesis yang sudah ada tapi belum sempurna dengan hasil pengamatan yang sudah lebih tajam. Kadangkala teori baru dan penting muncul, atau (yang lebih kerap terjadi pada era teknologi maju) hasil serangkaian pengamatan baru membuka jalan menuju seperangkat hipotesis baru yang menjelaskan hasil-hasil baru itu. Momen terhebat dalam sejarah sains telah muncul, dan akan selalu muncul, kala penjelasan baru, yang barangkali ditambah dengan hasil-hasil pengamatan baru, menghasilkan perubahan besar-besaran dalam kesimpulan-kesimpulan kita mengenai cara kerja alam. Kemajuan sains bergantung kepada individu-individu di kedua kubu: mereka yang mengumpulkan data yang lebih baik dan dengan cermat mengekstrapolasi dari data tersebut; dan mereka yang mengambil risiko besar – dan beruntung banyak bila berhasil – dengan meragukan kesimpulan yang sudah diterima secara luas.

Skeptisisme sebagai inti sains membuatnya lemah dalam merebut hati dan pikiran manusia, yang takut kontroversi dan lebih menyukai keamanan dalam kebenaran yang tampak kekal. Seandainya pendekatan sains hanyalah tafsir baru atas kosmos, pendekatan ini tidak akan pernah menjadi sesuatu yang berarti; tapi keberhasilan besar sains berada di fakta bahwa pendekatannya berfungsi. Jika Anda menumpang pesawat yang dibangun berdasarkan sains – dengan prinsip-prinsip yang mampu bertahan dari berbagai upaya untuk membuktikannya keliru – kemungkinan Anda sampai tujuan akan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan seandainya Anda menaiki pesawat yang dibangun berdasarkan, misalnya, aturan-aturan astrologi Weda.

(hlm.xxv)

OVERTURE

Kisah Terhebat yang
Pernah Diceritakan

Setelah tujuh atau delapan miliar tahun pengayaan unsur seperti ini, satu bintang biasa (Matahari) terlahir disuatu wilayah biasa (lengan Orion) di galaksi biasa (Bimasakti) di suatu bagian alam semesta yang tidak istimewa (pinggiran supergugus Virgo).

Seandainya Bumi terbentuk di jarak lebih dekat ke Matahari, laut akan menguap. Seandainya Bumi terletak lebih jauh, laut akan membeku. Dalam dua kondisi tersebut, kehidupan yang kita kenal tak akan berevolusi.

(hlm.xxvi)

Ya, alam semesta punya awal. Benar, alam semesta terus berevolusi. Dan betul, setiap atom di tubuh kita bisa ditelusuri hingga ke Ledakan Besar dan pembakaran termonuklir dalam bintang-bintang masif. Kita tak sekadar berada di alam semesta, kita adalah bagian alam semesta. Kita terlahir dari alam semesta. Orang mungkin akan berkata bahwa alam semesta telah memberdayakan kita, di sini di sudut kecil kosmos, untuk memahaminya. Dan kita baru saja mulai.

(hlm.3)

BAB 1

Pada Mulanya

Pada mulanya, terdapatlah fisika. “Fisika” menjelaskan bagaimana zat, energi, ruang, dan waktu berperilaku dan saling berinteraksi. Interaksi antara karakter-karakter dalam drama kosmik kita mendasari semua fenomena biologi dan kimia. Dengan demikian, segala sesuatu yang fundamental dan familier bagi kita warga Bumi dimulai dengan, dan terletak di, hukum-hukum fisika.

(hlm.4)

Salah satu ciri utama fisika klasik adalah bahwa kejadian, hukum, dan prediksi sesungguhnya masuk akal ketika Anda merenungkannya sejenak. Semuanya ditemukan dan diuji laboratorium biasa yang berada di bangunan biasa.

(hlm.7)

Bisa memahami perilaku ruang, waktu, zat, dan energi sejak Ledakan Besar hingga sekarang adalah salah satu keberhasilan terhebat pemikiran manusia.

(hlm.13)

Namun, apa yang terjadi sebelum segala kedahsyatan kosmik itu? Apa yang terjadi sebelum permulaan?

Orang yang meyakini bahwa dirinya mengerti segalanya tidak akan mencari tahu, tidak pula kebetulan menemukan, batas antara apa yang sudah dan belum diketahui di alam semesta. Dan di sanalah terletak dikotomi yang menarik. “alam semesta senantiasa ada,” tidak dihargai sebagai jawaban logis untuk pertanyaan “apa yang ada sebelum permulaan?” Namun, bagi banyak orang religius, jawaban “Tuhan senantiasa ada,” adalah jawaban yang sudah jelas dan memuaskan untuk pertanyaan “Apa yang ada sebelum Tuhan?”

(hlm.24)

BAB 3

Jadilah Terang

Meskipun Gamow mendapat wawasan penting bahwa alam semesta dini lebih panas daripada sekarang, Alpher dan Herman-lah yang pertama kali menghitung berapa suhunya sekarang: 5 derajat Kelvin. Mereka memang memperoleh nilai yang salah-CBR sebenarnya bersuhu 2,73 derajat Kelvin. Meskipun demikian, tiga saintis itu berhasil mengekstrapolasi hingga jauh ke masa yang telah lama berlalu-suatu prestasi hebat sebagaimana yang lain dalam sejarah sains. Menggunakan fisika atom dasar dari laboratorium untuk menyimpulkan fenomena berskala terbesar yang pernah diukur, yaitu sejarah suhu alam semesta, sangatlah mengesankan. J. Richard Gott III, ahli astrofisika di Princeton University, menilai pencapaian itu dalam Time Travel in Einstein’s Universe dengan menulis: “Memprediksi radiasi tersebut ada dan mendapatkan nilai suhu yang benar hingga perbedaan hampir dua kali lipat adalah capaian yang luar biasa-seperti memprediksi piring terbang selebar 50 meter akan mendarat di halaman Gedung Putih lalu menyaksikan piring terbang selebar 27 meter betul-betul muncul.”

(hlm.27)

Mengapa orang harus menerima tafsir tersebut? Karena bisa dibuktikan. Foton membutuhkan waktu untuk mencapai kita dari bagian jauh kosmos sehingga kita pasti melihat masa lalu saat kita melihat ke antariksa. Artinya, jika makhluk cerdas di galaksi yang amat jauh mengukur sendiri suhu radiasi latar belakang, jauh sebelum kita berhasil melakukannya, mereka semestinya sudah mengetahui suhunya di atas 2,73 derajat Kelvin karena mereka telah menghuni alam semesta ketika alam semesta masih lebih muda, lebih kecil, dan lebih panas daripada sekarang.

Bisakah pernyataan yang berani ini diuji? Bisa. Molekul senyawa karbon dan nitrogen bernama sianogen – lebih dikenal oleh narapidana kasus pembunuhan sebagai bahan aktif gas yang digunakan untuk hukuman mati – ternyata akan mengalami eksitasi (menyerap energi sehingga naik ke tingkat energi lebih tinggi) bila terkena gelombang mikro. Jika gelombang mikro tersebut lebih panas daripada CBR, gelombang itu akan mengeksitasi molekul dengan lebih efektif. Jadi senyawa sianogen bertindak sebagai termometer kosmik. Ketika kita mengamatinya di galaksi jauh, yang berarti lebih muda, senyawa itu seharusnya terpapar radiasi latar belakang yang lebih panas daripada sianogen di Bimasakti. Dengan kata lain, galaksi-galaksi itu akan mengalami eksitasi lebih banyak daripada kita. Dan memang demikian. Spektrum sianogen di galaksi-galaksi jauh menunjukkan suhu gelombang mikro tepat seperti yang kita duga untuk masa ketika kosmos lebih muda.

 (hlm.31)

BAB 4

Jadilah Gelap

Isaac Newton, saintis paling brilian dan berpengaruh pada milenium ini, ialah yang menyadari bahwa “aksi jarak jauh” gravitasi yang misterius muncul dari efek alami setiap zat, dan gaya tarik-menarik antara dua objek dapat dijelaskan dengan persamaan aljabar sederhana. Albert Einstein, saintis paling brilian dan berpengaruh pada abad ke-20, ialah yang menunjukkan bahwa kita dapat secara akurat mendeskripsikan aksi jarak jauh gravitasi sebagai pelengkungan ruang-waktu akibat kombinasi zat dan energi. Einstein menunjukkan bahwa teori Newton perlu dimodifikasi supaya bisa menjelaskan gravitasi secara akurat-untuk memprediksi, misalnya, besarnya gravitasi yang membelokkan berkas-berkas cahaya yang lewat di dekat objek masif.

(hlm.33)

Seandainya tiba-tiba Matahari mendapat tambahan massa, Bumi dan segalanya di tata surya akan membutuhkan kecepatan lebih tinggi supaya tetap berada di orbitnya sekarang.

(hlm.35)

Di seluruh alam semesta, rata-rata faktor tersebut bernilai sekitar enam kali lipat. Jadi, zat gelap memiliki massa sekitar enam kali massa seluruh zat yang tampak.

(hlm.40)

Namun ketidaktahuan menganai zat gelap berbeda sekali dengan ketidaktahuan akan ether. Ether menjadi pengganti pemahaman kita yang tak lengkap, sedangkan keberadaan zat gelap diketahui bukan berdasarkan anggapan semata melainkan dari pengamatan efek gravitasinya ke zat tampak. Kita bukan mengarang keberadaan zat gelap, melainkan menyimpulkan keberadaannya dari fakta-fakta hasil observasi.

(hlm.45)

BAB 5

Jadilah Lebih Gelap

Kita telah menemukan sisi gelap alam semesta berisi zat gelap yang penuh teka-teki, terdeteksi hanya dari pengaruh gravitasinya kepada zat tampak tapi bentuk dan komposisinya sama sekali tidak diketahui.

(hlm.46)

Dalam beberapa minggu setelah Einstein mempublikasikan teorinya, ahli fisika Karl Schwarzschild, yang mengasingkan diri dari kengerian kehidupan sebagai tentara Jerman (yang tak lama kemudian menyebabkan dia sakit parah), menggunakan konsep Einstein untuk menunjukan bahwa satu objek yang memiliki gravitasi cukup kuat akan menciptakan ”singularitas” dalam ruang. Disingularitas, ruang melengkung sepenuhnya di sekeliling objek tersebut da mencegah apa pun, termasuk cahaya, meninggalkan lingkungan terdekat objek itu. Kini kita menyebut objek itu lubang hitam.

(hlm.49)

Kosmos berkurvatur positif memiliki sifat bahwa jika Anda bepergian keluar Bumi dalam jangka waktu sangat lama, akhirnya Anda akan kembali lagi ke titik semula, seperti Magellan mengelilingi Bumi.

Ketika ahli astronomi mengamati objek-objek berjarak miliaran tahun cahaya dari Bimasakti, mereka melihat jauh ke masa lampau sehingga mereka melihat kosmos bukan sebagaimana sekarang, melainkan beberapa saat setelah Ledakan Besar. Pengamatan atas galaksi-galaksi yang berjarak 5 miliar tahun cahaya atau lebih dari Bimasakti memungkinkan ahli kosmologi merekonstruksi bagian penting sejarah pemuaian alam semesta.

(hlm.61)

Sebagaimana yang sudah diketahui, itu adalah perkiraan terbaik yang diperoleh para ahli astrofisika sekarang untuk nilai-nilai dua parameterutama kosmos yang menunjukan bahwa zat, baik zat biasa maupun zat gelap, menyumbang 27 persen dari total kerapatan energi di alam semesta, dan energi gelap menyumbang 73 persen. (jika kita lebih senang memikirkan massa ekuivalen energi, E/c2, maka energi gelap menyediakan 73 persen dari seluruh massa.)

(hlm.67)

BAB 6

Alam Semesta Tunggal atau Jamak?

Argumen itu lebih mendapat perhatian jika kita berasumsi, seperti yang dilakukan oleh banyak ahli kosmologi, bahwa segala sesuatu yang kita sebut alam semesta adalah bagian “multisemesta” (multiverse), yang berisi alam-alam semesta yang tak terhingga banyaknya tapi tidak berinteraksi satu sama lain: dalam konsep multisemesta, seluruh keadaan melekat ke dimensi yang lebih tinggi sehingga ruang di alam semesta kita tetap tidak dapat diakses oleh alam semesta lain, dan begitu pula sebaliknya. Tidak adanya interaksi yang secara teori dimungkinkan itu menyebabkan teori multisemesta tergolong hipotesis yang tampaknya tidak dapat diuji dan dengan demikian tidak dapat diverifikasi. Dalam multisemesta, alam-alam semesta baru terbentuk pada waktu yang benar-benar acak, mampu mengembang menjadi volume yang amat besar karena inflasi, dan ketika itu terjadi, tidak mengganggu alam semesta lain yang tak berhingga banyaknya.

(hlm.75)

BAGIAN II

ASAL MULA GALAKSI DAN STRUKTUR KOSMIK

BAB 7

Menemukan Galaksi

Kata “galaksi” memang berasal dari bahasa Yunani galaktos, atau “susu”. Langit juga berisi objek-objek samar, yang oleh sains dinamai nebula berdasarkan kata dalam bahasa Latin untuk awan. Objek-objek itu memiliki bentuk yang tidak menentu, seperti nebula Kepiting di rasi Taurus dan nebula Andromeda, yang tampak berada di antara bintang-bintang anggota rasi Andromeda.

 

 

Kosmos

Carl Sagan

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Kosmos oleh Carl Sagan.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

Kosmos

Esai Pembuka oleh NEIL deGRASSE TYSON

Pengantar ANN DRUYAN

CARL SAGAN

Kosmos

Jakarta ; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

ISBN    : 978-602-424-224-4

BAB I

TEPI LAUTAN KOSMIK

Apa yang kita ketahui itu terbatas, sedangkan yang tidak kita ketahui itu tak berhingga; secara intelektual kita berdiri di satu pulau kecil di tengah-tengah lautan ketidaktahuan tak terbatas. Tugas kita di setiap generasi adalah mereklamasi untuk memperluas daratan.

                                                                                                                        -T.H. Huxley, 1887

                                                                                                                                    ( hlm 1 )

KOSMOS ADALAH SEGALA yang ada atau pernah ada atau akan ada.

                                                                                                                                    ( hlm 2 )

Seandainya kita secara acak dimasukan ke dalam Kosmos, peluang kita berada di atas atau di dekat satu planet adalah di bawah satu per satu miliar triliun triliun1 (1033, angka satu diikuti 33 angka nol). Dalam kehidupan sehari-hari peluang sekecil itu membangkitkan ketakjuban. Dunia begitu berharga.

                                                                                                                                    ( hlm 3 )

Hukum alam berlaku sama di seluruh Kosmos.

                                                                                                                                    ( hlm 5 )

Umat manusia, terlahir dari bintang-bintang dan kini tinggal untuk sementara waktu di dunia bernama Bumi, telah memulai perjalanan panjang untuk pulang.

                                                                                                                                    ( hlm 8 )

Eratosthenes bertanya kepada diri sendiri, bagaimana bisa pada waktu yang sama tongkat di Syene tidak punya bayangan sedangkan di Alexandria, yang berada jauh di utara, punya bayangan.

Bayangkan pada waktu tertentu masing-masing tongkat tidak memiliki bayangan. Sangatlah mudah memahaminya—kalau Bumi itu datar. Kalau demikian, artinya Matahari tepat diatas kepala. Jika kedua tongkat memiliki bayangan yang sama panjang, itu akan masuk akal juga bila Bumi itu datar: berkas-berkas cayaha Matahari akan membentuk sudut yang sama besar terhadap kedua tongkat. Namun, bagaimana bisa tidak ada bayangan di Syene sedangkan pada waktu yang bersamaan ada bayangan di Alexandria?

Satu-satunya jawaban yang masuk akal, Eratosthenes menyimpulkan, adalah bahwa permukaan Bumi itu melengkung.

                                                                                                                                    ( hlm 9 )

Eratosthenes mengetahui bahwa jarak antara Alexandria dan Syene sekitar 800 kilometer karena dia membayar orang untuk berjalan mengukurnya. Delapan ratus kilometer kali 50 adalah 40.000 kilometer: semestinya sepanjang itulah keliling Bumi.2

                                                                                                                                    ( hlm 10 )

Jadi, dengan mengukur panjang bayangan di Alexandria, Eratosthenes menyimpulkan bahwa jarak Syene ke Alexandria adalah A = B = 70 keliling Bumi.

                                                                                                                                    ( hlm 11 )

Kosmos berasal dari bahasa Yunani yang berarti keteraturan alam semestas. Lawan katanya adalah Khaos, ketidakteraturan. Kata Kosmos menyiratkan keterkaitan yang mendalam antara segala hal.

                                                                                                                                    ( hlm 15 )

Kita mengetahui, misalnya bahwa di rak perpustakaan terdapat buku karya ahli astronomi Aristarkhos dari Samos, yang berpendapat bahwa Bumi adalah salah satu planet, yang seperti planet-planet lainnya bergerak mengelilingi Matahari, dan bahwa bintang-bintang terletak sangat jauh. Masing-masing kesimpulan ini sepenuhnya benar, tapi kita harus menunggu  hampir 2000 tahun sampai kesimpulan-kesimpulan itu ditemukan kembali. Jika kita mengalikan rasa kehilangan kita terhadap karya Aristarkhos dengan seratus ribu, maka kita barulah menghargai betapa hebatnya pencapaian peradaban klasik dan tragedi perusakannya.

                                                                                                                                    ( hlm 17 )

BAB II

SATU SUARA DALAM FUGA KOSMIK

Barangkali semua makhluk organik yang pernah hidup di bumi adalah keturunan dari satu bentuk primordial, yang kepadanya pertama kali ditiupkan kehidupan…. Ada kemegahan dalam cara memandang  kehidupan ini… bahwa, sementara planet ini terus berputar berdasarkan hukum gravitasi yang  kekal, dari awal yang begitu sederhana, tiada habis-habisnya bentuk-bentuk yang paling indah dan menakjubkan telah, dan sedang, berevolusi.

                                                                        -Charles Darwin, The Origin of Species, 1859

                                                                                                                                    ( hlm 19 )

Kadang-kadang ada yang mengatakan alangkah beruntungnya karena Bumi cocok sekali untuk kehidupan—suhu moderat, air cair, atmosfer mengandung oksigen, dan lain-lain. Tapi pernyataan itu, atau sebagainya, adalah percampuradukan sebab dan akibat. Kita para makhluk Bumi, berhasil beradaptasi terhadap lingkungan Bumi karena kita tumbuh di sini. Bentuk-bentuk kehidupan awal yang tidak mampu beradaptasi sudah mati.

                                                                                                                                    ( hlm 20 )

Dengan mengembalikan kepiting borpola mirip wajah ke laut, para nelayan memicu jalannya proses evolusi: seandainya Anda kepiting dan cangkang Anda biasa-biasa saja, manusia akan memakan Anda. Keturunan Anda akan lebih sedikit. Kalau cangkang Anda tampak mirip dengan wajah manusia, para nelayan akan mengembalikan Anda ke laut. Keturunan Anda akan lebih banyak. Kepiting punya investasi besar dalam pola-pola di cangkangnya. Setelah melewati banyak generasi kepiting maupun nelayan, kepiting-kepiting dengan pola paling menyerupai pola wajah samurai akan lebih banyak bertahan hidup hingga akhirnya ada pola yang tidak sekedar mirip wajah manusia, bukan pula wajah orang Jepang, melainkan wajah garang samurai. Ini semua tidak ada kaitannya dengan keinginan kepiting. Seleksi ditentukan oleh faktor luar. Semakin mirip samurai, semakin besar peluang si kepiting untuk hidup. Akhirnya ada banyak sekali kepiting samurai.

Proses ini disebut seleksi buatan.

                                                                                                                                    ( hlm 23 )

Sepuluh ribu tahun lalu, tidak ada sapi perah atau anjing pemburu atau biji jagung berukuran besar.

Tapi, jika manusia bisa membuat varietas tumbuhan dan hewan baru, tidak bisakah alam melakukan hal yang sama? Proses ini disebut seleksi alam.

                                                                                                                                    ( hlm 24 )

Spesies yang telah punah dalam sejarah Bumi lebih banyak daripada spesies yang ada sekarang; spesies-spesies itu merupakan percobaan evolusi  yang terhenti.

Kalau seleksi buatan bisa mengakibatkan perubahan besar dalam waktu singkat, bagaimana dengan seleksi alam yang berlangsung selama miliaran tahun? Jawabannya adalah segala keindahan dan keanekaragaman hayati. Evolusi adalah fakta, bukan teori.

                                                                                                                                    ( hlm 25 )

Bukankah perancang yang sangat kompeten mampu membuat variasi yang diinginkan sejak awal?

                                                                                                                                    ( hlm 28 )

Yang saya lihat adalah makhluk yang berbeda, dan bisa berfungsi, dengan sayap lebih besar serta antena panjang berbulu. Saya menyimpulkan bahwa takdir telah mengatur sehingga contoh perubahan evolusioner nyata di suatu generasi, sesuatu yang kata Muller tidak akan pernah terjadi, telah berlangsung di laboratoriumnya sendiri. Menjelaskan itu kepada dia adalah tugas yang tak menyenangkan.

                                                                                                                                    ( hlm 29 )

Rahasia evolusi adalah kematian dan waktu—kematian sejumlah besar bentuk kehidupan yang tidak beradaptasi sempurna dengan lingkungan; dan waktu yang dibutuhkan untuk kemunculan serangkaian mutasi kecil yang kebetulan adaptif, waktu untuk akumulasi perlahan pola-pola mutasi menguntungkan. Sebagian penolakan terhadap gagasan Darwin dan Wallace muncul dari kesulitan kita membayangkan berlalunya ribuan, apalagi jutaan tahun.

                                                                                                                                    ( hlm 30 )

Alasan mengapa setiap organisme berbeda terletak di perbedaan intruksi dalam asam nukleat yang dimilikinya.

Empat miliar tahun lalu, Bumi merupakan Surga Molekuler. Pemangsa belum ada.

                                                                                                                                    ( hlm 31 )

Dalam proses tersebut kita menghembuskan karbon dioksida, yang diambil lagi oleh tumbuhan untuk membuat karbohidrat. Alangkah hebatnya pengaturan kerja sama ini—tumbuhan dan hewan masing-masing menghirup apa yang diembuskan oleh yang lain, semacam pernafasan bantuan dari mulut ke stoma dalam skala planet, siklus elok yang ditenagai oleh bintang berjarak 150 juta kilometer.

Pohon ek dan saya terbuat dari bahan yang sama. Jika mundur cukup jauh ke masa lalu, akan ketahuan bahwa kita semua memiliki leluhur yang sama.

                                                                                                                                    ( hlm 35 )

Langkah ke-4 dalam kontruksi nukleotida guanosin fosfat, misalnya, atau langkah ke-11 dalam melepaskan molekul gula untuk mengekstrak energi, mata uang yang digunakan supaya pekerjaan seluler lainnya beres. Tapi pengendali semua itu bukan enzim. Enzim menerima instruksi-instruksi secara berurutan dari yang memberi perintah. Molekul-molekul yang memberi perintah adalah asam nukleat. Molekul-molekul ini mengasingkan diri di kota terlarang jauh di bagian dalam, yaitu di inti sel.

Seandainya kita masuk ke dalam inti sel melalui pori-pori, kita akan menjumpai sesuatu yang menyerupai ledakan di pabrik spageti—banyak sekali pilihan dan pita tak beraturan, yaitu dua jenis asam nukleat: DNA, yang tahu apa yang harus dikerjakan, dan RNA, yang menyampaikan perintah DNA ke sel-sel lain. Inilah hal terbaik yang dihasilkan evolusi selama empat miliar tahun, berisi informasi komplit mengenai cara kerja sel, pohon, atau manusia. Jumlah informasi dalam DNA manusia, jika ditulis dalam bahasa sehari-hari, akan memenuhi seratus buku tebal. Selain itu, molekul-molekul DNA mengetahui bagaimana membuat tiruan identik dirinya sendiri, dan hanya kadang-kadang saja gagal. Molekul-molekul ini sangatlah pintar.

                                                                                                                                    ( hlm 36 )

Evolusi kehidupan membutuhkan keseimbangan antara mutasi dan seleksi. Jika keseimbangan itu diraih, terjadilah adaptasi yang luar biasa.

                                                                                                                                    ( hlm 38 )

Percobaan semacam itu pertama kali dilakukan pada 1950-an awal oleh Stanley Miller, yang kemudian menjadi mahasiswa pascasarjana di bawah bimbingan ahli kimia Harold Urey. Urey secara meyakinkan membuktikan bahwa atmosfer purba kaya akan hidrogen, karena sebagian besar Kosmos berupa hidrogen; bahwa perlahan-lahan hidrogen di atmosfer Bumi telah terlepas ke antariksa, tapi tidak demikian di Jupiter yang masif; dan bahwa asal-usul kehidupan terjadi sebelum hidrogen lenyap dari atmosfer Bumi.

                                                                                                                                    ( hlm 39 )

Makhluk hidup terkecil yang sudah diketahui, yakni viroid, mengandung kurang daripada 10.000 atom.

Viroid tersusun dari asam nukleat semata, tidak seperti virus, yang juga memiliki lapisan protein.

                                                                                                                                    ( hlm 40 )

Organisme hidup bebas yang paling kecil adalah PPLO (pleuropneumonia-like organism—organisme serupa pleuropneumonia) dan organisme-organisme kecil yang serupa. Organisme-organisme ini mengandung sekitar  lima puluh juta atom.

                                                                                                                                    ( hlm 41 )

Jumlah pemburu tidak bisa terlalu banyak karena bila mereka memangsa seluruh floater, para pemburu itu sendiri yang akan punah.

Biologi lebih mirip sejarah daripada fisika. Anda harus mengetahui masa lalu supaya dapat memahami masa kini. Anda juga harus mengetahui rincian-rincian kecil. Belum ada teori prediktif biologi, sebagaimana belum ada teori prediktif sejarah.

                                                                                                                                    ( hlm 44 )

BAB III

HARMONI PLANET-PLNET

SEANDAINYA KITA TINGGAL di planet yang tidak pernah mengalami perubahan, hanya sedikit yang bisa kita kerjakan. Tidak ada yang akan kita coba pahami. Tidak akan ada yang mendorong munculnya sains. Sedangkan seandainya kita tinggal di planet yang tidak dapat diprediksi, tempat segalanya berubah secara acak atau dengan cara yang amat rumit, kita tidak akan memahami apa-apa. Sains pun juga tidak akan ada.

                                                                                                                                    ( hlm 45 )

Jika Anda mengamati bintang secara cermat dan mencatatnya selama bertahun-tahun, Anda bisa memprediksi musim. Anda juga bisa mengukur panjang tahun dengan mencatat di sebelah mana Matahari terbit tiap harinya di cakrawala.

                                                                                                                                    ( hlm 47 )

Mengapa orang-orang di seluruh dunia berupaya mempelajari astronomi? Kita berburu rusa, antelop, dan kerbau yang pola migrasinya mengikuti musim.

                                                                                                                                    ( hlm 48 )

Selagi presisi pengukuran menjadi lebih baik, catatannya harus disimpan, sehingga astronomi mendorong observasi , matematika, dan pengembangan tulisan.

Namun, gagasan lain yang agak aneh muncul kemudian, suatu serangan oleh klenik dan takhayul terhadap sains empiris. Matahari dan bintang-bintang mengendalikan musim, makanan, dan kehangatan.

                                                                                                                                    ( hlm 49 )

Astrologi populer modern bermula dari Claudius Ptolemaeus, yang kita panggil Ptolemeus, meskipun dia tidak berkaitan dengan raja-raja yang bernama sama.

                                                                                                                                    ( hlm 53 )

Astronomi adalah satu cabang sains, yang mempelajari alam semesta sebagaimana adanya. Astrologi adalah pseudosains—klaim tanpa bukti yang menyatakan bahwa planet-planet lain mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita.

“Saya tahu bahwa hidup saya hanya sementara. Tapi ketika dengan senang hati saya mengikuti pergerakan sekumpulan bintang di lintasan berbentuk lingkarang, kaki saya tak lagi menapak Bumi…”

                                                                                                                                    ( hlm 54 )

Namun Tuhan bagi Kepler bukan sosok pemarah yang meminta dituruti. Tuhan Kepler adalah kekuatan kreatif di Kosmos. Keingintahuan Kepler mengalahkan rasa takutnya. Dia ingin mempelajari takdir dunia; dia berani merenungkan pemikiran Tuhan.

                                                                                                                                    ( hlm 58 )

Bila dunia diciptakan Tuhan, bukankah dunia sebaiknya diteliti dengan seksama? Tidakkah semua penciptaan adalah ungkapan harmoni pemikiran Tuhan? Buku Alam telah menunggu satu milenium lebih untuk dibaca.

                                                                                                                                    ( hlm 59 )

Hanya ada enam planet yang dikenal pada zaman Kepler: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Kepler bertanya-tanya mengapa Cuma enam? Kenapa bukan dua belas, atau seratus? Kenapa ada ruang antar orbit-orbit seperti yang disimpulkan oleh Kopernikus? Tidak ada yang mempertanyakan hal-hal semacam itu sebelumnya.

                                                                                                                                    ( hlm 60 )

Hanya ada satu orang di dunia yang punya akses ke pengamatan yang lebih akurat mengenai posisi semu planet, yaitu seorang bangsawan Denmark yang mengasingkan diri dan telah menerima posisi sebagai Ahli Matematika Kerajaan di Istana Kaisar Roma Suci, Rudolf II. Bangsawan itu bernama Tycho Brahe. Kebetulan, atas saran Kaisar Rudolf, dia mengundang Kepler, yang ketenaran matematisnya sedang berkembang, untuk bergabung dengannya di Praha.

                                                                                                                                    ( hlm 61 )

Tycho adalah pengamat jenius pada zaman itu, sedangkan Kepler adalah ahli teori terhebat. Masing-masing menyadari bahwa jika bekerja sendiri-sendiri, mereka tidak akan bisa mencapai sintesis sistem keplanetan yang akurat dan koheren, yang keduanya rasa akan segera tercapai. Namun, Tycho tidak akan menghadiahkan karya hidupnya kepada orang yang jauh lebih mida dan berpotensi menjadi pesaing.

                                                                                                                                    ( hlm 63 )

Kita masih belum benar-benar tahu mengapa hanya ada kurang lebih sembilan planet8, dan mengapa jarak relatif planet-planet terhadap Matahari sebagaimana adanya sekarang. (Lihat Bab 8)

                                                                                                                                    ( hlm 65 )

Planet bergerak di orbit berbentuk elips, dan menyapu luas daerah yang sama selang waktu yang sama.

Kala kita mengirim wahana antariksa ke planet lain, ketika kita mengamati bintang ganda, waktu kita mengamati pergerakan galaksi-galaksi jauh, kita melihat bahwa hukum Kepler dipatuhi di penjuru alam semesta.

                                                                                                                                    ( hlm 68 )

Bertahun-tahun kemudian, Kepler menemukan hukum ketiga dan terakhir, yaitu hukum yang menghubungkan gerak satu planet dengan planet lainnya dan menjelaskan secara gamblang mesin arloji tata surya.

Merkurius adalah pembawa pesan para dewa. Venus, Bumi, dan Mars bergerak mengelilingi Matahari dengan kecepatan yang bertahap semakin lambat ke arah luar.

Hukum ketiga Kepler atau hukum harmonik menyatakan bahwa kuadrat periode planet (waktu yang dibutuhkan planet untuk menempuh satu putaran orbit) sebanding dengan pangkat tiga jarak rata-ratanya Matahari; semakin jauh planet, semakin pelan geraknya, tapi menurut hukum matematika:    P2 = a3 , dengan P adalah periode revolusi planet mengelilingi Matahari, dalam satuan tahun, dan a adalah jarak planet dari Matahari dalam “satuan astronomi.”

                                                                                                                                    ( hlm 69 )

Inilah penjelasan non-mistik pertama atas gerak planet; penjelasan ini menjadikan Bumi hanyalah bagian Kosmos, bukan pusatnya.

Buku ini sanggup menunggu seabad untuk dibaca, karena Tuhan pun telah menunggu 6.000 tahun untuk disaksikan.

                                                                                                                                    ( hlm 71 )

Dia yakin bahwa kitab-kitab yang diwahyukan tidak mendukung doktrin Trinitas karena pemalsuan-pemalsuan sesudahnya. Tuhan yang diwahyukan adalah satu Tuhan.

                                                                                                                                    ( hlm 77 )

Newton menemukan hukum kelembaman, kecenderungan benda yang bergerak untuk terus bergerak lurus kecuali ada yang mengganggunya dan menggerakkannya keluar dari lintasannya. Menurut Newton, Bulan akan bergerak lurus, tegak lurus terhadap orbitnya, kecuali jika ada gaya lain yang secara konstan mengubah arah lintasannya mendekati bentuk lingkaran, menariknya ke arah Bumi. Gaya itu oleh Newton disebut gravitasi, dan dia yakin bahwa gravitasi bekerja dari jauh.

                                                                                                                                    ( hlm 79 )

Newton adalah orang pertama yang menemukan bahwa kedua fenomena itu disebabkan oleh gaya yang sama. Inilah makna kata “universal” yang diterapkan pada gravitasi Newtonian. Hukum gravitasi yang sama bekerja di seluruh alam semesta.

Ketiga hukum Kepler mengenai gerak planet dapat diturunkan dari prinsip-prinsip Newton. Hukum Kepler bersifat empiris, yaitu berdasarkan pengamatan seksama yang dilakukan oleh Tycho Brahe. Hukum Newton bersifat teoretis, yakni abstraksi matematis sederhana yang dapat diturunkan menjadi seluruh hasil pengukuran Tycho. Dari hukum-hukum ini, Newton menulis dengan kebanggaan yang tak ditutup-tutupi dalam buku Principia, “Sekarang saya menunjukkan kerangka Sistem Dunia.”

                                                                                                                                    ( hlm 80 )

BAB IV

SURGA DAN NERAKA

Sepertinya hanya ada satu penjelasan yang konsisten dengan semua fakta: pada 1908, pecahan komet menumbuk Bumi.

                                                                                                                                    ( hlm 87 )

Penyederhanaan itu, prediksi bahwa orbit komet beraturan, mendorong kawannya yang bernama Edmund Halley pada 1707 menghitung bahwa komet yang muncul tahun 1531, 1607, dan 1682 adalah komet yang sama, yang muncul setiap selang waktu 76 tahun, dan memprediksi komet tersebut akan kembali pada tahun 1758.

                                                                                                                                    ( hlm 91 )

Orbit-orbit planet yang ada sekarang adalah orbit-orbit planet yang selamat dari seleksi alam berupa tabrakan, Tata Surya setengah baya stabil yang pada awalnya banyak mengalami tabrakan-tabrakan katastrofis.

Waktu yang dibutuhkan sekali mengelilingi Matahari sangatlah lama jika Anda hidup di bagian luar Tata Surya.

                                                                                                                                    ( hlm 94 )

Lambat laun komet akan bertabrakan dengan planet. Bumi dan pendampingnya, Bulan, mestinya telah dihujani komet dan asteroid kecil, yaitu puing-puing sisa pembentukan Tata Surya.

                                                                                                                                    ( hlm 95 )

Sekitar seribu kawah berdiameter di atas satu kilometer terdapat di maria (bahasa latin untuk laut), daerah-daerah dataran rendah yang mungkin dibanjiri lava tak lama sesudah pembentukan Bulan, menutupi kawah yang ada sebelumnya.

                                                                                                                                    ( hlm 97 )

Banyak hipotesis yang diajukan baik oleh ilmuwan maupun oleh non-ilmuwan ternyata salah. Namun, sains adalah usaha yang melakukan koreksi diri. Supaya diterima, semua gagasan baru harus lolos standar ketat pembuktian. Aspek terburuk perkara Velikovsky bukan karena hipotesisnya salah atau bertentangan dengan fakta-fakta kuat yang ada, melainkan karena sebagian orang menyebut dirinya ilmuwan berupaya memberangus karya Velikovsky. Sains diciptakan dan disediakan untuk penyelidikan bebas: gagasan bahwa hipotesis apa pun, tak peduli betapa anehnya, layak dipikirkan menurut baik buruknya masing-masing. Pemberangusan gagasan-gagasan yang tak menyenangkan mungkin lazim di bidang agama dan politik, tapi itu bukan jalan menuju pengetahuan; tidak ada tempat untuk pemberangusan dalam ikhtisar sains. Kita tidak tahu siapa yang akan menemukan pengetahuan baru yang mendasar.

                                                                                                                                    ( hlm 103 )

Cahaya adalah gerakan gelombang: frekuensinya adalah banyaknya puncak gelombang yang memasuki instrumen pendeteksi, misalnya retina mata, dalam satuan waktu, misalnya detik. Semakin tinggi frekuensi, semakin besar energi radiasinya.

                                                                                                                                    ( hlm 105 )

Penelitian lebih lanjut menyingkap ada banyak sekali karbon dioksida di atmosfer Venus, yang bagi beberapa ilmuwan menunjukan bahwa seluruh air di Venus telah bereaksi dengan hidrokarbon dan membentuk karbon dioksida, dan dengan demikian permukaan Venus dulunya merupakan ladang minyak, lautan minyak bumi seluas planet.

                                                                                                                                    ( hlm 107 )

Tidak ada rawa, ladang minyak, ataupun lautan air soda. Tanpa data yang cukup, mudah sekali kita keliru.

                                                                                                                                    ( hlm 108 )

Planet biru kita yang menyenangkan ini, yaitu Bumi, adalah satu-satunya rumah yang kita ketahui. Venus terlalu pans. Mars terlalu dingin. Namun, Bumi pas sekali, surga bagi manusia.

                                                                                                                                    ( hlm 116 )

BAB V

LAGU BIRU UNTUK PLANET MERAH

Pandangan itu memiliki kualitas mitos setua Kitab Kejadian. Sebagian daya tariknya adalah fakta bahwa abad ke-19 adalah era keajaiban keahlian teknik, termasuk konstruksi kanal yang sangat besar: Terusan Suez, yang selesai dibangun pada 1869; Terusan Corinth, pada 1893; Terusan Panama, pada 1914; serta pintu-pintu air di Great Lake, kanal-kanal untuk kapal tongkang di pedalaman New York, dan kanal-kanal irigasi di Amerika Serikat barat daya.

                                                                                                                                    ( hlm 123 )

Setelah menempuh perjalanan antarplanet selama satu setengah tahun, melintasi seratus juta kilometer mengelilingi Matahari, masing-masing pasangan pengorbit/pendarat masuk ke dalam orbit semestinya di sekeliling Mars; wahana-wahana pengorbit memantau kandidat-kandidat lokasi pendaratan; wahana pendarat memasuki atmosfer Mars berdasarkan perintah yang dikirim lewat radio dan mengarahkan pelindung ablasi ke arah yang benar, melepaskan parasut, membuka penutup, dan menyalakan roket sungsang.

                                                                                                                                    ( hlm 136 )

Saya, dengan berat hati, mengakui sebagai chauvinis karbon. Karbon melimpah di Kosmos. Karbon menyusun molekul-molekul kompleks yang menakjubkan dan baik untuk kehidupan. Saya juga seorang chauvinis air. Air menjadi sistem pelarut ideal bagi kimia organik supaya dapat bereaksi dan tetap berwujud cair dalam rentang suhu yang lebar.

                                                                                                                                    ( hlm 145 )

Harold Morowitz telah menghitung berapa harganya yang diperlukan untuk bercampur dengan tepat molekul-molekul penyusun manusia dengan membeli molekul-molekul dari toko kimia. Jawabannya ternyata sekitar sepuluh juta dolar, yang mestinya membuat kita merasa lebih baik.

                                                                                                                                    ( hlm 146 )

BAB VI

DONGENG PARA PELANCONG

Perjalanan ke bagian luar tata surya dikendalikan dari satu tempat di planet Bumi, yakni Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA di Pasadena, California.

Voyager menggunakan sumber tenaga nuklir, yang menghasilkan energi ratusan watt dari peluruhan radioaktif plutonium.

                                                                                                                                    ( hlm 156 )

Karena toleransinya pada pendapat-pendapat non-ortodoks, Belanda menjadi tempat berlindung bagi kaum intelektual yang mengungsi dari tindak penyensoran dan pengendalian pemikiran di negara lain di Eropa—seperti Amerika Serikat yang mendapatkan keuntungan luar biasa pada 1930-an dari eksodus kaum intelektual dari Eropa yang dikuasai Nazi.

                                                                                                                                    ( hlm 160 )

“Rasanya tak percaya ada satu akal yang mampu memuat begitu banyak dan mahir di semuanya.”

“Dunia adalah negaraku,” katanya, “dan sains adalah agamaku.”

Mekanika kuantum modern menggabungkan kedua gagasan di atas, dan kini kita biasa menganggap cahaya dalam kondisi tertentu berperilaku sebagai zarah dan dalam kondisi lainnya sebagai gelombang.

                                                                                                                                    ( hlm 163 )

Leeuwenhoek dan Huygens termasuk orang-orang pertama yang melihat sel sperma manusia, prasyarat untuk memahami reproduksi manusia.

                                                                                                                                    ( hlm 164 )

Planet ini besar sekali. Jupiter dua kali lebih masif daripada gabungan seluruh planet lainnya. Tidak ada gunung, lembah, gunung berapi, sungai; tidak ada batas antara permukaan tanah dan udara; hanya lautan gas tebal dan awan-awan yang melayang-layang—dunia tanpa permukaan.

                                                                                                                                    ( hlm 175 )

Planet terbesar ini merupakan bintang yang gagal terbentuk.

                                                                                                                                    ( hlm 179 )

BAB VII

TULANG PUNGGUNG MALAM

Lebih baik saya memahami satu penyebab daripada menjadi Raja Persia.

—Demokritos dari Abdera

Jika dituliskan penjelasan yang sebenarnya atas gagasan Manusia mengenai Ketuhanan, dia diharuskan mengakui bahwa kata “tuhan” sebagian besar digunakan untuk menyebutkan penyebab yang tersembunyi, jauh, dan tak dikenal atas akibat-akibat yang dia saksikan; bahwa dia menggunakan kata itu ketika sumber alami penyebab-penyebab yang dikenal menjadi tak terlihat: begitu dia kehilangan urutan penyebab-penyebab ini, atau begitu akalnya tidak dapat mengikuti rentetannya, dia menyelesaikan kesukaran itu, menghentikan penyelidikannya, dengan menganggapnya berasal dari tuhan… Oleh karena itu, ketika dia menganggap kemunculan suatu fenomena berasal dari tuhan… apakah dia sesungguhnya berbuat lebih daripada sekadar menggantikan kegelapan akalnya sendiri dengan suara yang telah biasa didengarnya dengan penuh hormat?

—Paul Heinrich Dietrich, Baron von Holbach, Système de la Nature, London, 1770.

                                                                                                                                                                                ( hlm 187 )

Di bidang biologi terdapat prinsip yang berpengaruh sangat kuat meski tak selalu berlaku, yang disebut rekapitulasi: dalam perkembangan embrio individu, kita menyusuri kembali sejarah evolusi spesies. Menurut saya ada juga semacam rekapitulasi yang berlangsung di perkembangan intelektual individual kita. Tanpa sadar kita menyusuri kembali pemikiran leluhur jauh kita.

                                                                                                                                                                                ( hlm 190 )

Sebagian suku punya peraturan yang melarang berhubungan intim pada saat-saat tertentu selama Bulan membesar dan mengecil.

                                                                                                                                                                                ( hlm 194 )

Mereka berbulan madu di Samos, demikian yang diceritakan dalam dongeng-dongeng. Kepercayaan Yunani menjelaskan bahwa pita cahaya samar di langit malam adalah air susu Hera, yang menyembur dari payudaranya melintasi langit, suatu legenda yang menjadi asal-usul kata yang masih digunakan oleh orang Barat—Milky Way (Jalan Susu)

                                                                                                                                                                                ( hlm 197 )

Revolusi ini menjadi Kosmos dari Khaos.

                                                                                                                                                                                ( hlm 198 )

Tapi mengapa Ionia, mengapa di negeri pedesaan yang sederhana, di pulau-pulau dan perairan jauh di Mediterania timur? Mengapa bukan di kota-kota besar di India atau Mesir, Babilonia, Tiongkok, atau Mesoamerika?

Bangsa Ionia memiliki beberapa keunggulan. Ionia adalah dunia kepulauan. Isolasi, sekalipun tidak sempurna, melahirkan keberagaman. Dengan adanya banyak pulau, sistem politik pun bermacam-macam. Tak satupun konsentrasi kekuasaan yang bisa memaksakan keseragaman sosial dan intelektual di seluruh pulau.

                                                                                                                                    ( hlm 199 )

Penyelidikan bebas dimungkinkan. Penyebarluasan takhayul tidak dianggap kebutuhan politis. Berbeda dengan kebudayaan lain, kebudayaan Ionia berada di persimpangan peradaban, bukan di salah satu pusatnya.

Tapi jika satunya karangan, kenapa tidak keduanya sekalian?

Menurut saya Tiongkok, India, dan Mesoamerika juga bisa memahami sains seandainya mereka diberi tambahan waktu.

                                                                                                                                    ( hlm 200 )

Dan ternyata Ionia-lah yang menjadi tempat lahir sains.

Ilmuwan Ionia pertama adalah Thales dari Miletos, satu kota di Asia di seberang pulau Samos dengan terusan sempit di antara keduanya.

                                                                                                                                    ( hlm 201 )

Thales berusaha memahami dunia tanpa menyebut campur tangan para dewa.

                                                                                                                                    ( hlm 202 )

Inilah zaman Theodoros, pakar teknik zaman itu, yang dihargai di Yunani karena menciptakan kunci, penggaris, penggaris siku tukang kayu, waterpas, mesin bubut, teknik cor perunggu, dan pemanas terpusat.

Dalam buku Peri Arkhaias Iatrikes (Mengenai Pengobatan Kuno) Hippokrates menulis: “Orang-orang menyangka epilepsi adalah perbuatan ilahi hanya karena mereka tidak memahaminya. Tapi bila mereka menyebut segala sesuatu itu berasal dari ilahi yang tidak mereka pahami, akan tidak ada habisnya hal-hal yang berasal dari ilahi.”

                                                                                                                                    ( hlm 205 )

Dalam suatu pekerjaan yang masih berkaitan, Demokritus membayangkan menghitung volume kerucut atau piramida dengan sejumlah pelat yang sangat kecil dan disusun meruncing dari bagian dasar ke bagian puncak. Dia telah mengutarakan masalah yang dalam matematika disebut teori limit. Dia sudah berada sangat dekat dengan kalkulus diferensial dan integral, alat dasar untuk memahami dunia yang sepanjang kita ketahui dari catatan sejarah baru ditemukan pada zaman Isaac Newton. Seandainya karya Demokritus tidak dihancurkan seluruhnya, mungkin telah ada kalkulus pada zaman Yesus.7

                                                                                                                                    ( hlm 208 )

Doktrin tersebut sangatlah berbahaya sehingga manuskrip yang menjelaskannya harus diedarkan secara diam-diam, samizdat ala Athena.

                                                                                                                                    ( hlm 210 )

Ilmuwan-ilmuwan hebat mulai dari Thales hingga Demokritos dan Anaxagoras biasanya digambarkan dalam buku sejarah atau buku filsafat sebagai kelompok “Prasokratik”, seakan-akan tugas utama mereka adalah menjaga benteng filsafat hingga datangnya Sokrates, Plato, dan Aristoteles, dan barangkali sedikit mempengaruhi ketiga orang itu. Justru, orang-orang Ionia kuno itu melambangkan tradisi yang berbeda dan umumnya saling bertentangan, tradisi yang sesuai dengan sains modern. Bahwa pengaruh mereka kuat dirasakan hanya selama dua atau tiga abad adalah kerugian bagi seluruh umat manusia yang hidup antara zaman Kebangkitan Ionia dan Renaisans Italia, yang tak dapat diganti.

Abad ke-6 SM merupakan zaman pergolakan intelektual dan spititual yang luar biasa di segala penjuru dunia. Abad itu bukan hanya merupakan zaman Thales, Anaximandros, Pythagoras, dan tokoh-tokoh lain di Ionia, melainkan juga zaman Firaun Nekho yang berlayar mengelilingi Afrika, zaman Zoroaster di Persia, Konfusius dan Lao Zi di Tiongkok, nabi-nabi Yahudi di Israel, Mesir, dan Babilonia, serta Buddha Gautama di India. Rasanya sulit membayangkan seluruh kegiatan itu tidak berkaitan.

                                                                                                                                    ( hlm 211 )

Tradisi modern argumentasi matematika, yang penting sekali bagi seluruh sains, harus berterima kasih kepada Pythagoras. Dialah yang pertama menggunakan kata Kosmos untuk menggambarkan alam semesta yang sangat teratur dan selaras, dunia yang bisa dipahami manusia.

                                                                                                                                    ( hlm 212 )

Pythagoras “mendirikan agama, yang ajaran-ajaran pokoknya adalah transmigrasi arwah dan dosa kalau memakan buncis. Agamanya diwujudkan dalam suatu perkumpulan agama, yang di sana-sini meraih kendali atas negara dan mendirikan pemerintahan yang dipimpin orang-orang suci. Tapi orang-orang yang ingkar tetap doyan buncis, dan lambat laun memberontak.”

Dalam perumpamaan Plato mengenai gua, orang-orang yang dipenjara dibayangkan diikat sedemikian rupa sehingga mereka hanya melihat bayangan itu kenyataan—tidak pernah menduga kenyataan rumit dapat diketahui bila mereka menolehkan kepala. Mazhab Pythagoras sangat mempengaruhi Plato, dan kemudian agama Kristen.

                                                                                                                                    ( hlm 213 )

Ada banyak sekali poligon beraturan, tapi hanya ada lima bangun ruang beraturan. (Bukti pernyataan ini, contoh terkenal alur pemikiran matematis, dimuat di Lampiran 2.)

                                                                                                                                    ( hlm 214 )

Energi yang dilepaskan setara dengan energi yang dihasilkan oleh ledakan nuklir 4 megaton.

                                                                                                                                    ( hlm 219 )

Tanpa percobaan, tidak ada cara untuk memilih di antara hipotesis-hipotesis yang bertentangan, sehingga sains tidak bisa berkembang. Noda anti-empiris mazhab Pythagoras masih ada hingga sekarang. Kenapa? Dari mana ketidaksenangan terhadap percobaan itu berasal?

                                                                                                                                    ( hlm 232 )

Bangsa Ionia mampu menciptakan mesin-mesin yang cukup elok. Namun keberadaan budak merusak motif ekonomi pengembangan teknologi.

                                                                                                                                    ( hlm 233 )

Barangkali sains di peradaban India, Maya, dan Aztek mati ketika masih bayi karena alasan yang sama yang menyebabkan kemerosotan sains di Ionia, yaitu penyebaran ekonomi perbudakan.

Plato dan Aristoteles merasa nyaman dalam masyarakat dengan perbudakan. Mereka memberi pembenaran untuk penindasan. Mereka melayani tiran.

                                                                                                                                    ( hlm 234 )

Dengan pengakuan Pythagoras dan Plato bahwa Kosmos dapat dipahami, bahwa terdapat dasar matematis di alam, mereka mempercepat kemajuan sains secara besar-besaran. Tapi, dengan penyangkalan fakta-fakta yang mengganggu, pemikiran bahwa sains semestinya hanya untuk kaum elite, kebencian pada eksperimen, penerimaan mistisme, dan kemudahan menerima perbudakan, mereka memundurkan langkah umat manusia.

                                                                                                                                    ( hlm 235 )

Namun kita hidup di atas panggung yang bergerak, yaitu Bumi, yang setiap enam bulan bergerak dari satu sisi orbit ke sisi seberangnya yang berjarak 300.000.000 kilometer.

                                                                                                                                    ( hlm 237 )

Kenyataan bahwa Aristarkhos dan Huygens menggunakan data yang tidak tepat dan menghasilkan jawaban tak sempurna bukanlah masalah. Mereka menjelaskan metode mereka dengan begitu gamblang sehingga ketika ada pengamatan yang lebih baik, jawaban yang lebih akurat dapat diperoleh.

                                                                                                                                    ( hlm 238 )

Kini telah sangat jelas bahwa kita tinggal sekitar 30.000 tahun cahaya dari pusat galaksi, di pinggir lengan spiral, tempat yang cukup jarang bintangnya.

Di dekat pusat Bimasakti, jutaan bintang terang akan dapat dilihat oleh mata telanjang, bandingkan dengan tak berartinya beberapa ribu bintang yang dapat kita lihat di posisi kita sekarang. Matahari atau matahari-matahari akan tenggelam, tapi malam tidak akan pernah datang.

                                                                                                                                    ( hlm 240 )

Di manakah kita? Siapakah kita? Kita tahu bahwa kita menempati planet tak berarti di dekat bintang membosankan yang tersesat di antara dua lengan spiral di tepi satu galaksi dalam gugus galaksi yang anggotanya sedikit, tersembunyi di sudut terlupakan di alam semesta yang berisi lebih banyak galaksi daripada manusia.

                                                                                                                                                                                                                                                                                    ( hlm 241 )

BAB VIII

MELANCONG DALAM RUANG DAN WAKTU

Pantai juga mengingatkan kita kepada waktu. Dunia ini jauh lebih tua daripada spesies manusia.

                                                                                                                                    ( hlm 243 )

Sementara itu, Kosmos kaya bukan kepalang: jumlah total bintang di alam semesta jauh lebih banyak daripada seluruh butiran pasir di semua pantai di planet Bumi.

Bintang-bintang di rasi manapun sedemikian jauh sehingga kita tidak dapat melihatnya sebagai konfigurasi tiga dimensi selama kita berada di Bumi. Jarak rata-rata antara bintang-bintang adalah beberapa tahun cahaya; kita ingat bahwa satu tahun cahaya kira-kira sama dengan sepuluh triliun kilometer.

                                                                                                                                    ( hlm 244 )

Dua gambar terakhir dapat kita lihat bila kita bisa pergi ke tempat yang semestinya, yaitu sejauh sekitar 150 tahun cahaya.

Perubahan rasi bukan hanya terjadi dalam ruang melainkan juga dalam waktu; bukan hanya bila kita mengubah posisi kita melainkan juga bila kita menunggu dalam waktu yang cukup lama.

                                                                                                                                    ( hm 245 )

Gambar-gambar rasi Biduk besar yang dihasilkan komputer sebagaimana bila dilihat dari Bumi sejuta tahun lalu dan setengah juta tahun lalu. Penampilannya sekarang diperlihatkan di gambar paling bawah.

                                                                                                                                    ( hlm 246 )

Lingkungan matahari, daerah di sekeliling Matahari, juga meliputi sistem bintang terdekat, yaitu Alpha Centauri.

                                                                                                                                    ( hlm 247 )

Apabila ternyata (kemungkinannya sangat kecil) Beta Andromeda meledakan dirinya sendiri hari Selasa lau, kita tidak akan mengetahuinya hingga tujuh puluh lima tahun lagi, karena informasi penting yang bergerak dengan kecepatan cahaya tersebut membutuhkan waktu tujuh puluh lima tahun untuk melintasi jarak antarbintang yang amat besar.

Jarak Matahari ke pusat Galaksi Bimasakti adalah 30.000 tahun cahaya. Jarak dari galaksi kita ke galaksi spiral terdekat, yakni M31 yang juga berada di rasi Andromeda, adalah 2000.000 tahun cahaya. Ketika cahaya yang hari ini kita lihat dari M31 berangkat menuju Bumi, tidak ada manusia di planet kita, meskipun nenek moyang kita berevolusi dengan cepat menjadi wujud kita sekarang. Jarak dari Bumi ke quasar terjauh adalah delapan atau sepuluh miliar tahun cahaya. Sekarang kita melihatnya sebagaimana awalnya, sebelum Bumi terhimpun, sebelum Bimasakti terbentuk.

                                                                                                                                    ( hlm 248 )

Jika Anda melihat kawan yang berada di sisi seberang ruangan sejauh tiga meter, Anda tidak melihatnya sebagaimana dia “sekarang”; tapi “dahulu”, kondisi dia seperseratus juta detik yang lalu. [(3 m)/(3 x 108 m/ detik) = 1/(108/detik) = 108

Dua wahana antarbintang Voyager, mesin tercepat yang pernah diluncurkan dari Bumi, kini sedang bepergian dengan kecepatan sepersepuluh ribu kecepatan cahaya.

                                                                                                                                    ( hlm 249 )

Einstein selalu terpesona dengan karya Bernstein yang berjudul People’s of Natural Sciences, buku sains populer yang di halaman pertamanya sudah menjelaskan betapa cepatnya listrik melewati kabel dan cahaya melintasi antariksa.

                                                                                                                                    ( hlm 250 )

Cahaya (yang dipantulkan atau dipancarkan) dari objek itu bergerak dengan kecepatan yang sama tak peduli objek itu bergerak atau diam: Anda tidak boleh menambahkan kecepatan Anda ke kecepatan cahaya. Selain itu, tidak ada objek yang bergerak dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya: Anda tidak bisa bergerak dengan kecepatan cahaya atau melebihi kecepatan cahaya.

                                                                                                                                    ( hlm 251 )

Di alam semesta yang dipenuhi bintang-bintang yang bergerak tak beraturan ke segala arah, tidak ada tempat yang “diam”, tak ada kerangka tempat melihat alam semesta yang mengungguli kerangka lainnya. Inilah makna kata “relativitas”.

Tapi rintangan cahaya berbeda dengan rintangan bunyi. Ini bukan sekadar masalah teknologi seperti yang dipecahkan pesawat supersonik. Ini adalah hukum alam yang fundamental, semendasar gravitasi.

Gelombang bunyi yang mencapai Anda ketika kawan Anda berbicara adalah pergerakan molekul-molekul di udara. Tapi cahaya bergerak di ruang hampa.

                                                                                                                                    ( hlm 252 )

Tapi, percobaan Michelson-Morley menunjukan bahwa ether tersebut tidak ada.

Relativitas khusus, yang sepenuhnya ditemukan oeh Albert Einstein pada usia pertengahan dua puluhan, didukung oleh setiap percobaan yang dilakukan untuk memeriksanya. Barangkali kelak ada yang menemukan teori konsisten dengan segala hal yang kita ketahui, yang mengatasi paradoks-paradoks semisal simultanitas, menghindari kerangka acuan istimewa, dan masih memungkinkan bergerak dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Namun saya sangat meragukannya.

                                                                                                                                    ( hlm 253 )

(Relativitas kaya akan kalimat-kalimat yang diawali dengan “bayangkan…” Einstein menyebut latihan ini Gedankenexperiment, percobaan perkiraan.)

                                                                                                                                    ( hlm 254 )

Jam super akurat yang dibawa pesawat terbang agak melambat bila dibandingkan dengan jam-jam yang tak bergerak. Akselerator nuklir dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan peningkatan massa seiring dengan bertambahnya kecepatan; jika akselerator tidak dirancang demikian, selurh zarah yang dipercepat akan menabrak dinding akselerator, dan hanya sedikit yang bisa dilakukan dalam fisika nuklir eksperimental.

                                                                                                                                    ( hlm 255 )

Menurut saya Orion adalah pemanfaatan terbaik senjata nuklir.

Orion dan Daedalus mungkin dapat digunakan sebagai pesawat multigenerasi sehingga orang-orang yang tiba di satu planet yang mengitari bintang lain adalah keturunan jauh orang-orang yang memulai perjalanan berabad-abad sebelumnya.

                                                                                                                                    ( hlm 257 )

Mesin yang kita bahas ini sebesar planet kecil.

                                                                                                                                    ( hlm 258 )

Sebetulnya persamaan antara gaya gravitasi dan gaya yang akan kita rasakan di pesawat antarbintang yang dipercepat adalah keistimewaan teori relativitas umum Einstein.

Orang-orang di Bumi tentu saja merasakan hal yang berbeda. Bukannya selama dua puluh tahun untuk pergi ke pusat Galaksi, mereka akan mengukur waktu berlalu selama 30.000 tahun. Ketika awak pesawat itu pulang, hanya beberapa teman yang tersisa untuk menyambut mereka. Pada prinsipnya, perjalanan itu, dengan kecepatan yang sangat mendekati kecepatan cahaya, bahkan memungkinkan kita mengelilingi alam semesta yang kita ketahui dalam waktu sekitar lima puluh enam tahun menurut jam di pesawat. Kita akan kembali puluhan miliar tahun kemudian—dan mendapati Bumi telah menjadi abu dan Matahari telah mati. Penerbangan relativistik mengakibatkan alam semesta mudah dikunjungi bagi peradaban yang telah maju, tapi hanya bagi mereka yang meneruskan perjalanan. Tampaknya tidak ada cara bagi informasi untuk kembali ke orang-orang yang tertinggal dengan kecepatan melebihi kecepatan kecepatan cahaya.

                                                                                                                                    ( hlm 259 )

Barangkali waktu pun memiliki banyak dimensi potensial, meskipun kenyataannya kita dikutuk untuk mengalami hanya satu di antara semuanya.

Karena melumpuhkan, mungkin penyakit itu menyebabkan Roosevelt punya rasa belas kasih yang luar biasa kepada pihak yang lemah; atau mungkin memperkuat perjuangannya untuk sukses.

                                                                                                                                    ( hlm 261 )

Di setiap ejakulasi terdapat ratusan juta sel sperma, hanya satu yang membuahi sel telur dan menghasilkan anggota generasi berikutnya. Namun, sperma mana yang berhasil membuahi sel telur pasti tergantung faktor-faktor yang paling kecil dan tak berarti, baik faktor internal maupun eksternal.

                                                                                                                                    ( hlm 263 )

Dibandingkan bintang, kita bagaikan lalat sehari, makhluk yang hidup sangat singkat yang menjalani seluruh hidupnya hanya dalam waktu sehari.

                                                                                                                                    ( hlm 266 )

BAB IX

KEHIDUPAN BINTANG-BINTANG

Kecuali hidrogen, semua atom dibuat di dalam bintang. Bintang adalah semacam dapur kosmik tempat atom-atom hidrogen dimasak menjadi atom-atom yang lebih berat.

                                                                                                                                    ( hlm 269 )

Atom sangatlah kecil—deretan seratus juta atom dari ujung ke ujung sama besarnya dengan ujung kuku jari kelingking Anda. Tapi inti atom seratus ribu kali lebih kecil lagi, yang merupakan sebagian alasan mengapa atom baru ditemukan setelah lama sekali.2

                                                                                                                                    ( hlm 270 )

Tapi bila atom begitu kecil dan kosong dan bahkan intinya lebih kecil lagi, kenapa meja bisa menopang saya? Mengapa, sebagaimana yang sering ditanyakan Arthur Eddington, inti atom yang menyusun siku saya tidak meluncur begitu saja melewati inti atom yang menyusun meja? Mengapa saya tidak jatuh ke lantai? Atau langsung jatuh menembus Bumi?

Jawabannya adalah awan elektron. Bagian luar atom di siku saya bermuatan negatif. Begitu pula atom di meja. Namun, muatan-muatan negatif saling tolak-menolak. Siku saya tidak memerobos meja karena atom punya elektron di sekeliling inti dan karena gaya listrik itu kuat. Kehidupan sehari-hari bergantung kepada struktur atom. Buang muatan listrik dan segala sesuatu akan hancur menjadi debu tak kasat mata. Tanpa gaya listrik, tidak akan ada lagi benda-benda di alam semesta—hanya sebaran awan elektron, proton, dan neutron serta bola zarah dasar yang mengendap, sisa-sisa dunia tanpa rupa.

                                                                                                                                    ( hlm 271 )

Sang bocah menyebutnya googol.

Bila googol tampak besar, pertimbangkan googolplex. Bilangan ini sama dengan sepuluh pangkat googol—yaitu, angka satu diikuti satu googol angka nol. Sebagai perbandingan, jumlah total atom di tubuh Anda adalah 1028, dan jumlah total zarah elementer—proton dan neutron serta elektron—di alam semesta yang teramati adalah sekitar 1080. Seandainya alam semesta padat3 dipenuhi neutron, misalnya, tidak ada ruang kosong di mana pun, masih ada sekitar 10128 zarah di dalamnya, jelas melebihi satu googol tapi terlampau kecil bila dibandingkan dengan satu googolplex,

Dia memperkirakan ada 1063, yang dengan ajaib, kebetulan sama dengan sekitar 1083 atom?

                                                                                                                                    ( hlm 272 )

Jika Anda memotong atom, Anda mengubah unsurnya.

Akahkah kita mencapai ujung pemahaman kita mengenai sifat zarah, atau adakah regresi tak terhingga menuju zarah yang lebih mendasar dan semakin mendasar? Itu salah satu permasalahan besar yang belum terpecahkan di dunia sains.

Tapi ada pula ahli alkimia yang lebih serius seperti Paracelsus dan bahkan Isaac Newton. Uang itu tidak seluruhnya disia-siakan—unsur-unsur kimia baru, seperti fosfor, antimoni, dan raksa, ditemukan. Asal-usul kimia modern sebetulnya bisa ditelusuri secara langsung ke percobaan-percobaan alkimia.

                                                                                                                                    ( hlm 274 )

Api sama sekali tidak tersusun dari unsur-unsur kimia. Api merupakan plasma yang memancar dan suhu tinggi plasma telah melucuti sebagian elektron dari intinya.

Neutron baru ditemukan pada 1932. Fisika dan kimia modern telah mengurangi kompleksitas dunia yang kita lihat menjadi kesederhanaan yang mencengangkan: tiga satuan yang disatukan dalam berbagai pola pada dasarnya menciptakan segalanya.

                                                                                                                                    ( hlm 275 )

Kita dapat membayangkannya sebagai keegganan terhadap jenisnya sendiri, seakan-akan dunia ini dipenuhi petapa dan orang yang dibenci orang lain. Elektron menolak elektron. Proton menolak proton. Jadi bagaimana inti atom bisa tetap bersatu? Kenapa tidak buyar seketika? Karena ada gaya lain: bukan gaya gravitasi, bukan gaya listrik, melainkan gaya inti jarak dekat, seperti serangkaian kait yang hanya terpasang bila proton dan neutron terlalu berdekatan sehingga mengatasi kekuatan tolak-menolak antarproton.

                                                                                                                                    ( hlm 276 )

Namun, alam semesta, seluruh alam semesta, hampir dimana-mana, 99% terdiri atas hidrogen dan helium,5 dua unsur paling sederhana. Sebenarnya, helium dideteksi ada di Matahari sebelum ditemukan di Bumi—itulah asal-usul nama helium ( dari Helios, salah satu dewa Matahari Yunani).

                                                                                                                                    ( hlm 277 )

Namun, bagian dalam Matahari, tempat cahaya Matahari dibangkitkan, bersuhu sekitar 40 juta derajat.

Reaksi termonuklir seperti dalam bom hidrogen memberi tenaga kepada Matahari dalam ledakan tertahan dan terus-menerus, yang mengubah sekitar empat ratus jutan ton (4 x 104) hidrogen menjadi helium setiap detik. Ketika kita menatap langit dan memandang bintang-bintang pada malam hari, segala sesuatu yang kita lihat tampak bersinar karena reaksi fusi inti nun jauh di sana.

                                                                                                                                    ( hlm 278 )

Fusi hidrogen tidak dapat berlangsung selamanya: baik di Matahari maupun di bintang manapun, jumlah hidrogen di bagian dalamnya yang panas itu banyak tapi terbatas. Nasib bintang, akhir siklus hidupnya, sangat tergantung kepada massa awalnya.

Bintang ibarat burung phoenix, yang ditakdirkan bangkit dari abunya sendiri.6

                                                                                                                                    ( hlm 281 )

Kala Matahari, yang telah merah dan gembung, menjadi raksasa merah, Matahari akan menyelubungi dan melalap Merkurius dan Venus—dan mungkin pula Bumi. Tata surya bagian dalam akan berada di dalam Matahari.

Miliaran tahun dari sekarang, akan ada hari sempurna yang terakhir di Bumi. Matahari kemudian akan perlahan menjadi merah dan menggelembung, menguasai Bumi yang sangat panas sampai ke kutub-kutubnya.

Pada akhirnya lautan akan mendidih, atmosfer akan menguap ke angkasa, dan kekacauan yang amat besar akan melanda planet kita.7 Pada saat itu, umat manusia pastinya akan telah berevolusi menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Barangkali keturunan kita akan mampu mengendalikan atau melunakan evolusi bintang. Atau barangkali mereka akan memilih pergi ke Mars atau Europa atau Titan atau, akhirnya, seperti mimpi Robert Goddard, mencari planet tak berpenghuni di suatu sistem keplanetan yang masih muda dan menjanjikan.

                                                                                                                                    ( hlm 282 )

Setiap nebula planet adalah tanda bintang sedang sekarat.

                                                                                                                                    ( hlm 283 )

Kita dibuat dari bahan-bahan bintang.

Kita memiliki emas dan uranium yang relatif melimpah di Bumi hanya karena banyak ledakan supernova terjadi tepat sebelum tata surya terbentuk. Sistem-sistem keplanetan lain mungkin memiliki kelimpahan unsur langka yang berbeda.

                                                                                                                                    ( hlm 285 )

Bercocok tanam sebetulnya hanyalah memanen cahaya matahari secara metodis dan menggunakan tanaman sebagai perantara.

                                                                                                                                    ( hlm 286 )

Sinar kosmik, utamanya elektron dan proton, telah memborbardir Bumi sepanjang sejarah kehidupan di planet kita. Suatu bintang menghancurkan dirinya sendiri di suatu tempat sejauh ribuan tahun cahaya dan menghasilkan sinar-sinar kosmik yang melintasi Galaksi Bimasakti selama jutaan tahun hingga sebagiannya kebetulan mengenai Bumi dan bahan hereditas kita.

Pada 4 Juli 1054, ahli astronomi Tiongkok mencatat apa yang mereka sebut “bintang tamu” di rasi Taurus, si sapi jantan.

                                                                                                                                    ( hlm 287 )

Karena berkedip dan berdetik ibarat metronom kosmik, pulsar menandai waktu dengan lebih baik daripada jam biasa yang paling akurat.

Berat zat bintang neutron kurang lebih sama dengan berat gunung per satu sendok teh—sedemikian besar sehingga seandainya Anda punya secuil zat ini dan melepaskannya (Anda tidak mungkin menahannya), zat tersebut akan menembus Bumi tanpa kesulitan seperti batu jatuh melewati udara, melubangi planet kita, dan keluar di sisi seberang Bumi—mungkin di Tiongkok.

                                                                                                                                    ( hlm 291 )

Bintang neutron mengajarkan kita untuk menghargai kezaliman.

                                                                                                                                    ( hlm 292 )

Pada 1.000 g, cahaya masih lurus, tapi pohon-pohon mulai tergencet; pada 100.000 g, batu-batu hancur akibat beratnya sendiri. Akhirnya, tidak ada yang bertahan, kecuali kucing Cheshire, dengan dispensasi khusus. Ketika gravitasi mencapai semiliar g, hal yang lebih aneh terjadi. Berkas cahaya, yang selama ini masih mengarah lurus ke langit, mulai membelok. Pada percepatan gravitasi yang amat kuat, bahkan cahaya pun terpengaruh. Seandainya gravitasi kita tambah lagi, cahaya tertarik ke tanah di dekat kita. Kini kucing Cheshire kosmik telah lenyap; hanya seringai gravitasinya yang tersisa.

Ketika gravitasi cukup tinggi, tidak ada objek, sekalipun cahaya, yang bisa lepas. Tempat seperti itu disebut lubang hitam.

                                                                                                                                    ( hlm 293 )

Bintang bermassa dua puluh satu kali massa Matahari akan mengerut hingga sebesar Los Angeles dan sekitarnya; gravitasi yang menghancurkan menjadi 1010 g, dan bintang itu melewati celah yang muncul sendiri dalam kesinambungan ruang-waktu lalu menghilang dari alam semesta kita.

Lubang hitam pertama kali digagas oleh ahli astronomi Inggris bernama John Mitchell pada 1783.

Observatorium sinar X pertama adalah upaya internasional yang patut dikagumi, diletakan di orbit oleh Amerika Serikat dari landasan peluncuran Italia di Samudra Hindia di lepas pantai Kenya dan dinamai Uhuru, yaitu kata bahasa Swahili untuk “kebebasan.” Pada 1971, Uhuru menemukan sumber sinar X yang sangat terang di rasi Cygnus, si angsa, berkelip-kelip seribu kali setiap detiknya. Dengan demikian, sumber tersebut, yang dinamai Cygnus X-1, pastilah sangat kecil. Apa pun sebab kedipan itu, informasi mengenai kapan menyalakan dan memadamkan dapat melintasi Cyg X-1 dengan kecepatan tidak melebihi kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km/detik. Dengan demikian, Cyg X-1 tidak bisa lebih besar dari [300.000 km/detik] x [(1/1000) detik] = 300 kilometer. Sesuatu seukuran asteroid adalah sumber sinar X yang berkelip-kelip sangat terang, bisa dilihat dari jarak sejauh jarak antarbintang.

                                                                                                                                    ( hlm 294 )

Cara yang berguna untuk memahami lubang hitam adalah dengan membayangkan kelengkungan ruang.

                                                                                                                                    ( hlm 295 )

Dalam tafsiran ini, yang kita dapat dari Einstein, gravitasi adalah distorsi ruang.

Dalam analogi ini, lubang hitam  adalah semacam lubang tak berdasar. Apa yang terjadi bila Anda terjatuh ke dalamnya? Dilihat dari luar, Anda jatuh selamanya karena semua jam Anda—baik jam mekanis maupun jam biologis—akan diamati telah berhenti. Tapi, dari sudut pandang Anda, seluruh jam Anda berdetak seperti biasanya. Bila entah bagaimana Anda selamat dari pasang surut gravitasi dan fluks radiasi, dan (mungkin hanya asumsi) bila lubang hitam itu berotasi, mungkin Anda akan muncul di bagian lain ruang-waktu—tempat lain di antariksa, masa lain pada waktu.

Kita, dalam pengertian paling mendalam, adalah anak-anak Kosmos.

                                                                                                                                    ( hlm 296 )

BAB X

TEPI KETAKTERHINGGAAN

Jika Dewa menciptakan dunia, di manakah dia sebelum penciptaan?

                                                                                                                                    ( hlm 299 )

SEPULUH ATAU DUA puluh miliar tahun lalu, sesuatu terjadi, yaitu Ledakan Besar, peristwa yang mengawali alam semesta. Mengapa ini terjadi masih menjadi misteri terbesar.

                                                                                                                                    ( hlm 300 )

Di jarak miliaran tahun cahaya terdapat objek-objek yang lebih menggemparkan lagi, yaitu quasar, yang mungkin merupakan ledakan kolosal galaksi-galaksi muda, peristiwa paling dahsyat dalam sejarah alam semesta semenjak Ledakan Besar.

                                                                                                                                    ( hlm 305 )

Saat memikirkan quasar, kita menghadapi misteri besar. Apa pun penyebab ledakan quasar, satu hal tampak jelas: peristiwa dahsyat ini pasti menyebabkan malapetaka tak terkira. Di setiap ledakan quasar, jutaan planet—sebagiannya dihuni makhluk cerdas yang memahami apa yang sedang terjadi—mungkin benar-benar hancur.

Alam semesta sepertinya tidaklah ramah ataupun bermusuhan, semata-mata acuh tak acuh pada urusan makhluk-makhluk lemah seperti kita.

                                                                                                                                    ( hlm 306 )

Penemuan Ledakan Besar dan menjauhnya galaksi-galaksi berasal dari gejala yang biasa ditemui sehari-hari, bernama efek Doppler.

Cahaya juga merupakan gelombang. Tidak seperti buny, cahaya bisa merambat melalu ruang hampa. Efek Doppler juga berlaku terhadap cahaya.

                                                                                                                                    ( hlm 310 )

Ingsutan merah, yang dideteksi di garis-garis spektrum galaksi-galaksi jauh dan ditafsirkan sebagai efek Doppler, adalah dasar Kosmologi.

                                                                                                                                    ( hlm 311 )

Hubble-lah yang membuktikan bahwa nebula-nebula spiral sebetulnya merupakan “alam semesta kepulauan,” kumpulan banyak sekali bintang, seperti Galaksi Bimasakti milik kita sendiri; dia telah menemukan lilin standar yang diperlukan untuk mengukur jarak galaksi.

                                                                                                                                    ( hlm 312 )

Perlahan namun pasti, Humason dan Hubble telah menemukan Ledakan Besar—jika bukan asal-usul alam semesta, paling tidak inkarnasinya yang terkini.

                                                                                                                                    ( hlm 313 )

Kesan menjauhnya galaksi-galaksi, dengan penafsiran ingsutan merah sebagai efek Doppler, bukanlah satu-satunya bukti terjadinya Ledakan Besar. Bukti yang berdiri sendiri dan lumayan meyakinkan berasal dari radiasi latar belakang benda hitam kosmik, gangguan lemah di gelombang radio yang berasal secara cukup merata dari segala arah di dalam Kosmos dengan intensitas yang diperkirakan pada zaman kita berasal dari radiasi Ledakan Besar yang kini telah jauh lebih dingin.

                                                                                                                                    ( hlm 315 )

Jika gambaran umum alam semesta yang mengembang dan Ledakan Besar itu benar, maka kita harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sulit lagi. Seperti apa kondisi pada saat Ledakan Besar? Apa yang terjadi sebelumnya? Adakah alam semesta yang amat kecil, tanpa segala zat, kemudian zat tiba-tiba tercipta dari ketiadaan? Bagaimana itu terjadi? Di banyak kebudayaan, jawaban yang lazim adalah bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dari ketiadaaan. Tapi itu hanya mengelakkan pertanyaan. Jika kita ingin berani mengejar pertanyaan itu, kita tentu saja harus mengajukan pertanyaan selanjutnya, yaitu dari mana Tuhan berasal. Dan bila kita memutuskan pertanyaan asal Tuhan tak bisa dijawab, mengapa tidak berhenti lebih awal dan memutuskan bahwa asal-usul alam semesta adalah pertanyaan yang tak dapat dijawab? Atau, jika kita mengatakan bahwa Tuhan selalu ada, mengapa tidak berhenti saja dan menyimpulkan bahwa alam semesta selalu ada?

                                                                                                                                    ( hlm 316 )

Agama Hindu adalah satu-satunya keyakinan di dunia yang memiliki gagasan bahwa Kosmos itu sendiri mengalami kematian dan kelahiran kembali berkali-kali, bahkan tak terhingga. Inilah satu-satunya agama yang skala waktunya mirip—tak diragukan lagi ini kebetulan—dengan kosmologi sains modern.

                                                                                                                                    ( hlm 318 )

Untuk pertanyaan di manakah lokasi terjadinya Ledakan Besar di alam semesta sekarang, jawabannya jelas: di mana-mana.

                                                                                                                                    ( hlm 328 )

Inilah satu-satunya gagasan agama yang saya ketahui melampaui alam semesta tak terhingga banyaknya yang bersiklus terus-menerus dalam kosmologi Hindu.

                                                                                                                                    ( hlm 330 )

BAB XI

BERTAHANNYA KENANGAN

Paus dan manusia membutuhkan sekitar lima miliar bit. Informasi sebanyak 5 x 109 bit dalam ensiklopedia kehidupan kita—di dalam inti setiap sel kita—jika ditulis dalam bahasa Inggris, akan memenuhi seribu buku.

                                                                                                                                    ( hlm 337 )

Perpustakaan gen kita punya banyak halaman yang sama, satu lagi bukti warisan evolusi bersama.

                                                                                                                                    ( hlm 338 )

Peradaban adalah produk korteks otak besar.

                                                                                                                                    ( hlm 339 )

Jauh di dasar terdapat fungsi-fungsi yang sangat dibutuhkan leluhur jauh kita—agresi, membesarkan anak, rasa takut, seks, kemauan untuk mengikuti pemimpim tanpa berpikir.

                                                                                                                                    ( hlm 341 )

Sepanjang yang kita ketahui, kitalah satu-satunya spesies di planet Bumi yang telah menemukan memori milik bersama yang tidak disimpan di gen maupun di dalam otak. Gudang memori itu disebut perpustakaan.

                                                                                                                                    ( hlm 343 )

Dengan empat generasi setiap abadnya, dua puluh tiga abad meliputi hampir seratus generasi umat manusia.

                                                                                                                                    ( hlm 345 )

Kita punya lima jari karena kita keturunan ikan Zaman Devon  yang memiliki lima tulang jari di siripnya. Seandainya kita keturunan ikan dengan empat atau enam tulang jaro, kita akan punya empat atau enam jari di setiap tangan dan menganggapnya wajar. Kita menggunakan aritmetika basis sepuluh hanya karena kita punya sepuluh jari di tangan kita.4

                                                                                                                                    ( hlm 346 )

BAB XII

ENSIKLOPEDIA GALAKTIKA

Pola yang jelas pun terlihat. Sebagian besar hieroglif bangsa Mesir adalah sandi subtitusi sederhana.

Campuran huruf dan piktograf ini menyulitkan penafsir-penafsir awal.

                                                                                                                                    ( hlm 362 )

BAB XIII

SIAPA JURU BICARA BUMI?

Ahli neuropsikologi James W. Prescott melakukan analisis statistik lintas budaya yang mencengangkan terhadap 400 masyarakat masa pra-industri dan menemukan bahwa kebudayaan-kebudayaan yang melimpah anak-anak dengan afeksi fisik cenderung lebih sedikit melakukan kekerasan.

                                                                                                                                    ( hlm 404 )

Tapi sejauh ini sains adalah alat terbaik yang kita miliki, mengoreksi diri sendiri, berlanjut, bisa diterapkan pada segala hal. Sains punya dua aturan. Pertama: tidak ada kebenaran sakral; semua asumsi harus diuji dengan kritis; argumen-argumen dari otoritas tidak berguna. Kedua: apa pun yang tidak konsisten dengan fakta harus dibuang atau direvisi.

                                                                                                                                    ( hlm 408 )

Kitab Perjanjian Lama yang sampai ke kita terutama berasal dari terjemahan bahasa Yunani yang disusun di Perpustakaan Alexandria.

                                                                                                                                    ( hlm 409 )

Euklides membuat buku teks geometri yang kemudian dipelajari oleh umat manusia selama dua puluh tiga abad, suatu karya yang membantu membangungkan minat Kepler, Newton, dan Einstein pada sains.

Alexandria adalah kota terhebat yang pernah ada di dunia Barat.

Barangkali di kota inilah kata kosmopolitan mendapatkan makna sebenarnya—warga, tidak hanya warga negara, tapi warga Kosmos.2 Menjadi warga Kosmos…

                                                                                                                                    ( hlm 410 )

Barangkali Kosmos dipenuhi dengan makhluk cerdas. Tapi hikmah dari teori Darwin sudah jelas: Tidak akan ada manusia di tempat lain. Hanya disini. Hanya di planet kecil ini. Kita adalah spesies langka dan berbahaya.

                                                                                                                                    ( hlm 417 )

Karena kita adalah pengejawantahan lokal Kosmos yang tumbuh menyadari dirinya sendiri. Kita telah mulai merenungkan asal-usul kita: zat bintang yang merenungkan bintang-bintang; pertemuan sepuluh miliar miliar miliar atom yang memikirkan evolusi atom; menelusuri perjalanan panjang yang menyebabkan, paling tidak di sini, kesadaran muncul. Loyalitas kita ditunjukan kepada umat manusia dan planet Bumi. Kita berbicara atas nama Bumi. Kewajiban kita supaya bertahan hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan juga untuk Kosmos, yang tua dan luas, yang darinya kita berasal.

                                                                                                                                    ( hlm 421 )

LAMPIRAN 1

Reductio ad Absurdum dan Akar Kuadrat Dua

ARGUMEN AWAL PARA pengikut Pythagoras atas keirasionalan akar kuadrat dua mengandalkan suatu argumen yang disebut reductio ad absurdum, reduksi ke absurditas: kita mengasumsikan kebenaran suatu pernyataan, menuruti konsekuensinya lalu menemukan kontradiksi, dan dengan demikian membuktikan asumsi tadi keliru.

                                                                                                                                    ( hlm 425 )

Jadi, asumsi awal mestinya salah; p dan q tidak mungkin bilangan bulat; dan √2 adalah bilangan irasional. Sebetulnya, √2 = 1,4142135…

                                                                                                                                    ( hlm 247 )

The Selfish Gene

Richard Dawkins

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku The Selfish Gene oleh Richard Dawkins.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

THE SELFISH GENE

(GEN EGOIS)

RICHARD DAWKINS

KPG 591701438

Cetakan pertama, November 2017
Cetakan kedua, Maret 2018

Diterjemahkan dari The Selfish Gene: 40th Anniversary Edition (4th ed.), 2016

Penerjemah
K. El-Kazhiem

ISBN: 978-602-424-728-7

(hlm.2)

PENGANTAR EDISI 30 TAHUN

THE SELFISH GENE

Debat utama dalam Darwinisme menyangkut unit yang benar-benar diseleksi: jenis entitas apakah yang dapat bertahan hidup, atau tidak, sebagai konsekuensi seleksi alam. Unit tersebut akan menjadi, kurang-lebih dengan sendirinya, “egois”.

(hlm.3)

Atau apakah seleksi alam, seperti yang saya utarakan di sini, memilih gen? Jika demikian, kita tidak perlu heran kalau menemukan individu organisme yang berperilaku secara altruistik “demi kepentingan gen.” Itu dilakukan misalnya, dengan memberi makan dan melindungi kerabat yang cenderung memiliki salinan gen yang sama. “Lihatlah betapa unggulnya saya ketimbang Anda, sehingga saya mampu menyumbang kepada Anda!”

(hlm.4)

Gen adalah unit dalam arti replikator. Organisme adalah unit dalam arti kendaraan.

Sebaliknya, masing-masing gen dipandang mengejar agendanya sendiri-sendiri dengan gen-gen lain yang berada bersamanya dalam lumbung gen – sejumlah kandidat untuk percampuran seksual dalam suatu spesies.

(hlm.5)

Saya lupa kata-kata persisnya tapi kurang-lebih Monod mengatakan bahwa ketika dia berusaha memecahkan masalah kimia, dia akan bertanya kepada dirinya sendiri, apa yang akan dia lakukan jika dia adalah elektron.

(hlm.6)

Itulah perilaku cahaya yang melewati media yang lebih padat. Tapi bagaimana cahaya bisa tahu sebelumnya manakah jalan paling pendek? Dan lagi pula, mengapa cahaa harus peduli?

(hlm.9)

**Kesenangan ini tidak terlepas darinya karena dia tidak menganggap penyebab dari keajaiban-keajaiban itu adalah tindakan ilahi yang tak terjelaskan, melainkan hukum alam yang dapat dimengerti.

(hlm.11)

PRAKATA

EDISI PERTAMA

Buku ini sebaiknya dibaca hampir-sebagai karya fiksi ilmiah. Dia disajikan untuk membangkitkan imajinasi pembacanya. Tapi buku ini bukanlah fiksi, melainkan murni sains. Enta klise atau tidak, “lebih ganjil daripada fiksi” mengungkapkan persisnya apa yang saya rasakan tentang kebenaran. Kita adalah mesin yang bertahan hidup dan diprogram sedemikian rupa untuk melestarikan molekul egois yang dikenal sebagai gen.

(hlm.13)

Saya adalah seorang ahli etologi dan buku ini berisi tentang perilaku hewan.

(hlm.15)

PENGANTAR

EDISI PERTAMA

Simpanse dan manusia melalui kurang-lebih 99,5 persen sejarah evolusi yang sama. Namun sebagian besar pemikir manusia beranggapan bahwa simpanse merupakan makhluk buruk rupa yang aneh dan tak penting sekaligus mengira bahwa diri mereka sendiri merupakan batu lompatan menuju kemahakuasaan. Tidak demikian dengan seorang evolusionis. Tidak ada landasan objektif untuk mengunggulkan satu spesies di atas spesies lain. Simpanse da manusia, kadal dan jamur, semua berevolusi selama sekitar tiga miliar tahun melalui proses yang dikenal sebagai seleksi alam. Dalam setiap spesies, beberapa individu meninggalkan keturunan lebih banyak ketimbang yang lain sehingga ciri-ciri warisan (gen) mereka yang sukses bereproduksi menjadi lebih banyak dalam generasi berikutnya. Ini dinamakan seleksi alam: reproduksi gen yang diferensial dan tidak acak. Seleksi alam telah membangun kita, dan itulah yang harus kita selami jika ingin paham tentang identitas kita.

(hlm.20)

PRAKATA

EDISI KEDUA

Ketimbang mengusulkan teori baru atau menggali fakta baru, seringkali kontribusi paling penting seorang ilmuwan adalah menemukan cara baru untuk melihat teori atau fakta terdahulu.

(hlm.25)

BAB 1

MENGAPA ADA MANUSIA?

Selama tiga miliar tahun lebih, organisme hidup telah ada di Bumi tanpa pernah tahu mengapa mereka ada, sebelum akhirnya salah satu di antara mereka menyadarinya. Namanya Charles Darwin. Mungkin orang lain telah mendapat petunjuk tentang kebenaran itu, tapi Darwin lah yang pertama kali menuliskan pemeparan yang koheren dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai mengapa kita ada.

(hlm.26)

Tujuan saya adalah mengkaji biologi egoisme (perilaku mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan pihak lain) dan altruisme (perilaku mengutamakan kepentingan pihak lain si atas kepentingan pribadi).

Mereka keliru karena tidak memahami bagaimana kerja evolusi. Mereka berasumsi secara keliru bahwa yang penting dalam evolusi adalah kepentingan spesies (atau kelompok), bukan kepentingan individu (atau gen)

(hlm.27)

Saya akan menyatakan bahwa kualitas utama yang dapat diharapkan dalam gen yang sukses adalah keegoisan tanpa ampun (ruthless selfishness). Walaupun kita sangat ingin percaya yang sebaliknya, cinta universal dan kesejahteraan spesies secara keseluruhan adalah konsep yang sama sekali tidak masuk akal secara evolusioner.

Saya tidak mengajurkan moralitas yang didasari evolusi. Yang ingin saya jelaskan adalah bagaimana segala sesuatu berevolusi.

(hlm.29)

Suatu entitas, seperti monyet, dikatakan altruistis jika berperilaku sedemikian rupa untuk meningkatkan kesejahteraan entitas lainnya dengan mengorbankan kesejahteraan sendiri. Perilaku egois memiliki efek sebaliknya. “Kesejahteraan” (welfare) didefinisikan sebagai “kemungkinan bertahan hidup”, bahkan jika efeknya terhadap peluang hidup dan mati yang sesungguhnya sangat kecil sehingga seolah bisa diabaikan. Kalau diamati lebih dekat, acapkali tindakan yang tampaknya altruisme sesungguhnya keegoisan terselubung.

(hlm.33)

Walaupun teori seleksi kelompok kini hanya memperoleh sedikit dukungan dari jajaran ahli biologi profesional yang memahami evolusi, teori itu memang memiliki daya tarik intuitif yang besar.

(hlm.34)

Mungkin salah satu daya tarik terbesar teori seleksi kelompok adalah bahwa teori itu sepenuhnya selaras dengan cita-cita moral dan politik sebagian besar kita.

(hlm.37)

Saya berpendapat bahwa unit dasar seleksi, dan dengan demikian unit kepentingan pribadi, bukanlah spesies, atau kelompok, atau bahkan individu, melainkan gen, unit hereditas.

(hlm.41)

BAB 2

REPLIKATOR

Teori evolusi Darwin, melalui seleksi alam, memuaskan karena menunjukkan cara di mana kesederhanaan bisa berubah menjadi kompleksitas, bagaimana atom-atom yang tak beraturan mengelompokkan diri menjadi pola yang lebih kompleks sampai akhirnya membuat manusia. Darwin memberikan solusi, satu-satunya yang mungkin yang telah diajukan, bagi persoalan mendalam eksistensi kita.

“Kelestarian yang paling sesuai“ (survival of the fittest) Darwin merupakan kasus istimewa dari hukum yang lebih umum, yaitu hukum kelestarian hal yang stabil (survival of the stable). Alam semesta dihuni oleh hal-hal yang stabil. Suatu hal yang stabil adalah kumpulan atom

(hlm.42)

yang cukup tahan lama atau cukup lazim sehingga layak disemati nama.

(hlm.43)

Hemoglobin adalah molekul modern yang menggambarkan prinsip bahwa atom cenderung membentuk pola stabil. Yang relevan di sini adalah bahwa, sebelum kedatangan kehidupan di Bumi, beberapa evolusi molekul yang sederhana bisa saja terjadi karena proses fiska dan kimia biasa. Tidak perlu ada rancangan, tujuan, atau arah. Jika sekelompok atom dalam tingkat energi tertentu membentuk suatu pola maka atom-atom itu akan cenderung tetap stabil dalam pola demikian. Bentuk paling awal seleksi alam hanyalah seleksi atas bentuk stabil dan kemusnahan yang tidak stabil. Tidak ada misteri. Itu terjadi dengan sendirinya.

Untuk membuat seorang manusia, Anda harus bekerja dengan kocokan biokimia Anda untuk jangka waktu yang begitu lama sehingga seluruh umur alam semesta tampak seperti kedipan mata, dan Anda belum tentu berhasil juga. Di sinilah teori Darwin, dalam bentuknya yang paling umum, datang menjadi penyelamat. Teori Darwin mengambil alih dari titik di mana kisah mengenai proses terbentknya molekul secara lambat berakhir menggantung.

Kita tidak tahu apa bahan baku kimia yang berlimpah di Bumi sebelum adanya kehidupan, tapi di antara kemungkinan yang masuk akal adalah air, karbon dioksida, metana, dan amonia.

(hlm.44)

Para ahli kimia telah mencoba menciptakan tiruan kondisi kimia kala Bumi masih muda. Mereka menempatkan zat-zat sederhana dalam bejana dan menyediakan sumber energi seperti cahaya ultraviolet atau percik listrik – simulasi petir purba. Setelah beberapa minggu, sesuatu yang menarik biasanya ditemukan dalam bejana: sup coklat encer yang mengandung sejumlah besar molekul yang lebih kompleks ketimbang yang sebelumnya dimasukkan ke dalam wadah tersebut. Asam amino, khususnya, telah ditemukan; inilah blok pembangun protein, salah satu dari dua kelas besar molekul biologis.

Di suatu titik, molekul yang sangat luar biasa terbentuk secara tak sengaja. Kita akan menyebutnya si Replikator. Dia belum tentu merupakan molekul yang paling besar atau paling kompleks yang pernah ada, tapi dia punya kemampuan luar biasa untuk dapat membuat replika atau salinan dirinya sendiri. Sepanjang hidup manusia, hal-hal

(hlm.45)

yang kecil kemungkinannya terjadi seperti itu dapat diperlakukan praktisnya sebagai hal yang mustahil. Itu sebabnya Anda tidak akan pernah memenangkan hadiah besar dalam taruhan sepakbola. Namun, dalam perkiraan kita sebagai manusia tentang apa yang mungkin dan yang mustahil, kita tidak terbiasa berurusan dengan rentang waktu ratusan juta tahun. Jika Anda bertaruh setiap minggu selama seratus juta tahun, sangat mungkin Anda memenangkan beberapa jackpot.

Untuk tujuan pembahasan kita, tidaklah penting apakah proses replikasi aslinya positif-negatif atau positif-positif, meski perlu dicatat kembali bahwa padanan modern replikator pertama, molekul DNA, menggunakan replikasi positif-negatif. Yang penting adalah tiba-tiba sejenis “stabilitas” baru hadir di dunia.

(hlm.46)

Kesalahan itu mungkin tidak akan betul-betul  mendistorsi makna kalimat karena menjadi kesalahan “generasi pertama”. Namun, bayangkan hari-hari sebelum adanya percetakan, ketika buku-buku seperti Alkitab disalin dengan tulisan tangan. Semua juru tulis, betapapun berhati-hati, bisa membuat beberapa kesalahan, dan tidak sedikit yang sengaja melakukan “perbaikan”. Jika semua disalin dari satu sumber saja maknanya mungkin tidak akan jauh menyimpang. Namun, saat salinan dibuat dari salinan lain, yang pada gilirannya dibuat dari salinan lain, kekeliruan demi kekeliruan pun menjadi semakin serius dan terakumulasi. Saya kira para cendekiawan Septuaginta setidaknya bisa dikatakan telah memulai sesuatu yang besar saat mereka salah menerjemahkan kata bahasa Ibrani untuk “perempuan muda” menjadi kata dalam bahasa Yunani yang berarti “perawan”, sehingga tertulislah nubuat: “Lihatlah perawan yang akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki….”

(hlm.47)

Jika Anda sudah mengetahui sesuatu tentang evolusi, Anda mungkin menemukan sesuatu yang kurang pas dalam perkara barusan. Bisakah kita mendamaikan gagasan bahwa kesalaan penyalinan merupakan prasyarat penting bagi terjadinya evolusi dengan pernyataan bahwa seleksi alam mendukung penyalinan yang sangat akurat (high-fidelity)? Jawabannya, adalah, meskipun evolusi mungkin dianggap “baik”, khususnya karena kita adalah produknya, sesungguhnya tidak ada yang “ingin” berevolusi. Evolusi adalah sesuatu yang terjadi begitu saja di luar segala uapaya replikator (dan hari ini gen) untuk mencegahnya.

(hlm.48)

Tren evolusi menuju tiga jenis stabilitas itu berlangsung dalam arti berikut: Jika Anda mengambil sampel sup itu pada dua waktu yang berbeda, sampel yang terakhir akan berisi proporsi ragam dengan umur panjang/ frekunditas/ ketepatan penyalinan yang lebih tinggi.

Penderitaan manusia diakibatkan karena terlalu banyak di antara kita yang tidak dapat memahami bahwa kata-kata hanya alat untuk kita gunakan, dan bahwa semata-mata kehadiran kata “hidup” dalam kamus tidak berarti harus mengacu ke sesuatu yang pasti di dunia nyata. Entah mereka hidup atau tidak, replikator-replikator awal adalah leluhur kehidupan; bapak pendiri kita.

(hlm.49)

Namun, mereka sungguh berjuang, dalam arti setiap salah salin yang mengakibatkan tingkat stabilitas baru yang lebih tinggi, atau cara baru untuk mengurangi stabilitas pihak pesaing, secara otomatis dipertahankan dan dilipatgandakan. Proses perbaikan itu berlangsung kumulatif. Replikator mulai bukan sekadar hidup, melainkan juga membangun wadah bagi diri sendiri; kendaraan bagi kelangsungan hidup mereka. Replikator-replikator yang selamat adalah mereka yang membangun mesin kelestarian (survival machine) untuk ditempati. Mesin kelestarian yang pertama mungkin hanya berupa selubung pelindung.

(hlm.50)

Kini mereka disebut gen, dan kita adalah mesein kelestarian mereka.

CATATAN AKHIR

  1. Yang selalu ingin saya sampaikan adalah sesuatu mengenai ciri fundamental yang harus ada dalam inti setiap teori yang bagus tentang asal-usul kehidupan di planet manapun, terutama gagasan tentang entitas genetis yang dapat mereplikasi diri.

(hlm.54)

BAB 3

GULUNGAN KEKAL

Molekul DNA merupakan rangkaian panjang yang terdiri atas blok-blok pebangun, yaitu molekul kecil yang disebut nukleotida.

Ada miliaran sel yang membentuk tubuh manusia, dan dengan perkecualian yang bisa kita abaikan, setiap satu sel mengandung salinan sempurna DNA tubuh seorang manusia. DNA dapat dianggap sebagai serangkaian instruksi tentang bagaimana tubuh manusia dibentuk; instruksi itu ditulis dalam aksara nukleotida

(hlm.55)

A,T, C,G. Ibaratnya, dalam tiap ruangan di gedung raksasa, ada rak buku yang menyimpan cetak biru sang arsitek untuk seluruh bangunan itu.

Molekul-molekul DNA melakukan dua hal penting. Pertama, replikasi, artinya molekul DNA menciptakan salinannya sendiri. Sebagai seorang manusia dewasa, Anda terdiri atas jutaan triliun sel, tapi ketika masih berada dalam kandungan Anda hanya berupa satu sel tunggal, yang dibekali dengan satu salinan cetak biru si arsitek. Sel ini membelah diri menjadi dua dan masing-masing menerima salinan cetak birunya sendiri-sendiri. Pembelahan berikutnya menghasilkan jumlah sel menjadi 4, 8, 16, 32 dan seterusnya hingga miliaran. Dalam setiap pembelahan, rancangan DNA disalin dengan tepat, hampir tanpa kekeliuran.

Molekul-molekul DNA mengawasi pembuatan molekul jenis lain, yaitu protein.

(hlm.56)

Dalam evolusi, makna penting fakta bahwa gen mengendalikan perkembangan embrio adalah bahwa gen setidaknya bertanggungjawab sebagian atas kelangsungan hidupnya sendiri pada masa depan, sebab kelangsungan hidupnya bergantung ke efisiensi tubuh yang dia bantu bangun dan tempati. Proses seleksi otomatis, yang sama sejak zaman dulu, antara molekul-molekul yang saling bersaing atas dasar panjangnya usia, kesuburan, dan keakuratan dalam membuat salinan masih berlangsung secara membuta dan niscaya sebagaimana pada masa yang telah jauh berlalu itu.

(hlm.57)

Efek reproduksi seksual adalah pencampuradukn dan pengocokan gen. Artinya, setiap satu tubuh individu merupakan kendaraan sementara untuk satu kombinasi gen yang berumur pendek.

(hlm.61)

Gen didefinisikan sebagai sepenggal bahan kromosomal yang berpotensi bertahan selama bergenerasi-generasi sehingga memadai untuk berfungsi sebagai unit seleksi alam.

(hlm.63)

Sperma satu ini (kecuali jika Anda kembar non-identik) adalah satu-satunya yang berlabuh di salah satu telur ibu Anda – itu sebabnya Anda ada. Unit genetis yang sedang kita bayangkan, kromosom 8a Anda, mulai mereplikasi dirinya sendiri bersama dengan seluruh materi genetis Anda lainnya.

(hlm.66)

Saya menggunakan kata gen dengan maksud untuk menyebut unit genetis yang cukup kecil sehingga dapat bertahan sepanjang sejumlah besar generasi dan didistribusikan dalam bentuk banyak salinan. Tapi judul seperti tadi tak menarik, sehingga dengan mendefinisikan gen sebagai secuil kromosm yang berpotensi untuk bertahan selama banyak generasi, saya menjuduli buku ini  The Selfish Gene.

Saya sendiri lebih suka menganggap gen sebagai unit fundamental

(hlm.67)

seleksi lam sehingga dengan demikian gen juga merupakan unit fundamental kepentingan diri. Apa yang telah saya lakukan sekarang adalah mendefinisikan gen sedemikian rupa sehingga saya harus benar!

Seleksi alam dalam bentuknya yang paling umum berarti perbedaan kelangsungan hidup sebagai entitas. Sebagian entitas hidup, yang lain mati, tapi, agar kematian yang selektif itu berdampak bagi dunia, ada syarat tambahan yang harus dipenuhi. Setiap entitas harus ada dalam bentuk banyak salinan dan setidaknya beberapa di antaranya harus punya potensi  bertahan hidup – dalam bentuk salinan – untuk jangka waktu yang signifikan selama masa evolusi. Unit genetis kecil memiliki sifat-sifat itu, tapi individu, kelompok, dan spesies tidak. Gregor Mendel telah berjasa besar menunjukkan bahwa unit-unit hereditas dalam praktiknya dapat diperlakukan sebagai partikel-partikel independen yang tak bisa dipecah. Kini kita tahu bahwa pengertian ini sedikit terlalu sederhana.

(hlm.68)

Gen itu abadi, atau, lebih tepatnya, didefinisikan sebagai entitas genetis yang mendekati keabadian. Kita, individu mesin kelestarian di dunia, bisa saja hidup selama beberapa puluh tahun. Namun harapan hidup di muka Bumi mesti diukur bukan dalam puluhan tahun, melainkan dalam ribuan dan jutaan tahun.

Gen-gen tidak hancur oleh pindah silang, mereka hanya berganti pasangan dan bergerak lagi. Tentu saja mereka bergerak lagi. Itu pekerjaan mereka. Mereka adalah replikator dan kita mesin kelestarian mereka. Ketika kita telah memenuhi fungsi kita maka kita akan disingkirkan, tapi gen adalah penghuni waktu geologis: gen bertahan selamanya.

(hlm.69)

Hidup setiap molekul fisik DNA cukup pendek – mungkin hitungannya bulan, jelas tidak sampai seumur hidup seseorang. Namun, secara teori, molekul DNA dapat hidup dalam bentuk salinan dirinya sendiri selama seratus juta tahun. Selain itu, seperti cetakan kuno pada masa sup purba, salinan gen tertentu bisa tersebar ke seluruh dunia. Perbedaannya adalah bahwa versi modern dikemas rapi di dalam tubuh mesin kelestarian.

Kita ingin mencari unit praktis seleksi alam. Untuk melakukan itu, kita mulai dengan mengidentifikasi ciri-ciri yang harus dimiliki unit seleksi alam yang berhasil. Dari bab sebelumnya, ciri-ciri itu adalah panjang umur, kesuburan, dan ketepatan salinan. Gen didefinisikan sebagai penggalan kromosom yang cukup pendek sehingga dapat bertahan, secara potensial, cukup lama sehingga dapat berfungsi sebagai unit seleksi alam yang signifikan.

Potensi keabadian membuat gen menjadi kandidat utama unit dasar seleksi alam. Namun sekarang tiba saatnya untuk menekankan kata “potensi”. Gen sanggup hidup selama jutaan tahun, tapi banyak gen baru yang bahkan tidak berhasil melampaui generasi pertama.

(hlm.70)

Ketimbang berputar-putar di tempat memikirkan rincian, dapatkan kita memikirkan kualitas universal yang kita harap ditemukan dalam semua gen baik (yaitu yang berumur panjang)? Sebaliknya, apa ciri yang langsung menandakan suatu gen “buruk”. Yang berumur pendek? Mungkin ada beberapa ciri universal, tapi ada satu yang khususnya sangat relevan dengan buku ini: di tingkat gen, altruisme pastilah buruk dan egoisme baik. Ini konsekuensi definisi kita tentang altruisme dan egoisme. Gen bersaing langsung dengan alelnya untuk bertahan hidup karena alel di lumbung gen merupakan pesaing dalam berebut tempat di kromosom generasi mendatang. Setiap gen yang berperilaku sedemikian rupa untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidupnya di lumbung gen, sambil mengorbankan alelnya, akan dengan sendirinya, secara tautologis, cenderung bertahan hidup. Gen adalah unit dasar keegoisan.

Pembentukan kaki adalah hasil kerjasama banyak gen. Pengaruh dari lingkungan luar juga sangat diperlukan: bagaimanapun, kaki terbuat dari asupan makanan! Namun, mungkin ada satu gen tunggal, yang kalau semua keadaan lain tak berubah, cenderung membuat kaki lebih panjang daripada kalau alel lain gen tersebut yang membuat kakinya.

(hlm.71)

Namun, jika semua faktor lainnya dijaga konstan, bahkan jika dibiarkan bervariasi dalam takaran tertentu, penambahan nitrat tetap akan membuat tumbuhan gandum tumbuh lebih besar.

(hlm.72)

Setelah beberapa minggu, mulai kelihatan bahwa perahu yang menang cenderung ditumpangi orang-orang yang itu-itu juga. Mereka pun dicatat sebagai pendayung terbaik. Hanya berdasarkan rata-rata sajalah orang-orang yang terbaik cenderung berada dalam perahu pemenang.

Para pendayung adalah gen. Para pesaing yang memperebutkan setiap kursi dalam perahu adalah alel yang berpotensi menempati slot yang sama di sepanjang kromosom. Mendayung cepat ibarat membangun tubuh yang berhasil bertahan hidup. Cuaca adalah lingkungan luar. Seluruh calon adalah lambung gen. Dalam hal kelangsungan hidup tubuh, semua gennya dapat dianggap berada dalam perahu yang sama. Banyak gen baik mendapatkan kawan gen buruk dan mendapati dirinya berbagi tubuh dengan gen mematikan, yang membunuh si tubuh pada masa kecil. Kemudian gen yang baik hancur bersama dengan yang lain. Tapi itu hanya satu tubuh dan replika gen baik hidup dalam tubuh lain yang tak punya gen mematikan. Banyak salinan gen baik hancur karena kebetulan berbagi tubuh dengan gen buruk dan banyak yang binasa karena nasib buruk lainnya, katakanlah ketika tubuh mereka disambar petir. Namun, dengan sendirinya, nasib, entah baik maupun buruk, menerpa secara acak dan gen yang secara konsisten ada di pihak yang kalah tidaklah tak beruntung; dia gen yang buruk.

(hlm.73

Pesan tersebut adalah bahwa yang sebaiknya dianggap sebagai unit dasar seleksi alam bukan spesies, bukan populasi, atau bahkan individu, melainkan beberapa unit kecil materi genetis yang pas disebut sebagai gen. Landasan argumennya, seperti yang telah disebutkan, adalah asumsi bahwa gen berpotensi abadi sementara tubuh

(hlm.74)

dan semua unit lebih tinggi lainnya bersifat sementara. Asumsi itu bersandar di dua fakta: fakta reproduksi seksual dan pindah silang, serta fakta kematian individu. Fakta-fakta itu tidak dapat disangkal. Tapi itu mencegah kita untuk bertanya mengapa fakta-fakta itu  tidak dapat disangkal. Mengapa kita dan kebanyakan mesin kelestarian lainnya melakukan reproduksi seksual? Mengapa kromosom kita berpindah silang? Dan mengapa kita tidak hidup selamanya?

(hlm.77)

Asumsi kematian individu, yang terletak di jantung agumen kita dalam bab ini, mendapatkan pembenaran dalam kerangka teori Medawar.

Bahkan satu hutan elm bisa dianggap sebagai satu individu.

Jadi pertanyaannya adalah: jika lalat hijau dan pohon elm tidak melakukannya, mengapa kita semua yang lainnya bersusah payah mencampur gen kita dengan gen pihak lain sebelum kita membuat bayi? Memang kelihatannya itu cara yang aneh untuk melangkah maju. Mengapa dulu muncul seks, penyimpangan aneh replikasi langsung itu? Apa hunanya seks?

Itu pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh evolusionis.

(hlm.78)

Sebagaimana yang dikatakan secara jitu oleh W. F. Bodmer, seks “memudahkan akumulasi mutasi menguntngkan yang muncul secara terpisah di individu-individu yang berbeda ke satu individu.”

(hlm.79)

“Tujuan” DNA sesungguhnya adalah bertahan hidup, tak lebih dan tak kurang. Sama seperti satu perahu utuh menang atau kalah dalam perlombaan dayung, memang individu-lah yang hidup atau mati, dan pelaksanaan langsung seleksi alam hampir selalu terjadi di tingkat individu. Namun konsekuensi jangka panjang kematian dan keberhasilan reproduksi individu yang tidak terjadi secara acak terwujud dalam perubahan frekuensi gen, di lumbung gen. Dengan pengecualian, bagi replikator-replikator modern, lumbung gen berperan sama seperti sub purba bagi replikator-replikator awal. Seks dan pindah silang berefek melestarikan sifat cair di padanan modern sub purba itu. Karena seks dan pindah silang, lumbung gen pun terus teraduk dengan baik dan gen-gen pun teracak sebagian. Evolusi adalah proses di mana beberapa gen di lumbung gen menjadi lebih banyak sementara yang lain menjadi lebih sedikit.

(hlm.85)

BAB 4

MESIN GEN

Mesin kelestarian awalnya merupakan wadah gen yang pasif. Wadah itu menyediakan sekadar dinding perlindungan bagi gen dari serangan kimiawi lawan-lawan mereka dan dari kehancuran akibat tabrakan molekul secara acak.

(hlm.86)

Sebagaimana kita tak perlu membahas kuantum dan zarah dasar kala membicarakan cara kerja mobil, begitu juga saat kita membahas perilaku mesin kelestarian, terus menyeret-nyeret gen dalam pembicaraan justru membosankan dan tak perlu. Dalam praktiknya, biasanya untuk perkiraan kita bisa saja menganggap tubuh individu sebagai agen “yang mencoba” meningkatkan jumlah semua gennya dalam generasi masa depan.

Hewan menjadi kendaraan gen yang aktif dan penuh tenaga: mesin gen. Ciri khas perilaku, sesuai pemahaman ahli biologi, adalah cepat. Tumbuhan bergerak, tapi sangat lambat. Bila dilihat dalam

(hlm.87)

berkecepatan tinggi, tumbuhan yang merambat tampak seperti hewan yang aktif.

Perangkat yang dikembangkan hewan untuk mencapai gerakan cepat adalah otot. Otot adalah mesin yang, seperti mesin uap dan mesin pembakaran internal, menggunakan energi yang tersimpan dalam bahan bakar kimia untuk menghasilkan gerakan mekanis. Perbedaannya adalah bahwa daya mekanis langsung dari otot dihasilkan dalam bentuk tegangan, bukan tegangan gas seperti dalam kasus mesin uap dan mesin pembakaran internal. Namun otot memang seperti mesin dalam hal bahwa dia acapkali mengerahkan dayanya menggunakan kawat, tuas, dan engsel. Dalam diri kita, tuasnya adalah tulang, kawatnya adalah tendon, dan engselnya persendian.

Tapi yang jauh lebih mencengangkan adalah pengaturan waktu kerjanya yang rumit. Katup membuka dan menutup dalam urutan yang benar, jari baja dengan cekatan mengikat simpul di seputar jerami, kemudian pada saat yang tepat pisau muncul dan langsung memotong-motong ikatan jerami. Di banyak mesin buatan, penghitungan waktu yang tepat dicapai berkat hasil penemuan yang brilian bernama pros nok atau poros bubungan.

(hlm.88)

Bukannya hanya tiga tangkai koneksi dengan komponen lain, satu neuron saja dapat memiliki puluhan ribu tangkai koneksi semacam itu. Neuron lebih lambat daripada transistor, tapi lebih maju dalam hal miniaturasisasi, suatu tren yang telah mendominasi industri elektronik selama dua puluh tahun terakhir. Itu tampak jelas dari fakta bahwa ada sepuluh miliar neuron di dalam otak manusia. Itu tampak jelas dari fakta bahwa ada sepuluh miliar neuron di dalam otak manusia: Anda hanya bisa mengemas sekian ratus transistor ke dalam tempurung kepala.

(hlm.89)

Bisa jadi ada masanya ketika organ-organ inderawi berkomunikasi secara kurang-lebih langsung dengan otot; bahkan anemon laut hari ini tidak jauh dari keadaan tersebut karena itu efisien untuk cara hidupnya. Satu langkah maju evolusi adalah “penemuan” memori atau ingatan. Melalui perangkat itu, pengaturan waktu kontraksi otot dapat dipengaruhi bukan hanya oleh peristiwa pada masa lalu yang dekat, melainkan juga peristiwa pada masa lalu yang jauh. Memori, atau penyimpanan, juga merupakan bagian penting komputer digital. Memori komputer lebih bisa diandalkan ketimbang memori manusia, tapi kapasitasnya lebih kecil dan jauh lebih tak canggih dalam hal teknik penarikan informasi.

(hlm.91)

Bagi mesin Watt, keadaan “yang diinginkan” adalah kecepatan rotasi tertentu. Jelas, mesin itu tidak menginginkannya secara sadar. “Tujuan” –nya mesin semata-mata disefinisikan sebagai keadaan yang cenderung dituju. Mesin bertujuan yang modern menggunakan perluasan prinsip-prinsip dasar seperti umpan balik negatif untuk mencapai perilaku “seperti hidup” (lifelike) yang lebih kompleks.

(hlm.92)

Gen juga mengontrol perilaku mesin kelestariannya, bukan secara langsung seperti dalang, melainkan secara tak langsung seperti pemogram komputer.

(hlm.93)

Ada suatu peradaban 200 tahun cahaya jauhnya, di rasi bintang Andromeda.2 Penghuninya ingin menyebarkan budaya ke dunia-dunia yang jauh. Bagaimana cara terbaik untuk melakukannya? Perjalanan langsung sama sekali tidak bisa dilakukan. Kecepatan cahaya berlaku sebagai batasan teoretis tertinggi untuk gerak berpindah dari satu tempat ke tempat lain di alam semesta, sedangkan pertimbangan mekanis memberlakukan batasan yang jauh lebih rendah pada praktinknya. Lagi pula, bisa jadi tidak semua dunia layak dikunjungi, dan bagaimana mengetahui arah mana untuk dituju? Radio adalah cara yang lebih baik untuk berkomunkasi dengan seluruh alam semesta, karena jika ada cukup daya untuk menyiarkan sinyal Anda ke segala arah, bukan satu arah saja, Anda akan menjangkau sejumlah besar dunia (jumlahnya meningkat sebanding dengan kuadrat jarak perjalanan sinyal itu). Gelombang radio bergerak dalam kecepatan cahaya, yang berarti sinyalnya membutuhkan waktu 200 tahun untuk mencapai Bumi dari Andromeda. Masalahnya, dengan jarak semacam itu Anda tidak akan pernah bisa mengadakan percakapan. Bahkan jika Anda mengabaikan fakta bahwa setiap pesan berikutnya dari Bumi akan dikirimkan oleh orang-orang yang terpisah dua belas generasi, sia-sia saja mengupayakan komunikasi melewati jarak sejauh itu.

Permasalahan itu tidak akan bertambah serius bagi kita: dibutuhkan sekitar empat menit bagi gelombang radio untuk melakukan perjalanan antara Bumi dan Mars. Tak diragukan bahwa penjelajah antariksa harus berubah dari cara bicara yang biasa, yaitu dalam kalimat pendek secara bergantian, dan harus menggunakan senandika atau monolog yang panjang; lebih seperti surat daripada percakapan. Sebagai contoh lain, Roger Payne menunjukkan bahwa akustik laut memiliki sifat yang khas, artinya “lagu” paus yang sangat lantang secara teoretis dapat terdengar

(hlm.94)

hingga di seluruh dunia asalkan paus itu berenang di kedalaman tertentu. Tidak diketahui apakah paus memang berkomunikasi satu sama lain dengan rentang jarak yang sangat jauh, tapi jika ya, mereka pasti menghadapi kesulitan seperti dengan penjelajah antariksa di Mars. Kecepatan udara dalam air sedemikian rupa sehingga dibutuhkan hampir dua jam bagi lagu itu untuk melintasi Samudera Atlantik dan bagi balasannya untuk diterima. Saya mengajukan itu sebagai penjelasan bagi fakta bahwa sebagian Paus melantunkan solilokui terus-menerus, tanpa mengulang, selama delapan menit. Kemudia mereka kembali ke awal lagu dan mengulanginya berkali-baerkali, dengan tiap siklus berlangsung selama delapan menit.

Pada penghuni Andromeda dalam kisah di atas melakukan hal yang sama. Karena tidak ada gunanya menunggu jawaban, mereka mengumpulkan segala sesuatu yang ingin mereka sampaikan ke dalam pesan besar yang tak terputus, kemudian menyiarkannya ke antariksa, berulang-ulang, tiap beberapa bulan. Namun pesan mereka sangat berbeda dengan pesan paus. Pesan penghuni Andromeda terdiri atas kode instruksi untuk membangun dan memprogram suatu komputer raksasa.

Dari sudut pandang kita, pertanyaan menariknya adalah dalam pengertian apa penghuni Andromeda dapat dikatakan memanipulasi peristiwa di Bumi? Mereka tidak punya kendali langsung sepanjang waktu terhadap apa yang dilakukan komputer itu; mereka bahkan tidak punya cara untuk mengetahui bahwa komputer itu telah dirakit karena informasi itu akan memerlukan 200 tahun untuk sampai ke tangan mereka.

(hlm.95)

Sama seperti penghuni Andromeda yang harus memiliki komputer di Bumi untuk mengambil keputusan harian demi kepentingan mereka, gen kita juga harus membangun otak. Namun, gen bukanlah penghuni Andromeda yang mengirimkan instruksi dalam bentuk kode; gen adalah instruksi itu sendiri. Alasan mengapa gen tidak bisa menggerakkan kita secara langsung juga sama: tenggang waktu. Gen bekerja dengan mengendalikan sintesis protein. Itu cara ampuh untuk memanipulasi dunia, tapi jalannya lambat.

Gen tidak memikirkannya sebagai ramalan, gen tidak berpikir sama sekali: gen sekadar merancang lapisan rambut tebal karena itulah yang selalu dilakukan gen itu dalam tubuh-tubuh sebelumnya dan itulah sebabnya

(hlm.96)

gen beruang kutub masih ada di dalam lumbung gen.

Prediksi dalam dunia yang kompleks adalah persoalan untung-untungan. Setiap keputusan yang diambil oleh mesin kelestarian adalah perjudian. Tapi, tentu saja, kita tak harus berpikir bahwa hewan-hewan membuat perhitungan secara sadar. Yang harus dipercaya adalah bahwa individu-individu, yang gennya membangun otak sedemikian rupa sehingga otak itu cenderung memutuskan dengan tepat, alhasil lebih mungkin bertahan hidup, dan dengan demikian lebih mungkin menyebarkan gen yang sama.

(hlm.97)

Satu cara bagi gen agar dapat memecahkan masalah pembuatan prediksi di lingkungan yang agak tak terduga adalah dengan merancang kapasitas belajar. Di sini, program itu bisa mengambil wujud instruksi berikut pada mesin kelestarian: “Berikut ini adalah daftar hal-hal yang didefinisikan sebagai kenikmatan: rasa manis di mulut, orgasme, suhu sedang, anak yang tersenyum. Dan ini adalah daftar hal-hal tak nikmat: nernagai macam rasa sakit, mual, perut kosong, anak yang menjerit-jerit. Jika Anda kebetulan harus melakukan sesuatu yang diikuti oleh salah satu hal tak nikmat, jangan lakukan lagi, tapi di sisi lain ulangi lagi tindakan yang diikuti dengan kenikmatan.” Keuntungan pemograman semacam itu adalah emangkas jumlah aturan rinci yang harus dirancang di program asli; dan juga mampu mengatasi perubahan

(hlm.98)

lingkungan yang tidak bisa diprediksi secara rinci sejak awal. Di sisi lain, prediksi tertentu tetap harus dibuat. Dalam contoh kita, gen memprediksi bahwa rasa manis di mulut dan orgasme itu “baik” dalam arti bahwa makan gula dan bersanggama cenderung bermanfaat bagi kelangsungan hidup gen. Kemungkinan sakarin (gula buatan) dan masturbasi tidak diantisipasi oleh gen menurut contoh itu; demikian pula bahaya konsumsi gula berlebihan yang tersedia di lingkungan kita dalam jumlah sangat besar yang tak alamai.

Salah satu metode yang paling menarik dalam memprediksi masa depan adalah simulasi. Jika seorang jenderal ingin tahu apakah rencana militer tertentu akan lebih baik daripada alternatifnya, maka dia punya masalah prediksi.

(hlm.99)

Model suatu aspek dunia dibuat di komputer. Ini bukan berarti bahwa jika Anda membongkar komputer Anda akan melihat miniatur kecil di dalamnya, dengan bentuk yang sama seperti objek yang disimulasikan. komputer pemain catur tidak punya “gamb“ran mental” di dalam memori yang berbentuk papan catur dengan bidak-bidak di atasnya. Papan catur dan posisi bidak akan diwakili oleh daftar angka kode elektronik. Bagi kita, peta adalah model suatu bagian dunia dalam skala miniatur, dijadikan dua dimensi. Melalui simulasi, kita bisa mengetahui apakah akan menag atau kalah dalam pertempuran uji coba, apakah pesawat simulasi bisa erbang atau jatuh, dan apakah kebijakan ekonomi simulasi berujung kemakmuran atau kehancuran.

(hlm.100)

Evolusi kemampuan simulasi tampaknya berpuncak di kesadaran subjektif (subjective consciousness). Mengapa itu harus terjadi, bagi saya, merupakan misteri terbesar yang dihadapi biologi modern. Kata lain untuknya mungkin memang “kesadaran diri” (self awareness), tapi menurut saya itu bukan penjelasan yang sepenuhnya memuaskan tentang evolusi kesadaran; sebagian karena penjelasan itu melibatkan regresi yang tak berkesudahan – jika ada modelnya model, mengapa tidak ada modelnya modelnya model….?

Apapun masalah filosofis yang diajukan oleh kesadaran, untuk keperluan kisah ini, kesadaran dapat dianggap sebagai titik puncak kecenderungan evolusioner menuju emansipasi mesin kelestarian sebagai eksekutif pengambil keputusan; terbebas dari belenggu tuannya, gen.

(hlm.101)

Apakah kaitan semua itu dengan altruisme dan egoisme? Saya sedang mencoba untuk membangun gagasan bahwa perilaku hewan, baik altruistis ataupun egois, berada di bawah kendali gen dalam arti tak langsung, walaupun sangat kuat.

Lebah madu menderita penyakit infeksi yang disebut foul brood. Penyakit ini menyerang larva di dalam sel sarang.

(hlm.104)

Gen adalah pemrogram utama, dan dia memprogram demi kelangsungan hidupnya. Gen dinilai berdasarkan keberhasilan programnya dalam menghadapi semua bahaya yang dihadirkan oleh kehidupan terhadap mesin kelestariannya dan hakimnya adalah hakim kejam di pengadilan kelangsungan hidup. Tapi prioritas utama mesin kelestarian, dan otak yang mengambil keputusan untuk itu, adalah persoalan kelangsungan hidup individu dan reproduksi. Semua gen dalam “koloni” bakal menyetujui prioritas-prioritas tersebut. Oleh karena itu, hewan-hewan melakukan segalanya demi menemukan dan menangkap makanan; menghindari ditangkap dan dimakan pemangsa; menghindari penyakit dan kecelakaan; melindungi diri dari kondisi iklim yang tidak menguntungkan; menemukan anggota lawan jenis dan membujuknya untuk kawin; dan memberi keturunan mereka keunggulan yang sama dengan yang mereka nikmati sendiri.

Suatu mesin kelestarian bisa dikatakan telah berkomunikasi dengan mesin kelestarian lain bila tindakan itu mempengaruhi perilakunya atau kondisi sistem sarafnya.

(hlm.109)

CATATAN AKHIR

  • Para penerbit seharusnya paham bahwa keunggulan seorang ilmuwan dalam satu bidang tidak berarti dia ahli dalam bidang lain.

BAB 5

AGRESI: STABILITAS DAN MESIN EGOIS

(hlm.115)

Secara khusus, tentunya keliru untuk menuduh Homo sapiens sebagai satu-satunya spesies yang membunuh sesamanya, satu-satunya pewaris tabiat Kain (Qabil), dan tuduhan elodramatis serupa.

Jawban umumnya adalah ada biaya dan ada keuntungan yang dihasilkan dri kekerasan langsung, dan itu bukan hanya dalam hal waktu dan energi yang sudah jelas.

BAB 9

PERTARUNGAN

ANTARJENIS KELAMIN

(hlm.244)

CATATAN AKHIR

  • “Mengapa mamalia pejantan tidak menyusui?”

6.   Dia percaya bahwa kekebalan terhadap penyakit yang diwariskan di antara pejantan adalah kriteria paling penting yang membuat betina memilih pejantan. Penyakit adalah momok yang begitu kuat sehingga betina akan untung besar dari kemampuan potensial untuk mendiagnosis penyakit sedari awal di calon pasangan. Betina akan berlaku seperti dokter pendiagnosis yang baik dan hanya memilih pejantan tersehat akan mendapatkan gen yang sehat bagi anak-anaknya.

(hlm.247)

      Pertama, teori tentang mengapa laki-laki kehilangan tulang penisnya. Sebatang penis manusia yang berereksi dapat menjadi begitu keras dan kaku sampai-sampai ada candaan bahwa di dalamnya pasti tulang.

      Ereksi laki-laki dicapai semata-mata dengan tekanan darah. Sayangnya, tidaklah masuk akal untuk menyatakan bahwa kerasnya ereksi setara dengan pengukur tekanan darah milik dokter, yang dipakai betina untuk menakar kesehatan pejantan. Tapi kita tidak terikat dengan kiasan pengukur tekanan darah. Jika, apa pun alasannya, kegagalan ereksi adalah peringatan dini yang sensitif atas jenis penyakit tertentu, fisik ataupun mental, satu versi lain teori ini dapat berlaku. Jadi, tekanan seleksi dari perempuan memaksa laki-laki kehilangan os penis karena dengan demikian hanya laki-laki yang betul-betul sehat dan kuatlah yang dapat menyajikan ereksi yang keras sehingga perempuan dapat membuat diagnosis tanpa ada halangan.

      Dahulu kala mungkin itu persoalan hidup dan mati. Pada sunyinya malam, dengkuran dapat terdengar lantang; memanggil pemangsa dari kejauhan menuju si pendengkur dan kelompok tempat dia beegabung. Lalu mengapa banyak orang mendengkur? Bayangkan sekelompok leluhur kita

(hlm.248)

      tidur di dalam suatu gua pada kala Pleistosen, para laki-laki mendengkur dengan nada yang berbeda-beda, perempuan tetap terjaga dan hanya bisa mendengarkan (Saya kira memang benar bahwa laki-laki mendengkur lebih banyak).

(hlm.249)

Asumsi awal Graven:

2.         Betina tidak dapat menangkap kualitas pejantan secara langsung tapi harus mengandalkan tampilan pejantan.

(hlm.253)

BAB 10

KAMU GARUK PUNGGUNGKU, AKU GARUK PUNGGUNGMU

Salah satunya adalah kecenderungan yang dimiliki begitu banyak hewan untuk hidup berkelompok.

(hlm.254)

Alhasil, meskipun berburu bersama artinya harus saling berbagi makanan, tiap individu egois diuntungkan. Trik terkait yang berkenaan dengan turbulensi udara dikenal baik oleh pembalap sepeda dan itu juga bisa menjelaskan burung-burung yang terbang dalam formasi V.

(hlm.255)

Individu yang berakal sehat tentu akan berupaya agar daerah bahayanya tetap sekecil mungkin. Khususnya, dia akan berusaha menghindar dari posisi pinggir kawanan. Jika dia menemukan dirinya di pinggir, dia akan mengambil langkah segera untuk bergerak ke tengah. Sayangnya, harus ada individu di pinggir, walau tidak ada yang ingin berada di sana!

(hlm.256)

Yang pertama saya sebut teori cave [kavé], dari bahasa Latin untuk “berhati-hatilah” (beware), yang sampai sekarang masih digunakan anak sekolah sebagai peringatan akan adanya otoritas yang mendekat.

(hlm.257)

Teori lain yang ingin saya sebutkan bisa disebut teori “jangan pernah meninggalkan barisan”. Yang satu ini cocok untuk spesies burung yang terbang menghindar kala pemangsa mendekat, mungkin untuk berlindung di pohon.

(hlm.258)

“Lihatlah betapa tinggi lompatan saya, saya jelas-jelas bugar dan sehat. Anda tidak bisa menangkap saya. Lebih baik Anda menangkap gazele lainnya yang tidak melompat begitu tinggi.”

(hlm.259)

Menurut teori, tampilan itu jauh dari altruisme. Malah justru egois, karena membujuk pemangsa untuk mengejar individu lain. Dengan demikian, ada lomba melenting paling tinggi supaya pemangsa memilih yang menjadi pecundang.

(hlm.260)

Perilaku bunuh diri, kerja sama antarpekerja, dan bentuk altruisme lainnya tidaklah terlalu mengherankan begitu kita menerima kenyataan bahwa mereka mandul.

(hlm.261)

Hamilton-lah yang dengan brilian menyadari bahwa, setidaknya di semut, lebah, dan tawon, para pekerja sebenarnya mungkin berkerabat lebih dekat dengan keturunan daripada si ratu sendiri. Ini membawa Hamilton, diikuti Trivers dan Hare, ke salah satu kemenangan teori gen egois yang paling spektakuler. Argumennya adalah seperti di bawah.

Serangga dari kelompok yang dikenal sebagai Hymenoptera, termasuk semut, lebah, dan tawon, memiliki sistem penentuan jenis

(hlm.262)

kelamin yang sangat aneh. Rayap tidak termasuk dalam kelompok ini, dan tidak memiliki keunikan tersebut. Sarang Hymeptera biasanya hanya memiliki satu ratu. Ratu terbang untuk kawin sekali saja saat masih muda dan menyimpan sperma di dalam tubuhnya sepanjang hidupnya – sepuluh tahun atau bahkan lebih lama. Ratu membagi-bagikan sperma ke telur-telurnya selama bertahun-tahun, memungkinkan telurnya dibuahi begitu keluar melalui saluran indung telur. Tapi tidak semua telur dibuahi. Yang tidak dibuahi berkembang menjadi pejantan. Dengan demikian, pejantan tidak memiliki ayah, sel tubuhnya hanya berisi satu set kromosom (yang semua diperoleh dari ibunya) bukan satu set ganda (satu dari ayah dan satu dari ibu) seperti pada kita, manusia. Terkait analogi dalam bab 3, satu Hymenoptera jantan hanya memiliki satu salinan setiap “volume” di setiap selnya, bukan dua.

Hymenoptera betina, di sisi lain, normal karena dia memiliki ayah dan set kromosom ganda seperti biasa di setiap sel tubuhnya. Apakah dia berkembang menjadi pekerja atau ratu tidak tergantung gen, tapi tergantung bagaimana dia dibesarkan. Artinya, setiap betina memiliki satu set lengkap gen yang membuatnya bisa menjadi ratu, dan satu set lengkap gen yang membuatnya menjadi pekerja (atau, tepatnya, set lengkap gen yang menentukan setiap kasta, entah pekerja, tentara, dll). Seperangkat gen mana yang “diaktifkan” tergantung bagaimana dia dipelihara, khususnya terkait makanan yang diterimanya.

Sekarang mari kita coba menghitung derajat kekerabatan antara ibu dan anak. Jika pejantan diketahui memiliki gen A, berapa peluang ibunya juga memiliki gen A? Jawabannya mesti 100 persen karena pejantan tak punya ayah dan memperoleh semua gen dari ibunya. Namun, misalkan ratu diketahui memiliki gen B. Peluang bahwa anak jantannya juga memiliki

(hlm.263)

gen itu hanya 50 persen karena dia hanya memiliki setengah gen si ibu. Kedengarannya seperti kontradiksi, tapi bukan. Pejantan mendapatkan semua gennya dari ibunya, tapi sang ibu hanya memberikan setengah gennya kepada anak. Solusi untuk hal yang tampak paradoksal itu terletak di fakta bahwa pejantan memiliki hanya setengah jumlah gen yang biasanya. Tidak perlu pusing memikirkan apakah indeks kekerabatan “yang sesungguhnya” adalah ½ atau 1. Indeks itu hanya ukuran buatan manusia, dan jika menyulitkan dalam kasus-kasus tertentu, kita bisa meninggalkannya dan kembali ke prinsip-prinsip dasar. Dari sudut pandang gen A di tubuh ratu, peluang gen itu juga dimiliki oleh anak jantan adalah 1/2 , begitu pula peluang anak betina. Maka dari sudut pandang ratu, keturunannya – putra maupun putri – berderajat berkerabatan dengan dirinya sebagaimana anak-anak manusia dengan ibu mereka.

Oleh karena itu, derajat kekerabatan antarsaudari kandung pada Hymenoptera bukanlah ½ seperti pada hewan seksual biasanya, melainkan ¾

(hlm.264)

Gen harus mengambil keuntungan terbaik dari posisi yang kebetulan ada. Jika dia mendapati dirinya dalam posisi untuk mempengaruhi perkembangan tubuh yang ditakdirkan menjadi ratu, strategi optimalnya untuk memanfaatkan kendali itu adalah satu hal. Jika dia mendapati dirinya dalam posisi untuk mempengaruhi bagaimana tubuh pekerja berkembang, strategi optimalnya untuk memanfaatkan kendali itu adalah hal lain.

(hlm.265)

Artinya itu sesuai dengan apa yang diprediksi teori bahwa para pekerjalah yang menjalankan segalanya untuk keuntungan mereka sendiri.3

(hlm.266)

Peperangan yang sesungguhnya di mana dua pasukan berjumlah besar bertempur hingga tewas hanya dikenal di manusia dan serangga sosial.

(hlm.268)

Ssecara kebetulan, ini bisa menunjukkan bahwa pekerja harus mendampingi ratu saat terbang untuk kawin, guna mencegahnya kawin lebih daripada sekali. Namun itu tidak akan membantu gen para pekerja itu sendiri – tapi gen untuk generasi pekerja yang akan datang. Tidak ada semangat serikat buruh di antara para pekerja sebagai satu kasta. Yang “dipedulikan” masing-masing Cuma gen pribadi.

Seperti manusia sesudahnya, serangga sosial menemukan bahwa membudidayakan pangan secara menetap lebih efisien daripada berburu dan mengumpulkan makanan.

(hlm.269)

“Nafsu makan” koloni semut payung akan daun sungguh luar biasa. Ini membuat mereka menjadi hama besar, padahal daun itu bukan makanan untuk diri mereka sendiri melainkan untuk jamur.

(hlm.270)

Di dalam setiap sel kita ada banyak struktur mungil yang disebut mitokondria, pabrik kimia yang bertanggungjawab untuk menyediakan sebagian besar energi yang kita butuhkan. Jika kita kehilangan mitokondria, maka kita akan mati dalam hitungan detik. Baru-baru ini, ada pendapat yang masuk akal bahwa asal mitokondria awalnya adalah bakteri simbiotik yang menggabungkan kekuatan dengan sel kita pada periode yang sangat awal dalam evolusi. Kita adalah koloni raksasa gen simbiotik. Kita belum bisa bicara banyak

(hlm.271)

tentang “bukti” untuk gagasan itu, tapi seperti yang saya coba utarakan dalam bab-bab awal, pembuktian itu betul-betul melekat dalam cara kita berpikir tentang bagaimana gen bekerja di spesies seksual. Jika itu benar, sekalian saja kita bisa memandang diri kita sebagai koloni virus!

(hlm.272)

Dapatkah teori gen egois menjelaskan perilaku saling menggaruk, atau “altruisme timbal-balik” (reciprocal altruism), di mana ada penundaan antara perbuatan baik dan pembalasannya? Dia menyimpulkan, seperti Darwin pula, bahwa altruisme timbal-balik yang tertunda dapat berkembang di spesies yang mampu mengenali dan mengingat sesamanya sebagai individu.

(hlm.274)

Nah, sekarang misalkan ada strategi ketiga yang disebut pendendam (Grudger). Pendemdam membantu orang asing dan individu yang sebelumnya membantunya. Namun, jika dia ditipu, insiden itu yang sebelumnya membantunya. Namun, jika dia ditipu, insiden itu akan terus diingat dan diungkit. Pada masa depan, pendendam akan menolak membantu individu yang telah menipunya. Jika keberadaan pendendam sangat jarang dibandingkan penipu, gen pendendam akan punah. Namun, begitu pendendam berhasil mencapai proporsi kritis, peluang mereka untuk bertemu satu sama lain menjadi cukup besar untuk menyeimbangkan energi mereka yang terbuang untuk membantu penipu.

(hlm.276)

Sekitar lima puluh spesies, termasuk ikan kecil dan udang, diketahui mencari makan dengan mencaplok parasit dari permukaan ikan spesies lain yang bertubuh lebih besar. Ikan besar ini jelas mendapatkan keuntungan dengan dibersihkan, sedangkan para pembersih mendapatkan pasokan makanan yang baik.

(hlm.277)

Oleh karena itu kesetiaan para pembersih yang asli terhadap lokasi memungkinkan pelanggan untuk menemukan mereka dan menghindari penipuan.

Memori yang panjang dan kapasitas untuk mengenali individu berkembang dengan baik di manusia. Oleh karena itu, kita bisa berharap altruisme timbal-balik berperan penting dalam evolusi manusia.

(hlm.279)

CATATAN AKHIR

  1. Belalang meninggalkan kehidupan soliter dan berkelompok besar, menimbulkan ancaman sebagai hama. Dari wabah legendaris dalam Alkitab sampai hari ini, tidak ada hewan yang sangat ditakuti sebagai perusak kesejahteraan manusia. Mereka berkerumun dalam jumlah jutaan, menyikat bersama-sama tumbuhan dalam jalur selebar puluhan kilometer, kadang-kadang terbang ratusan kilometer per hari, dan menghabiskan 2.000 ton tumbuhan per hari, menyisakan kelaparan dan kehancuran.

(hlm.281)

  • Kita tidak sering menemukan pasangan inses di alam liar, kecuali satu, yaitu rayap!

(hlm.285)

BAB 11

MEME: REPLIKATOR BARU

Sebagian besar keunikan manusia dapat diringkas dalam satu kata: “budaya” (culture)

(hlm.288)

Lagi pula, apa yang begitu istimewa mengenai gen? Jawabannya adalah karena gen itu replikator.

Sup baru itu adalah sup budaya manusia. Kita butuh nama untuk replikator baru tersebut, kata benda yang menyampaikan gagasan

(hlm.289)

tentang unit transmisi budaya, atau unit imitasi. “Mimeme” berasal dari kata Yunani yang pantas, tapi saya ingin satu suku kata yang terdengar sedikit seperti “gen”. Saya harap teman-teman pakar sejarah klasik sudi memaafkan apabila saya singkat mimeme menjadi meme.2 Jika sedianya ini bisa menghibur, maka anggaplah kata itu terkait dengan “memori”, atau kata “même” dalam bahasa Prancis. Ucapkan bersajak dengan “krim”.

Contoh meme adalah lagu, gagasan, kalimat, gaya busana, cara pembuatan pot, atau struktur lengkung bangunan. Meme untuk, misalnya, ‘keyakinan akan adanya kehidupan setelah kematian’, sungguh-sungguh terwujud secara fisik, jutaan kali, sebagai struktur dalam sistem saraf individu manusia di seluruh dunia.”

Mari pertimbangkan gagasan tentang Tuhan. Mengapa gagasan itu mempunyai nilai kelestarian yang demikian tinggi? Ada apa sebetulnya dengan gagasan ketuhanan ini sehingga dia begitu stabil dan lazim dalam lingkungan budaya? Nilai kelestarian meme ketuhanan di

(hlm.290)

lumbung meme berasal dari daya tarik psikologisnya yang besar. Meme itu memberikan jawaban yang sepintas masuk akal untuk pertanyaan-pertanyaan yang mendalam dan meresahkan tentang kehidupan. Meme itu juga mengusulkan bahwa ketidakadilan di dunia bisa diperbaiki di kehidupan berikutnya. “Kasih ilahi” menyediakan dukungan efektif bagi kelemahan-kelemahan kita, yang ampuh seperti plasebo dari dokter. Itulah beberapa alasan mengapa gagasan ketuhanan disalin dengan begitu mudah oleh bergenerasi-generasi otak individu. Tuhan ada dalam bentuk meme dengan nilai kelestarian atau daya sebar yang tinggi, dalam lingkungan yang disediakan oleh budaya manusia.

(hlm.291)

Imitasi atau peniruan dalam arti luas adalah cara meme bisa bereplikasi. Seperti dalam kasus gen, fekunditas jauh lebih penting daripada umur panjang salinan tertentu. Jika meme itu adalah gagasan sains, penyebarannya akan tergantung pada seberapa jauh gagasan itu diterima oleh kalangan ilmuwan; ukuran kasar atas nilai kelestariannya dapat diperoleh dengan menghitung berapa kali gagasan itu dirujuk dalam urnal sains selama bertahun-tahun.

(hlm.294)

Bisakah kita, dengan semangat yang persis sama, mencari meme yang “egois” atau “kejam”?

Ada masalah di sini tentang hakikat kompetisi. Bila ada reproduksi seksual, setiap gen bersaing terutama dengan alelnya sendiri – pesaing dalam memperebutkan tempat yang sama di kromosom.

Komoditas lainnya yang bisa diperebutkan meme adalah waktu tayang radio dan televisi, ruang iklan, kolom surat kabar, dan ruang rak perpustakaan.

(hlm.295)

Sebagai contoh, aspek doktrin yang sangat efektif dalam menegakkan ketaatan beragama adalah ancaman api neraka. Banyak anak dan bahkan sebagian orang dewasa percaya bahwa mereka akan mengalami siksaan mengerikan setelah mati jika mereka tidak mematuhi aturan agama. Ini teknik persuasi yang sangat keras, yang menyebabkan tekanan psikologis besar sejak zaman pertengahan hingga hari ini. Tapi sangat efektif. Gagasan mengenai api neraka, sederhana saja, mengekalkan dirinya sendiri, karena dampak psikologisnya yang mendalam. Gagasan itu kemudian dihubungkan dengan meme ketuhanan karena keduanya saling memperkuat dan saling membantu kelangsungan hidup dalam lumbung meme.

Anggota lain dari kompleks meme religius disebut iman. Artinya kepercayaan tanpa membutuhkan pembuktian, bahkan di hadapan bukti itu sendiri. Kisah Thomas si Peragu diceritakan bukan agar kita mengagumi Thomas, melainkan agar kita dapat mengagumi kisah para rasul yang lain. Dalam kisah itu, Thomas memerluka pembuktian. Dan tidak ada yang lebih mematikan bagi beberapa jenis meme selain kecenderungan untuk mencari bukti. Para Rasul yang lain, yang imannya begitu kuat sehingga mereka tidak memerlukan pembuktian, diajukan kepada kita sebagai yang layak diikuti. Meme keimanan mengamankan kelangsungan hidupnya dengan trik bawah sadar yang sederhana, yaitu tidak menganjurkan penyelidikan rasional.

Iman yang membuta dapat membenarkan apa saja.7 Jika seorang manusia percaya pada tuhan yang berbeda, atau bahkan jika dia menggunakan cara yang berbeda untuk menyembah Tuhan yang sama, iman yang membuta dapat memutuskan bahwa dia harus mati – di atas kayu salib, di tiang gantungan, ditusuk pedang, ditembak di jalanan di Beirut, atau diledakkan di sebuah bar di Belfast.

(hlm.296)

Meme untuk selibat disebarkan oleh pemuka agama yang selibat ke anak-anak muda yang belum memutuskan apa yang akan mereka lakukan dengan hidup mereka.

Bila kita mati ada dua hal yang dapat kita tinggalkan: gen dan meme.

(hlm.297)

Elizabeth II adalah keturunan langsung William Sang Penakluk, tapi sangat mungkin Elizabeth II tidak membawa satu pun gen raja tua itu. Kita sebaiknya tidak mencari keabadian dalam reproduksi.

Namun jika Anda bersumbangsih kepada budaya dunia, jika Anda punya gagasan bagus, menulis lagu, menciptakan alat, menulis puisi, maka karya itu bisa terus hidup, utuh, lama setelah gen Anda terburai di dalam lumbung gen bersama.

(hlm.298)

Pokok pemikiran yang saya ajukan sekarang adalah, bahkan jika kita melihat sisi gelapnya dan menganggap bahwa individu manusia pada dasarnya egois, kapasitas sadar kita untuk memandang ke depan – simulasi masa depan dalam imajinasi – dapat menyelamatkan kita dari ekses egois yang terburuk dari replikator nan buta.

(hlm.299)

CATATAN AKHIR

2.         Tujuan saya adalah menempatkan gen sebagai gen saja, bukan menyusun teori akbar tentang kebudayaan manusia

(hlm.300)

4.         Paduan suara gereja dilatih untuk mengucapkan bunyi “s” seringan mungkin, jika tidak seluruh gereja bergema dengan desisan

(hlm.302)

5.         Ciri kurva eksponensial bahwa dia menjadi garis lurus bila ditempatkan di skala logaritma. Membuat plot grafik logaritma secara kumulatif seperti itu tidaklah perlu, tapi mudah dan lazim. Jika penyebaran meme Hamilton benar-benar seperti wabah yang sedang merebak, titik-titik di grafik logaritma kumulatifnya harus membentuk satu garis lurus. Apakah betul demikian adanya?

(hlm.303)

Judul sepasang makalah Hamilton pada 1964 yang benar adalah “The genetical evolution of social behaviour”. Pada pertengahan hingga akhir 1970-an, banyak karya, di antaranya Sociobiology dan The Selfish Gene, keliru menyebut judulnya sebagai “The genetical theory of social behaviour”. Jon Seger dan Paul Harvey mencari awal mula terjadinya meme mutan itu. Mereka menganggapnya penanda mencolok, hampir mirip label radoaktif, untuk melacak pengaruh sains. Penelusuran mereka tiba pada buku E.O. Wilson yang berpengaruh, Sociobology, yang terbit pada 1975, dan bahkan menemukan beberapa bukti tidka langsung atas silsilah kekeliruan itu.

(hlm.305)

7.         Iman adalah kondisi pikiran yang menyebabkan seseorang percaya sesuatu – apa pun itu – secara total tanpa memerlukan bukti pendukung. Jika ada bukti pendukung yang bagus, maka iman akan mubazir, karena toh bukti itu akan memaksa kita untuk percaya. Inilah yang membuat klaim yang sering diulang-ulangm, bahwa “evolusi itu sendiri adalah soal iman”, begitu konyol. Orang-orang percaya evolusi bukan karena mereka secara suka-suka inginpercaya, tapi karena melimpahnya bukti evolusi yang tersedia untuk umum.

            Iman tidak dapat memindahkan gunung (meskipun bergenerasi-generasi anak-anak diberitahu yang sebaliknya dan mempercayainya). Iman mampu menggerakkan orang untuk melakukan berbagai perbuatan yang bisa berbahaya sehingga bagi saya iman tampak memenuhi syarat sebagai semacam masalah mental. Iman menyebabkan orang percaya kepada apa pun dengan begitu kuat sehingga dalam kasus-kasus ekstrem mereka siap membunuh dan mati demi iman tanpa perlu pembenaran lebih lanjut. Keyakinan agama layak diberikan bab tersendiri dalam sejarah teknologi perang, bersanding dengan busur, kuda, tank, dan bom hidrogen.

BAB 12

ORANG BAIK SAMPAI DULUAN

(hlm.309)

Yang terpenting, untuk memenuhi syarat permainan Dilema Tahanan sejati, adalah urutan peringkat. Godaan untuk berkhianat harus lebih besar daripada imbalan untuk kerjasama yang saling menguntungkan, yang harus lebih bagus daripada Hukuman untuk pembelotan, yang harus lebih bagus pula daripada denda untuk Pecundang. (Persisnya, ada satu syarat lagi yang harus terpenuhi dalam permainan Dilema Tahanan sejati: rata-rata Godaan dan denda bagi Pecundang tidak boleh melebihi Imbalan. Alasannya akan ditampilkan nanti). Keempat hasil di atas dapat diringkas dalam matriks hasil di Gambar A.

(hlm.310)

Kesimpulannya, terlepas dari kartu apa yang akan Anda mainkan, langkah terbaik saya adalah Selalu Berkhianat.

(hlm.312)

Namun, ada versi lain permainan tersebut, yaitu “Iterasi” atau Pengulangan Dilema Tahanan. Permainan pengulangan ini lebih rumit dan dalam kerumitan itulah terletak harapan.

Dalam permainan panjang yang tanpa batas, yang terpenting adalah bahwa kita berdua bisa menang dengan mengorbankan bankir, bukan dengan mengorbankan satu sama lain.

(hlm.313)

Burung-burung di Bab 10 yang saling menghilangkan kutu dari bulu memainkan Iterasi Dilema Tahanan. Bagaimana bisa demikian? Penting untuk Anda ingat bahwa burung-burung itu sanggup membersihkan kutu di badan sendiri, kecuali yang ada di puncak kepalanya sehingga membutuhkan kawan untuk melakukan itu untuknya. Balas budi tampaknya sesuatu yang semata-mata adil. Namun jasa itu memakan waktu dan energi burung, walaupun tidak banyak. Jika ada burung curang yang meminta kawannya menghilangkan kutu di kepalanya tapi kemudian menolak untuk membalas budi – dia mendapatkan semua manfaat tanpa membayar apa pun. Buatlah peringkat hasilnya, dan Anda akan menemukan bahwa kita betul-betul berhadapan dengan permainan Dilema Tahanan Sejati. Apabila burung-

(hlm.314)

burung itu saling bekerja sama (saling membantu menghilangkan kutu) hasilnya akan cukup bagus, tapi masih ada godaan untuk memperoleh lebih dengan menolak membayar biaya timbal-balik.

(hlm.316)

Ingatlah bahwa para “pemain” dalam turnamen Axelrod bukanlah manusia, melainkan program komputer, strategi-strategi yang diprogramkan sebelumnya. Para manusia penciptanya berperan sebagai ge-gen yang memprogram tubuh (bayangkan catur komputer dalam Bab 4 dan komputer Andromeda). Anda dapat membayangkan strategi-strategi itu sebagai miniatur “proksi” untuk penyusunnya. Satu pemrogram bahkan dapat mengajukan lebih dari satu strategi (meskipun itu berarti curang – dan Axelrod tentunya tidak mengizinkannya – karena seorang pemrogram bisa memenuhi kompetisi itu dengan strategi, di mana salah satunya menerima keuntungan pengorbanan diri dari yang lain berupa kerjasama).

Beberapa strategi cerdik terkumpul, walaupun tentu tidak secerdik penyusunnya. Yang luar biasa, strategi pemenang adalah strategi yang paling sederhana dan sepintas paling tidak cerdik di antara semuanya. Strategi itu disebut Balas Setimpal (Tit for Tat), disusun oleh Profesor Anatol Rapoport, seorang ahli psikologi dan ahli teori permainan

(hlm.317)

terkemuka dari Toronto. Balas Setimpal bermula dengan kerja sama di langkah pertama, kemudian selanjutnya sekadar meniru langkah pemain lain pada putaran sebelumnya.

(hlm.319)

Kini kita telah mengidentifikasi dua ciri strategi pemenang: baik dan pemaaf. Kesimpulan yang hampir terdengar utopis itu – bahwa kebaikan dan sikap memaafkan justru menguntungkan – mengejutkan bagi banyak ahli, yang berusaha lihai dengan mengirimkan strategi-

(hlm.320)

strategi yang tak baik yang halus; sementara yang mengirimkan strategi-strategi baik tidak ada yang berani mengajukan strategi yang sedemikian pemaaf seperti Balas Sesudah Dua Kali.

Tapi, sekali lagi sikap tak baik tidak berhasil. Sekali lagi, pemenangnya adalah Balas Setimpal oleh Anatol Rapoport, yang meraih 96 persen dari skor patokan standar. Dan sekali lagi, strategi baik secara umum lebih sukses daripada strategi tak baik.

(hlm.322)

Karena, dalam dunia Darwinisme, kemenangan bukan dibayar dengan uang, melainkan keturunan. Bagi seorang Darwinan, strategi yang sukses adalah strategi yang menjadi banyak dalam populasi strategi. Agar tetap sukses, strategi itu harus berhasil khususnya saat dia menjadi banyak, yaitu berada dalam iklim yang didominasi oleh salinan dirinya sendiri.

(hlm.326)

Tapi “kebetulan” hanyala kata yang menyatakan ketidaktahuan. Yang dimaksud adalah “ditentukan oleh suatu cara yang belum diketahui, atau belum dirinci”. Kita dapat melakukan lebih baik daripada sekadar “kebetulan”.

(hlm.327)

Kelompok-kelompok lokal yang terdiri atas individu-individu yang Selalu berkhianat, bukannya sejahtera bersama, justru saling merugikan. Bukannya saling bantu dengan merugikan bankir, mereka saling jegal. Maka, Saling Berkhianat, tak seperti Balas Setimpal, tidak mendapatkan bantuan dari kekerabatan atau viskositas dalam populasi.

Seperti yang dapat dilihat, Balas Setimpal adalah strategi yang “baik”, yang berarti tidak pernah menjadi yang pertama berkhianat, dan

(hlm.328)

“pemaaf”, artinya ingatannya pendek untuk kejahatan masa lalu. Sekarang saya perkenalkan satu lagi istilah teknis Axelrod yang menarik. Balas Setimpal juga “tidak iri”. Iri, dalam terminologi Axelrod, berarti berusaha untuk mendapatkan lebih banyak uang dibanding pemain lain, bukan untuk mendapatkan uang bankir yang jumlahnya sangat besar. Sayang sekali, ketika para ahli psikologi mengadakan Iterasi Dilema Tahanan antarmanusia sungguhan, hampir semua pemain tergelincir dalam sikap iri sehingga relatif gagal menyangkut soal uang. Tampaknya banyak orang, mungkin tanpa berpikir lagi, lebih suka menjatuhkan pemain lain ketimbang bekerja sama dengan pemain lain untuk membangkrutkan si bankir. Karya Axelrod telah menunjukkan betapa kelirunya hal itu.

Namun, Dilema Tahanan adalah nonzero sum. Ada seorang bankir yang membayar uang dan kedua pemain dimungkinkan untuk bercengkrama serta tertawa sepanjang jalan menuju bank.

(hlm329)

Pernikahan yang baik jelas merupakan permainan nonzero sum, penuh dengan gotong-royong. Namun bahkan saat pernikahan hancur, ada bermacam alasan mengapa sepasang suami-istri dapat diuntungkan dengan terus bekerja sama dan memperlakukan perceraian mereka sebagai nonzero sum pula. Apabila kepentingan anak bukanlah alasan yang cukup, maka biaya dua pengacara akan menguras keuangan keluarga. Jadi. Jelaslah, pasangan yang baik-baik dan berakal sehat mestinya bersama-sama menggunakan satu pengacara, bukan?

Pasangan malang di atas telah terseret ke dalam permainan zero sum. Namun, bagi pengacara, kasus Smith vs Smith ini merupakan sapi perah nonzero sum.

(hlm.332)

Karena sepenggal berita dari luar, apa yang tadinya permainan zero sum mendadak berubah menjadi nonzero sum.  Sehubungan dengan diskusi kita sebelumnya, seolah-olah seorang bankir luar muncul secara ajaib, memberi peluang bagi Bristol dan Conventry untukmengambil keuntungan dari hasil imbang.

Namun, kehidupan nyata, baik kehidupan manusia, hewan, maupun tumbuhan, tidak dirancang untuk kenikmatan penonton. Banyak situasi dalam kehidupan nyata sesungguhnya sama dengan permainan nonzero sum. Alam semesta kerap memainkan peranan sebagai bankir dan individu-individu dapat mengambil keuntungan dari kesuksesan pihak lain. Mereka tidak perlu menjatuhkan musuh untuk saling dapat menguntungkan diri. Tanpa berpaling dari prinsip-prinsip dasar teori gen egois, kita dapat melihat bagaimana, dalam pemaknaan Axelrod, orang-orang baik bisa menjadi pertama yang mencapai garis finish.

(hlm.333)

Semakin pendek perkiraan kelangsungan permainan, dia akan semakin cenderung bermain sesuai dengan ekspektasi matematis untuk permainan putaran tunggal: semakin keji dan tak kenal ampun.

(hlm.334)

Dalam perang parit (entrenched warfare) pada masa itu, bayangkan masa depan bagi setiap peleton amat panjang. Artinya, masing-masing kelompok tentara Inggris dalam parit dapat memperkirakan bahwa mereka menghadapi kelompok tentara Jerman yang sama selama berbulan-bulan. Selain itu, para parajurit biasa tidak pernah tahu kapan mereka akan dipindahkan. Perintah militer dikenal semena-mena, berubah-ubah, dan tak dapat dipahami oleh orang yang menerimanya. Bayangan masa depan cukup panjang dan cukup tak tentu sehingga mendorong perkembangan jenis kerja sama Balas Setimpal. Asalkan, tentu saja, situasinya sepadan dengan permainan Dilema Tahanan.

(hlm.335)

Dari sudut pandang para jenderal, kerjasama antar pihak berlawanan adalah sesuatu yang tidak diinginkan. Kerja sama itu tidak membantu mereka menang perang. Tapi, dari sudut pandang individu serdadu kedua belah pihak, kerja sama sangat diinginkan.

(hlm.336)

“Kami menyesal atas tembakan itu, semoga tidak ada yang terluka. Bukan salah kami, ini gara-gara artileri sialan dari Prusia.

Axelrod mengomentari bahwa permintaan maaf itu “bukan sekadar upaya yang semata-mata ditujukan untuk mencegah pembalasan. Permintaan maaf itu mencerminkan penyesalan moral karena melanggar situasi saling percaya dan menunjukkan keprihatinan jika ada seseorang yang terluka.”

Axelrod juga menekankan pentingnya prediktabilitas dan pemeliharaan pola-pola stabil untuk saling percaya.

(hlm.341)

APA YANG ANDA LAKUKAN

Apakah perhitungan ekonomi kelelawar vampir benar-benar sesuai dengan tabel di atas? Wilkinson mengamati laju pengurangan berat badan kelelawar yang kelaparan. Dari situ, dia menghitung waktu yang dibutuhkan kelelawar yang kenyang hingga mati kelaparan, waktu yang dibutuhkan kelelawar berperut kosong hingga mati kelaparan, dan semua di antaranya. Inimemungkinkan dia menghitung jumlah darah yang diperlukan untuk mendapatkan jumlah jam perpanjangan hidup. Tak terlalu mengejutkan, dia menemukan bahwa nilai tukarnya berbeda, tergantung seberapa lapar si kelelawar. Sejumlah darah menambahkan lebih banyak jam dalam hidup kelelawar yang sangat kelaparan.

(hlm.342)

dibandingkan kelelawar yang tak terlalu lapar. Dengan kata lain, meskipun tindakan menumbangkan darah akan meningkatkan peluang donor untuk menjadi sekarat, peningkatan ini lebih kecil dibandingkan dengan peningkatan peluang penerimanya untuk bertahan hidup.

Cukup aman untuk menyimpulkan bahwa kelelawar vampir benar-benar cenderung memberi makan “teman-teman lama” dibanding individu asing dari gua yang berbeda.

(hlm.343)

Apa yang diberikan kumpulan pemikiran Darwinian kepada kita bukanlah harapan rinci tentang organisme tertentu. Yang diberikan adalah sesuatu yang lebih halus dan berharga: pemahaman prinsip. Namun, jika kita harus memiliki mitos, fakta-fakta yang sesungguhnya tentang vampir dapat menceritakan kisah moral yang berbeda. Bagi kelelawar vampir sendiri, bukan hanya darah lebih kental daripada air. Mereka melampaui ikatan kekerabatan, membentuk ikatan abadi mereka sendiri berdasarkan kesetiaan terhadap persaudaraan darah. Kelelawar vampir dapat membentuk garis depan mitos baru yang lebih nyaman; mitos kerjasama berbagi yang mutualistik. Vampir dapat melambangkan gagasan dermawan bahwa, bahkan dengan gen egois yang memegang kendali, orang baik bisa sampai duluan.

BAB 13

JANGKAUAN LUAS GEN

(hlm.346)

Fenotipe adalah kata teknis yang digunakan untuk menyebut perwujudan jasmaniah gen; efek gen kepada tubuh melalui pertumbuhan, yang berbeda dengan efek alelnya. Beberapa gen mempunyai efek fenotipik tertentu, katakanlah, warna mata hijau. Pada praktiknya, kebanyakan gen memiliki lebih daripada satu efek fenotipik, seperti warna mata hijau dan rambut keriting.

(hlm.352)

Kerasnya batu adalah perluasan efek fenotipik gen lalat haji. Jika bicara tentang gen sebagai sesuatu yang mempengaruhi kerutan pada kacang atau sistem saraf hewan adalah hal yang sah-sah saja (semua ahli genetika berpendapat demikian), maka sah-sah saja pula untuk bicara bahwa gen juga mempengaruhi kerasnya batu di rumah lalat haji. Pemikiran mengejutkan, bukan? Namun, alasannya tidak bisa dihindari.

(hlm.354)

Jika saya benar tentang apa yang dilakukan gen parasit tadi, kita akan dapat melegitimasi pernyataan bahwa gen parasit mempengaruhi tubuh siput, dalam arti yang sama dengan gen siput mempengaruhi tubuh siput. Ini seolah-olah gen menjangkau keluar dari tubuh-“nya” dan memanipulasi dunia. Sebagaimana dalam kasus lalat haji, istilah itu mungkin membuat para ahli genetika merasa tak nyaman. Mereka terbiasa dengan efek gen yang terbatas di tubuh yang ditempatinya. Namun, lagi-lagi sebagaimana kasus lalat haji, pengamatan cermat terhadap apa yang dimaksud ahli genetika dengan “efek” gen menunjukkan bahwa ketidaknyamanan itu tidaklah perlu. Kita hanya perlu menerima bahwa perubahan cangkang siput merupakan hasil adaptasi parasit. Jika benar demikian, perubahan itu mestinya terjadi melalui seleksi Darwinian atas gen cacing pipih. Kita telah mendemonstrasikan bahwa efek fenotipik gen bisa diperluas, bukan hanya ke benda mati seperti batu,tapi juga ke tubuh makhluk hidup “lainnya”.

(hlm.355)

Gigantisme larva kumbang adalah perluasan efek fenotipik gen-gen protozoa.

Dari sudut pandang gen egois, kita dapat membanyangkan kedua gen, baik gen siput maupun gen cacing, sebagai “parasit” di dalam tubuh siput. Keduanya mendapat manfaat dari cangkang yang sama-sama melindungi mereka, meski mereka berbeda dalam “preferensi” tebal cangkang.

(hlm.359)

Sepasang kekasih yang berciuman dan bersentuhan saling memindahkan banyak sekali sel secara dua arah.

(hlm.360)

Danau itu merupakan fenotipe, setara dengan gigi dan ekor berang-berang, yang telah berkembang di bawah pengaruh seleksi Darwinan.

(hlm.363)

“Kelinci lari lebih cepat daripada rubah karena kelinci lari untuk menyelamatkan hidupnya sementara rubah hanya lari untuk mendapatkan makan malamnya.” Saya dan kolega saya, John Krebs, menjuluki ini sebagai “prinsip hidup/makan malam.”

(hlm.366)

Seleksi alam menukung gen-gen yang memanipulasi dunia demi memastikan penyebarannya sendiri. Ini membawa kita pada apa yang saya sebut Teorema Sentral Fenotipe Luas (Central Theorem of the Extended Phenotype): Perilaku hewan cenderung memaksimalkan kelangsungan hidup gen “untuk” perilaku tersebut, baik gen itu ada di dalam tubuh hewan yang menjalankan perilaku tersebut atau tidak.

(hlm.367)

Akhirnya kita harus kembali ke masalah semula, yaitu ketegangan antara individu organisme dan gen sebagai kandidat yang saling bersaing menjadi peran sentral dalam seleksi alam. Dalam Bab-bab sebelumnya, saya membuat asumsi ketiadaan masalah lantaran reproduksi individu setara dengan kelangsungan hidup gen. Saya asumsikan Anda dapat berkata, “Organisme bekerja untuk menyebarkan semua gennya.” Keduanya tampaknya cara yang setara untuk mengatakan hal yang sama dan kalimat mana yang Anda pilih sepertinya hanya soal selera. Tapi entah bagaimana ketegangan tetap terjadi.

(hlm.370)

Pada dasarnya, semua yang kita harapkan dari teori ini adalah medan pertempuran replikator, yang berdesakan, saling berebut, berjuang untuk masa depan keabadian genetis. Senjata dalam pertempuran itu adalah efek fenotipik, efek kimia langsung di dalam sel, hingga akhirnya bulu dan taring, bahkan juga efek berjarak jauh. Mengapa gen berkumpul bersama-sama dalam kendaraan besar yang masing-masing hanya memiliki satu jalur keluar genetis? Mengapa gen memilih bergerombol dan membuat tubuh yang besar untuk mereka tempati sendiri? Dalam The Extended Phenotype saya berusaha mencari jawaban untuk persoalan yang sulit itu.

Mengapa gen berkumpul dalam sel? Mengapa sel berkumpul dalam tubuh bersel banyak? Dan mengapa tubuh memakai apa yang akan saya sebut sebagai siklus kehidupan “dengan leher botol” (“bottlenecked)

(hlm.372)

Tak peduli berapa banyaknya sel yang mungkin ada di dalam tubuh gajah, gajah memulai hidupnya sebagai sel tunggal; telur yang dibuahi.

(hlm.373)

Dan upaya semua sel tersebut bertemu dalam tujuan akhir, yaitu memproduksi sel-sel tunggal lagi – sperma atau telur. Gajah tak hanya berawal dari sel tunggal. Akhirnya pun, artinya tujuan atau hasil akhirnya, adalah produksi sel-sel tunggal; telur-telur generasi berikutnya yang dibuahi.

(hlm.374)

(Kebetulan menentukan bahwa ada pertanyaan lebih sulit daripada memikirkan jawabannya)

(hlm.375)

Mereka menjalani awal yang bersih di setiap generasi. Setiap organisme baru bermula sebagai sel tunggal dan tumbuh kembali. Organisme baru mewarisi gagasan-gagasan  rancangan leluhur, dalam bentuk program DNA, tapi tidak mewarisi organ fisik leluhur itu. Dia tidak mewarisi jantung induknya dan membentuknya kembali menjadi jantung  baru (yang mungkin lebih baik). Dia mulai dari awal, sebagai sel tunggal, dan menumbuhkan jantung baru; menggunakan program rancangan yang sama dengan jantung induknya dengan mungkin menambahkan beberapa perbaikan. Anda bisa lihat arah kesimpulan saya. Satu hal penting tentang siklus kehidupan “dengan leher botol” adalah bahwa cara itu memungkinkan “kembali ke meja gambar”.

(hlm.376)

Evolusi memerlukan perubahan genetis, yaitu mutasi.

(hlm.378)

Keduanya saling meningkatkan, bagaikan jalinan perasaan perempuan dan laki-laki selama mekarnya hubungan cinta.

(hlm.379)

Menurut saya pandangan itu berlaku bagi semua makhluk hidup di seluruh alam semesta. Unit fundamental, penggerak utama semua kehidupan, adalah replikator. Replikator adalah segala di alam semesta yang membuat salinan. Replikator mewujud, pada awalnya, secara kebetulan, lewat partikel-partikel lebih kecil yang berdesak-desakan secara acak. Begitu replikator ada, dia mampu menghasilkan salinan dirinya sendiri dalam jumlah yang sangat besar. Bagaimanapun juga tidak ada proses penyalinan yang sempurna, dan populasi replikator akhirnya mencakup varietas yang berbeda-beda. Beberapa varietas itu ternyata kehilangan kemampuan menyalin dirinya sendiri sehingga jenis mereka tidak lagi adaketika semuanya punah. Yang lainnya masih dapat bereplikasi,  tapi secara kurang efektif. Varietas lain lagi kebetulan mendpati diri dengan trik baru: ternyata mereka bereubah menjadi replikator yang bahkan lebih baik ketimbang pendahulu dan yang sezaman dengan mereka. Keturunan replikator itulah yang akhirnya mendominasi populasi. Seiring berjalannya waktu, dunia menjadi penuh dengan replikator yang paling kuat dan cerdik.

(hlm.380)

Organisme individu muncul lebih dulu dalam kesadaran ahli biologi, sementara replikator – yang sekarang dikenal sebagai gen – dipandang sebagai bagian mesin yang digunakan oleh organisme individu. Dibutuhkan upaya mental yang kuat untuk mengalihkan biologi kembali ke jalur yang benar dan mengingatkan diri kita bahwa replikatorlah yang petama, dalam makna sebagaimana dalam sejarah.

Namun tubuh individu, yang begitu akrab bagi kita di planet kita, tidak mesti ada. Satu-satunya jenis entitas yang harus ada agar kehisupan bisa muncul, di mana saja di alam semesta, adalah sang replikator abadi.

(hlm.381)

EPILOG

EDISI ULANG TAHUN KE-40

Tak seperti politikus, ilmuwan bisa menikmati kalau dibuktikan keliru. Politikus yang berubah pikiran dituduh “plin plan”. Tony Blair menyombong bahwa dia “tidak punya gigi mundur.”

(hlm.385)

Kita semua, di manapun kita berada di dunia, bukan hanya salng bersepupu. Kita bersepupu dalam ratusan cara. Itu cara lain menyatakan bahwa kita semua anggota populasi latar dengan nilai r, koefisien kekerabatan, mendekati nol.

Alasan adanya segala persepupuan berlipat ganda itu adalah seks. Kita punya dua orang tua, empat kakek-nenek, delapan buyut, dan seterusnya, sampai berjumlah tak terhingga. Jika Anda terus melipatduakan sampai zaman Wlliam Sang Penakluk, maka jumlah leluhur Anda (juga leluhur saya, Ratu, dan tukang pos) kiranya mencapai minimal satu miliar, melebihi populasi dunia pada zaman itu. Perhitungan itu saja sudah membuktikan bahwa dari manapun Anda berasal, kita berbagi banyak leluhur bersama (kita semua, jika mundur cukup jauh) dan bersepupu dalam berbagai cara.

(hlm.394)

DAFTAR PUSTAKA

DAWKINS, R. (1983) Universal Darwinism. Dalam Evolution from Molecules to Men (ed. D.S. Bendall). Cambridge: Cambridge University Press, hlm 403-25.

 

 

Berbohong dengan Statistik

Darrel Huff

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dan terjemahkan dari buku How to Lie with Statistics oleh Darrell Huff.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

Berbohong dengan Statistik

oleh Darrel Huff


Bab 1
Sampel dengan Bias yang Terbentuk… di Dalamnya

“Rata-rata lulusan Yale, Angkatan ’24, menghasilkan $25.111 per tahun.”

Demikian yang dilaporkan majalah Time, mengomentari sesuatu yang ada di New York Sun.

Separuh Kebenaran, karena:

(1) Masalah pelaporan sendiri atau bias memilih sendiri (tidak representatif, apakah alamatnya masih benar, berapa banyak yang tidak merespon?).

Menjadi cukup jelas bahwa sampel telah mengabaikan dua kelompok yang paling mungkin menurunkan rata-rata.”

Angka $25.111 mulai menjelaskan dirinya sendiri. Jika angka tersebut benar untuk sesuatu, itu hanya berlaku untuk kelompok khusus lulusan angkatan ’24 yang alamatnya diketahui dan bersedia untuk berdiri dan memberitahukan berapa banyak yang mereka hasilkan.

Bahkan itu memerlukan asumsi bahwa para pria tersebut mengatakan yang sebenarnya.

Pernah ada survei rumah-ke-rumah yang bertujuan mempelajari pembaca majalah, di mana pertanyaan kunci adalah: Majalah apa yang dibaca oleh rumah tangga Anda?

Ketika hasilnya ditabulasi dan dianalisis, tampaknya banyak orang menyukai Harper’s dan tidak banyak yang membaca True Story. Padahal, terdapat data dari penerbit saat itu yang menunjukkan dengan sangat jelas bahwa True Story memiliki jutaan sirkulasi lebih banyak daripada Harper’s yang hanya ratusan ribu.

Pada akhirnya, ditemukan bahwa jika Anda ingin mengetahui apa yang dibaca orang-orang tertentu, tidak ada gunanya bertanya langsung kepada mereka. Anda bisa belajar lebih banyak dengan pergi ke rumah mereka dan mengatakan bahwa Anda ingin membeli majalah bekas dan bertanya apa yang bisa didapatkan?

Kemudian yang perlu Anda lakukan hanyalah menghitung Yale Reviews dan Love Romances. Bahkan metode yang meragukan itu, tentu saja, tidak memberi tahu Anda apa yang orang baca, hanya apa yang telah mereka terima.


PETUNJUK: Jika Anda ingin mengetahui gaji, periksa slip gaji atau laporan pajak.

Seorang psikiater pernah melaporkan bahwa hampir semua orang mengalami gangguan neurotik. Terlepas dari fakta bahwa penggunaan istilah seperti itu merusak makna kata “neurotik”, mari kita lihat sampel pria tersebut. Siapa yang telah diamati oleh psikiater itu? Ternyata dia mencapai kesimpulan yang mendidik ini dari mempelajari para pasiennya, yang jauh sekali dari sampel populasi yang representatif. Jika seseorang normal, psikiater kita tidak akan pernah bertemu dengannya.

Untuk bukti lebih lanjut, kembali ke tahun 1936 dan kegagalan terkenal dari Literary Digest. Sepuluh juta pemilik telepon dan pelanggan Digest yang meyakinkan para editor majalah yang sudah ditakdirkan gagal tersebut bahwa hasil pemilu akan dimenangkan oleh Landon 370, Roosevelt 161, berasal dari daftar yang telah akurat memprediksi pemilu tahun 1932.

Bagaimana bisa ada bias dalam daftar yang sudah teruji sebelumnya? Tentu saja ada bias, sebagaimana ditemukan dalam tesis-tesis perguruan tinggi dan kajian lain: Orang yang mampu memiliki telepon dan langganan majalah pada tahun 1936 hanyalah sebagian kecil pemilih. Secara ekonomi, mereka adalah jenis orang khusus, sampel yang bias karena sebagian besar terdiri dari pemilih Partai Republik. Sampel memilih Landon, tetapi pemilih berpikir sebaliknya.

Sampel dasar disebut “acak”. Itu dipilih secara murni dari “semesta,” kata yang digunakan oleh ahli statistik untuk merujuk pada keseluruhan dari mana sampel adalah bagian. Setiap nama kesepuluh diambil dari berkas kartu indeks. Lima puluh potongan kertas diambil dari topi yang penuh.

Tes untuk sampel acak adalah: Apakah setiap nama atau benda dalam kelompok memiliki peluang yang sama untuk masuk dalam sampel?

Begitu juga dengan “volume wanita” dari Dr. Alfred C. Kinsey. Masalahnya, seperti halnya apa pun yang didasarkan pada pengambilan sampel, adalah bagaimana membacanya (atau ringkasan populernya) tanpa mempelajari terlalu banyak hal yang tidak sepenuhnya benar. Ada setidaknya tiga tingkatan sampel yang terlibat.

Sampel populasi Dr. Kinsey (satu tingkatan) jauh dari sampel acak dan mungkin tidak terlalu representatif, tetapi sampelnya sangat besar dibandingkan dengan apa pun yang pernah dilakukan di bidangnya sebelumnya dan angkanya harus diterima sebagai sesuatu yang membuka wawasan dan penting meskipun tidak sepenuhnya akurat.

Mungkin lebih penting untuk mengingat bahwa setiap kuesioner hanyalah sampel (tingkatan lain) dari pertanyaan yang mungkin, dan jawaban yang diberikan oleh wanita tersebut tidak lebih dari sampel (tingkatan ketiga) dari sikap dan pengalamannya terhadap setiap pertanyaan.

Jenis orang yang menjadi bagian dari tim pewawancara dapat memengaruhi hasil dalam cara yang menarik.

Bab 2
Rata-Rata yang Terpilih dengan Baik

Jika Anda membuat daftar pendapatan tahunan semua keluarga di suatu kota tertentu, Anda mungkin akan menemukan bahwa nilainya berkisar dari yang sangat kecil hingga mungkin mencapai sekitar $50.000, dengan beberapa pendapatan yang sangat besar.

Lebih dari sembilan puluh lima persen dari pendapatan tersebut berada di bawah $10.000, yang menempatkannya jauh ke sisi kiri kurva. Alih-alih simetris seperti lonceng, kurva ini akan terdistorsi.

Itulah sebabnya ketika Anda membaca pengumuman dari seorang eksekutif perusahaan atau pemilik bisnis bahwa rata-rata gaji karyawan di perusahaannya adalah sekian, angka tersebut bisa berarti sesuatu dan bisa juga tidak.

Jika rata-ratanya adalah median, Anda bisa mempelajari sesuatu yang signifikan:

Setengah dari karyawan menghasilkan lebih dari itu; setengah lainnya kurang. Tetapi jika itu adalah mean (dan percayalah, mungkin itu yang digunakan jika tidak ditentukan jenisnya), Anda mungkin tidak mendapatkan informasi yang lebih signifikan daripada rata-rata dari satu pendapatan sebesar $45.000—milik pemilik—dan gaji dari sejumlah pekerja yang bergaji rendah.

PETUNJUK: Dalam statistik pendapatan atau kekayaan, median lebih akurat daripada mean.

Bab 3
Angka-Angka Kecil yang Tidak Ada di Sana

Biarkan sekelompok kecil orang mencatat jumlah gigi berlubang selama enam bulan, lalu beralih ke produk Doakes’. Satu dari tiga hal pasti akan terjadi: jumlah gigi berlubang akan meningkat secara signifikan, berkurang secara signifikan, atau jumlahnya tetap sama.

Jika kemungkinan pertama atau terakhir yang terjadi, Doakes & Company akan menyimpan angka tersebut (di tempat yang tersembunyi) dan mencoba lagi. Cepat atau lambat, melalui operasi kebetulan, sekelompok percobaan akan menunjukkan peningkatan besar yang layak dijadikan berita utama dan mungkin keseluruhan kampanye iklan. Ini akan terjadi baik mereka menggunakan Doakes’, baking soda, atau tetap menggunakan pasta gigi yang lama.

Pentingnya menggunakan kelompok kecil adalah ini: “Dengan kelompok besar, perbedaan yang dihasilkan secara kebetulan cenderung kecil dan tidak layak untuk dipublikasikan besar-besaran.”

PETUNJUK: Waspadai hukum jumlah kecil.

Bandingkan dengan: eksperimen melempar koin seribu kali.

Berapa banyak yang cukup?

Sebuah contoh luar biasa muncul dalam kaitannya dengan uji vaksin polio beberapa tahun lalu. Percobaan itu tampak sebagai eksperimen skala besar yang mengesankan, sebagaimana eksperimen medis umumnya: 450 anak divaksinasi di suatu komunitas dan 680 dibiarkan tidak divaksinasi sebagai kontrol.

Tak lama kemudian, komunitas tersebut dilanda epidemi. Tak satu pun dari anak yang divaksinasi yang terkena polio yang bisa dikenali. Begitu juga dengan kelompok kontrol. Apa yang diabaikan atau tidak dipahami oleh para peneliti dalam merancang proyek ini adalah rendahnya insiden polio paralitik.

Dalam tingkat yang biasa, hanya dua kasus yang diharapkan muncul dalam kelompok sebesar ini, jadi percobaan itu sejak awal tidak mungkin berarti. Dibutuhkan sekitar lima belas hingga dua puluh kali lipat jumlah anak untuk mendapatkan jawaban yang berarti.

Bagaimana Anda bisa menghindari ditipu oleh hasil yang tidak konklusif? Haruskah setiap orang menjadi ahli statistik dan mempelajari data mentahnya sendiri? Tidak seburuk itu; ada uji signifikansi yang mudah dipahami.

Ini hanyalah cara untuk melaporkan seberapa besar kemungkinan bahwa angka percobaan mewakili hasil nyata daripada sesuatu yang dihasilkan secara kebetulan. Inilah angka kecil yang tidak ada di sana—dengan asumsi bahwa Anda, pembaca awam, tidak akan memahaminya.

PELAJARAN dari kasus Alfred Kinsey: “Berbahaya untuk menyebutkan subjek yang memiliki muatan emosional tinggi tanpa segera menyatakan apakah Anda mendukung atau menentangnya.”

Oklahoma City dapat mengklaim suhu rata-rata yang serupa selama enam puluh tahun terakhir: 60,2 derajat. Tetapi seperti yang bisa Anda lihat dari grafik di bawah ini, angka yang sejuk dan nyaman itu menyembunyikan rentang suhu sebesar 130 derajat.

Bab 4
Banyak Gembar-Gembor Tentang Hal yang Hampir Tidak Ada

Seperti dalam kasus perhitungan hipotetis kita, kesalahan yang mungkin terjadi pada tes IQ Stanford-Binet ditemukan sebesar tiga persen. Ini tidak ada hubungannya dengan seberapa baik tes tersebut secara mendasar, melainkan hanya dengan seberapa konsisten tes ini mengukur apa pun yang diukur. Jadi, IQ yang ditunjukkan oleh Peter mungkin lebih lengkap jika dinyatakan sebagai 98 ± 3 dan IQ Linda sebagai 101 ± 3.

Bab 5
Grafik yang Menyesatkan

Perusahaan baja telah menggunakan metode grafik yang menyesatkan serupa dalam upaya untuk membentuk opini publik agar menolak kenaikan upah.

Bab 6
Gambar Satu Dimensi

Bab 7
Angka yang Setengah Relevan

Jika Anda tidak bisa membuktikan apa yang ingin Anda buktikan, tunjukkan sesuatu yang lain dan berpura-pura bahwa hal tersebut sama.
Atau coba yang ini. “27 persen dari sampel besar dokter terkemuka merokok merek Throaties—lebih dari merek lain mana pun.”


Angka tersebut mungkin palsu, tentu saja, dalam beberapa cara, tetapi itu sebenarnya tidak masalah. Satu-satunya jawaban untuk angka yang tidak relevan seperti itu adalah, “Lalu apa?”

Dengan segala hormat kepada profesi medis, apakah dokter tahu lebih banyak tentang merek tembakau daripada Anda? Apakah mereka memiliki informasi khusus yang memungkinkan mereka memilih yang paling tidak berbahaya di antara rokok?

Tentu saja tidak, dan dokter Anda akan menjadi orang pertama yang mengatakannya. Namun, angka “27 persen” itu entah bagaimana terdengar seolah-olah memiliki arti.

Bab 8
Korelasi Palsu

Korelasi, angka yang tampaknya meyakinkan yang seakan membuktikan bahwa sesuatu terjadi karena sesuatu yang lain, sebenarnya bisa menjadi beberapa jenis. Salah satunya adalah korelasi yang dihasilkan secara kebetulan.


Jenis kovariasi yang umum adalah hubungan di mana relasi itu nyata tetapi tidak mungkin memastikan variabel mana yang menjadi penyebab dan mana yang menjadi akibat. Dalam beberapa kasus, sebab dan akibat dapat berganti peran dari waktu ke waktu atau bahkan keduanya bisa menjadi sebab dan akibat pada saat yang bersamaan.

Korelasi antara pendapatan dan kepemilikan saham mungkin termasuk jenis ini. Semakin banyak uang yang Anda hasilkan, semakin banyak saham yang Anda beli, dan semakin banyak saham yang Anda beli, semakin banyak pendapatan yang Anda dapatkan; tidak akurat jika hanya mengatakan bahwa satu hal menyebabkan yang lainnya.

Mungkin yang paling rumit adalah kasus yang sangat umum di mana tidak ada satu pun variabel yang memiliki efek sama sekali pada yang lain, namun terdapat korelasi yang nyata. Banyak manipulasi dilakukan dengan yang satu ini.

Nilai akademik rendah di antara perokok rokok termasuk dalam kategori ini, seperti juga banyak statistik medis yang dikutip tanpa penjelasan bahwa meskipun hubungan itu nyata, sifat sebab-akibatnya hanya masalah interpretasi. Ada yang dengan senang hati menunjuk pada ini: Ada hubungan yang erat antara gaji pendeta Presbiterian di Massachusetts dan harga rum di Havana.

Dalam kasus pendeta dan rum, mudah untuk melihat bahwa kedua angka tersebut meningkat karena pengaruh faktor ketiga: kenaikan harga yang hampir universal dan historis.

Hal lain yang harus diwaspadai adalah kesimpulan di mana korelasi diasumsikan berlanjut di luar data yang telah didemonstrasikan. Mudah untuk menunjukkan bahwa semakin banyak hujan di suatu daerah, semakin tinggi jagung tumbuh atau bahkan semakin besar hasil panen. Hujan, tampaknya, adalah berkah. Namun, musim hujan yang sangat lebat dapat merusak atau bahkan menghancurkan tanaman.

Korelasi positif bertahan sampai titik tertentu dan kemudian dengan cepat menjadi negatif. Di atas sejumlah inci tertentu, semakin banyak hujan turun, semakin sedikit jagung yang Anda dapatkan.

Masalah satu-satunya adalah bahwa bersama dengan angka-angka dan fakta-fakta muncul kesimpulan yang sama sekali tidak berdasar. Ini adalah kekeliruan post hoc dalam bentuk terbaiknya. Ini mengatakan bahwa angka-angka ini menunjukkan bahwa jika Anda (putra atau putri Anda) kuliah, Anda kemungkinan besar akan menghasilkan lebih banyak uang daripada jika Anda memutuskan menghabiskan empat tahun berikutnya dengan cara lain.

Kesimpulan yang tidak berdasar ini didasarkan pada asumsi yang sama tidak berdasarnya, bahwa karena orang-orang yang berpendidikan perguruan tinggi menghasilkan lebih banyak uang, mereka mendapatkannya karena mereka kuliah.

Sebenarnya kita tidak tahu apakah orang-orang ini adalah mereka yang akan menghasilkan lebih banyak uang meskipun mereka tidak kuliah. Ada beberapa hal yang cukup kuat menunjukkan bahwa ini mungkin benar.

Perguruan tinggi mendapat jumlah anak dari dua kelompok yang tidak proporsional: yang pintar dan yang kaya. Yang pintar mungkin menunjukkan daya menghasilkan yang baik tanpa pengetahuan perguruan tinggi. Dan untuk yang kaya… yah, uang menghasilkan uang dalam beberapa cara yang jelas. Jarang sekali anak-anak orang kaya ditemukan dalam kelompok berpendapatan rendah, apakah mereka kuliah atau tidak.

Q: Apa pengaruh kuliah terhadap peluang Anda tetap belum menikah?
A: Jika Anda seorang wanita, peluang menjadi perawan tua melonjak. Tapi jika Anda seorang pria, efeknya sebaliknya—meminimalkan peluang Anda untuk tetap lajang.

Universitas Cornell melakukan studi terhadap 1.500 lulusan perguruan tinggi paruh baya yang tipikal. Dari kalangan pria, 93 persen menikah (dibandingkan dengan 83 persen untuk populasi umum). Namun, dari lulusan wanita paruh baya, hanya 65 persen yang menikah. Jumlah perawan tua relatif tiga kali lebih banyak di antara lulusan perguruan tinggi dibandingkan dengan wanita pada populasi umum.

Ketika Susie Brown, berusia tujuh belas tahun, membaca ini, dia mungkin berpikir bahwa kuliah meningkatkan peluang menjadi lajang, meskipun pembaca yang tergesa-gesa mungkin pergi dengan ide tersebut.

Di sini sekali lagi korelasi nyata digunakan untuk mendukung hubungan sebab-akibat yang belum terbukti. Mungkin sebenarnya terjadi sebaliknya, dan wanita-wanita tersebut akan tetap belum menikah meskipun mereka tidak kuliah. Mungkin bahkan lebih banyak lagi yang gagal menikah. Jika kemungkinan-kemungkinan ini tidak lebih baik daripada yang diinginkan oleh penulis, mereka mungkin sama-sama valid: yaitu, hanya dugaan.

Sebenarnya ada bukti yang menunjukkan bahwa kecenderungan untuk menjadi perawan tua mungkin mengarah pada keinginan untuk kuliah. Dr. Kinsey tampaknya menemukan korelasi antara seksualitas dan pendidikan, dengan sifat-sifat yang mungkin sudah terbentuk sebelum usia kuliah. Ini semakin membuat pernyataan bahwa kuliah menghalangi pernikahan menjadi diragukan.

Sebuah artikel medis pernah menunjuk dengan kekhawatiran besar pada peningkatan kanker di kalangan peminum susu. Kanker, tampaknya, semakin sering terjadi di New England, Minnesota, Wisconsin, dan Swiss, di mana banyak susu diproduksi dan dikonsumsi, sementara tetap jarang di Ceylon, di mana susu langka.

Sebagai bukti lebih lanjut, disebutkan bahwa kanker kurang umum di beberapa negara bagian Selatan yang lebih sedikit mengonsumsi susu. Juga, disebutkan bahwa wanita Inggris yang meminum susu lebih sering mengidap beberapa jenis kanker 18 kali lipat daripada wanita Jepang yang jarang minum susu.

Sedikit penggalian mungkin akan menemukan cukup banyak cara untuk menjelaskan angka-angka ini, tetapi satu faktor sudah cukup untuk menunjukkan kesalahan ini. Kanker terutama merupakan penyakit yang menyerang pada usia paruh baya atau setelahnya. Swiss dan negara-negara bagian yang disebutkan memiliki populasi dengan harapan hidup yang relatif panjang. Wanita Inggris pada saat penelitian dilakukan hidup rata-rata dua belas tahun lebih lama dibandingkan wanita Jepang.

Bab 9
Cara Memanipulasi Statistik

Menyesatkan orang dengan menggunakan bahan statistik bisa disebut manipulasi statistik; dalam satu kata (meskipun tidak terlalu baik), statistikulasi.

Karl Marx juga tidak ragu untuk mencapai kesan ketepatan yang palsu dengan cara yang sama. Dalam menghitung “tingkat nilai lebih” di sebuah pabrik, ia memulai dengan serangkaian asumsi, dugaan, dan angka bulat yang bagus: “Kami asumsikan limbah sebesar 6%… bahan baku… berharga sekitar 342 poundsterling. 10.000 spindel… berharga, kami asumsikan, 1 poundsterling per spindel… Keausan kami taruh di angka 10%… Sewa gedung kami perkirakan sebesar £300…” Dia mengatakan, “Data di atas, yang dapat diandalkan, diberikan kepada saya oleh seorang pengusaha pemintalan di Manchester.”

Dari perkiraan ini, Marx menghitung bahwa: “Tingkat nilai lebih adalah 80/53 — 15311/13%.” Untuk hari kerja sepuluh jam ini memberinya “kerja yang dibutuhkan — 321/23 jam dan kerja berlebih — 62/33.” semua ini hanya taktik.

Bab 10
Cara Menanggapi Statistik

Siapa yang mengatakannya?
Hal pertama yang harus dicari adalah bias—laboratorium dengan sesuatu yang ingin dibuktikan demi teori, reputasi, atau bayaran; surat kabar yang bertujuan membuat berita menarik; buruh atau manajemen dengan tingkat upah yang dipertaruhkan.

Carilah bias yang disengaja.

Metodenya bisa berupa pernyataan yang salah langsung atau pernyataan ambigu yang sama efektifnya dan tidak dapat dihukum.

Dari mana dia tahu?
Waspadai bukti sampel yang bias, yang dipilih secara tidak benar atau, seperti yang satu ini, memilih sendiri. Tanyakan pertanyaan yang sudah kita bahas di bab awal: Apakah sampelnya cukup besar untuk memungkinkan kesimpulan yang dapat diandalkan?

Demikian pula dengan korelasi yang dilaporkan: Apakah cukup besar untuk berarti? Apakah ada cukup banyak kasus untuk mencapai signifikansi? Sebagai pembaca biasa, Anda tidak bisa menerapkan uji signifikansi atau menyimpulkan secara tepat kecukupan sampel.

Apakah Seseorang Mengganti Topik?
Variasi post hoc dari omong kosong yang penuh pretensi adalah cara lain untuk mengganti topik tanpa terlihat melakukannya. Perubahan sesuatu dengan sesuatu yang lain disajikan seolah-olah terjadi karena sesuatu itu.

Apakah Ini Masuk Akal?
Anda mungkin mengenal rumus keterbacaan Rudolf Flesch. Rumus ini mengukur betapa mudahnya sebuah prosa dibaca, dengan item-item sederhana dan objektif seperti panjang kata dan kalimat

 

 

Opini Publik

Djoenasih Sunarjo

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Opini Publik oleh Djoenaesih Sunarjo.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

Opinin Publik

Dra. Djoenaesih S. Sunarjo, SU.

Edisi Kedua

Cetakan Pertama, Januari 1997

(Halaman 3)

BAB I KELOMPOK SOSIAL YANG TIDAK TERATUR

A. Massa

1. Menurut Prof. Dr.P.J. Bouman

Selanjutnya Prof. Dr. P.J. Bouman mengemukakan bahwa dalam massa kepribadian, kepercayaan seseorang menjadi menurun, sedangkan emosi/perasaan naik, sehingga tidak jarag massa dapat bertindak atau berbuat sesuatu yang keji secara bersama-sama, kemudian tidak satu orangpun mau bertanggung jawab.

(Halaman 4)

Massa itu terdiri dari orang-orang yang berasal dari berbagai lapangan dan tingkatan dalam masyarkat yang sifatnya heterogen.

(Halaman 8)

Secara etimologis massa itu berasal dari kata Yunani “massa” yang artinya bahan roti yang belum jadi atau belum mempunyai bentuk roti.

(Halaman 11)

Indentitas seseorang biasanya tenggelam dalam suatu Crowd.

(Halaman 19)

C. Mob

1. Drs. J.B.A.F.Mayor Polak

Mob sering diterjemahkan dengan “kerumunan aktif” atau mob adalah crowd yang aktif.

Dengan tidak adanya organisasi, pembagian kerja dan aturan maka dengan sendirinya keaktifan mob biasanya bersifat destruktif, yaitu bertujuan untuk merusak. Untuk merusak ini sudah barang tentu tidak diperlukan suatu sistem dan organisasi tertentu, demikian juga tidak perlu digunakan pola berpikir tertentu. Melempar batu untuk merusak rumah orang lain, mengeroyok orang adalah mudah karena tanpa suatu sistem. Perasaan semacam ini melepaskan perasaan yang tidak puas, kemarahan dan kejengkelan.

(Halaman 20)

Tidak ada diskusi dan refleksi.

(Halaman 26)

BAB II GAMBARAN MENGENAI BERBAGAI OPINI

Pada umumnya pembicara-pembicara itu cenderung kepada pedapat bahwa Irian Barat adalah milik Pemerintah Indonesia oleh karena itu Bangsa Indonesia wajib merebutnya kembali Gejala demikian biasanya disebut public opinion atau opini publik.

(Halaman 30)

3. Ferdinand Tonnies

Beliau mengemukakan bahwa ada tiga tahap opini publik dalam fase perkembangannya, yaitu die luftartige, die flussige dan die feste.

Opini publik luftartig adalah opini publik laksanan uap di mana dalam tahap perkembangannya masih terombang ambing mencari bentuk yang nyata. Selanjutnya opini publik yang flussig mempunyai sifa-sifat seperti air, opini publik ini sudah mempunyai bentuk yang nyata akan tetapi masih dapat dialirkan menurut saluran yang kita kehendaki, sedangkan opini publik yang festig adalah opini publik yang sudah kuat, tidak mudah berubah.

(Halaman 31)

5. Kruger Reckless

Opini publik itu bersifat relatif artinya dapat benar dan dapat juga tidak benar. Akan tetapi oleh kebanyakan orang dianggap sebagai kebenaran.

(Halaman 32)

Opini publik tidak dapat dihancurkan dengan cara menghilangkan pelopor atau tokoh-tokoh pendukung opini publik tersebut dengan memenjarakan atau bahkan membunuh parapelopor tersebut maka akan segera diisi/diganti oleh orang yang lain yang juga telah bersedia untuk berkorban.

(Halaman 33)

7. William Albig

Orang sudah tidak mempunyai opini lagi terhadap rasa gula yang manis, garam yang asin dan sebagainya, yang dipunyai oleh orang adalah sikap (attitude). Akan tetapi jika harga gula melonjak atau gula hilang dari pasaran maka timbullah opini.

Dengan demikian maka subyek opini publik biasanya adalah mengenai masalah-masalah yang baru.

(Halaman 38)

Salah satu contoh adalah penyodoran formulir untuk mengisi kartu anggota Golkar bagi para pegawai negeri baru-baru ini. Mungkin sekali ada beberapa pegawai negeri yang kurang setuju atau tidak mau menjadi anggota Golkar akan tetapi karena merasa takut meneriman sangsi-sangsi kepegawaian maka terpaksa mengisi formulir dan mencatatka diri sebagai anggota Golkar.

(Halaman 39)

Contoh Tersebut umpamanya saja kejadian yang sebenarnya dan berhasil diketahui oleh seorang wartawan maka sesuai dengan konsensus nasional fakta tersebut tidak mungkin dan sebaiknya tidak termuat dalam surat kabar karena apabila ada kesalahan dalam menangani dapat mengganggu stabilitas nasional, namun pejabat yang menangani kasus semacam tersebut di atas sebaiknya mempunyai tanggung jawab moral yang cukup tinggi yaitu secara sistematis mengambil tindakan kepada para pelakunya.

(Halaman 43)

Setelah Pearl Harbour di bom oleh Jepang dan banyak meminta korban orang-orang Amerika Serikat maka opini umum yang tidak setuju Amerika Serikat terlibat perang berubah menjadi opini publik yang menuntut perang terhadap Jepang.

(Halaman 44)

BAB III MENGUKUR OPINI PUBLIK

A. The Gallup Poll

The Galup Poll ini sesungguhnya bukan merupakan suatu badan atau lembaga akan tetapi merupakan suatu cara atau metoda dari Public Opinion Polling. Badan atau lembaganya sendiri bernama The American Institute of Public Opinion, yang dipimpi oleh George Gallup, sedangkan cara atau metodanya kemudian di beri nama sesuai dengan penemunya, yaitu The Gallup Poll.

Di negara Republik Indonesia lembaga semacam itu juga ada, namanya lembaga Pers dan Pendapat Umum sekarang bernama Balai Penelitian Pers dan Pendapat Umum di bawah Departemen Penerangan.

Masalah-masalah yang tiap minggu paling banyak mendapat perhatian dari masyarakat banyak (The Top News of The Week) menjadi suatu lapangan baru dan penting bagi pertumbuhan jurnalistik.

(Halaman 46)

Laporan-laporan dan analisa-analisa yang obyektif mengenai opini publik sebagai hasil dari Public Opinion Polling telah membantu dalam mempercepat proses demokrasi.

Para langganan dari Public Opinion Polling tersebut mengharapkan dapat mengetahui apa yang mejadi pikiran sebagian besar rakyat di Amerika Serikat.

(Halaman 47)

Karena adanya persaingan yang sangat ketat dan hebat inilah maka segala sesuatu mesti dipikirkan dan direncanakan terlebih dahulu dengan mempertimbangkan dengan cukup masak.

Demikian pula rencana bantuan INPRES Desa Tertinggal (IDT) yang sering kali diselewengkan oleh pejabatnya yang mungkin diangap uang yang lebih (IDT diplesetkan Iki Duwit Turah).

Mengenai keberatan semacam ini, Wilfrit Sanders dar The Canadian Institute of Public Opinion memberi jawaban dengan suatu gambaran bahwa apabila kita ingin mencoba rasa sepanci sayur sop, maka kita tentu saja tidak perlu memakan sepanci saur sop tersebut. Hal ini kiranya dapat kita ambil satu sendok saja, dan sudak cukup untuk dapat menentukan atau menyimpulkan rasa sayur sop sepanci itu.

(Halaman 48)

Kita tidak usah meragukan lagi akan ungkapan “the voice of the people is the voice of God” (Suara rakyat itu adalah suara Tuhan), dan ini menjadi dasar utama dari demokrasi. Namun demikian seorang negarawan sejati tidak demikian saja merubah cita-citanya atau idee-idee yang telah diyakininya untuk disesuaikan dengan opini publik yang dihadap pada suatu waktu.

(Halaman 49)

Pemimpin yang besar selalu mencari keterangan-keterangan dari setiap sumber yang dapat dipercaya mengenai keadaan rakyat yang akan dipimpin.

(Halaman 53)

C. Pelakasanaan Public Opinion Polling

Majalah Tempo dalam menyambut Hari Pendidikan Nasional 1984 pada Edisi Nomer 10 Tahun XIV 5 Mei 1984 membuat angket untuk para guru sebanyak 701 atau 93,5% dari jumlah yang direncanakan yaitu sebanyak 750. Ada kesan bahwa dalam menjawab, guru-guru ini cenderung membatasi diri. Hasil angket ini antara lain memperlihatkan, Cuma dua di antara sepuluh pendidik itu kini yang mengaku mendapat nafkah yang cukup dengan gajinya.

Kebanyakan guru sekarang membutuhkan pekerjaan sampingan buat memenuhi biaya hidup, begitu pengakuan 80,5% dari mereka.

2. Badan-Badan public opinion poling mempunyai syarat yang mutlak dalam sistemnya agar dalam menginterviu responden dapat benar-benar meliputi segala golongan dan lapisan masyarakat dengan proporsi yang telah ditentukan sebelumnya.

(Halaman 57)

Akan tetapi dengan jalan melakukan polling oleh suatu badan public opinion polling, maka tuntutan-tuntutan itu dengan cepat dan tepat dapat diteliti opini sebagian besar rakyat yang sebenarnya.

(Halaman 58)

Setelah dilakukan public opinion polling maka ternyata hasilnya adalah:

  • Menyetujui undang-undang                 = 68%
  • Menentang undang-undang                  = 27%
  • Tidak mempunyai opini                       = 5%

Sejak didirikan pada tahun 1935 hingga tahun 1945 American Institute of Public Opinion Polling telah membuat 114 kali pengukuran opini publik. Dari jumlah tersebut ternyata bahwa:

  • 58 kali pengukuran dengan perbedaan selisih kurang dari 3%
  • 31 kali pengukuruan dengan selisih antara 3 – 6%
  • 19 kali pengkuruan dengan selisih antara 6 – 10%
  • 6 kali pengukuran dengan selisih antara 10 – 15%

(Halaman 59)

E. Jumlah Sampel yang Di interview/Diwawancari

Sebenarnya jumlah sampel kurang Begitu penting kedudukannya sebagai ukuran untuk mendapatkan hasil-hasil yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan (reliable). Yang lebih penting adalah pemilihan orang-orang yang dijadikan sample.

(Halaman 60)

Undang-undang Larangan Minuman Keras pada akhir tahun 1944 di Amerik Serikat.

Sampel yang jumlahnya 1.326.

(Halaman 61)

Penelitian sejumlah 12.494.

Dari angka-angka diats nyata sekali bahwa perbedaan hasil penelitian dengan jalan interviu terhadap beberapa jumlah sampel yang kecil dan yang besar hanya selisih antara 1% sampai 2% saja.

(Halaman 63)

Orang-orang yang telah ditunjuk menjadi interviewer itu mendapat honorarium dan ongkos jalan, karena pekerjaan itu tidak membutuhkan waktu yang penuh hingga pekerjaan itu dapat dilakukan sebagai pekerjaan sambilan di samping pekerjaan mereka sehari-hari yang tetap.

(Halaman 64)

Yang amat baik di dalam melakukan penelitian objektivitas seorang inteviewer adalah dengan jalan penyusunan komposisi pertanyaan (questionnaires = Kwesener) dalam ballot tersendiri di mana didalamnya dicantumkan beberapa pertanyaan sebagai suatu pancingan.

(Halaman 65)

Karena biasanya upah untuk seorang interviewer cukup besar maka kebanyakan pekerjaan sambilan tersebut sangat menarik bagi para interviewer,

(Halaman 66)

Untuk itulah maka mereka kebanyakan bekerja dengan sungguh-sungguh.

(Halaman 72)

This Means that q question may be reworded five or six time before it is actually submitted in its final from to the national sample. In some instances as many as tewnty-five to fifty wordings have been tried out.

(Halaman 73)

Teknik polling semacam ini biasa disebut “split ballot tehcnique”, yang banyak memberikan hasil yang berguna, teristimewa dalam hal penelitian pengaruh-pengaruh mengenai komposisi pertanyaan terhadap jalan pikiran para responden.

(Halaman 74)

K. Bentuk Pertanyaan

1. Open or free answer question (Pertanyaan yang meminta jawaban secara bebas).

2. Multiple Choice atau Cafetarian questions.

(Halaman 76)

Pak R. Roekomy (almarhum) menulis ini pada tahun 1958 dan permulaan tahun 1959 di mana masih jarang bahkan boleh dikatakan belum lazim digunakan pertanyana multiple choise di negara kita.

3. The Categorical or dichomotous question

4. macam pertanyaan keempat adalah Filter Questios, yang dimaksud dengan daftar pertanyaan ini adalah pertanyaan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengetahuan responden terhadap suatu masalah,

(Halaman 77)

Karena dalam kenyataannya banyak sekali orang belum mengenai segala sesuatunya mengenai berbagai masalah dan mereka kebanyakan hanya mengetahui serba sedikit mengenai masalah tersebut atau hanya dengar-dengan saja dan tidak mengetahui masalah yang sebenarnya.

Dengan jawaban tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa responden telah berbohong dan mungkin sekali tidak pernah menonton film tersebut akan tetapi demi gengsi maka rupanya merasa malu apabila menjawab belum menonton atau belum mengetahui sesuatu masalah. Hal ini perlu diketahui bahwa Tyrone Power tidak pernah main film Gone with the wind yang terkenal karena yang main adalah Clarck Gable.

(Halaman 78)

Beberapa Cara Mengukur Opini Publik.

1. Referendum (Plebisit)

2. Melalui Meia massa (terutama Pers/Surat Kabat)

3. Sampling

(Halaman 79)

4. Polling Sistem

5. Public Research

(Halaman 81)

Kebebasan yang bertanggung jawab.

(Halaman 85)

BAB IV OPINI, PERSEPSI, SIKAP DAN PERILAKU (Opinion, Perception, Attitude and Behavior)

Biasanya sikap seseorang mencerminkan sekaligus pendapatnya secara implisit (dari bahasa latin Implicite artinya meskipun belum atau tidak disebut, sudah termasuk di dalamnya).

(Halaman 87)

Opini itu dibentuk berdasarkan:

a. Kumpulan data dan fakta.

b. Rekontruksi dari keadaan (daya pikir dan daya abstraksi individu).

c. reaksi atau sikap individu sebagai komunikator maupun komunikan, halmana ditentukan lebih lanjut lagi oleh situasi komunikasi serta masing-masing situasi komunikan maupun komunikator sendiri.

(Halaman 90)

Untuk mengurangi rasa bersalahnya mereka mengatakan bahwa korupsi, pungli ataupun kolusi yang dilakukannya tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh pimpinannya/atasannya, apalagi bila dibandingkan dengan korupsi yang dilakukan oleh Eddy Tansil yang menyebabkan Bank Pembangunan Indonesia (BAPINDO) kebobolan 1,3 Triliun Rupiah. Barang kali Eddy Tansil pun akan beralasan untuk mengurangi perasaan bersalahnya. “Uang sebanyak 1,3 Triliun rupiah itu tidak saya gunakan sendiri, akan tetapi kan saya bagi-bagikan”.

“negerimu ini memiliki asas budaya yang dahsyat yang misalnya, bernama musyawarah mufakat. Suatu siang anda nyetir mobil dan melanggar rambu lalu lintas? Bisa dimusyawarahkan dan dimufakati bersama bagaimana jalan keluarnya dan berapa jumlah uang yang disangga oleh kemufakatan. Anda melanggar hukum? Anda ingin mengutil gedung pencakar langit?

(Halaman 91)

Anda ingin sesuatu yang bukan hakmenjadi hak anda? Anda ingin pencurian yang anda lakukan diuukan menjadi kemuliaan sosial? Anda ingin yang haram menjadi halal? Anda ingin salah seorang di antara serombongan perampok dijadikan kambing hitam?

(Halaman 109)

3. Suatu contoh penelitan seorang Profesor kulit putih bernama LaPiere pada tahun 1934, yang mengelilingi Amerika dengan seorang murid Cina dengan Isterinya. Pada masa itu di Amerika Serikat terdapat prasangka (prejudice) yang cukup kuat terhadap Orang Timur. Penelitin itu menunjukkan ketidak konsistenan antara sikap dan perilaku para pemilik hotel (motel) dan restoran. Sebelumnya kepada para pemilik hotel, motel, dan restoran tersebut dikirimi daftar pertanyaan melalui pos dan ditanyakan: Maukah anda menerima tamu Cina? Jawaban yang dikirim kembali melalui pos hasilnya adalah 92% dari pemilik café dan sertoran serta 91% dari pemilik hotel dan motel menjawab: Tidak mau menerima.

Dalam kenyatannya ketika LaPiere dan sepasang Cina dengan mengendarai mobil dan menempuh jarak sampai 10.000 mil menjelajahi Amerika Serikat, pasangan Cina ini hanya mengalami penolakan sekali (satu kali) di Hotel (motel) dan restoran yang mereka kunjungi.

(Halaman 111)

a. Penelitian LaPiere tahun 1934 tersebut dalam butir 3 dan 4 sering disebut Postulat ketidak ajegan (Inconsistency).

(Halaman 118)

Roekomy Drs R, Tingkah Laku Kolektif dalam Mobilitas Sosial, Bandung 1970.

Roekomy Drs R, Diktat Kuliah Opini Publik, Bandung 1970.

Roekomy Drs R, Kuliah mengenai Public Opinion (Opini Publik), FakultasPublisistik UNPAD Bandung 1969.

 

 

Sapiens

Yuval Harari

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Sapiens oleh Yuval Noah Harari.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

Chandra Natadipurba

===

SAPIENS

Oleh Yuval Noah Harari

Cetakan kedua,Oktober 2017

BAGIAN I

Revolusi Kognitif

Hewan Tak Berarti

(hlm. 4)

Yang terpenting untuk diketahui mengenai manusia purba adalah bahwa mereka merupakan hewan tak berarti dengan dampak terhadap lingkungan tak lebih besar daripada gorila, kunang-kunang, atau ubur-ubur.

Ahli biologi menggolongkan makhluk menjadi spesies-spesies. Beberapa hewan disebut sebagai anggota spesies yang sama bila mereka bisa saling kawin dan menghasilkan keturunan yang subur.

(hlm. 7)

Di Pulau Jawa, di Indonesia, hidup Homo soloensis, “Manusia dari Lembah Solo”, yang cocok untuk hidup di wilayah tropis. Di pulau Indonesia lainnya—Flores yang lebih kecil—manusia-manusia purba mengalami proses menjadi katai. Manusia pertama kali mencapai Flores ketika permukaan laut luar biasa rendah, dan pulau tersebut mudah dicapai dari benua. Ketika lautan kembali meninggi, sejumlah manusia terperangkap di pulau itu, yang tidak kaya sumber daya. Manusia–manusia besar, yang membutuhkan banyak makanan, musnah terlebih dahulu. Kawan-kawan mereka yang berukuran lebih kecil bisa bertahan dengan lebih baik. Selama bergenerasi-generasi, manusia Flores menjadi katai. Spesies unik ini, dikenal oleh para ilmuwan sebagai Homo floresiensis, mencapai tinggi maksimum satu meter saja dan berbobot tak lebih daripada dua puluh lima kilogram.

(hlm. 8)

Ada salah kaprah ketika kita membayangkan spesies-spesies itu tersusun dalam garis keturunan yang lurus, dengan ergaster menjadi erectus, erectus menjadi Neandertal, dan Neandetral berevolusi menjadi kita. Model linier ini memberikan kesan yang salah bahwa setiap saat hanya ada satu tipe manusia tertentu yang menghuni Bumi, dan bahwa semua spesies terdahulu hanyalah model diri kita versi lama. Yang benar adalah sejak sekitar 2 juta tahun lalu sampai sekitar 10.000 tahun lalu, planet ini adalah rumah bagi beberapa spesies manusia sekaligus.

(hlm. 9)

Ongkos Berpikir

Mengapa genus Homo satu-satunya genus di seluruh kingdom hewan yang mnedapat mesin pemikir sebesar itu lewat evolusi?

Di Homo sapiens, otak mewakili sekitar 2-3 persen total berat tubuh, namun melahap 25 persen energi tubuh ketika tubuh beristirahat. Bila dibandingkan, otak kera-kera lain membutuhkan hanya 8 persen energi saat rehat.

(hlm. 10)

Semakin banyak hal yang bisa dilakukan tangan, semakin sukses pemiliknya, sehingga tekanan evolusi menyebabkan semakin terkonsentrasinya saraf dan otot-otot yang cekatan di telapak tangan dan jari tangan.

(hlm. 11)

Bayi manusia tak berdaya, bergantung selama bertahun-tahun kepada manusia-manusia yang lebih tua demi memperoleh pangan, perlindungan, dan pendidikan.

Fakta ini telah bersumbangsih sangat besar kepada kemampuan sosial umat manusia yang luar biasa sekaligus masalah-masalah sosialnya yang unik. Ibu-ibu yang menjadi orangtua tunggal sulit mendapatkan cukup makanan untuk anak-anak dan diri mereka sendiri sementara diganduli anak-anak yang butuh perhatian. Membesarkan anak membutuhkan bantuan terus-menerus dari anggota-anggota keluarga lainnya dan tetangga. Butuh seluruh suku untuk membesarkan seorang manusia. Itu sebabnya evolusi mengunggulkan manusia-manusia yang bisa membentuk ikatan sosial yang erat.

(hlm. 13)

Rasa juru Masak

SATU langkah besar dalam perjalanan menuju puncak adalah penjinakan api.

(hlm. 14)

Sementara simpanse menghabiskan lima jam sehari mengunyah makanan mentah, satu jam sudah cukup bagi manusia untuk menyantap makanan yang dimasak.

Kemajuan masak-memasak memungkinkan manusia memakan lebih banyak jenis makanan, menghabiskan lebih sedikit waktu untuk makan, serta bersantap dengan gigi-geligi yang lebih kecil dan usus yang lebih pendek.

(hlm. 17)

Penjaga Saudara-Saudara Kita

Tiap Spesies manusia hanya memiliki sedikit ketertarikan seksual kepada spesies manusia lain.dan bahkan bila Romeo Neandertal dan Juliet Sapiens jatuh cinta, mereka tidak bisa menghasilkan anak-anak yang subur, karena jurang genetik yang memisahkan kedua populasi itu sudah tak bisa lagi disebrangi.

(hlm. 18)

Bila hasil-hasil ini valid—dan penting untuk diingat bahwa penelitian lebih lanjut sedang berlangsung, sehingga kesimpulan-kesimpulan tadi mungkin diperkuat atau diubah—para pendukung Teori Kawin Silang ternyata ada benarnya. Namun itu bukan berarti Teori Penggantian sepenuhnya salah.

(hlm. 19)

Tampaknya sekitar 50.000 tahun silam, Sapiens,Neandertal, dan Denisova berada di titik perbatasan itu. Mereka nyaris, namun belum benar-benar, menjadi spesies-spesies yang sepenuhnya terpisah. Seperti yang akan kita lihat di bab berikutnya, Sapiens sudah sangat berbeda dari Neandertal dan Denisova bukan hanya sari segi sandi genetik dan ciri jasmani, melainkan juga dalam hal kemampuan kognitif dan sosial, namun tampaknya masih tetap mungkin, dalam kesempatan yang jarang ada, bagi seorang Sapiens dan seorang Neandertal untuk menghasilkan keturunan yang subur.

(hlm. 20-21)

Yang mana pun yang terjadi, Neandertal (dan spesies-spesies manusia lain) merupakan salah satu pertanyaan “bagaimana jika” paling besar dalam sejarah. Bayangkan akan seperti apa jadinya bila orang-orang Neandertal dan Denivosa masih hidup bersama-sama Homo sapiens. Budaya, masyarakat, dan struktur politik macam apa yang mungkin muncul di dunia di mana beberapa spesies manusia hidup bersama? Akan seperti apa jadinya, misalnya, agama-agama? Akankah kitab Kejadian menyatakan bahwa Neandertal adalah keturunan Adam dan Hawa, akankah Yesus mati untuk menebus dosa-dosa Denivosa, dan akankah Qur’an mengatakan ada tempat di surga bagi semua manusia yang berbudi luhur, apa pun spesiesnya? Akankah Neandertal bisa mengabdi dalam legiun-legiun Romawi, atau dalam birokrasi jelimet Kekaisaran Tiongkok? Akankah Deklarasi Kemerdekaan Amerika menyatakan bahwa kenyataannya semua anggota genus Homo diciptakan setara? Akankah Karl Marx menyeru agar kaum pekerja dari semua spesies bersatu?

Seandainya manusia Neandertal masih ada, masihkah kita membayangkan diri kita sebagai makhluk istimewa? Barangkali tepat karena itulah mengapa leluhur kita memusnahkan Neandertal. Mereka terlalu familiar untuk diabaikan, namun terlalu berbeda untuk ditoleransi.

(hlm. 22)

Apa rahasia kesuksesan Sapiens? Bagaimana kita berhasil bermukim dengan sedemikian cepat di sedemikian banyak habitat yang berjauhan dan berbeda-beda secara ekologis? Bagaimana kita mendesak semua spesies manusia lain sampai punah? Mengapa bukan Neandetral yang kuat, cerdas, dan tahan dingin yang bertahan dari serangan hebat kita? Perddebatan itu terus berlangsung sengit. Jawaban yang paling mungkin adalah hal yang memungkinkan perdebatan itu sendiri: Homo sapiens menaklukkan dunia terutama berkat bahasanya yang unik.

(hlm. 23)

Pohon Pengetahuan

(hlm. 25)

Kemunculan cara-cara baru berpikir dan berkomunikasi, antara 70.000 dan 30.000 tahun silam, merupakan Revolusi Kognitif. Apa yang menyebabkannya? Kita tidak tahu pasti. Teori yang paling banyak dipercaya berargumen bahwa mutasi-mutasi genetik tanpa sengaja mengubah sambungan-sambungan di dalam otak Sapiens, memungkinkan mereka berpikir dengan cara-cara yang tak pernah ada sebelumnya dan berkomunikasi menggunakan jenis bahasa yang sepenuhnya baru. Kita bisa menyebutnya mutasi Pohon Pengetahuan. Mengapa mutasi itu terjadi dalam DNA Sapiens, bukan dalam DNA Neandertal?

(hlm. 26)

Jawaban yang paling uum adalah bahasa kita luar biasa luwes.

Teori kedua setuju bahwa bahasa kita yang unik berevolusi sebagai cara berbagi informasi mengenai dunia. Namun informasi terpenting yang perlu disampaikan adalah tentang manusia, bukan tentang singa dan bison. Bahasa kita berevolusi sebagai cara bergosip. Menurut teori ni, Homo sapiens utamanya merupakan hewan sosial. Kerja sama sosial adalah kunci kelestarian dan reproduksi kita. Tidak cukup bagi individu laki-laki dan perempuan untuk mengetahui di mana ada singa dan bison. Jauh lebih penting bagi mereka untuk mengetahui siapa yang dibenci rekan sekawan, siapa yang tidur dengan siapa, siapa yang jujur, dan siapa yang pembohong.

Jumlah informasi yang harus sesorang peroleh dan simpan guna melacak hubungan yang terus berubah di antara beberapa lusin individu sungguh mencengangkan. (Dalam kawanan yang terdiri atas lima puluh orang, ada 1.225 hubungan satu orang dengan satu orang lain, dan kombinasi sosial kompleks yang tak terhitung banyaknya.)

(hlm. 27)

Keterampilan linguistik baru yang diperoleh Sapiens modern sekitar tujuh puluh ribu tahun silam memungkinkan mereka bergosip berjam-jam tanpa akhir. Informasi andal mengenai siapa yang bisa dipercaya berarti kawanan-kawanan kecil bisa mengembang menjadi kawanan-kawanan yang lebih besar, dan Sapiens dapat mengembangkan jenis-jenis kerja sama yang lebih erat dan lebih canggih.1

(hlm. 28)

Gosip biasanya berfokus kepada kesalahan. Penyebar isu adalah pilar keempat yang asli, pada jurnalis yang memberitahu masyarakat mengenai penipu dan penebeng sehinga masyarakat terlindung dari mereka.

KEMUNGKINAN besar, teori gosip maupun teori ada-singa-dekat-sungai sama-sama sahih. Namun ciri yang benar-benar khas di bahasa kita bukanlah kemampuannya menyampaikan informasi mengenai manusia dan singa, melainkan kemampuannya menyampaikan informasi mengenai hal-hal yang sama sekali tidak ada. Sejauh yang kita tahu, hanya Sapiens yang bisa membicarakan tentang segala macam entitas yang tidak pernah mereka lihat, sentuh, atau cium baunya.

Anda tidak akan pernah bisa meyakinkan monyet untuk menyerahkan sebatang pisang kepada Anda dengan menjanjikan kepadanya pisang dalam jumlah tak terbatas di surga monyet setelah dia mati. Namun mengapa hal itu penting?

(hlm. 29)

Namun fiksi talah memungkinkan kita bukan hanya mengkhayalkan ini-itu, melainkan juga melakukannya secara bersama-sama. Kita dapat merajut mitos-mitos bersama seperti kisah penciptaan dunia dalam kitab suci, mitos-mitos Kala Mimpi orang-orang Aborigin Australia, dan mitos-mitos nasionalis negara-negara modern. Mitos-mitos semacam itu memberi Sapiens kemampuan yang tak pernah ada sebelumnya untuk bekerja sama secara luwes beramai-ramai. Semut dan lebah juga bisa bekerja sama dalam jumlah besar, namun mereka melakukannya dengan kaku dan hanya dengan kerabat-kerabat dekat.

Sapiens dapat bekerja sama dalam cara-cara yang luar biasa luwes dengan orang asing yang tak terhitung banyaknya. Itulah mengapa Sapiens menguasai dunia, sementara semut memakan sisa-sisa kita dan simpanse terkurung dalam kubeun binatang dan laboratorium penelitian.

Legenda Peugeot

(hlm. 30)

Ketika dua pejantan memperebutkan posisi alfa, mereka biasanya melakukan itu dengan membentuk koalisi luas yang terdiri atas pendukung pejantan maupun betina, di antara anggota-anggota kelompok. Hubungan di antara anggota-anggota koalisi didasarkan kepada kontak akrab harian—berpelukan, bersentuhan, berciuman, menelisik (grooming), dan tolong-menolong. Seperti politikus manusia yang saat kampanye pemilu berkeliling untuk berjabat tangan dan mengecup bayi, demikian pula para kandidat yang berebut kedudukan puncak dalam kelompok simpanse menghabiskan banyak waktu memeluk, menepuk punggung, dan mencium bayi simpanse. Pejantan alfa biasanya meraih posisinya bukan karena dia secara fisik lebih kuat, melainkan karena dia memimpin koalisi yang besar dan stabil. Koalisi-koalisi ini berperan utama bukan hanya selama pergulatan terbuka memperebutkan posisi alfa, melainkan juga dalam nyaris semua aktivitas sehari-hari.

(hlm. 31)

Penelitian sosiologis telah menunjukkan bahwa ukuran “alami” maksimum kelompok yang diikat oleh gosip adalah sekitar 150 orang. Kebanyakan orang tidak bisa mengenal secara akrab ataupun bergosip secara efektif mengenai lebih daripada 150 manusia.

Bahkan kini, ambang batas kritis bagi organisasi manusia ada di sekitar angka ajaib 150. Di bawah ambang batas itu, masyarkat, bisnis, jejaring sosial, dan satuan militer dapat mempertahankan keutuhan terutama berdasarkan hubungan akrab dan penyebaran rumor.

(hlm. 32)

Namun begitu ambang batas 150 individu terlampaui, segala sesuatu tidak bisa lagi bekerja seperti itu.

Bagaimana Homo sapiens berhasil melintasi ambang batas kritis ini dan akhirnya mendirikan kota-kota yang berisi puluhan ribu penduduk dan imperium-imperium yang memerintah ratusan juta jiwa? Rahasianya barangkali adalah kemunculan fiksi. Banyak orang yang saling asing bisa sukses bekerja sama berkat mempercayai mitos-mitos bersama.

(hlm. 33)

Padahal segala hal itu tidak ada di luar kisah-kisah yang orang-orang ciptakan dan tuturkan kepada satu sama lain. Tidak ada dewa-dewi di alam semesta, tidak ada bangsa, tidak ada uang, tidak ada hak asasi manusia, tidak ada hukum, dan tidak ada keadilan di luar imajinasi bersama manusia.

(hlm. 34)

Bila hakim memerintahkan pembubaran perusahaan, pabrik-pabriknya akan tetap berdiri sementara para pekerja, akuntan, manajer, dan pemegang saham akan terus hidup—namun Peugeot SA akan menghilang seketika. Singkatnya, Peugeot SA seolah tidak memiliki hubungan esensial apa-apa dengan dunia fisik. Apakah Peugeot SA benar-benar ada?

Peugeot adalah buah imajinasi bersama kita.

(hlm. 35)

Peugeot tergolong ke dalam genre fiksi hukum tertentu yang disebut “perusahaan perseroan terbatas”. Gagasan di balik perusahaan-perusahaan semacam itu tergolong salah satu ciptaan paling cerdas manusia.

(hlm. 36)

Di AS, istilah teknis untuk perusahaan perseroan terbatas adalah “korporasi”; ironis, sebab istilah itu berasal dari “corpus” (“tubuh” dalam bahasa latin) —sesuatu yang justru tidak dimiliki oleh korporasi. Meskipun tidak memiliki tubuh yang sesungguhnya, sistem hukum Amerika memperlakukan korporasi sebagai pribadi legal, seolah-olah manusia yang berdaging dan bertulang.

Semua itu adalah perkara menuturkan kisah, dan meyakinkan orang-orang agar mempercayai kisah tersebut.

(hlm. 37)

Bagaimana caranya meyakinkan jutaan orang agar mempercayai kisah-kisah tertentu mengenai dewa-dewi, atau bangsa-bangsa, atau perusahaan-perusahaan perseroan terbatas? Namun ketika upaya itu sukses, Sapiens pun memperoleh daya yang besar sekali, sebab kisah itu memungkinkan jutaan orang asing bekerja sama dan berupaya mencapai tujuan-tujuan bersama. Coba bayangkan betapa sulitnya menciptakan negara, atau gereja, atau sistem hukum seandainya kita hanya bisa membicarakan hal-hal yang benar-benar ada, semisal sungai, pohon, dan singa.

(hlm. 38)

Jenis-jenis hal yang diciptakan manusia melalui jejaring cerita ini dikenal di kalangan akademik sebagai “fiksi”, “konstruksi sosial”, atau “realitas yang dikhayalkan”.

(hlm. 39)

Melangkahi Genom

Oleh karena kerja sama skala besar manusia didasari mitos, cara manusia bekerja sama dapat diubah dengan mengganti mitosnya—dengan menuturkan kisah-kisah berbeda. Dalam situasi-situasi yang pas, mitos dapat berubah dengan cepat. Pada 1789, populasi Prancis dalam nyaris sekejap mata beralih dari mempercayai mitos akan hak ilahiah raja-raja menjadi mempercayai mitos kedaulatan rakyat.

(hlm. 41)

Taruhlah ada seorang warga Berlin, yang terlahir pada 1900 dan hidup sampai berusia seabad. Dia menghabiskan masa kanak-kanaknya di Kekaisaran Hohenzollern Wilhelm II; masa dewasanya di Republik Weimar, Reich Ketiga Nazi, dan Jerman Timur Komunis; dan dia wafat sebagai warga negara Jerman bersatu yang demokratis. Dia telah berhasil menjadi bagian lima sistem sosiopolitik yang teramat berbeda, walaupun DNA-nya tetap tepat sama.

(hlm. 42)

Ahli-ahli arkeologi yang menggali situs-situs Sapiens berusia 30.000 tahun di pedalaman Eropa terkadang menemukan cangkang hewan laut yang berasal dari pesisir Laut Tengah dan Atlantik. Satu-satunya kemungkinan cangkang-cangkang itu sampai ke pedalaman benua adalah melalui perniagaan jarak jauh antara kawanan-kawanan Sapiens yang berbeda. Situs-situs Neandertal tidak memiliki bukti perniagaan semacam itu. Setiap kelompok membuat sendiri alatnya dari bahan-bahan setempat.4

(hlm. 43)

Salah satu metode yang sangat efektif adalah mengepung keseluruhan kawanan hewan, seperti kuda liar, kemudian menggiring mereka ke dalam ngarai sempit, tempat hewan-hewan itu mudah dibantai secara massal. Bila sesuai dengan rencana, kawanan manusia itu dapat memanen berton-ton daging, lemak, dan kulit hewan dengan berupaya bersama-sama pada satu siang, dan bisa menyantap rezeki itu dalam jamuan besar-besaran ataupun mengeringkan, mengasapi, atau (di kawasan Artika) membekukan daging tersebut untuk dimakan kemudian hari.

(hlm. 44)

Sejarah dan Biologi

KEANEKARAGAMAN luar biasa realitas terkhayalkanyang diciptakan Sapiens, dan keanekaragaman pola perilaku yang dihasilkan, adalah komponen-komponen utama dari apa yang kita sebut “budaya”. Begitu muncul, budaya tidak pernah berhenti berubah dan berkembang, dan perubahan-perubahan tak terhentikan inilah yang kita sebut “sejarah”.

(hlm. 45)

Kalau satu lawan satu, bahkan sepuluh lawan sepuluh, kita masih banyak miripnya dengan simpanse. Perbedaan-perbedaan besar baru mulai muncul sewaktu kita melewati ambang batas 150 individu, dan sewaktu kita mencapai 1.000-2.000 individu, perbedaannya sungguh mencengangkan. Bila Anda mencoba mengumpulkan ribuan simpanse di Lapangan Tiananmen, Wall Street, Vatikan, atau markas PBB, hasilnya adalah kekacauan.

(hlm. 46)

Produksi hulu ledak nuklir modern membutuhkan kerja sama jutaan orang yang tak saling mengenal di seluruh dunia—dari pekerja yang menambang bijih uranium di perut Bumi sampai ahli fisika teori yang menulis rumus-rumus matematika panjang untuk menjabarkan interaksi-interaksi antara zarah-zarah sub-atomik.

(hlm. 48)

Sehari dalam Kehidupan Adam dan Hawa

Bidang psikologi evolusioner yang sedang mekar-mekarnya berargumen bahwa banyak ciri sosial dan psikologis kita kini terbentuk dalam era pra-pertanian yang panjang itu. Bahkan sekarang, menurut klaim para cendekiawan psikologi evolusioner, otak dan akalbudi kita beradaptasi untuk kehidupan berburu dan mengumpul. Polah makan kita, konflik-konflik kita, sampai seksualitas kita adalah buah interaksi akalbudi pemburu-pengumpul dengan lingkungan pasca-industrial masa kini, yang diramaikan kota-kota raksasa, pesawat terbang, telepon, dan komputer.

(hlm. 49)

Misalnya, mengapa orang rakus melahap makanan berkalori tinggi yang tidak banyak manfaatnya bagi tubuh mereka?

Kini kita mungkin hidup dalam gedung apartemen yang tinggi dengan kulkas yang kepenuhan, namun DNA kita masih berpikir kita ada di sabana. Itulah mengapa kita melahap setengah liter es krim Ben & Jerry yang kita temukan di dalam kulkas dan mengguyurnya dengan sebotol besar Coca-Cola.

(hlm. 50)

Para pemburu-pengumpul justru hidup dalam komune-komune tanpa harta milik pribadi, hubungan monogami, bahkan pengurusan anak oleh ayah. Dalam kawanan semacam itu, seorang perempuan bisa berhubungan seks dan membentuk ikatan akrab dengan beberapa laki-laki (dan perempuan) secara bersamaan, dan semua orang dewasa dalam kawanan itu bekerja sama merawat anak-anaknya. Oleh karena tidak ada laki-laki yang tahu dengan pasti yang mana anak-anak kandungnya, laki-laki menunjukkan kepedulian yang sama kepada semua anak.

(hlm. 51)

Perdebatan antara mazhab “komune purba” dan “monogami abadi” didasarkan kepada bukti yang lemah.

Zaman Batu mungkin lebih akurat disebut Zaman Kayu, karena sebagian besar alat yang digunakan oleh pemburu-pengumpul purba terbuat dari kayu.

(hlm. 55)

Masyarakat Makmur Pertama

GENERALISASI apa saja yang masih bisa kita buat mengenai kehidupan di dunia pra-pertanian? Tampaknya cukup aman untuk mengatakan bahwa sebagian sangat besar orang hidup dalam kawanan-kawanan kecil yang terdiri atas beberapa lusin atau paling banyak beberapa ratus individu, dan bahwa semua individu ini merupakan manusia.

Hari ini, masyarakat yang disebut Selandia Baru terdiri atas 4,5 juta Sapiens dan 50 juta domba.

(hlm. 60)

Ada sejumlah bukti bahwa ukuran otak Sapiens rata-rata justru berkurang setelah zaman pemburu-pengumpul.Kelestarian pada zaman itu membutuhkankemampuan mental hebat setiap orang. Ketika pertanian dan industri muncul, manusia semakin bisa mengandalkan keahlian orang-orang lain untuk bertahan hidup, dan “relung bagi orang goblok” yang baru pun terbuka. Anda bisa bertahan hidup dan mewariskan gen-gen Anda yang biasa-biasa saja ke generasi berikutnya dengan bekerja sebagai pengangkut air atau pekerja pabrik.

(hlm. 62)

Rahasia keberhasilan para pemburu-pengumpul, yang melindungi mereka dari kelaparan dan kurang gizi, adalah pilihan makanan yang beraneka ragam. Petani cenderung menyantap diet yang sangat terbatas dan tidak seimbang.

(hlm. 63)

Diet yang menyehatkan dan bervariasi, minggu kerja yang relatif pendek, dan kelangkaan penyakit menular telah menyebabkan banyak pakar mendefinisikan masyarakat-masyarakat pemburu-pengumpul pra-pertanian sebagai “masyarakat makmur pertama”. Tapi keliru kiranya bila kita mengidealisasikan kehidupan orang-orang purba.

(hlm. 64)

Orang-orang Aché, pemburu-pengumpul yang hidup di rimba Paraguay sampai 1960-an, menawarkan sekilas sisi gelap kehidupan pemburu-pengumpul.

(hlm. 65)

Arwah yang Berbicara

(hlm. 66)

Animisme (dari kata “anima”, “jiwa” atau “arwah” dalam bahasa Latin) adalah kepercayaan bahwa nyaris setiap tempat, setiap hewan, setiap tumbuhan, dan setiap fenomena alam memiliki kesadaran dan perasaan, dan dapat berkomunikasi secara langsung dengan manusia.

Yang mencirikan semua tindakan komunikasi ini adalah entitas-entitas yang diajak berbicara adalah sosok-sosok setempat. Mereka bukan dewa-dewi universal, melainkan rusa tertentu, pohon tertentu, sungai tertentu, arwah tertentu.

(hlm. 71)

Damai atau Perang?

(hlm. 73)

Selama abad ke-20, hanya 5 persen kematian manusia disebabkan oleh kekerasan yang dilakukan manusia—padahal abad tersebut menyaksikan perang-perang paling bersimbah darah dan genosida-genosida paling besar-besaran dalam sejarah. Bila hasil tadi lazim, maka Lembah Donau purba sama kejinya dengan abad ke-20.*

* bisa saja diperdebatkan bahwa tidak semua dari delapan belas penduduk Donau purba itu yang sebenarnya mati akibat kekerasan yang tanda-tandanya bisa terlihat di kerangka. Sebagian di antaranya hanya cedera. Tapi ini barangkali diimbangi oleh kematian akibat trauma terhadap jaringan lunak dan kesusahan-kesusahan tak kasat mata yang mengiringi perang.

(hlm. 91)

BAGIAN II

Revolusi Pertanian

(hlm. 93)

Penipu Terbesar dalam Sejarah

(hlm. 95)

Mengapa revolusi pertanian meletus di Timur Tengah, Tiongkok, dan Amerika Tengah namun tidak di Australia, Alaska, atau Afrika Selatan? Alasannya sederhana: sebagian besar spesies tumbuhan dan hewan tidak bisa didomestikasi.

(hlm. 96)

Petani rata-rata bekerja lebih keras daripada pemburu-pengumpul rata-rata, dan memperoleh makanan yang lebih buruk sebagai balasannya. Revolusi Pertanian adalah tipuan terbesar dalam sejarah.

(hlm. 97)

Mendadak, dalam beberapa ribu tahun yang singkat, gandum tumbuh di seluruh dunia. Menurut kriteria evolusioner dasar kelestarian dan reproduksi, gandum telah menjadi salah satu tumbuhan paling berhasil dalam riwayat Bumi. Di daerah-daerah seperti Great Plains di Amerika Utara, di mana tak sebatang pun gandum tumbuh 10.000 tahun silam, kini Anda bisa berjalan menyusuri beratus-ratus kilometer tanpa menjumpai tumbuhan lain apa pun. Di seluruh dunia, gandum menutupi sekitar 2,25 juta kilometer persegi permukaan Bumi, nyaris sepuluh kali lipat luas Britania. Bagaimana rumput ini berubah dari tidak penting menjadi tersebar di mana-mana?

(hlm. 100)

Lantas apa yang ditawarkan gandum kepada para petani, termasuk anak perempuan Tiongkok yang menderita kurang gizi itu? Gandum tidak menawarkan apa-apa kepada orang sebagai pribadi. Namun gandum menawarkan sesuatu kepada Homo sapiens sebagai spesies. Bercocok-tanam gandum menyediakan jauh lebih banyak makanan per satuan wilayah, sehingga memungkinkan Homo sapiens memperbanyak diri secara eksponensial.

Mata uang evolusi bukanlah rasa lapar ataupun nyeri, melainkan salinan-salinan heliks DNA. Seperti juga keberhasilan ekonomi suatu perusahaan diukur semata berdasarkan jumlah dolar dalam rekening banknya, bukan kebahagiaan para pegawainya, demikian pula keberhasilan evolusi suatu spesies diukur berdasarkan jumlah salinan DNA-nya. Bila tidak ada lagi salinan DNA yang tersisa, spesies itu punah, seperti juga perusahaan tanpa uang bangkrut.

(hlm. 101)

Perangkap Kemewahan

(hlm. 105)

Upaya mencapai kehidupan yang lebih mudah menimbulkan lebih banyak kesusahan, dan bukan untuk kali terakhir. Itu terjadi juga kepada kita kini. Berapa banyak pemuda lulusan perguruan tinggi yang mengambil pekerjaan penuh tuntutan di perusahaan-perusahaan ternama, bersumpah bahwa mereka akan bekerja keras demi memperoleh uang yang akan memungkinkan mereka pensiun dan mengejar minat sejati ketika berusia tiga puluh lima tahun? Ketika mereka mencapai usia itu, mereka ternyata sudah memiliki utang KPR yang besar, anak-anak yang harus disekolahkan, rumah di pinggiran kota yang mengharuskan setiap keluarga punya setidaknya dua mobil, dan perasaan bahwa kehidupan tidak layak dijalani tanpa anggur yang benar-benar enak dan liburan mahal di luar negeri. Apa yang harus mereka lakukan, kembali menggali umbi-umbian? Tidak, mereka melipatgandakan upaya dan terus menghambakan diri.

Salah satu di antara segelintir hukum besi sejarah adalah bahwa kemewahan cenderung menjadi kebutuhan dan melahirkan kewajiban-kewajiban baru.

(hlm. 111)

Korban-Korban Revolusi

Domba-domba jantan yang paling agresif, yang menunjukkan perlawanan paling hebat terhadap kendali manusia, dijagal terlebih dahulu. Demikian pula betina-betina yang paling kurus dan paling ingin tahu. (Para gembala tidak menyukai domba yang karena keingintahuannya memisahkan diri jauh dari kumpulan.) Di setiap generasi baru, domba menjadi semakin gemuk, penurut, dan kurang penasaran. Voilà! Mary punya domba kecil dan ke mana pun Mary pergi domba itu mengikutinya.

(hlm. 112)

Sepuluh ribu tahun silam, tak sampai beberapa juta domba, sapi, kambing, babi, dan ayam yang hidup di relung-relung terbatas di Afro-Asia. Kini di dunia terdapat sekitar satu miliar domba, satu miliar babi, satu miliar lebih sapi, dan 25 miliar lebih ayam.

Sementara itu, sebagian sangat besar ayam dan sapi ternak dijagal pada usia antara beberapa minggu dan beberapa bulan, karena itu merupakan usia penjagalan optimal dari sudut pandang ekonomi. (Untuk apa memberi makan ayam selama tiga tahun bila berat maksimumnya sudah tercapai setelah tiga bulan?)

(hlm. 117)

6. Membangun Piramida

(hlm. 112)

Tatanan Khayalan

(hlm. 128)

Kedua naskah itu menyajikan dilema yang gamblang kepada kita. Undang-undang Hammurabi maupun Deklarasi Kemerdekaan Amerika mengaku menjabarkan asas-asas keadilan universal dan abadi, namun menurut orang Amerika semua manusia setara, sementara menurut orang-orang Babilon, manusia mutlak tidak setara. Orang-orang Amerika tentu saja akan mengatakan bahwa mereka benar, sementara Hammurabi salah. Sedangkan Hammurabi tentunya akan mengatakan bahwa dia benar, sementara orang-orang Amerika salah. Padahal, dua-duanya salah. Hammurabi dan para Bapak Pendiri Amerika sama-sama membayangkan suatu kenyataan yang diatur oleh asas-asas keadilan universal dan mutlak, seperti kesetaraan atau hierarki. Namun satu-satunya tempat di mana asas-asas universal semacam itu ada adalah dalam imajinasi subur Sapiens, dan dalam mitos-mitos yang mereka ciptakan dan tuturkan kepada satu sama lain. Asas-asas itu tidak memiliki kesahihan objektif.

(hlm.  129)

MENURUT sains biologi, manusia tidak “diciptakan”. Manusia berevolusi. Dan manusia jelas tidak berevolusi sehingga menjadi “setara”. Gagasan kesetaraan terjalin erat dengan gagasan penciptaan. Orang Amerika memperoleh gagasan mengenai kesetaraan dari agama Kristen, yang berargumen bahwa setiap orang memiliki jiwa yang diciptakan ilahi, dan bahwa semua jiwa setara di hadapan Tuhan. Tapi, bila kita tidak mempercayai mitos Kristen mengenai Tuhan, penciptaan, dan jiwa, apa artinya pernyataan semua orang “setara”? Evolusi didasari perbedaan, bukan kesetaraan. Setiap orang membawa sandi genetik yang agak berbeda, dan sedari lahir terpapar pengaruh lingkungan yang berbeda. Ini menyebabkan perkembangan sifat-sifat berbeda yang memberikan kemungkinan bertahan hidup yang berbeda-beda. Oleh karena itu “tercipta setara” seharusnya diterjemahkan menjadi “berevolusi secara berbeda”.

(hlm. 130)

Burung terbang bukan karena berhak terbang, melainkan karena punya sayap.

Kamimeyakini kebenaran-kebenaran ini sebagai nyata tak terbantahkan, bahwa semua manusia berevolusi secara berbeda, bahwa mereka terlahir dengan ciri-ciritertentu yang bisa berubah yang antara lain mencakup kehidupan dan pencarian kenikmatan.

(hlm. 131)

“Kami tahu bahwa manusia tidak setara secara biologis! Namun bila kita mempercayai bahwa kita semua pada dasarnya setara, itu akan memungkinkan kita menciptakan masyarakat yang stabil dan sejahtera.” Saya tidak membantah itu. Tepat inilah yang saya meksudkan dengan “tatanan khayalan”. Kita mempercayai tatanan tertentu bukan karena tatanan itu benar secara objektif, namun karena kalau mempercayainya, kita bisa bekerja sama secara efektif dan menjadikan masyarakat yang lebih baik.

(hlm. 132)

Tatanan alami adalah tatanan yang stabil. Mustahil gravitasi akan berhenti berfungsi esok hari, bahkan kalaupun manusia berhenti mempercayainya. Sebaliknya, tatanan khayalan selalu menghadapi bahaya runtuh, karena tatanan semacam itu bergantung kepada mitos, dan mitos lenyap begitu manusia berhenti mempercayainya.

(hlm. 133)

Di antara semua kegiatan bersama manusia, yang paling sulit diorganisasi adalah kekerasan. Bila kita mengatakan bahwa tatanan sosial dipertahankan oleh kekuatan militer, kontan muncul pertanyaan: Apa yang mempertahankan tatanan militer? Mustahil mengorganisasi balatentara hanya dengan paksaan. Setidaknya sebagian panglima dan prajurit harus benar-benar mengimani sesuatu, entah itu Tuhan, kehormatan, tanah air, kejantanan, ataupun uang.

Pertanyaan yang lebih menarik lagi adalah mengenai orang-orang yang berdiri di puncak piramida sosial. Mengapa mereka ingin menerapkan suatu tatanan khayalan kalau mereka sendiri tidak mengimaninya?

(hlm. 135-136)

Dinding-Dinding Penjara

Tiga faktor utama yang mencegah manusia menyadari bahwa tatanan yang mengorganisasi hidup mereka hanya ada dalam imajinasi mereka adalah:

  1. Tatanan khayalan itu tertanam di dunia material.
  2. Tatanan khayalan itu membentuk hasrat kita

(hlm. 137)

Romantisme memberitahu kita bahwa guna memanfaatkan potensi manusiawi kita semaksimal mungkin kita harus memiliki sebanyak mungkin pengalaman berbeda. Kita harus membuka diri kepada kisaran emosi yang luas; kita harus mencicipi berbagai macam hubungan; kita harus mencoba bermacam-macam hidangan; kita harus belajar menghargai gaya-gaya musik yang berbeda. Salah satu cara terbaik untuk melakukan itu semua adalah membebaskan diri dari rutinitas harian, meninggalkan latar yang kita akrabi, dan pergi menjelajah ke negara-negara jauh, di mana kita bisa “mengalami” budaya, bau, rasa makanan, dan norma orang-orang lain. Kita mendengar lagi dan lagi mitos-mitos romantik mengenai “bagaimana pengalaman yang baru membuka mata saya dan mengubah hidup saya”.

(hlm. 139)

Tatanan khayalan itu bersifat antar-subjektif

Fenomena objektif hadir terlepas dari kesadaran manusia dan kepercayaan manusia. Radioaktivitas, misalnya, bukanlah mitos.

Hal yang subjektif adalah sesuatu yang keberadaannya bergantung kepada kesadaran dan kepercayaan seseorang.

(hlm. 140)

Hal yang antar-subjektif adalah sesuatu yang ada dalam jejaring komunikasi yang menautkan kesadaran subjektif banyak individu.

Seperti itu juga, dolar, hak asasi manusia, dan Amerika Serikat hadir dalam imajinasi bersama miliaran orang, dan seorang individu saja tidak bisa mengancam keberadaan hal-hal itu. Bila saya sendirian berhenti mempercayai dolar, hak asasi manusia, atau Amerika Serikat, itu tak akan berpengaruh besar. Tatanan-tatanan khayalan itu bersifat antar-subjektif, sehingga agar bisa mengubah mereka kita harus secara bersamaan mengubah kesadaran miliaran orang, dan itu tidak mudah. Perubahan sebesar itu hanya bisa dilaksanakan dengan bantuan organisasi kompleks, seperti partai politik, gerakan indeologis, atau kultus agama. Tapi guna mendirikan organisasi kompleks semacam itu kita harus meyakinkan banyak orang yang tak saling kenal untuk saling bekerja sama. Dan itu hanya akan terjadi bila orang-orang yang tak saling kenal mempercayai mitos-mitos bersama. Jadinya, untuk mengubah tatanan khayalan yang ada, pertama-tama kita harus mempercayai suatu tatanan khayalan alternatif

(hlm. 141)

Untuk melenyapkan Peugeot, misalnua, kita butuh membayangkan sesuatu yang lebih berkuasa, misalnya sistem hukum Prancis. Untuk melenyapkan sistem hukum Prancis kita perlu membayangkan sesuatu yang bahkan lebih berkuasa lagi, misalnya negara Prancis. Dan bila kita hendak melenyapkan negara Prancis juga, kita harus membayangkan sesuatu yang lebih berkuasa lagi.

Tidak ada cara keluar dari tatanan khayalan. Ketika kita merubuhkan dinding-dinding penjara kita dan berlari menuju kebebasan, kita sebenarnya berlari ke halaman luas penjara yang lebih besar.

(hlm. 143)

7. Ingatan Kepenuhan

Karena tatanan sosial Sapiens bersifat khayali, manusia tidak bisa melestarikan informasi teramat penting untk menjalankannya hanya dengan membuat salinan DNA-nya untuk diwariskan kepada keturunan. Harus dilakukan upaya sadar untuk mempertahankan hukum, adat-istiadat, prosedur, adab, kalau tidak tatanan sosial akan runtuk dengan cepat.

(hlm. 146)

Orang-orang pertama yang berhasil mengatasi masalah itu adalah bangsa Sumer Kuno, yang hidup di Mesopotamia selatan. Di sana, Matahari terik menyinari dataran-dataran berlumpur yang subur, menghasilkan panen melimpah dan kota-kota makmur. Seiring semakin banyaknya penduduk, semakin banyak pula informasi yang dibutuhkan untuk mengoordinasi kegiatan mereka. Antara 3500 SM dan 3000 SM, sejumlah orang jenius Sumer menciptakan sistem untuk menyimpan dan mengolah informasi di luar otak, suatu sistem yang dirancang sedemikian rupa untuk mengurusi data matematis dalam jumlah besar. Orang-orang Sumer pun melepaskan tatanan sosial mereka dari keterbatasan otak manusia, membuka jalan bagi kemunculan kota-kota, kerajaan-kerajaan, dan imperium-imperium. Sistem pengolahan data yang diciptakan oleh orang-orang Sumer disebut “tulisan”.

Tertanda, Kushim

TULISAN adalah cara untuk menyimpan informasi melalui tanda-tanda material.

(hlm. 147)

Lempeng batu dengan tulisan administratif dari kota Uruk, kira-kira 3400-3000 SM. “Kushim” munkin merupakan gelar umum pemegang jabatan, atau nama seseorang. Bila kushim memang nama seseorang, dia bisa jadi individu pertama dalam sejarah yang namanya kita kenali!

(hlm. 148)

Aksara penuh adalah sistem tanda material yang bisa melambangkan bahasa lisan secara kurang-lebih sempurna. Oleh karena itu aksara penuh dapat mengekspresikan segala sesuatu yang orang katakan, termasuk puisi. Sedangkan aksara parsial adalah sistem tanda material yang hanya dapat melambangkan jenis-jenis informasi tertentu, yang berasal dari bidang aktivitas terbatas.

(hlm. 150)

Keajaiban Birokrasi

(hlm. 152)

Mereka saling hardik, adu mulut, dan mulai saling mendorong sebelum mereka menyadari bahwa mereka bisa menyelesaikan perselisihan dengan cara mendatangi arsip kerajaan, tempat disimpannya perjanjian dan resi penjualan yang berlaku bagi semua lahan di kerajaan.

(hlm. 154)

Agar berfungsi, orang-orang yang mengoprasikan sistem laci semacam itu harus diprogram ulang agar berhenti berpikir sebagai manusia dan mulai berpikir sebagai kerani dan akuntan.

(hlm. 155)

Bahasa Angka

(hlm. 156)

Satu persamaan untuk menghitung percepatan massa di bawah pengaruh gravitasi, menurut Teori Relativitas.

(hlm. 158)

8. Tidak Ada Keadilan dalam Sejarah

PEMAHAMAN sejarah manusia dalam ribuan tahun setelah Revolusi Pertanian mengerucut ke satu pertanyaan: bagaimana manusia mengorganisasi diri ke dalam jejaring kerja sama massal, padahal manusia tidak memiliki naluri biologis yang dibutuhkan untuk mempertahankan jejaring semacam itu? Jawaban ringkasnya adalah bahwa manusia menciptakan tatanan khayalan dan merancang aksara. Kedua ciptaan ini mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh warisan biologis kita.

(hlm. 159)

Dalam pandangan mereka, kesetaraan hanya berarti bahwa hukum yang sama berlaku kepada orang kaya dan orang miskin. Tidak ada hubungannya dengan tunjangan pengangguran, pendidikan terintegrasi, ataupun asuransi kesehatan.

(hlm. 160)

Setiap hierarki khayalan menyangkal asal-muasal fiktifnya dan mendaku sebagai sesuatu yang alami dan tak terhindarkan.

(hlm. 161)

Bila kita menerima penjelasan itu, maka perbedaan-perbedaan sosiopolitik antara kasta Brahmana dan Sudra menjadi alami dan abadi laksana perbedaan antara Matahari dan Bulan.1 Orang-orang Tiongkok kuno percaya bahwa ketika dewi Nü Wa menciptakan manusiadari tanah, dia mengulen kaum ningrat dari tanah kuning halus, sementara rakyat jelata dari lumpur coklat.2

Namun, sepemahaman kita, semua hierarki itu adalah produk imajinasi manusia.

(hlm. 162)

Hierarki punya fungsi penting. Hierarki memungkinkan orang-orang yang sepenuhnya tidak saling mengenal tahu bagaimana memperlakukan orang lain tanpa membuang-buang waktu dan energi yang dibutuhkan untuk menjadi akrab secara pribadi. Dalam Pygmalion karya George Bernard Shaw, Henry Higgins tidak butuh menjalin perkenalan akrab dengan Eliza Doolittle guna memahami bagaimana dia seharusnya berhubungan dengannya. Mendengar Eliza berbicara sudah cukup bagi Henry untuk mengetahui bahwa Eliza adalah anggota kelas bawah yang bisa dia perlakukan seenaknya—misalnya, dimanfaatkan sebagai pion dalam taruhan menyamarkan gadis penjual bunga menjadi seorang perempuan bangsawan.

(hlm. 164)

Lingkaran Setan

Misalnya, banyak cendekiawan menyimpulkanbahwa sistem kasta Hindu mulai terbentuk ketika orang-orang Indo-Arya menyerbu anak benua India sekitar 3.000 tahun silam, menundukkan populasi setempat.

(hlm. 165)

Bila kita ingin mengisolasi kelompok manusia mana pun—perempuan, Yahudi, Roma (Gipsi), homoseksual, kulit hitam—cara terbaik untuk melakukannya adalah meyakinkan setiap orang bahwa kelompok itu merupakan sumber pencemaran.

Kasta-kasta tidak kebal terhadap perubahan. Bahkan, seiring berlalunya waktu, kasta-kasta besar terbagi-bagi menjadi subkasta-subkasta. Pada akhirnya keempat kasta asli berkembang menjadi 3.000 pengelompokan yang disebut jati (arti harfiahnya “kelahiran”). Namun perkembangbiakan kasta tidak mengubah asas dasar sistem itu, yang menyatakan setiap orang terlahir dengan peringkat tertentu, dan pelanggaran terhadap aturan sistem kasta mencemari orang itu serta masyarakat secara keseluruhan. Jati seseorang menentukan profesinya, makanan yang boleh dia santap, tempat tinggalnya, dan orang-orang yang boleh dia nikahi. Biasanya seseorang hanya boleh menikah dengan sesama orang satu kasta, dan anak-anak yang dilahirkan mewarisi status kasta orangtuanya.

(hlm. 167)

Kemurnian di Amerika

Secara paradoks, keunggulan genetik (kekebalan) malah menjelma menjadi kelemahan sosial: justru karena orang-orang Afrika lebih cocok untuk iklim tropis daripada orang-orang Eropa, mereka menjadi budak majikan Eropa!

(hlm. 170)

(penelitian-penelitian tersebut mengabaikan kenyataan bahwa “fakta-fakta” itu adalah akibat diskriminasi terhadap orang-orang berkulit hitam).

(hlm. 171)

Orang-orang yang pernah menjadi korban dalam sejarah berkemungkinan akan menjadi korban lagi. Sementara orang-orang yang memperoleh keistimewaan dalam sejarah berkemungkinan memperoleh keistimewaan lagi.

(hlm. 173)

Kaum Adam dan Kaum Hawa

Alkitab menyatakan bahwa “Apabila seseorang bertemu dengan seorang gadis, yang masih perawan dan belum bertunangan, memaksa gadis itu tidur dengan dia, dan keduanya kedapatan, maka haruslah laki-laki yang sudah tidur dengan gadis itu memberikan lima puluh syikal perak kepada ayah gadis itu, dan gadis itu haruslah menjadi istrinya” (Ulangan 22:28—9). Orang-orang Ibrani kuno menganggap penyelesaian itu masuk akal.

APAKAH pembagian menjadi laki-laki dan perempuan merupakan produk imajinasi, seperti sistem kasta di India dan sistem rasial di Amerika, ataukah pembagian alami dengan akar-akar biologis yang dalam? Dan kalau memang pembagian alami, adakah penjelasan biologis mengapa laki-laki dianggap lebih tinggi daripada perempuan?

(hlm. 175)

Bagaimana kita bisa membedakan antara apa yang merupakan ketetapan biologis? Aturan dasar yang bagus adalah “Biologi memungkinkan, Budaya melarang”.

(hlm. 177)

Keragaman tugas serupa juga berlaku bagi organ dan perilaku seksual kita. Seks pertama kali berevolusi untuk prokreasi (menghasilkan keturunan) sementara ritual pencumbuan awalnya adalah cara mengukur kebugaran calon pasangan kawin. Namun banyak hewan kini memanfaatkan keduanya untuk berbagai macam tujuan sosial yang tidak banyak kaitannya dengan menciptakan salinan-salinan kecil diri mereka. Simpanse, misalnya, memanfaatkan seks untuk menjalin persekutuan politik, memperkuat keakraban, dan mengurangi ketegangan. Tidak alamikah itu?

Jenis Kelamin dan Gender

(hlm. 179)

Guna mengurangi kebingungan, cendekiawan biasanya membedakan antara “jenis kelamin”, yang merupakan kategori biologis, dengan “gender”, kategori budaya.

(hlm. 185)

Tenaga Otot

Bila yang berarti hanyalah kemampuan fisik kasar, Sapiens akan mendarat di anak tangga tengah. Namun keahlian mental dan sosial menempatkan Sapiens di puncak. Oleh karena itu wajar saja bila rantai kekuasaan di dalam spesies itu juga lebih ditentukan oleh kemampuan mental dan sosial daripada kekuatan brutal. Maka, sulit dipercaya bahwa hierarki sosial paling berpengaruh dan paling stabil dalam sejarah didasari oleh kemampuan laki-laki untuk menundukkan perempuan secara fisik.

(hlm. 187)

Sampah Masyarakat

Untuk mengelola perang, memang stamina diperlukan, namun kekuatan fisik atau keagresifan tidak terlalu dibutuhkan. Perang bukanlah perkelahian di bar. Perang adalah proyek sangat kompleks yang membutuhkan organisasi, kerja sama, dan kemampuan membujuk dengan derajat luar biasa tinggi.

Augustus yang tidak kompeten dari segi militer sukses mendirikan rezim kekaisaran yang stabil, mencapai prestasi yang luput dari tangan Julius Caesar maupun Alexander Agung, yang sama-sama merupakan jenderal yang lebih piawai. Baik rekan-rekan semasanya yang mengaguminya maupun para ahli sejarah modern kerap mengatakan bahwa pencapaiannya itu disebabkan oleh sifat clementia—lembut hati dan welas asih—yang Augustus miliki.

(hlm. 188-189)

Gen Patriarkis

Sewaktu laki-laki saling bersaing memperebutkan kesempatan untuk menghamili perempuan subur, kesempatan reproduksi seorang laki-laki bergantung terutama kepada kemampuannya untuk mengalahkan dan menundukkan laki-laki lain. Seiring berlalunya waktu, gen-gen maskulin yang diturunkan ke generasi berikutnya adalah yang dimiliki oleh laki-laki paling ambisius, agresif, dan kompetitif.

Guna memastikan kelangsungan hidupnya sendiri dan anak-anaknya, perempuan itu tak punya banyak pilihan selain menyetujui syarat apa pun yang ditetapkan laki-laki agar si laki-laki mau tetap bersamanya dan berbagi beban. Seiring berlalunya waktu, gen-gen feminin yang diturunkan ke generasi berikutnya adalah yang dimiliki perempuan-perempuan yang merupakan perawat bersifat patuh. Perempuan yang menghabiskan terlalu banyak waktu bertarung memperebutkan kekuasaan tidak meninggalkan gen-gen digdaya itu unuk generasi-generasi berikutnya.

Hasil strategi-strategi kelestarian yang berbeda itu—demikian menurut teorinya—adalah laki-laki terprogram untuk menjadi ambisius dan kompetitif, mengejar keunggulan dalam politik dan bisnis, sementara perempuan cenderung meminggirkan diri danmencurahkan kehidupan untuk membesarkan anak-anak.

(hlm. 190)

Tapi yang kita tahu adalah bahwa selama satu abad terakhir peran-peran gender telah mengalami revolusi besar-besaran. Semakin banyak masyarakat kini memberikan status hukum, hak politik, dan kesempatan ekonomi yang setara bagi laki-laki maupun perempuan. Walaupun kesenjangan gender masih besar, perubahan bergerak dengan kecepatan luar biasa. Ketika pada 1913 para pejuang hak pilih perempuan mencengangkan publik As dengan tuntutan menghebohkan mereka agar perempuan diberi hak pilih, siapa yang bermimpi bahwa pada 2013, lima hakim Mahkamah Agung AS, tiga di antaranya perempuan, memutuskan mendukung legalisasi pernikahan sesama jenis (mengalahkan keberatan empat hakum laki-laki)?

Perubahan-perubahan dramatis itulah yang membuat sejarah gendar sedemikian membingungkan. Bila, seperti yang tampak dengan sedemikian jelas sekarang, sistem patriarkis didasari mitos-mitos tak berdasar dan bukan fakta-fakta biologis, maka apa yang menyebabkan sistem itu sedemikian universal dan stabil?

(hlm. 191)

BAGIAN III

Pemersatu Umat Manusia

9. Anak Panah Sejarah

(hlm. 194)

Tidak seperti hukum-hukum fisika, yang bebas dari ketidakkonsistenan, setiap tatanan buatan manusia disarati kontradiksi internal. Kebudayaan senantiasa berupaya mendamaikan kontradiksi-kontradiksi itu, dan proses tersebut mendorong perubahan.

(hlm. 195)

Sewaktu berlaga dalam Perang Salib, para ksatria bisa memamerkan kepiawaian militer dan kesalehan sekaligus.

Satu contoh lagi adalah tatanan politik modern. Sejak Revolusi Prancis, orang-orang di seluruh dunia berangsur-angsur memandang kesetaraan dan kebebasan individu sebagai nilai-nilai mendasar. Namun kedua nilai itu saling berkontradiksi. Kesetaraan hanya bisa diwujudkan dengan membatasi kebebasan orang-orang yang berkeadaan lebih baik. Menjamin bahwa setiap individu bebas melakukan apa pun yang dia inginkan tak pelak mencurangi kesetaraan. Seluruh riwayat politik dunia sejak 1789 dapat dipandang sebagai serangkaian upaya mendamaikan kontradiksi ini.

(hlm. 196)

Kontradiksi-kontradiksi semacam itu adalah bagian tak terpisahkan di setiap kebudayaan manusia.

(hlm. 197)

Bila Anda benar-benar ingin memahami, misalnya, orang-orang Muslim yang persi shalat di masjid di ujung jalan, jangan mencari-cari serangkaian nilai sempurna yang dianggap penting setiap Muslim. Jutru, pelajarilah dilema kebudayaan Muslim, di mana aturan-aturan bertabrakan dan standar-standar berselisih. Tepat di tempat kaum Muslim terombang-ambing di antara dua hal yang sangat penting, di situlah Anda akan paling bisa memahami mereka.

(hlm. 200)

Satelit Mata-mata

Si raksasa Afro-Asia butuh beberapa abad untuk mencerna semua yang dia telan, namun proses itu tak lagi dapat dibalikkan. Kini nyaris semua manusia menganut sistem geopolitik yang sama (keseluruhan planet terbagi-bagi menjadi negara-negara yang diakui secara internasional); sistem ekonomi yang sama (kekuatan pasar kapitalis menyentuh bahkan sudut-sudut terjauh di dunia); sistem hukum yang sama (hak asasi dan hukum internasional berlaku di mana saja, setidaknya secara teori); dan sistem sains yang sama (pakar-pakar di Iran, Israel, Australia, maupun Argentina memiliki pandangan yang tepat sama tentang struktur atom atau cara pengobatan tuberkolosis).

(hlm. 203-204)

Visi Global

Millenium pertama SM menjadi saksi kemunculan tiga tatanan berpotensi universal, yang penganut-penganutnya untuk pertama kali bisa membayangkan seluruh dunia dan seluruh umat manusia sebagai satu kesatuan yang diatur oleh seperangkat hukum tunggal. Semua orang adalah “kita”, setidaknya secara potensial. Tidak lagi ada “mereka”. Tatanan universal pertama yang muncul bersifat ekonomik: tatanan moneter. Tatanan universal kedua bersifat politik: tatanan imperium. Tatanan universal ketiga bersifat religius: tatanan agama-agama universal seperti Buddha, Kristen, dan Islam.

Para saudagar, penakluk, dan nabi adalah orang-orang pertama yang berhasil melampaui pembagian biner evolusi, “kita vs mereka”, dan melihat potensi penyatuan umat manusia. Bagi para saudagar, seluruh dunia adalah satu pasar tunggal dan semua manusia merupakan pelanggan potensial. Mereka mencoba mendirikan tatanan ekonomi yang berlaku bagi semua orang, di mana pun. Bagi para penakluk, keseluruhan dunia adalah satu imperium tunggal dan setiap manusia adalah rakyat potensial, sementara bagi para nabi, keseluruhan dunia memegang satu kebenaran tungal dan semua manusia merupakan orang beriman potensial. Mereka juga mencoba mendirikan tatanan yang berlaku bagi siapa pun di mana pun.

Bagaimana bisa uang berhasil padahal tuhan dan raja gagal?

10. Harum Uang

(hlm. 209)

Dalam ekonomi barter, setiap hari pembuat sepatu dan petani apel harus mempelajari ulang harga-harga relatif lusinan komoditas. Bila seratus komoditas berbeda diperdagangkan di pasar, maka penjual dan pembeli harus mengetahui 4.950 kurs pertukaran. Dan bila ada 1.000 komoditas berbeda yang diperdagangkan, penjual dan pembeli harus berurusan dengan 499.500 kurs pertukaran!5 Bagaimana mengatasinya?

Sejumlah masyarakat mencoba memecahkan masalah itu dengan mendirikan sistem barter sentral yang mengumpulkan produk-produk dari pembudidaya dan pengrajin spesialis dan membagikannya kepada yang membutuhkan. Percobaan semacam itu yang paling besar dan paling terkenal dilakukan di Uni Soviet, dan gagal total. “Setiap orang bekerja sesuai kemampuannya, dan menerima sesuai yang dia butuhkan” pada praktiknya berubah menjadi “setiap orang bekerja sesedikit mungkin, dan menerima sebanyak yang bisa mereka sambar”.

(hlm. 210)

Cangkang dan Rokok

UANG diciptakan berkali-kali di banyak tempat. Pengembangannya tidak memerlukan terobosan teknologi—melainkan sepenuhnya revolusi mental.

(hlm. 211)

Bahkan, hingga kini uang logam dan uang kertas merupakan bentuk uang yang langka. Pada 2006, total jumlah uang di dunia adalah sekitar $473 triliun, namun jumlah total uang logam dan uang kertas kurang daripada $47 triliun.7 Lebih daripada 90 persen uang—lebih daripada $400 triliun yang muncul di rekening kita—hanya ada di server-server komputer.

Uang juga membebaskan petani apel dari keharusan.

Ini barangkali merupakan sifat uang yang paling dasar. Setiap orang selalu menginginkan uang karena semua orang lain juga selalu menginginkan uang, yang berarti kita bisa mempertukarkan uang dengan apa pun yang kita inginkan atau butuhkan.

(hlm. 213)

Bagaimana Uang Bekerja?

CANGKANG bilalu dan dolar memiliki nilai hanya dalam imajinasi kita bersama.

Orang-orang bersedia melakukan hal-hal semacam itu sewaktu mereka mempercayai potongan-potongan imajinasi kolektif mereka. Kepercayaan adalah bahan mentah yang digunakan untuk mencetak semua jenis uang.

(hlm. 214)

Uang adalah sistem kesaling-percayaan paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan.

(hlm. 217)

Itulah mengapa memalsukan uang selalu dianggap sebagai kejahatan yang jauh lebih serius daripada penipuan jenis lain. Memalsukan uang bukan hanya berbuat curang—itu adalah pelanggaran terhadap kedaulatan, tindakan subversi melawan kekuasaan, hak istimewa, dan pribadi sang raja. Istilah hukumnya adalah lese-majeste (melanggar kemuliaan), dan biasanya dihukum dengan siksaan dan kematian.

(hlm. 218)

Kaidah Emas

Dinar masih merupakan nama resmi mata uang di Yordania, Irak, Serbia, Makedonia, Tunisia, dan beberapa negara lain.

(hlm. 223)

11. Visi Imperial

(hlm. 224)

Scipio, yang menghormati semangat bertarung dan keahlian bela diri orang-orang Numantia, memilih untuk tidak menyia-nyiakan prajuritnya dalam adu fisik yang tidak dibutuhkan. Dia malah menegepung Numantia dengan barisan kubu, memblokir kontak kota itu dengan dunia luar. Kelaparan membantu dia mencapai tujuan. Seolah setahun lebih, persediaan makanan Numantia menipis. Ketika orang-orang Numantia menyadari bahwa semua harapan mereka telah kandas, mereka membakar kota; menurut catatan-catatan Romawi, sebagian besar mereka bunuh diri agar tidak menjadi budak Romawi.

Kita ingin melihat orang-orang yang diremehkan menang. Namun tidak ada keadilan dalam sejarah. Kebanyakan kebudayaan masa silam cepat atau lambat menjadi mangsa balatentara imperium yang keji, yang menggilas mereka sampai terhapuskan dari muka bumi. Imperium pun pada akhirnya runtuh, namun cenderung meninggalkan warisan yang kaya dan bertahan lama. Hampir semua orang pada abad ke -21 merupakan keturunan suatu imperium..

(hlm. 226)

Imperium tidak harus muncul dari penaklukan militer. Imperium Athena bermula sebagai suatu liga sukarela, sementara Imperium Habsburg terlahir dari pernikahan, disatukan oleh serangkaian persekutuan pernikahan culas. Imperium Britania, imperium terbesar dalam sejarah, diperintah oleh demokrasi.

Athena memerintah seartus lebih bekas negara-kota merdeka, sementara Imperium Aztek, bila kita bisa mempercayai catatan perpajakannya, memerintah 371 suku dan bangsa.1

(hlm. 227)

Imperium Jahat?

Kenyataan, imperium merupakan bentuk organisasi politik paling umum di dunia selama 2.500 tahun terakhir.

(hlm. 229)

Elite imperium menggunakan laba penaklukan untuk membiayai bukan hanya balatentara dan benteng, melainkan juga filosofi, seni, keadilan, dan amal.

(hlm. 230)

Kini sebagian besar kita berbicara, berpikir, dan bermimpi dalam bahasa-bahasa imperium yang tadinya dipaksakan kepada leluhur kita dengan pedang.

(hlm. 231)

Demi Kebaikanmu Sendiri

Kurusy tidak memandang dirinya sebagai raja Persia yang berkuasa atas orang-orang Yahudi—dia juga raja orang-orang Yahudi, sehingga bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka.

(hlm. 233)

Orang atau keluarga itu kemudian memerintah Segala Sesuatu di Bawah Langit (Tianxia) demi kepentingan semua penduduknya. Dengan demikian, kewenangan sah adalah—bersdasarkan definisi—bersifat universal.

(hlm. 235)

Ketika Mereka Menjadi Kita

Matahari tak pernah berhenti menyinari misi Britania untuk menyebarkan ajaran kembar liberalisme dan perdagangan bebas. Uni Soviet merasa terikat kewajiban untuk menggerakkan derap sejarah yang ttak terhentikan dari kapitalisme menuju kediktatoran utopia kaum proletar. Banyak orang Amerika Serikat kini percaya bahwa pemerintah AS memiliki kewajiban moral untuk menyebarkan manfaat-manfaat demokrasi dan hak asasi manusia ke negara-negara Dunia Ketiga, bahkan meskipun hal-hal itu diantarkan dengan rudal dan F-16.

(hlm. 237)

Pada 48 M Kaisar Claudius memasukkan sejumlah orang Galia kesohor ke dalam Senat, yang, katanya dalam pidato, “adat, budaya, dan ikatan pernikahannya telah membaur dengan kita sendiri”. Para senator yang congkak memprotes dimasukkannya mantan-mantan musuh itu ke jantung sistem politik Romawi. Claudius mengingatkan mereka akan satu kebenaran yang menohok. Kebanyakan keluarga para senator sendiri merupakan keturunan suku-suku yang dulu memerangi Roma, dan kemudian dianugerahi kewarganegaraan Romawi. Bahkan, sang kaisar mengingatkan mereka, keluarganya sendiri merupakan keturunan bangsa Sabini.5

(hlm. 239)

Selama 2.000 tahun lebih, beraneka kelompok etnik dan budaya yang tadinya disebut orang barbar sukses diintegrasikan ke dalam kebudayaan kekaisaran Tiongkok dan menjadi orang Han (dinamakan demikian menuruti nama Kekaisaran Han yang memerintah Tiongkok sejak 206 SM sampai 220 M).

(hlm. 234)

Berapa banyak orang India masa kini yang mau menyerukan pemungutan suara untuk menghapus demokrasi, bahasa inggris, jaringan kereta api, sistem hukum, kriket, dan teh dengan alasan semua itu merupakan warisan imperium?

(hlm. 247)

12. Hukum Agama

(hlm. 248)

Kini agama kerap dianggap sebagai salah satu sumber diskriminasi, perselisihan, dan perpecahan. Padahal kenyataannya, agama merupakan pemersatu akbar ketiga umat manusia, setelah uang dan imperium. Oleh karena semua tatanan dan hierarki sosial adalah hasil khayalan, semuanya rapuh, dan semakin besar ukurannya, semakin rapuh pula masyarakat. Peran krusial agama dalam sejarah adalah memberikan legitimasi adimanusiawi kepada struktur-struktur rapuh itu. Agama-agama menyatakan bahwa hukum-hukum kita bukanlah hasil olah pikir manusia, melainkan diperintahkan oleh otoritas mutlak dan mahakuasa. Ini membantu menempatkan setidaknya sejumlah hukum mendasar di luar jangkauan tantangan, sehingga memastikan stabilitas sosial.

  1. Agama menyatakan ada tatanan adimanusia (superhuman order), yang bukan merupakan produk olah pikir atau kesepakatan manusia.
  2. Berdasarkan tatanan adimanusia itu, agama menetepkan norma-norma dan nilai-nilai yang dianggapnya mengikat.

(hlm. 249)

Pertama, agama harus mendukung keberadaan tatanan adimanusiawi universal yang berlaku kapan pun dan dimana pun. Kedua, agama harus bersikeras menyebarkan kepercayaan itu kepada setiap orang. Dengan kata lain, agama harus bersifat universal dan berdakwah (missionary).

Padahal mayoritas agama kuno bersifat lokal dan eksklusif. Para pengikut mereka mempercayai dewa-dewi dan arwah lokal, dan tidak tertarik membuat seluruh umat manusia berpindah agama. Sejauh yang kita tahu, agama-agama universal dan berdakwah baru muncul pada milenium ke-1 SM. Kemunculan agama universal adalah salah satu revolusi terpenting dalam sejarah, dan memberikan sumbangsih vital kepada pemersatuan umat manusia, mirip sekali dengan kemunculan imperium universal dan uang universal.

(hlm. 257)

Tuhan Itu Satu

Agama monoteistik pertama yang kita ketahui muncul di Mesir, kira-kira 350 SM, ketika Firaun Akhenaten memaklumatkan bahwa salah satu dewa rendah dalam jajaran dewa-dewi Mesir, dewa Aten, sebenarnya merupakan kekuatan tertinggi yang mengatur alam semesta.

Terobosan besar datang bersama agama Kristen. Agama Kristen bermula sebagai satu sekte esoterik Yahudi yang berupaya meyakinkan orang-orang Yahudi bahwa Yesus dari Nazaret adalah juru selamat yang telah lama mereka tunggu-tunggu. Tapi salah seorang pemimpin pertama sekte tersebut, Paulus dari Tarsus, berpikir bahwa bila kekuatan tertinggi di alam semesta memiliki kepentingan dan bias, dan bia Dia repot-repot berinkarnasi menjadi manusia dan mati di salib demi keselamatan umat manusia, maka itu sesuatu yang perlu didengar semua orang, bukan hanya orang-orang Yahudi. Oleh karena itu perlu untuk menyebarkan kabar baik—Injil—mengenai Yesus ke seluruh dunia.

(hlm. 258)

Para penganut monoteisme cenderung jauh lebih fanatik dan gemar berdakwah daripada penganut politeisme. Agama yang mengakui keabsahan kepercayaan-kepercayaan lain menyiratkan bahwa tuhannya bukanlah kekuatan tertinggi di alam semesta, atau bahwa agama tersebut menerima hanya sebagian kebenaran universal dari Tuhan. Oleh karena para penganut monoteisme selama ini biasanya mempercayai bahwa mereka memegang keseluruhan pesan dari satu-satunya Tuhan, mereka telah terdorong untuk menyangkal semua agama lain. Selama dua ribu tahun terakhir, para pengikut monoteisme berulang-ulang mencoba memperkuat posisi dengan melenyapkan semua pesaing—kadang lewat kekerasan.

Upaya itu berhasil. Pada awal abad ke-1 M, nyaris tidak ada penganut monoteisme di dunia. Sekitar 500 M, salah satu imperium terbesar di dunia—Kekaisaran Romawi—merupakan negara Kristen, dan para misionaris sibuk menyebarkan agama Kristen ke bagian-bagian lain Eropa, Asia, dan Afrika.

(hlm. 259)

Dalam teori, begitu seseorang mempercayai bahwa kekuatan tertinggi di alam semesta memiliki kepentingan dan bias, apa gunanya memuja pemegang kekuatan parsial? Siapa yang ingin mendekati birokrat rendahan kalau kantor presiden bebas Anda masuki? Dan memang, tologi monoteistik cenderung membantah keberadaan semua dewa lain kecuali Tuhan yang mahakuasa, serta mengancamkan api neraka dan hujan batu bagi siapa pun yang berani memuja dewa-dewi lain itu.

(hlm. 260- 261)

Pertempuran Antara Kebaikan dan Kejahatan

POLITEISME melahirkan bukan hanya agama-agam monoteistik, melainkan juga agama-agama dualistik. Agama-agama dualistik mempercayai keberadaan dua kekuatan yang bertentangan: kebaikan dan kejahatan

Dualisme merupakan cara pandang dunia yang sangat menarik karena memiliki jawaban pendek dan sederhana bagi Pertanyaan Mengenai Kejahatan (Problem of Evil) yang terkenal, salah satu perkara mendasar dalam pemikiran manusia. “Mengapa ada kejahatan di dunia ini? Mengapa ada penderitaan? Mengapa hal-hal buruk terjadi kepada orang-orang baik?” Para pengikut monoteisme harus berakrobat intelektual untuk menjelaskan bagaimana Tuhan yang Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Baik membiarkan sedemikian banyak penderitaan di dunia ini. Salah satu penjelasan yang dikenal luas adalah bahwa itulah cara Tuhan memungkinkan adanya kehendak bebas manusia. Bila tidak ada kejahatan, manusia tidak bisa memilih antara kebaikan dan kejahatan, sehingga tidak akan ada kehendak bebas. Tapi itu jawaban tak intuitif yang kontan memancing banyak pertanyaan baru. Kehendak bebas memungkinkan manusia memilih kejahatan. Memang banyak yang memilih kejahatan, dan menurut keterangan monoteisme standar, pilihan itu akan menyebabkan hukuman Tuhan dijatuhkan. Tapi bila Tuhan tahu sejak awal bahwa seseorang akan menggunakan kehendak bebasnya untuk memilih kejahatan, dan bahwa sebagai akibatnya orang itu akan dihukum menderita selamanya di neraka, mengapa Tuhan menciptakan orang itu?

(hlm. 262)

Pandangandualis juga punya kekurangan. Betul, pandangan dualis menawarkan pemecahan yang sangat sederhana bagi Pertanyaan Mengenai Kejahatan. Namun dia kelimpungan menghadapi Pertanyaan Mengenai Keteraturan (Problem of Order). Bila ada dua kekuatan yang berlawanan di dunia ini, yang satu baik sementara yang satu lagi jahat, siapa yang menetapkan hukum-hukum yang mengatur pergelutan antara keduanya?

Ada satu cara logis untuk menjawab teka-teki tersebut: berargumen bahwa hanya ada satu Tuhan Maha Kuasa yang menciptakan segala sesuatu di seluruh dunia—dan Tuhan itu jahat. Namun tidak seorang pun dalam sejarah sanggup mencerna kepercayaan semacam itu.

Zoroastrianisme memandang dunia sebagai pertempuran kosmik antara dewa kebaikan Ahura Mazda dan dewa kejahatan Angra Mainyu.

(hlm. 263)

Tak terhitung banyaknnya orang Kristen, Muslim, dan Yahudi yang mempercayai suatu kekuatan jahat yang digdaya—seperti yang disebut orang-orang Kristen sebagai Iblis atau Setan—yang dapat bertindak secara mandiri, bertarung melawan Tuhan yang baik, dan menimbulkan kekacauan tanpa seizin Tuhan.

(hlm. 264)

Satu lagi konsep kunci dualisme, terutama dalam Gnostisisme dan Manikeisme, adalah pembedaan tegas antara raga dan jiwa, antara zat dan roh.

Para ahli agama memiliki nama bagi pengakuan bersamaan gagasan-gagasan berbeda dan bahkan kontradiktif serta kombinasi ritual dan praktik yang diambil dari sumber yang berbeda-beda. Istilahnya adalah sinkreatisme. Bahkan mungkin sinkreatisme adalah agama dunia yang paling besar.

(hlm. 265)

Hukum Alam

Contoh utama adalah agama Buddha, agama hukum alam kuno yang paling penting, yang tetap merupakan salah satu keyakinan terbesar di dunia saat ini.

(hlm. 268)

Latihan-latihan itu melatih akalbudi untuk memusatkan seluruh perhatian kepada pertanyaan, “Apa yang sedang kualami sekarang?” bukan “Apa yang aku lebih ingin alami daripada ini?” Sulit untuk mencapai kondisi akalbudi demikian, namun tidak mustahil.

Kesengsaraan muncul akibat keinginan; satu-satunya cara agar terbebaskan sepenuhnya dari penderitaan adalah dengan menjadi terbebaskan sepenuhnya dari keinginan; dan satu-satunya cara terbebas dari keinginan adalah melatih akalbudi untuk mengalami realitas secara apa adanya.

(hlm. 269)

Asas pertama agama monoteistik adalah “Tuhan ada. Apa yang dia inginkan dariku?” Asas pertama agama Buddha adalah “Kesengsaraan ada. Bagaimana meloloskan diri darinya?”

Bila akalbudi seseorang terbebas dari keinginan, maka tidak ada dewa yang bisa membuatnya sengsara. Sebaliknya, begitu akalbudi seseorang digelayuti perasaan ingin, semua dewa di alam semesta tidak bisa menyelamatkannya dari kesengsaraan.

(hlm. 270)

Pemujaan Terhadap Manusia

Zaman modern telah menyaksikan kebangkitan seumlah agama-agama hukum alam yang baru, seperti liberalisme, Komunisme, kapitalisme, nasionalisme, dan Nazisme. Ajaran-ajaran itu tidak suka disebut agama, dan menyebut diri sebagai ideologi. Namun ini hanya permainan kata.

(hlm. 271)

Komunisme memiliki ahli-ahli teologi yang menguasai dialektika Marxis, dan setiap komisar, yang memantau kepatuhan para prajurit dan perwira. Komunisme memiliki martir, perang suci, dan bid’ah, semisal Trotskyisme.

(hlm. 273)

Kini, sekte humanisme terpenting adalah humanisme liberal, yang mempercayai bahwa “kemanusiaan” adalah suatu sifat individu-individu manusia, dan bahwa kebebasan individu karenanya bersifat paling keramat.

(hlm. 274)

Walaupun mengeramatkan manusia, humanisme liberal tidak membantah keberadaan Tuhan, dan bahkan sebenarnya didirikan berlandaskan kepercayaan-kepercayaan monotesitik. Kepercayaan liberal akan hakikat merdeka dan sakral setiap individu adalah warisan langsung kepercayaan tradisional Kristen akan jiwa-jiwa individu yang merdeka dan abadi. Seandainya tidak ada jiwa abadi dan Tuhan Pencipta, maka secara memalukan kaum liberal akan kesulitan menjelaskan apa yang sedemikian istimewa perihal individu Sapiens.

Satu lagi sekte penting adalah humanisme sosialis. Kaum sosialis percaya bahwa “kemanusiaan” bersifat kolektif, bukan individualistik.

(hlm. 275)

Seperti humanisme liberal, humanisme sosialis dibangun di atas landasan-landasan monoteistik. Gagasan bahwa semua manusia setara adalah versi baru pengakuan monoteistik bahwa semua jiwa setara di hadapan Tuhan. Satu-satunya sekte humanis yang terlepas dari monoteisme tradisional adalah humanisme evolusioner, yang wakil paling terkenalnya adalah Nazi. Yang membedakan Nazi dengan sekte-sekte humanis lain adalah definisi Nazi yang berbeda mengenai “kemanusiaan”, definisi yang sangat dipengaruhi oleh teori evolusi. Berbeda dengan para humanis lain, Nazi percaya bahwa umat manusia bukanlah sesuatu yang universal dan kekal, melainkan spesies yang dapat berubah, baik itu berevolusi ataupun berdegenerasi. Manusia bisa berevolusi menjadi adimanusia, atau berdegenerasi menjadi submanusia.

(hlm. 276)

Agama-agama Humanis:

Agama-agama yang Memuja Kemanusiaan

Bila dibiarkan berbiak, terutama kawin campur dengan orang-orang Arya, mereka akan mencemari semua populasi manusia dan mendorong Homo sapiens ke arah kepunahan.

(hlm. 277)

Poster propaganda Nazi menunjukkan di sebelah kanan “seorang Arya ras murni” dan di sebelah kiri “hasil kawin silang”. Kekaguman Nazi terhadap tubuh manusia tampak jelas, demikian pula ketakutan mereka bahwa ras-ras yang lebih rendah dapat mencemari kemanusiaan dan menyebabkan degenerasi.

(hlm. 278)

Kebijakan White Australia yang membatasi imigrasi orang-orang yang tidak berkulit putih ke Australia tetap berlaku sampai 1973.

Nazi tidak membenci kemanusiaan. Nazi memerangi humanisme liberal, hak-hak asasi manusia, dan Komunisme justru karena mengagumi kemanusiaan dan mempercayai potensi besar spesies manusia. Namun mengikuti logika evolusi Darwinan, Nazi berargumen bahwa seleksi alam harus dibiarkan untuk membuang individu-individu paling sesuai untuk bertahan hidup dan bereproduksi.

(hlm. 280)

Para ilmuawan yang mempelajari bagian dalam organisme manusia tidak menemukan jiwa di situ. Mereka semakin kuat mendukung argumen bahwa perilaku manusia ditentukan oleh hormon, gen, dan sinapsis, bukan oleh kehendak bebas—kekuatan-kekuatan yng sama dengan menentukan perilaku simpanse, serigala, dan semut. Sebagian besar sistem pengadilan dan politik kita berupaya menyembunyikan semua temuan yang menggelisahkan itu. Namun, jujur saja, berapa lama kita bisa mempertahankan tembok yang memisahkan departemen biologi dari departemen hukum dan ilmu politik?

(hlm. 280)

13. Rahasia Keberhasilan

PERNIAGAAN, imperium, dan agama-agama universal pada akhirnya mempersatukan semua Sapiens di setiap benua menjadi dunia global tempat kita hidup kini.

Mengapa ada sekitar 2 miliar orang Kristen dan 1,2 miliar Muslim, namun hanya 150.000 penganut Zoroastrianisme dan nol penganut Manikeisme?

1. Sesaat Pikir Kilas Balik

Pada awal abad ke-4 Masehi, Kekaisaran Romawi menghadapi luar biasa banyaknya kemungkinan beragama.

(hlm. 283)

Ada bedanya menjabarkan “bagaimana” dan menjelaskan “mengapa”? menjabarkan “bagaimana” berartii menyusun ulang serangkaian peristiwa spesifik yang mengarah dari satu titik ke titik lain. Menjelaskan “mengapa” berarti menemukan hubungan sebab-akibat yang menyebabkan terjadinya serangkaian peristiwa spesifik itu dan bukan semua peristiwa lain.

Orang-orang yang mengetahui lebih banyak informasi mengenai periode tersebut jauh lebih menyadari jalan-jalan yang tidak diambil.

Sejatinya, orang-orang yang mengetahui periode tersebut secara paling baik–orang-orang yang hidup pada masa itu–adalah yang paling tidak paham apa-apa.

(hlm. 284)

Pada Oktober 1913, kaum Bolshevik adalah satu faksi radikal kecil di Rusia. Tidak ada orang berakal sehat yang akan memprediksi bahwa dalam tak lebih daripada empat tahun mereka akan menguasai seluruh negara tersebut.

Kekuatan geografis biologis, dan ekonomi menciptakan batas-batas. Namun batas-batas itu menyiksakan cukup ruang bagi perkembangan-perkembangan yang mengejutkan, yang seolah tidak terikat oleh hukum determinsik apa pun.

(hlm. 285)

Kesimpulan itu mengecewakan banyak orang, yang lebih menyukai sejarah yang deterministik. Determinisme memukai karena menyiratkan bahwa dunia kita dan kepercayaan-kepercayaan kita merupakan produk alami dan tak terhindarkan dalam sejarah.

Sejarah tidak bisa dijelaskan secara deterministik dan tidak bisa diprediksi karena sedemikian khaotik (chaotic).

Khaos tingkat dua adalah khaos yang bereaksi terhadap prediksi-prediksi mengenainya, sehingga tak pernah bisa diprediksi secara akurat. Pasar, misalnya, merupakan sistem khaotik tingkat dua. Apa yang akan terjadi bila kita mengembangkan program komputer yang memprakirakan dengan akurasi 100 persen harga minyak esok hari? Harga minyak akan langsung bereaksi terhadap prakiraan tersebut, sehingga prakiraan itu akan gagal mewujud.

(hlm. 286)

Politik juga merupakan sistem khaotik tingkat dua. Banyak orang yang mengkritik ahli-ahli Soviet karena gagal memperkirakan revolusi 1989 dan mencela pakar-pakar Timur Tengah karena tidak mengantisipasi revolusi Muslim Semi Arab pada 2011. Itu tidak adil. Revolusi pada dasarnya tidak bisa diprediksi. Revolusi yang bisa diprediksi tidak pernah pecah.

Jadi mengapa mempelajari sejarah? Tak seperti fisika atau ilmu ekonomi, sejarah bukanlah cara untuk membuat prediksi yang akurat. Kita mempelajari sejarah bukan untuk mengetahui masa depan melainkan untuk memperluas cakrawala kita, untuk mengerti bahwa

(hlm. 287)

2. Sejarah yang Buta

Situasi kita masa kini tidaklah alami atau tak terhindarkan, sehingga kita memiliki lebih banyak kemungkinan di hadapan kita yang bisa kita bayangkan.

Umat Islam mempercayai bahwa jatuhnya Kerajaan Sasania ke tangan Islam berfaedah bagi umat manusia. Namun faedah itu hanya terlihat bila kita semua saat ini lebih buruk seandainya dulu agama Kristen dan Islam terlupakan atau kalah.

(hlm. 288)

Sebaliknya, kebudayaan adalah parasit mental yang muncul secara tidak disengaja, dan sesudahnya itu memanfaatkan semua orang yang terinfeksi olehnya.

Pendekatan ini terkadang disebut memetika (memetics). Memetika mengasumsikan bahwa, sebagaimana evolusi organik didasari replikasi satuan-satuan informasi organik yang disebut “gen”, maka evolusi budaya didasari satuan-satuan informasi budaya yang disebut “meme”.1 Kebudayaan yang sukses adalah yang sangat baik dalam mereproduksi meme-memenya, terlepas dari apa pun kerugian dan keuntungan bagi manusia-manusia inangnya.

(hlm. 289)

Begitu rakyat di satu negara terinfeksi nasionalisme, rakyat negara-negara tetangga juga kemungkinan akan terserang infeksi yang sama. Virus nasionalis merasa dirinya berfaedah bagi manusa, padahal dia berfaedah terutama hanya bagi dirinya sendiri.

“Perlombaan senjata” adalah pola perilaku yang menyebarkan diri sendiri bagaikan virus dari satu negara ke negara lain, membahayakan setiap orang, namun mengguntungkan dirinya sendiri, sesuai kriteria evolusi yaitu kesintasan dan reproduksi. (Ingatlah bahwa perlombaan senjata, seperti gen, tidak punya kesadaran – dia tidak secara sadar berupaya bertahan hidup dan bereproduksi. Penyebarannya adalah hasil tak disengaja dari dinamika yang digdaya.)

(hlm. 290)

Mengapa, dari semua tempat, Revolusi Sains dimulai sana, bukan di Tiongkok atau India? Mengapa revolusi itu dimulai pada pertengahan milenium ke-2 Masehi, bukan dua abad sebelumnya atau tiga abad setelahnya? Kita tidak tahu. Para cendekiawan telah mengajukan lusinan teori, namun tidak ada yang benar-benar meyakinkan.

(hlm. 291)

BAGIAN IV
Revolusi Sains

(hlm. 293)

14. Penemuan Ketidaktahuan

Pada 1500, ada sekitar 500 juta Homo sapiens di seluruh dunia. Kini, ada 7 miliar.1 Nilai total barang dan jasa yang dihasilkan oleh umat manusia pada 1500 diperkirakan sebesar $250 miliar, dalam nilai dolar saat ini.2 Kini, nilai produksi manusia dalam setahun mendekati $60 triliun.3 Pada 1500, umat manusia mengonsumsi sekitar 1.500 triliun kalori sehari.4 (Coba tengok lagi angka-angka itu—populasi manusia telah meningkat empat belas kali lipat, produksi 240 kali lipat, dan konsumsi energi 115 kali lipat).

Sebelum abad ke 16, tidak ada manusia yang pernah mengelilingi Bumi. Itu berubah pada 1522, ketika kapal-kapal Magalhães kembali ke Spanyol setelah menempuh perjalanan sejauh 72.000 kilometer.

(hlm. 295)

Kini siapa pun dengan penghasilan kelas menengah dapat mengelilingi planet ini secara aman dan mudah dalam waktu empat puluh delapan jam saja.

Namun momen paling luar biasa dan paling menentukan dalam 500 tahun terakhir pada 05:29:45 tanggal 16 Juli 1945. Tepat pada detik itu, ilmuwan-ilmuwan Amerika meledakkan bom atom pertama di Alamogordo, New Mexico. Mulai saat itu, umat manusia memiliki kemampuan untuk bukan hanya mengubah jalan sejarah, melainkan juga mengakhirinya.

(hlm. 296)

Walaupun pemerintah dan orang kaya mengalokasikan dana untuk pendidikan dan beasiswa, pendidikannya secara umum adalah mempertahankan kemampuan yang ada, bukan memperoleh kemampuan baru.

Pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian itu telah memungkinkan pembangunan pembangkit listrik bertenaga nuklir, yang menyediakan listrik murah bagi industri-industri Amerika, yang membayar pajak kepada pemerintah AS, yang menggunakan sebagian pajak untuk membiayai penelitian lebih lanjut dalam fisika nuklir.

(hlm. 298)

  1. Kesediaan untuk mengakui ketidaktahuan. Sains modern didasari perkataan latin Ignoramus—“kami tidak tahu”.
  2. Sentralitas pengamatan dan matematika.
  3. Penguasaan kekuatan-kekuatan baru.

Tradisi-tradisi pengetahuan pramodern seperti agama Islam, agama Kristen, agama Buddha, dan ajaran Konghucu menyatakan bahwa segala sesuatu yang penting diketahui mengenai dunia ini telah diketahui.

(hlm. 299)

Tradisi-tradisi pengetahuan kuno hanya mengakui dua macam ketidaktahuan. Pertama-tama, seorang individu mungkin tidak mengetahui sesuatu yang penting.

Kedua, satu tradisi secara keseluruhan mungkin tidak tahu mengenai hal-hal yang tidak penting.

Agama Kristen tidak melarang orang mempelajari laba-laba. Namun para cendekiawan laba-laba—itu juga kalau ada di Eropa zaman pertengahan—harus menerima peran pinggiran mereka dalam masyarakat dan tiadanya hubungan temuan mereka dengan kebenaran-kebenaran abadi agama Kristen.

(hlm. 300)

Misalnya, Nabi Muhammad melalui karier keagamaannya dengan mencela sesama orang Arab karena hidup dalam kondisi kejahilan terhadap kebenaran ilahi. Namun dengan cepat Muhammad sendiri mulai menyatakan bahwa dia mengetahui kebenaran yang penuh, dan para pengikutnya mulai memanggilnya “Penutup Para Nabi”. Sejak saat itu, tidak dibutuhkan wahyu selain yang diberikan kepada Muhammad.

Sains zaman modern adalah tradisi pengetahuan yang unik, sejauh menyangkut pengakuan terbukanya akan ketidaktahuan kolektif mengenai pertanyaan-pertanyaan paling penting. Darwin tidak pernah menyatakan bahwa dia adalah “Penutup Para Ahli Biologi”, dan bahwa dia telah memecahkan teka-teki mengenai kehidupan seutuh-utuhnya.

Dalam kasus yang lain lagi, teori-teori tertentu didukung secara sangat konsisten oleh bukti yang tersedia, sehingga semua alternatif lain telah sejak lama tersingkirkan. Teori-teori tersebut dianggap sebagai benar—namun semua orang berargumen bahwa, seandainya muncul bukti baru yang bertentangan dengan teori tersebut, maka teori itu harus direvisi atau dibuang. Contoh-contoh bagus teori semacam ini adalah dari tektonika lempeng dan teori evolusi.

(hlm. 301)

Semua upaya modern untuk mengstabilkan tatanan sosiopolitik selama ini tidak punya pilihan selain mengandalkan salah satu dari dua metode yang tidak saintifik:

  1. Ambil satu teori sains, dan bertentangan dengan praktik-praktik sains yang umum, nyatakan bahwa teori tersebut adalah kebenaran final dan mutlak.
  2. Jangan ikutkan sains dan hiduplah sesuai kebenaran mutlak non-saintifik.

(hlm. 302)

Dogma Sains

SAINS modern tidak punya dogma. Namun sains modern memiliki inti metode penelitian yang sama, semuanya didasari pengumpulan hasil-hasil pengamatan empiris—yang bisa kita amati dengan setidaknya satu indera kita—dan menghubung-hubungkannya dengan bantuan perkakas matematika.

(hlm. 303)

TAPI hasil pengamatan saja bukanlah pengetahuan. Untuk memahami alam semesta, kita perlu menghubungkan hasil-hasil pengamatan menjadi teori-teori yang komprehensif.

(hlm. 304)

NEWTON menunjukan bahwa kitab alam tertulis dalam bahasa matematika.

(hlm. 305)

Maka mereka menghubungi seorang profesor matematika dari University of Edinburgh, Collin Maclaurin. Mereka bertiga mengumpulkan data mengenai usia saat orang meninggal dan menggunakan data tersebut untuk menghitung berapa banyak pendeta yang mungkin meninggal setiap tahun.

Karya mereka didasari beberapa terobosan terbaru di bidang statistika dan probabilitas. Salah satunya adalah Hukum Bilangan Besar Jacob Bernoulli. Bernoulli telah menyatakan asas bahwa, walaupun mungkin sulit memprediksi dengan pasti suatu peristiwa tertentu, misalnya kematian seseorang tertentu, kita bisa memprediksi dengan akurasi tinggi hasil rata-rata banyak peristiwa serupa.

(hlm. 306)

Tabel aktuaria yang diterbitkan lima puluh tahun sebelumnya oleh Edmund Halley terbukti amat bermanfaat. Halley menganalisis catatan 1.238 kelahiran dan 1.174 kematian yang dia peroleh dari kota Breslau, Jerman. Tabel Halley memungkinkan kita melihat bahwa, misalnya, seseorang berusia dua puluh tahun berkemungkinan 1:100 meninggal dalam setahun namun seseorang berusia lima puluh tahun berkemungkinan 1:39.

Menurut perhitungan Webster dan Wallace, pada 1765 dana pencadangan bagi Janda dan Anak-anak Pendeta Gereja Skotlandia akan memiliki modal berjumlah £58.438. Kalkulasi mereka secara menakjubkan terbukti akurat. Ketika tahun itu tiba, moal dana pensiun ternyata £58.347—hanya kurang £1 dari yang diprediksi! Ini bahkan lebih bagus daripada nubuat Habakkuk, Yeremia, atau Santo Yohannes. Kini, dana pensiun Webster dan Wallace, dikenal sebagai Scottish Widows saja, adalah salah satu perusahaan dana pensiun dan asuransi terbesar di dunia. Dengan aset bernilai £100 miliar, Scottish Widows tidak hanya mengasuransikan janda-janda Skotlandia, melainkan juga siapa pun yang bersedia membeli polisnya.7

(hlm. 308)

Ada pergerakan tak tertolak menuju sains-sains eksakta—didefiniskan sebagai “eksakta” karena penggunaan perkakas matematika.

Pengetahuan adalah Kuasa

Satu-satunya ujian “pengetahuan” bukanlah apakah pengetahuan itu benar atau tidak, melainkan apakah pengetahuan memberdayakan kita atau tidak.

(hlm. 314)

Melainkan butuh waktu begitu lama bagi potensi matematika zat tersebut untuk dimanfaatkan demi kepentingan militer? Karena mesiu muncul pada masa ketika tak ada raja, cendekiawan, atau pun saudagar yang berpikir bahwa teknologi militer baru dapat menyelamatkan mereka atau menjadikan mereka kaya.

Gagasan Ideal Kemajuan

SEBELUM Revolusi Sains, sebagian besar kebudayaan manusia tidak percaya kemajuan. Mereka beranggapan zaman keemasan adalah masa lalu, dan bahwa dunia bersifat stagnan, kalau bukan merosot. Ketaatan ketat terhadap kebijaksanaan lama barangkali bisa membawa kembali kejayaan masa lalu, dan kecerdikan manusia mungkin saja memperbaiki sisi kehidupan sehari-hari yang ini atau yang itu.

(hlm. 316)

Dan memang, banyak bagian dunia yang telah terbebas dari bentuk-bentuk kemiskinan terparah. Sepanjang sejarah, masyarakat telah menderita dua macam kemiskinan: kemiskinan sosial, yang mencegah sejumlah orang mendapatkan kesempatan-kesempatan yang tersedia bagi orang-orang lain; dan kemiskinan biologis, yang membahayakan nyawa indvidu akibat kurangnya makanan dan tempat tinggal. Barangkali kemiskinan sosial tidak akan pernah bisa dihapuskan, namun di banyak negara di seluruh dunia, kemiskinan biologis telah menjadi bagian masa lalu.

(hlm. 317)

Proyek Gilgamesh

Terlebih lagi, kebanyakan agam mengubah kematian menjadi sumber utama makna kehidupan. Coba saja bayangkan agama Islam, Kristen, atau Mesir Kuno dalam dunia tanpa kematian.

(hlm. 318)

Gilgamesh telah mempelajari bahwa ketika dewa-dewi menciptakan manusia, mereka menetapkan kematian sebagai takdir tak terhindarkan bagi manusia, dan manusia harus belajar menerimanya.

(hlm. 319)

Para pemikir terbaik kita tidak menyia-nyiakan waktu berupaya memaknai kematian. Mereka justru sibuk menyelidiki sistem-sistem fisiologis, hormonal, dan genetik yang menyebabkan penyakit dan usia tua. Mereka mengembangkan obat-obatan baru, penanganan revolusioner, dan organ-organ buatan yang akan memperpanjang hidup kita dan suatu hari mungkin melenyapkan Maut itu sendiri.

Proyek terdepan Revolusi Sains adalah memberi umat manusia kehidupan abadi.

(hlm. 320)

Harapan hidup rata-rata melonjak dari sekitar dua puluh lima sampai empat puluh tahun menjadi sekitar enam puluh tujuh tahun di seluruh dunia, dan menjadi delapan puluh tahun di negara-negara maju.8

(hlm. 322)

Dengan kata lain, butuh enam belas percobaan bagi Eleanor untuk melakukan misi paling mendasar seorang ratu Inggris—menyediakan pewaris laki-laki bagi suaminya.

Tetap saja, sepuluh dari enam belas anak mereka—62 persen—meninggal pada masa kanak-kanak. Hanya enam yang berhasil hidup melewati usia sebelas, dan hanya tiga—hanya 18 persen— yang hidup sampai melebihi usia empat puluh tahun.

Para perekayasa genetika belum lama ini berhasil memperpanjang harapan hidup rata-rata cacing Caenorhabditis elegans sebanyak enam kali lipat.12

(hlm. 323)

Satu-satunya ideologi modern yang masih memberikan peran sentral kepada kematian adalah nasionalisme. Dalam momen-momennya yang lebih puitis dan kepepet, nasionalisme menjanjikan bahwa siapa pun yang mati demi bangsanya akan selamanya hidup dalam ingatan bersama. Namun janji itu sedemikian kabur sehingga bahkan sebagian besar nasionalis tidak tahu janji itu harus diapakan.

Uang dan Sains

(hlm. 324)

Sebagian besar penelitian sains didanai karena ada yang mempercayai bahwa penelitian tersebut bisa membantu tercapainya suatu tujuan politik, ekonomi, atau agama. Misalnya, pada abad ke-16, para raja dan bankir menyalurkan sumber daya yang sangat besar guna membiayai berbagai ekspedisi geografik ke seluruh dunia namun tidak sepeser pun untuk mempelajari psikologi anak. Ini karena para raja dan bankir beranggapan bahwa ditemukannya pengetahuan geografis baru akan membantu mereka menaklukkan wilayah-wilayah baru dan mendirikan imperium dagang, sementara mereka tidak bisa melihat keuntungan apa-apa, dalam memahami psikologi anak.

(hlm. 325)

Pada dasarnya, sains tidak berpura-pura mengetahui apa yang harus ada pada masa depan. Hanya agama dan ideologi yang berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

(hlm. 326)

Di dunia masa kini, jelaslah Slughorn berpeluang lebih besar memperoleh uang itu, bukan karena penyakit kelenjar susu secara saintifik lebih menarik daripada kondisi mental sapi, melainkan karena industri susu, yang akan memetik manfaat dari penelitian itu, memiliki pengaruh politik dan ekonomi yang lebih besar daripada lobi hak-hak hewan.

Sains tidak bisa menetapkan sendiri prioritasnya. Sains juga tidak mampu menentukan temuan-temuannya seharusnya diapakan.

(hlm. 327)

Singkatnya, pendekatan sains hanya bisa berkembang dalam persekutuan dengan agama dan ideologi. Ideologi itu menjustifikasi biaya penelitian. Sebagai gantinya, ideologi mempengaruhi agenda sains dan menentukan apa yang harus dilakukan dengan temuan-temuannya. Oleh karena itu, guna memahami bagaimana umat manusia telah mencapai Alamogordo dan bulan—bukan berbagai tujuan lain—kita tidak cukup hanya meninjau pencapaian para ahli fisika, biologi, dan sosiologi. Kita harus mempertimbangkan kekuatan-kekuatan ideologi, politik, dan ekonomi yang membentuk fisika, biologi, dan sosiologi, mendorong bidang-bidang itu ke arah tertentu seraya mengabaikan arah lain.

(hlm. 328)

15. Perkawinan Sains dan Imperium

(hlm. 329)

Salah satu bidang yang memperoleh manfaat dari ekspedisi Cook adalah kedokteran. Kala itu, kapal-kapal yang berlayar ke negeri-negeri jauh tahu bahwa lebih daripada separo awak kapal akan mati dalam perjalanan.

(hlm. 330)

Dia memuat kapalnya dengan sauerkraut (acar kol) dalam jumlah besar dan memerintahkan para pelautnya untuk memakan banyak buah dan sayur kapan pun ekspedisi itu merapat ke darat.

(hlm. 333)

Mengapa Eropa?

Pada 1775, 80 persen ekonomi dunia berputar di Asia. Ekonomi gabungan India dan Tiongkok saja mewakili dua per tiga produksi global. Bila dibandingka, Eropa adalah kurcaci ekonomi.3

(hlm. 335)

Mengapa kompleks militer-industri-sains muncul di Eropa, bukan di India?

Orang-orang Tiongkok dan Persia tidak kekurangan ciptaan teknologi seperti mesin uap (yang bisa dengan bebas ditiru atau dibeli). Mereka kekurangan nilai, mitos, aparat kehakiman, dan struktur-struktur sosiopolitik yang butuh berabad-abad untuk terbentuk dan menjadi matang di Barat, yang tidak bisa ditiru dan diinternalisasi secara cepat. Prancis dan Amerika Serikat dengan cepat mengikuti jejak Britania karena orang-orang Prancis dan Amerika juga memiliki mitos-mitos dan struktur-struktur sosial terpenting Britania.

(hlm. 336)

Orang-orang Eropa terbiasa berpikir dan berperilaku dalam cara yang saintifik dan kapitalis bahkan sebelum mereka menikmati keunggulan teknologi signifikan apa pun. Ketika pesta raya teknologi dimulai, orang-orang Eropa dapat memanfaatkannya secara lebih baik daripada siapapun.

(hlm. 338)

Mentalitas Penaklukan

Yang merupakan faktor kunci adalah bahwa sang ahli botani pencari tumbuhan dan perwira angkatan laut pencari koloni memiliki pola pikir yang serupa. Sang ilmuwan dan sang penakluk sama-sama mulai dengan mengakui ketidaktahuan―mereka sama-sama mengatakan, “Aku tidak tahu apa yang ada diluar sana”. Mereka berdua merasa terdorong untuk pergi dan membuat temuan-temuan baru. Dan mereka sama-sama berharap pengetahuan baru yang diperoleh akan menjadikan mereka penguasa-penguasa dunia.

(hlm. 339)

Pada abad ke-18 dan ke-19, nyaris setiap ekspedisi militer penting yang meninggalkan Eropa menuju negeri-negeri jauh membawa serita ilmuwan-ilmuwan yang bertolak bukan untuk berperang melainkan untuk membuat temuan-temuan saintifik. Ketika Napoleon menyerbu Mesir pada 1798, dia membawa serta 165 ilmuwan. Salah satu yang mereka lakukan adalah mendirikan bidang ilmu yang sepenuhnya baru, Egiptologi, dan membuat sumbangsih-sumbangsih penting kepada bidang-bidang yang mempelajari agama, linguistik, dan botani.

Pada 1831, Royal Navy mengirimkan kapal HMS Beagle untuk memetakan pesisir Amerika Selatan, Kepulauan Falkland, dan Kepulauan Galapagos. Angkatan Laut Britania membutuhkan pengetahuan itu agar bisa mempersiapkan diri secara lebih baik kalau-kalau terjadi perang. Kapten kapal tersebut, yang merupakan seorang ilmuwan amatir, memutuskan untuk menambahkan seorang ahli geologi ke ekspedisi guna mempelajari formasi-formasi geologis yang mereka mungkin temui dalam perjalanan. Setelah beberapa ahli geologi profesional menolak undangannya, sang kapten menawarkan pekerjaan tersebut kepada seorang lulusan Cambridge berusia dua puluh dua tahun, Charles Darwin.

(hlm. 341)

Selama abad ke-15 dan ke-16, orang-orang Eropa mulai menggambar peta dunia dengan banyak ruang kosong―suatu tanda perkembangan pola pikir saintifik, juga dorongan imperial Eropa. Peta-peta kosong itu adalah terobosan psikologis dan ideologis, pengakuan gamblang bahwa orang-orang Eropa belum mengetahui wilayah-wilayah luas di dunia.

(hlm. 342)

Naskah Vespucci berargumen bahwa daerah-daerah baru yang ditemukan Colombus bukanlah pulau-pulau di lepas pesisir Asia Timur, melainkan benua utuh yang belum dikenal oleh Kitab Suci, ahli geografi klasik, maupun orang-orang Eropa zaman itu. Pada 1507, seorang pembuat peta terkemuka bernama Martin Walseemüller yang mempercayai argumen-argumen itu menerbitkan peta dunia yang diperbarui, peta pertama yang menunjukkan tempat yang didarati armada-armada Eropa yang berlayar ke arah barat sebagai benua baru. Setelah menggambarnya, Waldseemüller harus memberi nama benua baru itu. Oleh karena keliru mengira Amerigo Vespucci sebagai orang yang menemukannya, Waldseemüller menamai benua itu untuk menghormatinya―Amerika.

(hlm. 345)

Pendahulu yang paling menyerupai imperium modern Eropa adalah imperium bahari kuno Athena dan Kartago, dan imperium bahari zaman pertengahan Majapahit, yang menguasai sebagian besar Indonesia pada abad ke-14. Namun imperium-imperium itu pun jarang berupaya menguasai lautan yang tidak dikenal―ikhtiar bahari mereka adalah upaya lokal bila dibandingkan dengan upaya global orang Eropa modern.

(hlm. 346)

Ekspedisi Cheng Ho membuktikan bahwa Eropa tidak menikmati keunggulan teknologi yang menonjol. Yang membuat orang-orang Eropa istimewa adalah ambisi mereka yang tiada banding dan tak terpuaskan untuk menjelajahi dan menaklukan.

(hlm. 349)

Cortés memimpin ekspedisi mandiri yang mengikutsertakan petualang-petualang serakah. Raja Spanyol tak pernah mendengar soal Cortés ataupun orang-orang Aztek.) Cortés diberi pemandu, makanan, dan bantuan militer oleh musuh-musuh lokal orang Aztek. Dia kemudian bergerak menuju ibu kota Aztek, metropolis besar Tenochtitlan.

(hlm. 354)

Laba-laba Langka dan Naskah-naskah Terlupakan

Ketika orang-orang Muslim menaklukkan India, mereka tidak membawa serta ahli arkeologi untuk secara sistematis mempelajari sejarah  India, ahli antropologi untuk mempelajari budaya India, ahli geologi untuk mempelajari tanah India, atau ahli zoolog untuk mempelajari fauna India. Ketika orang-orang Britani menakklukan India, mereka melakukan semua itu. Pada 10 April 1802 Survey Akbar India diluncurkan. Survey tersebut berlangsung selama enam puluh tahun.

(hlm. 357)

Dalam buku ini Jones menunjukkan kemiripan-kemiripan mengejutkan Sansekerta, bahasa India kuno yang menjadi bahasa keramat ritual Hindu, dengan bahasa Yunani dan Latin, juga kemiripan-kemiripan antara semua bahasa itu dan bahasa-bahasa Goth, Kelt, Persia Kuno, Jerman, Prancis, dan  Inggris. Misalnya, “mother” alias “ibu” dalam bahasa Sansekerta adalah “matar”, dalam bahasa Latin “mater”, dan dalam bahasa Kelt Kuno “mathir”. Jones menyimpulkan bahwa bahasa-bahasa ini pastilah berasal-muasal sama, berkembang dari leluhur kuno yang kini terlupa. Oleh karena itu dia menjadi orang pertama yang mengidentifikasi apa yang kemudian disebut famili bahasa-bahasa Indo-Eropa.

Linguistik menerima dukungan antusias dari imperium. Imperium-imperium Eropa percaya bahwa agar bisa memerintah secara efektif mereka harus mengetahui bahasa-bahasa dan budaya-budaya rakyat taklukan.

(hlm. 358)

Tanpa pengetahuan semacam itu, kecil kemungkinan orang-orang Britania dalam jumlah luar biasa sedikit berhasil memerintah, menindas, dan mengeksploitasi beratus-ratus juta orang India selama dua abad.

(hlm. 363)

16. Kredo Kapitalis

(hlm. 365)

Kedengarannya seperti skema Ponzi raksasa, ya? Namun kalau yang begitu disebut tipuan, maka seluruh ekonomi modern adalah tipuan. Sebenarnya, ekonomi modern bukanlah pembohongan, melainkan bukti kemampuan menakjubkan imajinasi manusia.

(hlm. 367)

Kredit memungkinkan kita membangun masa kini dengan memanfaatkan masa depan. Kredit didasari asumsi bahwa sumber daya masa depan kita pasti akan lebih melimpah daripada sumber daya kita masa kini. Segudang kesempatan baru dan hebat terbuka bila kita bisa membangun ini-itu pada masa kini menggunakan pendapatan masa depan.

(hlm. 370-371)

Ketika seorang tuan tanah, penenun, atau pembuat sepatu memperoleh laba lebih besar daripada yang dia butuhkan untuk menfkahi keluarganya sendiri, dia menggunakan kelebihan itu untuk mempekerjakan lebih banyak asisten, guna semakin meningkatkan labanya. Semakin banyak laba yang dia peroleh, semakin banyak asisten yang bisa dia pekerjakan. Kesimpulannya, peningkatan laba pengusaha swasta adalah dasar peningkatan kekayaan dan kemakmuran kolektif.

Namun klaim Smith bahwa dorongan egois manusia untuk meningkatkan laba pribadi merupakan dasar kekayaan kolektif adalah salah satu gagasan paling revolusioner dalam sejarah manusia—revolusioner bukan hanya dari perspektif moral dan politik. Pada dasarnya yang Smith katakan adalah bahwa serakah itu bagus, dan bahwa dengan menjadi kaya, saya menguntungkan semua orang, bukan hanya saya sendiri. Egoisme adalah altruisme.

(hlm. 372)

Smith membantah kontradiksi tradisional antara kekayaan dan moralitas, dan membuka gerbang surga bagi orang kaya. Menjadi kaya berarti menjadi bermoral. Dalam kisah Smith, orang menjadi kaya bukan dengan mencuri dari tetangga, melainkan dengan meningkatkan ukuran keseluruhan kue. Dan ketika kue itu bertambah besar, setiap orang memperoleh manfaat. Dengan demikian, orang kaya adalah golongan masyarakat yang paling berguna dan murah hati, karena mereka memutar roda pertumbuhan untuk keuntungan semua orang.

(hlm. 373)

Namun seorang pekerja pabrik yang bekerja keras dan menanamkan sebagian pendapatannya di pasar saham adalah seorang kapitalis.

Pada masa pramodern, orang-orang percaya bahwa produksi kurang-lebih konstan. Jadi buat apa menginvestasikan kembali laba bila produksi tidak akan meningkat banyak, apa pun yang kita lakukan? Oleh karena itu bangsawan zaman pertengahan memeluk etika kemurahan hati dan konsumsi mencolok.

(hlm. 375)

KAPITALISME bermula sebagai teori mengenai bagaimana ekonomi berfungsi. Kapitalisme bersifat deskriptif sekaligus prespektif—menawarkan penjelasan tentang bagaimana uang bekerja dan mendorong gagasan bahwa investasi kembali laba untuk produksi menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Namun kapitalisme lama-kelamaan menjadi lebih daripada sekadar doktrin ekonomi. Kapitalisme kini mencakup suatu etika—seperangkat ajaran mengenai bagaimana seseorang seharusnya berperilaku, mendidik anak, bahkan berpikir.

(hlm. 379)

Risiko bisa diredam, sementara tidak ada batas atas untuk laba yang mungin diperoleh.

Namun dalam delapan puluh tahu, Belanda bukan hanya berhasil merebut kemerdekaannya dari Spanyol, melainkan juga menggantikan Spanyol dan sekutunya Portugis sebagai penguasa jalur-jalur samudra, pembangun imperium Belanda global, dan menjadi negara terkaya di Eropa.

Rahasia keberhasilan Belanda adalah kredit.

(hlm. 380)

BAGAIMANA cara Belanda meraih kepercayaan sistem finansial? Pertama-tama, Belanda sangat tertib dalam hal melunasi pinjaman tepat waktu, sehingga risiko pemberian kredit oleh pemberi pinjaman pun menurun. Kedua, sistem pengadilan Belanda punya independensi dan melindungi hak pribadi—terutama hak milik pribadi. Modal mengalir pergi dari negara-negara diktator yang gagal membela individu dan hak milik pribadi. Modal beralih mengucur ke negara-negara yang menegakkan aturan hukum dan membela hak milik pribadi.

(hlm. 381)

Perang dengan Prancis berakhir dengan baik untuk raja Spanyol, namun sang raja lantas melibatkan diri dalam konflik dengan Turki. Raja Spanyol butuh setiap peser uang yang ada untuk membiayai perang baru, dan berpikir itu jauh lebh penting daripada membayar utang-utang lama.

(hlm. 382)

Di Belanda, pengadilan adalah cabang pemerintahan terpisah, tidak bergantung kepada kelas menengah dan para pangeran di negara tersebut. Pengadilan di Madrid menolak gugatan adik Anda, sementara pengadilan di Amsterdam membela Anda dan mengeluarkan hak gadai atas aset si pedagang sepatu kayu untuk memaksanya membayar. Ayah Anda telah mendapatkan pengalaman berharga. Lebih baik berbisnis dengan saudagar daripada dengan raja, dan lebih baik melakukannya di Belanda daripada di Madrid.

(hlm. 383)

Dan yang membangun Imperium Belanda adalah saudagar-saudagar Belanda—bukan negara Belanda.

(hlm. 384)

Masyarakat internasional menerimanya sebagai kewajaran dan tidak menganggap ada yang aneh ketika suatu perusahaan swasta mendirkan imperium.

(hlm. 387)

Sementara imperium seberang laut Prancis rontok, Imperium Britania mengembang dengan cepat. Seperti Imperium Belanda sebelumnya, Imperium Britania didirikan dan dijalankan terutama oleh perusahaan-perusahaan perseroan terbatas swasta yang berbasis pasar saham London. Pemukiman-pemukiman Inggris pertama di Amerika Utara didirkan pada awal abad ke-17 oleh perusahaan-perusahaan perseroan terbatas seperti London Company, Plymouth Company, Dorchester Company, dan Masachusetts Company.

(hlm. 390)

Atas Nama Kapital

Kepentingan para pemegang obligasi adalah kepentingan nasional maka Britania pun menggalang armada internasional yang pada 1827 menenggelamkan armada utama Osmani dalam Pertempuran Navarino. Setelah ratusan tahun dijajah, Yunani akhirnya merdeka.

Inilah mengapa peringkat kredit suatu negara kini jauh lebih penting bagi kesehatan ekonominya daripada sumber daya alamnya. Peringkat kredit menunjukkan probabilitas negara itu akan membayar utang-utangnya.

(hlm. 393)

Kultus Pasar Bebas

Pasar yang bebas dari segala bias politik itu tidak ada. Sumber daya ekonomi paling penting adalah kepercayaan akan masa depan, dan sumber daya ini terus menerus terancang oleh penjahat dan penipu.

(hlm. 394)

Neraka Kapitalis

Asupan gula tahunan orang Inggris rata-rata naik dari nyaris nol pada awal abad ke-17 menjadi sekitar delapan kilogram pada awal abad ke-19.

Perdagangan budak tidak dikendalikan oleh negara atau pemerintahan mana pun.

(hlm. 395)

Perdagangan budak Atlantik tidak berakar dari kebencian rasis terhadap orang Afrika. Orang-orang yang membeli saham, para pialang yang menjual saham, dan para pengelola perusahaan perdagangan budak nyaris tidak pernah memikirkan soal orang-orang Afrika. Begitu pula halnya para pemilik perkebunan tebu. Banyak pemilik yang hidup jauh dari perkebunannya, dan satu-satunya informasi yang mereka minta dari perkebunan adalah laporan laba-rugi yang rapi.

(hlm. 397)

Kapitalisme punya jawaban bagi kritik itu. Pertama-tama kapitalisme telah menciptakan dunia yang tidak bisa dijalankan oleh siapa pun kecuali kapitalis. Satu-satunya upaya pemerintah untuk mengelola dunia secara berbeda—komunisme—jauh lebih buruk dalam nyaris setiap segi yang terpikirkan sehingga tak seorang pun berselera mencobanya lagi.

Jawaban kedua adalah kita butuh lebih banyak kesabaran—surga, demikian para kapitalis berjanji, sudah dekat. Benar, berbagai kesalahan telah dilakukan, misalnya perdagangan budak Atlantik dan eksploitasi terhadap kelas pekerja Eropa. Namun kita telah mendapatkan pelajaran, dan bila kita menanti sedikit lebih lama lagi dan membiarkan kue itu berkembang agak lebih besar, semua orang akan menerima irisan yang lebih gemuk.

(hlm. 398)

17. Roda-roda Industri

Setiap kali terjadi kekurangan akan salah satunya yang mengancam akan memperlambat pertumbuhan ekonomi, investasi pun mengalir ke dalam penelitian sains dan teknologi.

(hlm. 403)

Rahasia Dapur

Kita membakar satu jenis bahan bakar, misalnya batu bara, dan menggunakan panas yang dihasilkan untuk mendidihkan air, menghasilkan uap. Sewaktu mengembang, uap mendorong piston. Piston bergerak dan apa pun yang terhubung ke piston akan ikut begerak. Panas telah berubah menjadi gerak!

(hlm. 404)

Misalnya, ketika ahli fisika menyadari bahwa ada energi dalam jumlah besar sekali yang tersimpan dalam atom, mereka langsung mulai memikirkan mengenai bagaiman energi itu bisa dilepaskan dan digunakan untuk membangkitkan listrik, menggerakkan kapal selam, dan memusnahkan kota.

(hlm. 405)

Lautan Energi

PADA intinya, Revolusi Industri adalah revolusi pengubahan energi. Revolusi tersebut telah berkali-kali menujukkan bahwa tidak ada batas jumlah energi yang bisa kita manfaatkan. Atau, lebih tepatnya, satu-satunya batas yang ada adalah ketidaktahuan kita sendiri.

Jumlah energi yang tersimpan dalam bahan bakar fosil di Bumi kecil sekali dibandingkan dengan jumlah yang Matahari pancarkan setiap hari, gratis.

(hlm. 406)

Para ahli kimia baru menemukan aluminium pada 1820-an, namun memisahkan logam itu dari bijihnya luar biasa sulit dan mahal. Selama berpuluh tahun, aluminium jauh lebih mahal daripada emas. Pada 1860-an, Kaisar Napoleon III dari Prancis memesan peralatan makan dari aluminium untuk ditata di hadapan tamu-tamunya yang paling terhormat. Para pengunjung yang kalah penting terpaksa menggunakan pisau dan garpu emas saja.5 Namun pada akhir abad ke-19 para ahli kimia menemukan cara untuk mengekstraksi aluminium murah dalam jumlah sangat besar, dan produksi global saat ini mencapai 30 juta ton per tahun. Napoleon III bakal kaget mendengar bahwa keturunan rakyatnya menggunakan kertas aluminium murah yang bisa dibuang untuk membungkus roti lapis dan menyimpan makanan sisa.

(hlm. 417)

Zaman Belanja

Bukannya makan sedikit, yang akan menyebabkan kontraksi ekonomi, orang-orang makan terlalu banyak dan kemudian membeli produk-produk diet—berkontribusi dua kali kepada pertumbuhan ekonomi.

(hlm. 418)

Inilah agama pertama dalam sejarah yang para pengikutnya betul-betul melakukan apa yang diperintahkan. Tapi bagaiman kita tahu bahwa kita benar-benar akan mendapatkan surga sebagai ganajarannya? Kita telah melihatnya di televisi.

(hlm. 419)

18. Revolusi Permanen

(hlm. 421)

Pada 1900 kita nyaris melipatgandakan jumlah kita menjadi 1,6 miliar. Dan pada 2000 angka itu menjadi empat kali lipat, enam miliar. Kini ada nyaris 7 miliar Sapiens.

(hlm. 423)

Zaman Modern

Pada 1847, perusahaan-perusahaan kereta Britania berembuk dan menyetujui bahwa sejak saat itu semua jadwal kereta akan dicocokkan dengan waktu Observatorium Greenwich, bukan waktu lokal Liverpool, Manchester, atau Glasgow. Semakin banyak lembaga yang mengikuti perusahaan-perusahaan kereta itu. Akhirnya, pada 1880, pemerintah Britania mengambil langkah yang tak pernah dilakukan sebelumnya untuk menetapkan bahwa semua jadwal di Britania harus mengikuti Greenwich. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, satu negara mengadopsi waktu nasional dan mewajibkan penduduknya untuk hidup berdasarkan jam artifisial, bukan jam-jam lokal atau siklus Matahari terbit sampai terbenam.

Awal yang sederhana itu melahirkan jejaring jadwal, yang disinkronisasi sampai sepersekian detik.

(hlm. 427)

Keruntuhan Keluarga dan Masyarakat

Ekonomi agrikultural tradisional hanya memiliki sedikit surplus untuk memberi makan banyak pejabat pemerintah, polisi, pekerja sosial, guru, dan dokter. Sebagai akibatnya, sebagian besar penguasa tidak mengembangkan sistem penunjang kesejahteraan massal, sistem perawatan kesehatan, ataupun sistem pendidikan. Mereka menyerahkan hal-hal semacam itu ke tangan keluarga dan masyarakat.

Kesultanan Osmani, misalnya, mengizinkan balas dendam keluarga sebagai sarana menegakkan keadilan, bukan memelihara kepolisian yang besar. Bila sepupu saya membunuh seseorang, saudara si korban mungkin membunuh saya dalam balas dendam yang dibenarkan. Sultan di Istanbul atau bahkan pasha provinsi saya tidak turut campur dalam perselisihan-perselisihan semacam itu, asalkan kekerasan tetap berada dalam batas yang bisa diterima.

(hlm. 428)

Para tetua tahu berapa besar harta setiap penduduk desa dan biasanya mereka bisa memaksa orang membayar pajak tanpa melibatkan tentara kekaisaran.

(hlm. 433)

Masyarakat Khayalan

Pasar dan negara melakukannya dengan membina “masyarakat-masyarakat khayalan” (imagined communities) yang berisi jutaan orang yang saling asing, disesuaikan dengan kepentingan nasional dan komersial.

(hlm. 434)

Para diplomat itu menentukan pada 1918 bahwa orang-orang Kurdistan, Baghdad, dan Basra sejak saat itu akan disebut “bangsa Irak”. Prancis menentukan siapa yang menjadi bangsa Suriah dan siapa yang menjadi bangsa Lebanon.

(hlm. 438)

Perdamaian Zaman Kita

Di sebagian besar dunia, orang-orang berangkat tidur tanpa takut bahwa pada tengah malam suku tetangga akan mengepung desa mereka dan membantai setiap orang.

(hlm. 442)

Pax Atomica

Sejak 1945, tidak ada negara merdeka yang diakui oleh PBB yang telah ditaklukkan dan terhapus dari peta. Perang terbatas antarbangsa masih berlangsung dari waktu ke waktu, dan jutaan orang masih tewas dalam perang, namun perang tidak lagi dianggap sebagai suatu norma.

(hlm. 443)

Sebab perdamaian sejati bukanlah semata ketiadaan perang. Perdamaian sejati adalah kemustahilan perang.

(hlm. 444-445)

Pertama-tama dan terutama, ongkos perang telah naik drastis. Hadiah Nobel Perdamaian untuk menyudahi semua hadiah perdamaian seharusnya diserahkan kepada Robert Oppenheimer dan rekan-rekannya sesama arsitek bom atom. Senjata nuklir telah menjadikan perang antara negara-negara adidaya suatu tindakan bunuh diri bersama, dan memustahilkan upaya mendominasi dunia melalui kekuatan bersenjata.

Kedua, sementara ongkos perang membubung, labanya menurun. Nyaris sepanjang sejarah negara dapat memperkaya diri dengan menjarah atau mencaplok wilayah musuh. Sebagian besar kekayaan terdiri atas ladang, sapi, budak, dan emas, sehingga mudah untuk menjarah atau mendudukinya. Kini, kekayaan tertutama terdiri atas modal manusia, pengetahuan teknis, dan struktur sosioekonomi kompleks seperti bank. Alhasil, sulit untuk membawanya atau menggabungkannya ke wilayah negara.

Sementara perang menjadi semakin tidak mendatangkan laba, perdamaian menjadi semakin menguntungkan daripada sebelumnya.

(hlm. 446)

Periode kita adalah pertama kalinya dalam sejarah dunia didominasi oleh elite pecinta damai—politikus, pebisnis, intelektual, dan seniman yang sungguh-sungguh memandang perang sebagai jahat dan bisa dihindari.

(hlm. 447)

Ada lingkaran umpan balik positif diantara keempat faktor itu. Ancaman pembantaian dengan nuklir membina pasifisme (kecenderungan damai); ketika pasifisme menyebar, perang surut dan perniagaan berkembang; dan perniagaan meningkatkan keuntungan perdamaian sekaligus ongkos perang.

(hlm. 448)

Seperti yang dijelaskan di Bab 11, kita sedang menyaksikan pembentukan suatu imperium global. Seperti imperium-imperium sebelumnya, imperium yang ini pun menegakkan perdamaian di dalam perbatasannya. Dan karena perbatasannya mencakup seluruh planet, Imperium Dunia secara efektif menegakkan perdamaian dunia.

Ada gunanya kita menyadari betapa sering pandangan kita tentang masa lalu dilencengkan oleh peristiwa-peristiwa beberapa tahun terakhir.

Guna memuaskan orang-orang yang optimis maupun pesimis, bolehlah kita simpulkan dengan mengatakan bahwa kita berada di ambang surga dan neraka, berpindah-pindah dengan cemas antara gerbang yang satu dan ruang depan yang satu lagi. Sejarah belum memutuskan di mana kita akan berakhir, dan serangkaian kebetulan mungkin menggulingkan kita ke arah yang mana pun.

(hlm. 449)

19. Dan Mereka Pun Hidup Bahagia Selamanya

(hlm. 455)

Definisi kebahagiaan yang umum diterima adalah “kesejahteraan subjektif” (subjective well-being). Kebahagiaan, menurut pandangan itu, adalah sesuatu yang saya rasakan di dalam diri, perasaa kenikamatan langsung atau pun kepuasan jangka panjang tentang bagaiman hidup saya berlangsung. Bila kebahagiaan adalah sesuatu yang saya rasakan di dalam, bagaimana bisa diukur dari luar?

(hlm. 457)

Keluarga dan masyarakat tampaknya memiliki dampak lebih besar terhadap kebahagiaan kita daripada uang dan kesehatan.

Penelitian berulang-ulang telah menemukan bahwa ada korelasi dekat antara pernikahan yang baik dan kesejahteraan subjektif yang tinggi, dan antara pernikahan yang buruk dan kesengsaraan.

(hlm. 458)

Kebahagiaan justru bergantung kepada korelasi antara kondisi-kondisi objektif dan harapan-harapan subjektif.

Tetap saja, menyenangkan rasanya ketika penelitian modern—yang didukung oleh banyak angka dan diagram—mencapai kesimpulan-kesimpulan yang sama dengan orang-orang zaman dahulu.

(hlm. 460)

Maka mungkin ketidakpuasan Dunia Ketiga dipicu bukan hanya oleh kemiskinan, penyakit, korupsi, dan penindasan politik, melainkan juga oleh pengetahuan mengenai standar Dunia Pertama. Orang Mesir rata-rata berpeluang jauh lebih kecil mati akibat kelaparan, wabah, atau kekerasan di bawah Hosni Mubarok daripada di bawah Ramses II atau Kleopatra. Tidak pernah kondisi material sebagian besar orang Mesir sebaik itu. Anda pikir mereka bakal menari-nari di jalanan pada 2011, berterima kasih kepada Allah atas berkah yang mereka terima. Tapi mereka justru bangkit dengan marah untuk menggulingkan Mubarok. Mereka tidak sedang membandingkan diri dengan leluhur mereka di bawah firaun, melainkan dengan rekan-rekan sezaman mereka di Amerika di bawah Obama.

(hlm. 461)

Orang-orang yang tidak mampu mendapatkan penanganan ajaib itu—sebagian sangat besar orang—akan mengamuk tak terkira. Sepanjang sejarah, orang miskin dan tertindas menghibur diri dengan pikiran bahwa setidak-tidaknya kematian adil—bahwa orang kaya dan berkuasa juga akan mati. Orang miskin tidak akan merasa nyaman kalau tahu bahwa mereka harus mati, sementara orang-orang kaya akan tetap muda dan cantik selamanya.

(hlm. 463)

Kebahagiaan Kimiawi

Bila orgasme berlangsung selamanya pejantan yang sangat berbahagia akan mati kelaparan karena tidak berminat terhadap makanan, dan tidak mau susah-susah mencari betina subur lainnya.

(hlm. 464)

Kejadian-kejadian itu bisa mengejutkannya untuk sejenak, namun dengan segera dia kembali ketitik setelannya.

(hlm. 466)

Hanya ada satu perkembangan sejarah yang punya arti penting nyata. Kini, ketika kita akhirnya menyadari bahwa kunci-kunci kebahagiaan ada di tangan sistem biokimia kita, kita bisa berhenti menyia-nyiakan waktu kita untuk politik dan reformasi sosial, pemberontakan dan ideologi, dan sebaliknya fokus saja kesatu-satunya hal yang bisa membuat kita benar-benar bahagia: memanipulasi biokimia kita. Bla kita menginvestasikan uang miliaran untuk memahami kimia otak kita dan mengembangkan penanganan-penanganan yang sesuai, kita bisa membuat orang-orang jauh lebih bahagia daripada sebelumnya tanpa perlu ada revolusi. Prozac, misalnya, tidak mengubah rezim, namun dengan meningkatkan kadar serotonin obat tersebut bisa membawa orang keluar dari depresi.

(hlm. 467)

Kebahagiaan yang bertahan lama hanya berasal dari serotonin, dopamin, dan oksitosin.1

Visi Huxley mengenai masa depan jauh lebih meresahkan daripada nineteen eighty-four karya George Orwell. Dunia Huxley tampak mengerikan bagi sebagian besar pembaca, namun sulit menjelaskan mengapa. Semua orang bahagia sepanjang waktu—apanya yang salah?

(hlm. 468)

Makna Kehidupan

Namun sebagian besar orangtua menyatakan bahwa anak-anak mereka merupakan sumber utama kebahagiaan mereka. 

Seperti yang dinyatakan Nietzsche, bila Anda punya “mengapa” untuk hidup, Anda dapat menahan nyaris semua “bagaimana” yang seperti apa pun. Hidup yang bermakna dapat luar biasa memuaskan bahkan di tengah kesusahan, sementara hidup yang tidak bermakna adalah siksaan berat tidak peduli betapa pun nyamannya.

(hlm. 469)

Bila hidup dikaji menit per menit, orang-orang zaman pertengahan jelas menjalani hidup yang berat. Tapi, bila mereka mempercayai janji kebahagiaan abadi di akhirat, mereka mungkin memandang kehidupan mereka sebagai jauh lebih bermakna dan berarti daripada orang-orang sekuler modern, yang dalam jangka panjang tidak bisa mengharapkan apa-apa kecuali keterlupaan paripurna dan tak bermakna. Bila ditanyai “Apakah Anda puas dengan kehidupan Anda secara keseluruhan?”, orang-orang Zaman Pertengahan mungkin mendapat nilai yang cukup tinggi dalam angket kesejahteraan subjektif mereka.

Jadi leluhur kita pada zaman pertengahan bahagia karena mereka menemukan makna kehidupan dalam delusi kolektif mengenai akhirat? Ya.

Sejauh yang bisa kita ketahui, dari sudut pandang yang sepenuhnya saintifik, kehidupan manusia sama sekali tidak ada maknanya. Manusia adalah hasil proses evolusi buta yang beroperasi tanpa tujuan ataupun maksud. Tindakan kita bukanlah bagian suatu rencana kosmik ilahiah, dan bila planet Bumi tahu-tahu meledak besok pagi alam semesta barangkali akan tetap berjalan seperti biasa. Sejauh yang bisa kita ketahui di titik ini, tidak akan ada yang merasa kehilangan subjektivitas manusia titik. Oleh karena itu makna apa pun yang orang-orang sematkan kepada kehidupan mereka hanyalah delusi.

(hlm. 470)

Jadi barangkali kebahagiaan adalah menyinkronkan delusi pribadi mengenai makna dengan delusi kolektif yang dominan. Asalkan narasi pribadi saya sejalan dengan narasi orang-orang disekitar saya, saya bisa meyakinkan diri bahwa hidup saya bermakna, dan menemukan kebahagiaan dalam keyakinan itu.

(hlm. 472)

Kenali Dirimu

Menurut teori Gen Egois (selfish gene), seleksi alam membuat manusia, seperti organisme lain memilih apa yang bagus untuk reproduksi gen-gen mereka, bahkan bila hal itu buruk bagi mereka sebagai individu. Kebanyakan pejantan menghabiskan hidup bekerja keras, merasa cemas, bersaing, dan bertarung, bukannya menikmati kebahagiaan yang damai, karena DNA memanipulasi mereka untuk kepentingan egoisme sendiri. Laksana Setan, DNA menggunakan kenikmatan-kenikmatan sesaat untuk menggoda manusia dan menempatkan mereka dalam kekuasaannya.

Selama 2.500 tahun, pemeluk Buddha telah secara sistematis mempelajari esensi dan penyebab kebahagiaan, dan inilah alasan mengapa ada peningkatan minat di antara komunitas saintifik terhadap filosofi maupun praktik meditasi agama Buddha.

(hlm. 474)

Nasihat sang Buddha adalah jangan hanya berhenti mengejar prestasi eksternal; hentikan juga pengejaran terhadap perasaan-perasaan internal.

(hlm. 477)

20. Tamatnya Homo Sapiens

Kini Sapiens mulai mematahkan hukum-hukum seleksi alam menggantikannya dengan hukum-hukum desain cerdas.

(hlm. 479)

Mereka melanggar hukum-hukum seleksi alam tanpa kena sanksi, tak terbatasi bahkan oleh ciri-ciri asli organisme. Tahun 2000, seniman biologi Brazil Eduardo Kac memutuskan untuk menciptakan karya seni baru: kelinci berpendar hijau.

Mustahil menjelaskan keberadaan alba melalui hukum-hukum seleksi alam. Alba adalah produk desain cerdas.

(hlm. 480)

Bila itu terjadi, maka seluruh riwayat manusia sampai titik itu mungkin, ketika ditengok ke belakang, bisa ditafsirkan ulang sebagai proses percobaan dan pelatihan yang merevolusi permainan kehidupan.

Ahli-ahli biologi benar mengenai masa lalu, namun ironisnya para pendukung desain cerdas mungkin benar mengenai masa depan.

(hlm. 485)

Kembalinya Para Neandertal

(Genom tikus mengandung sekitar 2,5 miliar nukleobasa, genom Sapiens sekitar 2,9 miliar basa—berarti genom manusia hanya lebih besar 14 persen daripada genom tikus.)11

(hlm. 493)

Singularitas

Kini kita bisa memetakan DNA seseorang dalam beberapa minggu dengan harga beberapa ratus dolar.20 Era kedokteran terpersonalisasi—kedokteran yang mencocokkan penanganan dengan DNA Anda— telah dimulai. Dokter keluarga tak lama lagi akan bisa memberitahu Anda dengan kepastian lebih tinggi apakah Anda berisiko tinggi terserang kanker hati, sementara Anda tidak perlu terlalu khawatir mengenai serangan jantung.

(hlm. 495)

Singularitas adalah suatu titik di mana semua hukum alam yang kita ketahui tidak ada. Waktu juga tidak ada. Oleh karena itu tidak ada maknanya mengatakan bahwa sesuatu “sebelum” Ledakan Besar. Kita bisa jadi sedang mendekati suatu singularitas baru dengan cepat, ketika semua konsep yang memberi makna bagi dunia kita—saya, Anda, laki-laki, perempuan, cinta, dan benci—akan segera menjadi tidak relevan. Apa pun yang terjadi selebihnya tidak bermakna bagi kita.

(hlm. 499)

Penutup:
Hewan Yang Menjadi Tuhan

Kini Homo sapiens nyaris menjadi tuhan, hampir menggapai bukan hanya kemudaan abadi, melainkan juga kemampuan ilahi untuk menciptakan dan menghancurkan.

(hlm. 500)

Apakah ada yang lebih berbahaya daripada dewa-dewi yang tidak puas, tidak bertanggung jawab, dan tidak mengetahui apa yang diinginkan?

 

 

Artikel Terkait

02 Latihan Berpikir Kritis Tahap Demi Tahap Menuju Pikiran Lurus dan Cemerlang

03 Berpikir Kritis untuk Memecahkan Masalah Praktis

error: Content is protected !!