Wawasan Politik dan Kenegaraan dari Para Pemikir Bijak Bestari

Free to Choose

Milton Friedman dan Rose Friedman

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Free to Choose karangan Milton Friedman dan Rose Friedman.

Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

Selamat membaca.

 

Chandra Natadipurba

===

FREE TO CHOOSE
A Personal Statement
MILTON & ROSE FRIEDMAN

Free To Choose
A Personal Statement

MILTON & ROSE FRIEDMAN
Harcourt Brace Jovanovich
Copyright 1980, 1979 by Milton Friedman and Rose D. Friedman
Cetakan I, 2013
PP. 2013
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
All rights reserved
Edisi dalam Bahasa Indonesia ini
diterbitkan oleh PENERBIT PUSTAKA PELAJAR

Penerjemah: Fredy Mutiara MA
Editor: Didiek Puji Yuwono
Desain Cover: Jack
Pemeriksa Aksara: Ratih Indriani, S.Pd
Penata Aksara: Pancasari Suyatiman
Penerbit:
PUSTAKA PELAJAR
Celeban Timur UH III/548 Yogyakarta 55167
Telp (0274) 381542, Fax. (0274) 383083

ISBN: 978-602-229-178-7


(hlm. v)
Prakata
Buku Capitalism and Freedom menguji “peran kapitalisme kompetitif – pengorganisasian sebagian besar aktivitas ekonomi melalui perusahaan swasta yang beroperasi dalam pasar bebas – sebagai sebuah sistem kebebasan ekonomi dan syarat yang diperlukan bagi kebebasan politik.”

(hlm. vi)
Keduanya dipandang sebagaimana pasar yang hasil keluarannya lebih banyak ditentukan oleh interaksi antar-individu yang mengejar kepentingan masing-masing (yang ditafsirkan secara luas) bukan oleh tujuan-tujuan yang sangat menguntungkan untuk diutarakan.

(hlm. xi)
Kata Pengantar
Tertarik oleh janji dan kemakmuran
Kisah Amerika Serikat merupakan cerita sebuah keajaiban ekonomi dan keajaiban politik yang dimungkinkan oleh penafsiran ke dalam praktik atas dua kumpulan gagasan – keduanya, melalui sebuah kebetulan yang mengherankan, diformulasikan dalam dokumen-dokumen yang diterbitkan pada tahun yang sama, 1776.

(hlm. xiii)
Satu-satunya tujuan yang memberikan keabsahan bagi kekuasaan untuk menentang kehendak anggota masyarakat yang beradab adalah tujuan mencegah bahaya bagi orang lain.


Satu-satunya tindakan seseorang, yang dapat dimintakan tanggung jawab oleh masyarakat adalah tindakan yang menyangkut pihak lainnya. Dalam tindakan semata-mata berkenaan dengan dirinya sendiri, kemerdekaan seseorang mutlak, itu merupakan haknya. Setiap individu berhak atas dirinya sendiri, tubuhnya, dan pikirannya.


Kombinasi dari kekuasaan ekonomi dan kekuatan politik pada tangan yang sama merupakan resep bagi tirani.

(hlm. xiv)
Maraknya kebebasan didemonstrasikan dengan paling dramatis dan jelas di bidang pertanian. Ketika Deklarasi Kemerdekaan diundang-undangkan, hampir 3 juta orang dari Eropa dan Afrika (tanpa menghitung warga Indian asli) memenuhi jalur sempit di sepanjang pantai timur.

Pertanian menjadi aktivitas ekonomi utama. Sembilan belas dari 20 pekerja memberi makan penduduk negara itu dari pertanian. Pertanian juga memberikan hasil surplus untuk diekspor dalam perdagangan luar negeri.

Saat ini sektor pertanian mengambil kurang dari 2 persen pekerja untuk memberi makan 220 juta penduduk, tetapi pertanian menghasilkan surplus yang membuat Amerika Serikat menjadi eksportir tunggal terbesar makanan di dunia.


Apa yang membuat keajaiban itu terjadi? Tentu saja bukan arahan tunggal dari pemerintah. Negara-negara seperti Rusia beserta satelitnya, China daratan, Yugoslavia, dan India yang sekarang ini mengandalkan arahan dari pusat (pemerintah) mempekerjakan antara seperempat hingga separuh pekerja mereka di bidang pertanian, tetapi mereka kerap kali bergantung pada pertanian Amerika Serikat demi menghindari kelaparan massal.

(hlm. xv)
Namun, tanpa diragukan lagi, sumber utama revolusi pertanian adalah inisiatif swasta yang beroperasi di pasar bebas yang terbuka bagi semua.


Jutaan imigran dari seluruh dunia bebas untuk bekerja bagi diri mereka sendiri, sebagai petani independen atau pembisnis, atau bekerja kepada pihak lainnya, dengan ketentuan-ketentuan yang disepakati bersama.


Smith dan Jefferson sama-sama telah melihat konsentrasi kekuasaan pemerintah sebagai bahaya besar bagi warga negara kebanyakan; mereka memandang perlindungan warga negara dari tirani pemerintah sebagai kebutuhan yang tiada henti.

(hlm. xvi)
“Pemerintahan yang bijak dan hemat, yang akan mengendalikan warga negara dari saling melukai satu sama lain, dan yang sebaiknya, akan membiarkan mereka bebas mengatur upaya mereka sendiri atas industri dan kemajuan.”


Ironisnya, suksesnya kebebasan ekonomi dan politik yang luar biasa berkurang daya tariknya bagi para pemikir masa depan.


Mereka tertarik oleh kebaikan yang dapat dicapai oleh suatu pemerintahan yang kuat – yang terjadi hanya jika kekuasaan pemerintahan berada di tangan “yang tepat.”

Sebagaimana kami tunjukkan pada Bab 3, depresi diakibatkan karena kegagalan pemerintah di satu area – uang – dimana pemerintah telah mempergunakan otoritas semenjak permulaan Republik.

(hlm. xvii)
Sebagai gantinya, depresi secara luas diinterpretasikan sebagai kegagalan kapitalisme pasar bebas.


Pandangan bahwa peran pemerintah sebagai wasit yang mencegah para individu dari saling memaksa digantikan oleh pandangan bahwa pemerintah berperan sebagai orangtua yang mengemban misi untuk memaksa sebagian pihak membantu pihak lainnya.

(hlm. xx)
Bagaimana kita dapat membatasi pemerintah sementara memungkinkan ia untuk mengerjakan fungsi-fungsi esensialnya guna membela bangsa dari musuh asing, melindungi masing-masing dari kita dari paksaan oleh para kolega warga negara kita, mengadili persengketaan kita, serta memungkinkan kita dapat menyetujui aturan-aturan di mana kita seharusnya mengikutinya.

(hlm. 1)

1. Kekuatan Pasar

Namun, komando itu dapat menjadi metode yang khusus atau bahkan utama bagi organisasi hanya dalam satu kelompok yang sangat kecil.

    (hlm. 2)
    Pada setiap level perekonomian, kerja sama sukarela menjadi pelengkap perencanaan terpusat atau untuk mengimbangi kekakuannya — terkadang legal, terkadang ilegal.


    Di ranah pertanian, para pekerja penuh waktu di lahan pemerintah diperbolehkan untuk menanam tanaman pangan dan memelihara ternak di kapling pribadi yang sempit di waktu senggangnya untuk mereka manfaatkan sendiri atau untuk dijual di pasar yang relatif bebas.

    Kapling-kapling ini mengambil kurang dari satu persen dari lahan pertanian di negara tersebut, tetapi mereka “dikatakan” memasok hampir sepertiga dari total hasil pertanian di Uni Soviet (disebut “dikatakan” karena agaknya sebagian hasil lahan pemerintah secara gelap dipasarkan seolah-olah berasal dari kapling pribadi).

    (hlm. 3)
    Seorang warga Moskow yang peralatan rumah tangganya rusak bisa jadi harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan layanan perbaikan yang disediakan oleh negara. Sebagai gantinya, dia bisa memperkerjakan seorang pekerja lepas — sangat mungkin seseorang yang bekerja untuk di kantor perbaikan negara. Peralatan si empunya rumah dapat segera diperbaiki; orang yang melakukan pekerjaan tersebut pun memperoleh pendapatan tambahan. Keduanya bahagia.


    Kapling-kapling swasta dapat dilarang — namun kelaparan di tahun 1930-an merupakan peringatan keras akan biaya yang ditimbulkan.

    (hlm. 4)
    Sebagaimana tidak ada masyarakat yang berjalan dengan prinsip terkomando sepenuhnya, maka tidak seorang pun bergerak melalui kerja sama yang sepenuhnya sukarela.


    Atau, pada ekstrem yang lain, komando itu mungkin sama halusnya seperti memberlakukan pajak tinggi pada rokok untuk mengurangi kebiasaan merokok — sebuah isyarat, kalaupun bukan perintah, dari sebagian kita kepada orang lain.


    Ekonomi perdagangan sukarela yang dominan, di satu sisi, mengandung potensi untuk mendorong kemakmuran maupun kebebasan manusia. Pertukaran sukarela mungkin mewujudkan potensinya dalam masing-masing hal, tetapi kita mengetahui tidak ada masyarakat yang pernah mencapai kemakmuran dan kebebasan kecuali pertukaran sukarela telah menjadi prinsip dominan dari organisasi.

    (hlm. 5)
    KERJA SAMA MELALUI PERTUKARAN SUKARELA
    Tidak terkatakan tangan ribuan orang yang berperan pada tiap cangkir kopi yang diminum para tukang tebang kayu!

    (hlm. 6)
    Proses menghapus sebenarnya dilakukan oleh “factice”, bahan seperti karet yang dihasilkan melalui proses reaksi minyak lobak dari Hindia Timur (sekarang Indonesia) dengan sulfur klorida.


    Setiap kali kita pergi ke toko dan membeli sebatang pensil, kita mempertukarkan sedikit jasa kita untuk sekelumit layanan dari ribuan layanan yang berperan dalam produksi pensil tersebut.

    (hlm. 7)
    Bagaimana ini bisa terjadi? Adam Smith memberi kita jawaban 200 tahun silam.

    PERAN HARGA
    Penyadaran penting dari karya Adam Smith, Wealth of Nations, terkesan sangat sederhana: jika pertukaran antara dua pihak adalah sukarela, hal itu tidak akan berlangsung kecuali dua pihak yakin bahwa mereka memperoleh keuntungan dirinya. Mayoritas kesalahan ekonomi berasal dari pengabaian akan kesadaran yang bersahaja ini, dari kecenderungan untuk menganggap bahwa terdapat kue keuntungan tetap, di mana satu pihak hanya dapat memperolehnya dengan merugikan pihak lain.


    Sebagai akibatnya, sistem harga memungkinkan masyarakat untuk bekerja sama dengan damai dalam satu fase kehidupan mereka sementara masing-masing melakukan bisnisnya sendiri dari berkenaan dengan segala hal lainnya.

    (hlm. 8)
    Kilatan pemikiran genius Adam Smith adalah pengakuannya bahwa harga-harga yang muncul dari transaksi sukarela antara pembeli dan penjual — pendeknya, di pasar bebas — dapat mengoordinasikan aktivitas jutaan orang, masing-masing, mengejar kepentingannya sendiri, dalam cara sedemikian rupa yang membuat setiap orang diuntungkan.


    Sistem harga bekerja begitu baik, begitu efisien, sehingga kita nyaris tidak memedulikannya sepanjang waktu.


    Masalah itu memicu antrean panjang bahan bakar di Amerika Serikat, walaupun negara itu memproduksi sebagian besar minyak miliknya sendiri. Hal itu terjadi karena satu sebab, yakni: legislasi yang dibuat oleh badan pemerintah tidak memungkinkan berfungsinya sistem harga.

    (hlm. 9)
    Harga melakukan tiga fungsi dalam mengorganisir aktivitas ekonomi: pertama, harga mentransmisikan informasi; kedua, menyediakan insentif guna mengadopsi metode-metode produksi tersebut yang paling minimal biayanya dan dengan demikian memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk tujuan-tujuan yang paling bernilai tinggi; ketiga, harga menentukan siapa yang memperoleh banyak dari produk — distribusi pendapatan.

    (hlm. 10)
    Transmisi Informasi
    Sistem harga hanya mentransmisikan informasi penting dan hanya kepada orang yang perlu mengetahuinya. Para produsen kayu, misalnya, tidak harus mengetahui apakah permintaan pensil telah naik karena melonjaknya angka kelahiran atau karena 14.000 formulir pemerintah harus diisi dengan menggunakan pensil.


    Problem utama dalam menyebarkan informasi secara efisien adalah memastikan bahwa setiap orang yang dapat menggunakan informasi bisa memperolehnya tanpa menyumbat keranjang “masuk” dari mereka yang tidak menggunakannya. Sistem harga secara otomatis memecahkan problem ini.

    (hlm. 12)
    Segala hal yang mencegah harga-harga untuk mengungkapkan secara bebas kondisi-kondisi permintaan atau pasokan mengganggu penyampaian informasi akurat.

    (hlm. 13)
    Salah satu dampak utama yang merugikan dari inflasi yang tidak menentu adalah masuknya gangguan dalam penyampaian informasi melalui harga-harga.

    (hlm. 18)
    Sekitar tiga perempat dari seluruh pendapatan yang dihasilkan di Amerika Serikat melalui transaksi pasar berupa kompensasi tenaga kerja (upah dan gaji plus tunjangan-tunjangan), dan sekitar separuh dari sisanya berupa pendapatan pemilik lahan dan perusahaan non-pertanian, yang merupakan campuran pembayaran atas jasa personal dan atas kepemilikan modal.

    (hlm. 20)
    Dalam tiap masyarakat, betapa pun ia terkelola, selalu terdapat ketidakpuasan atas distribusi pendapatan.

    Kita semua merasa sulit untuk memahami mengapa kita harus menerima pendapatan yang lebih sedikit daripada orang lain yang tampaknya lebih berhak memperolehnya — atau mengapa kita harus lebih menderita dibandingkan begitu banyak orang yang kebutuhannya tampak sama besar dan terlihat tidak kekurangan pendapatan.

    Rumput di halaman tetangga memang selalu tampak lebih hijau — jadi kita menyalahkan sistem yang ada. Dalam suatu sistem yang terkomando, rasa iri dan ketidakpuasan diarahkan kepada penguasa. Dalam sebuah sistem pasar bebas, perasaan itu diarahkan ke pasar.

    (hlm. 21)
    Jika pendapatan Anda akan sama saja, entah Anda bekerja keras atau tidak, mengapa Anda harus bekerja keras?

    (hlm. 22)
    Keseluruhan ideologi mereka yang berpusat pada dugaan eksploitasi tenaga kerja di bawah kapitalisme dan penguasa yang bersekutu dari suatu masyarakat berdasarkan pada diktum Marx: “masing-masing memperoleh berdasarkan kebutuhannya, dan masing-masing memberi menurut kemampuannya.”

    Namun, ketidakmampuan untuk menjalankan suatu perekonomian yang murni terpimpin telah membuatnya mustahil untuk memisahkan pendapatan dari harga.


    Itulah mengapa gedung-gedung di Uni Soviet — tidak seperti perumahan publik di Amerika Serikat — tampak tua sekali dalam setahun atau dua tahun sejak pembangunannya, mengapa mesin-mesin di pabrik-pabrik pemerintah rusak dan terus menerus memerlukan perbaikan.

    (hlm. 23)
    Tak perlu dikatakan, dia gagal dalam teori, sebagaimana negara-negara komunis telah gagal dalam praktik.

    (hlm. 24)
    Pandangan Lebih Luas
    Pertimbangan, misalnya, bahasa. Bahasa merupakan struktur rumit yang terus berubah dan berkembang. Bahasa memiliki tatanan yang didefinisikan dengan baik, tetapi tidak ada lembaga sentral yang merencanakannya.

    Tidak ada seorang pun yang memutuskan apa kata-kata yang seharusnya diakui ke dalam bahasa, apa seharusnya peran tata bahasa, kata-kata apa yang seharusnya merupakan kata sifat, serta yang mana adalah kata benda.

    (hlm. 25)
    Dua pihak yang ingin berkomunikasi satu sama lain diuntungkan oleh kesepakatan bersama mengenai kata-kata yang mereka pergunakan.


    Contoh lain adalah ilmu pengetahuan. Struktur disiplin — fisika, kimia, meteorologi, filsafat, ilmu sastra, sosiologi, ilmu ekonomi — bukan merupakan produk dari keputusan yang disengaja oleh seseorang. Seperti puncak-puncak pencapaian, struktur itu “bertumbuh.”

    (hlm. 26)
    Fisika modern adalah produk pasar bebas ide-ide sebagaimana otomotif modern merupakan produk pasar bebas barang-barang.

    (hlm. 27)
    Struktur yang dihasilkan oleh pertukaran sukarela, apakah ini merupakan penemuan bahasa atau ilmu pengetahuan atau gaya musikal atau sistem ekonomi, mengembangkan kehidupan miliknya sendiri.

    Obsesi sempit dengan ekonomi pasar telah memicu interpretasi sempit tentang kepentingan diri sendiri sebagai rabun dekat keegoisan, sebagaimana perhatian eksklusif dengan imbalan material segera.

    (hlm. 28)
    Itu merupakan kesalahan besar. Kepentingan diri sendiri bukan merupakan rabun jauh keegoisan. Kepentingan diri adalah segala hal yang menarik para partisipan, apa pun yang mereka anggap berharga, dan segala tujuan yang mereka kejar.

    Ilmuwan berusaha memajukan garis batas disiplinya, misionaris berusaha mengubah orang kafir menjadi sungguh-sungguh beriman, filantropis berusaha membawa kenyamanan kepada mereka yang membutuhkan atau berkekurangan — semua mengejar kepentingannya, sebagaimana yang mereka ketahui, sebagaimana mereka menaksir berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri.

    PERAN PEMERINTAH
    Pemerintah juga merupakan bentuk dari sebuah kerja sama sukarela, sebuah jalan tempat masyarakat memilih untuk mencapai sebagian dari tujuan-tujuannya melalui entitas pemerintahan karena mereka meyakini bahwa ini merupakan sarana yang paling efektif untuk mencapainya.

    (hlm. 29)
    Namun, pemerintah adalah lebih daripada itu. Pemerintah juga merupakan badan yang secara luas dipandang memiliki monopoli legitimasi penggunaan kekuatan atau ancaman kekuatan sebagai sarana bagi sebagian pihak untuk dapat secara sah memberlakukan pembatasan-pembatasan melalui kekuatan terhadap pihak lain.

    (hlm. 32)
    Menurut sistem kebebasan alami, penguasa hanya memiliki tiga tugas untuk diurus.

    Tiga tugas itu memiliki tingkat kepentingan yang besar, tetapi sederhana dan dapat dimengerti bagi pemahaman biasa: pertama, tugas melindungi masyarakat dari kekerasan serta inovasi dari masyarakat independen lain; kedua, tugas melindungi, sejauh dimungkinkan, setiap anggota masyarakat dari ketidakadilan atau penindasan dari anggota lain, atau tugas memantapkan kepastian penanganan keadilan; dan, ketiga, kewajiban menyelenggarakan serta mempertahankan pekerjaan umum dan lembaga publik tertentu, yang tidak pernah menarik lagi individu atau sekelompok kecil individu, walaupun lembaga tersebut sering kali bisa melakukan lebih banyak hal daripada sekadar menutupi biaya yang dikeluarkan masyarakat secara keseluruhan.

    (hlm. 34)
    Tindakan pemerintah juga mempunyai dampak bagi pihak ketiga. “Kegagalan pemerintah” tidak kurang daripada “kegagalan pasar” yang muncul dari dampak “eksternal” atau “lingkungan sekitar”.


    Jika warga masyarakat kesulitan menentukan siapa yang harus menuntut biaya atau memberikan keuntungan kepada siapa, maka sulit pula bagi pemerintah untuk melakukan hal yang sama. Akibatnya, upaya pemerintah untuk memperbaiki situasi bisa jadi sangat mungkin berakhir dengan memburuknya permasalahan, bukannya membaik — mengenakan biaya kepada pihak ketiga yang tidak bersalah atau memberikan keuntungan kepada penonton yang mujur.

    (hlm. 35)
    Kita seharusnya mengembangkan praktik pemeriksaan baik benefit maupun biaya dari pengajuan intervensi pemerintah serta masyarakat keseimbangan yang jelas antara keuntungan dengan biaya sebelum melakukan intervensi.


    Kewajiban keempat pemerintah yang tidak secara eksplisit disebutkan oleh Adam Smith adalah kewajiban melindungi anggota masyarakat yang tidak dapat dipandang sebagai individu-individu yang “mempunyai tanggung jawab”.

    (hlm. 36)
    Kebebasan merupakan tujuan yang dapat dipertahankan hanya untuk para individu yang punya tanggung jawab. Kita tidak memercayai adanya kebebasan untuk orang gila atau anak-anak.


    Hingga saat ini, keluarga merupakan bagian pembangun dasar dari masyarakat kita, meskipun pengaruhnya dengan jelas telah melemah — sebagai salah satu konsekuensi yang tidak menyenangkan dari pertumbuhan paternalisme pemerintah.


    Kita meyakini, dan dengan alasan yang baik, bahwa orang tua mempunyai lebih banyak kepentingan atas anak-anak mereka daripada orang lain dan bisa diandalkan untuk melindungi mereka serta untuk memastikan perkembangan mereka menjadi orang dewasa yang mampu mengemban tanggung jawab.

    (hlm. 37)
    Tarif bea masuk, penetapan harga, dan upah yang diatur pemerintah, pembatasan jalur masuk berbagai pekerjaan, serta banyak hal lain yang meninggalkan “sistem sederhanaan kebebasan alami” Adam Smith.

    KETERBATASAN PEMERINTAH DALAM PRAKTIK
    Mungkin contoh terbaik adalah Hong Kong — sepetak wilayah yang bersebelahan dengan China daratan seluas kurang dari 400 mil persegi dengan populasi sekitar 4,5 juta orang. Kepadatan populasinya hampir tidak bisa dipercaya — 14 kali jumlah orang per mil persegi jika dibandingkan dengan Jepang, 185 kali jika dibandingkan dengan Amerika Serikat. Tetapi mereka menikmati salah satu standar hidup tertinggi di seluruh Asia — hanya di peringkat kedua setelah Jepang dan mungkin Singapura.

    (hlm. 38)
    Hong Kong tidak memiliki tarif bea masuk atau pembatasan lain pada perdagangan internasionalnya (kecuali untuk beberapa pembatasan “sukarela” yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan beberapa negara besar lain). Hong Kong tidak memiliki arahan pemerintah terhadap aktivitas ekonomi, tidak ada perundangan upah minimum, tidak ada pematokan harga. Warga Hong Kong bebas untuk membeli dari siapa pun yang mereka inginkan, bebas menjual kepada siapa pun yang dimaui, untuk berinvestasi sesuai keinginan, untuk memperkerjakan siapa pun yang diinginkan, untuk bekerja bagi siapa pun yang dikehendaki.


    Walaupun belanja pemerintah telah bertumbuh seiring dengan pertumbuhan ekonomi, ia tetap di antara yang terendah di dunia sebagai bagian pendapatan masyarakat. Sebagai akibatnya, pajak yang rendah mempertahankan insentif. Para pembisnis dapat meraup keuntungan dari sukses mereka tetapi juga harus menanggung biaya dari kesalahan mereka.

    (hlm. 39)
    Satu contoh, Jepang dalam 30 tahun pertama setelah Restorasi Meiji di tahun 1867, kita bicarakan dalam Bab 2.


    Kemenangan final dalam pertempuran itu muncul 70 tahun kemudian, pada 1846, dengan pencabutan apa yang disebut Corn Laws — undang-undang yang memberlakukan tarif bea masuk serta pembatasan lain terhadap impor gandum dan biji-bijian lain, yang disebut secara kolektif sebagai “jagung”.

    Itu menghantarkan pada tiga perempat abad perdagangan bebas yang berlangsung hingga pecahnya Perang Dunia I dan menyelesaikan transisi yang telah dimulai beberapa dasawarsa sebelumnya terhadap suatu pemerintah yang sangat terbatas, satu hal yang membuat setiap warga Inggris, dalam kata-kata Adam Smith yang dikutip sebelumnya, “secara sempurna bebas untuk mengejar kepentingannya sendiri dengan caranya sendiri, serta membawa industri maupun modal ke dalam kompetisi dengan pihak lain, atau tatanan pihak lain.”


    Sementara belanja pemerintah sebagai bagian dari pendapatan nasional anjlok — hampir seperempat dari pendapatan nasional pada awal abad ke-19 menjadi sekitar sepersepuluh dari pendapatan nasional pada waktu perayaan peringatan Ratu Victoria pada 1897, saat itulah Inggris tepat berada di puncak kekuasaan dan kemuliaannya.

    (hlm. 40)
    Mereka makmur karena mereka dibiarkan untuk bekerja dengan bebas.

    (hlm. 41)
    Para pendahulu mereka mungkin telah diperdaya, tetapi tidaklah dapat dibayangkan bahwa jutaan orang datang ke Amerika Serikat selama berpuluh-puluh tahun untuk dieksploitasi.


    Jika para petani mengalami eksploitasi, mengapa jumlah mereka meningkat? Harga-harga produk pertanian menurun. Akan tetapi, hal itu merupakan tanda keberhasilan, bukan kegagalan. Hal itu mencerminkan perkembangan komunikasi, yang semuanya mengarah pada pertumbuhan pesat hasil pertanian. Bukti akhir adalah harga tanah pertanian yang terus-menerus meningkat—nyaris tidak menandakan bahwa pertanian merupakan industri yang lesu!

    (hlm. 42)
    Kerja sama sukarela tidak kurang efektif dalam mengelola aktivitas amal daripada dalam mengelola produksi yang bertujuan mencari laba.


    Di samping peperangan besar, belanja pemerintah sejak 1800 hingga 1929 tidak melampaui sekitar 12 persen dari pendapatan nasional. Dua pertiga di antaranya dibelanjakan oleh pemerintahan daerah dan negara, mayoritas untuk sekolah-sekolah dan infrastruktur jalan. Selambat-lambatnya pada 1928, belanja pemerintah federal berkisar 3 persen dari pendapatan nasional.

    (hlm. 43)
    Masyarakat adalah apa yang kita bentuk. Kita dapat membentuk institusi-institusi kita. Karakteristik fisik dan manusia membatasi alternatif-alternatif yang tersedia bagi kita.

    Tetapi tidak seorang pun mencegah kita, jika mau, untuk membangun sebuah masyarakat yang bergantung terutama pada kerja sama sukarela guna mengelola kegiatan ekonomi maupun lainnya, suatu komunitas yang memelihara serta memperluas kebebasan manusia, yang mempertahankan pemerintahan agar tetap berada di tempatnya, mempertahankan menjadi pelayan kita dan tidak membiarkannya menjadi tuan kita.

    2. Tirani Pengendalian
    (hlm. 44)
    Adam Smith menegaskan tentang adanya “kepentingan palsu dari para pedagang dan pabrikan.”
    “Kita telah bertemu dengan musuh dan mereka adalah kita.” Kita mengecam “kepentingan-kepentingan khusus” kecuali ketika “kepentingan khusus” itu milik kita sendiri.

    Masing-masing dari kita mengetahui bahwa apa yang baik untuknya adalah baik bagi negara—jadi “kepentingan khusus” kita adalah berbeda. Hasil akhirnya adalah simpang-siur pembatasan dan larangan yang membuat hampir sebagian besar dari kita menjadi lebih buruk daripada jika itu semua dieliminasi. Kita lebih banyak gagal dalam melayani “kepentingan khusus” pihak lain daripada saat melayani “kepentingan khusus” kita sendiri.

    (hlm. 45)
    Hal ini mengemukakan, sebagaimana ditampilkan oleh contoh-contoh lain, bahwa perdagangan bebas di dalam negeri maupun di luar negeri merupakan cara terbaik di mana sebuah negara miskin dapat mempromosikan kesejahteraan warga negaranya.

    PERDAGANGAN INTERNASIONAL
    Bahkan sejak Adam Smith terdapat kebulatan suara implisit di antara para ekonom, apa pun posisi ideologi mereka terhadap isu-isu lain, bahwa perdagangan bebas internasional merupakan kepentingan terbaik dari negara-negara yang melakukan perdagangan dan dari dunia.

    (hlm. 46)
    Amerika Serikat memiliki tarif bea masuk selama abad ke-19 dan tarif itu masih dinaikkan lebih tinggi pada abad ke-20, terutama melalui rancangan undang-undang bea masuk Smoot-Hawley di tahun 1930, di mana sebagian ilmuwan menganggapnya sebagai salah satu penyebab depresi yang terjadi setelahnya.

    (hlm. 47)
    Kasus Ekonomi untuk Perdagangan Bebas

    Satu suara yang hampir tidak pernah muncul adalah suara konsumen.


    Suara individu dari konsumen tenggelam dalam hiruk-pikuk “kepentingan palsu para pedagang dan pabrikan” serta para pekerjanya.


    Jika yang kita inginkan adalah sekadar pekerjaan, kita dapat menciptakannya dalam jumlah banyak—misalnya, membuat orang menggali lubang dan kemudian menutupnya kembali, atau mengerjakan tugas-tugas tidak berguna lain.

    Kerja sering kali adalah imbalan itu sendiri.

    Betapapun, sebagai besar, kerja merupakan harga yang kita berikan untuk memperoleh hal-hal yang diinginkan. Tujuan nyata kita bukan sekadar memperoleh pekerjaan yang akan berarti lebih banyak barang dan jasa untuk dikonsumsi. Buah pikiran keliru lain yang jarang dipermasalahkan adalah ekspor itu baik, sementara impor itu buruk. Kenyataannya sangatlah lain. Kita tidak bisa makan, mengenakan pakaian, atau menikmati barang-barang yang kita kirim ke luar negeri.

    (hlm. 48)
    Ekspor merupakan harga yang kita bayarkan untuk memperoleh impor. Sebagaimana Adam Smith melihat dengan begitu jelas, warga dari suatu negara menarik keuntungan sebesar volume impor yang dimungkinkan sebagai imbalan atas ekspornya, atau secara ekuivalen, dari mengekspor sesedikit mungkin untuk membayar impornya.


    Dalam lingkup rumah tangga pribadi, Anda tentu akan lebih suka untuk membayar lebih sedikit agar mendapatkan lebih banyak barang daripada sebaliknya, tetapi itu akan dipandang sebagai “neraca pembayaran yang tidak menguntungkan” dalam perdagangan luar negeri.


    Buah pikiran yang keliru pada argumentasi ini adalah penggunaan istilah upah “tinggi” dan upah “rendah” secara tidak tepat. Apa makna upah tinggi dan upah rendah? Para pekerja Amerika dibayar dengan dolar AS; pekerja Jepang dibayar menggunakan yen. Bagaimana kita membandingkan upah dalam dolar dengan upah dalam yen?

    (hlm. 49)
    Bagaimana kita membayar rakyat Jepang? Kita akan menawarkan kepada mereka uang dolar AS. Apa yang akan mereka lakukan dengan uang dolar AS? Kita berasumsi bahwa pada 360 yen yang setara dengan satu dolar AS, segalanya menjadi lebih murah di Jepang, jadi tidak ada apa pun di pasar Amerika Serikat yang ingin mereka beli.

    Jika para eksportir Jepang berkeinginan membakar atau mengubur uang dolar AS, itu akan sangat bagus bagi kita. Kita akan memperoleh semua jenis barang dengan potongan-potongan kertas hijau yang dapat kita produksi dengan sangat berlimpah serta sangat murah. Kita akan memiliki industri ekspor yang mengagumkan yang paling mungkin.


    Tentu saja, rakyat Jepang pada faktanya tidak akan menjual kepada Amerika barang-barang berfaedah hanya untuk memperoleh potongan-potongan kertas yang tidak berguna untuk dikubur atau dibakar. Seperti Amerika, mereka menginginkan memperoleh sesuatu yang riil sebagai imbal hasil kerjanya. Jika semua barang lebih murah di Jepang daripada di Amerika Serikat pada level 360 yen per dolar AS, para eksportir akan mencoba menghabiskan dolar AS guna membeli barang-barang Jepang yang lebih murah. Tetapi siapa yang ingin membeli dolar AS tersebut?

    (hlm. 51)
    Masyarakat di negara mana pun menginginkan dolar AS terutama untuk membeli item-item yang berguna, bukan untuk menimbunnya.


    Selama abad ke-19 Amerika Serikat mengalami defisit neraca pembayaran hampir setiap tahun—suatu negara perdagangan “tidak menguntungkan” yang baik untuk setiap orang.

    (hlm. 52)
    Itu adalah sekadar praktik kompetisi pasar, sumber utama dari standar hidup tinggi pekerja Amerika. Jika kita menginginkan keuntungan dari sistem ekonomi yang vital, dinamis, serta inovatif, kita harus menerima keharusan akan mobilitas dan penyesuaian.

    (hlm. 53)
    Amerika seharusnya berkonsentrasi untuk mengerjakan hal-hal yang dapat dilakukannya dengan paling baik, hal-hal di mana superioritas Amerika adalah terbaik.

    (hlm. 55)
    Di pihak lain, produk-produk yang dibuat dari baja bisa dibeli dengan harga lebih murah.
    Tentu saja, akan memerlukan waktu untuk menyerap para pekerja pabrik baja yang sekarang menganggur.

    (hlm. 56)
    Argumentasi keamanan nasional bahwa tumbuh suburnya industri baja domestik, misalnya, dibutuhkan untuk pertahanan tidak memiliki dasar yang lebih baik. Pertahanan nasional hanya mengambil bagian kecil dari total baja yang dipakai di Amerika Serikat. Dan adalah tidak dapat dimengerti jika perdagangan bebas baja akan menghancurkan industri baja Amerika.

    (hlm. 58)
    Berulang kali terjadi krisis nilai tukar mata uang asing. Alasan yang terdekat adalah karena nilai tukar mata uang asing tidak ditentukan dalam sebuah pasar bebas.

    (hlm. 59)
    Pertama adalah argumentasi keamanan nasional yang sudah disebutkan, yang digunakan untuk menjustifikasi mempertahankan fasilitas produktif yang tidak ekonomis.


    Kedua adalah argumentasi “industri tunas” (infant industry), misalnya, oleh Alexander Hamilton dalam karyanya Report on Manufactures.

    (hlm. 60)
    Argumentasi industri tunas adalah tabir asap. Apa yang disebut tunas itu tidak pernah bertumbuh. Begitu diberlakukan, tarif bea masuk jarang dihapuskan.

    (hlm. 61)
    Argumentasi ketiga untuk tarif bea masuk yang tidak bisa dilepaskan adalah argumentasi “beggar-thy-neighbor”.

    (hlm. 62)
    Argumentasi keempat, yang dibuat oleh Alexander Hamilton dan terus diulangi hingga sekarang, adalah bahwa perdagangan bebas akan baik jika semua negara lain mempraktikkan perdagangan bebas.


    Negara-negara lain yang memberlakukan pembatasan pada perdagangan internasional menyakiti Amerika. Namun, mereka juga menyakiti dirinya sendiri.


    Persaingan dalam masokisme dan sadisme hampir bukan merupakan resep untuk kebijakan ekonomi internasional yang bijaksana!

    (hlm. 63)
    Amerika dapat berkata kepada dunia: kami meyakini kebebasan dan bermaksud mempraktikkannya. Kami tidak bisa memaksa Anda untuk bebas. Namun, kami bisa menawarkan kerja sama penuh dengan ketentuan-ketentuan yang setara bagi semua. Pasar kami terbuka bagi Anda tanpa tarif bea masuk atau pembatasan-pembatasan lain.

    Juallah di sini apa yang Anda bisa dan inginkan. Belilah apa pun yang Anda dapat dan inginkan.

    Dengan cara itu kerja sama di antara individu-individu bisa mendunia dan bebas.

    (hlm. 64)
    Transaksi tidak akan berlangsung kecuali semua pihak meyakini mereka akan memperoleh keuntungan dirinya.


    Selama satu abad sejak Waterloo sampai pada Perang Dunia I menawarkan contoh langsung dari dampak menguntungkan perdagangan bebas terhadap hubungan di antara bangsa-bangsa.

    (hlm. 65)
    Sebagai akibatnya, selama satu abad sejak Waterloo hingga pada Perang Dunia I merupakan salah satu masa yang paling damai dalam sejarah manusia di antara negara-negara Barat, hanya dirusak oleh beberapa perang kecil — Perang Crimea dan Perang Franco-Prusia adalah yang paling dikenang — dan, tentu saja, sebuah perang sipil besar di dalam negeri Amerika Serikat, di mana perang itu sendiri merupakan hasil dari hal utama — perbudakan — dari situlah Amerika Serikat berangkat menuju kebebasan ekonomi dan politik.

    (hlm. 66)
    Perdagangan Bebas Internasional dan Kompetisi Internal
    Namun, biarkanlah para produsen otomotif di dunia bersaing dengan General Motors, Ford, dan Chrysler untuk memenuhi kebutuhan pembeli Amerika, maka momok monopoli harga menghilang.


    Hampir mustahil untuk melakukan monopoli pada tingkatan dunia. Monopoli berlian De Beers adalah satu-satunya yang kita tahu tampaknya bisa berhasil.

    (hlm. 69)
    Perencanaan Ekonomi Terpusat
    Contoh yang paling jelas adalah perbedaan antara Jerman Timur dengan Jerman Barat, yang semula merupakan satu keutuhan, kemudian terkoyak hingga hancur-lebur oleh gejolak permusuhan.

    Masyarakat dari darah yang sama, peradaban yang sama, keahlian teknik serta pengetahuan dengan level yang sama mendiami dua bagian berbeda. Manakah yang memperoleh kemakmuran?

    (hlm. 70)
    Hal ini merupakan keajaiban pasar bebas. Ludwig Erhard, seorang ekonom, adalah menteri Ekonomi Jerman. Pada Minggu, 20 Juni 1948, dia secara terus-menerus memperkenalkan mata uang baru, Deutsche Mark yang kita kenal sekarang ini, serta mengunggurkan hampir semua kontrol terhadap upah dan harga-harga. Dia bahkan bekerja di hari Minggu, dia senang mengatakannya, karena kantor-kantor di otoritas pendudukan Prancis, Amerika, dan Inggris tutup pada hari itu. Karena kantor-kantor itu mendukung kontrol, Erhard yakin jika dia tidak bertindak ketika kantor-kantor itu buka, otoritas pendudukan akan membatalkan perintahnya.

    Tindakannya bekerja seperti sihir.

    Hanya dalam hitungan hari, toko-toko penuh dengan barang-barang. Dalam hitungan bulan, roda perekonomian Jerman telah berputar.

    (hlm. 72-73)
    Para ekonom dan ilmuwan sosial secara umum jarang melakukan percobaan-percobaan terkontrol semacam ini yang begitu penting dalam menguji hipotesis dalam bidang ilmu pengetahuan alam. Namun, pengalaman telah menghasilkan sesuatu yang sangat dekat dengan percobaan terkontrol sehingga dapat kita gunakan untuk menguji pentingnya perbedaan metode dari organisasi ekonomi.
    Terdapat rentang waktu selama delapan dekade.

    Dalam berbagai hal, kedua negara itu dalam kondisi yang sangat serupa pada permulaan periode yang kita bandingkan. Keduanya merupakan negara dengan peradaban kuno dan budaya yang canggih. Masing-masing memiliki populasi yang sangat terstruktur. Jepang mempunyai struktur feodal dengan daimyo (raja-raja feodal) dan hamba budak (pengolah tanah). India memiliki sistem kasta yang ketat dengan Brahmana di bagian puncak dan kaum Paria (tanpa kasta) di bagian terbawah, yang oleh Inggris tetap dimasukkan dalam “daftar kasta.”

    (hlm. 74-75)
    Jepang saat itu hanya memiliki satu peluang. Pada tahun-tahun awal setelah Restorasi Meiji, tanaman sutra Eropa mengalami gagal panen yang parah sehingga memungkinkan Jepang memperoleh lebih banyak devisa melalui ekspor sutra daripada yang mungkin diperolehnya. Selain peluang itu, tidak ada peruntungan yang bagus atau sumber-sumber modal yang memadai.

    (hlm. 78)
    Jepang mempertahankan industri-industri ini karena industri ini tidak menarik bagi perusahaan swasta serta memerlukan subsidi pemerintah dalam jumlah besar.

    (hlm. 82-83)
    Kontrol dan Kebebasan
    Kebebasan Ekonomi
    Itulah mengapa diinginkan untuk sebisa mungkin menggunakan kotak suara hanya untuk keputusan-keputusan di mana konformitas sangat penting.

    (hlm. 86)
    Pemerintah federal mempunyai 46 persen dari setiap perusahaan — meskipun bukan dalam bentuk yang memberinya hak untuk menentukan secara langsung atas urusan-urusan bisnis perusahaan.

    (hlm. 90-91)
    Anatomi Krisis
    Pergeseran opini di kalangan publik maupun ahli ekonomi merupakan akibat dari kesalahpahaman atas apa yang sebenarnya terjadi. Kita sekarang mengetahui kemudian bahwa depresi ekonomi tidak dihasilkan oleh kegagalan perusahaan swasta, namun oleh kegagalan pemerintah di bidang yang sejak semula telah menjadi tanggung jawab mereka—”Mencetak uang, dan karenanya juga meregulasi nilainya, serta meregulasi mata uang asing,” dalam kata-kata Bagian 8, Artikel 1, dari konstitusi Amerika Serikat.

    (hlm. 92-98)
    Asal Mula Sistem Bank Sentral Amerika Serikat
    Seiring waktu berlalu, “operasi pasar terbuka” — pembelian atau penjualan obligasi pemerintah — daripada merediskontokan menjadi cara utama di mana Sistem menambahkan atau dikurangi dari jumlah uang.

    (hlm. 100-102)
    Tahun-tahun Awal Sistem Reserve
    Banyak keberhasilan semasa abad ke-20 dapat dinisbahkan kepada Benjamin Strong, seorang bankir New York yang merupakan pimpinan pertama Federal Reserve Bank of New York dan tetap memimpin lembaga itu hingga kematiannya yang terlalu cepat pada 1928.

    (hlm. 105-107)
    Krisis Perbankan
    Yang jauh lebih penting, bank dimiliki serta dikelola oleh orang Yahudi. Bank ini merupakan salah satu dari sedikit bank yang dimiliki warga Yahudi dalam industri tersebut, lebih dari hampir semua hal lainnya, telah menjadi perlindungan mereka yang berasal dari keluarga terpandang. Bukan kebetulan, rencana penyelamatan melibatkan Bank of United States dengan satu-satunya bank besar lain di New York City yang sahamnya sebagian besar dimiliki serta dikelola oleh orang Yahudi, plus dua bank lain yang jauh lebih kecil yang juga dimiliki oleh warga Yahudi.


    Rencana tersebut gagal karena New York Clearing House pada saat-saat terakhir menarik diri dari pengaturan yang sudah diajukan—menurut dugaan kemungkinan besar karena anti-Semitisme dari sebagian para anggota terkemuka komunitas perbankan.

    (hlm. 111-112)
    Fakta-fakta dan Interpretasi
    Penyebab atau Dampak
    Kolaps moneter merupakan penyebab sekaligus dampak dari kolaps ekonomi.

    (hlm. 113)
    Tidak satu pun merupakan justifikasi yang valid untuk kegagalan Sistem dalam melakukan tugas yang telah dibentuk oleh para pendirinya.

    (hlm. 114)
    Di Mana Depresi Dimulai
    Bukti bahwa depresi berpindah dari Amerika Serikat ke bagian dunia lain, dan bukan sebaliknya, datang dari pergerakan emas.

    (hlm. 115)
    (Pada praktiknya, tentu saja, sebagian besar dari transfer-transfer ini tidak melibatkan pengapalan harfiah dari emas yang melintasi samudra. Banyak dari emas yang dipunyai oleh bank-bank sentral asing disimpan di lemari besi New York Federal Reserve Bank, “ditandai” bagi negara yang mempunyainya. Transfer dilakukan dengan mengubah label pada kontainer yang menyimpan batangan-batangan emas di ruang bawah tanah yang berada di bawah gedung bank di alamat 33 Liberty Street di kawasan Wall Street.)

    (hlm. 117)
    Dampak pada Sistem Bank Sentral AS
    Satu simbol perubahan adalah perpindahan Dewan Bank Sentral AS dari kantor yang sederhana di Gedung Departemen Keuangan AS ke bangunan bergaya Yunani yang bagus sekali milik mereka sendiri di Constitution Avenue (dilengkapi juga dengan bangunan tambahan yang masif).

    (hlm. 118-119)
    Ia dengan demikian terus mempromosikan mitos bahwa perekonomian swasta adalah tidak stabil, sementara perilakunya terus mendokumentasikan realitas bahwa pemerintah sekarang ini merupakan sumber utama dari ketidakstabilan ekonomi.

    (hlm. 120-121)
    Dari Awal Sampai Akhir
    Selama 72 tahun sejak 1860 hingga 1932, Partai Republik memegang jabatan kepresidenan selama 56 tahun, Partai Demokrat selama 16 tahun. Dalam 48 tahun sejak 1932 sampai 1980, keadaan berbalik: Demokrat memegang tampuk kepresidenan selama 32 tahun, Republik selama 16 tahun.


    Sejak berdirinya Partai Republik sampai 1929, belanja pemerintah di semua level, federal, negara bagian, dan lokal, tidak pernah melampaui 12 persen dari pendapatan nasional. Sejak 1933 belanja pemerintah tidak pernah kurang 20 persen dari pendapatan nasional dan sekarang melampaui 40 persen, serta dua pertiga dari belanja itu berasal dari pemerintah federal.

    (hlm. 122)
    Peran pemerintah federal dalam perekonomian telah berlipat ganda sekitar 10 kali lipat dalam setengah abad terakhir.

    (hlm. 123)
    Pegawai negeri yang penuh kebaikan, para ahli tanpa pamrih, seharusnya menerima kewenangan yang telah diselewengkan oleh mereka yang berpikiran sempit, “pendukung kerajaan ekonomi” yang mementingkan dirinya sendiri.


    Dalam mendesain program-program yang akan dijalankan Roosevelt, mereka tidak hanya mengambil dari kampus, tetapi juga pengalaman awal, Bismarck dari Jerman, Fabian Inggris, dan jalan tengah Swedia.

    (hlm. 125)
    Depresi meyakinkan publik bahwa kapitalisme adalah cacat; perang, yakni pemerintahan tersentralisasi, adalah efisien. Kedua kesimpulan keliru.

    (hlm. 127)
    Departemen Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan, didirikan pada 1953 guna mengonsolidasikan program kesejahteraan yang terpencar-pencar itu, dimulai dengan anggaran 2 miliar dolar AS, kemudian, pada 1978, anggarannya mencapai 160 miliar dolar AS, jumlahnya setara dengan satu setengah kali lipat total belanja di Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara Amerika Serikat. Ini berarti anggaran terbesar ketiga di dunia, hanya dilampaui oleh total anggaran pemerintah AS dan Uni Soviet.

    (hlm. 128)
    Semua tujuan adalah mulia; hasil-hasilnya, mengecewakan.

    (hlm. 129)
    Kemungkinan Negara Sejahtera Modern
    Motif Bismarck adalah campuran rumit antara perhatian paternalistik bagi kelas-kelas yang lebih rendah serta kecerdasan politik.

    (hlm. 135-138)
    Jaminan Sosial
    Program utama kesejahteraan negara di Amerika Serikat pada tingkat federal adalah Jaminan Sosial — usia lanjut, mereka yang selamat dari bencana, penyandang cacat, dan asuransi kesehatan. Pada satu sisi, program ini seperti sapi suci yang tidak boleh dipertanyakan oleh seorang politisi pun — sebagaimana dikemukakan oleh Barry Goldwater pada 1964.


    Faktanya adalah, pajak yang dikumpulkan dari mereka yang bekerja dipakai untuk membayar benefit orang-orang yang sudah pensiun atau orang-orang yang bergantung kepadanya, serta para survivor.

    Jaminan hanya semata-mata berasal dari keinginan para pembayar pajak di masa depan untuk memberlakukan pajak pada diri mereka sendiri, guna membayar manfaat para pembayar pajak yang mereka janjikan kepada diri sendiri pula.

    “Kesepakatan antar generasi” yang bersifat sepihak ini diselinapkan pada generasi-generasi yang tidak dapat memberikan persetujuan mereka, adalah hal yang sangat berbeda dari sebuah “trust fund.” Ini lebih mirip surat berantai.

    (hlm. 141)
    Mereka memandang dirinya sendiri sebagai kelompok elite dalam masyarakat yang mengetahui apa yang baik untuk orang lain dengan lebih baik daripada apa yang dikerjakan oleh orang-orang tersebut bagi dirinya sendiri, seorang elite yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk membujuk para pemilih, untuk meloloskan hukum yang akan baik untuk mereka, bahkan jika mereka harus memperdaya pemilih agar membuatnya melakukan hal tersebut.


    Akar masalah finansial jangka panjang dari Jaminan Sosial berasal dari satu fakta sederhana: jumlah masyarakat yang menerima pembayaran sistem telah meningkat dan akan terus meningkat lebih cepat daripada jumlah pekerja yang pajak gajinya dapat dikenakan guna membiayai pembayaran-pembayaran tersebut.


    Sebagaimana diindikasikan kata-kata ini, program Jaminan Sosial melibatkan transfer dari mereka yang muda usia kepada kaum tua.

    (hlm. 142)
    Anak-anak membantu orang tua mereka demi cinta atau kewajiban.


    Hasil bersihnya adalah kaum miskin cenderung membayar pajak lebih lama dan menerima manfaat lebih sedikit daripada kaum kaya — semuanya atas nama membantu rakyat miskin!

    (hlm. 143)
    “Belanja publik dibuat untuk manfaat primer kelas menengah, serta didanai dengan pajak yang ditopang secara signifikan oleh kaum miskin dan kaya.”

    (hlm. 145)
    Tentu saja, uang ini tidak diterima oleh kaum miskin. Sebagian dialirkan oleh selang pengisap pengeluaran administratif, mendukung birokrasi masif pada skala penggajian yang atraktif.

    (hlm. 147)
    Wilayah tersebut terlihat seperti kota yang dibombardir, dengan banyak bangunan ditinggalkan sebagai hasil kontrol sewa dan lainnya hancur karena kerusuhan. Kelompok “sweet equity” telah bekerja untuk merehabilitasi bangunan-bangunan dalam wilayah yang ditinggalkan ini melalui upaya mereka sendiri menjadi perumahan agar mereka dapat seterusnya menghuni.

    (hlm. 148)
    Membangun serta memiliki sendiri rumah akan membuat partisipan dalam proyek merasa bangga dengan rumahnya, dan memelihara rumah tersebut dengan baik.

    (hlm. 150)
    Setelah perumahan dibangun, pemerintah dan berbagai “konstituen” ini hanya memiliki sedikit kepentingan padanya.

    (hlm. 150)
    Perawatan Kesehatan
    Setelah peluncuran Medicare dan Medicaid pada 1965, belanja pemerintah di bidang kesehatan dengan cepat menggunung, mencapai 68 miliar dolar AS pada 1977, atau sekitar 4,5 persen dari pendapatan nasional.

    (hlm. 151)
    Asuransi kesehatan nasional adalah contoh lain dari pelabelan yang menyesatkan. Dalam sistem yang demikian tidak akan terdapat kaitan antara apa yang akan Anda bayar serta nilai yang berhubungan dengan penaksiran sebelumnya atas apa yang berhak Anda terima, sebagaimana pada asuransi swasta.

    (hlm. 152)
    Sistem penandaan dan penyampaian perawatan medis secara sukarela yang telah dikembangkan di Inggris selama 200 tahun sebelumnya, hampir semuanya tereliminasi. Sistem wajib yang ada sekarang diorganisir ulang dan dibuat secara praktis agar menjadi universal.

    (hlm. 153)
    Makin birokratis sebuah organisasi, makin besar tingkat ketidakbergunaan kerja yang akan cenderung menggantikan kerja yang berguna — perluasan menarik dari salah satu hukum Parkinson.

    (hlm. 154)
    Sebagaimana terhadap yang pertama, masyarakat negeri itu harus membayar biaya dengan satu cara atau lainnya; satu-satunya pertanyaan adalah apakah mereka membayarnya secara atas nama mereka sendiri, atau secara tidak langsung melalui mediasi birokrasi pemerintah yang akan mengurangi bagian substansial dari gaji dan belanja mereka sendiri.

    (hlm.155, 157, 158)
    BUAH FIKIRAN KELIRU TENTANG NEGARA YANG SEJAHTERA
    Semua program kesejahteraan termasuk ke dalam kategori III—misalnya, Jaminan Sosial yang melibatkan pembayaran tunai sehingga penerimanya bebas untuk membelanjakannya sesuai keinginannya; atau Kategori IV—misalnya, perumahan publik; kecuali untuk program-program Kategori IV mempunyai ciri yang sama dengan Kategori III, yakni, bahwa birokrat yang mengelola program ikut serta dalam makan siang; dan semua program kategori III memiliki birokrat di antara para penerimanya.


    Birokrat yang mengelola program-program juga membelanjakan uang orang lain. Maka dari itu, tidak mengherankan jika jumlah yang dibelanjakan menjadi membengkak.


    Daya tarik untuk mendapatkan uang orang lain adalah kuat. Banyak, termasuk para birokrat yang mengelola program, akan mencoba untuk mendapatkannya bagi diri mereka sendiri daripada membuatnya mengalir kepada orang lain.

    (hlm.160)
    Dampaknya adalah memengaruhi satu kelompok perasaan terhadap kekuatan yang mirip seperti Tuhan; di pihak lain, perasaan ketergantungan seperti seorang anak.

    APA YANG SEHARUSNYA DIKERJAKAN
    Mayoritas program-program kesejahteraan sekarang ini seharusnya tidak pernah diberlakukan, banyak orang yang sekarang bergantung padanya akan menjadi individu-individu mandiri bukannya berada di bawah perwakilan negara.

    (hlm.164, 165)
    Jika ia menggantikannya, pajak pendapatan negatif akan memiliki banyak keuntungan. Ia mengarahkan secara spesifik pada problem kemiskinan. Ia memberi bantuan dalam bentuk yang paling berguna bagi penerimanya, yakni, dana tunai.


    Ia memberi bantuan karena penerimanya berpendapatan rendah. Ia membuat biaya yang ditanggung oleh para pembayar pajak menjadi eksplisit. Seperti tindakan-tindakan lain untuk meringankan kemiskinan, ia mengurangi insentif dari masyarakat yang dibantu guna membantu diri mereka sendiri.

    Namun, jika tingkat subsidi dipertahankan pada level yang masuk akal, ia tidak menghapuskan insentif tersebut secara keseluruhan. Setiap dana ekstra yang diperoleh selalu berarti lebih banyak uang tersedia untuk dibelanjakan.

    (hlm.171, 172)
    KESIMPULAN
    Dengan perhitungannya sendiri, dalam satu tahun kerugian HEW melalui kecurangan, penyalahgunaan, dan pemborosan uang dalam jumlah yang cukup untuk membangun lebih dari 100.000 rumah dengan biaya lebih dari 50.000 dolar AS per rumah.

    (hlm.173, 174)
    5. Diciptakan Setara
    KESETARAAN DI HADAPAN TUHAN
    Ketika Thomas Jefferson, pada usia 33 tahun, menulis “semua orang diciptakan setara,” dia dan para koleganya tidak mengambil kata-kata ini secara harfiah.

    (hlm.176)
    Pemerintah dibentuk guna melindungi hak tersebut—dari sesama warga negara dan dari ancaman luar—tidak untuk memberi kepada mayoritas kekuasaannya yang tidak terkendali.

    (hlm.178, 179)
    KESETARAAN PELUANG
    Kesetaraan peluang, seperti kesetaraan pribadi, bukannya tidak konsisten dengan kemerdekaan; secara berlawanan, ia merupakan komponen esensial dari kebebasan.

    (hlm.180, 181)
    Kinerja merupakan alternatif nyata, dan akumulasi kekayaan merupakan pengukuran tersedia yang paling siap atas kinerja.

    (hlm.182)
    KESETARAAN HASIL
    Konsep yang berbeda, kesetaraan hasil, telah mendapat landasan yang kuat pada abad ini.
    “Setiap orang menang, dan semuanya harus mendapat hadiah.”

    (hlm.183)
    “Dari setiap orang menurut kemampuannya, kepada setiap orang berdasarkan kebutuhannya.”
    Siapa yang akan memutuskan apa yang “adil”? “Namun siapa yang akan memberikan hadiah-hadiah itu?”
    “Semua hewan setara, namun sebagian hewan lebih setara daripada lainnya.”

    (hlm.185)
    Namun, banyak orang yang membenci pewarisan properti, dan bukannya bakat bawaan.

    (hlm.186)
    Hidup ini tidak adil. Kita mencoba memercayai pemerintahan agar bisa mengoreksi sifat dasar ini.

    Tidak ada yang adil karena Marlene Dietrich dilahirkan dengan kaki yang indah sehingga kita semua ingin memandangnya; atau Muhammad Ali yang dilahirkan dengan keahlian yang membuatnya menjadi petinju hebat.

    Namun di sisi lain, jutaan orang yang sudah memandang dan menikmati kaki Marlene Dietrich, atau menonton salah satu pertandingan Muhammad Ali, telah diuntungkan oleh sifat dasar ketidakadilan yang menghasilkan keduanya. Akan menjadi seperti apa dunia ini jika setiap orang merupakan duplikat orang lainnya?

    (hlm.187)
    Mereka mungkin akan menyukainya untuk satu malam, tetapi akankah mereka kembali untuk bermain jika mereka mengetahui bahwa apapun yang terjadi, ia akan berakhir dengan sama persis dari mana mereka memulainya?

    (hlm.188)
    Sistem di bawahnya di mana masyarakat menghasilkan keputusan-keputusan mereka sendiri—dan menanggung sebagian besar dari konsekuensi atas keputusan mereka.


    Dan menang atau kalah, masyarakat secara keseluruhan diuntungkan oleh hasrat mereka untuk mengambil kesempatan.

    (hlm.190)
    Tidak ada inkonsistensi antara sistem pasar bebas dengan pengerjaan tujuan luas sosial dan budaya, atau antara sebuah sistem pasar bebas dengan perasaan kasihan untuk mereka yang kurang beruntung, apakah belas kasihan itu mengambil bentuk, sebagaimana yang dikerjakannya pada abad ke-19, dari aktivitas amal swasta, atau, sebagaimana dikerjakan di abad ke-20, dari bantuan melalui pemerintah—bahwa pada kedua kasus merupakan ekspresi keinginan guna membantu pihak lain.

    (hlm.191, 192)
    SIAPA YANG MENYOKONG KESETARAAN HASIL?
    Jika pendapatan aktual Anda lebih tinggi daripada itu, Anda dapat menyimpan jumlah tersebut serta mendistribusikan sisanya kepada masyarakat yang berada di bawah level itu.

    (hlm.193)
    Dan banyak di antara mereka, yang menyuarakan kesetaraan serta mempromosikan atau mengelola hasil legislasi terbukti merupakan sarana efektif untuk mencapai pendapatan tinggi.

    (hlm.194)
    Itu bisa jadi berlaku untuk Amerika Serikat namun, seperti kata Robert Nozick, ada satu negara di mana hal tersebut tidak berlaku, di mana kebalikannya, komunitas-komunitas egaliter tersebut sangat terpandang dan dihargai. Negara tersebut adalah Israel. Komunitas terutama permukiman pertanian di Israel (kibbutz) memainkan peran utama dalam permukiman Yahudi awal di Palestina dan terus memainkan peran penting di negara Israel.

    (hlm.195, 196, 197)
    Dorongan bagi kesetaraan gagal karena alasan yang lebih fundamental. Ia melangkah melawan salah satu insting paling dasar dari semua umat manusia. Dalam kata-kata Adam Smith, “usaha yang seragam, konstan, dan tidak terinterupsi dari setiap orang guna membuat lebih baik kondisinya”—dan, seseorang dapat menambahkan, kondisi dari anak-anaknya serta atas anak-anak dari anak-anaknya.

    (hlm.198, 199)
    KAPITALISME DAN KESETARAAN
    Di mana pun pasar bebas diizinkan beroperasi, di mana pun segalanya yang mendekati kesetaraan peluang eksis, masyarakat kebanyakan mampu mempertahankan level kehidupan yang tidak pernah dimimpikan sebelumnya.

    (hlm.202)
    KESIMPULAN
    Sebuah masyarakat yang menempatkan kesetaraan—dalam pengertian kesetaraan hasil—di depan kebebasan akan berakhir bukan dengan kesetaraan maupun kebebasan.


    Di pihak lain, suatu masyarakat yang menempatkan kebebasan sebagai tujuan pertama, sebagaimana kebahagiaan sebagai hasil sampingnya, berakhir dengan kebebasan yang lebih besar serta kesetaraan yang lebih besar.


    Ia mencegah sebagian orang agar tidak secara serampangan menekan pihak lainnya.

    (hlm.203)
    6. Apa yang Keliru dengan Sekolah-sekolah Kita?
    Pertama-tama, sekolah-sekolah adalah swasta dan kehadirannya semata-mata bersifat sukarela.

    (hlm.205)
    Di level dasar dan menengah, kualitas sekolah menjadi sangat bervariasi: menonjol pada sebagian kawasan pinggiran kota yang kaya dari metropolis-metropolis utama, bagus atau memuaskan di banyak kota kecil dan wilayah pedesaan, namun sangat buruk di bagian pusat kota-kota metropolis utama.

    (hlm.206)
    PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH: PROBLEMATIKA
    Namun, sekolah-sekolah mayoritas didanai secara privat oleh uang sekolah yang dibayarkan oleh orang tua murid.

    (hlm.207)
    Kampanye ini tidak dipicu oleh para orang tua yang tidak puas, namun “terutama oleh para guru dan pejabat pemerintah.” Pendorong paling terkenal bagi sekolah gratis adalah Horace Mann, “Bapak pendidikan publik Amerika,” sebagaimana dia disebut dalam artikel Encyclopaedia Britannica mengenai kehidupannya.

    (hlm.209)
    Tetapi pada akhirnya, pada 1870, suatu sistem sekolah pemerintahan didirikan, meskipun pendidikan dasar tidak dibuat menjadi wajib hingga 1880, dan uang sekolah secara umum tidak dihapuskan sampai tahun 1891.

    (hlm.212)
    Sebagaimana terhadap birokratisasi, untuk periode lima tahun yang lebih awal di mana data tersedia (1968-1969 sampai 1973-1974), ketika jumlah siswa meningkat 1 persen, total staf profesional meningkat 15 persen, dan guru 14 persen, tetapi supervisor melonjak 44 persen.

    (hlm.213)
    Dalam komunitas kecil warga individu merasa bahwa dia mempunyai, dan tentu saja jelas mempunyai, lebih banyak kontrol terhadap apa yang dikerjakan oleh otoritas politik dibandingkan dengan dalam komunitas besar.

    (hlm.215, 218)
    RENCANA VOUCHER UNTUK PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
    Satu cara yang sederhana dan efektif guna memastikan para orang tua memiliki kebebasan mempertahankan sumber keuangan yang ada saat ini adalah voucher plan.

    (hlm.219)
    Namun, misalkan, pemerintah berkata kepada Anda: “Jika Anda meringankan kami dari biaya pendidikan anak Anda, Anda akan diberikan sebuah voucher, selembar kertas yang dapat dicairkan untuk sejumlah uang, jika, dan hanya jika, ia digunakan untuk membayar biaya pendidikan anak Anda di sebuah sekolah yang disetujui.”

    (hlm.222)
    (1) Isu negara-gereja

    (hlm.224)
    (2) Biaya finansial.

    (hlm.225)
    (3) Kemungkinan kecurangan.
    Jawabannya adalah bahwa voucher harus dibelanjakan di sekolah yang ditunjuk atau lembaga pengajaran yang disetujui serta dapat dicairkan menjadi uang tunai hanya oleh sekolah-sekolah bersangkutan. Itu tidak akan mencegah semua kecurangan—bisa jadi dalam bentuk “pembayaran kembali” kepada orang tua—namun, ia seharusnya menjaga kecurangan pada level yang dapat ditoleransi.

    (hlm.226)
    (4) Isu rasial.
    Biarkan sekolah-sekolah berspesialisasi, sebagaimana sekolah swasta, dan kepentingan bersama akan mengatasi bias warna serta menuntun pada lebih banyak integrasi daripada yang sekarang terjadi. Integrasi tersebut akan riil, tidak semata-mata di atas kertas.

    (hlm.227)
    (5) Isu kelas ekonomi

    (hlm.231, 232, 233)
    (6) Kerugian terhadap sekolah baru
    “Saya selalu ingin mengajar [atau mengelola sebuah sekolah], namun, saya tidak dapat menghadapi birokrasi pendidikan, aturan pemerintahan, dan kelakuan umum dari sekolah publik. Berdasarkan rencana Anda, saya ingin mencobanya sendiri dengan memulai sebuah sekolah.”

    (hlm.234)
    HAMBATAN TERHADAP “VOUCHER PLAN”
    Persepsi kepentingan diri sendiri dari birokrasi pendidikan merupakan hambatan kunci untuk memperkenalkan kompetisi pasar di dunia pendidikan.

    (hlm.241)
    Satu akibat adalah tingginya tingkat drop-out. Misalnya, di University of California in Los Angeles, salah satu universitas negeri yang dipandang terbaik di negara itu, hanya sekitar separuh dari mereka yang mengikuti pendidikan menyelesaikan level sarjana—dan ini merupakan tingkat kelulusan yang tinggi bagi institusi-institusi pendidikan tinggi.

    (hlm.242)
    Hal yang penting adalah bahwa para mahasiswa merupakan konsumen primer; mereka membayar untuk apa yang mereka dapatkan, dan mereka menginginkan uang mereka bernilai.

    (hlm.243)
    Selain pendidikan, mereka menghasilkan dari menjual dua produk lain: monumen dan riset.

    (hlm.245)
    Namun, tidak satu pun merupakan alasan yang valid untuk mensubsidi pendidikan tinggi.

    (hlm.248)
    Apa yang dikatakan dunia akademik mengenai komisi industri baja, di mana 14 hari dari 18 orang anggota berasal dari industri baja, yang merekomendasikan ekspansi besar dalam subsidi pemerintah terhadap industri baja?

    (hlm.251)
    PENDIDIKAN TINGGI: SOLUSI
    Namun, diperlukan sekali untuk menghapuskan subsidi pembayar pajak atas pendidikan tinggi, yang saat ini tidak terlihat layak secara politis.

    (hlm.252)
    Metode pendanaan yang paling memuaskan atas perusahaan semacam ini bukanlah melalui pinjaman tetap dolar AS namun melalui investasi ekuitas—”membeli” modal di perusahaan dan menerima sebagai pengembalian bagian laba.

    (hlm.257)
    KESIMPULAN
    Alexander Hamilton merupakan salah seorang yang benar-benar paling terdidik, melek huruf, dan para bapak pendiri bangsa kita (Amerika, red.) yang terpelajar, namun dia hanya mengenyam tiga atau empat tahun sekolah formal.

    (hlm.259)
    Kita dapat memperkuat fondasi kebebasan kita serta memberi pemaknaan yang lebih penuh bagi keadilan peluang pendidikan.

    (hlm.260, 262)
    7. Siapa yang Melindungi Konsumen?
    Semuanya merupakan anti-pertumbuhan. Mereka telah menentang perkembangan baru, terhadap inovasi industri, terhadap peningkatan penggunaan sumber daya alam.

    (hlm.263)
    Produk-produk yang tidak bagus semuanya diproduksi oleh pemerintah atau oleh industri-industri yang diregulasi pemerintah.

    (hlm.264)
    Industri kereta api dan industri otomotif menawarkan ilustrasi yang sangat bagus tentang perbedaan antara industri yang diregulasi pemerintah dan diproteksi dari persaingan dengan industri swasta yang mengalami kesulitan penuh kompetisi.

    (hlm.266)
    Jika seperti argumentasi kita, kita tidak bisa bergantung pada intervensi pemerintah guna melindungi kita sebagai konsumen, apa yang dapat kita pegang?

    (hlm.267)
    Pada tahun 1885, lebih dari 125.000 mil panjang jalur rel kereta api di Amerika Serikat melampaui semua yang ada di dunia meskipun semua rel digabungkan.

    (hlm.272)
    Dengan semua ini, terdapat tumpang tindih untuk sekadar memproteksi birokrasinya sendiri.

    (hlm.276)
    Undang-undang memberi pemanis bibir terhadap retorika dan butuh undang-undang memberikan kewenangan kepada para pejabat pemerintah untuk “mengerjakan sesuatu.”

    (hlm.277)
    Jika ICC tidak pernah terbentuk dan kekuatan pasar diperbolehkan untuk beroperasi, Amerika Serikat sekarang ini akan memiliki sistem transportasi yang jauh lebih memuaskan.

    (hlm.278, 279)
    FOOD AND DRUG ADMINISTRATION
    Para tukang bungkus daging “menyadari sangat awal dalam sejarah industri bahwa adalah tidak menguntungkan bagi mereka untuk meracuni konsumennya, terutama dalam pasar kompetitif di mana konsumen dapat pergi ke tempat lain.

    (hlm.282)
    Seperti kasus yang begitu sering terjadi, satu tujuan bagus bertentangan dengan tujuan baik lain.

    (hlm.285, 286)
    Tempatkan diri Anda sendiri dalam posisi seorang pejabat FDA yang dibebani dengan keputusan menyetujui atau tidak menyetujui sebuah obat baru. Anda bisa melakukan dua kesalahan yang sangat berbeda:

    1. Menyetujui sebuah obat yang memiliki efek samping tidak terantisipasi yang mengakibatkan kematian atau cacat serius pada sejumlah besar orang.
    2. Menolak menyetujui sebuah obat yang mampu menyelamatkan banyak kehidupan atau meringankan tekanan besar serta tanpa efek samping yang tidak pantas.

     

    (hlm.287)
    Bias menuntun pada standar berlebihan yang kejam.

    (hlm.290)
    Tujuan produk yang lebih aman tentu saja bagus, namun dengan menelan biaya seberapa besar dan dengan standar seperti apa?

    (hlm.292)
    Pengakuan cepat kesalahan adalah paling dapat direkomendasikan sekaligus paling tidak biasa bagi sebuah badan pemerintah.

    (hlm.295)
    Kita dapat mempunyai polusi nol dari otomotif, misalnya, dengan sekadar menghapuskan semua kendaraan bermotor.

    (hlm.297)
    Faktanya, masyarakat yang bertanggung jawab atas polusi adalah konsumen, bukan produsen. Mereka yang menciptakan permintaan bagi terjadinya polusi.

    (hlm.299)
    Sebagian besar ekonomi setuju bahwa cara yang jauh lebih baik untuk mengendalikan polusi dibandingkan metode regulasi dan supervisi spesifik saat ini adalah memperkenalkan disiplin pasar dengan memberlakukan biaya untuk penanganan limbah.

    (hlm.301)
    Pasar yang tidak sempurna mungkin, pada akhirnya, berjalan lebih baik daripada pemerintah yang tidak sempurna.

    (hlm.302)
    DEPARTEMEN ENERGI
    Mengapa selama satu abad lebih sebelum tahun 1971, tidak ada krisis energi, tidak ada kekurangan bensin, tidak ada masalah mengenai bahan bakar—kecuali semasa Perang Dunia II?

    (hlm.303)
    Terjadi krisis energi karena pemerintah menciptakannya.

    (hlm.306, 307)
    Kebenaran yang mendasari adalah bahwa kita, masyarakat, akan membayar untuk energi yang kita konsumsi.

    (hlm.308)
    Namun, advokasi regulasi pemerintah, misalkan FDA, tidak ada di sana, apa yang akan mencegah bisnis untuk mendistribusikan produk yang dipalsukan atau produk berbahaya?

    (hlm.310)
    Fungsi utama ekonomi dari sebuah department store, misalnya, adalah memantau kualitas atas nama kita.

    (hlm.311)
    Jawaban pasar adalah dia tidak harus mampu menilai untuk dirinya sendiri. Dia memiliki dasar lain untuk memilih.

    (hlm.312)
    Kompetisi dari seluruh dunia akan dibiarkan bahkan lebih efektif dibandingkan sekarang dalam monopoli yang merusak di dalam negeri.

    (hlm.314)
    Namun, biarkan kita bebas untuk memilih kesempatan apa yang ingin kita ambil dengan kehidupan kita sendiri.

    (hlm.315)
    8. Siapa yang Melindungi Pekerja?
    Pada akhir 1900, hanya 3 persen dari semua pekerja merupakan anggota serikat pekerja.

    (hlm.316)
    Oleh karena “tidak seorang pun” bertanggung jawab atas peningkatan tersebut, banyak pekerja saat ini mengingkari jawaban itu.

    (hlm.325)
    SERIKAT PEKERJA
    Kita semua, termasuk yang sudah berserikat pekerja, secara tidak langsung berada dalam bahaya sebagai konsumen karena dampak upah serikat pekerja yang tinggi terhadap harga barang-barang konsumen.

    (hlm.328, 329)
    Namun, ia adalah sebagai besar akibat dari undang-undang upah minimum.

    (hlm.330)
    Semua ini dilakukan atas nama membantu kaum miskin.

    (hlm.331)
    Lisensi banyak dipakai guna membatasi masuknya orang baru, terutama untuk pekerjaan seperti kedokteran di mana banyak praktisi individu berurusan dengan sejumlah besar konsumen individu.

    (hlm.336, 337)
    Pemerintah melindungi satu kelas pekerja dengan sangat baik, yakni, mereka yang dipekerjakan oleh pemerintah.

    (hlm.338)
    Diperlukan 19 bulan untuk melakukannya—dan dibutuhkan 21 kaki lembaran panjang untuk mendaftarkan langkah-langkah yang harus dilakukan guna memenuhi semua persyaratan serta seluruh kesepakatan manajemen dengan serikat pekerja.

    (hlm.342)
    Namun, ketika para pekerja memperoleh upah yang lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik melalui pasar bebas, ketika mereka memperoleh kenaikan dari perusahaan-perusahaan yang saling berkompetisi satu sama lain demi memperoleh pekerja yang terbaik, melalui para pekerja yang saling bersaing satu sama lain untuk posisi kerja terbaik, upah yang lebih tinggi tersebut tidak merugikan siapa pun.

    (hlm.343, 344)
    Itulah cara sistem pasar bebas mendistribusikan buah-buah kemajuan ekonomi di kalangan masyarakat.

    (hlm.345)
    9. Obat untuk Inflasi
    Jawaban singkatnya adalah masing-masing orang menerimanya karena dia yakin bahwa yang lain akan bersedia.

    (hlm.350)
    Pada pertengahan abad ke-19 inflasi harga-harga dalam ketentuan emas terjadi di seluruh dunia karena penemuan emas di California dan Australia; kemudian, sejak 1890-an hingga 1914, karena keberhasilan aplikasi komersial dari proses sianida terhadap ekstraksi emas dari biji kelas rendah, terutama di Afrika Selatan.

    (hlm.351)
    Inflasi bukanlah fenomena kapitalis. Yugoslavia, sebuah negara komunis, telah mengalami salah satu tingkat inflasi paling pesat dari negara mana pun di Eropa; Swiss, kubu kapitalisme, salah satu yang terendah inflasinya.

    (hlm.352)
    Inflasi terjadi ketika jumlah uang meningkat signifikan lebih pesat dibandingkan output, dan makin pesat kenaikan dalam kuantitas uang per unit output, maka makin besar pula tingkat inflasi.

    (hlm.361)
    Para pembisnis juga tidak menyebabkan inflasi.

    (hlm.363)
    Kita kembali pada dalil dasar kita. Inflasi terutama merupakan fenomena moneter, diakibatkan oleh peningkatan kuantitas uang yang lebih pesat daripada output.

    (hlm.364)
    Mendanai belanja pemerintah dengan meningkatkan kuantitas uang sering kali sangat menarik baik bagi Presiden maupun para anggota Kongres.

    (hlm.365)
    Sumber kedua untuk pertumbuhan moneter yang lebih tinggi di Amerika Serikat dalam beberapa tahun belakangan adalah usaha untuk menghasilkan lapangan kerja penuh.

    (hlm.367)
    Sumber ketiga dari pertumbuhan moneter yang lebih tinggi di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir adalah kebijakan keliru yang diambil Sistem Bank Sentral AS.

    (hlm.368)
    Mendanai belanja pemerintah dengan meningkatkan jumlah uang tampak seperti sulap, seperti memperoleh sesuatu dari yang tidak ada sebelumnya.

    (hlm.369)
    Harga yang lebih tinggi berarti bahwa uang yang sebelumnya dipegang masyarakat sekarang akan membeli lebih sedikit daripada daya beli yang dimiliki sebelumnya.

    (hlm.371)
    Inflasi cara ketiga yang masih memberikan pendapatan kepada pemerintah adalah melalui pelunasan—atau sanggahan, jika Anda menginginkan—bagian dari utang pemerintah.

    (hlm.372)
    Karena peningkatan berlebihan kuantitas uang merupakan satu-satunya penyebab penting dari inflasi, maka pengurangan tingkat pertumbuhan moneter merupakan satu-satunya penyembuh inflasi.

    (hlm.373)
    Dampak buruk mulai muncul: harga-harga yang lebih tinggi, permintaan kurang meningkat, inflasi dikombinasikan dengan stagnasi.

    (hlm.374)
    Manfaat hanya muncul sesudah satu atau dua tahun, dalam bentuk inflasi yang lebih rendah, perekonomian yang lebih sehat, potensi untuk pertumbuhan pesat tanpa menimbulkan inflasi.

    (hlm.375)
    Hampir setiap orang akan mengatakan dia menentang inflasi; apa yang secara umum dia maksudkan adalah dia menentang hal-hal buruk yang telah terjadi padanya.

    (hlm.376, 379)
    Efek samping yang menyakitkan merupakan satu alasan mengapa sulit bagi seseorang pecandu alkohol atau negara yang menderita inflasi untuk mengakhiri kecanduannya.

    (hlm.380)
    Rata-rata selama satu abad terakhir dan sebelumnya di Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara Barat lain, sekitar enam hingga sembilan bulan berlalu sebelum pertumbuhan moneter yang meningkat berjalan melalui perekonomian dan menghasilkan kenaikan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.

    (hlm.381)
    Inflasi nol adalah tujuan secara politis masuk akal; inflasi 10 persen tidak. Itu adalah vonis dari pengalaman.

    (hlm.382)
    Satu perangkat lain telah terbukti efektif untuk meredakan efek samping merugikan dari penyembuhan inflasi—termasuk suatu penyesuaian otomatis untuk inflasi dalam kontrak berjangka waktu lebih panjang, apa yang dikenal sebagai klausa eskalator.

    (hlm.384)
    Klausul permanen sangat diinginkan sebagai tindakan permanen di sektor pemerintahan federal.

    (hlm.388, 389)
    Kita disesatkan oleh dikotomi palsu: inflasi atau pengangguran. Opsi tersebut adalah ilusi.

    (hlm.390, 393)
    10. Pasang Sedang Berbalik
    Tetapi mereka mengadopsi kebijakan ekonomi liberal yang menuntun pada melebarnya peluang untuk masa depan dan, selama dekade-dekade awal, kebebasan personal yang lebih besar.

    (hlm.394, 395)
    Mereka memandang konsentrasi kekuatan, terutama di tangan pemerintah, sebagai bahaya besar bagi kebebasan.

    (hlm.399)
    Saya pikir hampir setiap orang sekarang merasa bahwa sistem pajak pada dasarnya adalah tidak adil, dan setiap orang yang bisa, mencoba menemukan cara tentang sistem pajak itu.

    (hlm.401)
    Kekuasaan di Washington

    (hlm.403)
    Situasi akan menjadi absurd jika tidak menjadi begitu serius.

    (hlm.406, 407)
    Warga negara sadar akan pajak—tetapi kesadaran itu bahkan tercampur oleh sifat alami tersembunyi dari mayoritas pajak.

    (hlm.408)
    Presiden dan senator serta perwakilan yang terpilih datang dan pergi, namun para birokrat sipil tetap bertahan.

    (hlm.412, 413)
    APA YANG BISA KITA LAKUKAN
    Dalam opini, kita memerlukan kesetaraan dengan Amandemen pertama untuk membatasi kekuasaan pemerintah di bidang ekonomi dan sosial—sebuah Rancangan Undang-Undang Hak untuk melengkapi serta melaksanakan Bill of Right yang orisinal.

    (hlm.414)
    Agar konstitusi baik tertulis maupun tidak tertulis menjadi efektif, maka harus didukung oleh iklim opini umum yang berada di kalangan masyarakat luas serta para pemimpinnya.

    (hlm.419, 420)
    KETETAPAN KONSTITUSI LAIN
    Banyak dari sebagian besar jenis kontrol pemerintah yang paling merusak kehidupan kita tidak melibatkan banyak belanja pemerintah: misalnya, tarif bea masuk, kontrol harga dan upah, lisensi pekerjaan, regulasi industri, perundang-undang konsumen.

    (hlm.423)
    Pajak pendapatan perusahaan juga sangat tidak sempurna.(hlm.427)


    KESIMPULAN
    Ancaman terbesar bagi kebebasan manusia adalah konsentrasi kekuasaan, baik di tangan pemerintah maupun di pihak lainnya.

    Tangan Tak Terlihat dalam Ekonomi dan Politik

    Milton Friedman

    Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Tangan Tak Terlihat dalam Ekonomi dan Politik oleh Milton Friedman.

    Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

    Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

    Selamat membaca.

    Chandra Natadipurba

    ===

    TANGAN TAK TERLIHAT DALAM EKONOMI DAN POLITIK

    Milton Friedman

    ISBN 9971-902-22-2

    Diterbitkan pada tahun 1981 oleh
    Institute of Southeast Asian Studies
    Heng Mui Keng Terrace, Pasir Panjang
    Singapura 0511

    Institute of Southeast Asian Studies

    Dicetak dan diterbitkan oleh
    Singapore National Printers (Pte) Ltd.


    (hlm. 2)
    Tangan Tak Terlihat dalam Ekonomi dan Politik
    Gagasan utama Dicey adalah bahwa legislasi yang memengaruhi kebijakan publik mengikuti opini publik, tetapi dengan jeda waktu yang cukup lama.

    Dia berpendapat bahwa setelah tren dalam opini publik berkembang, tren itu cenderung mendapatkan momentum, memiliki inersia yang besar, dan terus berlangsung dalam waktu yang lama. Demikian pula, ketika memengaruhi legislasi, legislasi yang dihasilkan memiliki inersia serupa dan menciptakan tren panjang ke arah yang sama.

    (hlm. 3)
    The Wealth of Nations karya Adam Smith adalah reaksi terhadap merkantilisme.
    Pada abad ke-19, opini bergeser dari kepercayaan bahwa raja-raja dan monarki yang baik hati adalah cara terbaik untuk mengelola masyarakat, ke arah kepercayaan pada pasar bebas, pada laissez-faire, dan penghindaran kontrol pusat.

    Namun, contoh paling dramatis dari dampaknya secara global adalah pengalaman Jepang. Pada tahun 1867, ketika Restorasi Meiji terjadi, para pemimpin baru Jepang secara otomatis “terinfeksi,” seperti yang akan dikatakan beberapa orang, atau “terpengaruh,” seperti yang saya katakan, oleh tren opini ini. Kebijakan yang mereka adopsi sebagian besar adalah kebijakan kapitalisme, perusahaan swasta, dan pasar bebas.

    (hlm. 4-5)
    Banyak orang berpendapat bahwa pertumbuhan negara kesejahteraan dan pemerintahan terpusat di Inggris adalah hasil dari Perang Dunia I.

    Dia menunjukkan bahwa undang-undang tentang pensiun hari tua dan asuransi pengangguran adalah langkah pertama sebagai respons terhadap perubahan arus opini publik.

    Jika kita menengok lebih jauh, Revolusi Komunis di Rusia, seperti halnya kemunculan negara kesejahteraan di Inggris dan New Deal di Amerika Serikat, pada dasarnya adalah respons terhadap perubahan opini tersebut.

    Mulai dari tahun 1950-an, berlanjut ke tahun 1960-an, dan semakin meningkat pada tahun 1970-an, seperti yang dikatakan Dr. Goh, opini publik dan opini intelektual telah bergerak menjauh dari kepercayaan pada keutamaan kolektivisme, seperti yang Dicey istilahkan, dan menuju lebih banyak penekanan pada individualisme dan pasar bebas.

    Kebijakan negara kesejahteraan berulang kali gagal mencapai hasil yang diharapkan. “Stagflasi” muncul di seluruh dunia ketika kebijakan inflasi pada akhirnya menyebabkan stagnasi ekonomi.

    (hlm. 6)
    Saya percaya bahwa Mr. Reagan akan terpilih, terutama karena pandangannya, yang dua puluh tahun lalu hanya dipegang oleh minoritas kecil, sekarang mendekati pandangan mayoritas publik. Itu hanyalah puncak gunung es.

    (hlm. 7)
    Menurut saya, perubahan tren opini dan kebijakan ini adalah faktor utama yang akan mendominasi perkembangan dunia pada tahun 1980-an. Pertanyaan krusialnya adalah, apakah akan berhasil? Akankah tren ke arah itu mendominasi jalannya kebijakan? Seberapa cepat hal itu bisa terjadi dan sejauh mana?

    Adam Smith, yang dengan tepat disebut Dr. Goh sebagai bapak ekonomi modern, memiliki wawasan besar bahwa adalah mungkin untuk mencapai keteraturan tanpa arahan pusat, bahwa masyarakat yang teratur dapat muncul dari kegiatan jutaan individu, masing-masing mengejar tujuannya sendiri tanpa ada campur tangan.

    Dia menggunakan frasa terkenal di mana dia mengatakan bahwa seorang individu yang “berniat hanya untuk keuntungannya sendiri” akan “dipandu oleh tangan tak terlihat untuk mempromosikan tujuan yang bukan bagian dari niatnya”.

    (hlm. 8)
    Inti dari gagasan ini sederhana: jika dua orang terlibat dalam pertukaran sukarela, kedua pihak harus mendapatkan manfaat; jika dua orang memperdagangkan barang atau jasa di antara mereka, selama pertukaran itu sukarela dan tidak ada paksaan, transaksi tersebut hanya akan terjadi jika kedua orang tersebut merasa lebih baik.

    (hlm. 9-10)
    Tangan tak terlihat itu dibiarkan beroperasi di Inggris. Hukum Jagung (Corn Laws) dicabut. Inggris memasuki periode perdagangan bebas, dan pada paruh kedua abad ke-19, laissez-faire menghasilkan semua klaim yang diajukan pendukungnya.

    Inggris makmur dan menjadi negara terdepan di dunia, baik secara ekonomi maupun politik.

    Alasan utama mengapa opini publik berbalik melawan laissez-faire adalah justru karena keberhasilannya.

     

     

    Membela Kapitalisme Global

    Johan Norberg

    Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku “Membela Kapitalisme Global” karangan Johan Norberg

    Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

    Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

    Selamat membaca.

    Chandra Natadipurba

    ===

    Membela Kapitalisme Global

    Johan Norberg

    Pengantar: Dr. Rizal Mallarangeng
    Penerjemah ke bahasa Indonesia: Arpani, Sukasah Syahdan (juga selaku penyunting)
    Desain sampul: Muhamad Husen
    No. ISBN: 978-979-1157-16-2
    Cetakan kedua 2011
    Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit, Indonesia
    Jalan Rajasa II No. 7, Jakarta 12110
    The Freedom Institute
    Jalan Irian No.8, Menteng, Jakarta 10350

    (hlm.vii)
    Pengantar Edisi Bahasa Indonesia
    Oleh: Johan Norberg
    Dalam waktu 25 tahun ke depan, standar hidup masyarakat di negara berkembang yang berukuran besar akan setara dengan standar hidup masyarakat Eropa.

    (hlm.viii)
    Jawaban bagi pertanyaan besar di zaman kita sudah ditemukan; dan jawaban ini bukan berasal dari rencana-rencana yang ambisius, melainkan dari manusia itu sendiri.

    Kapitalisme sesungguhnya bukanlah sebuah “sistem”; dia lawan dari segala rencana yang digagas di atas.

    Kapitalisme adalah kebebasan bagi individu-individu yang normal untuk membuat keputusan untuk menentukan pilihan mereka sendiri.

    Dalam 100 tahun terakhir, kemanusiaan telah menciptakan kemakmuran yang lebih besar dan tingkat harapan hidup yang lebih tinggi daripada yang pernah dicapainya dalam 100.000 tahun sebelumnya.

    (hlm.ix)
    Kita harus menerima kapitalisme sebagai sistem laba dan rugi sekaligus.

    Satu-satunya masalah adalah bahwa ketika pasar jatuh dan tidak ada seorang pun bersedia membeli, semua orang harus menurunkan nilai aset tersebut secara bersamaan.

    (hlm.x)
    Ini terdengar seperti ide yang baik, tetapi karena kebijakan ini membuat prosedur perbankan menjadi mahal, pada akhirnya itu menjadi semacam subsidi bagi instrumen-instrumen keuangan non-transparan yang oleh bank-bank tidak perlu mereka daftarkan di dalam lembar neraca.

    (hlm.xiv)
    Kata Pengantar
    Oleh: Dr. Rizal Mallarangeng
    Barangkali hal ini harus dipahami sebagai sebuah gejala dari tipisnya pengaruh pemikiran liberal di Indonesia. Hal ini patut disayangkan, sebab tradisi ini sebenarnya sangat kaya dan sangat berpengaruh di dunia maju.

    (hlm.xvii)
    Pendahuluan

    (hlm.xviii)
    Kompleksitas dan permasalahannya terlalu banyak untuk dapat dipecahkan melalui satu langkah utopis yang drastis.

    Kini saya sadar, diperlukan semacam negara untuk melindungi kebebasan dan mencegah agar mereka yang berkuasa tidak menekan individu-individu.

    (hlm.xx)
    Inilah para “anarkis” yang menuntut diberlakukannya pelarangan dan pengawasan; yang menghujani bebatuan pada orang lain yang memiliki nilai berbeda; yang menuntut agar negara memberlakukan kembali kontrol terhadap siapa saja yang tidak lagi terkendala oleh batas-batas nasional.

    (hlm.xxi)
    Gerakan protes melawan kapitalisme boleh saja menyebut dirinya radikal atau mengaku bahwa gerakan tersebut mewakili suatu gagasan baru; namun, dalam kenyataannya, argumen-argumen yang dipaparkan tetap mewakili oposisi lama yang menentang pasar bebas dan perdagangan bebas, seperti yang selama ini dilakukan oleh para penguasa nasional.

    Seringkali kritik tersebut bukan argumen yang kuat, melainkan lebih merupakan pernyataan faktual yang datar.

    Misalnya pernyataan bahwa 51 perekonomian terbesar di dunia itu berbentuk korporasi; atau bahwa setiap hari ada dana sebesar sekitar $1,5 triliun yang berputar di pasar uang; seolah ukuran itu sendiri secara intrinsik sesuatu yang menakutkan dan berbahaya.

    Padahal, itu semata-mata aritmatika, bukan argumen. Masih perlu dibuktikan, apakah perusahaan besar atau omzet yang tinggi itu benar-benar merupakan masalah.

    (hlm.xxii)
    Semata-mata karena globalisasi tercipta sebagai akibat tindakan-tindakan individu manusia lintas-benua, dan bukannya hasil rancangan sebuah pusat pengendali, dia terlihat seperti sesuatu yang tidak terkontrol dan kacau.

    Ketika berhadapan dengan globalisasi, banyak pihak merasa tidak berdaya. Perasaan ini dapat dimengerti mengingat begitu terdesentralisasinya keputusan-keputusan yang dibuat oleh jutaan orang.

    (hlm.xxiii)
    Globalisasi berlangsung dari bawah, kendati para politikus terus berupaya mengejar lajunya lewat berbagai macam singkatan dan akronim (EU, IMF, WB, UN, UNCTAD, OECD) untuk menstrukturisasi prosesnya.

    (hlm.xxiv)
    Sebagaimana kekuasaan mereka hilang karena beralih ke kita, para penduduk biasa.
    Dan memang tidak semua di antara kita akan menjadi kaum jetset global; kita toh tidak perlu menjadi jetset untuk menjadi bagian dari proses globalisasi.

    (hlm.xxv)
    Kebebasan baru untuk memilih berarti bahwa orang tidak lagi tergantung untuk bekerja pada satu-satunya majikan di desa, yaitu sang penguasa lahan besar pertanian.

    (hlm.xxvi)
    Dewasa ini mereka menjadi sangat mandiri, sudah mampu menghasilkan uang sendiri. Hal semacam ini tentunya dapat menimbulkan ketegangan, tetapi tidak sebanding dengan risiko menyaksikan anak-anak Anda mati atau menjual mereka kepada rentenir.

    (hlm.xxvii)
    Kebebasan yang dimiliki seseorang tidak melanggar kebebasan orang lain.

    (hlm.xxviii)
    Yang saya maksud adalah ekonomi pasar liberal, dengan persaingan bebas berdasarkan hak, di mana orang dapat menggunakan hak milik dan memiliki kebebasan untuk bernegosiasi, membuat perjanjian, dan memulai aktivitas bisnis.

    Jadi, yang saya bela adalah kebebasan individu dalam perekonomian. Para kapitalis menjadi berbahaya ketika, alih-alih mencari keuntungan melalui kompetisi, mereka berkongsi dengan pemerintah.

    (hlm.xxix)
    Itu bukan ekonomi pasar; itu ekonomi-campuran di mana pengusaha dan politisi saling mengacaukan peran masing-masing. Kapitalisme bebas adalah ketika politisi menekuni politik liberal dan pengusaha menjalankan usaha.

    Yang saya yakini adalah kemampuan manusia untuk menghasilkan hal-hal besar dan kekuatan gabungan yang muncul dari interaksi dan pertukaran kita.
    Tujuan saya bukanlah menggantikan semua relasi manusia dengan transaksi ekonomi, melainkan kebebasan dan relasi sukarela di semua bidang.

    (hlm.xxx)
    Bukan niat saya membubuhkan banderol harga pada semua hal. Hal-hal yang penting dalam kehidupan—cinta, keluarga, persahabatan, pilihan cara hidup—tidak bisa diukur dengan rupiah.

    Saya menulis tentang keyakinan saya terhadap sesuatu yang penting. Dan saya sendiri ingin hidup dalam masyarakat liberal sebab masyarakat yang seperti itu menjamin hak masyarakat untuk menentukan sendiri apa yang penting bagi mereka.

    (hlm.1)
    I
    Setiap hari dalam setiap hal

    (hlm.3)
    Separuh kebenaran
    “Yang kaya kian kaya; yang miskin semakin miskin.” Pernyataan ini diajukan ibarat diktat hukum alam, bukan tesis untuk untuk diargumentasikan.

    (hlm.4)
    Separuh pertama pernyataan itu benar: bahwa yang kaya memang semakin kaya—meski tidak berlaku merata bagi semua orang kaya di semua lokasi, melainkan hanya secara umum.

    Namun, sebagian lagi dari pernyataan tadi, tidak benar. Secara umum, keadaan penduduk miskin di seluruh dunia dalam dasawarsa terakhir tidak lebih buruk. Justru sebaliknya, kemiskinan absolut telah berkurang.

    Salah satu buku terpenting yang terbit dalam beberapa tahun terakhir adalah On Asian Time: India, China, Japan 1966-1999. Ini sebuah karya reportase perjalanan yang di dalamnya sang penulis Swedia, Lasse Berd, dan fotografer Stig Karlsson menggambarkan kunjungan-ulang mereka ke beberapa negara di Asia, yang pernah mereka kunjungi di era 60-an. Dulu, yang mereka saksikan adalah kemiskinan, kesengsaraan yang parah, dan ancaman bencana di mana-mana.

    (hlm.6)
    Dari semua hal yang berubah, perubahan terbesar terjadi pada pikiran dan cita-cita penduduk. Televisi dan surat kabar membawa gagasan dan gambar dari belahan lain dunia, sehingga memperkaya gagasan orang-orang tentang kemungkinan yang terbuka bagi mereka.

    (hlm.11)
    Pengentasan kaum miskin
    “Tetapi,” sanggah para skeptis, “apa yang diinginkan orang-orang di negara berkembang dengan konsumsi dan pertumbuhan? Mengapa kita harus memaksakan cara hidup kita kepada mereka?” Jawabannya: kita tidak boleh memaksakan cara hidup tertentu kepada siapa pun.

    Namun, apa pun nilai yang mereka yakini, mayoritas orang di dunia menginginkan kondisi materi yang lebih baik, karena dengan begitu mereka memiliki lebih banyak pilihan; terlepas dari bagaimana mereka kelak memanfaatkan peningkatan kekayaan mereka.

    Seperti ditekankan oleh ekonom India sekaligus peraih hadiah Nobel, Amartya Sen, kemiskinan bukan semata masalah materi. Kemiskinan adalah sesuatu yang lebih luas. Dia juga tentang ketidakberdayaan, tentang terlucutinya kesempatan yang mendasar serta kebebasan untuk memilih.

    (hlm.13)
    Tingkat harapan hidup di negara-negara berkembang saat ini, jika dibandingkan dengan di Inggris seabad lalu saat menjadi perekonomian termaju di dunia, adalah 15 tahun lebih tinggi.

    (hlm.14)
    Sebagian dari perbaikan kesehatan tersebut adalah berkat kebiasaan makan dan kondisi hidup yang lebih baik, serta kesejahteraan yang juga semakin baik. Dua puluh tahun lalu, perbandingannya adalah satu dokter untuk seribu penduduk; saat ini, 1,5 dokter.

    (hlm.18)
    Kelaparan
    Hanya sedikit dari kenaikan tersebut berasal dari hasil konversi lahan pertanian baru. Alih-alih, lahan lama telah dimanfaatkan secara lebih efisien. Hasil lahan pertanian per hektar hampir berlipat ganda. Harga gandum, jagung, dan beras telah turun sebesar 60 persen lebih.

    (hlm.19)
    Sesuai pengamatan Amartya Sen, di negara demokratis tidak pernah terjadi bencana kelaparan.
    Kelaparan dipicu tindakan penguasa yang menghancurkan produksi dan perniagaan, menyulut peperangan, dan mengabaikan penderitaan penduduk yang kelaparan.

    Sen percaya bahwa kelaparan tidak terjadi di negara demokrasi atas alasan sederhana: karena hal itu mudah dihindari jika saja para penguasa mau menghindarinya. Mereka dapat menahan diri untuk tidak merecoki distribusi pangan.

    (hlm.20)
    Banyak bukti menunjukkan bahwa para penguasa di Cina telah terpedaya oleh propaganda mereka sendiri dan oleh statistik “asal bapak senang” rekaan pejabat bawahan mereka, ketika 30 juta penduduk mati kelaparan selama berlangsungnya “Lompatan Besar ke Depan” selama tahun 1958 hingga 1961.

    Negara-negara seperti Kuwait dan Saudi-Arabia dewasa ini mendapatkan sebagian besar air bersih mereka melalui pengelolaan air laut, sehingga praktis tidak terbatas jumlahnya.

    (hlm.21)
    Pendidikan
    Keluarga miskin tidak dapat menyekolahkan anaknya, oleh sebab biayanya terlalu mahal atau imbal (return) pendidikan terlalu minim.

    (hlm.25)
    Demokratisasi
    Pada 2002, sebanyak 42 negara melakukan pelanggaran hak asasi. Yang terbentuk adalah Myanmar, Kuba, Irak, Libya, Korea Utara, Saudi Arabia, Sudan, Suriah, dan Turkmenistan—negara-negara yang paling sedikit tersentuh oleh globalisasi dan paling kecil minatnya pada ekonomi pasar dan liberalisme.

    Kadang demokrasi dituduh sulit berbaikan dengan Islam, sehingga seperti itulah keadaannya di dunia saat ini. Namun, harus pula kita ingat bahwa belum lama berselang, banyak peneliti mengatakan hal serupa tentang agama Katolik di tahun 70-an. Saat itu negara-negara Katolik mencakupi rezim-rezim militer di Amerika Latin, negara-negara komunis Eropa Timur dan rezim diktator Marcos di Filipina.

    (hlm.26)
    Melalui kebebasan berdomisili dan perdagangan bebas, ukuran negara sama sekali tidak penting bagi penduduk. Kesejahteraan tidak diperoleh dengan cara mencaplok wilayah milik bangsa lain, melainkan melalui perdagangan dengan daerah tersebut beserta sumber dayanya.

    “Jika barang-barang tidak melintasi perbatasan, maka para tentara lah yang akan melakukannya.”

    (hlm.27)
    Sembilan dari konflik-konflik terjadi di Afrika, benua yang paling belum begitu mengenal demokrasi, globalisasi dan kapitalisme.

    (hlm.28)
    Penindasan perempuan
    Inspirasinya berasal sebuah situs yang namanya, gaogenxie com, berarti sepatu hak tinggi—simbol kebebasan dari tradisi yang benar-benar mengikat kaki perempuan Cina.

    (hlm.33)
    Cina
    Dan hasilnya luar biasa. Antara 1978-1984 hasil pertanian meningkat 7,7 persen.

    (hlm.37)
    India
    Pemerintah India menanam investasi pada industri-industri besar, yang lalu diproteksi ketat melalui berbagai rintangan ekspor/impor dalam rangka mencoba swasembada.

    (hlm.38,39)
    Sebagai pengontrasnya, negara-negara bagian di sebelah selatan, terutama Andhra Pradesh, Karnataka dan Tamil Nadu—telah membuat kemajuan pesat berkat liberalisasi. Pertumbuhan di negara-negara bagian tersebut berada di atas rata-rata nasional; beberapa wilayah bahkan mencapai 15 persen per tahun.

    (hlm.41)
    Kesenjangan global
    Jika keadaan semua orang menjadi lebih baik, apa masalahnya kalau ada orang yang dapat meraihnya dengan lebih cepat ketimbang yang lain? Tentunya yang penting adalah bahwa kondisi semua orang menjadi sebaik mungkin, bukan agar satu kelompok lebih baik ketimbang kelompok lain.

    Hanya mereka yang memandang kekayaan sebagai satu persoalan yang lebih besar daripada kemiskinan sajalah yang mempermasalahkan keadaan di mana beberapa orang berhasil menjadi jutawan ketika orang-orang lainnya menjadi lebih kaya dalam perbandingannya dengan kondisi-kondisi awal masing-masing.

    Adalah lebih baik hidup miskin di negara AS yang non-egaliter, di mana garis kemiskinan bagi setiap individu pada 2001 sekitar $9.039 per tahunnya, daripada di negara-negara yang menganut prinsip kesetaraan semacam Rwanda, di mana pada 2001 PDB per kapitanya (setelah daya belinya disesuaikan) sekitar $1.000; atau Bangladesh ($1.750); atau Uzbekistan ($2.500).

    (hlm.45)
    Nilai koefisien Gini untuk seluruh dunia telah mengalami penurunan dari 0,6 pada 1968 menjadi 0,52 pada 1997, atau lebih dari 10 persen.

    (hlm.46)
    Bagi negara-negara OECD, indeks HDI ini meningkat dari 0,8 menjadi 0,91 antara 1960-1993, dan peningkatan yang lebih drastis terjadi di negara-negara berkembang, dari 0,26 menjadi 0,65.

    (hlm.51)
    II
    … dan itu bukan kebetulan!

    (hlm.53)
    Inilah kapitalisme!
    Singkatnya, itu bergantung pada apakah negara tersebut menerapkan kapitalisme atau tidak. Di bagian dunia yang makmur selama beberapa abad telah menerapkan kapitalisme dalam satu bentuk tertentu atau lainnya. Itulah caranya bagaimana negara-negara Barat menjadi “bagian dunia yang makmur”.

    Kapitalisme memberi masyarakat kebebasan sekaligus insentif untuk mencipta, memproduksi, dan menjual barang, sehingga menciptakan kemakmuran.

    Selama dua dekade terakhir, sistem ini telah menyebar ke seluruh pelosok dunia melalui proses yang disebut globalisasi. Kediktatoran komunis di Timur dan kediktatoran militer di Dunia Ketiga telah tumbang, dan dinding-dinding yang dulu mereka bangun untuk merintangi gagasan, manusia, dan barang ikut roboh bersama mereka.

    (hlm.54)
    Kapitalisme berarti tidak ada seorang pun menjadi korban dari koersi orang lain. Satu-satunya cara menjadi kaya di pasar bebas adalah dengan memberi orang lain sesuatu yang dihasratinya, sesuatu yang untuk itu orang tersebut bersedia membayar secara sukarela.

    Di sini satu-satunya pertanyaannya adalah: mengapa pemerintah dianggap lebih tahu daripada kita sendiri tentang apa yang kita mau dan apa yang kita anggap penting dalam hidup.

    (hlm.55)
    Dalam perekonomian pasar harga dan laba berfungsi sebagai sistem sinyal yang dengannya pekerja, pewirausaha, dan penanam modal dapat menentukan arah.

    Sebaliknya, jika pemerintah menetapkan harga dasar—yaitu dengan sengaja menawarkan harga barang lebih tinggi daripada harga pasar, seperti yang dilakukan banyak pemerintah terhadap hasil-hasil pertanian—akan terjadi berkelimpahan.

    (hlm.56)
    Kepemilikan tidak hanya berarti bahwa seseorang berhak atas buah dari jerih payahnya, melainkan juga bahwa orang tersebut bebas memanfaatkan sumber dayanya tanpa perlu meminta izin terlebih dahulu dari pihak berwenang.

    Perencana sentral di birokrasi tidak akan pernah mampu mengumpulkan semua informasi dari semua bidang; pun mereka tidak akan termotivasi oleh informasi tersebut.

    Namun, jika sekelompok orang membuka usaha pertanian sejenis dan lalu gagal, hanya mereka sajalah yang merasakan dampaknya, dan kelebihan produksi di suatu pasar berarti bahwa dampak tersebut tidak akan separah bencana kelaparan.

    Masyarakat membutuhkan percobaan dan inovasi seperti ini untuk berkembang; namun, pada saat yang sama, risikonya harus dibatasi agar masyarakat secara keseluruhan terlindung dari ancaman bahaya yang disebabkan oleh kesalahan segelintir orang.

    (hlm.57)
    Tanggung jawab dan kebebasan pribadi amat penting dalam kapitalisme. Politisi dan birokrat yang menangani sejumlah besar dana untuk tujuan investasi infrastruktur atau kampanye pencalonan diri sebagai tuan rumah Olimpiade tidak bekerja di bawah tekanan yang sama, dalam memuat keputusan rasional mereka, dengan yang dialami wirausahawan dan penanam modal.

    Jika politisi dan birokrat tersebut membuat kesalahan, sehingga misalnya biaya yang dibutuhkan lebih besar daripada pendapatan, yang harus membayar tagihannya bukanlah mereka.

    Dalam perekonomian, ini berarti bahwa, alih-alih menjalani hidup “Senin-Kamis”, kita menyisihkan sebagian sumber daya yang kita miliki dan sebagai balasannya kita mendapatkan bunga atau keuntungan dari orang lain, siapapun itu, yang dapat menggunakan sumber daya tersebut secara lebih efisien daripada kita sendiri.

    (hlm.59)
    Peraturan-peraturan semacam itu umumnya memberikan kekuasaan yang lebih besar terhadap perekonomian kepada para pejabat pemerintah yang bukan merupakan bagian darinya dan yang tidak mempertaruhkan uang milik mereka sendiri.

    Mereka menambah beban berat kepada para pencipta kemakmuran. Di tingkat federal saja, para pengusaha Amerika harus memahami lebih dari 134.000 halaman peraturan, ditambah pula dengan 4.167 aturan lain yang baru dikeluarkan oleh berbagai badan berwenang pada 2002 saja. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa semakin banyak orang enggan mewujudkan gagasan mereka dalam bentuk kegiatan wirausaha.

    (hlm.60)
    Ketika peraturan merintangi aktivitas yang sifatnya harus dilakukan, sejumlah besar waktu perusahaan—yang sebenarnya dapat dicurahkan untuk kegiatan produksi—di habiskan untuk memenuhi, atau menghindari, aturan.

    Banyak perusahaan akan menggunakan sumber daya yang mereka miliki—yang sebenarnya dapat mereka gunakan untuk investasi—untuk membujuk para politisi supaya menyelaraskan aturan dengan kebutuhan bisnis mereka.

    (hlm.61)
    Jika tujuannya adalah mendapatkan aturan yang tidak memihak dan pejabat yang “bersih”, tidak ada cara ampuh lain selain deregulasi secara besar-besaran.

    Amartya Sen berpendapat bahwa perjuangan melawan korupsi merupakan alasan sempurna bagi negara-negara berkembang untuk menderegulasi perekonomian mereka, sekalipun jika hal tersebut tidak memberi manfaat ekonomi lain.

    (hlm.62)
    Pertumbuhan—sebuah anugerah
    Politik dan ekonomi bukan ilmu pasti: kita tidak dapat melakukan eksperimen laboratorium untuk memastikan sistem mana yang berhasil dan mana yang tidak.

    Namun konflik antara kapitalisme dan perencanaan terpusat memberi kita titik terang. Sejarah memberi beberapa contoh ketika negara-negara dengan sejumlah kemiripan—dalam hal populasi, bahasa, dan norma—menerapkan dua sistem berbeda; yakni sistem ekonomi pasar dan sistem ekonomi komando yang dikendalikan secara terpusat.

    (hlm.63)
    Semakin tinggi liberalisme ekonomi di suatu negara, semakin baik kesempatan negara tersebut untuk mencapai kemakmuran yang lebih tinggi, pertumbuhan yang lebih cepat, standar hidup yang lebih tinggi, dan rerata usia harapan hidup yang lebih tinggi.

    (hlm.65)
    32 langkah-langkah liberalisasi diiringi oleh pertumbuhan. Dengan mengatakan ini saya tidak mengimplikasikan bahwa sejarah, kebudayaan, dan faktor-faktor lain tidak relevan bagi pembangunan nasional. Justru sebaliknya, saya percaya bahwa gagasan dan keyakinan manusia berdampak besar bagi pembangunan ekonomi, tetapi di sini saya hanya telah memfokuskan pada faktor-faktor politik yang, tentu saja, memengaruhi insentif orang.

    (hlm.67)
    Berdasarkan perkiraan terbaik, meski masih sangat meragukan, Eropa hanya lebih kaya 20 persen daripada belahan benua lainnya.

    Kemudian, pada sekitar 1820, Eropa mulai beranjak dan semakin meninggalkan belahan dunia lainnya sebagai akibat dari Revolusi Industri. Tetapi kemiskinan tetap marak.

    (hlm.68)
    Pertumbuhan global yang terjadi selama kurun 320 tahun antara 1500-1820 diperkirakan hanya senilai 1/30 kali dari apa yang dialami dunia setelah kurun tersebut.

    (hlm.69)
    Pandangan tentang pertumbuhan sebagai tujuan bagi dirinya sendiri itu musykil. Jika benar, hal yang penting akan berarti memproduksi sebanyak mungkin. Pertumbuhan jenis ini mudah diciptakan oleh negara dengan mengambil uang semua orang dan memulai hasil keluaran yang tidak diinginkan penduduk, seperti dalam kasus baja dan peluru di eks-Uni Soviet.

    Pertumbuhan harus terjadi dalam kaitannya dengan penduduk, dengan memproduksi barang-barang yang diminta mereka. Itulah mengapa, secara mendasar, hanya di perekonomian pasar lah, di mana permintaan memengaruhi harga dan produksi, pertumbuhan dapat benar-benar terjadi dalam cara yang menguntungkan orang.

    (hlm.71)
    Hukum yang menentang pemukulan terhadap istri tidak akan efektif jika perempuan masih tergantung secara ekonomis untuk bertahan hidup kepada suaminya, karena dalam keadaan demikian sang perempuan tidak akan mengadukan atau meninggalkan suaminya.

    (hlm.72)
    Dua ekonom Bank Dunia, David Dollar dan Aart Kraay, mempelajari statistik pendapatan selama 40 tahun dari 80 negara untuk menelisik nilai kebenaran pandangan tersebut. Penelitian mereka menyimpulkan bahwa pertumbuhan sama menguntungkannya baik bagi si miskin maupun si kaya. Dengan pertumbuhan sebesar 1 persen, pendapatan rata-rata rakyat miskin naik hingga 1 persen; dengan pertumbuhan 10 persen, kenaikan rata-ratanya juga hingga 10 persen.

    (hlm.74)
    Sebaiknya, orang miskin justru memeroleh keuntungan kurang-lebih sebesar dan secepat yang diperoleh orang kaya. Ia bahkan langsung diuntungkan dengan peningkatan nilai usaha dan daya belinya.

    (hlm.76)
    Perekonomian masyarakat terutama meningkat ketika orang-orang menabung, menanam modal, dan bekerja. Pajak yang tinggi terhadap pekerjaan, tabungan, dan modal, dalam kata-kata John Stuart Mill akan “menghukum orang yang bekerja lebih keras dan menabung lebih banyak daripada tetangganya.”

    “Denda adalah pajak ketika Anda melakukan sesuatu yang salah; pajak adalah denda ketika Anda melakukan sesuatu yang benar.”

    Kita mengenakan pajak alkohol untuk mengurangi penggunaan alkohol, pajak tembakau untuk mengurangi rokok, dan pajak lingkungan untuk mengurangi polusi. Jadi, mau dibawa ke mana kita dengan pemajakan terhadap usaha, hasil kerja, dan tabungan?

    Ahli bedah tinggal di rumah untuk mengecat ruang tamunya alih-alih melakukan sesuatu yang ia kuasai dengan baik—yaitu menyelamatkan nyawa—sebab dengan cara itu dapat menghindari keharusan membayar pajak pendapatan atas pekerjaannya sendiri dan atas upah tukang cat.

    (hlm.77)
    Namun, memandang kesenjangan pendapatan melalui angka-angka statis seperti ini mudah membuat orang lupa bahwa selalu ada mobilitas antara satu kelompok dengan lainnya—umumnya berupa gerakan ke atas atau positif, oleh karena gaji akan naik seiring peningkatan jenjang pendidikan dan lamanya masa kerja.

    (hlm.78)
    Lebih mudah bagi seorang penduduk untuk berpindah ke dalam kelompok pendapatan baru di Swedia karena perbedaan gaji di sana sangat kecil. Di sisi lain, lebih sulit bagi orang tersebut untuk meningkatkan jumlah absolut pendapatannya.

    (hlm.79)
    Kebebasan atau kesetaraan? Mengapa memilih?
    Jika standar hidup yang lebih baik layak diperjuangkan, maka yang penting adalah seberapa hidup Anda, titik. Bukan seberapa baik hidup Anda dalam perbandingan dengan hidup orang lain.

    (hlm.80)
    Orang harus memiliki aset dasar—hal-hal seperti tanah di wilayah ekonomi yang belum berkembang dan pendidikan di wilayah ekonomi modern—untuk dapat bekerja dengan efektif. Dengan demikian, yang penting adalah tingkat kesetaraan dalam hal aset dasar tersebut dan bukan apa yang biasanya dimaksudkan dalam perdebatan politis—kesetaraan pendapatan dan keuntungan.


    Untuk sedikit menyederhanakan permasalahan, hal yang penting adalah kesetaraan kesempatan, bukan kesetaraan hasil.

    (hlm.82)
    “Data yang ada menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang stabil antara pertumbuhan dan kesenjangan.”

    (hlm.84)
    Melalui penelitiannya di 70 negara, ekonom G. W. Scully menemukan bahwa pendapatan terdistribusi lebih merata di negara-negara yang menganut ekonomi liberal, pasar terbuka, dan hak kepemilikan.

    (hlm.86)
    AS berada di urutan ke-11, tetapi ini agak mengecoh karena AS begitu besar sehingga negara ini mengakomodasi perjalanan jarak jauh, perdagangan, dan komunikasi yang lebih panjang di dalam batas-batas negara itu sendiri daripada negara-negara yang kecil.

    (hlm.87)
    Hak kepemilikan, kebebasan berusaha, perdagangan bebas, dan inflasi yang berkurang memberikan pertumbuhan dan kesetaraan secara sekaligus.

    (hlm.88)
    Hak kepemilikan—demi orang miskin
    Kenyataannya justru terbalik; pasar bebas justru antitesis bagi masyarakat yang mengistimewakan kelompok tertentu.
    Perdagangan bebas memungkinkan konsumen membeli barang dan jasa dari berbagai pesaing dari seluruh dunia, alih-alih hanya dari perusahaan-perusahaan monopoli setempat.

    (hlm.89)
    Selain itu, orang miskinlah yang paling diuntungkan ketika harga barang turun dengan cepat dalam kaitannya dengan pendapatan, dan persaingan dalam konteks kepemilikan pribadi membantu tercapainya hal tersebut.

    (hlm.90)
    Masalahnya adalah bahwa pemerintah negara di dunia ketiga umumnya tidak mengakui hak kepemilikan, kecuali setelah melalui proses birokrasi yang menyiksa.

    (hlm.91)
    Untuk mendapatkan hak milik sah atas rumah yang dibangun di lahan umum di Peru, orang harus melalui 207 langkah administratif di 52 kantor publik yang berbeda. Siapapun yang ingin memulai usaha sederhana seperti usaha taksi atau layanan bis swasta secara legal harus menunggu selama sekitar 26 bulan untuk melengkapi urusan tetek bengek.

    Di Haiti, orang hanya dapat menempati sebidang tanah di lahan umum dengan menyewanya terlebih dahulu selama lima tahun sebelum dibolehkan membelinya kemudian. Namun untuk mendapat izin sewa saja diperlukan waktu dua tahun, melalui 65 tahap. Pembelian lahan secara langsung membutuhkan waktu yang bahkan lebih lama.

    Di Filipina, proses serupa membutuhkan waktu 13 tahun.

    Izin pendaftaran tanah secara sah di gurun Mesir melibatkan 31 kantor terkait dan membutuhkan waktu antara 5 hingga 14 tahun, sedangkan izin serupa untuk lahan pertanian membutuhkan waktu 6 hingga 11 tahun.

    (hlm.92)
    Bagi yang tidak memiliki sumber daya atau mengenal orang dalam yang berkuasa, hal-hal tersebut merupakan penghalang yang tidak dapat dilalui. Satu-satunya pilihan yang tersisa bagi penduduk miskin adalah menjalankan usaha kecil di sektor informal di luar hukum.

    (hlm.93)
    Itu satu alasan mengapa perekonomian Rusia membutuhkan waktu 10 tahun sebelum dapat memperlihatkan adanya pertumbuhan ekonomi setelah runtuhnya komunisme. Selama itu pulalah pemerintah Rusia memerlukan waktu bahkan hanya untuk memperkenalkan sebuah sistem yang diakui secara universal mengenai kepemilikan tanah pribadi.

    (hlm.97)
    Di negara miskin yang tidak demokratis khususnya, kaum elitlah—penguasa, kerabat dan rekan-rekannya, serta perusahaan besar yang kuat—yang diizinkan menikmati dana publik, sedangkan tagihannya harus dibayar oleh mereka yang tidak mempunyai pengaruh di lingkungan istana ibu kota.

    (hlm.98)
    Pemerintah di sana mengeluarkan $4,30 untuk menyalurkan $1 bagi orang miskin lewat program subsidi pangan.

    Hal-hal seperti ini memang benar terjadi; namun, dengan berpatokan pada contoh kasus semata, kita dapat kehilangan realitas yang lebih luas tentang nilai fantastis yang ditawarkan sistem tersebut bagi mayoritas masyarakat jika dibandingkan dengan alternatif-alternatif lain.

    (hlm.99)
    Fokus yang sempit pada ketidaksempurnaan kapitalisme akan mengalami hal selain penindasan. Tetapi orang yang mengutuk sistem tersebut begitu saja harus menjawab pertanyaan ini: Sistem politik dan ekonomi apakah yang dapat mengelola politik dan ekonomi dengan lebih baik?

    (hlm.102)
    Keajaiban “Asia Timur”
    Karena pemerintah ini berkonsentrasi pada pendidikan dasar, dan menyerahkan pendidikan tinggi kepada pasar swasta, institusi-institusi pendidikan tinggi disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi.

    (hlm.103)
    Hong Kong melaju paling jauh dalam arah tersebut. Orang di sana dapat memulai usaha dan kemudian baru melaporkannya kepada pejabat terkait untuk mendapatkan izin. Ini teramat penting, tidak saja untuk membuka lahan bagi inisiatif melainkan juga untuk menyediakan obat penawar yang efektif terhadap korupsi yang biasanya banyak terjadi di balik prosedur perizinan.

    (hlm.105)
    Perekonomian Taiwan, Thailand, dan Malaysia paling tidak sudah “dibuka” sejak 1963, Jepang sejak 1964, Korea Selatan sejak 1968, dan Indonesia sejak 1970.

    (hlm.106)
    Kekalutan Afrika
    Tetapi wilayah-wilayah lain yang juga menghadapi tantangan alam dan budaya berhasil meningkatkan standar hidup yang jauh lebih baik daripada Afrika.

    (hlm.108)
    Bukan gurun pasir dan kekeringan penyebab kelaparan dan penderitaan Afrika; para penindas politislah yang secara sistematis menghancur-leburkan potensi negara-negara di sana. Alih-alih “bergantung” pada perdagangan, negara-negara ini malah bergantung pada bantuan pembangunan.

    (hlm.109)
    Siapa saja yang percaya bahwa hirarki bersinonim dengan efisiensi sebaiknya mempelajari negara-negara ini.
    Bagi penduduk Afrika, makna globalisasi sedikit saja berbeda dari ini: terbangnya para pemimpin mereka ke luar negeri untuk menghadiri konferensi.

    (hlm.112)
    Jika kita periksa riwayat negara Afrika yang telah memilih perdagangan bebas dan ekonomi yang lebih terbuka, tampak bahwa peluang keberhasilan kebijakan liberal di sana amat besar.

    Para peternak di Botswana telah dengan cepat menyadari bahwa pasar yang lebih terbuka akan menguntungkan mereka; ini berarti bahwa sebagian besar perekonomian tersebut sudah terpapar pada kompetisi hingga akhir 1970-an. Botswana telah menerapkan perlindungan terhadap hak milik dan tidak pernah menasionalisasi bisnis.

    Dengan pertumbuhan ekonomi tahunan Botswana melebihi 10 persen antara 1970-1990, ini bahkan lebih baik daripada pertumbuhan ekonomi di negara-negara Asia Timur. Negara lain yang secara konsisten melakukan perdagangan bebas adalah negara kepulauan Mauritius.

    Negara menarik lain di Afrika adalah Ghana, yang meliberalisasikan ekonominya pada 1983 dan secara bertahap menjadi lebih sejahtera, sementara para tetangganya secara perlahan bertambah miskin.
    Uganda juga berkembang seperti Botswana dan Mauritius dan merupakan salah satu negara yang melakukan liberalisasi tercepat selama 1990-an.

    (hlm.115)
    III
    Perdagangan bebas adalah perdagangan adil

    (hlm.117)
    Manfaat bersama
    Perdagangan bebas sudah dengan sendirinya perdagangan yang adil, karena dia didasarkan pada kerjasama dan pertukaran yang sukarela.

    (hlm.118)
    Kedua pihak terpuaskan dengan pertukaran ini; jika tidak, maka tidak akan terjadi pertukaran.
    Melalui perdagangan bebas, kita dapat menikmati barang dan jasa yang tidak dapat kita hasilkan sendiri. Dimungkinkannya pilihan bebas berarti kita dapat memilih barang dengan sebaik dan semurah mungkin.

    Barangkali hampir semua orang menyadari bahwa Anda dapat memperoleh uang dengan berdagang asalkan Anda memproduksi sesuatu yang lebih baik dari hasil orang lain, namun sejumlah besar kritik yang ditunjukan kepada perdagangan bebas didasarkan pada kekhawatiran bahwa beberapa negara mungkin dapat menghasilkan semua hal dengan lebih baik.

    Yang terpenting adalah melakukan sesuatu yang secara relatif Anda kuasai paling baik, bukan yang dapat Anda lakukan secara lebih baik daripada orang lain.

    (hlm.121)
    Atau mereka dapat memanfaatkan tambahan waktu yang berhasil mereka hemat untuk membangun pondok atau perahu. Jika mereka dapat berdagang dengan penduduk di pulau-pulau lain di sekitar mereka, kelebihan makanan mereka akan dapat ditukarkan dengan hasil sandang atau peralatan yang merupakan hasil keunggulan komparatif lain.
    Prinsip yang menyatakan bahwa adalah ide yang baik untuk berkonsentrasi pada apa yang secara relatif paling baik dilakukannya, tetap berlaku.

    (hlm.122)
    Perusahaan komputer muncul di Lembah Silikon dan raja-raja mode membuka toko-toko di Milan, bukan karena alam telah tersenyum pada mereka, melainkan karena mereka dapat memanfaatkan kontak-kontak yang terspesialisasi, pengetahuan, dan tenaga manusia yang, dengan berbagai alasan, telah muncul di masing-masing tempat tersebut.

    Contoh-contoh sederhana di atas menyingkapkan kehampaan substansi dalam argumen bahwa negara seharusnya mandiri dan menghasilkan produk untuk masyarakatnya sendiri. Di perdagangan bebas, menghasilkan produk untuk lain adalah produk bagi sendiri.

    (hlm.123)
    Negara-negara Asia Timur melakukan yang sebaliknya. Mereka menghasilkan produk unggulan terbaik dan mengekspornya; sebagai imbalannya mereka mampu membeli, dalam harga yang lebih murah, apa yang mereka butuhkan.

    (hlm.124)
    Komoditas ekspor pertama Korea Selatan adalah rambut palsu dan papan partikel, Hong Kong menjadi makmur dengan bunga plastik dan mainan murahnya. Barang-barang tersebut, menurut komite perencanaan pusat, bukanlah yang dibutuhkan orang, tetapi dengan mengekspor komoditas tersebut bangsa ini mendapatkan cakupan ekonomi (economic scope) untuk melayani kebutuhannya.

    (hlm.125)
    Pentingnya impor
    LOGIKA di atas menyikapkan kehampaan sebuah mitos lain tentang perdagangan, yakni bahwa ekspor ke negara lain merupakan hal baik, sedangkan impor dari negara lain hal buruk.
    Kenyataannya, kita menjadi paling kaya dengan mengekspor produk unggulan terbaik kita, agar dapat mengimpor barang lain yang, jika kita buat sendiri, secara relatif bukan capaian terbaik kita.

    (hlm.126)
    Berdasarkan logika ini, penduduk Kalifornia akan merugi jika membeli barang dari Texas; Brooklyn akan mendapat untung dengan menolak barang dari Manhattan; dan akan lebih baik bagi tiap keluarga untuk menghasilkan sendiri kebutuhan masing-masing daripada berdagang dengan tetangganya.

    Perdagangan bukanlah semacam permainan zero-sum, atau kalah-menang, di mana kemenangan bagi satu pihak merupakan kekalahan bagi pihak lain.

    (hlm.127)
    Tetapi perdagangan yang berlangsung reguler secara alamiah antara dua belah pihak, tanpa paksaan ataupun pengekangan, akan selalu menguntungkan kedua belah pihak tersebut, meski nilai keuntungannya tidak selalu setara.

    (hlm.128)
    Para politisi ini menyerukan bahwa mereka akan menyetujui penurunan tarif hanya dengan syarat negara-negara lain juga harus melakukan hal serupa.

    Tetapi ini amat tidak rasional, sebab setiap negara akan mendapat keuntungan ketika mereka mengurangi tarifnya dan dapat mengimpor barang dengan harga murah, tak peduli apakah negara lain mengikuti jejaknya atau tidak.

    Kebijakan terbaik adalah perdagangan bebas secara sepihak; dalam hal ini Amerika Serikat melucuti tarif-tarif dan kuota-kuotanya sendiri sekalipun negara lain tetap mempertahankan atau bahkan menaikkan tarif atau kuotanya masing-masing.

    (hlm.129)
    Persaingan tentu saja menguntungkan konsumen; namun, sebagai sebuah kelompok, konsumen umumnya tercecer di berbagai tempat dan tidak tergabung dalam organisasi, sehingga mereka tidak mungkin dapat menyatakan keberatan mereka terhadap tarif.

    (hlm.132)
    Para politisi mencoba “melindungi” kita dari sepatu, televisi, dan bahan makanan yang murah! Pertanyaannya adalah mengapa kita membutuhkan perlindungan dari barang-barang tersebut. Sama sekali tidak ada yang tidak adil ketika produsen-produsen luar negeri melakukan “dumping”.

    Mereka mungkin terpaksa berbuat demikian karena ingin membuka pasar baru; tentunya sah-sah saja tujuan ini. Kalau perusahaan baru domestik diizinkan berdiri, mengapa perusahaan asing tidak boleh? Tentunya menerapkan aturan-aturan yang berbeda untuk usaha dalam negeri dan usaha luar negeri berarti menciptakan ketidakadilan yang lebih besar daripada dumping.

    (hlm.134)
    Pembayar pajak Amerika pada kenyataannya menyubsidi Swedia dalam mengonsumsi baja dan sejumlah produk lainnya. Dengan kata lain, kita seharusnya menganggap keputusan pemerintah asing untuk mensubsidi industri ekspornya, bukan sebagai ancaman, tetapi semacam hadiah yang salah arah.

    (hlm.135)
    Perdagangan bebas, ibunda pertumbuhan
    Modal dan tenaga kerja dari sektor yang kurang bersaing atau tua ditransfer ke sektor-sektor yang lebih dinamis dan baru. Itu berarti bahwa suatu negara yang berubah ke arah kebijakan perdagangan bebas yang lebih ramah bangkit ke tingkat produksi dan kemakmuran yang lebih tinggi dan dengan demikian dapat mengantisipasi percepatan pertumbuhan yang substansial, setidaknya untuk beberapa tahun pertama.

    (hlm.136)
    Bukan kebetulan bahwa wilayah-wilayah yang paling dinamis seringkali berlokasi di pesisir, dekat dengan kota dan kota besar, sedangkan yang tertinggal di belakang biasanya tidak berakses, dan seringkali berada di pegunungan.

    (hlm.139,140)
    Bagaimana kita dapat membedakan antara korelasi dan kausalitas? Bagaimana kita menentukan arah kausalitas? Paling utama untuk dicamkan adalah sebagai berikut: ketika suatu negara menerapkan perdagangan bebas, maka akan wajar baginya untuk melakukan reformasi-reformasi liberal lainnya, seperti di bidang perlindungan terhadap hak milik, pengurangan inflasi, dan anggaran berimbang.

    Maka, sulitlah memisahkan dampak suatu kebijakan dari dampak kebijakan lain. Permasalahan dalam pengukuran merupakan masalah nyata; karena itu, temuan selalu harus diterima sebagai sesuatu yang terbuka untuk dipertanyakan atau diragukan, tetap merupakan hal yang menarik bahwa studi di atas memperlihatkan, dengan sedikit pengecualian, manfaat-manfaat besar dari perdagangan bebas. Namun demikian, temuan-temuan tersebut harus didukung oleh analisis teoretis dan kajian kasus terhadap masing-masing negara pada masa sebelum dan sesudah ditempuhnya liberalisasi perdagangan. Kajian semacam itu juga akan menunjukkan dengan jelas manfaat perdagangan bebas.


    Ekonom Sebastian Edwards menyatakan bahwa yang penting bukanlah menggagas pengukuran yang pasti dan obyektif, melainkan menguji banyak variabel yang berbeda agar dapat dilihat apakah muncul suatu pola. Dengan menggunakan 8 tolok ukur keterbukaan, ekonom ini telah membuat 18 perhitungan berdasarkan beberapa perangkat data dan berbagai metode perhitungannya.

    (hlm.143)
    Semakin miskin mereka pada awalnya, semakin cepat perekonomian mereka tumbuh begitu mereka membuka diri.

    (hlm.144)
    Sejak 1780, Inggris membutuhkan 58 tahun untuk menggandakan kekayaannya. Seratus tahun kemudian, Jepang hanya membutuhkan 34 tahun untuk melakukannya, dan negara-negara lain setelah itu, seperti Korea Selatan, hanya membutuhkan 11 tahun.

    (hlm.148)
    Globalisasi dan pengangguran massal
    Namun demikian, pekerjaan-pekerjaan baru semakin bermunculan di seluruh penjuru dunia, alih-alih melenyap.

    Menarik juga untuk disimak bahwa di negara dengan perekonomian paling menginternasionalisasi, yakni yang paling memanfaatkan teknologi modern, lapangan kerja telah meningkat paling pesat.

    Sebaliknya, 70 persen pekerjaan baru tersebut menawarkan gaji melebihi tingkat median di AS.

    (hlm.149)
    Apakah ini berarti bahwa tidak ada yang dapat dilakukan orang-orang tersebut, bahwa konsumsi orang tetap konstan? Tidak, karena hal itu juga berarti munculnya cakupan konsumsi yang lebih besar. Uang yang dulunya digunakan untuk membayar tenaga kerja pertanian sekarang dapat dimanfaatkan untuk membeli komoditas lain seperti sandang, buku-buku, dan barang-barang industri yang lebih baik.

    Orang yang tidak dibutuhkan lagi di bidang pertanian dapat beralih ke bidang-bidang usaha lain yang menghasilkan sandang, buku-buku, dan barang-barang industri tersebut.

    Sebelumnya, sekitar 80 persen populasi Swedia bekerja di bidang pertanian. Sekarang, proporsinya kurang dari 3 persen. Tetapi apakah ini berarti 77 persen populasi Swedia sekarang menganggur?

    (hlm.150)
    Gagasan bahwa kuantitas pekerjaan itu konstan, bahwa pekerjaan yang diperoleh seseorang selalu diambil dari pekerjaan orang lain, telah menimbulkan beragam tanggapan. Dia telah menyebabkan sebagian orang menganggap bahwa pekerjaan harus dibagi-bagi; sebagian menganjurkan agar bea masuk dinaikkan dan imigran didepak keluar. Semua pandangan ini salah.

    (hlm.151)
    Di sini mungkin muncul pertanyaan yang masuk akal: “Apakah proses itu tidak akan pernah berakhir? Apa yang akan terjadi bila semua kebutuhan kita terpenuhi oleh sejumlah kecil tenaga kerja?”

    Ketika kemampuan produksi kita meningkat, kita akan selalu memilih memuaskan kebutuhan baru, atau memuaskan kebutuhan lama dengan lebih baik dari sebelumnya.

    (hlm.152)
    Ini memberikan kita standar hidup yang lebih tinggi, tetapi bagaimana konotasi istilah “perusakan,” tidak semua orang memeroleh keuntungan dari setiap perubahan pasar dalam jangka waktu pendek. Tentu saja sangat menyakitkan bagi mereka yang telah menanamkan modal bagi solusi lama dan bagi mereka yang harus menganggur karena bergerak di bidang industri yang kurang efisien.

    (hlm.153)
    Namun demikian, tekanan ini tidak sebanding dengan yang dihadapi manusia di abad-abad silam, yang mungkin berwujud sebagai ketidakmampuan dalam mendapatkan makanan sehari-hari atau kebutuhan lainnya, atau rusaknya mata pencaharian akibat bencana kekeringan atau banjir. Risiko tersebut juga tidak sebanding dengan kegalauan petani Etiopia saat ini, yang bergantung pada hujan dan kesehatan ternaknya.

    (hlm.154)
    Adalah hal mudah mewartakan tentang 300 orang yang kehilangan pekerjaan mereka akibat persaingan dengan Jepang. Sebaliknya, mewartakan ribuan pekerja baru yang tercipta karena kita mampu menggunakan sumber daya alam secara efisien, tidak mudah dan kurang dramatis. Tidak mudah untuk mewartakan seberapa banyak konsumen telah diuntungkan dengan adanya pilihan yang lebih luas, mutu yang lebih baik, dan harga yang lebih rendah akibat didorong persaingan.

    Hampir tidak ada konsumen di dunia yang menyadari bahwa ia telah diuntungkan senilai antara $100-200 miliar dolar Amerika setiap tahun melalui langkah-langkah liberalisasi perdagangan yang telah diterapkan menyusul perundingan perdagangan Putaran Uruguay; tetapi sesungguhnya perbedaannya terlihat dalam wujud lemari es, peralatan elektronik rumah tangga, dan dalam isi dompet kita.

    (hlm.155)
    Biaya yang harus ditanggung oleh satu kelompok kecil pada suatu peristiwa terpisah lebih mudah terlihat dan diamati, tetapi manfaat yang meningkat secara bertahap dan dinikmati oleh hampir semua orang, merayap ke arah kita tanpa pernah kita pikirkan.

    (hlm.156)
    Masalah terbesar seharusnya terjadi di AS, yang transformasi ekonominya berlangsung terus-menerus. Tetapi pasar kerja AS ibarat hydra dalam legenda Herkules. Di mitos ini, setiap kali Herkules berhasil memenggal kepala sang binatang buas, dua kepala baru akan muncul.

    Setiap dua pekerjaan yang hilang di AS selama 1990-an, tiga pekerjaan baru tercipta. Pola ini meningkatkan kesempatan bagi semua orang: tidak ada pelindung yang lebih baik terhadap pengangguran daripada harapan mendapatkan pekerjaan baru.

    (hlm.157)
    Segera setelah memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada 1992, pemerintah Estonia menghapus semua tarif masuk dalam sekali gebrakan. Rerata tingkat tarif saat ini adalah 0 persen. Pemberlakuan tarif terbukti tidak berhasil. Ekonomi Estonia dengan pesat dibangun kembali di atas dasar persaingan.

    (hlm.159)
    Kebebasan bergerak—juga bagi manusia
    Meskipun kebijakan imigrasi AS, untungnya, telah menjadi lebih tercerahkan dan semakin inklusif sejak Kongres menerapkan peraturan yang rasis, seperti Undang-Undang Pencekalan Orang Cina tahun 1882, untuk menangkal orang-orang yang “inferior”, regulasi yang ketat tetap berlaku.

    (hlm.160)
    Bagi banyak perempuan, satu-satunya kesempatan untuk melarikan diri dari kesulitan hidup di negara asal adalah melalui sindikat kriminal yang memaksa mereka menjadi pelacur; ketika mereka mencoba membebaskan diri dari dunia kelam itu, sindikat tersebut mengancam akan melaporkan mereka ke pihak berwenang.

    (hlm.162)
    Salah besar jika pendatang dianggap sebagai beban negara, para pendatang mewakili tenaga manusia dan pendorong konsumsi yang memacu pertumbuhan pasar. Semakin besar imigrasi berarti semakin banyak orang siap bekerja, semakin banyak orang berbelanja, dan semakin banyak orang yang menetaskan gagasan baru.

    Jauh dari gambaran sebagai saluran yang mengeringkan sumber daya publik, penelitian besar yang dilakukan pakar ekonomi Julian Simon menemukan bahwa rata-rata pendatang sah menerima lebih sedikit dari pemerintah dan membayar lebih banyak pajak daripada rata-rata warga negara asli.

    (hlm.165)
    IV
    Pembangunan negara berkembang

    (hlm.167)
    Distribusi yang timpang: distribusi kapitalisme
    Kritik tersebut terdengar seolah-olah yang miskin menjadi miskin karena yang kaya menjadi kaya, seolah-olah 20 persen populasi yang terkaya telah mencuri sumber daya dari 80 persen populasi yang lain. Ini salah.

    Pencurian sumber daya memang terjadi di masa penjajahan, tetapi perannya relatif kecil terhadap kesejahteraan dunia Barat dan terhadap kemiskinan penduduk miskin.

    Di banyak wilayah jajahan perkembangan justru terjadi lebih cepat ketika dijajah daripada sebelumnya. Beberapa negara terkaya dunia—seperti Swiss dan negara-negara Skandinavia—tidak pernah mempunyai negara jajahan. Di sisi lain, beberapa negara yang paling terlambat perkembangannya di dunia—Afghanistan, Liberia, dan Nepal, contohnya—tidak pernah dijajah.

    (hlm.168)
    Mereka benar bahwa ketika mengatakan bahwa ketimpangan atau ketidaksetaraan ini ditimbulkan oleh kapitalisme—tetapi alasannya tidak seperti yang mereka pikirkan. Perbedaannya adalah karena negara-negara tertentu yang telah memilih jalan kapitalisme berhasil memberikan kesejahteraan yang fantastis kepada penduduknya, sedangkan negara-negara yang menghalangi kepemilikan, perdagangan, dan produksi tertinggal jauh di belakang.

    (hlm.169)
    Kesenjangan di dunia adalah akibat kapitalisme. Bukan karena kapitalisme telah memiskinkan kelompok-kelompok tertentu, tetapi karena mereka yang menerapkan kapitalisme menjadi kaya. Distribusi kekayaan yang tidak merata di dunia disebabkan oleh tidak meratanya distribusi kapitalisme.

    (hlm.173)
    Aib orang kulit putih
    Negara berkembang sebenarnya akan paling diuntungkan dengan meningkatnya perdagangan bebas secara global di sektor manufaktur.

    (hlm.175)
    Per harinya, rata-rata sapi menerima bantuan sebesar $2,50, sedangkan pada saat yang sama hampir 3 miliar penduduk dunia menghabiskan kurang dari $2 per hari untuk bertahan hidup.

    (hlm.176)
    Dia merupakan cara sistematis dan disengaja untuk melemahkan jenis-jenis industri pertanian di mana negara-negara berkembang mempunyai keunggulan komparatif.

    (hlm.179)
    Beberapa tahun belakangan ini baik Amerika Serikat maupun Uni Eropa melakukan reformasi perdagangan bebas simbolik terhadap negara termiskin.

    (hlm.182)
    Kasus Amerika Latin
    Kelompok kecil elit ini meraup keuntungan yang sangat besar, tetapi tidak pernah menanamkan modalnya. Mereka tidak memerlukan mesin yang dapat menghemat buruh, karena memiliki buruh yang melimpah ruah, dan mereka tidak perlu memperbaiki produktivitas lahan karena masih tersedia berhektar-hektar lahan lagi yang dapat digarap.

    (hlm.183)
    Kebijakan yang diterapkan negara Amerika Latin adalah contoh buku-teks tentang proteksionisme—dan juga tentang bunuh diri ekonomi.

    (hlm.184)
    Mereka yang tidak duduk di posisi yang kuat dan bukan merupakan anggota koalisi yang kuat—orang Indian, buruh pedesaan, pewirausaha kecil, dan penduduk permukiman kumuh di perkotaan—semakin tertinggal jauh di belakang.

    (hlm.185)
    Di Cili, harga satu unit mobil di tahun 1960-an tiga kali lipat lebih mahal daripada harga pasar di dunia, akibatnya hanya orang kaya yang mampu membeli mobil.

    (hlm.188)
    Jalan raya perdagangan
    Sosiolog Fernando Henrique Cardosa, yang karyanya merupakan sumbangan penting terhadap teori ketergantungan, terpilih sebagai Presiden Brazil pada 1994 dan berusaha menerapkan aturan yang meliberalkan perdagangan! Sekarang negara berkembang menuntut perundingan perdagangan agar pasar yang kaya di negara kaya membuka pintu ekspor bagi mereka.

    (hlm.189)
    Ini secara khusus menyenangkan bagi usaha orang Amerika, karena penduduk India bangun hampir pada saat yang sama ketika penduduk Amerika mulai tidur. Bahkan pengawasan terhadap ruangan kantor dapat dilakukan dari belahan dunia yang lain dengan bantuan satelit. Dengan layanan intensif seperti ini, negara berkembang jelas mempunyai keunggulan komparatif. Mereka mendapatkan pekerjaan dan gaji yang lebih tinggi, sementara pada saat yang sama layanan dibuat lebih murah bagi pelanggan mereka di negara industri.

    (hlm.190)
    Teori ketergantungan telah dibuktikan salah oleh sejarah.

    (hlm.192)
    Ketika suatu negara miskin, dia menjadi tempat terbaik bagi pekerjaan-pekerjaan yang paling sederhana atau yang membutuhkan keterampilan paling minim. Namun apabila negara tersebut berkembang lebih kaya, produksinya akan menjadi lebih efisien dan penduduknya akan menjadi lebih terampil, sehingga negara akan menjadi lebih baik dengan proses-proses produksi yang kaya-teknologi, yang bermutu lebih tinggi, dan pada akhirnya akan cocok untuk proses-proses produksi yang kaya-pengetahuan.

    (hlm.193)
    “Biarkan mereka tetap memberlakukan tarif”
    Tarif memaksa konsumen membeli barang dari pabrik di negara mereka sendiri, yang membuat pabrik menjadi semakin kaya. Tetapi karena tidak dihadapkan pada persaingan, pabrik tidak menerima tekanan untuk memperbaiki efisiensi dan menata kembali produksi, atau menurunkan harga barang.

    (hlm.194)
    Justru sebaliknya, kebijakan protektif adalah cara untuk melucuti mekanisme pasar, yang memisah proyek yang gagal dari yang sukses. Ada beberapa contoh industri yang digagas pemerintah yang berhasil dan sejumlah contoh kerugian besar: sektor industri India yang gagal, industri otomotif di negara Amerika Selatan, dan proteksi yang diberikan Suharto kepada industri motor Indonesia (yang kebetulan dikepalai oleh anaknya sendiri).

    Sebaliknya usaha MITI untuk menciptakan industri baru yang mandiri terhadap pasar kurang berhasil. Institusi ini menanamkan modal miliaran, misalnya, untuk reaktor breeder cepat, komputer generasi kelima, dan mesin bor minyak yang dikendalikan dari jauh, semuanya merupakan kegagalan yang mahal.

    Untunglah—bagi masyarakat Jepang—MITI gagal juga dalam mengendalikan sektor-sektor tertentu, seperti yang pernah terjadi pada awal 1950-an ketika berusaha menghapuskan secara bertahap produsen mobil kecil dan mencegah Sony mengimpor teknologi transistor. Di Barat, terjadi juga kerugian besar seperti pesawat Concorde Anglo-French dan televisi digital Swedia.

    (hlm.195)
    Tembok tarif, yang semula dimaksudkan untuk memberikan proteksi sementara bagi perusahaan yang dapat bertahan, sebaliknya memberikan proteksi permanen kepada yang tidak efisien.

    (hlm.198)
    Perangkap utang
    Mungkin itu terdengar bagus, tetapi pada dasarnya lembaga ini adalah organisasi bantuan pembangunan dan negara yang memilih menyalurkan bantuan pembangunan mereka melalui lembaga ini mengharapkan agar dilibatkan dalam memutuskan cara menggunakan uang yang mereka belikan.

    (hlm.200)
    Hikmah terpenting yang dapat diambil dari rekomendasi puluhan-tahun IMF dan Bank Dunia mengatakan: betapa tidak signifikannya dampak langsung lembaga-lembaga ini terhadap negara-negara penerima pinjaman. Bagi banyak pemerintah yang mengalami krisis, pinjaman IMF dan Bank Dunia telah memberikan kesempatan terakhir untuk menghindarinya reformasi ekonomi yang drastis dan nyata. Negara hanya perlu menjanjikan reformasi demi memperoleh sejumlah besar uang yang akan mereka gunakan.

    (hlm.204)
    Tetapi pertanyaannya adalah mengapa seseorang harus dipaksa membayar utang orang lain. Umpamakan seorang diktator meminjam sejumlah besar uang untuk membangun kekuatan militer negaranya dan kekayaannya sendiri, tetapi kemudian, setelah terjadi perubahan besar di kancah politik, rezim demokratik berhasil mengambil alih kekuasaan dan menemukan fakta bahwa sang diktator tersebut ternyata menggenggam setumpuk surat utang.

    Mengapa pembayar pajak harus membayar utang uang yang tidak pernah mereka pinjam? Apakah tidak lebih masuk akal bagi sang peminjam untuk menanggung beban negara yang tidak mampu membayar utangnya?

    (hlm.206)
    Yang sebenarnya dapat menolong adalah strategi “sekali untuk selamanya”. Dengan begitu, utang negara miskin yang pemerintahnya berorientasi reformasi akan dihapuskan dan pada saat yang sama dipastikan bahwa tidak akan ada lagi utang serupa di masa yang akan datang.

    (hlm.207)
    Dalam ungkapan ahli ekonomi pembangunan internasional Peter T. Bauer, bantuan pembangunan seringkali sama saja dengan memindahkan uang dari “orang miskin di negara kaya kepada orang kaya di negara miskin”.

    (hlm.209)
    Obat mujarab
    Satu keberatan umum terhadap ekonomi pasar adalah bahwa ia menyebabkan orang dan perusahaan memproduksi demi keuntungan, bukan demi kebutuhan.

    (hlm.211)
    Jika hak paten untuk HIV/AIDS sepenuhnya dihilangkan, jauh lebih banyak orang miskin di dunia akan dapat membelinya, karena obat tersebut dapat diproduksi kembali dengan harga yang jauh lebih murah. Itu mungkin saja membuka akses yang lebih besar bagi orang untuk mendapatkan obat-obatan saat ini, tetapi itu juga akan mengurangi secara drastis ketersediaan obat di masa depan, karena perusahaan obat menghabiskan sumber daya dalam jumlah besar untuk membuat obat. Untuk setiap obat yang berhasil, ada rata-rata 20 sampai 30 obat yang tidak berhasil, dan memproduksi satu obat baru yang layak jual membutuhkan biaya ratusan juta dolar AS.

    (hlm.212)
    Secara pribadi, menurut saya akan lebih berarti jika kita berharap pada filantropikapitalis yang dermawan, ketimbang dari politisi. Kapitalisme tidak memaksa orang untuk memaksimalkan keuntungan mereka setiap saat; kapitalisme dapat memanfaatkan kekayaannya bila mereka anggap pas dan bebas dari pertimbangan politik.

    Bill Gates sendiri dengan perusahaan Microsoft miliknya, personifikasi sebenarnya dari kapitalisme modern, berjuang lebih keras dan berupaya lebih gigih melawan penyakit-penyakit di negara berkembang dibandingkan dengan yang dilakukan pemerintah Amerika.

    Jadi kenyataan bahwa kekayaan Bill Gates bernilai lebih $50 miliar seharusnya memberikan penduduk dunia yang miskin dan sakit alasan untuk bergembira. Jelas, penduduk miskin dan sakit tersebut akan memperoleh lebih banyak dari Gates-Gates lain, ketimbang dari seluruh Eropa dan WHO-WHO lainnya.

    (hlm.215)
    V
    Lomba menuju puncak

    (hlm.220,221)
    Saya mendukung perdagangan bebas tetapi…
    Para pemberi pekerjaan di sana, dengan tingkat pembangunan yang masih rendah, memang tidak mampu membayar upah yang lebih tinggi atau menciptakan kondisi kerja yang lebih baik oleh sebab rendahnya produktivitas.

    Upah akan meningkat ketika nilai pekerjaan juga bertambah besar atau ketika produktivitas meningkat—dan itu hanya dapat dicapai melalui peningkatan investasi, perbaikan infrastruktur, peningkatan pendidikan, penambahan mesin-mesin baru, dan pengorganisasian yang lebih baik.
    “Di negara miskin seperti negara kami alternatif bagi pekerjaan berbayar-rendah bukanlah pekerjaan berbayar-tinggi, melainkan pekerjaan yang tidak pernah ada.”

    Pada efeknya, klausul-klausul tentang pekerja dan lingkungan hidup di negara-negara berkembang mengatakan: kalian terlalu miskin untuk berdagang dengan kami, dan kami tidak akan berdagang dengan kalian sebelum kalian kaya.

    Dan inti masalahnya adalah: negara berkembang hanya dapat menjadi lebih kaya melalui perdagangan; mereka hanya dapat memperbaiki standar hidup dan kondisi sosial mereka setahap demi setahap. Situasi yang mereka alami adalah situasi Catch-22 (lingkaran setan): mereka tidak dapat melakukan perdagangan sebelum kondisi kerja dan perlindungan lingkungan di negara mereka mencapai standar tinggi, tetapi mereka tidak bisa meningkatkan tingkat kondisi kerja dan standar perlindungan lingkungan jika mereka tidak diperbolehkan berbisnis dengan kita. Ini mengingatkan kita pada sebuah oksimoron yang mengerikan peninggalan Perang Vietnam: “kita terpaksa membumihanguskan desa demi menyelamatkannya”.

    Bayangkan jika gagasan ini aktual pada akhir abad ke-19. Andai itu yang terjadi, Inggris dan Prancis pada saat itu akan mendapatkan bahwa upah pekerja di Swedia hanya sebagian kecil dari upah di negara mereka; bahwa di Swedia orang bekerja 12 sampai 13 jam per hari, enam hari sepekan; dan bahwa rakyat Swedia menderita kekurangan gizi yang kronis.

    (hlm.225)
    Buruh anak
    Saat ini ada sekitar 250 juta anak yang bekerja pada kisaran usia antara 5 dan 14 tahun. Masalahnya, sekali lagi, adalah bahwa negara berkembang dinilai dengan standar hidup material yang berlaku di negara kaya. Faktanya adalah bahwa tenaga kerja anak juga banyak ditemukan di Barat hanya beberapa generasi yang lalu.

    (hlm.226)
    Di negara miskin anak-anak bekerja bukan karena kekejaman orang tua melainkan karena keluarga mereka membutuhkan pendapatan tambahan dari mereka agar keluarga dapat bertahan hidup. Oleh karena itu kita tidak bisa begitu saja melarang anak-anak bekerja di negara semacam itu, apalagi menghalangi mereka mengekspor barang kepada kita. Jika itu yang kita lakukan, selama kondisi materi belum membaik, anak-anak tersebut akan terpaksa menerima pekerjaan yang lebih buruk—dalam bentuk terburuknya, di dunia kriminal dan pelacuran.

    Pada 1992 terungkap fakta bahwa gerai pertokoan Wal-Mart telah membeli pakaian yang diproduksi oleh perusahaan yang memperkerjakan anak-anak. Setelah itu Kongres AS mengancam melarang impor dari negara-negara yang memperkerjakan anak. Akibatnya, ribuan buruh anak di Bangladesh langsung dipecat dari industri tekstil.

    Saat organisasi-organisasi internasional menindaklanjuti masalah ini melalui penyelidikan, diketahui bahwa banyak dari anak-anak tersebut telah pindah kerja ke tempat-tempat yang lebih berbahaya, yang mengupah lebih rendah, dan yang, dalam beberapa kasus mempekerjakan anak-anak sebagai pelacur. Boikot serupa terhadap industri karpet di Nepal menurut UNICEF juga berakhir dengan terjerumusnya lebih dari 5.000 gadis di bawah umur ke dunia prostitusi.

    (hlm.227)
    Dalam kasus Swedia, persoalan buruh anak berhasil diputuskan, meski bukan melalui pelarangan melainkan melalui pertumbuhan ekonomi yang sedemikian rupa sehingga para orang tua mampu memberi anak-anak mereka pendidikan dengan begitu memaksimalkan pendapatan anak-anak mereka kelak, dalam jangka panjang.

    (hlm.230)
    Tetapi Bagaimana dengan kita?
    Kebanyakan konsumen pada dasarnya tidak tertarik membeli barang dari pekerja yang berupah rendah; yang mereka inginkan adalah produk yang sebaik dan semurah mungkin, siapapun pembuatnya. Alasan mengapa upah di negara-negara berkembang lebih rendah adalah karena perusahaan-perusahaan di sana kurang produktif; artinya, mereka memproduksi lebih sedikit per setiap pekerja.

    (hlm.231)
    Perusahaan umumnya juga tidak mementingkan tenaga kerja yang murah—karena, jika demikian, seluruh produksi dunia akan terkonsentrasi di Nigeria. Perusahaan lebih tertarik mendapatkan laba sebesar mungkin dari investasi modalnya.

    (hlm.232)
    Faktanya, sejak perjanjian perdagangan bebas ini diberlakukan pada 1995, lapangan kerja di Amerika Serikat justru bertambah 10 juta.

    (hlm.233)
    Pada intinya, yang penting bagi perusahaan-perusahaan tersebut adalah stabilitas sosial dan politik, kepastian hukum, pasar bebas, infrastruktur yang baik, dan tenaga kerja yang terlatih. Ketika negara-negara saling berlomba menuju puncak—bukan lomba menuju kehancuran.

    (hlm.234)
    Menurut sebuah statistik Amerika waktu kerja saat ini kira-kira separuh waktu kerja 100 tahun lalu; bahkan sejak 1973 saja waktu kerja mengalami penurunan 10 persen atau 23 hari per tahun. Artinya, sejak 1973 pekerja di Amerika rata-rata memiliki lima tahun waktu luang tambahan.

    (hlm.236)
    Jadi tak heran jika akibat yang muncul kemudian adalah rasa frustrasi akibat kehabisan waktu untuk semua itu.

    (hlm.238)
    Besar itu Indah
    Yang harus ditakuti bukanlah ukuran, melainkan monopoli. Kekuasaan negara didasari pada hak untuk melakukan paksaan, dengan dukungan aparat kepolisian.

    Satu-satunya “kekuasaan” yang dimiliki korporasi untuk membuat orang bekerja padanya atau membeli produknya semata-mata didasari pada kemampuan mereka menawarkan sesuatu yang diinginkan orang—baik berupa lapangan kerja, barang, atau jasa.

    (hlm.239)
    Perdagangan bebas telah membuat korporasi terpapar pada persaingan. Di atas semua ini, para konsumenlah yang telah menjadi semakin bebas, sehingga mereka tanpa dapat memilih dan memilah dengan leluasa, bahkan melampaui batas-batas nasional, dan menolak perusahaan-perusahaan yang tidak memuaskan mereka.

    (hlm.240)
    Monopoli gula di negara-negara Eropa bertahan hingga sekarang akibat pengenaan tarif yang dikenakan UE untuk komoditas tersebut. Akibatnya, harga gula di UE dua atau tiga kali lebih mahal daripada di seluruh pasar lainnya di dunia.
    Para kapitalis jarang merupakan penganut kapitalisme: seringkali, mereka justru paling berkepentingan dengan praktik-praktik monopoli dan pemberkahan hak-hak istimewa yang mendapat perlindungan hukum.

    (hlm.241)
    Perdagangan bebas juga memberi hak yang sama kepada pelayan-pelayan lain—bangsa asing sekalipun!—untuk menyajikan menu-menu saingan. Pecundang dalam proses semacam ini, jika ada, adalah dia yang dulunya memiliki monopoli.

    (hlm.244)
    Praktis semua negara industri lebih besar daripada korporasi.

    (hlm.246)
    Ketika sebuah perusahaan lebih produktif dari perusahaan lain, maka dia dapat memproduksi barang dengan lebih murah. Karena, sebagai konsekuensinya, karyawan-karyawannya sangat bernilai, perusahaan tersebut akan berani menggaji lebih tinggi dan menawarkan kondisi kerja yang lebih baik daripada perusahaan lain.

    Hal ini tampak jelas jika kita lihat betapa para karyawan di pabrik-pabrik dan kantor-kantor milik perusahaan Amerika yang membuka cabang di negara berkembang lebih diuntungkan atau mendapat bayaran lebih baik daripada mereka yang bekerja di tempat-tempat lain di negara yang sama.

    (hlm.248)
    Zhou Litai, seorang pengacara buruh ternama di Cina, telah menunjukkan bahwa konsumen-konsumen Amerikalah yang menjadi daya dorong utama di balik peningkatan kondisi kerja sebab mereka mendorong Nike, Reebok, dan merek lain untuk meningkatkan standar: “Jika Nike dan Reebok hengkang dari sini,” kata Zhou, “tidak ada tekanan lagi. Itu jelas”.

    (hlm.251)
    Dalam buku berjudul No Logo, yang dengan cepat menjadi populer di lingkungan anti-kapitalisme, aktivis asal Kanada, Naomi Klein, mengklaim bahwa perusahaan-perusahaan Barat telah menciptakan kondisi kerja yang mengerikan di zona-zona seperti itu. Tetapi ia tidak memberi bukti apa pun. Ia hanya mendengar selentingan desas-desus tentang kondisi buruk di satu perusahaan di zona pemroses ekspor Filipina, yang diakui Klein telah dikunjunginya karena tempat tersebut termasuk yang terburuk.

    (hlm.254)
    Seorang penjajah di jalanan bisa saja menipu kita karena setelah itu kita tidak akan pernah bertemu lagi dengannya, sedangkan merek-merek dagang terkenal, demi keberlangsungan hidup masing-masing perusahaannya, harus ditampilkan dalam perilaku yang terpuji.

    (hlm.258)
    “Gold and green forests”
    Negara-negara yang terlalu miskin terlalu sibuk mengangkat diri dari jurang kemiskinan untuk menggubris masalah lingkungan hidup.

    (hlm.259)
    Bagi mereka, mengurangi penderitaan dan kelaparan adalah hal-hal yang lebih utama daripada melindungi alam. Setelah kita mencapai standar hidup yang lebih baik, barulah kita mulai melihat pentingnya lingkungan dan mendapatkan sumber daya untuk memperbaikinya.

    (hlm.263)
    Justru sebaliknya, di negara-negara berkembanglah kita menemukan persoalan lingkungan hidup yang paling parah dan paling membahayakan. Di belahan dunia kaya, semakin banyak penduduk yang memikirkan masalah lingkungan hidup, misalnya tentang wilayah-wilayah hutan yang terancam punah. Di negara-negara berkembang, lebih dari 6.000 orang meninggal setiap harinya akibat polusi udara karena mereka masih menggunakan kayu, kotoran sapi, atau limbah pertanian untuk menghangatkan rumah atau menyiapkan makanan mereka.

    (hlm.266)
    Lomborg menunjukkan bahwa dalam beberapa dasawarsa terakhir polusi udara dan emisi di negara-negara berkembang telah jauh berkurang.

    (hlm.267)
    Lomborg menunjukkan bahwa, alih-alih terjadinya kerusakan hutan dalam skala besar-besaran, luas wilayah hutan di seluruh dunia meningkat dari 40,24 juta menjadi 43,04 juta kilometer persegi antara 1950 dan 1994. Ia menemukan bahwa hujan asam merupakan penyebab terbesar terjadinya kematian pohon dalam jumlah besar-besaran.

    (hlm.268)
    Seluruh air tawar yang dikonsumsi di dunia saat ini dapat diproduksi dengan sebuah mesin desalinasi bertenaga surya, dan instalasi peralatannya akan memakai 0,4 persen wilayah Gurun Sahara.
    Jelas bahwa beberapa bahan mentah yang kita pakai sekarang, dalam kuantitas sekarang, tidak akan cukup bagi seluruh penduduk di muka bumi jika semua orang mengonsumsi hal-hal yang sama. Namun, pertanyaan ini kira-kira sama naifnya dengan seorang manusia batu yang hidup berkecukupan yang mengklaim bahwa batu, garam, dan kulit binatang akan habis jika semua orang mengonsumsi seperti dirinya. Faktanya, pemakaian bahan mentah tidak bersifat statis.

    (hlm.269)
    Dulu, pasir tidak pernah menjadi bahan mentah yang dilirik orang atau dianggap berharga, tetapi sekarang dia merupakan bahan mentah utama bagi teknologi terdahsyat di zaman kita sekarang, tepatnya untuk komputer. Dalam bentuk silikon (pasir silikon)—yang membentuk seperempat kerak bumi, dia merupakan bahan mentah kunci untuk chip komputer.

    (hlm.270)
    Harga-harga turun, yang menandakan bahwa permintaan tidak melampaui pasokan. Dalam hubungannya dengan upah, jika kita menghitung berapa lama kita harus bekerja untuk menghasilkan uang senilai harga sejumlah bahan mentah, akan kita dapatkan bahwa sumber alam sekarang ini 50 persen lebih mahal daripada 50 tahun lalu atau hanya 20 persen lebih mahal dari harga 100 tahun lalu.

    Dibandingkan dengan harga-harga sekarang, pada 1900 harga listrik adalah delapan kali lebih tinggi; harga batu bara tujuh kali lebih tinggi; dan minyak lima kali lebih tinggi.

    (hlm.271)
    Lalu orang mulai mendeklarasikan bahwa penyambungan telepon untuk seluruh penduduk Cina secara fisik itu tidak memungkinkan, sebab dunia tidak memiliki cukup tembaga untuk menginstalasi jalur telepon tebal di seluruh Cina.

    Namun sebelum ini berkembang menjadi masalah, ternyata optik fiber dan satelit mulai menggantikan tembaga. Harga tembaga, sebagai komoditas yang disangka orang akan langka, terus mengalami penurunan; saat ini harganya hanya berkisar sepersepuluh dari harga 200 tahun yang lalu.

    (hlm.272)
    Pengakuan terhadap hak kepemilikan pribadi akan menghasilkan pemilik-pemilik dengan kepentingan jangka panjang. Pemilik tanah, misalnya, harus memastikan bahwa tanah atau hutan dalam keadaan yang baik akan tersedia esok hari, sebab jika tidak demikian, ia tidak akan mendapatkan penghasilan.
    Maka, tidaklah mengherankan jika pengurusan lingkungan hidup terparah dalam sejarah terjadi di negara-negara komunis, di mana semua kepemilikan adalah kepemilikan kolektif.

    (hlm.273)
    Ternyata noktah tersebut adalah sebuah area yang dimiliki secara pribadi; para pemilik wilayah tersebut, yang berhasil menghalangi eksploitasi tersebut, membangun peternakan sapi di sana, yang membawa keuntungan jangka panjang.

    Dengan prosedur produksi modern, kini dibutuhkan 97 persen lebih sedikit logam untuk memproduksi kaleng minuman dibandingkan 30 tahun yang lalu; salah satu penyebabnya adalah penggunaan bahan mentah berupa alumunium ringan. Sebuah mobil saat ini hanya membutuhkan separuh dari total bahan logam yang dibutuhkan untuk kebutuhan yang sama 30 tahun lalu.

    (hlm.274)
    Seandainya pemerintahan di dunia benar-benar percaya kepada ekonomi pasar, mereka akan menghapus pemberian subsidi untuk listrik, industri, konstruksi jalan, perikanan, pertanian, perusakan hutan, dan banyak hal lainnya. Subsidi menimbulkan efek yang mempertahankan keberlangsungan kegiatan-kegiatan yang, tanpanya, tidak bakal dilakukan orang atau akan dikerjakan dalam cara lain yang lebih baik.

    (hlm.277)
    VI
    Modal internasional, irasional?

    (hlm.280)
    Sebuah kolektif tanpa pemimpin.
    Yang disukai pasar bursa bukan penganggurannya, melainkan pelumas ekonomi berupa suku bunga yang lebih rendah.

    (hlm.281)
    Setiap petunjuk tentang naik-turunnya pasar di masa depan akan disikapi seketika.

    (hlm.282)
    Persoalannya adalah tentang kebebasan orang untuk memutuskan apa yang ingin dilakukannya dengan sumber daya miliknya—kebebasan, misalnya, untuk menginvestasikan dana pensiunnya di mana pun yang dianggapnya paling baik.

    Dana pensiun pada kenyataannya termasuk investasi modal paling penting di pasar internasional. Saat ini lebih dari separuh rumah tangga di Amerika adalah para pemegang saham, baik secara langsung ataupun tidak, melalui dana pensiun. Merekalah pasar.

    (hlm.283)
    Namun, jika Anda mempunyai pilihan seluas seluruh negara bagian untuk menginvestasikan modal Anda, semakin banyak orang akan berkompetisi untuk mendapatkan modal Anda.

    (hlm.286)
    Padahal tidak ada yang lebih produktif dari pendanaan perbaikan produksi yang mengalirkan dana segar ke industri-industri dan mendorong kemajuan teknologi.

    (hlm.288)
    Institut Milken dalam “Capital Access Index” telah menunjukkan bahwa perekonomian akan berkembang paling baik jika modal mudah diakses dan murah serta didistribusikan secara terbuka dan jujur.

    (hlm.290)
    Regulasi terus?
    Salah satu alasan penyebab lebih pesatnya pertumbuhan transaksi modal jangka-pendek daripada pertumbuhan investasi jangka panjang atau perdagangan barang adalah bahwa yang terakhir disebut telah diregulasi dalam amat ketat di seluruh negara di dunia.

    Jika para investor tidak diperbolehkan meninggalkan negara tersebut atas keinginan sendiri, maka sebagai kompensasinya mereka akan menuntut imbal yang lebih besar untuk menanam modal di sana, dan negara ini menanggung risiko kekurangan modal.

    (hlm.292)
    Krisis terjadi saat pengendalian terhadap modal sedang diterapkan paling ketat, yakni dengan cara melarang sepenuhnya arus masuk modal, kecuali jika modal tersebut bersedia menetap di sana, minimum selama lima setengah tahun.

    (hlm.296)
    Pajak Tobin
    Masalahnya, investasi itu tidak terdiri atas sebuah transaksi saja. Seorang investor mungkin akan mendanai sebagian proyek, mengambil sebagian untung darinya, meningkatkan investasi jika usaha ini berhasil, kemudian memutar pemasukan dari investasi itu ke sektor-sektor bisnis lainnya, mengucurkan modal lagi, membeli komponen dari luar negeri, dan seterusnya. Ketika setiap transaksi kecil pun dikenai pajak, maka biaya total untuk pajak Tobin menjadi lebih mahal berlipat ganda daripada apa yang terlihat dari persentase di atas kertas; dan oleh karenanya, akan lebih menguntungkan bagi para investor jika mereka melakukan bisnis dalam mata uang sendiri dan di wilayahnya sendiri.

    (hlm.298)
    Apabila seorang spekulan mengambil seluruh risiko, hal itu akan membuatnya sangat rentan. Ia harus selalu dapat menyebar risikonya sesuai dengan perkembangan guna menyeimbangkan portofolio risikonya secara keseluruhan. Ini bisa dijamin oleh pasar sekunder yang berskala besar yang memungkinkan orang memperdagangkan derivatifnya hampir secara seketika. Atas dasar “spekulasi” inilah biaya asuransi terhadap perusahaan dapat ditekan serendah mungkin, sehingga perusahaan dapat berinvestasi terlepas dari risiko tersebut.

    Pajak Tobin akan semakin menurunkan jumlah spekulan yang bersedia menempuh risiko, dan mereka yang bersedia akan menuntut pembayaran yang lebih besar untuk itu.

    (hlm.304,305)
    Krisis Asia
    Semua negara yang sudah “ditakdirkan” untuk dihantam krisis tersebut mempunyai utang jangka pendek yang amat besar relatif terhadap pendapatan masing-masing. Pada saat yang sama, mereka menerapkan kebijakan nilai tukar tetap atau terkontrol. Situasi ini menyebabkan munculnya sejumlah masalah yang lambat laun memiliki dampak mengerikan. Biasanya orang tidak berani meminjam dari luar negeri dalam jumlah yang besar untuk kemudian disalurkan kembali sebagai kredit yang sedikit saja lebih mahal jika nilai tukar mata uang terus-menerus berfluktuasi.

    Karena kurs mata uang berada di atas nilai yang diyakini pasar, mata uang pun menjadi “makanan” empuk bagi para spekulan, seperti yang dialami beberapa mata uang yang termasuk bagian Sistem Moneter Eropa (EMS) pada 1992-1993. Jika orang bersedia membayar lebih untuk memanfaatkan situasi tersebut dan meraup keuntungan. Mereka dapat menarik kredit pinjaman dalam jumlah besar dalam mata uang lokal dan menukar uangnya dengan nilai tukar maksimum di bank sentral. Ini menyebabkan negara-negara Asia yang dilanda krisis pada 1997 terpaksa harus menggunakan cadangan devisa mereka guna mengamankan nilai tukar mereka yang anjlok.

    Eksodus modal yang terjadi, dengan demikian, cukup rasional, bukan akibat panik semata. Belum memiliki pranata hukum yang layak, misalnya yang berupa undang-undang kepailitan.

    (hlm.307)
    Data resmi Bank Dunia menunjukkan bahwa peningkatannya di Indonesia adalah terbesar kurang dari satu juta hingga tahun 1999, dan sejak saat itu angka tersebut terus menurun.

    (hlm.311)
    Kiat menghindari krisis
    Ketika nilai tukar tetap sudah terlalu tinggi, terlambat sudah apapun yang dilakukan pemerintah selanjutnya. Pemerintah dapat mencoba mempertahankan nilai tukar tersebut, tetapi dengan harga amat mahal, sehingga akan terus menggerus cadangan devisa dan melonjakkan suku bunga, yang pada gilirannya akan mencekik perekonomian.

    Dalam sebuah studi, dua pakar ekonomi menyinyalir bahwa praktis semua sistem nilai tukar tetap, cepat atau lambat, akan berjumpa dengan krisis moneter. Ini terjadi di Swedia pada 1992, di Meksiko 1997, di Rusia 1998, di Brazil 1999, dan di Argentina 2001. Dua ekonom lain menunjukkan sisi sebaliknya:

    (hlm.312)
    “Rasa-rasanya kami tidak pernah mendapati contoh krisis keuangan atau mata uang yang signifikan di negara berkembang yang nilai tukarnya sepenuhnya fleksibel”.

    (hlm.313)
    “Kediktatoran” pasar?
    Menurut para penentang globalisasi, pasar keuangan bebas merupakan ancaman terhadap demokrasi.

    (hlm.315)
    Oleh karena itu, Amerika Serikat mencoba untuk mendorong pemerintah Qatar melakukan kontrol terhadap stasiun televisi. Namun keinginan Amerika ini dijawab oleh pemerintah Qatar dengan menyatakan bahwa di sebuah negara yang menjamin kebebasan berpendapat tidaklah mungkin hal itu dilakukan.
    Orang-orang yang berpenghasilan lebih baik dan terbiasa dengan berbagai pilihan tidak bisa terus-menerus menerima jika orang lain membuat keputusan untuk mereka.

    (hlm.316)
    Abad ke-20 jelas menunjukkan bahwa tidak ada sistem ekonomi lain yang bisa dikombinasikan dengan demokrasi kecuali kapitalisme. Oleh karena itu, omongan yang menyebutkan adanya “kediktatoran pasar” tidak hanya tak berdasar tetapi juga mengada-ada.

    Kiranya benar: siapa berutang, ia tidak bebas. Defisit anggaran dan utang membuat suatu negara tidak mendapatkan kepercayaan pasar.

    (hlm.320)
    Mengapa kita menyebut sesuatu hal “lebih demokratis” hanya karena sebuah pemerintah yang demokratis menentukan nasib kita? Apakah Indonesia, dengan logika yang sama, akan menjadi lebih demokratis jika negara ini menentukan siapa yang boleh kita nikahi, pekerjaan apa yang boleh kita lakukan, dan berita apa yang boleh dimuat di surat kabar? Tentu tidak.

    Mayoritas penduduk harus memilih wakil-wakil politik mereka; namun, itu tidak berarti para wakil tersebut harus memutuskan melalui sistem voting bagaimana individu harus menjalani hidupnya sendiri. Demokrasi adalah cara untuk mengatur negara, bukan masyarakat.

    (hlm.325)
    VII
    Liberalisasi, bukan standarisasi

    (hlm.327)
    Hak untuk memilih kebudayaan
    Salah satu manfaat terbesar dari globalisasi adalah bahwa ekonomi yang muda dapat belajar dari yang lebih tua.
    Pembangunan Barat yang membutuhkan 80 atau 100 tahun sebelum mencapai tingkat capaiannya sekarang telah berhasil direplikasi oleh Taiwan hanya dalam waktu 25 tahun saja.

    (hlm.329)
    Siapa saja yang berjalan-jalan di ibu kota-ibu kota Eropa saat ini tidak akan mengalami kesukaran dalam menemukan hamburger atau cola-cola, tetapi mereka juga akan menemukan dengan mudah makanan-makanan lainnya, seperti kebab, sushi, Tex-Mex, bebek Peking, makanan Thailand, keju Prancis, atau Kapucino.

    (hlm.331)
    Fenomena ini bukan akibat penyeragaman dan penghapusan perbedaan, melainkan, justru sebaliknya, disebabkan oleh merebaknya kemajemukan di mana-mana. Secara kultural, bangsa Amerika berada di depan sebab mereka terbiasa memproduksi secara komersial bagi publik yang amat besar—sebuah fungsi dari negara yang besar dengan satu bahasa. Kini negara lain pun mendapatkan kesempatan yang sama.

    (hlm.332)
    Komentar ini membuat si lelaki Praha tersebut tersinggung. Bagaimana mungkin mereka menganggap kampung halamannya sebagai sebuah museum, tempat yang mereka kunjungi sekali-sekali untuk menghindari restoran cepat saji? Orang Praha ini menginginkan kota yang riil, berikut restoran-restorannya di mana orang bisa makan dengan nyaman dan harga terjangkau, seperti yang bisa dilakukan orang-orang Ceko “buangan” di tanah asing.

    (hlm.333)
    Tidak ada yang salah dengan museum, sebab dia dapat menjadi tempat yang menyenangkan untuk melewati sebuah petang; hanya saja, kita tidak mungkin tinggal di dalamnya.

    (hlm.334)
    Kebudayaan perlu hidup dalam kebebasan, terpapar pada pertukaran dengan kebudayaan-kebudayaan lain, agar dia dapat memperbarui dan memperkaya dirinya.

    (hlm.335)
    Tidak ada formula universal untuk menunjukkan seberapa besar kadar modernisasi yang harus kita terima dan seberapa banyak tradisi harus dipertahankan.

    (hlm.336)
    Perkembangan gerakan kebebasan
    Setetes kebebasan untuk menerima ide baru, citra, dan bunyi, kebebasan untuk memilih, dengan cepat membawa orang untuk semakin menuntut pilihan yang lebih banyak, lebih banyak kekuasaan untuk menentukan kehendaknya sendiri.

    (hlm.338)
    Orang-orang dapat bebas melintasi perbatasan tanpa paspor, mencari pekerjaan tanpa perlu izin kerja, dan memperoleh dengan mudah kewarganegaraan dari negara tempatnya menetap.

    (hlm.340)
    Para pengambil keputusan tidak saja memikul tanggung jawab atas kegagalan dan masalah. Dan karena menyalahkan orang lain itu lebih enak, globalisasi sangat cocok sebagai kambing hitam. Dia meliputi semua kekuatan yang tak bernama yang telah memanfaatkannya di sepanjang sejarah peradaban.

    (hlm.341)
    Namun begitu mereka diberi izin hak untuk menguasai dan mengontrol tanah dan lahan mereka, untuk pertama kalinya mereka merasa mendapat hak untuk membuat keputusan untuk diri mereka sendiri.

    (hlm.342)
    Kemanusiaan mulai menyadari bahwa setiap individu mempunyai hak untuk menjadi tuan bagi dirinya sendiri.

    Globalisasi: Jalan Menuju Kesejahteraan

    Martin Wolf

    Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Globalisasi: Jalan Menuju Kesejahteraan oleh Martin Wolf.

    Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

    Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

    Selamat membaca.

    Chandra Natadipurba

    ===

    Globalisasi:

    Jalan Menuju Kesejahteraan

    Martin Wolf

    Pertama kali diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Freedom Institute bekerja sama dengan Yayasan Obor Indonesia pada Maret 2007 di Jakarta.

    Penerjemah: Samsudin Berlian

    Pembaca naskah: Sugianto Tandra

    Desain Sampul: Wien Muldian

    YOI: 558.25.8.2007

    ISBN: 978-979-461-643-7

    (hlm.x)

    Kata Pengantar

    DARI KAPITALISME KE GLOBALISASI

    Rizal Mallarangeng

    Runtuhnya Uni Soviet hampir dua dekade silam bukan hanya berarti keruntuhan sebuah sistem pemerintahan dan terkuburnya sebuah ideologi besar. Peristiwa ini berarti juga berakhirnya sebuah perdebatan panjang dan pergulatan untuk mencari bentuk masyarakat yang ideal dan sistem ekonomi yang paling mampu menangkat kesejahteraan rakyat.

    (hlm.xi)

    Perdebatan yang terjadi lebih berada di dalam keluarga yang sama: bagaimana meningkatkan kinerja sistem kapitalisme agar mencapai beberapa tujuan sekaligus, seperti pertumbuhan dan kesejahteraan, pemerataan dan kebersihan lingkungan, otonomi kebudayaan lokal dan berkurangnya sikap konsumerisme dan sebagainya.

    Ada elemen sejarah yang berakhir, namun ada pula yang terus berlanjut dalam bentuknya yang telah berubah, dan mungkin dengan intensitas dan kegairahan yang lebih seru lagi.

    (hlm.xii)

    Namun pada tingkat yang fundamental, globalisasi didorong oleh sifat yang inheren pada diri manusia untuk selalu ingin lebih tahu, lebih bebas, lebih maju serta lebih mampu berhubungan dengan manusia-manusia lainnya di tempat-tempat yang berbeda.

    Bagi kaum pendukung seperti mereka, perkembangan globalisasi telah membawa manfaat yang sangat besar bagi umat manusia, bukan hanya dalam memicu pertumbuhan ekonomi, mengubah struktur produksi menjadi lebih efisien dan mengangkat taraf hidup masyarakat, tetapi juga dalam mendorong pemerataan dan membantu masyarakat miskin untuk keluar dari kemiskinan yang menyedihkan.

    (hlm.xiii)

    Tidak seperti yang sering dituduhkan pada mereka, kaum pemikir liberal sebenarnya tidak menolak regulasi dan peran negara. Mereka mengakui bahwa negara memainkan peran penting, khususnya dalam menjalankan beberapa peran yang fundamental dalam bidang ekonomi, mereka mengakui ketidaksempurnaan pasar, dan karena itu dalam bidang-bidang tertentu regulasi dan peran pemerintah sangat diperlukan, khususnya dalam menjamin bahwa kompetisi antara para pelaku ekonomi berjalan dengan sehat.

    (hlm.xiv)

    Apalagi setelah terjadinya Krisis Moneter pada 1997-1998 yang lalu, upaya-upaya semacam itu sering dianggap sebagai sebagai langkah-langkah yang didiktekan oleh IMF dan Bank Dunia. Hal ini sungguh patut disayangkan: sementara negeri-negeri lainnya seperti Cina, India, dan Vietnam berlomba-lomba untuk memanfaatkan potensi yang ada pada globalisasi dengan semakin membuka diri dan menyesuaikan perekonomian domestik mereka, kita yang justru lebih dahulu melakukannya kini berjalan di tempat, terombang-ambing antara ada dan tiada, maju dan mundur, bergerak ke depan dan melangkah kebelakang.

    Dalam satu hal, tradisi intelektual kita yang diwariskan oleh Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Sjahrir adalah tradisi kiri dalam berbagai variannya-yang barangkali bisa disederhanakan dengan menyebut mereka sebagian kaum kiri sosial demokrat.

    (hlm.xvi)

    Prakata dari Penulis untuk Edisi Bahasa Indonesia

                Argumen-argumen inilah yang hendak saya sampaikan dalam buku ini: bahwa terlepas dari segala kesulitannya, globalisasi harus disambut, bukan ditakuti.

    (hlm.xviii)

    Kata Pengantar Mengapa Saya Menulis Buku Ini

    Perdagangan bebas, salah satu berkat terbesar yang bisa diberikan pemerintah kepada rakyat, ternyata tidak popular dihampir setiap negeri.

    Gagasan itu penting. Mungkin inilah pelajaran paling penting yang saya dapat dari ayah saya, almarhum Edmund Wolf. Dia pengungsi Yahudi Austria yang lari dari Hilter ke Britania sebelum Perang Dunia II. Seorang penulis naskah teater dan intelektual yang gigih, dia mengajari saya bagaimana gagasan-gagasan Nazi yang gila dan gagasan-gagasan komunis yang hampir sama gilanya telah menghancurkan, atau masih menghancurkan, kehidupan beradab di sebagian besar dunia.

    (hlm.xix)

    Karena ayah saya adalah seorang jujur dan penulis, dia berpikir dan menulis tentang orang bukan sebagimana mereka seharusnya tapi sebagaimana adanya.

    Saya belajar bahwa gagasan-gagasan ideal pencerahan tentang kebebasan, pemerintah demokratik, dan pencarian akan kebenaran tanpa diwarnai kepentingan-kepentingan itu tidak ternilai harganya dan ternyata sangat rapuh.

    (hlm.xx)

    Saya teringat pada apa yang dikatakan Samuel Johnson ketika diminta membedakan keunggulan dua penyair kecil. Tidak ada gunanya menetapkan mana yang lebih unggul di antara kutu dan caplak.

    (hlm.xxi)

    Kedua guru lain (bersama Tibor Scitovsky dari Yale University) menerbitkan pada 1970 salah satu buku paling berpengaruh mengenai pembangunan ekonomi selama 50 tahun terakhir, Industry and Trade in Some Developing Countries. Buku brilian ini – suatu Wealth of Nations untuk zaman kita- meringkaskan suatu studi multinegeri mengenai kebijakan perdagangan dan pembangunan ekonomi, yang diatur oleh Profesor Little untuk Development Centre dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan.

    (hlm.xxii)

    Dari sini saya menemukan konsekuensi parah dari kontrol sewa dan pertumbuhan perumahan dewan (atau umum).

    Pasar mungkin bukan persyaratan satu-satunya untuk demokrasi seperti itu. Tapi ia harus ada, karena

    konsentrasi kekuasaan yang inheren dalam setiap ekonomi terencana tidak cocok dengan tekanan-tekanan efektif dari bawah. Pasar juga memungkinkan orang menyatakan pilihan- pilihan pribadi mereka. Pasar adalah suatu dimensin kebebasan.

    (hlm.xxvi)

    Mempertahankan ekonomi dunia liberal bukan berarti membela Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, Organisasi Perdagangan Dunia, atau institusi spesifik lain. Institusi-institusi ini harus dinilai- dan direformasi atau disingkarkan- menurut keberhasilan mereka.

    (hlm.xxviii)

    Pasar adalah institusi paling kuat yang pernah diciptakan untuk menaikan standar penghidupan: bahkan tidak ada pesaing lain. Tapi pasar butuh negara, seperti halnya negara perlu pasar.

    (hlm.xxix)

    Sosialisme tidak berhasil. Komunisme dan fasisme itu kriminal, blunder. Imperialisme adalah jalan buntu. Militerisme dan nasionalisme menghancurkan peradaban Eropa.

    (hlm.1)

    Bagian I

    Pokok Bahasan

    (hlm.3)

    Bab 1

    “Kolektivis Milenium Baru” Naik Panggung

    Siapa yang menganggap bahwa kesejahteraan orang Amerika akan lebih baik kalau ekonomi mereka dipilah-pilah di antara ke-50 negara bagian, masing-masing dengan rintangan kuat terhadap barang, jasa, modal, dan orang dari negara bagian lain?

    (hlm.4)

                Lagi pula, mengapa berhenti pada 200 potong? Mengapa tidak membagi ekonomi dunia sampai 10.000 negeri, 600.000 suku bangsa, atau enam miliar manusia swasembada? Tidak ada titik tempat orang mencapai tingkat yang “tepat” untuk berswasembada atau mencapai jumlah individu kolektif yang “tepat”.

    Kegagalan dunia kita bukanlah bahwa ada terlalu banyak globalisasi, tapi bahwa ada terlalu sedikit globalisasi.

    (hlm.5)

                Pertikaian intelektual antara kapitalisme liberal dan penentang-penentangnya adalah tema utama buku ini. Ia tidak terlalu menaruh perhatian pada asal-usul sosial dan intelektual dari gerakan protes itu sendiri.

    (hlm.6)

    Seperti dikatakan almarhum Mancur Olson- teoritikus besar tentang logika aksi kolektif-hanya “organisasi luas”, yaitu, organisasi yang mewakili sebagian besar kepentingan ekonomi dalam masyarakat, yang kemungkinan akan berkampanye mendukung kebijakan yang akan meningkatkan penghasilan anggota-anggotanya saja sambil merugikan orang lain.”

    (hlm.7)

    Semua organisasi ini sering kali diletakkan di bawah label yang enak dipakai walaupun agak sok, “masyarakat sipil”. Tapi masyarakat sipil adalah nama bagi semua aktivitas sosial yang terletak di luar kegiatan negara. Ia seharusnya tidak boleh diserobot oleh satu bagian saja dari kelompok penekan yang terbatas. Dalam suatu analisis belum lama ini, David Henderson, sebelumnya ekonom kepala dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, menamai para aktivis ini “koletivis milenium baru”.

    (hlm.9)

                Ia berarti penyerahan kekuasaan dari pemerintah demokratik yang budiman (benevolent) kepada korporasi swasta yang ganas.

                Ia menjadi sebab- dan masih menyebabkan- kemiskinan massa dan kesenjangan yang makin meningkat di dalam suatu bangsa dan antarbangsa.

                Ia menghancurkan penghidupan petani kecil.

                Ia membuat orang miskin tidak sanggup membeli obat-obatan.

                Ia juga membuat gaji riil dan standar perubahan- menurun serta meningkatkan ketidakterjaminan ekonomi di mana-mana.

                Ia menghancurkan lingkungan hidup, memusnahkan spesies, dan merusak kesejahteraan binatang.

                Ia menyebabkan, dengan cara-cara yang beragam ini, suatu perlombaan global menuju ke Nadir, di mana pajak rendah,  standar peraturan yang rendah, dan gaji rendah dipaksakan pada setiap negeri.

                Ia membiarkan pasar finansial global menimbulkan krisis-krisis yang menimbulkan biaya besar khususnya pada ekonomi-ekonomi yang kurang maju.

                Ia memuja keserakahan sebagai kekuatan motivasi perilaku manusia.

                Dan ia menghancurkan beragam budaya manusia.

    (hlm.10)

    Sejumlah ekonom profesional kelas atas, yang paling terkenal diantaranya ialah Peraih Nobel Joseph Stiglitz, bergabung memberikan kritik mereka. Pengkritik berpengaruh lain mengenai keuangan adalah finansir miliader dan spekulator George Soros, contoh menarik seekor masang yang berubah jadi anjing penjaga. Penentang globalisasi akademik lain ialah Dani Rodrik dari Harvard University.

    Kemunculan megaterorisme

    (hlm.11)

    Perbandingan yang menyamakan keyakinan akan kemerdekaan dan demokrasi dengan Marxisme- ideologi para despot totaliter yang menurut suatu perhitungan, telah membunuh 100 juta jiwa- adalah perbandingan yang aneh. Lebih- lebih lagi profesor Gray terlalu  menyederhanakan masalah, Globalisasi bukanlah ideologi fanatik, tapi suatu nama bagi proses intergrasi batas lintas batas ekonomi-ekonomi pasar yang sedang bergerak menuju kebebasan pada zaman di mana biaya transportasi dan komunikasi terus turun.

    (hlm.12)

    Teroris-teroris yang dipimpin Osama bin Laden adalah antiliberal dari dalam hati. Ideologi mereka adalah orang yang terbaru dari ideologi totaliter dan otoriter yang menentang liberalisme selama dua abad terakhir.

    (hlm.15)

    BAB 2

    Apa arti Globalisasi Liberal

    Mengatakan “neoliberal” sama dengan mengatakan “semiliberal atau”atau Mengatakan “neoliberal” sama denga mengatakan “semili/beral” atau  “pseudoliberal”. Ini omong kosong murni. Orang mendukung kebebasan atau menolaknya, tapi orang tidak bisa semi-mendukung atau pseudo-mendukung kebebasan, seperti hanya orang tidak bisa “semihamil”, “semihidup”, atau“semimati”

    (hlm.16)

    Mendefinisikan globalisasi liberal

    “suatu fenomena di mana agen-agen ekonomi di bagian mana pun di dunia jauh lebih terkena dampak peristiwa yang terjadi di tempat lain di dunia” daripada sebelumnya.

    Pergerakkan bebas barang, jasa, buruh, dan modal, sehingga menciptakan satu pasar tunggal dalam hal masukan dan keluaran; dan perlakuan bersifat nasional terhadap investor asing (serta warga nasional yang bekerja di luar negeri) sehingga, dari segi ekonomi, tidak ada orang asing.

    (hlm.18)

                Nilai dari eksperimen pikiran yang lebih ekstrem ini adalah ia memaksa kita menerima betapa pentingnya biaya transpor dan komunikasi. Walaupun biaya ini akan terus turun, ia tidak akan pernah sampai mendekati nol, kecuali untuk hal-hal yang dapat didematerialisasi secara lengkap- seperti khususnya informasi.

                Intinya ialah bahwa jarang akan selalu penting, karena kita terdiri dari tubuh fisik, karena jarang selalu penting, begitu pula ruang. Karena ruang selalu penting, begitu pula kontrol terirotorial. Karena kontrol teriritoria. Karena kontrol teritorial. Karena kontrol teritorial penting, begitu pula negara.

    (hlm.23)

    Bagian II

    Mengapa Ekonomi Pasar Global Masuk Akal

    (hlm.26)

    Bab 3

    Pasar, Demokrasi, dan Perdamaian

    Tidak pernah ada negeri dengan suasana politik demokratis, dulu atau sekarang, yang ekonominya tidak didominasi oleh hak milik pribadi dan koordinasi pasar.

    Kebebasan dan hak milik

    Tapi ciri khas masyarakat bebas ialah bahwa bentuk-bentuk keterlibatan sosial adalah pilihan, bukan dipaksakan, paling tidak bagi orang dewasa. Ciri utama masyarakat semacam ini ialah aksi sukarela- kebebasan untuk memilih.

    (hlm.27)

                Fondasi kukuh masyarakat liberal ialah, sebagaimana dikatakan John Locke pada abad ke-17, hak semua individu untuk memiliki dan memanfaatkan harta benda dengan bebas, dibatasi oleh hukum yang didefinisikan dengan baik. Karena itu suatu masyarakat liberal adalah suatu masyarakat komersial.

    Bukanlah kebetulan bahwa masyarakat komersial memberikan nilai tinggi kepada kebebasan berpikir da bereskpresi. Seorang pedagang adalah seorang praktis yang harus melakukan penilaian rasional tentang dunia, apalagi karena risiko yang dihadapinya. Dia belajar dari pengalaman, bukan penguasa, dan menaruh kepercayaan kepada penilaiannya sendiri, bukan penilaian orang lain. Kombinasi dari kepraktisan, rasionalisme, dan kebebasan mencari tahu menjadi dasar pencapaian terbesar dunia barat- sains modern. Juga bukan kebetulan bahwa sains mencpai puncak kemekarannya di barat yang komersial.

    (hlm.28)

    Liberalisme berarti perubahan tanpa henti terus menerus. Sebagian besar musuh liberalisme membencinya pada dasarnya karena alasan itu.

    Kalau individu harus bebas, mereka butuh perlindungan oleh- dan dari- negara. Dalam bukunya yang terakhir, terbit sesudah dia meninggal, Mancur Olson mengatakan bahwa “kita tahu bahwa suatu ekonomi akan menghasilkan pendapatan maksimum hanya jika ada tingkat investasi yang tinggi dan bahwa banyak hasil investasi jangka panjang diterima lama sesudah investasi dibuat”. Jadi mungkin satu perbedaan tunggal yang paling penting antara masyarakat yang menjadi kaya dan masyarakat yang gagal adalah kemampuan rakyatnya untuk membuat perjanjian kontrak jangka panjang. Mereka perlu tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap satu sama lain dan, lebih penting lagi, terhadap penguasa politik. Orang hanya akan membuat investasi semacam itu bila mereka yakin bahwa buah-buahnya tidak akan dimakan orang lain. Semua masyarakat yang agar kompleks punya beraneka ragam pasar untuk transaksi segera. Bazar adalah ciri yang dikembangkan masyarakat Timur Tengah, misalnya. Tapi bazar tidak membuat negeri-negeri jadi kaya. Hanya masyarakat yang agak spesial yang punya pasar dengan jaringan luas kontrak jangka panjang yang mendorong kemakmuran. Ini adalah ciri mennetukan dari apa yang disebut Karl Marx “kapitalisme”- suatu masyarakat di mana orang dapat mengandalkan dan memiliki investasi jangka panjang dengan keamanan yang memadai lewat suatu jaringan klaim abstrak di atas kertas.

    Syarat bagi keyakinan semacam ini biasanya dinyatakan sebagai kebebasan di bawah hukum atau, lebih sederhana lagi, sebagai pemerintahan hukum (rule of law). Anarki dan kebebasan tidak berbatasan sama lain tapi berada pada kutub yang berlawanan. Di bawah anarki kebebasan setiap orang dibatasi oleh aktivitas predator setiap orang lain- dunia di mana kehidupan itu “jahat, biadab, dan pendek”, seperti digambarkan Thomas Hobbes dalam buku klasiknya Leviathan. Di bawah kebebasan, negara melindungi setiap orang dari predator, termasuk dari negara itu sendiri. Tapi tampaknya ini adalah kontradiksi. Jika negara berhasil mendirikan suatu monopoli kekuasaan atas suatu wilayah tertentu, untuk apa ia menerima bentuk pemerintahan hukum yang membatasi dirinya sendiri? Ini adalah pertanyaan yang diajukan partai-negara Cina pada diri sendiri sekarang ini.

    (hlm.29)

    Menuju negara yang rajin berbuat baik

    Kompetesi regulatori

    Salah satu alasan mengapa Eropa menggungguli Cina, India dan dunia Islam, yang semuanya jauh lebih maju 1.000 tahun yang lalu, adalah kompetesi di antara penguasa-penguasa atau yang sekarang disebut “kompetisi regulatori”

    (hlm.31)

    Kompetisi regulator masih merupakan kekuatan besar sekarang. Bahkan, itulah alasan utama bagi persebaran liberalisasi ekonomi pada 1980-an dan 1990-an. Deng Xiaoping  dipengaruhi oleh keberhasilan ekonomi Hongkong,  Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan waktu dia memutuskan untuk memperkenalkan reformasi pasar ke Cina.

    Kompetisi regulatori saja belum cukup. Penguasa monarki absolut masih bisa menyita kekayaan rakyatnya atau mengemplang utangnya apabila dinastinya terancam. Kebebasan yang terjamin menuntut pemerintah-pemerintah untuk menaruh perhatian pada kesehatan jangka panjang negeri. Solusi terbaik ialah demokrasi konstitusional dengan parlemen perwakilan- pemerintah yang dapat dimintai pertanggungjawaban oleh rakyat yang diperintah.

    (hlm.32)

    Versi Inggris akan kebebasan dimulai dari kemerdekaan pengadilan dalam menerapkan hukum. Sistem hukum kasus Inggris (common law) itu sendiri sudah kuno, sementara sistem pengadilan juri berasal dari abad ke-12. Dari fondasi ini dan dari revolusi parlementer abad ke-17, Amerika membangun gagasan pembatasan pada semua cabang pemerintahan dengan memberikan hak kepada setiap cabang untuk mengubah atau menghapuskan kegiatan cabang yang lain yang berada dalam wilayah pertanggungjawabannya (checks and blance).

    (hlm.33)

                Biasanya, walaupun tidak selalu, penguasa yang terpilih secara demokratik (kalau mereka mengerti hal ini) punya kepentingan untuk memilih institusi dan kebijakan yang akan membuat masyarakat secara keseluruhan lebih kaya daripada memilih merampas kekayaan dari minoritas. Tapi apabila kesenjangan prapajak dalam penghasilan dan kekayaan besar, hal ini mungkin tidak tepat lagi. Kalau suatu mayoritas besar berpenghasilan jauh di bawah pendapatan rata-rata, mungkin mudahlah memperoleh persetujuan mayoritas dalam suatu demokrasi berdasarkan suara terbanyak untuk menyita kekayaan atau penghasilan minoritas yang kaya. Dengan demikian demokrasi menjadi populis, seperti sudah lama terjadi di Amerika Latin. Hasil jangka panjangnya ialah pendapatan pascapajak yang lebih rendah daripada kalau suatu sistem politik yang kurang predatori diterapkan.”

                Seperti dikatakan Olson, “pembentukan suatu demokrasi dan pelaksanaan suatu pemilihan umum tidak dengan sendirinya menghasilkan kontrak yang aman atau hak milik”

    (hlm.34)

    Hanya apabila politik bukan perkara keselamatan pribadi, suatu demokrasi yang stabil dapat diwujudkan. Karena itu, agar demokrasi bisa berfungsi, wilayah politik harus diberi batas. Ekonomi pasar, melalui hak milik swasta, memberikan batas ini.

    Lagi pula, walaupun tidak semua ekonomi pasar adalah demokrasi, semua demokrasi yang stabil punya ekonomi pasar, seperti kata Profesor Kornai

    Apabila keluaran ekonomi perkapita meningkat, kehidupan suatu masyarakat menjadi bersifat “positive -sum” (jumlah pemenang lebih banyak daripada pecundang)- hidupsetiap orang menjadi lebih baik. Namun dalam suatu masyarakat statis, kehidupan sosial ialah “zero-sum” (“kalah-menang”- jumlah pemenang sama dengan jumlah pecundang): kalau ada yang menerima lebih, pasti ada orang lain yang menerima kurang.

    (hlm.35)

    Perbedaanya sangat besar. Dalam satu generasi, suatu masyarakat yang pendapatan per kapitanya naik, katakanlah, 1,5 persen setahun, akan punya 50 persen lebih banyak pendapatan per kapita untuk dibagi-bagikan, kalau ia mau. Besar kemungkinan bahwa kalau pegiat lingkungan hidup menerapkan suatu masyarakat pertumbuhan-nol, masyarakat itu akan dengan cepat berubah jadi otoriter (kalau pun ia tidak sudah jadi otoriter dulu untuk memaksakan pertumbuhan nol itu). Kekuasaan kemungkinan akan dipegang oleh imam-raja, pemuja Ibu Pertiwi dalam wujud Ratu Ekologi.

    Reformasi moral

    Hari ini, tempat tempat teratas daftar negara dengan angkatan bersenjata yang paling taat kepada kontrol sipil adalah negara demokrasi liberal yang maju. Tapi bagaimana suatu populasi yang tidak  bersenjata bisa memperoleh pelayanan dari mereka yang memegang senjata? Sebagian jawabannya terletak pada kenyataan bahwa mereka yang memegang senjata? Sebagian jawabannya terletak pada kenyataan bahwa mereka yang bersenjata dibayar dengan cukup baik, karena populasi yang tidak bersenjata cukup makmur. Jawaban berikutnya ialah bahwa ia melidungi pemerintah yang disahkan oleh persetujuan umum.

    (hlm.36)

    Tapi jawaban ketiga bersifat moral. Seperti dikatakan jurnalis dan penulis Kanada Jade Jacobs, simbiosis antara pemerintah dan pasar yang menjadi dasar masyarakat beradab dilengkapi oleh simbiosis antara dua budaya atau sindroma moral-budaya komersial dan budaya penjaga. Keduannya penting Bersama-sama, keduanya cukup memadai.

    Pencapaian

    (hlm.37)

    Pendapatan negara-negara anggota Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan rata-rata telah meningkat dari sekitar 10 persen produk domestik bruto seabad lalu menjadi rata-rata hampir 40 persen sekarang ini. Di beberapa negeri Eropa, angkanya di atas 50 persen.

    Seperti akan dikatakan Leo Tolstoy, semua negeri kaya itu kaya dengan cara yang kurang lebih sama, tapi semua negeri miskin itu miskin dengan cara sendiri yang masing-masing berbeda-beda.

                Pertimbangkanlah ciri-ciri demokrasi-demokrasi liberal maju. Mereka adalah demokrasi konstitusional, tunduk kepada pemerintahan hukum; mereka menghormati hak milik pribadi dan hak orang untuk membuat kontrak; mereka melindungi kebebasan berbicara dan mencari tahu; mereka mengakui hak-hak asasi manusia; mereka punya pemerintah yang dipilih; dan mereka punya petugas pengadilan yang independen dan jujur, birokrasi rasional, dan angkatan bersenjata yang taat kepada kontrol sipil. Ini semua adalah ciri-ciri yang langka dalam masyarakat manusia, baik dalam sejarah maupun dalam kenyataan saat ini.

    Hubungan internasional demokrasi liberal

    Demokrasi liberal tidak hanya punya nilai-nilai yang unggul secara domestik. Ia juga adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang dengan sendirinya menghasilkan hubungan antarnegara yang harmonis dan kooperatif. Proposisi penting ini dikemukakan oleh filsuf Jerman Immanuel Kant dalam traktatnya Perpetual Peace

    (hlm.38)

                Demokrasi liberal itu kondusif bagi hubungan internasional karena kemakmuran suatu bangsa tidak berasal dari ukuran wilayah atau populasi yang dikontrol, melainkan dari kombinasi pembangunan ekonomi internal dengan perdagangan internasional. Pengetahuan inilah yang menjadi intisari karya Adam Smith Wealth of Nation.

    (hlm.39)

    Pada 2000, misalnya, Hong Kong, dengan populasi tujuh juga dan tidak ada sumber daya alam yang layak disebut, punya GDP per kapita, berdasarkan perhitungan paritas daya beli (PPP- purchasing power parity), sebebsar $25.600, Singapura dengan empat juta orang, punya $24.900, dan Denmark, dengan lima juta, punya $27.300. bandingkan angka-angka ini dengan 1,26 miliar penduduk cina dengan GDP rata-rata per kapita $3.900, 1 miliar penduduk India dengan $2.300, 207 juta orang Indonesia $2.800, 168 juta penduduk Brazil dengan $7.300, dan 146 juta di Rusia, yang menguasai seperenam wilayah daratan di muka bumi, dengan $8.000. kekuasaan tidak mendatangkan kekayaan.

    Perdagangan bruto Hong Kong (ekspor dan impor barang) pada 2000 adalah 259 persen dari GDP dalam hitungan PPP; Singapura 294 persen, dan Denmark 69 persen. Sebaliknya Cina sembilan persen, sementara India Cuma empat persen.

    Raja atau tiran dari 50 juta orang  dapat membangun istana yang lebih besar daripada raja dari lima juta orang dan bisa melangkag lebih gagah di panggung dunia. Tapi seorang hamba sahaya di Rusia tidak lebih baik hidupnya hanya karena tsar-nya lebih agung.

    (hlm.40)

                Ketika Thomas Friedman mengemukakan teorinya mengenai perdamaian internasional Golden Arches (Lengkungan Emas), yaitu bahwa tidak ada dua negeri yang mewakili restorang McDonald’s pernah saling berperang, dia sebetulnya sedang mendukung tesis ini- bahwa demokrasi liberal tidak saling berperang – dengan cara yang sangat kasat mata.

    (hlm.41)

    Antara 1909n dan 1996 jumlah organisasi antar pemerintah bertambah dari 37 menjadi 260.

    Alasan kedua bagi relasi damai demokrsi-demokrasi liberal adalah asosiasi yang dibentuk lintas batas di antara warga negara biasa dan organisasi- organisasi warga negara. Seperti dikemukakan liberalis Prancis ternama awal abad ke-19 Alexis de Tocqueville, salah satu ciri paling mengesankan demokrasi Amerika waktu itu- dan sekarang pun masih- adalah jumlah asosiasi. Kini keadaan itu sudah menyebar ke seluruh dunia. Pada 1909, ada 176 organisasi ada 176 organisasi nonpemerintah internasional, pada 1996, jumlah ini telah meningkat jadi 5.472.

    Tantangan kolektivis terhadap tata liberal

    Itulah sebabnya liberalisme jauh lebih daripada sekadar kredo ekonomi. Ia adalah batu fondasi demokrasi di dalam negeri dan relasi damai di luar negeri. Tapi liberalisme juga rapuh, seperti terbukti menjelang akhir abad ke-19 dan hampir sepanjang abad ke-20. Ia rentan terhadap gagasan-gagasan kolektivis- nasionalisme, sosialisme, komunisme, fasisme, dan, terakhir dan terburuk, kredo yang menyatukan semua kengerian bersama-sama dalam satu paket yang menjijikan- sosialisme nasional.

                Dalam karya klasik Nation and Nationalism, filsuf Ernest Gellner berkata bahwa nasionalisme muncur karena alasan praktis, Negara modern perlu budaya tinggi bersama, karena ia menuntut adanya orang-orang trampil yang dapat saling bertukar tempat. Budaya itu biasanya (walaupun tidak selalu) berakar pada satu bahasa tunggal. Bahasa menciptakan rasa kebangsaan pada gilirannya, menciptakan tuntutan akan suatu negara sendiri.

    Insan manusia itu suka berkelompok, mampu memiliki semangat melayani yang luar biasa terhadap unit sosial yang memperoleh kesetiaan mereka. Nasionalisme memanfaatkan insting ini. Ia mneawarkan kepada kita gagasan suatu keluarga luas- suatu bangsa. Paling ekstremnya, ia menjanjikan obat pereda rasa sakit individualitas dalam bentuk gado-gado harmoni kolektif.

    Jadi argumen Marxis-Leninis bahwa imperialisme, militerisme, dan fasisme adalah konsekuensi alami dari demokrasi liberal atau kapitalisme dan demokrasi borjuasi adalah suatu kebohongan besar.

    (hlm.43)

    Karena itu imperialisme dan proteksionisme adalah nubuat yang menggenapkan diri sendiri-mereka menciptakan dunia anjing-makan-anjing yang diyakini oleh pendukung-pendukungnya sebagai alasan yang cukup untuk mengembangkan imperialisme dan proteksionisme itu.

    Negara sosialis membuat negara jadi peseudo perusahaan bisnis. Bukankah lantas gampang sekali menganggap perusahan itu sebagai bisnis keluarga dari suatu bangsa? Dalam negara-negara sosialis multietnik, penguasa mencoba menciptakan peudonasionalitas- atau bahkan lebih banyak pseudonasionalitas-atau bahkan lebih banyak pseudonasionalitas daripada yang biasa diciptakan nasionalis: Uni Soviet dan Yugoslavia adalah contoh penting.

    (hlm.46)

    Bab 4

    “Sihir” Pasar

    Walaupun hatiku agak kekiri-kirian,  aku selalu tahu bahwa satu-satunya sistem ekonomi yang berfungsi ialah ekonomi pasar. Ini adalah satu-satunya ekonomi yang alami, satu-satunya yang masuk akal, satu-satunya yang menuju kemakmuran, karena ia adalah satu-satunya yang mencerinkan fitrah kehidupan itu sendiri. Esensi kehidupan adalah bineka, tak terbatas, dan misterius, dan karena itu tidak dapat dibatasi atau direncanakan, secara sepenuh-penuhnya dan dengan segala kepelbagaiannya, oleh suatu inteligensi terpusatmana pun.

    Musuh-musuh globalisasi adalah penentang ekonomi pasar. Itulah initisari perdebatan ini. Tapi apa itu ekonomi pasar?

    (hlm.47)

    Mereka yang menduduki tingkat sosial tertinggi adalah tokoh-tokoh prajurit- pemimpin dan imam-juru tulis-birokrat. Kekuasaan yang mereka pegang adalah juga rute paling efektif menuju kekayaan. Bagi prajurit-pemimpin, dengan sendirinya kekuasaan dan kekayaan mereka yang pegang. Posisi tertingi dipegang oleh mereka yang menggabungkan kedua aspek otoritas ini di satu tangan- imam- raja, seperti kaisar-kaisar Bizantium, atau, yang lebih agung lagi, seperti para firaundi Mesir Kuno.

    (hlm.49)

    Pertumbuhan selama milenium pasar

    Menurut sejarawan ekonomi Angus Maddison, populasi dunia naik 22 kali lipat selama milenium terakhir, tapi produk domestik bruto dunia (disesuaikan menurut paritas daya beli) naik 13 kali lebih cepat lagi.

    (hlm.50)

    Usia harapan hidup adalah 24 tahun di Inggris antara 1300 dan 1425. Mungkin begitulah keadannya dalam Imperium Romawi. Pada 1801-26, tingkat di Inggris telah mencapai41 tahun. Pada 1999 77 tahun. Dua atau lebih abad yang lalu, tidak ada seorang pun, bagaimana pun kaya dan berkuasanya, punya akses pada perawatan gigi, obat-obatan, atau sanitasi yang layak. Nathan Rothschild, pendiri dinasti Rothschild diInggris, meninggal pada 1836 karena bisul yang terinfeksi. Hari ini, antibiotik akan menyembuhkannya dengan gampang. Anne, Rati Inggris, melahirkan 15 anak, tidak satu pun hidup sampai usia dewasa. Bahkan pada 1990 satu dari 10 anak di Amerika Serikat mati sebelum ulang tahun pertama. Pada akhir 1990-an tingkatnya sudah turun sampai tujuh dari 1.000.

                Pertumbuhan meningkat sangat pesat setelah 1820. Tapi ada seusatu yang penting telah mulai terjadinya sebelumnya. Yang sebelumnya populasi dunia naik hampir empat kali lipat antara 1000 dan 1820. GDP dunia naik mungkin enam kali lipat. Ini berarti ada persen peningkatan pendapatan rill per kapita. Agregat ini menyembunyikan perbedaan kinerja yang sangat besar antara Eropa barat dan dunia selebihnya. Antara 1000 dan 1820, pendapatan riil perkapita di Eropa naik kira-kira tiga kali lipat. Di dunia ekonomi pasar paling berhasil di Eropa Bagian Barat, Kerajaan Serikat dan Belanda, rata-rata pendapatan per kapita kira-kira tiga kali lipat. Di dua ekonomi pasar saling berhasil di Eropa Bagian Barat, Kerajaan Serikat dan Belanda, rata-rata pendapatan per kapita kira-kira empat kali lipat di atas tahun 1000. Tapi, sebelum awal abad ke-19, penaikan standar penghidupan yang ajek hanya terjadi di Eropa bagian barat dan mulai dari abad ke-17, di koloni-koloni Britania di Amerika.

    (hlm.52)

    Jadi apa yang membuat ekonomi berhasil di sejumlah negeri? Jawabannya ialah bahwa di situ ada ekonomi pasar yang dinamis. Tapi apa artinya ini? Sekarang kita akan membahas pertanyaan ini.

    Bagaimana ekonomi pasar yang maju berfungsi

    (hlm.53)

    Inilah yang disebut Ronald Reagan “sihir pasar”. Tapi “proses pasar”, demikian dinamai oleh Friedrich Hayek, bukanlah sihir. Ia jauh lebih hebat daripada sihir.

    Pasar muncul di penjara dan kamp konsentrasi; muncul dalam kediktatoran komunis walaupun orang yang melakukannya, dikutuk sebagai “spekulator”, sering kali ditembak begitu saja; dan di hampir semua negeri sedang membangun pasar muncul sebagai sektor informal tempat orang berdagang di luar pengawasan peraturan konyol dan regulator korup.

    (hlm.54)

                Agar suatu ekonomi pasar yang canggih bisa berfungsi, ia harus mengatasi lima masalah: pertama, informasi harus mengalir dengan mulus, membuat orang yakin tentang apa yang sedang mereka beli; kedua, tidaklah berlebihan untuk menganggap orang akan memenuhi janji mereka, bahkan walaupun janji itu baru akan dilaksanakan puluhan tahun kemudian; ketiga, kompetisi harus dipupuk; keempat, hak milik harus dilindungi; dan terakhir, efek samping yang paling buruk bagi pihak ketiga harus dikurangi.

    “kepercayaan harus ada dalam masyarakat agar ia bisa jadi masyarakat kapitalis karena orang yang tidak percaya pada sesama mereka, tidak percaya kelompok lain, tidak percaya orang yang berada di temapat jauh, tidak akan bisa berdagang dengan mereka, kapitalisme akan tetap berada pada level ekonomi bazar”.

    Orang yang berkecimpung dalam bisnis bisa menyediakan garansi atau menciptakan reputasi sebagai pebisnis jujur; mereka bisa berinventasi dalam suatu merk yang mengaitkan perusahaan dengan kualitas barang yang dijualnya; dan mereka bisa memperkerjakan profesional yang kurang lebih bisa dipercaya (seperti akuntan) untuk menyertifikasi kebenaran kata-kata mereka.

    (hlm.55)

                Perlindungan hak milik adalah syarat yang harus ada bagi suatu ekonomi pasar yang canggih. Bahkan, dibandingkan syarat lain satu per satu, inilah yang paling penting. Orang harus berhak memiliki barang. Apa artinya kepemilikan? Pertama, artinya ialah orang berhak atas pendapatan residual, kelebihan dari apa yang harus dibayarkan kepada pihak lain- pemasok, pemiutang, pekerja, dan seterusnya. Ini memberi mereka insentif untuk memakai aset secara produktif atau, kalau mereka tidak bisa melakukannya, menjualnya kepada orang yang bisa. Kedua, pemilik juga memiliki hak kontrol residual. Bukan hanya si pemilik punya insentif untuk memanfaatkan asetnya secara produktif. Dia juga punya hak untuk itu. Dalam ekonomi modern yang canggih, hak kepemilikan seperti ini sifatnya kompleks. Dasarnya hanyalah lembar-lembar kertas dan bisa diterapkan lewat rantai agen-agen.

    (hlm.56)

    Ciri sentral ekonomi pasar modern

    Karena itu mudah dibayangkan bahwa suatu ekonomi pasar modern sungguh amat jauh dari rimba Edouard Balladur. Pasar adalah bagian dari sistem institusional yang kompleks dan canggih yang telah berkembang selama berabad-abad berdasarkan prinsip-prinsip luas kebebasan kontrak, hak milik yang terjamin, dan negara yang menyediakan layanan. Ada empat ciri ekonomi pasar modern yang saling berkaitan yang sangat penting, khususnya dalam diskusi mengenai integrasi ekonomi global. Keempatnya ialah: korporasi; inovasi dan pertumbuhan; hak milik intelektual; serta peran dan fungsi pasar finansial.

    Korporasi

    Peraih Nobel Kenneth Arrow mengatakan bahwa “di antara segala inovasi, manusia, sungguh, pemakaian organisasi untuk mencapai tujuan adalah salah satu yang paling besar dan paling awal.”

    (hlm.57)

    Korporasi modern juga menuntut penciptaan limited liability (pembatasan tanggung jawab pemegang saham atas utang perusahaan), yang muncul pada 1856. Kalau tidak, modal sangat besar yang dibutuhkan tidak bisa terpenuhi.

    Agar organisasi semacam ini bisa berfungsi, harus ada kemungkinan untuk membentuk kerekanan berdasarkan kepercayaan. Karena itu, seperti dapat diperkirakan, perusahaan besar jauh lebih banyak ada di negeri maju dengan tingkat kepercayaan yang tinggi dibandingkan di negeri kurang terbangun: di Amerika Serikat, pabrik dengan 50 atau lebih karyawan mencakup 80 persen lapangan kerja manufaktur; di Indonesia, proporsinya cuma 15 persen.

    (hlm.58)

                Dalam praktik, ada enam cara (yang saling berkait) untuk mengurangi risiko-risiko ini. Pertama ialah disiplin pasar: kegagalan finansial pada akhirnya akan membuat manajer kehilangan kerja, apabila pemerintah bisa dihimbau untuk tidak menolong perusahaan yang gagal. Kedua ialah pengecekan internal, dengan direktur independen, keharusan pemungutan suara oleh pemegang saham institusional, dan audit internal. Ketiga ialah regulasi swasta, misalnya persyaratan listing pada bursa saham. Keempat ialah regulasi resmi yang mencakup komposisi dewan direktur,struktur bisnis, dan persyaratan pelaporan. Kelima ialah transparensi, termasuk standar perakunan dan audit independen. Terakhir ialah, sekali lagi, nilai-nilai perilaku kejujuran dalam hubungan dengan pihak lain.

    Ekonom sangat tidak nyaman dengan gagasan moralitas. Tapi tampaknya ia punya makna yang cukup jelas dalam konteks bisnis.

    (hlm.59)

    Inovasi

    Inovasi teknologi adalah makan siang gratis dalam ekonomi pasar modern.

    Tapi motivasinya bukan lagi harapan untuk memperoleh keuntungan luar biasa. Melainkan kepastian akan gagal kalau tidak ikut dalam perlombaan ini. Jadi inovasi tidak datang dari luar pasar. Ia sudah tertanam di dalam kapitalisme.

    Hak milik intelektual

    Mengingat peran inovasi, hak milik intelektual bukanlah ciri sampingan sistem hak milik ekonomi pasar modern, tapi ciri utama.

    (hlm.60)

    Pasar finansial

    Ia adalah jalan darahnya, memindahkan sumber daya dari orang yang tidak membutuhkannya atau tidak dapat memanfaatkannya kepada orang yang membutuhkannya dan dapat memanfaatkannya.

    (hlm.62)

    Moralitas ekonomi-ekonomi pasar

    Ketidaksetaraan

    Semua masyarakat kompleks tidaklah setara. Dalam semua masyarakat orang (biasanya laki-laki) mengejar kekuasaan dan wewenang atas orang lain. Tapi, di antara masyarakat canggih dengan pemisahan kerja yang rumit, masyarakat dengan ekonomi pasar adalah yang paling rendah tingkat kesetaraannya, dan juga yang paling tidak menyakitkan. Bagi banyak orang ini mungkin pernyataan yang mengagetkan. Seharusnya tidak.

                Ingatlah bahwa dalam kerajaan agraris atau masyarakat feodal, raja, dan tuan tanah punya kekuasaan atas hidup dan mati.

    (hlm.63)

    Ketika, dengan seenaknya, Mao memutuskan untuk melancarkan Lompatan Besar ke Depan pada 1950-an, 30 juta orang mati. Ironinya ialah bahwa tirani semacam ini dibenarkan berdasarkan apa yang dianggap kengerian dari ketidaksetaraan kapitalis.

    Orang kaya memang punya pengaruh yang lebih besar atas kehidupan suatu demokrasi daripada mayoritas warganya. Tapi, dibandingkan dengan kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki orang kaya pada masyarakat tradisional, kekuasaan orang kaya hari ini sangatlah sedikit. Politikus punya lebih banyak kekuasaan dan intelektual lebih banyak pengaruh daripada orang dengan buku cek yang tebal. Siapakah yang paling menentukan dalam memengaruhi jalan hidup orang Amerika sekarang, Ronald Reagan, Milton Friedman, atau Warren Buffet?

                Tidak ada orang kaya atau korporasi yang dapat mengabaikan hukum, seperti yang disadari beberapa bajingan korporasi pada 2002. Bahkan Bill Gates, orang paling kaya di dunia, tersadar dia tidak dapat mengabaikan pengecara bergaji rendah di Departemen Kehakiman ketika departemen itu memeriksa dugaan penyelewengan Monopolistik Microsoft. Beberapa abad lalu, orang paling kaya di suatu negeri Eropa dapat membentuk satu angkatan bersenjata swasta yang bisa menentang negara.

    (hlm.64)

    Ekonomi pasar kompetitif tidak mengakhiri ketidaksetaran dan tidak menghilangkan hasrat mengejar kekuasaan dan prestise. Tapi ia menjinakkannya.

    Kebebasan, demokrasi, dan oposisi permanen

                Demokrasi liberal dengan ekonomi pasar adalah, demikian kata Joseph Schumpeter dalam buku klasiknya Capitalism, Socialism and Democracy, satu-satunya jenis masyarakat jenis masyarakat yang menciptakan oposisi mereka sendiri.

    Hanya dalam suatu ekonomi pasar dapatlah buku-buku yang mengecam si kaya dan orang berkuasa dalam masyarakat diterbitkan dan dipromosikan dengan begitu berhasil. Hanya dalam ekonomi pasar bisa terjadi bahwa si kaya memberikan banyak sekali uang kepada universitas-universitas yang dengan nyaman memayungi orang-orang yang membenci orang kaya dan sistem yang membuat mereka kaya. Ekonomi pasar bukan hanya mendukung pengkritik, ia memeluk mereka.

    (hlm.65)

    Kapitalisme mengasuh musuh-musuhnya. Ia juga mencoba mengambil untung dari mereka. Tapi musuh-musuh itu mengambil untung juga.

    Moralitas

    Pasar juga menuntut, memberkahi, dan memperkuat kualitas moral yang bernilai: sikap bisa dipercaya, sikap bisa diandalkan, usaha, kesopanan, kemandirian, dan sikap mengekang diri.

    Kekayaan yang diciptakan ekonomi pasar yang berhasilah yang memungkinkan berdirinya negara kesejahteraan.

    (hlm.66)

    Tapi sekarang kita tahu bahwa ekonomi sosialis-negara yang dianggap ramah itu adalah bencana besar lingkungan hidup. Ekonomi pasar telah terhindar dari bencana besar lingkungan hidup. Ekonomi pasar telah terhindar dari bencana ini karena paling tidak empat alasan: pertama, ia menyediakan peluang kepada pengkritik perusakan lingkungan hidup; kedua ia mengimplikasikan keterpisahan antara perusahaan dan pemerintah yang membuat regulasi independen bisa diterapkan; dan terakhir, perusahaan prihatin dengan reputasi mereka dan akan bertindak untuk melindunginya, sebagai tanggapan terhadap kampanye menentang mereka. Karena alasan-alasan ini, kelompok penekan lingkungan hidup yang efektif muncul hanya di demokrasi-demokrasi pasar.

    (hlm.67)

    Kesimpulan

    Ekonomi pasar liberal secara moral tidak sempurna, karena ia mencerminkan selera dan keinginan orang, yang juga tidak sempurna. Ekonomi pasar lebih memuaskan keinginan mayoritas daripada selera minoritas yang lebih halus. Ia lebih menguntungkan orang yang giat daripada orang yang bijak.

                Mereka yang mengutuk imoralitas kapitalisme liberal membandingkannya dengan masyarakat orang saleh yang tidak pernah ada- dan tidak akan pernah ada- dan tidak akan pernah.

    (hlm.68)

    Bab 5

    Wahai Tabib, Sembuhkanlah Dirimu Sendiri

    Ketika saya bekerja pada Bank Dunia selama 1970-an, setiap negeri sedang membangun, bagaimana pun terbatasnya sumber daya intelektualnya, dituntut memproduksi rencana ekonomi lima-tahunan dengan meniru-niru model Stalinis. Negeri-negeri sedang membangun yang canggih, seperti India, memproduksi rencana canggih. Negeri kurang canggih memproduksi rencana kurang canggih. Tapi semua rencana ini punya satu kesamaan: semuanya fiksi.

    (hlm.70)

    Apa yang tidak dapat dilakukan negara: kematian perencanaan terpusat

    Di masa puncak revolusi balasan antiliberal pada abad ke-20, tumbuhlah satu keyakinan yang luar biasa. Keyakinan ini adalah bahwa seluruh ekonomi nasional bukan hanya dapat- tapi harus- ditempatkan di bawah kontrol dan pengarahan terpusat. Ini adalah keyakinan yang gagal. Ini adalah contoh dari apa yang disebut Friedrich Hayek “keangkuhan fatal”- keyakinan akan umat kemampuan kita untuk merencanakan dan mengontrol masa depan umat manusia.

    Seperti ditunjukkan Profesor McMillan, ada 20.000 kategori pekerjaan berbeda di Amerika Serikat. Tidak ada satu pun rencana terpusat yang bisa mengurus kompleksitas semacam itu.

    (hlm.71)

                Ketiga, mustahil bagi perencana untuk mengetahui apa yang diinginkan ratusan juta orang yang berbeda.

    Keempat, karena harga tidak ada hubungannya dengan biaya, tidak ada cara untuk menghitung produksi apa yang harus ditingkatkan dan produksi apa yang harus ditingkatkan dan produksi apa yang harus dikurangi.

    (hlm.72)

                Terakhir, perdagangan luar negeri tidak bisa diintergrasikan ke dalam perencanaan dengan berhasil karena, per definisi, orang asing tidak bisa direncanakan , kecuali kalau si perencana mengontrol orang-orang asing itu.

    Apa yang harus dilakukan negara untuk ekonomi

    (hlm.73)

                Jadi peran apa yang harus dimainkan oleh negara agar ekonomi pasar bisa berfungsi? Secara luas, ia punya tiga fungsi: pertama, menyediakan barang dan jasa- yang dikenal dengan nama barang dan jasa publik- yang tidak bisa disediakan oleh pasar bagi dirinya sendiri; kedua, untuk menginternalkan eksternalitas atau mengobati kegagalan pasar; dan ketiga, untuk menolong orang-orang yang untuk alasan apa pun terpukul oleh pasar atau menjadi lebih rentan akibat pasar sampai mengalami keadaan yang tidak bisa ditolerir masyarakat.

    Mulai dari kerterjaminan hak milik dari pemangsa. Ini menuntut adanya angkatan bersenjata, polisi, hakim, dan penjara. Menyusun dan menerapkan legislasi adalah fungsi sentral negara. Tapi fungsi-fungsi ini harus dipisahkan. Independensi peradilan baik dari pemerintah maupun parlemen adalah satu jalan paling penting untuk melindungi warga negara dari kegiatan predatori pemerintah.

                Karena itu syarata fundamental bagi proteksi hak milik ialah pemerintahan hukum yang tidak berpihak.

                Barang dan jasa publik kedua yang harus disediakan negara menuntut pengaturan masa kini ialah uang sehat (sound money).

    (hlm.74)

                Suatu mata uang akan stabil hanya kalau pemerintah mengelola utang mereka dengan berkelanjutan atau kalau bank sentral bisa diam saja melihat pemerintah default (gagal membayar utang).

                Setelah 1930-an dan Depresi Besar, diakui umum bahwa pertanggungjawaban pemerintah untuk menyediakan uang sehat dan keuangan publik adalah bagian dari tugasnya memuluskan makroekonomi. Ini adalah perkembangan dari ekonomika John Maynard Keynes, dalam General Theory of Employment, Interest and Money, terbit 1936. Setelah bencana deflasi pada 1970-an, gagasan ini tidak laku lagi.

    (hlm.75)

                Contoh penting lain tentang barang dan jasa yang berciri barang dan jasa publik adalah infrastruktur dan riset mendasar.

                Selain menyediakan barang dan jasa publik, pemerintah secara langsung mendanai atau menyediakan barang berfaedah atau merit goods. Ini adalah hal-hal yang diterima individu. Tapi masyarakat menuntur barang-barang itu disediakan sampai tingkat tertentu atau dalam tipe tertentu.

    (hlm.76)

    Kekacauan dengan deregulasi listrik Kalifornia, ketika harga borongan melejit setelah liberalisasi, menunjukan apa yang bisa terjadi kalau rancangan semacam itu ternayat salah. Pemerintah juga bertanggung jawab atas kebijakan yang berdampak besar pada ekonomi, misalnya struktur dan tingkat rintangan terhadap perdagangan atau investasi.

    (hlm.78)

    Mengefektifkan intervensi

    Ada tekanan kuat terhadap pemerintah untuk “melakukan sesuatu” ketika tidak melakukan apa-apa mungkin adalah pilihan terbaik.

                Syarat pertama kebijakan efektif adalah serangkaian kualitas yang disebut kredibilitas, prediktabilitas, transparensi, dan konsistensi, sepanjang waktu dan dalam segala kegiatan.

                Contoh bagus nilai kredibilitas ialah liberalisasi perdagangan. Kalau pebisnis tahu bahwa hambatan terhadap impor akan menghilang dalam beberapa tahun mendatang, mereka akan meneyesuaikan diri dengan relatif mulus.

    (hlm.80)

                Lapis kedua yang lebih mendalam ialah menganggap hak milik yang tidak lengkap suatu kegagalan pasar. Kalau kegagalan itu bisa diperbaiki, pasar seharusnya menimbulkan tanggapan yang paling bagus. Profesor McMillan memberikan contoh tentang lisensi polusi yang bisa diperdagangkan di Amerika Serikat. Dengan Clean Air Act 1990, environmental Protection Agency (EPA- Lembaga Perlindungan Lingkungan Hidup) menciptakan pasar dalam hak untuk membuat polusi yang bisa diperdagangkan. Ternayata bahwa tingkat penurunan yang diharapkan biayanya lebih kecil daripada yang diperkirakan orang. Ini terlihat dari fakta bahwa harga pasar rata-rata untuk membersihkan satu ton sulfur dioksida hanya $150. Tadinya EPA memperkirakan harganya akan sekitar lima kali lipat lebih mahal.

                Kegagalan pasar harus diatasi kalau cukup serius. Tapi ini membangkitkan poin keempat dan terakhir: remediabilitas.

    Mengapa pemerintah gagal

    Kita tahu ada yang tidak bisa dilakukan negara- merencanakan seluruh ekonomi. Kita tahu ada yang harus dilakukan negara- melindungi hak milik.

    (hlm.82)

    Amerika Serikat yang penduduknya mendekati 300 juta orang dengan latar belakang, jalan hidup, dan pengalaman yang sangat berbeda bukanlah dunia yang digambarkan Aristoteles dalam pembahasannya tentang polis atau kota Yunani Kuno. Athena yang digambarkan Pericles sudah lenyap untuk selamanya (itu pun kalau memang pernah ada dalam kenyataan).

                Jadi apa masalahnya? Salah satu masalah ialah bahwa pemerintah modern itu, seperti halnya ekonomi modern dan masyarakat modern itu sendiri, sangat rumit. Semuanya bergantung, dan dunia masa kini memang bergantung, pada pemisahan kerja yang rinci. Keputusan-keputusan yang mereka buat bersifat sangat teknis. Tidaklah mungkin bagi pengamat dari luar untuk mengamati, apalagi menilai dengan tepat, lebih dari satu proporsi kecil dari keputusan yang dibuat itu. Ini adalah pernyataan yang bisa saya katakan dengan cukup yakin, karena itulah pekerjaanku sejak 1987 di finansial Times.

                Tiga kelas orang (yang tumpang tindih) relatif memiliki informasi cukup baik: pertama, orang yang dibayar untuk itu, misalnya kolumnis surat kabar, pakar akademik dlam bidang tertentu, birokrat, dan politikus; kedua, orang yang mata pencahariannya bergantung pada keputusan politik tertentu, misalnya dokter mengenai kebijakan kesehatan, guru mengenai kebijakan pendidikan, petani mengenai kebijakan pertanian, buruh baja mengenai kebijakan perdagangan, koporasi mengenai kebijakan atas hak milik intelektual, dan seterusnya; dan terakhir,orang yang menganggap bidang kebijakan tertentu sangat menarik hati.

                Dalam pemilihan umum, orang memberikan suara untuk satu kandidat atau partai yang membuat janji yang umum mengenai sedaftar panjang perkara.

    (hlm.86)

    Bencana besar pemerintah buruk

    Hernando de Soto, ekonom Peru, pernah mendaftarkan satu pabrik pakaian kecil di Lima sebagai eksperimen. Perlu waktu 10 bulan. Selama masa itu, ia dimintai suap 10 kali oleh pejabat pemerintah. Pada dua kesempatan, dia harus membayar suap itu, karena kalau tidak eksperimen itu akan macet. Ingatlah apa arti korupsi: penyalahgunaan posisi kepercayaan publik untuk kepentingan pribadi.

    Bagaimana caranya negara yang penuh dengan korupsi seperti itu bisa menyediakan apa yang dibutuhkan pasar untuk mencapai kemakmuran? Jawabannya, tentu saja, tidak bisa.

    (hlm.87)

                Korupsi terpusat akibatnya kurang merusak, kalau si penguasa cukup waras. Si penguasa tidak akan mau membiarkan tingkat “pemajakan” yang disebabkan korupsi menjadi terlalu tinggi karena akan menganggu kepentingannya. Tapi, dibawah korupsi tidak terpusat, yang berlaku adalah aji mumpung.

    (hlm.90)

    Kompetisi regulatori

    Jadi salah satu alasan terkuat untuk ekonomi terbuka ialah bahwa ia menyebabkan ada semacam tekanan kompetitif terhadap pemerintah. Kalau orang percaya bahwa pemerintah pasti selalu baik hati, bijaksana, dan penuh perhatian, orang mungkin akan menolak tekanan itu. Tapi ironi besar pengkritik antiglobalisasi ialah bahwa sebagian besar dari mereka tidak percaya hal ini.

    (hlm.92)

    Bab 6

    Pasar Melintas Batas

    (hlm.93)

                Ketika statistikus menjumlahkan semua transaksi dengan nonpenduduk, merek menyebutnya transaksi eksternal suatu negeri. Tapi ini bukanlah transaksi suatu negeri, kecuali dalam statistik. Selain transaksi yang dibuat langsung oleh pemerintah, transaksi suatu negeri adalah penjumlahan semua transaksi individual oleh penduduknya. Lagi pula, karena motivasi bagi transaksi-transaksi ini sama saja dengan transaksi sesama penduduk, akibatnya juga kemungkinan besar bermanfaat bagi kesejahteraan mereka yang melakukan transkasi itu. Secara singkat, inilah logika integrasi ekonomi global.

    (hlm.94)

    Bila teknologi memungkinkan, suatu pasar yang saling memperkaya akan meliputi seluruh permukaan bumi, karena orang akan mau membeli dengan harga termurah (untuk jenis kualitas mana pun) dan menjual dengan harga tertinggi.

    (hlm.95)

    Ekonomika integrasi

    Negeri-negeri maju biasanya tidak punya pembatasan terhadap pergerakan modal portfolio, tapi rintangan terhadap investasi langsung asing (FDI- foreign direct investment)- regulasi kepemilikan, misalnya- serta subsidi  kepada investasi dalam negeri tetap ada. Testriksi atas pergerakan buruh sangat meluas.

                Ini membuktikan bahwa liberalisasi bukanlah proposisi harus ambil semua atau tidak sama sekali.

    (hlm.96)

    Perdagangan

                Seperti dikatakan Douglas Irwin dari Dartmouth University, John Stuart Mill, salah satu raksasa intelektual abad ke-19, membagi manfaat perdagangan dalam tiga kategori. Keuntungan langsung, keuntungan tak langsung, dan keuntungan intelektual dan moral.

                Dalam kategori pertama adalah perolehan statik standar dari perdagangan- pemanfaatan skala ekonomi dan keunggulan komparatif. David Ricardo mengajukan gagasan keunggulan komparatif ini, mungkin yang paling cerdas dalam ekonomika. Peraih Nobel Paul Samuelson pernah ditanya untuk menyebutkan “satu proposisi dalam semua ilmu sosial yang benar sekaligus tidak remeh”. Jawabannya ialah keunggulan komparatif.

    (hlm.97)

    Industri yang bersaing dengan impor menyusut bukan karena bersaing dengan impor dari orang asing itu, tapi karena bersaing dengan industri ekspor di dalam negeri yang lebih mampu membayar faktor-faktor produksi itu.

    Contoh klasik adalah pembukaan Jepang pada 1858, di bawah tekanan Amerika. Sebelum terbuka, harga sutra dan teh jauh lebih tinggi di dunia daripada di Jepang, sementara harga kapas dan barang wol jauh lebih rendah. Setelah terbuka, Jepang mengekspor sutra dan teh serta mengimpor kapas dan barang wol jauh lebih rendah. Setelah terbuka, Jepang mengekspor sutra dan teh serta mengimpor kapas dan barang wol. Ini diperkirakan meningkatkan pendapatan riil Jepang sampai 65 persen, belum lagi dampak produktivitas dan pertumbuhan jangka panjang keikutsertaannya dalam ekonomi dunia.

    (hlm.98)

                Praktis tidak mungkin membuktikan korelasi antara liberalisasi perdagangan dan pertumbuhan dengan kepastian penuh. Tapi seperti dikatakan Profesor Peter Lindert dari University of California davis dan Jeffrey Williamson dari Harvard, tidak ada satupun contoh negeri yang berhasil naik peringkat dalam standar penghidupan global sambil menjadi lebih tertutup terhadap perdagangan dan modal pada 1990-an dibandingkan 1960-an. “tidak ada,” kata mereka, “kemenangan antiglobal yang bisa dilaporkan dalam” dunia sedang membangun pascaperang. Seperti dikatakan sendiri oleh seorang pengamat India mengenai kebijakan negerinya, “dengan menekan kebebasan ekonomi selama 40 tahun, kita menghancurkan pertumbuhan dan masa depan dua generasi.”

    (hlm.100)

    Pergerakan modal dari negeri kaya ke negeri miskin bukan hanya sedikit, tapi juga sering terancam berbagai krisis. Pada 2000, misalnya, tabungan dolar bruto di negeri-negeri maju berpenghasilan tinggi adalah $5.600 miliar. Andaikan 10 persen saja dari tabungan bruto ini mengalir ke dunia sedang membangun, ini sudah berarti $560 miliar dolar setahun. Tapi arus netto tertinggi modal jangka panjang ke negeri-negeri sedang membangun pada 1990-an hanya $341 miliar pada 1997, persis sebelum krisis Asia. Lebih dari satu dekade lalu, peraih Nobel Robert Lucas mencatat tingkat arus modal yang rendah ini ke negeri-negeri sedang membangun, yang berlawanan dengan asumsi standar tentang di mana keuntungan paling tinggi terdapat.

    (hlm.101)

                Salah satu penjelasan untuk arus modal yang rendah ke negeri-negeri sedang membangun ialah kurangnya ketrampilan manusia yang diperlukan. Penjelasan lain adalah ekonomi eksternal dalam pemakaian modal itu: orang akan lebih produktif kalau mereka bekerja dengan orang produktif lain.

    (hlm.104)

    Kita memang mahluk sosial: pendapatan kita bergantung pada ketrampilan orang-orang disekitar kita.

    (hlm.105)

    Tapi proteksi adalah kebijakan tidak langsung dan tidak efektif untuk mempromosikan bayi. Selain biaya yang dibebankan pada konsumen, ada dua efek samping negatif yang serius: pertama, ia membatasi industri itu hanya pada pasar domestik, karena proteksi, per definisi, menghasilkan keuntungan hanya dari penjualan domestik; dan kedua, ia menyediakan proteksi dari kompetitor paling kuat di dunia.

    (hlm.108)

    Politika integrasi – unilateralisme liberal versus internasionalisme liberal

    Argumen yang sama dibuat oleh penganjur perdagangan bebas Britania, terutama Richard Cobden, pada 1840-an. Mengikuti Adam Smith dan David Ricardo, mereka berargumen bahwa demi kepentingannya sendiri suatu negeri haruslah menganut perdagangan bebas, tidak peduli apa yang dilakukan orang lain. Kalau orang lain mengikuti contoh mereka, baguslah. Kalau tidak, biarlah. Argumen ini bagus. Kemakmuran Hong Kong dan Singapura membuktikan bahwa argumen ini berlaku sekarang.

    (hlm.110)

    Odiseus pun melihat manfaat mengikatkan diri ke tiang kapal [agar ia bisa lolos dari nyanyian rayuan mahluk-mahluk Siren yang membawa maut bagi pelaut-pelaut yang lupa daratan bila mendengarnya-pen]. Karena itu, tujuan dari perjanjian ini adalah pembatasan terhadap kedaulatan.

    (hlm.113)

    Bagian III

    Kenapa Terlalu Sedikit Globalisasi

    (hlm.115)

    Prolog

    Yang patut disayangkan bukanlah bahwa ada terlalu banyak globalisasi, melainkan terlalu sedikit. Masih terlalu banyak orang yang berada di luar pasar dunia, terutama karena yurisdiksi tempat mereka tinggal gagal menciptakan buat mereka dan orang luar kondisi-kondisi yang memungkinkan keterlibatan produktif dalam ekonomi dunia.

    (hlm.116)

    Bab 7

    Nasib Globalisasi dalam Jangka Panjang

    (hlm.117)

    Logika integrasi global

    Pada 1500 SM, kata Wright, ada sekitar 600.000 wilayah politik otonom di planet ini (bagaimana dia menghitungnya, saya tidak tahu, tapi angka ini tampaknya benar). Hari ini, ada 193

    (hlm.119)

    Pemujaan pahlawan intelektual masa kini (yang sangat tidak tepat) atas Karl Polanyi oleh pengkritik ekonomi pasar global cocok sekali dengan perspektif ini, karena bukunya yang sering dikutip The Great Transformation terbitan 1944 punya tema resistansi politik terhadap idaman “utopian” ekonomi pasar liberal serta perlunya regulasi dan kontrol sosial yang jauh lebih besar.

    (hlm.120)

    Gagasan bahwa pernah ada komunitas-komunitas lokal kecil yang bahagia tak tersentu dunia luar, hidup dalam harmoni ekologis dan isolasi kultural, adalah angan-angan.

    (hlm.121)

    Sayang, yang buruk  datang bersama yang baik: di antara hal-hal yang diglobalkan oleh kaum Mongol adalah wabah pes yang memusnahkan seperempat penduduk Eurasia, yang tampaknya disebarkan oleh imperium mereka, mungkin oleh Kalaveri mereka.

    (hlm.122)

    Globalisasi kultural

    Gereja Ktolik Roma, yang mungkin adalah lembaga budaya Eropa yang paling signifikan, muncul dari perkawinan antara agama Yahudi, filsafat Yunani, dan kekuasaan Romawi.

    (hlm.125)

    Globalisasi teknologis

    Pertemuan antara durian runtuh dan kewiraswastaan ini terjadi hanya sekali dalam sejarah.

                Ini tidak sepenuhnya benar. Dalam jangka panjang, milik mereka yang begitu luas tidak banyak bermanfaat bagi Spanyol  atau Portugal, kecuali memberikan kesempatan kepada mereka untuk tidur nyenyak.

    (hlm.128)

    Bab 8

    Kebangkitan, Kejatuhan, dan Kebangkitan Ekonmi Global Liberal

    (hlm.129)

    Pertumbuhan dan intergrasi ekonomi pada abad ke-19 dan ke-20

    Sejak tahun 1820 ada tiga periode pertumbuhan cepat dalam pendapatan per kapita di dunia secara keseluruhan: 1870-1913,1950-73- yang disebut “zaman emas”- dan 1973-98. Ini juga periode pertumbuhan tercepat dalam sejarah dunia.

    Namun, antara tahun 1913 dan tahun tahun 1950, ekspor tumbuh hanya 0,9 persen setahun, sementara GDP per kapita dunia juga tumbuh hanya 0,9 persen.

    Juga patut dicatat bahwa ekonomi pasar liberal menghasilkan, antara tahun 1870-1913, pertumbuhan tercepat yang dikenal dunia sampai saat itu.

    (hlm.130)

    1950-73

    4,08

    2,44

    8,05

    3,49

    2,52

    2,92

    2,07

    2,93

    (hlm.131)

    Pasar dunia untuk barang, modal, dan buruh di abad ke-19 dan ke-20

    “episode paling mengesankan dari integrasi ekonomi internasional yang pernah dilihat dunia sampai saat ini bukanlah paruhan kedua abad ke-20, tapi tahun-tahun antara 1870 dan Perang Dunia Pertama.”

    (hlm.132)

    Kesenjangan harga gandum antara Britania dan Amerika Serikat sekitar 100 persen pada awal 1800-an. Kesenjangan itu mulai mengurang dari sekitar 1840-an, sampai tingkat yang bisa diabaikan pada 1880-an dan lenyap sama sekali sesaaat sebelum Perang Dunia Pertama.

    (hlm.138)

                Kedua, negeri-negeri berpenghasilan tinggi secara kolektif kini adalah pengimpor modal netto, bukan pengekspor netto, dengan defisit akun mata uang agregat pada 2001 hampir $200 miliar (karena defisit Amerika Serikat yang lebih dari $400 miliar tertutupi oleh surplus Jepang dan Eropa). Fakta bahwa tidak ada arus modal netto agregat ke negeri-negeri sedang membangun juga punya implikasi kuat terhadap distribusi investasi global.

    (hlm.140)

    Migrasi

                Paul Hirst dari Birkbeck College dan Grahame Thompson dari Open University  mencatat bahwa “era terbesar migrasi massa sukarela yang tercatat adalah abad sesudah tahun 1815. Sekitar 60 juta orang meninggalkan Eropa untuk pergi ke benua Amerika, Oseania, serta Afrika Selatan dan Timur. Diperkirakan 10 juta dengan sukarela bermigrasi dari Rusia ke Asia Tengah dan Siberia. Satu juga pergi dari Eropa Bagian Selatan ke Afrika Utara. Sekitar 12 juta orang Cina dan enam juta orang Jepang meninggalkan kampung halaman mereka dan beremigrasi ke Asia Timur dan Selatan. Satu setengah juta meninggalkan India menuju ke Asia Tenggara serta Afrika Selatan dan Barat”

    (hlm.141)

    Kontrol atas migrasi ini menciptakan distorsi ekonomi terbesar didunia- selisih dalam penghargaan terhadap tenaga kerja. Pasar untuk tenaga kerja jelas adalah yang paling tidak terintergrasi di dunia. Itulah sebabnya pengkritik globalisasi mendapatkan bahwa penghargaan terhadap tenaga kerja di negeri-negeri miskin sangat tidak adil. Tapi tampaknya tidak ada yang menyarankan jawaban yang paling kentara: migrasi bebas.

    Kontrol-kontrol ini telah mengunci sebagian besar umat manusia ke dalam negara dan ekonomi gagal, dengan konsekuensi buruk yang tak terelakan bagi penghasilan mereka dan juga bagi ketidaksetaraan global.

                Pertama, dari tahun 1820 sampai tahun 1914, kesenjangan harga dalam pasar komoditas di antara benua-benua terkikis 81 persen, 72 persen dari angka ini karena transpor yang lebih murah dan 28 persen karena pengurangan tarif pra-1870.

    (hlm.142)

    Terakhir, antara tahun 1950 dan 2000, terkikis lagi 76 persen, sampai lebih rendah dari tahun 1914. Dari angka ini, 74 persen disebabkan liberalisasi perdagangan dan 26 persen transpor yang lebih murah.

    (hlm.143)

    Perubahan teknologis

    Biaya pengapalan segentong gandum dari New York ke Liverpool turun separuh antara tahun 1830 dan tahun 1880 dan kemudian turun separuh lagi antara tahun 1880 dan tahun 1914.

                Kabel transatlantik pertama diletakkan pada tahun 1866. Ini, kata profeson O’Rourke, adalah “terobosan paling penting pada 200 tahun terakhir”, bagi pasar modal.

    (hlm.145)

    Karena kita makin kaya dan biaya barang material makin turun, kita akan lebih banyak menuntut layanan jasa seperti ini. Bahkan mungkin saja membayangkan suatu dunia di mana ada perdagangan dalam komoditas dan informasi yang lebih intensif, tapi bagian GDP dan lapangan kerja yang terpengaruh akan jauh lebih kecil daripada sekarang, karena produktivitas naik dengan cepat dalam aktivitas-aktivitas yang dapat diperdagangkan ini sehingga harga relatifnya pun terus turun. Sementara itu, makin besarlah proporsi dari pada pendapatan yang dikeluarkan untuk layanan jasa personal.

    Rezim autarki Uni Soviet jatuh bukan karena secara fisik tidak mungkin mengontrol pengetahuan dan gagasan yang bergerak melintas batas, melainkan karena biaya melakukannya menjadi terlalu tinggi.

    (hlm.148)

    Kematian liberalisme abad ke-19 yang tidak terlalu mengherankan

                Jaminan sosial, walaupun punya faedah yang jelas, juga mengandung dan masih mengandung- biaya yang biasanya diabaikan: ia membuat sangat tidak menarik membagi manfaat kewarganegaraan dengan orang luar.

    (hlm.149)

                Sementara itu, proteksi terhadap impor manufaktur adalah cara paling jelas untuk menguntungkan kelas buruh industrial.

                Tarif-tarif Bismarck pada tahun 1879, yang mendukung baik produk industri maupun pertanian, adalah saat yang menentukan: ekonomi paling dinamis dan besar di benua Eropa telah menolak liberalisme. Prancis mengikuti langkah ini dengan Meline pada tahun 1892, tarif juga naik di Swedia, Italia, dan Spanyol selama tahun 1880-an dana tahun 1890-an. Sementara itu di Amerika Serikat tarif meninggi setelah perang saudara dan tetap tinggi. Tarif itu dipertinggi lagi pada tahun 1890-an. Seperti dikatakan Harold James dari Princeton University, proteksi dapat diberikan bagi produk satu per satu.

                Mendorong peralihan ke arah nasionalisme dan proteksionisme ini adalah gagasan masa kini kelompok antiliberal: kebangkitan ideologi-ideologi kolektivis yang salah satunya ialah nasionalisme.

    (hlm.151)

    Pada tahun 1915, Werner Sombart, yang mulai sebagai Marxis dan berakhir sebagai Nazi,menulis bahwa perang itu “perlu untuk mencegah rasa kepahlawanan termangsa oleh kekuatan jahat, yaitu jiwa perdagangan yang sempit dan hina.”

    (hlm.153)

    Tarif Smoot-Hawley di Amerika Serikat, pada tahun 1930, yang menaikkan tarif rata-rata atas barang manufaktur di bangsa kreditor utama di dunia itu sampai level 48 persen (lihat tabel 8.7), membuat berang. Italia dan Prancis langsung bereaksi. Britania akhirnya meninggalkan perdagangan bebas dan standar emas, selamanya autarki dan wilayah caplokan, terutama oleh Jerman dan Jepang.

    Dalam tiga tahun saja, dari tahun 1929 sampai 1932, perdagangan dunia jatuh 70 persen dalamhitungan nilai dan 25 persen dalam hitungan ril.

    1931

    30

    21

    46

    Tak tersedia

    48

    (hlm.154)

    Ekonom besar Austria Joseph Schumpeter menerbitkan karya klasiknya, Capitalism, Socialism and Democracy, pernyataan menyerah kalah yang brilian terhadap kekuatan dahsyat sosialisme, selama Perang Dunia II.

                Pada tahun 1930-an kombinasi gagasan-gagasan kolektivis, kepentingan proteksionis, pemilihan umum universal, perang, kekacauan moneter, dan depresi ekonomi telah menghancurkan asumsi, keyakinan, kebijakan, dan praktik yang menjadi dasar tata ekonomi dunia liberal

    (hlm.155)

    Sistem                                                  periode

    -sistem ketat Bretton Woods                1958-191

    (hlm.156)

                Amerika Serikat meliberalisasi ekonominya relatif cepat setelah akhir Perang Dunia II. Pembalikan sikapnya atas perdagangan sudah dimulai secara tentatif pada tahun 1934 dengan Reciprocal Trade Aggrement Act (Undang-undang perjanjian Perdagangan Resiprokal) yang mengandung perlakuan tanpa syarat bagi bangsa paling disukai (most- favoured- nation). Buahnya dipetik sesudah perang, dalam bentuk Perjanjian Umum atas Tarif dan Perdagangan (GATT- General Aggrement on Tariffs and Trade) yang dinegosiasikan pada tahun 1947, yang menajdi pasal kebijakan komersial dan Organisasi Internasional yang gugur sebelum lahir.

    (hlm.157)

    Tapi sebagaimana kemudian dibuktikan dengan keruntuhan imperium Soviet, pembangunan berwawasan ke dalam akhirnya kandas di pasir, karena ekonomi makin tertinggal di belakang teknologi-teknologi mutakhir, kompetisi lemah, keuntungan menurun, pertumbuhan ekspor melemahm neraca pembayaran menjadi makin lama makin rapuh, dan pemerintah-pemerintahn makin merasa sulit mengelola keuangan mereka.

    (hlm.158)

    Karena pengangguran tinggi, inflasi tinggi, dan pertumbuhan rendah selama tahun 1970-an bukan hanya menghancurkan keyakinan terhadap Keynesiasisme naif; ia juga menciptakan minat yang makin meningkat terhadap solusi pasar. Maka mulailah apa yang dapat disebut revolusi- balasan pasar di negeri-negeri maju.

    (hlm.159)

    Gagalnya Keynes: Inflasi ↑, unemployment ↑, growth↓

    Padahal harusnya inflasi ↑, unemplyment ↓, growth ↑

    Krisis utang awal tahun 1980-an dan stagflasi kronis juga juga mendatangkan revolusi dalam konsep kebijakan makroekonomi.

    Bagian IV

    Mengapa

    Para Pengkritik Salah

    (hlm.166)

    Bab 9

    Murka atas Ketidaksetaraan

    (hlm.167)

    Mari kita abaikan perbandingan antara aset sekelompok orang, yang terkaya, dan penghasilan sekelompok orang lain, yang miskin, yang serupa dengan perbandingan antara apel dan jeruk. (untuk memperoleh angka penghasilan permanen si kaya, nilai aset mereka harus dibagi paling tidak 20).

    (hlm.168)

                Begitu pula, kita harus mengerti bahwa peningkatan ketidaksetaraan mungkin muncul dengan cara-cara yang sangat berbeda. Langsung terpikir tiga kemungkinan: peningkatan penghasilan si kaya, yang memperparah keadaan si miskin; peningkatan penghasilan si kaya, tanpa pengaruh terhadap kesejahteraan si miskin; atau peningkatan penghasilan si kaya yang, dengan berbagai cara, bermanfaat bagi simiskin, tapi secara proporsional tidak sebanyak manfaat bagi si kaya.

    Biasanya orang bahkan tidak seegaliter almarhum filsuf John Rawls, yang berargumen bahwa ketidaksetaraan hanya boleh terjadi kalau ia bermanfaat bagi si miskin.

    (hlm.169)

    Apakah globalisasi yang menyengsarakan si miskin ataukah non- globalisasi yang melakukannya? Untuk menjawab semua pertanyaan ini, orang harus mulai dari awal, dengan pertumbuhan ekonomi.

    Pertumbuhan ekonomi dan globalisasi

    (hlm.170)

                Belum pernah terjadi sebelumnya begitu banyak orang- atau begitu besar proporsi penduduk dunia- yang menikmati kenaikan yang begitu besar dalam standar penghidupan  mereka.

    (hlm.173)

    Di sini terlihat sejumlah besar negeri yang meningkatkan intergrasi mereka dengan ekonomi dunia dan menjadi lebih makmur, kadang-kadang secara dramatis.

    Apa yang sama pada semua negeri yang berhasil ialah peralihan ke arah ekonomi pasar, di mana hak-hak milik pribadi, semangat usaha bebas, dan kompetisi makin lama makin mendapat tempat, menggantikan kepemilikan negara, perencanaan, dan proteksi.

    (hlm.174)

                Integrasi India tidak sespektakular itu. Maka, bukan kebetulan, begitu pula pertumbuhannya.

    (hlm.177)

    Sumber daya alam, khususnya kekayaan mineral, tampaknya merupakan rintangan, bukan dorongan, terhadap pembangunan ekonomi. “kutukan sumber daya” ini punya banyak dimensi: sumber daya cenderung membuat politik jadi korup, mengubahnya menjadi perlombaan merampas penghasilan yang diberikan oleh sumber daya, sering kali sering menciptakan perang saudara yang melemahkan; sumber daya; sumber daya menciptakan sistem perdagangan yang tidak stabil, karena harga-harga sumber daya alam atau komoditas pertanian sangat berflutuasi; dan sumber daya menghasilkan tingkat nilai tukar rill yang tinggi, yang antara lain menghalangi pembangunan manufakturing yang kompetitif secara internasional.

    (hlm.178)

    Pada era pascaperang, jalur menuju pembangunan yang paling berhasil tampaknya harus melalui ekspor manufaktur padat karya, jalur yang ditempuh Cina mengikuti Hongkong, Singapura, Taiwan, dan Korea Selatan.

    (hlm.181)

    Pertumbuhan dan Ketidaksetaraan

    Mereka berkesimpulan bahwa ketidaksetaraan di antara negeri-negeri, berdasarkan jumlah penduduk, mencapai puncaknya  pada tahun 1980, dengan nilai 0,54, tapi sudah turun sembilan persen sejak itu, menjadi 0,50, level yang tidak pernah terjadi sejak sekitar 60 tahun lalu. Penurunan ketidaksetaraan di antara negeri-negeri ini, dihitung berdasarkan jumlah populasi, persis seperti yang bisa diperkirakan.

                Alasan mengukur distribusi kekayaan di antara negeri-negeri berdasarkan populasi adalah karena yang penting itu manusia, bukan negeri.

    (hlm.185)

    Statistik nasional mungkin cacat, tapi paling tidak ada usaha untuk mengecek sendiri angka-angkanya, karena angka-angka itu dikumpulkan dari bukti-bukti independen atas keluaran, pendapatan,dan pengeluaran. Tidak ada pengecekan internal serupa yang dapat dilakukan terhadap survei atas penghasilan dan pembelanjaan rumahtangga.

    (hlm.186)

    Tapi apakah hasil studinya bisa dipertanggungjawabkan dan bermakna? Sebagian jawabannya ialah bahwa ini adalah periode yang lain dari yang lain, sehingga hasil-hasil itu memang bisa dipertanggungjawabkan tapi kurang bermakna.

    Jadi analisis Milanovic kebetulan waktunya bersamaan dengan periode dalam dua dekade terakhir abad ke-20 ketika dua raksasa negeri sedang membangun itu tumbuh sangat pelan.

                Data Milanovic misalnya, menyatakan bahwa tidak ada peningkatan pendapatan perdesaan di Cina antara tahun 1988 dan tahun 1993. Statistik nasional memberikan gambaran yang sama sekali berbeda. Jadi apa yang sedang terjadi? Sebagian dari jawabannya, sebagaimana sudah disinggung diatas, adalah bahwa penghasilan dan pembelanjaan rumahtangga rata-rata naik jauh lebih lambat dalam survei penghasilan dan pengeluaran rumahtangga daripada dalam statistik nasional.

    (hlm.187-188)

                Jadi bagaimana harus menjelaskan perbedaan antara pertumbuhan yang ditampilkan survei dan pertumbuhan yang tampak pada statistik nasional? Secara logis, ada tiga alternatif.

                Pertama ialah bahwa survei-survei itu betul dalam perkiraannya tentang level konsumsi dan pendapatan, yang berarti pertumbuhan ekonomi jauh lebih lambat daripada yang kita yakini di negeri-negeri sedang membangun yang penting-penting. Statistik nasional bukan perkiraan yang dapat diandalkan, tapi propaganda. Kemungkinan kedua ialah bahwa baik statistik nasional maupun survei itu benar, untuk hal yang diliputnya. Ini mungkin terjadi jika praktis semua pembelanjaan (dan pendapatan) yang tercatat lebih rendah dalam survei itu benar, untuk hal yang diliputnya. Ini mungkin terjadi jika praktis semua pembelanjaan (dan pendapatan) yang tercatat lebih rendah dalam survei dicatatkan oleh (dan mengenai) si kaya dan jika pangsa sebenarnya si kaya dalam pendapatan dan pembelanjaan dalam ekonomi juga meningkat dengan cepat. Ini akan berarti bahwa di banyak negeri sedang membangun pendapatan dan pembelanjaan menjadi makin tidak setara makin cepat dibandingkan perkiraan standar tentang ketidaksetaraan, kemungkinan ketiga ialah bahwa survei rumahtangga menjadi makin tidak bisa diandalkan sebagai cara memperkirakan peningkatan pendapatan dan pembelanjaan riil pada suatu rentang masa tertentu (walaupun hanya itulah yang kita punya kalau kita ingin memeperhitungkan perubahan distribusi pendapatan dan pembelanjaan pada rentang waktu tertentu).

    Mengonversi pendapatan pula tigkat nilai tukar PPP rata-rata itu sendiri menciptakan distorsi serius karena konsumsi barang yang bisa diperdagangkan dan layanan jasa yang tidak bisa diperdagangkan bervariasi dari satu rumahtangga ke rumahtangga lain.

    (hlm.189)

                Intinya ialah bahwa tampaknya benar bahwa ketidaksetaraan di antara individu-individu di seluruh dunia telah turun selama dua dekade terakhir, karena pertumbuhan yang relatif cepat dari raksasa-raksasa Asia.

    (hlm.190)

    Pertumbuhan dan Kemiskinan

    Pertama, jumlah orang sangat miskin naik dari sekitar 900 juta pada tahun 1820 sampai mencapai puncaknya 1,3 sampai 1,4 miliar antara tahun 1960 dan tahun 1980, sebelum turun, pelan-pelan, sampai sedikit di bawah 1,3 miliar pada tahun 1992. Kedua, proporsi populasi dunia yang hidup kurang dari sedolar sehari turun dramatis, selama waktu itu, dari di atas 80 persen pada tahun 1820, ketika hidup di garis batas subsistensi adalah perkara umum, sampai sekitar duapertiga pada awal abad ke-20, sampai mendekati 50 persen pada tahun 1950, lalu 32 persen pada tahun 1980, dan, akhirnya, 24 persen pada tahun 1992.

    (hlm.191)

    Grafik 9.3 kemiskinan ekstrem jangka panjang (kurang dari sedolar sehari menurut PPP, pada harga tahun 1985, juta dan pangsa pasar populasi dunia)

    Sumber: Francois Bourguignon dan Christian Morrison, “Inequalitu among World Citizens” (American Economic Review, Vol. 92, No.4 (september 2002), h.727-44).

    (hlm.198)

    Kemiskinan dan kesejahteraan manusia

    pada tahun 1913, usia harapan hidup waktu lahir di Amerika Serikat 52 tahun. GDP per kapita Amerika, berdasarkan PPP, waktu itu sekitar 50 persen lebih tinggi daripada Cina pada tahun 2000, dan 150 persen lebih tinggi daripada India. Tapi pada tahun 2000 usia harapan hidup di Cina 70 tahun dan di India 63 tahun. Pada tahun 1900, Swedia tampaknya punya usia harapan hidup paling tinggi di dunia, 56 tahun. Pada tahun 2000, hanya negeri-negeri sangat miskin, sebagian besar ada di Afrika, yang usia harapan hidupnya serendah atau lebih rendah dari ini.

    (hlm.199)

                Kehilangan seorang anak pastilah menyebabkan kesedihan yang paling pedih yang diderita manusia. Penurunan tingkat kematian anak dengan demikian adalah berkat yang sangat besar pada dirinya sendiri. Begitu pula peningkatan usia harapan hidup.

    (hlm.201)

    Tapi, seperti bisa diperkirakan, kemajuan sosial terjadi paling besar ketika penghasilan meningkat paling cepat. Masih tetap “pertumbuhan, goblok”.

    Ketidaksetaraan di dalam negeri-negeri

    (hlm.202)

    Ketidaksetaraan di dalam negeri-negeri sedang membangun

    Wilayah-wilayah (negeri-negeri) termiskin tidak diperparah oleh globalisasi. Mereka hanya gagal menjadi bagian dari globalisasi. Tantangan bagi Cina (seperti juga bagi dunia) adalah untuk meningkatkan kemampuan wilayah-wilayah tertinggal ini untuk berpartisipasi, bukan menerima bujuk rayu beberapa pengkritik untuk memisahkan diri dari ekonomi dunia (yang nyatanya sulit terjadi).

    (hlm.203)

    Tapi perhatikanlah bahwa, bahkan apalabila hipotesis Kuznets benar, pertumbuhan tetaplah jauh lebih baik bagi si miskin daripada stagnasi bagi semua orang.

    (hlm.205)

    Ketidaksetaraan di dalam negeri-negeri berpenghasilan tinggi

    Tapi, bahkan kalaupun ini tidak benar, suatu teorem ekonomi yang terkenal, teorem Stolper-Samuelson, dinamai demikian menurut kedua penemuanya, berbunyi bahwa harga-harga faktor-faktor produksi, termasuk upah buruh, akan disetarakan dalam perdagangan.

    (hlm.207)

    Kesimpulan

                Pertama, rasio pendapatan rata-rata di negeri-negeri paling kaya terhadap pendapatan rata-rata di negeri-negeri paling miskin makin meningkat di zaman globalisasi. Tanggapan: betul.

                Kedua, kesenjangan absolut standar penghidupan antara negeri-negeri berpenghasilan tinggi sekarang dan sebagian besar negeri-negeri sedang membangun terus meningkat. Tanggapan: juga betul dan tidak mungkin tidak demikian, akibat titik berangkatnya dua dekade lalu.

    Ketiga, ketidaksetaraan global di anatar individu-individu menaik. Tanggapan: salah. Ketidaksetaraan global di antara individu-individu kemungkinan besar menurun sejak tahun 1970-an.

                Keempat, jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem juga meningkat. Tanggapan: kemungkinan besar salah. Jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem mungkin sekali turun sejak tahun 1980, untuk pertama kali dalam hampir dua abad, karena pertumbuhan cepat raksasa-raksasa Asia.

                Kelima, proporsi orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem dalam populasi dunia juga meningkat. Tanggapan: salah. Proporsi populasi dunia dalam kemiskinan ekstrem sudah pasti menurun.

                Keenam, orang miskin di dunia keadaannya lebih buruk bukan hanya dalam hal penghasilan, tapi juga dalam indikator-indikator lain yang banyak jumlahnya mengenai kesejahteraan dan kapabilitas manusia, tanggapan: pasti salah. Kesejahteraan umat manusia, dikur menurut usia harapan hidup, kematian anak, melek huruf, kelaparan, kesuburan, dan jumlah buruh anak telah sangat membaik,

                Ketujuh, ketidaksetaraan penghasilan meningkat di dalam setiap negeri dan khususnya di negeri-negeri yang paling mengalami integrasi ekonomi internasional. Tanggapan: salah.

    (hlm.209)

    Bab 10

    Trauma terhadap Perdagangan

    (hlm.211)

    “lawan dari globalisasi adalah lokalisasi (kota yang pejuratif)”

    Ketakutan terhadap buruh papa dan mitos deindustrialisasi

                Bukti mengenai hubungan antara produktivitas dan upah sangat jelas. Stephen Golub, misalnya, menganalisis indeks biaya buruh unit (unit labour costs- biaya buruh per unit keluaran), berdasarkan PPP, yang mengaitkan biaya buruh dengan produktivitas dan perubahan dalam tingkat nilai tukar riil.

    (hlm.212)

                Mengapa pekerja di negeri-negeri berpenghasilam tinggi jauh lebih produktif daripada di Cina (atau negeri-negeri sedang membangun lain)? Satu penjelasan ialah bahwa mereka punya jauh lebih banyak modal dalam  tangan mereka daripada pekerja Cina. Pada tahun 2000, formasi modal bruto Cina per orang hanya sekitar empat persen dari level di Amerika, menurut nilai tukar pasar. Lagi pula, karena pertumbuhan Cina yang cepat, tingkat investasi relatifnya bahkan lebih rendah hanya beberapa tahun lalu. Karena itu, dibandingkan negeri-negeri berpenghasilan tinggi, Cina hanya punya sangat sedikit modal untuk dipakai di sana-sini. penjelasan kedua ialah bahwa orang Amerika da Eropa rata-rata jauh lebih berpendidikan daripada orang Cina. Penjelasan ketiga ialah bahwa orang Cina tidak punya pengalaman dengan manajemen dan manufakturing modern yang canggih. Penjelasan terakhir ialah komposisi berbeda dari manufakturing Cina. Cina berspesialisasi pada manufakturing yang relatif pada karya, yang membuat nilai tambah per pekerja lebih rendah daripada di negeri berpenghasilan tinggi.

    (hlm.214)

    Pada waktunya, upah di Cina dan begitu juga biayanya akan meningkat, bersama produktivitasnya. Begitu hal itu terjadi, keunggulan komparatifnya juga akan berubah. Hari ini, Korea Selatan telah meninggalkan manufaktur garmen di belakang. Pada waktunya, Cina juga akan begitu.

    Tapi kalau pergerakan buruh ke dalam industri modern di kontrol atau upah didorong ke atas secara prematur (seperti yang nyatanya sedang terjadi), Cina akhirnya akan terdiri dari ekonomi dualistik, dengan upah tinggi bagi sedikit orang yang relatif punya hak istimewa, tapi dengan ekonomi modern yang lebih kecil dan secara keseluruhan standar penghidupan yang lebih rendah daripada yang dapat diharapkan.

    (hlm.215)

                Untuk memahami mengapa jumlah absolut karyawan dan, lebih-lebih lagi, pangsa lapangan kerja dalam manufakturing turun di negeri-negeri berpenghasilan tinggi selama dua atau tiga dekade terakhir, orang harus kembali pada sebab-sebab mendasar. Secara logis, lapangan kerja bergantung pada keluaran dan tren produktivitas. Kalau pertumbuhan produktivitas lebih tinggi daripada pertumbuhan keluaran, lapangan kerja akan menyusut. Kalau pertumbuhan produktivitas lebih tinggi dalam manufakturing daripada dalam ekonomi selebihnya, pangsa lapangan kerja dalam manufakturing akan turun, walaupun kalau level lapangan kerja tidak.

    (hlm.217)

    Maka, setelah 25 tahun, pangsa manufakturing dalam lapangan kerja akan menjadi 11 persen; setelah 50 tahun, delapan persen; setelah 100 tahun, empat persen. Pendek kata, manufakturing akan mengalami nasib seperti pertanian.

    Dua ratus tahun lalu, bagian populasi yang berkutat dengan pertanian di negeri-negeri yang sekarang berpenghasilan tinggi kira-kira tigaperempat. Kini tinggal dua atau tiga persen dalam populasi yang juga telah meningkat berlipat-lipat. Apakah semua orang yang tidak diperlukan di ladang sekarang penagggur? Jawabannya: tentu saja tidak. Mereka melakukan berbagai pekerjaan, sebagian besar lebih menyenangkan dan kurang melelahkan dibandingkan apa yang dapat dibyangkan nenek-moyang mereka pada tahun 1800. Hal yang sama akan berlaku di masa depan.

    Perdagangan bukanlah permintaan zero-sum. Ia sama-sama memperkaya.

    (hlm.221)

                Jadi apa kesimpulannya? Pertama, Cina yang kompetitif tak terkalahkan adalah bunga mimpi orang demam, karena biaya riil buruh akan cenderung tetap beriring dengan produktivitasnya. Kedua, determinan utama penurunan lapangan kerja dalam manufakturing di negeri-negeri berpenghasilan tinggi, lewat peningkatan besar dalam harga-harga relatif komoditas, hanya akan berdampak kecil terhadap pendapatan riil mereka. Pendeknya, kekhawatiran terhadap deindustrialisasi dan kompetisi global dari buruh papa itu omong kosong saja.

    Ketakutan terhadap kapasitas- berlebih global

    Orang Amerika yang mendekati pendapatan tertinggi dunia berhasil membelanjakan, ampaknya tanpa kesulitan, praktis semua pemasukan mereka. Tapi orang disuruh membayangkan suatu dunia dengan miliaran orang miskin tidak sanggup menyerap produksi tambahan. Dunia yang kita kenal tidak bisa menderita kelebihan produksi barang. Ia hanya bisa menderita akibat daya beli yang tidak memadai.

    (hlm.222)

    Tapi, berlawanan dengan kekhawatiran berinvestasi Greider, keuntungan bukanlah lubang hitam. Penerima keuntungan biasanya ingin berinvestasi dan mengonsumsi, kalau bukan di sana, di tempat lain.

                Memang betul bahwa ada negeri yang cenderung menabung lebih banyak daripada berinvestasi di dalam negeri (artinya, penghasilan mereka lebih tinggi daripada pengeluaran mereka), sementara yang lain berinvestasi lebih banyak daripada menabung.

    (hlm.224)

    Kekhawatiran tentang eksploitasi buruh di negeri sedang membangun

    Mereke berkesimpulan yang persis kebalikan dari kebenaran, yaitu bahwa orang yang bekerja dalam keadaan yang biasa dianggap orang di barat keadaan yang parah dan untuk upah yang tidak memadai berada dalam keadaan sengsara seperti itu karena pekerjaan mereka yang “eksploitatif”, bukan sebaliknya bahwa mereka berada dalam pekerjaan seperti itu karena kondisi mereka yang sengsara.

    (hlm.225)

                Apa yang dapat dicapai persatuan buruh dalam konteks ini? Andaikanlah mereka berhasil menaikkan upah dan kondisi bagi sedikit pekerja yang beruntung bekerja di pabrik-pabrik modern ke level yang mendekati apa yang dianggap bagus oleh orang barat. Biaya buruh untuk perusahaan modern akan naik di atas biaya peluangnya. Pasar buruh akan menajdi dualistik, dengan pendapatan rendah untuk mayoritas dan pendapatan relatif tinggi untuk sedikit buruh yang terorganisir.

    Satu-satunya hal yang akan dicapai oleh persatuan-persatuan buruh ini tidak lain hanyalah menciptakan pulau kelimpahan di tengah lautan kesengsaraan.

    (hlm.226)

    Karena, sekali lagi, orang barat kontemporer menghakimi negeri-negeri sedang memangun menurut standar yang mereka sendiri nikmati. Mereka memperbandingkan apa yang terjadi di negeri sedang membangun yang masih sangat miskin bukan dengan alternatif yang dinikmati penduduknya, tapi dengan diri mereka sendiri.

    Anak-anak ini bekerja bukan karena orangtua mereka (kalau mereka punya orangtua) lebih jahat daripada orangtua di tempat lain, tapi karena kemiskinan mereka.

    (hlm.227)

    Bukti kuat menunjukan bahwa persis inilah yang terjadi di Bangladesh pada awal tahun 1990-an, sebagai reaksi atas kampanye menentang Wal-Mart membeli pakaian yang bagian-bagianya dibuat oleh anak-anak. Ribuan dipecat, banyak diantaranya terpaksa pindah ke pekerjaan yang lebih berbahaya dan berupah lebih rendah.

    (hlm.229)

    Ancaman terhadap lingkungan hidup

    Misalnya, setelah orang menjadi makin kaya, mereka akan menuntut pemulihan kerusakan lingkungan hidup lokal. Alan Krueger dan Gene Grossman dari Priceton University mengatakan, misalnya, pada tahun 1994 bahwa ini terjadi ketika GDP per kapita suatu negeri mencapai $5.000, kira-kira tempat Republik Ceska berada saat itu.

                Sebagai tambahan, kita tahu dari pengalaman bahwa ekonomi pasar jauh kurang merusak lingkungan hidup daripada ekonomi sosialis.

    Aktivitas ekonomi menciptakan limbah lingkungan hidup.

    (hlm.232)

                Namun, dalam praktik, tidak ada bukti telah terjadi perlombaan ke nadir dalam regulasi lingkungan hidup. Riset menunjukan bahwa regulasi lingkungan hidup cenderung mengetat di negeri sedang membangun, antara lain karena tekanan politik.

    Juga di negeri-negeri berpenghasilan tinggi, tidak ada keraguan bahwa standar lingkungan hidup berlomba ke zenit, bukan ke nadir, selama dua atau tida dekade terakhir.

    (hlm.235)

    Kekonyolan “lokalisasi”

    Pengkritik globalisasi punya apa yang mereka anggap alternatif lebih baik, yang mereka sebut “lokalisasi”. Di bawah lokalisasi, ekonomi akan sekali lagi berada di bawah kontrol kolektif, seperti yang mereka inginkan, tapi di level lokal. “Di mana saja produksi ekonomi, buruh, dan pasar bisa bersifat lokal, hendaklah terjadi demikian, dan peraturan harus dibuat untuk mencapai hal itu”.

    Usaha memfragmentasi pasar ini–dari global menjadi lokal–menimbulkan tiga pertanyaan: pertama ialah mengapa ada orang yang mengangap itu gagasan yang masuk akal; kedua ialah bagaimana, dalam praktik, hal itu dapat dilaksanakan; dan ketiga ialah mengapa ada orang menganggap bahwa konsekuensinya terhadap keterjaminan ekonomi, kemakmuran, lingkungan hidup, dan pembangunan itu bagus.

    (hlm.236)

    Orang-orang yang mengusulkan gagasan ini adalah, seperti dikatakan David Hederson, “kolektivis milenium baru”. Gagasan-gagasan ini menarik bagi aktivis yang ingin mengaruh kehidupan ekonomi di bawah kontrol poliktik

    (hlm.237)

    Pertanian subsistensi adalah salah satu dari strategi umat manusia yang paling berisiko, karena kelaparan hanya sejauh satu kali gagal panen.

    Kebolehan membeli pangan di mana saja di dunia adalah posisi paling aman bagi siapa saja. Itulah sebabnya perdagangan meningkatkan keterjaminan. Tanya saja orang Korea Utara akan seberapa lebih terjamin mereka kalau tuan-tuan mereka tidak mempraktikan “swasembada”, tapi membolehkan mereka mengekspor manufaktur untuk membeli pangan, seperti yang dilakukan tetangga mereka di selatan. Tapi tentu saja mereka tidak bisa ditanya. Seperti halnya semua ekonomi yang sepenuhnya tertutup, ekonomi mereka adalah tirani.

    Tapi keyakinan bahwa ekonomi “lokal” secara intristik kurang merusak lingkungan hidup sama sekali salah, seperti telah di bahas di seksi sebelum ini. Lihat saja contoh “Lompatan Jauh Ke Depan” di Cina pada tahun 1950-an dan tahun 1960-an – suatu proyek lokalisasi klasik, di mana setiap desa didorong untuk memproduksi besi. Hasilnya adalah kelaparan massal, kehancuran, lingkungan hidup, dan sangat sedikit besi yang bisa dipakai. Sebenernya, itu adalah suatu demonstrasi yang sangat kena mengenai kegoblokan lokalisasi sebagai cara menggabungkan proteksi lingkungan hidup dengan swasembada lokal. Memang benar bahwa kalau kegiatan ekonomi dikurangi sampai level yang cukup rendah, lingkungan hidup mungkin akan tertolong. Pada level yang cukup rendah, orang akan mati kelaparan. Tapi “miskinkanlah dirimu untuk menyelamatkan lingkungan hidup” bukanlah slogan yang bisa laku.

    (hlm.240)

    Pada tahun 1961, suatu komite yang diketui James Meade, yang kemudian meraih hadiah Nobel untuk ekonomika, menilai bahwa masa depan ekonomi pulau kecil pemproduksi gula itu tidak punya harapan. Ternyata dia salah sama sekali. Saya merasa terhormat sebagai seorang ekonom muda di Bank Dunia, pada misi pertama saya, pada tahun 1971, bisa menyaksikan  tahap-tahap awal Zona pemproses Ekspor yang akan membuktikan kesalahannya. Karena Mauritius menjadi makmur dengan memanfaatkan peluang untuk ekspor barang-barang padat karya, mula-mula pakaian. Ketika itu penduduknya sekitar 700.000 orang yang relatif hidup dalam kemiskinan. Hari ini populasinya satu juta dengan GDP per kapita mendekati $10.000 menurut PPP. Antara tahun 1975 dan tahun 2001, Mauritius mencapai peningkatan GDP per kapita 4,7 persen – peningkatan kumulatif sebesar 230 persen. Kehidupan orang Mautirius telah berubah. Hal itu – dan kisah-kisah seperti – akan berakhir bila usaha untuk lokalisasi diterapkan sepenuhnya.

    Memang, pendukung lokalisasi mungkin akan berdalih bahwa suatu negeri kecil seperti Mauritius harus bergabung dalam semacam kesepakatan regional. Tapi dengan siapa? Tetangga terdekatnya di Afrika juga tidak sanggup memproduksi produk canggih yang dibutuhkannya kalau rakyatnya mau mempertahankan apa yang sekarang akan kita anggap suatu kehidupan yang cukup beradab.

    (hlm.241)

    Tapi sebaliknya di mana bisa ditemukan ekonomi swasembada lokal yang sangat demokratik dan cukup makmur? Secara politis, swasembada selalu menjadi tujuan para tiran, karena itu akan meningkatkan kontrol mereka atas rakyat mereka. Secara ekonomis, swasembada gagal memproduksi kemakmuran di mana pun.

    (hlm.242)

                Dr. Chang, mungkin terpengaruh oleh pengalaman mengesankan negerinya sendiri, Korea Selatan, berargumen bahwa “kebijakan industrial, perdagangan, dan teknologi” yang aktif itu “penting untuk menyosialisasikan risiko-risiko yang berhubungan dengan pembangunan industri bayi”.

    (hlm.244)

                Benar bahwa ekonomi yang berhasil berinvestasi untuk mempromosikan industri dengan bermacam cara, dan masih terus melakukanya sampai sekarang. Tapi orang harus menghindar dari kesalahan post hoc. Propter hoc – karena satu peristiwa mendahului peristiwa lain, ia juga menjadi penyebabnya. Walaupun ada langkah intervensionis yang berhasil baik, banyak yang tidak. Bahkan faedah substitusi impor pada abad ke-19 disangkal. Lagi pula, dari instrumen-instrumen promosi industrial, level tinggi proteksi industri bayi, termasuk pelarangan total impor saingan, khususnya kalu tanpa insentif untuk ekspor (atau persyaratan ekspor) yang menutupi kelemahanya, sangatlah tidak efisien: mereka menciptakan bias pasar dalam negeri yang sangat kuat, sehingga membebani ekspor kompetitif dan membatasi manfaatnya hanya pada produsen yang menunjukan produknya pada pasar dalam negeri yang tidak kompetitif dan sangat kecil. Akibatnya, mereka cenderung menciptakan fenomena yang sudah sangat dikenal dan menyedihkan: anak-anak abadi. Seperti dikatakan Bank Dunia, “biasanya perusahaan yang lama diproteksi tidak menjadi makin efisien dan nyatanya tidak selamat dalam lingkungan yang lebih kompetitif”. Bank Dunia menunjuk pada industri perkakas mesin India, yang lama diproteksi dengan tarif 100 persen. Ketika tarif itu diliberalisasi, produsen Taiwan merebut sepertiga pasar. Sejak itu, pihak India menyerang balik, tapi kompetitor yang berhasil adalah pendatang baru, bukan perusahaan lama yang gendut-gendut.

    (hlm.245)

    Pertama, pandangan bahwa level investasi per se amat sangat penting dapat dibantah dengan kuat. William Easterly, misalnya, dalam analisinya yang sangat baik  tentang berbagai kegagalan pembangunan, mengamati bahwa “baik Nigeria maupun Hong Kong meningkatkan saham modal fisik mereka per pekerja lebih dari 250 persen selama jangka waktu tahun 1960 sampai tahun 1985. Hasil investasi massif ini berbeda: keluaran per pekerja Nigeria meningkat 12 persen dari tahun 1960 ke 1985, sementara Hong Kong naik 328 persen.” Rodrik menunjukan dia menyadari hal ini ketika mencatat bahwa kalau investasi adalah intisari permasalahan, “ekonomi-ekonomi terencana terpusat akan menunjukan kinerja terbaik di dunia dalam jangka panjang. Pada akhirnya, hasil investasi sangat berarti penting juga”.

                Kedua, kesimpulan Rodrik mengenai manfaat relatif strategi substitusi impor dapat digugat dalam beberapa aspek.

    (hlm.246)

                Terakhir, kemampuan superior ekonomi-ekonomi Asia Timur yang berorientasi ekspor untuk menyesuaikan diri dengan guncangan eksternal tidak terlepas dari strategi berorientasi ekspor mereka.

    (hlm.248)

    Perangkat untuk pengekspor komoditas

    Contohnya, konsumsi kopi stagnan di negeri-negeri konsumen penting selama dekade terakhir, sementara produksi kopi bertambah. Menurut Bank Dunia, produksi kopi naik dari 96 juta kantong pada tahun 1997-8 menjadi 122,6 juta pada 2002-3. Tidak perlu genius untuk memperkirakan konsekuensinnya. Perubahan penawaran yang relatif kecil- panen buruk satu produsen besar, misalnya- menciptakan perubahan harga yang besar. Sementara itu, permintaan untuk bahan mentah dipengaruhi secara negatif oleh pola pertumbuhan yang berubah dan inovasi yang terus berlanjut. Pertumbuhan teknologi tinggi dan jasa tidak membutuhkan bahan mentah tradisional dan kabel serat optik berdampak sangat buruk pada permintaan terhadap lembaga, seperti halnya plastik merusak permintaan terhadap aluminium.

    (hlm.250)

    Dua perusahaan- Nestle dan Philip Morris- mengontrol separuh pangsa psar untuk kopi sangrai dan instan misalnya.

    Ancaman dan peluang Organisasi Perdagangan Dunia

                Bahwa WTO adalah institusi yang sangat berbeda dengan GATT dua atau tiga dekade lalu itu jelas. Pertama, kini WTO punya keanggotaan yang makin aktif dari hampir semua negeri di dunia. Segera ia akan jadi universal. Kedua, dengan tambahan pertanian, jasa, investasi yang berkaitan dengan perdagangan (TRIM- trade-related investment) dan hak milik intelektual yang berkaitan dengan perdagangan (TRIP- trade-related intellectual property), selama masa Putaran Uruguay, sistem itu mencakup hampir semua jenis perdagangan. Ketiga, sementara liberalisasi terus maju, WTO makin memengaruhi apa yang kita pikir murni keputusan regulatori domestik. Contoh-contoh “integrasi mendalam” seperti ini adalah kesepakatan Putaran Uruguaay mengenai standar saniter dan fitosaniter, yang menyertai liberalisasi pertanian, dan mengenai rintangan teknis terhadap perdagangan. Keempat WTO adalah upaya tunggal dengan partisipasi universal dalam semua kegiatannya. Semua anggota, termasuk negeri-negeri sedang membangun, dipaksa membuat komitmen termasuk komitmen yang memberatkan. Kelima, sistem penyelesaian-pertikaian (dispute- settlement system) menjadi makin kuat dan sekaligus makin legalistik dibandingkan sebelumnya.

    (hlm.253)

    WTO hanyalah sekretariat kecil (dengan anggaran sekitar $80 juta) yang melayani suatu struktur kesepakatan antarpemerintah. Ia bukanlah pemerintah.

    Pada umumnya, dua macam kepentingan cenderung berpengaruh besar dalam badan-badan legislatif seperti itu, yang merugikan kepentingan publik pada umumnya: kepentingan produsen terkonsentrasi (lobi produsen); dan kelompok-kelompk dengan komitmen emosional kuat terhadap tujuan kebijakan tertentu (khususnya organisasi nonpemerintah).

    (hlm.254)

                Tapi bagaimana “kehendak orang diseluruh planet” dapat didefinisikan dan diketahui, kecuali sebagai ekspresi dari pemerintah-pemerintah yang terpilih? Pastilah tidak ada alsan untuk emnerima bahwa sekumpulan ornop, yang didominasi oleh lembaga-lembaga yang relatif bersumber daya tinggi dari negeri-negeri berpenghasilan tinggi, mewakili “kehendak orang diseluruh planet”.

    (hlm.255)

    Tampaknya ini pengaturan yang cukup masuk akal mengingat realitas dunia di mana barang dan jasa publik diseakan oleh sekumpulan pemerintah. Lagi pula, apa alternatifnya? Satu orang satu suara akan memberikan India dan Cina hampir 40 persen suara.

                Jadi kesimpulan saya ialah bahwa tuntutan bagi demokrasi popular di dalam WTO salah tempat.

    (hlm.257)

    Kemunafikan si kaya

                Tarid rata-rata di negeri berpenghasilan tinggi sekitar tiga persen. Tapi tarif rata-rata atas komoditas pertanian hampir dua kali lipat tarif manufaktur. Hambatan tarif atas produk padat karya dinaikkan melampaui puncak tarif (tarif yang melampaui 15 persen).

    (hlm.259)

    Di antara rintangan utama terhadap negeri sedang membangun ialah standar produk. Suatu studi Bank Dunia, yang dikutip Oxfam, menunjukan bahwa implementasi standar Uni Eropa untuk melindungi konsumen terhadap aflatoxin (karsinogen yang muncul secara alami) akan menambah ongkos pada pengekspor kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah-buahan kering Afrika $670 juta setahun, tanpa meningkatkan manfaat kesehatan yang berarti.

    (hlm.263)

                Liberalisasi perdagangan global menawarkan peluang besar kepada negeri sedang membangun untuk memperluas perdagangan dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Studi oleh Bank Dunia menunjukkan bahwa penghasilan dunia pada 2015 akan $355 miliar setahun lebih banyak dengan liberalisasi perdagangan barang dagangan (dalam dolar tahun 1997). Negeri membangun akan memperoleh $184 miliar setahun.

    Bab 11

    Gentar terhadap Korporasi

    (hlm.267,268)

    Nah inilah lima proposisi tentang peran kontemporer korporasi.        

    Pertama, korporasi lebih berkuasa dari sebagaian besar negeri.          

    Kedua, merk memberi perusahaan kontrol atas konsumen.    

    Ketiga, investasi langsung asing memiskinkan negeri penerima, khususnya yang miskin, dan pekerja mereka.

    Keempat, investasi langsung asing juga memiskinkan pekerja negeri pengekspor modal.

    Terakhir, korporasi mengontrol negara, karena itu merongrong demokrasi.

    Korporasi lebih berkuasa daripada negeri-negeri

    Pertanyaanya sekarang tentu saja apakah ini benar, dan kalau begitu, apakah penting.

    Kedua periset itu melakukan apa yang dianggap ekonom kesalahan mendasar yang membuat orang tertawa: mereka mencampuradukkan penjualan bruto dengan GDP. Seperti ditunjukkan Paul de Grauwe dari Universitas Leuven dan Filip Camerman dari Senat Belgia dalam tulisan balasanya yang kuat, kalau metode mereka diterapkan pada GDP orang akan memperoleh angka yang jauh lebih besae daripada angka yang tepat. Tapi orang juga akan menghitung dua, tiga, atau empat kali.

    Apa yang dilakukan pencatat statistik adalah menjumlahkan nilai tambah setiap perusahaan, yaitu perbedaan antara nilai penjualannya dan biaya masukan yang dibeli dari luar perusahaan (sehingga menyerakan nilai yang distribusikan pada orang dan modal yang dipakai setiap perusahaan). Penjualan baja menaikkan nilai tambah Bethlehem Steel, karena ia memang membuat baja. Tapi biaya baja dikurangi dari penjualan Bridgestone, karena itu termasuk biaya bisnisnya, yaitu membuat ban.

    Suatu analisis kemudian oleh UNCTAD menyimpulkan bahwa, pada tahun 2000, hanya 29 dari 100 ekonomi terbesar di dunia adalah korporasi. Sekali lagi, hanya dua di antaranya berada di 50 teratas: Exxon Mobil, ke-45, dan General Motors, ke-47.

    (hlm.269)

                Bahkan, betulkah bahwa, seperti dikatakan Naomi Klein, korporasi menikmati peningkatan “astronomis” kekayaan? Jawabannya, tidak. Antara tahun 1990 dan tahun 2000, pangsa 100 korporasi teratas dalan GDP gblobal memang naik sedikit, dari 3,5 persen menjadi 4,3 persen. Tapi pangsa 10 teratas, 20 teratas,  dan 50 teratas- perusahaan-perusahaan yang amat sangat menjadi 0,9 persen, dari 1,8 persen menjadi 1,5 persen dan dari 2,9 menjadi 2,8 persen.

                Klaim bahwa perusahaan itu lebih besar dan lebih berkuasa daripada negeri-negeri bukan hanya salah secara faktual. Lebih penting lagi, itu adalah salah paham. Karena bersembunyi di balik klaim ini adalah kesalahan akibat sikap keras kepala: penolakan untuk membedakan kekuasaann dari kebebasan.

    (hlm.270)

    Perusahaan berbeda dengan negeri karena mereka mencapai keberhasilan dengan memperoleh dari pelanggan mereka apa yang harus mereka bayarkan kepada pemasok mereka (termasuk pekerja dan kreditor mereka). Kecuali kalau mereka punya posisi monopoli yang kuat, mereka tidak bisa memaksa pelanggan membeli dari mereka. Mereka hanya bisa membujuk-bujuk. Sumber daya yang mereka kontrol adalah hasil pilihan bebas yang dibuat di pasar. Negeri-negeri- atau lebih tepat pemerintah negeri-negeri- berbeda. Mereka punya kontrol pemaksa atas wilayah. Bahkan negara paling lemah bisa memaksa orang melakukan hal-hal yang sebagian besar lebih suka tidak melakukannya: membayar pajak, misalnya, atau melakukan wajib militer.

    Apa yang didemonstrasikan keruntuhan Enron ialah bahwa perusahaan dapat menipu investor, regulator, akuntan, dan pemasoknya, tapi ia tidak bisa menipu pasar. Pilihannya hanya ia mampu memperoleh lebih banyak uang dari pelanggannya daripada yang ia bayarkan kepada pemasok, staf, dan kreditornya, atau ia akan lenyap.

    (hlm.271)

    Tapi Stalin dan Mao membunuh puluhan juta orang dan tetap mati dalam kekuasaan.

    Kesenjangan antara kekuasaan negara dan perusahaan luar bisa besarnya.

    Perusahaan India Timur (East India Company) punya angkatan darat dan laut yang ia pakai untuk menaklukan satu anak benua. Tapi ia bisa berbuat begitu hanya karena suatu negara menganugerahinya monopoli efektif atas suatu perdagangan yang sangat menguntungkan. Sekarang tidak ada negara yang akan memberikan kekuasaan seperti itu kepada perusahaan.

    Satu petunjuk akan kekuatan pasar ialah konsentrasi pasar.

                (hlm.273)

    Apa yang kita lihat dalam pandangan bahwa perusahaan lebih berkuasa daripada negeri adalah angka-angka tidak relevan, pernyataan tren yang salah, dan, paling buruk, kerangka analisis yang sangat menyesatkan.

    Mereka berdalih bahwa negeri-negeri berpenghasilan tinggi sekarang kaya karena mereka punya kekuasaan besar. Ini juga terbalik. Mereka punya kuasa besar karena mereka kaya. Denmark, Hong Kong, Swedia, Singapura, dan Swiss kaya. Brazil, Cina, India, Indonesia, dan Nigeria miskin. Bukan kekuasaan, tapi pembangunan ekonomi internal, yang membuat kelompok pertama kaya.

    (hlm.274)

    “Tirani” merk

    Secara analitis, bukunya No Logo tidak menambahkan apa-apa pada perdebatan tentang globalisasi. Tapi secara psikologis buku itu brilian. Kleiin berhasil mengaitkan rasa ketidakberdayaan personal dan rasa bersalah orang muda barat kaya dengan kesengsaraan orang miskin dunia. Benang yang mengaitkan keduanya, katanya, adalah korporasi jahat, yang memperudak baik pelanggan maupun pemasok mereka.

    (hlm.275)

                Gagasan Klein tentang kekuatan merk bukan hal baru. Itu adalah inkarnasi modern gagasan Vance Packard tentang kekuatan iklan, yang muncul dalam buku klasiknya The Hidden Persuaders, terbit pada tahun 1957.

    Tuduhan ini- bahwa korporasi menguasai pelanggan-adalah contoh lain penipuan bahwa kebebasan adalah perbudakan. Tapi kita bebas membuat pilihan. Menolak hal ini merendahkan diri kita sendiri. Justru karena kita bebas korporasi terpaksa membujuk kita. Karena itu logo ada bukan karena korporasi kuat, tapi karena mereka sangat lemah.

    Kalau kebebasan adaah perbudakan, maka perbudakan bisa dianggap kebebasan. Atau, seperti dikatakan Jean-Jacques Rousseau dan buah-buah intelektualnya, sebaris panjang tiran komunis, orang harus dipaksa untuk bebas. Argumen Klein adalah reinkarnasi modern yang pucat dari suatu kejahatan kuno.

    (hlm.276)

    Yang penting adalah apa yang menyenangkan pelanggan , karena, sebagai pebisnis yang baik, para manajer tahu bahwa pelanggan selalu benar. Mereka tidak mengontrol pelanggan mereka. Mereka dikontrol pelanggan. Itulah sebbanya pemerasan oleh aktivis mendatangkan hasil. Yang mencolok ialah bukan betapa kuat perusahaan itu, tapi betapa lemah. Dihadapi protes sejumlah kecil aktivis Greenpeace dan beberapa preman, khususnya di Jerman, pemerintah Britania dan Shell melepaskan rencana yang sangat masuk akal untuk membuang platform minyak Brent Spar di laut dibandingkan remcana yang lebih mahal dan lebih tidak ramah lingkungan berupa pembuangan di darat. Ini bukan kisah sikap arogan tapi sikap mengalah,bukan cerita kekuatan tapi cerita kerentanana.

    (hlm.277)

    Verizon memiliki lisensi untuk memasok operasi sistem telepon genggam. Ini, bukan merk, adalah aset paling berharga yang dimilikinya.

    Korporasi transnasional mengeksploitasi negeri dan pekerja miskin

    (hlm.278)

                Jawaban “ya” adalah bahwa memang adalah tugas perusahaan mana pun untuk mencari peluang mengubah seuatu yang murah menjadi sesuatu yang lebih mahal. Dengan kata lain, ia menambahkan nilai.

    (hlm.281)

    Pada tahun 2001, menurut UNCTAD, total saham investasi langsung masuk (inward direct investment) $6.846 miliar. Dari jumlah ini, 66 persen berlokasi di negeri maju dan 32 persen di negeri sedang membangun. Uni Eropa secara keseluruhan memiliki 39 persen dari saham dunia dan Amerika Serikat 19 persen. Jepang, seperti dikneal luas, sangat ,mencolok karena pangsanya yang kecil dari investasi masuk global, 0,7 persen. Di dunia sedang membangun, pangsa terbesar adalah Asia. 19 persen. Di asika, Hong Kong punya 6,6 persen dari total dunia, Cina 5,8 persen dan Singapura 1,5 persen. Amerika Latin dan Karibea berisi 10 persen saham dunia. Pangsa Afrika sub-Sahara hanya 1,7 persen. Negeri-negeri paling tidak terbangun- negeri-negeri paling miskin di dunia- menarik hanya 0,6 persen dari total saham investasi masuk.

    (hlm.283)

    FDI tidak pergi ke negeri-negeri paling miskin dan paling tidak berperaturan di dunia, tapi ke negeri paling kaya dan paling berperaturan. Di antara negeri-negeri sedang membangun, arus terbesar menuju ke negeri-negeri yang ekonominya paling dinamis, bukan ke negeri paling miskin dan paling stagnan. Kekecualian besar adalah arus untuk mengembangkan sumber daya alam, yang harus pergi ke mana sumber daya itu ada, bagaimana pun buruknya negeri itu diperintah. Tidak ada bukti bahwa FDI mempermiskin penerimanya, walaupun bisa terjadi demikian dalam konteks kebijakan buruk (atau dala konteks kutukan sumber daya alam, dibahas di Bab 9).

    (hlm.284-285)

                Suatu studi menyeluruh mengenai manufakturing di Indonesia, berdasarkan analisis pada hampir 20.000 pabrik, menyimpulkan bahwa upah rata-rata di pabrik milik asing 50 persen lebih tinggi daripada pabrik domestik swasta. Kompensasi total kira-kira 60 persen lebih tinggi. Evaluasi ekonometrik yang lebih rincin akan sebab-sebab premium upah itu, yang memperhitungkan level pendidikan pekerja, ukuran pabrik, lokasi, dan intensitas modal dan energi, mengurangi premium, tapi tidak menghilangkannya setelah memperhitungkan faktor-faktor ini (ada di antaranya yang berkaitan dengan kepemilikan asing), premium menjadi 12 persen untuk pekerja “kerah biru” dan kira-kira 22 persen untuk pekerja “kerah putih”. Studi ini menemukan bukan hanya bahwa upah lebih tinggi di pabrik-pabrik milik asing, tapi bahwa kehadiran mereka meningkatkan upah di pabrik domestik juga. Pastilah ini terjadi karena peningkatan permintaan terhadap pasar buruh, persebaran teknologi, pelatihan tenaga kerja dan manajer dan seterusnya. Jadi investasi masuk meningkatkan upah. Inilah yang akan diharapkan oleh orang waras. Bukan ini yang dikatakan para pengkritik.

    (hlm.286-287)

                Ada pengkritik yang berdalih bahwa bukti eksploitasi adalah fakta bahwa pekerja di negeri sedang membangun tidak mampu membeli barang yang mereka buat. Gugatan ini cacat. Orang bekerja bukan untuk membeli apa yang dia buat, tapi apa yang dia butuhkan. Seorang pekerja Amerika di garis perakitan Boeing 747 tidak dapat membeli apa yang dia buat. Juga seorang pekerja Jerman pada garis produksi Mercedes Benz tidak dapat membeli limusin Kelas S. Satu argumen yang sangat dekat dengan ini menunjuk pada pangsa kecil dari biaya buruh langsung dalam produk final. Sekali lagi, lantas mengapa? Unsur biaya buruh dalam satu per liter bensin juga kecil sekali. Pertanyaan nya ialah apakah perusahaan yang membuat produk itu memperoleh keuntungan luar biasa. Bahwa mereka harus mengeluarkan jumlah sangat besar untuk pemasaran dan distribusi tidaklah mengherankan.

    (hlm.288)

    Memang, tidak diragukan lagi, menurut standar negeri-negeri berpenghasilan tinggi, mereka punya pekerjaan susah dengan upah sangat rendah. Tapi itu tetap pekerjaan. Itu sendiri revolusioner di banyak negeri. Pertimbangkan Bangladesh, misalnya. Sebelum ada industri pakaian, tradisi lokal melarang perempuan bekerja di pabrik. Kini 95 persen dari 1,4 juta pekerja dalam manufaktur pakaian adalah perempuan, sementara 70 persen dari semua perempuan dalam lapangan kerja sektor formal bekerja dalam industri ini. Perempuan Bangladesh, seperti halnya pekerja perempuan lain di Asia dan Amerika Latin, menunjukan bahwa pekerjaan pabrik menawarkan otonomi, status, dan harga diri.

    Untuk pengunjung barat pekerjaan seperti itu tampaknya sangat buruk. Tapi sebagian alternatifnya- ketergantungan total sebagai ibu rumahtangga atau anak perempuan yang tidak dikehendaki, prostitusi, buruh tani, atau peminta-minta-lebih buruk.

    (hlm.289)

    Merasa marah atas kemiskinan adalah hal yang sama sekali dapat dibenarkan; menutup jalur keluar dari kemiskinan sebagai reaksi dari kemarahan itu tidak dapat dibenarkan.

    (hlm.291)

    Jadi apakah EPZ cara yang baik untuk menarik investasi masuk dalam industri padat karya berorientasi ekspor? Ini adalah pertanyaan kompleks. Sebagian jawabannya ialah bahwa EPZ terbukti adalah alat yang bagus untuk pembangunan di banyak negeri- Klein bisa, misalnya, menambahkan Mauritius ke daftarnya.

    Untuk maju, EPZ butuh akses pada infrastruktur bagus, buruh terdidik, dan kemampuan memperoleh masukan lokal dengan harga kompetitif. Untuk alasan-alasan ini, menaruh EPZ di wilayah terpencil, dengan harapan menciptakan pertumbuhan lapangan kerja yang cepat, biasanya gagal.

    (hlm.292)

    Investasi langsung asing tidak dimaksudkan untuk mengeksploitasi orang miskin. Sebaliknya,ia tertuju sebagian besar kepada mereka yang kaya dan berhasil. Apabila ia sampai ke negeri miskin, ada bukti tak terbantahkan bahwa ia menguntungkan pekerja yang dibayar lebih banyak dan diperlakukan lebih baik oleh pemberi kerja asing. Fakta bahwa upah yang dibayarkan investor lebih rendah di negeri sedang membangun dibandingkan negeri kaya adalah tanggapanyang sangat masuk akal terhadap kondisi lokal.

    (hlm.293)

    Investasi korporasi di luar negeri memiskinkan pekerja

    Delapan puluh persen saham investasi Amerika di luar negeri pada tahun 1997 ada di negeri berpenghasilan tinggi lain. Sebagian besar investasi di luar negeri tidak secara khusus padat karya, justru karena alasan ini. Memang benar bahwa investasi di negeri sedang membangun relatif padat karya. Tapi itu masih tidak berarti pekerjaan menghilang. Ini antara lain karena, hal yang logis saja, tidak ada kaitan antara perubahan mikroekonomi ini dan lapangan kerja secara keseluruhan.

    (hlm.295)

    Korporasi mendominasi politik

    Banyak pengkritik membayangkan demokrasi sebagai sistem yang memungkinkan suatu badan aktif yang terdiri dari warga seragam yang mencapai keputusan kolektif dalam segala hal yang berkaitan dengan mereka, lewat pembahasan, dan, ujung-ujungnya, pemengutan suara.ini adalah demokrasi polis Yunani atau rapat kota.

    (hlm.296)

    Tapi pemerintahan oleh Green peace atau persatuan buruh secara inheren tidak lebih demokratik daripada pemerintahan oleh Shell atau Konfederasi Industri Britania. Greenpeace punya imperatif organisasinya sendiri: ia harus menarik perhatian dan memobilisasi dukungan. Kalau ini berarti melebih-lebihkan, misrepresentasi, atau jelas-jelas menipu, seperti halnya kasus platform Brent Spar, biarlah begitu. Karena itu dalam praktik peralihan yang diinginkan adalah dari plutokrasi ke demagogi, satu lagi kategori Aristotelian yang membahayakan.

    Alih-alih pembahasan dengan cakupan luas di antara warga yang tahu masalah, kita sekarang punya pemilihan umum secara berkala (dengan pemilih makin menyusut) yang menghiasi pergulatan antara negara regulatori intervensionis di satu pihak dan segerombolan kelompok kepentingan khusus yang terorganisir rapi di pihak lain. Apakah ini gambaran yang bagus? Tidak. Apakah mudah diperbaiki? Tidak.

                Kristus mungkin berhasil mengusir penukar uang dari Bait Allah. Tapi tidak ada orang yang akan mengusir kepentingan khsusu dari politika demokratik kontemporer.

    (hlm.297-298)

    Kebijakan kompetisi, baik di Amerika Serikat maupun Uni Eropa, terus-menerus memangkas ambisi perusahaan-perusahaan kuat. Lihat saja, misalnya, keputusan Uni Eropa untuk mencegah General Electric membeli Honeywell pada tahun 2001.

    Banyak monopolis korporasi mapan menentang kompetisi lebih besar, apalagi yang datang dari luar. Pemanufaktur mobil Eropa, misalnya, menentang pembukaan pasar mereka bagi Jepang. Produsen baja dan tekstil cenderung menjadi proteksionis kuat. Banyak korporasi menentang  privatisasi. Saya ingat suatu makan siang dengan almarhum Arnold Weinstock persis sebelum privatisasi British Telecom. Perusahaannnya, GEC, adalah pemasok peralatan kepada pemasok monopoli layanan telekomunikasi Kerajaan Serikat. Itu keadaan nyaman, monopoli dengan keuntungan pasti di atas biaya (cost-plus monopoly). Dia tahu bahwa privatisasi dan liberlisasi  akan mengakhiri posisi ini. Dia menolak gagasan privatisasi sebagai tidak praktis dan teoritis.

    Ekonomi liberal itu kompetitif, dinamis, dan kejam, persis apa yang dibenci oleh perusahaan mapan. Korporasi akan lebih senang dengan monopoli dan kartel. Bukan korporasi yang mendorong liberalisasi dan privatisasi, tapi pemerintah (dan, di belakang mereka, intelektual) yang yakin bahwa ini demi kepentingan negeri mereka. Tapi perusahaan menyesuaikan diri. Mereka harus begitu.

    (hlm.299)

    Kesimpulan

    Gagasan bahwa kebijakan ekonomi liberal selama dua dekade terakhir atau lebih, atau struktur dan peraturan WTO kontemporer, adalah hasil perkongkolan kepentingan korporasi yang tidak kenal lelas jelas salah.

    (hlm.300)

    Bab 12

    Negara yang Mengenaskan

    (hlm.301)

                Pertama, integrasi ekonomi internasional menggerogoti kapasitas negara berdaulat untuk memilih struktur perpajakan dan regulatori mereka.

    (hlm.302)

                Kedua, integrasi pasar modal telah menghancurkan kapasitas pemerintah-pemerintah untuk menyelenggarakan kebijakan fiskal dan moneter yang mereka perlakuan untuk mengejar ketersediaan lapangan kerja untuk semua orang.

                Terhadap ini saya akan menambahkan satu proposisi lagi, dari sisi berlawanan, bahwa globalisasi membuat negara bukan hanya impoten tapi tidak diperluka lagi.

    Globalisasi sebagai pilihan

                Pertama, negara-negara membuka ekonomi mereka terhadap perdagangan dan pergerakan modal serta (sampai kadar tertentu) buruh karena ini demi  kepentingan warga mereka.

    (hlm.303)

                Kedua, tekonologi menentukan sektor mana yang paling terkena dampak pembukaan.

                Ketiga, seperti telah saya catat di Bab 6, pilihan antara pembukaan dan penutupan bukanlah pilihan semua atau tidak sama sekali.

    (hlm.305)

    Bukti mengenai pajak

    Tabel 12. Pengeluaran pemerintah secara umum (sebagai pangsa dari GDP, persen)

    Negeri              1937                1937                1960                1980                1996

    Swedia                         10,4                 16,5                 31,0                 60,1                 64,2

    (hlm.306)

                Ini, untuk mengatakannya dengan halus, sangat jauh dari menjadi negara “penjaga malam” atau negara minimum. Bukan hanya pembelanjaan pemerintah sangat besar, tapi hanya proporsi kecil dipakai untuk pertahanan, peradilan, infrastruktur, dan fungsi-fungsi klasik lain dari negara liberal. Menurut satu buku penting tentang pertumbuhan jangka panjang peran pemerintah di negeri-negeri berpenghasilan tinggi, oleh Vito Tanzi (ketika itu bekerja di Dana Moneter Internasional) dan Ludger Schuknecht (staf Bank Sentral Eropa), pada tahun 1995 pembelanjaan pemerintah untuk subsidi dan transfer bervariasi antara 13,1 persen dari GDP di Amerika Serikat dan 35,9 persen di Belanda. Di negeri-negeri berpembelanjaan tinggi, subsidi dan transfer mencakup lebih dari separuh total pembelanjaan. Misalnya, pembelanjaan Swedia untuk transfer dan subsidi, pendidikan dan kesehatan melampaui 50 persen dari GDP dan hampir 80 persen total pembelanjaan pemerintah.

    (hlm.307)

    Tabel 12.2 Penerimaan pajak pemerintah secara umum (sebagai pangsa dari GDP, persen)

    Negeri              1965    1980    1990    2000    peningkatan 1965-2000

    Swedia             35,0     47,5     53,6     54,2     19,2

    (hlm.308)

    Pemajakan pendapatan korporasi, sebagai pangsa GDP, tampak di Tabel 12.3. di seluruh wilayah OECD secara keseluruhan, ia naik dari 2,2 persen GDP pada tahun 1965 menjadi 2,4 persen pada tahun 1980, 2,7 persen pada tahun 1990, dan 3,6 persen pada tahun 2000.

    (hlm.309)

    Adakah tanda-tanda bahwa negeri-negeri berpajak tinggi, dalam arti tertentu, tidak kompetitif? Dalam papernya, de Grauwe mengambil sebagai indikator daya saing peringkat dari World Competitiveness Report tahunan, yang diterbitkan Internasional Institute for Management Development (IMD) di Lausanne, dan mengaitkannya dengan rasio pembelanjaan jaminan sosial dalam GDP. Dia menemukan sedikit korelasi positif: makin tinggi pembelanjaan jaminan sosial, makin kompetitif negeri itu. Tidak sulit

    (hlm.310)

    Tabel 12.4 Pajak atas penghasilan personal (sebagai pangsa dari GDP, persen)

    Negeri                          1965    1980    1990    2000    peningkatan

    Rata-rata tak                7,0       10,5     10,7     10,0     3,0

    Tertimbang negeri-negeri OECD

    mengerti mengapa korelasi positif ini ada: sistem jaminan sosial yang murah hati meningkatkan rasa keterjaminan orang dan membuat mereka lebih berani menerima perubahan.

                Tentangan terhadap prosedur de Grauwe ialah bahwa indeks IMD sifatnya suka-suka. Bisakah kita mendapatkan indikator yang lebih langsung mengenai daya saing? Jawabannya ya. Kalau gagasan daya saing yang diacu oleh Gray dan lain-lain yang berpikir seperti dia memang ada, pastilah indikator-indikatornya berbda daripada kinerja ekonomi keseluruhan, yaitu, maksud kami, pertumbuhan, produktivitas, lapangan kerja, dan seterusnya.

    (hlm.311)

                Cara yang tidak terlalu buta huruf secara ekonomis untuk mengukur “daya saing”ialah melalui arus modal dan buruh.

    (hlm.313)

                Kesimpulannya ialah bahwa ketiadaan daya saing tidak bisa ditemukan di negeri-negeri berpajak tinggi ini. Terutama penting ialah penemuan bahwa mereka tidak menderita kurang darah modal atau orang terampil. Karena kaya dan stabil, dengan layanan sosial istimewa, mereka adalah pengimpor netto orang-orang. Walaupun rata-rata imigran kurang terampil dibandingkan populasi lokal, di antara mereka terdapat proporsi orang-orang berpendidikan tinggi yang jumlahnya cukup besar. Walaupun manusia terampil kontinental memang beremigrasi, sementara atau bahkan secara permanen, untuk mendapat pendidikan atau pekerjaan di Kerajaan Serikat dan Amerika Serikat, arus keluar netto orang-orang seperti itu kecil saja dibandingkan dengan pasokan (yang terus bertambah).

    (hlm.314)

    Relevansi keunggulan komperatif yang terus berlaku

    Tapi untuk memahami mengaoa dijabarkan di atas, dan pindah teori yang menjadi dasarnya. Gray yakin bahwa teori keunggulan komparatif tidak berlaku bilamana modal, sampai kadar yang menentukan, bersifat mobil. Dia salah.

    (hlm.315)

    Alih-alih menjadi kurang relevan, keunggulan komparatif tidak perah serelevan sekarang.

                Perbedaaan-perbedaan dalam sumber sumber daya alam sudah merupakan bukti cukup. Tapi sebagian besar perbedaan paling penting adalah juga sumber kekayaan dan kemiskinan paling utama: kumpulan perilaku, nilai-nilai, dan pengetahuan eksplisit yang terdapat di dalam suatu populasi yang terhimpun sepanjang sejarah- dengan kata lain, modal sosial dan manusia suatu negeri. Pekerja negeri kaya bisa memperoleh penghasilan yang lebih besar daripada yang tersedia untuk buruh tidak terampil di negeri-negeri miskin hanya karena mereka punya lebih banyak modal yang tersedia untuk mereka.

    (hlm.316)

    Kontribusi modal fisik dan manusia tidak dapat diidentifikasikan terpisah-pisah, karena bahkan kemampuan untuk memanfaatkan modal fisik dengan cara yang menguntungkan juga terwujud di dalam populasi. Itulah sebabnya, setelah perang Dunia II, ekonomi Jerman Barat dapat bangkit kembali begitu dramatis (dalam lingkungan kebijakan berorientasi pasar yang tepat). Investasi fisik yang menguntungkan dipacu oleh pengetahuan keterampilan yang terdapat di dalam rakyat suatu negeri. Kalau populasi Iran, dalam semalam, menggantingkan populasi Jerman, berapa lama ia akan tetap berada di antara negeri-negeri paling kaya di dunia?

    Walaupun begitu, pembangunan tidak melompat. Di antara proses yang paling makan waktu ialah menciptakan populasi yang dapat menyesuaikan diri- dan mahir- dalam mengelola suatu ekonomi canggih berteknologi tinggi.

    Populasi manusia, dalam keadaan normal, secara geografis menetap. Tapi yang berjangkar bukan hanya populasi manusia; walaupun ada segala hiperbola tentang globalisasi, begitu juga sebagian besar modal. Pada umumya, orang akan mengivestasikan tabungan mereka di tempat mereka percaya akan paling aman.

    (hlm.317)

    Kemudian mereka mau menaruh uang mereka di negeri-negeri relatif miskin yang menawarkan kaitang paling atraktif antara risikon dan perolehan.

    Bahkan, kalau kita melihat negeri sedang membangun yang berhasil mengumpulkan modal fisik dengan cepat, kita temukan bahwa ini selalu diciptakan secara internal. Hari ini, misalnya, Cina mengivestasikan hampir 40 persen GDP. Semua ini dibiayai secara domestik. Arus masuk investasi langsung asing punya arti lebih sebagai cara mempercepat transfer pengetahuan keterampilan dan dengan demikian mempercepat derap pembangunan.

    (hlm.318)

    Bayangkan dunia di mana tidak ada pembatasan legal atas mobilitas manusia atau modal. Tapi bayangkan juga bahwa ada banyak barang, termasuk barang dan jasa publik, yang hanya bisa dikonsumsi di tempat orang tinggal. Ini adalah dunia pemerintah-pemerintah lokal.

    (hlm.319)

                Jadi, apa yang saya katakan? Jawabannya ialah bahwa sebagian besar sumber daya yang membedakan kaya dan miskin bersifat imobil. Ini bukan hanya karena ada hambatan legal atas mobilitas manusia, tapi karena orang di negeri berpenghasilan tinggi, karena mereka puas dengan kumpulan kenyamanan yang dapat mereka konsumsi.

    Mengenai (i)relevansi daya saing

    Bersenjatakan analisis ini, kita akan mulai mengerti mengapa peringatan Gray tentang ketiadaan daya saing suatu ekonomi yang berpajak dan beregulasi tinggi adalah omong kosong.

    (hlm.321)

                Adi pertanyaannya adalah apakah gagasan daya saing negeri-negeri, di bawah globalisasi, ada relevansinya. Jawabannya, memang ada, tapi dengan cara yang sangat berbeda daripada yang popular dikira orang. Dua makna sah dapat diindentifikasi: perubahan dalam kondisi perdagangan (terms of trade)- relasi antara harga ekspor dan impor (sudah dibahas singkat di Bab 10); dan kinerja ekonomi keseluruhan. Keduanya punya arti yang tidak sama dengan makna sebagaimana yang dikira mereka yang khawatir tentang daya saing.

    (hlm.325)

    Rayap fiskal

    Pemajakan atas pendapatan dan pengeluaran buruh adalah tiang universal sistem fiskal. Tapi bahkan pajak Skandinavia yang selangit tidak memaksa orang berbondong-bondong meninggalkannya.

    (hlm.329)

    Pembiayaan defisit

    Pertama, pemerintah sama sekali tidak budiman. Sebagian besar pemerintah negeri berpenghasilan tinggi menciptakan inflasi masiif, berpuncak pada tahun 1970-an, yang menghancurkan kekayaan semua orang yang cukup bodoh yang cukup bodoh untuk percaya pada janji-janji mereka.

    Kedua, kebijakan makroekonomi memang sudah rentan terhadap reaksi bermusuhan sektor swasta terhadap kesalahan pemerintah seperti itu, lepas dari ada tidaknya globalisasi. Bahkan dalam suatu ekonomi tertutup, tingkat bunga nominal jangka panjang akan naik kalau pemerintah dengan ajek mengejar kebijakan inflasioner, antara lain untuk mengompensasi inflasi dan juga untuk menjamin terhadap risiko inflasi.

    (hlm.330)

    Pajak inflasi adalah bentuk pemajakan yang paling tertutup dan tersamar. Itu adalah pelanggaran kepercayaan. Itu tidak konsisten dengan prinsip demokratik pundamental bahwa pajak harus ditentukan dalam parlemen. Itu mendistribusikan uang secara sewenang-wenang dari kreditor ke peminjam, orang tua ke orang mudah, orang yang tidak paham masalah finansial ke mereka yang ahli, dan dari mereka yang percaya kepada pemerintah ke mereka yang mencurigainya.

    (hlm.333)

    Globalisasi tidak membuat negara mubazir

    Pertama, kemampuan suatu masyarakat untuk memetik manfaat dari peluang yang ditawarkan integrasi ekonomi internasional bergantung pada kualitas barang dan jasa publik, seperti proteksi hak milik, keamanan personal, layanan pegawai negeri yang tidak korup, dan pendidikan.

                Kedua, negara biasannya mendefinisikan identitas manusia.

                Ketiga, segala bentuk pemerintahan internasional bergantung pada kemampuan negara-negara individual untuk menyediakan dan menjamin ketertiban.

    Tulang punggung tata internasional adalah negara teritorial, dengan monopoli kekuasaan koersif di dalam yuridiksinya. Ruang siber tidak secara mendasar mengubah hal ini, karena ekonomi-ekonomi ujung-ujungnya berkaitan dengan – dan diselenggarakan untuk – manusia, yang punya keberadaan fisik dan, konsekuensinya, lokasi fisik. Karena negara-negara adalah yurisdiksi teritorial, mereka adalah tulang punggung tata global.

                Implikasnya ialah bahwa, seperti halnya globalisasi tidak membuat negara jadi impoten, ia juga tidak membuatnya mubazir. Sebaliknya, agar orang bisa berhasil mengeksploitasi peluang yang disediakan oleh intergrasi internasional, mereka memerlukan negara, di kedua ujung transaksi mereka. Itulah sebabnya negara gagal, negara kacau, negara lemah, dan negara korup adalah negara-negara yang dihindari- mereka adalah lubang hitam dalam sistem ekonomi global.

    (hlm.334)

    Globalisasi sebagai peluang tantangan

    Gagasan bahwa negeri-negeri bersaing langsung satu sama lain, seperti perusahaan, itu omong kosong. Omong kosong karena sumber paling penting kekayaan dan keunggulan komparatif, yaitu manusia, sangat imobil.

    (hlm.335)

    Bab 13

    Ngeri terhadap Keuangan

    (hlm.337)

                Krisis-krisis finansial bukanlah hal jarang selama dekade-dekade globalisasi. Bank Dunia memperkirakan bahwa ada 112 krisis perbankan sistemik di 93 negeri antara akhir tahun 1970-an dan akhir abad ke-20.

                Tapi krisis finansial tahun 1997 dan tahun 1998 adalah kejadian yang mengubah sejarah, karea tiga alasan. Pertama, krisis itu nyaris sama sekali tidak terduga.

                Kedua, akibatnya mahal sekali, bukan hanya dalam hal kehilangan GDP dan kesengsaraan manusia, tapi juga karena biaya fiskal menyelamatkan sistem perbankan. Di Indonesia, misalnya, peningkatan saham utang publik pada tahun krisis adalah 50 persen GDP. Di Korea Selatan dan Thailand, anatar 30 dan 40 persen GDP. Ketiga krisis itu menyebar bukan hanya di seluruh wilayah itu, tapi seluruh dunia, mencakup Rusia, Brazil, dan bahkan dana lindung raksasa Amerika Serikat, Long-Term Capital Management.

    (hlm.338)

    Salah satu kemungkinan ialah pajak atas transaksi spekulatif di pasar devisa, yang awalnya direkomendasikan peraih Nobel yang lain, almarhum James Tobin. Lagi pula, kalau tidak ada pemberi pinjaman upaya terakhir (lender of last resort) global, harus ada suatu cara untuk memaksakan penghentian terhadap arus keluar modal. Lantas ini akan menjadi bagian dari prosedur kebangkrutan negeri-negeri.

    Yang dianggap kebodohan pembukaan akun modal

    (hlm.340)

                Kesimpulan sederhana adalah bahwa, karena ada ketidakstabilan arus dan biaya yang timbul akibat perlunya penyesuaian terhadap gonjang-ganjing pasar finansial dunia, khususnya bankir-bankir komersialnya, tindakan masuk akal yang perlu dilakukan adalah menghadang mereka agar tetap di luar.

    (hlm.341)

                Jadi, mengapa ada begitu sedikit bukti tentang dampak positif liberalisasi akun modal terhadap pertumbuhan ekonomi?  Salah satu jawaban ialah bahwa akses kepada modal pada kenyataannya bukanlah kendala yang menentukan atas pertumbuhan ekonomi. Yang penting ialah modal sosial dan manusia, serta sistem kebijakan secara keseluruhan.

                Kesimpulan umum ialah bahwa keuangan berbeda dengan perdagangan. Kalau keterbukaan terhadap perdagangan biasanya menguntungkan dan menuntut relatif sedikit perubahan kebijakan tambahan, tidak demikian dengan keuangan.

    (hlm.342)

    Jika inflasi naik dan arus modal bebas keluar, maka modal lari keluar. Akibatnya, nilai mata uang dalam negeri turun.

    Tidaklah mengeherankan bahwa FDI relatif berfungsi baik, karena risikonya ditanggung mereka yang langsung bertanggung jawab mengelola aset. Tidak demikian bila bicara tentang utang. Karena itu, tampaknya aktivis yang memprotes investasi langsung lebih dari segala hal lain telah salah memahami keaadaan hampir persis kebalikannya.

    Pada tahun 1960-an, warga Britania tidak boleh membawa lebih dari secuil uang ke luar negeri. Ini lebih buruh daripada sekadar menimbulkan rasa malu dan ketidaknyamanan. Kebijakan itu dirancang untuk memungkinkan pemerintah menghindari dampat tingkay nilai tukar dari kebijakan inflasi yang dirancang untuk mempertahankan ketersediaan lapangan kerja sepenuhnya yang dituntut persatuan buruh. Ini adalah kebijakan pemangsa. Ujung-ujungnya ia menghancurkan tabungan dari sebagian besar kelas menengah Britania. Kalau uang dibawa keluar negeri, kebijakan yang berbahaya dan pada akhirnya tidak bisa langgeng itu sudah akan dihentikan jauh lebih awal. Inilah artinya, seperti telah dibahas di bab sebelum ini, kemungkinan mobilitas modal memberikan kendala yang bagus terhadap negara.

    (hlm.343-344)

    Pihak luar membawa lima keuntungan. Pertama adalah pengetahuan keterampilan yang lebih unggul dan efisiensi. Kedua ialah kemampuan untuk memanfaatkan ekonomi skala yang diciptakan pasar dunia. Ketiga ialah kemampuan mengangkat keterampilan dan pengalaman regulator dari negeri penerima investasi yang baru masuk ke dalam pasar finansial. Keempat ialah gangguan yang bermanfaat terhadap koneksi-koneksi orang dalam domestik yang memungkinkan terjadinya monopolisasi sistem finansial oleh kelompok-kelompok orang kuat, dengan merugikan pembayar pajak dan pelanggan kecil, seperti penyedia dan calon pemanfaat dana. Terakhir, negeri-negeri dengan proporsi tinggi bank milik asing dan proporsi lebih kecil bank milik negara juga lebih tahan terhadap krisis finansial, mungkin karenabank-bank asing teregulasi lebih baik, dikelola lebih baik, atau hanya karena lebih tahan terhadap tekanan untuk memberikan pinjaman yang tidak bijak.

    (hlm.345)

                Alasan keempat untuk percaya bahwa liberalisasi finansial itu baik ialah bahwa kontrol itu sendiri mahal biayanya dan makin tidak efektif. Kontrol pergerakan devisa adalah sumber utama korupsi dan pelanggaran hukum oleh orang-orang yang dalam hal lain jujur.

    (hlm.346)

                Alasan kelima untuk percaya bahwa penghapusan kontrol itu bagus adalah bahwa ia pasti akan memaksakan adanya peninjauan ulan dan reformasi sektor finansial.

    (hlm.347)

    Ketotolan IMF

    (morald hazard- godaan terhadap orang untuk bertindak tidak etis karena risikonya kecil atau bahkan menguntungkan)

    (hlm.348)

                Seperti yang diakui sendiri oleh Stiglitz dengan ogah-ogahan, negeri-negeri harus hidup sesuai dengan kemampuan mereka. Lelucon beredar bahwa IMF adalah singkatan dari “it’s mostly fiscal” (yang penting fiskal). Sayang sekali, memang yang penting fiskal. Kritik yang tepat terhadap IMF ialah bahwa ia adalah seekor landak- yaitu, seseorang yang hanya tahu satu trik besar- yang berpura-pura jadi musang- yaitu, seseorang yang dengan fkesibel menguasai banyak trik. Tapi apa yang ia ketahui sebagai landak hampir selalu relevan. Memang yang penting fiskal. Negeri-negeri dengan posisi fiskal yang solid jarang jatuh ke dalam krisis ekonomi serius.

    (hlm.349)

    Pengemis, demikian kata pepatah, tidak bisa pilih-pilih. Negeri-negeri yang berpaling kepada IMF adalah pengemis. Mereka tidak bisa memilih lain daripada menyesuaikan diri. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya.

                Pendek kata, tuduhan “satu kebijakan untuk semua masalah” memang ada benarnya. Tapi tidak terlalu mengesankan, karena, sayang sekali, banyak sekali negeri yang jatuh ke dalam masalah yang persis sama: mereka membuat pengeluaran lebih besar daripada kemampuan mereka dan kehabisan kredit, di dalam dan luar negeri, yang diperlukan untuk mempertahankan keadaan yang menyenangkan itu. Pada umumnya, solusinya pun selalu sama: pemerintah-pemerintah harus mengurangi belanja mereka dalam kaitan dengan pemasukan. IMF ada untuk menyelamatkan negeri-negeri, dengan membuat penyesuaian itu sedikit kurang menyakitkan daripada yang sebetulnya akan terjadi. Tapi ia sama sekali tidak bertanggung jawab atas bencana itu, sama seperti petugas ambulans yang datang di tempat tabrakan bobil.

    (hlm.351)

    Dalam kasus Indonesia, misalnya, keluarga Soeharto dan rekan-rekannya berperilaku jauh lebih buruk daripada yang disadari sebagian besar pihak luar. IMF tidak bertanggung jawab untuk semua itu dan, pada waktu itu ia dipanggil masuk, sudah sangat terlambat untuk mendapatkan obat yang tidak menyakitkan seperti yang dicari Stiglitz.

    (hlm.353)

                Jadi siapa yang benar? Sekarang saya akan berkata bahwa IMF tidak bisa dinyatakan “tidak bersalah” atas tuduhan melakukan segala macam blunder selama terjadinya krisis. Kasusnya, dalam terminologi legal Skoltlandia, “tidak terbukti”. Ketidaktahuan ini antara lain disebabkan ketidakmampuan kita untuk mengadakan eksperimen terkontrol dalam ekonomika.

    (hlm.355)

    Kalau saja Jepang, misalnya, berani melawan Departemen Keuangan Amerika Serikat dan mendirikan Dana Moneter Asia yang disarankannya, posisi IMF akan sangat berbeda.

    (hlm.361)

    Kebijakan-kebijakan lebih baik di pusat dan pinggiran

    Dalam sejarah, arus modal sebagian besar mengalir ke negeri-negeri yang pemerintahnya dipercaya oleh penyedia modal.

    (hlm.362)

    Lagi-lagi, cara terbaik adalah lewat signal-signal pasar: tingkat suku bunga mengambang seharusnya membuat para bankir dan korporasi-korporasi nonfinansial sadar akan perlunya mengawasi ketidakcocokan semacam itu dengan lebih waspada.

    Dengan kata lain, suatu negeri berdaulat tidak bisa dinyatakan bangkrut dan ditaruh di bawah semacam administrasi, seperti yang bisa dilakukan terhadap entitas lain. Kalau bisa, ia tidak lagi berdaulat. Lebih dari dua dekade lalu, bankir komersial Amerika yang terkenal, Walter Wriston, berkata bahwa negeri-negeri tidak bisa bangkrut. Dia benar. Negeri-negeri tidak bisa bangkrut. Dia benar. Negeri-negeri tidak bisa bangkrut. Para bankir mereka bisa – dan sepanjang sejaarh itu terus terjadi. Tapi negeri berdaulat, walaupun tidak bisa bangkrut, tetap bisa jatuh dalam kesulitan-kesulitan. Pertanyaan nya ialah lantas apa yang harus dilakukan.

    (hlm.366)

    Usul Profesor Tobin adalah suatu pajak yang sangat rendah atas setiap transaksi mata uang individual. Ini, katanya, akan mempermudah pemerintah-pemerintah menetapkan kebijakan-kebijakan moneter dan fiskal mereka sendiri, tanpa keprihatinan berlebihan terhadap tingkat nilai tukar. Gagasan ini menimbulkan tiga pertanyaan: akankah ia menstabilkan pasar mata uang? Akan baikkah menstabilkan pasar mata uang dengan cara seperi itu? Bisakah ia dilaksanakan? Jawaban atas ketiga pertanyaan ini kemungkinan besar ialah tidak.

    (hlm.369)

    Bagian V

    Bagaimana Membuat Dunia Lebih Baik

    (hlm.371)

    Bab 14

    Ancaman Hari Ini, Harapan Esok Hari

    Usaha natural setiap individu untuk memperbaiki kondisinya sendiri, apabila dia bisa berjuang keras dalam kebebasan dan keamanan, pada prinsipnya begitu dahsyat, sehingga dengan itu saja, tanpa bantuan apa pun, bukan hanya sanggup membawa masyarakat menuju kekayaan dan kemakmuran, tapi juga mengatasi seribu satu penghalang tetekbengek yang seringkali dibuat oleh kebodohan hukum-hukum manusia untuk mengekang perjuangannya itu; walaupun dampak penghalang-penghalang itu biasanya kalau bukan membatasi kebebasannya, tentu mengurangi keamanannya.

    (hlm.372)

    Pertama, bab ini menganalisis apakah mungkin terjadi sekali lagi integrasi ekonomi global akan runtuh, serupa dengan yang terjadi kedaulatan nasional dan demokrasi dengan keinginan mencapai kemakmuran universal dan penyediaan barang dan jasa publik global, ketiga ia mempertimbangkan sejauh mana kritik antiglobalisasi menolong kita menangani dilema-dilema itu. Terakhir, ia menyarankan beberapa jalur yang bisa ditempuh menuju masa depan.

    (hlm.373)

    Ancaman terhadap globalisasi

    Persaingan internasional

    Sebab pertama keruntuhan pada tahun 1930-an adalah ambruknya relasi internasional yang harmonis, sementara persaingan di antara kekuatan-kekuatan besar dan kebangkitan komunisme dan fasisme memecah-belah buana ini. Tapi kini situasinya berubah dalam empat hal mendasar.

                Pertama, ada satu hegemon tunggal yang tak tertandingi, Amerika Serikat dan sedikit saja kemungkinan akan terjadi perang di antara kekuatan-kekuatan besar dalam waktu dekat, kecuali mungkin antara Amerika dan Cina atas Taiwan.

                Kedua, semua kekuatan besar sudah meninggalkan gagasan ketinggalan zaman bahwa kemakmuran dihasilkan dari perolehan teritorial dan penjarahan, beralih pada pembangunan ekonomi dan perdagangan damai.

    Ketiga, semua kekuatan besar sama-sama berkomitmen terhadap pembangunan ekonomi yang dituntun pasar serta integrasi ekonomi dan politik internasional.

    (hlm.374)

                Keempat, institusi-institusi global dan kebiasaan melakukan kerjasama erat memperkuat komitmen pada kerjasama.

    (hlm.375)

    Instabilitas

    Karena itu, bencana yang terjadi di Argentina dengan keruntuhan dewan mata uangnya pada akhir tahun 2001 harus dilihat sebagai akhir suatu era, bukan awal suatu era baru.

    Sebagian transfer sekarang terjadi dalam bentuk investasi langsung asing yang berjangka lebih panjang panjang dan lebih sinambung.

    (hlm.378)

    Gagasan-gagasan

    Mereka pada umumnya menolak politik kepartaian. Mereka tidak menawarkan cara alternatif mengelola ekonomi. Mereka terpecah-belah dalam tujuan mereka: ada yang ingin kedaulatan nasional yang lebih besar, sementara ada lagi yang ingin pemerintah global, ada yang mau pembangunan di negeri-negeri miskin,sementara ada lagi yang mau mengehentikannya; ada yang menentang integrasi internasional, sementara menerima beberapa macam bentuk ekonomi pasar; ada yang ingin kembali ke masa lalu yang berlingkungan hidup murni; ada yang menentang korporasi; ada yang menentang negara-negara penindas; dan ada lagi yang mentang segala macam perubahan ekonomi.

    (hlm.381)

    Dilema besar

                Kalau kita seterusnya bertanya apakah mekanisme paling ampuh untuk memastikan bahwa kekuatan-kekuatan konvergensi ekonomi mengalahkan kekuatan divergensi, jawabannya haruslah integrasi yurisdiksional. Ia memaksa semua anggotanya untuk menerima kebebasan berdagang, berimigrasi, dan memindahkan modal.

                Kita bahkan bisa lebih jauh lagi. Bayangkan integrasi yurisdiksional bukan hanya dalam arti Uni Eropa kontemporer, tapi dalam arti negara federal kontemporer, misalnya, Amerika Serikat. Bayangkan Amerika Serikat bukan salah satu negeri di dunia, tapi telah menjadi suatu federasi global yang menawarkan hak pilih setara kepada semua orang. Maka sumber daya yang jauh lebih besar akan mengalir ke wilayah-wilayah lebih miskin dari Amerika Serikat imajiner yang mencakup seluruh dunia itu, untuk membiayai infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan sistem hukum dan ketertiban.

    (hlm.382)

                Eksperimen pikiran ini menjelaskan apa yang sampai sekarang merupakan sumber paling utama ketidaksetaraan dan kemiskinan yang tak hilang-hilang: fakta bahwa umat manusia terkunci ke dalam hampir 200 negeri berbeda, di antaranya ada yang makmur, terperintah dengan baik, dan beradab, sementara banyak yang lain miskin, di bawah pemerintahan buruk, dan tampaknya tidak mampu menyediakan fondasi-fondasi bagi keadaan yang memadai.

    (hlm.384)

    Belajar dan Kritik

    Anarkis, misalnya, percaya akan kemungkinan adanya suatu masyarakat tanpa pemerintah dan koersi. Tapi tanpa negara kekuasaan akan jatuh ke tangan gangster: Sierra Leone bukanlah model untuk mendirikan suatu dunia.

    (hlm.386)

    Tantangan global

    Dunia macam apa yang sekarang harus didukung oleh orang yang mengerti akan kemampuan dari kekuatan-kekuatan pasar untuk membuat kehidupan manusia lebih baik? Apa heran yang harus dimainkan institusi-institusi internasional? Dan sampai di manakah batas-batas wajar untuk kedaulatan nasional?

                Pertama, ekonomi pasar adalah satu-satunya sistem yang dapat menghasilkan pengingkatan kemakmuran yang sinambung, asalkan didukung oleh demokrasi liberal yang stabil dan setiap individu manusia diberikan kesempatan mengejar apa yang mereka inginkan dalam hidup.

                Kedua, negara-negara individual tetap merupakan lokus perdebatan dan legitimasi politik. Institusi-institusi supranasional memperoleh legitimasi dan otoritas mereka dari negara-negara yang menjadi anggota mereka.

                Ketiga, demi kepentingan mereka sendiri, baik negara-negara maupun penduduk mereka perlu berpartisipasi dalam sistem dan institusi berbasis perjanjian internasional untuk menciptakan barang dan jasa publik global, termasuk pasar terbuka, perlindungan lingkungan hidup, kesehatan, dan keamanan internasional.

                Keempat, sistem-sistem seperti itu harus spesifik, terfokus, dan bisa diterapkan.

                Kelima, WTO, walaupun sangat berhasil, sudah melenceng terlalu jauh dari fungsi-fungsi primernya mendukung liberlisasi perdagangan.

                Keenam, argumen untuk sistem-sistem yang mencakup investasi dan kompetisi global memang kuat.

                Ketujuh, negeri-negeri punya kepentingan jangka panjang untuk berintegrasi ke dalam pasar-pasar finansial global.

    (hlm.387)

                Kedelapan, karena tidak ada pemberi pinjaman upaya terakhir global, perlu diterima adanya penghentian pembayaran dan renegosiasi utang negeri berdaulat.

                Kesembilan, bantuan pembangunan resmi sama sekali tidak menjamin pembangunan yang berhasil.

                Kesepuluh, negeri-negeri harus belajar dari kesalahan mereka sendiri.

                Semua titah ini penting. Tapi dua yang pertama adalah yang paling penting.

    (hlm.388)

    Catatan

    Kata pengantar

    Dalam buku ini, liberalisme pada intinya adalah John Stuart Mill dan mencakup kebebasan ekonomi, pribadi, dan sivik. “Tujuan tunggal yang boleh dijadikan alasan oleh umat manusia, secara individual atau pun kolektif, untuk mengganggu gugat kebebasan anggotanya yang mana pun ialah perlindungan diri… kepentingannya sendiri, baik fisik maupun moral, bukanlah alasan yang cukup.”

    (hlm.390)

    Vincent Cable, dalam analisis singkatnya yang hebat tentang globalisasi, mendaftarkan lima kategori antiglobalis: nasionalis, merkantilis, regionalis, teoretikus ketergantungan, dan aktivis lingkungan hidup fanatik.

    (hlm.392)

    Di antara buku-buku yang mendukung ekonomi pasar global yang secara khusus saya nikmati ialah karya Johan Norberg In Defence of Global Capitalism (Stockholm: Timbro, 2001) dan Philippe Legrain Open World: the Trurh about Globalization (London: Abacus, 2002). Saya juga menarik manfaat dari John Micklethwait dan Adrian Woolddrige, A Future Perfect: The Challenge and Hidden Promise of Globalization (New York: Random House, 2000) (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Freedom Institute dengan judul Masa Depan Sempurna: Tantangan dan Janji Globalisasi- pen). Kontribusi resmi yang penting adalah Globalization,Growth & Poverty: Building an Inclusive World Economy (Washington DC: World Bank, 2002) dan Eliminating World Poverty: Making Globalization Work for the Poor, laporan resmi tentang pembangunan internasional (White Paper on Internasional Development), Secretary of State for Internasional Development, Desember 2000, www.globalisation.gov.uk. Buku yang paling mirip dengan buku ini dalam hal tema, waalaupun mengikuti garis libertarian secara lebih komplit, adalah Brink Lindsey, Against the Dead Hand: The Uncertain Struggle for Global Capitalism (New York: John Wiley, 2002). Saya sangat mengagumi semangat dan imajinasi karya Thomas Friedman The Lexus and the Olive Tree (London: HarperCollins, 2000),walaupun saya rasa Friedman kadang-kadang terbawa oleh kedahsyatan gaya bahasanya sendiri. Mengenai perdagangan, saya sangat terbantu oleh Jagdish Bhagwati, Free Trade Today (Princeton: Princeton University Press, 2002) dan Douglas A. Irwin, Free Trade under Fire (Princeton: Princeton University Press, 2002).

    (hlm.394)

    3. Dalam suatu tinjauan yang penting di atas ekonomika institusional, Oliver Williamson dari University of California, Berkeley, membagi analisis itu ke dalam empat level: pertama, adat istiadat, tradisi, norma, dan agama, yang berubah sangat pelan dan tidak secara langsung diatur oleh ekonomi; kedua, aturan-aturan permaianan institusional – hak milik dan pelaksanaan sistem politik, peradilan, dan birokrasi; ketiga, pelaksanaan permainan itu, atau sistem kelola (governance) institusi-institusi; dan, terakhir, alokasi sumber daya. Diskusi disini berhubungan dengan level pertama, tapi sebagian besar bab ini terutama membahas implikasi-implikasi yang lebih luas dari level kedua. Yang ketiga dan keempat di bahas di bab berikut. Lihat Oliver Williamson, “The New Institutional Economics: Taking Stock, Looking Ahead”, Journal of Economic Literature.September 2000, h. 595-613.

    4. Trinitas liberal klasik terdiri dari kehidupan, kemerdekaan, dan hak milik, yabg oleh Thomas Jefferson, dalam Pernyataan Kemerdekaan, diubah menjadi kehidupan, kemerdekaan, dan pengejaran kebahagian. Di antara tulisan terbaik mengenai ciri mendasar suatu masyarakat bebas, dan khususnya, peran hukum adalah karya Friedrich A. Hayek, The Constitution of Liberty (Chicago: University of Chicago Press, 1960).

    (hlm.395)

    Pada 1078, Cina memproduksi 125.000 ton besi. Pada 1788, produksi di Inggris dan Wales masih Cuma 76.000 ton. Ibid., h.27.

    (hlm.397)

    Bab 4: ‘Sihir’ Pasar

    4. Jared Diamond, Guns, Germs and Steel: The Fates of Human Societies (New York and London: W.W. Norton, 1981) menyajikan kisah tambahan menarik revolusi agraris. Yang pertama menekankan ekologi unik wilayah-wilayah tempat revolusi itu dimulai, khususnya keberagaman tumbuhan dan binatang yang bisa dibudayakan. Yang terakhir menunjuk pada insentif ekonomi untuk beralih dari pemburu-peramu menjadi pengolah tanah-pemburu-peramu dan, akhirnya, tahap pengolah tanah , sementara junlah penduduk meningkat. Menariknya, penguasa-petempur masyarakat agraris memandang pemburuan sebagai pertanda status superior mereka. Adalah konsisten dengan pskologi evolusioner kontemporer untuk merasa bahwa kehilangan budaya perburuan itu seperti pengebirian.

    5. cepat atau lambat bandit-bandit yang menetap ini akan memperkokoh posisi mereka dengan menyebut diri sendiri kaisar atau raja atau mengklaim sebentuk restu ilahi atas kekuasaan mereka. Lihat Mancur Olson, Power and Prosperity: Outgrowing Communist and Capitalist Dictatorship (New York: Basic Books, 2000), bab 1.

    (hlm.398)

    10. Lihat David Landes, The Wealth and Poverty of Nation: Why Some are So Rich and Some So Poor (London: Little Brown, 1998), h.513.

    11.Dalam tulisan-tulisan mengenai teknologi, inovator adalah orang yang membuat suatu temuan menguntungkan secara ekonomis. Dia membawa temuan-temuan ke dalam wilayah pasar.

    15. ada banyak perdebatan tentang mengapa suatu lepas landas Promethean tidak terjadi dalam dunia Islam. Alasan utamanya pastilah soal lingkungan. Sebagian besar dunia Islam terdiri dari wilayah gersang, yang membatasi produktivitas pertanian.hampir tidak ada kemungkinan memanfaatkan air mengalir untuk menggerakkan mesin-mesin. Tenaga air mendahului uap di Eropa bagian barat. Batubara dan besi tidak tersedia, sementara minyak ditemukan dan dimanfaatkan hanya pada abad ke-20. Teka-teki mengenai dunia Islam bukanlah bahwa ia tertinggal dari Eropa sampai pertengahan abad ke-20, tapi mengapa ia tertinggal jauh dari Asia Timur pada paruhan kedua abad ke-20.

    20.tak perli diingat bahwa, untuk mengambil satu contoh saja, susu sapi adalah minuman yang sangat berbahaya sebelum pasturisasi. Tuberkulosis adalah satu saja dari ancaman yang diberikannya.

    33. Artikel klasik mengenai teori biaya-transaksi perusahaan adalah Ronald Coase, “The Nature of the Firm”, economica, vol.4, No. 6, (1937), h.386-405

    (hlm.400)

    35. kalau semua kontrak bisa dirinci, pemegang saham tidak diperlukan. Tapi dengan asumsi seperti ini juga tidak akan ada perusahaan. Seperti dikatakan Profesor McMillan, “kepemilikan adalah cara masyarakat mengatasi hal-hal yang tidak bisa diperkiran.”

    36. Mancur Olson-lah yang mengadakan studi klasik mengenai logika tindakan kolektif, yang beragumen bahwa kepentingan-kepentingan yang terkonsentrasi akan lebih bisa terwujudkan daripada kepentingan-kepentingan yang tersebar luas karena tindakan kolektif punya ciri-ciri barang dan jasa publik – yaitu, tukang nebeng tidak bisa dicegah ikut menikmati manfaatnya.

    (hlm.402)

    Bab 5: Wahai Tabib, Sembuhkanlah Dirimu Sendiri

    17. Sebagai kolumnis di Financial Times, saya mengerti bahwa pengaruh saya atas kebijakan beberapa kali lipat lebih besar daripada warga pada umumnya. Politik demokratik dalam hal ini sangat tidak egaliter. Setiap orang boleh jadi punya satu suara hak pilih, tapi tidak setiap orang punya suara yang sama didengarkan.

    30. salah satu unsur yang paling mengecewakan dari buku Joseph Stiglitz, Globalization and its Discontents (London: Allen Lane, Penguin Press, 2002) adalah bahwa penulis yang ternama itu  tampaknya mengasumsikan bahwa monopoli kekuasaan pemerintah akan hampir selalu dijalankan dengan budiman. Baik teori maupun pengalaman tidak konsisten dengan asumsi itu.

    Bab 6: Pasar Melintas Batas

    (hlm.403)

    8. Ekonom yang paling kuat berargumen bahwa negeri-negeri tidak bersaing seperti perusahaan-perusahaan ialah Paul Krugman. Lihat “Competitiveness: A Dangerous Obsession”, Foreign Affairs 73 (Maret-April 1994), h. 28-44 dan “Ricardo’s Difficult Idea: Why Intellectuals Dont’s Understand Comparative Advantage”, dalam Gary Cook (ed.), The economics and politics of international Trade, Volume 2 dari Freedom and Trade (London: Routledge, 1998)

    (hlm.404)

    17. Robert E. Lucas, “Why doesn’t Capital Flow from Rich too Poor Countrie?” America Economic Review, 80 (Mei 1990), h. 92-6.

    21. suatu analisis menarik mengenai krisis finansial Asia 1997-8 yang menekankan sandungan moral yang diciptakan jaminan pemerintah terdapat dalam Giancarlo Corsetti Paolo Pesenti, dan Nouriel Roubini, “Paper Tigers? A Model of the Asian Crisis”, National Bureau of Economic Research, Working Paper 6783, www.nber.org, November 1998.

    25. Daron Acemoglu Simon Johnson, dan James A. Robinson, dalam “Reserval of Fortune: Geography and Institutions in the Making of the Modern World Income Distribution”, National Bereau of Economic Research Working Paper 8460, 2001, dan Quarterly Journal of Economics, Vol. 117, berargumen bahwa tempat-tempat yang sekarang kaya itu miskin pada 1500 dan sebaliknya, karena pengeloni Eropa menerapkan institusi-institusi penyedot kekayaan di tempat-tempat kaya yang mereka duduki (seperti India dan Meksiko) dan menempatkan institusi-institusi pencipta kekayaan di tempat-tempat miskin (Seperti Amerika Utara). Teori ini rapi. Tapi banyak negeri yang pada 1500 sudah punya institusi-institusi penyedot kekayaan efisien yang dibuat oleh kaum elite mapan mereka sendiri. Yang harus dilakukan pengoloni hanyalah mengambil-alih. Ini jelas benar di India. Perbedaanya mungkin bahwa dalam masyarakat-masyarakat agrasis kaya, sistem-sistem penyedot kekayaan sudah mendarah daging dan masih berlangsung di tangan politikus-politikus lokal sampai hari ini. Tapi di tempat-tempat yang jarang berpenghuni, institusi-institusi yang menciptakan kekayaan besar bukanlah kebetulan bahwa semua institusi-institusi itu diperkenalkan oleh orang Brintani.

    (hlm.406)

    Bab 7: Nasib Globalisasi dalam Jangka Panjang

    12. Dari 1371 sampai 1567, pelayaran swasta ke negeri-negeri asing dilarang oleh istana kekaisaran. Pada 1436, istina “mengeluarkan dekrit melarang pembuatan kapal-kapal baru yang laik laut” (ibid., h. 45).

    (hlm.411)

    Bab 9: Murka atas Ketidaksetaraan

    20. GDP menurut paritas daya beli adalah konsep yang sangat penting untuk pembandingan standar-standar penghidupan di antara negeri-negeri sehingga perlu ada penjelasan panjang lebar. Tujuan utamanya ialah memperbandingkan standar-standar penghidupan di antara negeri-negeri miskin, dengan produktivitas dan upah rill rendah, layanan jasa yang tidak bisa diperdagangkan itu jauh lebih murah daripada di negeri-negeri kayan kalau orang menukar menurut tingkat nilai tukar resmi. Jadi, dikonversi dengan cara seperti itu, standar penghidupan orang-orang di negeri-negeri miskin sendirinya terlalu dilebih-lebihkan.

    (hlm.412)

                Jadi bagaimana orang bisa membuat perbandingan standar penghidupan yang tepat untuk perbedaan-perbedaan dalam harga-harga relatif ini? Metode yang dirancang dalam suatu proyek riset penting tiga dekade lalu adalah menilai konsumsi di seluruh dunia menurut suatu harga umum internasional. Harga-harga itu adalah rata-rata tertimbang (weighted average) harga-harga dunia, dan timbangnya adalah konsumsi global produk dan jasa terkait.

                Ini adalah satu-satunya jalan memperbandingkan standar penghidupan di antara negeri-negeri. Tapi ada kekurangan yang tidak bisa dihindari. Di antara kekurangan yang paling penting adalah kesulitan memperbandingkan kualitas barang dan, apalagi, jasa di antara negeri-negeri.

    (hlm.413)

    Koefisien gini untuk negeri-negeri di dunia berbeda antara mendekati 0.25 untuk negeri-negeri berpenghasilan tinggi yang egaliter, seperti Denmark dan Jepang, dan mendekati 0,6 untuk Brazil, negeri paling tidak egaliter di dunia. Pada 1997, indeks Amerika Serikat adalah 0,41 dan Kerajaan Serikat 0,37. Lihat World Development Indicators 2002, Table 2.8.

    (hlm.421)

    Bab 10: Trauma terhadap perdagangan

    50. Kisah Mauritius dijelaskan dengan baik oleh Dani Rodrik, The New Global Economy: Making Openness Work, Policy Essay N0.24 (Baltimore: Johns Hopkins University Press, untuk Overseas Development Council, 1998), h. 44-8.

    74. Barang dan jasa publik murni punya dua ciri: pertama tidak ada siapa pun yang bisa di cegah untuk mengonsumsinya; kedua, ia bisa dikonsumen tanpa menjadi berkurang. Kualitas pertama membuat barang dan jasa itu non-ex-cludable (tidak bisa mengecualikan orang); yang kedua membuatnya non-rival (tanpa saingan). Barang dan jasa semacam itu biasanya tidak  bisa disediakan dengan cukup oleh pasar. Kesepakatan global untuk meliberalisasi perdagangan punya unsur-unsur barang dan jasa publik yang kuat. Banyak diantaranya mengambil bentuk dampak-dampak jaringan. Jadi setiap negeri anggota (dan sering kali juga bukan-anggota) menarik manfaat dari perjanjian perdangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang berdasarkan non-diskriminasi.

    (hlm.426)

    Bab 11: Gentar terhadap Korporasi

    23. Robert E. Lipsey dan Fredrik Sjoholm “Foreign Direct Invesment and Wages in Indonesian Manufacturing”, National Bureau of Economic Research Working Paper 8299, Mei 2001.

    (hlm.431)

    Bab 13: Negeri terhadap Keuangan

    35. Mengenai masalah sandungan moral, lihat Thomas D. Willett, Aida Budiman Arthur Denzau, Gab-Je Jo, Caesar Ramos, dan John Thomas, “The Falsification of Four Popular Hypotheses about the Asian Currency Crisis”, The World Economy,Vol. 27 (Januari 2004), h. 25-44.

    (hlm.437)

    Daftar Pustaka

    Darwin, Charles, The Descent of Man and Selection in Relation to Sex. Edisi kedua. London: John Murray, 1882.

    De Soto, Hernando, The Other Path: The Invisible Revolution in the Third world, New York: Happer & Row, 1989.

     

     

    Paradoks Kemakmuran

    Clayton M. Christensen dkk

    Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dan terjemahkan dari buku Paradoks Kemakmuran oleh Clayton M. Christensen, Efosa Ojomo dan Karen Dillon

    Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

    Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

    Selamat membaca.

    Chandra Natadipurba

    ===

    Paradoks Kemakmuran: Bagaimana Inovasi Dapat Mengangkat Negara-Negara dari Kemiskinan

    oleh

    Clayton M. Christensen, Efosa Ojomo dan Karen Dillon

    Dicetak di Amerika Serikat. Untuk informasi, hubungi HarperCollins Publishers, 195 Broadway, New York, NY 10007.
    ISBN: 97800628551826

    Kata Pengantar

    Mengapa beberapa negara berhasil mencapai kemakmuran, sementara yang lain terjebak dalam kemiskinan yang mendalam?

    Tidak terlalu lama yang lalu, Amerika juga sangat miskin, penuh dengan korupsi, dan dikelola dengan kacau.

    Selama beberapa dekade, kami mempelajari cara mengatasi kemiskinan dan menciptakan pertumbuhan ekonomi di negara-negara miskin, dan kami telah melihat beberapa kemajuan nyata. Misalnya, tingkat kemiskinan ekstrem secara global menurun dari 35,5 persen pada tahun 1990 menjadi sekitar 9,6 persen pada tahun 2015.6 Ini mewakili lebih dari satu miliar orang yang telah terangkat dari kemiskinan sejak 1990.

    Namun, meskipun statistik tersebut dramatis, bisa jadi memberikan kesan kemajuan yang salah. Dari sekitar satu miliar orang yang terangkat dari kemiskinan, mayoritas – sekitar 730 juta – berasal dari satu negara: Tiongkok. Tiongkok berhasil mengurangi tingkat kemiskinan ekstremnya dari 66,6 persen pada tahun 1990 menjadi kurang dari 2 persen saat ini.
    (hlm viii)

    Meskipun benar bahwa kita telah mencapai kemajuan, tampaknya tidak ada kesepakatan tentang cara memberantas kemiskinan.
    (hlm ix)

    “Kekurangan air adalah hal pertama yang menyentak Anda ketika Anda mengunjungi komunitas miskin.”
    (hlm x)

    Menurut sebuah studi oleh International Institute for Environment and Development, terdapat lebih dari lima puluh ribu sumur yang rusak di seluruh Afrika saja.
    (hlm xi)

    Mengurangi kemiskinan tidak sama dengan menciptakan kemakmuran.
    (hlm xii)

    Pendahuluan Paradoks Kemakmuran

    Gagasan Singkatnya
    Sebaliknya, kami percaya bahwa bagi banyak negara, kemakmuran biasanya mulai berakar di ekonomi ketika kita berinvestasi pada jenis inovasi tertentu – inovasi yang menciptakan pasar – yang sering kali berfungsi sebagai katalis dan fondasi bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
    (hlm 7)

    Teori yang baik membantu kita memahami mekanisme mendasar yang mendorong sesuatu. Terobosan nyata dalam penerbangan manusia tidak datang dari merancang sayap yang lebih baik atau menggunakan lebih banyak bulu, meskipun itu adalah hal-hal yang baik.

    Terobosan itu dibawa oleh matematikawan Belanda-Swiss, Daniel Bernoulli, dan bukunya Hydrodynamica, sebuah studi tentang mekanika fluida.

    Pada tahun 1738, dia menguraikan apa yang kemudian dikenal sebagai Prinsip Bernoulli, sebuah teori yang, ketika diterapkan pada penerbangan, menjelaskan konsep lift. Kami telah beralih dari korelasi (sayap dan bulu) ke kausalitas (lift). Penerbangan modern dapat ditelusuri langsung kembali ke pengembangan dan adopsi teori ini.
    (hlm 8)

    Jalur yang Terabaikan Menuju Kemakmuran

    Definisi kami tentang inovasi mengacu pada sesuatu yang cukup spesifik: perubahan dalam proses yang digunakan oleh organisasi untuk mengubah tenaga kerja, modal, bahan, dan informasi menjadi produk dan layanan dengan nilai yang lebih tinggi.5
    (hlm 10)

    Tidak Semua Inovasi Sama

    Gagasan Singkatnya
    Selama bertahun-tahun, penelitian kami menemukan bahwa ada tiga jenis inovasi: inovasi pemeliharaan, inovasi efisiensi, dan inovasi penciptaan pasar.
    (hlm 18)

    Mempertahankan Pertumbuhan di Pasar yang Matang dan Teretablisasi

    iPhone asli adalah inovasi penciptaan pasar, yang mengkatalisasi pasar baru untuk ponsel pintar dan aplikasi yang terkait, tetapi iPhone X adalah inovasi pemeliharaan.
    (hlm 24)

    Kekuatan Inovasi Penciptaan Pasar

    Pikirkan seperti ini: setiap pasar baru yang sukses, apa pun produk atau layanan yang dijual, memiliki tiga hasil yang berbeda: keuntungan, pekerjaan, dan perubahan budaya, yang paling sulit dilacak namun mungkin paling kuat dari ketiganya. Bersama-sama, ini menciptakan fondasi yang kuat untuk pertumbuhan di masa depan.

    Pekerjaan memberikan martabat kepada orang-orang dan membangun harga diri. Pekerjaan memungkinkan orang untuk menghidupi diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Penelitian berulang kali menunjukkan bahwa orang yang memiliki pekerjaan memiliki lebih sedikit waktu (atau kecenderungan) untuk terlibat dalam kejahatan.
    (hlm 35)

    Setelah Semua Dikatakan dan Dilakukan

    Almarhum pemenang Nobel, Milton Friedman, pernah menyatakan, “Keutamaan besar pasar bebas, pasar swasta, [adalah] memungkinkan orang… bekerja sama secara ekonomi.”
    (hlm 36)

    Dalam Perjuangan Terletak Peluang

    Gagasan Singkatnya
    Hingga saat ini, MicroEnsure, perusahaan yang didirikan oleh Leftley, telah mendaftarkan lebih dari lima puluh enam juta orang untuk asuransi di negara berkembang (delapan belas juta pada tahun 2017 saja), membayar klaim senilai $30 juta dengan menemukan peluang besar di konsumsi yang tidak ada – dan secara radikal menginovasi model bisnis asuransi untuk mewujudkannya.
    (hlm 46)

    Kisah Dua Ekonomi

    Dari sudut pandang inovasi, kami melihat dunia sedikit berbeda: negara terdiri dari konsumen (ekonomi konsumsi) dan nonkonsumen (ekonomi nonkonsumsi), sebuah perbedaan yang membantu mengidentifikasi wilayah subur bagi inovasi penciptaan pasar.
    (hlm 48)

    Jalan yang Dilewatkan Menuju Kemakmuran

    Contoh yang jelas dari penyebaran inovasi efisiensi di Meksiko adalah popularitas maquiladoras yang memainkan peran sangat spesifik dalam ekonomi.

    Jalan yang Dilewatkan Menuju Kemakmuran

    Dari sudut pandang inovasi, kami melihat dunia sedikit berbeda: negara terdiri dari konsumen (ekonomi konsumsi) dan nonkonsumen (ekonomi nonkonsumsi), sebuah perbedaan yang membantu mengidentifikasi wilayah subur bagi inovasi penciptaan pasar.

    Pada tahun 2016, sekitar $1,1 triliun dari total $1,5 triliun investasi asing langsung (FDI) global mengalir ke negara-negara terkaya di dunia, yaitu 35 negara anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Dengan kata lain, lebih dari 73 persen FDI global hanya masuk ke 35 dari 196 negara di dunia.
    (hlm 48)

    Perjuangan Nyata

    Alasan saya membeli koran jauh lebih spesifik. Saya mungkin membelinya karena saya butuh sesuatu untuk dibaca di pesawat dan tidak ingin terpaksa mengobrol dengan penumpang yang cerewet di sebelah saya.

    Atau saya mungkin membelinya karena saya penggemar basket dan ingin melihat bagian olahraga untuk menggoda salah satu anak saya tentang peluang tim favoritnya masuk ke babak playoff. Pihak pemasaran yang mengumpulkan informasi demografis atau psikografis tentang saya – dan mencari korelasi dengan segmen pembeli lainnya – tidak akan menangkap alasan-alasan tersebut.

    Sampai Anda memahami Pekerjaan yang diinginkan pelanggan Anda dari produk atau layanan Anda, dalam segala kompleksitas dan nuansanya, Anda tidak akan pernah yakin bahwa inovasi Anda akan berhasil.

    Inovasi penciptaan pasar yang sukses muncul dari Pekerjaan yang Perlu Dikerjakan yang tidak terpenuhi; mereka memecahkan masalah yang sebelumnya hanya memiliki solusi yang tidak memadai – atau bahkan tidak ada solusi sama sekali.
    (hlm 53)

    Hanya Karena Anda Tidak Melihatnya, Bukan Berarti Itu Tidak Ada

    Produsen microwave terbesar di pasar lokal Tiongkok memiliki penjualan tahunan sekitar 120.000 unit. Namun, pendiri Galanz melihat sesuatu yang berbeda: dia melihat orang-orang yang tinggal di apartemen kecil dengan kompor yang tidak ada atau yang besar dan tidak praktis.
    (hlm 60)

    “Melihat” Apa yang Tidak Bisa Dilihat

    Organisasi/Inovasi

    • Safaricom/M.PESA – sebuah platform seluler yang memungkinkan penyimpanan, transfer, dan menabung uang tanpa memiliki rekening bank
    • Tolaram/Mie Indomie – makanan yang enak, murah, dan mudah dimasak yang dapat disiapkan dalam waktu kurang dari tiga menit
    • Celtel/telepon seluler – layanan ponsel prabayar yang memungkinkan pelanggan membeli pulsa seharga 25 sen
      (hlm 63)

    Organisasi/Inovasi

    • Galanz/microwave – microwave murah (~$45) untuk rata-rata warga Tiongkok
    • Fyodor Biotechnologies/tes malaria urin (UMT) – tes malaria tanpa darah yang harganya kurang dari $2 dan memberikan hasil dalam waktu kurang dari dua puluh menit
    • Ford Motor Company/Ford Model T – mobil terjangkau untuk rata-rata orang Amerika
      (hlm 64)

    Organisasi/Inovasi

    • Earth Enable/lantai tanah – lantai yang diperkeras dengan biaya satu per lima dari biaya semen
    • Clinicas del Azúcar/perawatan diabetes – perawatan diabetes yang terjangkau dan nyaman di Meksiko
    • Grupo Bimbo/roti – roti berkualitas dengan harga terjangkau
      (hlm 65)

    Organisasi/Inovasi

    • Opticas Ver De Verdad/lensa resep – lensa resep yang terjangkau dan layanan perawatan mata untuk warga rata-rata Meksiko
    • MicroEnsure/asuransi – asuransi terjangkau untuk jutaan orang yang hidup dengan kurang dari $3 per hari
      (hlm 66)

    Catatan

    Profesor Prahalad membantu kami memahami bahwa melayani orang miskin bisa menguntungkan bagi banyak perusahaan yang sering mengabaikan mereka sebagai konsumen.
    (hlm 69)

    Tarik vs Dorong

    Gagasan Singkatnya
    Saat tulisan ini dibuat, MicroEnsure, perusahaan yang didirikan oleh Leftley, telah mendaftarkan lebih dari lima puluh enam juta orang untuk asuransi di negara berkembang (delapan belas juta pada tahun 2017 saja), membayar $30 juta dalam klaim dengan menemukan peluang besar dalam konsumsi yang tidak ada – dan secara radikal menginovasi model bisnis asuransi untuk memungkinkan hal itu terjadi.

    Perusahaan ini, yang telah memenangkan penghargaan Financial Times/IFC Transformational Business Award sebanyak empat kali dalam beberapa tahun terakhir, sudah menguntungkan di 80 persen pasar yang dimasukinya. Lebih dari 85 persen pelanggan MicroEnsure belum pernah membeli produk asuransi sampai MicroEnsure hadir. Inilah yang membedakan inovator penciptaan pasar – kemampuan untuk mengidentifikasi peluang di mana tampaknya tidak ada pelanggan.

    Tarik vs Dorong

    Kisah Dua Strategi

    36 Persen Pertumbuhan, 17 Tahun Berturut-turut
    Perusahaan sekarang menguasai 92 persen pasokan yang penting untuk memproduksi mie Indomie dan mengoperasikan tiga belas pabrik di Nigeria. Ini tidak berbeda dari yang dilakukan oleh Ford Motor Company, Celtel, atau Galanz ketika situasi menuntutnya.
    (hlm 83)

    Tidak Ada yang Dipecat karena Membangun Sumur

    Jika strategi tarik tampaknya lebih efektif daripada dorongan, lalu mengapa kita tidak mengalokasikan lebih banyak sumber daya kita ke strategi tarik? Ada beberapa alasan untuk ini, salah satunya adalah bahwa tidak ada yang benar-benar dipecat karena mendorong (push).
    (hlm 92)

    Catatan

    • Dalam bukunya Kicking Away the Ladder: Development Strategy in Historical Perspective, Chang menunjukkan bahwa banyak investasi yang dilakukan negara-negara miskin dengan harapan menghasilkan pertumbuhan ekonomi dilakukan pada tahap perkembangan yang berbeda dari negara-negara yang sekarang makmur. Investasi sering kali dilakukan terlalu cepat dan, sebagai konsekuensinya, belum berkelanjutan.
    • Tolaram Group didirikan di Malang, Indonesia, pada tahun 1948. Tolaram memulai usahanya dengan berdagang tekstil dan kain, dan sejak itu berkembang menjadi konglomerat manufaktur, real estat, infrastruktur, perbankan, ritel, dan e-commerce.
      (hlm 94)
    • Tolaram juga menciptakan pasar baru lainnya di Nigeria untuk barang-barang konsumen cepat saji, seperti pemutih dan minyak nabati. Sebelum Tolaram meluncurkan produk pemutih Hypo, kurang dari 5 persen orang Nigeria menggunakan pemutih untuk mencuci pakaian mereka. Tolaram melaporkan bahwa selama beberapa tahun terakhir, dengan memanfaatkan keahlian manufaktur dan distribusinya, mereka telah memperluas pasar itu hingga enam kali lipat, mencapai 30 persen dari populasi.
      (hlm 95)

    Kisah Inovasi Amerika

    Gagasan Singkatnya
    Bayangkan sebuah negara di mana harapan hidup rata-rata hanya empat puluh lima tahun, angka kematian bayi mencapai dua ratus per seribu kelahiran, dan kurang dari 5 persen orang memiliki akses ke pipa air dalam rumah.

    Di negara ini, rata-rata orang menghabiskan sekitar 52 persen dari penghasilan mereka untuk makanan. Tidak ada bantuan dari pemerintah, dan korupsi merajalela di semua tingkat – dari lokal hingga federal; koneksi, bukan kemampuan, yang menentukan sebagian besar pekerjaan di sektor pelayanan publik. Negara apa yang Anda kira ini?

    Ini adalah Amerika Serikat pada abad ke-19. Meskipun kita biasanya tidak berpikir demikian, Amerika dulunya sangat miskin – lebih miskin daripada beberapa negara yang paling terbelakang saat ini.
    (hlm 99)

    Amerika dijalankan secara serampangan dan kacau – pada satu titik, negara ini memiliki lebih dari delapan puluh zona waktu. Siang di Chicago adalah pukul 11:27 di Omaha dan pukul 12:31 di Pittsburgh.

    Namun, generasi inovator dan pengusaha Amerika mulai mengubah keadaan Amerika (termasuk bagaimana negara ini mengatur waktu, perubahan yang dibawa oleh proliferasi jalur kereta api), berhasil melawan rintangan yang tampaknya sangat besar, dengan merintis inovasi penciptaan pasar dan model bisnis baru yang memungkinkan produk-produk tersebut menjadi sederhana dan terjangkau.
    (hlm 101)

    Lahirnya Sebuah Industri

    Dengan perbaikan mekanis yang membuat mesin jahit menjadi lebih sederhana, lebih murah, dan lebih andal, mesin jahit Singer memungkinkan orang yang tidak terampil memproduksi sembilan ratus jahitan per menit. Ini berarti waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk menjahit sebuah kemeja berkurang dari sekitar empat belas jam menjadi hanya satu jam.
    (hlm 103)

    Semua ini terjadi tanpa bantuan langsung dari pemerintah. Faktanya, perusahaan I.M. Singer membantu pemerintah dengan menghasilkan pajak yang mendanai banyak layanan publik. Pada tahun 1890, misalnya, orang Amerika tidak mengharapkan banyak dari pemerintah federal mereka. Pemerintah federal Amerika Serikat mengelola militer, kebijakan luar negeri, tanah, perbendaharaan, dan tarif.

    Mereka tidak melakukan banyak hal lainnya.
    Sebagai contoh, tidak ada badan federal untuk Tenaga Kerja (itu baru ada pada tahun 1913), Urusan Veteran (1930), Kesehatan dan Layanan Masyarakat (1953), Perumahan dan Pembangunan Perkotaan (1965), Transportasi (1967), Energi (1977), dan Pendidikan (1979) sampai jauh ke dalam masa kehidupan Amerika sebagai negara merdeka. Badan-badan ini terbentuk dan berkembang seiring waktu sebagai respons terhadap seruan publik, atau untuk mengelola urusan pasar yang baru dan berkembang.
    (hlm 105)

    Model T Henry Ford

    Pada tahun 1900, jumlah mobil yang terdaftar di Amerika Serikat berjumlah 8.000; pada tahun 1910, hanya sepuluh tahun kemudian, jumlah ini mencapai 458.000; pada tahun 1920, jumlahnya mencapai 8 juta; dan pada tahun 1929, ada lebih dari 23 juta kendaraan bermotor yang terdaftar di negara tersebut.

    Pada awal abad ke-20, Amerika menghabiskan lebih dari $2 miliar setiap tahun untuk memelihara kuda, hampir sama dengan biaya pemeliharaan jalur kereta api. Di New York City, misalnya, pejabat kota harus menangani lebih dari empat puluh lima ribu ton kotoran kuda setiap bulan.
    (hlm 111)

    Ketika Ford menerapkan lini perakitan di pabriknya, pekerjaan menjadi monoton. Pekerja yang tidak terampil melakukan hal yang sama berulang kali selama sembilan jam sehari, enam hari seminggu, dan mendapatkan sekitar $2,34 per hari (setara dengan $60 dalam uang saat ini).

    Akibat monoton pekerjaan itu, tingkat pergantian pekerja di pabrik Ford melonjak hingga 370 persen setiap tahun. Ini berarti bahwa untuk setiap satu pekerjaan, Ford harus mempekerjakan empat orang untuk menjaga pabriknya tetap berjalan lancar. Itu tidak berkelanjutan.

    Untuk mengatasi masalah ini, pada tahun 1914, Ford menetapkan upah minimum $5 per hari, yang pada dasarnya menggandakan upah untuk pekerja pabriknya.
    (hlm 112)

    Namun, kenyataannya, Ford berfokus untuk menjaga pabriknya tetap beroperasi. Ford kemudian menyatakan bahwa kenaikan upah adalah “langkah pemotongan biaya paling cerdas yang pernah dilakukan perusahaan.” Pabrikan lain juga melihat manfaat dari langkah tersebut dan mengikuti, memilih upah yang lebih tinggi dalam operasi mereka.
    (hlm 113)

    Bagaimana Timur Bertemu Barat

    Gagasan Singkatnya
    Maju cepat ke masa kini, Jepang dan Korea Selatan telah mencapai tingkat kemakmuran yang luar biasa. Saat negara-negara ini bangkit dari kemiskinan, tidak hanya beberapa pengusaha didukung oleh pemerintah, tetapi beberapa perusahaan juga memanfaatkan keunggulan biaya rendah mereka dan akhirnya menargetkan pasar ekspor.
    (hlm 129)

    Pada tahun 1950, pendapatan per kapita Jepang lebih rendah dari Meksiko dan Kolombia – dan hanya 20 persen dari pendapatan Amerika Serikat.
    (hlm 130)

    Korea Selatan: Menarik Diri Menuju Kemakmuran

    Samsung, misalnya, bertanggung jawab atas sekitar seperlima dari Produk Domestik Bruto (PDB) Korea Selatan yang mencapai $1,1 triliun.
    (hlm 144)

    Inovasi menular, dan sering kali memicu inovasi lain.
    (hlm 147)

    Inovasi yang Menular

    Inovasi cenderung memicu inovasi lain, dan sering kali inovasi yang satu menjadi landasan bagi inovasi yang lebih besar. Ambil contoh POSCO, perusahaan baja yang didirikan oleh Park Tae-joon di Korea Selatan. Park menyadari bahwa untuk membangun industri baja yang kompetitif, ia tidak bisa hanya mengandalkan impor teknologi dan bakat dari negara lain. “Anda bisa mengimpor batubara dan mesin, tetapi Anda tidak bisa mengimpor bakat,” katanya.

    Sebagai tanggapan, POSCO mendirikan Pohang University of Science and Technology (POSTECH) dan Research Institute of Industrial Science and Technology (RIST) untuk menyediakan pendidikan yang diperlukan dalam bidang sains dan teknologi.
    (hlm 148)

    Karena POSCO harus mengembangkan sekolah untuk melatih para pekerjanya, Korea Selatan sekarang menikmati manfaat dari memiliki lembaga pendidikan kelas dunia. Namun, lembaga ini harus “ditarik” ke Korea Selatan untuk mencapai tugas yang sangat spesifik. Jika lembaga ini didorong ke negara tersebut tanpa adanya kebutuhan nyata, dampaknya mungkin tidak sebesar itu.
    (hlm 149)

    Catatan

    Memang, industri berat berkontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi Korea Selatan. Namun, sulit untuk membuat kasus bahwa industri-industri ini adalah penyebab utama dari transformasi ekonomi, sosial, dan politik yang begitu signifikan yang telah terjadi di Korea Selatan.

    Sebagai contoh, menurut sebuah laporan OECD, industri galangan kapal hanya mewakili kurang dari 2 persen dari PDB Korea Selatan dan sekitar 10 persen dari ekspor negara tersebut. Dari sudut pandang ketenagakerjaan, industri galangan kapal hanya menyerap sekitar 0,65 persen dari total tenaga kerja di Korea Selatan.

    Tidak diragukan lagi bahwa industri galangan kapal penting bagi ekonomi Korea Selatan, tetapi kontribusinya tidak cukup untuk menjelaskan transformasi luar biasa dari pendapatan per kapita kurang dari $200 menjadi lebih dari $27.000 dalam waktu lebih dari lima puluh tahun.
    (hlm 153)

    Masalah Efisiensi di Meksiko

    Gagasan Singkatnya
    Meksiko saat ini tidak makmur. Pada tahun 2014 saja, ada tambahan dua juta orang Meksiko yang jatuh di bawah garis kemiskinan nasional. Apa yang salah?

    Jika kita melihat ekonomi Meksiko bukan melalui kacamata investasi, tetapi melalui kacamata inovasi, pola tertentu menjadi jelas. Banyak perusahaan di negara ini – baik domestik maupun internasional – telah berinvestasi besar-besaran dalam inovasi efisiensi. Namun, dalam ekonomi yang seharusnya berkembang pesat dan penuh sumber daya, ada kekurangan inovasi yang menciptakan pasar yang mengecewakan.

    Seperti yang diilustrasikan secara menyakitkan oleh Meksiko, ketergantungan berlebihan pada inovasi efisiensi hanya bisa membawa ekonomi sejauh ini.
    (hlm 156)

    Paradoks Inovasi Efisiensi Meksiko

    Tetapi peringkat Ease of Doing Business Bank Dunia menunjukkan bahwa Meksiko relatif baik dalam hal ini. Meksiko berada di peringkat ke-49 dari 190 negara, lebih tinggi dari Italia, Chili, Luksemburg, Belgia, Yunani, Turki, dan Tiongkok. Meskipun Meksiko tidak unggul di semua metrik, ia berkinerja cukup baik di beberapa sub-metrik.

    Misalnya, dalam “Kemudahan Mendapatkan Kredit,” negara ini berada di peringkat keenam; dalam “Penyelesaian Insolvensi,” Meksiko berada di peringkat ketiga puluh satu; dan dalam “Penegakan Kontrak,” Meksiko berada di peringkat keempat puluh satu. Jadi, teka-tekinya masih tersisa.

    Namun, jika kita melihat Meksiko melalui lensa jenis inovasi yang lazim di negara ini, kita mulai melihat hal-hal secara berbeda. Meksiko adalah magnet bagi inovasi efisiensi. Banyak perusahaan di Meksiko – baik domestik maupun internasional – telah menggantungkan harapan dan impian mereka pada investasi terutama dalam inovasi efisiensi.

    Inovasi-inovasi ini, seperti yang kami jelaskan dalam Bab 2, tidak sering kali mengarah pada pembangunan ekonomi yang dinamis. Meskipun inovasi efisiensi memiliki nilai – mereka melepaskan aliran kas untuk investor, membuat organisasi lebih efisien dalam operasinya, dan menyediakan pajak bagi ekonomi lokal untuk sementara waktu – mereka sendiri tidak menciptakan pasar yang cukup besar yang dapat menarik dan membiayai komponen penting lainnya yang diperlukan untuk pembangunan jangka panjang suatu masyarakat.

    Akibatnya, inovasi-inovasi ini sebagian besar hanya mendukung penciptaan apa yang kami sebut sebagai pekerjaan global, yang dapat dengan mudah dipindahkan ke tempat lain.
    (hlm 161)

    Risiko Ketergantungan Berlebihan pada Efisiensi

    Contoh yang paling jelas dari proliferasi inovasi efisiensi di Meksiko adalah popularitas maquiladora. Maquiladora adalah operasi manufaktur di mana pabrik-pabrik mengimpor komponen dari negara lain, biasanya tanpa tarif, untuk diproduksi dan diekspor ke pasar lain. Tidak ada yang salah dengan maquiladora, tetapi mereka memainkan peran yang sangat spesifik dalam ekonomi.

    Sebagai contoh, salah satu hasil positif yang terlihat dari program maquiladora, yang dimulai pada pertengahan 1960-an, adalah bahwa program ini mendapat dorongan setelah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) pada tahun 1994.

    Pekerjaan di maquiladora tumbuh; ekspor melonjak; dan investasi asing langsung di Meksiko membengkak. Prospek untuk lebih mengindustrialisasi Meksiko dengan manufaktur bernilai tambah yang lebih tinggi sangat menggoda bagi para investor dan pembuat kebijakan.
    (hlm 163)

    Namun, jika diamati lebih dekat, fenomena yang mendorong kedua ekonomi tersebut sebenarnya identik: inovasi efisiensi.
    (hlm 167)

    Di permukaan, inovasi efisiensi tampaknya menjanjikan banyak hal di negara-negara miskin karena inovasi ini biasanya ditandai dengan kegiatan manufaktur, industrialisasi, dan kadang-kadang industri berat.

    Namun, alih-alih mewujudkan janji kemakmuran, ketergantungan yang berlebihan pada inovasi efisiensi sering kali mendorong investasi jangka pendek yang rapuh, yang membuat masyarakat berada dalam posisi yang genting.
    (hlm 168)

    Catatan
    2. “Produk domestik bruto (PDB) per jam kerja adalah ukuran produktivitas tenaga kerja.
    4. Pada tahun 2015, menurut Observatory of Economic Complexity, lima ekspor terbesar Meksiko adalah mobil senilai $31,4 miliar; suku cadang kendaraan senilai $26,2 miliar; truk pengiriman senilai $23,4 miliar; komputer senilai $21,2 miliar; dan telepon senilai $15,7 miliar.

    Lebih dari 80 persen ekspor Meksiko berakhir di Amerika Serikat.

    7. Fakta bahwa Meksiko tidak hanya mengekspor mainan dan kaos sangatlah penting. Penelitian yang dilakukan oleh Ricardo Hausmann dari Universitas Harvard dan Cesar A. Hidalgo dari MIT membantu kita memahami bahwa kompleksitas ekonomi suatu negara (seberapa canggih produk yang diproduksinya) sangat berkorelasi dengan tingkat perkembangannya. Negara-negara yang lebih mampu menghasilkan produk yang lebih canggih cenderung lebih kaya.
    (hlm 175)

    Cesar A. Hidalgo dan Ricardo Hausmann, “The building blocks of economic complexity,” Proceedings of the National Academy of Sciences, vol. 106, no. 26 (Juni 2009).
    9. Untuk sejarah ekonomi Meksiko yang lebih mendalam sebelum tahun 1960, baca Bagian 2 dari Catch-up Growth Followed by Stagnation: Mexico, 1950-2010, yang ditulis oleh Timothy J. Kehoe dan Felipe Meza, http://www.minneapolisfed.org/research/wp/wp693.pdf.
    (hlm 176)

    Mengatasi Hambatan: Menyelesaikan Masalah Bersama

    Schein memberikan salah satu definisi budaya yang paling berguna yang pernah kami temui:
    “Budaya adalah cara bekerja bersama menuju tujuan bersama yang telah diikuti begitu sering dan begitu sukses sehingga orang-orang bahkan tidak berpikir untuk mencoba melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Jika budaya telah terbentuk, orang secara otomatis akan melakukan apa yang perlu mereka lakukan untuk menjadi sukses.”
    (hlm 186)

    Lembaga sebenarnya adalah cerminan dari budaya, atau pola perilaku yang telah dikodifikasikan.
    (hlm 187)

    Mendemokratisasikan Risiko

    Colleganza pada dasarnya adalah perusahaan saham gabungan yang diciptakan untuk membiayai ekspedisi jarak jauh. Mengingat risiko yang signifikan terkait perjalanan jarak jauh pada saat itu, Colleganza adalah cara inovatif untuk mendistribusikan dan mendemokratisasikan risiko di antara lebih banyak orang daripada sebelumnya.

    Lebih penting lagi, hal ini juga mendemokratisasikan imbalan dengan menciptakan kekayaan bagi banyak orang Venesia yang sebelumnya tidak mungkin berinvestasi dalam ekspedisi perdagangan semacam itu.
    (hlm 189)

    Kereta di Depan Kuda

    Dalam bukunya tentang reformasi institusi dan pembangunan, Matt Andrews dari Universitas Harvard mencantumkan beberapa kegagalan yang mencolok.

    Sebagai contoh, pada tahun 2003, banyak pakar internasional berharap bahwa dalam waktu tujuh tahun, reformasi institusional akan mengubah Afghanistan menjadi Korea Selatan yang baru.
    (hlm 191)

    Andrews mengutip contoh lain: negara Georgia. Dia menjelaskan bahwa pemerintah negara tersebut melakukan upaya besar untuk menyederhanakan pajak dan memotong regulasi untuk “mendorong industri swasta dan menciptakan lapangan kerja.” Harapannya adalah bahwa negara kecil ini akan menjadi “Singapura dari Kaukasus.”

    Reformasi tersebut tampaknya berhasil, dan Georgia melonjak dalam peringkat Ease of Doing Business Bank Dunia. Sayangnya, hal ini tidak memacu inovasi domestik seperti yang diharapkan banyak orang. Andrews menyimpulkan, “Regulasi pemerintah mungkin tidak lagi membebani para pengusaha, tetapi reformasi tersebut juga belum menghasilkan pemerintahan yang efektif dalam mendorong produksi yang menciptakan lapangan kerja.”
    (hlm 192)

    Pasar yang Dinamis Biasanya Mendahului Institusi yang Baik

    Mana yang harus kita fokuskan terlebih dahulu untuk mendorong inovasi dan dengan demikian menciptakan kemakmuran ekonomi? Banyak orang bersikeras bahwa institusi harus datang lebih dulu. “Bagaimana seseorang dapat berinovasi di lingkungan tanpa institusi politik dan ekonomi yang baik?” adalah seruan umum mereka.

    Kami tentu saja memahami sudut pandang tersebut.
    Namun, ada beberapa masalah dengan argumen itu, yang utama adalah bahwa institusi yang baik tidak hanya sangat mahal untuk dibuat dan dipertahankan, tetapi sering kali tidak berfungsi ketika ditempatkan dalam masyarakat tanpa pasar yang relevan untuk menyerap apa yang mereka tawarkan. Bagaimana negara miskin seperti Mali, dengan sekitar lima belas juta orang dan PDB per kapita sekitar $900, dapat membayar sistem hukum yang dimodelkan seperti Prancis, negara dengan enam puluh enam juta orang dan PDB per kapita sekitar $44.000? Selain itu, sistem Prancis telah berevolusi selama ratusan tahun sehingga masuk akal dalam konteks meningkatnya kemakmuran Prancis.
    (hlm 193)

    Inovasi sebagai Perekat

    Sejarah menunjukkan bahwa mereka yang dapat menggunakan hukum untuk keuntungan mereka hampir selalu melakukannya. Tetapi ketika hukum dimanipulasi untuk melayani satu pihak di atas yang lain, lapangan permainan tidak lagi seimbang.
    Kami percaya bahwa mereka mungkin tidak akan begitu cepat mengubah undang-undang untuk keuntungan mereka.

    Oleh karena itu, inovasi dapat berfungsi sebagai penyeimbang yang hebat. Semakin banyak inovator mendemokratisasikan solusi untuk masyarakat luas, dengan demikian menciptakan peluang dan potensi untuk pertumbuhan serta penciptaan kekayaan, semakin kuat institusi dapat bertahan.
    (hlm 195)

    Dari Pasar Gelap ke Ekonomi Formal

    “Tidak ada manfaatnya menjadi orang jujur yang datang tepat waktu, melakukan pekerjaan terbaiknya, dan mengenakan harga yang wajar.” Yang diberi imbalan, sebaliknya, adalah berfokus pada menghasilkan sebanyak mungkin dengan cara apa pun yang paling menguntungkan bagi kontraktor individu.
    (hlm 197)

    Namun, Iguana Fix telah berhasil melakukan sesuatu yang telah dicoba oleh banyak pemerintah dan organisasi pembangunan besar selama beberapa dekade: membawa orang ke dalam ekonomi formal. Bagaimana? Melalui pemahaman Recchia tentang perjuangan baik pelanggan maupun kontraktor, serta penciptaan pasar baru yang kini membuatnya menguntungkan untuk menjadi lebih jujur dan transparan.

    Seperti yang pernah diingatkan ahli manajemen Peter Drucker, “Prosedur bukanlah instrumen moralitas; mereka semata-mata adalah instrumen ekonomi. Mereka tidak pernah memutuskan apa yang harus dilakukan, hanya bagaimana hal itu bisa dilakukan dengan lebih cepat.”
    (hlm 199)

    Catatan

    Daron Acemoglu dan James Robinson, “The Role of Institutions in Growth and Development,” World Bank Working Paper 1, no. 1 (Januari 2008).
    (hlm 200)

    Profesor dari Oxford, Matthew McCartney, mencatat bahwa pada 1980-an, negara-negara Asia Timur yang tumbuh dengan cepat memiliki skor korupsi yang mirip dengan banyak negara “berkembang” saat ini.

    Misalnya, Korea Selatan memiliki tingkat kualitas institusi yang sama dengan Pantai Gading. Dia menyimpulkan bahwa, “Meningkatkan institusi adalah hasil, bukan penyebab, dari pertumbuhan cepat di Asia Timur.”
    Matthew McCartney, Economic Growth and Development: A Comparative Introduction, 217.
    (hlm 204)

    Korupsi Bukanlah Masalah; Ini adalah Solusi

    Gagasan Singkatnya
    Mengapa korupsi tetap ada sejak awal? Jawabannya, kami percaya, tidak semata-mata terletak pada kegagalan moral yang mendasar, melainkan pada pemahaman mengapa banyak orang memilih untuk “menyewa” korupsi.
    (hlm 205)

    Korupsi adalah masalah bertahan hidup di kedua sisi.
    (hlm 206)

    Memahami Korupsi

    Korupsi disewa untuk menyelesaikan “Pekerjaan yang Perlu Dilakukan,” atau lebih khusus lagi, untuk membantu orang membuat kemajuan dalam situasi tertentu. Ini adalah wawasan yang penting. Setelah kita memahami mengapa orang beralih ke korupsi, kita dapat mulai melihat pendekatan yang berbeda untuk menyelesaikan masalah.
    (hlm 208)

    Mengapa Orang Menyewa Korupsi?

    Pertama, sebagian besar individu dalam masyarakat ingin membuat kemajuan.

    Ketika masyarakat menawarkan kita sedikit pilihan yang sah untuk membuat kemajuan, korupsi menjadi lebih menarik.

    Kedua, setiap individu, seperti setiap perusahaan, memiliki struktur biaya. Pada dasarnya, jika program antikorupsi tidak secara fundamental memengaruhi persamaan pendapatan-biaya, mereka cenderung tidak akan berkelanjutan.

    Jika seorang polisi di India mendapatkan 20.000 rupee sebulan (sekitar $295) tetapi memiliki struktur biaya yang menuntutnya menghabiskan $400 sebulan, dia akan rentan terhadap korupsi, terlepas dari apa yang diatur undang-undang.
    (hlm 209)

    Fase 2: Korupsi Terselubung dan Dapat Diprediksi

    Karena pembangunan terjadi secara paralel, korupsi dilihat sebagai biaya yang diperlukan untuk melakukan bisnis.

    Transisi dari korupsi yang tidak terduga ke korupsi yang dapat diprediksi bisa sangat mahal – baik secara ekonomi maupun politik – dan terutama membutuhkan penciptaan pasar baru, bukan undang-undang.
    (hlm 214)

    Sebagai contoh, di Tiongkok, ada lebih dari 1.200 undang-undang, aturan, dan arahan terhadap korupsi. Tetapi apa gunanya undang-undang jika badan pemberi undang-undang tidak memiliki kekuatan, uang, atau kemauan untuk menegakkannya?

    Faktanya, dari tahun 2006 hingga 2016, lebih dari $2,3 triliun investasi asing langsung (FDI) mengalir ke Tiongkok. Apakah investor asing yang menginvestasikan triliunan dolar di Tiongkok tidak tahu bahwa korupsi merajalela di negara tersebut?

    Mengapa mereka tidak menunggu Tiongkok memberantas korupsi sebelum berinvestasi? Sebagian besar karena jenis korupsi di Tiongkok berbeda dari negara lain dalam fase pertama. Korupsi tersebut terselubung, tetapi dapat diprediksi. Dengan demikian, dapat dimasukkan dalam perhitungan “biaya melakukan bisnis” di Tiongkok.
    (hlm 215)

    Fase 3: Transparansi

    Pada tahun 2017, total lobi di Amerika Serikat mencapai lebih dari $3,3 miliar. Lobi digunakan untuk memengaruhi pemerintah agar memberlakukan undang-undang yang menguntungkan penyebab, industri, atau kepentingan tertentu.

    Tetapi meskipun ada miliaran dolar yang memengaruhi pejabat pemerintah Amerika, negara tersebut masih berada di peringkat ke-16 dari 180 negara dalam Corruption Perceptions Index milik Transparency International.
    (hlm 216)

    Orang Amerika yang penasaran dapat memperoleh data dari Senate Office of Public Record dan mencari tahu siapa yang melobi untuk siapa dan untuk tujuan apa.
    (hlm 217)

    Amerika Era Boss Tweed

    Ketika pemerintah AS masuk ke bisnis rel kereta api dan memperluas subsidi kepada kontraktor, subsidi tersebut sering diberikan berdasarkan jumlah mil rel yang dibangun, bukan pada kualitas atau efektivitas jalur rel tersebut.

    Kontraktor membangun jalur rel yang panjang dan berliku, sering menggunakan bahan yang tidak standar, karena mereka sebagian besar bersaing untuk “keuntungan federal” daripada pelanggan rel kereta api.
    (hlm 219)

    Pembangunan Sering Mendahului Program Antikorupsi yang Sukses

    Bukan sebaliknya.
    (hlm 220)

    Para Raja dan Rakyat

    Saat masyarakat menjadi kurang agraris, kekayaan seperti emas, perak, dan logam mulia lainnya menjadi lebih mudah bergerak, dan pemerintah perlu menciptakan cara yang lebih baik untuk memajaki warga mereka. “Raja-raja menginovasi cara-cara baru untuk memanfaatkan kekayaan pribadi warga negara mereka.

    Di antara yang paling signifikan adalah penciptaan parlemen – forum di mana mereka dapat menukar konsesi dalam kebijakan publik untuk pembayaran pendapatan,” demikian simpulan profesor Harvard Robert Bates dalam Prosperity & Violence: The Political Economy of Development. Pemerintah memilih godaan daripada intimidasi karena, tiba-tiba, warga dapat dengan lebih mudah memindahkan kekayaan mereka.
    (hlm 223)

    Transparansi Mulai Berakar

    Untuk menghargai betapa pentingnya hal itu, pertimbangkan fakta bahwa Korea Selatan diperintah oleh Jenderal Park sampai pembunuhannya pada tahun 1979. Di bawah kediktatorannya, skala pembangunan ekonomi yang dicapai oleh pemerintah Korea sangat mengesankan, tetapi skala korupsinya juga tidak dapat disangkal.

    Pemerintah memberikan keuntungan kepada beberapa perusahaan besar, dan perusahaan-perusahaan tersebut pada gilirannya memberikan uang sogokan kepada pejabat pemerintah.

    “Pengukuran kualitas institusional berdasarkan birokrasi, supremasi hukum, risiko ekspropriasi, dan pelanggaran kontrak oleh pemerintah di negara-negara Asia Timur yang sukses pada pertengahan 1980-an hanya sedikit lebih baik daripada di banyak negara dengan kinerja buruk,” demikian deskripsi ekonom Mushtaq Khan tentang korupsi dan pembangunan institusional di kawasan ini.
    (hlm 223)

    Namun, Korea Selatan hari ini sedang menuju masyarakat yang lebih transparan.
    (hlm 224)

    Apa yang Harus Kita Lakukan?

    Alih-alih pemerintah negara miskin terus berjuang melawan korupsi dengan sumber daya yang sangat terbatas, apa yang akan terjadi jika mereka berfokus pada memungkinkan penciptaan pasar baru yang membantu warga menyelesaikan masalah sehari-hari mereka? Setelah cukup banyak pasar tercipta, orang-orang akan memiliki kepentingan agar pasar tersebut berhasil.
    (hlm 224)

    Dari Perompak ke Pelanggan Berbayar

    Korupsi bagi sebagian besar orang, terutama di negara-negara miskin, hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Jika mereka memiliki alternatif, kebanyakan orang tidak akan memilih korupsi untuk membuat kemajuan.
    (hlm 227)

    “Pembajakan menjadi terlalu mahal dan memakan waktu – pada titik tertentu, lebih murah untuk berlangganan Spotify dan Netflix,”
    (hlm 228)

    Namun, kita harus secara agresif melengkapi upaya kita yang ada dengan inovasi yang menciptakan pasar jika kita ingin memiliki peluang melawan korupsi.

    Inovasi yang menciptakan pasar memiliki kemampuan untuk menarik kebutuhan, terlepas dari keberadaan institusi yang baik atau keadaan korupsi.
    (hlm 229)

    Mengatasi Hambatan dan Menciptakan Inovasi yang Menarik Pasar

    Catatan menunjukkan bahwa banyak negara berkembang mencoba mengatasi korupsi melalui reformasi, tetapi sering kali gagal tanpa adanya pasar yang mampu menyerap sumber daya yang dihasilkan. Inovasi yang menciptakan pasar menjadi solusi penting dalam menciptakan kemakmuran dan mengurangi korupsi. Ketika ada pasar yang dinamis dan berkembang, masyarakat dan pemimpin akan lebih cenderung mendukung transparansi dan pemerintahan yang lebih baik.

    (hlm 232)
    Daron Acemoglu dan James Robinson, “The Role of Institutions in Growth and Development,” World Bank Working Paper 1, no. 1 (Januari 2008).

    Oxford professor Matthew McCartney mencatat bahwa negara-negara berkembang seperti Korea Selatan memiliki tingkat korupsi yang tinggi pada awalnya, tetapi pertumbuhan ekonomi yang kuat memungkinkan institusi mereka membaik seiring waktu. Ini menunjukkan bahwa inovasi yang menciptakan pasar dapat menjadi langkah awal sebelum reformasi institusional yang signifikan.
    (hlm 204)

    Inovasi sebagai Perekat Masyarakat

    Seiring waktu, inovasi yang menciptakan pasar dapat berfungsi sebagai “pemerataan” besar dalam masyarakat. Semakin banyak orang mendapat akses ke solusi, menciptakan peluang, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini menciptakan landasan bagi pembangunan institusi yang lebih baik dan lebih kuat.
    (hlm 195)

    Infrastruktur: Lebih dari Sekadar Pembangunan Fisik

    Salah satu hambatan terbesar yang sering dihadapi negara berkembang adalah infrastruktur yang kurang memadai. Namun, infrastruktur fisik saja tidak akan menciptakan nilai jika tidak didukung oleh pasar yang berkembang. Di sinilah inovasi yang menciptakan pasar menjadi penting; mereka mendorong permintaan untuk infrastruktur yang lebih baik dan secara bertahap meningkatkan investasi di dalamnya.
    (hlm 235)

    Contoh klasik dari hal ini adalah perusahaan seperti Celtel, yang menghadapi tantangan besar dalam membangun jaringan telekomunikasi di Afrika. Tim Celtel harus memasok listrik dan air sendiri ke lokasi-lokasi terpencil, tetapi dengan membangun menara komunikasi, mereka tidak hanya memecahkan masalah komunikasi, tetapi juga membuka jalan bagi inovasi lebih lanjut yang menarik investasi infrastruktur ke benua itu.
    (hlm 237)

    Inovasi Sebelum Infrastruktur

    Sejarah menunjukkan bahwa infrastruktur yang sukses sering kali tumbuh bersama dengan perusahaan dan ekonomi yang berkembang. Misalnya, pembangunan jalan raya dan kanal di Amerika Serikat sebagian besar didorong oleh kebutuhan pasar yang berkembang. Proyek infrastruktur seperti ini tidak selalu menguntungkan pada awalnya, tetapi mereka menjadi berkelanjutan ketika pasar yang membutuhkan infrastruktur tersebut berkembang.
    (hlm 239)

    Facebook dan Microsoft menunjukkan bahwa inovasi modern juga mengikuti pola yang sama. Mereka berinvestasi dalam kabel bawah laut transatlantik MAREA, yang pada awalnya tampak seperti proyek infrastruktur besar, tetapi ternyata diperlukan untuk memenuhi kebutuhan digital global yang berkembang pesat.
    (hlm 241)

    Infrastruktur Tanpa Pasar

    Salah satu kesalahan besar yang sering dilakukan oleh pemerintah negara berkembang adalah membangun infrastruktur tanpa mempertimbangkan pasar yang akan menggunakan infrastruktur tersebut. Infrastruktur, seperti sekolah dan rumah sakit, tidak menciptakan nilai dengan sendirinya; mereka harus dihubungkan dengan pasar yang menciptakan permintaan untuk layanan tersebut.
    (hlm 244)

    Contoh dari hal ini adalah pembangunan kereta api baru di Mombasa, Kenya, yang hanya akan berhasil jika mampu memindahkan setidaknya 20 juta ton kargo per tahun.
    (hlm 246)

    Tantangan Megaproyek

    Penelitian oleh ekonom Denmark Ben Flyvbjerg menunjukkan bahwa sembilan dari sepuluh megaproyek terlambat, melebihi anggaran, dan gagal mencapai proyeksi ekonomi yang dijanjikan. Contoh sempurna dari hal ini adalah proyek Big Dig di Boston, yang awalnya diperkirakan akan menelan biaya $2,8 miliar, tetapi akhirnya membengkak menjadi $24 miliar.
    (hlm 247)

    Solusi untuk Sektor Kesehatan: Proses yang Berdaya Saing

    Di India, rumah sakit NH (Narayana Health) menawarkan contoh tentang bagaimana inovasi dapat mengubah sektor kesehatan. Dengan memanfaatkan model bisnis yang menekankan pada efisiensi dan volume tinggi, NH mampu menurunkan biaya operasi jantung menjadi sekitar $1.000 hingga $2.000, jauh lebih rendah dibandingkan biaya di rumah sakit Amerika Serikat dan Inggris.
    (hlm 266)

    NH juga menciptakan pasar baru untuk layanan kesehatan dengan melibatkan pasien dari seluruh dunia. Pada tahun 2016, NH telah merawat lebih dari 15.000 pasien internasional dari 78 negara.
    (hlm 267)

    Prinsip Inovasi yang Menciptakan Pasar

    Untuk merangkum beberapa prinsip inovasi yang menciptakan pasar:

    1. Setiap negara memiliki potensi pertumbuhan yang luar biasa di dalamnya. Ini adalah sinyal bahwa ada peluang yang belum tergali.
    2. Produk di pasar saat ini memiliki potensi untuk menciptakan pasar baru ketika dibuat lebih terjangkau.
    3. Inovasi yang menciptakan pasar adalah lebih dari sekadar produk atau layanan; inovasi ini menyelesaikan masalah dan menciptakan permintaan yang belum ada sebelumnya.
    4. Fokus pada menarik pasar, bukan mendorong solusi.
    5. Dengan pasar yang belum terlayani, skala menjadi murah.
      (hlm 273)

    Merefleksikan Tantangan

    Mengajukan pertanyaan yang baik adalah salah satu sifat penting dari siswa yang cerdas dan manajer yang hebat. Seperti halnya Wright bersaudara yang mengajukan pertanyaan berbeda dari Samuel Langley dalam upayanya menciptakan mesin terbang pertama, kita juga perlu mempertanyakan keyakinan dan asumsi kita tentang pengembangan ekonomi dan inovasi.
    (hlm 274)

    Solusi untuk Paradoks Kemakmuran

    Kami percaya pada kekuatan inovasi, khususnya investasi dalam inovasi yang menciptakan pasar. Bahkan dalam situasi yang tampaknya menantang, ini memberikan salah satu peluang terbaik untuk menciptakan kemakmuran di banyak negara miskin saat ini. Ini adalah solusi untuk Paradoks Kemakmuran, dan dapat membawa kita menuju akhir dari pembangunan dalam hidup kita.
    (hlm 277)

    Inovasi dan Pengaruh dari Luar

    Kisah inovasi seperti containerization yang diciptakan oleh Malcolm McLean mengingatkan kita bahwa banyak inovasi besar datang dari orang luar yang mampu melihat peluang di luar pemikiran konvensional. McLean mengubah cara kita mengirim barang dengan menciptakan metode yang lebih efisien, mengurangi biaya pengiriman dari $6 per ton menjadi hanya 16 sen per ton.
    (hlm 280)

    Rwanda dan Inovasi yang Menarik Investasi

    Rwanda Development Board (RDB), yang didirikan pada tahun 2009, telah menjadi organisasi penting yang membantu menyederhanakan proses investasi di negara tersebut. Dengan menggabungkan berbagai layanan di bawah satu atap, RDB telah mengurangi birokrasi dan membuat lingkungan bisnis lebih transparan.
    (hlm 307)

    Singapura: Keberhasilan Melalui Inovasi

    Singapura adalah contoh negara yang berhasil menarik investasi asing melalui inovasi. Pada tahun 1970, investasi asing langsung (FDI) ke Singapura hanya sekitar $93 juta. Namun, pada tahun 2017, Singapura berhasil menarik lebih dari $60 miliar FDI, lebih banyak dari seluruh benua Afrika.
    (hlm 309)

    Fintech di India: Menarik Masyarakat ke Ekonomi Digital

    Setelah kebijakan demonetisasi di India, pembayaran digital meningkat lebih dari 80 persen, dan jumlah pengajuan pajak naik 25 persen. Ini menunjukkan bagaimana inovasi digital dapat menarik masyarakat ke dalam ekonomi formal dan meningkatkan transparansi.
    (hlm 311)

    Mengakhiri Paradoks Kemakmuran

    Kami percaya bahwa investasi dalam inovasi yang menciptakan pasar akan memberikan solusi terbaik untuk mengatasi tantangan kemiskinan global. Ini adalah langkah penting untuk menciptakan kemakmuran di banyak negara yang belum berkembang dan membawa kita lebih dekat pada tujuan pembangunan yang berkelanjutan.
    (hlm 318)

     

     

    Jalan Menuju Perbudakan

    Friedrich Hayek

    Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Jalan Menuju Perbudakan oleh Friedrich A. Hayek.

    Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

    Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

    Selamat membaca.

    Chandra Natadipurba

    ===

    Jalan Menuju Perbudakan

    Ekonomi Pasar Vs Ekonomi Terpimpin

    Friedrich A. Hayek

    Edisi Pertama

    KATA PENGANTAR

    (Halaman ix)

    Kenyataannya, saya selalu diberitahu oleh para kolega sosialis saya bahwa, sebagai seorang ekonom, saya bakal menduduki posisi yang jauh lebih penting di dalam tipe masyarakat yang saya lawan, asalkan, tentu saja, saya bersedia menerima berbagai pandangan mereka.

    (Halaman xi)

    Argumen pokok buku ini pertama kali dijabarkan secara umum dalam artikel yang berjudul “freedom and the Economic System”, yang muncul dalam Contemporary Review edisi April 1938, dan kemudian di cetak ulang dalam bentuk yang lebih luas sebagai salah satu tulisan dalam “Public Policy Pamphlets”, yang disunting oleh Prof. H.D. Gideonse untuk University of Chicago Press (1939).

    Pengantar Freedom Institute

    (Halaman xiii)

    Dari sudut sejarah ide-ide, abad ke 20 barangkali bisa disebut sebagai abad pertarungan puncak ideologi antara sosialisme dan liberalisme.

    Tapi sayangnya, publik Indonesia hampir tidak pernah mendengar, apalagi mengenal ketokohan dan pemikiran dari orang-orang seperti Ludwig von Mises, Robert Nozick, Irving Kristol, William Buckley Jr. Tokoh seperti Milton Friedman memang sudah cukup banyak kita kenal, tetapi ide-idenya lebih banyak dibicarakan oleh kaum ekonom dan kalangan pebisnis.

    Jadi bisa diibaratkan bahwa sejarah Indonesia, dari segi perkembangan ide-ide, adalah sebuah sejarah yang timpang.

    (Halaman xiv)

    Hayek tidak melihat sistem ekonomi, politik, hukum dan perilaku alamiah manusia sebagai kotak-kotak yang terpisah. Ia mengaitkan semua itu dalam sebuah pandangan yang menyeluruh dan mengaitkannya dengan satu hal yang menjadi titik tolak pemikirannya, yaitu kebebasan manusia.

    Pendahuluan

    (Halaman 1)

    Tidak banyak penemuan yang lebih mengganggu ketimbang penemuan yang mengungkapkan sejarah ide-ide.

    • Lord Acton

    Peristiwa masa kini berbeda dari sejarah dalam hal kita tidak mengetahui akibat-akibat yang akan ditimbulkannya.

    (Halaman 3)

    Walaupun pada jangka panjang kita menjadi penentu nasib kita sendiri, pada jangka pendek kita adalah tawanan ide-ide yang telah kita ciptakan.

    (Halaman 8)

    Teori ini mengabaikan fakta bahwa ketika 80 tahun lalu John Stuart Mill menulis esainya yang berjudul On Liberty, dia mendapatkan inspirasinya dari, tidak lain tidak bukan, dua orang Jerman, Goethe dan Wilhelm von Humboldt, dan melupakan fakta bahwa dua nenek moyang intelektual yang paling berpengaruh dari Nasional-Sosialisme, Thomas Carlyle dan Houtson Stewart Chamberlain, adalah seorang Skot dan seorang Inggris.

    BAB 1 JALAN YANG DITINGGALKAN

    (Halaman 18)

    Tetapi individualisme yang sedang kita bicarakan, yang bertolak belakang dengan sosialisme dan semua bentuk lain kolektivisme, tidak berkaitan langsung dengan egotisme dan keserakahan.

    (Halaman 19)

    Sepanjang periode modern sejarah Eropa, arah umum perkembangan sosial adalah membebaskan setiap individu dari ikatan-ikatan yang telah mengikatnya pada adat istiadat dan hal-hal tradisional atau cara-cara yang diresepkan sebelumnya dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan biasa.

    (Halaman 22)

    Tidak ada sesuatu pun di dalam prinsip-prinsip dasar liberalisme yang dapat menjadikannya suatu kredo yang statis, tidak ada aturan-aturan yang kaku, yang dipasang mati sekali untuk selamanya.

    BAB 2 UTOPIA AGUNG

    (Halaman 29)

    Yang selalu membuat negara jadi neraka di bumi ini adalah manusia yang justru ingin mengubahnya jadi surga baginya.

    F. Hoelderlin.

    (Halaman 30)

    Demokrasi memperluas wilayah kebebasan individu (dia mengatakan hal ini di tahun 1848), sosialisme membatasinya.

    Demokrasi dan sosialisme tidak memiliki kesamaan kecuali satu kata: kesetaraan. Tetapi perhatikan perbedaannya: kebebasan, sosialisme mencari kesetaraan dalam kontrol dan perhambaan.

    (Halaman 31)

    Namun kebebasan baru yang dijanjikan adalah kebebasan dari keharusan pemenuhan kebutuhan, kebebasan dari tekanan bermacam keadaan yang mau tak mau membatasi aneka ragam pilihan kita semua, meskipun bagi beberapa orang pembatasan ini lebih luas ketimbang orang lain. Sebelum orang betul-betul dapat bebas, “despotisme tuntutan kebutuhan fisik” harus dihancurkan, “berbagai hambatan sistem ekonomi” harus dikurangi.

    Kebebasan dalam pengertian ini, tentu saja, hanyalah nama lain dari kekuasaan atau kekayaan.

    Halaman 32)

    Janji akan kebebasan yang lebih besar tak pelak lagi telah menjadi salah satu senjata paling efektif propaganda sosialis, dan kepercayaan bahwa sosialisme akan dapat mendatangkan kebebasan adalah kepercayaan yang murni dan jujur. Tetapi hal ini hanya akan memperparah tragedi jika terbukti bahwa apa yang dijanjikan kepada kita sebagai jalan Menuju Kebebasan ternyata adalah Jalan Bebas Hambatan ke Perbudakan.

    BAB 3 INDIVIDUALISME DAN KOLEKTIVISME

    (Halaman 39)

    Kaum sosialis percaya pada dua hal yang mutlak berbeda dan mungkin bahkan bertolak belakang: kebebasan dan organisasi. Elie Havely

    (Halaman 40)

    Banyak orang menyebut diri mereka sosialis meskipun mereka hanya peduli pada yang pertama, pada konsep sosialisme, dan bukan pada metode sosialis; dan mereka secara fanatik percaya pada tujuan-tujuan pemungkas sosialisme tetapi tidak memedulikan dan juga tak memahami bagaimana tujuan-tujuan itu dapat dicapai, dan hanya yakin bahwa tujuan-tujuan itu harus dicapai berapa pun ongkosnya. Tetapi bagi hampir semua orang yang memandang sosialisme bukan sekadar sebagai harapan, tetapi juga sebagai objek politik praktis, metode-metode khas sosialisme modern sama pentingnya dengan tujuan-tujuannya sendiri.

    (Halaman 44)

    Argumen kalangan liberal mendukung pemanfaatan yang sebaik-baiknya atas berbagai kekuatan kompetensi sebagai sarana untuk mengoordinasikan usaha-usaha manusia, bukan membiarkan segala sesuatu sebagaimana adanya. Argumen liberal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kompetensi efektif, bila dapat diciptakan, adalah cara yang lebih baik dalam menuntun usaha-usaha individu ketimbang usaha-usaha lain mana pun. Argumen ini tidak menyangkali, bahkan menekankan, bahwa suatu kerangka hukum yang dipikirkan dengan hati-hati diperlukan supaya kompetisi berjalan dan memberikan bermanfaat; dan bahwa tidak ada aturan-aturan hukum yang ada sekarang atau dulu yang bebas dari cacar berat.

    Liberalisme ekonomi memandang kompetisi lebih unggul, bukan hanya karena kompetisi, dalam kebanyakan situasi, merupakan metode paling efisien yang sudah dikenal, tetapi bahkan terlebih lagi karena kompetisi adalah satu-satunya metode yang melaluinya aktivitas kita dapat saling disesuaikan tanpa intervensi penguasa yang koersif atau sewenang-wenang. Sesungguhnya, salah satu argumen pokok yang mendukung kompetisi adalah bahwa kompetisi menyingkirkan kebutuhan terhadap “kontrol sosial yang sadar”, dan bahwa kompetisi memberikan kesempatan kepada individu-individu untuk memutuskan apakah prospek suatu pekerjaan tertentu cukup untuk mengompensasi kerugian dan risiko yang terkait dengannya.

    (Halaman 45)

    Tetapi ada alasan yang baik mengapa persyaratan negatif, yakni poin-poin di mana kekuasaan atau pemaksaan tidak boleh digunakan, ditekankan secara khusus. Pertama-tama, adalah perlu bahwa pihak-pihak di dalam pasar bebas untuk menjual mereka dapat untuk membeli pada harga berapa pun seandainya mereka dapat menemukan seorang mitra untuk bertransaksi, menjual, dan membeli apa pun yang dapat diproduksi atau dijual. Adalah penting bahwa akses ke perdagangan yang berbeda-beda harus terbuka bagi semua orang berdasarkan persyaratan yang sama, dan bahwa hukum tidak boleh menolerir upaya apa pun dari individu atau kelompok tertentu untuk membatasi akses ini melalui penggunaan kekuasaan secara terbuka atau secara diam-diam. Setiap usaha yang mau mengontrol harga atau kuantitas komoditas tertentu akan menghilangkan kekuatan kompetisi untuk menghasilkan koordinasi yang efektif atas usaha-usaha individual, karena, dalam kondisi itu, perubahan-perubahan harga tak lagi mengungkapkan semua perubahan uang relevan, dan tak lagi menyediakan pemandu yang dapat dipercaya bagi tindakan-tindakan individu.

    (Halaman 46)

    Satu-satunya pertanyaan di sini adalah apakah dalam kasus-kasus tertentu keuntungan yang didapat akan lebih besar dibandingkan biaya sosial yang dibebankan oleh tindakan-tindakan itu.

    Supaya kompetisi berfungsi, yang diperlukan bukan hanya pengorganisasian yang memadai atas lembaga-lembaga tertentu seperti uang, pasar, dan saluran-saluran informasi—beberapa di antaranya tidak akan pernah dapat disediakan dengan memadai oleh usaha-usaha privat—tetapi kompetisi bergantung terutama pada tersedianya sistem hukum yang layak, sistem hukum yang didesain untuk memelihara kompetisi sekaligus untuk membuat kompetisi beroperasi dengan bermanfaat sebisa mungkin.

    (Halaman 47)

    Jadi, baik penyediaan papan petunjuk di jala raya, maupun, dalam kebanyakan situs, penyediaan jalan itu sendiri, tidak dapat dibiayai oleh setiap individu pengguna. Demikian juga, akibat-akibat berbahaya dari penggundulan hutan, atau dari metode pertanian tertentu, atau dari asap dan kebisingan pabrik-pabrik, tidak dapat dibatasi hanya pada si pemilik properti tersebut atau hanya pada orang-orang yang bersedia membayar kompensasi yang disepakati atas kerusakan yang akan terjadi. Dalam kasus-kasus seperti ini, kita harus menemukan substitusi bagi regulasi melalui mekanisme harga. Tetapi fakta bahwa kita harus menggunakan substitusi berupa regulasi langsung oleh pihak berwenang apabila kondisi-kondisi yang diperlukan agar kompetisi berlangsung dengan baik tidak dapat diciptakan, tidak membuktikan bahwa kita harus menindas kompetisi apabila kompetisi dapat berfungsi.

    (Halaman 48)

    Semua tugas ini sesungguhnya menyediakan bidang yang luas dan tak terbantahkan bagi aktivitas negara. Tidak ada sistem yang dapat dipertahankan secara rasional, yang di dalamnya negara tak melakukan apa pun. Sistem kompetitif yang efektif memerlukan kerangka hukum yang dirancang secara cerdas dan dapat disesuaikan terus-menerus, sama seperti sistem lain mana pun. Bahkan persyaratan paling penting agar sistem kompetitif bekerja dengan benar, yakni, pencegahan penipuan dan pemalsuan (termasuk eksploitasi ketidaktahuan), adalah tujuan besar yang perlu dikerjakan pihak legislatif, yang belum tercapai sepenuhnya.

    (Halaman 49)

    Sebetulnya, hal yang mempersatukan kalangan sosialis kiri dan kalangan sosialis kanan adalah permusuhan bersama mereka terhadap kompetisi dan keinginan bersama mereka untuk menggantikannya dengan suatu ekonomi terpimpin.

    Mustahil memberlakukan kontrol atas semua sumber daya produksi tanpa juga memutuskan untuk siapa dan oleh siapa sumber daya itu harus digunakan.  Kendatipun, di bawah apa yang dinamakan sosialisme kompetitif, perencanaan oleh otoritas pusat akan mengambil bentuk-bentuk yang agak kurang tegas, akibat-akibatnya tidak akan berbeda secara fundamental, dan unsur kompetisi di dalamnya akan tidak lebih dari suatu penipuan.

    (Halaman 50)

    Dengan menghancurkan kompetisi di dalam satu industri ke industri lain, kebijakan ini menyerahkan nasib konsumen ke dalam tangan aksi gabungan kapitalis monopolis dan para buruh industri yang paling terorganisir.

    (Halaman 52)

    Perencanaan yang sedang kita kritik hanyalah perencanaan yang menentang kompetisi—perencanaan yang menjadi substitusi kompetisi.

    BAB 4 “KENISCAYAAN” PERENCANAAN

    (Halaman 53)

    Kamilah yang pertama kali menyatakan bahwa semakin rumit bentuk suatu peradaban, semakin harus terbatas kebebasan individu — B. Mussolini

    (Halaman 56)

    Selain itu, harus dicatat bahwa monopoli sering kali adalah produk dari faktor-faktor lain, bukan faktor ongkos produksi yang lebih rendah jika produk yang dihasilkan berjumlah besar. Monopoli dicapai melalui kesepakatan persekongkolan dan didorong oleh kebijakan-kebijakan publik. Kalau berbagai kesepakatan itu dibatalkan dan kebijakan-kebijakan itu dihapuskan, maka kondisi-kondisi yang mendukung kompetisi akan pulih.

    Jika kedua hal ini merupakan akibat perkembangan teknologis atau produk tak terhindarkan dari evolusi “kapitalisme”, maka tentulah keduanya muncul lebih dahulu di negeri-negeri yang memiliki sistem ekonomi paling maju. Faktanya, keduanya muncul pertama-tama selama pertigaan terakhir abad ke-19 di beberapa negeri yang pada waktu itu masih relatif muda, yakni Amerika Serikat dan Jerman.

    (Halaman 57)

    Di sinilah, dengan bantuan negara, eksperimen besar pertama dalam “perencanaan ilmiah” dan “pengorganisasian industri yang dilakukan dengan sadar” akhirnya menciptakan berbagai monopoli raksasa, yang digambarkan sebagai pertumbuhan yang tak terhindarkan selama 50 tahun sebelum hal yang sama terjadi di Britania Raya.

    (Halaman 59)

    Bukan saja kompetisi cocok untuk berbagai kondisi yang relatif sederhana, justru metode ini satu-satunya metode yang bisa mengkoordinasi secara memadai kompleksitas pembagian kerja di bawa kondisi-kondisi modern itu.  Kontrol atau pun perencanaan yang efisien tidak akan sulit jika kondisi-kondisinya sangat bersahaja, sehingga satu orang atau satu badan dapat dengan efektif menyelidiki semua fakta yang relevan. Justru ketika faktor-faktor yang harus diperhitungkan sangat banyak hingga mustahil untuk mendapatkan sebuah pandangan sinoptik mengenai semua faktor ini, desentralisasi menjadi suatu keharusan.

    (Halaman 60)

    Oleh sebab desentralisasi diperlukan karena tak seorang pun dapat dengan sadar memperhitungkan semua pertimbangan yang berkaitan dengan berbagai keputusan banyak orang, koordinasi jelas tak dapat dilaksanakan oleh “kontrol yang sadar”. Tetapi hanya oleh penataan yang menyampaikan kepada masing-masing pelaku informasi yang harus dimilikinya supaya pelaku itu dapat dengan efektif menyesuaikan keputusan-keputusannya dengan keputusan-keputusan orang lain. Dan karena semua detail perubahan, yang terus-menerus mempengaruhi kondisi-kondisi permintaan dan penawaran atas berbagai komoditas, tidak pernah dapat diketahui sepenuhnya, atau tak pernah dapat dengan cukup cepat dikumpulkan dan disebarluaskan, oleh satu pusat apa pun, maka hal yang diperlukan adalah mencatat semua efek yang relevan dari tindakan-tindakan individu, dan yang petunjuk-petunjuknya pada waktu yang bersamaan merupakan hasil dari, dan pemandu bagi, semua keputusan individu. 

    Inilah persisnya fungsi sistem harga di bawah kompetisi, dan tak ada sistem lain mana pun yang dapat melakukannya, atau bahkan sekadar mungkin dapat melakukannya. Sistem ini memungkinkan para wiraswastawan, dengan hanya mengawasi relatif sedikit pergerakan harga-harga, seperti seorang pengawas mengawasi sedikit tuas-tuas panel pengendali, menyesuaikan aktivitas mereka dengan aktivitas rekan-rekan mereka.

    (Halaman 61)

    Poin penting di sini adalah bahwa sistem harga akan memenuhi fungsi ini hanya jika kompetisi berlaku, maksudnya, jika individu produsen harus menyesuaikan dirinya terhadap perbuahan harga dan tidak dapat mengontrolnya. Semakin rumit keseluruhannya, semakin bergantung kita jadinya pada pemilihan pengetahuan di antara individu-individu yang memiliki usaha-usaha terpisah yang harus dikoordinasikan oleh suatu mekanisme netral dalam menyebarluaskan informasi yang relevan yang dikenal oleh kita sebagai sistem harga.

    (Halaman 62)

    Argumen jenis ini tidak dengan sendirinya dirancang untuk menipu, sebagaimana mungkin akan dicurigai pembaca kritis: jawaban jelasnya, bahwa jika suatu teknik baru untuk memuaskan keinginan kita sungguh-sungguh lebih baik, teknik baru itu seharusnya mampu bersaing dengan semua cara yang ada serta seharusnya tidak membuang berbagai contoh yang menjadi rujukannya.

    (Halaman 68)

    Yang diinginkan para ekonom adalah metode yang menghasilkan koordinasi semacam itu tanpa perlu ada diktator mahatahu.

    BAB 5 PERENCANAAN DAN DEMOKRASI

    (Halaman 70)

    Tetapi semua paham ini berbeda dari liberalisme dan individualisme dalam hal bahwa paham-paham tersebut ingin mengorganisasi seluruh masyarakat dan semua sumbernya untuk mencapai suatu tujuan tunggal, dan dalam hal bahwa paham-paham tersebut menolak untuk mengakui adanya wilayah-wilayah otonom yang di dalamnya tujuan-tujuan individu adalah junjungan tertinggi.

    “Tujuan sosial”, atau “tujuan bersama”, yang untuknya masyarakat harus diorganisasikan, biasanya dideskripsikan secara tersamar sebagai “kemaslahatan bersama”, atau “kesejahteraan umum”, atau “kepentingan umum”. Tidak perlu banyak perenungan untuk melihat bahwa berbagai istilah ini tidak memiliki makna definitif yang memadai untuk menentukan suatu strategi atau rencana aksi khusus.

    Kesejahteraan dan kebahagiaan jutaan orang tidak dapat diukur berdasarkan satu skala tunggal mengenai kekurangan atau kelebihan. Kesejahteraan masyarakat, seperti juga kebahagiaan seorang manusia, bergantung pada bermacam ragam kombinasi faktor yang jumlahnya tak terbatas.

    (Halaman 73)

    Ini adalah fakta fundamental yang mendasari seluruh filsafat individualisme. Filsafat ini tak mengasumsikan, sebagaimana sering kali dituduhkan, bahwa manusia itu egoistik, atau bahwa manusia harus egoistik. Filsafat ini sekadar bertolak dari fakta yang tak terbantahkan bahwa batas-batas kekuasaan imajinasi kita tidak memungkinkan untuk dimasukkan ke dalam skala nilai-nilai kita, lebih dari satu sektor kebutuhan seluruh masyarakat, dan bahwa karena, sesungguhnya, skala nilai-nilai hanya bisa ada di dalam pikiran individu, maka hanya bisa  terdapat skala-skala tak lengkap, skala-skala yang tak pelak lagi berbeda dan sering kali tak konsisten satu sama lain. Dari sini, kalangan individualis menyimpulkan bahwa individu-individu harus diizinkan, dalam batas-batas tertentu, untuk mengikuti nilai-nilai dan pilihan-pilihan mereka sendiri ketimbang nilai dan pilihan orang lain, bahwa di dalam wilayah-wilayah ini, sistem tujuan seorang individu haruslah menjadi sistem tertinggi dan tidak tunduk pada pendiktean orang lain.

    (Halaman 74)

    Dengan demikian, tindakan bersama dibatasi pada bidang-bidang di mana orang menyepakati tujuan-tujuan bersama mereka.

    Dalam kenyataannya, orang paling mungkin menyepakati tindakan bersama apabila tujuan bersamanya bukanlah tujuan pamungkas bagi mereka, melainkan sarana yang mampu melayani sejumlah besar tujuan yang beraneka ragam.

    (Halaman 79)

    Mereka tidak diminta untuk bertindak hanya di bidang-bidang yang dapat mereka sepakati, melainkan juga untuk menghasilkan kesepakatan mengenai segala hal—seluruh arah penggunaan sumber-sumber daya bangsa.

    Untuk tugas semacam itu, sistem keputusan mayoritas  bagaimanapun juga tidak pas. Mayoritas bisa efektif apabila yang harus dipilih adalah alternatif-alternatif terbatas, tetapi adalah takhayul semata jika orang percaya bahwa pasti ada pandangan mayoritas mengenai segala sesuatu.

    (Halaman 80)

    Sang jendral tidak perlu menyelaraskan tujuan-tujuan yang berbeda dan independen satu terhadap yang lain; baginya hanya ada satu tujuan tertinggi. Tetapi tujuan-tujuan rencana ekonomi, atau bagian mana pun dari rencana itu, tidak dapat didefinisikan terlepas dari satu rencana tertentu. Hakikat masalah ekonomi adalah bahwa penyusunan rencana ekonomi mencakup pilihan-pilihan dari antara tujuan-tujuan yang bertentangan dan bersaing—kebutuhan-kebutuhan yang berbeda dari orang-orang yang berbeda.

    Tetapi ihwal tujuan-tujuan manakah yang memang bertentangan, mana yang harus dikorbankan jika kita ingin mencapai tujuan-tujuan tertentu yang lain, pendek kata, manakah alternatif-alternatif yang dari antaranya kita harus membuat pilihan, hanya dapat diketahui oleh mereka yang mengetahui semua fakta; dan hanya mereka, yakni para pakar, yang berada pada posisi untuk memutuskan yang mana dari tujuan-tujuan yang berbeda itu yang harus didahulukan. Tak bisa tidak, merekalah yang harus memaksakan urutan preferensi mereka pada komunitas yang menerima rencana itu.

    Halaman (86)

    Tidak dapat dikatakan tentang sistem demokrasi, sebagaimana dikatakan Lord Acton dengan tepat tentang kebebasan, bahwa sistem ini “bukanlah peranti untuk mencapai tujuan politik yang lebih tinggi, melainkan pada dirinya sendiri adalah tujuan politik  yang tertinggi. Demokrasi dibutuhkan bukan untuk semata membangun administrasi publik yang baik, tetapi juga demi keamanan pengejaran tujuan-tujuan yang tertinggi dari masyarakat sipil dan dari kehidupan pribadi.

    (Halaman 87)

    Namun, poin kita bukanlah bahwa kediktatoran pasti memasung kebebasan, melainkan bahwa perencanaan bermuara pada kediktatoran, karena kediktatoran adalah instrumen paling efektif untuk memaksa dan memberlakukan ideal-ideal, dan karena itu sangat penting jika perencanaan terpusat dalam skala besar ingin dilaksanakan.

    BAB 6 PERENCANAAN DAN KEDAULATAN HUKUM

    (Halaman 89)

    Tidak ada yang dengan lebih jelas membedakan kondisi-kondisi di negeri merdeka di negeri yang berada di bawah pemerintahan sewenang-wenang selain ketaatan di negeri merdeka pada prinsip-prinsip besar yang dikenal sebagai Kedaulatan Hukum (Rule of Law).

    (Halaman 92)

    Semuanya mau tak mau bergantung pada keadaan saat keputusan harus diambil, dan dalam membuat keputusan semacam itu, akan selalu perlu penyelarasan satu sama lain atas berbagai macam kepentingan orang dan berbagai kelompok.

    (Halaman 93)

    Namun, pertimbangan ini sebetulnya adalah dasar rasionil prinsip besar liberal yang disebut Kedaulatan Hukum.

    (Halaman 94)

    Negara harus membatasi dirinya pada pembuatan peraturan yang diterapkan pada berbagai jenis situasi umum, dan harus memungkinkan adanya kebebasan individu dalam segala sesuatu yang bergantung pada keadaan ruang dan waktu tersebut, karena hanya individu yang terlibat dalam setiap keadaan dan dapat sepenuhnya mengetahui keadaan itu serta menyesuaikan tindakan mereka dengan keadaan itu.

    Jika negara justru ingin memprediksi akibat dari tindakannya, itu berarti negara tidak akan memberikan pilihan apa pun bagi orang-orang yang terpengaruhi tindakannya. Apabila negara dapat dengan persis memprediksi berbagai akibat langkah dan strategi alternatifnya pada orang tertentu, negara jugalah yang membuat pilihan-pilihan di antara berbagai tujuan yang berlainan.  Jika kita ingin menciptakan kesempatan-kesempatan baru yang terbuka bagi semua orang, agar dapat dimanfaatkan mereka sesuka hati, maka hasil persisnya tak dapat diprediksi.

    (Halaman 95)

    Begitu akibat tertentu terlihat sebelumnya pada saat undang-undang sedang dibuat, negara tidak lagi hanya menjadi instrumen yang digunakan rakyat tetapi, sebaliknya, menjadi instrumen yang dipakai oleh pemberi hukum memanipulasi rakyat dan untuk tujuan-tujuannya sendiri. Negara tidak lagi menjadi unsur mesin utilitarian yang dimaksudkan untuk membantu orang perorangan dalam pengembangan kepribadian perorangan mereka sepenuhnya, dan berubah menjadi suatu pranata “moral” –di mana “moral” tidak digunakan sebagai lawan dari “tak bermoral” (immoral), tetapi berarti pranata yang memaksakan pandangannya mengenai semua persoalan moral pada rakyat, entah pandangan itu bermoral atau sangat tak bermoral. Dalam arti ini, Nazi atau negara kolektivis lain mana pun adalah negara “moral”, sementara negara liberal bukan.

    (Halaman 99)

    Kembali ke contoh yang disebutkan lebih awal: tidak jadi soal apakah kita semua berkendara si sebelah kiri atau di sebelah kanan jalan, selama kita semua melakukan hal yang sama. Hal yang penting adalah bahwa aturannya memungkinkan kita memprediksi perilaku orang lain dengan tepat, dan ini mengharuskan peraturan itu diterapkan pada semua kasus—bahkan jika dalam keadaan tertentu kita merasakannya tidak adil.

    (Halaman 100)

    Tentu saja setiap negara harus bertindak, dan setiap tindakan negara tentu saja berarti mencampuri hal-hal tertentu. Tetapi bukan itu poinnya. Pertanyaan yang penting adalah apakah si individu dapat meramalkan tindakan negara dan memanfaatkan pengetahuan itu sebagai informasi dalam menyusun rencananya sendiri, yang berarti bahwa negara tidak dapat mengontrol bagaimana peranti ciptaannya digunakan, dan si individu mengetahui dengan persis seberapa jauh dia akan diproteksi dari campur tangan orang lain, atau apakah negara ada dalam posisi untuk menggagalkan usaha-usaha individu. Negara yang mengontrol anak timbangan dan alat ukur (atau mencegah penipuan dan pemalsuan dengan cara lain apa pun) tentu saja sedang bertindak, sedangkan negara yang memperbolehkan penggunaan kekerasan, misalnya, oleh pemogok yang menghadang buruh lain yang mau bekerja, adalah negara yang tidak aktif.

    (Halaman 101)

    Sebagaimana Immanuel Kant merumuskannya (dan Voltaire mengungkapkannya sebelum Kant dalam terminologi yang sangat mirip): “manusia merdeka jika dia tidak perlu menaati siapa pun selain hukum,”

    (Halaman 102)

    Bisa saja Hitler mendapatkan kekuasaannya yang tanpa batas itu dengan cara yang betul-betul konstitusional dan karena itu apa pun yang dia lakukan bersifat legal dalam pengertian yuridis. Tetapi siapa yang menyatakan bahwa karena itu Kedaulatan Hukum masih berlaku di Jerman?

    (Halaman 104)

    Bentuk yang diambil Kedaulatan Hukum dalam hukum pidana biasanya diungkapkan dalam label Latin nulla poena sine lege— “tidak ada penghukuman tanpa hukum yang dengan jelas mengaturnya.

    Sebagaimana E.B. Ashton telah dengan baik mengungkapkannya, di sana prinsip liberal ini telah digantikan dengan prinsip nullum crimen sine poena— “tidak boleh ada ‘tindak pidana’ yang tidak dihukum”, entah hukum dengan tersurat menyediakan hukumannya atau tidak.

    BAB 7 KONTROL EKONOMI DAN TOTALITARIANISME

    (Halaman 109)

    Kontrol atas produksi kekayaan adalah kontrol atas kehidupan manusia itu sendiri— Hilaire Belloc

    (Halaman 111)

    Kita berjuang untuk mendapatkan uang karena uang memberi kita pilihan terluas dalam menikmati hasil usaha kita. Karena di dalam masyarakat modern keterbatasan penghasilan uang kita, yang diakibatkan kemiskinan relatif menekan kita, membuat kita merasakan sempitnya ruang gerak, banyak orang jadi membenci uang sebagai simbol keterbatasan itu. Tetapi ini adalah kesalahan memandang medium sebagai penyebab, medium yang melaluinya suatu kekuatan dapat dirasakan.

    (Halaman 115)

    Kebebasan kita untuk memilih, di dalam masyarakat yang kompetitif, bergantung pada fakta bahwa, jika seseorang menolak memenuhi keinginan kita, kita dapat berpaling ke orang lain. Tetapi jika kita menghadapi pelaku monopoli, nasib kita berada dalam genggamannya. Dan otoritas yang memandu keseluruhan sistem ekonomi adalah pelaku monopoli yang paling berkuasa yang dapat dibayangkan.

    (Halaman 118)

    Jika mereka menilai tinggi posisi yang mereka cari, mereka akan sering kali dapat memulai pekerjaan mereka dengan melakukan pengorbanan finansial, dan belakangan kemudian mereka akan berhasil berkat mutu pekerjaan mereka, yang mula-mula tidak begitu kelihatan jelas. Tetapi kalau penguasa menetapkan jumlah upah untuk semua kategori pekerjaan dan penyeleksian semua calon pegawai dilakukannya melalui tes objektif, maka kekuatan tekad mereka untuk bekerja tidak akan bernilai banyak.

    (Halaman 119)

    Seorang pencari pekerjaan yang kualifikasinya tidak sesuai dengan tipe standar, atau yang wataknya tidak lazim, tidak akan lagi dapat membuat kesepakatan khusus dengan si pemberi kerja yang memiliki kebutuhan khusus yang sesuai dengan karakter si pencari kerja: orang yang lebih menyukai jam kerja yang tak teratur atau bahkan yang lebih menyukai kehidupan gampangan dan tak merepotkan, yang sudah puas dengan penghasilan yang kecil dan mungkin tak pasti, ketimbang jam kerja dan penghasilan rutin yang teratur, tidak akan lagi memiliki pilihan.

    (Halaman 120)

    Ambillah sebuah contoh saja: kita pasti dapat mengurangi korban kecelakaan kendaraan bermotor sampai ke nol jika kita mau menanggung biayanya—seandainya tak ada jalan lain apa pun—dengan melenyapkan semua kendaraan bermotor. Dan sama juga halnya untuk ribuan contoh lain di mana kita secara terus-menerus mempertaruhkan kehidupan dan kesehatan kita, dan juga semua nilai yang baik dari semangat kita, diri kita sendiri dan diri sesama kita, untuk meningkatkan apa yang pada waktu yang sama kita remehkan sebagai kesenangan material kita. Ihwalnya tidak bisa lain, sebab semua tujuan kita bersaing memperebutkan sumber daya yang sama; dan kita tidak bisa lain pasti akan berjuang keras demi nilai-nilai absolut ini jika nilai-nilai ini terancam.

    BAB 8 OLEH SIAPA, PADA SIAPA?

    (Halaman 127)

    Kesempatan terbaik yang pernah diberikan kepada dunia telah dicampakkan keran semangat yang bergelora untuk mencapai kesetaraan telah membuat harapan meraih kebebasan sia-sia— Lord Acton

    Adalah signifikan bahwa salah satu keberatan yang paling umum terhadap kompetisi adalah bahwa kompetisi itu “buta”. Bukannya tidak relevan jika kita ingat bahwa bagi orang kuno kebutaan adalah ciri dewi keadilan. Meskipun tidak banyak lagi kesamaan lain antara kompetisi dan keadilan, keduanya sama-sama dihargai karena tidak pilih kasih terhadap orang.

    (Halaman 128)

    Meskipun, di dalam kompetisi, probabilitas seseorang yang mulai dengan kemiskinan akan memperoleh kekayaan besar jauh lebih kecil ketimbang seseorang yang telah mewarisi kepemilikan, tapi kemungkinan menjadi kayak itu tetap terbuka bagi orang miskin, bahkan, sistem kompetisi adalah satu-satunya sistem di mana kesempatan menjadi kaya bergantung hanya pada diri sendiri dan bukan pada kemurahan hati penguasa, dan di mana tidak seorang pun dapat mencegah orang lain untuk mencoba mendapatkan kekayaan.  

    (Halaman 130)

    Apa yang telah dilupakan generasi kita adalah bahwa sistem kepemilikan pribadi adalah penjamin kebebasan yang paling penting, bukan hanya bagi orang yang memiliki hak milik, tetapi tak kurang bagi orang yang tidak memilikinya.

    (Halaman 133)

    Dalam masyarakat kompetitif, orang tidak terhina, martabatnya tidak terpukul, jika kepadanya diberitahukan bahwa perusahaan tidak lagi memerlukan jasanya, atau bahwa perusahaan itu tidak dapat menawarkan kepadanya pekerjaan yang lebih baik.

    Tetapi, pengangguran atau kehilangan penghasilan yang akan selalu mempengaruhi sejumlah orang di dalam masyarakat apa pun, akan bersifat kurang memalukan jika terjadi sebagai akibat nasib buruk dan bukan dengan sengaja dibebankan oleh otoritas. Bagaimana pun pahitnya pengalaman itu, akan jauh lebih buruk keadaannya di dalam masyarakat terencana.  Di situ yang harus diputuskan bukan apakah seseorang diperlukan dalam pekerjaan tertentu, melainkan apakah dia berguna untuk sesuatu, dan seberapa bermanfaatnya dia. Posisi dalam kehidupan harus ditentukan baginya oleh orang lain.

    (Halaman 135)

    Saya kira adalah Lenin sendiri yang memperkenalkan kepada Rusia ungkapan yang terkenal “Oleh siapa, pada siapa?—selama tahun-tahun awal pemerintahan Soviet frasa ini adalah sebuah pemeo yang dimunculkan rakyat untuk meringkas masalah umum masyarakat sosialis. Siapa merencanakan pada siapa, siapa mengendalikan dan menguasai siapa, siapa yang menentukan tempat orang lain dalam kehidupan, dan siapa yang hak-haknya ditentukan oleh orang lain? Hal-hal ini tak terhindarkan lagi menjadi isu-isu sentral yang harus diputuskan hanya oleh kekuasaan tertinggi.

    BAB 9 KETAHANAN DAN KEBEBASAN

    (Halaman 149)

    Masyarakat secara keseluruhan akan menjadi satu kantor dan satu pabrik yang memberlakukan kesetaraan pekerjaan dan kesetaraan gaji.—V.I. Lenin, 1917.

    Di dalam negeri di mana majikan satu-satunya adalah Negara, oposisi berarti kematian lewat kelaparan pelan-pelan. Prinsip lama: jika seseorang tidak mau bekerja, tidak makan, telah diganti oleh prinsip baru: jika seseorang tidak mau taat dia tidak makan.—L. Trotsky, 1937.

    (Halaman 153)

    Kita semua tahu nasib buruk orang yang sangat terlatih keahliannya, yang diperoleh lewat proses pembelajaran yang berat, tiba-tiba saja kehilangan nilainya karena suatu invensi yang sangat menguntungkan bagian lain masyarakat. Sejarah 100 tahun terakhir penuh dengan contoh seperti itu, yang beberapa di antaranya berdampak pada ratusan ribu orang sekaligus.

    (Halaman 164)

    Sebagaimana dengan bangga diklaim orang Jerman sendiri, Jerman telah lama menjadi Beamtestaat, negara para pegawai negeri. Di negara semacam ini, bukan hanya di dalam Kepegawaian Negeri, melainkan di hampir seluruh bidang kehidupan, penghasilan dan status diberikan dan dijamin oleh suatu otoritas.

    (Halaman 166)

    “Orang-orang yang mau melepaskan kebebasan esensial untuk membeli sedikit ketahanan sementara, tidak patut memperoleh entah kebebasan atau pun ketahanan.

    BAB 10 MENGAPA ORANG TERBURUK MENCAPAI POSISI PUNCAK

    (Halaman 169)

    Untuk alasan inilah orang-orang yang bejat dan ganas akan lebih mungkin sukses di dalam masyarakat yang cenderung bergerak ke totalitarianisme. Siapa yang tidak melihat hal ini masih belum memahami lebarnya kesenjangan yang memisahkan totalitarianisme  dari rezim liberal, perbedaan mutlak antara keseluruhan atmosfer moral di bawah kolektivisme dan peradaban Barat yang pada dasarnya individualis.

    (Halaman 172)

    Dalam kasus pertama, mungkin sekali benar bahwa pada umumnya semakin tinggi pendidikan dan kecerdasan individu-individu, semakin berbeda pandangan-pandangan dan cita rasa mereka, dan semakin kurang mungkin bagi mereka untuk menyepakati hierarki nilai-nilai tertentu.

    (Halaman 173)

    Di Jerman dan di Australia orang Yahudi dipandang sebagai wakil kapitalisme karena adanya kebencian tradisional dari sebagian besar penduduk terhadap usaha komersial telah membuat usaha komersial itu lebih siap dimasuki oleh kelompok yang praktis tersingkir dari pekerjaan-pekerjaan yang dihargai lebih tinggi. Ini adalah kisah lama tentang ras asing yang diizinkan masuk hanya ke dalam pekerjaan-pekerjaan yang kurang dihargai, yang kemudian malah lebih dibenci lagi karena mereka menjalankan pekerjaan-pekerjaan itu dengan sukses.

    (Halaman 175)

    Salah satu kontradiksi mendasar dalam filsafat kolektivis adalah bahwa, sementara filsafat ini mendasarkan diri pada moral humanistik yang telah dikembangkan oleh individualisme, filsafat ini hanya dapat dipraktikkan di dalam kelompok yang relatif kecil. Bahwa sosialisme selama bersifat teoretis adalah internasionalis, dan begitu dipraktikkan, entah di Rusia atau di Jerman, langsung menjadi nasionalis yang penuh kekerasan, adalah salah satu alasan mengapa “sosialisme liberal”, sebagaimana dibayangkan kebanyakan orang di Barat, tetapi bersifat teoretis murni, sementara praktik sosialisme di mana-mana bersifat totalitarian.

    (Halaman 176)

    Kolektivisme tidak memiliki ruang bagi humanitarianisme yang luas sebagaimana liberalisme, melainkan hanya bagi partikularisme sempit dari paham-paham totalitarian.

    Jika “komunitas” atau negara lebih utama daripada individu, jika komunitas memiliki tujuan-tujuannya sendiri yang terlepas, dan lebih unggul, dari tujuan-tujuan individu,  maka hanya individu-individu yang bekerja demi tujuan-tujuan yang sama dapat dipandang sebagai anggota komunitas. Suatu konsekuensi tak terelakkan dari pandangan ini adalah bahwa seseorang dihormati hanya sebagai anggota kelompok, maksudnya, hanya jika dan sejauh dia bekerja demi tujuan-tujuan bersama yang diakui, dan bahwa dia mendapatkan keseluruhan martabatnya hanya dari keanggotaannya  ini dan bukan hanya dari fakta bahwa dia pada hakikatnya seorang manusia.

    (Halaman 184)

    Sedikit saja orang yang akan menyangkal bahwa orang Jerman secara keseluruhan adalah pekerja keras dan sangat berdisiplin, seksama, dan energetik sampai terasa tidak kenal ampun, selalu mau melakukan segala sesuatu setepat-tepatnya, dan berkonsentrasi penuh dalam tugas apa pun yang mereka jalankan, bahwa mereka sangat peka terhadap ketertiban, kewajiban dan ketaatan keras pada otoritas, dan bahwa mereka sering memperlihatkan kesiapan besar untuk membuat pengorbanan pribadi dan keberanian besar untuk menghadapi bahaya jasmaniah. Semua sifat ini membuat orang Jerman suatu instrumen yang efisien dalam menjalankan tugas yang diberikan, dan mereka karenanya, telah dengan seksama dipupuk di dalam negara Prusia lama dan Reich (=Imperium)baru yang didominasi Prusia. Apa yang kerap dipandang tidak dimiliki “orang Jerman pada umumnya” adalah kebajikan-kebajikan individualis seperti toleransi dan respek terhadap individu lain dan pendapat mereka, kemandirian pikiran, ketulusan karakter, dan kesiapan membela keyakinan sendiri di hadapan seorang atasan, suatu sikap yang oleh orang Jerman sendiri, biasanya sadar bahwa mereka tidak memilikinya, dinamakan Zivilcourage (keberanian sipil), kepedulian pada orang yang lemah dan rapuh, cemooh dan ketidaksukaan yang wajar terhadap kekuasaan, sikap yang hanya bisa tercipta oleh tradisi lama kemerdekaan pribadi.

    (Halaman 188)

    Terdapat banyak posisi di dalam masyarakat totalitarian yang mengharuskan orang mempraktikkan kekejaman dan intimidasi, penipuan yang lihai dan kegiatan mata-mata. Baik Gestapo, maupun manajemen suatu kamp konsentrasi, baik Kementerian Propaganda maupun SA dan SS (atau posisi yang sama di Italia dan Rusia) bukanlah tempat yang cocok untuk menuangkan perasaan kemanusiaan. Namun justru melalui posisi seperti itulah terbuka jalan menuju ke posisi-posisi tertinggi di dalam negara totalitarian.

    Mereka harus melakukan hal-hal ini entah mereka mau atau tidak: dan kemungkinan bahwa orang yang berkuasa merupakan individu-individu yang tidak suka memiliki  dan memakai kekuasaan sama besarnya dengan kemungkinan seseorang yang sangat lembut dan baik hati mendapatkan pekerjaan sebagai tukang cambuk di dalam suatu perkebunan yang memperkerjakan budak.

    BAB 11 BERAKHIRNYA KEBENARAN

    (Halaman 191)

    Cara paling efektif untuk membuat setiap orang melayani satu sistem tujuan tertentu yang menjadi arah perencanaan sosial  adalah dengan membuat setiap orang percaya pada tujuan-tujuan itu.

    (Halaman 196)

    “Kebohongan mulia” dari Plato dan “mitos” atau teori negara  korporatif Mussolini.

    Cara paling efektif untuk membuat orang menerima validitas nilai-nilai yang harus mereka layani adalah dengan mempersuasi mereka bahwa nilai-nilai itu sebetulnya sama dengan nilai-nilai yang sudah dipegang oleh mereka, atau setidaknya oleh orang-orang terbaik dari antara mereka, tetapi yang belum dipahami atau dikenali dengan benar sebelumnya. Rakyat harus diarahkan untuk memindahkan kesetiaan mereka dari berhala kuno ke berhala baru dengan memakai dalih bahwa berhala baru itu adalah berhala yang telah selalu dikenali naluri mereka yang sehat, namun yang sebelumnya hanya terlihat samar-samar oleh mereka. Dan teknik paling efisien untuk mencapai tujuan ini adalah dengan memakai kata-kata lama tetapi yang maknanya telah diubah.

    Dalam hal ini, kata yang paling menderita tentu saja adalah kata kebebasan. Kebebasan adalah kata yang digunakan dengan bebas di negara-negara totalitarian seperti halnya di negara-negara lain.

    (Halaman 197)

    Mr. Peter Drucker (The Endo f Economic Man, hlm. 74) dengan tepat mengamati bahwa “semakin sedikit kebebasan, semakin banyak percakapan mengenai ‘kebebasan baru’.

    (Halaman 201)

    Menurut pasangan ekonom Webb, Journal for Marxist-Leninist Natural Science memiliki slogan berikut: “Kami mendukung partai dalam Matematika. Kami mendukung kemurnian teori Marxis-Leninis dalam ilmu bedah.

    (Halaman 202)

    Sekali Sains harus melayani bukan kebenaran melainkan kepentingan suatu kelas, suatu komunitas, atau suatu negara, maka tugas satu-satunya argumen dan diskusi adalah untuk membenarkan dan bahkan menyebarkan lebih jauh kepercayaan-kepercayaan yang menjadi arah gerak seluruh kehidupan komunitas.

    (Halaman 203)

    Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Menteri Kehakiman Nazi, pertanyaan yang harus diajukan setiap teori ilmiah baru pada dirinya sendiri adalah: “Apakah saya melayani Nasional-Sosialisme demi kemaslahatan terbesar semua orang?”

    (Halaman 205)

    Interaksi antar individu, yang memiliki pengetahuan dan pandangan berbeda, itulah yang membentuk kehidupan pemikiran. Pertumbuhan nalar adalah proses sosial  yang didasarkan pada keberadaan perbedaan semacam itu. Sudah hakikatnya bahwa pertumbuhan ini akan mendatangkan akibat-akibat yang tidak dapat di prediksi, bahwa kita tidak dapat mengetahui pandangan-pandangan mana yang akan membantu pertumbuhannya dan mana yang akan menghambat; pendek kata, pertumbuhan ini tidak dapat dikendalikan oleh pandangan apa pun yang kini kita miliki tanpa pada waktu yang sama membatasinya.

    BAB 12 AKAR-AKAR SOSIALIS NAZISME

    (Halaman 215)

    Jerman ingin mengorganisasi Eropa yang hingga kini masih tak memiliki organisasi.  Akan saya jelaskan kepada Anda sekarang rahasia besar Jerman: Kami, atau mungkin ras Jerman, telah menemukan signifikansi organisasi. Sementara bangsa-bangsa lain masih hidup di bawah rezim individualisme,  kami telah mendapatkan rezim organisasi.

    Yang sangat serupa adalah juga banyak ajaran seorang mantan Marxis lain, Friedrich Naumann, yang bukunya, Mitteleuropa, mungkin beredar paling luas dibandingkan buku masa perang mana pun di Jerman. 

    (Halaman 221)

    “Ide Prusia” mengharuskan setiap orang menjadi petugas negara, dan semua upah dan gaji ditetapkan negara. 

    BAB 13 TOTALITARIAN DI TENGAH KITA

    (Halaman 231)

    Dengan kata lain, tidak ada sesuatu pun yang penting kecuali kegunaan pragmatis, dan kita bahkan diyakinkan bahwa “norma pacta sun servanda bukanlah prinsip moral”.

    (Halaman 236)

    Kita, Universitas Berlin, yang berlokasi berseberangan dengan istana Raja, berkat tindakan yayasan kita, adalah para pelindung intelektual Dinasti Hohenzollern.” (A Speech on the German War, London, 1870, Hlm. 31. Luar biasa bahwa du Bois-Reymond merasa perlu menerbitkan orasi ini dalam edisi bahasa Inggris.)

    (Halaman 245)

    Monopoli swasta jarang bersifat total dan bahkan lebih lagi jarang lagi bertahan lama atau dapat mengabaikan kompetisi potensial. Tetapi monopoli oleh negara senantiasa merupakan monopoli yang di proteksi negara—diproteksi baik terhadap kompetisi potensial maupun terhadap kritik yang efektif.

    (Halaman 247)

    Prof. H. J. Laski, dalam pidatonya pada Konferensi Tahunan Partai Buruh yang ke-41, London 26 Mei 1942 (Report, hlm. 111). Patut dicatat bahwa menurut Prof. Laski, adalah “Sistem kompetitif gila ini yang mendatangkan kemiskinan kepada semua orang, dan perang merupakan akibat dari kemiskinan itu”—suatu penafsiran yang aneh terhadap sejarah 150 tahun terakhir.

    BAB 14 KONDISI-KONDISI MATERIAL DAN TUJUAN-TUJUAN IDEAL

    (Halaman 256)

    Bahwa tidak ada satu tujuan tunggal apa pun yang boleh dalam keadaan damai dibiarkan memiliki preferensi mutlak di atas semua pilihan lain, berlaku bahkan bagi satu tujuan yang, kini setiap orang setujui, berada di peringkat terdepan: mengatasi pengangguran.

    (Halaman 268)

    Nilai-nilai kebajikan yang dimiliki bangsa Britania, dalam jumlah yang lebih banyak ketimbang yang dimiliki kebanyakan bangsa lain, kecuali hanya sedikit bangsa yang lebih kecil seperti Swiss dan Belanda, adalah ketidakbergantungan dan kemandirian, inisiatif individu dan tanggung jawab lokal, ketergantungan yang sukses pada aktivitas sukarela, sikap tak mencampuri urusan sesama dan toleransi terhadap yang berbeda dan yang aneh, respek terhadap adat istiadat dan tradisi, dan sikap curiga yang sehat terhadap kekuasaan dan otoritas. Kekuatan Britania, watak Britania, dan prestasi-prestasi Britania dihasilkan terutama dari pemupukan spontanitas. Tetapi hampir semua tradisi dan institusi yang di dalamnya puncak moral Britania telah mewujud secara paling khas, dan yang pada gilirannya telah membentuk karakter bangsa dan seluruh suasana moral Inggris, adalah tradisi dan institusi yang secara bertahap sedang dihancurkan oleh perkembangan kolektivisme dan tendensi-tendensi sentralistiknya yang inheren.

    (Halaman 270)

    Janganlah bangsa Inggris lupa mereka pernah menjadi teladan bagaimana bangsa-bangsa lain harus hidup.

    BAB 15 PROSPEK TATA INTERNASIONAL

    (Halaman 273)

    Dari semua cara mengontrol kekuasaan demokrasi, federasi adalah yang paling efektif dan paling ramah… sistem federal membatasi dan mengontrol kekuasaan tertinggi dengan memecah-mecah kekuasaan dan dengan memberikan kepada pemerintah hanya hak-hak tertentu yang sudah ditetapkan. Inilah satu-satunya metode untuk mengontrol bukan saja kelompok mayoritas tetapi juga kekuasaan seluruh rakyat.—Lord Acton

    Tak ada bidang lain di mana dunia sejauh ini telah membayar dengan sangat mahal karena meninggalkan liberalisme abad ke-19 selain di dalam bidang di mana tindakan menarik diri ini dimulai: hubungan internasional.

    (Halaman 276)

    Orang-orang yang setidaknya agak menyadari bahaya-bahaya ini biasanya menarik kesimpulan bahwa perencanaan ekonomi harus dibuat secara “internasional”, yakni, oleh suatu otoritas supranasional.

    (Halaman 283)

    Dan sekali perencanaan semacam itu dijalankan, semua sumber daya dari wilayah yang di rencanakan semacam itu dijalankan, semua sumber daya dari wilayah yang direncanakan harus melayani perencanaan itu—tidak boleh ada kekecualian bagi orang-orang yang merasa dapat berbuat lebih baik bagi diri mereka sendiri. Sekali klaim merek diberikan peringkat yang lebih rendah, mereka harus bekerja demi pemenuhan semua kebutuhan orang-orang lain yang telah didahulukan.

    (Halaman 285)

    Kontrol eksklusif atas suatu komoditas yang paling penting atau atas suatu pelayanan umum (Misalnya transportasi udara) sebetulnya adalah salah satu kekuasaan yang berjangkauan paling luas yang dapat memberikan kepada otoritas apa pun.

    (Halaman 290)

    Bentuk pemerintahan internasional, yang memungkinkan kekuasaan-kekuasaan yang terbatas dengan tegas ditransfer sesuatu otoritas internasional, semenara dalam semua segi lain masing-masing negara masih tetap bertanggungjawab dalam urusan-urusan internal mereka, tentu saja adalah bentuk federasi.

    (Halaman 291)

    Tetapi federalisme adalah suatu demokrasi dengan kekuasaan sangat terbatas. Selain ideal yang lebih tidak realistik, peleburan negeri-negeri yang berbeda ke dalam satu negara tunggal yang tersentralisasi (keinginan yang belum tentu ada), federalisme adalah satu-satunya jalan di mana ideal hukum internasional dapat terwujud.

    (Halaman 296)

    Selalu merupakan keyakinan saya bahwa ambisi-ambisi semacam itu merupakan akar kelemahan Liga Bangsa-Bangsa: bahwa dalam upaya (yang tidak sukses) untuk membuat organisasi ini mendunia, organisasi ini harus dibuat lemah, dan bahwa Liga yang lebih kecil dan serentak lebih berkuasa dapat menjadi instrumen yang lebih baik dalam memelihara perdamaian.

    KESIMPULAN

    (Halaman 299)

    Tujuan buku ini bukan untuk membuat gambaran program yang terperinci mengenai tata masyarakat masa depan yang dikehendaki.

    (Halaman 300)

    Jika kita mau membangun dunia yang lebih baik, kita harus memiliki keberanian untuk memulai awal yang baru—bahkan jika itu berarti reculer pour mieux sauter, suatu “langkah mundur untuk melompat lebih jauh ke depan”.

    (Halaman 301)

    Prinsip pemandunya, bahwa kebijakan yang menjamin kebebasan bagi setiap individu adalah satu-satunya kebijakan yang benar-benar progresif, tetap benar pada masa kini seperti halnya pada abad ke-19.

    CATATAN BIBLIOGRAFIS

    (Halaman 304)

    G. Halm, L.V. Mises, dan lain-lain. Collectivist Economic Planning, disunting oleh F.A. Hayek. (Routledge) 1937.

    M. Polanyi. The Contempt of Freedom. (Watts) 1940.

    H. Simons, A Positive Program for Laissez-Faire. Some Proposals for a Liberal Economic Policy. 1934.

    (Halaman 305)

    Mungkin panduan-panduan terbaik untuk mengenali beberapa masalah kontemporer kita masih bisa ditemukan di dalam karya-karya beberapa filsuf politis akbar dari zaman liberal, de Tochqueville atau Lord Acton, dan, jauh lebih ke belakang, Benjamin Constant, Edmund Burke, dan Federalist Papers yang dikarang Madison, Hamilton dan Jay, generasi-generasi yang memandang kebebasan masih sebagai suatu perkara dan suatu  nilai yang harus dibela, sementara generasi kita pada waktu yang sama menerima kebebasan sebagai sesuatu yang sudah ada begitu saja, tanpa perlu diargumentasikan atau dibuktikan, dan tidak menyadari dari mana datangnya bahaya yang mengancam, dan juga tidak memiliki keberanian untuk membebaskan diri dari doktrin-doktrin yang membahayakan mereka.

     

     

    Menemukan Kembali Liberalisme

    Ludwig von Mises

    Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku “Menemukan Kembali Liberalisme” karangan Ludwig von Mises

    Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

    Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

    Selamat membaca.

    Chandra Natadipurba

    ===

    MENEMUKAN KEMBALI LIBERALISME
    OLEH LUDWIG VON MISES

    Judul asli: Liberalism: In the Classical Tradition
    Penerbit: The Foundation for Economic Education, Inc
    ISBN: 978-602-99571-1-2

    Cetakan pertama, Desember 2011

    (hlm. viii)
    KATA PENGANTAR
    FREEDOM INSTITUTE
    Kalau memang Amerika pada dasarnya berwatak liberal, mengapa pohon liberalisme yang tumbuh di tanah Amerika menghasilkan buah yang berbeda dibandingkan di tempat asalnya di Eropa?

    (hlm. ix)
    Semangat Mises untuk membela Liberalisme klasik sedikit banyak terkait dengan latar belakang hidupnya sebagai eksil politik yang trauma akan horor Perang Dunia I dan ancaman kolektivisme dan fasisme di Eropa.

    (hlm. xi)
    Atau untuk meminjam istilah Adam Smith, pembagian kerja dimungkinkan karena propensity to truck, barter and exchange adalah sesuatu yang inheren dalam diri manusia.
    Dengan kata lain, Mises menerima liberalisme karena sistem tersebut dinilai paling natural dan menolak sosialisme karena sistem itu dari segi ilmu ekonomi tidak akan bisa jalan.
    Dengan kata lain, fenomena ekonomi, sosial, dan politik menurut mazhab ekonomi Austria berporos pada “tindakan individu,” yakni sosok Robinson Crusoe yang tindakannya didorong self-interest, yang menyadari adanya faktor scarcity dan karena itu mesti punya kebebasan memilih.

    (hlm. xvi)
    KATA PENGANTAR
    Untuk Edisi Ketiga 1985
    Itu sebabnya, ia menyebut versi bahasa Inggris The Free and Prosperous Commonwealth (Persemakmuran Bebas dan Makmur). Akan tetapi, tahun berikutnya, Mises memutuskan bahwa para penyokong kebebasan dan pasar bebas tidak boleh memasrahkan “liberalisme” kepada kaum sosialis-filosofis.

    (hlm. xvii)
    Pada 1926 ia mendirikan lembaga riset swasta, Austrian Institute for Business Cycle Research (Institut Riset Siklus Bisnis Austria), yang bertahan hingga hari ini.

    (hlm. xix)
    Sebagai kesimpulan, ide, bukan senjata, yang mengubah keadaan.

    (hlm. xxvii)
    KATA PENGANTAR
    Alasan lain yang disesalkan adalah bahwa hilangnya istilah “liberal” memaksa penggunaan istilah-istilah rekaan canggih atau penjelasan berputar-putar (misalnya “libertarian,” “liberalisme abad ke-19,” atau “liberalisme klasik.” Mungkinkah secara tak disengaja ada liberalisme “neo-klasik” dan orang-orang yang mendukungnya?)

    (hlm. xxxi)
    KATA PENGANTAR
    Untuk Edisi Bahasa Inggris
    TATANAN sosial yang lahir dari falsafah Pencerahan (Enlightenment) memberikan kekuasaan kepada rakyat biasa. Dalam kapasitasnya sebagai konsumen, “rakyat biasa” diharapkan menentukan apa yang harus diproduksi, berapa jumlahnya dan bagaimana kualitasnya, oleh siapa, bagaimana, dan di mana; dalam kapasitasnya sebagai pemilih, ia memiliki kewenangan menentukan kebijakan negaranya. Mekanisme pasar bebas yang dikecam habis-habisan hanya menyisakan satu cara untuk meraih kekayaan, yaitu keberhasilan dalam melayani konsumen dengan cara terbaik dan termurah. Kebesaran periode di antara Perang Napoleon dan Perang Dunia Pertama terletak pada kenyataan bahwa cita-cita sosial, setelah direalisasikan oleh orang-orang terkemuka yang memperjuangkannya, adalah perdagangan bebas di dunia yang damai yang terdiri dari bangsa-bangsa merdeka.

    (hlm. xxxii)
    Yang mengherankan adalah bahwa di negara ini ide-ide ini dianggap sebagai ide-ide khas Amerika, sebagai kelanjutan dari prinsip-prinsip dan falsafah Leluhur Kaum Pendatang (Pilgrim Fathers), para penandatangan Deklarasi Kemerdekaan, dan Perancang Undang-Undang Dasar dan dokumen Federal.

    (hlm. xxxiii)
    Program Sozialpolitik Bismarck diluncurkan pada 1881, lebih dari 50 tahun sebelum tiruannya, program New Deal (Kesepakatan Baru) F.D. Roosevelt.

    (hlm. 1)
    PENDAHULUAN
    1. Liberalisme
    Bahkan di Inggris, yang dijuluki tanah kelahiran liberalisme dan model negara liberal, para pendukung kebijakan liberal tidak pernah berhasil memperoleh semua tuntutan mereka.
    Namun, meskipun supremasi ide-ide liberal tidak berlangsung lama dan sangat terbatas, ide-ide itu cukup untuk mengubah wajah bumi.

    (hlm. 2)
    Justru di negara-negara yang sudah melangkah jauh dalam mengadopsi program liberal, puncak piramida sosial diduduki, terutama, oleh mereka yang bukan sejak lahir menikmati posisi istimewa berdasarkan kekayaan atau pangkat tinggi orang tua mereka, tetapi oleh mereka yang, dalam kondisi yang menguntungkan, berhasil keluar dari kondisi sulit dengan upaya mereka sendiri.

    (hlm. 3)
    Telah disebutkan bahwa bahkan di Inggris sekalipun apa yang dipahami sebagai liberalisme dewasa ini lebih mirip dengan Toryisme dan sosialisme daripada program lama para pedagang bebas (freetraders).

    (hlm. 4)
    2. Kesejahteraan Material
    Liberalisme adalah sebuah doktrin yang ditujukan sepenuhnya bagi perilaku manusia di bumi ini. Sesungguhnya, liberalisme tidak mempunyai tujuan lain selain daripada memajukan kesejahteraan lahiriah dan material manusia dan tidak secara langsung memberi perhatian pada upaya memenuhi kebutuhan spiritual dan metafisik mereka. Liberalisme tidak menjanjikan kebahagiaan dan kesenangan selain kepuasan tertinggi karena semua keinginan duniawi mereka terpenuhi.

    (hlm. 5)
    Kebijakan sosial hanya bisa menyingkirkan penyebab luar rasa sakit dan penderitaan; kebijakan sosial dapat mendorong sistem yang memberi makan untuk orang-orang yang kelaparan, pakaian untuk orang-orang yang telanjang, dan rumah-rumah untuk kaum tunawisma. Kebahagiaan dan kepuasan hati tidak tergantung pada makanan, pakaian, dan tempat tinggal, tetapi, di atas segalanya pada apa yang dihargai oleh seseorang dalam dirinya sendiri. Bukan karena liberalisme memandang rendah sifat-sifat kerohanian maka liberalisme hanya memusatkan perhatian pada kesejahteraan material manusia, melainkan karena keyakinan bahwa inspirasi manusia yang paling tinggi dan dalam tidak bisa dicapai oleh peraturan yang bersifat lahiriah. Liberalisme hanya berupaya menciptakan kesejahteraan lahiriah karena ia tahu bahwa kekayaan rohani tidak bisa datang dari luar, tetapi hanya dari dalam hati manusia sendiri. Liberalisme tidak bertujuan menciptakan apa pun selain prasyarat lahiriah bagi pengembangan kehidupan batin. Dan tidak diragukan lagi bahwa individu abad kesepuluh, yang tidak pernah mendapat kesempatan untuk menarik napas dan beristirahat sejenak dari rasa cemas karena harus bersusah payah memenuhi kebutuhan hidupnya yang nyaris tidak terpenuhi atau untuk mempertahankan diri dari ancaman musuh-musuhnya.

    Kita hanya bisa meminta mereka untuk tidak mengganggu kita seperti halnya kita tidak bisa menghalangi mereka mencapai surga dengan cara mereka sendiri.

    (hlm. 6)
    3. Rasionalisme
    Liberalisme tidak mengatakan bahwa manusia selalu bertindak cerdas, melainkan bahwa mereka, demi kepentingan mereka sendiri, harus bertindak cerdas.

    (hlm. 7)
    Akan tetapi, begitu pembicaraan tiba pada titik di mana harus diputuskan apakah pembangkit listrik dikelola oleh individu atau oleh kotamadya, nalar tidak lagi dianggap sah.
    Tapi setinggi apa isu-isu politik dan sosial ditempatkan, isu-isu itu tetap merujuk pada hal-hal yang berada dalam kontrol manusia dan oleh karena itu harus dinilai sesuai dengan hukum penalaran manusia.
    Tapi kenyataan bahwa kita tidak pernah dapat memahami makna dan tujuan eksistensi kita tidak menghalangi kita untuk mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari penyakit menular atau untuk memanfaatkan sarana yang tepat untuk menyediakan makanan dan pakaian untuk-

    (hlm. 8)
    -diri kita sendiri, atau menghalangi kita mengorganisasi masyarakat sedemikian rupa sehingga tujuan duniawi yang kita perjuangkan dapat dicapai dengan cara paling efektif.

    4. Tujuan Liberalisme
    Liberalisme hanya menginginkan yang terbaik bagi semua orang, bukan hanya satu kelompok khusus. “Kebahagiaan terbesar untuk sebagian besar orang.” Secara historis, liberalisme adalah gerakan politik yang pertama yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan semua, bukan kelompok khusus. Liberalisme dibedakan dari sosialisme, yang juga mengaku berjuang untuk kebaikan semua, bukan dari tujuan yang ingin dicapai, tetapi dari cara yang dipilih untuk mencapai tujuan itu.

    (hlm. 9)
    Tindakan yang masuk akal dibedakan dari tindakan yang tidak masuk akal oleh fakta bahwa tindakan yang tidak masuk akal melibatkan pengorbanan sementara.

    (hlm. 10)
    Orang yang menghindari makanan lezat namun tidak sehat membuat pengorbanan sementara.
    Sebaliknya, justru kemiskinan dan kesengsaraan itulah yang ingin dihapus oleh liberalisme, yang menganggap kiat yang diusulkannya sebagai satu-satunya kiat yang sesuai untuk pencapaian tujuan ini.

    (hlm. 11)
    5. Liberalisme dan Kapitalisme
    Sebuah masyarakat di mana prinsip-prinsip liberal diberlakukan biasanya disebut masyarakat kapitalis, dan kondisi masyarakat itu, kapitalisme. Tidak salah bila orang menyebut zaman kita zaman kapitalisme, karena semua hal yang menciptakan kekayaan di zaman kita berasal dari lembaga-lembaga kapitalis.

    (hlm. 13)
    Nyaris tak terpikir oleh siapa pun, ketika ia membentuk gagasan tentang seorang kapitalis, bahwa tatanan sosial yang diselenggarakan atas prinsip-prinsip liberal sejati dibentuk sedemikian rupa sehingga pengusaha dan para kapitalis hanya punya cara untuk meraih kekayaan, yaitu dengan cara menyediakan apa yang mereka anggap diperlukan oleh sesama mereka dengan lebih baik lagi. Di negara dengan rezim liberal, di mana tidak ada tarif, tak mungkin ada kartel yang dapat mendorong harga komoditas di atas harga pasar dunia.

    (hlm. 15)
    6. Akar Psikologis Antiliberalisme
    Oposisi ini tidak lahir dari nalar, tetapi dari sikap mental patologis – dari kebencian dan dari kondisi neurasthenia (istilah psiko-patologis yang pertama kali digunakan oleh George Miller Beard pada 1869 untuk menjelaskan kondisi yang ditandai oleh kelelahan, kecemasan, sakit kepala, neuralgia [sakit saraf], dan depresi) yang bisa disebut sebagai kompleks Fourier, mengambil nama sosialis Prancis.

    Namun, sekalipun mereka mengetahui hal ini, mereka mendukung reformasi, misalnya sosialisme, karena mereka berharap orang kaya yang membuat mereka iri juga akan menderita di bawah sistem itu.

    (hlm. 16)
    Yang terpenting baginya bukanlah memperburuk posisi orang lain, tetapi memperbaiki kondisinya sendiri.

    Nyaris tidak sampai satu dari sejuta orang berhasil memenuhi ambisi hidupnya. Hasil kerja seseorang jauh dari impiannya semasa muda, sekali pun keberuntungan berpihak padanya. Semua rencana dan keinginan hancur berantakan karena seribu rintangan, dan kekuatan seseorang terbukti terlalu lemah untuk mencapai tujuan yang ingin ia raih dengan sepenuh hatinya. Harapan yang tidak terpenuhi, rencana yang gagal, ketidakmampuannya dalam menghadapi tugas pekerjaan yang telah ia tetapkan – semua ini merupakan pengalaman manusia yang paling menyakitkan. Sesungguhnya, ini merupakan pengalaman manusia pada umumnya.

    Ada dua cara untuk bereaksi terhadap pengalaman ini, salah satunya ditunjukkan oleh kearifan praktis Goethe: “Anda berharap saya membenci kehidupan, melarikan diri ke hutan belantara, karena tidak semua mimpi saya berkembang menjadi kenyataan” Prometheus-nya menangis. Dan Faust mengakui di “momen…

    (hlm. 17)
    …tertinggi” bahwa “kata-kata arif yang terakhir” adalah:
    Tak seorang pun berhak atas kebebasan atau hidupnya
    Bila ia tidak meraihnya kembali (memperbaruinya) setiap hari.

    Para penderita gangguan syaraf (neurotic) tidak dapat menghadapi kenyataan hidup, yang terlalu liar, kasar, dan dangkal untuk mereka. Tidak seperti orang sehat, ia tidak memiliki kemampuan untuk “melanjutkan hidup terlepas dari apa pun” agar hidup menjadi tertahankan. Itu tidak sesuai dengan kelemahannya.

    (hlm. 18)
    Marxisme juga tak mampu membangun sebuah gambaran masyarakat sosialis tanpa membuat dua asumsi yang sudah dibuat oleh Fourier, yang bertentangan dengan semua pengalaman dan nalar. Di satu sisi, ia menganggap bahwa “bahan dasar” produksi, yang “ada di alam tanpa usaha produktif manusia,” tersedia bagi kita secara melimpah sehingga tidak perlu dihemat; itulah yang mendasari keyakinan Marxisme terhadap “peningkatan produksi yang tak terbatas.” Di sisi lain, diasumsikan bahwa dalam sebuah masyarakat sosialis kerja akan berubah dari “beban menjadi kesenangan” – bahkan kerja akan menjadi “kebutuhan utama dalam hidup.”

    (hlm. 19)
    Namun, kalau keyakinan pada keabadian, pada imbalan di akhirat, dan pada kebangkitan kembali merupakan insentif untuk melakukan kebajikan dalam kehidupan ini, janji sosialis memberi efek yang sangat berbeda. Tak ada kewajiban lain dalam sosialisme selain memberikan dukungan politik kepada partai sosialis, tetapi pada saat yang sama menimbulkan harapan dan tuntutan.

    (hlm. 21)
    BAB 1
    DASAR-DASAR KEBIJAKAN LIBERAL

    1. Hak Milik
    Masyarakat adalah sekumpulan orang yang bekerja sama. Bertolak belakang dengan tindakan individu yang berdiri sendiri, kerja sama berdasarkan prinsip pembagian kerja memiliki kelebihan karena menghasilkan produktivitas lebih besar.
    Bahwa pembagian kerjalah yang membuat manusia dibedakan dari binatang.

    (hlm. 23)
    Oleh karena itu program liberalisme, jika diringkas dalam satu kata, harus dibaca sebagai kekayaan, yaitu kepemilikan pribadi atas alat produksi (karena dalam hal komoditas siap konsumsi, kepemilikan pribadi adalah soal biasa dan tidak diperdebatkan bahkan oleh kelompok sosialis dan komunis). Semua tuntutan lain liberalisme berasal dari tuntutan pokok ini.

    2. Kebebasan
    (hlm. 25)
    Hanya ada satu argumen di balik penolakan terhadap perbudakan yang dapat dan telah membalikkan semua pandangan lain – yaitu bahwa tak dapat dipungkiri lagi bahwa tenaga kerja bebas jauh lebih produktif daripada pekerja paksa.

    (hlm. 26)
    Kami hanya ingin mempertahankan pendapat bahwa sebuah sistem yang didasari oleh kebebasan untuk semua pekerja menjamin tingkat produktivitas tertinggi dan oleh karena itu merupakan kepentingan semua orang di muka bumi ini.

    (hlm. 28)
    3. Perdamaian
    Kritik itu dimulai dari dasar pemikiran bahwa bukan peperangan, tetapi perdamaian, yang merupakan induk dari segala hal. Satu-satunya hal yang memungkinkan manusia untuk maju dan yang membedakan manusia dari hewan adalah kerja sama sosial. Hanya kerja sajalah yang produktif: kerja menciptakan kekayaan dan dengan demikian meletakkan dasar-dasar lahiriah untuk perkembangan batin manusia.
    Perang hanya menghancurkan, tidak menciptakan.

    (hlm. 29)
    Siapa pun yang memiliki pandangan seperti ini harus secara konsisten mengakui bahwa keberanian, kegagahan, dan kebencian terhadap kematian yang dimiliki perampok juga merupakan nilai luhur.
    Namun, pada kenyataannya, tidak ada yang baik atau buruk dalam dan dari dirinya sendiri. Tindakan manusia menjadi baik atau buruk hanya dilihat dari tujuan yang diperjuangkan, dan akibat yang harus mereka tanggung.

    (hlm. 30)
    Perang saudara menghancurkan pembagian kerja karena memaksa setiap kelompok untuk merasa puas dengan (hasil) kerja para pengikutnya sendiri.

    (hlm. 31)
    Pengembangan jaringan hubungan ekonomi internasional yang kompleks adalah produk liberalisme dan kapitalisme abad kesembilan belas. Jaringan itulah yang memungkinkan spesialisasi di segala bidang produksi modern seiring kemajuan di bidang teknologi.

    (hlm. 32)
    Namun yang terjadi kemudian ternyata sangat berbeda. Ide-ide dan program-program liberal digantikan oleh sosialisme, nasionalisme, proteksionisme, imperialisme, etatisme, dan militerisme.
    Hasilnya adalah Perang Dunia, yang telah memberikan semacam pelajaran kepada generasi kita mengenai ketidakcocokan antara perang dan pembagian kerja.

    4. Persamaan
    Semua perbedaan di antara manusia hanyalah buatan, produk sosial manusia yang bisa dikatakan fana.

    (hlm. 33)
    Manusia sama sekali tidak setara. Bahkan di antara saudara pun terdapat perbedaan mencolok dari segi fisik dan mental.

    Pertimbangan kedua dalam mendukung kesetaraan di bawah hukum terpeliharanya ketenangan sosial.

    (hlm. 34)
    Apa yang diciptakan hanyalah persamaan di hadapan hukum, dan bukan kesetaraan sejati. Semua kekuatan manusia tidak akan cukup untuk membuat manusia benar-benar setara. Manusia tidak sama dan tidak akan pernah sama.

    (hlm. 35)
    Pilihan jatuh kepada para ahli hukum bukan untuk kepentingan mereka tetapi demi kebaikan masyarakat, karena orang umumnya berpendapat bahwa pengetahuan tentang yurisprudensi merupakan syarat mutlak untuk jabatan hakim.
    Fakta bahwa di sebuah kapal di laut hanya ada satu kapten dan sisanya awak kapal yang tunduk pada perintahnya, jelas menguntungkan sang kapten. Namun, bukanlah hak istimewa sang kapten jika ia memiliki kemampuan untuk mengemudikan kapal di antara batu-batu karang saat badai, dan dengan demikian berjuang tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh awak kapal.

    (hlm. 36)
    5. Kesenjangan Kekayaan dan Pendapatan
    Keberatan pertama terhadap usulan ini adalah bahwa hal itu tidak akan banyak memperbaiki keadaan karena orang dengan kekayaan rata-rata jauh lebih banyak daripada orang kaya sehingga dengan pembagian kekayaan semacam itu setiap individu hanya dapat mengharapkan kenaikan tak berarti dalam standar hidupnya. Pendapat ini tentu saja benar, namun penjelasannya tidak lengkap.

    (hlm. 37)
    Andaikata insentif itu dihapus, produktivitas akan berkurang banyak sampai pada titik di mana bagian yang dapat diberikan kepada setiap individu berdasarkan asas pemerataan akan jauh berkurang dari yang saat ini diterima oleh orang yang paling miskin sekalipun.
    Konsep mengenai kemewahan adalah konsep yang sangat relatif.

    (hlm. 38)
    Banyak hal yang bagi kita saat ini tampak sebagai kebutuhan sebelumnya dianggap sebagai kemewahan.

    Kemewahan saat ini merupakan kebutuhan masa depan. Setiap kemajuan awalnya merupakan kemewahan bagi segelintir orang kaya, namun setelah beberapa waktu akan menjadi kebutuhan yang harus tersedia untuk semua orang.
    Hampir semua orang tidak suka pada orang kaya pemalas, yang menghabiskan hidupnya dalam kesenangan tanpa pernah melakukan pekerjaan apa pun. Tapi bahkan ia pun menjalankan fungsi dalam kehidupan makhluk sosial. Ia memberi contoh tentang-

    (hlm. 39)
    -kemewahan yang membangunkan kesadaran banyak orang tentang kebutuhan-kebutuhan baru, dan memberikan insentif kepada industri untuk memenuhinya.

    6. Hak Milik Pribadi dan Etika
    Moralitas adalah kepatuhan terhadap berbagai persyaratan bagi sebuah eksistensi sosial yang dituntut dari setiap individu sebagai anggota masyarakat.

    (hlm. 40)
    Segala sesuatu yang berfungsi melestarikan tatanan sosial memiliki nilai moral; segala sesuatu yang merugikan tatanan sosial adalah amoral.

    (hlm. 41)
    7. Negara dan Pemerintah
    Ketaatan terhadap hukum moral merupakan kepentingan nomor satu setiap individu, karena semua orang mendapat keuntungan dari pelestarian kerja sama sosial; namun ketaatan itu menuntut pengorbanan setiap orang, meskipun hanya pengorbanan yang bersifat sementara, yang diimbangi oleh keuntungan yang lebih besar.

    (hlm. 42)
    Para pecandu alkohol dan narkotika hanya merugikan diri mereka sendiri melalui perbuatannya; orang yang melanggar aturan-aturan moral yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tapi semua orang.

    (hlm. 43)
    Kelompok anarkis, dengan cukup tepat, tidak menyangkal bahwa setiap bentuk kerja sama manusia dalam masyarakat yang didasarkan atas pembagian kerja, menuntut ketaatan terhadap beberapa aturan perilaku, yang tidak selalu menyenangkan bagi setiap individu, karena aturan itu memaksanya melakukan pengorbanan; hanya sementara, memang, namun semua pengorbanan itu, setidaknya pada saat itu, menyakitkan. Tapi kaum anarkis melakukan kesalahan karena menganggap bahwa setiap orang, tanpa kecuali, akan bersedia mematuhi aturan-aturan ini secara sukarela.

    (hlm. 44)
    Pandangan mereka hanya dapat diterapkan hanya dalam dunia yang sepenuhnya terdiri dari malaikat dan orang suci.

    Kaum liberal memahami dengan sangat jelas, bahwa tanpa paksaan, keberadaan masyarakat akan terancam, dan bahwa di balik aturan-aturan mengenai perilaku yang menuntut ketaatan anggota masyarakat untuk menjamin kerja sama manusia yang damai, harus ada ancaman paksaan kalau seluruh tatanan masyarakat tidak ingin terus bergantung pada belas kasihan salah satu anggotanya.
    Seseorang harus berada dalam posisi yang bisa memaksa orang yang tidak menghormati kehidupan, kesehatan, kebebasan pribadi, atau milik pribadi orang lain, untuk tunduk, tanpa protes, pada aturan kehidupan dalam masyarakat. Ini adalah fungsi yang dilimpahkan doktrin liberal kepada negara: perlindungan terhadap hak milik, kebebasan, dan perdamaian.
    Tetapi sulit untuk memahami mengapa negara penjaga malam lebih konyol atau lebih buruk daripada negara yang hanya menyibukkan diri dengan pembuatan acar kubis, dengan pembuatan kancing celana, atau dengan penerbitan surat kabar.

    (hlm. 45)
    Jika seseorang seperti Hegel memandang negara sebagai “substansi moral yang sadar diri” sebagai “semesta dalam dan untuk dirinya sendiri, rasionalitas dari kehendak,” maka tentu saja orang akan memandang setiap upaya untuk membatasi fungsi negara menjadi fungsi penjaga malam sebagai bentuk hujatan.

    Jika saya berpendapat bahwa tak ada gunanya menugaskan pemerintah mengoperasikan kereta api, hotel, atau tambang, saya bukan “musuh negara” sama seperti halnya saya tidak bisa dicap sebagai musuh asam sulfat karena saya berpendapat bahwa meskipun mungkin asam sulfat berguna untuk berbagai tujuan, namun asam sulfat tidak cocok untuk diminum ataupun mencuci tangan.

    (hlm. 46)
    Alasan mengapa liberalisme menentang perluasan lingkup kegiatan pemerintah justru karena perluasan ini pada dasarnya akan menghapuskan kepemilikan pribadi atas alat produksi.

    8. Demokrasi
    Bagi kaum liberal, negara merupakan sebuah keharusan mutlak, karena tugas paling penting dibebankan kepada negara: perlindungan tidak hanya terhadap hak milik pribadi, tetapi juga terhadap perdamaian, karena tanpa perdamaian, keuntungan penuh hak milik pribadi tidak dapat dituai.

    (hlm. 47)
    Ini adalah bentuk atavisme, sebuah peninggalan dari masa ketika penduduk desa harus merasa takut kepada pangeran dan para ksatrianya yang setiap saat bisa menjarahnya.

    Gagasan tentang keistimewaan dan martabat khusus yang melekat pada pelaksanaan semua fungsi pemerintahan mendasari teori demokrasi semu tentang negara.

    (hlm. 48)
    Pemerintahan oleh segelintir orang – dan pengusaha selalu merupakan kelompok minoritas terhadap mereka yang diperintah, seperti halnya para pembuat sepatu merupakan kelompok minoritas yang berhadapan dengan konsumen sepatu – tergantung pada kesepakatan mereka yang diperintah, dengan kata lain, tergantung kepada penerimaan mereka terhadap pemerintahan yang ada.

    (hlm. 49)
    Tingkat perkembangan ekonomi seperti saat ini tidak akan pernah tercapai jika tidak ada jalan keluar bagi upaya mencegah pecahnya perang saudara terus-menerus.

    Demokrasi adalah bentuk peraturan politik yang memungkinkan penyesuaian diri pemerintah terhadap keinginan kelompok yang diperintah tanpa harus melalui-

    (hlm. 50)
    -perjuangan dengan cara kekerasan.

    (hlm. 51)
    9. Kritik terhadap Doktrin Kekerasan
    Siapa yang paling layak? Disraeli atau Gladstone? Kelompok Tory (Konservatif) menganggap Disraeli yang terbaik; kelompok Whig (Monarki Konstitusional) menganggap Gladstone yang terbaik. Siapa yang harus memutuskan ini jika bukan kelompok mayoritas?

    (hlm. 53)
    Ini berarti kemerosotan luar biasa dalam produktivitas tenaga kerja sehingga bumi hanya bisa memberi makan sebagian kecil penduduk yang ditunjangnya saat ini.

    Seorang demokrat juga berpendapat bahwa orang terbaiklah yang harus memerintah. Namun ia percaya bahwa kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk memerintah ditunjukkan dengan lebih baik jika mereka berhasil meyakinkan sesama warga negara mereka tentang kualifikasi yang mereka miliki untuk posisi itu, sehingga mereka secara sukarela dipercaya untuk melaksanakan urusan publik, dibandingkan jika mereka menggunakan kekuatan untuk memaksa orang lain mengakui klaim mereka. Siapa pun yang tidak berhasil mencapai posisi kepemimpinan berdasarkan kekuatan argumennya dan keyakinan yang dikobarkannya tidak memiliki alasan untuk mengeluh bahwa warganya lebih memilih orang lain daripada memilihnya.

    (hlm. 54)
    Ada banyak bukti mencolok dalam sejarah yang menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, bahkan kebijakan penindasan yang paling kejam sekalipun tidak cukup untuk mempertahankan sebuah pemerintahan yang berkuasa.

    (hlm. 55)
    Hanya ada dua pilihan bagi mereka: memilih program mereka atau mengorbankan kontrol atas pemerintahan. Mereka memilih yang pertama dan tetap berkuasa. Kemungkinan ketiga, melaksanakan program mereka dengan kekerasan untuk melawan kehendak rakyat banyak, tidak pernah ada.

    Hanya kelompok yang dapat mengandalkan restu dari kelompok yang diperintah yang dapat mempertahankan sebuah rezim abadi. Siapa pun yang ingin melihat dunia diatur sesuai dengan gagasannya sendiri harus berjuang keras untuk menguasai pikiran manusia. Orang tidak akan bahagia jika kehendak mereka dilawan.

    (hlm. 58)
    10. Argumen Fasisme
    Warisan intelektual dan moral dari peradaban yang berusia ribuan tahun tidak bisa dihancurkan dengan satu pukulan mematikan.

    (hlm. 60)
    Bagaimana seseorang memperoleh dukungan mayoritas untuk partainya? Bagaimanapun, ini adalah murni masalah intelektual. Kemenangan hanya bisa diraih dengan senjata intelektual, tidak akan pernah bisa dengan kekerasan.

    (hlm. 61)
    Penindasan dengan kekerasan selalu berarti pengakuan atas ketidakmampuan untuk menggunakan senjata yang lebih baik, yaitu senjata intelektual.

    Gagasanlah yang menghimpun orang-orang ke dalam kelompok-kelompok perang, yang meletakkan senjata ke tangan mereka, dan yang menentukan terhadap siapa dan untuk siapa senjata digunakan. Merekalah, bukan senjata, yang pada akhirnya membalikkan keadaan.

    Fasisme adalah cadangan untuk keadaan darurat, menganggapnya lebih dari itu adalah keadaan fatal.

    (hlm. 62)
    11. Lingkup Kegiatan Pemerintah
    Tugas negara semata-mata dan secara khusus adalah melindungi nyawa, kesehatan, kebebasan, dan kepemilikan pribadi dari serangan kekerasan.

    (hlm. 63)
    Mengapa apa yang berlaku untuk semua racun ini tidak diberlakukan juga untuk nikotin, kafein, dan sejenisnya? Mengapa negara tidak menentukan makanan apa yang boleh dinikmati dan mana yang harus dihindari karena merugikan? Juga dalam olahraga,

    (hlm. 64)
    banyak orang memiliki kecenderungan untuk memuaskan diri mereka jauh dari yang dimungkinkan oleh kekuatan fisik mereka. Mengapa negara tidak campur tangan di sini? Tidak banyak orang tahu bagaimana mengendalikan kehidupan seksual mereka dan tampaknya sangat sulit bagi orang tua untuk memahami bahwa mereka harus berhenti menikmati kesenangan seperti itu, atau setidaknya, melakukannya dengan hati-hati dan terukur. Tidakkah negara harus ikut campur dalam masalah ini?

    Kita lihat bahwa begitu kita melepaskan prinsip bahwa negara tidak boleh ikut campur dalam semua persoalan yang menyangkut jalan hidup seseorang, kita mendapati diri kita mengatur dan membatasi semua hal itu sampai pada detail terkecil.

    Setiap kemajuan umat manusia dicapai sebagai hasil prakarsa sekelompok kecil kaum minoritas yang menyimpang dari gagasan-

    (hlm. 65)
    -gagasan dan adat-istiadat kaum mayoritas sampai akhirnya contoh yang mereka berikan menggugah orang lain untuk menerima inovasi tersebut secara sukarela.

    (hlm. 66)
    12. Toleransi
    Liberalisme tidak melanggar batas wilayahnya; liberalisme tidak mencampuri wilayah keyakinan agama atau ajaran metafisik.
    Bagaimanapun, liberalisme harus bersikap tidak toleran terhadap setiap sikap tidak toleran.

    (hlm. 69)
    13. Negara dan Perilaku Antisosial
    Semua kegiatan negara adalah kegiatan manusia, kejahatan yang dilakukan manusia terhadap sesamanya.

    (hlm. 71)
    BAB 2
    KEBIJAKAN EKONOMI LIBERAL

    1. Organisasi Ekonomi
    Pengaturan kerja sama individu dalam masyarakat berdasarkan pembagian kerja dapat dibedakan menjadi lima sistem berbeda: sistem kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi, yang dalam perkembangannya kita sebut kapitalisme; sistem kepemilikan pribadi atas alat produksi dengan pengambilalihan kekayaan dan pembagian kekayaan secara berkala; sistem sindikalisme; sistem kepemilikan umum atas alat produksi, yang dikenal sebagai sosialisme atau komunisme; dan yang terakhir, sistem intervensionisme.

    (hlm. 73)
    Seseorang dapat melaksanakan pembagian kembali kekayaan secara berkala hanya jika ia pertama-tama sepenuhnya menghapus perekonomian yang didasarkan atas pembagian kerja dan pasar yang bebas, dan kembali kepada sistem perekonomian di mana tanah beserta rumah-rumah pertanian hidup mandiri berdampingan tanpa saling berhubungan.

    (hlm. 77)
    2. Hak Milik Pribadi dan Penentangnya
    Namun, orang tidak boleh melupakan bahwa aparat sosialis yang bertanggung jawab untuk distribusi juga melibatkan biaya yang tidak sedikit, bahkan mungkin lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan oleh perekonomian kapitalis.

    (hlm. 78)
    Setiap pekerja harus mengerahkan kemampuannya yang terbaik karena upahnya ditentukan oleh hasil pekerjaannya, dan setiap pengusaha harus berusaha untuk memproduksi dengan biaya lebih murah – yaitu dengan pengeluaran modal dan tenaga kerja yang lebih sedikit – dari pesaingnya.

    Hanya karena insentif inilah perekonomian kapitalis mampu menghasilkan kekayaan yang berada dalam kekuasaannya.

    Hanya karena semua pengusaha selalu bersaing dan akan disingkirkan tanpa ampun jika mereka tidak memproduksi dengan cara yang paling menguntungkan maka sistem produksi terus menerus ditingkatkan dan disempurnakan.

    (hlm. 79)
    Namun, siapa pun yang mempertimbangkan berbagai hal bukan dari sudut pandang orang per orang, namun dari sudut pandang keseluruhan tatanan sosial, akan menemukan bahwa pemilik alat-alat produksi dapat melestarikan kedudukan mereka yang menyenangkan itu semata-mata karena mereka memberikan layanan yang mutlak diperlukan oleh masyarakat. Kaum kapitalis dapat mempertahankan kedudukan istimewa mereka hanya dengan mengalihkan alat-alat produksi untuk aplikasi yang paling penting bagi masyarakat.

    (hlm. 80)
    Dalam masyarakat kapitalis, pengerahan alat-alat produksi selalu berada di tangan pihak-pihak yang paling pantas untuk itu; dan apakah mereka menginginkannya atau tidak, mereka harus terus menerus menjaga agar alat-alat produksi itu dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan hasil terbesar.

    3. Hak Milik Pribadi dan Pemerintah
    Untuk mengontrol segala sesuatu, untuk tidak memberikan ruang bagi apa pun untuk terjadi dengan sendirinya tanpa campur tangan pengusaha – adalah tujuan yang secara diam-diam ingin dicapai oleh setiap pengusaha.

    (hlm. 81)
    Pemerintah yang liberal adalah sebuah pertentangan di dalam dirinya sendiri. Pemerintah harus dipaksa untuk menerapkan liberalisme melalui kekuatan yang diraih berdasarkan kesepakatan bersama oleh rakyat; mereka tidak dapat diharapkan menjadi liberal secara sukarela.

    (hlm. 83)
    4. Sosialisme Sebuah Kemustahilan atau Sosialisme Mustahil Terlaksana
    Dalam masyarakat kapitalis, setiap individu tahu bahwa ia sendiri yang akan menikmati hasil kerjanya, bahwa penghasilannya bertambah atau berkurang sesuai dengan besar kecilnya produktivitas kerjanya. Dalam masyarakat sosialis, setiap individu berpikir tidak ada ketergantungan besar pada efisiensi kerjanya karena ia sudah mendapat porsi pekerjaan yang tetap dan hasil akhir keseluruhan tidak akan berkurang jauh akibat kemalasan satu orang. Seandainya, seperti yang ditakuti, keyakinan itu menjadi keyakinan umum, produktivitas tenaga kerja di komunitas sosialis menurun jauh.

    (hlm. 84)
    Dalam sistem kapitalis, perhitungan profitabilitas (keuntungan) merupakan panduan yang menunjukkan kepada individu apakah perusahaan tempat ia bekerja harus, dalam situasi tertentu, layak beroperasi dan apakah perusahaan itu dijalankan seefisien mungkin, yaitu berdasarkan biaya paling kecil dalam hal faktor-faktor produksi. Jika suatu usaha terbukti tidak menguntungkan, ini berarti bahwa bahan baku, barang setengah jadi, dan tenaga kerja yang dibutuhkannya dipekerjakan oleh perusahaan lain untuk tujuan yang, dari sudut pandang konsumen, lebih mendesak dan lebih penting, atau untuk tujuan sama, tetapi dengan cara lebih ekonomis (misalnya, dengan pengeluaran modal dan tenaga kerja lebih kecil).

    (hlm. 85)
    Dunia belum kaya cukup untuk membiayai pengeluaran semacam itu. Tetapi perhitungan nilai dan profitabilitas (keuntungan) sangat menentukan tidak saja saat muncul pertanyaan apakah suatu usaha akan dimulai; perhitungan itu mengontrol setiap langkah yang diambil pengusaha dalam menjalankan bisnisnya.

    (hlm. 86)
    Mereka tidak akan mampu memutuskan yang mana dari berbagai cara yang tak terhitung banyaknya yang paling rasional.

    (hlm. 89)
    Tentu saja, perhitungan moneter tidak sempurna dan memiliki kekurangan, tapi tidak ada yang lebih baik yang dapat dipakai sebagai gantinya.

    (hlm. 91)
    5. Intervensionisme
    Orang yang bersedia membayar harga yang ditetapkan penguasa harus meninggalkan pasar dengan tangan kosong. Mereka yang telah antri lebih dulu, atau mereka yang berada dalam posisi untuk memanfaatkan hubungan pribadi dengan penjual, menguasai seluruh persediaan; yang lain harus pergi meski permintaan mereka tidak terpenuhi.

    (hlm. 92)
    Jika beberapa cabang produksi dibiarkan bebas, modal dan tenaga kerja akan mengalir ke cabang-cabang produksi tersebut, dan pemerintah akan menemui kegagalan dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai melalui tindakan campur tangannya. Namun, sasaran penguasa adalah produksi berlimpah di cabang industri yang, karena produknya dianggap penting, dijadikan sasaran peraturan mereka. Ini sama sekali bertentangan dengan rancangan mereka: justru sebagai akibat campur tangan mereka cabang produksi ini seharusnya diabaikan.

    Sebelum aturan tentang kontrol harga ditetapkan, komoditas itu dianggap terlalu mahal oleh pemerintah; sekarang seluruh komoditas itu menghilang dari pasar.

    Selain larangan terhadap permintaan harga yang lebih tinggi dari harga yang telah-

    (hlm. 93)
    -ditetapkan, pemerintah juga harus mengambil langkah-langkah yang memaksa penjualan seluruh persediaan yang ada melalui sistem penjatahan, namun juga menetapkan batas tertinggi harga barang-barang dari kelas yang lebih tinggi, pengendalian gaji, dan, akhirnya, wajib kerja untuk pengusaha dan pekerja. Dan peraturan ini tidak dapat dibatasi pada satu atau beberapa cabang produksi, namun harus mencakup semua cabang. Tidak ada pilihan lain selain ini: menghindari campur tangan dalam permainan pasar bebas, atau mendelegasikan seluruh pengelolaan produksi dan distribusi kepada pemerintah. Kapitalisme atau sosialisme: tidak ada jalan tengah.

    Setiap orang tahu bahwa kontrol harga oleh pemerintah tidak menghasilkan apa pun selain menghilangnya barang-barang tersebut dari pasar.

    (hlm. 94)
    Oleh karena itu, dalam perekonomian selalu ada tingkat upah yang membuat semua pekerja menemukan pekerjaan, dan setiap pengusaha yang ingin menjalankan perusahaan yang tetap menguntungkan dengan tingkat upah itu menemukan pekerja. Tingkat upah ini lazim disebut oleh para pakar ekonomi sebagai upah “statis” atau “alami.”

    Jika perekonomian tidak berubah dari keadaan statis, maka dalam bursa tenaga kerja yang bebas dari campur tangan pemerintah atau oleh tekanan serikat pekerja, tidak akan ada pengangguran. Namun keadaan statis masyarakat hanyalah khayalan teori ekonomi, tujuan intelektual yang diperlukan pemikiran kita, yang memungkinkan kita, kebalikannya, untuk membentuk gambaran jelas mengenai proses yang sebenarnya terjadi dalam perekonomian yang berlangsung di sekitar kita dan di mana kita tinggal. Hidup – untungnya, cepat-cepat kita tambahkan – tidak pernah berhenti.

    Perekonomian tidak pernah berhenti, namun selalu berubah, bergerak, melakukan inovasi, tak henti mendorong kemunculan hal-hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Dengan demikian, selalu ada cabang produksi yang ditutup atau dikurangi karena permintaan terhadap produk mereka jatuh, dan cabang produksi lain dikembangkan atau bahkan dimulai.

    (hlm. 95)
    Dua ratus tahun yang lalu atau jauh sebelum itu, ketika seorang anak laki-laki mempelajari sebuah keahlian, belajar kerajinan tangan, ia bisa berharap untuk memanfaatkan keahliannya seumur hidupnya tanpa rasa takut sedikit pun akan dirugikan oleh sikap konservatifnya.

    Dari sini, jelaslah apa yang harus dilakukan untuk memuaskan hasrat para pekerja untuk memperoleh pekerjaan dan untuk mendapatkan upah tinggi. Secara umum, upah tidak bisa didorong ke tingkat yang biasanya mereka capai dalam pasar bebas yang bebas dari campur tangan pemerintah mau pun tekanan lembaga lain tanpa menciptakan efek samping tertentu yang pasti tidak diinginkan para pekerja.

    (hlm. 96)
    Kebijakan menghalangi kebebasan bergerak para pekerja hanya menguntungkan para pekerja di negara dan industri yang menderita kekurangan tenaga kerja.

    (hlm. 97)
    Ia harus membayar upah yang jumlahnya membuat volume produksi harus diturunkan, karena barang yang membutuhkan biaya besar untuk diproduksi tidak akan menemukan pasar sebesar pasar untuk barang yang diproduksi dengan biaya lebih rendah. Jadi, upah lebih tinggi yang dituntut serikat buruh menyebabkan pengangguran.

    (hlm. 99)
    Sia-sia berupaya menghapus pengangguran melalui program pekerjaan umum yang sebenarnya tidak akan pernah dibuat. Sumber daya yang dibutuhkan untuk rencana seperti itu harus diperoleh dari pajak atau pinjaman yang seharusnya digunakan untuk tujuan lain. Dengan cara ini, pengangguran di satu industri dapat dikurangi hanya sebesar kenaikan jumlah pengangguran di industri lain.

    (hlm.100)

    Kapitalisme Satu-satunya Sistem Organisasi Sosial yang Mungkin
    Di seluruh wilayah yang sekarang dihuni negara-negara Eropa modern, sistem ekonomi Abad Pertengahan hanya mampu mendukung sebagian kecil penduduk yang saat ini menghuni wilayah itu.

    (hlm.101)

    Tidak ada yang tidak masuk akal dari prinsip dasar penafsiran sejarah materialis Marx: “kincir tangan membentuk masyarakat feodal; pabrik uap menciptakan masyarakat kapitalis.” Masyarakat kapitalislah yang dibutuhkan untuk menciptakan kondisi yang diperlukan untuk melahirkan konsep asli pabrik uap agar bisa dikembangkan dan dimanfaatkan. Kapitalismelah yang menciptakan teknologi itu, bukan sebaliknya.

    (hlm.102)

    Menganjurkan kepemilikan pribadi atas sarana produksi tidak sama dengan menyatakan bahwa sistem sosial kapitalis yang didasarkan atas hak milik pribadi adalah sistem yang sempurna. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bahkan dalam sistem kapitalis, sesuatu atau hal lain, banyak hal atau bahkan segala hal, mungkin tidak benar-benar sesuai dengan keinginan setiap individu. Namun, inilah satu-satunya sistem yang mungkin.

    (hlm.103)

    Harus ada seseorang yang mengatakan kepadanya: hanya ada cara ini, atau kelaparan. Tidak ada cara ketiga. Hal yang sama berlaku untuk hak milik: hanya ada satu pilihan – kepemilikan pribadi atas sarana produksi atau kelaparan dan penderitaan bagi semua orang.

    Liberalisme berasal dari ilmu murni ekonomi dan sosiologi yang tidak membuat penilaian apa pun tentang nilai-nilai dalam lingkup mereka sendiri dan tidak mengatakan apa pun tentang apa yang seharusnya terjadi atau apa yang baik dan apa yang buruk, namun, sebaliknya, hanya memastikan apa dan bagaimana sesuatu terjadi.

    (hlm.105)

    Liberalisme hanya ingin mengatakan bahwa untuk mencapai tujuan yang diinginkan manusia, hanya sistem kapitalis yang cocok, dan bahwa setiap usaha untuk mewujudkan masyarakat sosialis, intervensionis, sosialis agraris, atau sindikalis, pasti tidak berhasil.

    (hlm.106)

    Kartel, Monopoli, dan Liberalisme
    Tidak diragukan bahwa perkembangan spesialisasi produksi ini cenderung mengarah pada perkembangan setiap bidang usaha yang memiliki seluruh dunia sebagai pasar mereka.

    (hlm.107)

    Harga monopoli, jika tidak dimungkinkan oleh campur tangan tertentu pemerintah, dapat diterapkan selamanya hanya berdasarkan kontrol atas barang tambang dan sumber daya alam lain. Sebuah monopoli dalam industri manufaktur yang menghasilkan keuntungan lebih besar daripada yang dihasilkan oleh industri lain di mana pun akan merangsang pembentukan perusahaan pesaing yang persaingannya akan menghancurkan monopoli dan mengembalikan harga dan keuntungan ke tingkat normal.

    (hlm.108)

    Monopoli minyak dunia akan meningkatkan permintaan untuk listrik hidroelektrik, batu bara, dan lain-lain.

    (hlm.110)

    Monopoli seperti itu hanya dimungkinkan oleh langkah-langkah legislatif khusus, seperti hak paten dan hak-hak istimewa lain, peraturan tarif, hukum pajak, dan sistem perijinan.

    (hlm.112)

    Birokratisasi
    Siapa pun yang memiliki unsur-unsur produksi, baik miliknya sendiri atau yang dipinjamkan oleh pemiliknya dengan imbalan, harus selalu berhati-hati menggunakannya sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang, dalam situasi yang telah ditentukan, paling mendesak.

    (hlm.113)

    Goethe sendiri menyatakan bahwa sistem pembukuan ganda merupakan “salah satu penemuan terbaik pikiran manusia.”

    Perhitungan moneter, pembukuan, dan statistik dalam penjualan dan operasi memungkinkan perusahaan dagang paling besar dan paling rumit sekali pun untuk melakukan pemeriksaan tepat tentang hasil yang dicapai setiap departemen, dan dengan demikian menilai sejauh mana kepala tiap departemen menyumbang bagi keberhasilan total perusahaan.

    (hlm.114)

    Kebalikan dari jenis perusahaan ini, yang setiap transaksinya diawasi oleh perhitungan laba-rugi, digambarkan oleh aparat administrasi negara. Apakah seorang hakim (dan yang berlaku untuk hakim berlaku untuk semua pejabat tinggi administratif) telah melaksanakan tugasnya dengan cara yang lebih baik atau lebih buruk tidak dapat dinilai berdasarkan perhitungan apa pun.

    Hanya ada satu bidang administrasi publik yang ukuran keberhasilan atau kegagalannya tidak diragukan lagi: perang.

    (hlm.116)

    Di perusahaan swasta, tenaga kerja dipekerjakan bukan karena kemurahan hati namun sebagai transaksi bisnis yang menguntungkan kedua belah pihak, majikan dan pekerja. Pengusaha yang memecat pekerja yang berguna dan layak menerima gajinya karena alasan pribadi hanya merugikan dirinya sendiri dan bukan pegawainya, yang bisa menemukan posisi serupa di tempat lain.

    (hlm.117)

    Situasinya berbeda dalam organisasi birokratis. Karena sumbangan produktif dari masing-masing departemen, dan dengan demikian masing-masing pegawai, bahkan ketika ia menempati kedudukan eksekutif, tidak bisa dipastikan, maka terbuka kesempatan untuk sikap pilih kasih dan prasangka pribadi, baik dalam hal penugasan dan pemberian imbalan. Kenyataan bahwa sejak awal tidak ada standar obyektif untuk menentukan kemampuan individu dalam penugasan mereka. Tentu saja yang paling mampulah yang harus dipekerjakan, namun pertanyaannya adalah: siapa yang paling mampu?

    (hlm.119)

    Karena ia tidak akan menanggung kerugian yang bisa terjadi, dalam situasi tertentu, akibat kebijakan bisnisnya, pengelolaan usahanya dapat dengan mudah diarahkan untuk menanggung risiko yang tidak akan diambil oleh direktur yang, karena ia harus ikut menanggung kerugian, sungguh-sungguh bertanggung jawab. Oleh karena itu, kewenangannya harus dibatasi.

    (hlm.120)

    Birokratisasi dalam perusahaan swasta yang kita lihat terjadi di mana-mana saat ini adalah murni akibat dari intervensionisme, yang memaksa mereka memperhitungkan faktor-faktor yang, jika mereka bebas untuk memutuskan kebijakan mereka sendiri, tidak akan memainkan peran apa pun dalam menjalankan usaha mereka.

    (hlm.121)

    Demikianlah, kemajuan birokratisasi dalam bisnis besar sama sekali bukan akibat dari kecenderungan yang tak bisa ditawar yang melekat dalam perkembangan perekonomian kapitalis. Hal itu tidak lain merupakan akibat dari penerapan kebijakan intervensionis.

    (hlm.123)

    BAB 3
    KEBIJAKAN LUAR NEGERI LIBERAL

    Batas-batas Negara
    Karena liberalisme adalah, sejak awal, sebuah konsep politik yang mencakup seluruh dunia, dan ide-ide yang ingin diwujudkan di satu wilayah terbatas juga berlaku untuk wilayah lain yang lebih luas dalam politik dunia.

    Tujuan utama kebijakan dalam negeri liberalisme sama dengan kebijakan luar negerinya: perdamaian. Kebijakan luar negeri liberalisme ditujukan pada kerja sama yang damai, baik antarnegara maupun dalam sebuah negara. Titik tolak pemikiran liberal adalah pengakuan tentang pentingnya kerja sama manusia, dan keseluruhan kebijakan serta program liberalisme dirancang untuk menjaga kerja sama saling menguntungkan di antara umat manusia dan mengembangkannya lebih jauh lagi.

    (hlm.124)

    Orang Jerman yang bekerja untuk kebaikan umat manusia tidak merugikan kepentingan sesama warga Jerman – yakni, mereka yang hidup di negara yang sama dan memakai bahasa yang sama, dan dengan siapa sering kali ia membentuk sebuah komunitas etnik dan spiritual, sama halnya mereka yang bekerja demi kepentingan seluruh Jerman tidak merugikan kampung halamannya sendiri.

    (hlm.125)

    Pembagian kerja telah sejak lama melewati batas-batas negara. Dewasa ini tidak satu pun negara beradab yang bisa memenuhi semua kebutuhannya sebagai komunitas mandiri dari produksinya sendiri.

    (hlm.127)

    Hak Menentukan Nasib Sendiri
    Tuntutan demokratis mereka adalah: bebas dari Kekaisaran Rusia; pembentukan Polandia, Finlandia, Latvia, Lithuania, dan sebagainya yang independen.

    Dengan demikian, hak untuk menentukan nasib sendiri berkaitan dengan status keanggotaan dalam sebuah negara berarti: kapan pun penduduk sebuah wilayah, baik sebuah desa, seluruh distrik, atau sekumpulan distrik yang saling berdekatan, menyatakan secara terbuka melalui sebuah referendum yang diselenggarakan secara bebas bahwa mereka sudah tidak ingin lagi bersatu dalam negara di mana saat itu mereka menjadi anggota, namun berharap untuk membentuk negara independen atau bergabung dengan negara lain, keinginan mereka harus dihormati dan ditaati. Ini merupakan satu-satunya cara yang efektif dan mungkin untuk mencegah revolusi,

    (hlm.128)

    perang saudara, dan perang internasional.

    Jika memungkinkan, setiap individu diberikan hak menentukan nasib sendiri. Ini tidak bisa dilakukan hanya karena pertimbangan teknis yang tidak bisa diabaikan, yang menuntut agar sebuah wilayah dijalankan sebagai sebuah unit administrasi tunggal dan hak menentukan nasib sendiri dibatasi pada keinginan mayoritas penduduk wilayah yang cukup besar untuk dianggap sebagai unit teritorial dalam administrasi negara.

    Sejauh hak menentukan nasib sendiri diakui, dan di mana pun hak itu diberikan, di abad kesembilan belas dan kedua puluh, pengakuan itu akan melahirkan atau berujung pada pembentukan negara-negara yang terdiri dari satu jenis kebangsaan (yakni, orang-orang yang berbicara dalam bahasa yang sama) dan bubarnya negara-negara yang terdiri dari berbagai kebangsaan, walau hanya sebagai konsekuensi pilihan bebas mereka yang berhak ambil bagian dalam referendum.

    (hlm.130)

    Landasan Politik Perdamaian
    Tarif protektif diidentifikasi sebagai kapitalisme. Ini sama konyolnya dengan menuduh industri persenjataan bertanggung jawab atas pecahnya perang. Industri senjata tumbuh dan berkembang menjadi besar karena pemerintah dan orang-orang yang berniat perang menuntut senjata.

    Kelompok liberal tidak berharap dapat menghapus perang dengan berkhotbah atau bersikap sebagai moralis. Mereka berupaya menciptakan kondisi sosial yang dapat menghilangkan penyebab perang.

    Syarat utama untuk hal ini adalah hak milik pribadi. Ketika hak milik pribadi wajib dihargai bahkan di saat perang, saat pemenang tidak merasa berhak merampas kekayaan individu untuk dirinya sendiri, dan pengambilalihan kekayaan publik tidak berdampak besar karena kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi

    (hlm.131)

    merupakan hal yang umum di mana-mana, sebuah motif penting untuk melancarkan perang telah disingkirkan.

    (hlm.132)

    Peta linguistik juga mengungkapkan keberadaan kantong-kantong nasional. Karena tidak ada wilayah berkebangsaan sama yang menghubungkan mereka dengan kelompok utama orang-orang sebangsanya, teman sebangsa tinggal bersama dalam permukiman tertutup atau pulau linguistik.

    (hlm.133)

    Dunia kapitalis yang diorganisir berdasarkan prinsip liberal tidak mengenal pembagian zona “ekonomi”. Dalam dunia seperti itu, seluruh permukaan bumi merupakan satu kesatuan wilayah ekonomi. Hak menentukan nasib sendiri hanya menguntungkan mereka yang mengorbankan mayoritas. Agar kelompok minoritas juga mendapat perlindungan, diperlukan langkah-langkah domestik dan dari langkah-langkah itu akan kita bahas langkah-langkah menyangkut kebijakan nasional tentang pendidikan.

    (hlm.134)

    Meskipun begitu, masalah wajib belajar sama sekali berbeda di wilayah-wilayah luas di mana penduduk yang berbicara dalam bahasa yang berbeda-beda hidup berdampingan dan berbaur dalam sebuah poliglot yang sangat beragam. Di sini pertanyaan tentang bahasa apa yang digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah menjadi penting.

    (hlm.135)

    Pengasuhan dan pendidikan orang-orang muda harus diserahkan sepenuhnya kepada orang tua dan institusi serta asosiasi swasta.

    (hlm.139)

    Nasionalisme
    Menjadi anggota minoritas sebuah bangsa selalu berarti menjadi warga negara kelas dua.

    (hlm.140)

    Bagaimana pun juga, pemikiran politik sebuah bangsa merupakan refleksi ide-ide yang terdapat dalam kepustakaan politiknya.

    (hlm.142)

    Imperialisme
    Bagi negara liberal, pertanyaan apakah batas-batas wilayahnya akan diperluas atau tidak merupakan pertanyaan yang tidak penting.

    (hlm.145)

    Impian tentang sistem cukai yang sepenuhnya mengacu pada sistem Inggris tetap tidak terwujud.

    (hlm.146)

    Politik Penjajahan
    Gagasan dasar penjajahan adalah memanfaatkan keunggulan militer ras kulit putih atas anggota ras lain. Bangsa Eropa, dilengkapi dengan senjata dan semua penemuan yang dihasilkan peradaban, berangkat untuk menundukkan bangsa-bangsa yang lebih lemah, menjarah harta benda mereka, dan memperbudak mereka.

    Jika, seperti keyakinan kita, peradaban Eropa benar-benar lebih unggul dari peradaban suku-suku primitif di Afrika, atau bahkan peradaban Asia – sekali pun peradaban Asia mungkin dalam cara mereka sendiri layak dihargai – peradaban Eropa harus mampu membuktikan keunggulannya dengan cara mengilhami mereka agar menerima peradaban Eropa atas keinginan mereka sendiri. Adakah bukti kemandulan peradaban Eropa yang lebih menyedihkan dari kenyataan bahwa ia hanya bisa disebarkan melalui api dan pedang?

    (hlm.150)

    Untuk menyelaraskan kepentingan bangsa Eropa dan ras kulit putih dengan kepentingan ras berwarna di wilayah jajahan berkaitan dengan semua permasalahan kebijakan ekonomi, Liga Bangsa-Bangsa harus diberikan kekuasaan tertinggi atas pemerintahan semua wilayah kekuasaan di luar negeri yang tidak memiliki sistem pemerintahan parlementer. Liga Bangsa-Bangsa harus memastikan bahwa otonomi diberikan sesegera mungkin kepada negara yang belum memilikinya, dan bahwa kekuasaan negara asal dibatasi hanya pada perlindungan harta benda, hak-hak warga negara asing

    (hlm.151)

    dan hubungan perdagangan.

    Pada hakikatnya, penerapan prinsip ini berarti bahwa semua wilayah kekuasaan Eropa di luar negeri awalnya akan berubah menjadi mandat Liga Bangsa-Bangsa.

    (hlm.152)

    Perdagangan Bebas
    Apa yang membuat situasi ini tidak masuk akal adalah kenyataan bahwa semua negara ingin mengurangi impor mereka, namun pada saat bersamaan meningkatkan ekspor mereka.

    (hlm.154)

    Apa dampak perdagangan bebas barang-barang konsumsi antara satu negara dengan negara lain jika pergerakan modal dan tenaga kerja dari satu negara ke negara lain dilarang?

    (hlm.155)

    Bila tidak ada campur tangan pemerintah, pembagian kerja internasional akan dengan sendirinya menyebabkan setiap negara mencari tempatnya sendiri dalam perekonomian dunia, bagaimana pun kondisinya untuk produksi dibandingkan dengan kondisi di negara lain.

    (hlm.163)

    Kebebasan untuk Bepergian
    Tidak demikian halnya dengan Australia. Australia memiliki jumlah penduduk yang kurang lebih sama seperti Austria; namun, wilayahnya seratus kali lebih besar dari Austria, dan sumber daya alamnya tentu saja jauh lebih kaya.

    (hlm.165)

    Eropa Serikat
    Amerika Serikat adalah negara terkuat dan terkaya di dunia. Tidak ada negara lain selain Amerika Serikat di mana kapitalisme dapat berkembang dengan lebih bebas dan dengan lebih sedikit campur tangan pemerintah. Tak heran penduduk Amerika Serikat jauh lebih kaya dari penduduk negara mana pun di bumi. Selama lebih dari 60 tahun mereka tidak pernah terlibat perang.

    (hlm.167)

    Tapi pembentukan Eropa Serikat bukan cara yang tepat untuk mencapai tujuan ini.

    Reformasi dalam hubungan internasional harus bertujuan menghapus situasi di mana setiap negara berusaha dengan segala cara untuk memperluas wilayahnya dengan mengorbankan negara-negara lain.

    (hlm.170)

    Kita mungkin berharap bahwa kelak ia dapat diyakinkan untuk menyadari bahwa semua tindakan politik yang dirancang untuk mencapai kemandirian (autarky), dan dengan demikian semua tarif protektif, tidak masuk akal dan merugikan diri sendiri dan akibatnya harus dihapuskan.

    (hlm.171)

    Liga Bangsa-Bangsa
    Dalam pandangan liberal, sama seperti negara bukan merupakan cita-cita tertinggi, negara juga bukan aparat terbaik untuk melakukan pemaksaan. Namun, bagi seorang liberal,

    (hlm.172)

    Dunia tidak berhenti pada batas-batas negara. Di matanya, makna yang terkandung dalam batas-batas nasional hanyalah sebuah kebetulan dan bersifat subordinat. Pemikiran politiknya mencakup seluruh umat manusia. Titik tolak keseluruhan falsafah politiknya adalah keyakinan bahwa pembagian kerja bersifat internasional dan tidak semata-mata bersifat nasional. Sejak awal ia menyadari bahwa tidak cukup hanya menegakkan perdamaian di setiap negara, bahwa lebih penting jika semua negara hidup dalam damai satu sama lain. Oleh karena itu kelompok liberal menuntut agar organisasi politik masyarakat dikembangkan sehingga organisasi itu berkulminasi dalam negara dunia yang menyatukan seluruh dunia berdasarkan azas persamaan. Untuk alasan inilah ia menganggap hukum di setiap negara lebih rendah dari hukum internasional, dan itulah sebabnya mengapa ia menuntut pengadilan dan pemerintahan administratif supranasional untuk menjamin perdamaian di antara negara-negara dalam cara yang sama dengan cara organ-organ pengadilan dan eksekutif setiap negara ditugaskan untuk menjaga perdamaian di wilayah masing-masing.

    (hlm.173)

    Pertama-tama, beberapa negara dunia yang paling penting dan paling kuat tidak termasuk ke dalam Liga itu. Amerika Serikat, belum lagi negara-negara yang lebih kecil, tetap berada di luar. Lagipula, sejak awal perjanjian Liga Bangsa-Bangsa dirugikan oleh kenyataan bahwa perjanjian itu membedakan negara-negara dalam dua kategori: negara-negara yang menikmati hak penuh dan negara-negara yang, karena berada di pihak yang kalah dalam Perang Dunia, bukan anggota penuh.

    (hlm.175)

    Ini karena permasalahannya tidak menyangkut masalah organisasi atau teknik pemerintahan internasional tetapi masalah terbesar ideologi yang pernah dihadapi umat manusia.

    (hlm.176)

    Rusia
    Dengan bekerja, warga negara yang taat hukum membantu dirinya sendiri dan sesamanya dan dengan demikian menyatu dengan tatanan sosial yang ada secara damai. Perampok, di sisi lain, berniat, bukan dengan kerja keras penuh kejujuran, namun dengan kekerasan, merampas hasil jerih payah orang lain.

    (hlm.177)

    Namun, secara umum, dapat dikatakan di negara-negara ras kulit putih yang saat ini menghuni wilayah Eropa tengah dan barat dan Amerika, mentalitas yang disebut “militeristik” oleh Herbert Spencer telah digantikan oleh mentalitas yang ia namakan “industri”. Saat ini, hanya ada satu negara besar yang dengan teguh tetap menganut cita-cita militeristik, yaitu Rusia.

    (hlm.178)

    Liberalisme, yang sepenuhnya didasarkan atas ilmu pengetahuan dan yang kebijakannya tidak menggambarkan apa pun selain penerapan hasil dari ilmu pengetahuan, harus berhati-hati untuk tidak membuat penilaian yang tidak ilmiah.
    Seandainya Rusia mengikuti kebijakan kapitalistik yang sama seperti Amerika, saat ini mereka akan menjadi orang paling kaya di dunia.

    (hlm.181)

    BAB 4

    LIBERALISME DAN PARTAI POLITIK

    “Dogmatisme” Kaum Liberal
    Liberalisme tidak pernah terlibat dalam rencana licik oportunis atau tawar-menawar politik. Dogma (doctrinaisism) yang kaku ini mau tak mau menyebabkan kemerosotan liberalisme.
    Wawasan tertinggi dan paling fundamental tentang pemikiran liberal adalah bahwa ide-idenyalah yang menyediakan landasan di mana keseluruhan kerjasama sosial manusia dibangun dan ditopang.

    (hlm.182)

    Dan bahwa struktur sosial yang mampu bertahan tidak dapat dibangun berdasarkan ide-ide palsu dan keliru.

    (hlm.183)

    Kelompok liberal berpendapat bahwa semua orang memiliki kapasitas intelektual untuk memikirkan dengan benar masalah rumit tentang kerjasama sosial dan untuk bertindak sesuai dengan cara berpikirnya. Mereka begitu terpukau oleh kejernihan dan bukti pemikiran yang membantu mereka sampai pada ide-ide politik mereka sehingga sulit bagi mereka untuk mengerti mengapa orang lain tidak bisa memahaminya. Mereka tidak pernah memahami dua hal: pertama, bahwa massa tidak memiliki kapasitas untuk berpikir secara logis dan kedua, bahwa di mata kebanyakan orang, bahkan saat mereka mampu mengenali kebenaran, sebuah keuntungan khusus dan sesaat yang dapat langsung dinikmati terlihat lebih penting daripada pencapaian lebih besar dan lebih kekal yang harus ditunda.

    (hlm.184)

    Slogan-slogan intervensionisme dan sosialisme, terutama usulan bagi pengambilalihan sebagian milik pribadi, selalu mendapatkan dukungan antusias dari massa, yang berharap mendapat keuntungan langsung dari usulan-usulan itu.

    (hlm.187)

    Partai Politik
    Liberalisme tidak menjanjikan hak-hak istimewa kepada siapa pun. Melalui tuntutan bagi penolakan terhadap pencarian kepentingan khusus, liberalisme bahkan menuntut pengorbanan, namun, tentu saja, hanya pengorbanan sementara, berupa penyerahan sebagian keuntungan yang relatif kecil untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Namun partai-partai dengan kepentingan khusus hanya memberi perhatian pada sebagian anggota masyarakat. Untuk kelompok masyarakat ini, satu-satunya kelompok yang ingin mereka layani, mereka menjanjikan keuntungan istimewa dengan mengorbankan anggota masyarakat lain.

    (hlm.188)

    Kelompok tani berpikir bahwa cukup untuk menunjukkan bahwa pertanian mutlak penting. Serikat buruh menyatakan bahwa tenaga kerja mutlak penting. Partai-partai kelas menengah menyebutkan pentingnya keberadaan lapisan sosial yang merepresentasikan jalan tengah (golden mean).

    (hlm.190)

    Kaum liberal berpendapat bahwa dengan dihapusnya seluruh perbedaan artifisial kasta dan status, abolisi seluruh hak-hak istimewa, dan ditegakkannya persamaan di hadapan hukum, tidak ada lagi yang menghalangi kerjasama damai seluruh anggota masyarakat, karena semua kepentingan jangka panjang mereka yang dipahami dengan benar pada dasarnya sama. Ricardo percaya bahwa ia dapat menunjukkan bagaimana, dalam perjalanan perkembangan ekonomi yang progresif, perubahan terjadi dalam hubungan antara tiga bentuk pendapatan dalam sistemnya, viz., keuntungan, sewa, dan upah.

    (hlm.191)

    Untuk membuktikan bahwa doktrin tentang perang kelas itu benar, seseorang harus bisa membuktikan dua hal: di satu sisi, bahwa ada identitas tentang kepentingan di antara anggota masing-masing kelas; di sisi lain, bahwa apa yang menguntungkan satu kelas, merugikan kelas lain.

    (hlm.192)

    Kepentingan pengusaha tidak akan pernah menyimpang dari kepentingan konsumen. Semakin makmur pengusaha, semakin mampu ia mengantisipasi keinginan konsumen.

    (hlm.194)

    Apa yang sebenarnya mereka lakukan adalah merekomendasikan kepada anggota-anggota kelompok-kelompok ini aliansi untuk perjuangan bersama melawan kelompok lain.
    Sejak awal partai-partai modern dengan kepentingan khusus mendeklarasikan secara cukup terbuka dan tegas bahwa tujuan kebijakan mereka adalah penciptaan hak-hak istimewa untuk kelompok tertentu. Partai-partai agraris berjuang untuk tarif proteksi

    (hlm.195)

    dan keuntungan lain (contohnya, subsidi) untuk petani; partai pegawai negeri bertujuan mengamankan hak-hak istimewa untuk birokrat; partai regional ditujukan untuk memperoleh keuntungan khusus bagi penduduk di wilayah tertentu.

    (hlm.196)

    Maka, partai-partai dengan kepentingan khusus wajib berhati-hati. Dalam membicarakan hal yang paling penting ini dalam upaya mereka, mereka harus menggunakan ungkapan dwimakna (ambiguous) yang dimaksudkan untuk menyamarkan keadaan yang sebenarnya.

    (hlm.197)

    Saat partai agraris dalam negara industri mengajukan tuntutan mereka, mereka memasukkan apa yang mereka sebut “populasi petani,” pekerja tanpa lahan, buruh pedesaan (cottagers), dan pemilik lahan kecil, yang tidak tertarik pada tarif proteksi untuk produk pertanian.

    (hlm.198)

    Hanya dengan berkedok mendukung dan mewakili mayoritas maka mereka memiliki prospek untuk mewujudkan tuntutan mereka. Cukup mudah untuk menjanjikan kepada satu kelompok bahwa seseorang akan mendukung suatu kenaikan belanja tertentu pemerintah tanpa mengurangi belanja pemerintah di bidang lain, dan pada saat yang bersamaan menjanjikan kepada kelompok lain prospek pajak yang lebih rendah; namun seseorang tidak bisa memenuhi kedua janji ini secara bersamaan.

    (hlm.200)

    Krisis Parlementer dan Ide tentang Majelis Permusyawaratan yang Mewakili Kelompok-kelompok Khusus
    Oleh karena itu, hanya ada dua partai: partai yang berkuasa dan partai yang ingin berkuasa.

    (hlm.203)

    Tidak ada yang dapat memaksakan kesepakatan dalam diet yang terdiri dari wakil-wakil yang dipilih oleh anggota-anggota asosiasi profesi.

    (hlm.204)

    Sidney dan Beatrice Webb, serta sejumlah sindikalis dan sosialis serikat (guild), dalam hal ini mengikuti rekomendasi yang telah dibuat di masa lampau oleh para pendukung kontinental bagi sebuah reformasi di majelis tinggi (upper chamber), menyarankan agar kedua dewan (chamber) berdiri berdampingan, satu ditunjuk langsung oleh seluruh rakyat, dan satu lagi terdiri dari perwakilan yang dipilih oleh konstituen yang terbagi ke dalam jenis-jenis pekerjaan (profesi). Dalam prakteknya sistem dua kamar (bicameral) hanya dapat berjalan jika salah satu dewan memiliki kontrol (upper hand) dan kekuatan tak terbatas untuk memaksakan keinginannya pada dewan lain, atau jika, saat kedua dewan (chamber) mengambil sikap berbeda dalam sebuah isu, harus ada upaya untuk melakukan kompromi terhadap solusinya.

    Para pendukung ide tentang majelis yang terdiri dari perwakilan serikat (guild) hanya berangan-angan jika mereka mengira bahwa antagonisme yang dewasa ini mengoyak persatuan nasional dapat diatasi dengan membagi-bagi penduduk dan majelis rakyat berdasarkan pekerjaan (profesi). Antagonisme itu hanya dapat diatasi oleh ideologi liberal.

    (hlm.205)

    Liberalisme dan Partai-Partai dengan Kepentingan Khusus
    Partai-partai dengan kepentingan khusus melihat semua masalah politik semata-mata sebagai masalah taktik politik. Tujuan akhir mereka telah ditetapkan sejak awal.

    (hlm.209)

    Dalam hal ini, doktrin Marxis memainkan peran sama untuk partai yang mendukung kepentingan khusus pekerja seperti yang telah dilakukan untuk German Centris dan partai-partai kelompok rohaniwan (clerical) lain yang memakai agama sebagai daya tarik; bagi partai nasionalis melalui daya tarik solidaritas nasional; bagi partai agraris melalui pengakuan bahwa kepentingan kelompok-kelompok produsen pertanian yang berbeda adalah sama; dan bagi partai proteksionis, melalui doktrin kebutuhan akan tarif komprehensif untuk melindungi pekerja nasional.

    (hlm.209)

    Liberalisme dan Partai-Partai dengan Kepentingan Khusus
    Liberalisme tidak memiliki kesamaan sedikit pun dengan partai-partai ini. Liberalisme berada di sisi yang sangat berseberangan dengan mereka semua. Liberalisme tidak menjanjikan hak istimewa kepada siapa pun. Liberalisme menuntut dari semua orang pengorbanan untuk kelangsungan masyarakat.

    (hlm.212)

    Propaganda Partai dan Organisasi Partai
    Profesi independen pengacara, dokter, penulis, dan seniman tidak dipresentasikan dalam jumlah yang besar yang memungkinkan mereka diperlakukan sebagai partai dengan kepentingan khusus. Oleh karena itu mereka paling tidak terbuka oleh pengaruh ideologi dengan hak-hak istimewa berdasarkan kelas. Anggota-anggotanya paling lama dan paling gigih mempertahankan liberalisme.

    (hlm.214)

    Liberalisme sebagai “Partai Modal”
    Musuh-musuh liberalisme mencapnya sebagai partai kepentingan khusus kaum kapitalis. Ini merupakan ciri khas mentalitas mereka. Seseorang tidak bisa memandang liberalisme sebagai partai kepentingan khusus, hak-hak istimewa, dan hak-hak prerogatif, karena kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi bukanlah hak istimewa yang diakibatkan kelebihan eksklusif para kapitalis, namun sebuah institusi untuk kepentingan semua anggota masyarakat dan karena itu sebuah institusi yang menguntungkan semua orang.

    (hlm.215)

    Namun ilmu ekonomi telah memperlihatkan bahwa sistem intervensionisme bertolak belakang dengan tujuannya dan merusak dirinya sendiri. Ia tidak bisa meraih tujuan yang digembar-gemborkannya. Sebagai akibatnya, merupakan kesalahan untuk menganggap bahwa selain sosialisme (kepemilikan bersama) dan kapitalisme (kepemilikan pribadi) ada sistem ketiga untuk pengorganisasian kerjasama sosial yang masuk akal dan dapat dilaksanakan, yaitu intervensionisme.

    (hlm.218)

    Pengusaha dapat meraih kesejahteraan hanya jika ia mampu menyediakan apa yang dibutuhkan konsumen. Jika dunia sedang dibakar oleh gairah perang, kaum liberal melontarkan manfaat perdamaian; namun, pengusaha memproduksi meriam dan senapan mesin.

    Jika opini publik dewasa ini menguntungkan penanaman modal di Rusia, kelompok liberal mungkin akan berupaya untuk menjelaskan bahwa menanam modal di negara yang pemerintahnya secara terbuka memproklamasikan perampasan semua modal sebagai tujuan akhir kebijakannya sama artinya dengan membuang semua barang-barang ke laut; namun pengusaha tidak akan ragu-ragu untuk memasok barang-barang ke Rusia jika ia bisa memindahkan risiko ke pihak lain, baik negara atau kapitalis lain yang tidak terlalu cerdas, yang membiarkan diri mereka disesatkan oleh opini publik, dan ia sendiri dimanipulasi oleh uang Rusia.

    (hlm.219)

    Saat orang liberal tampil di hadapan para pemilih sebagai kandidat untuk jabatan publik dan diminta oleh mereka yang suaranya ia butuhkan apa yang ia atau partainya akan lakukan bagi mereka dan kelompoknya, satu-satunya jawaban yang bisa ia berikan adalah: Liberalisme bekerja untuk semua orang, tapi tidak memiliki kepentingan khusus apa pun.

    (hlm.221)

    BAB 5
    MASA DEPAN LIBERALISME

    Liberalisme dan kapitalisme menjadi landasan dari semua keajaiban yang menjadi ciri kehidupan modern.

    (hlm.222)

    Telah muncul kesadaran bahwa kemajuan material hanya mungkin terjadi dalam masyarakat kapitalis liberal.

    Kalangan romantis bernostalgia tentang kondisi ekonomi Abad Pertengahan — bukan Abad Pertengahan sesungguhnya, tetapi bayangan tentang abad itu yang dibangun oleh angan-angan yang tidak ada kaitannya dengan realitas sejarah.

    (hlm.225)

    Tujuan semua orang adalah memenuhi semua kebutuhannya, kemakmuran, dan kelimpahan. Tentu tidak ada ini yang menjadi tujuan manusia, tapi semua hal itu diharapkan bisa mereka capai

    (hlm.226)

    dengan memanfaatkan berbagai cara eksternal dan melalui kerja sama sosial. Kekayaan — batin kebahagiaan, ketenangan pikiran, kemuliaan — manusia harus mencari semua itu dalam diri masing-masing.

    Liberalisme bukan agama karena tidak menuntut iman atau ketaatan, karena tidak bersifat gaib, dan karena tidak memiliki dogma. Liberalisme bukan cara pandang dunia karena tidak mencoba menjelaskan kosmos dan tidak memberi penjelasan tentang makna dan tujuan keberadaan manusia. Liberalisme bukan partai dengan kepentingan khusus karena tidak memberikan atau berusaha untuk memberikan keuntungan khusus kepada individu atau golongan mana pun. Liberalisme adalah sebuah ideologi, doktrin tentang hubungan yang setara antara anggota masyarakat dan pada saat yang sama merupakan penerapan doktrin tersebut dalam tindakan manusia dalam sebuah masyarakat. Liberalisme hanya menjanjikan satu hal, yaitu kemajuan kesejahteraan material semua orang dalam suasana damai tanpa rintangan untuk melindungi umat manusia dari rasa sakit dan penderitaan yang berasal dari luar sejauh masih dalam batas-batas kemampuan institusi-institusi sosial. Itulah tujuan liberalisme.

    Tidak ada bunga dan warna partai, lagu dan idola partai, simbol dan slogan partai untuk liberalisme. Liberalisme hanya memiliki substansi dan argumentasi. Keduanya akan mengantarkan pada kemenangan.

    (hlm.227)

    LAMPIRAN

    Catatan Mengenai Kepustakaan Tentang Liberalisme
    Ide-ide liberal sudah dapat ditemukan dalam karya sejumlah besar penulis terdahulu. Para pemikir besar Inggris dan Skotlandia dari abad kedelapan belas dan awal abad kesembilan belas adalah yang pertama-tama merumuskan ide-ide ini ke dalam sistem.

    (hlm.228)

    Tulisan-tulisan utama Mill: Prinsip-prinsip Ekonomi Politik (1848), Tentang Kebebasan (1859), Utilitarianisme (1862).

    Dibandingkan dengan Mill semua penulis sosialis lain — bahkan Marx, Engels, dan Lassalle — nyaris tidak penting.

    Karena liberalisme adalah ekonomi terapan; liberalisme adalah kebijakan sosial dan politik berdasarkan landasan ilmiah. Dalam hal ini, selain tulisan-tulisan yang telah disebutkan, seseorang harus membiasakan diri dengan mahaguru ekonomi klasik: David Ricardo, Prinsip-prinsip Ekonomi Politik dan Perpajakan (1817).

    (hlm.229)

    Pemikiran liberal merasuki puisi klasik Jerman, terutama karya-karya Goethe dan Schiller.

    Menyangkut penulis-penulis liberal yang lebih tua, orang juga harus membaca karya Frédéric Bastiat, Oeuvres Complètes (Paris, 1855). Bastiat adalah seorang penulis dengan gaya sastra (stylist) yang cemerlang sehingga membaca karyanya memberi kenikmatan luar biasa.

    (hlm.230)

    Saat membaca karya-karya politik Inggris yang lebih mutakhir, seseorang tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa di Inggris dewasa ini kata “liberalisme” sering diartikan sebagai sosialisme moderat.

    (hlm.232)

    2. Tentang Istilah “Liberalisme”

    Betapapun fanatiknya seseorang dalam oposisinya terhadap milik pribadi, ia harus mengakui setidaknya kemungkinan bahwa seseorang mungkin mendukung hal itu. Dan jika seseorang mengakui ini, ia harus, tentu saja, memberi nama untuk aliran pemikiran ini. Seseorang harus minta mereka yang dewasa ini menyebut diri liberal memberi nama pada ideologi yang mengajurkan pelestarian kepemilikan pribadi atas alat produksi. Mereka mungkin akan menjawab bahwa mereka ingin menyebutnya ideologi “Manchesterisme”. Kata “Manchesterisme” awalnya diciptakan sebagai sebuah istilah ejekan dan pelecehan.

    Aliran pemikiran yang menganjurkan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi harus, betapa pun, diberi hak untuk mendapatkan sebuah nama. Tetapi yang terbaik adalah untuk mengikuti nama tradisionalnya

    (hlm.233)

    Seperti halnya liberalisme harus, sebagai kebutuhan internal, menghindari setiap trik propaganda dan semua upaya licik oleh gerakan-gerakan lain untuk mendapat pengakuan masyarakat, liberalisme tidak boleh menanggalkan nama lamanya hanya karena nama itu tidak populer. Justru karena kata “liberal” memiliki konotasi yang buruk di Jerman, liberalisme harus mempertahankan nama itu. Seseorang mungkin tidak membuat cara berpikir liberal mudah bagi siapa pun, karena yang penting bukanlah bahwa orang yang menyatakan diri mereka liberal, tetapi bahwa mereka menjadi liberal dan berpikir serta bertindak sebagai orang-orang liberal.

     

     

    Politik dan Kebebasan

    Tom Palmer

    Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Politik dan Kebebasan oleh Tom Palmer.

    Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

    Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

    Selamat membaca.

    Chandra Natadipurba

    ===

    POLITIK

    DAN

    KEBEBASAN

    Why Liberty

    Your Life ● Your Choice ● Your Future

    Editor: Tom G. Palmer
    Students For Liberty & Atlas Network

    Penulis:

    Tom G Palmer (Eds)

    Kontributor:

    John Stossel, Clark Ruper, James Padilioni Jr.,
    Alexander McCobin, Sarah Skwire, Aaron Ross Powell,
    Olumayowa Okediran, Sloane Frost,
    Lode Cossaer dan Martin Wegge

    Copyright: Tom G Palmer 2013

    Judul Asli: Why Liberty: Your Life Your Choice and Your Future

    Diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh:

    Atlas Network dan Students for Liberty (2013)

    Diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh:

    Suara Kebebasan (2017)

    Penerjemah: Djohan Rady

    Penyelaras Bahasa: Rofi Uddrojat dan Adinda Teriangke Muchtar

    Desain Layout: Harhar Muharam

    (hlm.ix)

    KATA PENGANTAR

    Politik bukan sebagi sebuah pemaksaan kehendak, tetapi persuasi.

    (hlm.1)

    1.
    Mengapa Menjadi Libertarian?

    Oleh: Tom G. Palmer

    Sepanjang kamu menjalani hidup, besar kemungkinan kamu selalu bertindak layaknya seorang libertarian.

    (hlm.2)

    Kamu menjalani hidup ini sesuai kehendakmu sambil terus menghormati kebebasan dan hak-hak orang lain.

    Libertarian percaya pada asas voluntarisme atau kesukarelaan ketimbang pemaksaan.

    Lalu kenapa libertarianisme tidak berfokus pada apa yang seharusnya pemerintah lakukan tetapi malah fokus pada tindakan individu?

    (hlm.6)

    Memang menggelikan. Jika kamu selalu diasumsikan bersepakat, terlepas dari apapun pilihanmu, maka kata “bersepakat” (to consent) itu sendiri sudah kehilangan maknanya.

    Faktanya, orang yang ditangkap polisi karena menghisap mariyuana di dalam rumahnya tidak pernah bersepakat untuk ditangkap.

    Tetapi jika kamu tidak punya otoritas untuk masuk ke rumah tetanggamu sambil menodongkan pistol untuk menyeret mereka ke dalam penjara, lalu kenapa kamu bisa mendelegasikan kekuasaan tersebut kepada pihak lain?

    (hlm.7)

    Sayangnya “negara” tidak sama dengan “rumah saya”. Saya memiliki dan menguasai rumah saya, tetapi saya tidak “memiliki dan mengusai” negara saya.

    Orang dewasa paham bahwa orang lain bukan milik mereka. Setiap orang punya hidup masing-masing yang ingin dijalani.

    (hlm.8)

    Menjadi libertarian artinya menolak menggunakan cara-cara kekerasan dan pemaksaan, tetapi justru menggunakan cara-cara damai dan voluntaristik dalam mencapai tujuan-tujuan pribadi, entah itu yang bersifat personal ataupun yang bersifat lebih luas seperti meningkatkan kondisi kemanusiaan, menyebarkan pengetahuan, dan sebagainya.

    (hlm.9)

    Kecurigaan Terhadap Kekuasaan dan Otoritas

    Locke merespon dengan mengatakan bahwa apa yang diinginkan para pengusung kebebasan adalah “Kebebasan untuk mengatur sendiri Diri, Tindakan, Harta Benda, dan seluruh Kepemilikan yang dipunyai, berdasarkan batasa-batas yang diijinkan oleh Hukum; sehingga ia tidak menjadi subjek bagi Kehendak orang lain, tetapi menjadi subjek bagi kehendak dirinya sendiri.”

    (hlm.11)

    Kebebasan, Kemakmuran, dan Tata Sosial

    Hak milik (properti) merupakan salah satu fondasi paling penting bagi terciptanya kerja sama berbasis voluntarisme di antara individu yang tidak saling mengenal.

    (hlm.12)

    Hak properti yang terdefinisikan dengan jelas dan kebebasan untuk melakukan pertukaran berdasarkan kesepakatan antara individu-individu yang terlibat akan berujung pada kooperasi berskala besar yang bebas dari pemaksaan. Pasar bebas menciptakan lebih banyak tata sosial ketimbang masyarakat yang aktivitasnya dikomandoi dan diatur-atur oleh politisi.

    Segala bentuk upaya penggunaan kekuasaan untuk mengintervensi itu semua melalui, misalnya, perintah diktator, presiden, atau anggota legislatif, adalah upaya mengganti tata (order) dengan kekacauan (chaos), kebebasan dengan pemaksaan, dan harmoni dengan perselisihan.

    (hlm.13)

    Jadi … Kenapa Menjadi Libertarian?

    Sebagaimana beban pembuktian ada di pundak si penuduh, bukan yang dituduh, maka beban pembuktian bahwa manusia tidak boleh bebas ada pada orang-orang yang menyangkal kebebasan manusia, bukan para pembelanya. Seseorang yang ingin bernyanyi dan menari tidak perlu menjulaskan kenapa ia harus bernyanyi dan menari kepada semua orang di seluruh dunia hanya agar ia dapat bernyanyi dan menari. Tidak pula orang ini harus menyiapkan bantahan pada setiap argumen mengenai kenapa bernyanyi dan menari harus dilarang. Jika ia memang harus dilarang untuk bernyanyi dan menari, maka argumentasi dan penjelasan harus datang dari orang-orang yang melarang, bukan sebaliknya. Beban pembuktian ada pada pundak di pelarang.

    (hlm.15)

    2.
    Seharusnya Tidak Perlu
    Undang-Undang

    Oleh: John Stossel

    Ketika dihadapkan pada masalah, orang-orang cenderung mengambil cara yang paling praktis: buat undang-undang tidak selamanya efektif, karena pemaksaan jarang sekali mengubah keadaan menjadi lebih baik. Dan itulah hakekat undang-undang yang sebenarnya: pemaksaan dan eksekusi kekuasaan.

    (hlm.17)

    George W. Bush berjanji akan membentuk pemerintahan yang ramping, tetapi kemudian ia mengesahkan program subsidi obat sebesar $50 miliar per tahun dan mendirikan birokrasi baru bernama No Child Left Behind.

    Swedia dan Jerman meliberalisasi sektor tenaga kerja dan perekonomian mereka tumbuh.

    (hlm.18)

    Ketika saya pulang, Visa dan MasterCard akan mengirimkan tagihan atas semua transaksi tersebut hingga ke detail-detail yang paling kecil. Kita melihat keajaiban semacam ini sebagai hal kecil belaka.

    Sebaliknya, pemerintah bahkan tidak mampu menghitung suara di hari pemilihan dengan benar.

    (hlm.20)

    Salah satu ide sentral di dalam ideologi kebebasan adalah penolakan kategorisasi standar kanan dan kiri dan di dalam politik.

    Spektrum tradisional kanan dan kiri biasanya mewakili komunisme di sisi kiri dan fasisme di sisi kanan, pelarangan tembakau di satu sisi atau pelarangan mariyuana di sisi lain, pelarangan bicara di satu sisi … dan pelarangan bicara dalam bentuk lain di sisi yang lain.

    (hlm.21)

    Yang menyatukan orang-orang yang masuk ke dalam kategori libertarian adalah penghargaan pada kebebasan individu di dalam berbagai isu kemanusiaan dan sosial.

    Jika kamu ingin melihat monumen(ku), lihat sekelilingmu. Perhatikan dunia yang kita tinggali saat ini–sekuler, saintifik, demokratis, kelas menengah. Suka atau tidak, inilah dunia yang diwariskan oleh liberalisme. Selama lebih dari dua ratus tahun, liberalisme (dengan sekutunya yang paling kuat, kapitalisme) berhasil meruntuh tata sosial lama yang berdiri selama lebih dari dua milenia: otoritas penguasa, dominasi agama, tuan tanah, dan raja-raja. Dari tempat lahirnya di Eropa, liberalisme menyebar di Amerika Serikat, dan sekarang sibuk mengubah wajah Asia.16

    (hlm.22)

    Di berbagai belahan dunia, telah banyak pertarungan ide yang dimenangkan libertarianisme: pemisahan otoritas agama (gereja) dari negara; pembatasan kekuasaan melalui undang-undang; kebebasan berbicara; mengganti sistem merkantilisme dengan perdagangan bebas; penghapusan perbudakan; penghargaan hak-hak terhadap kelompok minoritas, baik itu minoritas agama, etnis, dan jender; perlindungan terhadap hak milik; serta kekalahan fasisme, Jim Crow, apartheid, Nazi, dan komunisme.

    (hlm.27)

    4.
    Sejarah dan Struktur
    Pemikiran Libertarianisme

    Oleh: Tom G. Palmer

    Libertarianisme adalah produk filsafat modern mengenai kebebasan individu, sebagai antitesis bagi ide mengenai penghambaan (serfdom) dan kepatuhan (subservience); mengenai sistem hukum yang berbasis pada hak individu, sebagai antitesis dari eksekunsi kekuasaan yang semena-mena; mengenai penciptaan  kemakmuran secara mutualistik melalui kebebasan untuk bekerja, kerja sama voluntaristik, dan pertukaran, sebagai antitesis dari kerja paksa, kerja berdasarkan tekanan, dan eksploitasi; dan mengenai toleransi dan koeksistensi antar agama, gaya hidup, kelompok etnis, dan berbagai identitas kemanusiaan lain, sebagi antitesis dari konservatisme agama, tribalisme, dan etnisisme. Libertarianisme adalah filosofi dunia modern dan saat ini sedang berkembang pesat di kalangan anak-anak muda di seluruh dunia.

    (hlm.29)

    Libertarianisme Dipahami Secara Historis

    Perdagangan dan aktivitas komersial mulai meningkat sejak Abad Pertengahan, khususnya karena munculnya komune-komune independen, yakni kota-kota otonom yang terlindung dari serangan pembajak, perompak, dan musuh-musuh lainnya berkat tembok pembatas yang tinggi.27

    “Stadtluft macht frei”

    (hlm.31)

    Sistem politik absolutisme memiliki teori ekonomi yang menyertainya: merkantilisme, yakni ide bahwa raja dan birokrasinya harus mengarahkan aktivitas industri, melarang usaha ini dan menyubsidi yang lainnya, memberikan hak monopoli pada perusahaan-perusahaan tertentu (pratek yang sekarang disebut kroniisme), “melindungi” pengusaha lokal dari serbuan barang impor asing yang murah, dan secara umum mengelola perdagangan demi keuntungan penguasa negara.33

     (hlm.32)

    Gerakan liberalisme sendiri mengambil inspirasi dan ide dari banyak pihak. Salah satu yang paling terkenal adalah para cendekiawan Skolastik Salamanca di Spanyol, yang pro terhadap pasar bebas dan membela hak masyarakat Indian yang dijajah oleh para penjelajag Spanyol. Para cendekiawan Salamanca juga menganut doktrin hukum alamiah (natural law) dan hak alamiah (natural rights) yang dirumuskan oleh para pemikir Belanda dan Jerman. Tetapi, banyak pihak sepakat bahwa gerakan libertarian yang utuh pertama muncul pada saat periode perang sipil di Inggris: kubu the Levellers.34

    (hlm.33)

    Imperialisme, rasisme, sosialisme, nasionalisme, komunisme, fasisme, dan berbagai kombinasi dari ideologi-ideologi tersebut, kesemuanya berdasar pada premis fundamental mengenai kolektivisme. Di dalam doktrin kolektivisme, individu tidak dilihat sebagai subjek yang otonom; jauh lebih penting daripada hak individu, kata para koletivis, adalah hak dan kepentingan bangsa, kelas sosial, atau ras, yang diekspresikan melalui kekuasaan negara.

    (hlm.35)

    Di tahun 1943, ada tiga buku yang diterbitkan di Amerika Serikat yang berhasil mengembalikan ide-ide libertarianisme ke dalam diskusi publik: The Discovery of Freedom karya Rose Wilder, The God of the Machine karya Isabel Paterson, dan novel bestseller The Fountainhead karya Ayn Rand. Pada tahun 1944 di Amerika Serikat Ludwig von Mises menerbitkan buku Omnipotent Goverment: The Rise of the Total State and the Total War, dan di Britania Raya F. A. Hayek menerbitkan buku bestseller-nya The Road to Serfdom.

    (hlm.36)

    Muncul juga intelektual terkemuka yang mengikuti jejak Paterson, Lane, Rand, Mises, dan Hayek, seperti filsuf  Robert Nozick, H.B. Acton, dan Anthony Flew, serta banyak ekonom pemenang Nobel seperti James Buchanan, Milton Friedman, Ronald Coase, George Stigler, Robert Mundell, Elinor Ostrom, dan Vernon Smith, yang terus mengembangkan argumen-argumen libertarian dan mengaplikasikan ide-ide libertarian untuk menjawab berbagai persoalan sosial, ekonomi, hukum, dan politik.

    (hlm.38)

    Tripod Libertarianisme terdiri dari tiga pilar utama:

    Hak Individu: individu memiliki hak yang sudah ada sebelum hadirnya asosiasi politik; hak bukan merupakan dispensasi dari kekuasaan, tetapi dapat digunakan melawan kekuasaan; sebagaimana Nozick memulai karya klasiknya Anarchy, State, and Utopia, “Individu memiliki hak, dan ada hal-hal yang tidak seorang pun dapat melakukan seuatu terhadapnya (tanpa melanggar hak-hak orang tersebut).”38

    Spontaneous Order: banyak orang berasumsi bahwa semua tatanan (order) pasti berasal dari perencanaan atau desain yang teliti. Tetapi jenis ketertiban atau tatanan di dalam masyarakat bukan merupakan hasill dari perencanaan dan desain yang disengaja, tetapi muncul dari interaksi suka rela di antara orang-orang yang bebas mengeksekusi hak-hak mereka;

    Peran pemerintah yang terbatas secara konstitusional. Hak individu membutuhkan perlindungan dari institusi yang diberikan mandat untuk melaksanakan perlindungan tersebut, tetapi institusi ini juga dapat menjadi ancaman yang paling berat dan serius bagi hak-hak individu.

    (hlm.40)

    Doktrin seharusnya disebarkan dan dibela menggunakan argumen dan kata-kata untuk mengubah pikiran orang lain, bukan dengan senjata dan api untuk menhanguskan tubuh individu lain yang tidak sepaham.

    (hlm.41)

    Tatanan Spontan

    Prinsip moral penghormatan terhadap hak-hak individu tidak bisa dengan sendirinya menjawab tantangan tersebut, sampai ketika para ilmuwan sosial mulai berhasil menjawab rahasia dari tatanan sosial kompleks. Sebagaimana para entomologis menemukan bahwa tatanan relasi yang kompleks pada komunitas lebah tidak “diatur” oleh seekor ratu lebah yang mengeksekusi kekuasaan absolut dan menyebarkan perintah kepada lebah-lebah lain, para ilmuwan sosial menemukan bahwa tatanan sosial di dalam masyarakat manusia yang kompleks juga tidak “diatur” oleh seorang atau segelintir penguasa yang memerintahkan para peternak sapi kapan harus memerah susu dan pada harga berapa susu tersebut harus dijual, menetapkan jumlah uang, dan secara umum memberikan penrintah untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang tertiba dan teratur.

    (hlm.42)

    “Laissez faire et laissez passer, le monde va de lui meme!”

    Ini bukan merupakan hal yang mudah dipahami manusia, karena kita cenderung mencari pencipta ketertiban ketika kita menemukan tatanan.

    (hlm.44)

    Pemerintah yang Terbatas Secara Konstitusional

    Resikonya adalah, ketika kita memberikan wewenang kepada orang lain untuk menggunakan kekerasan, bahkan dengan maksud untuk melindungi hak-hak individu, kita bisa menjadi korban kekerasan oleh orang yang kita berikan wewenang tersebut. Persoalan ini tergambar dengan lugas dalam kutipan terkenal dari penyair Romawi, Juvenal: “Quis custodiet ipsos custodes?” (“Siapa yang mengawasi para pengawas?”)

    (hlm.45)

    Kebebasan, Tatanan, Keadilan, Perdamaian, dan Kesejahteraan

    Ketika peran pemerintah dibatasi hanya pada perlindungan hak-hak individu dan penegakan hukum yang adil, masing-masing anggota masyarakat akan menikmati kebebasan untuk meraih kebahagiaan dan kemakmurannya sendiri-sendiri.

    Sebuah dunia yang bebas, tentu saja, tidak akan menjadi sebuah dunia yang sempurna, karena manusia bukanlah makhluk yang sempurna pula.

    (hlm.48)

    5.
    “The Times, They Are A-Changin”:
    Spirit Abolisionisme

    Oleh: James Padilioni, Jr.

    Tidak ada wilayah di muka bumi ini yang pada suatu masa tidak mempraktekkan perbudakan.

    (hlm.51)

    Gerakan ini sukses menghapus tarif impor yang telah membuat harga jagung di Inggris menjadi mahal. Dengan adanya tarif impor tersebut, para pemilik ladang jagung di Inggris (yang punya koneksi politik) diuntungkan secara ekonomi di atas penderitaan rakyat miskin Inggris yang harus membelanjakan sebagian besar uang mereka untuk membeli jagung.

    (hlm.53)

    Sebagai contoh: Mahkamah Agung AS menyatakan bahwa “Undang-undang sodomi” sebagai undang-undang non-konstitusional, dan mulai banyak negara bagian yang memberikan kesetaraan hak bagi pasangan gay untuk melaksanakan pernikahan.

    (hlm.56)

    6.
    Prinsip Politik
    Libertarianisme

    Oleh: Alexander McCobin

    Justifikasi di dalam filsafat politik merupakan argumentasi standar yang digunakan banyak orang untuk menjustifikasi keyakinannya masing-masing: mencapai kebaikan tertinggi untuk sebanyak mungkin orang, menghormati otonomi orang lain sebagai makhluk moral, keadilan dalam distribusi tanggung jawab dan sumber daya, dan lain sebagainya.

    (hlm.58)

    Prinsip Politik Libertarianisme

    Mungkin saja. Motto dari Cato Institute  adalah “kebebasan individu, pemerintahan terbatas, pasar bebas, dan perdamaian.”

    (hlm.59)

    Justifikasi Kebebasan

    Setiap filosofi politik yang mengedepankan satu prinsip dan menolak prinsip-prinsip yang lainnya harus dapat memberikan pembenaran kenapa ia memilih prinsip tersebut.

    Tanpa justifikasi, sebuah prinsip hanya akan menjadi klaim kebenaran sepihak. Ada banyak justifikasi yang berbeda bagi prinsip kebebasan.

    Berikut adalah sedikit contoh justifikasi terhadap prinsip kebebasan, diikuti oleh satu nama pemikir yang mewakili justifikasi tersebut:

     

      • Prinsip utilitas (kegunaan) – Kebebasan harus menjadi prinsip kehidupan politik karena kebebasan memberikan manfaat dalam jumlah tertinggi kepada sebanyak mungkin orang (Jeremy Bentham);

      • Otonomi – pemerintahan terbatas dan penghormatan terhadap kesetaraan hak merupakan kerangka paling pas untuk menghormati otonomi gen moral (Robert Nozick);

      • Hak untuk Mengejar dan Mencari Kebahagiaan Masing-masing – Kebebasan merupakan syarat penting bagi seseorang untuk dapat mengejar dan mencari kebahagiaan dirinya masing-masing sesuai dengan kodrat alamiahnya (Ayn Rand);

      • Hukum dan Hak Alamiah – Kebebasan merupakan karakteristik alamiah dari manusia sebagai makhluk yang otonom dan sosial sekaligus (John Locke);

    (hlm.60)

     

      • Teologis – Kebebasan merupakan anugerah dari Tuhan, dan oleh sebab itu tidak ada satu orang pun yang berhak mencabut ataupun menghalang-halangi kebebasan orang lain (John Locke dan Thomas Jefferson)

      • Simpati – Kebebasan muncul sebagai sebuah “sistem sederhana” yang sesuai dengan kemampuan manusia untuk membayangkan dirinya berada pada situasi yang dialami orang lain (Adam Smith);

      • Kesepakatan – Prinsip kebebasan dapat dijustifikasikan sebagai sebuah hasil yang tak terelakkan dari kesepakatan yang dibuat di antara individu-individu rasional (Jan Narveson);

      • Kerendahan Hati – Kebebasan diperlukan sebagai prinsip organisasi sosial karena tidak ada satu orang pun yang memiliki pengetahuan yang sahih untuk mengatur perilaku dan hidup orang lain (F. A. Hayek);

      • Kesemerataan dan Keadilan – Kebebasan merupakan cara yang paling efektif untuk memastikan bahwa orang-orang yang paling tidak berdaya di dalam masyarakat dapat meraih kesempatan untuk menjadi lebih baik (John Tomasi).

    (hlm.61)

    Satu Prinsip, Berbagai Varian Kebijakan

    (Apakah negara harus memfasilitasi pernikahan sesama jenis atau biarkan saja urusan pernikahan menjadi urusan kontraktual di antara individu?)

    (hlm.62)

    Perbedaan Antara Politik dan Etika

    Meski masih berhubungan, filsafat politik berfokus pada lingkup yang agak berbeda, yakni soal dimensi hubungan sosial yang layak atau patut antara manusia

    (hlm.64)

    Salah satu varian dari argumen yang anti terhadap legislasi moral adalah bahwa, meskipun memang ada standar moralitas universal yang berlaku bagi setiap orang, tidak ada satupun orang yang tahu standar universal tersebut seperti apa, maka jalan yang paling bijaksana adalah tidak memaksakan satu standar moral tertentu menjadi aturan publik.

    (hlm.65)

    Karena tanpa larangan semacam itu masyarakat tidak akan dapat bertahan hidup; oleh karena itu hukum manusia hanya melarang pembunuhan, pencurian, dan sejenisnya.”46

    (hlm.66)

    Apakah suatu tindakan harus dilarang secara legal/hukum adalah: apakah tinadakan tersebut berpotensi melanggar hak orang lain?

    (hlm.68)

    7.
    Tak Ada Seni Tanpa
    Kebebasan, Tak Ada
    Kebebasan Tanpa Seni

    Oleh: Sarah Skwire

    Great Purge” (“Pembersihan Besar”) oleh Stalin di tahun 1920-an dan 30-an telah memenjarakan tidak kurang dari dua ribu penulis, seniman, dan intelektual.

    (hlm.71)

    “salah satu cara mengukur tingkat kebebasan suatu masyarakat adalah seberapa banyak komedi yang beredar dan diijinkan; dan jelas masyarakat yang sehat lebih banyak mengijinkan komentar-komentar satiris ketimbang masyarakat yang represif,”

    (hlm.74)

    “hasrat terhadap kebebasan adalah kekuatan terbesar bagi kreatifitas; itulah sebabnya mengapa karya seni paling indah dan paling kuat dapat lahir di tempat yang paling opresif.”

    (hlm.75)

    Aku dulu berpikir bahwa kebebasan adalah kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan hati nurani. Tetapi kebebasan adalah keseluruhan hidup setiap orang.

    (hlm.77)

    8.
    Libertarianisme dan Sikap
    Rendah Hati

    Oleh: Aaron Ross Powell

    Implikasi tersebut berasal bukan dari sebuah klaim bahwa libertarian tahu apa yang terbaik bagi orang lain, tetapi justu dari sikap skeptis terhadap pengetahuan sendiri, terutama terhadap kemampuan diri sendiri untuk mengatur-atur hidup orang lain. Kerendahan hati, sikap yang muncul dari skeptisisme, merupakan fondasi bagi kebebasan.

    Sejauh yang saya tahu, saya bisa salah mengenai banyak hal. Apa yang tidak saya tahu jauh melebihi apa yang saya tahu, sehingga kalau dibayangkan, pengetahuan saya tampak seperti rakit di tengah samudera ketidaktahuan yang maha luas.

    (hlm.78)

    Libertarianisme adalah filsafat kerendahan hati, sejenis filosofi yang menerima manusia sebagaimana adanya dan memberikan kebebasan untuk memperbaiki diri semampunya.

    Tetapi jika kita lihat sejarah pemikiran secara utuh, kita akan melihat bahwa tidak ada pengetahuan yang abadi: keyakinan hari ini bisa dibatalkan oleh pengetahuan baru.

    (hlm.79)

    Kita harus selalu skeptis terhadap klaim pengetahuan absolut.

    (hlm.80)

    Perlu upaya yang tidak kecil untuk mengakui bahwa kita bisa saja salah mengenai hal-hal yang kita pikir kita tahu.

    “Seharusnya” mengimplikasikan banyak nilai (values): kenikmatan, harga, daya beli, dan sebagainya. Nutrisi atau kandungan gizi hanya berbicara mengenai satu value saja, yakni kesehatan, namun tidak mempertimbangkan berbagai value yang lain.

    (hlm.81)

    Filsuf besar Yunani Kuni, Aristoteles, percaya bahwa satu-satunya hal tertinggi yang dapat dicapai di dalam hidup ini adalah eudaimonia–biasanya diterjemahkan sebagai “kebahagiaan” atau “kemajuan yang baik”.

    (hlm.84)

    Menjadi seorang birokrat atau politisi tidak otomatis menjadikan kita lebih cerdas dan lebih baik dari kebanyakan orang.

    TPP mengajarkan bahwa para politisi dan pejabat publik menggunakan pengetahuan yang mereka punya untuk membuat keputusan yang paling baik, yang mana “paling baik” diartikan sebagai produk dari pemikiran dan kepentingan-kepentingannya sendiri. Kepentingan ini termasuk, tentu saja, uang dan ketenaran, tetapi lebih sering berupa hasrat untuk mempertahankan kekuasaan.

    (hlm.88)

    “Karena semua manusia (diciptakan) setara dan bebas, maka tidak boleh ada seseorang yang mencederai hak orang lain terkait hidup, kebebasan, dan harta-benda mereka”.

    (hlm.90)

    9.
    Janji Kebebasan di Afrika

    Oleh Olumayowa Okediran

    Realitasnya bagaimana? Orang Afrika justru sudah lama mengenal perdagangan bebas di dalam kerangka pasar bebas, di mana barang dan jasa dipertukarkan pada harga yang disepakati bersama oleh penjual dan pembeli.

    (hlm.91)

    Para petani menjalankan aktivitas ekonomi mereka berdasarkan kehendak sendiri, bukan atas perintah kepala suku.

    (hlm.94)

    Salah satu warisan kolonialisme dan statisme di Afrika adalah buruknya institusi hukum dan kekuasaan neara yang nyaris tanpa batas.

    (hlm.100)

    10.
    Dinamika Kusut
    Intervensionisme Negara:
    Kasus Subsidi Kesehatan

    Oleh: Sloane Frost

    Kita bisa menyebut banyak contoh kasus, misalnya: wajib militer, pajak, undang-undang tindak pidana tanpa korban (victimless crime laws), dan sebagainya.

    Mengontrol harga susu, misalnya, ditujukkan untuk membuat harga susu tetap rendah. Tetapi kebijakan semacam ini akan berakibat pada berkurangnya suplai susu di pasaran, sehingga masyakat justru kesulitan mendapatkan susu, memaksa mereka mencari susu di pasar gelap yang harganya bisa jauh lebih mahal ketimbang jika susu sejak awal dijual pada harga wajar.

    (hlm.101)

    Kata “regulate” di dalam bahasa inggris punya arti “to make regular” (“menjadikan sesuatu reguler/teratur/rapi/tetap”) dan “to subject to a rule” (“tunduk pada peraturan tertentu”).70 Itulah makna sesungguhnya dari kata “regulasi”.

    (hlm.102)

    Tidak akan ada gunanya bagi masyarakat apabila undang-undang dibuat terlalu banyak sehingga tidak diketahui oleh masyarakat, atau terlalu rumit sehingga sulit dipahami: jika undang-undang tersebut dicabut atau direvisi sebelum ia benar-benar diterapkan, tidak akan ada orang yang bisa menebak seperti apa undang-undang tersebut besok.

    (hlm.103)

    Ketertiban hukum adalah syarat untuk menjadikan pasar menjadi “reguler”; bukan intervensionisme negara.

    (hlm.105)

    Mengapa kamu tidak bisa membeli asuransi kesehatan secara online sebagaimana kamu membeli asuransi mobil? Ada jejaring kusut intervensi negara yang membatasi pilihan-pilihan tersebut. Tidak ada yang merencanakan sistem semacam itu; tetapi sistem ini punya logikanya sendiri. Logika ini adalah logika insentif dan krisis yang diciptakan oleh intervensionisme.

    Selama Perang Dunia II, pemerintah AS mengeluarkan kebijakan kontrol harga dan pendapatan yang melerang pembeli kerja untuk menaikkan gaji karyawan. Untuk menarik pegawai baru, pihak pemberi kerja akhirnya menawarkan berbagai benefit non-tunai, salah satunya asuransi kesehatan.   

    (hlm.106)

    Jika mereka ingin pindah kerja, mereka harus menemukan pemberi kerja yang menawarkan benefit asuransi, karena membeli asuransi secara individual sangat sulit.

    (hlm.107)

    Semua komponen tersebut merupakan layanan asuransi yang menarik, tetapi tidak semua orang membutuhkanya.

    Akhirnya pasar asuransi dibatasi secara geografis, sehingga kompetisi di antara perusahaan asuransi menjadi berkurang–sehingga harga asuransi menjadi mahal bagi warga AS.

    (hlm.108)

    Dan karena pemerintah memaksamu untuk bertemu Dokter Keynes meskipun sebetulnya penyakitmu cukup ditangani oleh Suster Sowell, sekarang Dokter Keynes bisa menentukan  tarif yang sangat tinggi karena ia tahu kamu tidak punya pilihan lain.

    (hlm.109)

    Fakta bahwa kamu tidak memiliki asuransi adalah “sinyal” bagi seorang dokter bahwa kamu mungkin pengangguran atau tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga besar kemungkinan kamu tidak akan mampu membayar baaya perawatan.

    (hlm.110)

    Tidak ada insentif bagi para dokter untuk mengetahui tarif jasa mereka ketika pihak asuransi yang membayar semua biaya kesehatan.

    Misalnya, dokter semakin punya alasan untuk melakukan prosedur-prosedur yang tidak diperlukan–dan mungkin berbahaya–dan pasien tidak berada pada posisi yang lebih tinggi untuk menanyakan itu semua.

    (hlm.111)

    Dalam sistem semacam itu, tidak ada insentif bagi kamu untuk menolak setiap porsi ekstra dan tidak ada insentif bagi pemilik restoran untuk memberitahukan harga makanan yang sesungguhnya.

    (hlm.112)

    Karena ada kebijakan intervensi dari pemerintah yang melarang perusahaan asuransi mendiskriminasi pelayanan berdasarkan usia, jender, dan faktor-faktor demografi lain. Ini berarti kita harus terus membayar berbagai layanan kesehatan yang kemungkinan besar tidak akan pernah kita gunakan.

    (Perhatikan bahwa subsidi silang semacam ini tidak terjadi pada kasus asuransi kecelakaan mobil: pemilik mobil berusia tua yang rendah-resiko tidak dipaksa untuk membayar premi lebih untuk tinggi untuk menanggung pengemudi berusia muda yang suka berkendara ugal-ugalan.)

    (hlm.113)

    Undang-undang sertifikasi membuat suplai tenaga kerja kesehatan menjadi sedikit. Para dokter menggunakan tangan negara untuk memaksa masyarakat menggunakan jasa mereka, ketimbang berkompetisi satu sama lain untuk menyediakan layanan kesehatan yang paling baik dan murah.

    (hlm.115)

     11.
    Pengetahuan dan Asumsi
    Kebebasan

    Oleh: Lode Coassaer dan Maarten Wegge

    Bagaimana hal-hal yang hanya diketahui secara terpisah oleh jutaan orang dapat menjadi berguna bagi semua orang?

    (hlm.116)

    Bisakah kamu? Bagaimana jika kamu diminta untuk membuat keputusan untuk jutaan orang, baik yang masih hidup sekarang maupun yang akan lahir di masa depan. Nyaris mustahil, bukan?

    Untuk melakukan itu semua, kamu tidak hanya perlu untuk mencari tahu soal-soal faktual saja, tetapi juga tujuan hidup dari masing-masing orang yang keputusan hidupnya kamu ambil alih. Tujuan macam apa yang ingin mereka ambil? Dan, setelah tujuannya sudah ditetapkan, bagaimana cara untuk mencapai tujuan tersebut? F. A. Hayek menyebut persoalan ini sebagai “the knowledge problem”, yakni “persoalaan tentang bagaimana cara memperoleh penggunaan terbaik dari sumber-sumber daya yang diketahui oleh setiap anggota masyarakat, untuk tujuan-tujuan yang hanya dipahami oleh masing-masing individu di dalam masyarakat.”76

     

      • Pertama, bagaimana suatu masyarakat dapat mengoptimalisasi penggunaan pengetahuan?

      • Kedua, bagaimana kita dapat membangun insentif bagi masing-masing orang agar pengetahuan yang mereka punya dapat tersedia bagi individu yang lain?

      • Ketiga, bagaimana kita dapat memproduksi pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengkoordinasikan keputusan dan tindakan yang diambil orang-orang dan menciptakan kemajuan ekonomi dan sosial?

    Jawaban yang diberikan oleh kelompok liberal (atau liberal klasik atau libertarian) adalah apa yang disebut oleh Adam Smith sebagai “sistem kebebasan alamiah.”77

    (hlm.117)

    Apakah kamu mau orang lain mengatur-atur dan membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupmu? Kemungkinan besar tidak. Masing-masing dari kita biasanya memiliki pengetahuan yang spesifik tentang tujuan-tujuan yang ingin kita capai beserta cara-cara untuk mencapainya.

    (hlm.118)

    Salah satu argumen terkuat untuk liberalisme datang dari pemahaman mengenai the knowledge problem.

    (hlm.119)

    Institusi Pasar: Pertukaran dan Harga

    Hak milik pribadi merupakan titik mula perdagangan; ketika kamu bergadang, kamu saling tukar-menukar hak milik, dan jika kamu tidak berdagang, kamu tetap memiliki apa yang jadi milik kamu. Jadi, pertukarab yang berbasis kesepakatan merupakan peningkatan atas titik mula tersebut.

    (hlm.120)

    Akan tetapi, apabila harga modal tidak bisa kita tentukan saat ini karena hak milik pribadi dan pertukaran bebas dilarang, maka barang-barang di masa depan tidak akan memiliki nilai saat ini atau present value, dan tidak ada insentif bagi orang-orang untuk memelihara barang-barang tersebut; inilah fenomena yang di dalam konteks ekologi disebut sebagai the tragedy of the commons.”79

    Di dalam harga, tersimpan pengetahuan yang penting: ada seseorang di luar sana yang rela membayar suatu komoditas dengan harga tersebut. Harga berfungsi sebagai “wakil” bagi valuasi orang-orang terhadap komoditas atau barang tertentu.

    (hlm.121)

    Kemunculan harga adalah efek samping dari aktivitas pertukaran, dan bersamaan dengan itu harga mentransmisikan informasi secara efektif dan universal dalam bahasa angka yang dipahami oleh semua pembeli dan penjual, baik yang aktual maupun yang potensial. Inilah sebabnya mengapa tidak diperlukan seorang perencana terpusat yang mengumpulkan semua agregat informasi di dalam ekonomi pasar. Setiap orang dalam masyrakat yang berkontribusi di dalam proses jual-beli mempunyai sepotong kecil informasi, tetapi tindakan dan keputusan yang mereka ambil menjadi sinyal yang memandu tindakan individu lain.

    (hlm.122)

    Itulah mengapa baik kompetisi dan kerja sama sosial adalah sebuah proses, bukan kondisi ideal dari ekonomi pasar.

    (Segala bentuk upaya untuk mengamankan hak monopoli, subsidi, dan privilese-privilese lain melalui kekuasaan negara disebut oleh para ekonom dengan istilah “rent-seeking”.80 Studi ekonomi dan politik yang banyak membahas mengenai fenomena ini adalah “teori pilihan publik” atau “public choice theory”.81)

    Profit yang diterima perusahaan bisa menjadi penanda apakah suatu perusahaan berhasil menciptakan nilai bagi masyarakat (konsumen) atau tidak.

    (hlm.125)

    Institusi Politik

    Ketika kita mencoblos surat suara dalam pemilu, kita diminta untuk mengkomunikasikan preferensi kita mengenai begitu banyak hal pada saat yang bersamaan, sehingga sulit bagi seseorang untuk menjelaskan alasan mengapa para pemilih memilih kandidat A dan bukan kadidat B, atau apa yang sebetulnya pemilih inginkan dari seorang kandidat.

    Pemilih juga biasanya memilih kandidat terlihat amanah, cerdas, santun, atau bahkan ganteng.

    Pemilu bukanlah metode yang paling efisien untuk mengetahui preferensi dan keinginan para pemilih (masyarakat).

    (hlm.127)

    Jika hakim menerapkan suatu peraturan kepada sekelompok masyarakat tetapi tidak menerapkannya pada kelompok yang lain, maka peraturan tersebut telah gagal menjadi hukum.

    (hlm.128)

    (Ini bukan berarti peran hakim harus bersifat mekanis; selalu ada ruang untuk kebijaksanaan praktis yang di dalam bahasa latin disebut prudentia dan di dalam bahasa Yunani disebut prhonesis.)

    (hlm.129)

    Kondisi semacam ini bisa disebut sebagai kondisi yang “robust” (“kokoh”).89 Tetapi institusi hukum juga harus dapat beradaptasi dengan berbagai situasi dan kondisi, bukan hanya sekedar menjadi kokoh; hukum harus dapat tumbuh dari kesalahan, sebagaimana pasar bebas di dalam ekonomi (ingat bahwa kompetisi pasar pada dasarnya adalah soal “trial and error”, dan error atau kesalahan merupakan aspek penting bagi kemajuan dan pertumbuhan di dalam pasar bebas). Kondisi ini baru-baru ini diberi nama “antifragile”.90

     (hlm.130)

    Kesimpulan

    Tidak ada satu orang pun yang mampu mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan untuk mengkoordinasika hidup jutaan orang yang memiliki tujuan hidup dan cita-citanya masing-masing. Inilah mengapa kebebasan dan penegakan hukum menjadi penting keduanya mampu melaksanakan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh perencanaan terpusat.

    (hlm132)

    12.
    Asal-usul Negara
    dan Pemerintah

    Oleh: Tom G. Palmer

    Bahkan jika kita menggunakan penafsiran yang paling longgar sekalipun, tidak bisa dipungkiri bahwa Presiden Obama tidak memahami konsep kontribusi marjinal terhadap output, misalnya, nilai tambah yang muncul dari satu jam kerja tambahan. Obama tidak memhami bagaimana kemakmuran diciptakan.

    Negara adalah “suatu komonitas yang (secara sukses) mendapatkan klaim monopoli untuk melakukan kekerasan fisik yang terlegitimisasi di dalam suatu wilayah tertentu”.    

    Pada kenyataannya, tidak mungkin semua kemakmuran yang ada di dunia ini dapat ditelusuri asal-usulnya kepada negara. Secara historis, kemunculan aparatus negara menyaratkan adanya surplus kemakmuran untuk membiayai kehadiran aparatus tersebut. Dengan kata lain, negara tidak akan pernah muncul tanpa adanya kemakmuran yang tercipta sebelum kemunculannya.         

    (hlm.133)

    Negara baru bisa muncul dalam masyarakat agrikultur mapan, di mana masyarakat dapat menghasilkan surplus kemakmuran.   

    (hlm.134)

    “Ketika seorang pemimpin bandit keliling menjadi cukup kuat untuk mengusir bandit-bandit lain dan menguasai suatu wilayah, dia dapat memonopoli daerah tersebut dan menjadi bandit pangkalan”.

    Di dalam bukunya yang berjudul The Art of Not Being Governed, antropologis dan ilmuwan politik James C. Scott dari Universitas Yale mempelajari wilayah-wilayah di dunia yang tidak pernah berhasil ditundukkan oleh kekuasaan negara. Konsep sentral dari penelitian James Scott adalah “friksi kekuasaan”: kekuasaan tidak mudah bergerak ke wilayah tinggi.  

    (hlm.135)

    Mengapa penguasa negara peduli terhadap apa yang di tanam oleh para petani? Alasannya, tulis Scott, adalah karena para penguasa tidak bisa dengan mudah memajaki tanaman-tanaman yang tumbuh di bawah tanah. Para petani memanen umbi-umbian harus dipanen. Sebaliknya, tanaman padi harus dipanen pada jangka waktu tertentu oleh orang banyak, sehingga lebih mudah bagi penguasa untuk memonitor dan memajaki hasil panen dan merekut para pekerja yang handal untuk masuk tentara. Insentif dan motif para penguasa memiliki dampak sistematis terhadap bagaimana wajah dan bentuk kehidupan bermasyarakat.     

    (hlm.136)

    Paspor sebetulnya adalah inovasi baru. Selama ribuan tahun, orang-orang telah bepergian ke mana pun mereka suka tanpa harus mendapatkan ijin dari negara.         

    Ada banyak hukum di dalam masyarakat yang sebetulnya bukan produk negara, karena hukum pada dasarnya adalah efek samping dari interaksi sosial yang terjadi di dalam masyarakat.      

    (hlm.138)

    Negara menjadi bernilai ketika mereka membantu kita mendapatkan hak-hak tersebut, tetapi hak-hak kita berada di atas eksistensi negara. Ingat-ingatlah hal tersebut setiap kali ada orang yang mengatakan “itu bukan hasil upayamu sendirian”.       

    (hlm.140)

    Situs Web (Berbahasa Ingris):

    Libertarianism.org

    StudentsforLiberty.org

    Oll.libertyfund.org

    TheIHS.org

    (hlm141)

    Buku

    Libertarianism: A Primer, oleh David Boaz

    The Libertarian Reader, disunting oleh David Boaz

    (hlm.142)

    The System of Liberty: Themes in the History of Classical Liberalism

    Free Maket Fairness

    (hlm.143)

    Tentang Penyunting

    Dr. Tom. G. Palmer adalah wakil presiden eksekutif program internasional Altas Network.

    (hlm.147)

    Catatan Akhir

    12.  Ilmu ekonomi muncul ratusan tahun yang lalu ketika orang-orang mulai menyadari bahwa negara-negara yang memiliki pasar yang lebih bebas cenderung lebih tertib dan sejahtera dan bahwa perintah raja tidak diperlukan untuk mengkoordinasi penawaran dan permintaan.

    (hlm.150)

    33. “Hanya perlu sedikit hal untuk mengangkat derajat suatu negara ke tingkat tertinggi kemakmuran dari barbarisme yang paling rendah, yakni perdamaian, pajak yang rendah, dan lembaga peradilan yang berfungsi dengan baik; sisanya akan terjadi secara alamiah.”

    KEBEBASAN DAN POLITIK

    PERUBAHAN IKLIM

    VẤCLAV KLAUS

    FREEDOM INSTITUTE

    FRIEDRICH NAUMANN FOUNDATION

    (hlm.x)

    Seperti banyak para pemikir Eropa lain, Schumpeter agak pesimis dan menjelaskan dengan sangat meyakinkan mengapa kapitalisme pada akhirnya akan gagal. Dalam pandangannya, keberhasilan kapitalisme akan menciptakan kelas intelektual yang besar dan semakin berkuasa; kelompok inilah yang–didorong oleh kecemburuan terhadap kekayaan kaum penguasa dan hasrat untuk meraih kekuasaan–akan menghancurkan dasar-dasar moral liberalisme ekonomi, dan mendorong tumbuhnya kelompok Mandarin (birokrat dan kelompok elit) modern yang luar biasa besar.

    (hlm.xi)

    Kerangka yang ditawarkan Schumpeter menjelaskan dengan baik melemahnya dukungan bagi kebebasan di Eropa dan Amerika Serikat.

    (hlm.xiii)

    KATA PENGANTAR

    POLTAK HOTRADERO

    Dua dokumen utama yang dikritik oleh Klaus dalam buku ini–yaitu Stern Review Pemerintah Inggris dan An Inconvenient Truth yang disusun oleh Al Gore peraih Nobel Perdamaian 2007–memunculkan risiko terhambatnya dialog dalam mengenai masalah lingkungan, digantikan oleh keputusan sentralistik populis yang mengabaikan konsekuensi ekonomi.

    (hlm.xv)

    Berbagai proyek Sel Surya skala raksasa yang digelar pemerintahan Obama dengan subsidi dan jaminan pemerintahan ternyata berakhir dengan kebangkrutan. Ironisnya, kebangkrutan Solar Trust of America–salah satu proyek terbesar dengan kapasitas 484 Megawatt, adalah karena Sel Suya buatan Cina mengalami penurunan harga drastis sehingga membuat proyek tersebut tidak lagi ekonomis.

    Langkah subsidi dan penjamin pemerintah Amerika ini berkebalikan dengan peralihan penggunaan Gas Alam oleh pihak swasta Amerika, yang mengandalkan teknologi baru, sumber baru, cara pendanaan baru, dan mekanisme pasar. Kombinasi pendekatan tersebut berhasil membuat harga gas alam turun dalam waktu singkat namun dibarengi peningkatan ketersediaan hingga bahkan berpotensi menggantikan batu bara. Pendekatan sentralistik dan pendekatan pasar menghadapi masalah energi dengan cara dan hasil yang sangat berbeda.

    (hlm.xxii)

    PENDAHULUAN

    Saya sependapat dengan Michael Crichton (2003, 1) bahwa “tantangan terbesar umat manusia adalah membedakan kenyataan dari fantasi, kebenaran dari propaganda. Mengetahui kebenaran selalu merupakan tantangan bagi umat manusia, tapi dalam era informasi ini (atau yang menurut saya era disinformasi), hal itu menjadi semakin mendesak dan penting.” Buku saya yang pendek ini berupaya memberi sumbangan kepada perdebatan itu.

    (hlm.xxiv)

    Masalah pemanasan global lebih merupakan ilmu-ilmu sosial ketimbang ilmu tentang iklim, lebih tentang umat manusia dan kebebasannya dari pada tentang peningkatan suhu rata-rata global sebesar sepersekian puluh derajat Fahrenheit.

    (hlm.4)

    BAB 1

    DEFINISI PERMASALAHAN

    Banyak dari mekanisme itu–seperti aktivitas Matahari–benar-benar di luar kekuasaan kita.

    (hlm.5)

    Akan tetapi hutan-hutan itu digantikan oleh bentang darat yang baru, yang berbeda, yang, sejujurnya, lebih dari memadai–dan bukan hanya dari sisi estetika.

    Ideologi itu memandang penyebab mendasar dari masalah-masalah dunia sebagai ekspansi homo sapiens.

     Meskipun istilah “anthropocentrism” – sistem etika dengan manusia sebagai intinya–yang digunakan untuk sudut pandang yang bertolak belakang, barangkali kurang sesuai dan cocok, istilah itu merupakan bagian tak terelakkan dari cara berpikir saya. Sebenernya, saya percaya bahwa anthropocentrism bukan saja merupakan sudut pandang saya melainkan juga sudut pandang seluruh umat manusia.

    (hlm.7)

    Sikap para pencinta lingkungan terhadap alam sama dengan pendekatan Marxis terhadap ilmu ekonomi. Keduanya bertujuan mengganti evolusi bumi (dan umat manusia) yang bebas dan spontan dengan pembangunan dunia yang optimal, terpusat atau–memakai istilah yang populer dewasa ini–terencana secara global. Seperti halnya dalam kasus komunisme, pendekatan ini bersifat utopis dan hanya akan membuahkan hasil yang benar-benar berbeda dari yang direncanakan. Seperti pandangan utopis lain, pandangan ini tidak akan pernah bisa diwujudkan, dan upaya untuk mewujudkannya hanya bisa dilakukan dengan cara membatasi kebebasan, melalui dominasi sekelompok kecil kaum elit terhadap kelompok mayoritas yang jauh lebih besar.

    (hlm.8)   

    Sebagian dari bencana bencana hipotesis ini segera dilupakan karena semua ancaman bencana itu ditangani secara alamiah, efektif dan spontan oleh perilaku manusia.

    (hlm.10)

    “Siapa yang bertanggung jawab atas lenyapnya gletser dari pegunungan Ceko? Apakah orang-orang Urnfield?” (Kȓǐẑ 2005, 32-33).2

    (hlm.20)

    Untuk semua alasan yang telah disebut di atas, saya menganggap mazhab lingkungan sebagai ideologi populis yang paling tidak liberal yang paling menonjol saat ini, dan ini menuntut perhatian para penganut liberal klasik.

    (hlm.21)

    Ilmu ekonomi tidak mengukur suhu, karbondioksida, radiasi matahari, cadangan minyak bawah laut, dan ribuan hal-hal lain seperti itu, melainkan berhubungan dengan perilaku manusia.

    (hlm.24)

    BAB 2

    SUMBER DAYA, KETERBATASANNYA,
    DAN PERAN HARGA YANG
    TAK TERGANTIKAN

    Kelompok Roma sendiri akhirnya mengumumkan kepada publik bahwa kesimpulan buku itu tidak tepat, namun “mereka (Kelompok Roma) dengan sengaja menyesatkan publik untuk ‘membangkitkan’ keprihatinan publik” (Simon 1996, 49).

    (hlm.25)

    Dalam lebih dari 600 halaman (termasuk sebuah daftar panjang referensi tentang tulisan lain), Profesor Simon secara meyakinkan menunjukkan bahwa ada perbedaan besar antara sumber daya alam dan sumber daya “ekonomi”. Sumber daya alam terdapat di alam, dan oleh sebab itu, sepenuhnya bebas dari manusia. Sifat dasar yang membedakan sumber daya alam adalah bahwa mereka hanya “potensi” sumber daya, dan dengan demikian tidak memiliki hubungan langsung dengan perekonomian yang ada (sebagai contoh, bagi para firaun Mesir, minyak bukanlah sumber daya yang dapat digunakan). Potensi sumber daya mungkin saja tidak digunakan, tergantung pada harga dan teknologi yang ada.

    Sebaliknya, sumber daya “ekonomi” adalah sumber daya yang digunakan oleh umat manusia. Peter H. Aranson (1998) bertanya kapan gelombang laut menjadi sumber daya ekonomi dan menjawab bahwa hal itu akan terjadi persis pada saat “ditemukan teknologi yang dapat memanfaatkannya”. Kesimpulannya dalam sebuah paparan lisan sangat tegas: “cadangan sumber daya meningkat bersamaan dengan pasokan pengetahuan kita”. Itu bukan sebuah variable statis.

    Teori “potensi sumber daya” Simon berubah menjadi sumber daya ekonomi hanya melalui “sumber daya utama”-nya (yang menjadi judul bukunya), yang tak lain adalah manusia, penemuan-penemuannya, dan usaha-usahanya. Hanya “sumber daya manusia” dan kemampuannya yang unik untuk mengubah potensi sumber daya menjadi sumber daya nyata, yang dalam jangka panjang dapat menjadi langka, dan kemungkinan dapat membatasi masa depan umat manusia. Sumber daya manusia harus memiliki kebebasan untuk bertindak dengan bebas. Mereka juga harus bebas dari para pencinta lingkungan. Adalah kenyataan bahwa sumber daya manusia tidak membutuhkan apapun selain kebebasan.

    (hlm.26)

    Kenyataan bahwa tidak terjadi penyusutan sumber daya didokumentasikan dengan sangat baik dalam buku Julian Simon yang lain, The State of Humanity (Kondisi Umat Manusia, Simon 1995). Dalambuku itu, Simon secara khusus menekankan sifat tetap konsep sumber daya seperti yang dipahami oleh para penerima lingkungan. dalam kenyataan, sebuah sumber daya selalu merupakan fungsi harga dan teknologi. Senada dengan Simon, salah seorang pengikutnya yang paling terkemuka, Indur M. Goklany, menulis sebuah  buku yang cukup panjang, The Improving State of the World (Kondisi Dunia yang Membaik, Goklany 2007), yang sarat dengan data mengenai persoalan itu. Goklany mulai dengan menunjukkan bahwa penurunan harga sumber daya membuktikan kelangkaan sumber daya tidak meningkat, dan sumber daya pun menyusut.

    Paham bencana yang disengaja dalam pemikiran para pecinta lingkungan merupakan sebuah gejala. Paul Ehrlich, yang terkenal karena bukunya The Population Bomb (Ledakan Penduduk) dan How to Be a Survivor (Kiat untuk Bertahan Hidup), pada tahun 1970 menulis : “Jika saya seorang penjudi, saya akan bertaruh bahwa kemungkinan Inggris tidak akan ada lagi di tahun 2000” (seperti dikutip dalam Simon 1996,35). Pertanyaan ini tidak masuk akal, namun Ehrlich, bahkan pada saat ini, bukanlah orang yang tidak penting. Ia adalah guru besar emeritus di Stanford Universirty dan telah menerbitkan lusinan buku. Profesor Simon percaya pada kata-katanya dan pad tahun 1980 mereka membuat taruhan, meski bukan tentang Inggris. Sebaliknya, pertanyaannya adalah apakah sumber daya alam akan bertambah langka atau tidak begitu langka atau tidak begitu langka dalam 10 tahun ke depan (lebih tepatnya, apakah harganya akan naik atau turun). Mereka menyepakati lima jenis mineral-khrom, tembaga, nikel, timah, dan tungsten–dan mereka menetapkan periode selama satu dekade. Ehrlich memperkirakan harga logam itu akan naik, sedangkan Simon mengantisipasi kejatuhan harganya. Kemenangan Simon tak dapat di sangkal lagi. Bukan hanya jumlah tertimbang harga kelima logam ini turun, harga satuannya juga turun.

    (hlm.27)

    Mungkin minyak akan habis suatu saat nanti, namun kapan pun saat itu tiba, kejadian itu hanya akan menjadi catatan kaki bagi sejarah, seperti halnya minyak dari lemak ikan paus.

    (hlm.28)

    Salah satu ciri agama adalah keyakinan Anda tidak terganggu oleh kenyataan..

    Model-model lingkungan Kelompok Roma yang berasal dari awal 1970an didasarkan pada tipe pemikiran seperti ini lihat.

    (hlm.29)

    Tidak ada sumber daya yang terlepas dari manusia, dan tidak ada “kebutuhan” akan sumber daya yang tidak berkaitan dengan harga. Ada harga untuk setiap sumber daya, kecuali sistem sosial mengabaikan harga, seperti yang di cari dan telah dicapai sebagian oleh komunisme.

    (hlm.30)

    Mereka tidak tahu bahwa harga mencerminkan kelangkaan nyata (bukan fiktif) berbagai jenis aset (barang-barang dan sumber daya) –barang-barang yang benar-benar langka–lebih baik dari apapun (dan yang terpenting, lebih baik dari spekulasi mereka). Tanpa kelangkaan, tidak ada harga. Mereka juga mungkin tidak mengetahui bahwa ketika sumber daya menjadi semakin langka (“menyusut”, menurut istilah mereka), harga meningkat sampai ke titik di mana permintaan menurun hingga setara dengan nol. Oleh sebab itu, sumber daya–dalam  pengertian ekonomi–secara paradoks tidak mungkin habis. Oleh karena itu, harga mewakili parameter kunci, dan sistem harga yang berjalan dengan baik merupakan prasyarat penting bagi perkembangan umat manusia (dan alam) yang sehat tanpa penyimpangan.

    (hlm.33)

    BAB 3

    PENGARUH KEKAYAAN
    DAN KEMAJUAN TEKNOLOGI

    Jika kita melihat ke masa depan dan masalah apapun yang mungkin muncul (termasuk masalah lingkungan) melalui kacamata seorang ekonom, kita harus menyinggung efek pendapatan, atau kekayaan, di satu sisi, dan pengaruh kemajuan teknologi di sisi lain. Kita juga harus mempertimbangkan kemampuan mausia yang luar biasa umtuk menyesuaikan diri dengan kejadian-kejadian dan keadaan-keadaan baru dan tak terduga.

    (hlm.34)

    Dalam “Cost and Benefits of Greenhouse Gas Reduction” (Biaya dan Manfaat Pengurangan Gas Rumah Kaca), ekonom pemenang hadial Nobel Thomas C. Schelling (1996) merenungkan bagaimana dunia akan terlihat 75 tahun mendatang. Untuk mendapatkan gagasan mengenai apa yang akan terjadi di masa depan, ia berpikir untuk menoleh ke 75 tahun ke belakang, ke tahun 1920. Yang cukup menarik, ia berkata bahwa pada tahun 1920–ketika jalan beraspal belum merupakan hal biasa di Amerika Serikat–lumpur merupakan masalah iklim terbesar. Lumpur murni. Schelling menambahkan, “Mungkin pada tahun 1920 tidak terpikir oleh kita bahwa pada tahun 1995, hampir seluruh jalan negara telah diaspal.”

    1. Para ekonom menganggap peningkatan pendapatan dan peningkatan kekayaan yang mengikutinya sebagai faktor penting dari apa yang dikenal sebagai fungsi konsumsi, terutama untuk jangka panjang. Lihat, misalnya, teori Friedman (1957) tentang pendapatan tetap.

    (hlm.36)

    Salah satu kajian yang terkenal dan sering dikutip adalah “Costs and Benefits of Alternative CO2 Reduction“ (Biaya dan Manfaat Penurunan CO2 Alternatif) karya Alan S. Manne (1996), yang membuktikan bahwa tidak ada yang benar-benar berbeda yang akan terjadi jika kita mengabaikan perubahan iklim.

    (hlm.37)

    Bagaimanapun, di masa yang akan datang, masyarakat jelas akan jauh lebih kaya dari saat ini. Selain itu, banyak permasalahan yang kita kenal sekarang kemungkinan besar tidak akan ada lagi.

    Jika menyimpulkan–berdasarkan kalkulasi yang masuk akal namun benar-benar statis–bahwa ada risiko bahwa lebih kurang setiap 30 tahun arus pendek di pesawat televisi kita menyebabkan kebakaran di apartemen kita, bagaimana seharusnya hal itu mempengaruhi perilaku kita saat ini berkaitan dengan masa depan? Haruskah kita membuang pesawat televisi “berbahaya” itu, atau sama sekali mengabaikan risiko itu? Satu jalan keluar yang mungkin adalah dengan mengenali keengganan kita menghadapi risiko, dan menghitung  kemungkinan risiko yang dapat terjadi (berdasarkan perhitungan tentang kemungkinan yang telah disebut sebelumnya). Kita juga harus menyadari bahwa hampir tidak mungkin menganggap bahwa pesawat televisi seperti yang kita kenal saat ini akan bertahan selama 30 tahun.

    “Tanyakan kepada pasangan petani berusia 75 tahun yang tinggal di tanah pertanian yang sama dengan tanah pertanian tempat mereka dilahirkan: apakah perubahan paling dramatis baik dalam pertanian maupun dalam gaya hidup mereka? Kemungkinan besar jawabannya adalah tidak. Perubahan dari kuda ke traktor dan dari minyak tanah ke listrik jauh lebih penting.”

    (hlm.38)

    Sampai batas 2oC, model simulasi yang disajikan menunjukkan bahwa biaya yang diperkirakan dari perubahan iklim adalah nol atau negatif. Ini dapat dengan jujur digambarkan sebagai konsensus dalam kepustakaan ilmu ekonomi.

    (hlm.39)

    Kita bisa saja melanjutkan perdebatan mengikuti alur ini karena jumlah faktor yang mempengaruhi kenyataan di sekitar kita nyaris tak terhingga. Schelling (2002a, 2) menguraikannya dengan sangat jelas: negara-negara berkembang tidak boleh berkorban, karena “pertahanan terbaik mereka dalam menghadapi perubahan iklim adalah perkembangan berkelanjutan mereka sendiri.”

    (hlm.40)

    Kuznets membuktikan bahwa ada hubungan yang relatif kuat antara jumlah penghasilan dan ketidakseimbangan penghasilan. Grafik berbentuk huruf U terbalik menunjukkan bahwa ketika pendapatan rendah umum meningkat, ketidakseimbangan juga meningkat. Namun, setelah mencapai titik kritis tertentu, ketidakseimbangan penghasilan mulai menurun.

    (hlm.41)

    Di tahun 1991, Gene M. Grossman dan Alan B. Krueger memperhatikan ada hubungan berbentuk U terbalik antara kualitas lingkungan dan tingkat penghasilan, yaitu kekayaan. Setelah menganalisasi data dari 42 negara, mereka menghitung bahwa titik kritis terjadi ketika PDB tahunan mencapai antara 6.700 dolar dan 8.400 dolar per kapita. Kurva hipotesis itu kurang lebih ditunjukkan dalam bagan 3.2.

    Penerapan hal ini pada perekonomian nyata menghasilkan sebuah kesimpulan yang luar biasa: pertumbuhan ekonomi–peningkatan kekayaan–pada akhirnya sangat bermanfaat bagi lingkungan.

    Sejak esai Grossman dan Krueger (1991) diterbitkan, berbagai perkiraan empiris yang luar biasa besar sejumlahnya mengenai bentuk kurva ini-berdasarkan data yang semakin baru–muncul.

    (hlm.43)

    Gagasan Goklany tidak buruk-orang akan dapat menguji hubungan ini–namun sebuah perbedaan di antara kedua kurva ini jelas: pengaruh kemajuan teknologi dan kemampuan manusia beradaptasi, yang jika tidak, tidak diukur secara langsung. Namun, Goklany (2007, 106) menganggap bahwa “kurva Kuznets tidak menggambarkan keseluruhan fakta” karena kurva itu memusatkan perhatian pada pengaruh pendapatan (kekayaan).

    (hlm.44)

    Kesimpulannya jelas: bukannya menyebabkan masalah lingkungan, kekayaan dan kemajuan teknologi adalah menyelesaikannya. Kemampuan manusia beradaptasi menawarkan harapan.

    (hlm.46)

    BAB 4

    DISKONTO DAN PILIHAN WAKTU

    “Hipotesa tentang stabilitas pilihan manusia.” Hanya hipotesa inilah yang memungkinkan “perbandingan pilihan antarwaktu,” atau dalam bahasa sederhana, “perbandingan antargenerasi” (Tȓίka 2007, 103).

    Seorang ekonom tahu bahwa 1 juta dolar saat ini dan 1 juta dolar 100 tahun mendatang adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

    (hlm.48)

    Dalam artikelnya yang sangat penting dan terkenal, “The Use of Knowledge in Society” (Manfaat Ilmu Pengetahuan di Masyarakat), Friedrich Hayek (1945) menunjukkan dengan meyakinkan bahwa perbandingan tentang manfaat antarpribadi tidak dapat dibuat, dan bahwa informasi yang relevan hanya bisa didapatkan dari nilai yang muncul di pasar, saat terjadi pertukaran barang dan jasa yang nyata.

    Saya telah menulis tentang hal ini pada tahun 1986. Poin ke-12 di “ke-20 hukum yang wajib ditaati oleh seorang ekonom” yang saya buat, saya mengatakan bahwa subyek ekonomi membandingkan masa lalu, masa kini,  dan masa depan.

    (hlm.49)

    Apa yang kebanyakan dimengerti orang dengan sangat baik adalah proses sebaliknya, yang dikenal sebagai “bunga berbunga” (compound interest) karena mereka mengalaminya sendiri dalam kehidupan mereka.

    (hlm.53)

    Laporan Stern pada dasarnya “tingkat diskonto sosial” mendekati nol.

    (hlm.54)

    Ketika hasilnya sama dengan nol, kita melihat generasi masa depan dengan cara yang sama dengan kita melihat generasi masa kini, hal yang benar-benar menggelikan.

    Karena pengetahuan kita tetang peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang semakin tidak pasti seiring degan meluasnya cakrawala waktu, tingkat diskonto harus dinaikkan dan bukannya diturunkan seiring dengan waktu.

    (hlm.58)

    BAB 5

    ANALISA BIAYA-MANFAAT
    ATAU ABSOLUTISME PRINSIP
    PENCEGAHAN?

    Intinya adalah, sesuai dengan Protokol Kyoto, kita harus menurunkan pemakaian energi sebanyak sepertiga, yang pada 2050 akan membuat suhu turun hanya sebesar 0,05oC.

    Ekonom pada umumnya tidak menyadari bahwa “prinsip” ini benar-benar ada karena hal itu tidak disebut dalam buku teks standar mereka.

    Maka, mereka menentang intervensi serampangan dalam bentuk peraturan apa pun yang menjanjikan efek nol (zero effect). Mereka membahas manfaat dan biaya berbagai alternatif dan, di atas segalanya, berpikir dalam kerangka apa yang disebut sebagai opportunity costs (efek kegiatan alternatif yang “hilang” akibat intervensi perundang-undangan). Saya dulu selalu mengatakan pada mahasiswa saya bahwa memahami konsep opportunity costs merupakan salah satu persyaratan–dan tidak ada terlalu banyak persyaratan–untuk memperoleh ijazah perguruan tinggi.

     (hlm.59)

    Para ekonom juga menegaskan bahwa semua biaya itu ditimbulkan tidak hanya oleh tindakan tetapi tetapi juga oleh ketiadaan tindakan.

    (hlm.60)

    Seandainya pembangkit listrik angin itu dibangun berdampingan, akan terbentuk barisan pembangkit listrik yang membentang dari Temelin hingga Brussels.

    (hlm.61)

    Akan tetapi, para insinyur energi serta ekonom dan orang awam tahu bahwa tenaga surya dan angin, karena berbagai alasan, luar biasa mahal. Salah satu penyebabnya adalah lahan yang dibutuhkan untuk pembangkit tenaga seperti ini sama sekali tidak tak terbatas. Lahan itu langka, dan yang pasti tidak tersedia secara cuma-cuma.

    Heberling (2006) menunjukkan bahwa untuk pembangkit tenaga angin yang menghasilkan 5 persen dari total tenaga listrik yang dihasilkan di Amerika Serikat, seperti yang dituntut para pecinta lingkungan, dibutuhkan tambahan 132.000 turbin angin.

    (hlm.62)

    Sektor biofuel akan membutuhkan tambahan lahan seluas 500 juta hektar.

    Satu juta hektar mewakili seperempat lahan kita yang bisa ditanami, atau sepertujuh wilayah Republik Ceko.

    (hlm.63)

    Dalam kehidupan nyata, selalu ada trade-off –bahkan menyangkut sikap hati-hati. Trade-off  semacam itu cenderung mahal. Mengatakan sebaliknya sama dengan populisme yang tidak bertanggung jawab.

    Oleh karena itu, larangan terhadap pestisida akan menyelamatkan nyawa 20 orang setiap tahun. Kenaikan harga buah-buahan dan sayuran (yang ditanam tanpa pestisida) akibat larangan itu akan menurunkan konsumsi buah-buahan dan sayuran paling tidak 10 sampai 15 persen. Sebagai akibatnya, kasus kematian yang disebabkan kanker diperkirakan akan meningkat 26.000 per tahun Perbandingan antara 20 dan 26.000 cukup jelas. Di mana letak prinsip pencegahan dininya?

    (hlm.66)

    BAB 6

    APA YANG SEBENARNYA TERJADI
    DENGAN PEMANASAN GLOBAL?

    Bagi orang awam, ini sama dengan kenaikan suhu rata-rata sebesar 0,028oC setiap dekade dan 0,28oC per seratus tahun.

    (hlm.67)

    Berbeda atas awal and akhir sebuah seri waktu akan memberikan hasil berbeda.

    Para pakar meteorologi menggunakan standar rata-rata pergerakan 11 tahun karena kalkulasi itu bertepatan dengan periode kegiatan matahari.

    (hlm.76)

    Dalam pandangan saya, apa yang tidak terlalu berarti (dalam konteks pembahasan ini), adalah interprestasi Singer dan Avery tentang penyebab siklus ini, yang menurut mereka tidak endogen, tetapi eksogen dan berkaitan dan berkaitan dengan perilaku Matahari, yang–dan ini diketahui dan diterima secara luas–tidak berlangsung terus menerus.

    (hlm.77)

    Perdebatan tentang naiknya permukaan air laut juga sama. Singer (2006, 1) menunjukkan bahwa sejak zaman es yang terakhir, 18.000 tahun yang lalu, permukaan air laut naik 120 meter!

    Alih-alih menyusut akibat pemanasan global, es menghilang akibat menurunnya uap air di atmosfer.

    (hlm.81)

    Kejahatan terburuk yang mengamcam Bumi adalah ketidaktahuan dan penindasan, bukan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Industri, yang semua instrumennya, jika dikelola secara benar, merupakan alat yang mutlak diperlakukan bagi sebuah masa depan yang dibentuk atas dasar Kemanusiaan, oleh dan untuk dirinya sendiri, mengatasi masalah-masalah utama, seperti kepadatan penduduk, kelaparan, dan penyakit yang mewabah di seluruh dunia.

    (hlm..87)

    Apakah pemanasan global yang pada akhirnya  akan terjadi merugikan atau menguntungkan semua orang, sebagian besar orang, atau sekelompok minoritas?

    (hlm.89)

    BAB 7

    APA YANG HARUS DILAKUKAN

    JAWABAN pertama, bahkan sebenarnya satu-satunya jawaban terhadap pertanyaan di judul bab ini adalah “tidak ada”, atau “tidak ada yang khusus”. Penting untuk membiarkan spontanitas kegiatan manusia–yang tidak di kekang oleh para pendukung kebenaran mutlak–mengalir dengan sendirinya, sebab, bila tidak, semua hal akan memburuk. Keseluruhan hasil tindakan mandiri berjuta-juta manusia yang rasional dan tepelajar–tanpa diorganisir oleh seorang jenius atau diktator–jelas lebih baik dari pada upaya yang disengaja untuk merancang perkembangan masyarakat.

    (hlm.91)

    Satu-satunya cara untuk membangun sistem itu dengan baik, tanpa kesalahan tragis, adalah melalui “tindakan manusia”  yang benar-benar bebas (judul buku Mises yang paling penting) –yaitu melalui penyatuan seluruh perilaku jutaan atau milyaran individu.

    “lingkungan terbaik untuk manusia adalah lingkungan yang bebas” (Dennis 2000).

    (hlm.97)

    “Seandainya setiap bangsa di Bumi berbuat sesuai dengan Protokol Kyoto tentang pemanasan global, hal itu hanya akan mengurangi pemanasan sebanyak tak lebih dari 0,126 derajat F dalam setiap 50 tahun.”

    Untungnya, kecepatan pemanasan tetap sama, pada 0,324 derajat F per dekade, sejak pemanasan dimulai pada sekitar 1975.

    “Kebijakan terbaik adalah untuk menerima perubahan iklim yang masuk akal dan mendorong pembangunan ekonomi, yang akan menghasilkan modal yang diperlukan untuk menanam investasi di teknologi yang lebih efisien di masa mendatang.” Dengan perkataan lain: ya” untuk perlindungan lingkungan, “tidak” untuk mazhab lingkungan.

    (hlm.104)

    EPILOG

    KESEMPATAN ATAU TANTANGAN?
    TIGA PANDANGAN LIBERAL TENTANG CARA
    MENGHADAPI POLITIK PERUBAHAN IKLIM

    RAINER ERKENS

    1. Liberal Arus Utama

    Liberal Arus Utama (yaitu sekelompok Liberal yag memiliki pandanga sama dengan kelompok arus utama tentang perdebatan Perubahan Iklim) menganggap penelitian ilmiah telah menunjukkan secara meyakinkan bahwa Perubahan Iklim menyebabkan pemanasan global.

    2. Liberal Skeptis

    Tapi, orang-orang di kelompok ini tidak yakin bahwa kita memiliki bukti cukup untuk menganggap Perubahan Iklim sebagai fakta yang tak diragukan lagi.

    Liberal Skepti menunjuk ke kenyataan bahwa sepanjang sejarah, umat manusia telah menunjukkan kemampuan luar biasa untuk mengembangkan teknologi baru atau memanfaatkan teknologi yang ada dengan cara baru setiap kali kondisi lingkungan yang berubah menuntut mereka melakukan hal itu.

    (hlm.112)

    3. Liberal Radikal

    Dari sudut pandang ini Perubahan Iklim bukan ancaman bagi lingkungan melainkan terhadap kebebasan individu.

    Menurut kaum Liberal Radikal, seandainya ada kebenaran dalam teori Perubahan Iklim, bisa dipastikan pasar akan mencerminkan hal itu.

    (hlm.114)

    Meskipun di sebagian besar dunia mungkin tidak ada banyak pengikut Liberal Radikal, yang kebanyakan ditemukan di lembaga-lembaga pemikir dan organisasi sipil atau rakyat biasa, mereka merupakan faktor penting dan berpengaruh dalam perdebatan publik di Amerika Serikat dan kemungkinan merupakan salah satu sebab mengapa AS tidak menandatangani Protokol Kyoto untuk penurunan emisi CO2 sejak 1997.

    (hlm.122)

    LAMPIRAN A

    JAWABAN TERHADAP PERTANYAAN KOMISI
    ENERGI DAN PERDAGANGAN DPR AS TENTANG
    SUMBANGAN MANUSIA TERHADAP PEMANASA
    GLOBAL DAN PERUBAHAN IKLIM 

    Komunisme digantikan oleh ancaman mazhab lingkungan yang ambisius. Ideologi ini berkhotbah tentang Bumi dan alam, dan di bawah slogan perlindungan terhadap Bumi dan alam–serupa dengan kaum Marxis dulu-ingin mengganti evolusi bebas dan spontan manusia melalui semacam perencanaan terpusat untuk seluruh dunia.

    (hlm.123)

    Mereka tidak percaya pada ekspansi ekonomi masa depan masyarakat, dan mereka mengabaikan fakta yang telah terbukti bahwa semakin  kaya sebuah masyarakat, semakin tinggi kualitas lingkungannya.

    Jawaban saya terhadap pertanyaan Anda yang pertama (yaitu, apa yang harus dipertimbangkan oleh para pembuat kebijakan dalam menangani masalah perubahan iklim) ialah bahwa para pembuat kebijakan harus, dalam situasi apa pun, berpegang teguh pada prinsip (sebuah) masyrakat bebas yang didasarkan atas [dan] bahwa mereka tidak boleh memindahkan hak untuk memilih dan menentukan dari masyarakat ke kelompok-kelompok advokasi yang mengklaim bahwa mereka lebih tahu dari orang lain apa yang baik bagi mereka. Para pembuat kebijakan harus melindungi uang pembayar pajak dan tidak boleh menyia-nyiakan untuk proyek-proyek yang diragukan [yang] tidak bisa membawa hasil positif.

    (hlm.124)

    Politik yang bertanggung jawab harus mempertimbangkan biaya alternatif (opportunity costs) dari usulan-usulan semacam itu dan mewaspadai kenyataan bahwa kebijakan-kebiajakan lingkungan yang tak berguna diambil dengan mengorbankan kebijakan lain, dan dengan demikian mengabaikan kebutuhan penting jutaan orang lain di seluruh dunia. Setiap langkah kebijakan harus didasarkan atas analisa untung-rugi.

    (hlm.125)

    Umat manusia telah mengalami akumulasi pengalaman tragis dengan sebuah aliran intelektual yang sangat angkuh yang mengklaim bahwa mereka tahu cara mengelola masyarakat lebih baik dibandingkan dari kekuatan-kekuatan pasar yang spontan. Itu adalah komunisme, dan komunisme telah gagal, menyisakan jutaan korban.

    (hlm.129)

    LAMPIRAN B

    REAKSI AKTIVIS LINGKUNGAN
    YANG TIDAK MASUK AKAL

    Buku itu menawarkan kesimpulan bahwa masalah-masalah yang berhubungan dengan lingkungan dapat diselesaikan dalam sebuah masyarakat yang kaya dan maju hanya melalui kekayaan dan teknologi dan bukan melalui skenario malapetaka yang menuntut pelambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan evolusi alamiah masyarakat manusia.

    (hlm.130)

    Aktivis ekologi yang terkenal, Paul Ehrlich, yang menulis The Population Bomb (Ledakan Penduduk, 1968) – buku yang dewasa ini dianggap benar-benar tidak masuk akal, dan saya harap semua orang menganggapnya demikian–bahkan melakukan hal yang ekstrim dengan menyerang Cambridge University Press karena tidak menerapkan prosedur penilaian standar, tuduhan yang terbukti tidak benar dan dibantah dengan tegas dam gamblang.

    (hlm.133)

    LAMPIRAN C

    HARUSKAH KITA MENGGANTI
    PEMBANGKITAN TENAGA NUKLIR TEMELIN
    DENGAN PEMBANGKIT TENAGA ANGIN?

    Entry Data yang Digunakan

    Produksi netto maksimum PTNT          
    (yaitu dengan mengabaikan konsumsi listriknya)                                                             1.900 MW

    (hlm.134)

    Asumsi Entry untuk Kalkulasi

    4. Lahan minimum yang dibutuhkan untuk membangun sebuah PTA adalah 2 hektar.

    Produksi PTNT                                                                                                             95 km2

    (hlm.135)

    Panjang garis yang dibentuk oleh PTA yang dibangun berdampingan yang produksi rillnya = produksi PTNT                                                                                                                                665 km

    Berdasarkan asumsi yang konservatif (yang menguntungkan PTA), produksi pembangkit tenaga nuklir Temelin bisa digantikan oleh 4.750 pembangkit tenaga angin, yang pembangunannya membutuhkan 8,6 juta ton material. Kalau PTA ini dibangun berderet, mereka akan membuat garis sepanjang 665 kilometer dengan tinggi 150 meter. Ini kurang lebih sama dengan jarak antara Temelin, yang terletak di bagian selatan Republik Ceko, dan Brussels di Belgia!

    (hlm.137)

    LAMPIRAN D

    PIDATO DI KONFERENSI
    PERUBAHAN IKLIM PBB,
    NEW YORK, 24 SEPTEMBER 2007

    Akan tetapi, politisi harus memastikan bahwa biaya kebijakan publik yang mereka siapkan tidak akan lebih besar dari manfaatnya.

    (hlm.140)

    1. PBB harus membentuk dua IPCC [Intergovernmental Panels on Climate Change] yang paralel dan menerbitkan dua laporan yang berbeda. Menyingkirkan monopoli sepihak merupakan syarat penting bagi sebuah perdebatan yang efisien dan rasional.

    (lm.142)

    DAFTAR PUSTAKA

    Crichton, Michael. 2003. “Environmentalism as Religion”

    Erhlich, Paul R. 1968. The Population Bomb.

    Friedman, Milton. 1957. A Theory of the Consumption Funnction.

    (hlm.143)

    Hayek, Friedrich A. 1945. “The Use of Knowledge in Society.

    (hlm.144)

    “Economy and Economics in the Context of Ecological Problems- Twenty Basic Economist’s These.”

    Lomborg, Bjorn. 2001. The Sceptical Environmentalist.

    Nordhaus, William. 2006. “The Stern Review on the Economics of Cilmate Change.”

    Popper, Karl R. 1975. “The Rationality of Scientific Revolutions.”

    Schelling, Thomas C. 1996. “Costs and Benefits of Greenhouse Gas Reduction.”

    (hlm.147)

    Simon, Julian L. 1981. The Ultimate Resource.

    1995. The State of Humanity

    1996. The Ultimate Resource.

    Stern, Nicholas. 2006. Stern Review on the Economics of Climate Change.

    (hlm.148)

    Veblen, thorstein. 1988. The Theory of the Leisure Class: An Economic Study of Institutions.

    Von Mises, Ludwig. 1996. Human Action.

    (hlm.151)

    TENTANG PENULIS

    Jabatan politik pertama yang dipegangnya pasca era komunis adalah sebagai menteri keuangan pada 1989. Karir politiknya terus menanjak berkat peran pentingnya memajukan perekonomian Republik Ceko.

    (hlm.152)

    FRIEDRICH-NAUMANN-STIFTUNG

    FUR DIE FREIHEIT (FNF)

    DIDIRIKAN pada 1985 oleh Presiden pertama Republik Federal Jerman, Theodor-Heuss. Ia menanamkan lembaga ini sesuai dengan nama seorang pemikir Jerman, Friedrich-Naumann (1869-1919), yang memperkenalkan pendidikan kewarganegaraan di jerman untuk mewujudkan warga yang sadar dan terdidik secara politik. 

     

    Asas Moral dalam Politik

    Ian Shapiro

    Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Asas Moral dalam Politik oleh Ian Shapiro.

    Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

    Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

    Selamat membaca.

    Chandra Natadipurba

    ===

    ASAS MORAL DALAM POLITIK

    IAN SHAPIRO

    Pertama kali diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Kedutaan Besar Amerika Jakarta bekerja sama dengan Freedom Institute dan Yayasan Obor Indonesia pada 2006 di Jakarta.

    Yayasan Obor Indonesia

    YOI : 509.23.29.2005

    ISBN : 979-461-576-5

    PENDAHULUAN

    Kapankah suatu pemerintahan layak memperoleh dukungan kita, dan kapan tidak? Dilema politik yang paling bertahan lama ini mendorong penelaahan kita. Socrates, Martin Luther, dan Thomas More mengingatkan kita betapa suburnya dilema itu ; Vaclav Havel, Nelson Mandela, dan Aung San Suu Kyi menggarisbawahi kekuatannya. Mereka adalah pahlawan moral karena menentang kewenangan politik yang salah, sama halnya Adolph Eichmann adalah seorang penjahat moral karena kegagalannya melakukan hal yang sama.

    Ditangkap oleh pasukan khusus Israel karena melanggar hukum Argentina dan hukum internasional, Eichmann dilarikan ke Israel, diadili dan dihukum karena kejahatannya terhadap kemanusiaan dan orang-orang Yahudi. Banyak  orang yang tidak bersimpati pada Eichmann pun tetap merasa terganggu dengan cara penangkapannya : ia diadili di sebuah negara dan oleh pengadilan yang belum ada saat ia melakukan kejahatannya dan berdasarkan sebuah hukum yang khusus dibuat untuk menghukum dan mengeksekusinya.

    Siapa yang harus menghakimi, dan dengan kriteria apa, serta apakah hukum dan tindakan negara-negara yang mengklaim dukungan politik kita sudah memenuhi harapan?

    Para utilitarian menjawab pertanyaan kita dengan suatu varian klaim bahwa legitimasi pemerintah tergantung pada kesediaan dan kapasitasnya untuk memaksimalkan kebahagiaan. Apa yang dianggap sebagai kebahagiaan, kebahagiaan untuk siapa, bagaimana mengukurnya, dan siapa yang akan mengukurnya adalah beberapa isu kontroversial yang membedakan berbagai aliran utilitarian, seperti yang akan jelas terlihat di bab 2 dan 3. Meskipun ada ketidaksepakatan tentang hal ini dan hal-hal terkait lainnya, para utilitarian pada umumnya sepakat kita harus menilai pemerintah dengan merujuk pada diktum Bentham yang, meskipun ambigu, selalu dikenang, yakni bahwa mereka diharapkan mampu memaksimalkan kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin orang.

                                                                                                                                        ( hlm. X )

    Dari sudut pandang kaum Marxis, setiap sistem politik dalam sejarah mendukung sejumlah bentuk eksploitasi, namun sosialisme dan komunisme dianggap menawarkan kemungkinan adanya sebuah dunia yang bebas eksploitasi.

    Bagi para penggagas teori kontrak sosial, legitimasi negara berakar pada gagasan tentang kesepakatan.

                                                                                                                                        ( hlm. XI )

    Masing-masing tradisi utilitarian, Marxis, dan kontraktarian mempunyai fokus yang berbeda dan mencuatkan serangkaian pertanyaan tentang letimigasi politik, namun dalam banyak hal juga tumpang tindih lebih dari yang seringkali disadari. Saya akan menyatakan bahwa hal itu lebih banyak disebabkan oleh semua tradisi itu telah dibentuk oleh Pencerahan. Ini merupakan gerakan filsafat yang bertujuan untuk merasionalisasikan kehidupan sosial dengan melandaskannya pada prinsip-prinsip ilmiah dan di mana ada dorongan normatif yang kuat untuk secara serius mempertimbangkan gagasan tentang kebebasan manusia seperti diungkapkan dalam doktrin politik tentang hak-hak individu. Proyek Pencerahan, seperti diistilahkan Alasdair MacIntyre, umumnya dikaitkan dengan tulisan-tulisan para pemikir Eropa seperti Rene Descartes ( 1596 – 1650 ), Gottfried Leibnitz ( 1646 – 1716 ), Benedict Spinoza ( 1632 – 1677 ), dan Immanuel Kant ( 1724 – 1804 ), meskipun sangat dipengaruhi oleh kaum Empiris Inggris, yaitu John Locke ( 1632 – 1704 ), George Barkeley ( 1685 -1753 ), dan David Hume ( 1711 – 1776 ).

                                                                                                                                        ( hlm. XII )

     Teori politik apa yang paling baik mewujudkan nilai-nilai Pencerahan tahap lanjut? Jawaban saya di bab 7 adalah demokrasi.

                                                                                                                                        ( hlm. XIII )

    Kaum demokrat berkeyakinan bahwa suatu pemerintahan sah jika mereka yang terkena dampak keputusan memainkan peran memadai dalam proses membuat keputusan tersebut, dan jika tersedia kesempatan-kesempatan yang berarti untuk menentang pemerintah pada masa itu, menggantikannya dengan pemerintahan alternatif.

                                                                                                                                        ( hlm. XIV )

    Politik Pencerahan

    Gerakan filsafat yang dikenal sebagai Pencerahan ( Enlightenment ) sebenarnya merupakan beberapa gerakan intelektual yang berbeda, meski saling tumpang tindih. Akar gerakan itu dapat ditelusuri paling tidak hingga 1600-an, dan pengaruhnya telah dirasakan pada setiap sisi kehidupan. Mulai dari filsafat, sains dan penemuan, hingga seni, arsitektur, dan sastra, sampai politik, ekonomi, dan organisasi ; semua bidang aktivitas manusia membawa jejak aspek-aspek Pencerahan yang tak terhapuskan.

    Jika ada satu gagasan umum yang menyatukan para pendukung berbagai arus pemikiran Pencerahan, maka itu adalah kepercayaan pada kekuatan akal manusia untuk memahami hakikat diri dan lingkumgnya.

                                                                                                                                        ( hlm. 1 )

    I.I Naiknya Pengaruh Sains

    Kesibukan dengan sains bermula dari upaya untuk membuat seluruh pengetahuan kokoh, diukur dengan tolak ukur yang pertama kali dilontarkan Descartes ketika ia menegaskan bahwa ia sedang mencari pernyataan yang tidak dapat diragukan lagi. Contoh terkenalnya, disebut cogito, adalah “Saya berpikir, maka saya ada”2 Apapun upaya untuk meragukan pernyataan itu justru akan semaakin menegaskannya.

                                                                                                                                        ( hlm. 2 )

    I.I.I  Ideal Pengetahuan Sebagai Karya Manusia

    Ciri unik pertama dari masa awal Pencerahan menyangkut cakupan pengetahuan a priori, yakni jenis pengetahuan yang diturunkan dari definisi atau yang disimpulkan dari prinsip-prinsip umum.

    Putusan analitis paling baik dipandang sebagai akibat logis arti dari suatu istilah, sementara putusan sintetis sebaliknya – biasanya karena mereka tergantung pada kebenaran dunia yang melampaui arti deduktif.

    Seperti diungkapkan Thomas Hobbes dalam De Homine, ilmu pengetahuan murni atau “matematis” dapat diperoleh secara a priori, tapi “matematikan campuran”, seperti fisika, tergantung pada “sebab-sebab alamiah [yang berada] di luar kekuatan kita”.7

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 5 )

    Locke membedakan gagasan “ectype” dari “archetype” : ectype adalah gagasan umum tentang substansi, dan archetype merupakan gagasan yang disusun oleh manusia.

                                                                                                                                        ( hlm. 6 )

    I.I.2 Kesibukan dengan soal Kepastian

    Seperti diungkapkan Karl Popper ( 1902 – 1994 ), yang paling bisa kita katakan, ketika suatu hipotesis mampu melewati uji empiris, adalah bahwa mereka belum salah sehingga untuk sementara dapat menerima hipotesis tersebut.13

                                                                                                                                        ( hlm. 7 )

    1.2 Sentralitas Hak-Hak Individu

    Selain keyakinan pada sains, fokus utama Pencerahan pada hak-hak individu membedakan filsafat politiknya dari komitmen zaman kuno dan pertengahan terhadap tatanan dan hierarki.

    Hobbes menyatakan dalam Leviathan bahwa sudah umum untuk mencampurkan “Jus ( keadilan ) dan Lex ( Hukum ), Hak dengan Hukum; namun mereka harus dibedakan; karena HAK mengandung kemerdekaan untuk menjalaninya, atau untuk menerimanya.

                                                                                                                                        ( hlm. 8 )

    Menolak saling keterkaitan dalam ajaran Kristen tradisional antara hak dan hukum, ia menegaskan sebaliknya bahwa hukum kodrat ”seharusnya dibedakan dari hak kodrat : karena hak dilandaskan pada kenyataan bahwa kita bisa memanfaatkan sesuatu dengan bebas, sementara hukum adalah yang memerintah atau melarang dilakukannya sesuatu.”18 Seberapa penting langkah ini pada saat itu dapat dilihat dari kenyataan bahwa bahasa-bahasa Eropa di luar Inggris tidak memiliki pembedaan linguistik ini. Recht dalam bahasa Jerman, diritto dalam bahasa Italia atau droit dalam bahasa Prancis, semua digunakan untuk menandai hukum secara abstrak maupun hak; etimologi gagasan-gagasan tersebut begitu saling terikat secara historis.

    Kita telah melihat bahwa dalam teologi voluntaris Locke, kemahakuasaan Tuhan menjadi dasar.

                                                                                                                                        ( hlm. 9 )

    1.3 Ketegangan Antara Sains dan Hak-Hak Individu

    Sains merupakan sebuah usaha yang bersifat deterministik untuk menemukan hukum-hukum yang mengatur jagad raya.

                                                                                                                                        ( hlm. 10 )

    Bagi Hobbes, individu yang rasional akan sepakat untuk tunduk pada suatu kedaulatan mutlak karena alternatifnya adalah perang sipil yang mengerikan.

    Salah satu argumen utamanya dalam debat dengan Sir Robert Fimer di dalam First Treatise berkenaan dengan pernyataan tegas Locke bahwa Tuhan berbicara secara langsung pada setiap individu yang membaca Kitab Suci, dan tidak ada kewenangan manusia yang berhak menyatakan suatu interpretasi lebih benar dibandingkan interpretasi lawannya.24

                                                                                                                                        ( hlm. 11 )

    Utilitarianisme Klasik

    Alam telah menempatkan umat manusia dibawah kendali dua kekuasaan, rasa sakit dan rasa senang. Hanya keduanya yang menunjukan apa yang seharusnya kita lakukan, dan menentukan apa yang akan kita lakukan. Standar benar dan salah di satu sisi, maupun rantai sebab akibat pada sisi lain, melekat erat pada dua kekuasaan itu. Keduanya menguasai kita dalam semua hal yang kita lakukan, dalam semua hal yang kita ucapkan, dalam semua hal yang kita pikirkan: setiap upaya yang kita lakukan agar kita tidak menyerah padanya hanya akan menguatkan dan meneguhkannya. Dalam kata-kata seorang manusia mungkin akan berpura-pura menolak kekuasaan mereka tapi pada kenyataannya ia akan tetap berada di bawah kekuasaan mereka. Asas manfaat ( utilitas ) mengakui ketidakmampuan ini dan menanggapnya sebagai landasan sistem tersebut, dengan tujuan merajut kebahagiaan melalui tangan nalar dan hukum. Sistem yang mencoba untuk mempertanyakannya hanya berurusan dengan kata-kata ketimbang maknanya, dengan dorongan sesaat ketimbang nalar, dengan kegelapan ketimbang terang.1

                                                                                                                                        ( hlm. 13 )

    Bentham menjelaskan lebih jauh bahwa asas manfaat “melandasi segala tindakan berdasarkan sejauh mana tindakan itu meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan kelompok itu; atau, dengan kata lain meningkatkan atau melawan kebahagiaan itu.”

    2.1 Dasar Ilmiah Utilitarianisme Klasik

    Ia membela suatu sistem hak-hak politik yang ekstensif, namun ia melihat hak sebagai hasil ciptaan manusia, diciptakan oleh sistem hukum dan ditegakkan oleh kekuasaan yang berdaulat. Ia menekankan bahwa tidak ada hak tanpa upaya penegakannya dan tidak ada upaya itu tanpa pemerintah,5 suatu pandangan yang kemudian dikenal sebagai positivisme hukum.

                                                                                                                                        ( hlm. 14 )

    Bentham tidak punya keraguan bahwa utilitarianisme tak pelak lagi memiliki kekuatan argumen cogito Cartesian. “Ketika seseorang mencoba melawan asas manfaat,” tandasnya, “ia melakukannya dengan alasan yang tanpa disadari olehnya justru diperoleh dari asas itu sendiri”6 Jadi kalau seorang moralis asketis menghindari kesenangan, sebenarnya itu dilakukan “dengan harapan mendapat penghormatan dan reputasi oleh manusia,” dan prospek untuk mendapatkan penghormatan ini merupakan sumber sesungguhnya kesenangan itu. Dengan cara yang sama, seseorang yang menghindari kesenangan bagi dirinya atau yang mengorbankan dirinya demi alasan-alasan keagamaan mencerminkan “ketakutan akan hukuman di masa mendatang oleh Tuhan yang pemarah dan penuh dendam.erkae

    Bagi Bentham, utilitarianisme mempunyai dasar alamiah yang berakar pada keharusan organisme manusia untuk bertahan hidup. Ini luar biasa mengingat bahwa ia menulis tujuh puluh tahun sebelum Charles Darwin.8

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 15 )

    2.2 Manfaat Individu vs. Manfaat Kolektif dan Kebutuhan akan Pemerintah

    Hukum tidak berkata pada manusia, Bekerjalah dan aku akan memberimu imbalan tapi Berkaryalah, dan dengan menghentikan tangan yang akan merebutnya darimu, aku akan memastikan bahwa kau menikmati hasil karyamu – yakni imbalan kodrati dan yang mencukupi, yang tidak akan bisa kau pertahankan tanpa diriku. Jika industrilah yang mencipta, maka hukumlah yang mempertahankan; jika yang pertama kita berutang segalanya pada pekerjaan, yang kedua dan saat-saat berikutnya kita berutang segalanya pada hukum.14

    Kutipan ini mencerminkan pandangan Bentham bahwa meskipun aturan hukum memang penting dalam usaha memperoleh manfaat, aturan hukum harus membatasi dirinya untuk memastikan bahwa orang dapat mengejar manfaat bagi diri mereka sendiri.

    Peran pemerintah yang sesuai dengan logika teori Bentham berakar pada asumsi egoisnya bahwa pencairan rasa senang dan pengelakan rasa sakit selalu berlangsung pada tingkat psikologis individual. Manusia adalah individu yang memaksmalkan manfaat, dan tidak mempedulikan apa pun demi kebaikan masyarakat. Pandangan ini menunjukan bahwa orang akan mengingkari janji dan mencuri dari orang lain jika itu menguntungkan mereka, dan mereka tidak peduli, kecuali ada hukum pidana yang melindungi hak-hak hidup, tubuh dan hak milik maupun hukum perdata yang

    menegakkan perjanjian dan karenanya memfasilitasi perdagangan.

                                                                                                                                        ( hlm. 17 )

    Meskipun setiap individu mengambil manfaat dari keamanan yang diberikan oleh adanya angkatan perang, tidak ada keuntungan pribadi yang nyata dari pajak yang dibayarnya, sehingga ia tidak mempunyai alasan untuk mendukung perang secara sukarela apabila ia bisa mendapatkan keuntungan yang lebih baik dari kontribusi pajak yang tadinya ditujukan untuk mendukung perang.16  Secara umum, jika seseorang tahu bahwa suatu barang tidak peduli apakah ia menyumbang sesuatu bagi pengadaannya, maka orang yang melulu berhitung dengan manfaat bagi dirinya sendiri akan menolak ikut menyumbang.

                                                                                                                                        ( hlm. 18 )

    Dengan berpendapat tidak ada alasan cukup untuk percaya bahwa “orang yang mempunyai informasi faktual yang sama akan menyetujui obyek yang sama”, ia menyimpulkan bahwa “jika tidak ada sesuatu pun yang dapat disetujui oleh semua atau sebagian besar orang yang memiliki informasi cukup, karena perasaan orang berbeda-beda dalam soal ini – maka tidak ada sesuatu pun yang dapat menjadi kebajikan maupun kejahatan umum.”19

                                                                                                                                        ( hlm. 19 )

    Ia memikirkan rasa senang dan rasa sakit dalam empat dimensi: intensitas, durasi, kepastian atau ketidakpastian, dan “jauh atau dekatnya.”21 Ia juga memikirkan tentang “cakupan”, atau jumlah orang yang menjadi sasaran tindakan yang menyenangkan atau menyakitkan, yang dapat dihitung untuk sebuah komunitas politik.

    Memang, banyak hal mendasar dalam Principles of Moral and Legislation dicurahkan untuk membuat titik awal bagi skema utilitarian besar seperti itu, agar nantinya dapat diperbaiki, meskipun tidak diubah secara esensial oleh generasi-generasi berikutnya. Bentham melihatnya sebagai sejenis buku daras multi guna yang dapat dirujuk oleh para pembuat peraturan dalam merancang apa yang dapat kita sebut sebagai utilitometer saat mereka berupaya untuk memperbaiki masyarakat dengan dasar ilmiah.

                                                                                                                                        ( hlm. 20 )

    Uang adalah utilitometer bagi Bentham. Seperti halnya termometer digunakan “untuk mengukur suhu cuaca” dan barometer “untuk mengukur tekanan udara,” maka uang “adalah instrumen untuk mengukur kuantitas rasa sakit dan rasa senang.” Bentham mengakui bahwa uang mungkin tidak bisa dilihat sebagai suatu dasar perhitungan yang memuaskan. Tetapi ia menempatkan beban pembuktian pada mereka yang skeptis untuk “mencari alat ukur lain yang bisa lebih akurat, atau mengucapkan selamat tinggal pada politik dan moral.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 21 )

    Yang harus disimpulkan di sini adalah bahwa Bentham menganggap uang sebagai ukuran terbaik untuk manfaat, baik untuk mengukur rasa senang dan rasa sakit maupun merancang sistem-sistem insentif yang akurat untuk mempengaruhi tindak-tanduk manusia.

    2.3 Perbandingan Interpersonal dan Konsekuensialisme

    Skema Bentham merupakan sebuah sistem dasar sejauh anggapan-nya bahwa satuan ukuran rasa sakit dan kesenangan, yang dengan bagus ia sebut sebagai “util” , dapat ditambahkan dan dikurangkan untuk menghasilkan hasil keseluruhan bagi individu tertentu. Oleh karena itu, pada prinsipnya, kita dapat membuat penilaian jika seorang memperoleh tiga util rasa senang dari membaca sebuah buku tapi menderita rasa sakit sebanyak dua util karena harus mencari uang untuk membeli buku itu, maka neraca akhir memperlihatkan bahwa ia akan lebih senang melakukan pekerjaan agar mampu membeli buku.

    Kebaikan maupun keruagian sama-sama didistribusikan semata-mata berdasarkan kriteria bahwa pada akhirnya hal itu akan memaksimalkan hasil bersih manfaat sosial. Jadi utilitarianisme klasik adalah suatu doktrin konsekuensialis yang radikal.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 22 )

    Inilah alasannya mengapa dapat ditarik hubungan antara utilitarianisme dengan praktik eugenics, dan mengapa ia menghadapi kesulitan yang besar dalam menangani para penderita cacat.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 23 )

    Penelantaran para penyandang cacat, eksploitasi kaum minoritas yang rentan, ketidakotentikan, dan hilangnya otonomi adalah bahaya-bahaya utilitarianisme yang selalu ada, tetapi mereka bukan daftar utama kekhawatiran Bentham ketika ia memikirkan tentang retribusi yang dapat memaksimalkan hasil bersih manfaat sosial.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 24 )

    Sama halnya di Inggris, orang kaya sudah menerima batas tarif pajak leih dari sembilan puluh persen dalam beberapa periode pemerintahan partai Buruh setelah Perang Dunia Kedua, dan bahkan di Amerika orang sudah menoleransi tarif pajak yang tinggi, terutama selama perang.42

    Ketimbang mengurusi masalah yang berkaitan dengan ambang batas itu, para ekonom sekarang memikirkannya dalam kaitan trade-off antara tarif pajak dan kecenderungan subyek pajak untuk bekerja atau berinvestasi, dengan efek perubahan yang tipis: ketika tarif pajak meningkat, ada kecenderungan marjinal orang untuk tidak bekerja atau berinvestasi.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 27 )

    Juga akan menjadi kontroversial karena selalu sulit melepaskan dampak tarif pajak dari faktor-faktor lain yang mempengaruhi kinerja ekonomi. Hal ini secara dramatis dapat dicontohkan dalam debat mengenai gagasan ekonomi dari sudut penawaran ( “supply slide” economics ) yang diusung ke Amerika dan Inggris oleh pemerintahan Reagan dan Thatcher pada awal tahun 1980-an. Teori itu menyatakan bahwa pemotongan pajak sebenarnya akan meningkatkan pendapatan pemerintah karena mendorong investasi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pada kenyataannya, jumlah variabel yang saling terkait mempengaruhi kinerja ekonomi sudah cukup besar sehingga tidak mungkin mencari data yang dapat menguji hipotesa gagasan ekonomi dari sudut penawaran itu secara keseluruhan, dan para ekonom dan politikus terus berdebat mengenai isu tersebut selama berpuluh-puluh tahun berikutnya.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 28 )

    Asas tersebut menyatakan bahwa semakin kaya dirimu, semakin berkurang manfaat baru yang akan kau peroleh dari setiap tambahan dollar yang kau terima. Ini berarti semakin banyak uang yang kau punyai, pada batas tertentu semakin besar peningkatan dollar yang diperlukan untuk meningkatkan manfaat yang inginkan. Analogi yang lebih baik adalah tentang seorang pecandu heroin yang memerlukan jumlah narkoba yang semakin banyak untuk mencapai “jumlah yang diperlukan” yang sama: semakin banyak yang kau punyai, semakin banyak yang kau inginkan. Seorang yang miskin mendapatkan lebih banyak manfaat dari sejumlah uang tertentu ketimbang orang yang kaya; tetapi ini tidak berarti bahwa si orang kaya kurang memerlukan uang, justru sebaliknya.

    Lebih dari itu, karena uang mengandung implikasi “semakin banyak yang kau miliki, semakin banyak yang kau inginkan” seperti yang baru saja dijelaskan, mungkin saja ketika tarif pajak meningkat, kaum kaya malah akan bekerja lebih keras atau berinvestasi lebih banyak.43

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 29 )

    2.3 Netralitas  Ilmiah dan Kebebasan Manusia

    Jika kita memusatkan perhatian hanya pada pandangan Bentham bahwa argumen-argumennya secara rasional tak terbantah, maka kita harus mengakui argumen-argumen itu mengikat semua makhluk rasional dan oleh karena itu meletakan Bentham pada sisi determinisme.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 33 )

    Oleh karenanya, menurut Bentham peran utama pemerintah adalah menciptakan suatu lingkungan di mana orang bisa menikmati “hasil kerja mereka”, dengan melindungi hasil-hasil tersebut melalui aturan hukum.

    Dengan menganut gagasan bahwa ilmu pengetahuan memungkinkan kita untuk memahami dan membentuk nasib kita dengan cara-cara yang lebih baik ketimbang cara-cara yang didasarkan pada agama, takhayul, hukum kodrat, atau kehendak buta,     

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 34 )

    Sintesa Hak dan Manfaat

    Utilitarianisme klasik disibukan dengan dua masalah yang sangat pelik. Pertama, jumlah informasi yang diperlukan untuk menerapkannya sangat besar.

    Masalah kedua berkaitan dengan kenyataan bahwa skema utilitarianisme klasik tidak sensitif terhadap batas-batas moral antar manusia.1

                                                                                                                                        ( hlm. 35 )

    Tapi utilitarianisme telah dibentuk kembali dengan cara-cara yang mampu membicarakan kedua kesulitan di atas, yang membuatnya bertahan sebagai salah satu ideologi politik penting pada jaman kita.

    Beberapa pemikir di atas punya komitmen pada perbaikan sosial dan sebagian berpikir bahwa kemajuan dalam teori ekonomi akan menghasilkan perbaikan sosial namun aktivitas mereka sendiri merupakan upaya untuk mencari kebenaran: bagaimana memahami hukum gerakan dalam sistem ekonomi, terutama kapitalisme, sehingga dapat meramalkan perilakunya di masa datang.

                                                                                                                                        ( hlm. 36 )

    Pareto sangat menyadari persoalan informasi yang merepotkan utilitarianisme  klasik, karena itu ingin ekonomi politik sebagai sains yang baru sebisa mungkin tidak tergantung pada penyelesaian masalah informasi tersebut.

    Pertanyaan yang muncul dari perspektif ini adalah: Seberapa jauh kita dapat memahami cara-cara pasar beroperasi dengan informasi yang minim tentang manfaat? Masalah yang paling jelas problematis adalah gagasan tentang perbandingan manfaat secara interpersonal.

                                                                                                                                        ( hlm. 37 )

    Ia bahkan menciptakan istilah opbelimity untuk menggambarkan gagasan mengenai manfaat ekonomi murni morfin, meskipun istilah itu tidak pernah populer dan tidak akan digunakan di sini.

                                                                                                                                        ( hlm. 39 )

    Satu-satunya asumsi lain yang diperlukan, yang secara umum dianggap sebagai kondisi minimal rasionalitas ketimbang karakter sebuah manfaat, adalah gagasan tentang transitivitas ( transitivity ): jika saya lebih memilih a ketimbang b dan b ketimbang c, maka pasti saya lebih memilih a ketimbang c.17

                                                                                                                                        ( hlm. 42 )

    3.2 Pasar sebagai Utilitometer

    Konsep utama di sini adalah kurva indiferen. Di balik itu adalah intuisi mengenai suatu sintesis tiga gagasan yang sudah dibahas: bahwa orang ingin memaksimalkan manfaat dalam artian yang sudah didedah Pareto, bahwa pilihan mereka umumnya mencerminkan asas manfaat marjinal yang semakin menurun, dan bahwa mereka cukup rasional dalam arti pengaturan keinginan mereka tidak melanggar prinsip transitivitas.

                                                                                                                                        ( hlm. 43 )

    Itulah situasi indifference: seseorang tidak peduli pada dua barang jika menukarkan satu barang untuk barang lainnya tidak meningkatkan atau pun mengurangi manfaat baginya. Dengan memakai contoh roti dan anggur, kita dapat membayangkan serangkaian perbandingan jumlah dua barang tersebut yang membuat seseorang tidak peduli, misalnya: empat puluh bongkahan roti dan enam botol anggur, lima belas bongkahan roti dan dan delapan botol anggur, lima bongkahan roti dan sembilan botol anggur.

    Setiap kurva indiferen, I1, I2, I3, I4, dan seterusnya berbagai kombinasi roti dan anggur berbeda yang perbedaannya tidak diindahkan oleh individu A.

    Kurva indiferen selalu mempunyai kemiringan negatif dan biasanya cengkung dari titik awal ( yaitu kurva yang terletak di atas titik singgung pada setiap titik ), menggambarkan asas manfaat marjinal yang semakin menurun. Kurva-kurva tersebut tidak dapat saling bertemu, karena itu berarti akan melanggar transitivitas.20

                                                                                                                                        ( hlm. 44 )

    Kejeniusan Pareto terletak pada kemampuannya melihat bahwa alat konseptual ini memungkinkan prediksi tentang bagaimana orang akan berinteraksi dalam situasi pasar sehingga meningkatkan hasil bersih manfaat sosial tanpa memerlukan perbandingan manfaat secara interpersonal.

                                                                                                                                        ( hlm. 45 )

    Setiap pertukaran yang paling tidak membuat satu orang lebih kaya tanpa membuat siapa pun menjadi lebih miskin menunjukan karakter ini.

                                                                                                                                        ( hlm. 47 )

    Perbandingan parsial prinsip Pareto dengan asas kebahagiaan terbesar Bentham dalam suatu ruang komoditas yang tertentu.

                                                                                                                                        ( hlm. 51 )

    Namun suatu prinsip tidak dapat dinilai dari seberapa baik berlakunya untuk menyelesaikan kasus yang mudah.

    Pertimbangan serupa juga berlaku ketika mengevaluasi klaim-klaim para utilitarian obyektif sekarang, seperti misalnya Peter Singer, ketika ia membela praktik pembunuhan bayi yang tidak diinginkan dan eutanasia.24

                                                                                                                                        ( hlm. 53 )

    3.2 Mencegah Kerugian (Harm) Sebagai Upaya Melegitimasi Tindakan Negara

    Buku Mill, Utilitarianism (1863), berisi pandangannya yang paling matang, namun justru dalam On Liberty (1859) ia mempertentangkan secara langsung perbedaan antara tuntutan utilitarian masyarakat dan komitmen Pencerahan terhadap kebebasan individu.

    Prinsip itu adalah bahwa satu-satunya tujuan yang membenarkan umat manusia, baik secara individual maupun kolektif, untuk campur tangan dalam kebebasan bertindak setiap anggotanya adalah perlindungan diri sendiri. Bahwa satu-satunya tujuan untuknya kekuasaan dapat dijalankan dengan tepat atas setiap anggota suatu masyarakat yang beradab, bahkan jika bertentangan dengan kehendaknya sendiri, adalah menghindari kerugian di pihak orang lain. Kebaikannya sendiri, baik secara fisik maupun moral, bukanlah jaminan yang mencukupi.

                                                                                                                                        ( hlm. 55 )

    Untuk membenarkan hal itu, perilaku yang hendak cegah harus diperhitungkan sebagai sesuatu yang menimbulkan kerugian bagi orang lain. Satu-satunya bagian perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat adalah yang berkaitan dengan orang lain. Dalam bagian yang hanya menyangkut dirinya sendiri kemerdekaannya, berdasarkan hak, adalah mutlak. Seorang individu berdaulat atas dirinya sendiri, atas tubuh dan pikirannya sendiri.26

                                                                                                                                        ( hlm. 56 )

    Menggalakkan kebebasan individu adalah jalan yang paling pasti dalam memperluas pengetahuan, dan itu, pada akhirnya, sangat penting dalam kemajuan utilitarian.

    Bahkan kalaupun kita tidak salah, dan pendapat yang dibungkam itu salah, “ia bisa saja, dan umumnya sering terjadi, mengandung suatu bagian kebenaran; dan karena pendapat yang umum atau yang berlaku mengenai suatu hal tertentu jarang atau tidak pernah menjadi suatu kebenaran yang utuh, hanya dengan mempertentangkan berbagai pendapat yang berbeda akan ada kesempatan munculnya sisa kebenaran.”

                                                                                                                                        ( hlm. 57 )

    Oleh karena itu kebebasan berbicara sangat penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan, meskipun Mill dengan jelas menganggapnya sebagai lebih dari sekedar hak negatif semata.

    Meskipun kemajuan ilmu pengetahuan penting bagi pemerintah dalam mengambil keputusan utilitarian, pendidikan “membuat orang berada dalam pengaruh yang sama dan memberi akses terhadap fakta dan sentimen umum,” yang membawa mereka ke suatu tingkat sosial umum sehingga “gagasan untuk menentang kehendak publik, ketika secara positif sudah diketahui, akan makin lenyap dari pikiran para politisi praktis” dan “tidak akan ada lagi dukungan sosial bagi sikap non-konformitas.”34

                                                                                                                                        ( hlm. 58 )

    Jika bagi Bentham kita harus berpikir tentang bagaimana membangun dan menggunakan utilitometer, pertanyaan untuk Mill adalah bagaimana membangun dan menggunakan instrumen yang dapat kita sebut sebagai tortometer?.44

                                                                                                                                        ( hlm. 62 )

    Tindakan-tindakan kita mempunyai apa yang disebut Arthur Pigo (1877 – 1959 ) sebagai eksternalitas: konsekuensi yang mungkin merugikan yang ditanggung pihak ketiga, tidak peduli apakah itu disengaja.49

    Mill menggunakan dua interpretasi tersebut pada bagian yang berbeda dalam On Liberty. Dalam pembelaannya terhadap poligami orang Mormon, misalnya, meskipun ia yakin poligami merugikan perempuan, ia merasa bahwa masyarakat tidak dapat buru-buru menolak keinginan mereka. Jika orang memilihnya secara sukarela, masyarakat tidak boleh campur tangan.50

                                                                                                                                        ( hlm. 63 )

    3.4 Variasi Kontekstual dalam Definisi tentang Kerugian

    Gagasan pluralisme penafsiran ini terlihat masuk akal ketika kita merenungkan berbagai cara kerugian didefinisikan dalam hukum Amerika. Hukum kriminal berkisar pada suatu standar intensionalis dalam hal bahwa keberadaan mens rea, atau niat buruk yang tidak disadari, merupakan salah satu elemen kejahatn yang harus dibuktikan oleh sidang pengadilan tanpa menimbulkan keraguan.

                                                                                                                                        ( hlm. 65 )

    Mill mungin benar bahwa mencegah tindakan merugikan adalah suatu kriteria penting dalam menentukan legitimasi tindakan negara, namun prinsipnya itu tidak memberitahu kita kerugian mana yang relevan untuk tindakan negara yang mana, bagaimana ketidaksepakatan tentang hal-hal semacam itu harus dipecahkan, atau seberapa jauh seharusnya negara bertindak dalam memberikan ganti rugi.

    Kita dapat beradu pendapat di surat kabar atau pun melakukan demonstrasi damai bahwa pedagang jagung membuat masyarakat kelaparan, atau bahwa kepemilikan pribadi adalah perampokan, tapi jika para pedagang jagung dan para pemilik properti menentang pendapat kita, tidak ada jalan lain selain berdiri di atas kotak sabun di pojok Hyde Park dan menggemukan pendapat kita.

                                                                                                                                        ( hlm. 69 )

    Marxisme

    Apa jadinya kalau para pedagang jagung sungguh-sungguh membuat kaum miskin kelaparan dan milik pribadi memang merupakan perampokan? Bagi Karl Max, dua hal itu harus dipertimbangkan dengan sangat serius.

                                                                                                                                        ( hlm. 73 )

    Mengapa kita harus mempedulikan Marxisme dari sudut pandang abad ke-21? Karena, setidaknya, hampir setiap ramalan Marx terbukti salah. Ia mengira bahwa revolusi komunis akan terjadi di negara-negara kapitalis maju, ketika kaum proletar urban yang semakin radikal dan kosmopolit bergabung bersama untuk menggulingkan sistem kapitalis yang menurut Marx, sedang berada di ambang kehancuran pada pertengahan abad ke-19.

                                                                                                                                        ( hlm. 74 )

    Teori Marx sudah dikritik tajam, sebagian besar dari para pemikir egalitarian dan mereka yang tidak terlalu berpihak pada kapitalisme. Argumen-argumen Marx terbukti tidak bisa bertahan lama, apakah mengenai determinisme ekonomi yang menjadi inti teori materialis tentang sejarah yang dikemukakan oleh Marx, teori nilai kerja yang melandasi analisanya mengenai eksploitasi, teorinya tentang kecenderungan menurunnya tingkat keuntungan dan krisis kapitalisme yang tidak dapat dielakan, maupun penjelasannya mengenai bagaimana sosialisme dan komunisme bekerja. Gabungan antara kegagalan politik dan teori itu menunjukan bahwa segala upaya untuk menyelamatkan Marxism akan terancam gagal, baik sebagai sebuah sistem penjelasan atau sistem normatif.

                                                                                                                                        ( hlm. 75 )

    Ada satu pertimbangan tambahan bahwa, terlepas dari kelemahannya, Marxisme telah memberikan alternatif yang paling awet terhadap pemikiran politik liberal dan konservatif sejak awal Pencerahan yang tak henti-hentinya telah diformulasikan – oleh Lenin dan Leon Trotsky (1879-1940) di Rusia, oleh Rosa Luxembourg (1871-1919) dan Karl Kautsky (1879-1938) di Jerman, dan oleh Mao Zedong (1893-1976) di Cina, belum lagi bagi varian Amerika Latin seperti Che Guevara (1928-1967)

                                                                                                                                        ( hlm. 76 )

    4.1 Materialisme Historis dan Agensi Individual

    4.1.1 Determinisme Dialektis

    Ketika Marx dan Engels membuka The Communist Manifesto dengan “sejarah semua masyarakat yang ada hingga saat ini adalah sejarah perjuangan kelas,”11 maksud mereka adalah bahwa dalam setiap bentuk produksi dalam sejarah, kelas yang mempunyai atau mengendalikan alat-alat produksi telah mengeksploitasi kelas yang bekerja dengan mengambil hasil kerja mereka.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 79 )

    4.1.2 Agensi dan Otonomi Individu

    Komunisme, yang memungkinkan dihapusnya pembagian kerja, merupakan utopia yang sangat individualis di mana orang bebas untuk ”berburu di pagi hari, mencari ikan siang hari, menggembalakan ternak di sore hari, melontarkan kritik setelah makan malam, seperti yang kuinginkan, tanpa harus menjadi pemburu, nelayan, penggembala, atau kritikus,”31 dan ”perkembangan tiap individu secara bebas adalah prasyarat bagi perkembangan yang bebas bagi semuanya.”32

    Namun ini tidak berarti bahwa pemahaman Marx tentang kebebasan identik dengan pandangan liberal. Pandangannya merupakan pandangan yang pernah dijelaskan oleh Isaiah Berlin sebagai pandangan ”positif” tentang kebebasan, karena fokus Marx adalah pada kebebasan untuk bertindak, berprestasi, dan menjadi, sejauh dibedakan dari pandangan ”Negatif” yang berfokus pada lingkup aktivitas di mana individu tidak diganggu.33

                                                                                                                                                                                                    ( hlm. 87 )

    4.2 Teori Nilai Kerja, Kekaryaan, dan Eksploitasi

    Para pemikir Inggris paling tidak sejak masa Hobbes dan Sir William Petty (1623-1687) telah memikirkan tentang gagasan bahwa kerja manusia, dan bukan perdagangan (seperti yang dipercayai oleh para pendahulu mereka di Inggris) atau tanah (yang ditekankan selama beberapa waktu oleh para Fisiokrat Prancis), yang menentukan harga yang dibayar untuk barang yang dapat dipertukarkan di dalam ekonomi pasar.37 Saat Marx menulis jilid pertama karya utamanya, Das Kapital pada 1867, teori kerja telah disistematikan oleh Adam Smith dalam The Wealth of Nations dan disempurnakan oleh David Ricardo (1772-1823) dalam karyanya Principls of Political Economy and Taxation (1821).

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 88 )

    4.2.1 Nilai, Nilai Lebih, dan Analisa tentang Eksploitasi

    Tujuan analitis Marx dalam Capital adalah untuk menjelaskan nilai komoditas, yang diartikan sebagai barang (dan orang bisa menambahkan jasa ke teori ini tanpa merusaknya) yang dihasilkan untuk dipertukarkan. komoditi dipandang menunjukan dua jenis nilai yang memerlukan penjelasan: ”nilai pakai (use-value)”, yang paling tepat dipandang sebagai manfaat, dan ”nilai tukar (exchange value”) yang oleh Marx dimaksudkan dengan harga.

                                                                                                                                        ( hlm. 89 )

    Suatu pertanyaan sulit yang dihadapi oleh para ekonom adalah: bagaimana mungkin ada keuntungan dalam sebuah ekonomi pasar jika yang selalu dipertukarkan setara? Jawabawn Marx adalah bahwa pertukaran memang setara, yang diukur dalam kaitannya dengan waktu kerja yang diperlukan secara sosial, namun tenaga kerja merupakan komoditas yang unik karena peggunaannya sebagai nilai pakai menciptakan nilai tukar baru.

                                                                                                                                        ( hlm. 93 )

    4.2.2 Implikasi untuk Memahami Kapitalisme

    Ada batasan-batasan fisiologis yang kentara jika memaksa mereka bekerja lembur lebih lama, belum lagi batasan politis kalau serikat pekerja mulai terbentuk dan, sebagai akibatnya, para pekerja secara politis terorganisasi. Dipandang dari perspektif ini, memang sama sekali tidak mengejutkan bahwa agitasi terhadap aturan-aturan seperti UU Sepuluh Jam (Ten Hours Bills) – yaitu UU yang membatasi hari kerja sesuai dengan yang ditunjukan dengan nama UU tersebut – adalah ciri-ciri kapitalisme awal.

                                                                                                                                        ( hlm. 97 )

    Begitu mesin pintal sudah digunakan di seluruh industri kapas, tingkat keuntungan dalam industri ini akan lebih rendah dibanding saat alat itu belum diperkenalkan di manapun, karena setiap kapitalis sekarang ini harus mengeluarkan uang relatif lebih banyak untuk modal tetap – mesin pintal – dan hanya modal tidak tetap yang menjadi sumber nilai lebih baru dan karenanya sumber keuntungan.

                                                                                                                                        ( hlm. 98 )

    Ia juga tidak melihat kemungkinan munculnya kekuatan ekonomi yang besar dari perusahaan kecil pada sejumlah industri, seperti ditunjukan oleh perubahan yang dilakukan Apple dalam industri komputer pada 1980-an dan perubahan dalam dunia ritel oleh penjualan lewat internet (dot.com) pada 1990-an.

                                                                                                                                        ( hlm. 100 )

    Namun orang mungkin sering merujuk pada diri mereka sendiri – dalam penilaian mereka, seperti yang diasumsikan oleh prinsip Pareto, yaitu tidak mengindahkan apa yang diperoleh orang lain kecuali kalau hal itu mempengaruhi perolehan mereka. Ini merupakan asumsi yang mendasari slogan kampanye Ronald Reagan pada 1984: ”Apakah Anda sudah lebih sejahtera ketimbang empat tahun yang lalu?”

                                                                                                                                        ( hlm. 101 )

    Sesungguhnya, bukti menunjukan bahwa meskipun perbandingan yang merujuk pada orang lain memang banyak mendorong orang, rujukannya tidak sama dengan perbandingan yang dibayangkan Marx. Orang membuat perbandingan secara lokal, yang diukur berdasarkan kelas, status, dan kedekatan fisik ketika mengevaluasi keadaan mereka. Riset sosiologi dan psikologi sosial memperlihatkan bahwa para pekerja menilai keadaan tidak membandingkan diri mereka sendiri dengan majikan mereka. Mereka bahkan tidak membandingkan diri mereka sendiri dengan kelas kaum kaya, tetapi lebih dengan para pekerja yang mempunyai situasi serupa. Ini dapat ditemukan pada sepanjang skala pekerjaan. Seorang profesor akan lebih gelisah ketika tahu bahwa gajinya lebih kecil $10.000 dibandingkan rekan kerjanya di gedung yang sama, ketimbang lebih kecil $200.000 dari gaji seorang ahli kardiologi di seberang jalan.52 Banyak perdebatan mengenai alasan-alasannya; tidak heran kalau ada lebih dari satu dinamika yang sedang berlangsung. Keterbatasan kognitif, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dari rekan-rekannya, apa yang digambarkan oleh Tversky dan Kahneman sebagai ”kerangka heuristis ketersediaan”, yakni kerangka rujukan untuk menafsirkan informasi tentang ketimpangan dan distribusi, maupun kedekatan fisik – itu semua ikut berperan dalam persepsi seseorang tentang kesejahteraan relatifnya.53

                                                                                                                                        ( hlm. 102 )

    Orang cenderung untuk melihat dunia sebagai sebuah versi yang diperluas dari kelompok rujukan lokal mereka – yang cukup homogen – dan memaksa mereka yang sangat berbeda dengan diri mereka sendiri ke belakang.56

                                                                                                                                        ( hlm. 103 )

    4.2.3 Analisa Normatif tentang Eksploitasi

    Yang lainnya, orang menjadi lebih atau kurang produktif sebagian karena hasil kerja yang dilakukan orang lain untuk mereka. Dalam dekade-dekade terakhir ini pengadilan Amerika mulai mengakui betapa rumitnya hal ini dalam penyelesaian kasus perceraian. Kerja domestik, yang dilakukan untuk mendukung pasangan mencapai suatu kualifikasi profesional, dapat dilihat sebagai bagian dari hasil kerja yang relevan dalam menciptakan pendapatan yang dihasilkan dari kualifikasi tersebut. Karena alasan ini, pasangan cerai yang telah melakukan kerja seperti itu dapat dianggap mempunyai kepemilikan atas pendapatan yang diperoleh mantan pasangannya (karena sekarang sudah memiliki kualifikasi) di masa mendatang.65 Para teoretikus feminis telah melakukan generalisasi wawasan di balik contoh-contoh semacam itu untuk menunjukan bahwa  Marx bersikap sewenang-wenang ketika mengukur tingkat eksploitasi, sebab hanya melihat hubungan antara nilai lebih dengan upah yang dibayarkan kepada pekerja. Perhitungan seperti itu mengabaikan kontribusi pasangannya terhadap nilai lebih yang dihasilkan pekerja, yang oleh Marx secara semena-mena dianggap sebagai ”milik” pekerja.

    Kapasitas produktif seorang istri yang tinggal di rumah yang digunakan suaminya untuk mencapai kualifikasi profesional, tak pelak lagi, sebagian merupakan kerja orang lain juga: orangtua, mungkin anak-anak, para guru sekolah minggu yang mengkotbahkan gabungan nilai-nilai etika kerja dan keluarga padanya, dan sebagainya.

                                                                                                                                        ( hlm. 110 )

    Kontrak Sosial

    Robert Nozick, seorang teoretikus yang berpengaruh dalam tradisi ini, menandaskan bahwa untuk bisa menjadi teori yang memadai, setiap teori keadilan harus mencakup teori tentang keadilan dalam soal pengambilalihan, keadilan dalam soal pembagian, dan perbaikan terhadap ketidakadilan di masa lalu.1 Dalam mengembangkan teorinya tentang keadilan, John Rawls menekankan bahwa fokus kontrak sosial harus diarahkan pada institusi-institusi utama yang menjadi “struktur dasar” masyarakat. Ia mendefinisikannya secara luas hingga mencakup perlindungan konstitusional yang sangat mendasar pada kebebasan politis, keagamaan dan pribadi, sistem pengorganisasian ekonomidan kepemilikan harta benda, termasuk kepemilikan atas alat-alat produksi, dan insitusi-insitusi sosial utama seperti keluarga.

                                                                                                                                        ( hlm. 115 )

    5.1 Kontrak Sosial Klasik dan Kontemporer

    Sebagai sebuah gagasan normatif, gagasan bahwa politik berakar dalam kontrak soaial bagi banyak orang nampaknya dibangun di atas landasan yang gampang goyah. Secara historis, barangkali pembentukan negara Amerika, yang secara tidak langsung dirujuk Nozick dalam argumennya, merupakan peristiwa yang paling dekat dengan gagasan itu.9  Namun pihak-pihak dalam kesepakatan itu tidak mengikutsertakan perempuan, kaum kulit hitam, dan bangsa asli Amerika, dan hasilnya melestarikan perbudakan.

                                                                                                                                        ( hlm. 117 )

    Ini memunculkan permasalahan lebih jauh, meskipun sebuah kesepakatan dinilai absah dan mengikat semua pihak ketika pada awalnya dibuat, mengapa generasi sesudahnya, yang tidak berperan dalam kesepakatan tersebut, harus terikat juga? Dalam hukum pewarisan kita mendukung pembatasan sampai sejauh mana generasi yang sudah mati menentukan generasi berikutnya. Mengapa dalam politik harus berbeda? Jawaban-jawaban seperti yang diberikan Locke, bahwa dengan tetap berada di suatu tempat orang memperlihatkan persetujuan diam-diam pada apa yang sudah ditentukan, kurang meyakinkan.10  Pada praktiknya biaya untuk pergi dari suatu wilayah sangat tinggi, kecuali bagi sekelompok kecil orang, dan agak-nya tidak ada tempat bagi mereka untuk menciptakan rezim yang menurut mereka cocok.

    Dengan mempertimbangkan kesulitan-kesulitan tersebut, para teoretikus kontrak sosial abad ke-20 mengajukan gagasan tentang kontrak hipotesis. Yang menjadi perhatian mereka bukanlah apa yang sudah atau tidak disepakati pada suatu titik sejarah, tapi lebih pada apa yang akan disepakati seandainya orang diberi pilihan.

    Aspek pertimbangannya, dan bukan penyetujuan sendiri, yang membuat suatu aturan yang diajukan disepakati, kata James Buchanan dan Gordon Tullock dalam karya mereka, Calculus of Consent.11 Bagi Nozick, tujuannya adalah untuk meyakinkan pembaca bahwa negara minimal yang diajukannya akan muncul kalau orang bertindak secara rasional dalam sebuah ”situasi belum ada negara.”

                                                                                                                                        ( hlm. 118 )

    Meskipun para penulis ini banyak menggunakan idiom kontrak sosial, pada akhirnya argumen mereka akan tergantung pada apa yang secara masuk akal akan diterima orang, bukan apa yang pada kenyataannya diterima semua orang.

    Habermas menekankan pada apa yang akan dipilih dalam sebuah ”situasi percakapan ideal”, sementara Ackerman pada prinsip-prinsip yang muncul sebagai prinsip yang absah dalam pertukaran ”dialogis” yang terstruktur di antara para penduduk sebuah planet imaginatif.15

                                                                                                                                        ( hlm. 119 )

    Jawaban atas pertanyaan ”siapa pihak yang setuju?”, konon, adalah pribadi rasional yang berpikir jernih.

                                                                                                                                        ( hlm. 120 )

    5.2. Ketidaksepakatan Mendasar dari Rawls

    Rawls telah menjadi teoretikus kontrak sosial yang paling berpengaruh dalam generasi kita. Ia mengembangkan sebuah kerangka kerja prinsip-prinsip untuk menilai keadilan penyelenggaraan politik dan serangkaian pengaturan institusional dan distributif yang ia yakin, lebih unggul dari apa yang ada. Hampir semua penjelasan mengenai argumennya ini, termasuk dari Rawls sendiri, dimulai dengan eksperimen tentang selubung ketidaktahuan.

                                                                                                                                        ( hlm. 122 )

    5.2.1 Pluralisme yang Bertahan Lama

    Berdasarkan diagnosis ini, dengan meninggalkan komitmen teologi dalam tradisi hukum kodrat telah membuat kita harus meniti lereng yang licin menuju relativisme moral. Ini sering diringkas dalam diktum Ivan Karamazov bahwa kalau Tuhan mati, maka segala sesuatu boleh dilakukan.24

                                                                                                                                        ( hlm.123 )

    ( Nozick mengadaptasi argumennya untuk menunjukan bahwa sebuah negara minimal, dengan kombinasi efisiensi pemerintahan dan sedapat mungkin mempertahankan ”situasi non-negara”, adalah yang terbaik).29

    Apa yang dimaksud Rawls mengenai yang ”politis, tidak metafisis” adalah bahwa orang mungkin sepakat pada serangkaian prinsip tanpa menyepakati alasan-alasannya.

                                                                                                                                        ( hlm. 125 )

    Pada kenyataannya, adalah konsensus yang tumpang tindih yang memberikan dasar legitimasi politis.32  Yang membedakan pendekatan ”politis, bukan metafisis” adalah konsep yang sederhana dalam bidang legitimasi politis.

                                                                                                                                        ( hlm. 126 )

    Ia sendiri mencirikan prinsip-prinsipnya sebagai ungkapan prosedural dari imperatif kategoris.34 Pandangan ini menyatakan bahwa prinsip-prinsip Rawls seharusnya menikmati status hukum moral menurut pengertian Kant, yang berarti dapat diterapkan secara universal dan tidak berasal dari pengalaman.

                                                                                                                                        ( hlm. 127 )

    Seperti halnya pemberian suara secara tertutup melindungi penduduk dalam sistem demokrasi dari keharusan memberikan justifikasi pilihannya pada orang lain, begitu juga metode ”politis, tidak metafis” Rawls itu menempatkan alasan-alasan mengapa sesorang mempunyai komitmen terhadap pandangan tertentu di luar urusan warga negara dan pemerintah. Demokrasi menuntut agar perwakilan dan pejabat bertanggungjawab secara publik, namun para pemilih yang memilih mereka tidak dituntut begitu. Dengan tidak menuntut warga negara memberi alasan-alasan pilihan politis mereka yang dapat diterima pihak lain, cara ”politis, tidak metafisis” Rawls punya landasan serupa.

    5.2.2 Kesewenang-wenangan Moral

    Skema kepemilikan diri, seperti yang sudah kita bahas dari Locke ke Marx, merupakan skema yang sangat egalitarian dalam satu hal: setiap orang secara setara adalah pusat otonomi moral dan agensi kreatif, entah karena menurut Locke Tuhan telah menciptakan manusia begitu, atau berdasarkan asumsi-asumsi sekuler seperti yang diutarakan Marx atau Mill.

                                                                                                                                        ( hlm. 128 )

    Untuk mengingatkan bagaimana debat-debat ini sangat bernuansa politis, orang hanya perlu mengingat kembali kontroversi hebat yang muncul pada akhir 1990-an terhadap pandangan Richard Hermstein dan Charles Murray dalam The Bell Curve, yang menyatakan bahwa ada dasar genetis dalam intelegensia yang menjadi sebagian penyebab variasi pencapaian di antara kelompok ras dan etnis berbeda di Amerika Serikat.35

    Namun Rawls berpendapat bahwa, dari sudut pandang keadilan, debat-debat ini tidak kena sasaran. Entah itu hasil bawaan lahir atau lingkungan, perbedaan-perbedaan tersebut tergantung baik pada kebetulan dalam rangkaian genetika, atau dalam lingkungan di mana seseorang kebetulan dilahirkan.

                                                                                                                                        ( hlm. 129 )

    Distribusi aset mula-mula dalam rentang waktu sangat dipengaruhi oleh kondisi alamiah dan sosial tertentu. Ditribusi pendapatan dan kekayaan yang ada saat ini, katakanlah, merupakan dampak kumulatif distribusi aset alamiah sebelumnya – yaitu bakat dan kemampuan alamiah – sejauh dikembangkan atau dibiarkan, dan penggunaannya diuntungkan atau tidak diuntungkan oleh kondisi-kondisi sosial dan kebetulan lain seperti kecelakaan atau nasib baik.

    Apakah perbedaan-perbedaan antar manusia berasal dari gen mereka atau hasil mereka dibesarkan, atau – yang memang mungkin – kombinasi dari keduanya, menurut Rawls tidak memberi landasan yang kuat untuk menentukan hasil distribusi.

                                                                                                                                        ( hlm. 130 )

    5.3 Keadilan dengan Ketidakpastian tentang Masa Depan

    5.3.2 Konsep Keadilan Histori versus Terpola

    Nozick menyambut kritik kaum kiri itu dengan sebuah contoh yang cerdas. Anggaplah seorang pemain basket terkenal seperti Wilt Chamberlain dalam kontraknya dengan sebuah tim tertentu menyepakati bagian kontraknya yang menyatakan, selain pembayaran dari tim tersebut, setiap kali ia bermain ia akan menerima langsung 25 persen dari tiket penonton.44 Sejalan dengan waktu, pembayaran tambahan ini memberi ratusan ribu, bahkan jutaan dolar, dari para penggemar bola basket kepada Chamberlain. Apa yang ditunjukan Nozick di sini adalah bahwa ”kebebasan mengacaukan pola-pola yang ada.” Tak peduli seperti apa pun distribusi pendapatan dari kekayaan pada awalnya, mengizinkan orang untuk melakukan perdagangan bebas di pasar akan mengubah distribusi awal tersebut. Jawabannya terhadap kritik kaum kiri yang mengeluhkan bahwa distribusi awal yang tidak adil menodai semua transaksi pasar berikutnya adalah: pilihlah distribusi awal untuk diri Anda sendiri apa pun yang menurut Anda adil. Jika Anda seorang egalitarian yang ketat, oke, mulailah dengan kesetaraan yang ketat. Jika Anda kemudian mengizinkan transaksi sukarela, Anda harus menerima ketidaksetaraan yang diakibatkannya.

                                                                                                                                        ( hlm. 134 )

    Penalaran keadilan yang dikemukakan Nozick bisa diringkas begini: jika kondisi awalnya adil dan transaksi berikutnya bersifat sukarela, hasilnya harus diterima sebagai suatu hal yang adil. Silogisme ini menganggap enteng kritik kaum kiri dalam hal bahwa dasar keberatannya sama sekali bukanlah kondisi awal yang tidak adil, namun lebih pada ketidaksetaraan yang ditimbulkan oleh pasar.

    Namun bagi Nozick, perpajakan sama seperti ”kerja paksa” kalau keadilan kondisi awal sudah ditetapkan. Berdasarkan konsep ”historis” tentang keadilan, redistribusi untuk mencapai sejumlah pola distribusi tertentu atau ”keadaan akhir” tidak akan pernah bisa dibenarkan. Satu-satunya situasi di mana negara mempunyai hak untuk mengambil dari Peter dan memberikannya pada Paul adalah dalam pemberian kompensasi ganti rugi untuk membayar ketidakadilan di masa lalu.46

                                                                                                                                        ( hlm. 135 )

    Contoh-contoh tersebut dan lusinan contoh lainnya yang dapat disebutkan menegaskan fakta, jika kita cukup jauh menengok ke belakang, Anda hampir selalu bisa mendapati keluhan absah sebuah kelompok yang terpinggirkan atau yang terampas hak-haknya. Ini merupakan efek samping dari kenyataan bahwa saat ini pembagian dunia menjadi negara-negara bangsa sebagian besar nerupakan hasil peperangan, perang saudara, dan revolusi, yang menimbulkan dampak yang hebat pada pembagian dan pembagian ulang aset-aset berbagai generasi. Ini salah satu alasan mengapa tantangan sigolistik dari Nozick, ”Anda tentukan kondisi awal yang adil,” harus ditanggapi  sebagai sebuah jebakan polemik.

                                                                                                                                        ( hlm. 136 )

    Di manapun Anda berhenti, sejumlah kelompok akan mengklaim bahwa Anda belum cukup banyak mundur ke belakang.

    Nozick dan Marx berasal dari dua spektrum ideologis yang saling bertentangan, namun mereka menghadapi kesulitan serupa berkaitan dengan konsep ”historis” tentang bagian hak-hak yang absah. Keduanya menganut varian sekuler ideal kekaryaan ideal dari Locke yang menjadikan kepemilikan diri sebagai sesuatu yang suci. Bagi Marx, ini menimbulkan kesulitan-kesulitan yang berasal dari kegagalan sebuah teori eksploitasi yang memadukan kepemilikan diri dengan apa yang ingin ia katakan tentang eksploitasi.

                                                                                                                                        ( hlm. 137 )

    5.3.1 Paham tentang Sumberdaya dan Barang-barang Primer

    Alasannya begini: apa pun pandangan Anda tentang hidup yang baik, Anda akan cenderung untuk menginginkan lebih banyak kebebasan politik dan sipil, kesempatan, pendapatan dan kekayaan, dan dasar-dasar sosial untuk penghargaan diri.

    Tanpa memperdebatkan klaim asketis tersebut, para pendukung Rawls akan bertanya: Apakah Anda lebih suka menjadi seorang non-asketis dalam sebuah dunia di mana pengingkaran terhadap penghasilan dan kekayaan yang tidak perlu merupakan prinsip utama, atau menjadi seorang asketis dalam dunia di mana orang secara umum menginginkan lebih banyak pendapatan dan kekayaan?

                                                                                                                                        ( hlm. 139 )

    Perhatian utama Rawls dalam  A Theory of Justice dicurahkan pada pengembangan dan eksplorasi dampak-dampak prinsip yang sesuai bagi distribusi barang-barang primer yang berbeda. Oleh karena itu kebebasan didistribusikan sesuai dengan prinsip: “setiap orang akan mempunyai ha setara terhadap sistem total kebebasan yang paling luas yang sesuai dengan sistem kebebasan bagi semuanya yang serupa.”53

    Dengan menganggap bahwa mereka akan selalu menjadi kelompok yang tidak diuntungkan karena pengingkaran kesetaraan akses terhadap kemajuan, mereka akan menganut prinsip kesetaraan dalam kesempatan. Seperti dinyatakan Rawls: ”ketidaksetaraan sosial dan ekonomi harus diatur sedemikian rupa sehingga mereka (a) memberikan manfaat yang paling besar bagi yang paling tidak diuntungkan… dan (b) melekat pada pekerjaan dan posisi-posisi yang terbuka pada semua orang dengan syarat adanya kesetaraan dalam kesempatan yang adil.”54

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 140 )

    Prinsip Rawls yang paling banyak dibahas dalam hal distribusi penghasilan dan kekayaan adalah apa yang disebut difference principle, meskipun pada kenyataannya ia mengangkat lagi prinsip yang lebih lama ekonomi kesejahteraan yang disebut maximin, kependekan dari ”memaksimalkan bagian minimum.”

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 141 )

    Ini menggambarkan gagasan bahwa dibalik selubung ketidaktahuan seseorang tidak tahu apakah orang lain akan menjadi A atau B, sehingga pilihan logisnya adalah untuk memilih f dibandingkan x, jika pilihan-pilihan tersebut yang tersedia, sehingga memungkinkan suatu paket barang-barang primer yang lebih besar bagi siapa pun yang nantinya jadi orang yang paling tidak diuntungkan.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 142 )

    Saya juga mengkritiknya beberapa waktu yang lalu karena agnotismenya yang nampak antara kapitalisme dan sosialisme dalam A Theory of Justice.56 Namun Rawls mempunyai tanggapan ganda. Pertama, yang menjadi perhatiannya adalah prinsip-prinsip fundamental – kita mungkin akan menganggapnya sebagai hambatan-hambatan konstitusional yang sudah mendarah daging – yang menguasai pembuatan kebijakan ekonomi dalam masyarakat.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 144 )

    Kedua, Rawls mungkin menanggapi bahwa pilihan-pilihan di antara berbagai gabungan institusi pasar dan non-pasar merupakan permasalahan ekonomi politik, bukan filsafat politik.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 145 )

    5.3.4 Komitmen dan Prioritas Plural

    Sebagai contoh, dalam aturan bahwa setiap orang berhak untuk menggunakan tanah bersama, Locke menetapkan persyaratan (proviso) kedua bahwa harus ada tanah bersama yang ”cukup dan sama bagusnya” yang tersisa untuk orang lain.57

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 146 )

    5.4 Batasan Kontrak Hipotesis

    Apa manfaat perlindungan kebebasan berbicara bagi seseorang yang di ambang kelaparan?60

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 147 )

    Setiap teori politik didasarkan pada asumsi tentang psikologi manusia dan hubungan sebab akibat yang melandasi bagaimana bagaimana dunia, dan jelas bahwa asumsi-asumsi tersebut banyak berperan dalam argumen kontroversial tentang kontrak sosial yang hipotesis. Bahkan jika kita membatasi perhatian kita pada tradisi neo-Kantian, di mana para pemilih pada situasi awal diasumsikan memberi tekanan kuat pada otonomi individu, ada sejumlah teori membingungkan yang didasarkan pada asumsi tersebut. Robert Paul Wolff menyimpulkan bahwa orang akan memilih anarki, menurut Nozick negara minimal, utilitarianisme bagi Harsanyai, hierarki aturan keputusan yang tergantung pada pentingnya permasalahan menurut Buchanan dan Tullock, asuransi sosial dan kesehatan yang memadai bagi Ronald Dowkin, dan bagi Rawls orang akan memilih sebuah rezim yang ditetapkan pada kondisi masyarakat yang berada di bawah, seperti yang sudah kita lihat. Apa yang mendorong perbedaan-perbedaan tersebut bukanlah metode kontraktual atau komitmen terhadap otonomi individu yang mereka sepakati bersama, namun asumsi-asumsi mereka yang berbeda mengenai psikologi manusia dan sebab akibat bagaimana dunia sosial berjalan.63

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 149 )

    5.5 Membahas Kembali Sifat Moral yang Semena-mena

    Soal pertama berasal dari apa yang dikemukakan AmartyaSen: jika kita memang ingin dengan adil mendistribusikan apa yang mampu dihasilkan oleh orang-orang dengan kemampuan yang berbeda-beda, maka kita bisa menggunakan barang-barang primer Rawlsian sebagai ukuran; kita perlu memertimbangkan bagaimana orang-orang menggunakan kapsitas dan sumberdaya yang berbeda-beda sebagai landasannya. Ketika memikirkan, misalnya, keadilan dalam pembagian makanan, Sen berpendapat bahwa kita tidak perlu harus memikirkan berapa banyak makanan yang dimiliki seseorang atau berapa banyak manfaat yang diperoleh orang karena memakan makanan itu, namun lebih pada seberapa banyak makanan itu memenuhi gizinya.66

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 152 )

    Politik Anti Pencerahan

    Setiap arus menimbulkan arus balik, dan akan mengherankan kalau tidak muncul perlawanan kuat terhadap aliran-aliran politik Pencerahan.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 161 )

    6.1 Pandangan ala Burke

    Filsuf besar yang menentang Pencerahan adalah Edmund Burke (1729-1797) dari Irlandia.

    Bagi Burke, upaya menyempurnakan manusia pasti gagal, mungkin dengan cara mengerikan.

                                                                                                                                                                                    (hlm. 162 )

    Ia beranggapan bahwa kondisi manusia sudah keruh secara inheren, dan tidak pernah ragu bahwa kejelasan dan kejernihan dalam pemahaman yang dicari oleh para pemikir rasionalis dan neoklasik di zamannya hanya ada dalam imajinasi.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 163 )

    6.2 Menentang Ilmu Pengetahuan Pencerahan

    Apakah antimodern atau postmodern, kiri atau kanan, para pemikir ini mempunyai antipati mendalam yang sama dengan Burke terhadap arogansi Pencerahan.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 165 )

    6.3 Menolak Pencerahan Awal atau Akhir?

    Rorty dan para postmodernis bergerak terlalu cepat dari kritik tajam terhadap obsesi Pencerahan awal pada kepastian mendasar ke penolakan menyeluruh terhadap gagasan bahwa ilmu pengetahuan lebih dapat diandalkan dalam upaya memperoleh kebenaran ketimbang opini, konvensi, takhayul, atau tradisi. Di bawah bawah pengaruh kuat tulisan-tulisan akhir Ludwid Wittgenstein, Rorty menganut gagasan Wittgenstein bahwa kebenaran tidak lain adalah kepatuhan terhadap aturan-aturan permainan bahasa – norma-norma dan konvensi-konvensi yang telah kita terima.9 Jadi Rorty mengartikan kebenaran dalam kaitannya dengan konsensus sosial dan ”solidaritas”, sementara rasionalitas dilihat sebagai ”keadaban” – sebagai hasil kesepakatan lewat percakapan tidak resmi.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 166 )

    6.4 Keberatan Lain terhadap Kemungkinan Ilmu Pengetahuan Sosial

    Namun banyak orang yang tidak menganut postmodernisme juga skeptis, sains dapat diharapkan memberi pengetahuan yang signifikan tentang politik. Ada bermacam-macam keberatan di sini. Sebagian orang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan sosial tidak mungkin karena, tidak seperti ilmu alam, obyek studinya sebagian besar adalah suatu artefak tentang bahasa manusia.18 Misalnya J.L. Austin, seorang filsuf Oxford di pertengahan abad duapuluh, melihat bahwa bahasa memperlihatkan apa yang disebut dimensi performatif, sehingga mengatakan suatu sebenarnya menciptakan realitas sosial itu sendiri. Ketika seorang pegawai yang berwenang menyatakan, “Dengan ini saya nyatakan Anda behasil menjadi suami istri” dalam situasi yang tepat, misalnya, ia menciptakan sebuah fakta sosial baru. Pengamatan serupa dapat dilakukan terhadap tindakan-tindakan lain seperti misalnya berjanji, memberi gelar, dan banyak aktivitas lain di mana berkata berarti berbuat.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 171 )

    Ilmu politik memang belum memghasilkan teori-teori prediktif yang mengesankan, namun ada berbagai sumbangannya pada pengetahuan kita tentang politik, sebagian dengan meningkatkan pemahaman deskriptif kita tentang dunia politik. Sebagian dengan membongkar stereotipe dan teori-teori yang buruk, dan sebagian lainnya dengan menunjukan fenomena politik mana yang memerlukan penjelasan umum dan yang tidak.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 176 )

    Tocqueville berpendapat bahwa demokrasi adalah produk tradisi-tradisi egalitarian.31 Seymour Martin Lipset menanggapnya sebagai produk sampingan modernisasi.32 Barrington Moore melihat munculnya kaum borjuis sebagai hal yang penting, sementara Evelyne Huber, Dietrich Rueschemeyer dan John Stephens berpandangan bahwa yang sangat penting adalah kehadiran kelas pekerja yang terorganisir.33

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 177 )

    Demokrasi nampak tidak pernah mati di negara-negara kaya, sementara demokrasi di negara-negara miskin sangat lemah, dan akan semakin lemah ketika pendapatan tahunan per kapita jatuh di bawah $2000 (dollar tahun 1975). Jika pendapatan per kapita tahunan jatuh di bawah amabang batas ini, demokrasi mempunyai kemungkinan satu di antara sepuluh untuk runtuh dalam jangka waktu satu tahun. Untuk pendapatan per kapita tahunan antara $2001 dan $5000, rasio ini menjadi satu di antara enambelas. Demokrasi di negara dengan pendapatan per kapita tahunan di atas $6055, begitu terbentuk, nampak bertahan lama untuk jangka waktu tertentu. Terlebih lagi, demokrasi yang lemah akan cenderung mampu bertahan jika pemerintah berhasil meningkatkan pembangunan dan menghindari krisis ekonomi.38

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 179 )

    ”Jika tidak ada sesuatupun yang benar, maka segala hal diperbolehkan” adalah versi sekuler Nietzsche tentang kekhawatiran Ivan Karamazov.42

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 181 )

    6.5 Meletakkan Hak-Hak di Bawah Komunitas

    “Aku percaya pada keadilan, namun aku akan membela ibuku di depan keadilan,” tulis Camus, sebuah proposisi yang dianut dan dipadukan oleh Walzer dengan menolak dan menganggap semua konsep keadilan yang tidak menyisakan ruang bagi cinta sebagai konsep yang tidak bisa diterima.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 184 )

    6.6 Kesulitan dengan Apa yang Terberi secara Kreatif

    Sebelum disahkannya Undang-Undang Property Perempuan yang Menikah (Married Women’s Property Acts) pada paruhan akhir abad ke sembilan belas, perempuan kehilangan hak atas harta bawaan mereka yang saat menikah menjadi milik sang suami – bagian dari luruhnya identitas legal mereka selama perkawinan yang berakar pada pandangan hukum yang membuat isteri menjadi milik suami.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 189 )

    Sosiolog politik Benedict Anderson menyatakan tidak perlu demikian. Ia membedakan patriotisme dengan nasionalisme berdasarkan alasan bahwa patriotisme tidak mengandung kebencian terhadap orang asing yang sering menyertai nasionalisme. Kita dapat menjadi patriot dalam mengidentifikasi diri dengan negara kita dan menganggap itu yang terbaik tanpa terganggu oleh pikiran bahwa orang lain bisa merasakan hal yang sama dalam kaitannya dengan negara mereka sendiri.62

                                                                                                                                                                                    (hlm. 193 )

    Orang bisa berimajinasi mempertahankan saikap tersebut dengan alasan yang diambil dari Rawl dari Kant, bahwa sebuah standar tunggal yang berlaku di seluruh dunia memerlukan pemerintahan dunia untuk menegakkannya, dan bahwa hal itu, pada gilirannya, akan menghasilkan bentuk tirani yang lebih buruk ketimbang tirani yang ingin dilenyapkan.72

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 199 )

    Demokrasi

    7.1 Demokrasi dan Kebenaran

    Tradisi demokrasi lebih tua dari tradisi-tradisi lain yang telah saya bahas, karena berakar pada negara-negara kota di Yunani kuno, yang paling terkenal adalah Athena.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 205 )

    7.1.1 Kritik Plato

    Bahkan Mill, tokoh egalitarian progesif di zamannya, mengkhawatirkan kemungkinan tersebut; itu salah satu alasan ia lebih menyukai pemungutan suara kedua bagi para lulusan universitas.4

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 206 )

    Pertengkaran tak pelu di antara para politisi dan fraksi-fraksi orang kaya yang bersaing membawa masyarakat ke dalam spiral korupsi dan saling curiga, hingga membuka jalan bagi pemimpin yang populer untuk mengambil alih kekuasaan. Namun ia segera menjadi seorang tiran. Dengan memanfaatkan kelemahan masyarakat untuk memperkuat kekuasaannya, ia mengubah rakyat menjadi budak.8

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 208 )

    Bagi Plato, pengetahuan adalah kebaikan terbesar, dan jika sebuah rezim dapat didasarkan pada kebenaran, ia akan menjadi rezim terbaik. Namun demikian, demokrasi tidak tergantung pada pencarian kebenaran. Seperti sudah kita lihat, Plato menganggap prinsip konstitutif demokrasi adalah untuk menyenangkan massa yang umumnya tidak bisa mengenali kebenaran dan memusuhinya ketika bertentangan dengan prasangka mereka sendiri.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 209 )

    Hanya para filsuf yang mempunyai pengetahuan, dan mencintai kebaikan yang merupakan “akhir dari semua upaya.”10 The Republic banyak menggambarkan disiplin tatanan hierarkis yang diperlukan untuk menciptakan masyarakat yang adil. Sebagian karena alasan kekaguman Plato pada Sparta, tatanan itu mencakup kendali sentralistik terhadap semua aspek kehidupan sosial, mulai dari reproduksi, memelihara anak, hingga organisasi ekonomi, dan yang paling penting suatu sistem pendidikan tertentu yang dirancang guna menemukan dan melatih mereka yang memiliki kemampuan untuk berkuasa sebagai raja-filsuf. Ini termasuk pendidikan umum sampai umur delapan belas tahun, diikuti dua tahun pelatihan fisik dan militer yang berat, dan satu dekade pelatihan disiplin matematika bagi mereka yang mempunyai kemampuan memadai. Pada umur tiga puluh, mereka yang mampu akan dididik selama lima tahun dalam seni retorika yang punya potensi berbahaya itu, selanjutnya magang dalam jabatan tertentu sampai usia lima puluh. Mereka yang berhasi lolos akan menjadi raja filsuf yang andal, membagi waktu antara aktivitas filsafat yang mereka pilih dan memerintah masyarakat – yang akan mereka anggap sebagai kewajiban.11

    Sejumlah komentator, yang paling terkenal adalah Karl Popper dalam The Open Society and Its Enemies, menyerang gagasan tersebut sebagai resep bagi totalitarianisme.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 210 )

    Hanya para filsuf yang mempunyai apa yang diperlukan untuk keluar dari gua menuju cahaya matahari. Sebaliknya, Pencerahan meyakini kemampuan nalar bagi semua orang.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 212 )

    7.1.2 Kompetisi Demokrasi sebagai Sekutu Kebenaran

    Dibandingkan alternatif yang ada, demokrasi lebih baik karena melembagakan mekanisme-mekanisme seperti itu, memberikan insentif pada para calon politikus untuk menerangi pojok-pojok yang gelap dan mengungkapkan kegagalan serta kepura-puraan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu demokrasi merupakan penyeimbang penting bagi monopoli kekuasaan yang dengan sangat mudah terjebak dalam kepentingan untuk mempertahankan keberadaannya.

    Namun kompetisi kekuasaan tidak dapat dinafikan.30 Itulah alasannya mengapa para pendukung Schumpeter di zaman ini, seperti Samuel Huntington, menekankan bahwa untuk bisa disebut negara demokratis, pemerintahannya harus pernah mengalami dua kali kehilangan kekuasaan dalam pemilihan-pemilihan umum – sebuah ujian berat yang tak pelak menyingkirkan Amerika Serikat hingga 1840, Jepang dan India hampir sepanjang abad ke-20, dan hampir semua dari apa yang disebut demokrasi gelombang ketiga yang muncul di negara-negara eks-komunis dan negara-negara sub-Sahara Afrika sejak tahun 1980-an.31

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 216 )

    Salah satu alasan mengapa Mill memandang argumentasi begitu penting dalam kehidupan publik adalah karena ia membuka kemungkinan bagi mereka yang tidak setuju untuk mengungkapkan kesepakatan yang salah arah dan prasangka-prasangka ortodoks lainnya. Ketika argumentasi berjalan baik, demokrasi yang komptetitif mendorong debat sengit yang sedang berlangsung di mana mereka yang mencari kekuasaan di paksa untuk menjustifikasikan klaim mereka pada publik, sementara pada saat bersamaan diselidiki oleh lawannya yang terdorong meyakinkan publik atas kekurangan pandangan lawan mereka dan keuntungan mempunyai pandangan yang lain.38

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 219 )

    Dalam upaya kumulatif dan eksperimentalnya untuk menghapuskan batas-batas ketidaktahuan, demokrasi merupakan sekutu yang paling dapat diandilkan bagi kebenaran. Sikap demokratis dan ilmiah saling memperkuat karena keduanya memerlukan debat publik. Menurut Dewey, dalam Individuality in Our Day, setiap gagasan dan teori baru harus diberikan pada ilmiah untuk dievaluasi secara kritis.

    Metode eksperimental berbeda dari peluit aba-aba, celaan, dan dukungan. Ia merupakan musuh bagi setiap pandangan yang membolehkan kebiasaan mendominasi penciptaan dan penemuan, dan memungkinkan sistem yang ada menggantikan fakta yang bisa diverifikasi. Perbaikan terus-menerus merupakan hasil karya telaah eksperimental. Dengan memperbaiki pengetahuan dan gagasan, kita mendapatkan kekuatan untuk melakukan perubahan. Begitu ia merasuk ke dalam pikiran individu, sikap tersebut akan menemukan salurannya pelaksanaannya sendiri. Jika dogma dan institusi gemetar ketika sebuah gagasan baru muncul, ini belum sebanding dengan apa yang terjadi jika gagasan baru itu dilengkapi dengan alat-alat menemukan kebenaran baru yang kontinu dan mengkritik keyakinan lama. ”Tunduk” pada ilmu pengetahuan hanya berbahaya bagi mereka yang mempertahankan perkara-perkara dalam tatanan sosial yang tidak berubah karena kemalasan atau kepentingan diri sendiri. Karena sikap ilmiah menuntut kesetiaan terhadap apa pun yang ditemukan dan keteguhan untuk mematuhi kebenaran baru.42

                                                                                                                                                                                                                                                                            ( hlm. 220 )

    ”Masa depan demokrasi diiringi oleh penyebaran sikap ilmiah.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 221 )

    7.2 Demokrasi dan Hak

    7.2.1 Dugaan Ketidakrasionalan Demokrasi

    Mengembangkan wawasan lama dari Marquis de Condorcet (1743-1794), Kenneth Arrow menunjukan, berdasarkan sejumlah asumsi yang sangat lemah, pemerintahan mayoritas dapat membawa pada hasil-hasil yang ditentang pleh mayoritas penduduk.

    Ketakutan akan tirani oleh mayoritas faksi yang ada membuat Madison dan kaum Federalis membuat sistem politik yang terdiri dari berbagai veto untuk mempersulit tindakan politis mayoritas. Hal itu mencakup pemisahan kekuasaan di mana ”ambisi akan dibuat untuk meredam ambisi,”49 termasuk sebuah pengadilan independen yang mempunyai kekuasaan untuk menyatakan bahwa satu perundangan tidak konstitusional, dan seorang Presiden yang pemilihannya, dan karena itu legitimasinya juga, tidak terkait dengan badan pembuat undang-undang; sistem dua kamar (bikameralisme) yang kuat di mana perundangan harus melewati kedua dewan dan di mana dua pertiga mayoritas di dua dewan tersebut dapat membatalkan kekuasaan veto Presiden; serta sebuah sistem federal di mana ada ketegangan jurisdiksin terus menerus antara pemrintah federal dan negara bagian.

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 223 )

    Kemungkinan adanya siklus memberikan insentif kepada mereka yang kalah dalam pemilihan untuk tetap berkomitmen pada sistem yang diharapkan tetap ada di masa mendatang, namun kenyataan siklus itu sesungguhnya jarang terjadi berarti bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah tidak selalu dapat diubah.60             

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 228 )

    7.2.2 Tirani Mayoritas?

    Dengan gaya pemikiran yang nantinya terkenal karena Rawls, mereka bertanya: Aturan pengambilan keputusan apa yang akan dipilih dalam kesepakatan konstitusional oleh warga negara biasa ketika setiap orang tidak yakin ”apa perannya yang tepat dalam mata rantai pilihan kolektif apa pun yang nantinya harus mereka pilih.”

                                                                                                                                                                                    ( hlm. 229 )

    Negara-negara di mana ada kebebasan berpendapat dan berserikat secara berarti, penghargaan hak-hak milik dan pribadi, pelarangan atas penyiksaan , dan jaminan kesetaraan di mata hukum adalah negara-negara yang mempunyai sistem politik yang demokratis.72

                                                                                                                                        ( hlm. 233 )

    7.2.2 Hak-Hak Siapa?

    Prinsip kepentingan yang terkena dampak (principle of affected interest) menunjukkan, idealnya struktur aturan pengambilan keputusan harus mengikuti kontur hubungan kekuasaan, bukan didasarkan pada keanggotaan atau kewarganegaraan: jika Anda terkena dampak dari hasilnya, Anda mempunyai hak untuk mengatakan sesuatu.

                                                                                                                                        ( hlm. 235 )

    Bagaimanapun institusi-institusi politik global akan menghadapi kesulitan-kesulitan besar dalam hal efisiensi dn legitimasi, sehingga menimbulkan pertanyaan serius tentang daya tarik mereka.86

                                                                                                                                        ( hlm. 237 )

    Cukup dicatat di sini, dari perspektif demokrasi tujuannya adalah mengubah pengambilan keputusan sehingga lebih bisa menjadi perwujudan partisipasi dari mereka yang kepentingannya terkena dampak keputusan yang sudah diambil, dengan asumsi melibatkan mereka yang kepentingan dasarnya paling dipertaruhkan.

                                                                                                                                        ( hlm. 238 )

    Bisa jadi mekanisme itu tidak sempurna, namun seyogianya dinilai merujuk pada mekanisme pengambilan keputusan kolektif lain yang tidak sempurna yang ada dalam dunia ini, bukan membandingkannya dengan ideal yang tidak ada di mana-mana.

                                                                                                                                        ( hlm. 239 )

    Demokrasi pada Masa Pencerahan Akhir

    Alih-alih menengahi klaim-klaim yang bertentangan, dengan berusaha mencari serangkaian titik temu keyakinan-keyakinan (termasuk titik temu dalam kesalahan) yang sering kali licin dan berubah-ubah, pendekatan demokratis memasukan pengakuan pentingnya kebenaran sebagai ideal regulatif dalam debat publik, dan melembagakan cara-cara agar kebenaran diperhitungkan dalam perdebatan berbagai posisi politik yang bertentangan.

                                                                                                                                        ( hlm. 243 )

    Tradisi demokrasi juga berjalan cukup baik ketika dibandingkan dengan tradisi intelektual lainnya yang dibahas dalam buku ini. Seperti yang kita lihat, utilitarianisme klasik tidak memberi perhatian pada hak-hak individu, sehingga membuat pandangan ini rentan terhadap kritik Rawls bahwa ia gagal untuk menganggap serius perbedaan antar pribadi.

                                                                                                                                        ( hlm 244 )

    Catatan Akhir

    4. Jeremy Bentham, Anarchical Fallacies, dicetak ulang dalam The Work of Jeremy Bentham, diterbitkan dalam pengawasan pelaksana surat wasiatnya, John Bowring (Edinburgh: William Tait, 1843), Vol. 2, hal. 501.

                                                                                                                                        ( hlm. 252 )

    Puncak tahun-tahun pajak di Amerika Serikat terjadi tahun 1944-1945, dimana tarif pajak tertinggi bisa mencapai 94 persen pendapatan kotor mereka yang telah disesuaikan.

                                                                                                                                        ( hlm. 255 )

    65. Lihat keputusan kasus O’Brien v. O’Brien 66 NY 2d 576 (1985) oleh Mahkamah Agung dalam Second Judicial Department New York yang menerima bahwa izin praktik dokter sang suami adalah hak milik dalam perkawinan, dengan alasan bahwa “kontribusi pasangan bagi profesi atau karir pasangannya… mencerminkan investasi kemitraan ekonomi dalam perkawinan dan merupakan hasil ‘upaya bersama’ … ” Oleh karenanya, meskipun New York bukanlah sebuah negara bagian yang menerapkan community property, sang istri yang diceraikan harus diberi 40% dari perkiraan nilai izin mantan suaminya selama sebelas tahun, dan sang suami diperintahkan untuk mengambil asuransi jiwa untuk membayar sisanya, dengan mantan istrinya sebagai ahli warisnya.

                                                                                                                                        ( hlm. 265 )

    37. Menurut aturan efisiensi Learned Hands dalam kasus ganti rugi yang terkenal itu, seseorang harus bertanggungjawab atas kerusakan/kerugian yang dilakukannya terhadap orang lain hanya jika biaya untuk mencegah timbulnya kerugian lebih sedikit dibandingkan biaya kerugian dikalikan probabilitas kejadian tersebut. Kalau kriteria tersebut tidak dipenuhi, kerugian jatuh sesuai dengan tempatnya. Lihat U.S.v.Carrol TowingCo.(1947).

                                                                                                                                        ( hlm. 268 )

    40. Jean-Francois Lyotard, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (Minneapolis : University of Minnesota Press, 1988) hal.41.

                                                                                                                                        ( hlm. 278 )

    52. Harus diingat bahwa kritik Sandel tidak tepat sasaran, karena jika Anda menanyakan diri sendiri kebijakan preferensi ras mana yang Anda pilih seAndainya Anda tidak tahu apakah Anda akan lahir sebagai orang berkulit hitam atau putih tidak mewajibkan Anda membayangkan umat manusia tanpa warna kulit, seperti yang tersirat dalam rujukannya kepada wilayah noumenal Kant.

                                                                                                                                        ( hlm 279 )

    17. Namun pembahasannya merupakan yang pertama dari banyak pembahasan tentang kondisi stabilitas rezim dan cara-cara rezim-rezim politik berkembang menjadi yang lainnya. Topik ini dibahas dengan lebih rinci dalam Politics karya Aristoteles dan dikembangkan menjadi klasifikasi enam jenis tipe rezim, lalu dijadikan hukum sejarah oleh Polybius, filsuf Stoik yang diasingkan dari Yunani pada abad kedua SM sebagai teori siklus konstitusi. Siklus itu dianggap berkembang dari monarki menjadi tirani, aristokrasi, oligarki, demokrasi, dan kemudian oklorasi (aturan kerumunan atau anarki)

                                                                                                                                        ( hlm. 283 )

    67. Ini pasti tidak hanya berlaku jika jual beli suara diizinkan. Dengan asumsi tersebut, dan dengan menganggap juga bahwa tidak ada biaya-biaya pengambilan keputusan, tidak ada aturan pengambilan keputusan yang optimal bagi alasan yang sama seperti yang ditunjukan Coase bahwa, dengan tidak adanya biaya informasi, dampak kekayaan, efek-efek eksternal dan hambatan-hambatan lain terhadap pertukaran, seperti misalnya mereka yang menumpang bebas (free riding), tidak ada aturan ganti rugi yang lebih efisien dari yang lain.

                                                                                                                                        ( hlm. 288 )

    73. Sosiolog T.H.Marshall dikenal membedakan tiga jenis hak-hak yang semakin komprehensif: hak-hak sipil yang mencakup “hak-hak yang diperlukan untuk kebebasan individu – kemerdekaan seseorang, kebebasan berbicara, berpendapat, berkeyakinan, hak untuk memiliki properti dan melakukan kontrak yang sah, dan hak atas keadilan (hak untuk memperjuangkan dan membela hak-hak seseorang).” Hak-hak politis mencakup “hak untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan kekuasaan politik, sebagai anggota badan yang mempunyai kewenangan politik atau sebagai pemilih anggota-anggota badan seperti itu.” Dan hak-hak sosial yang, menurut Marshall, merupakan “seluruh cakupan dari hak untuk mendapatkan kesejahteraan ekonomi dan keamanan yang cukup hingga hak untuk mendapatkan bagian dalam warisan sosial penuh dan untuk hidup bermartabat sesuai dengan standar yang berlaku di masyarakat.”

                                                                                                                                        ( hlm. 289 )

     

     

    Mengapa Negara Gagal

    Daron Acemoglu dan James Robinson

    Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Mengapa Negara Gagal oleh Daron Acemoglu dan James A. Robinson

    Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

    Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

    Selamat membaca.

    Chandra Natadipurba

    ===

    Mengapa Negara Gagal

    AWAL MULA KEKUASAAN, KEMAKMURAN, DAN KEMISKINAN

    Daron Acemoglu dan James A. Robinson

    MENGAPA NEGARA GAGAL
    Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran, dan Kemiskinan
    Penulis: Daron Acemoglu dan James A. Robinson
    Alih Bahasa: Arif Subiyanto
    Penyunting Bahasa Indonesia: Dharma Adhivijaya
    ©2014 Daron Acemoglu dan James A. Robinson
    Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang
    Diterbitkan pertama kali oleh
    Penerbit PT Elex Media Komputindo
    Kompas Gramedia–Jakarta
    Anggota IKAPI, Jakarta

    234140576
    ISBN: 978-602-02-3487-8

    Manajemen
    Cetakan pertama: Maret 2014
    Cetakan kedua: Januari

    Dicetak oleh PT Gramedia, Jakarta
    Isi di luar tanggung jawab percetakan


    Mengapa Negara-Negara Gagal
    Dia paparkan data dan argumentasi bahwa sekarang tengah berlangsung proses konvergensi antar berbagai bangsa dan negara, sebagai titik balik dari ketimpangan dan proses divergen yang tercabik-cabik oleh perang dunia. Akselerasi di bidang pendidikan dan penyebaran teknologi modern telah memungkinkan berbagai bangsa saling mendekat, berbagai dan bekerja sama untuk menata dunia baru yang dimiliki dan dijaga bersama.
    (hlm.xvi)
    Dalam buku ini, keduanya memaparkan dengan cukup berani bahwa institusi politik-ekonomi suatu negaralah yang menjadi penentu. Negara yang institusi politik-ekonomi bersifat inklusif, cenderung berpotensi untuk menjadi negara kaya. Sementara itu, negara yang institusi politik-ekonominya bersifat ekstraktif, cenderung tinggal menunggu waktu saja untuk terseret ke dalam jurang kemiskinan, instabilitas politik, dan mengarah menjadi negara gagal.

    Prakata
    Ketidakpuasan rakyat di negara-negara tersebut berakar pada masalah kemiskinan. Rata-rata pendapatan per kapita rakyat Mesir hanya berkisar 12 persen dari angka pendapatan rata-rata warga negara Amerika Serikat, dan harapan hidup mereka sepuluh tahun lebih rendah; 20 persen populasi rakyat Mesir berkubang dalam kemiskinan yang akut.
    (hlm.xx)
    Isu-isu seperti peningkatan upah minimum dianggap sebagai tuntutan transisional yang bisa diterapkan di kemudian hari.
    (hlm.xxi)
    Semua kendala ekonomi yang memasung kemajuan mereka berpangkal pada fakta bahwa kekuasaan politik di sana dimonopoli dan dicengkeram oleh sekelompok kecil kaum elite.
    Menurut mereka, bangsa Mesir tidak memiliki etos dan budaya kerja yang ideal untuk mencapai kemakmuran; mayoritas orang Mesir justru memegang teguh keyakinan dan ajaran Islam yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip kesuksesan ekonomi.
    (hlm.xxii)
    Negara-negara seperti Inggris dan Amerika Serikat menjadi makmur dan kaya karena rakyatnya bangkit menggulingkan kelompok elite yang menggenggam kekuasaan, lalu menciptakan sebuah masyarakat berkeadilan dengan hak-hak politik yang merata bagi segenap warga, pemerintahnya akuntabel dan responsif terhadap aspirasi warga, dan segenap anak bangsa bisa memanfaatkan setiap peluang ekonomi yang ada.
    Revolusi Industri Inggris berikut kemajuan teknologi di negara itu tidak terasa imbasnya di Mesir, sebab negara itu berada dalam cengkeraman Kekaisaran Ottoman yang cara memperlakukan rakyatnya tak jauh berbeda dengan apa yang diperbuat oleh keluarga besar Hosni Mubarak pada zamannya.

    1. BEGITU DEKAT NAMUN SUNGGUH BERBEDA
      (hlm.2)
      Bagaimana bisa dua wilayah dari satu kota yang sama bisa begitu jauh berbeda? Kondisi geografis, iklim, dan jenis penyakit prevalen di kota Nogales boleh dibilang sama saja, terlebih karena kuman penyakit bebas hilir mudik melintasi tapal batas antara Amerika Serikat dan Meksiko.
      (hlm.3-4)
      Latar belakang sejarah warga di kedua sisi tapal batas relatif sama.
      Segenap warga Nogales, Arizona, dan Nogales, Sonora, berasal dari nenek moyang yang sama, memiliki budaya kuliner serta musik yang sama pula, dan bisa dibilang mereka memiliki “budaya” yang sama.
      Perbedaan insentif yang diciptakan oleh berbagai lembaga yang menempati masing-masing belahan kota Nogales itulah yang hidup di kedua sisi tapal batas.

    (hlm.6)
    Pemukim-pemukim Spanyol awal dan kaum kolonialis Inggris tidak mau bekerja mengolah tanah yang mereka rebut; mereka paksa orang lain yang melakukannya, dan mereka ingin menjarah harta benda, emas, dan perak milik bangsa yang ditindasnya.

    (hlm.14)
    Lembaga-lembaga seperti encomienda, mita, repartimiento, dan trajin itu tak lebih dari akal-akalan bangsa Spanyol untuk memiskinkan kaum pribumi ke level yang paling melarat sekaligus mengeruk kemakmuran yang tersisa untuk kepentingan mereka sendiri.

    (hlm.15)
    Tapi sayang, sebagai pemain baru bangsa Inggris sudah jauh tertinggal dari Spanyol. Mereka membidik wilayah Amerika Utara bukan karena daerah itu menjanjikan keuntungan, tapi karena memang hanya tempat itulah yang tersisa untuk mereka.

     

    (hlm.16)
    Pada tanggal 14 Mei 1607 mereka membangun pemukiman yang dinamai Jamestown.

    (hlm.17-18)
    Sesungguhnya John Smith adalah orang Inggris pertama yang bertatap muka langsung dengan Wahunsunacock, dan menurut kisah-kisah tentang petualangan John Smith, dalam perjumpaan awal itu dirinya lolos dari maut berkat jasa anak gadis sang raja, yaitu Pocahontas.

    (hlm.19)
    Smith paham betul: kalau koloni itu ingin makmur, maka para kolonis sendiri yang harus bekerja banting tulang.

    (hlm.22-23)
    Virginia Company butuh waktu cukup lama untuk menyadari bahwa model penjajahan ala Spanyol sulit diterapkan di Virginia. Mereka juga butuh waktu yang tidak singkat untuk belajar dari kegagalan menerapkan peraturan ala hukum militer di sana. Mulai tahun 1618, Virginia mereka menerapkan strategi baru yang cukup radikal dan dramatis: karena baik penduduk asli maupun para kolonis tak sudi diperas keringatnya, satu-satunya cara yang masuk akal adalah menghadiahkan insentif kepada para kolonis yang produktif. Pada tahun 1618, Virginia Company mulai memberlakukan sistem yang disebut ‘headright system’: setiap lelaki yang bermukim di wilayah koloni mendapat pembagian tanah seluas lima puluh hektar dengan tambahan ekstra lima puluh hektar lagi untuk tiap anggota keluarga yang mereka bawa, termasuk juga untuk setiap pembantu rumah tangga yang mereka ajak mengadu peruntungan ke bumi Virginia. Para pekerja dari Inggris itu diberi rumah tinggal, dibebaskan dari ikatan kontrak yang mereka teken sebelumnya, dan pada tahun 1619 dibentuk semacam Majelis Umum (General Assembly) yang secara efektif memberi hak suara kepada tiap warga lelaki dewasa dalam penyusunan undang-undang serta lembaga pemerintahan di koloni tersebut. Itulah cikal bakal demokrasi di Amerika Serikat.

    (hlm.25)
    Menjelang tahun 1720-an, ketiga belas koloni Inggris yang kelak berubah status menjadi negara-negara bagian Amerika Serikat telah mengadopsi gaya pemerintahan yang sama. Seluruh koloni itu dipimpin gubernur dan pemerintahannya dikontrol oleh dewan yang keanggotaannya berbasis perwakilan dari para lelaki tuan tanah.

    (hlm.27)
    Ternyata Plan de Iguala itu langsung mendapat dukungan khalayak luas dan Kerajaan Spanyol segera sadar bahwa mereka tak mungkin mencegah arus keniscayaan itu. Namun rupanya Iturbide tidak hanya merancang kemerdekaan Meksiko. Menyadari adanya kekosongan kekuasaan, dia mengambil kesempatan: dengan dukungan penuh militer dia menabalkan dirinya sendiri sebagai kaisar Meksiko, yang oleh Simon Bolivar, pejuang kemerdekaan Amerika Selatan, digambarkan sebagai “kekuasaan yang dirahmati Tuhan dalam naungan bayonet.”

    (hlm.28)
    Konstitusi Amerika Serikat sebenarnya tidak menciptakan demokrasi menurut standar modern.

    (hlm.29)
    Kalau Amerika Serikat hanya mengalami gonjang-ganjing politik sekitar lima tahun saja (1860 s.d. 1865), Meksiko terus-terusan oleng karena prahara politik selama setengah abad pertama kemerdekaannya. Kondisi ini tergambar dengan gamblang lewat perjalanan karier seorang tokoh bernama Antonio Lopez de Santa Ana.
    Dalam kurun waktu antara tahun 1824 hingga 1867, Meksiko diperintah oleh lima puluh dua presiden, namun hanya segelintir dari mereka yang mendapatkan jabatan itu melalui prosedur yang benar-benar konstitusional.

    (hlm.30)
    Selain itu, seperti sudah kita maklumi bersama, motivasi yang melandasi perumusan deklarasi kemerdekaan Meksiko adalah niatan licik untuk memproteksi berbagai lembaga ekonomi yang dibangun selama masa kolonial, yang—menurut penjelajah dan pakar geografis Amerika Latin dan Jerman, Alexander von Humboldt—telah mengubah Meksiko menjadi sebuah negeri yang timpang dan penuh kesenjangan.

    BERINOVASI, MERINTIS USAHA,
    DAN MENDAPATKAN PINJAMAN BANK

    (hlm.31)
    Kita dapat lebih memahami hebatnya prospek ekonomi yang ditawarkan inovasi baru itu dengan melihat siapa saja yang berhasil mendapatkan hak paten. Sistem pemberian hak paten yang melindungi kekayaan intelektual di balik ide-ide baru sudah diatur secara sistematis di dalam Statute of Monopolies yang dikeluarkan oleh Parlemen Inggris pada tahun 1623, yang sebagian merupakan upaya dari parlemen untuk menghentikan kebiasaan raja yang secara gegabah dan serampangan memberikan “surat paten” kepada siapa saja yang disukainya, sehingga orang tersebut praktis mendapatkan hak eksklusif untuk menjalankan aktivitas atau usaha yang terkait dengan hak paten.

    (hlm.32)
    Lagi-lagi para investor Amerika memang bernasib mujur. Selama abad ke-19, terjadi perkembangan pesat di sektor jasa keuangan dan industrialisasi. Kalau pada tahun 1818 hanya ada 338 bank yang beroperasi di Amerika Serikat dengan total aset $160 juta, pada tahun 1914 jumlah sudah meningkat secara fantastis menjadi 27.864 bank dengan nilai total aset sebesar $27,3 miliar.
    Hal itu tidak terjadi di Meksiko. Faktanya, ketika Revolusi Meksiko merebak pada tahun 1910, di negara itu hanya terdapat empat puluh dua bank, dan dua di antaranya mengontrol 60 persen total aset perbankan.

    (hlm.34-35)
    Bankir-bankir Amerika Serikat dihadapkan pada sejumlah institusi ekonomi yang mendorong mereka untuk berkompetisi secara ketat. Dan ini juga dipicu oleh fakta bahwa para anggota legislatif yang menyusun peraturan perbankan juga dihadapkan pada insentif yang berbeda, yang diciptakan oleh lembaga-lembaga politik lainnya.
    Distribusi politik yang merata di Amerika Serikat, terlebih kalau dibandingkan dengan kondisi di Meksiko, menjamin kesetaraan hak untuk mendapatkan pinjaman bank dan dukungan pembiayaan. Praktik ini pada gilirannya dijamin akan mendatangkan berkah besar bagi orang-orang yang punya ide dan temuan hebat.

    PERUBAHAN YANG TIDAK SEARAH
    Tapi kesadaran itu rupanya tidak diimbangi dengan tindakan membubarkan berbagai lembaga kolonial dan menggantinya dengan lembaga seperti yang bisa disaksikan di Amerika Serikat.

    (hlm.36)
    Proses legislasi sangat panjang di Amerika Serikat yang melahirkan berbagai produk hukum mulai dari Hukum/Ordinansi Pertahanan (Land Ordinance) tahun 1785 hingga UU lahan pertanian (Homestead Act) tahun 1862 memberi hak yang luas kepada rakyat untuk mengakses lahan-lahan terbuka itu.

    (hlm.40)
    MENUJU KE TEORI KETIDAKADILAN DUNIA

    (hlm.41)
    Mencari tahu mengapa kesenjangan itu mengemuka dan faktor apa saja yang menjadi musababnya adalah tujuan utama dari buku ini.

    (hlm.42)
    Penyebab mengapa kota Nogales, Arizona, lebih kaya dari Nogales di Sonora sederhana saja: karena dua belahan kota yang dipisahkan oleh garis tapal batas itu memiliki berbagai lembaga sosial yang berbeda dan menghasilkan insentif yang berbeda pula kepada para warganya. Dewasa ini Amerika Serikat lebih kaya daripada Meksiko atau Peru karena lembaga-lembaga politik dan ekonominya memengaruhi insentif yang didapatkan perusahaan, perorangan, dan politisi. Setiap masyarakat bekerja sesuai dengan kaidah serta hukum ekonomi dan politik yang dibuat dan ditegakkan oleh negara maupun rakyatnya secara kolektif.

    (hlm.43)
    Pertama, lembaga-lembaga itu menjamin tidak akan muncul sosok diktator yang merebut kekuasaan dan mengubah aturan main semuanya sendiri, merampas hak-hak dan kekayaan rakyat, menjebloskan mereka ke penjara atau mengancam kehidupan dan nafkah mereka. Di samping itu, lembaga-lembaga tersebut juga memastikan tidak adanya kepentingan atau agenda tertentu di dalam masyarakat yang bisa menelikung pemerintah dan membahayakan stabilitas ekonomi, karena kekuasaan politik dibatasi dan dibagi secara rata dengan rakyat sehingga perangkat lembaga ekonomi yang menciptakan insentif kemakmuran bisa dijaga dan dilestarikan.

    (hlm.46)
    2. TEORI-TEORI YANG TAK TERBUKTI

    (hlm.49)
    Meski pola perimbangan antara negara terkaya dan termiskin itu cenderung konsisten, bukan berarti pola tersebut tidak bisa diubah. Pertama, seperti yang sudah ditegaskan tadi, sebagian besar kesenjangan itu terjadi sejak akhir abad ke-18, sesudah terjadinya Revolusi Industri.

    (hlm.50)
    HIPOTESIS GEOGRAFI

    (hlm.51)
    Sejarah sudah menunjukkan bahwa korelasi sederhana antara iklim atau letak geografis dengan kemakmuran tidak bisa dijadikan landasan teori yang solid. Sebagai contoh, anggapan bahwa negara-negara tropis pasti lebih melarat dari negara-negara di iklim sedang sudah terbukti tidak benar.

    (hlm.53)
    Inggris pada abad ke-19 juga banyak didera wabah penyakit, namun secara bertahap, pemerintah membangun instalasi air bersih, dan sistem pembuangan limbah rumah tangga dan industri.
    Penentu produktivitas lahan pertanian adalah struktur kepemilikan lahan dan insentif yang diberikan pemerintah kepada para petani dan berbagai institusi yang menaungi kehidupan mereka.

    (hlm.57)
    Hipotesis geografi bukan saja gagal menjelaskan asal-usul kemakmuran suatu negara, serta tidak akurat fokusnya, tetapi juga tidak mampu menerangkan kesenjangan distribusi kemakmuran yang kami singgung pada awal bab ini.

    (hlm.59)
    HIPOTESIS KEBUDAYAAN

    Jadi, bisakah hipotesis kebudayaan dipakai untuk memahami fenomena kesenjangan ekonomi dunia? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. “Ya”, dalam pengertian bahwa norma-norma sosial yang berkaitan dengan kebudayaan memang penting dan sulit diubah, dan terkadang juga menjadi penyebab timbulnya perbedaan pada berbagai institusi kemasyarakatan, yang kami gunakan untuk menjelaskan masalah kesenjangan negara-negara di dunia. Akan tetapi, pada umumnya jawabannya adalah “tidak”, karena aspek-aspek kebudayaan yang kerap kali sangat ditonjolkan—agama, etos atau semangat kebangsaan, tata nilai Afrika atau Latin—tidak terlalu penting untuk menjelaskan mengapa kesenjangan antarnegara bisa terjadi dan sulit diatasi.

    (hlm.63)
    Lantas, bagaimana dengan etos kerja Kristen Protestan yang disinggung-singgung oleh Max Weber? Meskipun mungkin benar bahwa Belanda dan Inggris merupakan negara-negara Protestan pertama yang berhasil meraih kesuksesan ekonomi dalam zaman modern, sesungguhnya korelasi antara agama dan kemakmuran sangat tipis.

    (hlm.64)
    Menghubungkan fenomena kemiskinan di Timur Tengah dengan agama Islam jelas sangat sulit dibenarkan.
    Kanada dan Amerika Serikat memang bekas koloni Inggris, tapi bukankah Sierra Leone dan Nigeria juga koloni Inggris?

    (hlm.65)
    Populasi penduduk keturunan Eropa yang tinggal di Argentina dan Uruguay ternyata melampaui total populasi keturunan Eropa di Amerika Serikat dan Kanada, tapi performa ekonomi dari kedua negara Amerika Latin itu sungguh memprihatinkan.

    (hlm.66)
    HIPOTESIS KEBODOHAN

    Teori paling populer terakhir yang menjelaskan penyebab kesenjangan antara negara-negara kaya dan miskin adalah hipotesis kebodohan yang menegaskan bahwa kesenjangan itu ada karena penguasa tidak tahu cara memakmurkan bangsanya yang melarat.

    (hlm.69)
    Yang menjadi penyebab adalah perbedaan tingkat kontrol kelembagaan terhadap para presiden dan kalangan elite di kedua negara itu. Demikian pula para pemimpin negara Afrika yang bercokol di tampuk kekuasaan selama lebih dari lima puluh tahun terakhir dalam iklim pemerintahan yang tidak melindungi hak-hak properti rakyat maupun membina institusi-institusi ekonomi sehingga menjadikan rakyatnya melarat—mereka tidak membiarkan hal itu terjadi karena menganggap langkah itu baik bagi perekonomian; orang-orang itu sengaja melakukannya sebab mereka merasa kebal hukum, bisa sesuka hati memperkaya diri sembari memiskinkan banyak orang, atau karena mereka menganggap itu sebagai siasat politik yang jitu, karena mereka bisa memagari kekuasaan dengan membeli dukungan dari berbagai kelompok atau kalangan elite yang berpengaruh.

    (hlm.70-71)
    Namun, pengalaman Busia justru menegaskan bahwa yang memetahkan kebijakan-kebijakan populis demi mengatasi gagal pasar dan merangsang pertumbuhan ekonomi bukanlah kebodohan para politisi, melainkan faktor insentif dan hambatan yang akan mereka dapatkan dari berbagai institusi politik dan ekonomi di dalam negaranya.
    Reformasi ekonomi China yang menciptakan insentif pasar di sektor pertanian dan perindustrian ini merupakan buah revolusi politik yang dimotori kelompok Deng.

    (hlm.72)
    Terkadang negara bisa membentuk berbagai lembaga politik dan ekonomi yang efisien sehingga berhasil menciptakan kemakmuran, tetapi kasus seperti ini amat jarang terjadi.
    Ini penting, sebab selama ini ilmu ekonomi selalu mengasumsikan bahwa semua masalah politik sudah teratasi, sehingga disiplin yang satu ini selalu gagal menjelaskan perihal kesenjangan kemakmuran di dunia.

    3. PROSES TERJADINYA KEMAKMURAN DAN KEMISKINAN

    (hlm.74-75)
    Korea Selatan dipimpin oleh tokoh antikomunis lulusan Universitas Harvard dan Princeton, Syngman Rhee. Institusi-institusi politik-ekonomi di negara itu juga dibidani oleh Syngman Rhee. Dengan dukungan kuat dari Amerika Serikat, pada tahun 1948 Rhee terpilih kembali menjadi Presiden Korea Selatan. Awalnya, Korea Selatan yang terbentuk di tengah-tengah Perang Korea—dan terus-menerus diancam oleh penyebaran paham komunisme yang berasal dari Utara—itu bukan negara demokratis.

    (hlm.76)
    Tidak adanya kepemilikan lahan atau properti oleh rakyat menyebabkan nihilnya insentif bagi mereka yang ingin berinvestasi atau berusaha keras meningkatkan produktivitas.

    (hlm.77)
    INSTITUSI EKONOMI EKSTRAKTIF DAN INKLUSIF

    (hlm.78-79)
    Institusi-institusi ekonomi inklusif akan menumbuhkembangkan dan meningkatkan kemakmuran. Paling penting dari semua itu adalah jaminan keamanan hak kepemilikan properti oleh swasta atau perorangan, sebab hanya jaminan itu yang akan membuat orang tertarik untuk menanam modal dan mengenjot produktivitas.
    Di samping itu, mereka juga tidak memiliki prospek untuk memanfaatkan talenta atau keterampilan yang dimiliki. Institusi ekonomi yang inklusif mempersyaratkan ketersediaan jaminan kepemilikan aset dan properti serta peluang ekonomi yang merata; bukan hanya bagi kaum elite semata, namun juga bagi seluruh lapisan masyarakat.

    (hlm.80)
    Kami menyebut institusi ekonomi yang wataknya berlawanan dengan institusi inklusif sebagai “institusi ekonomi ekstraktif” disebut demikian sebab lembaga seperti itu dirancang untuk memeras, menyadap, dan mengeruk pendapatan serta kekayaan salah satu lapisan masyarakat demi memperkaya lapisan lainnya.

    (hlm.81)
    MESIN-MESIN KEMAKMURAN

    (hlm.83)
    Suplai manusia berbakat seperti itu melimpah karena sebagian besar remaja Amerika Serikat bisa menikmati pendidikan setinggi yang mereka inginkan.

    (hlm.84)
    INSTITUSI-INSTITUSI POLITIK EKSTRAKTIF DAN INKLUSIF
    Institusi ekonomi ada karena diciptakan sendiri oleh masyarakat.

    (hlm.85)
    Max Weber, yang sempat kita singgung pada bab terdahulu, mempunyai definisi sangat populer dan diterima luas tentang konsep negara, yaitu entitas yang berwenang “memonopoli secara sah.”

    (hlm.86)
    Di mana ada institusi politik ekstraktif, pasti ada institusi ekonomi ekstraktif pula. Keberlangsungan eksistensi institusi ekonomi ekstraktif juga sangat bergantung pada keberadaan institusi politik ekstraktif.

    (hlm.90-91)
    Kengerian terhadap penghancuran kreatif kerap menjadi alasan utama pihak-pihak yang menentang kelahiran institusi ekonomi dan politik inklusif.
    Jadi, Revolusi Industri bukan saja memojokkan para bangsawan secara ekonomis, tapi juga secara politis, sebab kelompok itu terancam kehilangan kekuatan ekonomi dan politik. Kaum elite itu menggalang kekuatan untuk menangkal gelombang industrialisasi.
    Terlepas dari kelompok mana yang kalah dan menang, ada satu hikmah yang jelas dapat dipelajari. Bahwa kelompok-kelompok yang berkuasa acap kali menjadi penghambat kemajuan ekonomi dan merusak mesin-mesin kemakmuran.

    (hlm.98)
    Contoh yang lain adalah pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi di Uni Soviet pada era Rencana Pembangunan Lima Tahun ke-1, dari tahun 1928 hingga era 1970-an. Institusi-institusi politik dan ekonomi di negara itu bersifat ekstraktif dan kegiatan pasar sangat dikekang. Akan tetapi, Uni Soviet berhasil mencapai tingkat pertumbuhan yang tinggi karena pemerintahnya berhasil mengalihkan sumber daya yang mubazir di sektor pertanian ke sektor industri.

    4. BEBERAPA PERBEDAAN KECIL DAN EPISODE SEJARAH YANG SANGAT MENENTUKAN

    (hlm.105)
    Kelangkaan tenaga kerja yang disebabkan oleh serangan wabah pes tadi ternyata menggoyahkan fondasi sistem feodalisme. Kaum petani berani bangkit dan menuntut perubahan. Di daerah Eynsham Abbey, misalnya, para petani di sana menuntut agar sistem kerja tanpa upah dan berbagai pungutan denda atas diri mereka dikurangi.

    (hlm.117)
    Perbedaan-perbedaan itu mungkin sangat tipis dan tidak kentara, namun seiring dengan waktu semua itu akan berakumulasi dan menyebabkan evolusi institusi (institutional drift).

    (hlm.128)
    Nama-nama keluarga yang melekat Anglo-Saxon seperti Baker, Cooper, dan Smith merupakan warisan langsung dari pranata kemasyarakatan yang mirip dengan sistem kasta turun-temurun. Warga bernama Baker seumur hidupnya hanya bisa menempa logam.

    (hlm.133)
    Kita sudah melihat bahwa teori geografi, teori kebudayaan, maupun teori kebodohan tidak bisa memberikan penjelasan komprehensif mengenai penyebab terjadinya kesenjangan ekonomi dunia yang terbentang nyata di depan kita. Semua hipotesis itu tidak bisa menjelaskan serta tuntas pola kesenjangan ekonomi dunia: fakta bahwa kesenjangan ekonomi dunia berawal dari Revolusi Industri yang merebak di Inggris pada abad ke-18 dan ke-19, lalu dampaknya meluas sampai ke Eropa Barat dan daerah-daerah koloni Eropa; perbedaan yang tak pernah berubah di beberapa negara Amerika; kemiskinan yang menjerat bangsa-bangsa Afrika atau Timur Tengah; perbedaan antara Eropa Barat dan Timur, dan transisi dari stagnasi menuju ke pertumbuhan ekonomi, dan kadang-kadang berhentinya pertumbuhan ekonomi secara mendadak. Teori institusi terbukti berhasil menjabarkan semua fenomena itu.

    5. “AKU SUDAH MELIHAT MASA DEPAN YANG TERBUKTI NYATA”:
    PERTUMBUHAN EKONOMI DI BAWAH BAYANG-BAYANG INSTITUSI EKSTRAKTIF

    (hlm.139)
    Meskipun kebijakan ekonomi Stalin dan sejumlah penerusnya bisa merangsang pertumbuhan yang pesat, pertumbuhan seperti itu sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

    (hlm.152)
    Kekurangan pangan cenderung menimbulkan garis-garis tipis pada lapisan enamel pada gigi manusia, sebuah kondisi yang disebut hipoplasia. Garis-garis seperti itu tidak ditemukan pada gigi suku Natufian.

    (hlm.165)
    Namun demikian, pertumbuhan ekonomi yang diciptakan oleh institusi-institusi ekstraktif itu sangat berbeda dari pertumbuhan yang dihasilkan melalui perangkat institusi inklusif. Dan yang paling mendasar, pertumbuhan itu sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Berdasarkan wataknya, institusi ekstraktif menghalangi proses penghancuran kreatif dan tidak bisa melahirkan terobosan teknologi secara maksimal. Jadi, pertumbuhan ekonomi hasil rekayasa mereka tak mungkin berumur panjang.

    6. BENUA EROPA YANG TERBELAH

    BAGAIMANA VENESIA BERUBAH MENJADI MUSEUM SEJARAH
    Pada Abad Pertengahan, mungkin Venesia adalah negara paling kaya di dunia yang ditopang oleh berbagai institusi ekonomi inklusif tercanggih pada zamannya.

    (hlm.168)
    Salah satu faktor pendukung pertumbuhan ekonomi Venesia adalah serangkaian inovasi di bidang kontrak perniagaan yang membuat institusi-institusi ekonomi di negara itu semakin inklusif. Salah satu inovasi yang paling terkenal di masa itu adalah commenda, yang merupakan cikal bakal perusahaan dengan kepemilikan saham secara gabungan dan durasinya sangat singkat: perusahaan itu hanya hidup untuk satu periode misi dagang.

    (hlm.181)
    Berbagai institusi politik yang menjadi inti kekuatan pemerintahan Republik Roma dibongkar oleh Julius Caesar pada tahun 49 SM, ketika dia mengerahkan pasukannya menyeberangi Sungai Rubicon yang memisahkan Provinsi Galia Cisalpina yang merupakan wilayah kekuasaan Roma, dengan Italia.

    (hlm.190)
    Pada masa kekuasaan Kaisar Tiberius datanglah seorang lelaki yang berhasil menciptakan kaca antipecah yang menghadap ke istana mengharap mendapat ganjaran. Lelaki tadi mempertontonkan hasil ciptaannya di balairung istana kaisar, lalu Tiberius bertanya apakah lelaki itu sudah menceritakan kepada orang lain perihal kaca antipecah itu. Ketika lelaki itu menjawab “belum”, maka sang kaisar memerintahkan agar lelaki itu digelandang dari istana dan dihabisi nyawanya, sebab Tiberius khawatir harga emas akan terpuruk karena penemuan kaca antipecah itu.

    (hlm.191)
    Dan ini menunjukkan ketakutan terhadap dampak ekonomis yang dipicu oleh penghancuran kreatif.

    7. TITIK BALIK SEJARAH YANG MENENTUKAN

    (hlm.205)
    Dua pengusaha tertinggi Kerajaan Inggris khawatir bahwa otomatisasi produksi kain rajutan bakal menggoyang stabilitas politik pemerintahannya. Mesin perajut itu bakal merampas pekerjaan jutaan orang, menciptakan pengangguran, dan instabilitas politik yang dipastikan akan mengancam takhta kerajaan.

    (hlm.209)
    Konflik antarkelompok elite itu berujung pada pecahnya Perang Mawar, yang merupakan duel berkepanjangan antara kubu Lancaster dan kubu York, dua dinasti yang bersaing mengincar singgasana Kerajaan Inggris. Pergulatan politik itu dimenangkan oleh kubu Lancaster yang pada tahun 1485 sukses mengusung Henry Tudor sebagai Raja Inggris dengan gelar Raja Henry VII.

    (hlm.211)
    Memasuki tahun 1621 tercatat ada tujuh ratus barang kebutuhan dan industri yang produksi dan perdagangannya dimonopoli kerajaan.

    (hlm.214)
    Di bawah kepemimpinan Oliver Cromwell, para anggota Parlemen Inggris yang dijuluki ‘The Roundheads’ (mereka terkenal dengan gaya potongan rambut cepaknya) berhasil mengalahkan kubu loyalis Raja Charles yang dikenal dengan sebutan cavaliers. Raja Charles diadili dan dieksekusi mati pada tahun 1649. Tapi ternyata kekalahan Raja Charles dan jatuhnya monarki Inggris tidak serta-merta menghasilkan institusi politik-ekonomi yang inklusif bagi bangsa Inggris.

    (hlm.217)
    Penyebab minimnya keterwakilan rakyat itu adalah fakta bahwa pada abad ke-18, rakyat yang bisa memilih anggota parlemen tak lebih dari 2 persen dari total populasi, itu pun hanya boleh dilakukan oleh kaum lelaki.

    (hlm.224)
    REVOLUSI INDUSTRI
    Yang lebih utama adalah keberhasilan mereka menata ulang secara fundamental segenap institusi ekonomi, sehingga menciptakan iklim yang kondusif dan merangsang semangat para inovator dan wirausaha, berkat adanya kebijakan perlindungan hak kekayaan yang lebih efisien.

    (hlm.225)
    Sebelum tahun 1688 ada semacam “takhayul politik” yang mengatakan bahwa selazimnya seluruh tanah di Inggris adalah milik baginda raja, dan mitos itu tak lain dipengaruhi oleh warisan budaya feodal.

    (hlm.230)
    Ide revolusioner James Watt dalam menyempurnakan mesin uap adalah dengan memasang satu ruang kondensator tersendiri, sehingga silinder yang berisi piston dapat terus dijaga temperaturnya tanpa harus dipanaskan atau didinginkan secara manual.

    (hlm.232-233)
    Pada awal abad ke-18, dibutuhkan waktu 50.000 jam untuk membuat seratus pound benang katun dengan metode manual. Mesin “water frame” hasil inovasi Arkwright bisa menjadi 300 jam saja, dan rekor kecepatan tersebut berhasil dipatahkan oleh mesin pemintal ‘self-acting mule’ karya Richard Roberts yang hanya memerlukan waktu 135 jam.

    8. JANGAN GANGGU DAERAH KEKUASAAN KAMI: BERBAGAI KENDALA YANG MENGHAMBAT KEMAJUAN

    HIKAYAT PENGUASA YANG MENGHARAMKAN TEKNOLOGI CETAK PRES
    (hlm.244)
    Sejak tahun 1485 Sultan Bayezid II dari Kekaisaran Ottoman secara resmi melarang warga Muslim di sana untuk mencetak dengan huruf Arab. Larangan ini semakin dipertegas oleh Sultan Selim I pada tahun 1515, dan baru sejak tahun 1727 ada percetakan pres pertama yang diizinkan beroperasi di wilayah Kekaisaran Ottoman.

    (hlm.245)
    Aksi pemasungan terhadap teknik cetak pres jelas terasa dampaknya pada keaksaraan, pendidikan, serta kesejahteraan ekonomi rakyat pada umumnya. Pada tahun 1800 mungkin hanya 2 atau 3 persen rakyat Ottoman yang mengenal aksara, porsi itu jauh lebih rendah dari Inggris, yang 60 persen warga pria dan 40 persen wanitanya bisa menulis dan membaca.

    (hlm.279)
    Tapi tentu saja orang Somalia tidak sudi didominasi kelompok mana pun, sebab mereka akan kehilangan kekuatan politiknya; perimbangan kekuatan militer antarklan juga menyulitkan usaha menciptakan sentralisasi politik di sana.

    9. PERTUMBUHAN YANG PUPUS DI TENGAH JALAN

    (hlm.284-285)
    Taktik ini memang bisa merangsang pertumbuhan ekonomi, namun institusi ekonomi yang mereka jalankan sangat tidak ideal dan tidak mendatangkan kemakmuran, sebab mereka menciptakan tembok penghadang bagi masyarakatnya pelaku ekonom lain. Serta mengabaikan perlindungan terhadap hak-hak dan kekayaan mereka.

    (hlm.287)
    Pada tahun 1621 dia berlayar ke Banda dengan membawa armada perang, dan tanpa belas kasihan membantai hampir seluruh penduduk di kepulauan itu, yang totalnya mungkin mencapai lima belas ribu jiwa. Semua tokoh masyarakat kepulauan Banda juga dihabisi, dan hanya sedikit orang yang dibiarkan hidup—mereka yang paham seluk-beluk produksi pala dan atsiri. Usai menggelar genosida biadab itu Coen membangun struktur politik ekonomi yang diperlukan untuk memuluskan terancamnya, yaitu membentuk masyarakat perkebunan. Pulau-pulau di sana dibagi wilayahnya menjadi enam puluh dengan delapan petak atau persil, dan masing-masing persil diberikan kepada warga Belanda yang sebagian mantan atau pegawai aktif VOC.

    (hlm.292-293)
    Apa pun kesalahan yang dilakukan seorang pada masa itu, hukumannya hanya satu: dijadikan budak. Pedagang Inggris, Francis Moore, mengisahkan kondisi yang dia saksikan di wilayah pesisir Senegambia di Afrika Barat pada tahun 1730-an:
    “Sejak perdagangan budak merebak di kawasan ini, semua bentuk kejahatan akan diganjar dengan satu vonis: pelakunya akan dijual sebagai budak; karena vonis seperti itu dianggap menguntungkan, mereka akan menghukum pelaku kejahatan seberat-beratnya dengan harapan bisa menjadikannya budak belian. Tidak peduli apa bentuk kejahatannya—membunuh, mencuri, berzina, atau bahkan untuk pelanggaran-pelanggaran ringan lainnya—hukumannya tetap sama, yaitu pelakunya dijual sebagai budak.”

    (hlm.299)
    ASAL MUASAL DUALISME EKONOMI DI AFRIKA
    Menurut para ahli ekonomi pembangunan yang menganut paradigma Lewis ini, “problem pembangunan” hanya bisa diatasi dengan mengalihkan sumber daya manusia dan aset-aset dari sektor tradisional berbasis kegiatan agrikultural di wilayah pedesaan, ke sektor modern atau sektor industri yang berada di wilayah perkotaan. Pada tahun 1979, Sir Arthur Lewis memenangkan penghargaan Nobel atas karyanya di bidang pembangunan ekonomi.

    (hlm.300-301)
    Kesenjangan itu adalah buah rekayasa yang dilakukan oleh kaum elite kulit putih Afrika Selatan, demi menjamin ketersediaan suplai tenaga kerja murah untuk menjalankan roda usaha, sekaligus mengurangi pesaing dari warga Afrika hitam.

    (hlm.305)
    Sedangkan para pemuka adat menganggap bahwa proses itu akan melemahkan pengaruh mereka sebagai tokoh masyarakat.

    (hlm.309)
    Hal yang mereka tidak sadari adalah, dualisme ekonomi bukan sesuatu yang niscaya dan tercipta dengan sendirinya. Kondisi itu diciptakan oleh kolonialis Eropa. Benar, bangsa kulit hitam yang terpuruk di kawasan Homeland Afrika itu melarat, terbelakang, dan tak pernah mengenyam pendidikan. Tapi nestapa mereka itu disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang dengan brutal mematikan prospek penduduk pribumi Afrika untuk menikmati kue pembangunan ekonomi, lalu menyulap mereka menjadi pasokan angkatan kerja murah—buruh-buruh tanpa pendidikan yang diperas keringatnya di ladang dan berbagai tambang milik orang Eropa.

    10. PEMERATAAN KEMAKMURAN

    PENGHORMATAN BAGI PARA NAPI
    (hlm.323)
    Karena di New Wales satu-satunya sumber tenaga kerja adalah para napi, maka satu-satunya cara untuk merangsang mereka agar mau meningkatkan produktivitas hanyalah dengan membayar tenaganya.

    (hlm.328-329)
    MENDOBRAK TEMBOK PENGHALANGAN: REVOLUSI PRANCIS
    Kaum ningrat dan para penguasa Gereja bebas dari kesusahan membayar pajak, sedangkan masyarakat jelata dibebani oleh berbagai macam pungutan, sebagaimana yang lazim terjadi di dalam pemerintahan ekstraktif.

    (hlm.344)
    Shogun Yoshinobu setuju meletakkan jabatan, dan pada tanggal Januari 1868 mereka mendeklarasikan Restorasi Meiji; kekuasaan Kaisar Komei dipulihkan, dan sebulan kemudian putra mahkotanya, Pangeran Meiji, naik takhta menggantikan Kaisar Komei yang meninggal.

    (hlm.355)
    LINGKARAN KEBIJAKAN
    Supremasi hukum merupakan sebuah konsep yang teramat ganjil jika dilihat dari kacamata sejarah. Mengapa hukum harus diterapkan tanpa pandang bulu terhadap semua warga negara? Jika raja dan bangsawan memiliki kekuatan politik dan yang lainnya tidak, maka wajar apa yang sah dan dibenarkan bagi raja dan bangsawan harus diharamkan bagi masyarakat jelata.

    (hlm.356)
    Dengan demikian, konsep tentang adanya pembatasan dan kontrol terhadap para pengusaha—yang merupakan inti dari supremasi hukum—telah melekat pada logika pluralisme yang tercipta melalui sebuah koalisi besar, yang bangkit menentang kesewenang-wenangan penguasa dari Dinasti Stuart.

    (hlm.366)
    Akhirnya, pada tahun 1928, semua wanita mendapatkan hak suara dengan syarat dan ketentuan yang sama dengan warga pria. Langkah-langkah pemerintah yang diutamakan pada tahun 1918 itu dinegosiasikan selama perang, dan menunjukkan adanya timbal balik dari pemerintah kepada angkatan kerja produktif amunisi. Pihak pemerintah juga tampaknya telah mencermati radikalisme yang muncul dari Revolusi Rusia.

    (hlm.370)
    Karena sifatnya yang bertahap itu membuat reformasi lebih kuat, sulit ditolak, dan pada akhirnya lebih tahan lama.

    (hlm.376)
    Sepak terjang para Baron Perampok dan berbagai konsorsium monopoli mereka pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20 semakin menegaskan bahwa—seperti yang sudah kami jelaskan pada Bab 3, sistem ekonomi pasar tidak serta-merta bisa menjamin tumbuhnya institusi ekonomi inklusif.

    (hlm.382)
    Institusi politik inklusif tidak hanya berfungsi mengontrol gejala-gejala pengingkaran terhadap institusi ekonomi inklusif, tetapi juga melawan segala macam langkah yang akan mengancam kelangsungan hidup institusi itu sendiri.

    (hlm.388)
    Kedua, seperti yang sudah kita saksikan berulang kali, selalu ada simbiosis mutualisme antara institusi politik inklusif dan institusi ekonomi inklusif yang berinteraksi saling mendukung dan memperkuat.

    12. LINGKARAN SETAN

    TIDAK ADA LAGI KERETA KE KOTA BO
    (hlm.397)
    Namun masyarakat luas menghendaki akses ke tambang-tambang emas itu dibuka lebar. Ternyata usulan inklusif itu berada di atas angin, sehingga para pejabat Australia mengizinkan para penambang itu mencari emas setelah membayar ongkos lisensi tahunan. Tak lama kemudian para penambang yang lazim dikenal sebagai ‘the diggers’ itu tampil sebagai kekuatan politik besar di Australia, terutama di negara bagian Victoria. Orang-orang itu dianggap berjasa karena berhasil mendesak pemerintah memberi hak suara bagi seluruh warga dewasa, dan menerapkan metode pemilihan umum secara rahasia.

    (hlm.400)
    Institusi politik juga tidak menyediakan mekanisme untuk mengontrol penyelewengan kekuasaan.

    (hlm.409)
    HABIS PERBUDAKAN, TERBITLAH UNDANG-UNDANG RASIALIS
    Dominasi institusi politik-ekonomi pro-perbudakan di wilayah Selatan itu sesungguhnya yang membuat rakyat di sana miskin dan jauh terbelakang, jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang hidup di Utara.

    (hlm.413)
    Undang-undang yang disusun oleh antek-antek elite petani besar membebaskan seorang pemilik kebun yang membawahi dua puluh orang budak dari peraturan wajib militer; pada saat ratusan ribu orang meregang nyawa di medan perang demi mempertahankan sistem ekonomi perkebunan di Selatan, para tuan kebun bisa duduk santai di beranda rumah mereka yang luas dan bertahan dalam sistem perekonomian agrarisnya.

    (hlm.422)
    Inilah esensi dari hukum besi oligarki yang merupakan salah satu aspek dari lingkaran setan: wajah-wajah baru tampil setelah menggulingkan penguasa lama dengan membawa janji-janji, tetapi akhirnya justru petaka lebih dahsyat yang mereka bawa.
    Ada tiga faktor yang memuluskan lahirnya institusi inklusif pasca revolusi besar di Inggris dan Revolusi Prancis. Faktor pertama adalah kaum pedagang dan usahawan yang mengharapkan munculnya gelombang penghancuran kreatif yang menguntungkan; wajah-wajah baru itu berasal dari tokoh-tokoh kunci koalisi revolusioner yang tidak bernafsu menciptakan institusi ekstraktif baru, yang ujung-ujungnya akan memakan mereka juga.

    (hlm.423)
    Faktor kedua adalah sifat inklusif atau pluralistis dari koalisi besar yang terbentuk pada kedua revolusi besar itu.
    Faktor ketiga terkait erat dengan sejarah institusi politik-ekonomi di Inggris dan Prancis.

    (hlm.424)
    UMPAN BALIK NEGATIF DAN BERMACAM-MACAM PERWUJUDAN LINGKARAN SETAN
    Negara-negara kaya bisa menjadi seperti itu karena pada umumnya mereka berhasil membangun institusi politik-ekonomi inklusif selama tiga abad terakhir.

    (hlm.427)
    Dalam sebuah mata rantai siklus yang disebut hukum besi oligarki oleh sosiolog Robert Michels, tumbangnya suatu rezim yang menguasai institusi ekstraktif merupakan pertanda dari munculnya serangkaian penguasa baru yang tidak kalah beringasnya dalam mengeksploitasi institusi ekstraktif yang sangat menyengsarakan rakyat.
    Salah satu faktor utama yang bisa mengubah institusi eksklusif adalah pemberdayaan terhadap sebuah koalisi besar yang bangkit menentang absolutisme dan menggantikan rezim ekstraktif dengan pemerintahan baru yang lebih inklusif dan pluralistik.

    13. BIANG KEGAGALAN NEGARA PADA ZAMAN SEKARANG

    (hlm.434)
    BANYAK NEGARA GAGAL pada zaman sekarang karena institusi ekstraktif mereka gagal menawarkan insentif kepada rakyat untuk menabung, berinvestasi, dan menciptakan inovasi.

    (hlm.447-448)
    SKANDAL ‘EL CORRALITO’ DI ARGENTINA
    Di mata para pengamat ekonomi, Argentina merupakan negara yang susah dimengerti. Sebagai gambaran tentang sulitnya memahami perekonomian Argentina, ekonom peraih hadiah Nobel Simon Kuznets pernah berseloroh bahwa di dunia ini ada empat kategori negara, yaitu negara maju, negara terbelakang, negara Jepang, dan Argentina.

    (hlm.457)
    Pada musim semi, lagi-lagi sekolah dikosongkan sebab anak-anak itu harus kembali turun ke ladang untuk mencangkul, menyiangi pohon kapas, dan mencangkok bibit pohon kapas yang baru.

    (hlm.461)
    KONGKALIKONG PENGUASA DENGAN PERUSAHAAN SWASTA
    Di berbagai sektor perekonomian, para pengusaha besar meminta pemerintah memproteksi mereka dengan menyusun undang-undang yang menghambat masuknya pebisnis-pebisnis baru di bidang media, besi dan baja, industri otomotif, minuman beralkohol, dan semen.

    (hlm.463)
    Pada tahun 2002 perusahaan monopoli itu kembali berpindah tangan setelah Zayat melego pabrik bir Heineken dengan nilai transfer 1,3 miliar pound Mesir, sebuah rekor luar biasa: keuntungan sebesar 563 persen dalam waktu lima tahun!

    (hlm.464-465)
    SEKALI LAGI, MUSABAB KEGAGALAN NEGARA
    Negara gagal membangun perekonomian karena ada berbagai institusi kemasyarakatan yang ekstraktif.
    Hanya satu hal yang membuat mereka sama: kekuasaan institusi ekstraktif. Pada semua kasus, basis atau motor utama penggerak berbagai institusi ekstraktif untuk memperkaya diri dan melanggengkan kekuasaan adalah mengorbankan sebagian besar rakyat. Perbedaan sejarah dan struktur sosial di negara-negara itulah yang menimbulkan variasi karakteristik para elite dan bentuk dari institusi ekstraktif yang mereka kendalikan. Namun motif yang menyebabkan mengapa berbagai institusi tersebut terus ada, pasti terkait erat dengan siklus dari lingkaran setan yang sudah kami sebutkan pada bab-bab terdahulu. Implikasi yang ditimbulkannya pasti juga sama meski intensitasnya bervariasi, yaitu kemiskinan yang menjerat rakyat jelata.

    (hlm.467)
    Meskipun detail-detail itu sangat menarik dan penting, ada satu hikmah atau pelajaran moral yang bisa kita sarikan, bahwa institusi politik ekstraktif selalu menciptakan institusi ekonomi ekstraktif yang mengakumulasi kekayaan dan kekuasaan ke tangan kelompok elite.

    (hlm.469)
    Koalisi besar yang mewakili berbagai kepentingan ekonomi dan paham politik, yang berhasil mencegah timbulnya oligarki pada tahun 1688.

    15. MEMAHAMI ASAL-MUASAL KEMAKMURAN DAN KEMISKINAN

    FAKTOR-FAKTOR SEJARAH
    (hlm.500)
    Hal yang menjadi titik fokus teori ini adalah korelasi positif antara institusi politik-ekonomi inklusif dengan kemakmuran di suatu negara.
    Namun yang perlu digarisbawahi, pertumbuhan ekonomi di bawah kekuasaan institusi ekstraktif sangat sulit dipertahankan dikarenakan dua alasan. Pertama, untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi diperlukan inovasi, sedangkan inovasi pasti disertai oleh gelombang penghancuran kreatif yang dalam konteks ekonomi akan menggusur cara-cara lama dan berpotensi menggoyahkan stabilitas kekuasaan politik.

    (hlm.501-502)
    Kedua, kemampuan para elite penguasa institusi ekstraktif untuk menimbun kekayaan dengan mengorbankan sebagian besar rakyat menyebabkan kekuasaan institusi ekstraktif itu banyak diperebutkan dan memicu pertikaian maupun perang saudara.
    Apa yang dimaksud dengan “momentum emas” atau momentum kritis adalah kejadian-kejadian luar biasa yang menggoyahkan ekuilibrium politik-ekonomi pada satu atau sekelompok bangsa, misalnya serangan maut penyakit pes yang menewaskan hampir setengah populasi di benua Eropa pada abad ke-14; maraknya kontak dagang antarbangsa di kawasan Atlantik yang membuka peluang untuk meraup keuntungan besar bagi sejumlah negara di Eropa Barat; dan Revolusi Industri yang menjanjikan perubahan struktur perekonomian radikal bagi bangsa-bangsa di dunia.

    (hlm.505)
    Paparan-paparan sejarah yang kami sajikan sejauh ini menunjukkan bahwa pendekatan yang didasarkan pada determinisme sejarah—yaitu teori-teori yang dibangun menurut faktor-faktor geografi, budaya, dan faktor historis lainnya—sudah terbukti gagal.

    (hlm.506)
    Pada bagian penutup buku ini akan kami berikan garis besar atau indikator negara seperti apa yang berpotensi meraih pertumbuhan ekonomi dalam beberapa dekade mendatang.
    Mereka yang berhasil menegakkan sentralisasi politik. Untuk kawasan sub-Sahara Afrika, negara-negara yang dimaksud adalah Burundi, Etiopia, Rwanda (yang secara historis dikenal memiliki sentralisasi politik cukup solid), dan Tanzania. Negara-negara Amerika Latin yang berpotensi mengalami pertumbuhan ekonomi adalah Brasil, Cile, dan Meksiko. Teori kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sangat sulit dicapai di Kolombia.
    Teori kami juga mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi di bawah institusi ekstraktif seperti di China akan sulit dipertahankan dan akhirnya mandek.

    (hlm.507)
    Teori kami ini bermanfaat untuk dijadikan dasar analisis kebijakan, sebab dengan teori ini kita bisa mendeteksi beragam rekomendasi kebijakan yang buruk, yang dilandasi oleh hipotesis yang salah kaprah atau minimnya pemahaman tentang proses perubahan institusi. Sikap berhati-hati untuk mencegah kesalahan yang fatal sama pentingnya dengan usaha untuk menyusun berbagai solusi yang praktis.

    PESONA PERTUMBUHAN EKONOMI DI BAWAH REZIM OTORITER

    (hlm.509)
    Kejahatan Dai yang sesungguhnya adalah membuat proyek besar yang dikhawatirkan akan menyaingi perusahaan milik negara tanpa persetujuan elite petinggi Partai Komunis.

    (hlm.509)
    Meskipun sekarang sudah banyak perusahaan swasta yang beroperasi dengan efisien di China, sejumlah besar elemen perekonomian masih dikendalikan serta diproteksi oleh Partai Komunis.

    (hlm.511)
    Institusi-institusi ekonomi China jauh lebih inklusif daripada Uni Soviet, namun perangkat institusi politiknya sangat ekstraktif.

    (hlm.513)
    Pertumbuhan ekonomi seperti itu menjadi alternatif yang lebih populer dari “konsensus Washington” yang lebih menekankan pentingnya ekonomi pasar dan liberalisasi perdagangan, serta sejumlah langkah reformasi institusi yang diperlukan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara terbelakang di dunia.
    Model pertumbuhan ekonomi di bawah kekuasaan institusi politik ekstraktif tidak akan langgeng.

    (hlm.514)
    Bagi mereka, China merupakan model alternatif dari pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di bawah rezim otoriter.

    (hlm.515)
    Pertumbuhan ekonomi yang mereka raih dalam tiga dasawarsa terakhir menunjukkan adanya pergeseran radikal dari institusi ekstraktif ke institusi inklusif yang prosesnya sangat sulit, karena adanya hambatan dari institusi politik ekstraktif yang berwatak otoriter.

    (hlm.517)
    Negara-negara yang sukses membangun institusi politik-ekonomi dalam beberapa abad terakhir mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi mereka, namun rezim-rezim otoriter yang mencapai pertumbuhan ekonomi spektakuler selama enam puluh hingga seratus tahun terakhir ternyata tidak kunjung berubah menjadi rezim yang demokratis seperti apa yang diprediksikan oleh teori modernisasi.

    (hlm.518)
    Pertama, pertumbuhan ekonomi di bawah kekuasaan rezim otoriter ekstraktif di China, meskipun bisa dipertahankan selama beberapa saat, tidak akan menjadi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang didukung oleh institusi inklusif dan disertai oleh gelombang penghancuran kreatif. Kedua, mustahil kita bisa mengharap bahwa pertumbuhan ekonomi di bawah kekuasaan institusi ekstraktif dapat menumbuhkan demokrasi atau institusi politik yang inklusif. Ketiga, dalam jangka panjang, pertumbuhan di bawah kekuasaan institusi ekstraktif otoriter bukanlah pilihan yang ideal, dan tidak selayaknya kita dukung untuk dijadikan model pertumbuhan ekonomi bagi negara-negara Amerika Latin, Asia, dan sub-Sahara Afrika.

    KEMAKMURAN TIDAK BISA DIREKAYASA

    (hlm.519)
    Meskipun langkah-langkah reformasi itu terkesan masuk akal, pendekatan yang diterapkan oleh organisasi-organisasi internasional di Washington, London, dan Paris maupun di tempat-tempat lain itu masih dipengaruhi oleh kesalahan persepsi, terutama yang mengabaikan peranan institusi politik yang acap kali menjegal pengambilan keputusan.

    (hlm.521)
    Para pengambil keputusan dan jajaran birokrat yang seharusnya bekerja sesuai dengan arahan mungkin juga bagian dari masalah yang ada, dan berbagai usaha untuk memperbaiki kondisi itu selalu gagal sebab pihak-pihak yang terkait gagal mengatasi problem institusi yang menjadi biang utama dari kemiskinan yang ada.

    (hlm.522)
    Pada tahun 2006 LSM Seva Mandir bersama sekelompok ekonom merancang sebuah skema insentif untuk mendorong agar para tenaga kesehatan di distrik Udaipur (Rajasthan) mau kembali bekerja. Ternyata ide mereka sederhana saja, LSM Seva Mandir memperkenalkan penggunaan mesin absensi atau ‘time clock’ yang secara otomatis akan mencetak tanggal dan waktu kehadiran para tenaga kesehatan di sana.

    (hlm.523)
    Kisah tak elok ini sedikitnya menunjukkan sulitnya menerapkan perubahan di dalam masyarakat, kalau ternyata yang menjadi pemicu masalah adalah institusi-institusi yang ada.

    (hlm.525)
    Sejumlah penelitian mensinyalir bahwa dana bantuan asing yang benar-benar diterimakan ke sasaran hanya tinggal 10 atau 20 persen dari jumlah semula.
    Dana bantuan asing adalah lahan bisnis bagi organisasi-organisasi internasional yang mengelola bantuan asing.

    (hlm.526)
    Negara-negara seperti Afghanistan itu miskin karena rakyatnya ditindas oleh rezim atau institusi ekstraktif yang meniadakan perlindungan hukum bagi hak kekayaan rakyat, rapuhnya hukum dan ketertiban, rusaknya sistem hukum, serta dominasi elite politik tingkat nasional dan lokal dalam aktivitas perekonomian.

    (hlm.530)
    Sebuah koalisi besar yang bertujuan untuk menghidupkan kembali demokrasi dan mengubah masyarakat Brasil.

    (hlm.531)
    Itulah negara Amerika Latin pertama yang diperhitungkan di kalangan diplomat internasional.
    Semua itu terwujud berkat kekompakan berbagai elemen masyarakat dan gerakan sosial yang dengan berani membangun berbagai institusi politik-ekonomi yang inklusif.

    (hlm.532)
    Keberhasilan bangsa-bangsa itu dalam memberdayakan berbagai elemen dan kelompok masyarakat yang sangat majemuk. Semangat pluralisme yang menjadi tonggak institusi politik inklusif itu mempersyaratkan kekuasaan politik dibagi secara merata kepada seluruh pemangku kepentingan.

    (hlm.535)
    Apa yang bisa dilakukan untuk mempercepat, atau setidaknya memfasilitasi proses pemberdayaan masyarakat dan pembangunan institusi inklusif?
    Faktor-faktor yang dimaksud antara lain adalah ketertiban umum yang cukup terkendali, sehingga gerakan masyarakat yang menentang rezim ekstraktif tidak terjerumus ke dalam tindakan anarki dan melanggar hukum; adanya beberapa institusi politik yang memiliki karakteristik pluralis, seperti institusi-institusi politik tradisional di Botswana yang memungkinkan berbagai elemen masyarakat di sana membangun koalisi besar yang mampu bertahan lama; adanya lembaga-lembaga atau organisasi masyarakat madani yang bisa mengorganisir atau mengoordinasikan tuntutan masyarakat, dan menjaga agar gerakan-gerakan oposisi tidak dihancurkan oleh elite yang berkuasa atau ditunggangi pihak-pihak lain yang ingin mengambil alih berbagai institusi ekstraktif yang masih berfungsi.
    Memberdayakan masyarakat luas adalah tugas mulia yang sulit dikoordinasikan maupun dipertahankan intensitas maupun konsistensinya, jika tidak disertai oleh penyebaran informasi yang menyadarkan masyarakat tentang adanya tindak-tindak penyimpangan oleh para penguasa.

    (hlm.537)
    “Untuk menjaga kepemimpinan Partai di tengah-tengah arus reformasi ini, kita harus berpegang teguh pada tiga prinsip: Partai harus mengendalikan angkatan bersenjata; Partai harus mengendalikan para kader; dan Partai harus mengendalikan berita.”

    (hlm.544)
    BAB 3: PROSES TERJADINYA KEMAKMURAN DAN KEMISKINAN
    Istilah institusi inklusif diperkenalkan kepada kami oleh Tim Basley.

     

     

    Problem Domestik Bruto

    Lorenzo Fioramonti

    Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Problem Domestik Bruto oleh Lorenzo Fioramonti

    Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.

    Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.

    Selamat membaca.

    Chandra Natadipurba

    ===

    PROBLEM
    DOMESTIK BRUTO

    Sejarah dan Realitas Politik di Balik
    Angka Pertumbuhan Ekonomi

    Lorenzo Fioramonti

    Diterjemahkan oleh

    Lita Soerjadinata

    Marjin Kiri

               
    Terbit pertama kali di Inggris pada 2013 dengan judul Gross Domestic Problem: The Politics Behind the World’s Most Powerful Number oleh Zed Books Ltd., London   

    Cetakan pertama, November 2017     
    i – xii + 220 hlm, 14 x 20,3 cm          
    ISBN: 978-979-1260-73-2

    Dicetak Oleh GAJAH HIDUP

    Pendahuluan

    Angka Paling Digdaya Sedunia

    Kita mencuri masa depan, menjualnya di masa sekarang dan menyebutnya PDB – Paul Hawken

    (hlm.2)

    Apakah kualitas hidup kita meningkat ketika ekonomi tumbuh sekitar 2 atau 3 persen?

    (hlm.4)

    Apa itu PDB?

    Pada 1600an, ahli ekonomi-politik Inggris William Petty melakukan survey pertama mengenai kesejahteraan nasional dengan menganalisis secara sistematis nilai tanah taklukan Oliver Cromwell di Irlandia.

    (hlm.5)

    Para ekonom ini (kebanyakan dari Prancis) meyakini bahwa kekayaan sebuah bangsa diturunkan semata-mata dari nilai tanah, termasuk potensi dan pembangunan pertaniannya.

    Contohnya, menurut bapak ilmu ekonomi klasik, Adam Smith, kekayaan bangsa-bangsa dihasilkan oleh kerja produktif setiap individu.

    (hlm.6)

    Berpijak pada argument Petty sebelumnya, Smith berpendapat bahwa pendapatan sebuah negara dihasilkan oleh “seluruh hasil tahunan dari tanah dan tenaga kerja.”

    (hlm.7,8,9)

    Dalam masyarakat kontemporer saat ini, kekayaan suatu bangsa biasanya diukur berdasarkan PDB, dan bukan dinyatakan dalam paragraf-paragraf panjang membosankan sebagaimana dalam ilmu klasik, melainkan dalam satu angka tunggal, yang setiap tiga bulan menunjukkan pada kita seberapa cepat atau lambat perekonomian sebuah negara tumbuh.

    Ekonom Simon Kuznets adalah seorang yang bertanggung jawab menyusun neraca nasional pertama AS. Dalam laporan yang dipaparkan di hadapan Kongres pada 1934, Kuznets memberikan definisi umum pertama dari PDB, yang layak untuk disalin utuh di sini:

    Tahun demi tahu rakyat negeri ini, dengan topangan stok barang yang mereka miliki, membuat adanya banyak macam jasa layanan guna memuaskan kebutuhan mereka.

    Tiap-tiap jasa layanan tersebut melibatkan upaya dari pihak perorangan dan pemberlanjaan dari beberapa porsi stok barang negeri ini. sebagian layanan ini berwujud akhir sebagai komoditas, seperti batu bara, baja, pakaian, perabot, mobil; yang lain mengambil bentuk layanan langsung dan personal, seperti yang diberikan oleh dokter, pengacara, pegawai negeri, pembantu rumah tangga, dan sejenisnya.

    Jika seluruh komoditas yang dihasilkan serta seluruh layanan langsung yang diberikan sepanjang tahun yang bersangkutan dijumlahkan besarkan nilai pasar mereka, dan dari jumlah total itu kita kurangkan nilai dari sebagian stok barang negeri ini yang dihabiskan (baik serupa bahan mentah maupun barang modal) untuk menghasilkan jumah ini, maka sisanya merupakan produk bersih perekonomian nasional selama tahun yang bersangkutan.

    Angka itu disebut pendapat nasional yang dihasilkan, dan secara ringkas bisa didefinisikan sebagai bagian dari produkakhir perekonomian yang dihasilkan dari jerih payah perseorangan membentuk sebuah bangsa.

    Seperti dijelaskan oleh Kuznets sendiri, PDB “bisa digambarkan sebagai datang silang (cross section) pada tahapan apa pun dalam sirkulasi barang-barang ekonomi–produksi, sitribusi, atau konsumsinya–yang hasilnya, apabila tidak ada kesulitan statistik, harusnya identik.” Alhasil, ada tiga cara untuk mengukurnya.

    Pertama, PDB dapat dihitug sebagai jumlah dari seluruh pengeluaran (atau pembelian) yang dilakukan oleh pemakai barang. Cara ini dikenal sebagai “pendekatam pengeluran” dan datanya didapat dari perusahaan, penyedia jasa, took ritel, kantor pemerintah, dsb.

    Kedua, mengingat bahwa harga pasar dari sebuah barang jadi atau jasa harus mencerminkan seluruh pendapatan yang didapat dan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi, maka PDB dapat juga dihitung sebagai jumlah dari seluruh biaya tadi.

    Cara ini dikenal sebagai “pendekatan pendapatan” (atau pendapatan domestik bruto) dan kerap dipakai untuk menilai daya beli rumah tangga dan kesehatan finansial bada usaha.

    Selain itu, ketiga, PDB juga bisa diukur sebagai jumlah dari nilai tambah di setiap tahapan proses produksi. “pendekatan nilai tambah” untuk mengukur PDB ini, yang dilakukan melalui survei khusus terhadap ribuan perusahaan (khusunya sektor manufaktur dan jasa), memungkinkan pemilahan pendapatan nasional berdasarkan tipe industri dan biasanya digunakan untuk mengkaji komposisi keluaran industri.

    (hlm.11)

    Inti filosofi kebijakan New Deal yang digulirkan Roosevelt, dengan kebijakan interversionisnya terhadap stabilitas makroekonomi, secara umum bersandar pada asumsi bahwa pemerintah mampu memonitor secara ketat kondisi perekonomian dan secara regular mengkaji dampak dari kebijakan-kebijakan yang dihasilkannya.

    (hlm.12)

    Di balik tampilan luarnya yang tampak netral, PDB adalah representasi dari sebuah model masyarakat tertentu, dan karenanya memengaruhi bukan hanya proses ekonomi, melainkan juga proses politik dan budaya.

    (hlm.16)

    Demikian pula, meminjam ucapan salah satu dalang intelektual Revolusi Amerika dan Revolusi Prancis, Thomas Paine, perdagangan adalah “sistem yang cinta damai, beroperasi demi kebaikan umat manusia, dengan menjadikan bangsa-bangsa, juga masyarakat, berguna satu sama lain.”

    (hlm.23)

    BAB 1

    Sejarah PDB: dari Krisis ke Krisis

    Dalam 13 bulan, dengan bantuan instrumen-intrumen survei yang inovatif serta prajurit-prajurit yang terlatih, Petty merampungkan kajian tersebut dan menyusun peta-peta dari sekitar 30 wilayah, yang membentang sepanjang lebih dari sekitar 30 wilayah, yang membentang sepanjang lebih dari 5 juta acre (kurang lebih 2,3 juta hektar).

    (hlm.34)

    Tidak disangsikan bahwa kerja NBER untuk necara nasional sangat memengaruhi fase kedua New Deal dan turut memperkuat pesona Keynesianisme di kalangan ilmuwan dan pembuat kebijakan Amerika. Karena kebijakan Keynesian ditunjukan untuk menompang kinerja ekonomi melalui aliran uang dari pemerintah ke masyarakat, sebuah sistem neraca nasional yang mampu menghasilkan data reguler untuk mengkaji dampak kebijakan nasional terhadap perekonomian sangatlah penting bagi perencanaan pemerintah.

    Oleh karenanya tidak mengejutkan bila salah seorang murid John Maynard Keynes, Colin Clark, punya andil dalam mengembangkan perangkat pertama neraca ekonomi Australia, dan dua ekonom Inggris, Richard teori Keynes, diberi tugas untuk menyusun neraca nasional Inggris pada awal 1940an.

    (hlm.42)

    Ketika hampir seluruh negara berkembang tidak memiliki kapitalis untuk mengukur aktivitas perekonomian pada skala nasional, negara-negara di blok sosialis menggunakan metrik yang berbeda.

    Sistem kalkulasi mereka didasarkan pada dua indikator utama: produk sosial bruto, yang mengukur total keluaran industri bruto, dan produk material neto, yakni produk sosial bruto dikurangi konsumsi material neto, yakni produk sosial bruto dikurangi konsumsi material oleh industry selama proses produksi.

    (hlm.44)

    Perbedaan antara ukuran hasil material Uni Soviet dengan PNB bukan hanya dikarenakan oleh perbedaan komponen-komponen statistiknya, melainkan juga perbedaan konseptual yang mendalam PNB diciptakan untuk menakar ukuran dan cakupan perekonomian pasar dan dihitung dalam kaidah harga pasar.

    Sebaliknya produk material mencerminkan karakteristik  sebuah perekonomian makin terpimpin dan tak syak lagi mengistimewakan beberapa aktivitas perekonomian (seperti produksi industri) melebihi kegiatan-kegiatan ekonomi yang lain (semisal jasa), karena produksi industri dianggap sebagai tulang punggung perekonomian komunis.

    (hlm.51)

    Globalisasi Pendapatan Nasional
    dan Krisis Ekonomi Global

    PNB yang lama dulu merujuk pada seluruh barang dan jasa yang diproduksi oleh penduduk suatu negara tertentu, tanpa memperhatikan apakah “pendapatan” tersebut dihasilkan di dalam atai di luar perbatasan negara bersangkutan.

    Ini berarti, misalnya, penghasilan sebuah perusahaan multisional distribusikan  ke negara tempat perusahaan tersebut berasal yang ujung-ujungnya akan menjadi tujuan akhir laba perushaan tersebut mengalir.

    (hlm.59)

    “Kesejahtaraan tidak dapat diukur dengan uang atau diperdagangkan di pasar. Ini tentang keindahan lingkungan sekitar kita, kualitas kebudayaan kita, kualitas kebudayaan kita, dan terutama, kekuatan hubungan kita. Memperbaiki rasa sejahteraan masyarakat kita, saya yakin, merupakan tantangan politik utama di zaman kita.”

    (hlm.62)

    Antara 1948 hingga 1989, pertumbuhan ekonomi Amerika umumnya bergantung pada belanja militer

    (hlm.64)

    BAB 2

    Sindrom Frankenstein

    Dia mencetuskan apa yang disebut Hukum Okun (yang seharusnya lebih dianggap sebagai “pedoman praktis”, Karena hanya didasarkan pada observasi empiris yang tidak utuh dan bukan sebuah teori yang konsisten), yang berpendapat bahwa setiap 3 persen pertumbuhan PDB akan menghasilkan penyerapan 1 persen tenaga kerja.

    Hal-hal lain (seperti pelestarian lingkungan, keadilan sosial, penghpusan kemiskinan) dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi.

    (hlm.65)

    Antara 1960 hingga 1990, PDB Amerika nyaris melipat tiga dan total belanja sosial yang dikeluarkan oleh semua tingkat pemerintah (diukur konstan dalam dolar 1990) naik dari $143,73 miliar menjadi $787 miliar (lebih dari lima kali lipat).

    Namun, dalam kurun waktu 30 tahun yang sama, kejahatan dengan kekerasan naik 560 persen, kelahiran di luar pernikahan naik 419 persen, angka perceraian naik empat kali lipat, jumlah anak yang berorang tua tunggal naik tiga kali lipat, dan tingkat bunuh diri di kalangan remaja naik lebih dari 200 persen.

    (hlm.69)

    Jelas, sistem produksi memakan korban tidak hanya pada “barang” tetapi juga “manusia”. Inilah yang disebut Kuznets sebagai “sisi balik pendapatan”, yakni “intesitas dan tidak menyenangkannya upaya yang dikerahkan demi memperoleh pendapatan.”

    (hlm.73)

    Formula rancangan Kuznets menjamin bahwa produk nasional dapat diukur pada level produksi, pendapatan, maupun konsumsi, dan paling tidak secara teori, akan selalu membuahkan hasil yang sama.

    (hlm.79)

    Gejolak harga sebagai kriteria untuk menentukan kontribusi barang atau jasa tertentu terhadap pendapatan nasional juga dipengaruhi oleh aktivitas pekerja dan kemajuan  teknologi. Saat ini, sebuah mobil baru biayanya secara proporsional jauh lebih murah dibandingkan dengan 20 atau 30 tahun lalu, terutama karena peningkatan efisiensi dalam ketengakerjaan dan teknologi.

    Sebaliknya, masih dibutuhkan 4 pemain biola untuk memainkan String Quarter No.4 dalam C minor karya Beethoven selama sepuluh menit, sama persis seperti ketika komponis Jerma tersebut masih hidup.

    Fenomena ini dalam ilmu ekonomi dikenal sebagai “penyakit biaya” Baumol, yang berdalil bahwa dalam beberapa sektor tertentu perekonomian, biaya dan harga cenderung naik tanpa memperhitungkan produktivitas, sementara di sektor lain cenderung mengalami pengurangan yang signifikan.

    (hlm.85)

    Namun sejak pertengahan 1900an, berbagai kajian telah menunjukkan bahwa tidak ada korelasi signifikasi antara pertumbuhan PDB dengan kebahagiaan, setidaknya sepanjang yang dirasakan oleh individu. mengembangkan analisis Abramotitz, ekonom Richard A. Easterlin dan University of Southern California menujukkan bahwa setelah melampaui tingkat pendapat moderat, kebahagiaan yang dirasakan orang tidak ikut meningkat bersama dengan PDB.

    55. A.J. Oswald, “Happiness and Economic Performance”, Economic Jornal 107 (November 1997), hlm. 1827.

    56. R.A. Easterlin, “Does Economic Growth Improve the Human Lot? Some Empirical Evidence”, dalam P.A. David dan M.W Reder (eds), Nations and Households in Economics Growth: Essays in Honour of Moses Abramovitz (New York dan London: Academic Press, 1974) hlm.121.

    (hlm.87)

    PDB versus Mayarakat dan Lingkungan

    Menurut Nordhaus dan Tobin, dihapuskannya kegiatan waktu luang dan aktivitas produktif nonpasar dari pengukuran produksi memberi kesan bahwa ekonom itu “materialistis secara membabi buta”.

    Namun, akal sehat memberitahu bahwa kesejahteraan kemungkinan akan naik, bahkan ketika PDB turun, “sebagai akibat dari pilihan sukarela untuk bekerja dengan jam kerja lebih pendek per minggunya, minggu kerja lebih pendek per minggunya, minggu kerja lebih pendek per tahunnya, tahun kerja lebih pendek dari masa hidupnya.”

    (hlm.92)

    Dalam The Great Transformation, pakar ekonomi-politik Karl Polanyi menyejajarkan proses eksploitasi manusia dan sumber daya alam yang mencirikan pembentukan “masyarakat pasar” di Eropa modern dengan perlakuan terhadap pranata-pranata tradisional di wilayah koloni pada awal abad ke-20.

    (hlm.99)

    Namun, berkat dukungan media tertentu dan persekongkolan berbagai lingkaran industry dan ekonomi, kampanye hitam itu menang, dan pada awal 1990an, meski buku tersebut dicetak ulang berkali-kali, isu yang diangkatnya telah menjadi “bahan tertawaan semua orang”.

    BAB

    Upaya Global Menggulingkan PDB

    ‘Ya, ada bukti yang mendukung kasus Anda, tetapi sebelum kita mengorbankan kesinambungan sejarah dengan membongkar bangunan yang diakui membahayakan ini, Anda harus kemukakan secara spsifik apa yang harus dipakai sebagai gantinya.

    (hlm.110)

    Memperbaiki atau Mengganti PDB?
    Pencarian Indikator-indikator Alternatif

    Usaha merevisi PDB yang pertama dikenal di dunia internasional dilakukan oleh William Nordhaus dan James Tobin pada 1971, ketika mereka mengembangkan indeks yang disebut Measure of Economic Welfare (MEW).

    Lebih lanjut, mereka memperhitungkan pandangan-pandangan yang mengiginkan ukuran kesejahteraan seharusnya juga mengikutsertakan kontribusi waktu luang dan pekerja rumah tangga.

    (hlm.113)

    Usaha terpadu pertama untuk mengintegrasikan data ekonomi makro, sosial, dan lingkungan ke dalam sebuah ukuran kesejahteraan manusia yang komprehensif dilakukan oleh pakar ekonomi ekologi Herman Daly dan teolog John Cobb pada akhir 1980an.

    Day dan Cobb menyebut pengganti PDB rancangan mereka ini sebagai Indexs of Sustainable Economics Welfare (ISEW). Indikator ini awalnya mencakup periode 1950-1986. Pada pertengahan 1990an, sebutannya diganti menjadi Genuine Progress Index (GPI), dengan berbagai pemuktahiran perhitungan hingga 2006.

    (hlm.119)

    Indeks ini juga menekankan bahwa ada rute yang berbeda-beda untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang sebanding.

    (hlm.126)

    Secara khusus laporan tersebut menyimpulkan bahwa “di seluruh negara, modal tidak berwujud sejauh ini merupakan bagian terbesar dari kesejahteraan” dan “di negara-negara miskin, modal yang berasal dari kesejahteraan” dan “di negara-negara miskin, modal yang berasal dari alam lebih penting ketimbang modal hasil produksi”, dan dengan demikian menyatakan bahwa pengelolaan sumber daya alam yang tepat seharunya menjadi komponen mendasar dari starategi pembangunan, “khususnya karena rumah tangga termiskin di negara-negara tersebut biasanya adalah yang paling bergantung pada sumber daya alam.”

    (hlm.127)

    Barangkali usaha paling tersohor untuk menolak hegemoni PDB dalam neraca nasional adalah yang dilakukan oleh Program Pembangunan PBB (UNDP) sejak 1990 dengan memperkenalkan Human Development Index Pembangunan Manusia (IPM).

    (hlm.128)

    Dengan kesadaran bahwa pendapatan rendah umunya dipakai untuk memenuhi kebutuhan pokok sementara pendapatan tinggi dihabiskan sebagiannya untuk kemewahan, IPM menggunakan PDB per kapita dlam versi reduksi guana memperhitungkan berkurangnya kontribusi pendapatapadan tinggi bagi pembangunan manusia, dengan sedikit sekali bobot yang diberikan pada kenaikan PDB per kapita di atas angka rata-rata dunia.

    (hlm.129)

    Bagi sebagian orang, indeks ini memberikan pemahaman yang melenceng mengenai pembangunan manusia Karena mengadopsi indikator-indikator ekonomi sosial tetapi tidak menyertakan ukuran-ukuran kebebasan politik dan hak asasi manusia.”

    Seperti yang dengan sinis dikatakan oleh ekonom libertarian Bryan Caplan, “Skandinavia berada di urutkan atas meurut IPM, karena IPM pada dasarnya adalah ukuran seberapa Skandinavia negara Anda.”

    (hlm.137)

    Namun demikian, pendekatan ini berlawanan dengan tradisi panjang yang telah menjadi kebiasaan aparatur negara, yang mendasarkan kenaikan jabatan pada tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah mereka.

    (hlm.147)

    Bagi sebagian besar pemerintahan negara Barat misalnya, mengukur kesejahteraann (atau kebahagiaan, seperti yang sedang tren saat ini) terlihat lebih seperti tabir asap berlaka untuk “memanusiakan” penghitungan statistic, tanpa pagangan nyata pada kebijakan.

    Misalnya, pengukuran kebahagiaan yang banyak digembar-gemborkan oleh Perdana Menteri Inggris David Cameron pada 2011, sejauh ini hanya terbatas pada dicantukannya pertanyaan-pertanyaan yang sangat umum dalam survei rumah tangga seperti berikut: “Seberapa puas Anda dengan hidup Anda saat ini?” “Sampai taraf apa Anda merasa hal-hal yang ada dalam hidup Anda ini berharga?” “Seberapa bahagia/cemas Anda kemarin?” Namun, seperti yang dikemukakan oleh New Economics Foundation dan UK Centre for Well Being, kesejahteraan merupakan hal yang lebih rumit dibanding pertanyaan-pertanyaan tadi dan perlu untuk ditangani dengan cara yang lebih bernuansa apabila kebijakan dan didasari oleh hal tersebut.

    (hlm.148)

    Di Inggris, pemimpin Demokrat Nick Clegg sedang menimang-nimang ide untuk memperkenalkan apa yang disebutnya sebagai “PDB+” pada 2020, dengan menggabungkan nilai ekosistem ke dalam kesejahteraan nasional.

    BAB 4

    Perubahan dari Bawah

    Konfrontasi dengan polisi bersenjata terjadi setiap hari, khususnya ketika gerakam cacerolazo (barisan orang yang berpawai sambil memukuli cacerolas atau panci) merebut perhatian dengan turun ke jalan-jalan di Buenos Aires.

    (hlm.155)

    Mereka membawa pakaian bekas, makanan rumahan, dan barang-barang lain untuk ditukar. Dengan segera terlihat bahwa kelompok masyarakat yang terbiasa menghasilkan secara lokal bidang-bidang yang memiliki pertambahan nilai seperti pangan dan sandang memiliki keuntungan lebih kuat dibanding mereka yang banyak bergantung pada jasa ritel dan barang-barang impor.

    (hlm.156)

    Sebaliknya, hampir seluruh wilayah pedesaan mulai menikmati kemakmuran setelah mereka menemukan cara baru yang lebih baik untuk menghasilkan berbagai macam barang-barang tahan lama dan khususnya pangan. Pasar-pasar lokal tempat para petani bisa menjual hasil bumi mereka menjamur di seluruh negeri, terutama berkat diperkenalkannya mata uang-mata uang lokal yang dikelola masyarakat sendiri sebagai alternatif peso, yang paling luas sebarannya dinami credito.

    (hlm.157)

    Memelihara kesatuan dianggap lebih penting dibanding efisiensi dalam pengambilan keputusan, sehingga rapat-rapat panjang dan pertimbangan-pertimbangan mendalam menjadi sangat umum.

    (hlm.158)

    Krisis telah membawa pembukaan yang fundamental. Ia telah menunjukkan bahwa sistem ekonomi alternatif itu mungkin, dan bahwa warga bisa berada di garis depan dalam merombak perekonomian, dan ini berarti: demokrasi dari bawah.

    (hlm.164)

    Pengetahuan dan keahlian akar rumput diprioritaskan, sedangkan beban pengiriman pangan yang mendongkrak harga dan merusak lingkungan dikurangi.

    (hlm.177)

    Perekonomian lokal itu seperti “ember bocor”: “Uang pensiun, pinjaman, dan gaji kita masuk ke dalam ember itu, tetapi pada saat itu juga pasar swalayana, toko waralaba, dan tagihan energi melubangi ember itu, memiskinkan perekonomian lokal.”

    Dan apabila uang itu digunaka untuk produksi dan konsumsi yang lebih dekat dengan rumah, “kita akan lebih memperhatikan cara produk-produk tersebut dibuat, dan aliran sampah yang dihasilkan oleh produk-produk itu.”

    (hlm.182)

    Mata uang lokal Jerman tentu saja terinspirasi oleh karya teoretikus moneter, pengusaha, dan anarkis Silvio Gessel, yang pertama kali mengembangkan ide tentang mata uang bebas pada 1980 di Argentina.

    (hlm.190)

    Simpulan

    Supremasi dan Perlawanan

    dalam kunjungan ke London School of Economics pada 2009, Ratu Elizabeth II mempertanyakan mengapa tidak ada satu pun ekonom memprediksi krisis keuangan 2008.

    Peraih Nobel Paul Krugman juga menyadari betapa dinamika groupthink menguasai lingkaran-lingkaran ekonomi. Dalam sebuah editorial panjang untuk New York Times Magazine, Krugman mengakui bahwa ada segelintir ekonom yang menentang asumsi perilaku rasional, yang mempertanyakan keyakinan bahwa pasar uang bisa dipercaya, dan menunjukkan sejarah panjang krisis keuangan yang punya konsekuesi-konsekuensi ekonomi yang sungguh menghancurkan: “Namun mereka berenang melawan arus, tak mampu membuat banyak kemajuan melawan keayeman telah meresap dan –kalau dipikir-pikir lagi–bodoh ini.”

    (hlm.194)

    Bahasa Inggris dengan jitu membenarkan hubungan erat antara pngukuran dan kekuasaan  ini. “Ruler” bisa berarti penguasa (raja, indikator, dan presiden yang terpilih secara demokratis) dan bisa berarti pula penggaris, alat yang tampaknya tidak berbahaya untuk menarik garis dan mengukur panjang.

    (hlm.195)

    “Pompalah uang ke dalam perekonomian dan pertumbuhan akan menciptakan lapangan kerja” telah menjadi mantra di kalangan pemimpin pemerintah seluruh dunia.

    (hlm.201)

    PDB dibangun di atas dusta besar. Dusta ini berkata bahwa pasar merupakan satu-satunya penghasil sejahteraan.

    Daftar Pustaka

    Baumol, W.J., dan Bowen, W.G. (1968) Performing Arts: The Economic Dilemma (Cambridge, MA:MIT Press).

    Polanyi, K. (2001 [1944]) The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time (Boston, MA: Beacon Press).

     

     

    Artikel Terkait

    Teori Ekonomi yang Terbukti Berguna untuk Mengelola Negara

    error: Content is protected !!