24 Bagaimana Meningkatkan Nilai Anak Anda di Sekolah: Menimbang teori atau penjelasan yang bersaing, asas kesesuaian, daya prediktif dan kesederhanaan serta The Law of Large Number

Ringkasan:

  1. Penelitian menunjukkan bahwa kekayaan, pendapatan, dan status pekerjaan Anda memengaruhi nilai anak-anak Anda di sekolah.
  2. Ini membantah gagasan Annette Lareau (yang dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell) tentang pentingnya gaya pengasuhan.
  3. Status sosial orang tua memengaruhi masa depan anak-anak mereka, bukan karena status itu sendiri, tetapi karena proses meritokratis dalam masyarakat.

………………………………………

Laszlo Polgar adalah seorang yang obsesif. Dia adalah orang Hongaria, seorang psikolog yang mempelajari kecerdasan di universitas. Dia terobsesi dengan kejeniusan.

Dia mempelajari 400 biografi para jenius, dari Socrates hingga Einstein. Dia percaya bahwa “jenius itu diciptakan, bukan dilahirkan”.

Banyak orang tua mungkin berpikir demikian. Tetapi, Laszlo menarik kesimpulan lebih jauh. Kejeniusan muncul dari spesialisasi yang tinggi di bidang tertentu pada usia yang sangat dini.

Yang membuatnya fenomenal adalah eksperimennya.

Dia bereksperimen dengan anak-anaknya: Zsuzsa, Zsofia, dan Judith. Dia tidak mengirim mereka ke pendidikan tradisional.

Sejak usia empat tahun, mereka dilatih hanya dalam satu hal: catur.

Bertahun-tahun kemudian, mereka menjadi wanita paling sukses dalam sejarah catur. Judith adalah satu-satunya wanita yang masuk 10 besar peringkat dunia.

Namun, apakah Laszlo benar? Apakah gaya pengasuhan itu penting?

Masalah Gaya Pengasuhan Tentu saja, Laszlo adalah pengecualian, bukan aturan umum. Sebagian besar orang tua tidak bermimpi anak-anak mereka menjadi Gary Kasparov atau Serena Williams berikutnya.

Kebanyakan dari kita berharap anak-anak kita mendapatkan nilai yang baik di sekolah, mendapatkan pekerjaan yang layak, dan menjalani kehidupan yang bahagia selamanya. Sesederhana itu.

Jadi, apa yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak-anak mereka mencapai nilai yang baik?

Dalam bukunya yang laris Outliers, Malcolm Gladwell mempopulerkan dan mempromosikan satu jenis gaya pengasuhan. Gaya tersebut disebut “concerted cultivation” (budidaya terpadu). Orang lain menyebutnya mungkin dengan istilah “soccer mom“.

Dalam concerted cultivation, orang tua berusaha menumbuhkan bakat anak mereka dengan menjadwalkan berbagai kegiatan terorganisir setelah sekolah.

Kegiatan concerted cultivation dapat berupa olahraga, pelatihan musik, atau lainnya. Orang tua percaya bahwa kegiatan ini akan mengajarkan mereka kerja keras dan disiplin. Selain itu, akan membantu meningkatkan nilai mereka di sekolah.

Gladwell mengklaim bahwa “concerted cultivation” adalah cara orang tua kaya mendidik anak-anak mereka. Sementara keluarga berpenghasilan rendah tidak mempraktikkan “concerted cultivation.”

Gladwell menegaskan bahwa inilah kunci mengapa anak-anak kaya sukses di sekolah sementara yang miskin tidak.

Siapa yang pertama kali menciptakan istilah concerted cultivation?

Dia adalah Annette Lareau, seorang profesor sosiologi di Temple University, Pennsylvania.

Dia menjelaskan “concerted cultivation” dalam bukunya Unequal Childhoods: Class, Race, and Family Life.

Buku ini didasarkan pada penelitiannya dengan anak-anak antara tahun 1993 dan 1995. Sepuluh tahun kemudian, dia melakukan survei lagi terhadap mereka.

Namun, ada masalah besar dalam penelitiannya. Dia hanya menyelidiki sampel yang sangat kecil.

Dia meneliti hanya 88 keluarga Afrika-Amerika dan 12 keluarga kulit putih di sekitarnya.

Kesimpulan umum yang diambil dari sampel yang sangat kecil ini sangat lemah.

Kekuatan prediksinya rendah.

Sampel ideal minimum adalah 400. Misalnya, untuk mewakili rumah tangga di AS, 400 sampel ini harus dipilih secara acak dan lintas negara bagian. Singkatnya, karena kualitas datanya lemah, maka kesimpulan yang diambil dari penelitian Lareau juga lemah.

Kalau begitu lantas apa yang benar?

Apa yang membuat anak-anak Anda mendapatkan nilai yang baik?

Jawabannya cukup aneh dan sama sekali tidak terkait dengan gaya pengasuhan.

Anak-anak Anda mungkin mendapatkan nilai yang lebih baik jika Anda lebih kaya, lebih tinggi dalam hierarki sosial, dan memiliki pendidikan yang lebih tinggi.

Singkatnya, anak-anak Anda lebih baik jika Anda (sebagai orang tua mereka) lebih baik dalam kehidupan. Cukup mengejutkan, bukan?

Mari kita selidiki lebih dalam.

Pertama, saya akan menunjukkan bukti.

Kedua, saya akan menunjukkan alasan di balik pernyataan ini.

Alice Sullivan, Sosthenes Ketende, dan Heather Joshi adalah trio yang menyelidiki pertanyaan ini dengan cermat.

Sullivan dan Joshi adalah peneliti di Institute of Education, University of London, Inggris. Ketende berasal dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Maryland, AS.

Mereka menulis sebuah makalah berjudul Social Class and Inequalities in Early Cognitive Scores. Sullivan dan rekan-rekannya menggunakan data dari 14.000 anak berusia tujuh tahun dari Millennium Cohort Study.

Studi ini mengikuti kehidupan sekitar 19.000 anak-anak muda yang lahir antara tahun 2000-2002 di Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.

Penelitian ini memiliki sampel yang sangat besar dan mewakili seluruh populasi anak di Inggris Raya. Singkatnya, kualitas data ini sangat luar biasa.

Dalam makalah mereka, Sullivan dan rekan-rekannya menguji 85 faktor yang mungkin terkait dengan nilai yang baik.

Misalnya, mereka menguji jumlah saudara kandung, usia dan jenis kelamin anak, kelas sosial orang tua, etnis, pendapatan, pendidikan, status pekerjaan, usia ibu saat melahirkan pertama, penyakit, menyusui, waktu tidur yang teratur, waktu makan yang teratur, membaca kepada anak, kunjungan ke perpustakaan, mengajarkan anak berhitung atau alfabet, dan banyak lagi.

Mereka menguji begitu banyak faktor untuk mencegah omission bias (bias kelalaian) yaitu bias yang terjadi jika Anda mengabaikan apa yang seharusnya tidak diabaikan.

Mereka menyimpulkan bahwa “bukti penelitian yang ketat tidak mendukung klaim yang lebih berlebihan tentang pengasuhan dan hasil anak yang tidak merata.” Dengan kata lain, “gaya pengasuhan tidak memengaruhi nilai.”

Anak-anak kaya mendapatkan nilai yang lebih baik, bukan karena cara orang tua kaya mendidik anak mereka. Anak-anak kaya mendapatkan nilai yang lebih baik karena orang tua mereka kaya.

Kelas sosial orang tua, pendidikan orang tua, dan pendapatan orang tua adalah holy trinity yang memengaruhi nilai anak-anak.

Pekerjaan yang lebih tinggi, pendidikan yang lebih tinggi, dan pendapatan yang lebih tinggi dari orang tua secara signifikan memengaruhi hasil pendidikan anak-anak mereka, seperti yang ditunjukkan di bawah ini:

Figure 1

The Importance of Social Economic Status of Parent’s to Children Educational Outcome

Sumber: Sullivan, Alice & Ketende, Sosthenes & Joshi, Heather. (2013)

Gambar di atas adalah grafik yang menampilkan hasil dari model statistik yang mengukur hubungan antara berbagai faktor sosial-ekonomi orang tua dengan prestasi pendidikan anak-anak mereka.

Grafik ini mengilustrasikan kontribusi berbagai faktor, seperti kelas sosial, kuintil pendapatan, dan tingkat pendidikan orang tua, terhadap hasil pendidikan anak-anak dalam beberapa model statistik yang berbeda (Model 1 hingga Model 5).

Cara Membaca Grafik

Sumbu Horizontal (X-axis): Sumbu horizontal menunjukkan nilai koefisien, yang mengindikasikan dampak dari masing-masing variabel pada hasil pendidikan anak-anak.

Nilai positif di sebelah kanan berarti faktor tersebut memberikan dampak positif pada prestasi anak-anak, sedangkan nilai negatif di sebelah kiri menunjukkan dampak negatif.

Sumbu Vertikal (Y-axis): Di sisi kiri sumbu vertikal, berbagai kategori ditampilkan, seperti:

a. Kelas sosial orang tua: Higher salariat (pekerjaan bergaji tinggi), Lower salariat, Intermediate, Petty bourgeois, Lower supervisory and technical, Semi routine and routine, Never worked.

b. Kuintil Pendapatan: Income quintile top (kuintil tertinggi), 4, 3, 2, dan bottom (kuintil terbawah).

c. Tingkat Pendidikan Orang Tua: Higher degree (gelar pascasarjana), First degree (gelar sarjana), A level or HE diploma (sertifikat A level atau diploma pendidikan tinggi), GCSE A-C, GCSE D-G, Vocational or other only (pendidikan kejuruan), dan None (tidak memiliki pendidikan formal).

Legenda Model: Di sisi kanan grafik, terdapat lima jenis model statistik yang diwakili oleh berbagai pola dan warna batang:

Model 1 hingga Model 5: Setiap model merepresentasikan variasi analisis yang berbeda, dengan mempertimbangkan berbagai kombinasi variabel yang diuji.

Misalnya, Model 1 mungkin hanya mencakup faktor dasar, sementara Model 5 mungkin melibatkan lebih banyak variabel kontrol atau interaksi antarvariabel.

Batang Bar: Setiap kategori di sumbu vertikal memiliki beberapa batang yang menunjukkan hasil dari masing-masing model. Semakin panjang batang ke arah kanan, semakin besar kontribusi positif faktor tersebut terhadap prestasi pendidikan anak. Sebaliknya, batang yang mengarah ke kiri menunjukkan kontribusi negatif.

Interpretasi Grafik

Grafik ini menunjukkan bahwa beberapa faktor sosial-ekonomi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi pendidikan anak. Berikut adalah beberapa poin penting yang dapat diambil dari grafik ini:

Kelas Sosial Orang Tua:

Anak-anak dari keluarga dengan pekerjaan bergaji tinggi (Higher salariat) cenderung memiliki prestasi pendidikan yang lebih baik, terutama dalam Model 1 dan Model 2, yang menunjukkan nilai koefisien positif yang besar.

Sebaliknya, anak-anak dari keluarga yang tidak pernah bekerja (Never worked) memiliki prestasi yang lebih rendah, terlihat dari nilai koefisien negatif yang signifikan di beberapa model.

Pendapatan Orang Tua:

Anak-anak dari keluarga dengan kuintil pendapatan tertinggi (income quintile top) juga menunjukkan hasil yang positif dalam semua model, yang mengindikasikan bahwa pendapatan tinggi terkait erat dengan prestasi pendidikan yang lebih baik.

Sebaliknya, anak-anak dari kuintil pendapatan terbawah (income quintile bottom) cenderung memiliki hasil yang lebih rendah, meskipun pengaruhnya tidak selalu negatif dalam semua model.

Pendidikan Orang Tua:

Tingkat pendidikan orang tua, terutama mereka yang memiliki gelar pascasarjana (Higher degree) dan sarjana (First degree), berpengaruh sangat positif pada prestasi pendidikan anak. Batang untuk kategori ini menunjukkan koefisien positif yang tinggi dalam semua model.

Orang tua yang tidak memiliki pendidikan formal (None) menunjukkan hasil negatif yang konsisten, terutama dalam model yang lebih kompleks.

Grafik ini mendukung argumen bahwa status sosial-ekonomi orang tua, termasuk pekerjaan, pendapatan, dan tingkat pendidikan, memainkan peran penting dalam menentukan prestasi pendidikan anak-anak.

Faktor-faktor seperti kelas sosial tinggi, pendapatan yang lebih besar, dan pendidikan yang lebih tinggi secara konsisten dikaitkan dengan prestasi pendidikan yang lebih baik. Sebaliknya, anak-anak dari keluarga dengan status sosial rendah atau tanpa pekerjaan, serta pendidikan yang rendah, cenderung menunjukkan hasil yang kurang baik.

Model yang lebih kompleks seperti Model 5 memperhitungkan lebih banyak faktor dan memberikan gambaran yang lebih lengkap, tetapi hasil utamanya tetap menunjukkan hubungan kuat antara status sosial-ekonomi dan prestasi pendidikan anak.

Dengan kata lain:

Pertama, status pekerjaan orang tua yang lebih tinggi (disebut “higher salariat”) menyebabkan kemampuan intelektual anak-anak mereka lebih maju dibandingkan dengan orang tua yang memiliki pekerjaan dengan status lebih rendah.

Seberapa maju? Sebesar 18,5 bulan.

Ini berarti anak-anak yang orang tuanya adalah dokter, bankir, atau CEO memiliki kemampuan mental yang jauh lebih berkembang dibandingkan dengan anak-anak yang orang tuanya bekerja di pekerjaan dengan status yang lebih rendah.

Kedua, anak-anak yang orang tuanya lulusan universitas memiliki keuntungan yang setara dengan usia 12,5 bulan, dan bahkan lebih besar jika orang tua mereka memiliki gelar pascasarjana.

Ketiga, orang tua dengan pendapatan yang lebih tinggi juga memberikan keuntungan bagi anak-anak mereka, meskipun tidak sebesar dampak jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan.

Yang mengejutkan, para peneliti menemukan bahwa tidak ada pengaruh signifikan dari kunjungan perpustakaan, pengajaran alfabet, pengajaran berhitung, waktu tidur yang teratur, atau waktu makan yang teratur terhadap nilai anak-anak, dibandingkan dengan status sosial-ekonomi orang tua.

Untuk memberikan konteks, higher atau lower salariat berarti kelas sosial-ekonomi menurut seorang sosiolog.

Ini mencerminkan posisi di pasar tenaga kerja, kekuasaan, dan status.

Higher salariat berarti lebih prestisius, lebih berkuasa, dan memiliki status yang lebih tinggi.

Ini juga mencerminkan pendapatan serta keamanan ekonomi jangka panjang, stabilitas, dan prospek.

Higher salariat juga menggambarkan kekuasaan dalam hubungan otoritas, perintah, kontrol, dan otonomi di tempat kerja.

Contoh pekerjaan higher salariat adalah pengacara, ilmuwan, dosen, insinyur profesional, dan pekerjaan manajerial tingkat tinggi seperti CEO atau pejabat pemerintah.

Kelas sosial rendah diklasifikasikan sebagai lower salariat, seperti guru, pekerja sosial, perawat, tenaga medis, pilot, jurnalis, dan semua manajer di perusahaan kecil.

Konsep concerted cultivation adalah contoh kebingungan antara sebab dan akibat.

Aktivitas concerted cultivation biasanya disebut “modal budaya”. Beberapa aktivitas kelas sosial yang lebih tinggi sebagai “modal budaya” secara keliru disebut sebagai “pengasuhan”.

Orang tua kaya membawa anak-anak mereka ke opera bukan karena itu adalah bagian dari pengasuhan, tetapi karena itu adalah perilaku kelas sosial tinggi yang sudah berlangsung sejak lama. Ini adalah “modal budaya”.

Anda bisa membeli tiket untuk menonton opera mahal dan memiliki waktu luang karena Anda kaya. Bukan sebaliknya.

Menikmati opera adalah gejala, menjadi kaya adalah penyebab utama.

Keluarga miskin bisa saja membeli tiket opera (gejala), tetapi mereka tidak bisa meniru kekayaan yang dimiliki oleh keluarga kaya (penyebab utama).

Sebagai ilustrasi, mari kita pertimbangkan “kekeliruan Hemingway.” Ernest Hemingway adalah seorang penulis besar.

Hemingway terkenal dengan jenggot dan kumisnya. Dia sering mengenakan kemeja khaki dan celana pendek atau sweater tebal. Ini adalah gaya berpakaian yang aneh pada zamannya.

Anda melakukan “kekeliruan Hemingway” jika Anda bercita-cita menjadi penulis hebat hanya dengan meniru penampilan Hemingway. Mungkin Anda mulai berpakaian dengan kemeja khaki atau sweater tebal.

Anda mulai memelihara jenggot dan kumis. Padahal, semua itu tidak ada hubungannya dengan keterampilan menulis. Kebenarannya mungkin justru sebaliknya.

Hemingway mulai berpakaian sesukanya karena dia sudah menjadi penulis ikonik. Bukan sebaliknya!

Warisan budaya dari generasi ke generasi sangat kuat. Secara bercanda, salah satu keputusan paling penting yang seharusnya kita buat sebelum kita lahir adalah siapa orang tua kita.

Ilustrasi lain adalah hubungan antara buku dan kecerdasan anak-anak. Anda mungkin bertanya-tanya mengapa anak-anak yang memiliki banyak buku di rumahnya lebih pintar dibandingkan dengan anak-anak yang tidak.

Anda mungkin menyimpulkan bahwa buku membantu mereka mengetahui tentang dunia, sehingga mereka lebih pintar. Ini mungkin salah.

Penjelasan yang lebih baik adalah bahwa mereka lebih pintar karena mewarisi gen cerdas dari orang tua mereka.

Karena ayah atau ibu mereka cerdas, mereka mengumpulkan banyak buku.

Mengapa? Karena orang cerdas mudah menyerap informasi, termasuk dari buku.

Mobilitas Sosial

Mengapa anak-anak dari keluarga kaya, secara umum, cenderung memiliki nilai yang lebih baik di sekolah dan kemudian mendapatkan pekerjaan yang lebih baik?

Peter Saunders dalam makalahnya Social Mobility in Britain: An Empirical Evaluation of Two Competing Explanations menjelaskan bahwa ada dua penjelasan yang saling bersaing:

Penjelasan pertama berpendapat bahwa anak-anak dari keluarga kaya menerima lebih banyak dorongan dari orang tua mereka.

Mereka juga bersekolah di sekolah yang lebih baik. Mereka belajar cara berpikir, berbicara, dan berperilaku kelas menengah sejak usia dini.

Orang tua mereka memberikan mereka kontak dan jaringan penting untuk menempatkan mereka dalam pekerjaan yang baik, dan sebagainya.

Singkatnya, mereka memiliki lingkungan sosial yang lebih baik – rumah, sekolah, dan kelompok teman mereka. Mari kita sebut ini “tesis lingkungan”.

Penjelasan kedua berpendapat bahwa kecerdasan dan karakter individu lebih penting daripada lingkungan. Mari kita sebut ini “tesis meritokratis”.

Di negara maju, sistem pasar bebas memberikan kesempatan bagi individu yang mampu dan pekerja keras untuk mencapai kesuksesan.

Melalui kecerdasan dan kerja keras, mereka memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, pendapatan yang lebih tinggi, dan status yang lebih tinggi dalam hierarki pekerjaan. Orang tua yang sukses ini kemudian sering kali menghasilkan anak-anak dengan kualitas yang sama.

Pada generasi berikutnya, proses ini diulang. Begitu seterusnya. Jadi, dalam meritokrasi, anak-anak kaya cenderung lebih berhasil bukan karena keuntungan lingkungan sosial, tetapi karena mereka (secara genetis dan melalui sosialisasi) memiliki kualitas pribadi yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan dalam masyarakat yang kompetitif.

Penjelasan mana yang benar? Jawabannya adalah TESIS MERITOKRATIS.

Saunders menganalisis data dari British National Child Development Study. Ini adalah studi longitudinal yang didasarkan pada panel awal dari setiap anak yang lahir selama satu minggu pada tahun 1958 di Inggris.

Sampel ini sangat besar, terdiri dari 17.414 anak. Anak-anak ini, bersama orang tua mereka, sekolah mereka, dan pasangan mereka pada akhirnya, telah dikunjungi kembali sebanyak lima kali sejak itu, yang terakhir pada tahun 1991.

Saunders menggunakan data besar ini untuk menunjukkan bahwa tesis meritokratis lebih unggul dari tesis lingkungan dalam memprediksi kelas pekerjaan yang dicapai oleh lebih dari 6.000 pria dan wanita pada usia 33 tahun.

Bagaimana bisa?

British National Child Development Study menguji sekitar 6.000 dari 17.414 anak ketika mereka berusia 7, 11, dan 16 tahun. Tes ini meliputi matematika, membaca, dan kemampuan umum.

Tes ini memberikan kita indikator yang baik tentang berbagai bakat dan kemampuan, termasuk literasi dan numerasi, yang kemungkinan besar terbukti sangat penting baik untuk keberhasilan akademis maupun karir.

Lihat tabel di bawah ini:

Class of Origin (Parent’s Class)Mean Test ScoreStandard Deviation  Class of Destination (Child’s Actual Class in 33 years old)Mean Test ScoreStandard Deviation
1 or 250.614.31 or 251.613.7
344.015.0342.214.7
4 or 540.215.34 or 536.314.8
Number of samples: 5,565 Coefficient correlation between social class and test score: 0.24Number of samples: 5,826 Coefficient correlation between social class and test score: 0.37

Table 1

Mean Ability Test Scores by Class of Origin (Parent’s Class) and Class of Destination (Child’s Actual Class in 33 years old)

Sumber: Saunders (1997)

Gambar ini adalah tabel yang menampilkan hasil penelitian mengenai hubungan antara kelas sosial asal orang tua (Class of Origin) dan kelas sosial yang dicapai oleh anak pada usia 33 tahun (Class of Destination) dengan skor tes mereka.

Tabel ini memberikan informasi tentang distribusi rata-rata skor tes (Mean Test Score) dan deviasi standar (Standard Deviation) berdasarkan kelas sosial asal dan kelas sosial tujuan.

Selain itu, koefisien korelasi antara kelas sosial dan skor tes juga disertakan untuk membantu mengukur kekuatan hubungan tersebut.

Cara Membaca Tabel Ini

Class of Origin maksudnya adalah kelas sosial asal orang tua murid dan Class of Destination maksudnya adalah kelas sosial anak ketika akhirnya mereka mencapai usia 33 tahun

Tabel ini terbagi menjadi dua bagian utama: bagian kiri menunjukkan kelas sosial asal orang tua, sedangkan bagian kanan menunjukkan kelas sosial yang dicapai anak pada usia 33 tahun. Kelas sosial ini dikategorikan ke dalam tiga kelas:

1 atau 2: Kelas sosial atas atau menengah (misalnya, manajer, profesional).

3: Kelas menengah bawah atau pekerja kerah putih (misalnya, pekerja administrasi).

4 atau 5: Kelas pekerja atau kelas bawah (misalnya, pekerja manual, tenaga kerja kasar).

Mean Test Score (Rata-rata Skor Tes)

Angka-angka pada kolom ini menunjukkan skor rata-rata pada tes kemampuan yang diambil oleh anak-anak saat mereka berusia 7, 11, dan 16 tahun.

Ini adalah skor rata-rata berdasarkan kelas sosial asal dan kelas sosial yang dicapai saat dewasa.

Skor ini digunakan sebagai indikator kemampuan akademis yang berkaitan dengan keberhasilan pendidikan dan karir.

Standard Deviation (Deviasi Standar)

Kolom ini menunjukkan seberapa besar variasi atau penyebaran skor tes dari rata-rata.

Deviasi standar yang lebih tinggi menunjukkan bahwa ada lebih banyak variasi dalam skor tes di antara individu-individu dalam kelas sosial tersebut.

Number of Samples (Jumlah Sampel)

Tabel ini menyertakan informasi tentang jumlah anak yang diuji di setiap kategori. Ini penting untuk mengetahui ukuran sampel yang mendasari analisis ini, yaitu 5.565 sampel untuk kelas sosial asal dan 5.826 sampel untuk kelas sosial yang dicapai anak pada usia 33 tahun.

Koefisien Korelasi

Koefisien korelasi antara kelas sosial dan skor tes diberikan di bagian bawah tabel:

Koefisien korelasi 0,24 untuk kelas asal orang tua menunjukkan bahwa ada hubungan sedang antara kelas sosial orang tua dan skor tes anak-anak mereka.

Artinya, kelas sosial orang tua memengaruhi skor tes anak-anak mereka, meskipun bukan satu-satunya faktor.

Koefisien korelasi 0,37 untuk kelas sosial yang dicapai oleh anak menunjukkan hubungan yang lebih kuat antara skor tes dan kelas sosial yang dicapai anak pada usia 33 tahun.

Ini berarti skor tes mereka saat kecil lebih berkorelasi dengan kelas sosial yang mereka capai saat dewasa.

Interpretasi Tabel Ini

Hubungan antara Kelas Sosial Asal dan Skor Tes

Rata-rata skor tes anak-anak dari kelas sosial atas atau menengah (kelas 1 atau 2) adalah 50,6 dengan deviasi standar 14,3.

Ini lebih tinggi dibandingkan anak-anak dari kelas pekerja atau kelas bawah (kelas 4 atau 5), yang memiliki skor rata-rata 40,2 dengan deviasi standar 15,3.

Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak dari kelas sosial yang lebih tinggi cenderung memiliki skor tes yang lebih baik, yang mungkin mencerminkan akses mereka ke sumber daya pendidikan yang lebih baik dan lingkungan yang lebih mendukung.

Hubungan antara Kelas Sosial yang Dicapai dan Skor Tes

Ketika melihat kelas sosial yang dicapai oleh anak-anak saat mereka berusia 33 tahun, pola yang sama terjadi. Anak-anak yang mencapai kelas sosial atas atau menengah (kelas 1 atau 2) memiliki skor tes rata-rata yang lebih tinggi (51,6) dibandingkan dengan mereka yang berada di kelas pekerja atau kelas bawah (kelas 4 atau 5) dengan skor rata-rata 36,3.

Perbedaan yang lebih besar antara kelas sosial yang dicapai dibandingkan dengan kelas sosial asal (seperti terlihat pada perbedaan koefisien korelasi) menunjukkan bahwa skor tes saat kecil adalah prediktor yang kuat dari status sosial yang akan dicapai seseorang ketika dewasa.

Data ini mendukung gagasan bahwa anak-anak dari keluarga kaya atau berstatus sosial lebih tinggi cenderung memiliki skor akademis yang lebih baik, yang kemudian berkontribusi pada kesuksesan mereka dalam mencapai kelas sosial yang lebih tinggi di masa dewasa.

Selain itu, tes kemampuan intelektual di usia muda tampaknya menjadi indikator yang kuat untuk meramalkan kelas sosial yang dicapai di masa depan, memperkuat argumen bahwa meritokrasi memainkan peran dalam mobilitas sosial.

Tabel ini secara keseluruhan menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari status sosial orang tua dan kemampuan akademik awal terhadap mobilitas sosial anak-anak mereka di masa depan.

Atau dengan kata lain:

Pertama, seperti yang sudah diduga, skor anak-anak dalam tes kemampuan sangat terkait dengan kelas sosial orang tua mereka.

Kedua, data menunjukkan bahwa korelasi antara “kelas sosial pada usia 33 tahun” dan “skor tes” lebih kuat (0,37) daripada korelasi antara “kelas sosial orang tua” dan “skor tes” (0,24).

Ini berarti bahwa alasan mengapa individu tersebut akhirnya dapat mencapai kelas sosial yang lebih tinggi adalah karena kemampuannya, bukan siapa orang tuanya.

Ketiga, rata-rata skor tes seseorang yang berada di kelas sosial rendah pada usia 33 tahun adalah 36,3. Namun, rata-rata skor tes seseorang yang orang tuanya miskin adalah 40,2.

Ini berarti beberapa anak dari orang tua kelas bawah, yang memiliki kecerdasan lebih baik, berhasil menghindari mengulang nasib orang tua mereka.

Selain kemampuan, “usaha” juga merupakan bagian dari tesis meritokrasi.

Dalam studi ini, tiga faktor memberikan ukuran yang paling kuat tentang ‘usaha’:

(a) skala motivasi. Ini didasarkan pada pertanyaan sikap yang dijawab oleh anak-anak pada usia 16 tahun (motivasi);

(b) faktor ‘absensi’. Ini didasarkan pada catatan bolos sekolah dan laporan tentang absensi yang tidak penting (absensi), dan

(c) faktor ‘komitmen kerja’. Ini didasarkan pada jawaban terhadap tiga pertanyaan sikap pada usia 33 tahun, semuanya mengukur sejauh mana responden berpikir bahwa orang harus bertahan pada pekerjaan mereka meskipun mereka merasa tidak puas (sikap terhadap pekerjaan).

Jika digabungkan dengan skor kemampuan pada usia 11 tahun (kemampuan), ini mewakili indikator utama untuk menguji meritokrasi:

FaktorHubungan
Kemampuan+0.26
Motivasi+0.16
Sikap Kerja (Attitude)+0.15
Jender+0.10
Kakek nenek-0.09

Table 2

A Logistic Regression Model Predicting Class 4 or 5 Children Entering Class 1 or 2 Against Those Remaining in Class

Sumber: Saunders, Peter (1997)

Tabel tersebut menunjukkan bahwa kemampuan (R=0,26) merupakan pengaruh terkuat mengapa seseorang dapat masuk ke kelas sosial 1 atau 2, dengan motivasi (R=0,16) dan sikap terhadap pekerjaan (R=0,15) sebagai faktor kontribusi.

Ada dua pelajaran penting di sini:

Pelajaran pertama: Jika Anda adalah seorang dewasa muda, Anda harus memilih pendidikan dan karier dengan hati-hati.

Anda juga harus sangat berhati-hati dalam memilih pasangan hidup.

Pilihan pendidikan dan karier Anda (dan pasangan Anda) sangat memengaruhi nasib anak-anak Anda, termasuk nilai mereka di sekolah.

Genetika Anda dan pasangan Anda juga akan sangat mempengaruhi anak-anak Anda.

Robert Plomin menunjukkan pentingnya faktor genetik dalam bukunya Blueprint: How DNA Makes Us Who We Are. Buku ini berpendapat bahwa variasi dalam DNA individu memiliki dampak besar pada sifat-sifat kita. Plomin menunjukkan dalam bukunya bahwa banyak studi besar tentang anak kembar telah mengonfirmasi pernyataan ini.

Pelajaran kedua: Sebuah meritokrasi tidak memberikan penghargaan kepada individu hanya karena mereka dilahirkan cerdas.

Kemampuan hanya akan dihargai jika digunakan untuk tujuan sosial yang baik (good social use).

Dalam ekonomi pasar, pemberi kerja atau pelanggan jasa Anda tidak memberikan uang dan status sebagai penghargaan atas kecerdasan Anda; mereka melakukannya karena Anda menggunakan kecerdasan Anda untuk memberikan sesuatu yang mereka anggap berharga dan siap mereka bayar.

Kecerdasan Anda (meskipun merupakan warisan) tidak ada artinya kecuali Anda dapat menyediakan sesuatu yang bernilai bagi masyarakat.

Hercules, pahlawan legendaris dalam mitologi Yunani, tidak dikagumi dan dihargai hanya karena kekuatan luar biasanya, tetapi karena kemampuannya dan kerja kerasnya untuk menyelesaikan “dua belas tugas mustahil” yang diberikan kepadanya.

—————————————————————————————————————-

Pelajaran tentang Critical Thinking dari bagian “How to Choose Among Competing Theories” oleh Irving Copi dan Carl Cohen adalah pentingnya standar dalam memilih di antara teori atau hipotesis yang bersaing.

Ketika menghadapi lebih dari satu hipotesis yang tampaknya menjelaskan fakta dengan baik, kita tidak bisa menganggap semuanya benar.

Oleh karena itu, kita harus memilih di antara penjelasan ilmiah yang tersedia dengan menggunakan kriteria yang dapat diterima secara ilmiah.

Pelajaran utama yang dapat diambil adalah bahwa memilih hipotesis yang terbaik melibatkan lebih dari sekadar mempertimbangkan apakah hipotesis tersebut relevan dan dapat diuji.

Ada tiga kriteria utama yang sering digunakan untuk menilai hipotesis yang bersaing:

Satu, Kompatibilitas dengan Hipotesis yang Sudah Terbukti Sebelumnya

Hipotesis yang baik harus sejalan dengan sistem hipotesis penjelas yang sudah mapan sebelumnya. Ilmu pengetahuan berupaya mencapai sistem hipotesis penjelas yang saling mendukung dan konsisten secara internal.

Hipotesis baru yang bertentangan dengan fakta atau teori yang telah terbukti sebelumnya akan cenderung ditolak, karena tidak mungkin seluruh kumpulan proposisi tersebut benar jika ada elemen kontradiktif di dalamnya.

Dengan kata lain, kita harus memastikan bahwa hipotesis baru tidak bertentangan dengan teori yang sudah diterima secara luas dan memiliki dukungan kuat dalam komunitas ilmiah.

Dari pelajaran ini, kita dapat memahami pentingnya mempertimbangkan konsistensi teori baru dengan teori yang sudah mapan saat menilai teori yang bersaing. Misalnya, dalam konteks mobilitas sosial, ada dua teori yang bersaing: tesis lingkungan (environment thesis) dan tesis meritokratis (meritocratic thesis).

Tesis meritokratis didukung oleh studi longitudinal besar yang menunjukkan bahwa kecerdasan dan usaha individu memainkan peran besar dalam pencapaian sosial mereka, yang juga sesuai dengan teori sebelumnya mengenai pentingnya faktor kemampuan dalam meraih kesuksesan.

Di sisi lain, tesis lingkungan juga memiliki dasar, tetapi mungkin kurang sesuai dengan hasil empiris terbaru yang lebih mendukung tesis meritokratis.

Memilih di antara teori-teori ini tidak hanya bergantung pada relevansi dan tesabilitas masing-masing teori, tetapi juga pada seberapa baik mereka sesuai dengan teori dan bukti yang sudah ada.

Pelajaran Critical Thinking dari bagian ini oleh Irving Copi dan Carl Cohen memberikan panduan yang sangat penting dalam memilih di antara teori-teori yang bersaing.

Mereka menekankan tiga kriteria yang bisa digunakan untuk menilai teori mana yang lebih baik: selain kompatibilitas dengan teori yang sudah mapan, mereka juga menekankan kemampuan prediktif dan kesederhanaan.

Dua, Kemampuan Prediktif

Setiap hipotesis ilmiah harus dapat diuji, dan kemampuan untuk diuji membutuhkan adanya fakta atau fakta yang dapat diamati yang dapat dideduksi darinya.

Hipotesis alternatif akan berbeda dalam sifat dan luasnya prediksi mereka, dan kita mencari penjelasan teoretis yang memiliki daya prediktif lebih besar.

Sebagai contoh, teori gravitasi universal Newton memiliki daya prediktif yang sangat besar. Semakin besar daya prediktif suatu hipotesis, semakin baik hipotesis tersebut berkontribusi terhadap pemahaman kita tentang fenomena yang dibahasnya.

Sampel yang lebih besar menghasilkan daya prediktif yang lebih baik dan lebih kuat. Laszlo Polgar adalah bukti anekdotal.

Ini berarti hanya satu kasus yang mendukung suatu kesimpulan. Ini adalah cara terlemah untuk mencapai kesimpulan umum.

Sampel kecil dan tidak representatif seperti penelitian Annette Lareau lebih baik daripada bukti anekdotal, tetapi daya prediktifnya tetap lemah. Mengapa? Dalam sampel kecil, probabilitas ekstrem lebih mungkin terjadi.

Sebagai contoh, Thomas Kane dan Douglas Staiger menemukan bahwa 28% sekolah terkecil di negara bagian masuk ke dua puluh lima teratas. Mengapa? Di sekolah kecil, beberapa anak berbakat dapat mengubah rata-rata secara drastis.

Contoh lain: Rumah sakit mana yang akan menunjukkan persentase kelahiran anak laki-laki yang lebih besar? Rumah sakit kecil. Karena di rumah sakit besar, kemungkinan kelahiran anak laki-laki akan mendekati 50%.

Argumen terkuat adalah argumen di mana penalaran koheren dan konsisten, bebas dari kesesatan logika, serta didukung oleh bukti yang besar dan representatif.

Argumen ini memiliki daya prediktif yang kuat. Anda mungkin melihat bahwa kenyataan tidak jauh dari apa yang mereka prediksi.

Ketiga, Kesederhanaan (Parsimoni).

Dua hipotesis yang saling bersaing mungkin sama-sama cocok dengan teori yang sudah mapan, dan keduanya mungkin memiliki daya prediktif yang hampir sama.

Dalam situasi seperti itu, kita cenderung memilih hipotesis yang lebih sederhana di antara keduanya. Konflik antara teori Ptolemeus (berpusat pada Bumi) dan teori Kopernikus (berpusat pada Matahari) tentang gerakan benda langit adalah contohnya.

Keduanya cocok dengan teori-teori sebelumnya, dan keduanya memprediksi gerakan benda langit dengan sama baiknya.

Kedua hipotesis bergantung pada alat yang canggung (dan, seperti yang kita ketahui sekarang, salah), yaitu epicycle (lingkaran gerakan kecil pada orbit yang lebih besar), untuk menjelaskan beberapa pengamatan astronomi yang sudah mapan.

Namun, sistem Kopernikus bergantung pada lebih sedikit epicycle, sehingga lebih sederhana. Kesederhanaan yang lebih besar ini berkontribusi secara signifikan pada penerimaannya oleh para astronom kemudian.

Kesederhanaan tampaknya merupakan kriteria yang “alami” untuk digunakan. Dalam kehidupan sehari-hari juga, kita cenderung menerima teori yang paling sederhana yang sesuai dengan semua fakta.

Dua teori tentang kejahatan mungkin diajukan di pengadilan; putusan cenderung—dan seharusnya—diberikan mendukung hipotesis yang tampaknya lebih sederhana dan lebih alami.

The Law of Large Number (Hukum Bilangan Besar)

Ketika Anda melempar koin dan mencatat hasilnya, berapa peluang atau probabilitas bahwa hasilnya adalah sisi kepala? Secara umum, probabilitas mengatakan bahwa peluangnya adalah 50-50, atau 50% untuk mendapatkan kepala dan 50% untuk ekor.

Namun, jika Anda melempar koin dua kali, apakah probabilitas juga menjamin bahwa hasilnya akan berupa satu kepala dan satu ekor? Tidak selalu.

Dengan sampel kecil, seperti sepuluh kali lemparan, Anda mungkin mendapatkan sepuluh kepala dan nol ekor. Hasil ini dapat menyimpang dari kenyataan.

Tetapi sebenarnya, peluang tetap 50-50. Jika Anda melakukan 6.000 kali lemparan, hasilnya akan lebih mendekati realitas probabilitas tersebut. Semakin besar sampel Anda, semakin dekat hasilnya dengan kenyataan.

Berikut ini adalah bukti dari hukum bilangan besar:

(1) Ahli alam Prancis, Count Buffon (1707-1788), melempar koin sebanyak 4.040 kali. Hasilnya: 2.048 kali kepala, atau proporsi 2.048/4.040 = 50,69% untuk kepala.

(2) Sekitar tahun 1900, ahli statistik Inggris, Karl Pearson, secara heroik melempar koin sebanyak 24.000 kali. Hasilnya: 12.012 kali kepala, dengan proporsi 50,05%

(3) Saat dipenjara oleh Jerman selama Perang Dunia II, ahli statistik Afrika Selatan, John Kerrich, melempar koin 10.000 kali. Hasilnya: 5.067 kali kepala, dengan proporsi kepala 50,67%

Ketiga contoh ini mengilustrasikan Hukum Bilangan Besar, di mana semakin besar jumlah percobaan (lemparan koin), hasilnya akan semakin mendekati probabilitas teoritis, yaitu 50-50.

Berikut adalah contoh lainnya:

(1) Carl Reinhold August Wunderlich, seorang dokter Jerman, mengukur suhu ketiak dari sekitar 25.000 orang, dan dari hasil analisisnya, ia menetapkan suhu tubuh normal sebesar 98,6°F (atau 37°C).

(2) Ketika sekelompok peneliti Stanford menganalisis pengukuran suhu yang diambil selama tiga periode sejarah—1860-1940, 1970-an, dan 2007-2017—mereka menemukan bahwa rata-rata suhu tubuh manusia sehat sedikit menurun.

(3) Sebuah studi Inggris pada tahun 2017 yang dilakukan pada lebih dari 35.000 pasien menemukan bahwa suhu mulut rata-rata di antara partisipan adalah 36,6°C atau 97,88°F.

Berdasarkan hukum bilangan besar ini, taruhan pada jumlah besar cenderung lebih aman karena lebih dekat dengan realitas. Karena mendekati realitas, prediksi yang dilakukan dari analisis cermat terhadap jumlah besar memiliki daya prediktif yang kuat.

Catatan Penting: Fakta dapat menggugurkan teori yang indah. Misalnya, gagasan bahwa kekayaan tidak memengaruhi hasil pendidikan anak adalah ide yang indah, tetapi fakta-fakta menolak teori tersebut.

Referensi:

  1. Saunders, Peter (1997) Social mobility in Britain: an empirical evaluation of two competing explanations. Sociology, 31 (2). pp. 261-288
  2. Sullivan, Alice & Ketende, Sosthenes & Joshi, Heather. (2013). Social Class and Inequalities in Early Cognitive Scores. Sociology. 47. 1187-1206
  3. Irving M. Copi and Carl Cohen (2005). Introduction to Logic. Upper Saddle River, New Jersey: Pearson/Prentice Hall

Artikel Terkait

25 Bagaimana Mencapai Kesuksesan: Masalah ketepatan definisi, memahami bias ambiguitas, studi longitudinal, distribusi Gaussian (normal) vs distribusi miring (Part 1)

25 Bagaimana Mencapai Kesuksesan: Masalah ketepatan definisi, memahami bias ambiguitas, studi longitudinal, distribusi Gaussian (normal) vs distribusi miring (Part 2)

25 Bagaimana Mencapai Kesuksesan: Masalah ketepatan definisi, memahami bias ambiguitas, studi longitudinal, distribusi Gaussian (normal) vs distribusi miring (Part 3)

<p>You cannot copy content of this page</p>
error: Content is protected !!