Happy Investing Portfolio Management oleh Jhon Veter
Chandra Natadipurba
11 Oktober 2024
Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya kumpulkan dari buku Happy Investing Portfolio Management oleh Jhon Veter.
Tanpa harus membacanya semua, Anda mendapatkan hal-hal yang menurut saya menarik dan terpenting.
Saya membaca buku-buku yang saya kutip ini dalam kurun waktu 11 – 12 tahun. Ada 3100 buku di perpustakaan saya. Membaca kutipan-kutipan ini menghemat waktu Anda 10x lipat.
Selamat membaca.
Chandra Natadipurba
===
HAPPY INVESTING
PORTFOLIO MANAGEMENT
JHON VETER
Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia
Oleh Pustaka Delapan, Mei 2011
Editor: Daniel Yudhy Sulistyo
Desain Sampul: Widiastuti Kadarisman
Korektor Naskah: Septina Krismawati
(hlm.43)
PENYARING RAMBUT
Sedikit orang yang menyadari bahwa masa-masa krisis atau resesi dalam sebuah sistem ekonomi merupakan sarana ujian saringan bagi para peserta yang ada di dalam sistem tersebut.
(hlm.44)
HARGA YANG MURAH
Alasannya berikutnya yang membuat periode ini seorang investor dapat membeli sebuah instrumen investasi, yaitu pada periode ini seorang investor dapat membeli sebuah instrumen investasi pada harga yang luar biasa murah.
(hlm.47)
JARANG TERJADI
Seperti kita ketahui bersama kecenderungan terjadinya resesi dalam sebuah sistem ekonomi adalah selama 10 tahun satu kali.
(hlm.49)
Untuk membantu para pembaca mengenali periode pemulihan, di bawah ini beberapa ciri dan kondisi yang umum terjadi di masa pemulihan dalam sebuah siklus ekonomi. Ciri dan kondisi di bawah ini disesuaikan dengan karakteristik ekonomi yang terjadi di Indonesia.
(hlm.50)
INDIKATOR
KETERANGAN
Inflasi
Inflasi berada di level yang rendah, antara 2,5% per tahun.
Suku Bunga
Mulai beranjak turun dari titik tertinggi selama periode krisis.
Penurunan suku bunga semakin cepat seiring dengan usaha pemerintah memancing pertumbuhan.
Yield surat Hutang Negara sudah turun dari titik tertinggi dan memiliki tren penurunan
Perbankan
Belum berani mengucurkan kredit secara jor-joran.
Suku bunga kredit masih relatif besar meskipun suku bunga deposito telah turun
Pemerintah
Mengeluarkan banyak regulasi untuk memancing investor masuk
Memberikan banyak kemudahan bahkan pemotongan pajak untuk memancing investasi
Lebih dari itu pemerintah akan memberikan stimulus fiskal sebagai cara untuk memberikan likuiditas pada sistem ekonomi
Gross Domestic Product
Selama 2 kuartal berturut-turut tidak berada pada zona negatif
Trend GDP meningkat selama 2 kuartal berturut-turut
Penjualan Perusahaan
Penjualan perusahaan mulai meningkat selama 2 kuartal berturut-turut
Profit perusahaan di bursa juga mulai meningkat seiring dengan peningkatan penjualan
Daya beli
Mulai pulih seiring harga komoditas yang telah murah dan biaya investasi yang rendah
Perbankan
Sektor perbankan membukukan laba yang besar seiring masih tingginya bunga kredit
Persepsi Investor
Umumnya investor masih dipenuhi rasa takut akibat resesi, kecenderungan kebanyakan orang, masih menghindar untuk berinvestasi
Rekomendasi Broker
Masih cenderung memberikan rekomendasi SELL terutama karena masih dihinggapi ketakutan
(hlm.51)
3.3.2 TAHAPAN KEMAKMURAN
Fakta mencatat penjualan ASII sepanjang tahun 2007 mengalami kenaikan lebih dari 25% terutama dari kenaikan lebih dari 25% terutama dari kenaikan penjualan kendaraan bermotor. Kenaikan yang spektakuler tersebut didukung oleh meningkatkanya daya beli masyarakat serta kemudahan pembiayaan kendaraan bermotor dari perbankan atau perusahaan financing.
(hlm.54)
Sama halnya dengan masa pemulihan, berikut ini adalah beberapa kondisi dan ciri yang lazim akan kita temui pada masa kemakmuran.
INDIKATOR
KETERANGAN
Inflasi
Inflasi menjadi momok bagi ekonomi seiring naiknya daya beli masyarakat
Suku Bunga
Pemerintah mulai menaikkan suku bunga
Awal kenaikan suku bunga merupakan gong dimulainya masa kemakmuran
Yield surat hutang secara cenderung tetap terutama karena banyaknya likuiditas di pasar uang
Perbankan
Mulai menerapkan kebijakan perang suku bunga kredit
Suku bunga kredit turun turun seiring persaingan untuk memberikan kredit
Pemerintah
Peran pemerintah akan lebih banyak pada usaha untuk mengendalikan kenaikan harga
Inflasi akan menjadi tantangan bagi pemerintah di masa kemakmuran
Menahan laju inflasi dengan cara menaikkan suku bunga, menambah produksi, atau menahan belanja pemerintah
Gross Domestic Product
Nilai pertumbuhan GDP telah lebih tinggi dibandingkan pada saat masa pemulihan
Nilai kenaikan GDP lebih besar daripada nilai inflasi
Penjualan Perusahaan
Penjualan perusahaan mulai meningkat selama 2 kuartal berturut-turut
Profit perusahaan di bursa juga mulai meningkat seiring dengan peningkatan penjualan
Daya Beli
Telah pulih yang pada akhirnya memancing kenaikan harga komoditas
Perbankan
Laba sektor perbankan cenderung tergerus seiring dengan naiknya suku bunga tabungan ditengah turunnya bunga kredit akibat perang kredit
Persepsi Investor
Investor sudah memiliki rasa percaya diri yang besar untuk berinvestasi. Mulai bermunculan investor.investor baru
Rekomendasi Broker
Memberikan rekomendasi BUY
(hlm.58)
Pada kasus, KLBF, masa kontraksi rupanya tidak mempengaruhi penjualan perusahaan. Hal ini terjadi karena barang yang dijual oleh perusahaan ini adalah obat yang bagi manusia modern merupakan sebuah kebutuhan utama untuk menunjang kesehatan tubuh agar dapat beraktifitas.
(hlm.59)
Agar para pembaca dapat mengenali masa kontradiksi dengan lebih baik, berikut ini adalah beberapa ciri umum yang terjadi pada masa kontraksi.
INDIKATOR
KETERANGAN
Inflasi
Double digit dan telah membuat masyarakat mengurangi konsumsi
Suku Bunga
Bank mulai kesulitan likuiditas karena Bank Sentral menaikkan BI rate secara cepat
Suku bunga deposito naik menjadi doble digit dan masih ditambah dengan bonus aneka voucher
Yield Surat Hutang negara naik menjadi double digit seiring sulitnya likuiditas
Perbankan
Perang suku bunga deposito untuk menarik nasabah menyimpan uangnya
Suku bunga kredit naik drastis dan bank berhenti memberikan sektor rill
Pemerintah
Pemerintah akan berusaha menarik uang dari masyarakat dengan cara meanaikkan suku bunga
Peran pemerintah bukan untuk menghindari masa kontraksi tetapi agar dapat melewatinya
Laju inflasi ditahan dengan cara yang lebih keras
Gross Domestic product
Nilai GDP mengalami penurunan terutama
Nilai kenaikan GDP lebih rendah dibandingkan inflasi
Penjualan Perusahaan
Banyak perusahaan yang penjualannya mengalami penurunan seiring seiring turunnya daya beli
Tingkat keuntungan perusahaan turun karena turunnya penjualan dan naiknya bahan baku.
Daya Beli
Mengalami penurunan seiring harga-harga yang terlalu mahal
Perbankan
Perbankan memiliki kesulitan likuiditas dari laba cenderung turun karena kredit macet dan naiknya biaya dana terutama pada deposito
Persepsi Investor
Banyak investor yang terngiang-ngiang dengan masa kemakmuran
Rekomendasi Broker
Masih memberikan rekomendasi BUY
(hlm.60)
3.3.4 TAHAPAN RESESI
Gambar 3.9 Jalur Alternatif Sistem Ekonomi
(hlm.61)
KONDISI EKONOMI THN 1998
PERIODE
INFLASI
IHSG
YOY GDP
KUARTAL 1
25,13%
541,42
-4,00%
KUARTAL 2
46,55%
445,92
-12,30%
KUARTAL 3
75,47%
276,15
-18,40%
KUARTAL 4
75,63%
398,03
-19,50%
Coba bayangkan, pada tahun 1997 seseorang yang tadinya memiliki tabungan sebesar 30 juta dapat dengan mudah membeli sebuah kendaraan Toyota Kijang. Namun, kurang dari satu tahun berlalu, harga sebuah Toyota Kijang. Namun, kurang dari satu tahun berlalu, harga sebuah Toyota Kijang pada tahun 1998 telah naik menjadi sebesar 120 juta.
Dari contoh ini kita dapat melihat bagaimana periode resesi merupakan sarana penghancur kekayaan yang paling ampuh dalam sejarah umat manusia.
(hlm.62)
Sekali bahan pembanding bagi para pembaca, berikut adalah beberapa kejadian umum yang menjadi ciri utama dari masa resesi.
INDIKATOR
KETERANGAN
Inflasi
Tinggi sekali sehingga cenderung menghancurkan nilai kekayaan
Suku Bunga
Tinggi sebagai akibat dari usaha pemerintah untuk mengurangi inflasi yang tinggi
Suku bunga deposito juga menjadi double digit untuk menarik nasabah mau menyimpan uangnya
Surat Hutang negara cenderung menjadi Junk Bond karena tidak ada peminatnya
Perbankan
Kolaps, karena biaya dana naik tinggi sementara kredit semua macet
Kredit berhenti dunia usaha kekurangan likuiditas
Pemerintah
Berusaha mengurangi uang di pasar dengan menaikkan suku bunga
Peran TNI dan Polri dalam menjada stabilitas negara menjadi penting
Negara secara umum dalam kondisi gawat darurat
Gross Domestic product
Nilai GDP berada dalam zona minus
Nilai GDP minus berarti jumlah pengangguran bertambah banyak
Penjualan Perusahaan
Daya beli nol dan likuiditas yang susah membuat perusahaan harus mengurangi karyawan
Penjualan dan keuntungan perusahaan turun ke titik terendah. Perusahaan akan rugi
Daya Beli
Sangat rendah karena jumlah pengangguran yang bertambah
Perbankan
Banyak perbankan ditutup karena kekurangan uang untuk membayar kepada nasabahnya
Persepsi Investor
Investor lari dan membeli emas
Rekomendasi Broker
Tidak ada yang mau bekerja menjadi broker saham
(hlm.65)
Bab 4
INFLASI DALAM EKONOMI
4.1 JUMLAH YANG BERBAHAYA
KETIKA berusia 10 tahun penulis mulai mengerti bahwa uang adalah sebuah benda yang dapat digunakan untuk mendapatkan sebuah barang dan jasa. Sudah barang tentu sebagai seorang anak kecil konsep tentang uang tersebut sangat menarik. Ketika itu, penulis menarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa seseorang akan menjadi semakin kaya apabila ia memiliki banyak uang. Akan tetapi, dalam perkembangannya, konsep sederhana yang penulis miniliki di masa kecil tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar. Dalam beberapa kasus, jumlah uang yang terlalu banyak justru akan membuat seseorang atau sebuah negara menjadi semakin miskin.
(hlm.72)
4.2 HARGA SEBUAH PERTUMBUHAN
DATA INFLASI INDONESIA1969-2010
TAHUN
INFLASI
TAHUN
INFLASI
1969
9,34%
1990
9,93%
1970
8,94%
1991
9,97%
1971
2,62%
1992
5,05%
1972
25,81%
1993
10,16%
1973
27,17%
1994
9,65%
1974
33,41%
1995
8,98%
1975
19,76
1996
6,04%
1976
14,08%
1997
10,31%
1977
11,85%
1998
77,00%
1978
6,69%
1999
1,92%
1979
20,69%
2000
9,35%
1980
17,06%
2001
12,55%
1981
7,32%
2002
9,92%
1982
10,06%
2003
5,17%
1983
11,96%
2004
6,47%
1984
9,06%
2005
17,07%
1985
4,41%
2006
6,60%
1986
9,14%
2007
6,59%
1987
9,27%
2008
10,23%
1988
5,56%
2009
2,78%
1989
6,13%
2010
6,96%
(hlm.74)
Untuk memudahkan analisa, kita akan membagi data yang telah dimiliki sebeleumnya menjadi dua bagian utama yang dipisahkan oleh sebuah regulasi yang dikenal sebagai PakDes (Paket Desember) 1998. Sebagai referensi, pembaca dapat melihat sejarah tentang pasar modal Indonesia pada buku Happy Investing bagian pertama. PakDes 1988 menjadi penting untuk dijadikan rujukan mengingat deregulasi ini menjadi cikal bakal dari masuknya arus modal asing ke Indonesia dan awal dari berkembangnya dunia pasar modal di Indonesia.
(hlm.80)
4.3 SANG PENGHANCUR NILAI
Dalam sebuah percakapan singkat anatara penulis dengan kakek penulis pada masa SMA, beliau menceritakan tentang betapa berartinya uang sebesar Rp 1 juta di tahun 1980-an. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa uang sebesar satu juta di masa itu dapat digunakan untuk membeli sebuah motor Honda Astrea baru yang ketika itu sangat digandrungi oleh banyak anak muda.
(hlm.87)
4.4 INFLASI VS INVESTASI SAHAM
Hal yang menarik dari proses hutang-piutang tersebut adalah jumlah uang yang dipinjam oleh seseorang dalam rupiah, biasanya akan dikonversikan terlebih dahulu ke dalam satuan kaleng padi masa itu dengan disertai jaminan berupa sawah yang dimiliki. Si peminjam berkewajiban mengembalikan jumlah pinjamannya dalam rupiah dengan nilai sesuai jumlah kaleng padi yang dahulu dipinjamkan.
(hlm.89)
Bab 5
SUKU BUNGA, LIKUIDITAS, DAN IHSG
(hlm.106)
5.3.5 HUTANG
Pada saat suku bunga pinjaman telah bergerak naik, inilah periode paling menakutkan bagi mereka yang memiliki hutang berlebihan karena itu berarti mereka harus membayar lebih banyak untuk bunga atas hutang-hutang mereka.
(hlm.117)
Bab 6
IMBAL HASIL
(hlm.130)
6.4 PORTOFOLIO AWAL
Cara paling sederhana bagi seorang investor untuk membuat sebuah portofolio investasi pada instrumen pasar saham adalah dengan menggunakan hitungan BMLT seperti telah kita buat pada contoh sebelumnya. Untuk penyusunan portofolio, kita akan mulai mengurutkan nilai BMLT dari saham-saham tersebut dari yang terbesar hingga yang terkecil seperti dapat kit lihat pada tabel 6.1.
FUNGSI
INDIKATOR
NILAI
ACUAN
Inflasi (2010)
7%
Deposito (2010)
7%
IHSG (BMLT 2005-2010)
26%
(hlm.131)
Sebagai gamabaran, pada tabel 6.3 pembaca dapat melihat hasil klasifikasi setiap saham yang sebelumnya telah kita hitung nilai BMLT-nya.
FUNGSI
SAHAM
BMLT(2005-2010)
KLASIFIKASI
INVESTASI
INDF
39,8%
Patut Dimiliki
SMGR
39,5%
AALI
39,3%
UNVR
31,0%
ANTM
27,9%
Beli secara terbatas
TLKM
6,15%
Hindari pembelian
BLTA
-20,4%
(hlm.133)
6.5 CATATAN METODE BMLT
6.5.1 LABA USAHA PENOPANG HARGA
Gambar 6.1 Grafik Kinerja Harga Saham
Dari gambar 6.1 kita dapat melihat kenaikan harga saham POLY tahun 2003 hingga 2004 ternyata tidak dibarengi dengan kondisi tulang panggung yang sehat.
(hlm.137)
Bab 7
KEUNTUNGAN POTENSIAL VS RESIKO
(hlm.147)
7.2.1 HARGA SAHAM SEBAGAI INDIKATOR
Nilai keuntungan potensial yang didapatkan dengan menggunakan indikator laba usaha jelas memiliki keakuratan yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai keuntungan potensial yang didapatkan dari indikator harga saham.
(hlm.163)
Bab 8
PEMETAAN PORTOFOLIO
(hlm.178)
8.3.3 SANG PEMILIH
Sebuah saham dikatakan “undervalued” apabila saham tersebut memiliki nilai keuntungan potensial yang lebih besar dibandingkan dengan nilai CAPM-nya.
(hlm.185)
Bab 9
MANAJEMEN KEUANGAN & EXIT STRATEGY
(hlm.197)
9.4.1 REZIM USIA
Secara umum seseorang akan mulai masuk pada masa pleasure period saat ia berusia setidaknya 55 hingga 60 tahun yang merupakan usia masa pensiun yang normal. Pada masa pensiun seperti ini, secara alami setiap orang akan tidak lagi memiliki sumber penghasilan yang pasti seperti ini, secara alami setiap orang akan tidak lagi memiliki sumber penghasilan yang pasti seperti semasa ia bekerja. Untuk dapat tetap mempertahankan gaya hidup serta menikmati masa kebebasan, seorang investor dapat menjual investasinya dan menikmatinya selama sisa hidup yang dikaruniakan Tuhan kepadanya.
“Sebuah saham dikatakan “undervalued” apabila saham tersebut memiliki nilai keuntungan potensial yang lebih besar dibandingkan dengan nilai CAPM-nya..”